Anda di halaman 1dari 21

GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN PENCEGAHAN

TERHADAP PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) PADA


KELUARGA
Oleh
Maurisa
Fakultas Kedokteran, Universitas Abulyatama, Jl. Blang Bintang Lama Km 8,5,
Aceh Besar 23372.
Email Coresponden : risa_maurisa@yahoo.com
Abstrak
Demam Berdarah Dengue/DBD (Dengue Hemorrohagic Fever/DHF) adalah penyakit yang di
sebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot, nyeri sendi yang di
sertai dengan leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diatesis hemoragik. Hasil
Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS) tahun 2007 menyatakan prevalensi DBD di provinsi Aceh
sebesar 1.569 kasus dengan Case Fatality Rate (CFR) 0,83% dan Insidensi Rate38,92%.
Terdapat 15 kabupaten di Provinsi Aceh dengan angka kadud DBD tinggi . Data penderita DBD
di Banda Aceh pada tahun 2007 adalah 851 kasus dengan kematian 4 orang. Tahun 2008 terjadi
penurunan kasus menjadi 593 kasus dengan kematian 5 orang. Tahun 2009 telah terjadi
penurunan kasus lagi menjadi 313 kasus dengan kematian 7 orang. Tahun 2010 terjadi
peningkatan kasus menjadi 759 kasus. Tahun 2011 telah terjadi penurunan kasus menjadi 383.
Tahun 2012 terjadi peningkatan lagi menjadi 506. Tahun 2013 terjadi penurunan lagi menjadi
258 kasus. Dari sembilan kecamatan yang ada di Banda Aceh, Kecamatan Syiah Kuala termasuk
yang memiliki banyak kasus DBD. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengetahuan,
sikap dan tindakan pencegahan masyarakat pada keluarga tentang penyakit Demam Berdarah
Dengue (DBD).

Pendahuluan

beredar. Selama empat tahun terakhir,

Demam berdarah dengue merupakan


masalah utama penyakit menular di berbagai
belahan dunia. Selama 1 dekade angka
kejadian atau incideance rate (IR) DBD
meningkat dengan pesat di seluruh belahan
dunia. Di perkirakan 50juta orang terinfeksi
DBD setiap tahn nya dan 2,5 miliar (1/5
penduduk dunia) orang tinggal di daerah

epidem dengue telah menyebar ke Bhutan


dan Nepal pada kaki gunung Himalaya.
Pada tahun 2007 di Indoneia di laporkan
150.000 kasus, yang mana 25.000 kasus
berasal dari jakarta dan Jawa Barat (WHO,
2009). Pada tahun 2008 terdapat 117.830
kasus dan 953borang meninggal dunia. Pada
tahun 2009 mengalami peningkatan 121.423
kasus dan 1.013 orang meninggal (Depkes

endemik DBD.

RI, 2009). Dimana pada tahun 2007 terjadi


Epidemi Dengue merupakan masalah
kesehatan

di

tahun 2009 ada 65 kasus (Dinkes Kota

Indonesia, Myanmar, Sri Lanka, Thailand

Banda Aceh, 2010). Tahun 2010 terjadi 106

dan Timor-Leste yang berada di negara

kasus, tahun 2011 terjadi 38 kasus, tahun

subtropis dan zona khatulistiwa. Nyamuk

2012 67 kasus, dan tahun 2013 ada 55 kasus

Aedes aegyptitersebar luas di perkotaan dan

(Dinkes Kota Banda Aceh, 2014) Pada tahun

daerah pedesaan, dimana beberapa serotipe

2013 prevalensi DBD di wilayah kota Banda

virus dengue yang beredar. Siklik epidemi

Aceh sebesar 258 kasus.

frekuensinya meningkat di dalam negeri.

Aceh, 2013)

Ekspansi

masyarakat

geografis

yang

yang

utama

178 kasus, tahun 2008 terjadi 120 kasus, dan

terjadi

di

Bangladesh, India dan Maladewa negara


yang mengalami musim gugur dan zona
iklim basah dengan beberapa serotipe yang

(Dinkes Banda

Pengertian Demam Berdarah Dengue

Case Fatality Rate (CFR) mencapai 1% -

(DBD)

5% (Wills,2005).

