Anda di halaman 1dari 40

Budidaya udang Vaname merupakan bisnis yang menjanjikan.

Udang Vaname adalah


udang yang tinggal di kawasan sub-tropis. Udang ekspor ini jika dibudidayakan di Indonesia
memiliki prospek yang bagus. Banyak kelebihan yang dimiliki udang Vaname. Daging yang
empuk dan enak, proses budidaya yang relatif cepat. Dengan demikian keuntungan akan
semakin cepat didapatkan. Dan perputaran modalpun semakin cepat.
Berikut probisnis.NET berikan estimasi biaya usaha budidaya udang Vaname untuk Anda
yang ingin memulai berbisnis budidaya udang Vaname.

Pembibitan udang Vaname dalam 2 minggu menggunakan 3


kolam
Modal Tempat dan Alat
Lahan
kolam
Blower..
Peralatan suplai oksigen kolam

Rp
Rp 7.000.000 x 3 = Rp 21.000.000
Rp 4.500.000
Rp 5.000.000

Modal/ Biaya
Harga telur udang vaname 1juta telur
Ambil 2,5juta telur maka..
Pakan flek.
Tenaga kerja/panen..

Rp 650.000
Rp 1.625.000 x 3 (kolam) = Rp 4.875.000
Rp 1.500.000
Rp 750.000

TOTAL = Rp 37.625.000 (belum lahan)

Keuntungan budidaya udang Vaname dengan hasil produksi


per 2 minggu
Per kolam menghasilkan 900.000 anakan udang Vaname PL maka pada 3 kolam = 900.000
x 3= 2,7juta.
Harga anakan Udang Vaname per PL Rp 12 maka = Rp 12 x 2,7juta = Rp 32.400.000
Catatan untuk hasil maksimal: kolam anakan Vaname harus bersih dan oksigen terjaga
24jam. Jaga kolam dari suhu ekstrim seperti panas ekstrim atau hujan deras. Bisa ditutup
dengan terpal dsb. Cek ph dan kadar garam secara rutin. Yang terpenting dalam budidaya
udang vaname adalah perawatannya. Jika perawatannya baik dan sehat maka udang
Vaname sendiri juga akan tumbuh sehat dan maksimal. Tentunya hal tersebut akan
memengaruhi pendapatan Anda.

Laut adalah asin, tapi bagaimanakah perbedaannya dari danau atau muara? Salinitas adalah
'keasinan' dari badan air, dan menggambarkan faktor ini membantu kita memahami kondisi
lingkungan dan organisme yang dapat ditemukan di sana.

Pengertian
Jika Anda punya pilihan air minum dari wastafel Anda versus dari laut, Anda mungkin akan
memilih keran. Mengapa? Karena air laut sangat asin, tentu saja. Konsentrasi garam terlarut
dalam volume tertentu air disebut salinitas.
Salinitas adalah baik dinyatakan dalam gram garam per kilogram air, atau dalam bagian per
seribu (ppt atau ). Sebagai contoh, jika Anda memiliki 1 gram garam, dan 1.000 gram air,
salinitas Anda adalah 1 g / kg, atau 1 ppt.
Air tawar memiliki sedikit garam, biasanya kurang dari 0,5 ppt. Air dengan salinitas 0,5-17 ppt
disebut air payau, yang ditemukan di muara sungai dan rawa-rawa garam pantai. Tergantung
pada lokasi dan sumber air tawar, beberapa muara dapat memiliki salinitas setinggi 30 ppt.
Air laut rata-rata 35 ppt, tetapi dapat berkisar antara 30 40 ppt. Hal ini terjadi karena
perbedaan penguapan, curah hujan, pembekuan, dan limpasan air tawar dari tanah di lintang
dan lokasi yang berbeda. Salinitas air laut juga bervariasi dengan kedalaman air karena massa
jenis air dan tekanan meningkat dengan kedalaman. Air dengan salinitas di atas 50 ppt adalah
air asin, meskipun tidak banyak organisme bisa bertahan dalam konsentrasi garam yang tinggi.

Regulasi osmosis
Pernahkah Anda memperhatikan bahwa ketika Anda makan sesuatu yang asin Anda bisa
sangat haus? Hal ini disebabkan proses penting dalam tubuh yang disebut osmosis. Osmosis
adalah perpindahan air melalui membran semipermeabel (seperti kulit dan membran sel) dari
daerah dengan konsentrasi rendah zat terlarut (zat terlarut) ke area dengan konsentrasi tinggi.
Osmosis terjadi pada sel-sel Anda karena mereka perlu menjaga keseimbangan tertentu air dan
zat terlarut. Jika sel kehilangan terlalu banyak air akan mengalami dehidrasi dan mati, tetapi jika
mengambil terlalu banyak air itu akan membengkak dan meledak.
Apa yang terjadi ketika Anda makan sesuatu yang asin adalah tubuh Anda mencoba untuk
menyingkirkan garam tambahan Anda baru saja mengambil masuk Melalui osmosis, air akan
pindah ke mana ada banyak garam, membersihkan mereka keluar. Namun, jika Anda tidak
menyerap air yang baru, tubuh Anda hanya kehilangan air yang mencoba untuk mendorong

ekstra garam dan Anda mengalami dehidrasi. Menjadi haus adalah cara tubuh Anda
pensinyalan bahwa Anda perlu minum lebih banyak air untuk mengisi cairan tersebut yang
hilang.

Kehidupan laut
Mempertahankan dalam jumlah tepat garam dan air tidak terlalu sulit bagi Anda, karena Anda
hanya bisa minum lebih banyak air. Ini jauh lebih sulit bagi organisme laut karena mereka hidup
di air yang memiliki konsentrasi yang sangat tinggi garam dan zat terlarut lainnya.
Banyak hewan laut hanya mengalir bersama arus tubuh mereka adalah permeabel untuk
kedua garam dan air, sehingga konsentrasi zat terlarut dalam cairan tubuh mereka berubah
bersama air sekitarnya. Hewan ini disebut Osmokonformer. Ubur-ubur dan anemon laut adalah
contoh Osmokonformer.
Namun, ada hewan laut lainnya yang mampu secara aktif mengontrol konsentrasi garam dalam
tubuh mereka. Ini adalah osmoregulators, dan ada berbagai cara agar mereka mengatur jumlah
garam dalam cairan tubuh mereka. Sebagai contoh, beberapa osmoregulators seperti beberapa
kepiting dan ikan mampu mempertahankan konsentrasi garam yang sesuai dalam tubuh
mereka dengan aktif menyerap garam melalui insang mereka. Osmoregulators lain telah
diadaptasi untuk memiliki kulit yang kurang permeabel, yang menurunkan jumlah pertukaran air.

Pengaruh
Sementara banyak organisme laut yang mampu menahan perubahan salinitas dengan baik
mengatur atau menyesuaikan diri, mereka masih terikat dengan rentang dapat ditoleransi. Jika
Anda menempatkan kepiting laut di air tawar, itu tidak akan bertahan karena itu membutuhkan
jumlah minimum salinitas untuk menyediakan garam untuk cairan tubuhnya. Hal yang sama
berlaku untuk ikan air tawar memasukkannya ke dalam laut dan dengan cepat akan mati
karena hanya bisa mengatur begitu banyak.
Tanaman juga secara khusus disesuaikan dengan salinitas tertentu. Banyak tanaman tidak
dapat tumbuh di daerah pesisir karena angin membawa garam dari lautan dan membawanya di
darat. Ada beberapa tanaman yang dapat hidup di dekat pantai pesisir, serta dalam perairan
yang sangat salin. Sebagai contoh, mangrove adalah tanaman yang tumbuh sangat baik di
lingkungan muara. Mereka memiliki kelenjar khusus yang mengeluarkan garam melalui daun
mereka, yang memungkinkan mereka untuk menyerap air asin tersebut dan masih bertahan.
Salinitas juga memainkan peran dalam kondisi iklim global. Ingat dari sebelumnya salinitas
yang bervariasi dengan suhu air dan kedalaman? Variasi salinitas adalah mereka bertanggung
jawab tenggelamnya dan meningkatnya massa air yang besar, yang mendorong sirkulasi laut

secara keseluruhan di Bumi. Sirkulasi ini adalah apa yang membuat Inggris begitu hangat dan
Pantai Pasifik Amerika Serikat begitu dingin.

Ringkasan
Beberapa tanaman dan hewan yang mampu mengendalikan kadar garam tubuh mereka,
sementara yang lain berubah seiring dengan air. Namun, karena angin dapat membawa garam
ke tanah, salinitas juga merupakan faktor penting untuk tanaman dan hewan darat di wilayah
pesisir. Salinitas tidak hanya menentukan di mana Anda akan menemukan organisme tertentu,
tetapi juga mempengaruhi arus laut keseluruhan bumi dan pola cuaca.

Udang Vannamei, Peluang Bisnis Besar


Sambut MEA
MEA atau Masyarakat Ekonomi ASEAN adalah sebuah konsep pasar bebas antar negara-negara di
kawasan Asia Tenggara yang diberlakukan pada tahun 2015 ini. Pasar bebas yang merupakan salah
satu perwujudan AFTA (ASEAN Free Trade Area) ini tentu akan membuat persaingan menjadi ketat.
Mengapa? Karena orang-orang dari negara tetangga ini akan bebas masuk ke Indonesia untuk
menjual barang, jasa atau keahliannya.
Masuknya orang-orang dari negara tetangga ini nantinya akan otomatis menciptakan sebuah
persaingan dengan orang-orang penduduk setempat termasuk kita sendiri. Maka jelang MEA ini
pemerintah Indonesia kini sedang mempersiapkan segala sesuatunya agar Indonesia dapat bersaing
dengan negara-negara di Asia tenggara.

Salah satu bidang usaha yang sedang dilakukan adalah mengembangkan budidaya Udang Vannamei,
salah satu varietas udang yang diyakini cocok untuk komoditas bisnis di pasar MEA. Lalu seperti
apakah Udang Vannamei dan potensinya dipasar Asia tenggara ini sendiri? Berikut ulasannya.
Artikel lain: 3 Alasan Mengapa Bisnis Anda Harus Go Online

Mengenal Udang Vannamei Dan Keunggulannya


Udang Vannamei (Litopenaeus Vannamei) adalah salah satu jenis udang introduksi yang berasal
dari Pantai Pasifik Barat Amerika Latin yang kemudian meluas ke Asia dan diperkenalkan di
Indonesia pada tahun 2001. Udang yang dikenal sebagai udang putih ini kini telah menjelma
sebagai komoditas yang potesial dihampir seluruh wilayah Inonesia.
Bagaimana tidak, udang yang banyak dibilang punya protein tinggi dan rasa daging yang gurih ini
sangat digemari oleh masyarakat dalam negeri dan luar negeri. Maka tak ayal ekspor Udang
Vannamei selalu meningkat dari tahun ke tahun.
Apa yang membuat bisnis Udang Vannamei ini begitu laris manis dan menguntungkan? Udang asal
Panama ini memilki kelebihan pada tingkat adaptasi yang baik yang membuat kemungkinan udang
mati menjadi kecil. Jika demikian karena kelengsungan hidup Udang Vannamei ini cukup tinggi
maka peternak akan terhidar dari kerugian yang besar.

