Anda di halaman 1dari 21

TRAINING

FISIOLOGI TUMBUHAN FKIP


MATERI PRAKTIKUM:
1. Pertumbuhan dan Gerak Pada Tumbuhan
2. Difusi, Osmosis, dan Plasmolisis
3. Transpirasi
4. Fotosintesis
5. Respirasi
6. Fermentasi
7. Hormon Tumbuhan
8. Perkecambahan dan Dormansi
PENJELASAN PRAKTIKUM:
PERTUMBUHAN dan GERAK PADA TUMBUHAN
A. PERTUMBUHAN TANAMAN
Alat dan Bahan
Bahan
Alat
a. Biji Kacang Merah (Phaeseolus vulgaris) 40 biji
a. Cutter
b. Media camp. Tanah + Pasir (2 : 1)
b. Penggaris
c. Kardus 2 buah
c. Toples kecil
d. Air / Aquades
d. Timbangan analitik

Cara Kerja

Pilih 30 biji kacang


merah yg baik
Menyiapkan media
campuran Tanah + Pasir
(2 : 1)
Memasukkan biji ke dalam 3
polibag (10 biji/polibag)

Biji direndam dlm


selama 1-2 jam

Disiram 2 hari sekali

Amati ( 14 hari)
sebanyak 200 ml air
Keterangan :
A
: Diletakkan ditempat yang terkena sinar matahari langsung
B
: Diletakkan ditempat yang terkena sinar matahari, kemudian ditutup kardus
berlubang

: Diletakkan ditempat yang terkena sinar matahari dan ditutup kardus lubang

Data Pengamatan
Tabel Perubahan Tinggi Tanaman, Panjang Daun dan Lebar Daun pada
Polybag A
Pengamatan

Tinggi
Tanaman

Biji
ke1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Panjang
Daun

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Lebar Daun

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Hari ke- (Cm)


8
10

12

14

Rata-Rata (Cm)
t / 7

Nb
: Data yg sudah diperoleh, kemudian dibuat 3 Grafik yaitu tinggi batang,
lebar daun, dan panjang daun.

Tabel Pengamatan Akhir (selama 14 hari)


Perlakuan

Berat
Ratarata
(Gram)

Sudut
Pembengkokan
(0)

Ketinggian
Tanaman
Rata-rata
(Cm)

Gejala Yang Timbul

Polybag A
Polybag B
Polybag C

NB :
Dari hasil pengamatan akan diperoleh bahwa perlakuan A (terkena sinar matahari
langsung), tanaman kacang merah akan tumbuh sempurna karena sinar matahari
yang diperoleh merata ditandai dengan daun yang tebal dan berwarna hijau serta
batang yang segar (tidak pucat), perlakuan B (kardus berlubang) menunjukkan
tanaman kacang merah tumbuh mengikuti arah cahaya matahari ditandai dengan
adanya pembelokan batang kacang hijau ke arah lubang. Sedangkan pada
perlakuan C (gelap) tanaman kacang hijau akan mengalami etiolasi yakni kondisi
pertumbuhan tanaman yang sangat cepat di tempat gelap namun kondisi
tumbuhan lemah, batang tidak kokoh, daun kecil dan tumbuhan tampak pucat.
B. GERAK PADA TUMBUHAN
Alat dan Bahan
Alat
Cutter
Penggaris
Toples kecil
Bahan
Biji Kacang Merah (Phaeseolus vulgaris) 15 biji
Media camp. Tanah + Pupuk Kandang (2 : 1)
Kardus 2 buah
Air / Aquades
Pupuk NPK
Tanaman putri malu
lidi
Cara kerja
Gerak Fototropisme
Pilih 10 biji kacang
merah yg baik

Biji direndam dlm


selama 1-2 jam

Menyiapkan media campuran


Tanah + Pupuk Kandang (2 : 1)
Memasukkan biji ke dalam
polibag (10 biji/polibag)

Menyiram media
dgn air

Membuka penutup

Meletakkan tanaman

Menyiram media
dgn pupuk NPK

Tutup polybag dgn

didekat jendela
kardus berlubang
Nb : kardus stlh 14 hari
Pada perlakuan kacang merah yang ditutup kardus berlubang, tanaman akan
tumbuh dan membelok mengikuti arah sinar matahari, hal ini menunjukkan
terjadinya fototropisme yakni gerak sebagian tumbuhan yang dipengaruhi oleh
arah datangnya rangsang yaitu cahaya matahari.

