Anda di halaman 1dari 14

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Evaluasi
2.1.1 Pengertian Evaluasi
Pengertian Evaluasi atau kegiatan penilaian adalah merupakan
bagian integral dari fungsi manjemen dan didasarkan pada sistem
informasi manajemen. Evaluasi dilaksanakan karena adanya dorongan
atau keinginan untuk mengukur pencapaian hasil kerja atau kegiatan
pelaksanan program terhadap tujuan yang telah ditetapkan. (Mutrofin,
2010 : 25)
Menurut definisi atau pandangan yang telah dikemukakan
terdapat beberapa pokok pikiran yang dapat disimpulkan, antara lain :
1. Evaluasi merupakan prosedur atau cara membandingkan informasi
tentang kegiatan pelaksanaan program atau hasil kerja dengan suatu
kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan..
2. Hasil

evaluasi

dapat

digunakaan

untuk

memperbaiki,

mempertahankan ataupun mengakhiri program.


3. Dalam

kaitannya

dengan

pengambilan

keputusan,

evaluasi

merupakan sumber informasi yang digunakan untuk memperbaiki


kegiatan program yang sedang dilaksanakan atau untuk perencanaan
yang lebih baik dimasa yang akan datang.
4. Evaluasi bidang kesehatan (WHO) termasuk kegiatan analisis
berbagai macam aspek perekembangan dan pelaksanaan program
dengan mempelajari relevansi, adekuasi, progres, efektivitas,
efisiensi dan dampak dari program.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa evaluasi adalah


prosedur penilaian pelaksanaan kerja dan hasil kerja secara
menyeluruh dengan cara sistematik dengan membangdingkan kriteria
atau tujuan yang telah ditetapkan guna pengambilan keputusan.
2.1.2 Tujuan Evaluasi
1. Sebagai alat untuk memperbaiki kebijaksanaan pelaksanaan program
dan perencanaan program yang akan datang. Hasil evaluasi akan
memberikan

pengalaman

mengenai

hambatan

memperbaiki

kebijaksanaan dan pelaksanaan program yang akan datang.


2. Sebagai alat untuk memperbaiki alokasi sumber dana, daya dan
manajemen (resources) saat ini serta dimasa-masa mendatang.
3. Memperbaiki pelaksanaan dan perencanaan kembali suatu program.
Sehubungan dengan ini perlu adanya kegiatan-kegiatan yang akan
dilakukan antara lain mengecek relevansi dari program dalam hal
perubahan kecil yang terus menerus, mengukur kemajuan teradap target
yang direncanakan, menentukan sebab dan faktor didalam maupun
diluar yang mempengaruhi pelaksanaan program.
2.1.3 Macam-Macam Evaluasi
1. Evaluasi Formatife
Evaluasi yang dilakukan pada tahap pelaksanaan program
dengan tujuan untuk mengubah atau memperbaiki program. Evaluasi ini
dilakukan untuk memperbaiki program yang sedang berjalan dan
didasarkan atas kegiatan sehari-hari, minggu, bulan bahkan tahun atau
waktu relatif pendek. Evaluasi formative meliputi usaha-usaha untuk
secara terus-menerus memantau pencapaian tujuan-tujuan dan target
formal. Manfaat evaluasi formatif terutama untuk memberikan umpan

