Anda di halaman 1dari 13

Problem Based Learning Blok 24 : Hematologi & Onkologi

Karsinoma Mammae Sinistra


Novita Sari (102013269)
Pamela Vasikha (102013407)
Emmanuel Taguh Anak Lala (102013504)
Mahasis Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara, No. 6, Jakarta Barat 11570, Indonesia

Skenario 12
Seorang perempuan berusia 55 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan terdapat benjolan pada
payudara kirinya yang semakin membesar sejak 1 tahun yang lalu.

Pendahuluan
Payudara pada wanita dewasa merupakan suatu kelenjar penghasil susu yang terletak di
bagian depan dinding toraks. Kelenjar ini berada di atas otot pectoralis mayor dan didukung dan
melekat pada bagian depan dinding dada di kedua sisi sternum oleh ligamen. 1 Setiap payudara
berisi 15-20 lobus yang tersusun dalam bentuk sirkuler.1 Lemak yang menutupi lobus tersebut
memberikan payudara ukuran dan bentuk. Setiap lobus terdiri dari banyak lobulus, bagian akhir
dari yang kelenjar yang menghasilkan susu dalam yang berespon terhadap hormone.1

Gambar 1: Anatomi Payudara


(Sumber: http://img.medscapestatic.com/pi/meds/ckb/31/36231.jpg)

Anamnesis dan Pemeriksaan fisik


Anamnesis yang yang dapat dilakukan pada pasien adalah tentang temuan pasien pada
payudaranya sendiri seperti massa atau benjolan, nyeri, ketidaknyamanan dan juga keluarnya
cairan atau darah dari puting.2 Perjalanan penyakit harus ditanya misalnya sejak bila benjolan itu
dirasai dan ukurannya semakin membesar atau tidak. Kelainan sistemik dan bagian tubuh lain
juga ditanya misalnya pembesarkan kelenjar getah bening aksila dan supraklavikula dan riwayat
kelainan payudara dalam keluarga yang menjadi salah satu faktor resiko pada pasien. 3Jika pasien
tidak melihat benjolan, maka tanda-tanda dan gejala yang menunjukkan kemungkinan adanya
kanker payudara mungkin termasuk (1) perubahan ukuran atau bentuk payudara, (2) perubahan
pada kulit misalnya, penebalan, bengkak, atau kemerahan, (3) inversi atau retraksi puting atau
kelainan puting lainnya seperti ulserasi, atau perdarahan spontan, dan (4) benjolan di ketiak.1,3
Untuk mendeteksi perubahan halus perhatikan kontur payudara dan penarikan kulit.
Pemeriksaan harus mencakup penilaian terhadap payudara dengan pasien tegak dan tangan
terangkat.2 Antara hal yang harus diperhatikan adalah pembuluh darah melebar, ulkus, edema
atau peau d'orange.2 Sifat benjolan yang teraba seringkali sulit untuk menentukan secara klinis,
tetapi tanda-tanda benjolan yang mungkin keganasan adalah benjolan yang keras, ireguler, fokal,
asimetri dengan payudara lainnya, dan terfiksasi pada kulit atau otot.1