Demam Berdarah Dengue/DBD (Dengue

Demam dengue dan deman berdarah dengue

Hemorrohagic Fever/DHF) adalah penyakit

di sebabkan oleh virus dengue, yang

yang di sebabkan oleh virus dengue dengan

termasuk dalam genus Flavivirus, keluarga

manifestasi klinis demam, nyeri otot, nyeri

Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus

sendi yang di sertai dengan leukopenia,

dengan diameter 30 nm terdiri dari asam

ruam, limfadenopati, trombositopenia dan

ribonukleat rantai tunggal dengan berat

diatesis hemoragik. Pada DBD terjadi

molekul 4x106. Terdapat 4 serotipe virus

pembesaran plasma yang di tandai dengan

yaitu DEN-1, DEN-2, Den-3 dan DEN-4

hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit)

yang semuanya dapat menyebabkan demam

atau penumpukan cairan di rongga tubuh

dengue atau demam berdarah dengue.

(Suhendro dkk, 2009).

Keempat serotipe ditemukan di Indonesia

Penyebab

Demam

Berdarah

Dengue

(DBD)
Penyakit DBD di sebabkan oleh virus
dengue yang di tularkan melalui gigitan

dengan

DEN-3

merupakan

serotipe

terbanyak. (Suhendro dkk, 2009).


Klasifikasi Demam Berdarah Dengue
(DBD)

nyamuk Aedesaegepty. Dari 250.00 sampai

Demam

berdarah

dengue

500.000 kasus DBD, terutama pada anak-

diklasifikasikan

berdasarkan

derajat

anak, yang di laporkan World Health

beratnya, secara klinis di bagi 4 derajat:

Organization (WHO) setiap tahun dengan

(WHO, 1999)

Derajat I:

Demam disertai gejala tidak

membedakan DBD derajat

khas

satu-satunya

I/II dengan DD, pembagian

perdarahan

derajat penyakit dapat juga di

dan

manifestasi

adalah uji tourniquet positif,

pergunakan

trombositopenia

dewasa.

dan

hemokonsentrasi.
Derajat II:

Derajat III:

Seperti derajat I, disertai

DBD. Tanda derajat I adalah demam

perdarahan spontan dikulit

mendadak dan gejala klinis lain dengan

dan atau perdarahan lain.

manifestasi perdarahan yang paling ringan,

Didapatkan

kegagalan

lemah, tekanan nadi menurun

yaitu rumple leed positif. Dari uji bendung,


perdarahan itu berupa bintik-bintik merah di
lengan lebih dari 10.

(20 mmHg atau kuranag) atau

Derajat II adalah kondisi yang lebih

hipotensi, sianosis disekitar

berat dari pada derajat I. Selain demam,

mulut,

dan

ditemukan perdarahan kulit dan manifestasi

lembab, dan pasien tampak

perdarahan di tempat lain, seperti mimisan

gelisah.

(epistaksis), perdarahan di gusi, muntah

kulit

dingin

Syok berat (profoud shock),


nadi tidak dapat diraba dan
tekanan darah tidak terukur.

Catatan:

kasus

Ada empat derajat berat nya penyakit

sirkulasi, yaitu nadi cepat dan

Derajat IV:

untuk

Adanya

trombositopenia

disertai

hemokonsentrasi

darah (hematemesis), dan atau buang air


besar yang mengandung darah sehingga
tinja terlihat seperti ter atau aspal (melena).
Kedua

stadium

ini

digolongkan

sebagai DBD non-syok, yaitu demam

berdarah tanpa syok atau renjatan yang

harus bersaing dengan sel manusia sebagai

sering

pejamu

menimbulkan

kematian. Adapun

terutama

dalam

mencukupi

DBD yang tergolong sindrom syok dengue

kebutuhan akan protein. Persaingan tersebut

adalah DBD stadium tiga dan empat. Pada

sangat tergantung pada daya tahan pejamu,

tahap ini penderita ada dalam fase kritis dan

bila daya tahan baik maka akan terjadi

membutuhkan perawatan intensif (Satari,

penyembuhan dan timbul antibody, namun

2004).

bila daya tahan rendah maka perjalanan

Patogenesis Demam Berdarah Dengue

penyakit menjadi makin berat dan bahkan


dapat menimbulkan kematian. Patogenesis

(DBD)

DBD dan sindrom syok sengue (SSD) masih


Virus dengue masuk ke dalam tubuh
manusia
aegypti

lewat
atau

gigitan
Aedes

meeerupakan masalah kontroveersial. Dua

nyamuk

Aedes

teori yang banyak dianut pada DBD dan

albopictus.

