Anda di halaman 1dari 22

Wan Abbas Zakaria

PENGUATAN KELEMBAGAAN KELOMPOK TANI KUNCI


KESEJAHTERAAN PETANI
Strengthening Farmers Group Institution is The Key to Farmers
Welfare
Wan Abbas Zakaria
Fakultuas Pertanian Universitas Lampung
Jl.Soemantri Brojonegoro No.1 Bandar Lampung 35145

ABSTRACT
In this globalization era, only efficient business actors could lead a competition.
Majority of Indonesian business actors are farmers and small enterprise owners. If they are
united in an economic organization, strong economic businesses could be formed to earn
higher welfare level. Empowering farmers group institutions would require a string of
systematic efforts, consistent, and sustainable. This is important to increase farmers ability
to adapt of the current condition and optimize the use of technology. Three phases to
improve farmers income are: (a) empowerment of farmers organizations, such as human
resources development, technology development and engineering; (b) business network
development; and (c) improvement of competitiveness. Improving quality of agricultural
products in certain location should allow higher income distribution in that specific area and
in turn, contribute welfare to the local community. Each region is suggested to improve their
local competitiveness. This is how the nation could strengthen its economic capacity and
welfare distribution throughout the country.
Key words: institution, farmer, welfare
ABSTRAK
Di Era Globalisasi ini, hanya pelaku bisnis yang efisienlah yang akan
memenangkan persaingan. Sebagian besar pelaku bisnis di Indonesia adalah para petani
dan pengusaha kecil yang bila berhimpun dalam organisasi ekonomi yang kuat maka akan
memperoleh manfaat (kesejahteraan) tidak hanya bagi dirinya melainkan juga bagi
masyarakat dan bangsanya. Pemberdayaan kelembagaan kelompok tani merupakan
serangkaian upaya yang sistematis, konsisten dan berkelanjutan untuk meningkatkan daya
adaptasi dan inovasi petani guna memanfaatkan teknologi secara optimal dalam bingkai
aturan main yang ada untuk mencapai tujuan bersama secara lebih efisien. Terdapat tiga
tahap (fase) dalam mewujudkan kesejahteraan petani, tahap pertama: pemberdayaan
organisasi petani yakni tahap pemberdayaan kelembagaan petani (pengembangan SDM,
pengembangan teknologi dan rekayasa aturan main organisasi), tahap kedua:
pengembangan jaringan kemitraan bisnis (network business), dan tahap ketiga: peningkatan
daya saing (competitiveness). Daya saing produk pertanian di tingkat lokal (daya saing
lokal) yang dihasilkan melalui pemberdayaan kelembagaan/ organisasi ekonomi petani pada
masing-masing lokasi akan meningkatkan kesejahteraan dan daya saing petani dan daya
saing wilayah yang pada akhirnya akan membentuk daya saing bangsa.
Kata kunci: kelembagaan, petani, kesejahteraan

294

Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani Kunci Kesejahteraan Petani

PENDAHULUAN

Pada RPJM Nasional 2004-2009 dinyatakan bahwa terciptanya kesejahteraan rakyat merupakan salah satu tujuan utama pendirian Negara Republik
Indonesia. Sejahtera merupakan keadaan sentosa dan makmur yang diartikan
sebagai keadaan yang berkecukupan atau tidak kekurangan baik dimensi fisik atau
materi maupun dimensi rohani (BAPPENAS, 2008).
Kesejahteraan rakyat (petani) tidak akan terwujud tanpa adanya pembangunan (pembangunan pertanian). Pembangunan merupakan suatu proses
multidimensional yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam struktur
sosial, sikap mental dan kelembagaan nasional, termasuk pula akselerasi pertumbuhan ekonomi, pemerataan pendapatan, pengurangan pengangguran dan pemberantasan kemiskinan absolut dengan memperhatikan kelestarian lingkungan.
Agenda meningkatkan kesejahteraan rakyat diarahkan untuk mencapai 5
(lima) sasaran pokok (BAPPENAS, 2008): (1) pengurangan kemiskinan dan
pengangguran dengan strategi pembangunan ekonomi yang mendorong
pertumbuhan berkualitas dan berdimensi pemerataan melalui penciptaan
lingkungan usaha yang sehat, (2) berkurangnya kesenjangan antarwilayah dengan
prioritas pada pembangunan perdesaan, (3) meningkatnya kualitas manusia yang
tercermin pada terpenuhinya hak sosial rakyat (pendidikan, kesehatan, kehidupan
beragama), (4) membaiknya mutu lingkungan hidup dan pengelolaan sumberdaya
alam dengan prinsip pembangunan berkelanjutan, dan (5) meningkatnya dukungan infrastruktur.
Struktur masyarakat Indonesia sangat diwarnai oleh masyarakat perdesaan yang bercorak agraris yang ditunjukkan oleh sebagian besar pendapatan
mereka berasal dari produk pertanian seperti tanaman pangan, perkebunan,
peternakan, perikanan, dan kehutanan. Sejak kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan
selama Orde Baru hingga Orde Reformasi kini, tingkat kesejahteraan dan
pendidikan mereka masih rendah dan memprihatinkan. Banyak kebijakan
pembangunan yang dibuat oleh suatu rezim baik yang berskala nasional, regional
maupun daerah untuk memperbaiki kondisi mereka, namun belum juga menampakkan hasil yang memuaskan.
Peningkatan pendapatan petani merupakan kunci utama menuju
peningkatan kesejahteraan petani. Peningkatan pendapatan antara lain ditempuh
melalui peningkatan produktivitas usahatani dan intensitas tanam disertai dengan
peningkatan akses petani ke pasar input dan output yang efisien. Sangat
disayangkan dalam 10 tahun terakhir peningkatan produktivitas usahatani di
tingkat petani relatif stagnan dan kapasitas produksi pertanian secara nasional
semakin terbatas. Terbatasnya kapasitas produksi pertanian ini disebabkan oleh
beberapa faktor (Siregar dan Masyitho, 2008; Mulyana, 1998, Yustika, 2006): (1)
berlanjutnya konversi lahan dari pertanian ke nonpertanian dengan laju 5,23
persen per tahun selama 1995-2005, lahan sawah menyusut dari 8.464.678 ha
menjadi 7.696.161 ha atau menurun seluas 768.526 ha; (2) menurunnya kualitas
dan kesuburan lahan akibat kerusakan lingkungan, (3) perubahan iklim yang

