Anda di halaman 1dari 24

PROSES INDUSTRI KARET

DAN PLASTIK SECARA


FISIKA DAN KIMIA
PROSES INDUSTRI KIMIA

KELOMPOK 1 :
Atika Yunia Nuraeli Prasetya
Mala Nurhaya
Muhammad Nur Faisal
Sumiyati
Vicky Anggara
Wulan Febriyani

PROSES PENGOLAHAN INDUSTRI KARET


A. KARET
Karet adalah polimer hidrokarbon yang terkandung pada lateks beberapa jenis
tumbuhan. Bahan karet ini berasal dari sebuah pohon yaitu Pohon karet. Pohon karet
berasal dari lembah Amazon Brasilia dengan nama ilmiah Hevea brasiliensis. Pohon karet
baru masuk ke Asia pada tahun 1876 M, setelah inggris menyeludupkan biji karet dari
Brazilia untuk dikembangkan di Taman Botani Inggris dan negara-negara jajahannya
termasuk Malaysia.
Tanaman karet berasal dari bahasa latin yang bernama Havea brasiliensis yang
berasal dari Negara Brazil. Tanaman ini merupakan sumber utama bahan tanaman karet
alam dunia. Saat ini Asia menjadi sumber karet alami. Awal mulanya karet hanya hidup
di Amerika Selatan, namun sekarang sudah berhasil dikembangkan di Asia Tenggara.
Saat ini, negara-negara Asia menghasilkan 93% produksi karet alam, yang terbesar
adalah Thailand, diikuti oleh Indonesia, dan Malaysia.

1. Jenis karet
Ada dua jenis karet, yaitu karet alam dan karet sintetis. Keduanya memiliki
kelebihan dan kelemahan, dan bisa saling menutupi kelemahan masing-masing.

a. Karet Alam
Karet alam dihasilkan dari cairan lateks yang berasal dari penyadapan
pohon karet. Secara kimiawi karet alam adalah senyawa hidrokarbon yang
merupakan polimer alam hasil penggumpalan makromolekul poliisoprena
(C5H8)n.
Struktur Karet Alam
Karet alam merupakan senyawa hidrokarbon yang mengandung
atom karbon (C) dan atom hidrogen (H) dan merupakan senyawa
polimer dengan isoprena sebagai monomernya. Rumus empiris karet
alam adalah (C5 H 8)n. Dengan perbandingan atom-atom karbon dan
hidrogen adalah 5 : 8 dan n menunjukkan banyaknya monomer dalam
rantai polimer,yang berat molekul rata-ratanya tersebar antara 10.000
400.000.
Struktur Karet alam adalah gabungan dari unit unit monomer
hydrocarbon C5H8 (isoprene) yang membentuk rantai panjang dan
jumlahnya sangat banyak atau merupakan polimer dari senyawa
hidrokarbon, yaitu 2-metil-1,3-butadiena (isoprena).

Sifat-Sifat Karet Alam


Sifat Fisika :
Warnanya agak kecoklat-coklatan
Tembus cahaya atau setengah tembus cahaya
Berat jenis 0,91-093.
Sifat mekaniknya tergantung pada derajat vulkanisasi, sehingga
dapat dihasilkan banyak jenis sampai jenis yang kaku seperti
ebonite.
Temperatur penggunaan yang paling tinggi sekitar 99oC, melunak
pada 130oC dan terurai sekitar 200oC.
Sifat isolasi listriknya berbeda karena pencampuran dengan aditif.
Larut dalam benzen.
Tidak larut dalam air.
Sifat Kimia :
Mudah teroksidasi oleh udara . Bila dibakar lateks alam akan

berubah menjadi CO2 dan H2O.


Jenis-jenis Karet Alam

Bahan olah karet merupakan lateks kebun yang dihasilkan oleh


pohon karet melalui penyadapan. Bahan olah karet ini dibagi

menjadi lateks kebun, sheet angin, slab tipis, dan lump segar.
Karet alam konvensional merupakan karet olahan yang hanya
terdiri dari golongan karet sheet dan crepe. Karet alam olahan
yang tergolong konvensional dibagi lagi menjadi Ribbed smoked
sheet, White crepe, Pale crepe, Estate brown crepe, dan Compo

crepe.
Lateks pekat merupakan salah satu jenis karet yang berbentuk

cairan pekat, tidak berbentuk lembaran atau padatan lainnya.


