Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH FITOTERAPI TERAPAN

ANTIDEPRESAN

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas susulan Ujian Tengah Semester
Fitoterapi Terapan

Disusun Oleh:
Riana Rahayu Khaerunnisa
260112150552

PROGRAM PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016

FITOTERAPI TERAPAN
ANTIDEPRESAN

Riana Rahayu Khaerunnisa (260112150552)


ABSTRAK

Depresi merupakan jenis penyakit gangguan jiwa yang sering terjadi di


masyarakat. Prevalensi pada wanita diperkirakan 10-25% dan pada laki-laki 512%. Manifestasi gejala depresi yang muncul dalam bentuk keluhan yang
berkaitan dengan mood (seperti murung, sedih, rasa putus asa) membuat diagnosis
depresi dapat dengan mudah ditegakkan, namun bila keluhan psikomotor dan
somatik (seperti malas bekerja, lamban, lesu, nyeri ulu hati, sakit kepala yang
terus- menerus) yang muncul depresi sering tidak terdiagnosis. Depresi termasuk
gangguan psikosomatik yang terjadi karena berkurangnya pembentukan
norepinefrin atau serotonin atau keduanya yang menimbulkan gejala-gejala antara
lain rasa sedih, tidak bahagia, putus asa dan sengsara serta penurunan kemauan
untuk melakukan suatu pekerjaan. Saat ini tersedia banyak obat sintetis yang
digunakan sebagai antidepresan namun penggunaan antidepresan tersebut banyak
menimbulkan efek samping. Namun sampai saat ini efek samping obat-obat
tersebut masih tinggi. Sebagai alternatif, kemudian dikembangkan terapi
menggunakan tanaman obat yang berpotensi sebagai antidepresan, diantaranya
adalah kayu kuning, daun kemangi, daun kayu manis, jamur tlethong, valerian,
pinang, cabe jawa, kunyit, pare, kembang telang atau bunga biru, buah noni, pala,
daun sirsak, dan pegagan.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Fitoterapi Terapan Antidepresan ini. Makalah ini disusun untuk
memenuhi tugas Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah Fitoterapi Terapan,
Pengampu Prof.Dr. Moelyono Moektiwardojo, MS.,Apt pada program studi
Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.
Penulis sangat berharap makalah ini sangat berguna dalam menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai judul fitoterapi pada penyakit depresi.
Penulis menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dan jauh dari sempurna.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak terutama bagi
perkembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang farmasi. Akhir kata, penulis
mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk makalah ini.

Jatinangor, 30 Mei 2016

Penulis

DAFTAR ISI

ABSTRAK...............................................................................................................2
KATA PENGANTAR...............................................................................................3
DAFTAR ISI............................................................................................................4
BAB I.......................................................................................................................5
PENDAHULUAN...................................................................................................5
BAB II......................................................................................................................7
DEPRESI DAN ANTIDEPRESAN.........................................................................7
2.1 Etiologi dan Patofisiologi...............................................................................7
2.2 Klasifikasi Depresi.........................................................................................8
2.3 Gejala Klinis...................................................................................................9
2.4 Penatalaksaan Terapi....................................................................................10
2.5 Terapi Non Farmakologi...............................................................................10
2.6 Terapi Farmakologi.......................................................................................11
BAB III..................................................................................................................13
FITOTERAPI ANTIDEPRESAN..........................................................................13
3.1
Tanaman yang Digunakan.......................................................................13
3.1.1
Kayu Kuning (Arcangelisia flava (L.) Merr).............................13
3.1.2
Daun Kemangi (Ocimum basilicum)........................................14
3.1.3
Daun Kayu Manis (Cinnamomum zeylanikum)..........................16
3.1.4
Jamur Tlethong (Psilocybe cubensis).......................................17
3.1.5
Valerian (Valeriana javanica atau Valeriana hardwickii Wall).......19
3.1.6
Pinang (Areca catechu Linn)..................................................20
3.1.7
Cabe Jawa (Piper longum Bl atau Piper rectrofractum Vahl. )......22
3.1.8
Kunyit (Curcuma longa Linn).................................................23
3.1.9
Pare (Momordica charantia Linn)............................................24
3.1.10 Kembang Telang atau Bunga Biru (Clitoria ternatea).................25
3.1.11 Noni (Morinda citrifolia).......................................................26
3.1.12 Pala (Myristica fragrans)........................................................27
3.1.13 Daun Sirsak (Annona muricata Linn.)......................................28
3.1.14 Pegagan (Centella asiatica L.)................................................30
3.2
Contoh Produk Herbal yang Beredar di Pasaran.....................................32
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................34