Organ

SSD adalah hipotesis infeksi sekunder (teori

sasaran dan virus adalah organ RES meliputi

secondary

sel kupffer hepar, endotel pembuluh darah,

hipotesis immune enchancement. Hipotesis

nodus limfaticus, sumsum tulang, serta paru-

ini menyatakan secara tidak langsung bahwa

paru.

penelitian

pasien yang mengalami infeksi yang kedua

menunjukkan bahwa sel-sel monosit dan

kalinya dengan serotipe virus dengue yang

makrofag mempunyai peranan besar pada

heterolog mempunyai risiko berat yang lebih

infeksi ini.

besar untuk menderita DBD/berat. Antibodi

Data

dari

sebagian

Virus merupakan mikroorganisme


yang hanya dapat hidup di dalam sel hidup,
maka demi kelangsungan hidupnya, virus

heterologus

infection)

atau

heterolog yang telah ada sebelumnya akan


mengenai virus lain yang akan menginfeksi
dan kemudian membentuk kompleks antigen

antibodi yang kemudian berkaitan dengan

infeksius dan nyamuk Aedes aegypti dapat

Fc reseptor dari membran sel leokosit

mengandung

terutama makrofag. Oleh karena antibodi

menggigit manusia yang sedang mengalami

heterolog maka virus tidak dinetralisasikan

viremia (Depkes, RI 2005).

oleh tubuh sehigga akan bebas melalukan


replikasi

dalam

sel

makrofag.

Dihipotesiskan juga mengenai antibodi


dependent enhancement(ADE), suatu proses
yang

akan

replikasi

meningkatkan

virus

dengue

infeksi

di

dan

dalam

infeksi tersebut, terjadi sekresi mediator


vasoaktif yang kemudian menyebabkan
peningkatan permeabelitas pembuluh darah,
mengakibatkan

keadaan

hipovolomia dan syok (Depkes RI, 2009).


Cara

Penularan

Demam

Berdarah

saat

Masa pertumbuhan dan perkembangan


nyamuk Aedes aegypti dapat di bagi menjadi
4 tahap, yaitu telur, larva, pupa, dewasa
(imago), sehingga termasuk metamorphosis
sempurna (Soegeng, 2006).
a. Telur
Telur

nyamuk

Aedes

aegypti

berbentuk elips atau oval memanjang,


warna

hitam,

ukuran

0,5-0,8

mm,

permukaan poligonal, tidak memiliki


alat pelampung, dan diletakkan satu per
satu pada benda-benda yang terapung

Penampungan
Ada tiga faktor yang memegang peranan
penting pada penularan penyakit DBD, yaitu
manusia, virus, dan vektor perantara. Virus
dengue ditularkan kepada manusia melalui
nyamuk

pada

atau pada dinding bagian dalam Tempat

Dengue (DBD)

gigitan

dengue

sel

monokulear. Sebagai tanggapan terhadap

sehingga

virus

Aedes

aegypti

yang

Air

(TPA)

yang

berbatasan langsung dengan permukaan


air. Dilaporkan bahwa dari telur yang
dilepas, sebanyak 85% melekat di
dinding TPA, sedangkan 15% lainnya

jatuh ke permukaan air. Telur nyamuk

Pupa nyamuk Aedes aegypti bentuk

Aedes aegypti di dalam air dengan suhu

tubuhnya

20-400C akan menetas menjadi larva

kepala sampai dada lebih besar bila

dalam waktu 1-2 hari (Soegemg, 2006).

dibandingkan dengan bagian perutnya,

bengkok,

dengan

bagian

sehingga tampak seperti tanda baca

b. Larva

koma. Pada bagian punggung dada


Larva

nyamuk

aegypti

terdapat alat pernafasan seperti terompet.

tubuhnya memanjang tanpa kaki dengan

Pada ruas perut ke-8 terdapat sepasang

bulu-bulu

alat pengayuh yang berguna untuk

sederhana

Aedes

yang

tersusun

secara bilateral simetris. Larva ini dalam

berenang.

pertumbuhan

perkembangannya

berjumbai panjang dan bulu di nomor 7

mengalami 4 kali pergantian kulit, dan

pada ruas perut ke-8 tidak bercabang.

larva yang terbentuk berturut disebut

Pupa adalah bentuk tidak makan, tampak

larva instar I, II, III, IV. Pada bagian

gerakannya

lebih

lincah

bila

kepala terdapat sepasang mata majemuk,

dibandingkan

dengan

larva.

