Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN BIOKIMIA

PURIFICATION OF GLUTATHIONE S-TRANSFERASE ENZYME FROM RAIBOW


TROUT ERYTHROCYTES AND EXAMINATION OF THE EFFECTS OF CERTAIN
ANTIBIOTICS ON ENZYME ACTIVITY
PEMURNIAN ENZIM GLUTATHIONE S-TRANSFERASE DARI ERITROSIT
RAINBOW TROUT DAN PEMERIKSAAN PENGARUH ANTIBIOTIK TERTENTU
TERHADAP AKTIVITAS ENZIM

Oleh:
Kelompok 5
Kelas D
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Dwi Rachmadhina Dewanti


Putri Wardhani
Zhidni Robbi Rodiyyah
Eki Nuri Fauziyah
Yovita Selma Desiyana
Naimun Citra
Valentina Puspa

NRP 1110091
NRP 1110141
NRP 1110160
NRP 1110209
NRP 1110280
NRP 1110310
NRP 1110338

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SURABAYA
2012
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .......................................................................................................... i


BAB I

PENDAHULUAN.......................................................................... 1
1.1 DASAR TEORI ........................................................................ 1
1.2 TUJUAN PENELITIAN....................................................... 1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA.................................................................

BAB III

METODE PENELITIAN...............................................................

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................. 8

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 15


LAMPIRAN

BAB I
i

PENDAHULUAN
1.1 DASAR TEORI
Glutathione S-transferase memainkan peranan penting terhadap detoksifikasi
xenobiotik melalui kombinasinya dengan beberapa mekanisme metabolisme. Enzim ini
menginaktivasi elektrofilik xenobiotik melalui konjugasi keduanya dengan mengurangi
glutation (GST), sehingga dapat menghilangkan elektrofilik xenobiotik dari tubuh. Isoenzim
glutathione S-transferase adalah protein homodimeric dan heterodimeric yang disintesis dari
banyak gen lokus dengan massa molekul sekitar 25 kDa. Setiap subunit memiliki sisi aktif
yang melibatkan dua sisi yang berbeda fungsi, wilayah G mengikat substrat fisiologis dan
substrat hidrofobik, wilayah H mengikat secara struktural berbagai substrat elektrofilik.
Komposisi asam amino dari isoenzim GST berbeda dalam sisi aktif wilayah H-hidrofobik hal
tersebut adalah penyebab dibalik keanekaragaman substrat keluarga enzim. Glutathione Stransferase adalah anggota keluarga fase-II enzim detoksifikasi yang mengkatalisis konjugasi
glutathione dengan xenobiotik, yang hidup adalah organisme yang terkena secara spontan,
dan mengubahnya menjadi metabolit yang kurang beracun.
Antibiotik aminoglikosida (amikasin, netilmicin, gentamisin, dll) diketahui memiliki
efek nefrotoksik, neurotoksik, dan autotoksik. Berbagai peran penting dalam metabolisme
dan detoksifikasi banyak obat, disebabkan karena glutation memiliki struktur tripeptida
dengan sistein. Hal ini menetralkan obat melalui kelompok sulfhidril (SH) dalam molekulmolekulnya. Proses ini sering menggunakan enzim Glutation S-transferase.
1.2 TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara in vitro efek dari antibiotik yang
digunakan untuk mengobati manusia dan ikan pada aktivitas enzim GST, dimurnikan dari
eritrosit rainbow trout.