295

Wan Abbas Zakaria

mengakibatkan fluktuasi dan penurunan produktivitas pertanian, (4) lambatnya


penemuan dan pemasyarakatan teknologi, (5) rendahnya insentif finansial untuk
menerapkan teknologi secara optimal, dan (6) penguasaan lahan yang sempit.
Hasil penelitian Departemen Pertanian tahun 2000 menunjukkan bahwa 88 persen
rumah tangga petani hanya menguasai lahan sawah kurang dari 0,5 ha dan
sulitnya akses terhadap sumber kapital, informasi dan teknologi. Kondisi itu semua
menyebabkan masyarakat petani menjadi miskin, tidak berdaya dan tertinggal.
Di Pasar Internasional, globalisasi ekonomi berimplikasi kepada semakin
ketatnya persaingan antarpelaku bisnis, antarnegara dan antarmanusia yang tidak
hanya pada level keunggulan komparatif tetapi juga pada level politik dan
diplomasi yang kesemuanya itu merupakan komponen daya saing global (Arifin,
2000). Barang (dan jasa) dapat secara bebas keluar dan masuk tanpa
memperoleh hambatan yang berarti, baik berupa hambatan tarif dan kuota
maupun hambatan non-tarif yang berupa kebijakan atau aspek diskriminatif lainnya
(Hasyim dan Arifin, 2002). Keputusan Indonesia untuk meratifikasi dan
mengikatkan diri dengan ketentuan dan skema perdagangan dunia (WTO) telah
membawa konsekuensi tantangan persaingan dunia yang semakin keras.
Studi terbaru yang dihimpun oleh Bhagwati (2001 dalam Hasyim dan Arifin
(2002) menunjukkan betapa Washington (representasi Blok Barat yang juga
menunjukkan IMF dan Bank Dunia) telah melakukan kesalahan dalam mengelola
dan melaksanakan gerakan globalisasi. Krisis ekonomi yang melanda Asia pada
akhir 1990-an itu jelas-jelas disebabkan oleh konspirasi tingkat tinggi antara Wall
Street di New York, IMF dan Departemen Keuangan Amerika Serikat di
Washington D.C. yang terlalu prematur memaksakan liberalisasi pasar modal dan
sektor perbankan kepada negara-negara Asia, termasuk Indonesia.
Dosa konspirasi tersebut harus dibayar mahal dengan hancurnya pasar
modal dan sektor perbankan di Amerika Serikat (AS) yang klimaksnya terjadi mulai
awal bulan Oktober 2008 sehingga membuat AS sebagai negara adidaya dengan
PDB tahun 2007 sebesar 23.808 miliar dolar AS (bandingkan dengan India yang
PDBnya 1.101 miliar dolar AS) berubah menjadi negeri yang cemas dan panik
(Basri, Kompas 20 Oktober 2008 Hlm 1 dan 17). Mekanismenya dimulai dari
munculnya tekanan pada neraca di satu lembaga keuangan yang high leverage
berdampak terhadap neraca di negara lain. Kekurangan modal akan mendorong
mereka menarik uangnya keluar dari berbagai negara di seluruh dunia termasuk
Indonesia akibatnya likuiditas mengering. Kondisi ini akan berdampak kepada
daya tahan sektor keuangan domestik dan perkembangan sektor riil terutama yang
memiliki kandungan impor tinggi dan/atau berorientasi ekspor yang ditunjukkan
oleh jatuhnya harga tandan buah segar (tbs) sawit dari Rp 1.750,00/kg tbs pada
bulan Mei 2008 menjadi Rp 750,00/kg tbs begitu pula harga komoditas ekspor
lainnya seperti karet dan kopi di tingkat petani yang harganya mengalami
penurunan secara drastis.
Kita patut bersyukur punya pemerintah yang antisipatif dengan segera
mengeluarkan PERPU untuk menjaga stabilitas sektor keuangan yang mencakup
pemberian fasilitas pembiayaan/pinjaman, penyertaan modal sementara, dan
jaminan simpanan serta menjaga stabilitas nilai mata uang rupiah terhadap dolar

296

Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani Kunci Kesejahteraan Petani

AS. Oleh karena itu sambil menunggu dan tumbuh bersama dengan evolusi dari
fenomena perdagangan internasional dan gerakan globalisasi, energi bangsa
sebaiknya diarahkan untuk mempersiapkan diri menghadapi tuntutan persaingan yang lebih
keras dan mencarikan tempat terhormat bagi beberapa komoditas penting Indonesia di
arena Internasional.
Konsep perdagangan adil (fair trade) adalah kondisi ideal yang mungkin tidak
begitu saja dapat tercipta dari konsep pedagangan bebas, namun memerlukan upaya nonekonomi lain, berupa langkah pembenahan institusi di tingkat domestik (termasuk yang
utama dan terpenting adalah pemberdayaan kelembagaan ekonomi petani) dan upaya
diplomasi di tingkat internasional. Oleh karena itu pemihakan yang sungguh-sungguh
terhadap dunia pertanian dan masyarakat petani pada khususnya merupakan suatu
keharusan. Kesejahteran petani dan daya saing komoditas pertanian akan ditentukan oleh
keseriusan seluruh pelaku ekonomi, akademisi dan pemerintah dalam meningkatkan
efisiensi, mutu produk pertanian dan intelijen pasar yang memang amat dibutuhkan di era
keterbukaan.

PEMBANGUNAN PERTANIAN BERWAWASAN AGRIBISNIS

Teori Pembangunan Pertanian


Mungkin kita harus mengkaji kembali Teori Pembangunan Pertanian yang
sangat mendasar yang selama ini hampir terlupakan. Teori tersebut dikemukakan
oleh Mosher (1966), seorang profesional konsultan Agricultural Development
Council untuk pembangunan pertanian di negara-negara berkembang. Menurut
Mosher (1966), untuk menjamin suksesnya pembangunan pertanian dibutuhkan
dua syarat yaitu: syarat pokok dan syarat pelancar.
Syarat pokok adalah syarat yang harus dipenuhi, kalau tidak pembangunan pertanian tersebut tidak ada sama sekali. Syarat-syarat tersebut meliputi:
(1) adanya pasaran untuk produk-produk pertanian, (2) teknologi yang selalu
berubah, (3) tersedianya sarana produksi dan peralatan secara lokal, (4)
perangsang produksi bagi petani, dan (5) tersedianya sarana transportasi yang
baik.
Syarat pelancar adalah syarat yang dibutuhkan agar pembangunan
pertanian dapat berjalan dengan baik, yaitu (1) pendidikan pembangunan, (2)
kredit produksi, (3) kegiatan bersama, (4) perbaikan dan perluasan tanah
pertanian, dan (5) perencanaan nasional pembangunan pertanian.
Beberapa syarat pokok yang diajukan oleh Mosher tersebut untuk
beberapa segi nampaknya telah dilaksanakan dengan baik sekali. Bahkan syarat
pelancar seperti tersedianya kredit produksi, pengembangan kelompok-kelompok
tani, pengembangan lahan pertanian, dan sebagainya telah dijalankan dengan
cukup jauh. Namun bagaimanakah hasilnya?
Dalam kurun waktu yang panjang pembangunan pertanian selalu
diidentikkan dengan kegiatan produksi usahatani semata (proses budidaya atau
agronomi), sehingga hasil pertanian identik dengan komoditas primer. Kegiatan
pertanian masa lalu lebih berorientasi kepada peningkatan produksi komoditas

297

Wan Abbas Zakaria

primer dan kurang memberi kesempatan untuk memikirkan pengembangan produk


hilir (Tim LPM Unila, 2007).
Dari sisi kebijakan, pembangunan pertanian cenderung terlepas dari
pembangunan sektor lain, kebijakan di bidang pertanian tidak selalu diikuti oleh
kebijakan pendukung lain secara sinergis. Pembinaan pembangunan pertanian
tersekat-sekat oleh banyak institusi, sehingga kebijakan sering tidak sinkron antar
lembaga terkait akibat perbedaan kepentingan dari masing-masing sektor.
Selama ini kontribusi sektor pertanian terhadap penerimaan devisa lebih
banyak diperoleh dari produk segar (primer) yang relatif memberi nilai tambah kecil
dan belum mengandalkan produk olahan (hilir) yang dapat memberikan nilai
tambah lebih besar, walaupun pada akhir-akhir ini ekspor produk olahan telah
semakin besar. Dengan mengekspor produk primer, maka nilai tambah yang besar
akan berada di luar negeri, padahal sebaliknya bila Indonesia mampu mengekspor
produk olahannya, maka nilai tambah terbesarnya akan berada di dalam negeri.
Belajar dari kelemahan tersebut, sejak Pelita VI pembangunan pertanian
dilakukan melalui pendekatan agribisnis, yang pada hakekatnya menekankan
kepada tiga hal, yaitu: (1) pendekatan pembangunan pertanian ditingkatkan dari
pendekatan produksi ke pendekatan bisnis, dengan demikian aspek usaha dan
pendapatan menjadi dasar pertimbangan utama, (2) pembangunan pertanian
bukan semata pembangunan sektoral, namun juga terkait dengan sektor lain
(lintas/inter-sektoral), (3) pembangunan pertanian bukan pengembangan komoditas secara parsial, melainkan sangat terkait dengan pembangunan wilayah,
khususnya perdesaan yang berkaitan erat dengan upaya peningkatan pendapatan
petani.
Menyadari nilai tambah yang diperoleh dari pengembangan produk olahan
(hilir) jauh lebih tinggi dari produk primer, maka pendekatan pembangunan
pertanian ke depan diarahkan pada pengembangan produk, dan bukan lagi
pengembangan komoditas dan lebih difokuskan pada pengembangan nilai tambah
produk melalui pengembangan industri yang mengolah hasil pertanian primer
menjadi produk olahan, baik produk antara (intermediate product), produk semi
akhir (semi finished product) dan yang utama produk akhir (final product) yang
berdayasaing.
Kini Pemerintah sedang melakukan Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan
Kehutanan. Visi pembangunan pertanian yang ingin dicapai adalah terwujudnya
sistem pertanian industrial berdaya saing, berkeadilan dan berkelanjutan
guna menjamin ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat pertanian.
Isu strategis dalam Revitalisasi pertanian tersebut antara lain: (a) revitalisasi
penyuluhan pertanian, (b) pengendalian penyakit hewan dan tanaman yang
merugikan petani, keamanan dan pengamanan dampaknya terhadap kesehatan
manusia, (c) penurunan hambatan perdagangan antar daerah dan (d) konversi
lahan pertanian (Bappenas, 2006).
Sejak dicanangkannya Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan
pada tanggal 11 Juni 2005, pemerintah dari pusat sampai daerah terus menyusun kebijakan, memfasilitasi, mengatur dan menggerakkan serta mengevaluasi

