Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH TEKNOLOGI SEDIAAN FARMASI

EKSIPIEN SOLID

Disusun oleh:
Oki Lia Saputri

(G1F014001)

Nilta Dizzania

(G1F014009)

Melani Dian Arini

(G1F014017)

Windi Agle Liza S.

(G1F014025)

Ismah Maziyah

(G1F014033)

Fitta Azhlina Ismail

(G1F014041)

Amyda Ayu Dianritami

(G1F014053)

Kintyas Asokawati

(G1F014069)

Gasti Giopenra Benarqi

(G1F014075)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016

PENDAHULUAN
I.

Latar Belakang
Teknologi sediaan adalah cara memformulasi atau merancang suatu obat
menjadi bentuk sediaan dengan menggunakan teknologi. Sediaan obat adalah
bentuk sediaan yang mengandung zat aktif yang siap digunakan (dikonsumsi).
Berdasarkan bentuknya, sediaan obat yang beredar dibedakan dalam empat
golongan yaitu: sediaan cair, sediaan padat, sediaan semi padat, dan sediaan gas.
Perkembangan teknologi menyebabkan obat tidak lagi dikonsumsi dalam bentuk
zat murninya.
Obat yang beredar di masyarakat tentunya tidak lepas dari kemungkinan
kesalahan pada waktu pengolahan atau kerusakan pada waktu penyimpanan dan
pendistribusian. Oleh karena itu untuk menjaga kestabilan zat aktif dalam
pembuatan sediaan obat diberi zat tambahan yang disebut eksipien. Eksipien
merupakan zat tambahan yang diberikan pada sediaan untuk memberikan nilai
atau fungsi tertentu pada suatu sediaan farmasi.
Pada makalah ini, eksipien yang dijelaskan adalah eksipien yang digunakan
pada sediaan solid. Eksipien yang digunakan pada sediaan solid antara lain bahan
pengisi, bahan pengikat, bahan penghancur, bahan pelincir (lubrikan), antilekat,
dan bahan pelicin.

.
II.

Tujuan
Mengetahui eksipien yang dapat digunakan dalam sediaan solid

III.

Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud eksipien?
2. Apa peran eksipien yang terdapat dalam sediaan solid?
3. Apa saja contoh eksipien yang digunakan dalam sediaan solid?

PEMBAHASAN

1. Pengertian
Eksipien merupakan bahan selain zat aktif yang ditambahkan dalam
formulasi suatu sediaan untu berbagai tujuan dan fungsi. Eksipien mempunyai
peranan yang penting dalam formulasi tablet karena tidak ada satupun zat aktif
yang dapat langsung dikempa menjadi tablet tanpa membutuhkan eksipien
(Sulaiman, 2007).
Pada umunya, komposisi sediaan solid terdiri atas zat aktif dan eksipien.
Fungsi eksipien dalam sediaan solid menurut anwar (2012) adalah sebagai berikut:
1. Bahan Pengisi (Filler)
Bahan pengisi diperlukan pada sediaan padat khususnya tablet,
yang berfungsi untuk meningkatkan atau memperoleh massa agar
mencukupi jumlah massa campuran sehingga dapat dikompresi/dicetak.
Selain itu, bahan pengisi pada kapsul berfungsi untuk mengisi kapsul yang
digunakan. Bahan pengisi juga berfungsi untuk menetapkan berat sediaan
yang akan diproduksi, dan memperbaiki laju alir massa sehingga mudah
dikempa.
Pemilihan bahan pengisi harus mempertimbangkan syarat-syarat
eksipien yang meliputi inert, stabil secara fisik dan kimia, bebas dari
mikroba perusak dan pathogen, mendukng bioavailabilitas, tersedia dalam
perdagangan dan harga relatif murah.
2. Bahan Pengikat (Binder)
Bahan pengikat merupakan eksipien yang digunakan dalam
formulasi sediaan tablet yang memberikan gaya kohesif yang cukup pada
serbuk antar partikel eksipien sehingga membentuk struktur tablet yang
kompak dan kuat setelah pencetakan. Bahan pengikat tidak boleh
menghalangi disintegrasi tablet maupun pelepasan zat aktif untuk
diabsorbsi. Bahan ini dapat ditambahkan dalam bentuk kering, pasta
(mucilago), cairan atau larutan.
Penggunaan binder dalam jumlah yang tidak sesuai akan
mengakibatkan berbagai permasalahan, jika jumlahnya kurang dalam
tablet akan menyebabkan capping, lamination, sticking, picking dan
filming. Namun bila penggunaannya berlebihan dapat meningkatkan
kekerasan tablet yang mengakibatkan tablet sukar hancur.
3. Bahan Penghancur (Disintegrant)

