Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Persediaan merupakan salah satu aktiva yang paling aktif dalam operasi kegiatan

perusahaaan dagang. Sebagaian besar sumber daya perusahaan yang diinvestasikan dalam
bentuk barang-barang yang dibeli atau diproduksi. Biaya barang barang ini harus dicatat,
dikelompokan, dan diikhtisarkan selama periode akuntansi. Pada akhir periode, biaya
dialokasikan diantara aktivitas periode berjalan dan aktivitas periode mendatang yaitu diantara
barang barang yang berada dalam persediaan untuk dijual periode mendatang.
Persediaan juga merupakan aktiva lancar terbesar dari perusahaan manufaktur maupun
dagang. Pengaruh persediaan terhadap laba lebih mudah terlihat ketika kegiatan bisnis
berfluktuasi. Selama iklim usaha baik, penjualan menjadi tinggi dan persediaan bergerak lebih
cepat dari pembelian ke penjualan. Namun ketika kondisi ekonomi menurun, tingkat penjualan
juga menjadi menurun, persediaan bertumpuk dan perlu dilakukan penjualan meskipun
mengalami kerugian.
Pengertian persediaan menurut Skousen, Stice dan Stice (2004:653) adalah sebagai
berikut : Kata persediaan ditujukan untuk barang- barang yang tersedia untuk dijual dalam
kegiatan bisnis normal, dan dalam kasus perusahaan manufaktur, maka kata ini ditujukan untuk
proses produksi atau yang ditempatkan dalam kegiatan produksi.
IAS 2 merupakan standard akuntansi keuangan international yang mengatur mengenai
persediaan. Tujuan dari IAS 2 adalah untuk menentukan perlakuan akuntansi untuk persediaan.
IAS 2 memberikan panduan untuk menentukan biaya persediaan dan untuk selanjutnya

mengakui beban, termasuk setiap penurunan-down menjadi nilai realisasi bersih. Hal ini juga
memberikan panduan rumus biaya yang digunakan untuk menentukan biaya persediaan. IAS 2
menyatakan dasar penentuan dan akuntansi untuk persediaan sebagai suatu aset, hingga
pendapatan yang terkait diakui. Standar juga memberikan pedoman mengenai penilaian
persediaan dan konsekuensi penghapusannya sebagai suatu beban (expense), dan perlakuan
yang harus di adopsi atas pendapatan terkait yang di akui.

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai persediaan berdasarkan IAS 2, yaitu ruang lingkup,
dasar penilaian, pengukuran biaya perolehan, dan pengungkapan.
1.2

Perumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan sebagaimana dijelaskan pada latar belakang diatas, penulis akan

mengkaji beberapa permasalahan sebagai berikut :


1
Bagimana ruang lingkup IAS 2 ?
2.
Apa dasar penilaian persediaan?
3.
Bagaimana ketentuan pengukuran biaya perolehan ?
4.
Bagaimana pengungkapan kebijakan akuntansi persediaan berdasarkan IAS 2 ?
1.3
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.

Untuk menghetahui ruang lingkup IAS 2.

2.

Untuk mengetahui dasar penilaian persediaan.

3.

Untuk mengetahui ketentuan pengukuran biaya perolehan.

4.

Untuk pengungkapan kebijakan akuntansi persediaan berdasarkan IAS 2.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Penilaian Persediaan.
Menurut IAS 2 dalam buku IFRS Interpretation and Application of International

