Anda di halaman 1dari 34

KTI Kejang Demam

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang bertujuan
bahwa setiap penduduk mempunyai kemampuan hidup sehat yaitu keadaan sejahtera badan dan
jiwa, dan memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Untuk
mencapai tujuan tersebut pembangunan kesehatan dilaksanakan secara bertahap.
Untuk mencapai tujuan tersebut sangat dibutuhkan eksistensi tenaga keperawatan yang
profesional dimana dalam memberikan pelayanan digunakan pelaksanaan asuhan keperawatan.
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi bidang keperawatan, untuk
memenuhi tuntunan masyarakat. Maka perawat dituntut untuk memiliki ilmu pengetahuan dan
keterampilan dalam memberikan pelayanan secara komprehensif yang meliputi aspek
biopsikososial spiritual melalui pendekatan proses keperawatan, sehingga asuhan keperawatan
dapat diberikan secara tepat guna dengan penuh tanggung jawab.
Salah satu masalah penyakit yang sering terjadi dan menyerang pada bayi dan balita
yaitu Kejang Demam yang penyebabnya belum diketahui dengan pasti, akan tetapi akan
menimbulkan komplikasi pada pertumbuhan dan perkembangan anak.

Berdasarkan data dari Medical Record RSUD Majene Kab. Majene, jumlah kasus kejang
demam dapat dilihat sebagai berikut.
Tabel 1 : Jumlah Rawat Inap Kasus Kejang Demam di RSUD Majene.
No
1
2

Tahun
2010
2011

<1 th
7
7

1-4 th
36
36

5-6 th
4
2

LK
44
19

%
59,45
42,22

Pr
32
20

%
43,24
44,44

Mati
1
2

%
1,35
4,44

Jml
74
45

%
100
100

Keteragan :
a. Pada Tahun 2010 kasus kejang demam rawat inap berjumlah 74 orang dengan jumlah pasien laki
laki 44 orang (59,45%) dan jumlah pasien perempuan 32 orang (43,24%), dan jumlah pasien
yang meninggal sebanyak 1 orang (1,35%)
b. Pada Tahun 2011 (Januari Juli ) kasus kejang demam rawat inap berjumlah 45 orang dengan
jumlah pasien laki laki 19 orang (42,22%) dan jumlah pasien perempuan sebanyak 20
(44,44%), dan jumlah pasien yang meninggal sebanyak 2 orang (4,44%)
Masih tingginya angka kejadian kejang demam menjadi dasar perlunya penerapan asuhan
keperawatan pada kasus Kejang Demam untuk membantu proses penyembuhan dan
meningkatkan pengetahuan masyarakat sehingga angka kejadian Kejang Demam dapat menurun.
Untuk itu, dalam rangka meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan sesuai
dengan pendidikan, maka setiap mahasiswa menyusun suatu karya tulis ilmiah berupa Asuhan
Keperawatan pada klien secara individu. Berdasarkan kenyataan di lahan penulis mendapatkan
kasus system Persyarafan. Maka pada kesempatan ini penulis dapat menyusun karya tulis
dengan judul Asuhan Keperawatan Pada By R Dengan gangguan Neurologi ; Kejang Demam
di Ruang Perawatan Anak RSUD Majene Kab. Majene pada tanggal 21 23 Juli 2011

B. Batasan Masalah
Karena luasnya masalah kejang demam, maka bahasan karya tulis ini hanya mencakup
pelaksanaan Asuhan Keperawatan Pada Klien By R Dengan Kejang Demam yang dirawat di
Ruangan Perawatan Anak RSUD Majene Kab. Majene selama 3 hari dari tanggal 21 23 Juli
2011
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
a.

Untuk menambah khasanah keilmuan, keterampilan dan pengalaman serta memperoleh


pengalaman nyata dalam menerapkan Asuhan Keperawatan pada keluarga By R Dengan
gangguan Neurologi ; Kejang Demam di Ruang Perawatan Anak RSUD Majene Kab. Majene,
pada tanggal 21 23 Juli 2011.

b. Mendapatkan gambaran tentang penerapan Asuhan Keperawatan secara komfrehensif dan


sistimatis mulai dari pengkajian, perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi.

2. Tujuan Khusus
a. Memperoleh gambaran dalam melakukan pengkajian pada klien By R Dengan gangguan
Neurologi ; Kejang Demam di Ruang Perawatan Anak RSUD Majene Kab. Majene pada
tanggal 21 23 Juli 2011.
b. Memperoleh gambaran yang jelas dalam menetapkan diagnosa dan perencanan pada klien By
R Dengan gangguan Neurologi ; Kejang Demam di Ruang Perawatan Anak RSUD Majene
Kab. Majene pada tanggal 21 23 Juli 2011.
c. Memperoleh pengalaman nyata dalam perencanaan tindakan keperawatan pada klien By R
Dengan gangguan Neurologi ; Kejang Demam di Ruang Perawatan Anak RSUD Majene Kab.
Majene pada tanggal 21 23 Juli 2011.
d. Memperoleh pengalaman nyata dalam pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien By R
Dengan gangguan Neurologi ; Kejang Demam di Ruang Perawatan Anak RSUD Majene Kab.
Majene pada tanggal 21 23 Juli 2011.
e. Memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan evaluasi keperawatan pada klien By R
Dengan gangguan Neurologi ; Kejang Demam di Ruang Perawatan Anak RSUD Majene Kab.
Majene pada tanggal 21 23 Juli 2011.
f. Memperoleh pengalaman nyata dalam melakukan pendokumentasian keperawatan pada klien By
R Dengan gangguan Neurologi ; Kejang Demam di Ruang Perawatan Anak RSUD Majene
Kab. Majene pada tanggal 21 23 Juli 2011.
g. Mampu menagnalisa kesenjangan yang terjadi antara asuhan teori dan kegiatan di lapangan pada
klien By R Dengan gangguan Neurologi ; Kejang Demam di Ruang Perawatan Anak RSUD
Majene Kab. Majene pada tanggal 21 23 Juli 2011.
D. Manfaat penulisan
1.

Penulis

Menambah pengetahuan penulis khususnya mengenai penyakit dengan gangguan system


Neuorologi sebagai peningkatan suhu tubuh dan pengetahuan tentang Asuhan Keperawatan pada
klien dengan gangguan system Nerologi : Kejang Demam.
2.
a.

Bagi Akademik

Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan pada Program Studi

Keperawatan Universitas Sulawesi Barat Program D III Keperawatan


b. Sebagai bahan bacaan di Perpustakaan
3. Bagi Pelayanan RS
Dapat memberikan masukan bagi Rumah Sakit untuk mengambil langkah-langkah kebijakan
dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan keperawatan terutama yang berkaitan dengan
Asuhan Keperawatan dengan gangguan system Neuorologi : Kejang demam.
4. Bagi Klien dan Keluarga
a. Meningkatkan pengetahuan klien dan keluarga tentang cara pencegahan, perawatan dan
pengobatan penyakit dengan gangguan system Nerologi : Kejang Demam
b. Memberikan pelayanan bagi klien dengan gangguan Nerologi : Kejang Demam.
E. Metode Penulisan
Penyusunan karya tulis ini terdiri dari beberapa bab, sub bab dan anak bab dengan
sistematika penulisan sebagai berikut :
BAB I

: Pendahuluan
Bab ini berisi :
A. Latar belakang masalah
B. Tujuan penulisan
C. Manfaat penulisan
D. Metode penulisan
E. Sistematika penulisan.

BAB II

: Tinjauan Teoritis
Dalam bab ini dibahas tentang konsep dasar medis yang menguraikan tentang :
1. Konsep Dasar Medis
a.

Pengertian

b. Anatomi Fisiologi
c.

Insiden

d. Etiologi
e.

Patofisiologi

f.

Manifestasi Klinik

g. Faktor Resiko
h. Pemeriksaan Penunjang
i.

Diagnosa Banding

j.

Penatalaksanaan

k. Prognosis
2. Konsep Dasar Keperawatan, meliputi : Pengkajian, perencanaan tindakan keperawatan,
pelaksanaan dan evaluasi.
BAB III

: Tinjauan kasus
Pada bab ini menguraikan laporan hasil study kasus, meliputi :
1. Pengkajian Data
2. Analisa Data
3. Penentuan diagnosa Keperawatan
4. Perencanaan Tindakan Keperawatan
5. Implementasi
6. Evaluasi.

