Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN AKHIR FARMAKOKINETIKA DASAR

PERCOBAAN IV
PENGARUH RUTE PEMBERIAN TERHADAP BIOAVAILABILITAS SUATU
OBAT DENGAN MENGGUNAKAN DATA DARAH

Disusun Oleh :
Rezky Bela Putri

(G1F014007)

Suci Ramadhani

(G1F014023)

Alim Wijaya

(G1F014039)

Katarina

(G1F014061)

Golongan / Kelompok

: II A / 4

Tanggal Praktikum

: 25 Mei 2016

Asisten

: Pramita P. dan Catherine B.

Dosen Pembimbing Praktikum

: Laksmi, M.Sc., Apt

LABORATORIUM FARMASI KLINIK


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016

PERCOBAAN IV
PENGARUH RUTE PEMBERIAN TERHADAP BIOAVAILABILITAS SUATU
OBAT DENGAN MENGGUNAKAN DATA DARAH

I.

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Ketersediaan hayati suatu obat dapat diukur pada keadaan pasien yang
bersangkutan (secara invivo) dengan menentukan kadar dalam plasma darah
setelah mencapai keseimbangan antara serum cairan tubuh (keadaan tunak).
Ada kolerasi yang baik antara kadar obat dalam plasma dengan efek terapi.
Ketersediaan hayati digunakan untuk memberikan gambaran mengenai
keadaan dan kecepatan obat diabsorbsi dari bentuk sediaan dan
digambarkan dengan kurva kadar waktu setelah obat diminum dan berada
pada jaringan biologik atau larutan seperti darah dan urin. Data ketersediaan
hayati dapat pula digunakan untuk menentukan :
a. Jumlah atau bagian obat yang diabsorbsi dari bentuk sediaan
b. Kecepatan obat diabsorbsi
c. Masa kerja obat berada didalam cairan biologik atau jaringan, bila
dihubungkan dengan respon pasien
Hubungan antara kadar obat dalam

darah

dengan

efektivitas

terapi/efektoksik (Anief, 2002).


B. Dasar Teori
Metode pengukuran obat dalam media biologis semakin penting untuk
banyak kelompok-kelompok sosial. Masalah-masalah yang berhubungan
dengan

bioavaibilitas,

bioekivalensi,

pengembangan

obat

baru,

penyalahgunaan obat, farmakokinetika klinik, dan penelitian obat sangat


bergantung pada metode analisis (Smith,1981). Dalam sebuah analisis obat
dalam cairan hayati, ada hal-hal penting dalam rangka penelitian
farmakokinetika yang digunakan sebagai parameter-parameter antara lain
yaitu:
1. Tetapan (laju) invasi atau tetapan absorpsi
2. Volume distribusi menghubungkan jumlah obat didalam tubuh dengan
konsentrasi obat (C) di dalam darah atau plasma.
3. Ikatan protein
4. Tetapan (laju) eliminasi dan waktu paruh dalam plasma (t 1/2)
2

5. Klirens renal, ekstrarenal dan total


6. Luas dibawah kurva dalam plasma (AUC), dan
7. Ketersediaan hayati
(Mutshler, 1991).
Dalam penetapan kadar obat dalam darah (cairan tubuh), metode yang
digunakan harus tepat, dan dalam pengerjaannya diperlukan statu ketelitian
yang cukup tinggi agar diperoleh hasil yang akurat. Sehingga nantinya dapat
menghindari kesalahan yang fatal. Dalam analisis ini, kesalahan hasil tidak
boleh lebih dari 10% (tergantung pula alat apa yang digunakan dalam
analisis). Akurasi yang baik untuk bahan obat dengan kadar kecil adalah 90110%, akurasi untuk kadar obat yang lebih besar biasanya disepakati 95105%, akurasi untuk bahan baku biasanya disepakati 98-102%, sedangkan
untuk

bioanalisis

rentang

akurasi

80-120%

masih

bisa

diterima

(Ritschel,1976). Dalam menaksir ketersediaan hayati ada tiga parameter


yang biasanya diukur untuk menggambarkan profil konsentrasi obat dalam
darah dan waktu dari obat yang diberikan, yaitu :
a)

Tmaks
Waktu

konsentrasi plasma

mencapai

puncak, Tmaks, dapat

disamakan dengan waktu yang diperlukan untuk mencapai konsentrasi


obat maksimum setelah pemberian obat. Pada Tmaks absorpsi obat adalah
terbesar, dan laju absorpsi obat sama dengan laju eliminasi obat.
Absorpsi masih berjalan setelah Tmakstercapai, tetapi pada laju yang lebih
lambat. Jika membandingkan produk obat, Tmaksdapat digunakan sebagai
petunjuk untuk memperkirakan laju absorpsi. Satuan tmaks adalah satuan
waktu (misal:jam, menit) (Shargel, 2012).

b)

Cmaks
Konsentrasi plasma puncak, Cmaks, menunjukkan konsentrasi obat
maksimum dalam plasma setelah pemakaian obat secara oral. Untuk
beberapa obat diperoleh suat hubungan antara efek farmakologissuatu
obat dan konsentrasi obat dalam plasma. Cmaks memberi suat petunjuk
bahwa obat cukup diabsorpsi secara sistemik untuk memberi suat
respons terapeutik. Selain itu, Cmaks juga memberi petunjuk dari

kemungkinan adanya kadar toksik obat. Satuan Cmaks adalah satuan


c)

konsentrasi (misal: mg/mL, ng/mL) (shargel, 2012).