Pemeriksaan Penunjang
Sejumlah modalitas skrining ada untuk kanker payudara antaranya adalah mamografi,
USG, dan MRI.Pemeriksaan penunjang yang lebih sensitif adalah biopsi jaringan
payudara.Mamografi menggunakan modalitas berbasis x-ray dengan dosis rendah yang
digunakan untuk menggambar payudara.1 Saat ini metode ini antara yang terbaik untuk
mendeteksi kanker payudara pada tahap awal.Mamografi digunakan baik untuk skrining untuk
mendeteksi kanker dan untuk pemeriksaan diagnostik pasien setelah tumor terdeteksi. 1 Skrining
mamografi dilakukan pada wanita tanpa gejala, sedangkan mamografi diagnostik dilakukan pada
wanita dengan gejala (yaitu, ketika ada benjolan payudara atau nipple discharge atau ketika
suatu kelainan yang ditemukan selama skrining mamografi.1,3
Mamografi sensitif terhadap mikrokalsifikasi yang berkembang pada tumor payudara
dengan sensitivitas kurang dari 100 m.1 Mamografi seringkali mendeteksi lesi sebelum teraba
dengan pemeriksaan payudara klinis.Mamografi diagnostik lebih mahal dari skrining mamografi
karena ianya digunakan untuk menentukan ukuran lesi yang tepat, lokasi kelainan pada payudara
dan gambar jaringan serta kelenjar getah bening di sekitarnya. 1 Ductogram (atau galactogram)
kadang-kadang membantu untuk menentukan penyebab nipple discharge. Dalam pemeriksaan
ini, sebuah tabung plastik halus ditempatkan ke dalam pembukaan duktus di putting dan
disuntikkan kontras yang akan melaluiduktus pada mammogram dan menunjukkan apakah massa
hadir dalam duktus.1
Ultrasonografi (USG)juga telah digunakan secara luas dan berguna sebagai tambahan
kepada mamografi dalam menentukan diagnosa klinis.USG umumnya digunakan untuk
memeriksa lesi yang mencurigakan yang terdeteksi pada mamografi atau pemeriksaan
fisik.3Namun, USG dibatasi oleh sejumlah faktor, terutama kegagalan untuk mendeteksi

mikrokalsifikasi dan spesifisitas yang buruk (34%).1Awalnya, ultrasonografi digunakan terutama


sebagai metode yang relatif murah dan efektif membedakan massa payudara kistik dari massa
payudara padat.3 Selain itu, ia memberikan informasi berharga tentang sifat dan tingkat
kepadatan massa dan lesi payudara lainnya yang berguna untuk staging atau penyebaran ke
kelenjar getah bening.3 Teknik pencitraan ini juga berguna dalam biopsi dan prosedur terapi.
Untuk mengatasi keterbatasan mamografi dan ultrasonografi, magnetic resonance
imaging (MRI) telah dieksplorasi sebagai modalitas untuk mendeteksi kanker payudara pada
wanita berisiko tinggi dan pada wanita yang lebih muda. 1MRI memiliki sensitivitas 86-100%
jika dikombinasi dengan mamografi dan pemeriksaan payudara klinis dalam mendeteksi
perubahan ganas pada payudara.1MRI memerlukan biaya tinggi dan alatnya masih terbatas serta
kesulitan menafsirkan hasil dengan tingkat positif palsu yang tinggi.1Penggunaan modalitas ini
dipertimbangkan dengan cermat sebelum dianjurkan pada pasien. Selalunya MRI ini
diindikasikan jika sudah terjadi kanker yang invasif untuk mendeteksi metastasis dan
perkembangan penyakit serta evaluasi pengobatan.1
Percutaneous vacuum-assisted large-gauge core-needle biopsy (VACNB) dengan
panduan alat misalnya USG adalah pendekatan diagnostik yang direkomendasikan untuk tumor
payudara yang baru didiagnosis.1Biopsi dapat meminimalkan kebutuhan untuk intervensi operasi
dan memberikan diagnosis patologis yang akurat untuk manajemen yang tepat. 1 Biopsi eksisi
pula digunakan sebagai pendekatan operatif awal dan direkomendasikan untuk lesi di mana
diagnosis tetap samar-samar walaupun sudah dilakukan pencitraan dan biopsi biasa dengan
jarum.1

Diagnosis Kerja
1. Karsinoma Mammae Sinistra
Di seluruh dunia, kanker payudara adalah kanker yang mengancam jiwa yang paling
sering didiagnosis pada wanita.Di negara-negara berkembang, ianya merupakan penyebab utama
kematian akibat kanker pada wanita.1,3 Banyak karsinoma payudara dini tidak menunjukkan
gejala; rasa sakit atau ketidaknyamanan. Kanker payudara sering pertama kali terdeteksi dengan
mammogram sebagai suatu kelainan tanpa diketahui oleh pasien atau tanpa tanda-tanda pada
payudara sebelumnya.1Peningkatan kesadaran masyarakat dan kemajuan teknik skrining banyak
membantu dalam membuat diagnosis awal, Perbaikan dalam terapi dan skrining telah
menyebabkan kualitas hidup ditingkatkan untuk wanita yang di diagnosa menderita kanker
payudara.3

1.