BAB II
i

TINJAUAN PUSTAKA

Enzim merupakan salah satu bagian yang penting dalam kehidupan manusia.
Perannya begitu penting dan tidak bisa diabaikan. Hal ini mengingat enzim sebagai
katalisator mampu untuk mempercepat reaksi. Aktivitas enzim sangat tergantung pada
kemurniannya. Kemurnian enzim yang tinggi akan membuat aktivitas enzim semakin tinggi.
Oleh karena itu perlu dilakukan pemurnian enzim. Pemurnian enzim adalah suatu kegiatan
memisahkan enzim yang diinginkan dari senyawa lain yang tidak dikehendaki. Pemurnian
enzim dilakukan dengan strategi khusus yang terdiri dari beberapa tahap, yaitu: ekstrasi,
pemekatan, dan fraksinasi. Tahap-tahap pemurnian bergantung pada tujuan akhir pemurnian.
Sifat-sifat enzim
1. Enzim bekerja secara spesifik, artinya enzim hanya mempengaruhi substrat tertentu
saja.
2. Enzim hanya mengubah kecepatan reaksi, artinya enzim tidak mengubah produk akhir
yang dibentuk atau mempengaruhi keseimbangan reaksi, hanya meningkatkan laju
suatu reaksi.
3. Enzim merupakan protein. Oleh karena itu, enzim memiliki sifat seperti protein.
Antara lain bekerja pada suhu optimum, umumnya pada suhu kamar. Enzim akan
kehilangan aktivitasnya karena pH yang terlalu asam atau basa kuat, dan pelarut
organik. Selain itu, panas yang terlalu tinggi akan membuat enzim terdenaturasi
sehingga tidak dapat berfungsi sebagai mana mestinya.
4. Enzim diperlukan dalam jumlah sedikit. Sesuai dengan fungsinya sebagai katalisator,
enzim diperlukan dalam jumlah yang sedikit.
5. Enzim bekerja secara bolak-balik. Reaksi-reaksi yang dikendalikan enzim dapat
berbalik, artinya enzim tidak menentukan arah reaksi tetapi hanya mempercepat laju
reaksi sehingga tercapai keseimbangan. Enzim dapat menguraikan suatu senyawa
menjadi senyawa-senyawa lain. Atau sebaliknya, menyusun senyawa-senyawa
menjadi senyawa tertentu.
6. Enzim dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja
enzim adalah suhu, pH, aktivator (pengaktif), dan inhibitor (penghambat) serta
konsentrasi substrat.
ANTIBIOTIKA

Metting and Pyne (1986) menyatakan bahwa antibiotik adalah komponen antimikroba
yang dihasilkan secara alami oleh organisme dan bersifat toksik bagi mikroalga, bakteri,
fungi, virus atau protozoa. Istilah antibiotik berasal dari kata antibios yang berarti substansi
yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme yang dalam jumlah kecil dapat menghambat
pertumbuhan atau mematikan mikroorganisme lain. Penemuan antibiotik diawali oleh
Alexander Fleming pada tahun 1928. Antimikroba dapat berupa senyawa kimia sintetik atau
produk alami. Antimikroba sintetik dapat dihasilkan dengan membuat suatu senyawa yang
sifatnya mirip dengan aslinya yang dibuat secara besar-besaran, sedangkan yang alami
didapatkan langsung dari organisme yang menghasilkan senyawa tersebut dengan melakukan
proses pengekstrakan. Bahan kimia yang dapat membunuh organisme disebut cidal, seperti
bactericidal, fungicidal, algicidal. Sedangkan bahan kimia yang menghambat organisme
disebut static, seperti bahan bacteristatic, fungstatic dan algastati. Senyawa antibakteri
sebagai salah satu bahan antimikroba memiliki 3 macam bentuk kerja, yaitu bakteriostatik,
bakterisidal dan bakterilitik. Mekanisme kerja bakteriostatik adalah menghambat sintesis
protein dengan mengikat ribosom, sedangkan bakterisidal mencegah pertumbuhan dan
menyebabkan kematian, namun tidak menyebabkan sel bakteri menjadi lisis. Berbeda dengan
bakterisidal, bakterilitik bekerja dengan cara membuat lisis sel-sel bakteri. Proses lisisnya sel
bakteri terlihat dari penurunan jumlah sel ataupun kekeruhan setelah bahan tersebut
ditambahkan (Brock and Madigan, 1994).
MEKANISME KERJA ANTIBIOTIKA
Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibiotik dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu :

1. Penghambatan sintesis dinding sel bakteri


Langkah pertama kerja obat berupa pengikatan obat pada reseptor sel (beberapa
diantaranya adalah enzim transpeptida.Kemudian dilanjutkan dengan reaksi
transpeptidase dan sintesis peptidoglikan terhambat.Mekanisme diakhiri dengan
pembuangan atau penghentian aktivitas penghambat enzim autolisis pada dinding
sel.Pada lingkungan yang isotonis lisis terjadi pada lingkungan yang jelas hipertonik,
mikrob berubah menjadi protoplas atau sferoflas yang hanya tertutup oleh selaput sel
yang rapuh.Sebagai contoh antibakteri dengan mekanisme kerja di atas adalah
penicilin, sefalosporin, vankomisin, basitrasin, sikloserin, dan ampisilin.

2. Penghambatan Keutuhan Permeabilitas Dinding Sel Bakteri


i

Sitoplasma semua sel hidup dibatasi oleh selaput sitoplasma yang bekerja sebagai
penghalang dengan permeabilitas selektif, melakukan fugsi pengangkutan aktif
sehingga dapat mengendalikan susunan sel.Bila integritas fungsi selaput sitoplasma
terganggu misalnya oleh zat bersifat surfaktan sehinga permeabilitas dinding sel
berubah atau bahkan menjadi rusak, maka komponen penting, seperti protein, asam
nukleat, nukleotida, dan lain-lain keluar dari sel dan sel berangsur-angsur mati.
Amfoterisin B, kolistin, poimiksin, imidazol, dan polien menunjukkan mekanisme
karja tersebut.

3. Penghambatan sintesis Protein Sel Bakteri


Umumnya senyawa penghambat ini akan menyebabkan Staphylococcus aureus salah
membaca kode pada mRNA oleh tRNA (hambatan translasi dan transkripsi bahan
genetik).[3] Kloramfenikol, eritromisin, linkomisin, tetrasiklin, dan aminoglikosida
juga bersifat menghambat sintesis protein sel bakteri.

4. Penghambatan Sintesis Protein Sel Bakteri


Senyawa antibakteri yang bekerja dengan senyawa ini, diharapkan mempunyai
selektifitas yang tinggi, sehingga hanya sintesis asam nukleat bakteri saja yang
dihambat.Umumya senyawa penghambat akan berikatan dengan enzim atau salah satu
komponen yang berperan dalam tahapan sintesis, sehingga akhirnya reaksi akan
terhenti karena tidak ada substrat yang direaksikan dan asam nukleat tidak dapat
terbentuk.
MEKANISME RESISTENSI ANTIBIOTIKA
Terdapat 4 jalur mekanisme resistensi antibiotika, yaitu penurunan permeabilitas
terhadap antibiotika, yaitu :
1. Perubahan permeabilitas
Antibiotik tidak dapat mencapai lokasi target yang dikehendaki. Keadaan ini
berhubungan dengan penurunan permeabilitas dinding mikroorganisme terhadap
antibiotik. Perubahan permeabilitas berhubungan dengan perubahan reseptor
permukaan sel sehingga antibiotik kehilangan kemampuan untuk melakukan
transportasi aktif guna melewati membran sel, dan akhirnya terjadi perubahan struktur
i

dinding sel yang tidak spesifik. Sebagai contoh mekanisme ini terjadi pada Gram
negatif. Bakteri Gram negatif mempunyai lapisan lipid pada membran luar dinding
sel, membran luar tersebut terdiri dari protein porin yang berbentuk saluran, penuh
berisi air. Perubahan yang terjadi pada porin akan menyebabkan penurunan
permeabilitas terhadap antibiotik tertentu, misalnya golongan beta laktam.