Gerak Tigmonasti dan Niktinasti

NB :
Hasil dari pengamatan adalah waktu yang diperlukan putri malu untuk menutup
lebih cepat dari waktu yang diperlukan untuk membuka kembali. Waktu untuk
bereaksi terhadap berbagai perlakuan juga berbeda-beda, reaksi terhadap sentuhan
lebih cepat dibandingkan reaksi terhadap perlakuan lainnya. Gerak menutupnya
daun putri malu disebabkan karena perubahan turgor pada persendian daun.
Gerak menutupnya putri malu disebut gerak nasti. Gerak nasti adalah gerak
sebagian tubuh tumbuhan yang arahnya tidak semata-mata ditunjukkan kearah
datangnya sumber rangsangan. Gerak menutupnya daun si kejut atau putri malu
(Mimosa pudica) adalah gerak tigmonasti.
a.

Data Pengamatan

Gerak Fototropisme
Biji
ke1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Morfologi batang, daun

Keterangan Fototropisme

Gerak Tigmonasti dan Niktinasti

DIFUSI, OSMOSIS, dan PLASMOLISIS


Alat dan Bahan
Difusi dan Osmosis I
Alat
Bahan
Tabung Reaksi5 buah
Aquadest
Erlenmeyer 3 buah
Larutan Eosin
Beaker glass 500 ml 1 buah
Larutan Methylen Blue
Pipet tetes
Larutan Garam 10%
Hotplate
Larutan Garam 20%
Cutter
Larutan Amilum 1%
Gelas Ukur 10 ml
Kentang (Solanum tuberosum)
Staining jar
Timbangan Analitik
Pipet tetes

Cork borrer
Difusi dan Osmosis II
Alat
Mikroskop
rosasinensis)
Kaca Benda
Kaca Penutup
Pipet Tetes
Silet / Cutter
Plasmolisis
Alat
Mikroskop
Kaca Benda
Kaca Penutup
Pipet Tetes
Silet / Cutter

Bahan
Bunga Sepatu (Hibiscus
Aquadest
Larutan HCl encer
Larutan NaOH encer
Tissue

Bahan
Daun Rhoe discolor
Aquadest
Larutan Glukosa 0,1 M 0,5 M
Tissue

Cara Kerja
Latihan 1 (Difusi I)

Amilum 2%
A

Buatlah Larutan
Amilum 2%

Panaskan dengan Hotplate


hingga mendididh

Amati Perubahannya per


1 menit selama 5

Jangan Dikocok

Masing2 5 ml

A = Tetesi dgn Eosin 3 tetes


B = Tetesi dgn MB 3 tetes

Nb
:
Larutan Eosin lebih cepat larut karena partikel-partikel penyusunnya lebih kecil
dibandingkan dengan Larutan Methylen Blue. Namun bisa jadi larutan
methylen blue lebih cepat karena perbedaan konsentrasi antara kedua zat
tersebut.
Latihan 2 (Osmosis I)
Sediakan potongan
kentang dg cork
borrer

Potong kentang
3cm dg cutter

Menimbang massa awal kentang


dan Memasukkan kedalam tabung
reaksi yang sudah berisi larutan
sesuai perlakuan

A
Membandingkan
perubahan massa kentang
dan dianalisis

Nb

Menimbang kembali dan


mencatat massa akhir

Perlakuan A : aquades
Perlakuan B : larutan garam 10%
Perlakuan C : larutan garam 20%
Menunggu selama 10 menit

