Anda di halaman 1dari 17

Administrasi Kesehatan dan Puskesmas

Pamela Vasikha
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana NIM 102013407
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat
Pamelavasikha@yahoo.com

Pendahuluan
Skenario 2, seorang dokter yang menjabat sebagai kepala puskesmas kecamatan
mengadakan lokakarya mini puskesmas dan mendapatkan data hasil cakupan imunisasi dasar,
peserta baru KB, ANC dan pemberantasan DHF belum mencapai target yang diharapkan. Ia
mempunyai staf 1 orang dokter gigi, 6 orang perawat, 4 orang bidan (desa), 1 orang sanitarian
dan 3 orang petugas administrasi. Wilayahnya mencakup kecamatan dengan populasi +/- 30.000
jiwa. Ia hanya ingin memprioritaskan 2 (dua) masalah saja untuk dikerjakan tahun ini.
Terwujudnya keadaan sehat adalah kehendak semua pihak. Tidak hanya oleh orang per
orang, tetapi juga oleh keluarga, kelompok dan bahkan oleh masyarakat. Untuk dapat
mewujudkan keadaan sehat tersebut banyak hal yang perlu dilakukan. Salah satu di antaranya
yang dinilai mempunyai peranan yang cukup penting adalah menyelenggarakan pelayanan
kesehatan (Blum, 1974).
Pada saat ini berkat perkembangan ilmu dan teknologi, dan juga kehidupan masyarakat,
tampak bentuk dan jenis pelayanan kesehatan yang dapat diselenggarakan banyak macamnya.
Maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai salah satu jenis pelayanan kesehatan di
Indonesia yang sangat penting bagi masyarakatnya. Pelayanan kesehatan itu adalah Puskesmas.
Dimana dalam makalah ini akan lebih dibahas mengenai administrasi kesehatan terutama dalam
ruang lingkup puskesmas. 1

Peran dan Fungsi Puskesmas

Puskesmas merupakan suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang merupakan


pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping
memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam
bentuk kegiatan pokok.
Dengan lain perkataan Puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung-jawab atas
pemeliharaan kesehatan masyarakat dalam wilayah kerjanya.1,2,3
Peran Puskesmas adalah sebagai ujung tombak dalam mewujudkan kesehatan nasional
secara komprehensif, tidak sebatas aspek kuratif dan rehabilitatif saja seperti di Rumah Sakit.
Sesuai dengan Sistem Kesehatan Nasional, Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama mempunyai tiga fungsi sebagai berikut: 4
a. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan
Memiliki makna bahwa Puskesmas harus mampu membantu menggerakkan
(motivator,

fasilitator)

dan

turut

serta

memantau

pembangunan

yang

diselenggarakan di tingkat kecamatan agar dalam pelaksanaannya mengacu,


berorientasi serta dilandasi oleh kesehatan sebagai faktor pertimbangan utama.
Diharapkan setiap pembangunan yang dilaksanakan seyogyanya yang mendatangkan
dampak positif terhadap kesehatan.5
b. Memberdayakan masyarakat dan keluarga
Pemberdayaan masyarakat adalah segala upaya fasilitas yang bersifat non
instruktif guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mas yarakat
agar

mampu

mengidentifikasi masalah, merencanakan dan melakukan

pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat dan fasilitas yang ada,


baik dari instansi lintas sektoral maupun LSM( Lembaga Swadaya Masyarakat ) dan
tokoh masyarakat.4
Pemberdayaan keluarga adalah segala upaya fasilitas yang bersifat non instruktif
guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan keluarga agar mampu
mengidentifikasi masalah, merencanakan dan mengambil keputusan untuk
melakukan pemecahannya dengan benar tanpa atau dengan bantuan pihak lain.
Indikator fungsi pemberdayaan masyarakat.4
2

Tumbuh-kembang UKBM ( Upaya Kesehatan


Berbasis Masyarakat )

Tumbuh dan berkembangnya LSM di bidang


kesehatan.