AUC
Area di bawah kurva kadar obat dalam plasma-waktu, AUC, adalah
suatu ukuran dari jumlah bioavailabilitassuatu obat. AUC mencerminkan
jumlah total obat aktif yang mencapai sirkulasi sistemik. AUC adalah
area di bawah kurva kadar obat dalam plasma-waktu dari t = 0 sampai t =
, dan sama dengan jumlah obat tidak berubah yang mencapai sirkulasi
umum dibagi klirens (Shargel, 2012).
Untuk beberapa obat AUC berbanding langsung dengan dosis.
Sebagai contoh, jika suatu dosis tunggal dari suatu obat dinaikkan dari
250 ke 1000 mg, AUC juga akan naik empat kali. Dalam beberapa hal,
AUC tidak berbanding langsung dengan dosis yang diberikan. Sebagai
contoh, bila dosis obat dinaikkan, salah satu jalur eliminasi obat dapat
menjadi jenuh. Eliminasi obat meliputi proses metabolisme dan ekskresi.
Metabolisme obat adalah proses yang bergantung pada enzim (Shargel,
2012).
Untuk beberapa obat seperti salisilat dan fenitoin peningkatan dosis
dapat menyebabkan penjenuhan salah satu jalur metabolisme dan hal ini
dapat

memperpanjang

waktu-paruh

eliminasi.

Dengan

demikian

kenaikan AUC tidak sebanding dengan kenaikan dosis oleh karena


jumlah obat yang dieliminasi lebih kecil. Jika AUC tidak berbanding
langsung dengan dosis, bioavailabilitas obat sulit untuk dievaluasi karena
kinetika obat bergantung dosis (Shargel, 2012).
Validasi metode menurut United States Pharmacopeia (USP)
dilakukan untuk menjamin bahwa metode analisis akurat, spesifik,
reprodusibel, dan tahan pada kisaran analit yang akan dianalisis. Suatu
metode analisis harus divalidasi untuk melakukan verifikasi bahwa
parameter-parameter kinerjanya cukup mampu untuk mengatasi problem
analisis, karenanya suatu metode harus divalidasi, ketika:
a) Metode baru dikembangkan untuk mengatasi problem analisis
tertentu.
b) Metode yang

sudah

baku

direvisi

untuk

menyesuaikan

perkembangan atau karena munculnya suatu problem yang


mengarahkan bahwa metode baku tersebut harus direvisi.
4

c) Penjaminan mutu yang mengindikasikan bahwa metode baku telah


berubah seiring dengan berjalannya waktu.
d) Metode baku digunakan di laboratorium yang berbeda, dikerjakan
oleh analis yang berbeda, atau dikerjakan dengan alat yang berbeda.
Untuk mendemonstrasikan kesetaraan antar dua metode, seperti antara
metode baru dan metode baku (Gandjar, 2015).
C. Tujuan Percobaan
Tujuan umum
: Membandingkan bioavailabilitassuatu obat dari rute
pemakaian yang berbeda.
Tujuan khusus :
Melakukan uji bioavailabailitas suatu obat dari sediaan suspensi
(peroral) dan larutan injeksi (intramuscular dan intravena) dengan

II.

menggunakan data darah.


Menghitung dan menginterpretasikan bioavailabilitas suatu obat.

ALAT DAN BAHAN


Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah spektrofotometer, alat
pemusing, dispossiblesyringe 1 cc, timbangan untuk binatang percobaan, cage
(kotak tikus), vorteks mixture, alat pencukur, alat gelas, dan feeding tube.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah sulfadiazin, asam trikloro asetat 5%,
Natrium nitrit 0,1%, ammoniumsulfamat 0,5%, dan N (naftil) etilena diamin
dihidroklorida 0,1%, dan akuades.

III.

CARA KERJA
250 L darah + 250 Lakuades + 2 mL TCA 5%
-divortex selama 5 menit, lalu di sentrifuge 15 menit 2500 rpm
-diambil beningan 1,5 mL
-ditambahkan 2 ml akuades
-ditambahkan NaNO2 0,1% 0,1 mL, didiamkan selama 3 menit
-ditambahkan ammoniumsulfamat 0,5% 0,5 mL, didiamkan selama 5
menit
-ditambahkan NEDTA 0,1% 0,2mL, didiamkan selama 5 menit dalam
tempat gelap
-diukur resapan menggunakan spektrofotometer dengan panjang
gelombang 546 nm, digunakan blanko darah sebelum diberi obat.

Hasil

IV.