Selain itu, panen Udang Vannamei ini cukup cepat karena udang ini memiliki laju pertumbuhan
yang cepat pada bulan pertama dan kedua dari nafsu makan yang tinggi. Bayangkan saja, hanya
dalam tempo 15 hari, sejak tebar telur, Udang Vannamei sudah berukuran PL 6 atau post larva
yang siap untuk dipanen dan dijual pada petani pembesaran udang vaname. Itulah beberapa
kelebihan udang vaname yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam menghadapai pasar
MEA ini.

Prospek Pasar Bisnis Udang Vannamei


Dari beberapa keunggulan udang vaname tadi, pasar pun kemudian meresponnya dengan baik.
Bagaimana tidak, dengan kualitas yang dimiliki serta harga yang terjangkau dan stabil membuat
udang vaname selalu menjadi pilihan istimewa bagi penjual dan pembelinya. Tidak hanya pasar
dalam negeri, udang vaname produksi Indonesia ini kini juga telah menjadi komoditas favorit
untuk sajian restoran berkelas di luar negeri.

Pilihan Bisnis Udang Vannamei


Dalam bisnis Udang Vannamei dibagian hulu setidaknya ada tiga pilihan usaha yang bisa diambil
yaitu usaha pembibitan udang, pembesaran udang dan menjalankan keduanya. Kedua bisnis ini
mempunyai kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri.
Seperti usaha pembibitan yang memiliki kelebihan pada minimnya modal yang dikeluarkan, namun
ada kekurangannya pada sulitnya mengurus anakan udang dan kecilnya keuntungan yang didapat.
Jika Anda punya modal yang besar, Anda bisa menjalankan usaha pembesaran bibit atau bisa juga
menjalankan dua-duanya, yaitu pembibitan dan pembesaran udang. Dengan usaha pembesaran
atau pebibitan dan pembesaran, Anda akan memperoleh keuntungan yang lebih besar lagi.
Satu keuntungan lagi yang bisa didapat dari usaha pembesaran Udang Vannamei adalah faktor
pemasaran yang mudah karena saat panen para tengkulak besar, Anda tak perlu sudah-sudah
mencari pembeli karena saat panen sudah akan ada tengkulak besar yang siap membeli udang
Anda.
Baca juga: Industri Kreatif : Memulai Bisnis Kerajinan Tangan Berkonsep Craft Indie

Teknologi Supra Intensif dan Tantangannya


Teknologi supra intensif yang kini populer digunakan peternak untuk mempercepat panen udang
vaname mendapatkan tantangannya tersendiri. Meski sangat efektif, teknologi ini cukup sulit
untuk dipraktekkan. Maka dari itu diperlukan sebuah pembelajaran khusus untuk bisa kemudian
diterapkan pada bisnis udang vaname.

Selain tantangan pada teknologi, yang juga harus diketahui peternak adalah bahwa budidaya
udang vaname ini tergolong cukup rumit karena perlu ketelitian dalam mengembangbiakkannya,
seperti pada pemberian makannya yang dibutuhkan waktu 1 X 21 jam.

Asal Usul Udang Vaname di


Indonesia
Udang vaname atau biasa juga disebut udang vannamei (Litopenaeus vannamei) merupakan udang
introduksi. Habitat asli udang ini adalah di perairan pantai dan laut yang ada di Pantai Pasifik Barat
Amerika Latin. Pertama kali udang ini diperkenalkan di Tahiti pada awal tahun 1970, tetapi hanya
sebatas pada penelitian tentang potensi yang dimiliki oleh udang tersebut. Lalu selanjutnya untuk
pengembangan budidaya yang intensif di lakukan di Hawaii (Barat Pantai Pasifik), Teluk Meksiko
(Texas), Balize, Nikaragua, Kolombia, Venezuela dan di Brazil pada akhir 1970an.
Udang ini kemudian diimpor oleh negara-negara pembudidaya udang di Asia, seperti China (1988),
India (2001), Thailand (1988), Bangladesh, Vietnam (2000), dan Malaysia (2001), Filipina (1997).
Dalam perkembangan berikutnya, Indonesia juga memasukkan udang vaname sebagai salah satu
jenis udang budi daya tambak, selain udang windu (Penaeus monodon) dan udang putih/udang
njerebung (Penaeus merguiensis)
Beberapa catatan juga menyebutkan bahwa udang vaname yang masuk ke Indonesia sebagian
berasal dari Nikaragua dan sebagian lagi berasal dari Meksiko. Pada awalnya pemerintah memberi
izin bagi dua perusahaan untuk mengimpor udang vaname sebanyak 2.000 ekor induk dan 5 juta
ekor benur dari Hawaii dan Taiwan, pada saat itu pemerintah juga memberikan izin untuk
mengimpor lagi 300 ribu ekor benur dari daerah asalnya di Amerika Latin.
Dalam perkembangannya induk dan benur tersebut kemudian dikembangkan di hatchery yang ada
di Indonesia. Pengembangan intensif tersebut dilakukan di daerah Situbondo dan juga Banyuwangi,
Jawa Timur. Setelah berhasil diternakkan, maka udang vaname tersebut disebarkan untuk
dikembangkan di daerah-daerah lain di seluruh Indonesia.
Udang vaname dimasukkan ke Indonesia karena memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:
bahwa udang ini memiliki ketahanan terhadap penyakit yang cukup baik, lalu juga memiliki laju
pertumbuhan yang cepat (masa pemeliharaannya berkisar 90 100 hari). Selain itu untuk
menghasilkan satu kilogram daging, udang ini memerlukan pakan sebanyak 1,3 kilogram, jumlah
tersebut termasuk angka yang cukup menguntungkan karena nilai FRC-nya termasuk cukup rendah.
Sehingga kita dapat hemat dalam pengeluaran untuk pakan.

Kekurangan dan Kelebihan


Udang Vaname
Tidak sepenuhnya udang vaname memiliki banyak keunggulan jika dibandingkan dengan udang windu, ada
beberapa hal yangsebenarnyamenunjukkan bahwa udang windu lebih unggul jika dibandingkan dengan udang
vaname. Pertama dari segi postur tubuhnya, udang windu memiliki postur tubuh yang lebih besar jika
dibandingkan dengan udang vaname.
Karena postur tubuhnya yang lebih kecil tersebut, maka membuat harga jual dari udang vaname menjadi lebih
rendah jika dibandingkan dengan harga jual udang windu. Selain itu juga pada umumnya untuk harga jual
udang vaname lebih fluktuatif, untukkenaikan dan penurunan harga jualnya dapat terjadi dengan sangat cepat,
sehingga dapat membingungkan para pembudidayanya.
Tetapi selain dari sisi kekurangannya ternyata udang vaname memiliki beberapa keunggulan. Misalkan saja
dalam pertumbuhan normal tingkat kematian dari udang vaname rata-rata mencapai 5 35%, secara
keseluruhan tingkat kematian dalam sekali masa produksi masih terhitung kecil, bila dibandingkan dengan
jumlah secara keseluruhan produksi.
Selain itu udang vaname dapat hidup pada kondisi lingkungan tambak yang sangat padat, untuk
perhitungannya yaitu untuk permeter persegi tambak, dapat diisi dengan 70 ekor udang vaname. Dengan
tingkat kepadatan yang tinggi ini maka kita dapat mengisi tambak kita dengan jumlah yang lebih banyak dalam
areal yang sama.
Untuk urusan pakan udang vaname bukanlah jenis udang yang manja, meskipun kita memberikan pakan
dengan kadar protein yang rendah, udang ini tetap dapat tumbuh dengan baik. Secara logika bahwa dengan
biaya pakan yang lebih rendah tentu ini adalah sebuah keuntungan bagi para peternak, karena dapat melakukan
penghematan dari segi pakan.
Secara keseluruhan proses pembudidayaan udang vaname relatif sama dengan proses budidaya udang windu,
sehingga jika ada petambak udang windu yang ingin beralih untuk memelihara udang vaname secara teknis
tidak akan mengalami banyak kesulitan. Hanya saja dalam waktu pemeliharaannya udang vaname lebih
singkat yaitu sekitar tiga bulan, sedangkan udang windu memerlukan waktu pemeliharaan sekitar empat bulan.

Keunggulan dari Udang Vaname


Hal yang membuat udang vaname menjadi daya tarik yang memikat bagi para pembudidaya, yaitu
terletak pada kemampuan daya tahan tubuhnya dalam menghadapi penyakit yang cukup
tinggi, sehingga tingkat kematiannya rendah. Selain itu udang vaname juga memiliki tingkat
produktifitas yang cukup tinggi.
Udang vaname memiliki kemampuan untuk memanfaatkan seluruh bagian dari tambak, baik itu dari
dasar tambak sampai ke lapisan permukaan. Karena kemampuannya itulah, maka udang vaname
dapat dipelihara di tambak dengan kondisi padat tebar tinggi. Selain kemampuannya dalam
memanfaatkan ruang secara efektif, ternyata udang vaname juga memilki kemampuan untuk dapat
memanfaatkan pakan secara efisien.
Keunggulan lain dari udang vaname adalah kemampuannya untuk matang gonad di dalam tambak.
Karena hal tersebut, maka sangat memudahkan bagi para pembudidaya untuk menyiapkan bakal
indukan dalam usaha pembenihan.
Di Indonesia udang vaname dianggap sebagai varietas unggul karena memiliki beberapa kelebihan,
diantaranya adalah:

Memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap penyakit

Memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat

Memiliki daya tahan yang baik terhadap perubahan kondisi lingkungan.

Waktu untuk pemeliharaanya relatif cukup pendek, yakni berkisar antara 90 sampai 100 hari,
dalam sekali siklus

Memiliki derajat kehidupan yang tergolong tinggi.

Hemat pakan

Perkembangan Budidaya Udang


Vaname di Indonesia
Awal masuknya udang vaname ke Indonesia karena adanya kondisi yang kurang menguntungkan dari
budidaya udang windu. Pada saat itu udang windu mengalami banyak sekali kesulitan akibat dari banyaknya
serangan penyakit. Selain masalah penyakit, pada waktu itu juga ada kasus yang terjadi di Indonesia, tentang
tingginya kandungan residu antibiotika dalam tubuh udang.
Dengan begitu banyaknya masalah yang dihadapi oleh para petambak udang windu di Indonesia maka, secara
langsung dan juga tidak langsung mempengaruhi juga produksi udang windu. Selain dari proses
produksnya, ternyata permasalahan tersebut tidak berhenti sampai disitu, tetapi mulai merambah ke
pemasarannya, terutama untuk keperluan pasar ekspor.
Karena berbagai masalah tersebut belum ditangani secara tuntas, maka banyak pembudidaya udang windu
yang mulai mencoba untuk beralih ke komoditi yang lain. Salah satu alternatif yang dipilih oleh para
pembudidaya adalah untuk mencoba mengembangkan udang vaname.
Pada saat Indonesia mulai membudidayakan udang vaname, ternyata banyak negara lain yang juga sedang
memulai untuk membudidayakan udang vaname. Negara yang mengembangkan udang vaname pada waktu itu
adalah Thailand, China, Brasil, Ekuador, Meksiko, dan beberapa negara lain di Amerika Latin.
Fenomena yang terjadi pada saat itu, yaitu banyak negara yang mulai membudidayakan udang vaname, dalam
waktu yang hampir bersamaan. Kemungkinan karena adanya permasalahan yang sama, yang dihadapi oleh
masing-masing negara tersebut. Permasalahannya kurang lebih sama seperti yang dihadapi oleh bangsa
Indonesia. Sehingga sebagai solusi dari permasalahan tersebut, maka negara-negara itu mulai mengganti
komoditi udang windu mereka dengan udang vaname.
Sampai saat ini negera-negara tersebut masih tercatat sebagai negara produsen udang vaname utama dunia.
Sementara untuk negara Malaysia dan Brunei Darusalam adalah negara terdekat Indonesia yang berhasil
membudidayakan udang vaname. Bahkan kedua negara tersebut telah membudidayakan udang vaname sejak
tahun 1999.

