Anda di halaman 1dari 10

1.

Resiko Kredit
Definisi :
Resiko kredit adalah risiko yang terjadi akibat kegagalan pihak lawan
(counterparty) untuk memenuhi kebutuhannya dalam melakukan pembayaran. Risiko
kredit dapat bersumber dari berbagai aktivitas fungsional bank seperti pembiayaan,
treasury, atau investasi yang tercatat dalam pembukuan bank.
Joel Bessis menyatakan, Manajemen risiko kredit mencakup dua hal, yaitu
risiko proses putusan kredit, sebelum putusan dibuat sampai menindaklanjuti
komitmen kredit, ditambah risiko pemantauan dan proses laporan. Selanjutnya
diperlukan pengukuran dari risiko kredit, antara lain menggunakan : limit systems and
credit screening, risk quality and ratings, serta credit enhancement. Sedangkan
menurut PBI (Peraturan Bank Indonesia), dinyatakan bahwa proses Manajemen
Risiko Bank sekurang-kurangnya mencakup pendekatan pengukuran dan penilaian
risiko, struktur limit dan pedoman serta parameter pengelolaan risiko, sistim informasi
manajemen dan pelaporannya, serta evaluasi dan kaji ulang manajemen. Bank perlu
melakukan manajemen terhadap risiko kredit yang melekat pada seluruh portofolio,
yaitu dengan mengidentifikasi, mengukur, memonitor, mengontrol risiko kredit, serta
memastikan modal yang tersedia cukup, dan dapat diperoleh kompensasi yang sesuai
atas risiko yang timbul.
Stanley Fisher, menyatakan pengukuran diperlukan untuk memperbaiki
manajemen risiko dan mengurangi vulnerability, yang harus dilakukan sebagai bagian
penting dalam strategi regional jangka panjang. Kehati-hatian dan pengawasan sistim
diperlukan agar dapat bertindak cepat dalam mengantisipasi pertumbuhan pasar yang
cepat.
Pihak penerima resiko kredit :
• Resiko pemberi pinjaman atas konsumen
Kebanyakan pemberi pinjaman menggunakan cara penilaian kelayakan kredit
mereka masing-masing guna membuat peringkat risiko konsumen lalu kemudian
mengaplikasikannya terhadap strategi bisnis mereka. Dengan produk-produk
seperti pinjaman pribadi tanpa jaminan atau kredit pemilikan
rumah, kreditur akan mengenakan suku bunga yang tinggi terhadap konsumen
yang berisiko tinggi dan sebaliknya. Pada pinjaman berulang seperti pada kartu
kredit danoverdraft, risiko ini dikontrol dengan cara penetapan batasan kredit
yang seksama. Beberapa produk mensyaratkan adanya jaminan yang biasanya
dalam bentuk properti.
• Resiko pemberi pinjaman atas bisnis
Debitur akan menawarkan biaya / keuntungan dari suatu pinjaman
berdasarkan dari risiko dan suku bunga yang dikenakan, namun suku bunga ini
bukan hanya satu-satunya metode kompensasi untuk risiko yang dihadapi.
Perlindungan tambahan dalam bentuk pembatasan sebagaimana diatur dalam
perjanjian kredit memungkinkan dilakukannya pengawasan oleh pemberi
pinjaman (kreditur) atas peminjam (debitur) yaitu misalnya dalam bentuk :
 Pembatasan terhadap debitur atas tindakan-tindakan yang dapat mempengaruhi
keuangan debitur misalnya melakukan pembelian kembali saham, melakukan
pembayaran deviden, atau melakukan peminjaman baru.
 Kewenangan untuk melakukan pengawasan atas utang dengan cara
mensyaratkan adanya audit dan laporan keuangan bulanan.
 Hak kepada kreditur untuk meminta pelunasan seketika atas utang yang
diberikannya apabila terjadi suatu peristiwa khusus ataupun apabila rasio
keuangtan seperti utang / ekuiti menurun.
Saat ini terdapat inovasi untuk melindungi kreditur dan
pemegangobligasi terhadap risiko gagal bayar yaitu dalam bentuk
kredit derivatifyang dikenal dengan istilah credit default swap. Dengan
kontrakkeuangan ini maka perusahaan dimungkinkan untuk membeli suatu
perlindungan (proteksi) terhadap risiko gagal bayar dari pihak ketiga selaku
penjual perlindungan. Penjual perlindungan ini memperoleh imbal jasa secara
periodik sebagai bentuk kompensasi atas risiko yang diambil alih olehnya yaitu
dalam bentuk kesepakatan untuk membeli tagihan tersebut apabila terjadi gagal
bayar.
• Resiko yang dihadapi bisnis atau perusahaan
Perusahaan menghadapi "risiko kredit" dalam hal misalnya perusahaan tidak
menerima "pembayaran dimuka" secara tunai untuk produk atau jasa yang
dijualnya. Dengan melakukan penyerahan barang atau jasa di depan dan menagih
pembayaran kelak maka perusahaan menanggung suatu risiko selama tenggang
waktu penyerahan barang atau jasa dengan waktu pembayaran.
Beberapa perusahaan memiliki d3epartemen risiko kredit yang bertugas untuk
menilai kesehatan finansial dari konsumennya guna memutuskan pemberian
kredit lebih lanjut atau tidak. Dalam hal ini dapat juga digunakan jasa pihak
ketiga yaitu peruisahaan yang menyediakan jasa dibidang penilaian kredit dengan
memberikanperingkat kredit seperti misalnya Moody's, Standard & Poor's, Fitch
Ratings dan lainnya yang menyediakan informasi berbayar.
Risiko kredit ini tidak dengan sungguh-sungguh dikelola oleh perusahaan
kecil yang hanya memiliki 1 atau 2 konsumen saja, sehingga perusahaan ini
sangat rentan terhadap masalah gagal bayar atau keterlambatan pembayaran oleh
konsumennya.
• Resiko yang dihadapi individu
Konsumen dapat menemui risiko kredit dalam bentuk langsung misalnya
sebagai deposan di bank atau sebagai debitur. Mereka dapat juga menghadapi
risiko kredit sewaktu melakukan transaksi dagang dengan cara penyerahan uang
muka kepada mitra pengimbang misalnya untuk melakukan pembelian rumah
atau penyewaan rumah. Karyawan dari suatu perusahaan juga amat tergantung
pada kemampuan perusahaan dalam melakukan pembayaran gaji juga termasuk
yang menghadapi risiko kredit dalam stausnya sebagai karyawan.
Pada beberapa kasus, pemerintah menyadari bahwa kemampuan para individu
ini untuk melakukan evaluasi atas risiko kredit sangat terbatas dan risiko ini dapat
mengurangi efisiensi ekonomi sehingga pemerintah melakukan berbagai
mekanisme dan langkah hukum guna melindungi konsumen terhadap risiko ini.
Deposito bank pada beberapa negara dijamin dengan asuransi (hinga batasan nilai
tertentu) untuk deposito individu / perorangan, yang secara efektif akan
mengurangi risiko kredit mereka terhadap bank dan meningkatkan kepercayaan
mereka menggunakan jasa perbankan.
2. Resiko Pasar