Tipe-tipe Kankar
Payudara
Ductal carcinoma in situ
(DCIS)

Ciri-ciri
Pada karsinoma duktal in situ (DCIS) sel-sel di dalam
beberapa duktus payudara sudah mulai berubah menjadi sel
kanker. Sel-sel ini terbatas di dalam saluran dan belum
mulai menyebar ke jaringan payudara di sekitarnya. Jadi,
ada sangat sedikit kesempatan salah satu sel telah
menyebar ke kelenjar getah bening atau di tempat lain
dalam tubuh.

2.

3.

4.

5.

DCIS menggambarkan bentuk awal dari kanker payudara.


Jika tidak diobati, DCIS mulai menyebar ke jaringan
payudara di sekitarnya setelah beberapa tahun. Sehingga
dapat menjadi kanker invasif. DCIS dan kanker payudara
invasif adalah bukan hal yang sama. Pada kanker payudara
invasif, sel-sel sudah pecah dari saluran-saluran dan
menyebar ke jaringan payudara di sekitarnya. Maka ada
kemungkinan bahwa sel-sel menyebar ke kelenjar getah
bening terdekat atau bagian lain dari tubuh.
Lobular carcinoma in situ
Pada karsinoma lobular in situ (LCIS), sel-sel di dalam
(LDIS)
beberapa lobulus payudara sudah mulai menjadi abnormal.
Ini bukan kanker dan sering disebut sebagai neoplasia
lobular. Sel-sel tersebutterbatas di dalam lapisan dalam
lobulus payudara dan sering ditemukan di kedua payudara.
Penderita LCIS mempunyai resiko tinggi untuk
berkembang menjadi kanker payudara invasif. LCIS tidak
muncul di X-ray payudara (mammogram) dan biasanya
tidak menimbulkan gejala. Hal ini sering didiagnosis secara
kebetulan ketika biopsi payudara untuk sesuatu kelainan
yang lain.
Invasive breast cancer
Kanker payudara invasif (NST) adalah jenis yang paling
umum dari kanker payudara. NST adalah singkatan no
special type. Sekitar 90 dari setiap 100 kanker payudara
didiagnosis (90%) tidak memiliki fitur-fitur khusus dan
digolongkan sebagai NST. Dulu ia disebut karsinoma
ductal karena kanker ini dimulai pada sel-sel yang melapisi
payudara.
Invasive lobular breast
Sekitar 1 dari 10 kanker payudara yang didiagnosis (10 %)
cancer
adalah karsinoma payudara lobular invasif. Ini berarti
bahwa kanker dimulai dalam sel-sel yang melapisi lobulus
payudara dan telah menyebar ke jaringan payudara di
sekitarnya. kanker lobular invasif dapat berkembang pada
wanita dari segala usia. Tetapi yang paling umum pada
wanita berusia antara 45 dan 55 tahun.
Inflammatory breast cancer Ini adalah tipe yang jarang dari kanker payudara. Antara 1
dan 4 dari setiap 100 kanker payudara didiagnosis (1
sampai 4%) adalah tipe ini. Hal ini disebut inflamasi
karena jaringan payudara menjadi meradang sehingga selsel kanker memblokir saluran getah bening terkecil di
payudara.
Tabel 1: Tipe-tipe Umum Karsinoma Payudara1,4