PERHITUNGAN DAN HASIL PERCOBAAN


1. Tentukan Tmax (Cp max).
2. Hitung Ke (ekskresi) dimulai dari titik sebelah Tmax.
3. Tulis persamaan garis untuk eliminasi.
4. Hitung AUC dengan metode trapezoid.
5. Titik-titik di T 5 menit s/d T sebelum Cp max menjadi titik-titik untuk
perhitungan Kabsorpsi.
6. Tentukan kesalahan acak di setiap waktu (5, 10, 20, 30, 45, 60, 90 menit).
Perhitungan dosis
Berat tikus = 120 gram = 0,12 kg
Berat tablet = 564 mg
Dosis = 0,12 kg x 100 mg/kgBB = 12 mg
Berat tablet = 564 mg
Dosis label = 500 mg
Berat tablet yang dibutuhkan =

x 564 mg = 13,536 mg/ml

Pengenceran dengan labu ukur 10 ml = 13,536 mg ad 10 ml akuades

Penimbangan sulfadiazin
Berat kertas kosong
= 261,8 mg
Berat sulfadiazin + kertas
= 135,36 mg
Berat sulfadiazin yang diambil = 397,3 mg

Data Pengamatan
Cobat
5 mcg/ml
10 mcg/ml
25 mcg/ml
50 mcg/ml
75 mcg/ml

Creal/dalam darah
2,5 mcg/ml
5 mcg/ml
12,5 mcg/ml
25 mcg/ml
37,5 mcg/ml

Absorbansi
0,287
0,355
0,667
0,746
0,918

log C
0,398
0,699
1,097
1,398
1,574

Data perhitungan kelompok 1


t
C
Log C
45
0,663
-0,178
60
0,893
-0,049
90
0,3542
-0,4507
Persamaan regresi linier:
y = -0,0071x + 0,236
r = -0,794
K = 0,0071 x 2,303 = 0,01635

Data perhitungan kelompok 2


t
C
Log C
45
0,148
-0,8297
60
0,388
-0,4111
90
0,273
-0,5638
Persamaan regresi linier:
y = 0,00433x 0,88347
r = 0,46917
K = 0,009971

Data perhitungan kelompok 3


T
C
Log C
60
0,802
-0,0958
90
0,432
-0,3645
Persamaan regresi linier:
y = -0,008956x + 0,4416
r = -1

K = 0,0206

Data perhitungan kelompok 4


t
C
Log C
30
0,4265 -0,37008
45
0,578
-0,238
60
0,346
-0,4609
90
0,6505
-0,1867
Persamaan regresi linier:
y = 0,002215x 0,4385
r = 0,45495
K = 0,0051

Kel

T
(menit)
5
10
20
30
45
60
90
5
10
20
30
45
60
90
5
10
20
30
45
60

Absorbansi
0,509
0,374
0,436
0,527
0,399
0,519
0,228
0,168
0,135
0,175
0,218
0,148
0,388
0,273
0,209
0,203
0,260
0,374
0,370
0,407

Kadar
(mcg/ml)
0,874
0,624
0,739
0,907
0,663
0,893
0,3542
0,243
0,182
0,256
0,336
0,206
0,650
0,430
0,319
0,307
0,413
0,624
0,617
0,802

Log C

AUC

-0,0584
-0,2048
-0,1313
-0,0423
-0,1784
-0,0491
-0,4507
-0,6143
-0,7399
-0,5917
-0,4736
-0,6861
-0,1870
-0,3665
-0,4962
-0,5128
-0,384
-0,2048
-0,2097
-0,0958

-0,146
-0,3508
-1,1553
-0,6988
-0,4963
-1,3871
-1,1878
-1,5359
-3,3857
-4,2912
-5,3271
-4,2385
-5,3328
-3,1727
-1,2405
-2,5225
-2,948
-2,1248
-1,7457
-1,6685

90
5
10
20
30
45
60
90

Kel

T
(menit)
5
10
20
30
45
60
90
5
10
20
30
45
60
90
5
10
20
30
45
60
90

5
10
20
30
45
60
90

0,220
0,306
0,306
0,407
0,267
0,349
0,224
0,388

0,432
0,498
0,498
0,685
0,4265
0,578
0,346
0,6505

-0,3645
-0,3027
-0,3027
-0,1643
-0,3700
-0,238
-0,4609
-0,1867

-1,8015
-0,7567
-1,5135
-2,335
-2,6719
-3,0136
-5,2417
-9,714

Log C'

Kadar (C)

(C'-Ct)

Log (C'-Ct)

T Vs Log (C'-Ct)

0,200
0,165
0,094
0,023
-0,083
-0,19
-0,403
-0,861
-0,840
-0,796
-0,753
-0,688
-0,623
-0,493
0,396
0,352
0,262
0,172
0,038
-0,095

1,5867
1,4621
1,2416
1,0543
0,825
0,645
0,395
0,137
0,1444
0,1596
0,1763
0,2048
0,2378
0,3207
2,4935
2,2492
1,8301
1,489
1,092
0,802

0,7127
0,8381
0,5026
0,1473
0,162
-0,248
0,0408
-0,106
-0,0376
-0,0964
-0,1597
-0,0012
-0,4122
-0,1093
2,1745
1,9422
1,4171
0,865
0,475
0

-0,147
-0,0767
-0,2987
-0,8318
-0,7904
1,389
0,337
0,288
0,1514
-0,063
-0,323
-

a = -0,036
b = -0,011
r = -0,903
y = -0,036 0,011x
Ka = 2,303 x (-b)
= 0,0253

-0,364
-0,427
-0,416
-0,394
-0,372
-0,338
-0,305
-0,239

0,432
0,3737
0,3833
0,4034
0,4245
0,4583
0,4947
0,5765

0
-0,1243
-0,1147
-0,2816
-0,002
-0,1197
0,1487
-0,074

a = 0,4501
b = -0,016
r = -0,796
y = 0,4501 0,016x
Ka = 0,0368

Data AUC Kelompok 4


AUC =

AUC

AUC

AUC

AUC

AUC

AUC

= -1,5135

AUC total = -25,2465


Perhitungan golongan

SD menit 5 = 0,2437

SD menit 30 = 0,2189

Rata-rata = 0,4835

Rata-rata = 0,573

Kesalahan acak

Kesalahan acak = 38,20%

SD menit 45 = 0,1814
Rata-rata = 0,516

SD menit 10 = 0,1702
Rata-rata = 0,402

Kesalahan acak = 35,15%

SD menit 60 = 0,2076

Kesalahan acak = 42,33%

Rata-rata = 0,672

SD menit 20 = 0,1976

Kesalahan acak = 30,89%

Rata-rata = 0,523
Kesalahan acak = 37,78%

10

SD menit 90 = 0,1106
Rata-rata = 0,466
Kesalahan acak = 23,73%

V.