Yang perlu diamati adalah apakah terjadi pengurangan atau penambahan massa
pada kentang setelah diberi beberapa perlakuan. Perlakuan A, massa kentang akan
bertambah karena terjadi proses osmosis dari luar sel ke dalam, hal tersebut
dikarenakan konsentrasi zat pelarut di luar lebih tinggi daripada didalam, sehingga
zat pelarut (air) bergerak dari luar kedalam. Sedangkan perlakuan B dan C terjadi
pengurangan massa sebab konsentrasi zat pelarut di dalam lebih tinggi dari pada
di luar sehingga zat pelarut (air) bergerak dari dalam ke luar. Dari percobaan
tersebut terbukti bahwa osmosis merupakan proses perpindahan zat pelarut (air)
dari konsentrasi zat pelarut yang tinggi ke rendah melalui membran semi
permeabel.

Latihan 3 (Difusi dan Osmosis 2)


Menyayat bagian epidermis
bawah mahkota yang
berwarna tua

Meletakkan pada kaca benda,


beri 1 tetes aquades

Hibiscus rosa-sinensis

Tutup dengan kaca penutup


Gambar hasil pengamatan
Amati dibawah mikroskop

1) Ulangi perlakuan diatas dengan mengganti aquadest, yakni ditetesi HCl encer
dan NaOH encer

2) Lakukan secara bergantian dan amati perubahannya kemudian gambar hasil


pengamatannya
Nb
:
Perlakuan pemberian aquades menunjukkan sel epidermis dan pigmen antosianin
masih berwarna merah (tidak terjadi difusi osmosis), setelah diberi HCl pigmen
antosianin akan sedikit memudar dan sel epidermis mengalami pengerutan
(terlihat ruang antar sel), hal ini menunjukkan terjadinya proses osmosis dimana
konsentrasi diluar sel bersifat hipertonik sehingga zat pelarut didalam sel keluar.
Sedangkan perlakuan NaoH menunjukkan sel epidermis tetap utuh dan perubahan
warna pigmen antosianin menjadi warna hijau kekuningan, hal ini disebabkan
terjadinya proses difusi osmosis, artinya zat pelarut dari luar sel masuk kedalam,
pigmen antosianin berdifusi dengan zat pelarut yang menyebabkan perubahan
warna. Selain itu adanya pengaruh asam basa terhadap perubahan pigmen
antosianin pada bunga sepatu.

Latihan 4 (Plasmolisis)

Menyayat bagian epidermis


bawah yang berwarna tua

Rhoe discolor

Meletakkan pada kaca benda,


beri 1 tetes aquades

Tutup dengan kaca penutup


Gambar hasil pengamatan
Amati dibawah mikroskop

1) Ulangi perlakuan diatas dengan menggunakan larutan glukosa 0,1 M, 0,2 M,


0,3 M, 0,4 M, dan 0,5 M

2) Lakukan secara bergantian dan amati perubahannya kemudian gambar hasil


pengamatannya
Nb
:
Terjadinya plasmolisis ditandai dengan perubahan sitoplasma/protoplasma pada
sel Rhoeo discolor. Warna merah muda akan memudar disebabkan konsentrasi
diluar sel bersifat hipertonik sehingga zat pelarut didalam sel ke luar dan
menyebabkan membran plasma terlepas dari dinding sel.

No.

Data Pengamatan
Tabel 1. Proses Difusi 1
Perlakuan

Menit ke3
4

1. A. Larutan Methylen Blue


2. B. Larutan Eosin
Keterangan :
+ : Penyebaran kurang cepat
++ : Penyebaran cukup cepat
+++ : Penyebaran sangat cepat
Tabel 2. Proses Osmosis 1
No.
1.
2.
3

Jenis Larutan

Massa Kentang (gr)


Sebelum
Sesudah
perlakuan
Perlakuan

Aquades
Larutan Garam 10%
Larutan Garam 50%

No.
1.
2.
3.