Klasifikasi Ilmiah Udang Vaname


Secara Internasional, udang vaname dalam dunia perdagangan dikenal sebagai White leg
shrimp atau Western white shrimp atauPasific white leg shirmp. Untuk di Indonesia sendiri lebih

dikenal sebagai udang Vaname atau Vannamei atau udang kaki putih, tetapi ada juga peternak
tambak yang menyebut udang ini sebagai Udang Putih dari Amerika, hal ini karena udang vaname
berasal dari benua Amerika.
Secara ilmiah udang vaname menyandang nama ilmiah Litopenaeus vannamei. Udang ini termasuk
dalam golongan crustaceae(udang-udangan), dan dikelompokkan sebagai udang laut atau
udang penaide bersama dengan jenis udang lainnya seperti udang windu (Penaeus monodon),
udang putih atau udang jrebug (Penaeus merguensis), udang werus atau udang dogol
(Metapenaeus spp.), udang jari (Penaeus indicus), dan udang kembang (Penaeus semisulkatus).
Penggolongan udang vaname secara lengkap berdasarkan ilmu taksonomi hewan (sistem
pengelompokan hewan berdasarkan bentuk tubuh dan sifat-sifatnya), dapat dijelaskan sebagai
berikut:
Filum

: Arthopoda

Kelas

: Crustacea

Ordo

: Decapoda

Famili

: Penaidae

Genus/Marga : Litopenaeus
Species/Jenis

: Litopenaeus vannamei

AMBAK UDANG VANAME, TEBAR TINGGI VS TEBAR RENDAH

Dalam dunia tambak udang vaname,khususnya


denganpolaintensif,kitadihadapkanpadaduapilihantarget.
TargetpertamaadalahuntukmencapaiTonaseyangbesardari
populasiyangbanyakataumencapaitonaseyangtidakterlalu
besarnamundenganpopulasiudangyangsedikitartinyaukuran
udanglebihbesar.

Masingmasing pola di atas mempunyai kelebihan dan


kekurangansendiri,yaitu:

PadatTebarTinggi

kelebihan: jumlah udang banyak, jika jumlah udang


yanghiduptinggi,peluangmendapatkantonaseyangtinggijuga

besar meskipun ukuran udang tidak terlalu besar. Misalnya


denganjumlahtebar200ribuekorperhektardanjumlahudang
hidup120ribuekor(SR60%),denganukuranhanya100ekor
perkg(size100)makasudahmendapatkanbiomaspanen600
kg.
kekurangan :dengan padat tebar tinggi, memerlukan
konsekuensitingginyabiayaproduksi,yangmeliputipembelian
benur, pemakaian kincir juga harus non stop sehingga biaya
listrik atau bbm untuk diesel juga tinggi, pengawasan lebih
intensif.
PadatTebarRendah
kelebihan:tidakmemerlukabiayaproduksiyangtinggi,
karena pemakaian pakan menjadi lebih rendah, pada waktu
siangharikincirbisadimatikansehinggamenghematlistrikatau
bbm,jikaterjadikegagalanmakakerugiantidakterlalubesar.
Dalamhalproduktivitasbisamenghasilkanhasilpanendengan
sizekecil(ukuranudangbesar)karenaruanghidupudangyang
lebihluas.
kekurangan:jikaSRrendah,makatidakbisamendapatkan
panenyangekonomissehinggasecaraperhitunganwaktukita
rugi.
Fenomenadalamduniatambak udangsekaranginiadalah
banyakpetambakyanglebihmemilihberbudidayadenganpadat
tebarrendah,karenakebanyakanmengalamiketerbatasandalam
halmodalkerja,dansemakinmenurunnyakualitaslingkungan
yang ditandai dengan mulai munculnya beberapa penyakit.
Denganpadattebarrendahjugamengurangiresikokegagalan
danotomatismencegahterjadinyakerugianyangbesar.

Beberapapetambak udangdipantaiselatanYogyakarta,
bisapanendengansize4560denganpadattebar4060ekor
perm2bisamendapatkankeuntunganyangsamaataubahkan
lebih tinggi daripada padat tebar 100 ekor keatas. Apalagi
ditunjang dengan pemakaianpupukdansuplemen
nutrisidari NASA yang sudah terbukti meningkatkan
produktivitashasilpanentambak udang.
Mengingatbudidayatambak udangintensifhampirsama
dengan berjudi, maka dengan padat tebar rendah maka uang
yang dipertaruhkan lebih kecil namun hasil yang didapatkan
relatifsamabahkanbisalebihtinggi.Halinilahyangsaatini
menjaditrenddipetambakpantaiselatanYogyakarta.
Demikian sekilas mengenai pilihan untuk menentukan padat
tebardalambudidaya tambak udang vaname.

Cara Budidaya Udang Vaname Dengan Pola Traditional


Plus
o

SUKA ARTIKEL INI?

Retweet Link Ini

Bagikan di Facebook

UDANG VANNAMEI (litopenaeus vannamei) atau sering disebut udang vaname adalah salah satu jenis udang
introduksi yang belakangan ini banyak diminati untuk dibudidayakan karena potensinya yang sangat baik, memiliki
keunggulan seperti tahan penyakit, pertumbuhannya cepat (masa pemeliharaan 100-110 hari), sintasan selama
pemeliharaan tinggi dan nilai konversi pakan (FCR-nya) rendah (1:1,3). Namun dimikian pembudidaya udang yang
modalnya terbatas masih menggangap bahwa udang vannamei hanya dapat dibudidayakan secara intensif.
Anggapan tersebut ternyata tidalah sepenuhnya benar, karena hasil kajian menunjukan bahwa vannamei juga dapat
diproduksi dengan pola tradisional. Bahkan dengan pola tradisional petambak dapat menghasilkan ukuran panen
yang lebih besar sehingga harga per kilo gramnya menjadi lebih mahal.Teknologi yang tersedia saat ini masih untuk
pola intensif dan semiintensif, pada hal luas areal pertambakan di indonesia yang mencapai sekitar 360.000 ha, 80%
digarap oleh petambak yang kurang mampu. Informasi teknologi pola tradisional plus untuk budi daya udang
vannamei sampai saat ini masih sangat terbatas. Diharapkan dengan adanya brosur ini dapat menambah wawasan
pengguna dalam mengembangkanbudi daya udang vannamei pola tradisional plus.

PERSIAPAN TAMBAK
1.

Pengeringan/pengolahan

tanah

dasar

Air dalam tambak dibuang, ikan-ikan liar diberantas dengan saponin, genangaan air yang masih tersisa dibeberapa
tempat harus di pompa keluar. Selanjutnya yambak dikeringkan sampai retak-retak kalau perlu di balik dangan cara
ditraktor sehingga HS menghilang karena teroksidasi. Pengeringan secara sempurna juga dapat membunuh bakteri
patogen yang yang ada di pelataran tambak.
2.

Pemberantasan

hama

Pemberantasan ikan-ikan dengan sapion 15-20ppm (7,5-10kg/ha) dengan tinggi air tembak 5cm
3.

Pengapungan

dan

pemupukan

Untuk menunjang berbaikan kualitas tanah dan air dilakukan pemberian kapur bakar (CaO), 1000 kg/ha, dan kapur
pertanian sebanyak 320 kg/ha. selanjutnya masukkan air ketambak sehingga tambak menjadi macak-macak
kemudian dilakukan pemupukan dengan pupuk urea (150 kg/ha), pupuk kandang (2000 kg/ha).
4.

Pengisian

air

Pengisian air dilakukan setelah seluruh persiapan dasar tambak telah rampung dan air dimasukkan ke dalam tambak
secara bertahap. Ketinggian air tersebut dibiarkan dalam tambak selama 2-3 minggu sampai kondisi air betul-betul
siap ditebari benih udang. tinggi air di petak pembesaran diupayakan 1,0m.

PENEBARAN
Penebaran benur udang vannamei dilakukan setelah plangton tumbuh baik (7-10 hari) sesudah penumpukan. Benur
vanname yang digunakan adalah PL 10 PL 12 berat awal 0,001g/ekor diperoleh dari hatchery yang telah
mendapatkan rekomendasi bebas patogen, Spesific Pathogen Free (SPF). Kreteria benur vannamei yang baik
adalah mencapai ukuran PL 10 atau organ insangnya telah sempurna, seragam atau rata, tubuh benih dan usus
terlihat jelas, berenang melawan arus.
Sebelum benuh di tebar terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi terhadap suhu dengan cara mengapungkan kantong
yang berisi benuh ditambak dan menyiram dengan perlahan-lahan. Sedangkan aklimatisasi terhadap salinitas
dilakukan dengan membuka kantong dan diberi sedikit demi sedikit air tambak selama 15-20 menit. Selanjutnya
kantong benur dimiringkan dan perlahan-lahan benur vannamei akan keluar dengan sendirinya. Penebaran benur
vannamei dilakukan pada saat siang hari.
Padat penebaran untuk pola tradisional tanpa pakan tambahan dan hanya mengandalkan pupuk susulan 10% dari
pupuk awal adalah 1-7 ekor/m. Sedangkan apabila menggunakan pakan tambahan pada bulan ke dua
pemeliharaan, maka disarankan dengan padat tebar 8-10 ekor/m.