Disintegran merupakan eksipien yang berfungsi untuk memfasilitasi


hancurnya tablet ketika terjadi kontak dalam saluran cerna. Disintegran
bekerja dengan menarik air ke dalam tablet, mengembang dan
menyebabkan tablet pecah menjadi bagian-bagian kecil.
Ada beberapa mekanisme aksi disintegran, yaitu:
a. Swelling: Masuknya air ke dalam tablet menyebabkan disintegrant
mengembang dan tekanan diseluruh bagian tablet mengakibatkan
ikatan partikel dalam tablet akan pecah. Sejumlah disintegrant akan
mengembang hingga derajat tertentu, tetapi swelling atau mengembang
bukanlah menkanisme tunggal dari sebuah disintegrant.
b. Heat of Wetting: disintegran bila terbasahi air atau kelembaban
menimbulkan panas akibat reaksi. Panas menyebabkan udara yang
terperangkap dalam tablet bergerak memperbesar volume yang
menimbulkan desakan berupa tekanan pada granul sehingga tablet
menjadi pecah/hancur.
c. Deformation Recovery: Partikel disintegrant akan berubah bentuk saat
dikempa menjadi tablet. Pada saat ada kelembapan, partikel
disintegrant akan kembali ke bentuk semula, sehingga akan merubah
bentuk (deformasi) dari tablet, sehingga tablet pecah.
d. Repulsion Theory: masuknya air secara kapiler ke dalam tablet
menyebabkan rusaknya ikatan hydrogen sehingga ikatan adhesif
berkurang diikuti dengan bertambahnya sifat kohesif intrapartikel.
Keadaan ini menyebabkan partikel-partikel tang berlainan saling tolak
menolak dan tablet menjadi hancur.
e. Water Wicking: masuknya air ke dalam tablet diikuti dengan
pembentukan lorong-lorong seperti rajutan atau anyaman di dalam
tablet. Air yang terus bergerak membentuk lorong yang lebih besar
sehingga dinding lorong tersebut terkikis. Keadaan ini menyebabkan
tablet menjadi rapuh dan hancur.

4. Bahan Pelincir (Lubrikan)


Suatu pelincir diharapkan dapat mengurnagi gesekan antara dinding
tablet dengan dinding die pada saat tablet akan ditekan ke luar.
Mekanisme pelincir ada 2 jenis, yaitu:

a. Pelincir dengan cairan, karena adanya dua permukaan tampak terpisah


menjadi lapisan yang dibatasi oleh cairan yang merupakan fase kontinu
(cairan lubrikan).
b. Pelincir dengan pelapisan, dihasilkan oleh sifat menempel pada gugus
polar molekul dengan karbon rantai panjang pada permukaan logam
dinding dies.
Pemberian lubrikan harus sesuai jumlahnya. Kekurangan lubrikan
yang relatif banyak dapat menyebabkan tablet mengalami goresan pada
tepinya, sehingga kurang halus dan dapat menyebabkan fraktur/pecah
pada bagian atas. Kelebihan lubrikan dapat menyebabkan tablet pecah
berkeping-keping saat dikeluarkan.
5. Antilekat (Anti-adherent)
Antilekat bertujuan untuk mengurangi melengket atau adhesi
bubuk dan granul pada permukaan punch atau dinding die. Antilekat yang
efisien untuk permukaan punch namun tidak larut air adalah DL-leusin.
6. Bahan Pelicin (Glidant)
Pelicin bertujuan untuk memacu aliran serbuk atau granul dengan
jalan mengurangi gesekan di antara partikel-partikel.glidan cenderung
mengurangi adhesivitas, sehingga mengurangi gesekan antar partikulat
dari sistem secara menyeluruh. Seperti lubrikan, glidan diperlukan pada
permukaan partikel sehingga harus dalam keadaan halus dan secara tepat
dimasukkan ke dalam cmapuran massa tablet.
Penggunaan glidan yang terlalu sedikit akan mengakibatkan
sticking, yang ditunjukkan oleh permukaan tablet menjadi lembab. Tahap
awal dari sticking biasanya adalah filming pada permukaan punch. Kondisi
yang lebih parah dari sticking yaitu picking, terjadi ketika bagian
permukaan tablet terangkat atau keluar dan menempel pada permukaan
punch.

