Anda di halaman 1dari 16

BAB I

TUJUAN PRAKTIKUM
Untuk menentukan Unconfined Compressive Strength (UCS), Young's
Modulus, dan Poisson Ratio pada sampel batuan.

BAB II
TEORI DASAR

Mekanika batuan adalah salah cabang disiplin ilmu geomekanika.


Mekanika batuan merupakan ilmu yang mempelajari sifat-sifat mekanik batuan
dan massa batuan. Hal ini menyebabkan mekanika batuan memiliki peran yang
dominan dalam operasi penambangan, seperti pekerjaan penerowongan,
pemboran, penggalian, peledakan dan pekerjaan lainnya.
Penekanan uniaksial terhadap contoh batuan selinder merupakan uji sifat
mekanik yang paling umum digunakan. Uji kuat tekan uniaksial dilakukan untuk
menentukan kuat tekan batuan (t ), Modulus Young (E), Nisbah Poisson /Poisson
Ratio (v) , dan kurva tegangan-regangan. Sampel batuan berbentuk silinder
ditekan atau dibebani sampai terjadi failure. Perbandingan antara tinggi dan
diameter contoh silinder yang umum digunakan adalah 2 sampai 2,5 dengan luas
permukaan pembebanan yang datar, halus dan paralel tegak lurus terhadap sumbu
aksis sampel batuan. Dari hasil pengujian akan didapat beberapa data seperti:
2.1 Kuat Tekan Batuan (c)
Tujuan utama uji kuat tekan uniaksial adalah untuk mendapatkan nilai kuat
tekan dari sampel batuan. Harga tegangan pada saat contoh batuan hancur
didefinisikan sebagai kuat tekan uniaksial batuan dan diberikan oleh hubungan :
c=

F
A

Keterangan :
c = Kuat tekan uniaksial batuan (MPa)
F = Gaya yang bekerja pada saat contoh batuan hancur (kN)
A = Luas penampang awal contoh batuan yang tegak lurus arah gaya (mm)

2.2 Modulus Young ( E )


Modulus Young atau modulus elastisitas merupakan faktor penting dalam
mengevaluasi deformasi batuan pada kondisi pembebanan yang bervariasi. Nilai
modulus elastisitas batuan bervariasi dari satu sampel batuan satu daerah geologi
ke daerah geologi lainnya karena adanya perbedaan dalam hal formasi batuan dan
genesa atau mineral pembentuknya. Modulus elastisitas dipengaruhi oleh tipe
batuan, porositas, ukuran partikel, dan kandungan air. Modulus elastisitas akan
lebih besar nilainya apabila diukur tegak lurus perlapisan daripada diukur sejajar
arah perlapisan (Jumikis, 1979).
Modulus elastisitas dihitung dari perbandingan antara tegangan aksial
dengan regangan aksial. Modul elastisitas dapat ditentukan berdasarkan
persamaan :
E=

Keterangan:
E

= Modulus elastisitas (MPa)

= Perubahan tegangan (MPa)

= Perubahan regangan aksial (%)


Terdapat tiga cara yang dapat digunakan untuk menentukan nilai modulus

elastisitas yaitu:
1. Tangent Youngs Modulus, yaitu perbandingan antara tegangan aksial
dengan regangan aksial yang dihitung pada persentase tetap dari nilai kuat
tekan. Umumnya diambil 50% dari nilai kuat tekan uniaksial.
2. Average Youngs Modulus, yaitu perbandingan antara tegangan aksial
dengan regangan aksial yang dihitung pada bagian linier dari kurva
tegangan- tegangan.
3. Secant Youngs Modulus, yaitu perbandingan antara tegangan aksial
dengan regangan aksial yang dihitung dengan membuat garis lurus dari

tegangan nol ke suatu titik pada kurva regangan-tegangan pada persentase


yang tetap dari nilai kuat tekan. Umumnya diambil 50% dari nilai kuat
tekan uniaksial.
2.3 Nisbah Poisson ( Poisson Ratio )
Nisbah Poisson didefinisikan sebagai perbandingan negatif antara
regangan lateral dan regangan aksial. Nisbah Poisson menunjukkan adanya
pemanjangan ke arah lateral (lateral expansion) akibat adanya tegangan dalam
arah aksial. Sifat mekanik ini dapat ditentukan dengan persamaan :

lateral
aksial

Keterangan:

= Nisbah Poisson

l = regangan lateral (%)


a = regangan aksial (%)
Pada uji kuat tekan uniaksial terdapat tipe pecah suatu contoh batuan pada
saat runtuh. Tipe pecah contoh batuan bergantung pada tingkat ketahanan contoh
batuan dan kualitas permukaan contoh batuan yang bersentuhan langsung dengan
permukaan alat penekan saat pembebanan.