Financial Reporting Standards, Inventories are defined ad items that are held for sale in the
ordinary course of business; int the process of production for such sale; or in the form of
materials or supplies to be consumed in the production process or in the rendering of
services, yang bila diartikan, Persediaan didefinisikan sebagai barang-barang yang dimiliki
untuk dijual dalam kegiatan usaha sehari, dalam proses produksi untuk penjualan tersebut, atau
dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk dikonsumsi dalam proses produksi atau
pemberian jasa.
IAS 2 mendiskripsikan bahwa basis utama akuntansi persediaan adalah kas, dan kas
didefinisikan sebagai jumlah kas pembelian atau kas konversi, termasuk kas lain untuk
membuat persediaan ada di lokasi perusahaan dan dalam kondisi seperti pada saat pelaporan
persediaan. Dikatakan bahwa kas atas pembelian persediaan mencakup harga beli, biaya
angkut, asuransi, dan biaya penanganan persediaan (handling costs). Potongan tunai, rabat, dan
jenis-jenis potongan pembelian lain jika ada harus dikurangkan ke biaya persediaan. Dapat
disimpulkan bahwa sampai dengan titik ini, tidak ada perbedaan kententuan pengukuran kas
persediaan antara IFRS dengan US GAAP, keduanya membuat aturan yang boleh dikatakan
sama persis, karena memang untuk kasus kas perolehan persediaan tidak ada ruang untuk
penerapan konsep principles-based, sehingga mau tidak mau harus menggunakan konsep rulesbased.

Untuk kasus persediaan yang memerlukan proses produksi cukup lama, IAS 23
mengatur bahwa bagian dari biaya pendanaan (borrowing costs) harus diperlakukan sebagai
bagian dari biaya persediaan. Dalam kasus ini dapat disimpulkan bahwa IFRS justru sangat
mengatur tentang bagaimana biaya pendanaan harus diperlakukan, atau justru menggunakan
rules-based

dan bukannya menggunakan principles-based. Semestinya jika konsisten

menggunakan principles-based, financing costs untuk keperluan proses produksi yang panjang
semacam ini tetap diperlakukan sebagai period costs dan bukannya diperlakukan sebagai
production costs, karena jika manajemen memutuskan untuk tidak menggunakan dana luar
dalam proses produksinya, maka financing costs tidak akan pernah terjadi.
IAS 2 menyebutkan bahwa biaya konversi untuk proses produksi persediaan mencakup
seluruh biaya yang berhubungan langsung dengan proses produksi persediaan, seperti biaya
tenaga kerja langsung dan biaya overhead. Alokasi biaya overhead harus dilakukan secara
sistematis dan rasional, dan dalam kasus biaya overhead tetap, yaitu yang jumlahnya tidak
berubah-ubah menyesuaikan dengan volume produksi, alokasi harus dilakukan berdasarkan
tingkat produksi normal. Dalam periode tingkat produksi turun secara tidak normal, sebagian
dari biaya overhead tetap harus dibebankan langsung ke periode terjadinya biaya, atau dengan
kata lain harus diperlakukan sebagai biaya periode (period costs), dan tidak diperhitungkan
sebagai bagian dari biaya persediaan. Dalam kasus standard pengukuran biaya produksi ini,
sekali lagi dapat dirasakan bahwa IFRS membuat aturan dengan cukup jelas tetang bagaimana
pengukuran biaya produksi harus dilakukan, sama sekali tidak berbeda dengan standard
pengukuran biaya produksi versi US GAAP, sehingga dapat disimpulkan baik IFRS maupun
US

GAAP

tetap

menggunakan

konsep rules-based, dan

bukannya

menggunakan

konsep principles-based. Berdasarkan paparan dalam paragraf ini, sama sekali tidak ada alasan