Contoh eksipien menurut fungsinya antara lain:


a. Pengisi : laktosa
Keuntungan :Laktosa merupakan eksipien yang baik sekali digunakan dalam
tablet yang mengandung zat aktif konsentrasi kecil karena mudah melakukan

pencampuran yang homogen. Harga laktosa lebih murah dari pada bahan
pengisi lainnya (Siregar, 2010). Umumnya formulasi memakai laktosa
menunjukkan laju pelepasan obat yang baik, granulnya cepat kering, dan
waktu hancurnya tidak terlalu peka terhadap perubahan pada kekerasan tablet.
Laktosa menghasilkan kompresibilitas yang baik, tidak berbau dan bersifat
inert (Lachman, 1994).
Kerugian :laktosa tidak dapat bergabung (inkompatibel) dengan asam
askorbat, salisilamida, pirilaminmaleat, dan fenil efrin hidroklorida (Siregar,
2010). Laktosa adalah bahan yang bersifat kompresibel, sifat alirnya kurang
baik, dapat menyerap kelembapan dari udara sehingga kemungkinan dapat
berpengaruh pada sifat fisik tablet (Sulaiman, 2007). Laktosa dapat berubah
warna dengan adanya basa amin dan Mg-stearat (Lachman, 1994).
b. Pengikat : PVP (PolivinilPirolidon)
Keuntungan :Sebagai perekat yang baik dalam larutan air atau alkohol,
mempunyai kemampuan sebagai pengikat kering (Banker and Anderson,
1986). Berdasarkan penelitian Muktamar (2007), PVP bagus untuk proses
penggranulan, hasil granul lebih cepat kering, memiliki sifat alir yang baik,
sudut diam minimum, menghasilkan fines lebih sedikit dan daya
kompatibilitasnya lebih baik sehingga dapat menghasilkan tablet yang lebih
bagus. PVP dapat membentuk ikatan kompleks dengan bebagai molekul obat
sehingga banyak obat-obat yang kelarutannya meningkat dengan adanya PVP,
dimana ikatan PVP lebih lemah sehingga lebih mudah melepaskan obatnya.
Tidak mengeras selama penyimpanan (Lachman, 1994).
Kerugian

:jika

menggunakan

PVP

dalam

etanol

anhidrat.

Jangan

menggunakan isopropanol anhidrat karena meninggalkan bau pada granul.


PVP sifatnya higroskopis sehingga dapat mengakibatkan tablet menjadi basah
(Lachman, 1994).
c. Lubrikan : Magnesium stearat
Keuntungan: Menurut penelitian Deniar (2010), magnesium stearate memiliki
keuntunganya itu tidak higroskopis.