BAB IV

: Pembahasan.
Pada Bab ini membahas tentang kesenjangan teori dengan fakta yang ada yang dibahas secara
sistematis mulai dari pengkajian data, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.

BAB V

: Kesimpulan dan saran.


Merupakan bab terakhir dimana dikemukakan tentang :
A. Kesimpulan
B. Saran

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Medis
1. Pengertian
Kejang adalah suatu manifestasi klinik dari lepas muatan listrik berlebihan dari sel-sel
neuron otak yang terganggu fungsinya, gangguan tersebut dapat disebabkan oleh kelainan
fisiologis, anatomis, biokimia atau gabungan dari ketiga kelainan tersebut. (UKK Neurologi
IDAI, 2011 kejang pada bayi dan anak.17)
Menurut Nurul Itqiyah (2008), kejang demam adalah kejang yang terjadi pada saat
seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat (1,2). Hal ini dapat
terjadi pada 2-5 % populasi anak. Umumnya kejang demam ini terjadi pada usia 6 bulan 5
tahun dan jarang sekali terjadi untuk pertama kalinya pada usia > 3 tahun.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah bangkitan kejang yang
terjadi karena peningkatan suhu tubuh yang sering di jumpai pada usia anak dibawah lima tahun.
(http://akhtyo.blogspot.com/2009/04/kejang-demam.htm)

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu
rectal lebih dari 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. (Mansjoer Arif dkk,
2001. 434).
Menurut Concentus Statement febrile Seizures (1980), kejang demam adalah suatu
kejadian pada bayi atau anak-anak, biasanya terjadi pada umur 3 ulan dan 5 tahun, berhubungan
dengan demam tetapi tidak pernah terbukti dengan adanya infeksi intrakanial atau penyebab
tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi berumur kurang dari 4 minggu tidak
termasuk. Kejang demam harus dibedakan dengan epilepsi, yaitu yang ditandai dengan kejang
berulang tanpa demam. (Mansjoer Arif dkk, 2001.434)
Dahulu Livingston membagi kejang demam menjadi dua golongan, yaitu kejang demam
sederhana (Simple Febrile Convultion) dan epilepsi yang diprovokasi oleh demam (Epilepsi
Triggered Of By Faver). Defenisi ini tidak lagi digunakan karena studi prosfektif epidemiologi
membuktikan bahwa resiko berkembangnya epilepsi atau berkembangnya kejang tanpa demam
atau kejang tanpa demam dalam keluarga.
Akhir-akhir ini kejang demam diklasifikasikan menjadi dua golongan, yaitu kejang
demam sederhana yang berlangsung kurang dari 15 menit dan umum, dan kejang demam
kompleks yang berlangsung lebih dari 15 menit, fokal atau multiple (lebih dari 1 kali kejang
dalam 24 jam). Disini anak sebelumnya dapat mempunyai kelainan Neurologi atau riwayat
kejang demam atau kejang tanpa demam dalam keluarga.

2. Anatomi Fisiologi Syaraf


System syaraf terdiri dari sel-sel syaraf (Neuron) dan sel-sel penyokong (Neuoglia dan sel
Schawan), kedua jenis sel tersebut demikian erat berkaitan dan terintegrasi satu sama lain
sehingga sama-sama berfungsi sebagai satu unit. Neuron adalah sel-sel syaraf khusus peka
rangsang yang menerima masukan sensorik atau masukan aferen dari ujung-ujung syaraf perifer
khusus atau dari organ reseptor sensorik, dan menyalurkan masukan motorik atau masukan eferan
ke otot-otot dan kelenjar-kelenjar yaitu organ efektor.
System syaraf terbagi menjadi : system Syaraf Pusat (SSP) dan Sistem Syaraf Tepi (SST).
SSP terdiri dari otak dan medulla spinalis, SST terdiri dari neuron eferen dan eferen system
somatir (SSS) dan neuron system syaraf otonom / Viseral (SSO).

Gambar 1. Susunan Syaraf Pusat


SSP dilindungi oleh tulang tengkorak dan tulang belakang, selanjutnya SSP dilindungi
pula oleh suspensi dalam cairan serebrospinalis (CSF= Cerebrospinal Fluid). Secara anatomis
SST terbagi menjadi 31 pasang syaraf spinal dan 12 pasang syaraf kranial. (Sylvia A. Price &
Lorraine M. Wilson, 2001. 901 902).

3. Insiden
Kejadian kejang demam diperkirakan 2-4% populasi anak usia 6 bulan 5 tahun, dan
paling sering pada usia 17 -23 bulan, 80% kejang demam sederhana, 20% kejang demam
kompleks (8% berlangsung >15 menit dan 16% berulang dalam waktu 24 jam), 2 4% menjadi
epilepsy, lebih sering pada anak laki laki. (UKK Neurologi IDAI, 2011 kejang demam yang
perlu diwaspadai)
4. Etiologi
Hingga kini belum diketahui dengan pasti. Demam sering disebabkan infeksi saluran
pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak
selalu timbul pada suhu tinggi, kadang-kadang demam tidak begitu tinggi dapat menyebabkan
kejang (Mansjoer Arif dkk, 2001. 434).
Semua jenis infeksi yang bersumber di luar susunan saraf pusat yang menimbulkan
demam dapat menyebabkan kejang demam. Penyakit yang paling sering menimbulkan kejang
demam adalah infeksi saluran pernafasan atas, otitis media akut(cairan telinga yang tidak segera
dibersihkan akan merembes ke saraf di kepala pada otak akan menyebabkan kejang demam),
pneumonia(Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Saat ini makin

banyak saja virus yang berhasil diidentifikasi. Meski virus-virus ini kebanyakan menyerang
saluran pernapasan bagian atas-terutama pada anak-anak gangguan ini bisa memicu pneumonia.
Untunglah, sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat.
Namun bila infeksi terjadi bersamaan dengan virus influensa, gangguan bisa berat dan kadang
menyebabkan kematian, Virus yang menginfeksi paru akan berkembang biak walau tidak terlihat
jaringan paru yang dipenuhi cairan. Gejala Pneumonia oleh virus sama saja dengan influensa,
yaitu demam, batuk kering sakit kepala, ngilu diseluruh tubuh. Dan letih lesu, napas menjadi
sesak, batuk makin hebat dan menghasilkan sejumlah lendir. Demam tinggi kadang membuat
bibir menjadi biru), gastroenteritis akut, exantema subitum (Penyakit eksantema virus yang sering
menyerang bayi (infants) dan anak-anak (young children). Ditandai dengan demam tinggi yang
mendadak dan sakit tenggorokan ringan. Beberapa hari kemudian terdapat suatu faint pinkish
rash yng berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari). salah satu komplikasinya
adalah kejang demam, bronchitis, dan infeksi saluran kemih (Goodridge, 1987; Soetomenggolo,
1989). Selain itu juga infeksi diluar susunan syaraf pusat seperti tonsillitis, faringitis,
forunkulosis serta pasca imunisasi DPT (pertusis) dan campak (morbili) dapat menyebabkan
kejang demam.
(http://zaa23.wordpress.com/2009/06/26/kejang-demam/)
penyebab utama kejang demam ialah demam yag tinggi. Demam yang terjadi sering
disebabkan oleh :
1. Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA)
2. Gangguan metabolic
3. tonsilitis, otitis media, bronchitis.
4.