Waktu

larva ini tubuhnya langsing dan bergerak

istirahat posisi pupa sejajar dengan

sangat lincah, bersifat fototaksis negatif,

bidang permukaan air. Pupa berkembang

dan waktu istrahat membentuk sudut

menjadi nyamuk dewasa dalam 2-3 hari

hampir tegak lurus dengan bidang

(Soegeng, 2006).

dan

Alat

pengayuh

tersebut

permukaan air. Pada kondisi optimum,


larva berkembang menjadi pupa dalam
4-9 hari ( Soegeng, 2006).
c. Pupa

d. Dewasa (imago)
Nyamuk

dewasa

Aedes

aegypti

keluar dari pupa melalui celah antara


kepala dan dada. Nyamuk dewasa betina

yang menghisap darah manusia untuk

dapat mengeluarkan telur sebanyak 100

keperluan pematangan telurnya. Nyamuk

butir. Telur itu di tempat yang kering

ini menyerang manusia dari bagian

(tanpa air) dapat bertahan berbulan-

bawah atau belakang tubuh mangsanya.

bulan pada suhu -20C -420C, dan bila

Umur Aedes aegypti di alam bebas

tempat-tempat

sekitar 10 hari. Umur ini telah cukup

tergenang air atau kelembabannya maka

bagi nyamuk ini mengembangkan virus

telur dapat menetes lebih cepat (Depkes

dengue menjadi jumlah yang lebih

RI, 2005).

banyak

dalam

tubuhnya

(Soegeng,

2006).
Setelah

tersebut

kemudian

Biasanya nyamuk Aedes aegypti


mencari mangsanya pada siang hari.

proses

Aktivitas menggigit biasanya mulai pagi

pematangan telur selesai, nyamuk betina

sampai petang hari, dengan dua puncak

Aedes aegypti akan meletakkan telurnya

aktivitas antara pukul 09.00-10.00 dan

di

16.00-17.00. tidak seperti nyamuk lain,

dinding

beristirahat

tempat

dan

perkembang

biakannya, sedikit di atas permukaan air.

nyamuk

Aedes

Pada umumnya telur akan menetas

kebiasaan menghisap darah berulang kali

menjadi jentik dalam waktu 2 hari

untuk memenuhi lambungnya dengan

setelah telur terendam air. Stadium jentik

darah sehingga nyamuk ini sangat efektif

biasanya berlangsung 6-8 hari, dan

sebagai

pertumbuhan dari telur menjadi nyamuk

menghisap darah, nyamuk ini higgap

dewasa selama 9-10 hari. Umumnya

(beristirahat) di dalam atau kadang-

nyamuk betina dapat mencapai 2-3

kadang di luar rumah berdekatan dengan

bulan. Setiap bertelur nyamuk betina

tempat perkembangbiakannya, biasanya

penular

aegypti

mempunyai

penyakit.

Setelah

di tempat yang agak gelap dan lembab.


Ditempat-tempat ini nyamuk menunggu
proses

pematangan

(Hadinegoro,

2005,

telurnya

dalam

Manalu,

1. Badan kecil bewarna hitam dengan


bintik-bintik putih.
2. Jarak terbang nyamuk sekitar 100
meter.

2009)
3. Umur nyamuk betina dapat mencapai
Nyamuk lebih menyukai benda-

sekitar 1 bulan.

benda yang tergantung di dalam rumah


dan

4. Menghisap darah pada pagi hari

baju/pakaian. Maka dari itu pakaian

sekitar pukul 09.00-10.00 dan sore

yang tergantung di balik pintu sebaiknya

hari pukul 16.00-17.00

seperti

gorden,

kelambu

dilipat dan disimpan dalam almari,


karena nyamuk Aedes aegypti senang
hinggap dan beristirahat di tempattempat gelap dan kain yang tergantung
untuk

berkembang

biak,

untuk

pematangan

sel

telur,

sedangkan nyamuk jantan memakan


sari-sari tumbuhan.

sehingga

nyamuk berpotensi untuk bisa menggigit


manusia (Yatim, 2007)
Nyamuk Aedes aegypti telah lama
diketahui sebagai vektor utama dalam
penyebaran penyakit DBD, adapun ciricirinya adalah sebagai berikut: (Nadezul,
2007)

5. Nyamuk betina menghisap darah

6. Hidup di genangan air bersih bukan


di got atau comberan.
7. Di dalam rumah dapat hidup di bak
mandi, tempayan, vas bunga, dan
tempat air minum burung.

8. Di luar rumah dapat hidup di

Pasien biasanya mengalami demam

tampungan air yang ada di dalam

secara tiba-tiba. Fase demam akut ini

drum, dan ban bekas.

biasanya berlangsung selama 2-7 hari dan

Gejala Demam Berdarah De ngue (DBD)

sering di sertai dengan kemerahan pada


wajah, eritema kulit, badan terasa sakit,

Manifestasi

klinis

infeksi

virus

mialgia, arthalgia dan sakit kepala. Beberapa

dengue dapat bersifat asimtomatik, atau

pasien

dapat berupa demam yang tidak khas,

tenggorokan, infeksi faring dan infeksi

demam dengue, demam berdarah dengue

konjungtiva, anoreksia, mual dan muntah.