2. Proses inaktifasi oleh enzim


Organisme patogen memacu terjadinya mekanisme biokimia, melalui proses
enzimatik yang berperan mengurangi atau mengeliminasi antibiotika. Pada
mikroorganisme yang telah mengalami mutasi, terjadi peningkatan aktifitas enzim
atau terjadi mekanisme baru sehingga obat menjadi tidak aktif. Contoh, adanya blaktamase menyebabkan penisilin dan sefalosporin menjadi inaktif, enzim asetilase
menyebabkan golongan aminoglikosid tidak aktif melalui mekanisme fosforilasi,
adenilasi, atau asetilasi. Modifikasi biokimia antibiotik oleh enzim bakteri merupakan
suatu masalah yang sangat serius dalam pengobatan antibiotik dan kemoterapi.
3. Modifikasi lokasi reseptor sel target
Melalui mekanisme biokimiawi yang menyebabkan ikatan antara antibiotik dengan
mikroorganisme tidak berlangsung lama, interaksi antara obat dengan sel target tidak
terjadi. Pada mikroorganisme yang telah mengalami mutasi, perubahan biokimiawi ini
terjadi selama fase pengobatan pasien. Contoh, resistensi yang terjadi pada
pengobatan eritromisin, klindamisin, dan streptomisin.
4. Peningkatan sintesis metabolit yang bersifat antagonis
Peningkatan kemampuan mikroba untuk membuat zat metabolit esensial yang bersifat
antagonis terhadap antibiotik, dapat memutuskan kerja antibiotik. Sebagai contoh
terjadinya resistensi terhadap kloramifenikol, trimetropim disebabkan oleh plasmid
mediated (Corcoran JW, Shulman ST, 1992).

BAB III
METODE PENELITIAN
Glutathione-agarosa, GSH, substrat 1-kloro-2,4-dinitrobenzene (CDNB), pengukuran
protein reagen, dan bahan kimia yang digunakan untuk elektroforesis diperoleh dari
SigmaChem.com. Semua bahan kimia lain yang digunakan untuk pengukuran analitis dalam
penelitian ini, dibeli dari Sigma-Aldrich dan Merck.
Persiapan Hemolisat
Sampel darah ikan segar diambil ke dalam tabung, mengandung jumlah yang cukup
dari EDTA. Selanjutnya, plasma dan lapisan leukosit dihapus menggunakan sentrifugasi pada
2500xg selama 15 menit. Sedimen eritrosit dicuci tiga kali dengan 0,154 M larutan NaCl dan
kemudian dihemolisasi dalam lima kalinya volume air es dingin. Sentrifugasi dilakukan pada
15.000xg selama 30 menit, untuk menghapus sel membran.
Kromatografi Afinitas Glutathione-Agarosa
1 g bubuk diliofilisasi dari glutathione-agarosa ditimbang untuk volume 10 ml, dan
dicuci beberapa kali dengan 200 ml air suling untuk menghapus partikel padat. Cuci gel yang
membengkak, dengan menggunakan air dan trompe yang ditangguhkan dengan
menambahkan penyangga stabilisasi (0,05 M K-fosfat (pH 7,4), 1 mM EDTA, dan 1 mM
DTT). Gel tersuspensi dikemas dalam kolom yang didinginkan dengan ukuran 1 x 10 cm
sistem tertutup. Setelah pengendapan, gel dicuci menggunakan pompa peristaltik dengan
stabilisasi penyangga. Stabilisasi kolom sudah jelas tampak dari fakta bahwa absorbansi dan
pH eluat dan buffer itu identik. Kolom afinitas dengan demikian telah disiapkan. Persiapan
hemolisat diterapkan secara langsung terhadap kolom afinitas glutathione-agarosa.
Selanjutnya, kolom dicuci dengan cara melewatkannya melalui 10 mM KH 2PO4 0,1 M dan
KCl (pH 8,0). Prosedur pencucian dipantau melalui spektrofotometer untuk melihat nilai
absorbansi. Setelah kolom itu stabil, enzim dimurnikan dengan elusi gradien. Pelarut elusi
dibuat dari gradien pelaut yang mengandung 50 mM Tris-HCl dan (GSH 1,25-10 mM, pH
9,5). Eluatnya diambil ke tabung 1,5 ml dan absorbansinya diperiksa di 340 nm. Laju aliran
ditetapkan 20 ml/jam menggunakan pompa persitaltik. Prosedur pemurnian dilakukan pada
suhu 40C.