Tumbuh dan berfungsinya BPKM ( Badan


Peduli Kesehatan Masyarakat ) atau BPP ( Badan Penyantun Puskesmas )

c. Memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama


Upaya pelayanan kesehatan tingkat pertama yang diselenggarakan Puskesmas
bersifat holistik, komprehensif / rnenyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Pelayanan
kesehatan tingkat pertama adalah pelayanan yang bersifat pokok (basic health service),
yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat serta. mempunyai nilai
strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pelayanan kesehatan
tingkat pertama meliputi pelayanan kesehatan masyarakat dan pelayanan medik.
Pada umumnya pelayanan kesehatan tingkat pertama ini bersifat pelayanan rawat
jalan (ambulatory / out patient service).4
Dalam melaksanakan fungsinya tersebut, Puskesmas dapat melakukan cara cara sebagai
berikut :
1. Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melakukan kegiatan dalam rangka
menunjang dirinya sendiri.
2. Memberi petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali serta menggunakan
sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.
3. Memberi bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan medis maupun
rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan bantuan tersebut tidak
menimbulkan ketergantungan.
4. Memberi pelayanan kesehatan langsung pada masyarakat.
5. Bekerja sama dengan sektor sektor yang bersangkutan dalam melaksanakan program
kerja Puskesmas.

Azas Penyelenggaraan Puskesmas Menurut Kepmenkes No 128 Tahun 2004


Penyelenggaraan upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan harus menerapkan
azas penyelenggaraan puskesmas secara terpadu. azas penyelenggaraan puskesmas yang di
maksud adalah sebagai berikut.4
1. Azas pertanggungjawaban wilayah
Puskesmas bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang
bertempat tinggal di wilayah kerjanya.
Dilakukan kegiatan dalam gedung dan luar gedung
Ditunjang dengan puskesmas pembantu, Bidan di desa, puskesmas keliling
2. Azas pemberdayaan masyarakat
Puskesmas harus memberdayakan perorangan, keluarga dan masyarakat agar berperan
aktif dalam menyelenggarakan setiap upaya Puskesmas
Potensi masyarakat perlu dihimpun
3. Azas keterpaduan
Setiap upaya diselenggarakan secara terpadu
a. Keterpaduan lintas program
UKS : keterpaduan Promkes, Pengobatan, Kesehatan Gigi, Kespro, Remaja,
Kesehatan Jiwa
b.

Keterpaduan lintassektoral
Upaya Perbaikan Gizi : keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kades,
pertanian, pendidikan, agama, dunia usaha, koperasi, PKK
Upaya Promosi Kesehatan : keterpaduan sektor kesehatan dengan camat,
lurah/kades, pertanian, pendidikan, agama

4. Azas rujukan
a. Rujukan medis/upaya kesehatan perorangan
rujukan kasus
bahan pemeriksaan
ilmu pengetahuan
b. Rujukan upaya kesehatan masyarakat
rujukan sarana dan logistik
rujukan tenaga
4

rujukan operasional
Pelayanan kesehatan Puskesmas
Pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah pelayanan yang bersifat mutlak perlu, yang
sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat serta mempunyai nilai strategis untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Puskesmas merupakan sarana pelayanan
kesehatan pemerintah yang wajib menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara
bermutu, terjangkau, adil dan merata. Upaya pelayanan kesehatan secara komprehensif yang
diselenggarakan sebagai berikut.5

Pelayanan kesehatan masyarakat yang lebih mengutamakan pelayanan


promotif dan preventif, dengan pendekatan kelompok masyarakat, serta sebagian
besar diselenggarakan bersama masyarakat melalui upaya pelayanan dalam dan
luar gedung di wilayah kerja Puskesmas.

Pelayanan medik dasar yang lebih mengutamakan pelayanan,


kuratif dan rehabilitatif dengan pendekatan individu dan keluarga pada
umumnya melalui upaya rawat jalan dan rujukan

Upaya Kesehatan Pokok Puskesmas3


Untuk tercapainya visi dan pembangunan kesehatan melalui Puskesmas yakni terwujudnya
Kecamatan Sehat Menuju Indonesia Sehat, puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan
upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, yang keduanya jika ditinjau dari
sistem kesehatan nasional merupakan pelayanan kesehatan nasional, dan juga merupakan
pelayanan kesehatan tingkat pertama. Upaya kesehatan tersebut dikelompokkan menjadi dua
yaitu:4,5
a. Upaya Kesehatan Wajib
Upaya kesehatan wajib Puskesmas yang ditetapkan berdasarkan komitmen regional dan
global serta yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat. Upaya kesehatan wajib ini harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada
diwilayah Indonesia. Upaya kesehatan wajib tersebut adalah:
1. Upaya Promosi Kesehatan