untuk bisa mengatakan IFRS menggunakan principles-based dan US GAAP menggunakan


konsep rules-based.
Biaya produksi selain bahan baku dan biaya konversi (biaya tenaga kerja langsung dan
biaya overhead) hanya akan dibebankan sebagai bagian dari biaya persediaan pada saat biaya
tersebut dipandang sangat diperlukan untuk membuat persediaan dalam kondisi siap untuk
dijual atau dilaporkan dalam laporan keuangan. Contoh biaya semacam ini adalah biaya
perancangan produk dan biaya persiapan produksi untuk memenuhi kepuasan sekelompok
pelanggan tertentu. Di sisi lain, seluruh biaya riset dan pengembangan produk, berdasarkan IAS
38, tidak boleh diperlakukan sebagai bagian dari biaya persediaan. Biaya lain yang juga tidak
perperbolehkan diperlakukan sebagai bagian dari biaya persediaan adalah biaya administrasi
dan biaya penjualan atas persediaan, biaya sisa bahan-bahan produksi, serta biaya
penggudangan persediaan. Biaya lain yang harus dimasukkan sebagai bagian dari biaya
overhead, dan oleh karenanya diperlakukan sebagai bagian dari biaya persediaan adalah biaya
perbaikan dan pemeliharaan mesin, biaya peralatan produksi, biaya sewa peralatan produksi,
biaya tenaga kerja tidak langsung, biaya gaji pengawas produksi, biaya bahan-bahan produksi
tidak langsung, biaya pengendalian dan pengawasan kualitas produk, dan biaya atas peralatan
kecil yang tidak dikapitalisasi. Ketentuan dalam IFRS atas biaya produksi selain biaya bahan
baku dan biaya konversi, yang diuraikan dalam paragraf ini, juga memperjelas fakta bahwa
untuk kasus ini IFRS tidak menggunakan principles-based, tetapi menggunakan rulesbased sebagaimana yang terjadi pada US GAAP.
2.2

Ruang Lingkup IAS 2.


Sebelum tahun 2005 IAS 2 membolehkan penggunaan tiga alternatif pengukuran kas

persediaan, yaitu metode FIFO dan rata-rata tertimbang yang oleh IAS 2 disebut sebagai

benchmark treatments, serta satu lagi metode yang oleh IAS 2 disebut sebagai allowed
alternative treatments yaitu metode LIFO. Namun efektif mulai 1 Januari 2005 IFRS tidak
membolehkan penggunaan metode LIFO, sehingga metode pengukuran kas yang berlaku
tinggal metode FIFO dan metode Rata-rata Tertimbang. Pembatasan penggunakan metode
akuntansi semacam ini merupakan indikasi bahwa IFRS pada dasarnya tidak sepenuhnya
menggunakan principles-based, bahkan dalam kasus akuntansi persediaan menjadi lebih rulesbased dibanding US GAAP.
Tujuan Pernyataan ini adalah mengatur perlakuan akuntansi untuk persediaan.
Permasalahan pokok dalam akuntansi persediaan adalah penentuan jumlah biaya yang diakui
sebagai aset dan perlakuan akuntansi selanjutnya atas aset tersebut sampai pendapatan terkait
diakui. Pernyataan ini menyediakan panduan dalam menentuan biaya dan pengakuan
selanjutnya sebagai beban, termasuk setiap penurunan menjadi nilai realisasi neto. Pernyataan
ini juga memberikan panduan rumus biaya yang digunakan untuk menentukan biaya
persediaan.
Persediaan adalah salah satu aset lancar signifikan bagi perusahaan pada umumnya,
terutama perusahaan dagang, manufaktur, pertanian, kehutanan, pertambangan, kontraktor
bangunan, dan penjual jasa tertentu. Hal ini menyebabkan akuntansi untuk persediaan menjadi
suatu masalah penting bagi perusahaan-perusahaan tersebut.
Menurut IAS No.2 inventory atau persediaan adalah :
a. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal
b. Dalam proses produksi untuk penjualan tersebut, atau
c. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi
atau pemberian jasa