Kerugian :Tablet asetosal dengan Mg stearat lengket, seharusnya digunakan


asam stearat (yang mikronize karena fungsi lubrikan adalah antar partikel
sehingga kalau halus akan terselimuti olehl ubrikan). Konsentrasi Mg stearat
sebagai lubrikan maksimal 2%. Jika terlalu besar akan terjadi laminatin
(Lachman, 1994). Sifat hidrofobik dari magnesium stearat akan menghalangi
proses pecahnya tablet sehingga obat akan sulit terdispersi dalam medium air
(Deniar, 2010)
d. Glidan : Talk
Kelebihan : dapat memperbaiki daya aliran bahan yang akan ditabletisasi,
mengurangi penyimpangan massa, meningkatkan ketepatan ukuran tabet dan
dapat mengurangi keterikatan antar partikel pada saat di cetak sehingga dapat
memberikan sifat alir yang baik.
kekurangan : tidak dapat dicampurkan dengan komponen ammonium
kuartener, dapat menurunkan disintegrasi dan disolusi tablet
e. Desintegran :amylum
kelebihan : sebagai bahan penghancur karena granulnya mampu mengembang
apabila kontak dengan air dan amilosa, aksi kapiler yang lebih dominan dari
pengembangan, dan juga dapat menghasilkan gaya tolak antar partikel antara
konstituen tablet apabila kontak dengan air dan bagian hidrofilik dari amilum
Kerugian :Amylum yang digunakan sebagai penghancur luar haruslah amylum
kering karena dengan adanya air akan menurunkan kemampuannya sebagai
penghancur. Pengeringan amylum dilakukan pada suhu 70 C karena pada
suhu ini tidak terjadi gelatinasi dari amylum (Siswandono, 1988). Penggunaan
amylum yang terlalu banyak (maksimal 30%) menyebabkan tablet tidak
dapat dicetak karena kompresibilitasnya sangat jelek. Mengandung kadar air
11-14%; akan menyebabkan tablet terdisintegrasi dengan cepat (Lachman,
1994)Tablet

yang

mengandung

amilum

dengan

konsentrasi

tinggi

menunjukkan tablet yang rapuh dan sukar dikeringkan. Amilum yang tidak
dimodifikasi tidak mempunyai sifat kompresibilitas yang baik dan mempunyai
friabilitas yang besar, dan akan terjadinya capping pada tablet jika digunakan
dalam jumlah besar. Amilum harus dalam keadaan kering, jika fungsinya
sebagai penghancur. Jika bercampur dengan air maka sifat penghancurnya
akan berkurang (Banker and Anderson, 1994).
f. Absorben : aerosil

Keuntungan :Terdispersi tinggi, memiliki luas permukaan spesifik yang tinggi


dan terbukti sangat menguntungkan sebagai bahan pengatur aliran. Aerosil
dapat mengatasi lengketnya partikel satu sama lainnya sehingga mengurangi
gesekan antar partikel. Selain itu aerosol mampu mengikat lembab, melalui
gugus sianolnya (menyerap air 40% darimassanya) dan sebagai serbuk masih
mampu mempertahankan daya alirnya yang baik (Voigt, 1984). Penambahan
aerosol pada tablet akan menyebabkan penampilan tablet yang bagus, jernih
dan mengkilat (Lachman,1994).
Kerugian :Jumlah aerosil yang ditambahkan tidak boleh lebih dari 3% karena
aerosol bersifat voluminous dan menyerap air sehingga tablet dapat membatu
yang menyebabkan waktu hancur lebih lama (Parrott, 1971).
g. Pengawet : metil benzoate
Keuntungan: Metil paraben lebih sering digunakan karena zat ini mudah larut
dalam air sehingga mudah menyatu dengan bahan-bahan lain ketika dalam
pembuatannya, Mencegah pertumbuhan bakteria dan menghindari produk
kosmetik daripada berkulat
Kerugian : Sabun cepat terhakis apabila direndam atau terdedah pada
udara, Bertindak balas dengan UV B hingga boleh mengakibatkan peningkatan
kerosakan DNA dan penuaan kulit jika digunakan secara berlebihan
h. Antioksidan : asam askorbat
Keuntungan:

mampu

menangkal

berbagai

radikal

bebas

ekstraseluler (Lachman, 1994)

Kerugian :Pengunaan avicel akan mempercepat oksidasi vitamin C. Metode


dengan granulasi basah akan menyebabkan waktu hancuryang tidak baik
(Lachman, 1994).
2. Monografi Bahan
A. LAKTOSA
Pemerian Serbuk putih atau agak putih, tidak berbau, rasa sedikit manis.
Kelarutan Mudah larut dalam air dan lebih mudah dalam air mendidih,sangat sukar
larut dalam metanol, tidak mudah larut dalam kloroform dan dalam eter.
Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan Sebagai zat pengisi.

Stabilitas Obat Di bawah kelembapan (relatif 50%) (Depkes RI, 1995).