10

balik kepada manager program tentang kemajuan hasil yang dicapai


beserta hambatan-hambatan yang dihadapi. Evaluasi sering disebut
sebagai evaluasi proses atau monitoring.
2. Evaluasi Sumatif
Evaluasi yang dilakukan untuk melihat hasil keseluruhan dari
suatu program yang telah dilaksanakan. Evaluasi ini dilakukan pada
akhir kegiatan atau beberapa kurun waktu setelah program, guna
menilai keberhasilan program. Evaluasi sumatif ini meliputi usaha
untuk memantau pencapaian tujuan dan terget formal setalah kebijkan
atau program diterapkan untuk jangka waktu tertentu. Evaluasi sumatif
diciptakan untuk menilai prodik-produk kebijakan dan program publik
yang stabil dan mantap. (Mutrofin, 2010 : 27)
2.1.4 Proses Evaluasi
1. Menetapkan atau memformulasikan tujuan evaluasi, yakni tentang apa
yang akan dievaluasi terhadap program yang dievaluasi.
2. Menetapkan kriteria yang akan digunakan dalam menentukan
keberhasilan program yang akan dievaluasi.
3. Menetapkan cara atau metode evaluasi yang akan digunakan.
4. Melaksanakan evaluasi, mengolah dan menganalisis data atau hasil
pelaksanaan evaluasi tersebut.
5. Menentukan keberhasilan program yang dievaluasi berdasarkan kriteria
yang telah ditetapkan tersebut serta memberikan penjelasan-penjelasan.
6. Menyusun rekomendasi atau saran-saran tindakan lebih lanjut terhadap
program berikutnya berdasarkan hasil evaluasi tersebut. Menurut
(Mutrofin, 2010 : 28)
2.2 Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KPRS)
2.2.1 Latar Belakang Pembentukan Program KPRS
Sejak awal tahun 1990, institusi rumah sakit selalu meningkatkan
mutu pada 3 (tiga) elemen yaitu struktur, proses, dan outcome dengan

11

bermacam-macam konsep dasar. Program regulasi yang diterapkan


terutama pada rumah sakit pemerintah seperti Penerapan Standart
Pelayanan Rumah Sakit, Quality Improvement, Perizinan, Akreditasi
Rumah Sakit, dan ISO. Meskipun program-program tersebut telah dapat
meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit baik pada aspek struktur,
proses maupun outcome, namun masih saja terjadi adverse event yang
tidak jarang berakhir dengan tuntutan hukum. Oleh sebab itu, perlu
penerapan program lain yang lebih mengena langsung pada hubungan
dokter-pasien untuk ebih memperbaiki proses pelayanan (Kertadikara,
2008).
Dari berbagai cara meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit,
mulai dari Quality Assurance, Total Quality Control sampai yang terbaru
Continuing Total

Quality Improvement (CTQI), Sebenarnya berbasis

yang relatife sama yaitu upaya jadi yang terpenting tidak hanya
dibicarakan kebaikan dan keunggulan, tetapi paling penting adalah dapat
dikerjakan. Ada 3 aspek mutu yaitu aspek klinis, aspek efiseinsi, dan
aspek Patient Safety (Sabarguna , 2009).
Aspek Patient Safety merupakan upaya menjaga mutu dengan
mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil (Yahya,2006)
2.2.2

Definisi Keselamatan Pasien


Keselamatan pasien (patient safety) rumah sakit adalah suatu
sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem
tersebut meliputi: assesmen resiko, identifkasi dan pengolahan hal yang
berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden,

12

kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi


solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko. Sistem tersebut diharapkan
dapat mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh keslahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan yang
seharusnya dilakukan. (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia,
Nomer 1691/Menkes/Per/VIII/2011, Tentang Keselamatan Pasien Rumah
Sakit) menimbang bahwa melaksanakan ketentuan pasal 43 Undangundang Nomer 44 Tahun 2009 tentang Rumah sakit perlu menetapkan
Peraturan

Menteri Keselamatan tentang Keselamatan Pasien Rumah

Sakit.
Menurut IOM, keselamatan pasien (Patient Safety) didefinisikan
sebagai freedom from accidental injury. Accidental injury disebabkan
karena error yang meliputi kegagalan suatu perencanaan atau memakai
rencana yang salah dalam mencapai tujuan. Accidental injury juga akibat
dari melaksanakan tindakan yang salah atau tidak engambil tindakan
yang seharusnya diambil. Accidental injury

dalam prakteknya akan

berupa kejadian tidak diinginkan (near miss).