Definisi:

Resiko pasar yakni risiko yang terjadi akibat berubahnya variabel dari
portfolio yang dimiliki oleh bank. Variabel yang berubah biasanya adalah suku bunga
dan nilai tukar mata uang. Risiko pasar dapat bersumber dari kegiatan investasi bank
dalam bentuk surat berharga, pengadaan valas atau penempatan pada lembaga
keuangan lainnya.

Risiko pasar dikelola dalam batas risiko secara menyeluruh dan menggunakan
teknik lindung nilai ( hedging). Seluruh aktivitas perdagangan sehubungan pada
pertukaran mata uang asing, derivatif, pasar uang dan surat-surat berharga dipantau
setiap hari dan dikaji dengan basis mark to market sesuai batas yang ditetapkan oleh
Komite Risiko Pasar dan sejalan dengan peraturan Bank Indonesia.
Risiko Pasar sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor :
9/13/PBI/2007 Tentang Kewajiban Penyediaan modal Minimum Bank Umum Dengan
Memperhitungkan Risiko Pasar yaitu adalah risiko kerugian pada posisi neraca dan
rekening administratif termasuk transaksi derivatif akibat perubahan secara
keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk risiko perubahan harga option.
Faktor standar resiko pasar:

1. Risiko modal, adalah bagian hak pemilik dalam perusahaan (investasi pemilik)
secara terbatas yang merupakan selisih aktiva dan kewajiban, bergantung pada
bentuk badan usaha ysng dapat berbentuk Propriethorship (perorangan),
Partnership (CV, Fa) maupun Corporation (perseroan).