Keracunan obat

5. Faktor herediter
6. Idiopatik.
(http://akhtyo.blogspot.com/2009/04/kejang-demam.html)
5. Patofisiologi
Pada keadaan demam, kenaikan suhu 10C akan menyebabkan kenaikan metabolisme basal
(jumlah minimal energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi vital tubuh) sebanyak
10-15% dan kebutuhan oksigen meningkat 20%. Pada anak balita aliran darah ke otak mencapai
65% dari aliran darah ke seluruh tubuh, sedangkan pada orang dewasa aliran darah ke otak hanya
15%. Jadi, pada balita dengan kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan
keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion
kalium maupun natrium melalui membran sel neuron tadi, sehingga mengakibatkan terjadinya

pelepasan muatan listrik. Besarnya muatan listrik yang terlepas sehingga dapat meluas/menyebar
ke seluruh sel maupun ke membran sel lainnya dengan bantuan bahan yang disebut
neurotransmitter. Akibatnya terjadi kekakuan otot sehingga terjadi kejang.
Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi rendahnya
ambang kejang seorang anak. Ada anak yang ambang kejangnya rendah, kejang telah terjadi pada
suhu 380C, sedangkan pada anak dengan ambang kejang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu
400C.
Basal Metabolic Rate ( BMR ) adalah kebutuhan kalori minimum yang dibutuhkan
seseorang hanya untuk sekedar mempertahankan hidup, dengan asumsi bahwa orang tersebut
dalam keadaan istirahat total, tidak melakukan aktivitas sedikitpun.

Faktor factor yang mempengaruhi tingkat metabolisme basal seseorang :


1. Genetik, sebagian orang dilahirkan dengan tingkat metabolisme basal (BMR) tinggi , dan
sebagian lagi BMR lebih rendah.
2. Gender, laki laki cenderung memiliki massa otot lebih besar daripada perempuan, sehingga
BMR laki laki lebih besar dari pada perempuan.
3. Usia, BMR cendererung berkurang seiring dengan bertambahnya usia. BMR seseorang dapat
turun sekitar 2% per dekade.
4. Berat tubuh, semakin berat massa tubuh seseorang , BMRnya akan lebih tinggi.
5. Body surface area atau Luas permukaan tubuh, ini berkaitan dengan tinggi dan berat seseorang.
Sehingga orang yang lebih tinggi dan besar cenderung memiliki BMR yang lebih tinggi.
6. Pola makan, dalam keadaan lapar BMR seseorang bisa turun hingga 30%
7. Suhu tubuh, setiap kenaikan suhu tubuh 0.5 C, BMR bisa meningkat hingga 7%
8. Suhu Lingkungan, suhu lingkungan juga berpengaruh pada tingkat BMR seseorang. Ini berkaitan
dengan upaya penstabilan suhu tubuh. Semakin rendah suhu lingkungan, BMR akan cenderung
lebih tinggi.
9. Hormon, hormon yang mempengaruhi tingkat BMR adalah hormon tiroksin. Hormon tiroksin
sebagai regulator BMR, yang mengatur kecepatan metabolisme tubuh. Semakin banyak homon
tiroksin yang disekresikan, maka akan semakin tinggi BMRnya.
(http://zaa23.wordpress.com/2009/06/26/kejang-demam/)
6. Manifestasi Klinik
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan kenaikan
suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat, otitis

media akuta, bronkitis, furunkulosis dan lain-lain. Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam
pertama sewaktu demam, berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonikklonik, tonik, klonik, fokal atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Namun anak akan
terbangun dan sadar kembali setelah beberapa detik atau menit tanpa adanya kelainan neurologik.
Gejala yang mungkin timbul saat anak mengalami Kejang Demam antara lain : anak
mengalami demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang terjadi secara tibatiba), kejang tonik-klonik atau grand mal, pingsan yang berlangsung selama 30 detik-5 menit
(hampir selalu terjadi pada anak-anak yang mengalami kejang demam).
Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya berlangsung selama
10-20 detik), gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama, biasanya
berlangsung selama 1-2 menit), lidah atau pipinya tergigit, gigi atau rahangnya terkatup rapat,
inkontinensia (mengeluarkan air kemih atau tinja diluar kesadarannya), gangguan pernafasan,
apneu (henti nafas), dan kulitnya kebiruan.
Saat kejang, anak akan mengalami berbagai macam gejala seperti:
1. Anak hilang kesadaran
2. Tangan dan kaki kaku atau tersentak-sentak
3. Sulit bernapas
4. Busa di mulut
5. Wajah dan kulit menjadi pucat atau kebiruan
6. Mata berputar-putar, sehingga hanya putih mata yang terlihat.

Livingston membuat kriteria dan membagi kejang demam atas 2 golongan, yaitu:
1. Kejang demam sederhana (simple febrile confulsion)
2. Epilepsi yang di provokasi oleh demam (epilepsy triggered of by fever)

Kriteria livingston tersebut setelah dimodifikasi dipakai sebagai sebuah pedoman untuk membuat
diagnosa kejang demam sederhana yaitu:
1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun
2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit
3. Kejang bersifat umum
4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang demam normal
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normaltidak menunjukan
kelainan

7. Frekuensi bangkitan kejang di dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali

Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau lebih dari ketujuh kriteria modifikasi
Livingston di atas digolongkan pada epilepsi yang diprovokasi oleh demam, kejang ini
mempunyai suatu dasar kelainan yang menyebabkan timbulnya kejang, sedangkan demam hanya
merupakan faktor pencetus saja. (http://doctorology.net/?p=9)

7. Komplikasi
Menurut Taslim S. Soetomenggolo dapat mengakibatkan :
a.

Kerusakan sel otak

b. Penurunan IQ pada kejang demam yang berlangsung lama lebih dari 15 menit dan bersifat
unilateral
c.

Kelumpuhan (Lumbatobing,1989)
(http://akhtyo.blogspot.com/2009/04/kejang-demam.html7)

a.

Apnea

b. Depresi pusat pernapasan


c.

Relaksasi mental

d. Epilepsi
(Mansjoer Arif dkk, 2000)
8. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan cairan cerebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan atau menegakkan
diagnosis meningitis, Pada kejang demam pertama harus dilakuakn pada penderita umur <12
bulan, umur 12 18 bulan harus difikirkan untuk melakukan lumbal pungsi dan tidak dianjurkan
pada umur >18 bulan kecuali ada gejala meningitis atau kecurigaan infeksi intracranial.
Elektroensefalografi (EEG) tidak berguna dilakukan untuk memperkirakan berulangnya
kejang, memperkirakan epilepsy dikemudian hari dan untuk menentukan tidaknya kelainan
organik. EEG tidak direkomendasikan pada kejang demam sederhana.
Laboratorium lain dilakukan hanya atas indikasi seperti Demam pemeriksaan darah
tepi lengkap ( Hb, Ht, Leukosit, Trombosit ) atau urine dan Dehidrasi dilakukan pemeriksaan Na,
K, Cl, Mg, Ca, P dan Glukosa. untuk mengetahui sejak dini apabila ada komplikasi dan penyakit
kejang demam. (UKK Neurologi IDAI 2011 kejang demam dan epilpsi.5)

9. Diagnosa Banding
Penyebab lain kejang yang disertai demam harus disingkirkan, khususnya meningitis atau
ensefalitis. Funsi lumbal terindikasi bila ada kecurigaan klinis meningitis. Adanya sumber infeksi

seperti otitis media tidak menyingkirkan meningitis dan jika pasien tidak mendapatkan antibiotik
maka perlu pertimbangan fungsi lumbal. (Mansjoer Arif dkk, 2001.435).