Terdapat beberapa poin penting terkait dengan definisi tersebut diatas :


a. Persediaan merupakan aset yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal.
Ini berarti aset yang dikelompokkan sebagai persediaan adalah aset yang memang
selalu dimaksudkan untuk dijual atau digunakan dalam proses produksi atau
pemberian jasa.
b. Perlengkapan yang dimaksudkan sebagai persediaan adalah perlengkapan yang
digunakan dalam proses produksi, sehingga perlengkpan kantor (seperti alat tulis
kantor) dengan tujuan untuk digunakan administrasi kantor dan bukan untuk dijual,
bukanlah bagian dari persediaan.
c. Perlengkapan tersebut juga harus merupakan perlengkapan yang digunakan secara
regular dalam proses produksi dan bukan perlengkapan yang hanya bisa digunakan
bersamaan dengan aset tetap.
IAS 2 diterapkan untuk semua persediaan, kecuali :
a) Barang dalam proses yang timbul menurut

kontrak

konstruksi

(IAS

11

mengenai kontrak konstruksi)


b) Instrumen keuangan (misal saham, surat hutang, obligasi) yang dimiliki sebagai
persediaan (IAS 32 mengenai instrumen keuangan)
c) Aset biologis dan memproduksi yang terkait dengan aktivitas pertanian (IAS 41
mengenaipertanian).
IAS 2 ini tidak berlaku untuk pengukuran persediaan bagi pialang-pedagang komoditi
yang mengukur persediaannya pada nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk menjual, sesuai
dengan praktik yang berlaku pada industri. Ketika persediaan tersebut diukur pada nilai wajar
setelah dikurangi biaya untuk menjual, maka perubahan nilai wajar setelah dikurangi biaya
untuk menjual diakui dalam laporan laba rugi pada periode terjadinya .
2.3
Dasar Penilaiain
a) Nilai Realisasi Neto (Net Realizable Value)
Nilai realisasi neto adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi
estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan.

Nilai realisasi neto mengacu kepada jumlah neto yang entitas berharap untuk direalisasi dari
penjualan persediaan dalam kegiatan usaha biasa. Nilai wajar mencerminkan suatu jumlah di
mana persediaan yang sama dapat dipertukarkan antara pembeli dan penjual yang
berpengetahuan dan berkeinginan di pasar. Nilai realisasi neto adalah nilai khusus entitas
sedangkan nilai wajar tidak tergantung pada nilai khusus entitas. Nilai realisasi neto untuk
persediaan bisa tidak sama dengan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual.
IAS 2 menyatakan bahwa estimasi net realizable value harus diterapan untuk setiap
jenis persediaan atau item demi item, kecuali terdapat sekelompok persediaan yang sejenis dan
dapat dinilai secara tepat per kelompok jenis persediaan. Sebagai pedoman umum, penilaian
harus dilakukan untuk setiap jenis persediaan untuk mencegah kemungikan terjadinya
kompensasi unrealized gain dengan unrealized loss kelompok persediaan lain, sehingga
menurunkan jumlah rugi yang harus diakui, hal ini penting untuk diperhatikan mengingat IFRS
melarang pengakuan unrealized gain pada laporan rugi-laba. Dikatakan bahwa evaluasi
penurunan nilai persediaan yang dilakukan atas sekelompok persediaan, tidak atas item per
item

persediaan,

adalah

merupakan

mekanisme

tidak

langsung

atau ?backdoor

mechanism? untuk mengakuiunrealized gain yang seharusnya tidak diakui, sehingga perlu
ditegaskan bahwa tuntutan dasar evaluasi penurunan nilai persediaan adalah diterapkan atas
item demi item persediaan. Paparan dalam dua paragraf di atas menegaskan bahwa IAS 2
sangat mengatur penerapan net realizable value, yaitu harus diterapkan item demi item demi
untuk mencegah potensi pengakuan unrealized gain secara tidak langsung, di sisi lain US
GAAP tidak mengatur hingga sedetil ini, sehingga dapat disimpulkan bahwa IFRS ternyata
justru lebih condong ke rules-based dan bukannya berbasis pada konsep principles-based.