atau sindrom syok dengue (SSD). Pada

Sulit untuk membedakan demam berdarah

umumnya pasien mengalami fase demam

klinis dari demam berdarah non penyakit

selama 2-7 hari, yang diikuti oleh fase kritis

pada tahap awal demam. Tes tourniquet

selama 2-3 hari. Pada waktu fase ini pasien

positif

sudah tidak demam, akan tetapi mempunyai

probabilitas demam berdarah. Selain itu,

resiko untuk terjadi renjatan jika tidak

cara ini tidak bisa di bedakan secara klinis

mendapat pengobatan adekuat (Suhendro

antara kasus demam berdarah parah dan non

dkk, 2009).

parah.

Keluhan pokok berupa seperti suhu


meningkat

tiba-tiba,

sakit

kepala

supra/retroorbital, nyeri otot dan tulang


belakang, waktu sikat gigi gusi berdarah,
sakit perut dan diare, mual dan muntah.
(Halim, 2007)

mungkin

dalam

Oleh

mengalami

fase

ini

karena

itu

sakit

meningkatkan

pentingnya

pemantauan peingkatan tanda-tanda dan


parameter klinis lainnya untuk mengetahui
perpindahan ke fase kritis. Manifestasi
perdarahan ringan

seperti

petekie dan

perdarahan membran mukosa (misalnya


hidung dan gusi), perdarahan massive pada

vagina ( wanita usia subur) dan perdarahan

sekitar mulut, nadi cepat-lemah, tekanan

gastrointestinal dapat terjai selama tahap ini

nadi < 20 mmHg dan hipotensi. Kebanyakan

tetapi tidak umum. Setelah beberapa hari

pasien masih tetap sadar sekalipun sudah

demam

pembesaran.

mendekati stadium akhir. Dengan diagnosis

Kelainan paling awal dalam jumlah darah

dini dan penggantian cairan adekuat, syok

adalah penurunan progresif dalam sel darah

biasanya teratasi dengan segera, namun bila

putih total yang harus diwaspadai dokter

terlambat diketahui atau pengobatan tidak

untuk kemungkinan demam berdarah tinggi

adekuat, syok dapat menjadi syok berat

(WHO, 2009).

dengan berbagai penyulitnya seperti asidosis

hati

mengalami

Masa kritis dari penyakit terjadi pada


akhir fase demam, pada saat ini terjadi
penurunan suhu yang tiba-tiba yang sering
di sertai dengan gangguan sirkulasi yang
bervariasi

dalam

berat-ringannya.

Pada

kasus dengan gangguan sirkulasi ringan


perubahan

yang

terjadi

minimal

dan

sementara, pada kasus berat penderitas dapat

metabolik, perdarahan hebat saluran cerna,


sehingga memperburuk prognosis. Pada
masa penyembuhan yang biasanya terjadi
dalam 2-3 hari, kadang-kadang ditemukan
sinus bradikardi atau aritmia, dan timbul
ruam pada kulit. Tanda prognostik baik
apabila

pengeluaran

Diagnosis

saat atau segera setelah suhu turun, antara

(DBD)

mula-mula terlihat letargi atau gelisah


kemudian jatuh ke dalam syok yang di
tandai dengan kulit dingin-lembab, sianosis

cukup

dan

kembalinya nafsu makan (Depkes RI, 2009).

mengalami syok. Syok biasa terjadi pada

hari ke-3 sampai hari sakit ke-7. Pasien

urin

Demam

Pemerikasaan

Berdarah

darah

yang

Dengue

rutin

dilakukan untuk menapis pasien tersangka


demam dengue adalah melalui pemeriksaan
kadar

hemoglobin,

hematokrit,

jumlah

trombosit dan hapusan darah tepi untuk

b. Trombosit:

umumnya

melihat adanya limfositosis relatif disertai

trombositopenia

gambaran limfosit plasma biru. Diagnosis

hingga ke-8.

pasti didapatkan dari hasil isolasi virus


dengue (cell culture) ataupun deteksi antigen
virus RNA dengue dengan teknik RT-PCR
(Reverse Transcriptase Polymerase Chain
Reaction), namun karna teknik yang lebih

c. Hemotokrit:
dibuktikan

pada

terdapat
hari

kebocoran
dengan

ke-3

plasma

ditemukannya

peningkatan hematokrit > 20% dari


hematokrit awal, umumya dimulai
pada hari ke-3 demam.