: yaitu program pelayanan kesehatan puskesmas yang diarahkan untuk membantu masyarakat
agar hidup sehat secara optimal melalui kegiatan penyuluhan (individu, kelompok maupun
masyarakat).
2. Upaya Kesehatan Lingkungan
: yaitu program pelayanan kesehatan lingkungan di puskesmas untuk meningkatkan kesehatan
lingkungan pemukiman melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan mutu lingkungan dan
tempat umum termasuk pengendalian pencemaran lingkungan dengan peningkatan peran serta
masyarakat.
3. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana
: yaitu program pelayanan KIA dan KB di puskesmas yang ditunjukkan untuk memberikan
pelayanan kepada PUS (Pasangan Usia Subur) untuk ber KB, pelayanan ibu hamil, bersalin
dan nifas serta pelayanan bayi dan balita.
4. Upaya perbaikan Gizi Masyarakat
: yaitu program kegiatan pelayanan kesehatan, perbaikan gizi masyarakat di Puskesmas yang
meliputi peningkatan pendidikan gizi, penanggulangan Kurang Energi Protein, Anemia Gizi
Besi, Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), Kurang Vitamin A, Keadaan zat gizi
lebih, Peningkatan Survailans Gizi, dan Perberdayaan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga /
Masyarakat.
5. Upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular
: yaitu program pelayanan kesehatan puskesmas untuk mencegah dan mengendalikan penular
penyakit menular / infeksi (misalnya TB, DBD, Kusta).
6. Upaya pengobatan (kuratif dan rehabilitative)
: yaitu bentuk pelayanan kesehatan untuk mendiagnosa, melakukan tindakan pengobatan pada
seseorang pasien dilakukan oleh seorang dokter secara alamiah berdasarkan temuan-temuan
yang diperoleh selama anamnesis dan pemeriksaan.
b. Upaya Kesehatan Pengembangan
Upaya kesehatan pengembangan Puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan
permasalahan yang ditentukan di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan
Puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan pokok
Puskesmas yang telah ada yakni:3
1. Upaya Kesehatan Sekolah
2. Upaya Kesehatan Olah raga.
3. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat
4. Upaya Perawatan Kerja
5. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut
6. Upaya Ksehatan Jiwa
6

7. Upaya Kesehatan Mata


8. Upaya Kesehatan Usia Lanjut
9. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional

Evaluasi Program Kesehatan dengan Pendekatan Sistem


- Sistem Kesehatan
Suatu sistem disebut sebagai suatu wujud (entity), apabila bagian-bagian atau elemen-elemen
yang terhimpun dalam sistem tersebut membentuk suatu wujud yang ciri-cirinya dapat
didiskripsikan dengan jelas. Tergantung dari sifat bagian-bagian atau elemen-elemen yang
membentuk sistem, maka sistem sebagai suatu wujud dapat dibedakan atas dua macam:7
a. Sistem sebagai suatu wujud yang konkrit
Pada bentuk ini, sifat dari bagian-bagian atau elemen-elemen yang membentuk
sistem adalah konrit dalam arti dapat ditangkap oleh panca indera. Contohnya adalah
suatu mesin yang bagian-bagian atau elemen-elemennya adalah berbagai unsur suku
cadangan.
b. Sistem sebagai suatu wujud yang abstrak
Pada bentuk ini, sifat dari bagian-bagian atau elemen-elemen yang membentuk
sistem adalah abstrak dalam arti tidak dapat ditangkap oleh panca indera. Contohnya
adalah sistem kebudayaan yang bagian-bagian atau elemen-elemennya adalah berbagai
unsur budaya.
- Unsur-Unsur Sistem
1. Masukan (input)
Masukan merupakan suatu struktur yang berupa sumber daya manusia (man), dana
(money), sarana fisik perlengkapan dan peralatan (material), organisasi dan manajemen
(method).4,6
2. Proses
Proses meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pencatatan, dan pelaporan,
serta pengawasan.4,6
a. Perencanaan5