Menurut Sir Liam Donaldson (Ketua WHO World Alliance For
Patient Safety, Forward Programme, 2006-2007) mengungkapkan bahwa
Safe care is not an option. It is the right of every patient who entrusts
their care to our health care system yaitu pelayanan kesehatan yang
aman bagi pasien bukan sebuah pilihan akan tetapi merupakan hak pasien
untuk percaya pada pelayanan yang diberkan oleh suatu sistem pelayanan
kesehatan.
Dalam PERMENKES RI Nomor 1691/Menkes/PER /VIII/2011)
disebutkan bahwa keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem

13

dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi
asesmen resiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan
dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar
dari insiden dan tindak lajut selanjutnya serta implementasi solusi untuk
meminimalkan timbulnya resiko melaksanakan suatu tindakan atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
2.2.3

Tujuan Program Keselamatan Pasien


Menurut Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KPRS), tujuan
program keselamatan pasien di rumah sakit antara lain :
1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
2. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan
masyarakat
3. Menurunnya kejadian yang tidak diharapkan (KTD) di rumah sakit
4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan kejadian tidak diharapkan.

2.2.4

Tujuh Langkah Keselamatan Pasien


Komite Keselamatan Pasien yang dibentuk Persatuan Rumah Sakit
Indonesia (PERSI) yang juga disupervisi oleh Departemen Kesehatan
tahun 2008 mencanangkan tujuh langkah keselamatan pasien yang harus
dijalankan di tiap rumah sakit, antara lain adalah:
1. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan

pasien,

ciptakan

kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil.


2. Pimpin dan dukung staf,. Bagunlah komitmen dan fokus yang kuat
dan jelas tentang keselamatan pasien.
3. Integrasikan aktivitas pengelolan resiko. Kembangkan sistem dan
proses pengelolaan resiko, serta lakukan idetifikasi dan assesmen hal
yang potensial bermasalah.

14

4. Kembangkan sistem pelaporan. Pastikan staf agar dengan mudah


dapat melaporkan kejadian atau insiden, serta rumah sakit mengatur
pelaporan kepada KKP-RS.
5. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien. Kembangkan cara
komunikasi yang terbuka dengan pasien.
6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien. Dorong
staf untuk melakukan analisis akar masalah untuk belajar bagaimana
dan mengapa keadian itu timbul.
7. Cegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien
gunakan informasi yang ada tentang kejadian atau masalah untuk
melakukan perubahan pada sistem pelayanan.
2.2.5

Rekomendasi Kebijakan terkait Keselamatan Pasien


Rekomendasi Kebijakan Tingkat Nasional terkait keselamatan pasien.
Untuk kebijakan tingkat nasional, IOM merekomendsikan beberapa hal
yang tekait keselamatan pasein atara lain adalah (Kohn, 2000) :
1. Pembuatan standart untuk organisasi kesehatan dimana organisasi
kesehatan harus memberikan perhatian yang besar untuk program
keselamatan pasien. Regulator dan adan akreditasi mengharuskan
organisasi

kesehatan

untuk

mengimplementasikan

program

keselamatan pasien.
2. Pembuatan standart untuk profesi kesehatan yakni dengan test
periodic bagi dokter, perawat dan tenaga lain, sertifikasi, pembuatan
kurikulum keselamatan pasien, pelatihan, konferensi, jurnal dan
publikasi yang lain.

2.2.6

Lima Prinsip Keselamatan Pasien

15

Selain program, Kohn (2000) menyusun pula lima prinsip untuk


merancang safety system di organisasi kesehatan yakni :
1. Provide Leadership meliputi :
a. Menjadikan keselamatan pasien sebagai tujuan utama/prioritas
b. Menjadikan keselamatan pasien sebagai tagging jawab bersama
c. Menunjuk/menugaskan seseorang yang bertanggung jawab untuk
program keselamatan
d. Menyediakan sumber daya manusia dan dana untuk analisis errir
dan redesign sistem
e. Mengemangkan mekanisme yag efektif untuk mengidentifikasi
unsafe dokter
2. Memperhatikan keterbatasan manusia dalam perancangan proses
yakni :
a. Deseign job for safety
b. Menyederhanakan proses
c. Membuat standart proses
3. Mengembangkan tim yang efektif
4. Antisipasi untuk kejadian tak terduga :
a. Pendekatan proaktif
b. Menyediakan antidotim dan
c. Traning simulasi
5. Menciptakan atmosfer Learning
2.3