rumit, saat ini tes serologis yang mendeteksi


adanya antibodi spesifik terhadap dengue

d. Hemostatis: dilakukan pemeriksaan

berupa antibodi total, IgM maupun IgG-

PT, APTT, Fibrinogen, D-Dimer,

lebih banyak. Parameter laboraturium yang

atau

dapat diperiksa antara lain: (Sehendro dkk,

dicurigai terjadi perdarahan atau

2009)

kelainan pembekuan darah.

a. Leukosit:

dapat

normal

atau

FDP

pada

e. Protein/albumin:

keadaan

dapat

yang

terjadi

menurun. Mulai hari ke-3 dapat

hipoproteinemia akibat kebocoran

ditemui limfositosis Relatif (>45%

plasma.

dari total leokosit) disertai adanya

meningkat.

limfosit plasma biru (LPB) >15%


dari jumlah total leokosit yang pada

SGOT/SGPT

dapat

f. Ureum, kreatinin: bila didapatkan


gangguan fungsi ginjal.

fase syok akan meningkat.


g. Elektrolit:

sebagai

parameter

pemantauan pemberian cairan.

h. Golongan darah dan cross match


( uji cocock serasi) bila akan
diberikan

transfusi

darah

Penatalaksanaan

Berdarah

Dengue (DBD)

atau

komponen darah.

Demam

Pada dasarnya pengobatan DBD


bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan

i. Imunoserologi dilakukanpemeriksaan

cairan plasma sebagai akibat peningkatan

IgM dan IgG terhadap dengue. IgM:

permeabilitas kapiler dan sebagai akibat

terdeteksi mulai hari ke-3 hingga ke-

perdarahan. Pasien DD dapat berobat jalan

5, meningkat sampai minggu ke-3,

sedangkan pasien DBD dirawat di ruang

menghilang setelah 60-90 hari.

perawatan biasa. Tetapi pada kasus DBD

j. Uji

HI:

dilakukan

pengambilan

bahan pada hari pertama serta saat


pulang

dari

digunakan

perawatan,
untuk

uji

ini

kepentingan

surveilans.

dengan komplikasi diperlukan perawatan


intensif. Untuk dapat merawat pasien DBD
dengan baik, diperlukan dokter dan perawat
yang terampil, sarana laboraturium yang
memadai, cairan kristaloid dan koloid, serta
bank darah yang senantiasa siap bila

NS1: antigen NS1 dapat di deteksi pada

diperlukan. Diagnosis dini dan memberikan

awal demam hari pertama sampai hari

nasehat untuk segera dirawat bila terdapat

kedelapan. Sensivitas anti gen NS1 berkisar

tanda syok, merupakan hal yang penting

63%-93,4% dengan spesifitas 100% sama

untuk mengurangi angka kematian. Di pihak

tingginya dengan spesifitas gold standar

lain,

kultul virus, hasil negatif antigen NS1 tidak

diramalkan. Pasien yang pada waktu masuk

menyingkirkan adanya infeksi virus dengue.

keadaan umumnya tampak baik, dalam

perjalanan

penyakit

DBD

sulit

waktu singkat dapat memburuk dan tidak

tertolong. Kunci keberasilan tatalaksana

infeksi akut lainnya. Perubahan ini mungkin

DBD/SSD terletak pada keterampilan para

terjadi dari saat ke saat berikutnya. Maka

dokter

pada kasus-kasus yang meragukan dalam

untuk

peralihan

dari

dapat
fase

mengatasi
demam

ke

masa
fase

menentukan

indikasi

rawat

diperlukan

penurunan suhu (fase kritis, fase syok)

observasi/pemeriksaan lebih lanjut. Pada

dengan baik.

seleksi

pertama

diagnosis

ditegakkan

berdasarkan anamnesis dan pemerikasaan

Tatalaksana Protokol 1 Tersangka

fisik serta hasil pemeriksaan Hb, Ht, dan


DBD.
jumlah trombosit.
Protokol 1 ini dapat digunakan
sebagai

petunjuk

dalam

memberikan

pertolongan pertama pada pasien DBD atau


yang di duga DBD di puskesmas atau
Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit dan
tempat perawatan lainnya untuk dipakai
sebagai

petunjuk

indikasi

rujuk

atau

dalam

memutuskan

rawat.