2. Risiko suku bunga, Risiko suku bunga adalah risiko yang timbul karena nilai
relatif aktiva berbunga, seperti pinjaman atau obligasi, akan memburuk karena
peningkatan suku bunga. Secara umum, jika suku bunga meningkat, harga obligasi
berbunga tetap akan turun, demikian juga sebaliknya. Risiko suku bunga umumnya
diukur dengan jangka waktu obligasi, teknik paling tua yang sekarang digunakan
untuk mengelola risiko suku bunga. Pengelolaan harta dan kewajiban adalah suatu
nama yang umum digunakan untuk rangkaian lengkap teknik-teknik yang
digunakan untuk mengelola resiko dalam suatu kerangka kerja manajemen risiko
perusahaan. Atau disebutkan sebagai risiko kerugian akibat perubahan harga
instrumen keuangan dari posisi Trading Book yang disebabkan oleh perubahan
suku bunga.

3. Risiko mata uang, Risiko nilai tukar atau risiko mata uang adalah suatu bentuk
risiko yang muncul karena perubahan nilai tukar suatu mata uang terhadap mata
uang yang lain. Suatu perusahaan atau pemodal yang memiliki aktiva atau operasi
bisnis lintas negara akan memperoleh risiko ini jika tidak menerapkan lindung nilai
(hedging). Risiko nilai tukar yang terkait dengan instrumen mata uang asing
penting diperhatikan dalam investasi asing. Risiko ini muncul karena perbedaan
kebijakan moneter dan pertumbuhan produktivitas nyata, yang akan
mengakibatkan perbedaan laju inflasi.

4. Risiko komoditas. Adalah risiko kerugian akibat perubahan harga instrumen


keuangan dari posisi Trading Book dan Banking Book yang disebabkan oleh
perubahan harga komoditas.

3. Resiko Likuiditas

Definisi:
Risiko Likuiditas, yakni risiko yang dimiliki karena bank gagal melakukan
pembayaran terhadap kewajibannya yang jatuh tempo. Risiko dapat bersumber dari
aktivitas bank dalam bidang perkreditan, penyediaan dana, dan instrumen hutang.
Risiko likuiditas adalah risiko yang muncul jika suatu pihak tidak dapat
membayar kewajibannya yang jatuh tempo secara tunai. Meskipun pihak tersebut
memiliki aset yang cukup bernilai untuk melunasi kewajibannya, tapi ketika aset
tersebut tidak bisa dikonversikan segera menjadi uang tunai, maka pihak tersebut
dikatakan tidak likuid.
Hal ini bisa terjadi jika pihak pengutang tidak dapat menjual hartanya karena
tidak adanya pihak lain di pasar yang berminat membelinya. Hal ini berbeda dengan
penurunan drastis hargaaktiva, karena pada kasus penurunan harga, pasar berpendapat
bahwa aktiva tersebut tak bernilai. Tidak adanya pihak yang berminat menukar
(membeli) aktiva kemungkinan hanya disebabkan karena kesulitan mempertemukan
kedua belah pihak. Karenanya, risiko likuiditas biasanya lebih besar kemungkinan
terjadi pada pasar yang baru tumbuh atau bervolume kecil.
Risiko likuiditas merupakan suatu risiko keuangan karena adanya
ketidakpastian likuiditas. Suatu lembaga dapat berkurang likuiditasnya jika peringkat
kreditnya turun, mengalami pengeluaran kas yang tak terduga, atau peristiwa lain
yang menyebabkan pihak lain menghindari transaksi atau memberikan pinjaman ke
lembaga tersebut. Suatu perusahaan juga dapat terpapar terhadap risiko likuiditas jika
pasar yang diikutinya mengalami penurunan likuiditas.
Pada saat industri perbankan tidak memiliki pertahanan yang kuat dalam
menjalankan usahanya, maka risiko–risiko tersebut dapat menyerang sektor
perbankan. Jika hal ini semakin memperburuk kondisi perbankan, maka kepercayaan
masyarakat terhadap kinerja perbankan akan semakin menurun. Masyarakat (nasabah)
yang menyimpan uang di bank mulai tidak yakin akan kemampuan bank dalam
memenuhi kewajibannya secara penuh, sehingga semakin banyak nasabah yang
menarik uangnya dari bank. Krisis kepercayaan yang diikuti oleh penarikan dana
secara besar–besaran dari bank oleh nasabah ini disebut sebagai bank runs. Berikut
beberapa teori tentang penyebab dan dampak terjadinya bank runs (Bank Indonesia,
2002: 34–46):
a. Teori Penyebab Bank Runs
• Moral hazard dan penurunan asset
Dalam teori ini diasumsikan bahwa banyak bank yang memperoleh fasilitas
berupa kemudahan mendapatkan pinjaman dengan tingkat bunga yang aman
dari pemerintah, sehingga terjadi persaingan dalam menyalurkan kredit. Hal
ini mengakibatkan kinerja dari bank seolah–olah sangat sehat dibandingkan
dengan kondisi yang sebenarnya. Penurunan nilai aset terjadi jika pemerintah
tidak lagi memberikan jaminan pada pinjaman bank, sehingga mengubah
ekspektasi investor karena mereka merasa dananya tidak aman lagi. Bank runs
terjadi pada saat ketidakpercayaan investor atau nasabah diwujudkan dengan
menarik dana mereka dalam jumlah besar.
• Disintermediasi dan likuidasi
Diasumsikan bahwa pihak bank adalah pihak yang baik, sehingga penyebab
utama terjadinya krisis dan asset deflation adalah financial panic (bank runs)
yang tidak diikuti oleh kebijakan yang tepat. Pihak bank melakukan investasi
utamanya untuk jangka panjang, sehingga membutuhkan pembiayaan dana
yang bersifat jangka panjang. Keadaan ini menyebabkan bank mudah
terserang panik finansial.