B. Polivinil Pavidon (PVP)
Pemerian Serbuk putih atau putih kekuningan, inert, berbau lemah atau tidak berbau
dan higroskopis.
Kelarutan Larut dalam asam, air, etanol (95%), kloroform, keton dan metanol.
Praktis tidak larut dalam hidrokarbon, dan dalam minyak mineral.
Stabilitas Warna povidon berubah gelap dengan pemanasan pada suhu 105C, dan
terjadi penurunan kelarutan dalam air. Stabil pada pemanasan 110-130 oC yang
sebentar, sterilisasi dengan uap tidak mengubah karakteristik povidon. Larutan
povidon mudah terkontaminasi oleh jamur olah karena itu perlu ditambahkan
pengawet. Povidon dapat disimpan dalam kondisi biasa-biasa saja tanpa mengalamai
degradasi atau dekomposisi. Harus disimpan dalam wadah kedap udara pada tempat
yang sejuk dan kering.
Inkompatibilitas Dapat membentuk molecular adducts dalam larutan dengan
sulfatiazol, natrium salisilat, asam salisilat, fenobarbital, tanin dab bahan lain. Efek
dari beberapa pengawet seperti thimerosal dapat berubah (merugikan) ketika
terbentuk kompleks dengan povidon.

(Rowe, dkk, 2009).


C. MAGNESIUM STEARATE
Pemerian Serbuk halus putih dan voluminus; bau lemah khas; mudah melekat di
kulit; bebas dari butiran.
Kelarutan Praktis tidak larut etanol, etanol 95%, eter, dan air. Sedikit larut dalam
benzen hangat dan etanol 95% hangat.
Pemakaian Digunakan di dalam formulasi farmasetika sebagai lubrikan dengan
konsentrasi antara 0,25-5%.
Stabilitas dan Penyimpanan Stabil dan disimpan di wadah yang kering dan tertutup
rapat (Rowe, dkk, 2009).
D. TALCUM
Pemerian Serbuk hablur sangat halus, putih atau putih kelabu. Berkilat mudah
melekat pada kulit dan bebas dari butiran.

Wadah dan penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat (Depkes RI, 1995).
pH 6,5 -10 untuk dispersi 20% b/v
Stabilitas dan Penyimpanan Stabil, dapat disterilkan dengan pemanasan pada suhu
160C tidak lebih dari sejam, juga dapat disterilkan dengan otilen oksida atau
penyinaran gamma.

(Rowe, dkk, 2009).


E. AMYLUM
Pemerian Serbuk halus; putih; tidak berbau; tidak berasa.
Kelarutan Praktis tidak larut dalam air dingin dan etanol 95% dingin. Amilum
mengembang cepat dalam air pada suhu 37C.
Fungsi Pengisi tablet; penghancur tablet (3-15% b/b); pengikat tablet (5-25% b/b);
glidan.
Stabilitas Amilum dalam keadaan kering dan tidak dipanaskan stabil jika terlindung
dari kelembaban tinggi. Larutan atau pasta amilum yang dipanaskan tidak stabil
secara fisik dan mudah ditumbuhi mikroorganisme.
Pemakaian 5-10 %, merupakan glidan yang paling umum digunakan. Pemakaiannya
disesuaikan dengan jenis starch, tekanan pengempaan, dan kandungan air massa
cetak.
Penyimpanan Simpan dalam tempat yang bersih, kering, dan ruang berventilasi baik.
Sebelum digunakan, harus dikeringkan pada suhu 80-90 C untuk menghilangkan air
yang terabsorpsi (Rowe, dkk, 2009).
F. AEROSIL
Pemerian Sub microscopic fumed silica dengan ukuran partikel sekitar 15nm. Serbuk
amorf (tidak berbentuk); ringan; meruah; putih kebiru-biruan; tidak berbau; tidak
berasa.
Kelarutan Praktis tidak larut dalam air, pelarut organik dan asam, kecuali asam
hidrofluorat; Larut dalam larutan panas alkali hidroksida. Membentuk dispersi
koloidal dalam air.
Stabilitas Higroskopis, dapat menyerap air dalam jumlah besar tanpa menjadi cair.
Ketika digunakan dalam suatu sistem larutan pada pH 0-7.5, koloid silikon dioksida
dapat meningkatkan viskositas. Harus disimpan dalam wadah tertutup baik pada
tempat kering dan sejuk.
Inkompabilitas Sediaan dietilstilbestrol (Rowe, dkk, 2009).