298

Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani Kunci Kesejahteraan Petani

pembangunan pertanian. Namun demikian, petani dan pembangunan pertanian


masih terpuruk yang ditunjukkan oleh indeks pembangunan manusia (IPM) dan
nilai tukar petani (NTP) yang rendah dan cukup banyak produk pertanian penting
yang masih diimpor. Perlu dicari terobosan-terobosan yang dapat mempercepat
pembangunan pertanian sehingga peningkatan kesejahteraan petani dan daya
saing produk pertanian kita dapat cepat terwujud. Terobosan itu harus dilakukan
oleh semua stakeholder sektor pertanian, termasuk perguruan tinggi pertanian
bersama petani.
Salah satu strategi pembangunan pertanian ke depan adalah pengembangan agroindustri perdesaan. Pengembangan agroindustri perdesaan merupakan pilihan strategis dalam meningkatkan pendapatan dan sekaligus membuka
lapangan pekerjaan. Selama ini masyarakat perdesaan cenderung menjual produk
dalam bentuk segar (primer), karena lokasi industri umumnya berada di daerah
urban (semi-urban). Akibatnya, nilai tambah produk pertanian lebih banyak
mengalir ke daerah urban, termasuk menjadi penyebab terjadinya urbanisasi.
Tujuan yang ingin dicapai dalam pengembangan agroindustri perdesaan
adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan melalui upaya
peningkatan nilai tambah dan dayasaing hasil pertanian. Untuk mewujudkan tujuan
tersebut, pengembangan agroindustri perdesaan diarahkan untuk: (a) mengembangkan kluster industri, yakni industri pengolahan yang terintegrasi dengan
sentra-sentra produksi bahan baku serta sarana penunjangnya, (b) mengembangkan industri pengolahan skala rumah tangga dan kecil yang didukung oleh industri
pengolahan skala menengah dan besar, dan (c) mengembangkan industri
pengolahan yang punya daya saing tinggi untuk meningkatkan ekspor dan
memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Langkah strategis tersebut ditujukan untuk secara terus menerus
meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif (daya saing) antara lain
melalui pemberdayaan organisasi ekonomi rakyat (petani). Disinilah peran
strategis perguruan tinggi pertanian sebagai pusat keunggulan (center of
excellence), baik dalam penyiapan SDM Pertanian maupun dalam pengembangan
dan penerapan IPTEK.
Konsep Agribisnis
Pembangunan pertanian tidak bisa berdiri sendiri melainkan tergantung
kepada subsistem-subsistem yang ada dalam sistem bisnis pertanian (Agribisnis).
Pembangunan pertanian yang tidak berwawasan agribisnis akan menimbulkan
paradoks, peningkatan produksi dan produktivitas tidak serta merta akan diikuti
dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani melainkan justru
menurunkan pendapatan karena jatuhnya harga yang diterima petani.
Nilai tukar petani cenderung turun, pasar produk pertanian yang tidak
kompetitif (monopoli atau monopsoni atau bentuk lainnya), kemitraan usaha yang
tidak transparan, biaya transaksi produk pertanian sangatlah tinggi dan cenderung
tidak efisien; sistem transportasi bahan baku, produk dan input yang tidak efisien
dan sebagainya yang kesemuanya itu disebabkan oleh sistem pembangunan
pertanian yang tidak berbasis agribisnis.

299

Wan Abbas Zakaria

Agribisnis adalah keseluruhan kegiatan produksi dan distribusi sarana


produksi usahatani, kegiatan produksi usahatani (pertanian primer), kegiatan
penyimpanan, pengolahan dan distribusi komoditas pertanian dan seluruh
produksi-produksi olahan dari komoditas pertanian (Gambar 1).
PEMASARAN

PELAYANAN
PEMERINTAH

JASA LAIN :
PERBANKAN
PENYIMPANAN

PENGOLAHAN
(Agroindustri)

ASURANSI

PENYULUHAN
PENGATURAN
KEBIJAKAN
PERTANIAN

ANGKUTAN
DAN LAIN-LAIN

PENELITIAN

PRODUKSI
KOMODITAS
PERTANIAN
(USAHATANI)

PENGADAAN
DAN
PENYALURAN
SARANA
PRODUKSI DAN
ALSINTAN

Gambar 1. Keterkaitan antar Subsistem dalam Agribisnis


(Diadopsi dari Tahlim Sudaryanto dan Effendi Pasandaran. 1993. Sistem Agribisnis di Indonesia. Badan
Agribisnis, Departemen Pertanian. Jakarta).

Agribisnis merupakan bentuk modern dari pertanian primer, merupakan


sistem yang mencakup bidang-bidang atau subsistem yang sangat luas yang pada
dasarnya mencakup lima subsistem yaitu (1) subsistem yang menyediakan dan
menyalurkan sarana produksi dan alsintan, (2) subsistem produksi komoditas
pertanian, (3) subsistem industri pengolahan hasil pertanian (agroindustri), (4)
subsistem usaha pemasaran hasil-hasil pertanian, dan (5) subsistem pelayanan
seperti perbankan, angkutan, asuransi, penyimpanan, dan lain-lain.

300

Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani Kunci Kesejahteraan Petani

Berdasarkan Gambar 1 tersebut, pengembangan agribisnis dan pembangunan pertanian dalam arti luas berarti serangkaian upaya untuk mengembangkan masing-masing subsistem dalam sistem agribisnis yang disertai dengan
penyediaan fasilitas pelayanan dan kebijakan pemerintah baik dalam bidang
pembangunan sektor pertanian dalam arti luas maupun dalam bidang
pembangunan daerah dan nasional.
Keseluruhan subsistem tersebut di atas merupakan satu kesatuan yang
satu sama lain saling mempengaruhi. Apabila salah satu subsistem mengalami
goncangan atau tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka akan berdampak
terhadap subsistem yang lain. Pengembangan agribisnis secara keseluruhan
sangatlah ditentukan oleh pengembangan masing-masing subsistem dalam sistem
agribisnis tersebut.