Karet bongkah adalah karet remah yang telah dikeringkan dan
dikilang menjadi bandela-bandela dengan ukuran yang telah

ditentukan.
Karet spesifikasi teknis merupakan salah satu jenis karet alam
yang dibuat secara khusus. Hal ini menyebabkan mutu teknisnya
terjamin.

Tyre rubber merupakan karet alam dalam bentuk lain yang


diperoleh sebagai barang setengah jadi dan oleh konsumen dapat

langsung digunakan.
Karet reklim merupakan karet yang telah diolah kembali dari
bahan-bahan karet bekas seperti ban-ban mobil bekas.

Diagram Alir

Penerimaan lateks kebun dan


ditambahkan bahan kimia

Bahan baku

Penggilingan

Pengenceran

Pengasapan

Pembekuan
dengan
menambahkan
zat koagulan

Sortasi

Proses
1. Penerimaan Lateks Kebun
Tahap awal dalam pengolahan karet adalah penerimaan lateks
kebun dari pohon karet yang telah disadap. Lateks pada mangkuk sadap
dikumpulkan dalam suatu tempat kemudian disaring untuk memisahkan
kotoran serta bagian lateks yang telah mengalami prakoagulasi. Setelah
proses penerimaan selesai, lateks kemudian dialirkan ke dalam bak
koagulasi untuk proses pengenceran dengan air yang bertujuan untuk
menyeragamkan Kadar Karet Kering.
2. Pengenceran
Tujuan pengenceran adalah untuk memudahkan penyaringan
kotoran serta menyeragamkan kadar karet kering sehingga cara
pengolahan dan mutunya dapat dijaga tetap. Pengenceran dapat dilakukan
dengan penambahan air yang bersih dan tidak mengandung unsur logam,
pH air antara 5.8-8.0, kesadahan air maks. 6 serta kadar bikarbonat tidak
melebihi 0.03 %. Pengenceran dilakukan hingga KKK mencapai 12-15 %.
Lateks dari tangki penerimaan dialirkan melalui talang dengan terlebih
dahulu disaring menggunakan saringan aluminium Pedoman Teknis
Pengolahan Karet Sit Yang Diasap (Ribbed Smoked Sit). Lateks yang telah
dibekukan dalam bentuk lembaran-lembaran (koagulum).
3. Pembekuan

Pembekuan lateks dilakukan di dalam bak koagulasi dengan


menambahkan zat koagulan yang bersifat asam. Prakoagulasi terjadi
karena kemantapan bagian koloidal yang terkandung dalam lateks
berkurang. Bagian-bagian koloidal ini kemudian menggumpal menjadi
satu dan membentuk komponen yang berukuran lebih besar. Komponen
koloidal yang lebih ini akan membeku. Inilah yang menyebabkan
terjadinya prakoagulasi. Pada umunya digunakan larutan asam format/ atau
asam semut atau asam asetat /asam cuka dengan konsentrasi 1-2% ke
dalam lateks dengan dosis 4 ml/kg karet kering. Pengadukan dilakukan
dengan 6-10 kali maju dan mundur secara perlahan untuk mencegah
terbentuknya gelembung udara yang dapat mempengaruhi mutu sit yang
dihasilkan.
4. Penggilingan
Penggilingan dilakuan setelah proses pembekuan selesai. Hasil
bekuan atau koagulum digiling untuk mengeluarkan kandungan air,
mengeluarkan sebagian serum, membilas, membentuk lembaran tipis dan
memberi garis pada lembaran. Untuk memperoleh lembaran sit, koagulum
digiling dengan beberapa gilingan rol licin, rol belimbing dan rol motif
(batik). Setelah digiling, sit dicuci kembali dengan air bersih untuk
menghindari permukaan yang berlemak akibat penggunaan bahan kimia,
membersihkan kotoran yang masih melekat serta menghindari agar sit
tidak menjadi lengket saat penirisan. Koagulum yang telah digiling
kemudian ditiriskan diruang terbuka dan terlindung dari sinar matahari
selama 1-2 jam.
Tujuan penirisan adalah untuk mengurangi kandungan air di dalam
lembaran sit sebelum proses pengasapan. Penirisan tidak boleh terlalu
lama untuk menghindari terjadinya cacat pada sit yang dihasilkan,
misalnya timbul warna yang seperti karat akibat teroksidasi. Penirisan
dilakukan pada tempat teduh dan terlindung dari sinar matahari.
5. Pengasapan
Tujuan pengasapan adalah untuk mengeringkan sit, memberi
warna khas cokelat dan menghambat pertumbuhan jamur pada permukaan,