mungkin masih belum tampak, demikian


hasil

pemeriksaan

Indikasi rawat pasien DBD dewasa


pada seleksi pertama adalah

1. DBD dengan syok dengan atau tanpa


perdarahan.
2. DBD

dengan

perdarahan

masif

dengan atau tanpa syok

Mnifestasi

perdarahan pada pasien DBD pada fase awal

pula

darah

tepi

3. DBD tanpa perdarahan masif dengan


a. Hb, Ht, normal dengan trombosit
<100.000/ul

(Hemoglobin (Hb), Hematokrit (Ht), leoosit


dan trombosit) mungkin masih dalam batasbatas

normal,

sehingga

sulit

membedakannya dengan gejala penyakit

b. Hb,Ht yang menigkat dengan


trombositopenia <150.000/ul

Pasien yang di curigai menderita

b. Hb, Ht yang meningkat dengan

DBD dengan hasil Hb, Ht dan

jumlah trombosit kurang dari

trombosit dalam batas normal dapat

150.000/ul

dipulangkan dengan ajuran kembali


kontrol ke poliklinik Rumah Sakit
waktu 24 jam beriktnya atau bila
keadaan

pasien

memburuk

agar

segera kembali ke puskesmas atau


fasilitas Kesehatan. Sedangkan pada
kasus

yang

meragukan

indikasi

rawatnya, maka untuk sementara


pasien

tetap

diobservasi

di

Puskesmas dengan ajuran minum


yang banyak 500cc dalam empat
jam.

Setelah

itu

dilakukan

pemeriksaan ulang Hb, Ht dan


trombosit.
1. Pasien di rujuk apabila didapatkan
hasil sebagai berikut:
a. Hb, Ht dalam batas normal
dengan jumlah trombosit kurang
dari 100.000/ul atau

2. Pasien

dipulangkan

apabila

didapatkan nilai Hb, Ht dalam batas


normal dengan jumlah trombosit
lebih dari 100.000/ul dan dalam
waktu 24 jam kemudian diminta
kontrol ke Puskesmas/poliklinik atau
kembali ke IGD apabila kedaan
menjadi memburuk. Apabila masih
meragukan, pasien tetap diobservasi
dan tetap diberikan infus ringer
laktat 500 cc dalam waktu empat jam
berikutnya. Setelah itu dilakukan
pemeriksaan ulang Hb, Ht dan
jumlah trombosit.
3. Pasien dirawat bila di dapakan hasil
laboraturium sebagai berikut.
a. Nilai Hb, Ht dalam batas normal
dengan jumlah trombosit kurang
dari 100.000/ul

b. Nilai Hb, Ht tetap/meningkat

Mencegah atau mengurangi penularan

dibandingkan nilai sebelumnya

virus dengue tergantung sepenuhnya pada

dengan jumlah trombosit normal

pengendalian vektor nyamuk atau gangguan

atau

Selama

dari kontak manusia dengan vektor nyamuk

dimonitori

atau gangguan dari kontak manusia dengan

tekanan darah, frekuensi nadi dan

vektor. Kegiatan untuk mengontrol transmisi

pernafasan serta jumlah urin

harus menargetkan Aedes aegypti (vektor

minimal setiap 4 jam.

utama) dalam habitat dari tahap belum

menurun.

diobservasi

perlu

dewasa dan dewasa dalam rumah tangga dan

Nilai normal Hemoglobin:

sekitarnya. Pengaturan di mana kontak


Anak-anak:

11,5-12,5

gr/100ml

manusia dengan vektor terjadi (misalnya, di


sekolah, di rumah sakit dan tempat kerja).

darah
Laki-laki dewasa:

13-16 gr/100ml darah

Aedes aegypti banyak berproliferasi dalam


rumah tangga dalam suatu wadah seperti

Wanita dewasa:

12-14 gr/100ml darah

Nilai normal Hematokrit:

yang digunakan untuk penyimpanan air


rumah tangga dan untuk tanaman hias, serta
keragaman habitat yang di penuhi hujan.

Anak-anak:

33-38 vol%

Laki-laki dewasa:

40-48 vol%

Biasanya, nyamuk ini tidak terbang jauh,


mayoritas sisanya dalam radius 100 meter
dari tempat mereka muncul. Mereka mencari

Wanita dewasa:

37-43 vol%

makan pada manusia, terutama pada siang

Upaya pencegahan Demam Berdarah

hari,

baik

indoor

maupun

outdoor.

Dengue (DBD)

Manajemen lingkungan berupaya mengubah

lingkungan

untuk

mencegah

atau

pembersihan

dengan

menyikat

meminimalkan vektor. Sehingga kontak

tempat penyimpanan air, vas bunga,

manusia dengan patogen-vektor, dengan

melindungi ban dari curah hujan.

menghancurkan,

mengubah,

menghapus

c. Perubahan habitasi atau perilaku

atau daur ulang kontainer yang tidak penting

manusia-tindakan untuk mengurangi

yang menyediakan habitat larva. Seperti itu


tindakan

harus

pengendalian
andalan

menjadi

vektor

berdarah.