Gambar 1: Karsinoma Payudara Duktus In Situ Dan Lobulus In Situ4

Diagnosis Banding
1. Mastitis
Peradangan biasanya menimbulkan nyeri spontan dan nyeri tekan di bagian yang
terkena. Contoh peradangan payudara adalah mastitis. Peradangan tersebut dapat terjadi
akibat proses infeksi maupun bukan infeksi. Mastitis merupakan kondisi radang akut
yang nyeri, biasanya terjadi pada minggu-minggu pertama setelah persalinan (menyusui).
Tempat masuk kuman biasanya lewat luka pada papilla, menyebabkan peradangan
supuratif menyebar dari ductus jaringan fibroadiposa di sekitarnya dan cenderung
terbatas pada satu segmen payudara meinimbulkan pembengkakan setempat dan eritema.5
Gambaran sitologi sel radang umumnya terdiri atas leukosit PMN, banyak sel
histiosit bercampur fibrin dan debris seluler. Khususnya fagositosis sel limfosit dan sel
plasma sering ditemukan di dalam sediaan hapus, reaksi fibroblast ditemukan dalam
bentuk lembaran dengan infiltrasi sel radang dan sel epitel ductus menunjukkan aktivitas
dengan memperlihatkan inti-inti yang membesar dan hiperkromatik, ukuran bervariasi
dan mengandung nucleoli nyata.5
Gejala dari terjadinya mastitis adalah:
-

Demam dengan suhu lebih dari 38,5c

Mengigil

Nyeri dan ngilu seluruh tubuh

Payudara menjadi kemerahan, tegang, panas, bengkak, terasa sangat nyeri

Timbul garis-garis merah ke arah ketiak. 6

Etiologi
Sampai saat ini, penyebab kanker payudara belum diketahui secara pasti. Penyebab
kanker payudara termauk multifaktoral, yaitu banyak factor yang terkait satu dengan yang lain.
Beberapa factor yang diperkirakan mempunyai pengaruh besar dalam terjadinya kanker payudara
adalah riwayat keluarga, hormonal, dan factor lain yang bersifat eksogen. 7
Bahan-bahan yang termasuk dalam kelompok karsinogen, yaitu:
-

Senyawa kimia: seperti aflatoxin B1, ethionine, saccharin, asbestos, nikel, chrom,
arsen, tarr, asap rokok, dan oral kontrasepsi.
Faktor fisik: seperti radiasi matahari, sinar-x, nuklir, dan radionukleide
Virus: seperti RNA virus (fam. Retrovirus), DNA virus (papilloma virus, adeno virus,
herpes virus), EB virus
Iritasi kronis dan inflamasi kronis: dapat berkembang menjadi kanker
Kelemahan genetic sel-sel pada tubuh: sehingga memudahkan munculnya kanker.7

Epidemiologi
Kanker payudara sering ditemukan di seluruh dunia dengan insidens relative tinggi, yaitu
20% dari seluruh keganasan dan 99% tejadi pada perempuan dan hanya 1% terjadi pada lakilaki. Menurut WHO (2008) dari 600.000 kasus kanker payudara baru yang didiagnosis setiap
tahunnya, sebanyak 350.000 di antaranya ditemukan di negara maju, sedangkan 250.000 di
negara yang berkembang. Di Amerika Serikat, kira-kira 175.000 wanita didiagnosis menderita
kanker payudara yang mewakili 32% dari semua kanker yang menyerang wanita dan proporsi
umur tertinggi yaitu pada kelompok umur > 50 tahun dengan proporsi 65%. Bahkan disebutkan
dari 150.000 penderita kanker payudara yang berobat ke rumah sakit, 44.000 orang diantaranya
meninggal setiap tahunnya. American Cancer Society memperkirakan kanker payudara di
Amerika akan mencapai 2 juta dan 460.000 diantaranya meninggal antara 1990-2000. Sedangkan
di Kanada tahun 2005 jumlah penderita kanker payudara mencapai 21.600 wanita dan 5.300
wanita diantaranya meninggal dunia. Di Malaysia pada tahun 2006, kanker payudara menduduki
urutan pertama dari seluruh kanker yang menyerang wanita dengan proporsi 29,9% dan proporsi
umur tertinggi yaitu pada kelompok umur 50-59 tahun dengan proporsi 33,9%.7,8
Kanker payudara merupakan kanker kedua terbanyak sesudah kanker leher rahim di
Indonesia. Sejak 1988 sampai 1992, keganasan tersering di Indonesia tidak banyak berubah.
Kanker leher rahim dan kanker payudara tetap menduduki tempat teratas. Selain jumlah kasus
yang banyak, lebih dari 70% penderita kanker payudara ditemukan pada stadium lanjut. Data
statistik Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) di Indonesia tahun 2006, menunjukkan bahwa
kanker payudara menempati urutan pertama dari seluruh kanker dengan proporsi 19,64%.7,8