Tabel 3. Proses Difusi dan Osmosis 2 (Hibiscus rosasinensis)


Perlakuan
Gambar + Perbesaran
Keterangan
Aquadest
Perbesaran :
HCL Encer
Perbesaran :
NaOH Encer
Perbesaran :

No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tabel 4. Proses Plasmolisis (Rhoe discolor)


Perlakuan
Gambar + Perbesaran
Aquadest
Perbesaran :
Glukosa 0,1 M
Perbesaran :
Glukosa 0,2 M
Perbesaran :
Glukosa 0,3 M
Perbesaran :
Glukosa 0,4 M
Perbesaran :
Glukosa 0,5 M
Perbesaran :

Keterangan

TRANSPIRASI

Alat dan Bahan


Alat
Gelas Ukur 100 ml
Timbangan Analitik
Gunting + Cutter
Hygrometer
Bolpoint
Stopwacth

Bahan
Tanaman Impatiens
balsamina
Botol You-C1000
Steroform
Air / Aquadest
Vaselin
Kertas Label
Kertas bekas

Cara Kerja
Latihan 1

1) Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan


2) Menyediakan 2 botol bekas minuman (You C-1000) yang sudah
dibersihkan, kemudian mengisi botol tersebut dengan air hingga setengah
botol ( 100 ml)
3) Buatlah penutup botol sederhana dari stereoform sesuai dengan besar
lubang botol, kemudian beri lubang tengahnya
Besar tutup sesuai dengan
besar lubang botol

Besar lubang sesuai dengan


besar batang tanaman

4) Potong miring bagian pangkal ujung tanaman Impatien balsamina didalam


air dan segera masukkan potongan tersebut kedalam botol sampai bagian
bawah terendam air.
5) Beri vaselin pada setiap celah yang masih ada pada tutup botol sederhana
6) Timbang keduanya (Botol + tanaman + air), kemudian catat hasilnya
(Berat awal = gram).
7) Letakkan botol A didalam ruangan (Gelap), botol B diluar ruangan
(Terang), dan botol C diberi angin-angin menggunakan kipas angin.
8) Kemudian ukur suhu lingkungan dan kelembaban udara pada ketiga
tempat tersebut dengan menggunakan hygrometer
9) Timbang botol setiap 10 menit. Lakukan selama 30 menit
Latihan 2 (Menghitung Luas Daun)
1) Mengambil semua daun tanaman pacar air pada masing-masing perlakuan.
2) Menjiplak daun diatas kertas milimeter block, dan menghitung luas daun
berdasarkan jumlah persegi pada kertas milimeter block per mm.

3) Mengalikan hasil jumlah persegi dengan luas persegi. Luas 1 persegi pada
kertas milimeter block = 25 mm2.

No
.
1
2
3

Data Pengamatan
Tabel 1. Pengukuran massa Impatiens balsamina setelah berbagai
perlakuan proses transpirasi
Perubahan massa setiap 10 menit
Rerata
Selisih
(selama 30 menit) (gram)
selisih
massa
Perlakuan
Massa
Massa
Massa
Massa
massa
(gr)
Awal
10 ke-1 10 ke-2 10 ke-3
(gr)
(gr)
(gr)
(gr)
(gr)
A
B
C

Tabel 2. Pengukuran waktu setelah berbagai perlakuan proses transpirasi


No Perlakuan
Waktu
Kecepatan Transpirasi persatuan waktu
.
(menit)
(gr /menit)
1.
A
30 menit
2.
B
30 menit
3.
C
30 menit
Tabel 3. Pengukuran luas daun setelah berbagai perlakuan proses transpirasi
No.
Perlakuan
Luas Daun
Kecepatan Transpirasi persatuan luas
2
(gr /cm2)
(cm )
1.
A
2.
B
3.
C
Tabel 4. Pengukuran suhu dan kelembaban udara pada berbagai perlakuan
transpirasi
Kelembaban Relatif
Suhu
No.
Perlakuan
(C)
Skala Kering Skala Basah
RH (%)

1.
2.
3.