Perhitungan Aktivitas Enzim


Di antara sekian banyak substrat, elektrofil aromatik 1-kloro-2,4-dinitrobenzene
adalah salah satu substrat yang paling sering dugunakan untuk menentukan aktivitas enzim
GST. Sebagai produk yang diperoleh dengan menggunakan substrat ini, adalah
dinitrobenzene S-glutation (DNB-SG) yang menampilkan serapan maksimum pada 340 nm.
Dengan demikian aktivitas pengukuran dilakukan dengan menggunakan peningkatan
absorbansi pada panjang gelombang tersebut. Setelah pengukuran aktivitas, pada cuvettes
ditambahkan 0,5 M 200 l penyangga kalium fosfat (K 2HPO4/KH2PO4 pH 7,4) dan 25 mM 20
l 95% CDNB (dalam etanol). Setelah inkubasi 37 0C selama 3 menit, 20 mM 50 l GSH
ditambahkan ke cuvettes, dengan diaduk menyeluruh. Setelah penambahan cepat 50 l
sampel enzim, cuvettes ditempatkan di spektrofotometer dan mulai dapat dibaca.
Determinasi protein
Metode Bradford diikuti determinasi protein secara kuantitatif. Metode ini didasarkan
pengikatan

Coomassie

Brilliant

Blue

G-250

pada

protein.

Terbentuk

kompleks

spektrofotometri yang menunjukkan absorbansi maksimum pada 595 nm. Menggunakan


larutan baku bovine serum albumin.
SDS-poliakrilamida gel elektroforesis (SDSPAGE)
Untuk mengontrol kemurnian enzim, prosedur Laemmli dilakukan pada 3% dan
konsentrasi akrilamida 8% selama penumpukan dan menjalankan gel, masing-masing 1%
SDS ditambahkan ke dalam larutan akrilamida ini. Hasil yang diperoleh adalah SDS-PAGE
gel yang pertama stabil selama 30 menit dalam larutan yang mengandung 50% propanol,
10% TCA, dan 40% air suling. Kemudian, gel dicuci selama 2 jam dalam larutan yang
mengandung 0,1% Coomassie Brilliant Blue R-250, metanol 50%, dan asam asetat 10%.
Terakhir, pencucian dilakukan dengan pelarut yang mengandung metanol 50%, asam asetat
10%, dan 40% air suling hingga ikatan protein terlihat jelas.
Studi Kinetik
Efek hambat dari antibiotik, gentamisin, amikasin, ampisillin, ornidazole, dan
metronidazole, diteliti dengan memeriksa aktivitas enzimnya pada konsentrasi yang berbeda.
Aktivitas enzim dihitung untuk minimal 5 konsentrasi inhibitor yang berbeda dalam