Pada tahun 2001, dari 447 kasus kanker payudara yang berobat di RS Kanker Dharmais
Jakarta, 9.1% diantaranya adalah perempuan berusia kurang dari 30 tahun. Menurut penelitian
Azamris (2006), proporsi umur tertinggi penderita kanker payudara yang berobat di RSUP Dr.
M. Djamil Padang yaitu pada kelompok umur 40-44 tahun dengan proporsi 34.3%.7,8

Manifestasi Klinis
Gejala dan pertumbuhan kanker payudara tidak mudah dideteksi karena awal
pertumbuhan sel kanker payudara tidak dapat diketahui dengan mudah. Gejala umumnya baru
diketahui setelah stadium kanker berkembang agak lanjut, karena pada tahap dini biasanya tidak
menimbulkan keluhan. Penderita merasa sehat, tidak merasa nyeri, dan tidak mengganggu
aktivitas. 8
Gejala-gejala kanker payudara yang tidak disadari dan tidak dirasakan pada stadium dini
menyebabkan banyak penderita yang berobat dalam kondisi kanker stadium lanjut. Hal tersebut
akan mempersulit penyembuhan dan semakin kecil peluang untuk disembuhkan. Bila kanker
payudara dapat diketahui secara dini maka akan lebih mudah dilakukan pengobatan. Tanda yang
mungkin muncul pada stadium dini adalah teraba benjolan kecil di payudara yang tidak terasa
nyeri.8
Gejala yang timbul saat penyakit memasuki stadium lanjut semakin banyak, seperti:
-

Timbul benjolan pada payudara yang dapat diraba dengan tangan, makin lama
benjolan ini semakin mengeras dan bentuknya tidak beraturan
Saat benjolan mulai membesar, barulah menimbulkan rasa sakit (nyeri) saat payudara
ditekan karena terbentuk penebalan pada kulit payudara.
Bentuk, ukuran atau berat salah satu payudara berubah karena terjadi pembengkakan
Pembesaran kelenjar getah bening di ketiak atau timbul benjolan kecil di bawah
ketiak
Bentuk atau arah puting berubah, misalnya puting susu tertarik ke dalam dan yang
tadinya berwarna merah muda dan akhirnya menjadi kecokelatan.
Keluar darah, nanah, atau cairan encer dari putting susu pada wanita yang sedang
tidak hamil. Eksim pada puting susu dan sekitarnya sudah lama tidak sembuh walau
sudah diobati
Luka pada payudara sudah lama tidak sembuh walau sudah diobati
Kulit payudara mengerut seperti kulit jeruk (peau dorange) akibat dari neoplasma
menyekat drainase limfatik sehingga terjadi edema dan pitting kulit.8

Gambar 1.1 Luka pada payudara (gambar kiri); gambaran peau dorange (gambar kanan)8

Gejala kanker payudara pada pria sama seperti kanker payudara yang dialami wanita,
mulanya hanya benjolan. Umumnya benjolan hanya dialami di satu payudara, dan bila diraba
terasa keras dan menggerinjil. Bila stadium kanker sudah lanjut, ada perubahan pada puting dan
daerah hitam di sekitar puting. Kulit putingnya bertambah merah, mengkerut, tertarik ke dalam,
atau puting mengeluarkan cairan.8

Gambar 1.2 Kanker payudara pada pria8

Berbagai aplikasi klinik berdasarkan pembagian stadiumnya menurut Portmann yaitu:8