PEMBAHASAN
Menurut shargel (2012) Tmaks adalah waktu konsentrasi plasma mencapai
puncak. Pada Tmaks absorpsi obat adalah terbesar, dan laju absorpsi obat sama
dengan laju eliminasi obat. Dalam praktikum yang dilakukan T maks untuk
masing-masing kelompok berbeda. Kelompok 1 berada pada menit ke-30
dengan konsentrasi 0,907 mg/ml, kelompok 2 berada pada menit ke-60 dengan
konsentrasi 0,650 mg/ml, kelompok 3 berada pada menit ke-60 dengan
konsentrasi, dan kelompok 4 berada pada menit ke-20 dengan konsentrasi 0,685
mg/ml.
Perbedaan Tmaks pada tiap kelompok

dapat dipengaruhi oleh laju

absorpsi. Di mana harga t maks akan menjadi semakin kecil apabila laju absorpsi
obat menjadi lebih ceapat (Shargel, 2012).
Pengambilan darah dari ekor tikus dilakukan dengan cara yang pertama,
tikus dimasukkan dalam selongsong yang sesuai ukurannya tubuh tikus. Ekor
tikus dijulurkan keluar dan Vena lateralis pada ekor di Incis (dipotong) 0,2 2
cm dari pangkal ekor dengan silet atau gunting yang steril. Darah ditampung
pada eppendorf, kemudian diletakkan miring 45 dan dibiarkan mengendap pada
suhu kamar, selanjutnya dilakukan sentrifugasi untuk mendapatkan serum yang
dimaksud (Anonim, 2012).
Obat yang digunakan adalah sulfadiazin yang dianalisis dalam darah tikus.
Sulfadiazin diabsorbsi secara cepat dengan pemberian secara oral. Obat ini
terdistribusi melalui jaringan-jaringan tubuh dan cairan tubuh termasuk pleural,
peritoneal, sinovial dan cairan okular. Metabolisme yang dialaminya adalah Nasetilasi. Lebih dari 15% sulfadiazin yang diberikan berada dalam bentuk tidak
11

aktif dalam darah, yaitu turunan N-asetil. Waktu paruh eliminasinya sekitar 6-17
jam. Ekskresinya berkisar antara 43% hingga 60% dalam bentuk utuh dan 15%
hingga 40% dalam bentuk metabolitnya (Galichet, 2005; Lacy et al., 2005).

Pada percobaan kali ini dilakukan uji bioavailabilitas suatu obat dari
sediaan suspensi melalui pemberian peroral dengan menggunakan data darah.
Langkah awal dalam percobaan ini adalah penimbangan berat badan tikus, lalu
perhitungan konversi dosis untuk menetapkan kebutuhan sulfadiazin yang akan
digunakan. Pembuatan larutan baku dengan melarutkan 135,36 mg sulfadiazin
dalam air suling. Kemudian suspensi yang telah dibuat, diberikan ke tikus
melalui peroral. Sebelum diberikan obat, tikus diambil darahnya melalui vena
lateralis pada ekor tikus sebagai blanko. Setelah obat diberikan, tikus dibiarkan
selama 5 menit lalu diambil darahnya melalui vena lateralis. Bila sayatan vena
lateralis pada ekor sudah mengering dan tidak keluar darahnya, maka dapat
dilakukan pengambilan darah melalui pembuatan sayatan vena lateralis pada
ekor yang baru diatas sayatan yang lama. Darah diambil pada menit ke 5, 10, 20,
30, 45, 60, dan 90. Darah ditampung pada eppendorf yang telah diberi EDTA
untuk tujuan pengambilan plasma darah dan tanpa EDTA untuk tujuan
pengambilan serumnya, bisa juga dengan penambahan heparin sebagai
antikoagulan (Yokozawa, 2002).
Langkah selanjutnya yaitu mengambil darah dari setiap menit sebanyak
250 L, kemudian ditambah 250 L akuades dan 2 ml TCA 5%, lalu di vortex
hingga

homogen.