Perencanaan merupakan proses penyusunan rencana tahunan Puskesmas untuk


mengatasi masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas. Perencana akan memberikan pola
pandang secara menyeluruh terhadap semua pekerjaan yang akan dijalankan, siapa yang akan
melakukan dan kapan akan dilakukan. Perencanaan meliputi kegiatan program dan kegiatan rutin
puskesmas yang berdasarkan visi dan misi puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan
primer dimana visi dan misi digunakan sebagai acuan dalam melakukan setiap kegiatan pokok
puskesmas.
Budgeting dalam perencanaan menejemen keuangan dikelola sendiri oleh
puskesmas sesuai tatacara pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan, adapun sumber biaya
didapatkan dari pemerintah daerah, retribusi puskesmas, swasta atau lembaga sosial masyarakat
dan pemerintah adapun pembiayaan tersebut ditujukan untuk jemis pembiayaan layanan
kesehatan yang mempunyai cirri-ciri barang atau jasa publik seperti penyuluhan kesehatan,
perbaikan gizi, P2M dan pelayanan kesehatan yang mempunyai ciri-ciri barang atau jasa swasta
seperti pengobatan individu.
b. Pengorganisasian
Dinas Kesehatan Kota mempunyai tugas untuk menenetukan menetapkan struktur
organisasi puskesmas dengan pertimbangan sebagai fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat
tingkat I. Pola organisasi meliputi kepala, wakil kepala, unit tata usaha, unit fungsional agar tidak
terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan kegiatan yang nantinya akan berpengaruh terhadap
kualitas program yang ditangani.5
Susunan organisasi Puskesmas terdiri dari:2
Unsur pimpinan
: Kepala Puskesmas
Unsur pembantu pimpinan : Urusan Tata Usaha
c. Unsur Pelaksana
(1) Unit yang terdiri dari tenaga/pegawai dalam jabatan fungsional
(2) Jumlah unit tergantung kepada kegiatan, tenaga dan fasilitas daerah masing
masing.
(3) Unit-unit terdiri dari: Unit I, Unit II, Unit III, Unit IV, Unit V, Unit VI, Unit VII

Kepala Puskesmas, mempunyai tugas memimpin, mengawasi dan mengkoordinasi


kegiatan Puskesmas yang dapat dilakukan dalam jabatan struktural dan jabatan fungsional.
Kepala Urusan Tata Usaha, mempunyai tugas di bidang kepegawaian. keuangan,
perlengkapan dan surat menyurat serta pencatatan dan pelaporan.
- Unit I: mempunyai.tugas melaksanakan kegiatan kesejahteraan ibu dan anak, keiuarga
berencana dan perbaikan gizi.
- Unit II: mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit,
khususnya imunisasi, kesehatan lingkungan dan laboratorium sederhana.
- Unit III: mempunyai tugas melaksanakan kegiatan kesehatan gigi dan mulut, kesehatan
tenaga kerja dan manula.
- Unit IV: mempunyai tugas melaksanakan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat.
kesehatan sekolah dan olah raga, kesehatan jiwa, kesehatan mata dan kesehatan khusus
lainnya.
- Unit V: mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pembinaan dan pengembangan upaya
kesehatan masyarakat dan penyuluhan kesehatan masyarakat.
- Unit VI: mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengobatan rawat jalan dan rawat inap.
- Unit VII: mempunyai tugas melaksanakan kefarmasian.

d. Pengawasan
Pengawasan (controlling) dalam manajemen puskesmas merupakan fungsi terakhir yang
berkait erat dengan fungsi manajemen yang lainnya. Melalui fungsi pengawasan dan
pengendalian, standard keberhasilan selalu dibandingkan dengan hasil yang telah dicapai atau
yang mampu dikerjakan. Jika ada kesenjangan atau penyimpangan diupayakan agar
penyimpangannya dapat dideteksi secara dini, dicegah, dikendali atau dikurangi. Kegiatan fungsi
pengawasan dan pengendalian bertujuan agar efisiensi penggunaan sumber daya dapat lebih
berkembang, dan efektifitas tugas-tugas staf untuk mencapai tujuan program dapat lebih
terjamin.6
9

Tiga langkah penting untuk melakukan pengawasan:


Mengukur hasil/prestasi yang telah dicapai
Membandingkan hasil yang dicapai dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya
Memperbaiki penyimpangan yang dijumpai berdasarkan faktor-faktor penyebab terjadinya
penyimpangan. Bila diperkirakan terjadi penyimpangan, pimpinan perlu berusaha lebih
dulu untuk mencari faktor penyebabnya, kemudian menetapkan langkah-langkah untuk
mengatasinya.
3. Keluaran
Keluaran adalah hasil akhir dari kegiatan dan tindakan tenaga kesehatan profesional
terhadap pasien atau terhadap suatu program yang dilaksanakan.4
4. Sasaran
Sasaran merupakan golongan yang menjadi tumpuan terhadap pelaksanaan suatu
program yang direncanakan. Sasaran dapat berupa perorangan, keluarga, kelompok dan
masyarakat.4
5. Dampak
Hasil dari pelaksanaan yang dijadikan indikator apakah kebutuhan dan tuntutan
kelompok sasaran terpenuhi atau tidak. Dampak merupakan indikator yang sulit untuk dinilai.4
6. Umpan balik
Umpan balik merupakan merupakan hasil dari keluran yang menjadi masukan dari suatu
sistem.4
7. Lingkungan
Lingkungan fisik (faktor kesulitan geografis, iklim, transport, dan lain-lain) dan non fisik
(sosial budaya, tingkat pendapatan ekonomi masyarakat, pendidikan masyarakat, dan lain-lain).4

Gambar 1.1 Enam Unsur Sistem yang Saling Mempengaruhi4


10

Menentukan Prioritas dalam Program Kerja Puskesmas


a. Pendekatan sistem
Dibentuknya suatu sistem pada dasarnya untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang telah
ditetapkan. Untuk terbentuknya sistem tersebut perlu dirangkai berbagai unsur atau elemen
sedemikian rupa sehingga secara keseluruhan membentuk suatu kesatuan dan secara bersamasama berfungsi untuk mencapai tujuan kesatuan. Apabila prinsip pokok atau cara kerja sistem ini
diterapkan pada waktu menyelenggarakan pekerjaan administrasi, maka prinsip pokok atau cara
kerja ini dikenal dengan nama pendekatan sistem (system approach).6
Pendekatan sistem adalah penerapan suatu prosedur yang logis dan rasional dalam
merencanakan suatu rangkaian komponen-komponen yang berhubungan sehingga dapat
berfungsi sebagai satu kesatuan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dari batasan tentang
pendekatan sistem ini, dengan mudah dipahami bahwa prinsip pokok pendekatan sistem dalam
pekerjaan administrasi dapat dimanfaatkan untuk dua tujuan. Pertama, untuk membentuk sesuatu
sebagai hasil dari pekerjaan administrasi. Kedua, untuk menguraikan sesuatu yang telah ada
dalam administrasi. Untuk tujuan yang terakhir ini, biasanya dikaitkan dengan kehendak untuk
menemukan masalah yang dihadapi, untuk kemudian diupayakan mencari jalan keluarnya yang
sesuai. Jika pendekatan sistem dapat dilaksanakan, akan diperoleh beberapa keuntungan, antara
lain:6
1. Jenis dan jumlah masukan dapat diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan, dengan
demikian penghamburan sumber, tata cara dan kesanggupan yang sifatnya selalu terbatas,
akan dapat dihindari.
2. Proses yang dilaksanakan dapat diarahkan untuk mencapai keluaran sehingga dapat
dihindari pelaksanaan kegiatan yang tidak diperlukan.
3. Keluaran yang dilaksanakan dapat lebih optimal serta dapat diukur secara lebih tepat dan
objektif.
4. Umpan balik dapat diperoleh pada setiap tahap pelaksanaan program.
Sekalipun pendekatan sistem dapat menjamin lengkapnya suatu saran pemecahan yang
diajukan, bukan berarti pendekatan sistem tidak memiliki kelemahan. Salah satu kelemahan yang
dipandang penting ialah dapat terjebak ke dalam perhitungan yang terlalu rinci, sehingga
menyulitkan pengambilan keputusan dan dengan demikian masalah yang dihadapi tidak akan
11