G. METIL BENZOAT
Pemerian Serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak mempunyai rasa,
kemudian agak membakar diikuti rasa tebal.
Kelarutan Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendidih, ian etanol
(95%) dan alam 3 bagian aseton, mudah larut dalam eter dan dalam larutan alkali
hidroksida, larut dalam 60 bagian gliserol panas dan dalam 40 bagian minyak lemak
nabati panas, jika diinginkan larutan tetap jernih.
Kegunaan Zat tambahan, zat pengawet antimikroba (Depkes RI, 1995).
H. ASAM ASKORBAT
Pemerian Kristal atau serbuk putih atau agak kuning. Bila terpapar udara, warnanya
perlahan-lahan menjadi lebih gelap. Dalam keadaaan kering, stabil di udara, tetapi
dalam larutan akan teroksidasi dengan cepat.
Kelarutan Larut 1 bagian dalam 3 bagian air dan 1 bagian dalam 40 bagian alkohol,
tidak larut dalam kloroform, eter, dan benzena.
Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat dan terlindung dari cahaya matahari
(Depkes RI, 1995).
3. Formulasi Sediaan
Salah satu contoh sediaan solid yaitu tablet, tablet adalah cara yang paling
terkenal dalam pemberian suatu obat oral, nyaman, mudah ditangani, dan
diidentifikasi. Salah satu formulasi tablet salut enteric dijelaskan dalam penelitian
nanang (2014) sebagai berikut :

Fungsi dari masing-masing zat pada formulasi inti adalah:


1. Natrium diklofenak sebagai zat aktif , obat antiinflamasi non steroid (AINS)
yang digunakan sebagai obat analgesic dan anti radang.

2. Mikrokristalin selulosa sebagai eksipien pengisi dan pengikat untuk


meningkatkan kekompakan tablet
3. Laktosa 200 sebagai bahan pengisi
4. Natrium starch glycolate sebagai disintegran agar tablet dapat hancur jika
kontak dengan cairan tubuh
5. Magnesium stearat sebagai pelincir
6. Aerosol 200 sebagai anti higroskopis dan anti adherent

Fungsi dari masing-masing formula suspense penyalut adalah :


1.
2.
3.
4.

Kollicoat 30 D sebagai penyalut


Talk sebagai pengisi
Titanium dioksida sebagai zat pemutih
Poli etilen glikol 6000 untuk memperkecil ukuran partiket,meningkatkan laju

disolusi
5. FD & C yellow, FD & C blue, FD & C red sebagai zat pewarna
6. Air sebagai pelarut

Bahan penelitian yang digunakan adalah singkong, parasetamol (PT.


Coronet Crown), L-HPC LH-11 (Shin-Etsu Chem. Co. Ltd. Japan),
Magnesium stearat (PT. Coronet Crown), Cab-O-Sil (PT. Coronet Crown).
Fungsi tiap komponennya :
a. Parasetamol berfungsi sebagai zat aktif, jenis obat yang termasuk kelompok
analgesik atau pereda rasa sakit. Obat ini dipakai untuk meredakan rasa sakit
ringan hingga menengah. Obat ini juga bisa dipakai untuk menurunkan
demam. Dianjurkan untuk mengonsumsi paracetamol sebanyak 500 mg
hingga 1 gram tiap 4-6 jam sekali.
b. Penggunaan pati singkong pregelatin sebagai bahan pembuatan tablet cetak
langsung memiliki beberapa keuntungan antara lain mempunyai kemampuan
sebagai penghancur tablet, dapat mempercepat kecepatan pelepasan zat aktif
yang sukar larut dalam air. Namun penggunaannya masih terbatas sebagai
bahan pengikat pada proses granulasi basah sebab dalam keadaan kering
daya ikatnya masih rendah (Rismana, 2004; Anwar, 2001). Hal ini
menyebabkan tablet mempunyai kekurangan yaitu kerapuhan tablet yang
belum memenuhi persyaratan. Untuk mengatasi kekurangan tersebut maka
perlu ditambah dengan bahan pengikat agar daya ikat pati singkong
pregelatin dapat ditingkatkan sehingga mempunyai daya kompaktibilitas
yang baik. Salah satu bahan pengikat yang dapat digunakan sebagai bahan
pembawa cetak langsung adalah turunan selulose (Banker and Anderson,
1994).