asap yang dihasilkan dapat menghambat pertumbuhan jamur pada


permukaan lembaran karet.
6. Sortasi
Proses sortasi dilakukan secara visual berdasarkan warna, kotoran,
gelembung udara, jamur dan kehalusan gilingan yang mengacu pada
standard yang terdapat pada SNI 06-0001-1987. Secara umum sit
diklasifikasikan dalam mutu RSS 1, RSS 2, RSS 3, RSS 4, RSS 5 dan
Cutting. Cutting merupakan potongan dari lembaran yang terlihat masih
mentah, atau terdapat gelembung udara hanya pada sebagian kecil,
sehingga dapat digunting
7. Bahan Baku Jadi
Setelah itu, jadilah sit yang siap dipakai.

Manfaat Karet Alam


Karet alam banyak digunakan dalam industri-industri barang.
Umumnya alat-alat yang dibuat dari karet alam sangat berguna bagi
kehidupan sehari-hari maupun dalam industri seperti mesin-mesin
pengerak.
Barang yang dapat dibuat dari karet alam antara lain ban mobil,
tetapi juga ditemukan dalam sekelompok produk-produk komersial
termasuk sol sepatu, segel karet, insulasi listrik, sabuk penggerak mesin
besar dan mesin kecil, pipa karet, kabel, isolator, bahan-bahan
pembungkus logam, aksesoris olah raga dan lain-lain

b. Karet Sintetis
Karet buatan (sintetis) sebagian besar dibuat dengan mengandalkan
bahan baku minyak bumi. Pengembangan karet sintetis secara besar-besaran
dilakukan sejak zaman perang dunia II. Negara negara industri maju
merupakan pelopor berkembangnya jenis-jenis karet sintetis. Sekarang banyak
karet sintetis yang dikenal. Biasanya tiap jenis memiliki sifat tersendiri yang
khas. Ada jenis yang tahan terhadap panas atau suhu tinggi, minyak, pengaruh
udara, dan bahkan ada yang kedap air.
Struktur Karet Sintetis
Struktur karet sintetis berdasarkan dengan jenisnya, jadi setiap
jenis memiliki struktur yang berbeda-beda.

Sifat-Sifat Karet Sintesis

Memiliki daya elastisitas atau daya lenting sempurna.


Memiliki plastisitas baik, sehingga mudah diolah.
Mempunyai daya aus tinggi
Tidak mudah panas (low heat build up)
Memiliki daya tahan tinggi terhadap keretakan (groove cracking
resistance)

Jenis-jenis Karet Sintetik


Karet sintetis untuk kegunaan umum: SBR (Styrene Butadiene
Rubber), BR (Butadiene Rubber) atau PR (Polybutadiene Rubber), IR
(Isoprene Rubber).
Karet sintetis untuk kegunaan khusus, seperti karet yang memiliki
ketahanan terhadap minyak, oksidasi, panas atau suhu tinggi, dan kedap
gas. Diantaranya IIR (Isobutene Isoprene Rubber), NBR (Nytrite
Butadine Rubber), CR (Chloroprene Rubber), dan EPR (Etylene
Propylene Rubber).

Diagram Alir
Skala Laboratorium

Menimbang 7,5 gr
belerang dan
memasukkan ke dalam
labu bundar leher tiga

Menghentikan
pemanasan
setelah
belerang larut
atau larutan
berwarna coklat
tua .
Mendinginkan
larutan hingga
suhu ruang .

Menyaring
larutan ,
mengambil
filtrate untuk
pembuatan
tiokol

Memanaskan
perlahan sambil
diaduk dengan
penangas air lalu
Mengamati reaksi
yang terjadi
setiap 8 menit .

Memasukkan
filtrate ke dalam
labu bundar leher
tiga yang telah
dicuci bersih dan
menambah 20 ml
1,2 dikloroetana .