10. Penatalaksanaan
Pada penatalaksanaan kejang demam ada 3 hal yang perlu dikerjakan yaitu :
1. Pengobatan Fase Akut
Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu kejang pasien dimiringkan untuk
mencegah aspirasi ludah atau muntahan. Jalan napas harus bebas agar oksigenisasi terjamin.
Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu, pernapasan dan fungsi jantung.
Suhu tubuh tinggi diturunkan dengan kompres air dan pemberian antipiretik.
Obat yang paling cepat menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan intravena
atau intrarektal. Dosis diazepam intravena 0,3-0,5 mg/kgBB/kali dengan kecepatan 1-2 mg/menit
dengan dosis maksimal 20 mg. bila kejang berhenti sebelum diazepam habis, hentikan
penyuntikan, tunggu sebentar, dan bila tidak timbul kejang lagi jarum dicabut. Bila diazepam
intravena tidak tersedia atau pemberiannya sulit gunakan diazepam intrarektal 5 mg
(BB<10>10kg). bila kejang tidak berhenti dapat diulang selang 5 menit kemudian. Bila tidak
berhenti juga, berikan fenitoin dengan dosis awal 10-20 mg/kgBB secara intravena perlahanlahan 1 mg/kgBb/menit. Setelah pemberian fenitoin, harus dilakukan pembilasan dengan Nacl
fisiologis karena fenitoin bersifat basa dan menyebabkan iritasi vena.
Bila kejang berhenti dengan diazepam, lanjutkan dengan fenobarbital diberikan langsung
setelah kejang berhenti. Dosis awal untuk bayi 1 bulan -1 tahun 50 mg dan umur 1 tahun ke atas
75 mg secara intramuscular. Empat jam kemudian diberikan fenobarbital dosis rumat. Untuk 2
hari pertama dengan dosis 8-10 mg/kg BB/hari dibagi dalam 2 dosis, untuk hari-hari berikutnya
dengan dosis 4-5 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis. Selama keadaan belum membaik, obat diberikan
secara suntikan dan setelah membaik per oral. Perhatikan bahwa dosis total tidak melebihi
200mg/hari. Efek sampingnya adalah hipotensi, penurunan kesadaran dan depresi pernapasan.
Bila kejang berhenti dengan fenitoin,lanjutkan fenitoin dengan dosis 4-8mg/Kg BB/hari, 12-24
jam setelah dosis awal.

2. Mencari dan mengobati penyebab


Pemeriksaan cairan serebrospinalis dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan
meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama. Walaupun demikian kebanyakan

dokter melakukan pungsi lumbal hanya pada kasus yang dicurigai sebagai meningitis, misalnya
bila ada gejala meningitis atau kejang demam berlangsung lama.
3. Pengobatan profilaksis
Ada 2 cara profilaksis, yaitu: (1) profilaksis intermiten saat demam atau, (2) profilaksis
terus menerus dengan antikonvulsan setiap hari. Untuk profilaksis intermiten diberian diazepam
secara oral dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/hari dibagi menjadi 3 dosis saat pasien demam.
Diazepam dapat diberikan pula secara intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5mg (BB<10kg)>10kg)
setiap pasien menunjukkan suhu lebih dari 38,5 0 C. efek samping diazepam adalah ataksia,
mengantuk dan hipotonia.
Profilaksis terus menerus berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam berat yang
dapat menyebabkan kerusakan otak tapi tidak dapat mencegah terjadinya epilepsy dikemudian
hari. Profilaksis terus menerus setiap hari dengan fenobarbital 4-5mg.kgBB/hari dibagi dalam 2
dosis. Obat lain yang dapat digunakan adalah asam valproat dengan dosis 15-40 mg/kgBB/hari.
Antikonvulsan profilaksis selama 1-2 tahun setelah kejang terakhir dan dihentikan bertahap
selama 1-2 bulan
Profilaksis terus menerus dapat dipertimbangkan bila ada 2 kriteria (termasuk poin 1 atau
2) yaitu :
1. sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologist atau perkembangan
(misalnya serebral palsi atau mikrosefal)
2. Kejang demam lebih dari 15 menit, fokal, atau diikuti kelainan neurologist sementara dan
menetap.
3. Ada riwayat kejang tanpa demma pada orang tua atau saudara kandung.
4. bila kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan atau terjadi kejang multiple
dalam satu episode demam.
Bila hanya memenuhi satu criteria saja dan ingin memberikan obat jangka panjang maka
berikan profilaksis intermiten yaitu pada waktu anak demam dengan diazepam oral atau rectal
tuap 8 jam disamping antipiretik. (http://akhtyo.blogspot.com/2009/04/kejang-demam.html)

11. Prognosis
Dengan penangulangan yang tepat dan cepat, prognosisnya dan tidak membahayakan
kematian. Frekwensi berulangnya kejang berkisar 25 50 %, umumnya terjadi pada bulan
pertama. Resiko untuk mendapatkan epilepsi rendah.

B. Konsep Dasar Perawatan


1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap pertama dan asuhan keperawatan dalam asuhan keperawatan
sebagai perawatan mengunakan pendekatan komperhensif yaitu pendekatan bio, psiko, sosial dan
spiritual
a.

Aktivitas / Istirahat
Keletihan, kelamahan umum,. Keterbatasan dalam aktivitas/ bekerja yang ditimbulkan oleh diri
sendiri/ orang terdekat/pemberi asuhan kesehatan atau orang lain.

b. Sirkulasi
Hipertensi, peningkatan nadi, sianosis. Posiktal : tanda batas normal atau depresi dengan
penurunan nadi dan pernafasan.
c.

Integritas Ego
Stressor eksternal/internal yang berhubungan dengan keadaan dan ataupenanganan, peka
rangsang : perasaan tidak ada harapan/tidak berdaya. Perubahan dalam berhubungan. Tanda :
pelebaran rentang respon emosional

d. Eliminasi
Inkontenensia episodic : Peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus sfingter. Posiktal : Otot
relaksasi yang mengakibatkan inkontenensia (baik urine/fekal)

e.

Makanan, Cairan
Sensivitas terhadap makanan, mual/muntah yang berhubungan dengan aktivitas kejang. Tanda :
kerusakan jaringan lunak/ gigi, hyperplasia gingivitis.

f.

Neuorosensori
Riwayat sakit kepala, aktivitas kejang berulang, pinsan, pusing, riwayat trauma kepala, anoreksi
dan infeksi serebral. Adanya aura, kelemahan, nyeri otot area parestese/paralitis.

g. Nyeri/Kenyamanan
Sakit kepala, nyeri otot/punggung pada periode posiktal, nyeri abnormal paroksismal selama fase
Tanda : Sikap/tingkahlaku yang berhati-hati, perubahan pada tonus otot, tingkahlaku
distraksi/gelisah.
h. Pernafasan
Gigi mengatup, sianosis, pernafasan menurun/cepat, peningkatan sekresi mucus. Fase Posiktal :
Apnea

i.

Keamanan
Gejala : Riwayat trauma/terjatuh, fraktur, adanya alergi. Tanda : Trauma pada jaringan
lunak/ekimosis, penurunan kekuatan/tonus otot secara menyeluruh.

j.

Interaksi Sosial
Masalah berhubungan dengan interpersonal dalam keluarga atau lingkungan sosialnya,
pembatasan/penghindaran terhadap kontak social.

2. Diagnosa Keperawatan
I.

Diagnosa Keperawatan : Resiko terjadi kejang ulang berhubungan dengan hipertermi

Tujuan : Klien tidak mengalami kejang selama berhubungan dengan hiperthermi


Kriteria hasil

1. Tidak terjadi serangan kejang ulang.


2. Suhu 36,5 37,5 C (bayi), 36 37,5 C (anak)
3. Nadi 110 120 x/menit (bayi) 100-110 x/menit (anak)
4. Respirasi 30 40 x/menit (bayi) 24 28 x/menit (anak)
5. Kesadaran composmentis
Intervensi
Rasional
1. Longgarkan pakaian, berikan pakaian
tipis yang mudah menyerap keringat. 1. proses konveksi akan terhalang oleh
2. Berikan kompres dingin
pakaian yang ketat dan tidak
3. Berikan ekstra cairan (susu, sari buah,
dll)

menyerap keringat.

2. perpindahan panas secara konduksi

4. Observasi kejang dan tanda vital tiap

3. saat demam kebutuhan akan cairan

4 jam

tubuh meningkat.
5. Batasi aktivitas selama anak panas
4. Pemantauan yang teratur menentukan
6. Berikan anti piretika dan pengobatan
tindakan yang akan dilakukan.
sesuai advis.
5. aktivitas dapat meningkatkan
metabolisme dan meningkatkan
panas.
6. Menurunkan panas pada pusat

hipotalamus dan sebagai propilaksis

II.

Diagnosa Keperawatan : Resiko terjadi trauma fisik berhubungan dengan


koordinasi otot
Tujuan:

Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.

Kriteria Hasil

kurangnya

1. Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.