A
B
C

Keterangan :
A
: Perlakuan Didalam kelas (Gelap)
B
: Perlakuan Di luar kelas (Terang)
C
: Perlakuan di dalam dan dikipasi

FOTOSINTESIS
A. Percobaan Sachs
Alat :
Beaker glass 500 ml
Hotplate
Pinset
Cawan petri
Kaca pembesar (Luv)
Kertas Label
Pipet tetes

Bahan :
Daun Manihot utilistima
Aquadest
Alkohol 70%
Larutan Lugol
Tissue
Alumunium Foil

Cara Kerja

Memberi perlakuan pada


Daun Manihot utilistima, 2
hari sebelum praktikum

Daun 1 = Ditutup dengan Alumunium Foil jam 06.00 pagi


Daun 2 = Ditutup dengan Alumunium Foil jam 18.00 sore
Daun 3
= Memetik daun yang tidak ditutup Alumunium foil jam
18.00 sore
Hari terakhir (Praktikum) = memetik daun 1 dan 2 jam 06.00 pagi
Membawa semua daun yang
sudah dipetik ke laboratorium

Direbus Aquadest hingga layu


Direbus Alkohol 70%
Dicuci dengan air mengalir

Letakkan pada cawan petri


(posisi melebar)

Aquadest

Diamkan 2 menit,
lalu amati

Tetesi Lugol

Data Pengamatan I (Percobaan Sachs)

Perlakuan

Indikator Warna
Sebelum
Setelah ditetesi
ditetesi Lugol
Lugol

Keterangan

Daun A
(Ditutup pagi)
Daun B
(Ditutup sore)
Daun C
(Dipetik Sore)
Daun D
(Dipetik Pagi)
Keterangan : +
= Sedikit
++
= Sedang
+++ = Banyak
NB :
Dari hasil pengamatan diperoleh data bahwa perlakuan yang memiliki banyak
amilum adalah perlakuan C yaitu dipetik pada sore hari. Hal ini disebabkan daun
Manihot utilissima melakukan fotosintesis pada pagi dan siang hari, sedangkan
malam hari tanaman melakukan respirasi. Hasil fotosintat tanaman C (glukosa)
tidak bisa digunakan sebagai bahan untuk respirasi karena daun C sudah dipetik
terlebih dahulu. Sehingga amilum pada daun C masih tersimpan. Sedangkan
perlakuan yang paling sedikit kadar amilumnya yaitu perlakuan A (ditutup pagi
hari) dan B (ditutup sore hari) sebab hasil fotosintat (amilum) sudah terpakai
untuk proses respirasi. Urutan kadar amilum dari paling banyak sampai sedikit
adalah C > D > B > A. Tujuan diberi perebusan air yakni untuk melayukan daun
dan mematikan sel. Sedangkan tujuan perebusan alkohol yakni untuk meluruhkan
klorofil.
B. Percobaan Ingenhousz
Alat :
Beaker glass 500 ml
Corong kaca
Kawat penyangga
Tabung berskala
Stopwacth
Handtally counter

Cara Kerja

Bahan :
Hydrilla verticillata
Aquadest
Lampu 25 watt, 60 watt, 100 watt
Cahaya matahari langsung

Merakit alat
seperti berikut :

Beri perlakuan
sesuai dengan
ketentuan
Kelompok 1/4
100 Watt

Kelompok 2/5
Cahaya Matahari

Kelompok 3/6
Ruang Gelap

Amati
Lakukan selama
15 menit

Hitung gelembung gas yang


muncul setiap 5 menit

Data Pengamatan 2 (Percobaan Ingenhousz) untuk DATA KELAS


Perlakuan

Banyaknya Gelembung (Menit)