BAB III
ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat
Tabel 3.1 Alat-alat
N

NAMA ALAT

O
1

Mesin tekan "control"

Dial Gauge

Jangka Sorong

Stopwatch

GAMBAR

3.2 Bahan
1. Sampel Batuan

BAB IV
CARA KERJA
1. Menggunakan safety glasses dan safety shoes.
2. Menyiapkan formulir data.
3. Pengukuran sampel, sampel harus memenuhi syarat L/D = 2.
4. Mempersiapkan alat mesin tekan, letakkan sampel batuan dipusat antara plat
atas dan plat bawah mesin tekan. Sampel batuan diletakkan dengan
permukaan bawah sampel menempel pada plat bawah.
5. Pada mesin tekan dipasang tiga buah dial gauge untuk mengukur deformasi
axial, lateral 1, dan lateral 2.
6. Menghidupkan pompa, sehingga oli yang bertekanan tinggi akan masuk
kedalam silinder. Piston dalam silinder bergerak kebawah sampai permukaan
sampel batuan menyentuh plat tekan bagian atas. Karena kedua permukaan
contoh batuan telah menyentuh plat tekan menyebabkan kenaikan piston
terhambat sehingga gaya didalam sampel batuan meningkat. Besarnya gaya
yang ada dalam sampel batuan ini ditransmisikan ke sistem alat pengukur
gaya. Lalu matikan pompa.
7. Mengatur jarum penunjuk pada ketiga dial gauge pada posisi "nol".
8. Menghidupkan kembali pompa dan mulai lakukan pembacaan gaya setiap
interval 2 KN hingga terjadi failure dan dicatat proses pembebanan deformasi
axial dan lateralnya.
9. Mematikan motor dan mencatat lamanya waktu percobaan.
10. Percobaan dilakukan sebanyak 2 kali, karena terdapat dua sampel, yaitu
sampel A dan B.

BAB V
HASIL PENGAMATAN
Berikut adalah hasil pengamatan yang didapatkan oleh praktikan :
Tabel 5.1
Hasil Pengamatan Sampel UCS-A1
Diameter Sampel (mm)
55.1 mm
54.25 mm
54.3 mm
Rata-rata = 54.55 mm

Panjang Sampel (mm)


122.5 mm
124.3 mm
127.5 mm
Rata-rata = 124.767 mm

BAB VI
PERHITUNGAN
A. Sampel UCS-B1
1. Deformasi axial, lateral dan volumetric
Tabel 6.1
Deformasi pada sampel UCS-B1

30.000
25.000

y
p

20.000

Fracture
initiatio
n

15.000
10.000
5.000

0.000
-0.150 -0.100 -0.050 0.000

c
c
0.050

0.100

Regangan Axial

0.150

Regangan Lateral

Regangan Volumetrik

Gambar 6.1 Kurva Regangan-Tegangan sampel UCS-B1

2. Kuat Tekan (c)

c=

F failure
A
60 kN
1
x 3.14 x 0.54583 m2
4

= 25654.381 kN/m2

= 25654.381 kPa x 10-3


= 25.654 MPa

3. Nisbah Poisson (Poisson Ratio)


Dihitung dari garis fracture initiation

lateral
aksial

0.200

0.250

0.300

0.084
0.042

= -2

4. Modulus Young (E)


Metode Average

E=

20 MPa7 MPa
0.065 0.03

13
0.035

= 3.714

B. Sampel UCS-A1
1. Deformasi axial, lateral, dan volumetric.
Tabel 6.2
Deformasi pada sampel UCS-A1

40.000
35.000
30.000
25.000

Regangan Axial

20.000

Regangan Lateral

15.000

Regangan Volumetrik

10.000
5.000
0.000
-5.000 0.000 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000
Gambar 6.2 Kurva Tegangan-Regangan sampel UCS-A1