PEMELIHARAAN
Selama pemeliharaan, dilakukan monitoring kualitas air meliputi : suhu, salinitas, transparasi, pH dan kedalaman air
dan oksigen setiap hari. Selain itu, juga dilakukan pemberian pemupukan urea dan TPS susulan setiap 1 minggu
sebanyak 5-10% dari pupuk awal. (urea 150kg/ha) dan hasil fermentasi probiotik yang diberikan seminggu sekali
guna menjaga kestabilan plangton dalam tambak. Pengapuran susulan dengan dolomit super dilakukan apabila pH
berfluktuasi. Pakan diberikan pada hari ke-70 dimana pada saat itu dukungan pakan alami (plangton) sudah
berkurang atau pertumbuhan udang mulai lambat. Dosis pakan yang di berikan 5-2% dari biomassa udang dengan
frekuensi pemberian 3kali /hari yakni 30% pada jam 7.00 dan 16.00 serta 40% pada jam 22.00.Pergantian air yang
pertama kali dilakukan setelah udang berumur >60 hari dengan volume pergantian 10% dari volume total, sedangkan
pada bukan berikutnya hingga panen, volume pergantian air ditingkatkan mencapai 15-20% pada setiap periode
pasang. Sebelum umur pemeliharaan mencapai 60 hari hanya dilakukan penambahan air sebanyak yang hilang
akibat penguapan atau rembesan. Kualitas air yang layak untuk pembesaran vannamei adalah salinitas optimal 1025 ppt (toleransi 50 ppt), suhu 28-31C, oksigen >4ppm, amoniak

PANEN
Panen harus mempertimbangkan aspek harga, pertumbuhan dan kesehatan udang. Panen dilakukan setelah umur
pemeliharaan 100-110 hari. Perlakukan sebelum panen adalah pemberian kapur dolomit sebanyak 80 kg/ha (tinggi
air tambak 1m), dan mempertahankan ketinggian air (tidak ada pergantian air) selama 2-4 hari yang bertujuan agar
udang tidak mengalami molting (ganti kulit) pada saat panen. Selain itu disiapkan peralatan panen berupa keranjang
panen, jaring yang dipasang di puntu air, jala lempar, stiroform, ember, baskom, dan lampu penerangan dilakukan
dengan menurunkan volume air secara gravitasi dan di bantu pengeringan dengan pompa.
Bersamaan dengan aktifitas tersebut juga dilakukan penangkapan udang dengan jala. Sebaiknya panen dilakukan
pada malam hari yang bertujuan untuk mengurangi resiko kerusakan mutu udang, karena udang hasil panen sangat

peka terhadap sinar matahari. Udang hasil tangkapan juga harus di cuci kemudian direndam es, selanjutnya dibawa
ke cold storage. Dengan pola tradisional plus produksi udang vannamei 835-1050 kg/ha/musim tanam dengan
sintasan 60-96%, ukuran panen antara 55-65 ekor/kg.

PEDOMAN BUDIDAYA UDANG JENIS


UDANG WINDU DAN UDANG
VANNAMEI
FEBRUARI 11, 2016 MOSAMANDIRI TINGGALKAN SEBUAH KOMENTAR

daftar isi [lihat]


Budidaya udang mitra MMC Jabar

Budidaya udang Windu (black tiger) di Indonesia baik di jawa maupun luar
jawa pernah mengalami masa jaya pada kisaran tahun 1985-1995. Saat itu
emas hitam berupa udang windu yang dibudidayakan di tamabak benar
benar menjadi tambang emas. Sistem budidaya yang super intensif dan
dilakukan secara terus menerus tanpa ada perlakuan yang lebih bijak
terhadap kondisi lahan menyebabkan penurunan terhadap panen yang
didapat, bahkan sering terjadi gagal panen dalam pembudidayaanya. Udang
Vannamei menggantikan popularitas udang windu, karena petambak beralih
ke udang Vannamei yang bisa menghasilkan keuntungan.
Selain dari aktifitas tambak sendiri juga didukung oleh polusi dari aktifitas
pabrik, limbah kota, dan pencemaran lainnya yang membuat merosotnya
hasil yang didapat. Sering terjadi, para pemodal kuat hanya memanfaatkan
tambak dalam waktu yang singkat, asal mendapatkan keuntungan, awalnya
budidaya dipacu semaksimal mungkin, tapi ketika daya dukung lahan

merosot mereka meninggalkan lahan tersebut dan pindah mencari lahan


baru yang masih bagus.
Sangat disayangkan sebenarnya, lahan yang sudah terpakai hanya ditinggal
begitu saja atau hanya dikelola dengan ala kadarnya, karena jika dilakukaan
seperti sistem awal kemungkinan yang terjadi adalah gagal panen.

Pemilihan Lokasi Tambak


Tempat ideal untuk budidaya tambak udang

Daerah pantai yang masih bersih perairannya, bebas dari polutan misalnya di
pantai barat Sumatra, pantai Selatan Jawa, Sulawesi, NTB, danNTT.

Mudah mendapatkan sarana produksi yaitu benur, pakan, pupuk , obatobatan dan lain-lain

Tekstur tanah yang kuat, liat, liat geluh pasiran

Ada aliran/sumber air tawar

Mudah diakses/transportasinya

Tipe Budidaya
Tipe budidaya tambak udang bila dilihat berdasarkan letak, biaya dan
operasi pelaksanaannya dibedakan menjadi :

Tambak Ekstensif atau tradisional


Petakan tambak biasanya di lahan pasang surut yang umumnya berupa rawa
bakau. Ukuran dan bentuk petakan tidak teratur, belum meggunakan pupuk
dan obat-obatan dan program pakan tidak teratur.

Tambak Semi Intensif


Bentuk petakan teratur tetapi masih berupa petakan yang luas (1-3
ha/petakan), merupakan hamparan terbuka, padat penebaran masih rendah,
penggunaan pakan buatan masih sedikit.

Tambak Intensif
Merupakan kawasan yang luas dengan desain penataan tambak berdasarkan
Blok, Unit, dan Modul. Satu modul biasanya terdiri dari Treatment Pond,
Kanal Pemasukan Air, Beberapa Petak Budidaya, dan kanal Pembuangan.
Ukuran petakan dibuat kecil untuk efisiensi pengelolaan air dan pengawasan
udang. Padat tebar tinggi, sudah menggunakan kincir, serta program pakan
yang baik.

Pengelolaan Tambak/persiapan tambak

Pengelolaan tambak , meliputi :

Pengeringan kolam total

Kolam tambak dikeringkan dan dilakukan perbaikan terutam disisi pematang,


aliran air dasar kolam. Bersihkan hama/ikan liar yang masih ada ditambak,
keringkan dari air. Pengeringan yang dilakukan, semakin kering semakin
baik, untuk menghilangkan hama dan penyakit maupun ikan liar dan
terjadinya pelepasan bahan/senyawa beracun

Pengangkatan lumpur hitam

Setiap budidaya pasti meninggalkan sisa budidaya yang berupa lumpur


organik dari sisa pakan, kotoran udang dan dari udang yang mati. Kotoran
tersebut harus dikeluarkan karena bersifat racun berupa Amonia dan H2S
yang membahayakan udang. Pengeluaran lumpur dapat dilakukan dengan
cara mekanis menggunakan cangkul atau penyedotan dengan pompa
air/alkon.

Pembalikan Tanah

Tanah di dasar tambak perlu dibalik dengan cara dibajak atau dicangkul
untuk membebaskan gas-gas beracun (H2S dan Amoniak) yang terikat pada
pertikel tanah, untuk menggemburkan tanah dan membunuh bibit panyakit
karena terkena sinar matahari/ultra violet.

Pengapuran

Bertujuan untuk menetralkan keasaman tanah dan membunuh bibit-bibit


penyakit. Dilakukan dengan kapur Zeolit dan Dolomit dengan dosis masingmasing 1 ton/ha.

Perlakuan pupuk MMC MINA

Untuk mengembalikan kesuburan lahan serta mempercepat pertumbuhan


pakan alami/plankton dan menetralkan senyawa beracun, lahan perlu diberi
perlakuan MMC MINA dengan dosis 5 botol/ha untuk tambak yang masih baik
atau masih baru dan 10 botol MMC MINAuntuk areal tambak yang sudah
rusak. Caranya masukkan sejumlah MMC MINA ke dalam air, kemudian aduk
hingga larut. Siramkan secara merata ke seluruh areal lahan tambak.

Pemasukan Air

Setelah dibiarkan 3 hari, air dimasukkan ke tambak. Pemasukan air yang


pertama setinggi 10-25 cm dan biarkan beberapa hari, untuk memberi
kesempatan bibit-bibit plankton tumbuh setelah dipupuk dengan MMC MINA .
Setelah itu air dimasukkan hingga minimal 80 cm. Perlakuan Saponen bisa
dilakukan untuk membunuh ikan yang masuk ke tambak. Untuk
menyuburkan plankton sebelum benur ditebar, air dikapur dengan Dolomit
atau Zeolit dengan dosis 600 kg/ha.

Pemilihan Bibit/Benur dan Penebaran Benur


Benur yang baik mempunyai tingkat kehidupan (Survival Rate/SR) yang
tinggi, daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang tinggi, berwarna
tegas/tidak pucat baik hitam maupun merah, aktif bergerak, sehat dan
mempunyai alat tubuh yang lengkap. Uji kualitas benur dapat dilakukan
secara sederhana, yaitu letakkan sejumlah benur dalam wadah panci atau
baskom yang diberi air, aduk air dengan cukup kencang selama 1-3 menit.
Benur yang baik dan sehat akan tahan terhadap adukan tersebut dengan

berenang melawan arus putaran air, dan setelah arus berhenti, benur tetap
aktif bergerak.
Tebar benur dilakukan setelah air jadi, yaitu setelah plankton tumbuh yang
ditandai dengan kecerahan air kurang lebih 30-40 cm. Penebaran benur
dilakukan dengan hati-hati, karena benur masih lemah dan mudah stress
pada lingkungan yang baru. Tahap penebaran benur adalah :

Adaptasi suhu. Plastik wadah benur direndam selama 15 30 menit, agar


terjadi penyesuaian suhu antara air di kolam dan di dalam plastik.

Adaptasi udara. Plastik dibuka dan dilipat pada bagian ujungnya. Biarkan
terbuka dan terapung selama 15 30 menit agar terjadi pertukaran udara dari
udara bebas dengan udara dalam air di plastik.

Adaptasi kadar garam/salinitas. Dilakukan dengan cara memercikkan air


tambak ke dalam plastik selama 10 menit. Tujuannya agar terjadi percampuran
air yang berbeda salinitasnya,

sehingga benur dapat menyesuaikan dengan salinitas air tambak.

Pengeluaran benur. Dilakukan dengan memasukkan sebagian ujung plastik ke


air tambak. Biarkan benur keluar sendiri ke air tambak. Sisa benur yang tidak
keluar sendiri, dapat dimasukkan ke tambak dengan hati-hati/perlahan.

Pakan Udang
Pakan udang ada dua macam, yaitu pakan alami yang terdiri dari plankton,
siput-siput kecil, cacing kecil, anak serangga dan detritus (sisa hewan dan
tumbuhan yang membusuk). Pakan yang lain adalah pakan buatan berupa
pelet. Pada budidaya yang semi intensif apalagi intensif, pakan buatan
sangat diperlukan. Karena dengan padat penebaran yang tinggi, pakan alami
yang ada tidak akan cukup yang mengakibatkan pertumbuhan udang
terhambat dan akan timbul sifat kanibalisme udang. Untuk meningkatkan
mutu, menjaga kondisi daya tahan udang terhadap penyakit,
memperkecil FCR, ditambahkan VIT TO TERNA pada pakan sebelum
diberikan ke tambak. Dosisnya 1 botol 500 cc untuk 25-50 kg pakan.
PemberianVIT TO TERNA dilakukan tiap hari, minimal dilakukan tiap 1
minggu sekali.