Ruang Rawat Inap


Rawat inap adalah pemeliharaan kesehatan ruma sakit dimana
penderita tinggal sedikitnya satu hari berdasarkan rujukan dari pelaksana
pelayanan kesehatan atau rumah sakit pelaksana pelayanan kesehatan
lain. Rawat inap adalah pelayanan kesehatan perorangan yang meliputi
pelayanan kesehatan perorangan yang meliputi observasi, diagnose,
pengobatan, perawatan rehabilitasi medic, dengan menginap di ruang
rawat inap pada sarana kesehatan rumah sakit pemerintah dan swasta
serta puskesmas perawatan dan rumah bersalin yang oleh karena

16

penyakitnya penderita harus menginap. Didalam ruang perawatan


terdapat pelayanan sebagai berikut .
2.3.1

Pelayanan Tenaga Medis


Tenaga medis adalah ahli kedokteran yang fungsi utamanya
memberikan pelayanan medis kepada pasien dengan mutu seaik-baiknya
dengan menggunakan tata cara dan teknik berdasarkan ilmu kedokteran
dan etik yang berlaku serta dapat dipertanggung jawabakan (Soemarja
Aniroen, 1991). Tenaga medis ini dapat sebagai dokter umum maupun
dokter spesialis yang terlatih dan diharapkan memiliki rasa pengabdian
yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada pasien.
Pasien selain mengharapkan tenaga medis yang dapat mengetahui
dan menyembuhkan penyakitnya juga mengharapkan agar para tenaga
medis tersebut dapat memberikan

kasih sayang, rasa aman, penuh

perhatian dan pengabdian, berusaha dengan sungguh-sungguh dan


2.3.2

mengobati dan merawat (Avedis Donabedien).


Pelayanan Tenaga Medis
Pekerjaan dari pelayanan perawatan adalah memberikan pelayanan
kepada penderita dengan baik, yaitu memberikan pertolongan dengan
dilandasi kejiwaan orang dalam masa penyembuhan dan orang-orang
yang kurang sehat dan kurang kuat. Dengan pertolongan tersebut mereka
yang membutuhkan pertolongan mampu belajar sendiri untuk hidup
dengan keterbatasan yang ada dalam lingkungan.

2.3.3

Lingkungan Fisik Ruang Perawatan


Ada administrator rumah sakit yang mengatakan bahwa pengelola
RS yang baik ibarat mengelola sebuah hotel. Diperlukan suasana yang
tenang, nyaman, bersih, asri, aman, tentram dan sebagainya untuk
menuju kearah itu sebenarnya RS telah mempunyai dasar acuan

17

Pemenkes No 982/92, tentang persyaratan kesehatan lingkungan RS


antara lain :
1.
Lokasi atau lingkungan RS : tenang, nyaman, aman, terhindar, dari
2.

pencemaran, selalu dalam keadaan bersih.


Ruangannya : lantai dan dinding bersih, penerangan yang cukup,
tersedia tempat sampah, bebas bau yang tidak sedap. Bebas dari

3.

gangguan serangga, tikus dan binatang pengganggu lainnya.


Atap langit-langit, pintu sesuai syarat yang elah ditentukan.
Untuk menjaga dan memelihara kondisi ini, bukan hanya tugas
pimpinan tapi menjadi tugas semua karyawan RS termasuk pasien
dan pengunjung. Dengan demikian akan diperoleh suasana yang
nyaman, asri, aman, tentram bebas dari segala gangguan sehingga
dapat emberikan kepuasan pasien dalam membantu proses
penyembuhan penyakitnya.