2. Mempertahankan tindakan yang mengontrol aktivitas kejang.
3. Mengidentifikasi tindakan yang harus diberikan ketika terjadi kejang.
Intervensi

Rasional

1. Beri pengaman pada sisi tempat tidur 1. meminimalkan injuri saat kejang
dan penggunaan tempat tidur yang
rendah
2. Tinggalah bersama klien selama fase 2. meningkatkan keamanan klien
kejang..
3. Berikan tongue spatel diantara gigi

3. menurunkan resiko trauma pada


atas dan bawah.
mulut.
4. Letakkan klien di tempat yang lembut.4. membantu menurunkan resiko injuri
Catat tipe kejang (lokasi,lama) dan
frekuensi kejang
Catat tanda-tanda vital sesudah fase
kejang

III.

fisik pada ekstimitas ketika kontrol


otot volunter berkurang.
membantu menurunkan lokasi area
cerebral yang terganggu.
mendeteksi secara dini keadaan yang
abnormal

Diagnosa Keperawatan / Masalah : Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan hiperthermi.


Tujuan

Kriteria hasil

: Rasa nyaman terpenuhi

: Suhu tubuh 36 37,5 C, N ; 100 110 x/menit,

RR : 24 28 x/menit,

Kesadaran composmentis, anak tidak rewel.


Intervensi
1. Kaji faktor faktor terjadinya
hiperthermi.

1.

2.
2. Observasi tanda tanda vital tiap 4 jam
sekali
3.
3. Pertahankan suhu tubuh normal

4.
4. Anjurkan untuk menggunakan baju tipis
dan terbuat dari kain katun
5.
5. Ajarkan pada keluarga memberikan
kompres dingin pada kepala / ketiak 6.
6. Atur sirkulasi udara ruangan

Rasional
Mengetahui penyebab terjadinya
hiperthermi karena penambahan
pakaian/selimut dapat menghambat
penurunan suhu tubuh.
Pemantauan tanda vital yang
teratur dapat menentukan
perkembangan keperawatan yang
selanjutnya.
suhu tubuh dapat dipengaruhi oleh
tingkat aktivitas, suhu lingkungan,
kelembaban tinggiakan
mempengaruhi panas atau
dinginnya tubuh
proses hilangnya panas akan
terhalangi oleh pakaian tebal dan
tidak dapat menyerap keringat
proses konduksi/perpindahan panas
dengan suatu bahan perantara.
Penyediaan udara bersih.

IV. Diagnosa Keperawatan / Masalah : Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan


keterbatasan informasi

Tujuan

: Pengetahuan keluarga bertambah tentang penyakit anaknya.

Kriteria hasil :
1.

Keluarga tidak sering bertanya tentang penyakit anaknya.

2.

Keluarga mampu diikutsertakan dalam proses keperawatan.

3.

keluarga mentaati setiap proses keperawatan.

Intervensi
1. Kaji tingkat pengetahuan keluarga

2.
3.
4.

5.
6.

Rasional
1. Mengetahui sejauh mana
pengetahuan yang dimiliki keluarga
dan kebenaran informasi yang
didapat.
Beri penjelasan kepada keluarga sebab 2. penjelasan tentang kondisi yang
dan akibat kejang demam
dialami dapat membantu
menambah wawasan keluarga
Jelaskan setiap tindakan perawatan yang 3. agar keluarga mengetahui tujuan
akan dilakukan
setiap tindakan perawatan
Berikan Health Education tentang cara 4. sebagai upaya alih informasi dan
menolong anak kejang dan mencegah
mendidik keluarga agar mandiri
kejang demam
dalam mengatasi masalah
kesehatan
Berikan Health Education agar selalu 5. mencegah peningkatan suhu lebih
sedia obat penurun panas, bila anak
tinggi dan serangan kejang ulang.
panas
6. sebagai upaya preventif serangan
Jika anak sembuh, jaga agar anak tidak
ulang
terkena penyakit infeksi dengan
menghindari orang atau teman yang
menderita penyakit menular sehingga
tidak mencetuskan kenaikan suhu.

Penyimpangan KDM Kejang Demam

BAB III
TINJAUAN KASUS
A. PENGKAJIAN
Pada bab ini penulis akan menguraikan tentang pelaksanaan Asuhan Keperawatan pada
klien dengan Kejang Demam di Ruang Perawatan Anak RSUD Majene, Pada Tanggal 21 Juli
2011 s/d 23 Juli 2011.
I.

Biodata

A. Identitas Klien
1. Nama

: By. R

2. Umur

: 7 bulan 28 hari

3. Jenis kelamin

: Laki - Laki

4. Agama

: Islam

5. Pendidikan

:-

6. Alamat

: Camba

7. Tgl Masuk RS

: 21 Juli 2011

8. Tgl. Pengakajian

: 21 Juli 2011

9. Diagnosa Medik

: Kejang Demam

10. Rencana Theraphy

:-

B. Identitas Orang Tua


1. Ayah
A. Nama

: Tn. S

B. Umur

: 45 tahun

C. Pendidikan

: Tidak Tamat SD

D. Pekerjaan

: Tukang Batu

E. Agama

: Islam

F. Alamat

: Camba

2. Ibu
A. Nama

: Ny. S

B. Umur

: 40 tahun

C. Pendidikan

: Tidak Tamat SD

D. Pekerjaan

: IRT

E. Agama

: Islam

F. Alamat

: Camba

C. Identitas Saudara Kandung


Tabel 2 : Identitas Saudara
No

Nama

Usia

Hubungan

Status Kesehatan

1.

Alisman

21 tahun

Saudara Kandung

Sehat

2.

Taswin

19 tahun

Saudara Kandung

Sehat

3.

Taslim

16 tahun

Saudara Kandung

Sehat

4.

Irfan

14 tahun

Saudara Kandung

Sehat

5.

Hasriadi

10 tahun

Saudara Kandung

Sehat

6.

Hasrianti

8 tahun

Saudara Kandung

Sehat

7.

Kifli

6 tahun

Saudara Kandung

Sehat

8.

Hamdani

2 tahun

Saudara Kandung

Sehat

Klien memiliki saudara kandung delapan orang dan klien adalah anak kesembilan. Dan status
saudara klien dalam keadaan sehat.
II. Keluhan Utama / Riwayat Keluhan Utama
a.

Keluhan Utama / Alasan Masuk Rumah Sakit


Kejang Kejang.

b. Riwayat Keluhan Utama


Ibu Klien mengatakan klien batuk, panas tinggi sejak 1 hari yang lalu disertai kejang kejang
dan pernah jatuh dari gendogan kakaknya sebelum masuk Rumah Sakit.
III. Riwayat Kesehatan
A. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien mengalami kejang kejang dirumah sejak satu hari yang lalu (tgl. 20 Juli 2011) dan
dibawah oleh orang tuanya ke RSUD Majene pada tanggal 21 Juli 2011, jam 02.00 Ibu klien
mengatakan saat ini klien masih demam disertai batuk.
TTV
Tekanan Drarah

:100/70 mmhg

Nadi

: 136 x/menit

Suhu

: 38C

Pernafasan

: 56 x/menit

B. Riwayat Kesehatan Lalu


1. Pre Natal Care
a.

Ibu klien mengatakan selama hamil memeriksakan kehamilannya 3 kali di puskesmas / bidan

b. Ibu klien mengatakan Keluhan selama hamil : muntah dan sering pusing
c.

Tidak ada riwayat terkena sinar dan theraphy obat-obatan tertentu

d. Kenaikan berat badan selama hamil : 12 kg


e.

Ibu klien mengatakan selama hamil mendapatkan suntikan TT sebanyak 2 kali

f.

Golongan darah Ibu : AB, dan ayah tidak diketahui

2. Natal
a.

Tempat melahirkan : di Rumah

b. Bersalin dengan spontan / normal


c.

Penolong persalinan oleh bidan dan dukun

d. Ibu klien mengatakan tidak ada komplikasi saat melahirkan dan tidak ada infeksi setelah
melahirkan
3. Post Natal
a.

Berat badan waktu lahir : 3250 gram, Panjang Badan : 48 cm

b. Ibu mengatakan waktu lahir tidak ada kelainan


c.

Kien tidak mempunyai masalah menyusui

d. Klien pernah mengalami sakit batuk dan demam, dan diare sembuh setelah berobat ke
Puskesmas.
e.

ada riwayat hospitalisasi sebelumnya dengan penyakit yang sama

f.