WHO

andalan

demam

pengendalian

manusia

dengan

vektor

seperti menggunakan kelambu saat

berdarah

vektor

membagi

kontak

tidur.

demam

tiga

jenis

untuk mencegah penyakit DBD setiap


keluarga di anjurkan untuk melaksanakan

manajemen lingkungan : (WHO, 2009)

3M dirumah dan halaman masing-maing


a. Modifikasi Lingkungan: transformasi
fisik

jangka

panjang

untuk

dengan melibatkan seluruh keluarga, dengan


cara :

mengurangi vektor habitat larva,


seperti pemasangan pipa air bersih
yang

dapat

diandalkan

untuk

masyarakat, termasuk sambungan


rumah tangga.

habitat

bak

mandi

sekurang-

kurangnya 1 minggu sekali


2. Menutup

rapat-rapat

tempat

penampungan air

b. Manipulasi Lingkungan: perubahan


sementara

1. Menguras

vektor

yang

3. Mengganti air vas bunga/tanaman air


seminggu sekali

memerlukan pengaturan wadah yang


penting dan wadah

yang

tidak

penting, seperti pengosongan dan

4. Mengganti air tempat minum burung

5. Menimbun

barang-barang

bekas

yang dapat menampung air.

(peningkatan hematokrit) atau penumpukan


cairan di rongga tubuh.

Penutup
Demam

Gejala yang timbul Pasien biasanya


Berdarah

Dengue/DBD

(Dengue Hemorrohagic Fever/DHF) adalah


penyakit yang di sebabkan oleh virus dengue
dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot,
nyeri

sendi

leukopenia,

yang
ruam,

di

sertai

dengan

limfadenopati,

trombositopenia dan diatesis hemoragik.


Pada DBD terjadi pembesaran plasma yang
di

tandai

dengan

hemokonsentrasi

mengalami demam secara tiba-tiba. Fase


demam akut ini biasanya berlangsung
selama 2-7 hari dan sering di sertai dengan
kemerahan pada wajah, eritema kulit, badan
terasa sakit, mialgia, arthalgia dan sakit
kepala.

Beberapa

pasien

mungkin

mengalami sakit tenggorokan, infeksi faring


dan infeksi konjungtiva, anoreksia, mual dan
muntah.

Daftar Pustaka
1. Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta; 2006
2. Candra, B. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : PT EGC
3. DEPKES RI. 2005, Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue Di
Indonesia. Jakarta : Depkes RI
4. Dinkes. Laporankasus dan kematian penyakit demam berdarah dengue, Banda Aceh:
Pemerintah Aceh. 2013
5. Dinkes. Kasus DBD di wilayah kota Banda Aceh, Banda Aceh : Dinkes Kota Banda
Aceh. 2013
6. Fariz, Miftah. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Upaya Masyarakat Dalam
Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Kecamatan Syiah
Kuala Kota Banda Aceh
7. Handinegoro, Sri Rezeki H. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue Di Indonesia. Ed
ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan.2004
8. Halim Mubin,A. Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam: Diagnosis dan Terapi. Edisi
2. Jakarta : EGC. 2007
9. Muhammad, Teuku. Pedoman umum penulisan skripsi mahasiswa. Banda aceh:
Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Aceh. 2013

10. Muttaqien, Teuku Muhammad Iqbal. Perilaku Masyarakat Kecamatan Syiah Kuala
Mengenai Demam Berdarah Dengue. Universitas Syiah Kuala.2011
11. Nadesul, Handrawan. Cara mudah mengalahkan Demam Berdarah. Jakarta: PT
Kompas Nusantara.2007
12. Notoadmojdo, Soekidjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. 2005
13. Notoadmodjo, Soekidjo. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka
Cipta.2007
14. Notoatmodjo, Soekidjo. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta; 2010
15. Profil Puskesmas KOPELMA Darussalam Babda Aceh 2014
16. Satari, Hindra I. Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Puspa Swara. 2004
17. Sutaryo. 2005. Dengue. Yogyakarta : Medika FK UGM
18. Suhendro, Leonard Nainggolan, Khie chen, Herdiman T. Pohan. 2009. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Edisi kelima. Editor : Aru W. Sudoyo, Bambang setiyohadi, Idrus Alwi,
Marcellus Simadibrata K, Siti setiati. EGC, Jakarta. Halaman: 2773-2779.
19. World Health Organization; Asih, Yasmin. Demam Berdarah Dengue, diagnosis,
pengobatan, pencegahan dan pengendalian. Ed 2. Jakarta: EGC. 1999
20. Yatim, Faisal. 2007. Macam-macam Penyakit Menular dan Cara Pencegahannya. Jilid
2. Jakarta : Pustaka Obor Populer.