5
10
15

100 Watt
Cahaya Matahari
Ruang Gelap
Suhu dingin
Suhu panas
NB :
Dari hasil pengamatan diperoleh data bahwa perlakuan yang paling banyak
memiliki gelembung oksigen adalah perlakuan cahaya matahari. Sedangkan yang
paling sedikit adalah perlakuan gelap. Hal tersebut menunjukkan adanya pengaruh
intensitas cahaya yang besar terhadap laju keseluruhan reaksi fotosintesis. Pada
keadaan intensitas cahaya rendah laju fotosintesis akan rendah pula. Keadaan ini
dapat dikatakan cahaya sebagai faktor pembatas. Jika intensitas cahaya atau
konsentrasi CO2 menjadi faktor pembatas fotosintesis, maka suhu tidak akan
mempengaruhi fotosintesis atau sangat kecil pengaruhnya, karena reaksi-reaksi
fotokimia tidak peka terhadap suhu (Q10 = 1,0) dan difusi mempunyai Q10 = 1,5.
Laju fotosintesis baru bersifat tanggap terhadap suhu pada keadaan dimana cahaya
bukan merupakan faktor pembatas. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan ada
beberapa perlakuan yang menunjukkan perlakuan 100 watt memiliki gelembung
oksigen paling banyak.
RESPIRASI

Alat dan Bahan :


Alat
Tabung Reaksi
Rak Tabung Reaksi
Stopwatch
Respirometer sederhana
Botol U-C1000
Steroform
Penggaris
Cutter
Timbangan analitik
Cara Kerja 1:A

Bahan
Kunyit (Curcuma longa) Bertunas
Kuncup Mawar (Rose sp.)
Biji Kacang Hijau (Vigna radiata)
Kecambah
Air Kapur (Ca(OH)2)
Tali Rafia + Kain Kasa
Alumunium Foil + Karet
Kapas + Isolasi + Kertas Label
KOH + Eosin
C

Sediakan 5 Tabung Reaksi, kemudian isi dengan air kapur sebanyak 5 ml

Kelompok 1 (A)
Kunyit Bertunas

Kelompok 2 (B)
Kuncup Mawar

Kelompok 3 (C)
Kecambah

Kelompok 4 (D)
Kacang Hijau

Kelompok 5 (E)
Kontrol

Bungkus masing-masing
bahan dengan kain kasa

Ikat dengan tali, kemudian


masukkan kedalam tabung reaksi
Keluarkan tali pengikat dan tutup
tabung reaksi dengan alumunium foil
Rapatkan dengan karet gelang

Cara Kerja 2:

Siapkan 1 botol bekas


You-C1000

Amati perubahannya setelah 1 x 24 jam


(Tingkat Kekeruhannya)

Masukkan kapas yang sudah


basah dan diberi KOH/NaOH
padat 2 gram

Masukkan kecambah sebanyak 1,


2, dan 3 gram

Menyuntik larutan eosin ke pipa berskala,


usahakan respirometer dalam keadaan datar. Amati
kenaikan eosin per 2 menit selama 8 menit

Menutup mulut botol dengan gabus/karet penutup


sampai rapat dan memberi vaselin di sekeliling
mulut botol (usahakan tidak ada rongga)

Data Pengamatan Respirasi 1 (1 x 24 jam)

Perlakuan

Bahan

Kondisi Awal

Kondisi Akhir
Adanya
Adanya
CO2
H2O

A
Kunyit Bertunas
B
Kuncup Mawar
C
Kecambah
D
Kacang Hijau
E
Kontrol
Keterangan :
- Adanya CO2 : Keruh, Cukup keruh, Jernih ( +, ++, +++,++++)
- Adanya H2O : terdapat uap air di dinding tabung ( +, ++, +++,++++)

Boto
l
A
B
C

Data Pengamatan Respirasi 2


Jarak yang ditempuh
Massa
Bahan
(g)
0 2
4
6
8

Kecambah

Rata-rata
per menit
(ml/menit)

Rata-rata
ml//menit/gr

1
2
3

Catatan :
Buatlah Grafik hubungan berat dengan banyaknya O2 yang dibutuhkan tumbuhan.
Perhitungan :
Kebutuhan gas oksigen per menit (ml/menit) :
Kecambah
1
gram : ...................................................................................................... Kecambah
2
gram
:.......................................................................................................
Kecambah
3
gram :........................................................................................................ ................
.....................................................................................................................
NB :