Tidak ada riwayat alergi terhadap obat-obatan, zat kimia.

C. Riwayat Kesehatan Keluarga


1. Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit alergi
2. Pengambilan keputusan dilakukan dengan cara musyawarah

3. genogram 3 generasi

Keterangan
: Laki laki
: Perempuan
: Laki Laki Meninggal

7bl

: Perempuan Meninggal
: Klien
: Serumah
: Garis Keturunan
?

: Umur tidak diketahui

GI

: 1. Kakek dari Ayah dan Ibu sudah meninggal karena faktor usia

2. Nenek dari Ayah dan Ibu masih hidup dan sehat


GII

: 1. Ayah dan Ibu Klien masih hidup dan sehat

2. Saudara Ayah masih hidup dan sehat, saudar Ibu ada yang

meninggal karena sakit.

4. Riwayat Imunisasi
Tabel 3 : Riwayat Imunisasi
No.
Jenis Imunisasi

Waktu pemberian

Reaksi setelah pemberian

1.

BCG

Nyeri,Scar

2.

DPT ( I, II, III )

Nyeri,Panas

3.

Polio ( I, II, III, IV )

4.

Hepatitits

5.

Campak

Ibu klien mengatakan anaknya telah diimunisasi hanya lupa tanggal pemberiannya. Klien
tidak mendapatkan Jenis imunisasi polio (I,II,III,IV), dan Hepatitis, karna orang tuanya lupa
membawa ke posyandu. dan jenis imunisasi Campak belum diberikan karena pemberian
imunisasi campak pada umur bayi 9 11 bulan, sedangkan umur klien 7 bulan 28 hari.
IV. Riwayat tumbuh kembang
A. Pertumbuhan Fisik
1. BB

: 7,5 kg

2. TB

: 72 cm

3. Waktu pertama tumbuh gigi : 6 bulan


B. Perkembangan tiap tahap
1. Berguling

: 5 bulan

2. Merangkak

: belum bisa

3. Duduk

: belum bisa

4. Berdiri

: belum bisa

5. Berjalan

: belum bisa

6. Tersenyum pada orang pertama kali : 4 bulan


V. Riwayat Nutrisi
A. Pemberian ASI
1. Klien pertama kali disusui setelah lahir
2. Asi diberikan setiap 2 jam
3. Asi masih diberikan sampai sekarang
B. Pemberian susu formula
Klien tidak diberikan susu formula
C. Pemberian makanan tambahan
1. Pertama kali diberikan makanan tambahan pada usia 6 bulan
2. Makanan tambahan ( beras merah ) hanya diberikan sekali dan tidak pernah lagi sampai sekarang
D. Pola perubahan nutrisi
Tabel 4 : Pola Perubahan Nutrisi
No.

Usia

Jenis Nutrisi

Lama Pemberian

1.

0 4 bulan

ASI

Sampai sekarang

2.

4 12 bulan

ASI + Beras Merah

Beras Merah hanya sekali


diberikan

3.

Saat ini

ASI

Sampai Sekarang

VI. Riwayat Psikososial


A. Klien tinggal serumah dengan Ayah, Ibu dan Saudaranya
B. Lingkungan Rumah berada diSetengah Kota
C. Rumah tidak dekat dengan Sekolah
D. Ada tangga yang berbahaya bagi Klien
E. Hubungan dengan Keluarga sangat Harmonis
F. Klien diasuh oleh Orang Tua
VII. Riwayat Spiritual
A. Keluarga klien menganut agama Islam
B. Keluarga klien sering mengikuti shalat jumat dan kadang mengikuti pengajian, dan taat
shalat limawaktu serta sering berdoa untuk kesembuhan anaknya.
VIII. Reaksi Hospitalisasi
A. Pemahaman keluarga tentang sakit dan rawat inap
1. Ibu Klien mengatakan anaknya dibawa ke Rumah Sakit karena khawatir melihat klien saat
kejang
2. Ibu klien mengatakan masih khawatir melihat keadaan anaknya
3. Ibu klien mengatakan sangat berharap agar anaknya cepat sembuh
4. Ekspresi wajah ibu klien nampak cemas dan tegang.
5. Ibu klien selalu mendampingi anaknya di Rumah Sakit
6. Ibu klien mengatakan cemas melihat keadaan anaknya
7. Ibu klien mengatakan anaknya tidak pernah mandi selama di rumah sakit

B. Pemahaman anak tentang Rumah Sakit dan rawat Inap


1. Klien sudah dua kali masuk dan dirawat rumah sakit dengan gejala yang sama
2. Keluarga klien dapat menerima pengobatan
3. Keluarga dapat menerima perawat
4. Klien dibantu segala pemenuhannya oleh ibunya
IX. Aktivitas Sehari-hari
A. Nutrisi
Tabel 5 : Nutrisi
No.
1.

Kondisi
Selera makan

Sebelum Sakit

Setelah Sakit

Baik

Kurang

2.

Menu makan

ASI

ASI

3.

Frekwensi makan

Setiap Menangis

Setiap 2 Jam

4.

Makanan yang disukai

ASI

ASI

5.

Pembetasan pola makan

Tidak ada

Tidak ada

6.

Cara Makan

Disusui

Disusui

Sebelum Sakit

Setelah Sakit

ASI

ASI

Setiap Saat/ menangis

Setiap Saat/ setiap 2 Jam

1500 cc 2000 cc/hari

1500 cc 2000 cc/hari

Sebelum Sakit

Setelah Sakit

Celana

Celana / tempat tidur

Frekwensi

1 x / hari

1 x / hari

Konsistensi

Lembek

lembek

Celana

Celana

Frekwensi

4 - 6 x / hari

6 - 7 x / sehari

Konsistensi

Jernih

Kuning

B. Cairan
Tabel 6 : Cairan
No.

Kondisi

1.

Jenis minuman

2.

Frekwensi minum

3.

Kebutuhan cairan

C. Eliminasi
Tabel 7 : Eleminasi
No.
1.

Kondisi
BAB
Tempat pembuangan

2.

BAK
Tempat pembuangan

D. Istirahat Tidur
Tabel 8 : Istirahat Tidur
No.
1.

Kondisi

Sebelum Sakit

Setelah Sakit

Tidur siang

Dari jam 12.00 14.00

Tidak teratur

Tidur malam

Dari jam 23.00 05.00

Tidak teratur

Baik

Baik

Di ayun

Diusap-usap

Tidak ada

Jika demam

Jam Tidur :

2.

Pola tidur

3.

Kebiasaan sebelum tidur

4.

Kesulitan tidur

E. Personal hygiene
Tabel 9 : Personal Hygiene
No.
1.

2.

Kondisi

Sebelum Sakit

Setelah Sakit

Cara

Berendam

Belum pernah

Frekwensi

2 x sehari

Alat mandi

Sabun, gayun, baskom

Mandi

Cuci rambut
Frekwensi

3 x seminggu

Cara
3.

Belum pernah
-

Memakai shampo baby

Gunting kuku
Frekwensi

Belum pernah
1 x / seminggu

Cara

Memakai gunting kuku

F. Aktivitas Olah Raga


Tabel 10 : Olah Raga
No.

Kondisi

Sebelum Sakit

Setelah Sakit

1.

Program Olah raga

Bermain sesuai dengan

2.

Jenis dan Frekwensi

pertumbuhan dan

3.

Kondisi setelah olah raga

perkembangannya

G. Aktivitas / Mobilitas Fisik


Tabel 11 : Mobilisasi Fisik
No.

Kondisi

Sebelum Sakit

Setelah Sakit

1.

Kegiatan sehari-hari

Bermain

Tidak ada, klien hanya

2.

Pengaturan jadwal harian

Tidak ada

terbaring di tempat

Penggunaan alat bantu


3.

aktivitas
Kesulitan pergerakan tubuh

4.

tidur
Mainan Bunyi -bunyian
Tidak ada

H.

Rekreasi

Tabel 12 : Rekreasi
No.

Kondisi

Sebelum Sakit

Setelah Sakit

1.

Perasaan saat bermain

2.

Waktu luang

3.

Perasaan setelah bermain

4.

Waktu senggang keluarga

5.