Karakteristik Komoditas Pertanian


Beberapa karakteristik penting produk pertanian akan diuraikan sebagai
berikut: Pertama, bersifat musiman. Produk pertanian dihasilkan melalui proses
biologis yang sangat tergantung pada iklim dan alam menyebabkan volume
produksi berfluktuasi antar musim, terutama antara musim panen dan paceklik.
Fluktuasi harga yang disebabkan oleh fluktuasi produksi merupakan sumber risiko
dan ketidakpastian pada proses transaksi antar partisipan dalam sistem agribisnis.
Disinilah fungsi terpenting dari aktivitas pemasaran yaitu menjaga dan
memanfaatkan kegunaan waktu (time utility) melalui aktivitas penyimpanan.
Kedua, mudah rusak. Produk pertanian yang dihasilkan umumnya dalam
bentuk segar yang siap untuk dikonsumsi dan/atau diolah lebih lanjut. Apabila
produk pertanian tidak segera dikonsumsi atau diolah, maka volume dan mutu
produk cepat menurun seiring dengan bertambahnya waktu. Akibatnya, nilai
ekonomi produk pertanian cepat anjlok, bahkan tidak berharga sama sekali dan
menjadi sumber kerugian terbesar bagi petani produsen. Disinilah fungsi
pemasaran untuk mempertahankan atau mengubah kegunaan bentuk (form utility)
menjadi sangat penting, seperti melakukan proses pengolahan yang memiliki nilai
tambah tinggi.
Ketiga, makan tempat atau amba. Produk pertanian umumnya bermassa
besar dan makan tempat alias amba, walaupun mungkin bobotnya ringan. Proses
pemasaran produk-produk pertanian juga amat bergantung pada kepiawaian para
pelaku ekonomi dalam mengelola karakteristik amba ini, yang antara lain
ditunjukkan oleh besarnya biaya pengangkutan dan pergudangan (Falcon, Jones,
Pearson et al., 1984). Disinilah fungsi pemasaran yang menyangkut kegunaan
tempat (place utility) dan waktu sangat berperan dalam menentukan tingkat
kesejahteraan petani dan pelaku pemasaran lainnya.
Keempat, amat beragam. Volume dan mutu produk pertanian amat
beragam antar waktu dan antar daerah atau antar sentra produksi yang ditentukan
oleh faktor genetik dan lingkungan (Wargiono dan Barret, 1987). Faktor
penguasaan teknologi juga turut menentukan tingkat keberagaman volume dan
mutu produk pertanian di beberapa tempat dan waktu tertentu. Karakteristik ini

301

Wan Abbas Zakaria

sangat menentukan besarnya biaya transaksi yaitu biaya informasi, biaya


negosiasi, dan pengamanan kontrak. Semakin besar variabilitas dalam volume dan
mutu produk, maka akan semakin rumitlah proses transaksi ekonomi yang
menyertainya. Akibatnya, biaya transaksi yang ditimbulkan juga menjadi semakin
mahal.
Kelima, transmisi harga rendah. Produk pertanian memiliki elastisitas
transmisi harga yang rendah dan kadang searah. Kenaikan harga produk
pertanian di tingkat konsumen tidak serta merta dapat meningkatkan harga di
tingkat petani. Namun sebaliknya, penurunan harga di tingkat konsumen umumnya
lebih cepat ditransmisikan pada harga tingkat petani. Petani lebih banyak
ditempatkan pada posisi yang lemah. Implikasinya adalah bahwa aktivitas
pemasaran harus mampu berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan para
petani.
Keenam, struktur pasar yang monopsonis. Produk pertanian umumnya
harus menghadapi struktur pasar yang monopsonis. Petani produsen senatiasa
lemah saat dihadapkan pada kekuatan pembeli, yang terdiri dari pedagang
pengumpul dan pedagang besar yang cukup besar dan membentuk satu kekuatan
yang dapat menentukan harga beli. Proses terciptanya kegagalan pasar (market
failures) tersebut amat berhubungan dengan faktor ekonomi dan nonekonomi
(sosio-psikologis) yang menyertai seluruh proses pemasaran.

SISTEM KELEMBAGAAN PETANI

Pembangunan ekonomi petani berarti pemberdayaan berjuta-juta unit


usaha milik para petani sehingga mampu melakukan transaksi dengan sesama
mitra bisnis baik skala kecil, sedang maupun besar antar subsistem dalam sistem
agribisnis guna meningkatkan kesejahteraan petani. Di sini hubungan fungsional
antara pengusaha kecil, menengah dan besar harus dibangun secara sinergis,
konsisten, saling menguntungkan secara berkelanjutan.
Konsep Kelembagaan/Organisasi Petani
Organisasi adalah kesatuan yang memungkinkan orang-orang (para
petani) mencapai satu atau beberapa tujuan yang tidak dapat dicapai individu
secara perorangan. Pakpahan (1990) menyatakan bahwa sistem organisasi
ekonomi petani terdiri dari beberapa unsur (subsistem): (1) unsur kelembagaan
(aturan main), (2) partisipan (sumberdaya manusia), (3) teknologi, (4) tujuan, dan
(5) lingkungan (alam, sosial, dan ekonomi). Kelompok para petani yang berada di
suatu kawasan dapat dipandang sebagai suatu sistem organisasi ekonomi petani,
hubungan antara unsur-unsur organisasi dan keragaan terlihat pada Gambar 2.
Gambar 2 menunjukkan bahwa kelima unsur atau subsistem organisasi
ekonomi petani saling berinteraksi dan pada akhirnya akan menghasilkan
keragaan organisasi. Unsur lingkungan merupakan bagian dari sistem organisasi
yang menentukan keragaan organisasi, namun berada di luar kendali organisasi.

302

Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani Kunci Kesejahteraan Petani

KELEMBAGAAN:
Batas wilayah produksi
Hak pemilikan
Pengambilan keputusan
Penegakan hukum

TUJUAN:
- Produksi dan
pendapatan
meningkat
- Keberlanjutan
usaha
- Sejahtera

TEKNOLOGI:
Spesifikasi teknis
produk
Metode operasi
Alat produksi
Lay out/desain

KERAGAAN:
- Produksi dan
pendapatan
meningkat
- Keberlanjutan
usaha
- Sejahtera

PARTISIPAN:
- Karakteristik
partisipan (SDM)

FAKTOR LINGKUNGAN (ALAM, SOSEKBUD)

Gambar 2. Esensi Organisasi Ekonomi Petani


Terdapat dua jenis pengertian kelembagaan yaitu kelembagaan sebagai
aturan main dan kelembagaan sebagai organisasi. Sebagai aturan main,
kelembagaan merupakan perangkat aturan yang membatasi aktivitas anggota dan
pengurus dalam mencapai tujuan organisasi.
Dari sudut pandang ekonomi, kelembagaan dalam arti organisasi biasanya
menggambarkan aktivitas ekonomi yang dikoordinasikan bukan oleh mekanisme
pasar tetapi melalui mekanisme administrasi atau komando (Arkadie, 1989 dan
Pakpahan, 1990). Keputusan tentang produksi dan alokasi penggunaan
sumberdaya ditentukan oleh organisasi.
Alasan pembentukan kelompok tani atau koperasi secara ekonomi dapat
dipandang sebagai upaya menghindari biaya transaksi tinggi yang harus
dikeluarkan oleh para anggotanya (karena adanya masalah free rider, komitmen,
loyalitas dan faktor eksternal) (Arkadie, 1989).
Menurut Pakpahan (1991), kelembagaan dicirikan oleh beberapa hal
berikut: (1) batas yurisdiksi, (2) property rights (hak pemilikan) dan (3) aturan
representasi. Batas yurisdiksi menentukan siapa dan apa yang tercakup di dalam
organisasi. Implikasi ekonomi dari hal tersebut adalah batas yurisdiksi berarti
batas suatu organisasi dapat melakukan perluasan aktivitas ekonomi seperti batas