2. Kuat Tekan (c)

c=

F failure
A
82kN

1
x 3.14 x 0.54550 m2
4

= 35103.845 kN/m2

= 35103.845 kPa x 10-3


= 35.104 MPa

40.000
35.000

Fracture
initiatio
n

y
p

30.000
25.000

Regangan Axial

20.000

Regangan Lateral

15.000
10.000
5.000
0.000
-0.150 -0.100 -0.050 0.000

0.050

0.100

Gambar 6.2 regangan axial-lateral

3. Nisbah Poisson (Poisson Ratio)


Dihitung dari garis fracture initiation

lateral
aksial

0.007
0.044

= -0.159 = -0.16

4. Modulus Young (E)


Metode Average

E=

30 MPa18 MPa
0.065 0.038

14 MPa
0.038

= 3.684

BAB VII
PEMBAHASAN

Percobaan yang dilakukan oleh praktikkan kali ini adalah melakukan uji
kuat tekan uniaksial atau yang biasa disebut sebagai Unconfined Compressive
Strength (UCS). Uji kuat tekan ini merupakan salah satu dari serangkaian
percobaan yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sifat mekanik sebuah
batuan. Percobaan ini mempelajari apa yang akan terjadi pada batuan sebagai
dampak dari diberikannya gaya atau tegangan yang secara konstan terus ditambah
sampai pada akhirnya batuan tidak dapat agi menahan tegangan yang diberikan,
yang kemudian berdampak terjadinya failure pada batuan.
Pada percobaan ini, praktikkan menggunakan dua macam sampel. Yaitu
sampel dengan kode UCS-A1 dan UCS-B1. Pada dasarnya, yang membedakan
sampel ini satu sama lain adalah lama dibuatnya sampel tersebut. Sampel dengan
kode A dibuat selama 28 hari, sedangkan sampel dengan kode B dibuat dalam
jangka waktu yang lebih singkat, yaitu 14 hari. Keduanya diberikan komposisi
yang sama antara campuran semen dan pasir dengan perbandingan 1:1. Pada
umumnya, sampel yang dibuat dengan jangka waktu yang lebih lama cenderung
untuk memiliki sifat lebih kompak daripada sampel yang dibuat dengan waktu
yang lebih singkat.
Uji kuat tekan uniaksial akan memberikan gambaran antara hubungan
tegangan dengan regangan dalam sebuah kurva yang disebut dengan kurva
tegangan-regangan. Kurva ini didapatkan dari menggambarkan 3 deformasi yang
diukur saat pengujian berlangsung, yaitu deformasi aksial, lateral, dan volumetric.
Selain itu, dari percobaan tersebut, kita dapat mengetahui nilai kuat tekan (c),
modulusYoung (E), dan nisbah poisson (Poisson ratio).

Dari hasil percobaan yang kami dapatkan, sampel A mempunyai nilai kuat
tekan (c) sebesar 25,654 MPa. Sedangkan sampel B mempunyai kuat tekan (c)
sebesar 35,104 MPa. Ini menunjukkan bahwa sampel A lebih kuat untuk menahan
tegangan yang diberikan dibandingkan dengan sampel B.
Pada saat percobaan ini dilakukan, terdapat 2 nilai lateral yang diukur,
yakni lateral 1 dan lateral 2. Pada kondisi ideal, perubahan atau deformasi lateral
yang terbaca pada dial gauge adalah positif untuk nilai satu lateral, dan negative
untuk nilai lateral lainnya. Tapi, pada saat praktikkan melaksanakan percobaan,
kedua nilai lateral yang terbaca oleh praktikkan bernilai negatif. Hal ini mungkin
saja terjadi karena dial gauge yang digunakan untuk membaca perubahan lateral
yang terjadi terhadap batuan hanya diletakkan pada satu sisi titik dari sampel
tersebut. Sehingga jika ada perubahan lateral yang bernilai positif tetapi tidak ada
dial gauge, maka perubahan tersebut tidak akan tebaca. Kesalahan juga mungkin
saja terjadi saat praktikkan melakukan pembacaan dial gauge.