menentukan nilai IC50. Konsentrasi inhibitor menyebabkan inhibisi 50% (IC50) ditentukan
dengan menggambar % aktivitas melalui grafik mM.
Untuk menentukan konstanta Ki, pengukuran aktivitas dilakukan pada 5 GSH yang
berbeda konsentrasi (0,02 mM, 0,04 mM, 0,06 mM, 0,08 mM, dan 0,01 mM) dan pada
konsentrasi inhibitor yang konstan. Lineweaver-Burk plot diambil menggunakan data yang
diperoleh untuk menentukan konstanta Ki dan jenis hambatan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sebagaimana telah diketahui, obat yang digunakan untuk pengobatan memiliki
banyak efek samping yang merugikan bagi metabolisme. Metabolisme itu mengandung
berbagai enzim dan nonenzimatik yang berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh untuk
menghilangkan atau meminimalkan efek samping. Pertahanan enzimatik disediakan oleh
beberapa sistem enzim seperti enzim glutathione S-transferase, glutation reduktase, glutation
reduktase, glutathione peroksidase, superoksida dismutase, dan katalase. Dengan berbagai
peranan khusus dalam metabolisme suatu macam kelompok substrat elektrofilik yang
mencakup antibiotik, analgesik, dan obat antikanker, glutathione S-transferase merupakan
kelompok enzim multifungsi yang terlibat dalam konjugasi baik endogen maupun eksogen
senyawa elektrofilik dengan glutation tereduksi (GSH) dan dengan demikian dapat
mengkatalisis konversi menjadi kurang metabolit toksik. Tujuan dalam penelitian ini adalah
untuk memurnikan enzim glutathione S-tranferase, yang metabolik pentingnya telah lama
diakui, dari eritrosit ikan rainbow trout dan untuk menguji efek in vitro antibiotik tertentu
melalui aktivitas enzim.
Dalam penelitian ini, enzim GST pada eritrosit rainbow trout dengan 12,2 EU/mg
aktivitas spesifik protein dimurnikan 8,714 kali lipat dengan hasil 90%. Prosedur pemurnian
melibatkan dua langkah, yang pertama adalah persiapan hemolisat dan yang kedua adalah
kromatografi afinitas glutathioneagarose. Karena efektif digunakan dalam memurnikan GST,
maka kolom afinitas glutathioneagarose digunakan selama pemurnian. Metode ini memiliki
kelebihan tertentu seperti durasi pemurnian yang pendek dan rendahnya aktivitas yang hilang
selama pemurnian. Pemurnian berikutnya, SDS-PAGE dilakukan untuk mengendalikan
kemurnian enzim dan memperoleh satu ikatan. Metode yang melibatkan sebuah ikatan
tunggal, aktivitas spesifik, dan pemurnian koefisien dipandang menjadi metode yang cocok
untuk peneliti.
Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk memurnikan enzim glutathione Stransferase demi kepentingan metabolik yang vital, untuk mengidentifikasi struktur tiga
dimensi, dan untuk memeriksa sifat khas dan kinetis. Namun, tinjauan pustaka kita
mendeteksi tidak adanya penelitian yang dilakukan untuk memurnikan enzim dari eritrosit
ikan rainbow trout dan untuk memeriksa efek pada aktivitas enzim dari antibiotik tertentu
seperti getamisin, amikasin, cefuroxime natrium, ampisilin, ornidazole, dan metronidazole.
i