Menghentikan
pemanasan setelah
gumpalan kuning
muda terbentuk
banyak dan larutan
menjadi kurang jernih
lalu Menyaring dan
mencuci hasil ,
menyisihkan filtrate .

Menimbang 4,0
gr NaOH dan
melarutkan
dalam 100 ml
aquadest
dalam gelas
kimia 250 ml .

Memasukkan
larutan NaOh ke
dalam labu
bundar ,
memasang
pengaduk dan
condenser yang
diisi aliran air .

Merangkai alat
seperti sebelumnya
dan Memanaskan
pada suhu 70 - 80
C hingga terbentuk
gumpalan kuning
dan larutan jernih .

Memanaskan
pada suhu 70 80 0C hingga
terbentuk
gumpalan
kuning dan
larutan jernih

Skala Pabrik

Polimeryzation

Finshing and
Inspection

Cleaning

Isolation

Post Curing

Mixing

Flash Removal

Extrusion

Molding

Packaging

Proses Kerja
Skala Laboratorium
Tiokol merupakan karet sintetis yang dihasilkan melalui proses
polimerisasi kondensasi, yaitu proses penggabungan molekul tunggal
membentuk molekul besar dan melepas molekul lain sebagai hasil
samping . Tiokol dapat dihasilkan dari reaksi antara campuran
dikloroetana dengan natrium polisulfida ( Na 2Sx ) dan membebaskan
natrium klorida sebagai hasil samping . Reaksi :
Cl-CH2- CH2-Cl + n Na2Sx
Alat :
Labu Leher tiga 750 ml, batu didih
Kondenser , pompa air
Gelas kimia 250 ml, 400 ml
Labu ukur 100 ml
Gelas ukur 50 ml
Corong pisah, batang pengaduk
Kertas saring, kaca arloji
Pipet ukur, pipet tetes
Penangas air, thermometer
Bahan :
1,2-dikloro etana

( CH2- CH2-Sx ) n + NaCl

NaOH padat
Belerang padat
Aquadest
Es

PROSEDUR KERJA :
Pembuatan Natrium Polisulfida ( Na2Sx )
Menimbang 7,5 gr belerang dan memasukkan ke dalam labu
bundar leher tiga
Menimbang 4,0 gr NaOH dan melarutkan dalam 100 ml aquadest
dalam gelas kimia 250 ml .
Memasukkan larutan NaOH ke dalam labu bundar , memasang
pengaduk dan condenser yang diisi aliran air .
Memanaskan perlahan sambil diaduk dengan penangas air .
Mengamati reaksi yang terjadi setiap 8 menit .
Menghentikan pemanasan setelah belerang larut atau larutan
berwarna coklat tua . Mendinginkan larutan hingga suhu ruang .
Menyaring larutan , mengambil filtrate untuk pembuatan tiokol .
Pembuatan Tiokol
Memasukkan filtrate ke dalam labu bundar leher tiga yang telah
dicuci bersih dan menambah 20 ml 1,2-dikloroetana .
Merangkai alat seperti sebelumnya .
Memanaskan pada suhu 70 - 80 0C hingga terbentuk gumpalan
kuning dan larutan jernih .
Mengamati dan mencatat reaksi yang terjadi .
Menghentikan pemanasan setelah gumpalan kuning muda
terbentuk banyak dan larutan menjadi kurang jernih .
Menyaring dan mencuci hasil , menyisihkan filtrate .
2.5.2. Skala Pabrik