Recoveries of previously recognized losses. Untuk kasus terjadinya kenaikan kembali


nilai persediaan, IAS 2 mendeskripsikan bahwa pengukuran net realizable value harus
dilakukan pada setiap periode pelaporan keuangan, dan pada saat tidak terdapat lagi fakta
adanya penurunan nilai persediaan, misalnya karena nilai persediaan mengalami kenaikan
kembali, maka penurunan nilai persediaan harus dibatalkan dengan membuat jurnal koreksi,
dan karena penurunan nilai persediaan telah dimasukkan ke dalam laporan rugi-laba, maka
jurnal koreksi atas penurunan nilai persediaan juga harus direfleksikan dalam laporan rugi-laba.
Juga ditegaskan bahwa jurnal koreksi atau recovery hanya diperkenankan maksimum sebesar
penurunan nilai yang telah diakui pada periode sebelumnya. Dalam kasus ini perbedaannya
dengan US GAAP adalah bahwa dalam US GAAP penurunan nilai persediaan yang telah diakui
pada periode sebelumnya tidak boleh ditutup dengan kenaikan nilai pada periode berikutnya.
Dari sudut pandang istilah konsep principles-based dan ruled-based, ternyata untuk kasus
inipun keduanya lebih bisa dikatakan sama-sama menggunakan ruled-based.
b) Nilai wajar
Nilai wajar adalah jumlah di mana suatu aset dipertukarkan, atau kewajiban
diselesaikan, antara pihak yang berpengetahuan dan berkeinginan dalam suatu transaksi yang
wajar
c) Komoditi
Komoditi adalah barang dagangan yang menjadi subjek kontrak berjangka yang
diperdagangkan di bursa berjangka
d) Nilai khusus entitas

Nilai khusus entitas adalah nilai kini dari arus kas yang diharapkan oleh suatu entitas
yang timbul dari penggunaan aset berkelanjutan dan dari pelepasannya pada akhir umur
manfaat atau yang diharapkan terjadi ketika penyelesaian kewajiban.
2.4

Metode Penilaian Persediaan


Menurut Weygandt, Kieso dan Kimmel (2005:235), ada tiga metode yang dapat

digunakan untuk menilai persediaan, yaitu :


1. First-in, first out (FIFO).
2. Last-in, first-out (LIFO).
3. Average cost.
Seperti yang sudah dibahas diawal, bahwa pada tanggal 1 Januari 2005 IAS 2 sudah
tidak membolehkan penggunaan metode LIFO, sehingga metode pengukuran kas yang berlaku
tinggal metode FIFO dan metode Rata-rata Tertimbang.
a.
Metode First-in, First Out (FIFO).
Metode FIFO mengasumsikan persediaan yang dibeli pertama kali akan dijual terlebih
dahulu. Menurut Weygandt, Kieso dan Kimmel (2005:236) pengakuan cost of goods sold
dengan menggunakan metode FIFO adalah sebagai berikut : Under the FIFO method, the
costs of the earliest goods purchased are the first to be recognized as cost of goods sold.
Sedangkan, untuk perhitungan persediaan akhir (ending inventory) dengan menggunakan
metode FIFO menurut Weygandt, Kieso dan Kimmel (2005:236) adalah sebagai berikut :
Under FIFO, the cost of ending inventory is found by taking the unit cost of the most recent
purchase and working backward until all units of inventory are costed.
Dengan menggunakan metode FIFO, perusahaan akan menghasilkan laba yang lebih
besar dibandingkan dengan menggunakan metode LIFO maupun metode rata-rata karena biaya
unit yang lebih rendah dari pembelian persediaan pertama kali. Tetapi, dengan laba yang besar,
maka perusahaan juga akan membayar pajak yang lebih besar sehingga tidak dapat dilakukan
penghematan pajak jika menggunakan metode FIFO. Manajemen perusahaan akan lebih

memilih untuk menggunakan metode FIFO karena dengan nilai laba perusahaan yang besar
akan menunjukkan bahwa kinerja manajemen perusahaan tersebut bagus dan manajemen akan
mendapatkan kompensasi berupa bonus yang cukup besar dari perusahaan. Perusahaan yang
menggunakan metode FIFO pada saat terjadi inflasi akan menghasilkan laba yang besar
sedangkan pada saat terjadi deflasi, perusahaan yang menggunakan metode FIFO akan
menghasilkan laba yang kecil.
b.