2.3.4

Pelayanan Penunjang Medis


Umumnya pasien rawat inap merasa puas bila seluruh pemeriksaan
dan pengobatan sudah disiapkan oleh RS. Demikian juga kebutuhankebutuhan mendadak seperti alat-alat selalu sudah tersedia dan siap
pakai. Untuk penyediaan perlengkapan-perlengkapan ruangan yang
modern seperti TV, AC, telepon dan lain-lain tergantung pada kebutuhan
dan kemampuan pasien untuk membayar. Didalam RS pelayanan
kesehatan hampir seluruhnya merupakan pemberian obat. Obat dan
semua alat untuk melakukan pengobatan tidak dapat dipisahkan dari RS
dan tersedinya merupakan suatu keharusan yang mutlak. Bagian farmasi
RS bertanggung jawab atas kuantitas maupun kualitasnya, baik dari
mulai pengadaannya, pendistribusian sampai pada pengawasannya.

18

Penyaluran pada pasien harus tepat dalam waktu, jumlah dan cara
pemakainnya. Demikian obat-obatan harus tersedia saat bila diperlukan
dan memenuhi standart yang diwajibkan.
Makanan yang dihidangkan harus dalam jumlah perkiraan
kebutuhan, enak dipandang, dapat dicerna dengan baik, bebas dari
kontaminasi memperharikan nutrisi dan memenuhi standart resep. Serta
penyajian pada waktu yang tepat dan teratur. Pada hakekatnya pelayanan
gizi adalah penerapan ilmu dan seni dalam membantu seseorang dalam
keadaan sehat atau sakit untuk memilih dan memperoleh makanan yang
sesuai guna memenuhi kebutuhan gizi tubuh. Di RS pelayanan ini
ditunjukkan kepada pasien rawat inap, rawat jalan serta karyawan.
2.3.5

Pelayanan Administrasi dan Keuangan


Untuk pasien umum, dibagian ini dilakukan prosedur penerimaan
uang muka perawatan, penagihan berkala dan penyelesaian rekening
pada saat pasien akan keluar dari RS. Untuk penyelesaian rekening,
kuitansi harus dibuat rinci atas biaya pengobatan, pemeriksaan dan
perawatan yang diperoleh pasien selama di RS.

2.4 Rumah Sakit


Rumah sakit merupakan sebuah organisasi yang bergerak di bidang
pelayanan kesehatan yang sehari-hari melakukan kontak denga pasien
Rumah sakit sebagai salah satu sub sistem pelayanan kesehatan yang
memberikan pelayanan kesehatan mencakup pelayanan medik, pelayanan
penunjang medik, rehabilitasi medik dan pelayanan perawatan. Pelayanan
tersebut dilaksanakan melalui unit gawat darurat, unit rawat jalan dan unit
rawat inap (Muninjaya, 2004).

19

Sasaran pelayanan kesehatan rumah sakit bukan hanya individu


pasien, tetapi sudah berkembang mencakup keluarga pasien dan
masyarakat umum. Oleh karena itu sebuah rumah sakit harus mampu
memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh pasien sehingga dapat
meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Kelanggengan
suatu rumah sakit salah satunya ditentukan dari banyaknya jumlah pasien
yang berkunjung ke rumah sakit untuk memperoleh jasa pelayanan
kesehatan, semakin meningkatnya jumlah kunjungan pasien maka semakin
baik keberadaan rumah sakit tersebut (Hidayat, 2004).
Pada era globalisasi, pelayanan prima merupakan elemen utama di
rumah sakit dan unit kesehatan. Rumah sakit dituntut untuk memberikan
pelayanan kesehatan yang memenuhi standart pelayanan yang optimal.
Pasien memandang bahwa hanya rumah sakit yang mampu memberikan
pelayanan medis sebagai upaya penyembuhan dan pemulihan atas rasa
sakit yang dideritanya. Pasien mengharapkan pelayanan yang siap, cepat,
tanggap dan nyaman terhadap keluhan penyakit pasien (Sari,2009).
Strategi pelayanan prima setiap rumah sakit harus melakukan
pendekatan mutu paripurna yang berorientasi pada kepuasan pasien agar
rumah sakit tetap eksis, ditengah pertumbuhan industri pelayanan
kesehatan yang semakin kuat. Upaya rumah sakit untuk tetap bertahan dan
berkembang adalah dengan meningkatkan pelayanan kepada pasien. Hal
tersebut karena pasien merupakan sumber pendapatan yang ditunggu oleh
rumah sakit, baik secara langsung (out of pocket) maupun secara tidak
langsung melalui asuransi kesehatan. Tanpa pasien, rumah sakit tidak