1. Polymerization
Polymerisasi ialah merupakan proses awal dari pembuatan
karet sintetik, pada tahap ini ada tiga motode yang digunakan yaitu
emulsion, microemulsion, and suspension polymerization. Proses
ini dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar sekelas Du Pont,
Dow, GE, Ausimont, Daikin and Dyneon.
2. Isolation
Pada tahap ini, backbone polymers diisolasi, dikeringkan,
dan dibersihkan. Setelah tahap ini, maka polimer tersebut sudah
siap untuk diolah oleh compounder
3. Compounding (mixing)
Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dalam
menentukan sifat2 tambahan dari suatu polimer/karet. Karena pada
tahap inilah compounder meracik resepnya untuk menghasilkan
bahan baku yang sesuai keinginannya/pesanan. Pengalaman dan
pengetahuan compounder pada tahap ini sangat krusial untuk
menghasilkan material yang berkualitas.
4. Extrusion/Forming/Premolding
Setelah selesai di mixing, maka material yang masih
berbentuk lembaran dibentuk lagi menyerupai produk akhir supaya
dapat dengan mudah diproses pada molding nantinya. misalnya
untuk O-Ring, material tersebut dibentuk menyerupai kabel
panjang.
5. Molding
Proses inilah yang menentukan akan berbentuk seperti
apakah produk akhir. dengan kombinasi panas dan tekanan yang
sesuai, maka akan didapat produk akhir yang sempurna.
6. Flash Removal
Setelah dari proses molding, biasanya pada produk masih
terdapat sisa-sisa material yang menempel, pada tahap ini sisa-sisa
tersebut dipisahkan sehingga didapat produk akhir yang sesusai
dengan cetakan.
7. Post Curing

Terkadang pada tahap molding tidak semua proses kimia


dapat terjadi dengan sempurna, sehingga untuk menghabiskan sisasisanya dilakukan proses curing.
8. Finishing & Inspection
Setelah selesai diproses, maka produk akhir hendaknya
dibersihkan dan dilakukan pengetesan apakah sudah sesuai dengan
harapan atau tidak.
9. Cleaning
Semua proses telah selesai dan produk akhir yang didapat
telah sempurna, maka produk tersebut dicuci bersih dari kotorankotoran

yang

mungkin

menempel

pada

proses

produksi

sebelumnya.
10. Packaging
Setelah produk akhir sudah bersih, dan siap untuk
dikirim/disimpan. sebaiknya dimasukan kemasan agar tidak
terkontaminasi dari lingkungan luar.
3. Perbedaan Karet Alam dengan Karet Sintetis
Walaupun karet alam sekarang ini jumlah produksi dan konsumsinya jauh di
bawah karet sintetis atau karet buatan pabrik, sesungguhnya karet alam belum dapat
digantikan oleh karet sintetis. Bagaimanapun, keunggulan yang dimiliki karet alam sulit
ditandingi oleh karet sintetis. Adapun kelebihan-kelebihan karet alam yang tidak dimilii
oleh karet sintetis adalah:
- Memiliki daya elastisitas atau daya lenting yang sempurna
- Memiliki plastisitas yang baik sehingga pwngolahan nya cukup mudah
- Tidak mudah panas
- Memiliki daya tahan yang tinggi terhadap keretakan
Walaupun demikian, karet sintetis memiliki kelebihan seperti tahan yang terhadap
berbagai zat kimia dan harganya yang cenderung bisa dipertahankan supaya tetap stabil.
Bila ada pihak yang menginginkan karet sintetis dalam jumlah tertentu, maka biasanya
pengiriman atau suplai barang tersebut jarang mengalami kesulitan. Hal seperti ini sulit
diharapkan dari karet alam. Harga dan pasokan karet alam selalu mengalami perubahan,

bahkan kadang-kadang bergejolak. Harga bias turun drastis sehingga merusak pasaran
dan merisaukan para produsennya.

PROSES PENGOLAHAN INDUSTRI PLASTIK


1.

Pengertian Plastik
Plastik adalah polimer; rantai-panjang atom mengikat satu sama lain. Rantai ini
membentuk banyak unit molekul berulang, atau monomer. Plastik yang umum terdiri
dari polimer karbon saja atau dengan oksigen, nitrogen, chlorine atau belerang di tulang
belakang (beberapa minat komersial juga berdasar silikon). Tulang-belakang adalah
bagian dari rantai di jalur utama yang menghubungkan unit monomer menjadi kesatuan.
Untuk mengeset properti plastik grup molekuler berlainan bergantung dari tulangbelakang

(biasanya

digantung

sebagai

bagian

dari

monomer

sebelum

menyambungkan monomer bersama untuk membentuk rantai polimer). Pengesetan ini


oleh grup pendant telah membuat plastik menjadi bagian tak terpisahkan di kehidupan
abad 21 dengan memperbaiki properti dari polimer tersebut. Pengembangan plastik
berasal dari penggunaan material alami (seperti: permen karet, shellac) sampai ke
material alami yang dimodifikasi secara kimia (seperti: karet alami, nitrocellulose)
dan akhirnya ke molekul buatan-manusia (seperti: epoxy, polyvinyl chloride,
polyethylene).
2. Jenis-jenis Plastik
Dibawah ini tabel dari beberapa macam plastik dan kegunaanya :
Tipe