-

Stadium I = tumor terbatas dalam payudara, bebas dari jaringan sekitarnya, tidak ada
fiksasi / infiltrasi ke kulit dan jaringan yang di bawahnya (otot). Besar tumor 1-2 cm
dan tidak dapat terdeteksi dari luar. Kelenjar getah bening regional belum teraba.
Perawatan yang sangat sistematis diberikan tujuannya adalah agar sel kanker tidak
dapat menyebar dan tidak berlanjut pada stadium selanjutnya. Pada stadium ini,
kemungkinan penyembuhan pada penderita adalah 70%.
Stadium II = tumor terbebas dalam payudara, besar tumor 2.5-5cm, sudah ada satu
atau beberapa kelenjar getah bening aksila yang masih bebas dengan diameter kurang
dari 2cm. Untuk mengangkat sel-sel kanker biasanya dilakukan operasi dan setelah

operasi dilakukan penyinaran untuk memastikan tidak ada lagi sel-sel kanker yang
tertinggal. Pada stadium ini, kemungkinan sembuh penderita adalah 30-40%.
Stadium IIIA = tumor sudah meluas dalam payudara, besar tumor 5-10cm, tapi masih
bebas di jaringan sekitarnya, kelenjar getah bening aksila masih bebas satu sama lain.
Menurut data dari Depkes, 87% kanker payudara ditemukan pada stadium ini.
Stadium IIIB = tumor melekat pada kulit atau dinding dada, kulit merah da nada
edema (lebih dari sepertiga permukaan kulit payudara), ulserasi, kelenjar getah
bening aksilla melekat satu sama lain atau ke jaringan sekitarnya dengan diameter 25cm. Kanker sudah menyebar ke seluruh bagian payudara, bahkan mencapai kulit,
dinding dada, tulang rusuk dan otot dada.
Stadium IV = tumor seperti pada yang lain (stadium I, II, dan III). Tapi sudah disertai
dengan kelenjar getah bening aksila supra-klavikula dan metastasis jauh. Sel-sel
kanker sudah merembet menyerang bagian tubuh lainnya, biasanya tulang, paru-paru,
hati, otak, kulit, kelenjar limfa yang ada di dalam batang leher. Tindakan yang harus
dilakukan adalah pengangkatan payudara. Tujuan pengobatan ini adalah paliatif
bukan lagi kuratif (menyembuhkan).8

Gambar 1.3 Kanker payudara berdasarkan stadium menurut Portmann8

Patofisiologi
Kanker merupakan hasil proses perkembangan yang berbentuk
penyimpangan proses kehidupan sel atau dapat dikatakan telah mengalami
transformasi sel. Sel yang mengalami penyimpangan tersebut tidak
menghambati hambatan dalam proses pembelahannya, bahkan proses
pembelahannya melampaui kewajarannya. Dengan demikian, kanker

disebabkan oleh tidak terkendalinya siklus perkembangan siklus


perkembangan sel. Dari ketidakwajaran ini tampak penampilan jaringan
kanker yang berbeda dari jaringan normal. Jaringan kanker tidak dapat
memperlihatkan ciri ciri sifat sel jaringan normal.9
Kanker menunjukkan kondisi yang berspektrum lebar sebagai akibat
dari kegagalan pengendalian pembelahan sel yang seharusnya secara
normal berlangsung. Sel sel yang mengalami transformasi ganas luput dari
pengendalian pertumbuhan normal yang selanjutnya menyusup ke jaringan
sekitar yang masih normal, dan akhirnya dapat bermigrasi ke tempat
tempat lain di tubuh untuk berkembang menjadi jaringan tumor sekunder.9
Transformasi tersebut merupakan proses bertahap yang melibatkan
kombinasi kerusakan gen yang termasuk dalam kelompok gen yang
berfungsi mengendalikan siklus pembelahan sel, sehingga berdampak pada
gangguan awal siklus pembelahan sel, akhir siklus, dan apoptosis.Kerusakan
gen yang berbentuk mutasi tersebut bekerja bersama sehingga
menyebabkan terjadinya transformasi sel. Gen gen tersebut mencakup
kelompok gen proto-onkogena dan kelompok gen supresi tumor. 9
Perkembangan kanker yang bertahap dapat digolongkan menjadi 2
periode. Periode pertama yang dinamakan sebagai pra-ganas meliputi
perubahan perubahan yang diawali terpaparnya sel sel sasaran oleh
karsinogen dan berakhir dengan munculnya pertumbuhan yang invasif.
Periode kedua ditandai dengan munculnya sel ganas pertama.9