Kegiatan hari libur

IX. Pemeriksaan Diagnostik


A. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum klien

: Lemah

B. Tanda-tanda Vital
1. TD

: 100/70 mmhg

2. N

: 136 x / menit

3. S

: 38 o C

4. P

: 56 x / menit

C. Antropometri
1. BB

: 7,5 kg

2. TB

: 72 cm

3. LILA

: 17 cm

4. LK

: 45 cm

5. LP

: 41 cm

6. LD

: 43 cm

D. Sistem Pernapasan

idung

: lubang hidung simetris kiri dan kanan, tidak nampak pernapasan cuping hidung dan secret

eher

: tidak ada pembesaran kelenjar tiroid

ada

: simetris kiri dan kanan, bentuk dada normal dan mengikuti gerakan pola nafas dengan dada

E. Sistem Cardio Vaskuler


1. Conjungtiva nampak pucat
2. Bunyi jantung S1 Lub pada ICS 4 dan 5 Mitral dan Trikuspidalis, S2 Dub pada ICS 2 parasternal
kanan dan kiri, Aorta dan Pulmunal
3. Tidak terdengar bising aorta
F. Sistem Pencernaan
1. Skelera tidak Ikterus, bibir tampak kering
2. Tidak Nampak ada Labioskizis
3. Mulut tidak ada stomatitis, tidak Nampak ada Palatoskizis
4. Tidak ada lecet pada anus, tidak ada nyeri tekan
5. Tidak Nampak ada Hemoroid
G. Sistem Indra
1. Mata
a.

Mata nampak strabismus

b. Bulu mata nampak tebal tersebar rata tapi sedikit


c.

Tidak ada gangguang penglihatan

d. Konjungtiva nampak pucat


2. Hidung
a.

Lubang hidung simetris kiri dan kanan

b. Tidak ada secret


c.

Tidak tampak adanya pembesaran polip

d. Tidak tampak adanya sekret yang menutupi liang hidung

3. Telinga
a.

Telinga simetris kiri dan kanan

b. Fungsi pendengaran baik


c.

Nampak adanya serumen dicanalis auditorius

H. Sistem Syaraf
1. Fungsi Cerebral
Kesadaran menurun dengan nilai GCS = 5
2. Fungsi Cranial

Nervus I (olfaktorius)
Klien belum dapat membedakan bau.

Nervus II (optikus)
Tidak dikaji, klien dalam keadaan kesadaran menurun.

Nervus III,IV,VI (okulamotorius, trokleus dan abdusen)


Tidak dikaji

Nervus V (trigemenus)
Tidak dikaji

Nervus VII (facialis)


Tidak dikaji
-

Nervus VIII (acusticus)


Tidak dikaji

Nervus IX (glasofaringeus)
Fungsi menelan baik

Nervus X (vagus)
Tidak dikaji

Nervus XI (accesorius)
Klien belum dapat mengenal orang tuanya

Nervus XII
Tidak dikaji

3. Fungsi Motorik
-

Kekuatan otot lemah

4. Fungsi Sensorik
-

Klien tidak dapat membedakan getaran / ransangan yang diberikan.

5. Fungsi Cerebellum
- Klien tidak mengerti perintah yang diberikan
6. Refleks
- Terjadi kontraksi otot dengan gerakan refleks pada bagian bawah jika diberikan stimulus.
7. Fungsi Meningen
- Ada kaku kuduk
I.

Sistem Muskuloskeletal

1. Kepala

: Bentuk kepala Mesocepal

2. Leher

: Tidak ada pembengkakan dan tidak tampak adanya pembesaran kelenjar tyroid,

Vena Jugularis tidak ada peningkatan


3. Vertebra : Tidak ada kelainan bentuk tulang belakang chyposis maupun lordosis
4. Pelpis : Gerakan lemas
5. Lutut

: simetris kiri dan kanan, Tidak terdapat pembengkakan

6. Kaki : simetris kiri dan kanan tidak ada keluhan


7. tangan : Klien dapat menggerakkan tangannya tapi lemah
J.

Sistem Integumen

1. Rambut : nampak kotor , warna hitam, penyebaran pertumbuhan rata


2. Kulit : warna kulit sawo matang dan kering, nampak kotor, ibu klien mengatakan selama anaknya
dirawat belum pernah mandi
3. Kuku : nampak panjang dan kurang bersih.
K.

Sistem Imun
Keluarga mengatakan klien tidak ada riwayat alergi terhadap cuaca, obat-obatan dan zat kimia
L. Sistem ekdokrin

1. Tidak nampak adanya pembesaran kelenjar


2. Suhu tubuh tidak seimbang
M. System Reproduksi
Tidak ada kelainan bentuk, tidak ada tanda tanda infeksi.
N. Sistem Perkemihan
1. Tidak ada oedem palpebra
2. Klien berkemih spontan dicelana, tidak terpasang kateter
X. Test Diagnostik
Laboratorium
WBC 19,02 + 103 /L

(5,00 10,00)

HGB 8,0 9 /dL

(12,0 17,4)

XI. Theraphy Saat Ini


Theraphy
Penisilin Procain

750.000 IU 200 mg . IM

Paracetamol

75 mg /8jam

Chlorpheniramini maleas

0,5 mg /8jam

Dexametason

0,5 mg /8jam

Gliseril Glicoat

0,5 mg /8jam

Penoherbital

0,5 mg /8 jam

B. PENGUMPULAN DATA
-

KU Lemah

Ekspresi wajah ibu nampak cemas

Rambut klien nampak kotor

Permukaan kuku kotor dan nampak panjang

Konjugtiva nampak pucat

Bibir tampak kering

Kekuatan otot lemah

Ada kaku kuduk

Nampak adanya serumen di canalis auditorius

Tanda-tanda Vital
T

: 100/70 mmhg

N : 136 x/ menit
S

: 38 C

: 56 x / menit

BB : 7,5 kg

Ibu klien mengatakan anaknya masih demam

Ibu klien mengatakan khawatir melihat keadaan anaknya

Ibu klien sering menanyakan tentang keadaan anaknya

Ibu klien mengatakan anaknya tidak pernah mandi selama di Rumah Sakit

BAB IV
PEMBAHASAN

Setelah membahas tentang tinjauan teoritis Kejang demam baik medis maupun konsep
keperawatan, dan laporan studi kasus pada klien By. R dengan Kejang demam yang dirawat di
Ruang Perawatan Anak RSUD Majene Kab.Majene selama 3 hari, maka pada bab ini akan
dibahas berbagai kesenjangan yang ditemukan antara teori dengan praktek nyata dengan
membahas berdasarkan tahapan proses keperawatan untuk lebih memudahkannya.

A. Pengkajian
Pada tinjauan teoritis, data yang ditemukan pada klien dengan kasus Kejang demam
meliputi kelemahan otot, demam sampai kejang, cyanosis, kekakuan dan penurunan kesadaran,
penurunan nafsu makan, apnoe, peningkatan suhu tubuh 38 0C. Sedangkan data yang didapat
pada pelaksanaan studi kasus antara lain klien KU Lemah, Kuku nampak panjang dan kurang
bersih, Nampak adanya serumen pada di canalis auditorius, Ekspresi wajah ibu klien nampak
cemas dan tegang, Tanda-tanda Vital, T : 100/70 mmhg, N : 136 x/ menit, S : 38 C, P : 56 x /
menit, BB : 7,5 kg.
Jadi kesenjangan yang terjadi adalah data cyanosis, apnoe, penurunan nafsu makan. Data
ini penulis tidak temukan karena klien sudah satu hari dirawat jadi sudah ada peningkatan
perbaikan kesehatan. Klien hanya mengalami kejang demam saja.

B. Diagnosa Keperawatan
Pada landasan teori diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus Kejang
demam adalah :
1. Resiko terjadi kejang ulang berhubungan dengan hipertermi
2. Resiko terjadi trauma fisik berhubungan dengan kurangnya koordinasi otot
3. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan hiperthermi.
4. Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan keterbatasan informasi
Sedangkan diagnosa keperawatan yang diangkat pada kasus yaitu :
1. Resiko terjadi kejang ulang berhubungan dengan hipertermi

2. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga


3. Kecemasan keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
Dari uraian diagnosa diatas, maka kesenjangan yang terjadi adalah :
1.