Pelet udang dibedakan dengan penomoran yang berbeda sesuai dengan


pertumbuhan udang yang normal.
1.

Umur 1-10 hari pakan 01

2.

Umur 11-15 hari campuran 01 dengan 02

3.

Umur 16-30 hari pakan 02

4.

Umur 30-35 campuran 02 dengan 03

5.

Umur 36-50 hari pakan 03

6.

Umur 51-55 campuran 03 dengan 04 atau 04S


(jika memakai 04S, diberikan hingga umur 70 hari).

Umur 55 hingga panen pakan 04, jika pada umur 85 hari size rata-rata
mencapai 50, digunakan pakan 05 hingga panen. Kebutuhan pakan awal
untuk setiap 100.000 ekor adalah 1 kg, selanjutnya tiap 7 hari sekali
ditambah 1 kg hingga umur 30 hari. Mulai umur tersebut dilakukan cek
ancho dengan jumlah pakan di ancho 10% dari pakan yang diberikan. Waktu
angkat ancho untuk size 1000-166 adalah 3 jam, size 166-66 adalah 2,5 jam,
size 66-40 adalah 2,5 jam dan kurang dari 40 adalah 1,5 jam dari pemberian.

Pemeliharaan
Pada awal budidaya, sebaiknya di daerah penebaran benur disekat dengan
waring atau hapa, untuk memudahkan pemberian pakan. Sekat tersebut
dapat diperluas sesuai dengan perkembangan udang, setelah 1 minggu
sekat dapat dibuka. Pada bulan pertama yang diperhatikan kualitas air harus
selalu stabil. Penambahan atau pergantian air dilakukan dengan hati-hati
karena udang masih rentan terhadap perubahan kondisi air yang drastis.
Untuk menjaga kestabilan air, setiap penambahan air baru diberi
perlakuan MMC MINA dengan dosis 1 2 botol MMC
MINA /ha untuk menumbuhkan dan menyuburkan plankton serta
menetralkan bahan-bahan beracun dari luar tambak.

Mulai umur 30 hari dilakukan sampling untuk mengetahui pekembanghan


udang melalui pertambahan berat udang. Udang yang normal pada umur 30
hari sudah mencapai size (jumlah udang/kg) 250-300. Untuk selanjutnya
sampling dilakukan tiap 7-10 hari sekali. Produksi bahan organik terlarut
yang berasa dari kotoran dan sisa pakan sudah cukup tinggi, oleh karena itu
sebaiknya air diberi perlakuan kapur Zeolit setiap beberapa hari sekali
dengan dosis 400 kg/ha. Pada setiap pergantian atau penambahan air baru
tetap diberi perlakuan MMC MINA.
Mulai umur 60 hari ke atas, yang harus diperhatikan adalah manajemen
kualitas air dan kontrol terhadap kondisi udang. Setiap menunjukkkan kondisi
air yang jelek (ditandai dengan warna keruh, kecerahan rendah) secepatnya
dilakukan pergantian air dan perlakuan MMC MINA 1-2 botol/ha. Jika
konsentrasi bahan organik dalam tambak yang semakin tinggi,
menyebabkan kualitas air/lingkungan hidup udang juga semakin menurun,
akibatnya udang mudah mengalami stres, yang ditandai dengan tidak mau
makan, kotor dan diam di sudut-sudut tambak, yang dapat menyebabkan
terjadinya kanibalisme.

Panen
Udang dipanen disebabkan karena tercapainya bobot panen (panen normal)
dan karena terserang penyakit (panen emergency). Panen normal biasanya
dilakukan pada umur kurang lebih 120 hari, dengan size normal rata-rata 40
50. Sedang panen emergency dilakukan jika udang terserang penyakit
yang ganas dalam skala luas (misalnya SEMBV/bintik putih). Karena jika tidak
segera dipanen, udang akan habis/mati.
Udang yang dipanen dengan syarat mutu yang baik adalah yang berukuran
besar, kulit keras, bersih, licin, bersinar, alat tubuh lengkap, masih hidup dan
segar. Penangkapan udang pada saat panen dapat dilakukan dengan jala
tebar atau jala tarik dan diambil dengan tangan. Saat panen yang baik yaitu
malam atau dini hari, agar udang tidak terkena panas sinar matahari
sehingga udang yang sudah mati tidak cepat menjadi merah/rusak.

BUDIDAYA UDANG VANNAMEI (LITOPENAEUS VANNAMEI) POLA TRADISIONAL PLUS

PENDAHULUAN

UDANG VANNAMEI (litopenaeus vannamei) merupakan salah satu jenis udang introduksi
yang akhir-akhir ini banyak diminati, karena memiliki keunggulan seperti tahan
penyakit, pertumbuhannya cepat (masa pemeliharaan 100-110 hari), sintasan selama
pemeliharaan tinggi dan nilai konversi pakan (FCR-nya) rendah (1:1,3). Namun dimikian
pembudidaya udang yang modalnya terbatas masih menggangap bahwa udang
vannamei hanya dapat dibudidayakan secara intensif. Anggapan tersebut ternyata
tidalah sepenuhnya benar, karena hasil kajian menunjukan bahwa vannamei juga dapat
diproduksi dengan pola tradisional. Bahkan dengan pola tradisional petambak dapat
menghasilkan ukuran panen yang lebih besar sehingga harga per kilo gramnya menjadi
lebih mahal.Teknologi yang tersedia saat ini masih untuk pola intensif dan semiintensif,
pada hal luas areal pertambakan di indonesia yang mencapai sekitar 360.000 ha, 80%
digarap oleh petambak yang kurang mampu. Informasi teknologi pola tradisional plus
untuk budi daya udang vannamei sampai saat ini masih sangat terbatas. Diharapkan
dengan adanya brosur ini dapat menambah wawasan pengguna dalam
mengembangkanbudi daya udang vannamei pola tradisional plus.

PERSIAPAN TAMBAK

1.Pengeringan/pengolahan tanah dasar


Air dalam tambak dibuang, ikan-ikan liar diberantas dengan saponin, genangaan air
yang masih tersisa dibeberapa tempat harus di pompa keluar. Selanjutnya yambak
dikeringkan sampai retak-retak kalau perlu di balik dangan cara ditraktor sehingga H S
menghilang karena teroksidasi. Pengeringan secara sempurna juga dapat membunuh
bakteri patogen yang yang ada di pelataran tambak.

2.Pemberantasan hama

Pemberantasan ikan-ikan dengan sapion 15-20ppm (7,5-10kg/ha) dengan tinggi air


tembak 5cm

3.Pengapungan dan pemupukan


Untuk menunjang berbaikan kualitas tanah dan air dilakukan pemberian kapur bakar
(CaO), 1000 kg/ha, dan kapur pertanian sebanyak 320 kg/ha. selanjutnya masukkan air
ketambak sehingga tambak menjadi macak-macak kemudian dilakukan pemupukan
dengan pupuk urea (150 kg/ha), pupuk kandang (2000 kg/ha).

4.Pengisian air
Pengisian air dilakukan setelah seluruh persiapan dasar tambak telah rampung dan air
dimasukkan ke dalam tambak secara bertahap. Ketinggian air tersebut dibiarkan dalam
tambak selama 2-3 minggu sampai kondisi air betul-betul siap ditebari benih udang.
tinggi air di petak pembesaran diupayakan 1,0m.

PENEBARAN

Penebaran benur udang vannamei dilakukan setelah plangton tumbuh baik (7-10 hari)
sesudah penumpukan. Benur vanname yang digunakan adalah PL 10 - PL 12 berat awal
0,001g/ekor diperoleh dari hatchery yang telah mendapatkan rekomendasi bebas
patogen, Spesific Pathogen Free (SPF). Kreteria benur vannamei yang baik adalah
mencapai ukuran PL - 10 atau organ insangnya telah sempurna, seragam atau rata,
tubuh benih dan usus terlihat jelas, berenang melawan arus.
Sebelum benuh di tebar terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi terhadap suhu dengan
cara mengapungkan kantong yang berisi benuh ditambak dan menyiram dengan
perlahan-lahan. Sedangkan aklimatisasi terhadap salinitas dilakukan dengan membuka
kantong dan diberi sedikit demi sedikit air tambak selama 15-20 menit. Selanjutnya
kantong benur dimiringkan dan perlahan-lahan benur vannamei akan keluar dengan
sendirinya. Penebaran benur vannamei dilakukan pada saat siang hari.
Padat penebaran untuk pola tradisional tanpa pakan tambahan dan hanya
mengandalkan pupuk susulan 10% dari pupuk awal adalah 1-7 ekor/m. Sedangkan
apabila menggunakan pakan tambahan pada bulan ke dua pemeliharaan, maka
disarankan dengan padat tebar 8-10 ekor/m.

PEMELIHARAAN

Selama pemeliharaan, dilakukan monitoring kualitas air meliputi : suhu, salinitas,


transparasi, pH dan kedalaman air dan oksigen setiap hari. Selain itu, juga dilakukan
pemberian pemupukan urea dan TPS susulan setiap 1 minggu sebanyak 5-10% dari
pupuk awal. (urea 150kg/ha) dan hasil fermentasi probiotik yang diberikan seminggu
sekali guna menjaga kestabilan plangton dalam tambak. Pengapuran susulan dengan
dolomit super dilakukan apabila pH berfluktuasi. Pakan diberikan pada hari ke-70
dimana pada saat itu dukungan pakan alami (plangton) sudah berkurang atau
pertumbuhan udang mulai lambat. Dosis pakan yang di berikan 5-2% dari biomassa
udang dengan frekuensi pemberian 3kali /hari yakni 30% pada jam 7.00 dan 16.00 serta
40% pada jam 22.00.Pergantian air yang pertama kali dilakukan setelah udang berumur
>60 hari dengan volume pergantian 10% dari volume total, sedangkan pada bukan
berikutnya hingga panen, volume pergantian air ditingkatkan mencapai 15-20% pada
setiap periode pasang. Sebelum umur pemeliharaan mencapai 60 hari hanya dilakukan
penambahan air sebanyak yang hilang akibat penguapan atau rembesan. Kualitas air
yang layak untuk pembesaran vannamei adalah salinitas optimal 10-25 ppt (toleransi
50 ppt), suhu 28-31C, oksigen >4ppm, amoniak <0,1ppm, pH 7,5-8,2 dan H S
<0,003ppm

PANEN

Panen harus mempertimbangkan aspek harga, pertumbuhan dan kesehatan udang.