dapat diselesaikan.6
b. Evaluasi Program
Definisi evaluasi menurut The American Public Association adalah suatu proses untuk
menentukan nilai atau jumlah keberhasilan dari pelaksanaan suatu program dalam mencapai
tujuan yang telah ditetapkan, sedangkan menurut The Internacional Clearing House on
Adolescent Fertility Control for Population Options, evaluasi adalah suatu proses yang
teratur dan sistematis dalam membandingkan hasil yang dicapai dengan tolak ukur atau
kriteria yang telah ditetapkan, dilanjutkan dengan pengambilan kesimpulan serta penyusunan
saran-saran, yang dapat dilakukan pada setiap tahap dari pelaksanaan program.7
Berdasarkan tujuannya, evaluasi dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:7
Evaluasi formatif
Ini merupakan jenis evaluasi yang dilakukan pada tahap awal program. Tujuan dari
evaluasi formatif adalah untuk meyakinkan bahwa rencana yang akan disusun benarbenar telah sesuai dengan masalah yang ditemukan, sehingga nantinya dapat
menyelesaikan masalah tersebut.
Evaluasi promotif
Ini merupakan jenis evaluasi yang dilakukan pada saat program sedang dilaksanakan.
Tujuan dari evaluasi promotif adalah untuk mengukur apakah program yang sedang
dilaksanakan tersebut telah sesuai dengan rencana atau tidak dan apakah terjadi
penyimpangan yang dapat merugikan tujuan program.
Evaluasi sumatif
Ini merupakan jenis evaluasi yang dilaksanakan pada saat program telah selesai.
Tujuannya adalah untuk mengukur keluaran (output) atau dampak (impact) bila
memungkinkan. Jenis evaluasi ini yang dilakukan dalam makalah ini.
c. Jenis Penilaian
Sesuai dengan pengertian bahwa penilaian dapat ditemukan pada setiap tahap
pelaksanaan program, maka penilaian secara umum dapat dibedakan atas tiga jenis yakni: 4,6,8
1. Penilaian pada tahap awal program

12

Penilaian yang dilakukan di sini adalah pada saat merencanakan suatu program
(formative evaluation). Tujuan utamanya adalah untuk menyakinkan bahwa rencana yang
akan disusun benar-benar telah sesuai dengan masalah yang ditemukan, dalam arti dapat
menyelesaikan masalah tersebut. Penilaian yang dimaksud mengukur kesesuaian program
dengan masalah dan atau kebutuhan masyarakat ini sering disebut pula dengan studi
penjajakan kebutuhan (need assessment study).
2. Penilaian pada tahap pelaksanaan program
Penilaian yang dilakukan disini adalah pada saat program sedang dilaksanakan
(promotive evaluation). Tujuan utamanya adalah untuk mengukur apakah program yang
sedang dilaksanakan tersebut telah sesuai dengan rencana atau tidak, apakah terjadi
penyimpangan-penyimpangan yang dapat merugikan pencapaian tujuan dari program
tersebut. Pada umumnya ada dua bentuk penilaian pada tahap pelaksanaan program ini
ialah pemantauan (monitoring) dan penilaian berkala (periodic evaluation).
3. Penilaian pada tahap akhir program
Penilaian yang dilakukan di sini ialah pada saat program telah selesai dilaksanakan
(summative evaluation). Tujuan utamanya secara umum dapat dibedakan atas dua macam
yakni untuk mengukur keluaran (output) serta untuk mengukur dampak (impact) yang
dihasilkan. Dari kedua macam penilaian akhir ini, diketahui bahwa penilalan keluaran
lebih mudah dari pada penilaian dampak, karena pada penilaian dampak diperlukan
waktu yang lama.

d. Masalah6,8
Yang dimaksud dengan masalah adalah terdapatnya kesenjangan antara harapan dengan
kenyataan. Dalam usaha mencapai visi puskesmas terdapat beberapa masalah yang dihadapi
sehingga menyebabkan program yang diselenggrakan tidak mencapai target yang ditetapkan.
Langkah awal yang harus dilakukan adalah menetapkan prioritas masalah. Kita bias
menggunakan teknik non scoring / scoring.
Teknik non scoring meliputi brain storming, Delphi technique, dan delbeq technique.
Sedangkan teknik scoring kita lakukan dengan kajian data yang diperoleh dari laporan bulanan
puskesmas. Dalam pemilihan prioritas (scoring) kita dapat melakukannya dengan menggunakan
teknik kriteria matrik. Misalnya pada kasus ditemukan cakupan imuniasi campak, KB, ANC, dan
DHF yang belum memadai. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor antaranya akibat
13

manajemen yang tidak efektif atau pelaksanaan program yang tidak efisien. Namun pada tahun
ini dr Tr hanya memprioritaskan 2 masalah saja.
Makin penting (importancy) masalah tersebut, makin diprioritaskan penyelesaiannya.
Ukuran pentingnya masalah banyak macamnya. Beberapa diantaranya yang terpenting adalah :9
-

Besarnya masalah (prevalence)


Akibat yang ditinbulakan oleh masalah (severity)
Kenaikan besarnya masalah (rate of increase)
Derajat keinginan masyarakat yang tidak terpenuhi (degree of unmeet need)
Keuntungan sosial karena selesainya masalah (social benefit)
Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah (public concern)
Suasana politik (political climate)

e. Analisis Penyebab Masalah


Semua jenis hambatan atau penyebab timbulnya masalah dalam sesuatu program dapat
dirumuskan pada saat melakukan analisis situasi (sistem) yang lebih difokuskan pada sumber
daya dan proses (input dan proses).1
f. Problem Solving Cycle6,8
1. Input:
-

Man: jumlah staf kurang, ketrampilan, pengetahuan, dan motivasi kerjaya yang rendah.