20

dapat bertahan dan berkembang mengingat besarnya biaya operasional


rumah sakit yang tinggi (Muninjaya, 2004).
Rumah sakit seharusnya melakukan

berbagai

cara

demi

meningkatnya kunjungan pasien, sehingga rumah sakit harus mampu


menampilkan dan memberikan pelayanan kesehatan, sehingga dari
dampak yag muncul akan menimpulkan sebuah loyalitas pada pasien
sehingga pasien akan datang kembali memanfaatkan jasa rumah sakit
tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan pasien rumah sakit seharusnya
mempunyai ketrampilan kusus, diantaranya memahami produk secara
mendalam, berpenampilan menarik, bersikap ramah dan bersahabat,
responsive (peka) dengan pasien, menguasai pekerjaan, berkomunikasi
secara efektif dan mampu menanggapi keluhan pasien secara professional
(Nursalam, 2008).
2.5 Tujuh Standar KPRS
Komite keselamatan pasien di rumah sakit (KKPRS) mendorong seluruh
rumah sakit di Indonesia untuk menerapkan tujuh standar menurut
Departemen Kesehatan RI edisi kedua pada tahun 2008 :
1. Pemenuhan hak Pasien
2. Program pendidikan untuk pasien dan keluarga
3. Penerapan program Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. Penggunanaan metode peningkatan kinerja evaluasi dan program
peningktaan keselamatan pasien
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
6. Program pendidikan staf tentang keselamatan pasien
7. Peningkatan komunikasi yang efektif dan berkesinambungan bagi staf
untuk mencapai keselamatan pasien
2.6 Kerangka Konsep
Kerangka konseptual adalah justifikasi ilmiah terhadap penelitian yang
dilakukan dan memberi landasan kuat terhadap judul yang dipilih sesuai

21

identifikasi masalahnya (Hidayat, 2002). Kerangka kosep pada penelitian ini


dapat dilihat pada bagan 2.1
Tujuh standar Program KPRS (Depkes RI , 2008)
1. Pemenuhan hak Pasien
2. Program pendidikan untuk pasien dan keluarga
3. Penerapan program Keselamatan pasien dan kesinambungan
pelayanan
4. Penggunanaan metode peningkatan kinerja evaluasi dan program
peningktaan keselamatan pasien
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
6. Program pendidikan staf tentang keselamatan pasien
7. Peningkatan komunikasi yang efektif dan berkesinambungan bagi
staf untuk mencapai keselamatan pasien
Pelaksanaan Program Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KPRS)

Evaluasi Program Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KPRS)

Hasil Evaluasi Program Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KPRS)

Program keselamatan kerja dikatakan:


1. Berhasil jika 100% program KPRS dapat dijalankan
2. Cukup berhasil jika > 80% program KPRS dapat dijalankan
3. Tidak berhasil jika <80% program KPRS dapat dijalankan.
Ket :

: Diteliti
: Tidak Diteliti
: Garis penghubung

Bagan 2.1 Kerangka konseptual Penelitian Evaluasi Pelaksanaan Program


KeselamatanPasien Rumah Sakit di RSIA PKU Muhammadiyah
Rogojampi 2013