Panen dilakukan setelah umur pemeliharaan 100-110 hari. Perlakukan sebelum panen
adalah pemberian kapur dolomit sebanyak 80 kg/ha (tinggi air tambak 1m), dan
mempertahankan ketinggian air (tidak ada pergantian air) selama 2-4 hari yang
bertujuan agar udang tidak mengalami molting (ganti kulit) pada saat panen. Selain itu
disiapkan peralatan panen berupa keranjang panen, jaring yang dipasang di puntu air,
jala lempar, stiroform, ember, baskom, dan lampu penerangan dilakukan dengan
menurunkan volume air secara gravitasi dan di bantu pengeringan dengan pompa.
Bersamaan dengan aktifitas tersebut juga dilakukan penangkapan udang dengan jala.
Sebaiknya panen dilakukan pada malam hari yang bertujuan untuk mengurangi resiko

kerusakan mutu udang, karena udang hasil panen sangat peka terhadap sinar matahari.
Udang hasil tangkapan juga harus di cuci kemudian direndam es, selanjutnya dibawa ke
cold storage. Dengan pola tradisional plus produksi udang vannamei 835-1050
kg/ha/musim tanam dengan sintasan 60-96%, ukuran panen antara 55-65 ekor/kg

tebel 3. Analisis ekonomi usaha budi daya udang vannamei pola tradisional plus dilahan
tambak 1ha, padat penebaran 80000 ekor/ha, dan lama pemeliharaan 105 hari

NO

Uraian

Jumlah

Harga (Rp)

Total (Rp)

Investasi
Pompa air (unit)

4.500.000

4.500.000

Sewa tambak (ha/tahun)

2.500.000

2.500.000

Sub total

7.000.000

Biaya Operasional
Benur udang vannamei (ekor)

80.000

40

3.200.000

450

8.000

3.600.000

6.000

110

660.000

Pupuk anorganik (kg)

250

2.960

740.000

Dolomit (kg)

1.00

500

500.000

Saponin (kg)

200

2.000

200.000

Solar (L)

4.500

900.000

Pemeliharaan tambak (paket)

600.000

600.000

Pemeliharaan peralatan (paket)

400.000

400.000

Pakan (kg)
Pupuk organik (kg)

Lain-lain (paket)

200.000

200.000

Bunga modal (Rp 11 juta+Rp 7 juta/musim)

1.350.000

1.350.000

Sub total

12.350.000

Penyesutan investigasi
Pompa (6 musim)
Sewa tambak/musim

750.000

750.000

1.250.000

1.250.000

Sub total

2.000.000

Biaya total/musim
Penjaulan udang (kg/musim)

14.350.000

14.350.000

835

29.500

24.632.500

Keuntungan

2.057.000

2.057.000

Keuntungan/Ha/musim

8.288.000

8.225.500

Upah penjaga (20%)

A. INTERMEZZO
Udang putih (L. vannamei) merupakan spesies introduksi yang dibudidayakan di Indonesia. Udang putih
yang dikenal masyarakat dengan udang vannamei ini berasal dari Perairan Amerika Tengah. Negara-negara
di Amerika Tengah dan Selatan seperti Ekuador, Venezuela, Panama,Brasil, dan meksiko sudah lama
membudidayakan jenis udang yang dikenal juga dengan pasific white shrimp ini.
Di Indonesia, udang vannamei baru diintroduksi dan dibudidayakan mulai awal tahun 2000-an dengan
menunjukkan hasil yang menggembirakan. Masuknya udangvannamei ini telah menggairahkan kembali
usaha pertambakan Indonesia yang mengalami kegagalan budidaya akibat serangan penyakit, terutama
bintik putih (white spot). White spot telah menyerang tambak-tambak udang windu baik yang dikelola
secara tradisional maupun intensif meskipun telah menerapkan teknologi tinggi dengan fasilitas yang
lengkap.
Udang vannamei mempunyai beberapa keunggulan dibanding spesies udang lainnya. Berdasarkan penelitian
Boyd dan Clay (2002), produktivitasnya mencapai lebih dari13.600 kg/ha. Produktivitas yang tinggi ini
karena udang putih mempunyai beberapa keunggulan dibanding spesies jenis lainnya, antara lain : tingkat
kelulushidupan tinggi, ketersediaan benur yang berkualitas, kepadatan tebar tinggi, tahan Penyakit dan
konversi pakan rendah.
Teknologi budidaya udang terus memerlukan penelitian dan pengembangan dari waktu ke waktu. Walaupun
dalam dua dasawarsa terakhir telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, namun jika dibandingkan
dengan teknologi pertanian (misalnya hortikultura) atau peternakan (misalnya unggas), teknologi budidaya
udang masih sangat jauh ketinggalan. Teknologi pertanian dan peternakan telah mencapai tahap genetic
engineering (rekayasa genetika) dimana secara genetik telah ditemukan bibit unggul yang lebih produktif
dan tahan terhadap penyakit. Sedangkan teknologi budidaya udang baru memasuki tahap genetic
mapping(pemetaan genetika). Perkembangan terakhir teknologi budidaya udang difokuskan
pada genetic improvement (perbaikan genetika) melalui proses seleksi induk secara ketat. Namun
proses genetic improvement ini masih berada pada tahap seleksi secara alami.
Tingkat keberhasilan dari penerapan teknologi budidaya udang sangat bergantung pada tingkat penguasaan
teknologi lingkungan perairan (sebagai tempat hidup udang) dan biologi udang itu sendiri. Lingkungan
perairan merupakan ekosistem yang sangat kompleks, yang terdiri dari komponen biotik dan komponen
abiotik. Oleh karena itu diperlukan pemahaman yang benar tentang ekosistem perairan (tambak) sehingga
dapat senantiasa menjaga keseimbangannya. Disamping itu, pemahaman tentang biologi udang merupakan
hal yang tidak kalah penting, mulai dari anatomi, morfologi, fisiologi, habitat dan kebiasaan makan sampai
pada pemahaman structure genetiknya serta sistem reproduksi.
Udang vannamei, sebagai salahsatu komoditi andalan perikanan saat ini, keberlangsungan dan
ketersediaannya di alam harus selalu dipertahankan, baik untuk memenuhi kebutuhan domestic, maupun
untuk keperluan ekspor. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk tetap mempertahankan ketersediaan stok
udang vannamei ini, salahsatunya adalah dengan melakukan berbagai kajian yang berhubungan dengan
Reproduksi komoditi tersebut. Diharapkan dengan kajian ini, dapat mempertahankan keberlangsungan
spesies udang vannamei.
B. BIOLOGI UDANG VANNAMEI
1) Morfologi Udang vannamei
Gambar Udang Vannamei

Litopenaeus vannamei, biasa juga disebut sebagai udang putih dan masuk ke dalam famili Penaidae.
Anggota famili ini menetaskan telurnya di luar tubuh setelah telur dikeluarkan oleh udang betina. Udang
Penaeid dapat dibedakan dengan jenis lainnya dari bentuk dan jumlah gigi pada rostrumnya. Penaeid
vannamei memiliki 2 gigi pada tepi rostrum bagian ventral dan 8-9 gigi pada tepi rostrum bagian dorsal
(Anonim 1, 2007). Secara lengkap klasifikasi Udang Vannamei secara Taksonomi menurut Wyban dan
Sweeney (1991) adalah sebagai berikut:

Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Malacostraca

Ordo

: Decapoda

Famili

: Panaeidae

Genus

: Litopenaeus

Spesies
: Litopenaeus vannamei
Umumnya, Tubuh udang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala dan bagian badan. Bagian
kepala menyatu dengan bagian dada disebut cephalothorax yang terdiri dari 13 ruas, yaitu 5 ruas di bagian
kepala dan 8 ruas di bagian dada. Bagian badan dan abdomen terdiri dari 6 ruas, tiap-tiap ruas (segmen)
mempunyai sepasang anggota badan (kaki renang) yang beruas-ruas pula. Pada ujung ruas keenam
terdapat ekor kipas 4 lembar dan satu telson yang berbentuk runcing.
Bagian kepala dilindungi oleh cangkang kepala atau Carapace. Bagian depan meruncing dan melengkung
membentuk huruf S yang disebut cucuk kepala atau rostrum. Pada bagian atas rostrum terdapat 7 gerigi
dan bagian bawahnya 3 gerigi untuk P. monodon. Bagian kepala lainnya adalah :
1.

Sepasang mata majemuk (mata facet) bertangkai dan dapat digerakkan.

2.

Mulut terletak pada bagian bawah kepala dengan rahang (mandibula) yang kuat.

3.

Sepasang sungut besar atau antena.

4.

Dua pasang sungut kecil atau antennula.

5.

Sepasang sirip kepala (Scophocerit).

6.

Sepasang alat pembantu rahang (Maxilliped).

7.

Lima pasang kaki jalan (pereopoda), kaki jalan pertama, kedua dan ketiga bercapit yang
dinamakan chela.

8.

Pada bagian dalam terdapat hepatopankreas, jantung dan insang.

9.

Bagian badan tertutup oleh 6 ruas, yang satu sama lainnya dihubungkan oleh selaput tipis. Ada
lima pasang kaki renang (pleopoda) yang melekat pada ruas pertama sampai dengan ruas
kelima, sedangkan pada ruas keenam, kaki renang mengalami perubahan bentuk menjadi ekor
kipas (uropoda). Di antara ekor kipas terdapat ekor yang meruncing pada bagian ujungnya
yang disebut telson. Organ dalam yang bisa diamati adalah usus (intestine) yang bermuara

pada anus yang terletak pada ujung ruas keenam.


Tubuh udang vannamei dibentuk oleh dua cabang (biramous), yaitu exopodite danendopodite.
Udang vannamei memiliki tubuh berbuku buku dan aktivitas berganti kulit luar atau eksoskeleton secara
periodik (moulting). Kepala (thorax) udangvannamei terdiri dari antenula, antenna, mandibula dan dua
pasang maxillae. Kepala udang vannamei juga dilengkapi dengan 3 pasang maxilliped dan 5 pasang kaki
berjalan (peripoda) atau kaki sepuluh (decapoda). Maxilliped sudah mengalami modifikasi dan berfungsi
sebagai organ untuk makan. Endopodite kaki berjalan menempel pada cephalothorax yang dihubungkan
oleh coxa.
Bentuk peripoda beruas ruas yang berujung dibagian dactylus. Dactylus ada yang berbentuk capit (kaki
ke-1, ke-2 dan ke-3) dan tanpa capit (kaki ke-4 dan ke-5). Diantara coxa dan dactylus terdapat ruang yang
berturut turut disebut basis, ischium, merus, carpus dan cropus. Pada bagian ischium terdapat duri yang
bisa digunakan untuk mengidentifikasi beberapa spesies Pennaeid dalam taksonomi. Perut (abdomen) udang
terdiri dari 6 ruas. Bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan sepasang uropods (mirip ekor) yang
membentuk kipas bersama sama telson.
2) Habitat Udang Vannamei
Udang Vannamei adalah jenis udang laut yang habitat aslinya di daerah dasar dengan kedalaman 72 meter.
Udang vannamei dapat ditemukan di perairan/lautan Pasifik mulai dari Mexico, Amerika Tengah dan Selatan.
Udang vannamei relatif mudah dibudidayakan. Sedangkan untuk pejantan pada udang vannamei setelah
menjadi dewasa memiliki ciri ciri sebagai berikut; petasma menjadi simetris, agak terbuka, tak