TCA

ialah

senyawa

yang

mampu

memprespitasi

makromolekul seperti protein, RNA, dan DNA. Penambahan TCA berfungsi


untuk memberikan suasana asam bagi reaksi diazotasi, sebagai donor proton
untuk reaksi selanjutnya, serta merupakan senyawa yang dapat menghentikan
kerja enzim yang dapat memetabolisme obat sekaligus akan menyebabkan
denaturasi protein plasma. TCA akan mengikat protein dan mengendapkannya
saat sentrifugasi sehingga keberadaan protein tidak mengganggu pembacaan
absorbansi (Elisa, 2013).
Kemudian, larutan disentrifugasi selama 5 menit. Diambil supernatan
sebanyak 1,5 ml dan ditambahkan akuades sebanyak 2 ml. Setelah disentrifus
12

akan didapatkan supernatan yang berupa cairan bening. Cairan bening yang
diambil harus tanpa endapan. Hal ini bertujuan untuk mengambil obat yang
bebas dari protein plasma karena obat yang terikat pada protein plasma tidak
akan aktif secara farmakologik sehingga tidak memiliki efek terapeutik atau
dengan kata lain akan dapat menyebabkan data hasil pengamatan tidak valid
(Anggraeni, 2010). Setelah itu, larutan ditambahkan dengan NaNO2 0,1% 0,1 mL
dan didiamkan selama 3 menit. Penambahan NaNO ini bertujuan untuk
menginisiasi reaksi diazotasi. Reaksi diazotasi yaitu pembentukan garam
diazonium yang sangat reaktif. NaNO akan membentuk NaOH dan HNO2
dengan adanya H2O dalam darah. Lalu HNO2 terbentuk akan membentuk ion
nitronium dengan adanya keasaman dari TCA. HNO2 bersifat oksidator, dapat
mengoksidasi senyawa kopling hasil reaksi antara garam diazonium dengan N-1naftil etilen diamin. Sehingga kelebihan HNO2 harus dihilangkan dengan cara
menambahkan 0,2 ml ammonium sulfamat 0,5%. Ammonium sulfamat
merupakan suatu reduktor sehingga dapat bereaksi redoks dengan HNO2 (Hart,
2003).
Setelah itu ditambahkan 0,2 ml N-(1-naftil) etilen diamin 0,1% dan
didiamkan selama 5 menit dalam tempat yang gelap sehingga terbentuk senyawa
kopling yang mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi yang lebih panjang. Lalu
ditempatkan ditempat gelap agar pembentukan warna lebih sempurna. Adanya
cahaya dapat memutus ikatan konjugasinya sehingga ikatannya menjadi lebih
pendek dan tidak dapat dideteksi dengan UV-Vis. Kemudian akan terbentuk
warna pink-keunguan yang menandai adanya reaksi kopling. Mekanisme reaksi
diazotasi dan pembentukan senyawa kopling:

(Siswandono, 2000).

13

Kemudian, semua larutan dari menit ke 5 sampai menit ke 90 dilakukan


pengukuran serapan pada panjang gelombang 546 nm. Diperoleh nilai
absorbansi untuk kelompok 4 pada waktu pengambilan darah menit ke 5, 10, 20,
30, 45, 60 dan 90 berturut-turut adalah 0,306; 0,306; 0,407; 0,267; 0,349; 0,224;
dan 0,388. Dari data absrbansi tersebut diperoleh nilai a = 0,3119, b = 0,000244,
dan R2 = 0,11377. Sehingga diperoleh persamaan regresi linear y = 0,000244x +
0,3119. Nilai R2 yang diperoleh menunjukkan data yang diperoleh memiliki
ketelitian dan presisi yang buruk, karena berdasarkan pustaka nilai R2 yang
sempurna adalah mendekati 1 (Cahyadi, 1985).
Menurut Whitehouse & Paul (1979) dan Annino (1964) Digunakan
panjang gelombang 546 nm karena merupakan panjang gelombang maksimum
untuk senyawa yang terbentuk. Pada panjang gelombang maksimum absorbansi
yang dihasilkan maksimal dan kesalahan pembacaan paling kecil. Hal ini
disebabkan karena pada panjang gelombang maksimal terdapat keseimbangan
antara energi yang dibutuhkan untuk eksitasi dengan energi yang diberikan
untuk eksitasi.
Menurut Pasha dkk (1986), hasil absorbansi yang diperoleh kemudian
digunakan untuk menghitung kadar terukur obat dalam sampel, lalu dihitung
beberapa parameter fisika:
1. Efisiensi
Recovery merupakan tolak ukur efisiensi analisis. Analisis memenuhi
syarat jika recovery berkisar antara 75-90%. Jika diluar rentang kadar
tersebut maka percobaan dianggap kurang efisien.
2. Akurasi
Akurasi dianggap baik jika kesalahan sistematik tidak lebih dari 10%.
Harga

kesalahan

sistematik

menunjukan

kemampuan

metode

ini

memberikan hasil pengukuran sedekat mungkin dengan nilai sebenarnya.


3. Presisi
Presisi dianggap baik jika kesalahan acak tidak lebih dari 10%.
Ketepatan menunjukan hasil pengukuran yang berulang pada sediaan hayati
yang sama.
Setelah dilakukan pembacaan, didapatkan data berupa nilai absorbansi.
Pada percobaan ini, didapat nilai absorbansi pada menit ke 5, 10, 20, 30, 45, 60,
dan 90 berturut-turut sebesar 0,306; 0,306; 0,407; 0,267; 0,349; 0,224; dan

14

0,388. Nilai absorbansi tersebut nilainya naik turun dikarenakan beberapa faktor.
Pada praktikum kali ini hasil aborbansi yang tidak stabil dikarenakan
spektrofotometer yang digunakan kuang stabil. Sedangkan menurut

Shargel

(1985) nilai absorbansi yang tida stabil seringkali disebabkan oleh hal-hal
berikut: (1) Instrumen yang tidak stabil; (2) Variasi suhu; (3) Variasi reagen dan
kalibrasi; (4) Variasi teknik proses pemeriksaan: pipetasi, pencampuran dan
waktu inkubasi; dan (5) Variasi operator /analis.
Dari data tersebut kemudian dimasukkan kedalam persamaan garis kurva
baku y = 0,03669+0,54x

Gambar 1. Kurva baku larutan standar dari hasil percobaan sebelumnya.