303

Wan Abbas Zakaria

wilayah kerja, batas skala usaha yang diperbolehkan, jenis usaha yang
diperkenankan dan sebagai-nya. Dengan demikian, perubahan batas yurisdiksi
berimplikasi terhadap kemam-puan organisasi menginternalisasikan manfaat atau
biaya. Sepanjang tambahan manfaat melebihi tambahan biaya maka organisasi
akan memperluas batas yurisdiksi.
Performa yang dihasilkan sebagai akibat dari perubahan batas yurisdiksi
ditentukan oleh beberapa faktor: (1) perasaan sebagai suatu masyarakat atau
sense of community, (2) eksternalitas, (3) homogenitas (preferensi), dan (4) skala
ekonomis. Perasaan sebagai suatu kelompok tani merupakan variabel psikologis
penting yang perlu diperhatikan. Hal ini karena organisasi terdiri dari orang-orang
yang saling berhubungan, berkomunikasi, dan berinteraksi satu sama lain.
Hak pemilikan merupakan aturan (hukum, adat, tradisi) yang mengatur
hubungan antar anggota organisasi dalam hal kepentingannya terhadap
sumberdaya, situasi atau kondisi (Pakpahan, 1990). Tidak seorangpun yang dapat
menyatakan hak milik tanpa pengesahan dari masyarakat di mana dia berada.
Hak pemilikan juga merupakan sumber kekuatan untuk akses dan kontrol terhadap
sumberdaya. Hak tersebut dapat diperoleh melalui pembelian, pemberian atau
hadiah atau melalui pengaturan administrasi pemerintah seperti subsidi.
Bentuk pemilikan secara umum dibagi atas empat jenis: (1) hak milik yang
bersifat umum, (2) hak milik umum yang terbatas, (3) hak pakai atau status tenure,
dan (4) hak milik penuh. Bentuk kepemilikan ini harus ditata sedemikian rupa
sehingga mampu memberikan akses lebih besar lagi kepada petani dalam
hubungan dengan kebutuhan permodalan untuk usahatani atau agribisnis yang
dijalankannya.
Aturan representasi merupakan perangkat aturan yang mengatur mekanisme pengambilan keputusan organisasi. Dalam proses pengambilan keputusan
organisasi ada dua jenis ongkos yang mendasari keputusan yakni (1) ongkos
membuat keputusan sebagai produk partisipasi dalam membuat keputusan dan (2)
ongkos eksternal yang ditanggung oleh seseorang atau sebuah organisasi sebagai
akibat dari keputusan organisasi tersebut.
Aturan representasi akan mempengaruhi struktur dan besarnya ongkos
tersebut. Aturan representasi yang sederhana untuk mengatasi masalah ini
adalah meminimumkan kedua ongkos tersebut. Aturan representasi mengatur
siapa yang berhak berpartisipasi terhadap apa dalam proses pengambilan
keputusan. Hal ini tercermin dalam struktur organisasi. Keputusan apa yang
diambil dan apa akibatnya terhadap performa akan ditentukan oleh kaidah
representasi yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan.
Agar kelembagaan dapat melaksanakan fungsinya maka diperlukan
adanya enforcement atau penegakan dan penaatan hukum dalam bentuk sanksi
atau insentif yang memberikan gairah kepada partisipan dalam berperilaku sesuai
dengan harapan. Dalam hal inilah lomba antar kelompok tani, antar gabungan
kelompok tani, dan antar koperasi pertanian dilaksanakan.
Perubahan kelembagaan (rekayasa kelembagaan) mengandung makna
pengaturan dalam batas yurisdiksi, hak pemilikan, dan aturan representasi yang

304

Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani Kunci Kesejahteraan Petani

memiliki implikasi pada kemampuan kelembagaan tersebut dalam menjalankan


enforcement guna mengatasi permasalahan free rider, komitmen, loyalitas dan
tuntutan faktor eksternal yang ada pada suatu organisasi petani sehingga mampu
menghasilkan performa yang sesuai dengan harapan (Arkadie, 1989).
Menurut Pakpahan (1990), situasi sebagai sumber interdependensi
meliputi: inkompatibilitas, ongkos eksklusi tinggi, skala ekonomis, joint impact
goods, ongkos transaksi dan interdependensi antar generasi. Rekayasa kelembagaan harus mampu mengontrol sumber-sumber interdependensi tersebut agar
mampu menghasilkan performa yang diharapkan.
Tujuan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh serangkaian aktivitas
individu, kelompok atau organisasi. Tujuan memiliki tingkatan (hirarki). Tujuan yang
satu bisa merupakan prasyarat dalam mencapai tujuan yang lain dan seterusnya
sehingga mencapai tujuan akhir dari suatu aktivitas.
Tujuan organisasi bisnis adalah untuk memperoleh keuntungan secara
berkelanjutan. Tujuan inilah yang memandu aliran sumberdaya dalam organisasi
dan aliran output ke luar organisasi. Demikian pula dengan tujuan individu dalam
berbisnis yakni mendapatkan keuntungan secara berkelanjutan.
Teknologi adalah seperangkat alat, ide, prosedur dan cara untuk menghasilkan produk secara lebih efisien. Penggunaan sumberdaya yang sama baik
dalam jumlah maupun mutu dengan teknologi yang lebih baik akan diperoleh hasil
yang lebih banyak dan keuntungan yang lebih besar.
Rekayasa teknologi berarti perbaikan dalam alat, ide, prosedur dan cara
pengelolaan sumberdaya untuk menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi secara
berwawasan lingkungan sehingga dicapai kondisi pertumbuhan ekonomi,
pemerataan dan pelestarian lingkungan hidup. Teknologi yang diterapkan
seyogyanya kompatibel dengan karakteristik partisipan dan lingkungan agar
teknologi tersebut dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Faktor lingkungan, merupakan faktor yang menentukan performa
organisasi namun berada di luar kendali organisasi. Faktor lingkungan ini meliputi
lingkungan alam (curah hujan, kemiringan lereng, kesuburan tanah), lingkungan
ekonomi (pasar saprodi dan produk), infrastruktur wilayah, kebijakan pemerintah
(makro dan mikro), lingkungan sosial (adat dan budaya, dan sebagainya).
Keragaan organisasi merupakan hasil interaksi yang kompleks antara subsistem partisipan, aturan main, teknologi dan lingkungan dalam mencapai tujuan
organisasi. Indikator keragaan diturunkan dari tujuan organisasi yang bersangkutan.
Pemberdayaan organisasi ekonomi rakyat (petani) tidak lain adalah
rangkaian upaya pengembangan daya adaptasi dan inovasi petani terhadap
perubahan teknologi dan aturan main dalam rangka mencapai tujuan bersama
dalam situasi, kondisi, dan lingkungan tertentu.
Asumsi Dasar dan Tahapan Pengembangan Ekonomi Petani
Asumsi dasar pada pengembangan ekonomi rakyat (petani) adalah bahwa
pembangunan ekonomi harus melalui berbagai tahapan proses sebagai berikut

305

Wan Abbas Zakaria

(Bantacut, 2000): (a) pembentukan institusi baru atau pemantapan institusi yang
telah ada, (b) pembangunan unit usaha atau industri alternatif, (c) perbaikan
kapasitas tenaga kerja, (d) identifikasi pasar-pasar baru, (e) alih ilmu pengetahuan
dan teknologi, dan (f) pengembangan perusahaan baru.
Pengembangan ekonomi petani dicapai melalui strategi: (1) pemberdayaan organisasi atau kelembagaan, (2) pengembangan jaring kemitraan bisnis,
dan (3) peningkatan daya saing. Strategi itu dilakukan secara bertahap, konsisten
dan berkelanjutan sesuai tingkat keragaan ekonomi masyarakat.
Pemberdayaan berarti memanfaatkan secara optimal berbagai kemampuan, nilai atau norma serta kelembagaan yang ada dalam masyarakat termasuk
juga menumbuhkembangkan daya usaha kelompok masyarakat yang tidak
mempunyai kemampuan untuk melakukannya sendiri.
Organisasi atau lembaga yang terlebih dahulu dikembangkan adalah
lembaga masyarakat sekawasan atau setempat tinggal (domisili). Setelah lembaga
musyawarah tersebut terbentuk dan berdaya baru dibentuk dua lembaga ekonomi
rakyat sebagai pilar ekonomi yang kokoh yakni lembaga keuangan yang
mengelola tentang keuangan (sektor finansial) dan kelompok usaha ekonomi
produktif (sebagai sektor riil). Hubungan sinergis antara kedua lembaga ini akan
menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat tani (Gambar 3).
Berdasarkan uraian terdahulu (Gambar 2), pemberdayaan organisasi
ekonomi petani ditempuh melalui: (a) pengembangan sumberdaya manusia, (b)
pengembangan kelembagaan (aturan main), (c) rekayasa teknologi, dan (d)
perbaikan lingkungan sosial dan ekonomi.