b. Dampak terjadinya Bank Runs


• No contagion effect
Berdasarkan teori no contagion effect, bank runs tidak akan merubah volume
deposito dalam pengertian bahwa nasabah yang tidak percaya kepada suatu
bank memindahkan dananya kepada bank lain, sehingga total simpanan dalam
sistem perbankan akan tetap jumlahnya. Sebaliknya, koalisi antar bank
(dimana bank yang mengalami excess liquidity mengalirkan dananya kepada
bank yang kekurangan likuiditas) akan mengurangi efek bank runs lebih
lanjut.
• Contagion effect
Ketidakpercayaan pada suatu bank juga akan membawa ketidakpercayaan
kepada sistem perbankan secara keseluruhan, sehingga akan menimbulkan
panics. Contagion effect dari bank runs suatu bank terjadi jika nasabah
menarik dananya dari bank yang gagal dan yang masih baik dalam waktu yang
sama tanpa adanya proses pemindahan deposito. Contagion effect dapat
ditentukan dengan membandingkan uang kartal terhadap simpanan dana pihak
ketiga (DPK) dalam sistem perbankan (rasio C/D).
Sebagai lembaga keuangan yang berperan penting bagi sistem perekonomian di
negara kita, bank dituntut agar mampu mengelola berbagai risiko yang harus dihadapi
oleh lembaga perantar keuangan. Jika tidak, maka risiko ini akan memberikan effect
nya kepada para masyarakat. Tingkat kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat
kepada lembaga keuangan menentukan eksistensi dari lembaga keuangan (bank)
tersebut yang akhirnya berpengaruh kepada kelancaran aliran dana dalam sistem
perekonomian negara kita.

4. Resiko Operasional
Definisi:

Resiko operasional adalah risiko yang timbul karena tidak berfungsinya sistem
internal yang berlaku, kesalahan manusia, atau kegagalan sistem. Sumber terjadinya
risiko operasional paling luas dibanding risiko lainnya yakni selain bersumber dari
aktivitas di atas juga bersumber dari kegiatan operasional dan jasa, akuntansi, sistem
tekhnologi informasi, sistem informasi manajemen atau sistem pengelolaan sumber
daya manusia.
Risiko operasonal oleh Basel II didefinisikan sebagai suatu risiko kerugian
yang disebabkan karena tak berjalannya atau gagalnya proses internal, manusia dan
sistem, serta oleh peristiwa eksternal. Walaupun risiko ini dapat diterapkan pada
semua jenis organisasi bisnis, keterkaitan utamanya adalah pada
bidang perbankan yang regulatornya bertanggung jawab untuk menciptakan
pengamanan sebagai perlindungan terhadap kegagalan sistemik sistem perbankan
dan ekonomi.
Definisi Basel II mencakup pula risiko hukum, tapi mengecualikan risiko
strategi, yaitu risiko kerugian karena buruknya keputusan strategis bisnis. Definisi ini
juga mengecualikan risiko reputasi walaupun disadari bahwa suatu kerugian
operasional yang cukup besar tapi tidak fatal juga dapat mempengaruhi reputasi dan
dapat membawa dampak lanjutan pada keruntuhan bisnis dan kegagalan organisasi.