Untuk memperoleh nilai Keliminasi dari data darah, langkah pertama


yang dilakukan adalah dengan membuat persamaan regresi linier antara T vs log
C. Setelah diperoleh persamaan, diapat diketahui nilai K dengan memasukkan
nilai b dari regresi dikalikan dengan 2,303. Nilai K yang didapat oleh kelompok
4 sebesar 0,0051; kelompok 1 sebesar 0,01635; kelompok 2 sebesar 0,009971
dan kelompok 3 sebesar -1 (perhitungan diatas). Kurva antara T vs log C untuk
mencari nilai K dapat dilihat pada bagian bawah berikut:

15

Gambar 2. Kurva kalibrasi antara log C dengan waktu (kelompok 4).

Gambar 3. Kurva kalibrasi antara log C dengan waktu (kelompok 1).

Gambar 4. Kurva kalibrasi antara log C dengan waktu (kelompok 2).

Gambar 5. Kurva kalibrasi antara log C dengan waktu (kelompok 3).

Area Under Curve (AUC) adalah permukaan di bawah kurva (grafik)


yang menggambarkan naik turunnya kadar plasma sebagai fungsi dari waktu.
AUC dapat dihitung secara matematis dan merupakan ukuran untuk
bioavailabilitas suatu obat. AUC dapat digunakan untuk membandingkan kadar

16

masing-masing plasma obat bila penentuan kecepatan eliminasinya tidak


mengalami

perubahan.

Selain

itu

antara

kadar

plasma

puncak

dan

bioavailabilitas terdapat hubungan langsung (Tjay dan Rahardja, 2002). Nilai


AUC bukan merupakan jumlah obat yang diabsorpsi, namun menggambarkan
jumlah obat yang diabsorpsi dan masuk kedalam sirkulasi sistemik (Shargel
dkk., 2005).
Setelah dilakukan perhitungan, didapatkan nilai AUC kelompok kami
yakni AUC0-5 = -0,75675 g.menit/ml ; AUC5-10 = -1,5135 g.menit/ml ; AUC1020

= -2,335 g.menit/ml ; AUC20-30 = -2,6719 g.menit/ml ; AUC30-45 = -3,0136

g.menit/ml ; AUC45-60 = -5,24175 g.menit/ml ; AUC60-90 = -9,714 g.menit/ml.


Sehingga nilai AUC total atau AUC0- = -25,2465 g.menit/ml. Hasil percobaan
yang diperoleh, harga AUC total bernilai negatif. Jadi akurasi AUC yang
diperoleh yaitu dibawah 75% dan dikategorikan jauh dari akurasi yang baik,
karena akurasi AUC yang baik terdapat pada rentang 0,70 0,80 (Hakim, 2012).

Gambar 6. Kurva kalibrasi antara waktu dengan log (C-Ct) (kelompok 1).

17

Gambar 7. Kurva kalibrasi antara waktu dengan log (C-Ct) (kelompok 3).

Untuk menghitung nilai K absorbsi diperlukan nilai log (C-Ct), namun


kelompok yang memiliki nilai log (C-Ct) hanya kelompok 1 dan 3. Hal ini
dikarenakan nilai (C-Ct) yang diperoleh kelompok 2 dan 4 semuanya bernilai
negatif, nilai yang negatif tersebut tidak dapat diperoleh nilai log-nya. Jika dicari
penyebab kesalahannya dengan melihat perhitungan dari awal, maka letak
kesalahan terdapat pada bagian data antara konsentrasi dengan absorbansi pada
larutan baku yang datanya diperoleh dari praktikum selanjutnya. Padahal,
praktikum sebelumnya menghasilkan data yang absorbansinya dibawah rentang
0,2-0,8 (rentang yang dianjurkan untuk absorbansi) dan nilainya fluktuatif. Hal
inilah yang menyebabkan perhitungan selanjutnya pun menjadi salah. Selain itu,
pada praktikum ini masih digunakan alat spektrofotometer UV yang mungkin
belum dikalibrasi sehingga alat spektrofotometer menjadi penyebab kesalahan
sistemik kembali yang terjadi pada praktikum ini.
Setelah diperoleh kadar obat, dihitung kesalahan acak pada masingmasing pengukuran. Kesalahan acak yang ditunjukkan dengan besarnya nilai
koefisien variansi (CV) merupakan suatu parameter presisi atau ketepatan
pengukuran yang menunjukkan kedekatan hasil-hasil pengukuran secara
berulang pada cuplikan hayati yang sama. Kesalahan acak atau disebut juga
kesalahan yang tidak tergantung (indeterminate error) merupakan kesalahan
yang nilainya tidak dapat diramalakan dan tidak ada aturan yang mengaturnya,
serta nilainya berfluktuasi. Kesalahan acak merupakan jenis kesalahan yang
selalu terjadi sebagai akibat adanaya sedikit variasi yang tidak dapat dikontrol
dalam pelaksanaan prosedur (Gandjar, 2007).
Menurut Musyaffa (2008), kesalahan acak menunjukkan tingkat
ketelitian (presisi) pemeriksaan. Kesalahan acak akan tampak pada
pemeriksaan yang dilakukan berulang pada spesimen yang sama dan hasilnya
bervariasi, kadang-kadang lebih besar, kadang-kadang lebih kecil dari nilai
seharusnya. Kesalahan acak harus kecil dan tidak ada prosedur yang akan
mengkompensasi atau mengurangi setiap satu kesalahan pun. Ukuran dan