Singkatan

Kegunaan utama
Lapisan pengemas, isolasi kawat
dan kabel, barang mainan, botol

Low Density Polyethylene

LDPE
fleksibel, perabotan, bahan pelapis
(Seal Layer).
Botol, drum, pipa saluran, lembaran

High Density Polyethylene

HDPE
film, isolasi kawat dan kabel.

Bagian-bagian mobil dan perkakas,


Polypropylene

PP
tali anyaman, karpet dan film.
Printing Film ( Biasanya untuk

Polyethylene terephthalate

PET

pembungkus makanan, minuman


dan kebutuhan Rumah tangga ).
Bahan pengemas, busa dan film,

Polystirene

PS

isolasi busa, perkakas, perabotan


rumah, barang mainan.

3. Struktur Jenis-Jenis Plastik Berdasarkan Polimer Adisi


Polimerisasi adisi: polimer yang terbentuk melalui reaksi adisi dari berbagai monomer
Contoh polimer adisi:

Yang termasuk ke dalam polimer adisi adalah polietena (plastik), PVC, dan
poliprepilena (plastik), dll.
1. PE (Poly Etylene)
Monomer : etena (CH2 = CH2)

2. PP (Poly Propylene)
Monomer : propena (CH2 CH2 = CH2 )

3. PS (Poly Styrene)
Monomer : styrene

4. PET (Polyethylene Terephtalate)


Monomer : ethyl terphtalate

5. PVC (Poly Vinyl Chlorida)


Monomer : Vinyl Chlorida

4. Proses Kerja
1. Secara Fisik
Bijih plastik polyethylene Etylene yang telah dicampur dengan aditif
dimasukkan ke dalam mesin extruder untuk kemudian dipanaskan dan

dilebur dan dipompakan secara terus menerus ke dalam mesin pencetak

yang disebut die.


Die ini akan mencetak casting film yaitu lembaran yang masih tebal

dan tidak terputus-putus.


Lembaran material yang melalui die ini masih dalam kondisi melting

dan selanjutnya didinginkan dengan roll pendingin (chill roll).


Pada proses selanjutnya, casting/ lembaran film diorientasikan atau
ditarik ke arah memanjang

machine direction (MD) dengan cara

dilewatkan pada roll yang memiliki kecepatan berbeda sehingga casting

film menjadi lebih panjang dari semula.


Lalu casting film diorientasikan lagi, namun kali ini kearah melebar /
transversal direction (TD) dengan cara menjepit sisi kiri dan kanan
casting film dengan klip yang mana klip tersebut bergerak ke masingmasing ke arah menjauh sehingga terjadi penarikan arah melebar.

2. Secara Kimia
Diagram proses polietilen (proses Ziegler)

Pertama masukkan pelarut hidrokarbon sebagai inert solvent kedalam reaktor.


Kemudian TiCl4 direaksikan dengan metal alkil pada suhu sekitar 120oC, tekanan
dalam reakstor dipertahankan 20 atm. Selanjutnya gas etilen diinjeksikan ke reaktor,
hingga terjadi polimerisasi dengan hasil larutan kental (slurry polymer). Selanjutnya
polimer

ditransfer

kedalam

tangki

dekomposisi dimana

katalisator

sisa

dinonaktivkan. Berikutnya pelarut hidrokarbon dipisahkan untuk dimurnikan dan di


daur ulang. Polimer selanjutnya dikeringkan dan dikenakan proses ekstrusi hingga
dipeoleh hasil resin polimer padat.
3.

Diagram proses polietilen (proses phillip)

Secara

prinsip

dijelaskan

bahwa

dalam

proses

phillip

reaksi

polimerisasi berlangsung dalam reaktor loop (loop reactor). Mnomer gas etilen

bersama-sama dengan komonomer diinjeksilan kedalm raektor. Selanjutnya


pelarut hidrokarbon dan katalisator (berbasis khromium oksida). Dimasukkan
kedalam reaktor. Polimer yang terbentuk selanjutnya dipisahkan dari pelarut.
Kemudianproduk yang kerluar dari gas phase reactor diambil guna diproses di
unit pelletizer. Suhu operasi adalah sekitar 110oC dengan tekanan sekitar 30
atm. Pada saat ini modifikasi proses ini sudah sedemikian rupa hingga
memanfaatkan kombinasi

katalisator

sedeikian

bervariasi.