Metode Rata-Rata Tertimbang - AVERAGE


Metode rata-rata mengasumsikan persediaan yang tersedia untuk dijual memiliki rata-

rata biaya per unitnya sama. Menurut Weygandt, Kieso, dan Kimmel (2005:238) perhitungan
unit cost berdasarkan formula rata-rata tertimbang adalah sebagai berikut : Under this
method, the cost of goods available for sale is allocated on the basis of the weighted-average
unit cost. Berikut adalah formula perhitungan unit cost berdasarkan metode rata-rata
tertimbang (weighted-average method) :

Setelah dilakukannya perhitungan unit cost, selanjutnya menurut Weygandt, Kieso, dan
Kimmel (2005:238) untuk mengetahui nilai biaya dari persediaan akhir adalah sebagai berikut
: The weighted-average unit cost is then applied to the units on hand. This computation
determines the cost of the ending inventory.
Pada sistem periodik, metode rata-rata disebut metode rata-rata tertimbang
(weighted average method) dan pada sistem perpetual disebut dengan metode rata-rata
bergerak (moving average method) (Abdullah dan Djalil, 2004) dalam Metallia (2007). Dengan

menggunakan metode rata-rata, perusahaan akan dapat melakukan penghematan pajak (tax
saving) dikarenakan laba yang di dapat perusahaan dengan menggunakan metode tersebut akan
lebih kecil. Tetapi, pada saat menggunakan metode rata-rata akan dapat menghasilkan nilai
akhir persediaan di antara FIFO dan LIFO.
c.

Metode Last In First Out (LIFO)


Metode LIFO mengasumsikan persediaan yang terakhir dibeli akan dijual terlebih

dahulu. Weygandt, Kieso dan Kimmel (2005:237) menyatakan bahwa pengakuan cost of
goods sold dengan menggunakan metode LIFO adalah sebagai berikut : Under the LIFO
method, the costs of the latest goods purchases are the first to be assigned to cost of goods
sold. Sedangkan, untuk mengetahui nilai persediaan akhir (ending inventory) dengan
menggunakan metode LIFO adalah sebagai berikut : Under the LIFO method, the cost of
ending inventory is found by taking the unit cost of the oldest goods and working
forward until all units of inventory are costed.
Dengan menggunakan metode LIFO, perusahaan akan menghasilkan laba yang kecil
sehingga dapat melakukan penghematan pajak. Pada saat inflasi, perhitungan harga beli
terakhir dibebankan ke operasi dalam periode kenaikan harga sehingga mengurangi laba dan
menghasilkan pengurangan pajak.
2.5

Sistem Pencatatan Persediaan


Adapun sistem pencatatan persediaan dapat digolongkan ke dalam dua cara yaitu:
a. Sistem Periodic Atau Fisik (Physical Method)
Menurut Epstein dan Jermakowicz (2007:p176), Sistem periodik ialah sistem

persediaan di mana jumlah yang ditentukan hanya berkala oleh perhitungan fisik. Menurut
Weygandt, Kieso dan Kimmel (2007:p2461), dalam sistem persediaan periodik, rincian

catatan persediaan barang yang dimiliki tidak disesuaikan secara terus menerus dalam satu
periode. Harga pokok penjualan barang ditentukan hanya pada akhir periode akuntansi.
Menurut sistem ini setiap pembelian atau pemasukan maupun penjualan
(pengeluaran) persediaan tidak dicatat atau dibukukan kedalam perkiraan persediaan.
Pembelian barang dibukukan keperkiraan-keperkiraan pembelian dan beberapa perkiraan
lain seperti potongan pembelian dan pengembalian pembelian. Penjualan dibukukan ke
perkiraan penjualan.
Dengan sistem ini jumlah persediaan akhir diketahui setelah dilakukan perhitungan
fisik (invertory taking) terhadap barang yang ada digudang. Selanjutnya setelah
perhitungan fisik maka perlu dilakukan closing (penutup) terhadap persediaan awal. Jadi
dalam buku besar persediaan hanya terdapat jumlah persediaan awan dan persediaan
akhir. Bagi perusahaan dagang jika menggunakan metode ini maka sistem pencatatannya
adalah sebagai berikut:
Saat Pembelian:
Purcahase