Penatalaksanaan
Tata laksana sangat penting dalam terapi kanker payudara meliputi
tindakan operasi, kemoterapi, radioterapi, terapi hormon, targeting therapy,
terapi rehabilitasi medik, serta terapi paliatif. Terapi ini harus selalu
digunakan secara kombinasi.10,d
Pembedahan
Pembedahan dapat bersifat kuratif maupun paliatif. Indikasi
pembedahan yaitu tumor stage Tis-3, No-2, dan M0. Jenis pembedahan
kuratif yang dapat dilakukan adalah breast conserving treatment (BCT),
mastektomi, radikal klasik, mastektomi radikal dimodifikasi, areola-skinsparing mastectomy, mastektomi radikal extended, mastektomi simple, atau
lumpektomi.10

Bedah paliatif pada kanker payudara jarang dilakukan, akan tetapi


kadang ada yang menghasilkan angka harapan hidup yang lama.10
Radioterapi
Radioterapi kanker payudara dapat digunakan sebagai terapi adjuvan
yang kuratif pada pembedahan BCT, mastektomi simple, mastektomi radikal
dimodifikasi, serta sebagai terapi paliatif. Radioterapi juga dapat diberikan
sebaga terapi paliatif pada pasien paska mastektomi, penyakit rekuren, dan
keadaan metastasis tulang dan otak. Radiasi harus selalu dipertimbangkan
pada karsinoma mamma yang tak mampu-angkat atau jika ada metastasis.10
Radioterapi dapat diberikan dengan dua cara, yaitu: penyinaran dari
luar dan dari dalam. Radiasi dari luar seperti yang lazim dilakukan, luasnya
daerah penyinaran bergantung pada jenis prosedur bedah yang dilakukan
dan ada-tidaknya keterlibatan kelenjar getah bening. Jika prosedur bedah
yang dilakukan adalah lumpektomi, seluruh payudara disinar dan ditambah
dengan ekstra penyinaran pada daerah lesi kanker. Jika terdapat penyebaran
luas kelenjar getah bening, biasanya seluruh payudara dan kelenjar aksila
dan supraklavikula diradiasi. Penyulitnya adalah pembengkakan lengan
karena limfudem akibat rusaknya kelenjar limfe ketiak supraklavikula. Jika
direncanakan untuk dilakukan pascabedah, biasanya radioterapi dilakukan
sebulan kemudian setelah luka operasi menyembuh. Jika kemoterapi
direncanakan diberikan juga, biasanya radioterapi baru dilakukan setelah
kemoterapi selesai.10
Radiasi dari dalam atau disebut juga dengan brakiterapi, adalah
menanam bahan radioaktif di jaringan payudara sekitar lesi. Brakiterapi ini
kadang juga digunakan sebagai penambah radioterapi eksterna.10
Terapi Sistemik
Pada dasarnya terapi sistemik dapat berfungsi sebagai terapi kuratifpaliatif, namun dapat juga sebagai terapi adjuvan, maupun
neoadjuvanpaliatif. Pengobatan sistemik kanker payudara meliputi terapi
hormonal, kemoterapi dengan zat sitotoksin, dan terapi biologi.10
Kemoterapi pra-operasi terutama kemoterapi sistemik, bila perlu
dilakukan kemoterapi intra-arterial, mungkin dapat membuat sebagian
kanker mamae lanjut non-operabel menjadi kanker mamae operabel.d