Dari hasil pengamatan diperoleh kesimpulan, respirasi 1 : indikator adanya


karbon dioksida (CO2) ditandai dengan adanya lingkar cincin (kekeruhan) pada
permukaan air kapur di tabung reaksi. Hal tersebut disebabkan air kapur
mengikat/bereaksi dengan CO2 hasil respirasi dari tanaman (kuncup mawar,
kunyit bertunas, kecambah, dan biji kacang hijau) sehingga membentuk butiranbutiran kapur sebagai indikasi kekeruhan. Adapun persamaan reaksinya adalah :
Ca(OH)2 + CO2 CaCO3 + H2O
Keterangan : Ca(OH)2 merupakan air kapur, sedangkan CaCO3 merupakan kristal
kapur.
Pada respirasi 2 : perlakuan kecambah 3 gram memiliki laju/kecepatan respirasi
paling cepat daripada perlakuan lainnya. Hal ini menandakan bahwa jumlah/berat
kecambah berpengaruh terhadap laju respirasi. Semakin banyak jumlah/ semakin
berat kecambah maka kebutuhan oksigen juga semakin tinggi sehingga laju
respirasi semakin meningkat. Hal tersebut ditandai dengan adanya pergerakan
eosin pada batang skala repirometer yang semakin tinggi. Fungsi KOH pada
tabung respirometer adalah untuk mengikat CO2.
FERMENTASI

Alat dan Bahan


Alat :
Tabung reaksi
(Fernipan) 2%
Rak Tabung Reaksi
Gelas Ukur 10 ml
Botol You-C 1000 + Tutupnya
Waterbath
Stopwacth
Timbangan analitik

Bahan
:
Ragi / Larutan Yeast
Glukosa 2%
Balon karet
Karet gelang
Air Kapur (Ca(OH)2)
Sedotan

Cara Kerja :
Siapkan 3 Botol U-C 1000
Dan beri label sekalian
A = Diisi Larutan Ragi 2% sebanyak 50 ml
B = Diisi dgn Glukosa 2% sebanyak 50 ml
C = Diisi Larutan Ragi 2% + Glukosa 2% sebanyak 50 ml
A

C
Kocok secara perlahan

Beri penutup plastik dan


eratkan dengan karet gelang
Masukkan kedalam waterbath
370C selama 10 menit

Amati (Mengembang
atau tidak plastiknya)

Lepas ikatan plastik dan


hembuskan kedalam Tabung
Reaksi yg sudah berisi 6 ml Air
kapur

Amati Perubahan
CaCO3

A
Tutup kembali Botol U-C1000
dengan tutup aslinya

C
Cium Bau dari ketiga
Botol tersebut

Biarkan selama
2 hari

Data Pengamatan

Perlakuan

Kondisi balon
setelah 10 menit

Hembusan Gas kedalam Air


Kapur
Sebelum
Sesudah

Indikator Bau
(Etanol)

A
B
C

Keterangan :
Kolom 2 : Mengembang (++), sedikit mengembang (+), tidak mengembang (-)
Kolom 3 : Sebelum : jernih/bening
Sesudah : Keruh (++), sedikit keruh (+), tidak keruh/jernih (-)
Banyak gelembung (++), sedikit (+), tidak ada (-)
Kolom 4 : Menyengat (++), Biasa (+), tidak berbau (-)
NB :
Dari hasil pengamatan, balon yang paling mengembang adalah balon pada
perlakuan C yakni perlakuan antara ragi dan glukosa. Hal tersebut menandakan
terjadinya fermentasi alkohol yang dilakukan oleh ragi pada substrat glukosa.
Sehingga menghasilkan karbon dioksida, dengan ditandai adanya gelembung dan
kekeruhan ketika balon dihembuskan didalam air kapur. Sedangkan bau yang
paling menyengat juga terdapat pada perlakuan C.
HORMON TUMBUHAN

Alat dan Bahan


Alat :
Cawan petri 5 buah
Beaker glass
Gelas Ukur 10 ml 2 buah

Bahan
:
Kertas saring
Biji kacang hijau
larutan 2,4 D

Cara Kerja :
1. Menyiapkan 5 buah cawan petri yang dilapisi 2 lapis kertas saring bertumpuk

Menuangkan hormon 2,4-D sebanyak 10 ml dengan gelas ukur pada cawan


petri.