LEMBAGA
KEUANGAN

USAHA EKONOMI BERWAWASAN LINGKUNGAN

MASYARAKAT
SEJAHTERA, LINGKUNGAN LESTARI

LEMBAGA MUSYAWARAH MASYARAKAT PETANI

Gambar 3. Fase Pemberdayaan Kelembagaan Masyarakat


Pengembangan sumberdaya manusia ditempuh melalui: pelatihan
manajemen organisasi dan usaha ekonomi produktif, kursus dan magang.
Pengembangan kelembagaan organisasi ditempuh melalui: revitalisasi aturan main

306

Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani Kunci Kesejahteraan Petani

organisasi penyempurnaan struktur dan fungsi organisasi, dan penegakan aturan


main serta menjalin kemitraan usaha.
Adapun pengembangan teknologi ditempuh melalui: penyediaan peralatan,
mesin, sarana dan prasarana produksi, penyusunan tahapan atau prosedur operasional, pemilihan dan penerapan teknologi tepat guna, penyediaan perangkat pembukuan usaha dan formulir serta kelengkapan administrasi organisasi yang disertai
dengan pendampingan teknis.
Pada fase ini peran perguruan tinggi dan/atau LSM cukup besar dalam
pendampingan dan peran pemerintah cukup besar dalam hal pendanaan
sedangkan peran dunia usaha umumnya masih relatif kecil.
Setelah masing-masing lembaga berdaya yakni mampu menjalankan
fungsi organisasi secara efektif dan efisien maka tahap selanjutnya adalah
pengembangan jaring kemitraan bisnis. Kemitraan berarti kerjasama dengan
memanfaatkan kelebihan atau kemampuan masing-masing pihak untuk mencapai
tujuan bersama.
Tujuan bermitra secara ekonomi adalah untuk menangkap manfaat dari
adanya skala usaha ekonomi yang dihasilkan oleh usaha berkelompok. Skala
usaha ekonomi ditunjukkan oleh semakin rendahnya biaya produksi seiring
dengan semakin banyak output. Hal ini berarti proses transaksi dilakukan oleh dan
melalui organisasi (Gambar 4). Pada fase ini peran organisasi ekonomi rakyat dan
dunia usaha mulai dominan baik dari segi pembiayaan maupun pendampingan,
peran perguruan tinggi masih cukup besar namun peran pemerintah mulai
berkurang.
UUE1 +
LK1

MOU
UUE2 +
LK2

KOPERASI
PRIMER

KEMITRAAN

PERUSAHAAN

UUE3 +
LK3

Gambar 4. Fase Pengembangan Kemitraan Usaha Masyarakat


Keterangan:
UUE1 = unit usaha ekonomi produktif ke 1 (sektor riil)
LK
= lembaga keuangan (sektor finansial)
Daya saing adalah kemampuan organisasi ekonomi petani untuk
memenangkan persaingan atau menjadi lebih baik. Secara ekonomi, daya saing
ditunjukkan oleh biaya produksi yang jauh di bawah harga produk yang diwujudkan

307

Wan Abbas Zakaria

melalui pengembangan teknologi dan efisiensi produksi. Di sinilah pentingnya


peningkatan sumberdaya manusia sehingga memiliki daya adaptasi dan inovasi
yang cepat terhadap perkembangan iptek dan lingkungan (pasar input dan output).
Peran dunia usaha dan organisasi ekonomi petani mulai dominan,
perguruan tinggi mulai memasuki tahap penelitian dan pengembangan IPTEK
yang lebih dalam lagi atas inisiatif pengusaha dan organisasi ekonomi petani,
sedangkan Pemerintah perannya mulai berkurang cukup dalam bentuk fasilitasi
dan regulasi. Kontribusi dunia usaha dan organisasi ekonomi petani pada
pendapatan daerah akan semakin besar (Gambar 5).

P. tinggi

Daya saing usaha


dan masyarakat

Sustainability?

Good
Governanc e?

Pemerintah

Konsep :
Mutual
Partnership
Untuk
menyelesaikan
common
problems
Kelompok
Usaha
Koperasi

Akselerasi?

Perusahaan
Industri

Kerjasama Tripartit
Kemitraan Usaha
Gambar 5. Fase Peningkatan Daya Saing

Gambar 5 menunjukkan bahwa daya saing organisasi ekonomi rakyat


ditumbuhkan oleh suatu kerja sama tripartite antara Pemerintah, Perguruan Tinggi
dan Dunia usaha. Keterlibatan ketiganya dilakukan mulai dari fase pertama hingga
ke fase ke tiga. Setelah fase ke tiga maka roda ekonomi rakyat akan berputar
secara dinamis dengan akselerasi yang semakin cepat. Di sini, peran pemerintah
sebagai fasilitasi, pengawasan dan pengendalian sedangkan peran perguruan
tinggi lebih ditekankan kepada rekayasa teknologi dan rekayasa kelembagaan.
Organisasi ekonomi petani dikatakan berdaya bila organisasi tersebut memiliki

308

Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani Kunci Kesejahteraan Petani

daya adaptasi dan inovasi yang kuat terhadap perubahan faktor internal dan
eksternal dalam mencapai tujuannya.
Hasyim dan Zakaria (2002) menyatakan bahwa masyarakat petani
merupakan komponen yang sangat penting mengingat jumlahnya sangat banyak
dan umumnya bergerak dibidang usahatani (on farm). Tanpa adanya petani, maka
agribisnis tidaklah mungkin berkembang dan tentu saja produk-produk pertanian
juga tidak cukup tersedia bagi kita. Untuk meningkatkan taraf hidup petani,
mereka harus berperan aktif dan tidak hanya semata-mata menanti uluran tangan
pihak lain. Diharapkan masyarakat petani tersebut dapat berperan: Pertama,
berusaha dengan penuh kesadaran yang tinggi untuk meningkatkan kualitas
pengetahuan dan ketrampilan agar kualitas hidup lebih baik. Di samping itu petani
harus berusaha memupuk budaya kewirausahaan (entrepreneur) dan mengedepankan rasionalitas dalam berusahatani. Kedua, meningkatkan tindakan
bersama secara efisien dalam menangkap manfaat ekonomi dari adanya skala
usaha baik dalam proses produksi, pemasaran maupun dalam memperoleh sarana
produksi melalui pemberdayaan kelembagaan petani, kelompok tani dan koperasi.
Ketiga, menjalin kemitraan usaha dengan pihak swasta yang saling memperkuat,
saling membutuhkan, dan saling menguntungkan serta mampu menekan biaya
transaksi dan menjamin keberlanjutan usaha. Kemudian agar proses kemitraan itu
berjalan dengan baik, petani harus berusaha konsisten memenuhi ketentuanketentuan dalam bermitra. Keempat, bersama pihak swasta menciptakan suasana
usaha yang harmonis sehingga skala usaha optimal pada masing-masing pihak
dapat dicapai. Kelima, meningkatkan penerapan teknologi budidaya dan
prosessing secara berkelanjutan, sehingga dapat memanfaatkan nilai tambah
untuk meningkatkan pendapatan. Keenam, melakukan diversifikasi usaha guna
mengantisipasi adanya gejolak eksternal (pasar luar negeri). Ketujuh, bersama
swasta berupaya menguasai informasi pasar dalam rangka memperluas jangkauan
pasar dan meningkatkan pangsa pasar.
Pemberdayaan ekonomi petani berarti melakukan perubahan peran dan
perilaku yang akan dijalankan oleh petani. Merubah peran untuk mendapatkan
nilai-nilai baru tergantung pada kesiapan dan keterampilan SDM, budaya lokal
yang berlaku dimasyarakat, sumber daya lokal yang ada, solidaritas untuk bekerja
bersama-sama dan kemampuan pendamping lapang dalam memberdayakan
masyarakat. Oleh karena itu setiap wilayah akan berbeda kecepatan untuk
berdaya, ada yang dilakukan dalam waktu dua sampai enam bulan, ada yang satu
sampai dua tahun atau bahkan lebih. Jadi proses pemberdayaan masyarakat
tidak dapat dihitung dalam bulan atau tahunan, bahkan tidak dapat dilakukan
hanya berdasarkan kurun waktu proyek tertentu, tetapi harus berkelanjutan.