18

tanda-tanda kesalahan acak cukup tak terduga. Meskipun perilaku dari setiap
pengamatan yang tidak dapat diprediksi perilaku sekelompok kesalahan acak
diprediksi dan semakin besar kelompok yang lebih diprediksi perilakunya. Ini
adalah dasar dari banyak kualitas penilaian produk survei.
Nilai kesalahan acak yang diperoleh pada menit ke 5, 10, 20, 30, 45, 60,
dan 90 berturut-turut yaitu 50,40 %, 42,33 %; 37,78%; 38,20%; 35,15%;
30,89%; dan 23,73%. Hasil tersebut tidak sesuai dengan nilai kesalahan acak
yang menurut Pasha dkk (1986) bahwa pengukuran presisi yang baik adalah
kurang dari 10%.

VI.

KESIMPULAN
Metode yang digunakan untuk penentuan kadar sufadiazin dalam darah

yaitu menggunakan metode Bratton Marshall.


Absorbansi sampel yang diperoleh kelompok kami pada menit ke 5, 10, 20,
30, 45, 60, dan 90 berturut-turut ialah 0,306; 0,306; 0,407; 0,267; 0,349;
0,224; dan 0,388. Sedangkan nilai AUC yang diperoleh pada menit ke 5, 10,
20, 30, 45, 60, dan 90 berturut-turut yaitu sebesar -0,75675; -1,5135; -2,335;
-2,6719; -3,0136; -5,24175; dan -9,714.

19

VII.

DAFTAR PUSTAKA
Anief, M. 2002. Perjalanandan Nasib Obat dalam Badan. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Annino, J. S. 1964. An Observation Concerning the Bratton-Marshall Diazo
Reaction in Sulfonamide-Free Urine. Massachussetts Memorial Hospital:
370-371.
Anonim. 2012. Manual Prosedur Pengambilan Darah, Perlakuan, dan Injeksi
pada Hewan

Coba.

Malang:

Laboratorium

Biosains

Universitas

Brawijaya.
Cahyadi, Yeyet. 1985. Pengantar Farmakokinetika. Bandung: Cermin Dunia
Kedokteran.
Elisa. 2013. Analisis

Obat

Dalam

Berbagal Sampel Biologis. www.elisa-

ugm.ac.id Diakses tanggal 3 Juni 2016.


Galichet, L. Y. 2005. Clarke's Analysis of Drugs and Poisons 3rd Edition. USA:
Pharmaceuutical Press.
Gandjar, I. G. Dan Rohman, A., 2015. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Gandjar, I. G. Dan Rohman, A., 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
George CF. 1983. Drug Kinetics and Hepatic Blood Flow. Dalam M Gibaldi & L
Prescott (eds) Handboook of Clinical Pharmacokinetics. New York: ADIS
Health Science Press.
Hakim, L. 2014. Farmakokinetik. Yogyakarta: Bursa Ilmu.
Hart, H. 2003. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.

20

Lacy, C. F., L. L. Armstrong, M. P. Goldman dan L. L. Lance. 2005. Drug


Information Handbook Edisi 13. USA: Lexi Comp Inc.
Mutschler, E. 1991. Dinamika Obat : Buku Ajar Farmakologi dan Toksikologi.
Bandung: ITB.
Pasha. 1986. Penaelitian Pendahuluan Kandungan Benalu Teh (Scurrula
artopurpurea (BL) Danser). Simposium Penelitian Tumbuhan Obat.
Surabaya.
Priyanto. 2008. Farmakologi Dasar Edisi II. Depok: Leskonfi.
Ritschel, W. A., 1976, Handbook of Basic Pharmacokinetics, 1st ed., 78. USA:
Drug Intelegence Publication Inc.
Shargel, Leon dan Andrew B. C. Yu. 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetika
Terapan. Surabaya: Airlangga University Press.
Shargel, Leon dan Andrew B. C. Yu. 2012. Biofarmasetika dan Farmakokinetika
Terapan. Surabaya: Airlangga University Press.
Siswandono, Bambang Sukarjo. 2000. Kimia Medisinal. Surabaya: Airlangga
University Press.
Smith, R. &Steavary. 1981. Textbook of Biopharmaceutics Analysis A
Description of Methods for The Determination of Drug in Biological
Fluid, 80. Philladelphia: Les &Febiger.
Tjay, T.H., dan Rahardja, K. 2002. Obat-Obat Penting Edisi Kelima. Jakarta: PT.
Elex Media Komputindo.
Underwood, A. L. and R.A. Day. 1980. Quantitative Analysis. 4th Edition.
Prentice-Hall. Inc
Whitehouse, L. W., dan C. J. Paul. 1979. A Semi-automated Bratton-Marshall
Micromethod for Determining Acetylator Phenotype of Rabbit Using The
Abbott Biochromatic Analyzer-100. Journal Clin. Chem, 1(1): 533-536.
Yokozawa, T., T. Nakagawa dan K. Kitani. 2002. Antioxidative activity of green
tea polyphenol in colesterol-fed rats. Journal of Agriculture and Food
Chemistry, 50:3549-53

Ketua kelompok,

21

Katarina (G1F014061)
VIII.