Banyak pengobatan dan antibiotik digunakan untuk mengobati penyakit ikan yang dikenal
memiliki efek buruk pada organisme. Secara langsung atau tidak langsung akan
mempengaruhi pada manusia, yang berada di puncak rantai makanan dan fakta ini sekarang
telah diakui oleh banyak peneliti. Oleh karena itu, penelitian kami sangat signifikan.
Sebagai hasil dari penelitian kinetik dari gentamisin, cefuroxime, dan amikasin
ditampilkan efek penghambatan dan % aktivitas melalui penggambaran grafik, yaitu nilai
IC150 masing-masing dihitung sebagai 0,568, 1,104, dan 7,637. Untuk inhibitor gentamisin,
cefuroxime, dan amikasin, Lineweaver-Burk plot digambar (angka 4-6) dan konstanta Ki
ditentukan sebagai 1.506 0.176 (kompetitif), 0,915 0,490 (kompetitif), dan 6,43 3,627
(non kompetitif) (Tabel 2). Penelitian serupa dapat ditemukan dalam literatur. Misalnya, para
peneliti dalam penelitian yang meneliti interaksi in vitro antara GST dan obat dengan
penggunaan klinis yang luas (analgesik, antimikroba, antipirerik, dll) dalam waktu yang
cukup lama pada plasenta manusia dan pada salah satu pengobatan yang digunakan,
dilaporkan bahwa ampisilin (salah satu antibiotik) menyebabkan terjadinya penurunan
aktivitas enzim GST sebesar 45%, sedangkan novalgine (salah satu analgesik) menyebabkan
terjadinya penurunan GST sebesar 70%. Di sisi lain, dalam penelitian ini ditemukan bahwa
ampisilin tidak mempunyai efek penghambatan secara in vitro pada aktivitas enzim GST
dalam eritrosit rainbow trout.
Dalam literatur penelitian lain telah diperiksa dan dilaporkan bahwa efek
penghambatan antibiotik yang berpengaruh pada GST seperti yang telah kita pelajari dalam
penelitian ini, aktivitas enzim enzim glukosa 6-fosfat dehidrogenase dan glutation reduktase
terlibat dalam sistem pertahanan antioksidan. Sebagai contoh, sebuah penelitian menguji efek
in vitro dari sulfat gentamisin dan ampisilin pada aktivitas enzim glutation reduktase yang
dimurnikan dari sel darah merah manusia, melaporkan bahwa antibiotik (sulfat gentamisin)
ini tidak menunjukkan efek penghambatan. Namun, dalam penelitian ini, kami menemukan
bahwa gentamisin menyebabkan penghambatan pada eritrosit rainbow trout enzim GST.
Penelitian lain menguji efek in vitro dari enam antibiotik, salah satunya adalah sulfat
gentamisin, melalui aktivitas enzim glutation reduktase yang dimurnikan dari hati domba dan
gentamisin diamati tidak memiliki efek inhibitor. Dalam penelitian kami, ditemukan bahwa
gentamisin menyebabkan penghambatan pada enzim GST dalam eritrosit rainbow trout.
Dalam literatur penelitian lain yang menguji efek in vitro, dari serangkaian antibiotik
termasuk cefuroxime dan amikasin melalui aktivitas enzim glutation reduktase (GR) yang
dimurnikan dari eritrosit manusia dan dilaporkan bahwa cefuroxime memiliki efek inhibitor,
i

sementara amikasin tidak. Namun, dalam penelitian ini, kami menemukan bahwa kedua
antibiotik menyebabkan penghambatan enzim GST pada eritrosit rainbow trout. Namun
dalam penelitian lain yang menguji efek dari beberapa antibiotik termasuk thiamphenicol,
amikasin, gentamisin, dan netilmicin melalui aktivitas enzim glukosa 6-fosfat dehidrogenase
(G6PD) yang dimurnikan dari eritrosit ikan rainbow trout (Oncorhynchus mykiss),
melaporkan adanya efek inhibitor.
Parameter yang paling efisien yang menunjukkan adanya efek inhibitor adalah
konstanta Ki dan nilai IC50. Pengujian nilai Ki suatu obat dengan efek inhibitor pada
aktivitas enzim GST dalam eritrosit rainbow trout menunjukkan bahwa semua itu adalah
inhibitor kuat dari enzim GST, tetapi natrium cefuroxime adalah obat yang menunjukkan
efektivitas inhibitor tertinggi. Kedua hasil penelitian kami dan orang lain dalam literatur yang
telah kami sebutkan mengungkapkan bahwa antibiotik yang digunakan dalam penelitian ini
adalah inhibitor potensial untuk enzim metabolik. Obat tersebut menghambat tidak hanya
enzim GST, tetapi juga enzim lain yang memproduksi glutathione sebagai substrat GST
(glutation reduktase), yang akan mengakibatkan kegagalan serius pada reaksi detoksifikasi.
Oleh karena itu, dalam menentukan dosis dari antibiotik yang digunakan untuk pengobatan,
maka akan sangat penting untuk sistem pertahanan metabolisme dalam mempertimbangkan
nilai IC50 yang diperoleh sebagai hasil dari studi kinetik.

BAB V
DAFTAR PUSTAKA

http://biologi.blogsome.com/2011/08/16/enzim
http://id.wikipedia.org/wiki/Antibakteri
http://lib.ummgl.ac.id/jurnal/latifa_apt@yahoo.co.id/Elmiawati%20Latifah.pdf