BEBERAPA CONTOH KASUS


Pengembangan Ekonomi Lokal Gula Kelapa
Dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat
petani, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan (BAPPEDA Lampung Selatan)

309

Wan Abbas Zakaria

bekerja sama dengan UNILA (LPM Unila) untuk melaksanakan Pengembangan


Ekonomi Lokal (PEL). Berdasarkan hasil survei, tim mencoba mengembangkan
agribisnis berbasis kelapa yakni industri gula kelapa di Kecamatan Palas dan
Sidomulyo pada tahun 2000/2001 dengan pertimbangan: (1) pasarnya cukup
kompetitif baik di tingkat pasar lokal maupun pasar regional; (2) usaha tersebut
melibatkan rakyat banyak yang pendapatannya masih rendah; (3) cepat hasil
(quick yielding); (4) memiliki pohon industri yang berspektrum luas lagi dalam; (5)
memiliki nilai tambah tinggi; dan (6) modal usaha tidak terlalu besar
Unila menyediakan tenaga pendamping dan tenaga ahli guna melakukan
pendidikan dan latihan serta pengembangan teknologi prosessing, pembentukan
dan pemberdayaan kelembagaan bisnis dan pengembangan SDM pengrajin serta
pasar. Hasil kegiatan PEL ini dapat dilihat dari perubahan yang terjadi secara
ekonomi di masyarakat (Tabel 1)
Tabel 1. Dampak Pengembangan Ekonomi Lokal Gula Kelapa
Indikator
Rata-rata produktivitas
pengrajin gula kelapa

Satuan

Sebelum

Sesudah

Dampak

Kg/KK/hr

20

25

Belum ada

Sudah ada

Sudah ada

Standarisasi mutu
Harga Jual gula
kelapa

Rp

1.600

2.000

400

Pendapatan unit
usaha

Rp/KK/hr

40.000

50.000

10.000

Kesepakatan pengrajin
dan pedagang

Belum ada

Sudah ada

Sudah ada

Perguliran BLM

Belum ada

Sudah ada

Sudah ada

25

25

Sudah adanya
pengumpulan modal
sendiri

Rp/kg/
pengrajin

Sayangnya program PEL dari pemerintah pusat tersebut terhenti karena


terbatasnya dana yang disediakan oleh IMF untuk Pemerintah Indonesia sehingga
program PEL terbatas pada tahap pemberdayaan kelompok pengrajin belum
kepada pengembangan kemitraan dan peningkatan daya saing.
Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) Cassava Chips
Atas inisiatif Pemerintah Kabupaten dan DPRD Lampung Selatan disepakati bahwa program PEL di Lampung Selatan harus dilanjutkan dengan dana dari
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan (APBD II). Program dipusatkan pada ubikayu yang harganya jatuh sangat rendah sehingga petani enggan memanennya.
Oleh karena itu pada tahun 2001/2002, kerja sama Unila dan Pemda
Lampung Selatan di bidang pemberdayaan ekonomi rakyat dilanjutkan dan

310

Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani Kunci Kesejahteraan Petani

ditingkatkan lagi dengan mengembangkan agribisnis berbasis ubikayu melalui


pembangunan unit usaha industri cassava chip di Kecamatan Natar dan
Tegineneng masing-masing pada dua desa. Satu bulan setelah konstruksi,
industri cassava chip mulai menghasilkan dan uang hasil keuntungan usaha mulai
dikumpulkan. Dampak dari program PEL di Lampung Selatan ini dapat dilihat
pada Tabel 2.
Tabel 2. Dampak Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) Cassava Chips
Indikator

Satuan

Sebelum

Sesudah

Dampak

Usaha industri
cassava chip

Unit

Harga ubi kayu


basah

Rp

125

200

75

Lokal dan
Jakarta

Lokal dan
Jakarta

Daerah
Pemasaran
produksi
Tenaga kerja
yang terlibat di
industri

orang

10

10

Upah tenaga kerja

Rp/hr

10.000-15.000

10.000-15.000

Kapasitas industri

ton

1,5

1,5

Harga jual
cassava chip

Rp

2.000

2.000

Uang kas
kelompok

Rp

8.000.000

8.000.000

Kini kelompok sedang merencanakan untuk menambah satu unit pabrik


lagi sebagai bentuk realisasi perguliran program PEL Cassava Chip di Desa Banjar
Negeri yang berguna untuk memenuhi permintaan pasar yang masih cukup besar.
Kemitraan bisnis dengan jaringan pemasaran tingkat regional Provinsi Lampung
telah dimasuki oleh kelompok ini. Hal ini berarti program telah mampu melahirkan
wirausahawan baru dari desa tersebut.
Pada tahap pengembangan selanjutnya (Kemitraan atau Fase II), product
development ditingkatkan dengan menembus pasar lokal ke super market dan mini
market di Bandar Lampung. Kendala yang masih dihadapi KMP dalam
mengembangkan skala usahanya adalah terbatasnya modal operasi dan untuk
stok bahan baku. Modal operasi untuk meningkatkan volume perdagangan
diperkirakan mencapai Rp 50 juta per minggu. Jika KMP berhasil mendapatkan
sumber modal dengan bunga rendah maka pengembangan skala usaha tersebut
dapat dipastikan akan berhasil.
Mulai bulan Juli 2003 seluruh unit usaha cassava chips di Lampung
mengalami hambatan pemasaran hal ini karena adanya kecurangan yang
dilakukan oleh oknum pengusaha cassava chip dalam bermitra dengan pengusaha

311

Wan Abbas Zakaria

di Jakarta. Beberapa pengusaha cassva chips di Lampung menggunakan


singkong racun sebagai bahan baku guna memenuhi target produksi sesuai
permintaan pengusaha di Jakarta. Tidak adanya lembaga yang melakukan
manajemen pengendalian mutu di tingkat pabrik menyebabkan produk ditolak
konsumen.
Pada bulan April 2004 telah dilakukan pertemuan koordinasi seluruh
pengusaha cassava chip se-Kabupaten Lampung Selatan di LPM Universitas
Lampung guna memecahkan masalah macetnya pemasaran produk. Akhirnya
disepakati bahwa masing-masing pengusaha harus memenuhi ketentuan mutu
produk berikut ukurannya dengan harga sesuai kesepakatan. Kini pemasaran
produk ke perusahaan mitra di Jakarta telah dimulai kembali.

Program Fasilitasi Percepatan Pemberdayaan Ekonomi Daerah (FPPED)


Program Fasilitasi Percepatan Pemberdayaan Ekonomi Daerah merupakan suatu program pemberdayaan masyarakat dalam rangka mempercepat
pertumbuhan ekonomi desa terutama petani. Program ini merupakan kerjasama
antara BI Bandar Lampung dengan Fakultas Pertanian UNILA pada tahun 2008.
Pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui suatu wadah yang disebut
kelompok tani yang kemudian menghimpun diri menjadi gabungan kelompok tani
(Gapoktan). Program FPPED ini mendapatkan respon yang sangat positif dari
kelompok tani, hal ini dapat dibuktikan dengan keseriusan kelompok tani yang
tergabung dalam Gapoktan guna mengikuti rencana kegiatan yang telah disepakati
bersama. Saat ini program ini telah berlangsung selama delapan bulan sejak
Februari 2008 sampai Oktober 2008. Berikut ini adalah kondisi petani dari segi
ekonomi dan kelembagaan sebagai dampak dari pelaksanaaan Program FPPED.
Tabel 3. Dampak Ekonomi Program FPPED
Indikator
Luas lahan jagung
kelompok
Luas area jagung di desa
sasaran