Tingkat partisipasi masyarakat juga rendah.


Money: jumlah dana untuk pengembangan program sangat terbatas dan turunnya dana

terlambat serta sering dipotong di Dinkes tingkat II.


Material: jumlah peralatan medis yang kurang memadai dan jenis obat yang tersedia
tidak sesuai dengan masalah kesehatan yang potensial berkembang di wilayah kerja

Puskesmas. Harga peralatan yang mahal.


Method: perlaksanaan program yang kurang efektif dan efisien. Waktu yang dimiliki
oleh staf tidak cukup untuk menyusun rencana atau untuk mengadakan supervisi.
Informasi juga dapat menjadi hambatan program karena datanya yang tersedia kurang
dapat dipercaya, kurang akurat, pemanfaatan data jarang dilakukan untuk perencanaan
kegiatan program sehingga staf terperangkap pada rutinisme, dan laporannya belum
dibuat.
2. Proses: masalah ini dapat dikaitkan dengan fungsi manajemen (POAC)

14

Planning: kurang jelasnya tujuan atau rumusan masalah program sehingga rencana kerja

operasional tidak relevans dengan upaya pemecahan masalah


Organizing: pembagian tugas untuk staf tidak jelas bahkan sering tidak ada. Staf yang

ada jumlahnya belom memadai.


Actuating: koordinasi dan motivasi staf kurang atau kepimpinan kepala Puskesmas tidak
disenangi staf. Pengumpulan data yang kurang baik, masih lemahanya sistem pencatatan

dan koordinasi antar program.


Controlling: pengawasan (supervise) lemah dan jarang dilakukan serta pencatatan data
untuk monitoring program kurang akurat dan jarang dimanfaatkan.
3. Lingkungan

Misalnya hambatan geografis (jalan rusak)


Sarana transportasi yang kurang memadai
Iklim atau musim yang kurang menguntungkan
Masalah tingkat pendidikan yang rendah
Sikap dan budaya masyarakat yang tidak kondusif (tabu, salah persepsi, mitos)
4. Output: cakupan imunisasi dasar, ANC, dan KB
5. Sasaran: bayi, balita, ibu, ibu hamil, pasangan menikah
6. Dampak: Cakupan berbagai program belum mencapai hasil

Peranan Dokter
FIVE STAR DOCTOR, menurut dr. Charles Boelen WHO, Swedia:9
1. Care Provider Mampu menyediakan perawatan
Selain memberikan perawatan individu five stars doctor harus memperhitungkan total
(fisik, mental, sosial) kebutuhan pasien. Mereka harus memastikan bahwa berbagai
pengobatan-kuratif, preventif, rehabilitatif- akan dibagikan denga cara yang saling
melengkapi, terintegritas, dan berkesinambungan. Dan mereka harus memastikan bahwa
pengobatan adalah kualitas tertinggi.
2. Decision Maker Mampu menjadi penentu keputusan
Dalam transparasi five star doctor akan mengambil keputusan yang dapat dibenarkan
dalam hal efikasi dan biaya. Dari semua cara yang mungkin untuk mengobati kondisi
kesehatan yang diberikan, salah satu yang tampaknya paling sesuai dalam situasi tertentu
harus dipilih. Sebagai pengeluaran regards, sumber daya terbatas yang tersedia untuk
kesehatan harus dibagi secara adil untuk kepentingan setiap individu dalam masyarakat.
3. Communicator Mampu menjadi komunikator yang baik
15