c. Cab.O.Sil berfungsi sebagai glidan yaitu untuk menunjang karakteristik


aliran dari granul atau meningkatkan aliran granul dari hopper ke dalam die.
Sebagai glidan dipakai dengan konsentrasi 0,1-0,5 %.
d. Mg Stearat, berfungsi sebagai bahan pelicin yaitu bahan pengatur aliran, dan
bahan pemisah hasil cetakan. Bahan pelicin mengurangi gesekan selama
proses pengempaan tablet. Pada umumnya bahan pelicin bersifat hidrofobik
sehingga cenderung menurunkan kecepatan disintegrasi dan disolusi tablet,
oleh karena itu kadar pelicin yang berlebihan harus dihindari. Bahan pelicin
yang biasa digunakan antara lain talk, magnesium stearat, aluminium stearat,
asam stearat, asam palmitat, dan pati (Siregar, 2010). Digunakan di dalam
formulasi farmasetika sebagai lubrikan dengan konsentrasi antara 0,25-5%.

PENUTUP
Kesimpulan
1. Eksipien merupakan bahan selain zat aktif yang ditambahkan dalam
formulasi suatu sediaan untu berbagai tujuan dan fungsi
2. Bahan pengisi, bahan pengikat, bahan penghancur, bahan pelicin, antilekat,
dan bahan pelincir.
3. Laktosa (pengisi), PVP (pengikat), Magnesium stearat (lubrikan), Talkum
(Glidan), Amylum (Desintegran), Aerosil (Absorben), Metil Benzoate
(Pengawet) dan Asam Askorbat (Antioksidan).

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Effionora, 2012, Eksipien dalam Sediaan Farmasi, Dian Rakyat : Jakarta
Banker, G.S. dan Anderson, N.R., 1994, Tablet In the Theory and Practice ofIndustrial
Pharmacy, Ed III, Diterjemahkan Oleh Siti Suyatmi, UI Press :Jakarta
Deniar, Winardani., 2010, Optimasi Formula Tablet Dispersible Natrium Diklofenak
Dengan Bahan Penghancur Explotab dan Bahan Pelicin Magnesium Stearat,
Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta : Surakarta
Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
Muktamar, Tin Ridha., 2007, Pengaruh Penambahan PVP (PolivinilPirolidon) Sebagai
Bahan Pengikat Terhadap Sifat Fisik Dan Profil Disolusi Tablet Parasetamol
Dengan Metode Granulasi Basah, Skripsi, Universitas Muhammadiyah
Surakarta : Surakarta
Lachman, L, Lieberman, H, A, dkk, 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri, Edisi III,
Penerbit Universitas Indonesia, UI Press : Jakarta
Parrott, E.L, 1971, Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics, Burgess
Publishing Company :Mineapolis
Rowe, Raymond C., Paul J. Sheskey, and Marian E. Quinn, 2009, Handbook of
Pharmaceutical Excipients, Pharmaceutical Press, United Kingdom.

Siregar, C.J.P. dan Wikarsa, S., 2010, Teknologi Farmasi Sediaan Tablet: Dasar-Dasar
Praktis. EGC : Jakarta
Siswandono dan Soekardjo, 1995, Kimia Medisinal, Penerbit Airlangga University Press :
Surabaya
Sulaiman, T.N.S, 2007,Teknologi dan Formulasi Sediaan Tablet, Cetakan Pertama, Mitra
Communications Indonesia : Yogyakarta
Voight, R, 1994,Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Edisi kelima, Gadjah Mada
University Press : Yogyakarta
Yunarto, nanang, 2014. Optimasi formula tablet salut enterik natrium diklofenak dengan
bahan penyalut kollicoat 30 D. Jurnal Kefermasian Indonesia. Vol 4.2.2014: 6574