Satuan

Sebelum

Sesudah

Dampak

ha

50

618

568

ha

1.650

1.650

kg/ha

5.000

8.000

3.000

kg

8.250.000

13.200.000

4.950.000

Rp/ha/ms

2.500.000

3.500.000

1.000.000

Rp/kg

800

1.500

700

Penerimaan per hektar

Rp/ha/ms

4.000.000

12.000.000

8.000.000

Produktivitas per ha
Potensi produksi
keseluruhan
Biaya produksi
Harga jual
Keuntungan/ha/musim

Rp/ha/ms

1.500.000

8.500.000

7.000.000

Penerimaan kelompok
tani jagung/musim (28
kelp)

Rp

200.000.000

7.416.000.000

7.216.000.000

Penerimaan kawasan/
wilayah jagung/tahun (2
kali tanam)

Rp

400.000.000

14.832.000.000

14.432.000.000

312

Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani Kunci Kesejahteraan Petani

Tabel 4. Dampak Kelembagaan Kelompok Tani Program FPPED


Indikator

Satuan

Sebelum
2

28

26

Jumlah anggota kelompok

orang

50

537

487

Uang kas kelompok

Rupiah

2.000.000

40.000.000

38.000.000

Belum
berbadan
hukum

Sudah
berbadan
hukum

Berbadan hukum

7.000.000

7.000.000

Belum ada

Sudah ada
MoU

MoU /Kontrak
kerjasama

158.000.000

158.000.000

Belum ada
kemitraan

CV.Tangkas
Perdana

Sudah ada
kerjasama dengan
CV.Tangkas
Perdana

Jumlah kelompok

Jumlah Gapoktan
Badan Hukum Gapoktan

Jumlah Uang kas


Gapoktan

Rupiah

MoU dengan stakeholders


Kemitraan dengan
perbankan
Kemitraan dengan Pihak
Saprotan

Rupiah

Sesudah

Dampak

Beberapa contoh di atas merupakan suatu bukti bahwa daya saing produk
pertanian dapat diwujudkan melalui pemberdayaan kelembagaan/organisasi
ekonomi rakyat (petani). Melalui pemberdayaan kelembagaan/organisasi ekonomi
rakyat (petani) tersebut efisiensi produksi yang dihasilkan oleh adanya manfaat
skala ekonomi dari organisasi ekonomi petani dapat dicapai, keuntungan
usahatani, pendapatan dan kesejahteraan petani, pengusaha dan daerah
(penerimaan devisa) akan meningkat, daya saing lokal dan regional terwujud yang
semuanya itu merupakan modal dasar daya saing bangsa.

PENUTUP

Membangun daya saing global di era Milenium III merupakan upaya serius
yang harus dimulai dengan membangun daya saing lokal sedini mungkin untuk
kesejahteraan petani. Upaya tersebut ditempuh melalui pemberdayaan organisasi
ekonomi rakyat (petani) yang dilakukan sungguh-sungguh, konsisten dan
berkesimbangunan dalam tiga fase mulai dari pemberdayaan kelembagaan,
pengembangan jaring kemitraan bisnis hingga ke fase peningkatan daya saing.
Mobilisasi dan pemanfaatan sumberdaya ekonomi rakyat pada tahap awal
(pemberdayaan masyarakat) perlu disponsori oleh pemerintah agar masyarakat
lokal mampu meningkatkan aksesnya kepada sumberdaya ekonomi lokal yang
langka sehingga mampu menciptakan dan meningkatkan nilai tambah melalui
pembukaan unit usaha ekonomi produktif secara menguntungkan dan berdaya
saing.

313

Wan Abbas Zakaria

Pada tahap selanjutnya peran pemerintah semakin berkurang sedangkan


peran masyarakat dan dunia usaha (pengusaha) semakin besar seiring dengan
semakin mandirinya kelompok usaha ekonomi produktif. Adapun peran perguruan
tinggi lebih terfokus pada upaya pendampingan, pengembangan dan penerapan
IPTEK yang mampu meningkatkan daya saing produk, daya saing organisasi, daya
saing daerah di pasar global.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Proposal Roadmap Pendidikan Tinggi Pertanian (masih dalam proses)
Arifin, Bustanul. 2000. Pembangunan Pertanian: Paradigma, Kinerja dan Opsi Kebijakan.
Jakarta: Pustaka Indev.
Arkadie, B.V. 1989. The Role of Institution in Development. Proceedings of The Worl bank,
Annual Conference on Development Economics. World Bank: 153-191.
Bantacut, T. 2000. Konsep dan Strategi Pengelolaan PEL. Makalah disampaikan pada
Sarasehan Pelaku Bisnis di Hotel Buki Karsa, Jakarta, 4-5 Desember 2000.
Basri, MC. 2008. Mengurangi Multiplier Kecemasan. Kompas 20 Oktober 2008. Hlm 1
dan 17
Hasyim, A dan B. Arifin. 2002. Strategi dan Antisipasi Kebijakan Tarif Palawija Menghadapi
Era Perdagangan Bebas. Makalah disampaikan pada Seminar Palawija, 7 Oktober
2002 di Bogor, Jawa Barat
Hasyim, A dan Zakaria, WA. 2004. Tinjauan Akademik tentang Kondisi dan Potensi
Pemasar Produk Pertanian Lampung menghadapi Pasar Bebas Asean. Makalah
disampaikan pada Seminar Pengembangan Ekspor Produk Pertanian Lampung di
Hotel Marcopolo. Bandar Lampung pada tanggal September 2004.
Mosher, A.T. 1966. Getting Agriculture Moving. F.A. Praeger Inc. New York.
Mulyana, A. 1998. Keragaan Penawaran dan Permintaan Beras Indonesia dan Prospek
Swasembada Menuju Era Perdagangan Bebas: Suatu Analisis Simulasi. Disertasi
Program Pascasarjana IPB. Bogor.
Pakpahan, A. 1990. Permasalahan dan Landasan Konseptual dalam Rekayasa Institusi
(Koperasi). Makalah disampaikan sebagai Bahan Seminar pada Pengkajian
Masalah Perkoperasian Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan
Departemen Koperasi di Jakarta, 23 Oktober 1990. PSE-Balitbang Deptan.
Bogor, 26 halaman.
Pakpahan, A. 1991. Perspektif Ekonomi Institusi dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam.
Ekonomi dan Keuangan Indonesia: Vol. No.: 445-464.
Saragih, B. 2001. Suara dari Bogor. PT Loji Grafika Sarana dan Pustaka Wirausaha
Muda. Bogor.
Siregar, H dan S. Masyitho. 2008. Dinamika Harga Pangan, BBM, Inflasi serta Kemiskinan,
dan Implikasinya Bagi Ketahanan Pangan. Makalah disajikan pada Sidang Pleno
XIII dan Seminar Nasional ISEI di Senggigi Lombok, 16-18 Juli 2008
Tahlim Sudaryanto dan Effendi Pasandaran. 1993. Sistem Agribisnis di Indonesia. Badan
Agribisnis, Departemen Pertanian. Jakarta.

314

Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani Kunci Kesejahteraan Petani

Tim LPM Unila. 2007. Pengembangan Model Kemitraan Agroindustri Ketan di Kabupaten
Subang dan Garut (Laporan Akhir). Kerjasama Ditjen P2HP Deptan RI dan LPM
Universitas Lampung. Bandar Lampung
Yustika, AE. 2006. Perdesaan, Pertanian, dan Modal: Tinjauan Ekonomi Kelembagaan.
Makalah disampaikan dalam Kongres ISEI XVI di Manado dengan tema:
Meletakkan Kembali Dasar-dasar Pembangunan Ekonomi yang Kokoh. 18-20
Juni 2006 dalam Jurnal Ekonomi Indonesia No. 2, Desember 2007, halaman: 1-14
Zakaria, WA. 2008. Laporan Pelaksanaan Kegiatan Fasilitasi Percepatan Pemberdayaan
Ekonomi Daerah (FPPED) Bulan September 2008. Kerjasama dengan BI Bandar
Lampung.

315