Rp xxx

Cash/Account Payable

Rp xxx

Jika barang yang telah dibeli dikembalikan karena rusak atau penyebab lainnya:
Cash/Account Payable

Rp xxx

Purchase Return

Rp xxx

Saat penjualan:
Cash/Account Receivable

Rp xxx

Sales
Jika barang yang telah dijual dikembalikan karena sesuatu hal:

Rp xxx

Sales Return

Rp xxx

Cash/Account Receivable

Rp xxx

b. Sistem Perpetual atau Kontinyu (Perpetual Method)


Menurut Weygandt, Kieso dan Kimmel (2007:p2461), Dalam sistem persediaan
perpetual, rincian catatan mengenai setiap pembelian dan penjualan persediaan disimpan.
Sistem ini secara terus menerus menunjukkan persediaan yang harus dimiliki untuk setiap
jenis barang. Berdasarkan sistem persediaan perpetual, harga pokok penjual ditentukan
setiap kali terjadi penjualan. Menurut Epstein dan Jermakowicz (2007:p176), Sistem
perpetual ialah sistem persediaan di mana pembaruan catatan jumlah persediaan selalu
dilakukan dan disimpan.
Menurut sistem ini, setiap saat harus dilakukan pencatatan atas penambahan
ataupun

pengurangan

persediaan

akibat

adanya

pembelian, pemakaian bahan baku

dan penjualan sehingga jumlah maupun nilai persediaan dapat diketahui sewaktu-waktu
tanpa melakukan perhitungan fisik. Untuk perusahaan dagang, pencatatan yang dilakukan
menurut metode ini adalah sebagai berikut:

Saat pembelian:
Merchandise Inventory

Rp xxx

Account Payable/Cash

Rp xxx

Jika barang yang telah dibeli dikembalikan karena rusak atau penyebab lainnya:
Account Payable/Cash
Account Payable/Cash
Saat penjualan:

Rp xxx
Rp xxx

Account Receivable/Cash

Rp xxx

Sales

Rp xxx

Cost of Good Sold

Rp xxx

Merchandise Inventory

Rp xxx

Jika barang yang telah dijual dikembalikan karena sesuatu hal:


Sales Return

Rp xxx

Cash/Account Receivable

Rp xxx

Marchandise Inventory

Rp xxx

Cost of Good Sold

Rp xxx

Karena sistem perpetual dicatat setiap ada perubahan dalam persediaan, maka saldo
dalam perkiraan yang ada di neraca saldo

adalah saldo

perkiraan persediaan akhir,

sehingga tidak diperlukan ayat jurnal penyesuaian.


2.6

Pengukuran Biaya Perolehan


Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi neto, mana yang lebih

rendah, Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya
lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini.
a) Biaya Pembelian
Biaya pembelian persediaan meliputi harga beli, bea impor, pajak lainnya (kecuali yang
kemudian dapat ditagih kembali oleh entitas kepada otoritas pajak), biaya pengangkutan,
biaya penanganan, dan biaya lainnya yang secara langsung dapat diatribusikan pada
perolehan barang jadi, bahan, dan jasa. Diskon dagang, rabat dan hal lain yang serupa
dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian

b) Biaya Konversi
Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung terkait dengan unit yang
diproduksi, misalnya biaya tenaga kerja langsung. Termasuk juga alokasi sistematis
overhead produksi tetap dan variabel yang timbul dalam mengonversi bahan menjadi barang
jadi. Overhead produksi tetap adalah biaya produksi tidak langsung yang relatif konstan,
tanpa memerhatikan volume produksi yang dihasilkan, seperti penyusutan dan pemeliharaan
bangunan dan peralatan pabrik, dan biaya manajemen dan administrasi pabrik. Overhead
produksi variabel adalah biaya produksi tidak langsung yang berubah secara langsung, atau
hampir secara langsung, mengikuti perubahan volume produksi, seperti bahan tidak
langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung.
c) Biaya Standard
Biaya standar memperhitungkan tingkat normal penggunaan bahan dan perlengkapan,
tenaga kerja, efisiensi dan utilisasi kapasitas. Biaya standar di-review secara reguler dan,
jika diperlukan, direvisi sesuai dengan kondisi terakhir
d) Metode eceran
Metode eceran seringkali digunakan dalam industri eceran untuk menilai persediaan dalam
jumlah besar item yang berubah dengan cepat, dan memiliki marjin yang sama saat tidak
praktis untuk menggunakan metode penetapan biaya lainnya
e) Biaya-biaya Lain
Biaya-biaya lain hanya dibebankan sebagai biaya persediaan sepanjang biaya tersebut
timbul agar persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. Misalnya, dalam keadaan
tertentu diperkenankan untuk memasukkan overhead nonproduksi atau biaya perancangan
produk untuk pelanggan tertentu sebagai biaya persediaan.

2.7

Pengendalian dan Pengungkapan


Menurut standard akuntansi keuangan IAS 2, dalam hal penyajian persediaan pada

laporan keuangan perlu diungkapkan beberapa hal berikut ini :


a) kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan, termasuk rumus
biaya yang digunakan;
b) total jumlah tercatat persediaan dan jumlah nilai tercatat menurut klasifikasi yang
sesuai bagi entitas
c) jumlah tercatat persediaan yang dicatat dengan nilai wajar dikurangi biaya untuk
menjual;
d) jumlah persediaan yang diakui sebagai beban selama periode berjalan;
e) jumlah setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang jumlah persediaan yang
diakui sebagai beban dalam periode berjalan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 32;
f) jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang
jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan sebagaimana
dijelaskan pada paragraf 32;
g) kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai persediaan yang diturunkan
sebagaimana dijelaskan pada paragraf 32; dan
h) nilai tercatat persediaan yang diperuntukkan sebagai jaminan kewajiban.
Informasi tentang jumlah tercatat yang disajikan dalam berbagai klasifikasi persediaan
dan tingkat perubahannya masing-masing berguna bagi pemakai laporan keuangan. Klasifikasi
persediaan yang biasa digunakan adalah barang dagangan, perlengkapan produksi, bahan,
barang dalam penyelesaian, dan barang jadi. Persediaan dalam pemberi jasa biasanya disebut
pekerjaan dalam penyelesaian.
Biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama periode, seringkali disebut sebagai
beban pokok penjualan, meliputi biaya-biaya yang sebelumnya diperhitungkan dalam
pengukuran persediaan yang saat ini telah dijual, overhead produksi yang tidak teralokasi, dan
jumlah biaya produksi persediaan yang tidak normal. Kondisi tertentu dari entitas juga
memungkinkan untuk memasukkan biaya lainnya, seperti biaya distribusi.

Beberapa entitas mengadopsi suatu format laporan laba rugi yang mengakibatkan
jumlah yang diungkapkan adalah selain biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama
periode yang bersangkutan. Dalam format ini, entitas menyajikan analisa beban menggunakan
klasifikasi berdasarkan sifat dari beban. Dalam kasus ini, entitas mengungkapkan biaya yang
diakui sebagai beban untuk bahan baku dan bahan habis pakai, biaya tenaga kerja, dan biaya
lainnya bersama-sama dengan jumlah perubahan neto persediaan pada periode tersebut

Anda mungkin juga menyukai