mempunyai penutup, kurangnya proyeksi distomedian, mempunyai sirip costaeyang pendek sehingga tidak
dapat menjangkau sampai tepi distal dan terbuka dengan jelas.
Habitat udang Penaeid usia muda adalah air payau, seperti muara sungai dan pantai. Semakin dewasa
udang jenis ini semakin suka hidup di laut. Ukuran udang menunjukkan tingkatan usia. Dalam habitatnya,
udang dewasa mencapai umur 1,5 tahun. Pada waktu musim kawin tiba, udang dewasa yang sudah matang
telur atau calon spawner berbondong-bondong ke tengah laut yang dalamnya sekitar 50 meter untuk
melakukan perkawinan. Udang dewasa biasanya berkelompok dan melakukan perkawinan, setelah udang
betina berganti cangkang (Murtidjo1989).
Di dalam kondisi budidaya, udang vannamei hidup mendiami seluruh kolom air, dari dasar hingga lapisan
permukaan. Sifat tersebut memungkinkan udang tersebut dipelihara di tambak dalam keadaan padat .
3) Makanan Udang Vannamei
Semula digolongkan ke dalam hewan pemakan segala macam bangkai (omnivorous scavenger) atau
pemakan detritus. Dari hasil penelitian terhadap usus udang menunjukkan bahwa udang ini adalah
karnivora yang memakan crustacea kecil, amphipoda dan polychaeta.
Secara alami L. vannamei merupakan hewan nocturnal yang aktif pada malam hari untuk mencari makan,
sedangkan pada siang hari sebagian dari mereka bersembunyi di dalam substrat atau lumpur. Namun di
tambak budidaya dapat dilakukan feedingdengan frekuensi yang lebih banyak untuk memacu
pertumbuhannya.
L. vannamei membutuhkan makanan dengan kandungan protein sekitar 35%, lebih kecil jika
dibandingkan udang-udang Asia seperti Penaeus monodon danPenaeus japonicus yang membutuhkan pakan
dengan kandungan protein hingga 45%. Dan ini akan berpengaruh terhadap harga pakan dan biaya
produksi.
4) Daur Hidup Udang Vannamei
Hidup udang penaeid sejak telur mengalami fertilisasi dan lepas dari tubuh induk betina menurut
Martosudarmo dan Ranoemihardjo (1983), akan mengalami berbagai macam tahap, yaitu :
1.

Nauplius

Stadia Nauplius terbagi atas enam tahapan yang lamanya berkisar 46-50 jam untuk Litopenaeus vannamei,
belum memerlukan pakan karena masih mempunyai kandungan telur
2.

Zoea

Stadia zoea terbagi atas tiga tahapan, berlangsung selama kira-kira 4 hari. Stadia zoea sangat peka
terhadap perubahan lingkungan terutama kadar garam dan suhu air. Zoea mulai membutuhkan pakan
berupa fitoplankton (Skeletonema sp.)
3. Stadia mysis
Terbagi atas tiga tahapan, yang lamanya 4-5 hari. Bentuk udang stadia mysis mirip udang dewasa, bersifat
planktonis dan bergerak mundur dengan cara membengkokkan badannya. Udang stadia mysis mulai
menggemari pakan berupa zooplankton, misalnya Artemia salina.
4. Post larva
Stadia larva ditandai dengan tumbuhnya pleopoda yang berambut (setae) untuk renang. Stadia larva
bersifat bentik atau organisme penghuni dasar perairan, dengan pakan yang disenangi berupa zooplankton.

Gambar Siklus hidup udang Penaeid (Stewart, 2005)


C. Sistem Reproduksi
1) Organ Reproduksi Udang vannamei
Organ reproduksi udang vannamei betina terdiri dari sepasang ovarium, oviduk, lubang genital, dan
thelycum. Oogonia diproduksi secara mitosis dari epitelium germinal selama kehidupan reproduktif dari
udang betina. Oogonia mengalami meiosis, berdiferensiasi menjadi oosit, dan dikelilingi oleh sel-sel folikel.

Oosit yang dihasilkan akan menyerap material kuning telur (yolk) dari darah induk melalui sel-sel folikel
(Wyban et al., 1991).
A. Petasma jantan B. Satu dari sepasang appendix masculine

C. Satu dari sepasang terminal ampoule D. Open thelycum


Gambar Struktur Reproduksi Eksternal Udang Vannamei
Organ reproduksi utama dari udang jantan adalah testes, vasa derefensia, petasma, dan apendiks
maskulina. Sperma udang memiliki nukleus yang tidak terkondensasi dan bersifat nonmotil karena tidak
memiliki flagela. Selama perjalanan melalui vas deferens, sperma yang berdiferensiasi dikumpulkan dalam
cairan fluid dan melingkupinya dalam sebuah chitinous spermatophore (Wyban et al., 1991). Leung-Trujillo
(1990) menemukan bahwa jumlah spermatozoa berhubungan langsung dengan ukuran tubuh jantan.
2) Proses Perkawinan (mating) Induk Udang vannamei
Udang vannamei melakukan mating (perkawinan) apabila udang betina telah matang telur yang ditandai
dengan warna orange pada punggungnya, udang jantan segera memburu oleh rangsangan feromon yang
dikeluarkan oleh betina dan terjadilah mating. Dari hasil mating tersebut sperma akan ditempelkan pada
telikum, 4-5 jam kemudian induk betina tersebut akan mengeluarkan telur (spawning) dan terjadilah
pembuahan (Wyban and Sweeney, 1991)

Gambar Perilaku Kawin Induk Udang vannamei


Perilaku kawin pada udang vannamei pada wadah pemijahan dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan
seperti temperatur air, kedalaman, intensitas cahaya, fotoperiodisme, dan beberapa faktor biologis seperti
densitas aerial dan rasio kelamin (Yano et al., 1988). Menurut Dunham (1978) dalam Yano, et al (1988),
bahwa adanya perilaku kawin pada krustasea disebabkan adanya feromon. Udang jantan hanya akan kawin
dengan udang betina yang memiliki ovarium yang sudah matang. Kontak antena yang dilakukan oleh udang
jantan pada udang betina dimaksudkan untuk pengenalan reseptor seksual pada udang (Burkenroad, 1974,
Atema et al., 1979, Berg and Sandfer, 1984 dalam Yano, et al., 1988).
Proses kawin alami pada kebanyakan udang biasanya terjadi pada waktu malam hari (Berry, 1970, McKoy,
1979 dalam Yano, 1988). Tetapi, udang vannamei paling aktif kawin pada saat matahari tenggelam.
Spesies udang vannamei memiliki tipe thelycum tertutup sehingga udang tersebut kawin saat udang betina
pada tahap intermolt atau setelah maturasi ovarium selesai, dan udang akan bertelur dalam satu atau dua
jam setelah kawin (Wyban et al., 2005).
3) Peneluran dan Perkembangan Telur
Peneluran terjadi saat udang betina mengeluarkan telurnya yang sudah matang. Proses tersebut
berlangsung kurang lebih selama dua menit. Udang vannamei biasa bertelur di malam hari atau beberapa
jam setelah kawin. Telur-telur dikeluarkan dan difertilisasi secara eksternal di dalam air. Seekor udang
betina mampu menghasilkan setengah sampai satu juta telur setiap bertelur. Dalam waktu 13-14 jam, telur
kecil tersebut berkembang menjadi larva berukuran mikroskopik yang disebut nauplii/ nauplius (Perry,
2008). Tahap nauplii tersebut memakan kuning telur yang tersimpan dalam tubuhnya lalu mengalami
metamorfosis menjadi zoea.
Tahap kedua ini memakan alga dan setelah beberapa hari bermetamorfosis lagi menjadi mysis. Mysis mulai
terlihat seperti udang kecil dan memakan alga dan zooplankton. Setelah 3 sampai 4 hari, mysis mengalami
metamorfosis menjadi postlarva. Tahap postlarva adalah tahap saat udang sudah mulai memiliki
karakteristik udang dewasa. Keseluruhan proses dari tahap nauplii sampai postlarva membutuhkan waktu
sekitar 12 hari. Di habitat alaminya, postlarva akan migrasi menuju estuarin yang kaya nutrisi dan
bersalinitas rendah. Mereka tumbuh di sana dan akan kembali ke laut terbuka saat dewasa. (Anonim, 2008).
D. Teknik Pembenihan Udang vannamei
1) Karakteristik Induk
Udang yang dijadikan sebagai induk (broodstock) sebaiknya bersifat SPF (Specific Pathogen Free). Udang
tersebut dapat dibeli dari jasa penyedia udang induk yang memiliki sertifikat SPF. Keunggulan udang
tersebut adalah resistensinya terhadap beberapa penyakit yang biasa menyerang udang, seperti white
spot, dan lain-lain. Udang tersebut didapat dari sejumlah besar famili dengan seleksi dari tiap generasi
menggunakan kombinasi seleksi famili, seleksi massa (WFS) dan seleksi yang dibantumarker. Induk udang

tersebut adalah keturunan dari kelompok famili yang diseleksi dan memiliki sifat pertumbuhan yang cepat,
resisten terhadap TSV dan kesintasan hidup di kolam tinggi.
Karakteristik induk udang baik yang lain adalah udang jantan dan betina memiliki karakteristik reproduksi
yang sangat bagus. Spermatophore jantan berkembang baik dan berwarna putih mutiara. Udang betina
matang secara seksual dan menunjukkan perkembangan ovarium yang alami. Berat udang jantan dan
betina sekitar 40 gram dan berumur 12 bulan.
2) Proses Pembenihan Secara Konvensional
Proses pembenihan yang biasa dilakukan pada kebanyakan pembenuran (hatchery) udang komersial adalah
dengan cara perkawinan alami untuk menghasilkan larva. Keuntungan perkawinan alami dibandingkan
dengan inseminasi buatan adalah jumlah nauplii yang dihasilkan tiap udang betina sekali bertelur lebih
banyak dibandingkan nauplii yang dihasilkan dengan metode inseminasi buatan (Yano et al., 1988).
Induk udang vannamei dikumpulkan dan dipelihara dalam kondisi normal untuk maturasi dan kawin secara
alami. Setiap sore dilakukan pemeriksaan untuk melihat udang betina yang sudah kawin lalu dipindah ke
tangki peneluran (spawning tank). Betina yang sudah kawin akan memperlihatkan adanya spermatophore
yang melekat. Saat pagi hari, betina yang ada di dalam tangki peneluran dipindahkan lagi ke dalam tangki
maturasi (maturation tank). Dalam waktu 12-16 jam, telur-telur dalam tangki peneluran akan berkembang
menjadi larva tidak bersegmen atau nauplii (Wyban et al., 1991).
Menurut Caillouet (1972), Aquacop (1975), dan Duronslet et al., (1975), ovum pada udang betina biasanya
mengalami reabsorbsi tanpa adanya peneluran lagi. Masalah tersebut dapat dikurangi dengan cara ablasi
salah satu tangkai mata yang menyediakan hormon yang berfungsi sebagai stimulus untuk reabsorbsi ovum
(Arnstein dan Beard, 1975; Wear dan Santiago, 1977). Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa ablasi
juga dapat meningkatkan pertumbuhan udang (Hameed dan Dwivedi, 1977). Ablasi dilakukan dengan cara
membakar, mengeluarkan isi dari salah satu batang mata keluar melalui bola mata, dan melukai batang
mata dengan gunting (Wyban et al., 2005).
Udang yang akan diablasi dipersiapkan untuk memasuki puncak reproduktif. Jika ablasi dilakukan saat
tahap premolting maka akan menyebabkan molting, ablasi segera setelah udang molting dapat
menyebabkan kematian, dan ablasi selamaintermolt menyebabkan perkembangan ovum (Adiyodi, 1970).
a. Sistem Maturasi
i. Gedung Maturasi
Induk udang membutuhkan suasana lingkungan yang tenang untuk maturasi yang baik. Oleh karena itu,
fasilitas maturasi harus dibagi menjadi tiga ruangan yang terpisah, yaitu ruang tangki maturasi, ruang
tangki peneluran (spawning tanks), dan ruang untuk persiapan makanan (Wyban et al.,1991).
ii. Ruang Tangki Maturasi (Maturation Tanks)
Setiap tangki maturasi difasilitasi oleh pipa untuk penyediaan air laut. Flownwaterdigunakan pada tiap
jalur suplai untuk mengontrol pertukaran air. Saluran udara yang terletak di tengah tangki menyediakan
udara menuju tangki. Saluran udara tersebut juga digunakan untuk menjaga kedalam air dalam tangki tetap
pada 18 inchi (Wybanet al., 1991). Kotak lampu 75 watt digantungkan diatas tangki. Plastik diffuser pada
kotak lampu berfungsi untuk menyebarkan cahaya, dan mencegah cahaya yang berlebihan masuk dalam
tangki dibawahnya. Mesin sunrise/sunset (lampu yang dikontrol oleh waktu dan rheostat) mengontrol
fotoperiodisme dalam masing-masing tangki dan meningkatkan cahaya secara bertahap dari keadaan gelap
gulita menjadi cahaya penuh pada pertengahan hari (Wyban et
al.,1991).