Ada 3 diagnosa keperawatan yang ada dalam teori tetapi tidak ditemukan dalam

pelaksanaan studi kasus yaitu :


a.

Resiko terjadi trauma fisik berhubungan dengan kurangnya koordinasi otot. Diagnosa ini tidak
ditemukan pada kasus karena pada saat pengkajian klien telah mendapatkan perawatan yang
cukup maksimal dari perawat dan telah diberi terapi medis oleh dokter.

b. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan hiperthermi. Diagnosa ini tidak ditemukan pada
kasus karena pada saat pengkajian klien tidak ada tanda tanda klien mengalami gangguan rasa
nyaman.
c.

Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan keterbatasan informasi. Diagnosa ini


tidak ditemukan karena penulis mengnggap kecemasan keluarga karena kurangnya informasi dan
kurangnya informasi tentang penyakit anaknya lebih menonjol.
2.

Ada 2 diagnosa keperawatan yang tidak ada di tinjauan teori tetapi ditemukan pada studi

kasus, yaitu : Defisit perawatan diri berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga,
Kecemasan keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahuan, hal ini disebabkan karena ada
data yang mendukung untuk menegakkan diagnose tersebut.

C. Perencanaan
Pada pembahasan perencanaan disini, intervensi yang diberikan pada diagnosa
keperawatan adalah :
1.

Resiko terjadi kejang ulang berhubungan dengan hipertermi, Intervensi yang direncanakan
penulis adalah : Longgarkan pakaian, berikan pakaian tipis yang mudah menyerap keringat,
berikan kompres dingin, berikan ekstra cairan (susu, sari buah, dll), observasi kejang dan tanda
vital tiap 4 jam, batasi aktivitas selama anak panas, berikan anti piretika dan pengobatan sesuai
advis.

2.

Defisit perawatan diri berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga, Intervensi yang
direncanakan penulis adalah : Kaji hambatan terhadap partisipasi perawatan diri , identifikasi
rencana untuk modifikasi. Kaji kemampuan dan tingkat kekurangan dalam melakukan aktivitas
secara mandiri, berikan bantuan dengan aktivitas yang diperlukan, memandikan pasien di tempat
tidur, tentukan kemampuan klien untuk berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri, HE
mengenai pentingnya kebersihan perorangan.

3.

Kecemasan keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahuan, Intervensi yang direncanakan


penulis adalah : Membina hubungan saling percaya antara perawat dan keluarga, mengkaji
tingkat kecemasan, memberi penjelasan pada keluarga tentang cara menolong anak kejang,
memberikan HE kepada keluarga sebab akibat kejang, memberikan kesempatan keluarga untuk
mengungkapkan perasaannya, memberikan HE agar selalu sedia obat penurun panas.

D. Implementasi
Pada implementasi tidak terdapat kesenjangan dari beberapa intervensi yang sudah
direncanakan semua dapat dilakukan / dilaksanakan antara lain :
1. Resiko terjadi kejang ulang berhubungan dengan hipertermi, tidak ada kesenjangan karena semua
intervensi yang dilaksanakan sesuai dengan intervensi yang direncanakan.
2. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga, tidak ada
kesenjangan karena semua intervensi yang dilaksanakan sesuai dengan intervensi yang
direncanakan.
3. Kecemasan keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahuan, tidak ada kesenjangan karena
semua intervensi yang dilaksanakan sesuai dengan intervensi yang direncanakan.

E. Evaluasi
1. Resiko terjadi kejang ulang berhubungan dengan hipertermi, diagnosa ini teratasi pada tanggal
23 Juli 2011 dengan kriteria hassil : Tidak terjadi serangan kejang ulang, suhu 36,5 37,5 C
(bayi), 36 37,5 C (anak), nadi 110 120 x/menit (bayi) 100-110 x/menit (anak), respirasi 30
40 x/menit (bayi) 24 28 x/menit (anak).
2. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga, diagnosa ini
teratasi tanggal 23 Juli 2011 dengan kriteria hasil : kuku klien nampak pendek dan bersih, canalis
auditorius nampak bersih.
3. Kecemasan keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahuan, diagnosa ini teratasi tanggal
23 Juli 2011 dengan kriteria hasil : Keluarga klein menunjukkan rileks tidak nampak cemas,
keluarga mampu diikut sertakan dalam proses keperawatan, keluarga menaati setiap proses
keperawatan.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Setelah membahas teori dan menerapkan asuhan keperawatan pada klien By. R dengan
Kejang demam yang dirawat selama 3 hari di ruang perawatan Anak RSUD Majene Kab.
Majene, serta membahas kesenjangan yang terjadi antara teori dan praktek tentang penyakit
Kejang demam, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
A. Kesimpulan
1. Penyakit Kejang demam merupakan penyakit yang paling sering menyerang pada bayi dan balita
dan lebih banyak menyerang pada anak laki-laki. Yang jika tidak diobati dengan cepat dan baik
akan meyebabkan gangguan pada syaraf dan berakibat pada terganggunya pertumbuhan dan
perkembangan pada bayi dan balita.
2. Penyebab Kejang demam belum diketahui dengan pasti. Demam sering disebabkan infeksi
saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang demam berulang:
a.

Usia ketika pertama kali terserang kejang demam (kurang dari 15 bulan)

b. Sering mengalami demam


c.

Riwayat keluarga yang juga menderita kejang demam

3. Hampir sebanyak 1 dari setiap 25 anak pernah mengalami kejang demam dan lebih dari sepertiga
dari anak-anak tersebut mengalaminya lebih dari 1 kali. Kejang demam biasanya terjadi pada
anak-anak yang berusia antara 6 bulan - 5 tahun dan jarang terjadi sebelum usia 6 bulan maupun
sesudah 3 tahun.
Faktor resiko kejang pertama yang penting adalah demam, selain itu terdapat faktor
riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara kandung, perkembangan terlambat, problem
pada masa neonatus, anak dalam perawatan khusus dan kadar natrium rendah.
4. Selain kejang demam pertama, kira-kira 33% anak akan mengalami satu kali frekurensi atau
lebih, dan kira-kira 9% anak mengalami 3 kali rekurensi atau lebih. Resiko rekurensi meningkat
dengan usia dini, cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul, temperature yang
rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan riwayat keluarga yang epilepsy.
5. Pada landasan teori diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus Kejang demam
adalah :
a.

Resiko terjadi kejang ulang berhubungan dengan hipertermi

b. Resiko terjadi trauma fisik berhubungan dengan kurangnya koordinasi otot


c.

Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan hiperthermi.

d. Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan keterbatasan informasi


Sedangkan diagnosa keperawatan yang diangkat pada kasus yaitu :

a.

Resiko terjadi kejang ulang berhubungan dengan hipertermi

b. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga


c.

Kecemasan keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahuan

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis dapat mengemukakan beberapa saran yang
kiranya dapat bermanfaat dan dapat diterapkan dalam penanganan kasus Kejang demam.
1. Untuk meningkatkan kualitas perawatan dan sekaligus mewujudkan kualitas profesionalisme
keperawatan perlu terus menerus menerapkan asuhan keperawatan sebagai metode pemecahan
masalah.
2. Perawat harus memiliki pengetahuan yang cukup khususnya tentang Kejang demam, sehingga
dapat mendidik klien dan keluarga untuk mengenal penyakit Kejang demam yang diderita serta
perawatannya dan tindakan penanganannya.
3. Keluarga diharapkan dapat bekerjasama dalam penyembuhan penderita dengan memberikan
dukungan yang dibutuhkan dalam penanganan klien dengan Kejang demam.
4. Institusi pendidikan hendaknya dapat meningkatkan mutu dan kualitas didikannya dengan
memperbanyak buku-buku literatur keperawatan sehingga menjadi dasar bagi mahasiswa untuk
meningkatkan kemampuannya.
5. Pihak Rumah Sakit hendaknya lebih meningkatkan mutu pelayanan dan fasilitas kesehatan yang
lebih memadai guna memudahkan dalam memberikan pelayanan kesehatan.