LAMPIRAN
1. Bagaimana cara pengambilan sampel darah pada tikus?
Jawab :
Terdapat 4 lokasi pengambilan darah pada tikus, yaitu sinus orbitalis
mata, vena lateralis pada ekor, vena saphena kaki dan intrakardial.
Pengambilan darah melalui mata tikus, tikus dipegang dan dijepit
bagian tengkuk dengan jari tangan. Setelah itu tikus dikondisikan
senyaman mungkin. Kemudian, mikrohematokrit digoreskan pada
medial canthus mata dibawah bola mata ke arah foramen opticus.
Kemudian mikrohematokrit diputar sampai melukai plexus, jika diputar
5x maka harus dikembalikan 5x. Darah ditampung pada eppendorf yang
telah diberi EDTA untuk tujuan pengambilan plasma darah dan tanpa
EDTA untuk tujuan pengambilan serumnya, bisa juga dengan

penambahan heparin sebagai antikoagulan (Yokozawa, 2002).


Pengambilan darah dari ekor tikus dilakukan dengan cara yang pertama,
tikus dimasukkan dalam selongsong yang sesuai ukurannya tubuh tikus.
Ekor tikus dijulurkan keluar dan Vena lateralis pada ekor di Incis
(dipotong) 0,2 2 cm dari pangkal ekor dengan silet atau gunting yang
steril. Darah ditampung pada eppendorf, kemudian diletakkan miring
45 dan dibiarkan mengendap pada suhu kamar, selanjutnya dilakukan
sentrifugasi untuk mendapatkan serum yang dimaksud (Anonim, 2012).

2. Jelaskan prinsip dan bagaimanakah reaksi penetapan kadar sulfadiazin


dalam darah?
Jawab:
Kadar sulfametoksazol pada cairan biologis tikus diuji menggunakan
metode

Bratton-Marshall.

Reaksi

diazotasi

Bratton-Marshall

telah

digunakan secara umum untuk penetapan kadar senyawa - senyawa yang


mengandung gugus amina aromatis seperti sulfadiazin, metode BrattonMarshall sampai saat ini ddan paling baik untuk menentukan senyawa
turunan sulfonamid seperti sulfametoksazol. Prinsipnya membentuk reaks
kopling yang kemudian diamati pada panjang gelombang maksimum.

22

Karena pada panjang gelombang maksimum ini kepekaandan ketelitian


tinggi (Underwood, 1980).
3. Mengapa pada percobaan ini dilakukan recovery dan apa tujuannya?
Jawab:
Nilai perolehan kembali (recovery) merupakan parameter atau tolak ukur
efisiensi analisis yang menggambarkan akurasi (ketelitian) metode yang
digunakan. Ketelitian ditunjukan oleh kemampuan metode memberikan
hasil pengukuran sedekat mungkin dengan nilai sesungguhnya (true value).
Ini dapat diketahui dari harga

perolehan kembali (recovery) yang

dinyatakan sebagai % error (harga sesungguhnya dikurangi harga uji dibagi


harga sesungguhnya, dikali 100%). Perolehan kembali merupakan tolok
ukur efisiensi analisis sehingga dengan melakukan perhitungan recovery,
dapat diketahui apakah suatu metode merupakan metode yang efisien dan
akurat (Hakim, 2014; Pasha, 1986).
4. Jelaskan secara ringkas pentingnya pKa suatu obat, pH tempat pemakaian
dan koefisien partisi lipid/air untuk absorbsi obat melalui difusi pasif!
Jawab:
Difusi pasif menyangkut senyawa yang larut dalam komponen penyusun
membran. Penembusan terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi atau
elektrokimia tanpa memerlukan energi sehingga mencapai keseimbangan
dikedua

sisi

membran.

Waktu

yang

diperlukan

untuk

mencapai

keseimbangan tersebut mengikuti hukum difusi Fick (Syukri, 2002).


Koefisien partisi menggambarkan rasio pendistribusian obat ke dalam
pelarut sistem dua fase, yaitu pelarut organik dan air. Bila molekul semakin
larut lemak, maka koefisien partisinya semakin besar dan difusi trans
membran terjadi lebih mudah. Bila koefisien partisi sangat tinggi ataupun
sangat rendah maka hal tersebut merupakan hambatan pada proses difusi zat
aktif (Ansel, 1989).
5. Alasan apa untuk fakta bahwa beberapa obat tersedia untuk rute pemakaian
yang berbeda?
Jawab:
Pemilihan rute pemberian obat tergantung dari tujuan terapi, sifat
obatnya serta kondisi pasien. Oleh sebab itu perlu mempertimbangkan
masalah-masalah seperti berikut:
23

Tujuan terapi menghendaki efek lokal atau efek sistemik


Stabilitas obat di dalam lambung atau usus
Keamanan relatif dalam penggunaan melalui bermacam-macaam rute
Harga obat yang relatif ekkonomis dalam penyediaan obat melalui

bermacam-macam rute
Kemampuan pasien menelan obat melalui oral
(Priyanto, 2008).

24

Anda mungkin juga menyukai