Gambar Tangki maturasi (Courtland, 1999)


iii. Ruang Tangki Peneluran (Spawning Tanks)
Spawning tanks memiliki dasar yang rata. Masing-masing tangki berisi air laut dan saluran udara di
tengah tangki. Kaca fiber ditambahkan dalam tangki sehingga enam ekor udang yang sudah kawin dapat
bertelur dengan segera (Wyban et al.,1991).
iv. Sistem Air
Kualitas air harus diatur dan dipelihara pada kondisi menyerupai lingkungan alami udang Penaeid. Air laut
yang dimasukkan ke dalam tangki maturasi dan spawning tanks harus mengalami beberapa perlakuan
dahulu, antara lain penghilangan materi organik yang terlarut dengan cara filtrasi dan pengendapan,
ozonisasi untuk menghilangkan sebagian besar mikroorganisme, dan pendinginan air (25 oC 28oC) agar

didapat suhu yang menyerupai habitat asli udang Penaeid. Thermostat diatur pada suhu 27 oC dan fluktuasi
temperatur harian diatur agar kurang dari 0,5oC.
v. Alarm
Sistem alarm mengawasi beberapa parameter yang penting dalam sistem maturasi. Satu alarm terhubung
pada kedalaman air dalam reservoir. Jika air turun sebanyak 15 cm dalam tangki, alarm akan berbunyi.
Sistem alarm lain terhubung pada suplai udara.
b. Manajemen Sistem Maturasi
i. Stocking
Setiap tangki maturasi ditempati oleh udang jantan yang lebih banyak daripada jumlah udang betina (5-6
udang/m 2). Udang jantan seharusnya memiliki berat 40 gram atau lebih. Karena pertumbuhan udang
jantan yang lambat, berat udang dibawah 40 gram biasanya menyebabkan udang tersebut kuran produktif.
Udang jantan dengan melanisasi yang parah pada petasma atau spermatophore tidak dimasukkan ke dalam
tangki maturasi. Berat udang betina seharusnya mencapai 48 gram atau lebih (Wyban et al., 1991).
ii. Penandaan (Tagging)
Setiap induk harus ditandai sehingga dapat dihitung dan diidentifikasi. Penanda diselipkan pada batang
mata. Sistem ini juga berfungsi untuk mencari beberapa hewan untuk dieliminasi (Wyban et al., 1991).
iii. Ablasi
Setelah satu minggu dalam tangki maturasi, udang induk betina dilakukan ablasi pada batang mata.
Pemotongan menggunakan pisau atau gunting yang dibakar sebelumnya agar steril. Saat udang betina
sudah ditandai dan diablasi, sistem operasi menuju ke aktivitas rutin harian (Wyban et al., 1991).
3). Pembenihan Dengan Cara Inseminasi Buatan
Inseminasi buatan biasa dilakukan oleh penyedia induk udang yang bersifat unggul, seperti udang dengan
sertifikasi SPF (Specific Pathogen Free).
Teknik ini dilakukan agar keturunan yang diperoleh dapat dipastikan dari induk yang unggul dan tidak
terjadi inbreeding. Teknik untuk menghasilkan induk unggul ini membutuhkan prosedur dan peralatan yang
sangat canggih dan mahal, salah satu caranya adalah menggunakan teknik fingerprinting. Selain itu, jumlah
telur dan nauplii yang dihasilkan lebih sedikit bila dibandingkan perkawinan secara alami. Pertama-tama,
udang betina ditangkap dan dilihat perkembangan ovariumnya. Betina yang sudah memiliki ovarium
berkembang akan memiliki warna kehijauan pada lobus ovarium yang terletak pada bagian dasar carapace
(Arce et al., 2008).

Gambar Udang dengan ovarium yang sudah berkembang


Spermatophore yang sudah berkembang dari udang jantan dikeluarkan secara manual dengan cara
menekan spermatophore secara hati-hati sampai spermatophore keluar dari lubang genital. Spermatophore
yang sehat tidak menunjukkan adanya melanisasi, berwarna putih, agak bengkak,dan keras jika disentuh
(Arce, 2008).
Udang betina yang ovariumnya sudah berkembang dipegang pelan sampai thelycum nya terlihat. Thelycum
tersebut dikeringkan dengan menggunakan kertas handuk. Spermatophore ditempatkan di antara jari
dan index finger lalu spermatophore ditekan dari ujung yang tertutup ke ujung yang terbuka. Tekanan
tersebut membuat pecah kantung sperma dan membebaskan sperma yang membentuk tetesan antara jari
dan index finger. Hal tersebut memisahkan massa sperma dari bahan gelatin dan spermatophore (Arce et
al., 2008).
Udang betina dipegang rapat-rapat lalu tetesan sperma diletakkan ke dalam thelycum. Setelah sperma
diletakkan pada posisi yang tepat, posisi poreopod dikembalikan ke posisi semula yang membantu
mengunci masa sperma. Udang betina tersebut ditempatkan pada spawning tank selama satu malam.
Proses ini harus diselesaikan dalam waktu kurang dari 1 menit untuk mengurangi tekanan pada udang
betina (Arceet al., 2008).

Beberapa penyakit yang sering menyerang udang adalah ;

Bintik Putih
Penyakit inilah yang menjadi penyebab sebagian besar kegagalan budidaya udang.
Disebabkan oleh infeksi virus SEMBV (Systemic Ectodermal Mesodermal Baculo
Virus). Serangannya sangat cepat, dalam beberapa jam saja seluruh populasi udang
dalam satu kolam dapat mati.
Gejalanya : jika udang masih hidup, berenang tidak teratur di permukaan dan jika
menabrak tanggul langsung mati, adanya bintik putih di cangkang (Carapace), sangat
peka terhadap perubahan lingkungan.
Virus dapat berkembang biak dan menyebar lewat inang, yaitu kepiting dan udang liar,
terutama udang putih. Belum ada obat untuk penyakit ini, cara mengatasinya adalah
dengan diusahakan agar tidak ada kepiting dan udang-udang liar masuk ke kolam
budidaya. Kestabilan ekosistem tambak juga harus dijaga agar udang tidak stress dan
daya tahan tinggi. Sehingga walaupun telah terinfeksi virus, udang tetap mampu hidup
sampai cukup besar untuk dipanen. Untuk menjaga kestabilan ekosistem tambak
tersebut tambak perlu dipupuk dengan MMC MINA.

Bintik Hitam/Black Spot


Disebabkan oleh virus Monodon Baculo Virus (MBV). Tanda yang nampak yaitu
terdapat bintik-bintik hitam di cangkang dan biasanya diikuti dengan infeksi bakteri,
sehingga gejala lain yang tampak yaitu adanya kerusakan alat tubuh udang.
Cara mencegah : dengan selalu menjaga kualitas air dan kebersihan dasar tambak.

Kotoran Putih/mencret.
Disebabkan oleh tingginya konsentrasi kotoran dan gas amoniak dalam tambak.

Gejala : mudah dilihat, yaitu adanya kotoran putih di daerah pojok tambak (sesuai arah
angin), juga diikuti dengan penurunan nafsu makan sehingga dalam waktu yang lama
dapat menyebabkan kematian.
Cara mencegah : jaga kualitas air dan dilakukan pengeluaran kotoran dasar
tambak/siphon secara rutin.

Insang Merah
Ditandai dengan terbentuknya warna merah pada insang. Disebabkan tingginya
keasaman air tambak, sehingga cara mengatasinya dengan penebaran kapur pada
kolam budidaya. Pengolahan lahan juga harus ditingkatkan kualitasnya.

Nekrosis
Disebabkan oleh tingginya konsentrasi bakteri yang merugikan dalam air tambak.
Gejala yang nampak yaitu adanya kerusakan/luka yang berwarna hitam pada alat
tubuh, terutama pada ekor.
Cara mengatasinya adalah dengan penggantian air sebanyak-banyaknya ditambah
perlakuan MMC MINA 1-2 botol/ha, sedangkan pada udang dirangsang untuk segera
melakukan ganti kulit (Molting) dengan pemberian saponen atau dengan perlakuan
salinitasnya.
Penyakit pada udang sebagian besar disebabkan oleh penurunan kualitas kolam
budidaya. Oleh karena itu perlakuan MMC MINAsangat diperlukan baik pada saat
pengolahan lahan maupun saat pemasukan air baru.

https://kolamudang.blogspot.co.id/2015/06/perbedaan-udang-vaname-dan-udangwindu.html
https://kolamudang.blogspot.co.id/2015/06/budidaya-udang-vaname-penyebab.html
http://www.bibitikan.net/budidaya-udang-metode-busmetik-panen-3-kali-setahun/
http://www.bibitikan.net/cegah-udang-panen-dini-dengan-deteksi-penyakit-dini/
http://www.bibitikan.net/cara-budidaya-udang-galah/
http://www.bibitikan.net/cara-praktis-budidaya-udang-galah-yang-menguntungkan/
http://www.bibitikan.net/benih-udang-galah/
http://omahme.blogspot.co.id/2011/06/budidaya-udang-vaname.html
http://www.slideshare.net/ibnusahidhir/meminimalkan-ganti-air-dalam-akuakultur?
qid=6a21f878-e6ea-4a8f-98b5-7c8dd80c1828&v=&b=&from_search=5

http://carabudidayaikanlelenilamujair.blogspot.com/2015/08/budidaya-udangvaname-di-kolam-terpal.html
http://carabudidayaikanlelenilamujair.blogspot.com/2015/08/cara-budidaya-udangvaname-yang-baik.html