Terapi Paliatif
Terapi paliatif ialah semua tindakan aktif guna meringankan beban
pasien kanker terutama yang tidak mungkin disembuhkan kankernya.11
Terapi paliatif dapat juga dilakukan pada pasien yang masih
mempunyai harapan untuk sembuh bersama sama dengan tindakan
tindakan atau pengobatan kuratif, dengan maksud untuk meringankan atau
menghilangkan gejala gejala yang mengganggu atau memperberat
penderitaan pasien.11
Pola dasar pemikiran perawatan paliatif, antara lain: meningkatkan
kualitas hidup dan menganggap bahwa kematian adalah proses yang
normal, tidak mempercepat atau menunda kematian, menghilangkan rasa
nyeri dan keluhan lain yang mengganggu, menjaga keseimbangan psikologis
dan spiritual, berusaha agar pasien tetap aktif sampai akhir hayat, dan
berusaha membantu duka cita pada keluarga.11
Dalam terapi paliatif kadang kadang diperlukan tindakan pemberian
radiasi kemoterapi, serta bedah yang tujuannya bukan untuk pengobatan
kuratif melainkan untuk meringankan keluhan pasien. Dalam usaha terapi
paliatif hendaknya dihindari semua pemeriksaan yang berlebihan, terapi
dilakukan seminimal mungkin sehingga tidak akan menambah beban
pasien.11

Pencegahan
Karsinoma payudara dapat dicegah dengan memahami faktor resiko
dan kemudian menghindarinya. Seorang wanita yang memiliki riwayat
keluarga menderita kanker payudara atau ovarium, sebaiknya melakukan
pemeriksaan sendiri (SADARI) sebulan sekali.10

Prognosis
Prognosis pasien keganasan payudara diperkirakan buruk jika usia
emas, menderita kanker payudara bilateral, mengalami mutasi genetik, dan
adanya tripple negative yaitu grade tumor tinggi dan seragam, reseptor ER
dan PR negatif, dan reseptor permukaan sel HER-2 juga negatif. 10

Kesimpulan

Karsinoma mamae merupakan suatu penyakit yang sulit untuk didiagnosis, terutama pada
stadium awal, sehingga menyebabkan pasien karsinoma mamae baru terdiagnosis pada pasien
stadium lanjut, sehingga prognosisnya akan lebih buruk

Daftar Pustaka
1. Website about breast cancer. Retrieved from
http://emedicine.medscape.com/article/1947145-overview. Accessed on 19 April 2016.
2. Bickley LS, Szilagyi PG.Bates guide to physical examination and history taking. 5th ed.
USA. Lippincott Williams & Wilkins Inc; 2007. Pg 143-154.
3. Longo DL. Harrisons hematology and oncology. USA. McGraw-hill companies; 2010.
Pg 459-471.
4. Website about breast cancer. Retrieved from http://www.cancerresearchuk.org/aboutcancer/type/breast-cancer/about/types/. Accessed on 19 April 2016.
5. Sari K. Gambaran patologi anatomi terhadap kelainan kanker payudara. 2012. Diunduh
dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31141/4/Chapter%20II.pdf, 20 April
2016.
6. Alasiry E. Mastitis: pencegahan dan penanganan. 2013. Diunduh dari
http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/mastitis-pencegahan-dan-penanganan, 20 April
2016.
7. Balasubramaniam
B.
Kanker
payudara.
2011.
Diunduh
dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21569/4/Chapter%20II.pdf, 19 April
2016.
8. Pulungan RM. Kanker payudara dan penatalaksanaannya. 2011. Diunduh dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24820/4/Chapter%20II.pdf, 20 April
2016.
9. Subowo. Imunologi klinik. Ed ke 2. Jakarta: Sagung Seto; 2013. h. 255-6.
10. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Buku ajar ilmu bedah. Ed ke-3. Jakarta: EGC; 2011. h. 48490.
11. Suhatno. Perawatan paliatif. Dalam: Prawirohardjo YBPS. Buku acuan nasional onkologi
ginekologi. Ed ke-1. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2006. h.
687-92.