Risiko bawaan:
Adalah risiko-risiko yang timbul dalam kegiatan operasional.
Cakupannya meliputi:
• kompleksitas organisasi
• struktur kepengurusan
• pengelolaan program kesejahteraan karyawan di luar
• kecurangan (fraud)
• proses bisnis dan keberlangsungan kegiatan dana pensiun

Manfaat Resiko Operasional:


• Mengidentifikasi risiko (risk identification). Dalam tahap ini dilakukan identifikasi
mengenai sumber risiko dan akibatnya serta penetapan langkah-langkah mitigasi
(mitigate) alias mengurangi risiko.

• Mengukur risiko (risk measurement). Tahap ini merinci lima kategori risiko: (1)
potensi risiko paling rendah (kemungkinan kurang dari 2 persen), (2) potensi risiko
rendah (2-5 persen), (3) potensi risiko sedang (5-10 persen), (4) potensi risiko
tinggi (10-20 persen), (5) potensi risiko paling tinggi (lebih dari 20 persen).
Ringkasnya, pengukuran risiko ini dilaksanakan secara kuantitatif dan kualitatif.

• Menanggapi risiko (risk response). Ada beberapa langkah yang dapat diambil.
Pertama, mengembangkan teknologi. Kedua, menghindari transaksi yang menjadi
sumber risiko. Ketiga, menyusun kebijakan dan prosedur yang lebih ketat dan
rinci. Keempat, membangun kepekaan sumber daya manusia (sdm) terhadap
budaya risiko dan pemahaman tentang manajemen risiko operasional. Kelima,
mengalihkan risiko melalui asuransi dan lindung nilai (hedging). Keenam,
meningkatkan pengawasan melekat oleh manajemen.

• Memantau risiko (risk monitoring). Pada tahap terakhir ini, bank mau tidak mau
harus memanfaatkan teknologi informasi (ti). A.t. kearney menyarankan
penggunaan risk management information system (rmis). Rmis ini bermanfaat
memantau dan menganalisis risiko. Mengingat biaya alat pemantau risiko ini relatif
tinggi, maka bank dapat memantau secara manual.

Manajemen risiko operasional sangat penting terutama sejak adanya peraturan


Basel II. Namun, aplikasi manajemen risiko ini masih mengalami hambatan klasik
yaitu masalah pengumpulan data dan awareness yang rendah. Menurut survey yang
dilakukan oleh Risk Water Group dan SAS, kesulitan dalam mengumpulkan data dan
awareness yang rendah diantara karyawan merupakan hambatan utama dalam
manajemen risiko operasional. Regulasi seperti Basel II menekenkan pentingnya
manajemen risiko operasional pada lembaga keuangan. Bank-bank diharapkan untuk
mengumpulkan data yang saat ini tidak mereka miliki. Meeka juga diharapkan dapat
membawa data-data dari berbagai sistem menjadi satu kumpulan untuk analisa.
Karyawan tidak selalu melaporkan kerugian, sehingga hal ini berdampak
terhadap keakuratan data. Oleh karena itu, perlu dilakukan edukasi hingga ke tingkat
dimana mereka menyediakan informasi secara konsisten sehingga meningkatkan
keakuratan data. Organisasi bisa saja mempunyai alat analisa yang tercanggih di
dunia, namun tentu saja percuma jika mereka tidak mempunyai data yang
komprehensif dan asli. Data yang tidak konsisten dan tidak akurat dapat menghasilkan
masalah baru. Misalnya, jika ada pelanggan yang mengajukan loan. Tentunya
creditworthiness harus diukur, data-data mengenai pelanggan tersebut juga harus
lengkap. Jika catatan tidak akurat, misalnya, maka bisa terjadi bad loan atau kredit
macet.
Supaya dapat memenuhi peraturan, organisasi membutuhkan system yang
terukur dan fleksibel. Sistem perlu mengkombinasikan data kuantitatif dan kualitatif
untuk dapat menghubungkan data eksternal dan internal. Tantangan utama yang
dihadapi adalah bagaimana menciptakan system yang baik. Lembaga keuangan
semakin sadar bahwa manajemen risiko operasional yang baik akan menghasilkan
benefit baik bagi bisnis maupun perekonomian. Benefit meliputi pendapatan yang
meningkat dan kinerja yang lebih baik. Peningkatan kinerja berada pada urutan
pertama benefit dari manajemen risiko operasional. Benefit lainnya antara lain adalah
memperkecil kerugian dan melindungi reputasi.