4. Diagram proses polietilen (proses CX)

Alternatif lain produksi polietilen adalah menggunakan proses yangdikembangkan


oleh perusahaan Mitsui (disebut proses CX). Pada proses tekanan operasi hanya
dibawah 10 atm hingga dipandang lebih aman. Pada proses ini digunakan n-heksan
sebagai media reaksi. Gas etilen bersama komonomer seperti propilen dan butilen
dan hidogen dicampur terlebih dahulu untuk kemudian diinjeksikan ke reaktor.
Campuran katalisator dimasukkan kedalam reaktor hingga terjadi polimerisasi. Hasil
polimerisasi selanjutnya dimurnikan dan dikeringkan untuk di proses lanjut di unit
peletizer hingga terbentuk resin polimer.

1.

Bahaya Pada Plastik

1. Tercemarnya tanah, air tanah dan makhluk bawah tanah.


2. Racun-racun dari partikel plastik yang masuk ke dalam tanah akan membunuh
hewan-hewan pengurai di dalam tanah seperti cacing.
3. PCB yang tidak dapat terurai meskipun termakan oleh binatang maupun tanaman
akan menjadi racun berantai sesuai urutan rantai makanan.
4. Kantong plastik akan mengganggu jalur air yang teresap ke dalam tanah.
5. Menurunkan kesuburan tanah karena plastik juga menghalangi sirkulasi udara di
dalam tanah dan ruang gerak makhluk bawah tanah yang mampu meyuburkan
tanah.
6. Kantong plastik yang sukar diurai, mempunyai umur panjang, dan ringan akan
mudah diterbangkan angin hingga ke laut sekalipun.
7. Hewan-hewan dapat terjerat dalam tumpukan plastik. Hewan-hewan laut seperti
lumba-lumba, penyu laut dan anjing laut menganggap kantong-kantong plastik
tersebut makanan dan akhirnya mati karena tidak dapat mencernanya.
8. Ketika hewan mati, kantong plastik yang berada di dalam tubuhnya tetap tidak akan
hancur menjadi bangkai dan dapat meracuni hewan lainnya.
9. Pembuangan sampah plastik sembarangan di sungai-sungai akan mengakibatkan
pendangkalan sungai dan penyumbatan aliran sungai yang menyebabkan banjir

DAFTAR PUSTAKA
Aghil, Ibrahim. 2012. Laporan Lateks. (Online)
http://ibrahimaise.blogspot.com/2012/12/laporan-pengolahan-lateks.htmldiakses pada 10
Oktober 2014
Nafiati, Cholifa. 2012. Industri Karet Buatan.(Online) http://karetbuatan.blogspot.com/ diakses
pada 30 Oktober 2014
Supardianningsih.2014. Ilmu Pengetahuan Alam SMP/MTs Kelas VIII. Klaten: Intan Pariwara
Supardi. 2013. Pengolahan 2013.Pengolahan Karet dan Pengolahan Getah Karet (Lateks).
(Online) http://www.pupukkaretdansawit.com/2013/02/12/pengolahan-karet-danpengolahan-getah-karet-lateks/ diakses pada 10 Oktober 2014
Kartowardoyo, S. 1980. Penggunaan Wallace Plastimeter Untuk Penentuan Karakteristik karakteristik Pematangan Karet Alam. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Spillane, J.J. 1989. Komoditi Karet. Cetakan Pertama. Yogyakarta.
Winarno, F. G., 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tampubolon, M. 1986. Komposisi dan Sifat Lateks. Medan: Pusat Penelitian dan Pengembangan
Perkebunan Tanjung Morawa.
Kumpulan Makalah. 1997. Kumpulan Pedoman Pengolahan Keret. Medan
Ompusunggu, M. 1987. Pengetahuan Lateks Havea. Sungei Putih, Medan.

Anda mungkin juga menyukai