Lifestyle aspek seperti diet seimbang, langkah-langkah keselamatan di tempat kerja, jenis
kegiatan rekreasi, menghormati lingkungan dan sebagainya semua memiliki pengaruh
yang menentukan kesehatan. Keterlibatan individu dalam melindungi dan memulihkan
kesehatannya itu sendiri, sangat penting karena paparan resiko kesehatan sangat
ditentukan oleh perilaku seseorang. Para dokter juga harus seorang komunikator yang
sangat baik dalam rangka membujuk pasien, keluarga dan masyarakat yang merupakan
tanggung jawab dokter untuk mengadopsi gaya hidup sehat dan menjadi mitra dalam
upaya kesehatan.
4. Community Leader Mampu menjadi pemimpin dalam komunitas atau masyarakat
Kebutuhan dan masalah seluruh masyarakat tidak boleh dilupakan. Dengan memahami
faktor-faktor penentu kesehatan yang melekat dalam lingkungan fisik dan sosial dan
dengan menghargai luasnya setiap masalah atau resiko kesehatan, five stars doctor
tidak akan hanya mengobati individu yang mencari bantuan tetapi juga akan mengambil
bunga positif dalam kegiatan kesehatan masyarakat yang akan bermanfaat bagi sejumlah
besar orang.
5. Manager Mampu dan bisa memiliki skill manajerial yang baik untuk menjalankan
fungsi-fungsi diatas
Untuk melaksanakan semua fungsi, maka penting untuk five stars doctor untuk
memperoleh keterampilan manajerial. Ini akan memungkinkan mereka untuk memulai
pertukaran informasi dalam rangka membuat keputusan yang lebih baik, dan untuk
bekerja dalam tim multidisiplin yang erat hubungannya dengan mitra lain untuk
kesehatan dan pembangunan sosial, apakah ditakdirkan untuk individu atau untuk
masyarakat.

Kesimpulan
Puskesmas merupakan suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang merupakan
pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat disamping
memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam
bentuk kegiatan pokok. Di puskesmas, terdapat 6 upaya kesehatan wajib dan 9 upaya kesehatan
pengembangan yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing puskesmas. Terdapat 6
unsur dalam sistem kesehatan yaitu masukan (input), proses, keluaran, sasaran, dampak, umpan
balik (feedback) dan lingkungan. Untuk mengatasi masalah di dalam puskesmas kita perlu
memilih prioritas masalah terlebih dahulu, kemudian menganalisanya, menentukan kesenjangan
yang terjadi dan mencari solusi yang tepat sehingga masalah dapat terselesaikan. Sebagai
16

seorang dokter, terdapat 5 peran yang harus dimiliki yaitu sebagai community leader, manager,
community leader, decision maker dan care provider.

Daftar Pustaka
1. Azwar A. Pengantar Administrasi Kesehatan. Edisi ketiga. Jakarta: PT Binarupa Aksara
Prawiro; 1996. h. 1-6; 17-28; 181-241; 251; 287-321; 329-33.
2. Departemen Kesehatan RI. Pedoman kerja puskesmas. Jilid 1. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia;1998.
3. Isyar SA, et all. Manajemen Puskesmas. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Riau;
2009.
4. Depkes. Kebijakan Dasar Puskesmas. Dalam Kepmenkes no 128 tahun 2004.Departemen
Kesehatan

Republik

Indonesia.

Jakarta.

2010.

Diunduh

dari

https://alfredsaleh.files.wordpress.com/2007/06/kebj-dasar-pusk-280507.pdf, 15 Juli 2016.


5. Chandra B. Ilmu kedokteran pencegahan dan komunitas. Dalam manajemen dan pelaksanaan
kesehatan di Indonesia. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta. 2006. H.230 235.
6. Indarwati R. Puskesmas. Universitas Airlangga.Surabaya. 2008. Diunduh

dari

http://ners.unair.ac.id/materikuliah/PUSKESMAS.pdf, 14 Juli 2016.


7. Departemen Kesehatan RI. Kepmenkes RI No. 1216/ MENKES/ SK/ XI/ 2001 Tentang
Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Edisi ke-4, Jakarta: Depkes RI;2005.
8. Boelen C. The Five Star Doctor :An asset to health care reform?. World Health Organization.
Switzerland. Diunduh dari www.who.int/entity/hrh/en/HRDJ_1_1_02.pdf, 14 Juli 2016.
9. Ali A. Program Pelayanan Kesehatan di Puskesmas. Dinas Kesehatan Kabupaten Polewali
Mandar.Sulawesi Barat. 2012. Diuduh dari http://dinkes.polewalimandarkab.go.id/programpelayanan-kesehatan-di-puskesmas/, 15 Juli 2016.

17