Meletakkan 5 biji kacang hijau diatas cawan petri yang sudah diberi 2,4-D

P1

P2

P3

P4

P5

P6

P7

Perlakuan:
: 2,4-D Konsentrasi 0,0 ppm
: 2,4-D Konsentrasi 0,001 ppm
: 2,4-D Konsentrasi 0,01 ppm
: 2,4-D Konsentrasi 0,1 ppm
: 2,4-D Konsentrasi 1 ppm
: 2,4-D Konsentrasi 10 ppm
: 2,4-D Konsentrasi x ppm

P1
P2
P3
P4
P5
P6
P7

Disimpan selama 3 hari ditempat gelap


Diukur panjang kecambah yang
dihasilkan

Data Pengamatan
Konsentrasi
2,4 D
1
2
0,0 ppm
0,001 ppm
0,01 ppm
0,1 ppm
1 ppm
10 ppm
X ppm
Perhitungan X ppm :
10 ppm = x X ppm

Biji Kacang Hijau (cm)


5 6 7 8 9 10 11

12

13

14

15

X ppm
NB :

x 10 ppm

Dari hasil pengamatan, semakin tinggi konsentrasi hormon 2,4 D maka semakin
lambat pertumbuhan kacang hijau. Hal tersebut dikarenakan kebutuhan hormon
masing-masing tumbuhan berbeda-beda. Tumbuhan memerlukan hormon dengan
jumlah sedikit sesuai kebutuhan. Jika hormon auksin (2,4D) yyang diberikan
terlalu banyak maka akan memungkinkan aktifnya hormon etilen yang
menyebabkan tumbuhan tidak mampu berkecambah. Jika hormon yang diberikan
terlalu banyak maka akan menyebabkan keracunan.

PERKECAMBAHAN DAN DORMANSI

Alat dan Bahan


Alat :
Cawan petri 6 buah
Beaker glass 500 mL
Gelas Ukur 10 ml
Amplas
Hotplate
Stopwacth

Bahan
:
Biji jarak
H2SO4 10%
Kertas saring
Aquades
Alkohol 70%
KNO3 10%

Cara Kerja :
1. Menyiapkan 6 buah polybag yang dilapisi 2 lapis kertas saring bertumpuk

Memberi perlakuan pada biji sirsak (Annona muricata Linn).


Kelompok 1 : Menggosok/mengikir biji dengan amplas
Kelompok 2 : Merendam biji dengan air mendidih selama 30 menit
Kelompok 3 : Merendam biji didalam H2SO4 10% selama 15 menit
Kelompok 4 : Merendam biji didalam Alkohol10% selama 15 menit
Kelompok 5 : Merendam biji didalam KNO3 10% selama 10 menit
Kelompok 6 : Tanpa perlakuan (kontrol)
Meletakkan 10 biji jarak diatas polybag yang sudah diberi air hingga basah.

Melakukan pengamatan tiap 2 hari selama 2 minggu (diberi air jika


kering)
Mencatat jumlah biji yang berkecambah dan hitung %
perkecambahannya
Data Pengamatan
Tabel Perkecambahan Biji Kacang Merah (Phaeseolus vulgaris) Mulai
berkecambah
Hari keNo. Perlakuan
4
7
Total %
Keterangan

%
Polybag A
1.
Polybag B

2.

Polybag C

3.

Keterangan :
A
: Diletakkan ditempat yang terkena sinar matahari langsung
B
: Diletakkan ditempat yang terkena sinar matahari, kemudian ditutup kardus
berlubang

: Diletakkan ditempat yang terkena sinar matahari dan ditutup kardus lubang

Tabel Dormansi Biji Sirsak (Annona muricata)


Hari kePerlakuan

2 4
6
8
10
12
14
Diamplas
Dipanaskan
Direndam
H2SO4 10% 15
Direndam
KNO3 10% 15
Direndam
Alkohol 10% 15
Kontrol