BAB I

PENDAHULUAN

Depresi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius.


World Health Organization (WHO) tahun 2001 menyatakan bahwa depresi berada
pada urutan keempat penyakit tersering di dunia. Depresi sering ditemui dalam
gangguan jiwa. Prevalensi pada wanita diperkirakan 10-25% dan pada laki-laki 512%. Walaupun depresi lebih sering terjadi pada wanita, bunuh diri lebih sering
terjadi pada laki- laki terutama usia muda dan usia tua.
Manifestasi gejala depresi yang muncul dalam bentuk keluhan yang
berkaitan dengan mood (seperti murung, sedih, rasa putus asa) membuat diagnosis
depresi dapat dengan mudah ditegakkan, namun bila keluhan psikomotor dan
somatik (seperti malas bekerja, lamban, lesu, nyeri ulu hati, sakit kepala yang
terus- menerus) yang muncul depresi sering tidak terdiagnosis (Amir, 2005). Saat
ini tersedia banyak obat sintetis yang digunakan sebagai antidepresan namun
penggunaan antidepresan tersebut banyak menimbulkan efek samping.
Terapi bagi penderita depresi adalah obat yang dapat meningkatkan mood
atau yang lebih dikenal sebagi obat-obat anti depresan (Grollman, 1972). Depresi
termasuk gangguan psikosomatik yang terjadi karena berkurangnya pembentukan
norepinefrin atau serotonin atau keduanya yang menimbulkan gejala-gejala antara
lain rasa sedih, tidak bahagia, putus asa dan sengsara serta penurunan kemauan
untuk melakukan suatu pekerjaan (Guyton and Hall, 1997). Serotonin merupakan
neurotransmitter monoamin yang terlibat dalam berbagai penyakit yang cukup
luas cakupannya, meliputi penyakit psikiatrik: depresi, kecemasan, skizoprenia,
dan gangguan obsesif konfulsif; sampai migrain. Penyakit tertentu dimana
kekurangan neurotransmitter serotonin, antara lain depresi, dapat diatasi dengan
peningkatan ketersediaan serotonin di tempat aksi dengan re-uptake. Contoh obat
yang beraksi demikian adalah antidepresan golongan Selective Serotonin
Reuptake Inhibitor (SSRI) seperti fluoksetin, fluvoksamin, paroksetin, dan
sentralin. Obat golongan antidepresan trisiklik juga bekerja menghambat reuptake

serotonin, namun tidak selektif karena juga terjadi penghambatan reuptake


norepinefrin (Ikawati, 2006). Saat ini terus dikembangkan beberapa 3 golongan
obat antidepresan yang baru seperti golongan Selective Serotonin Reuptake
Inhibitor (SSRI), golongan Selective Serotonin Reuptake Enhancer (SSRE),
golongan Serotonin Nor Ephinephrine Reuptake Inhibitor (SNRI), golongan
Reversible Inhibitory Monoamine Oxidase type A (RIMA) dan golongan atipik
(Trazodon, Nefazodon) (Mudjadid, 2006). Namun sampai saat ini efek samping
obat-obat tersebut masih tinggi. Sebagai alternatif, kemudian dikembangkan terapi
menggunakan tanaman obat yang berpotensi sebagai antidepresan, diantaranya
adalah kayu kuning, daun kemangi, daun kayu manis, jamur tlethong, valerian,
pinang, cabe jawa, kunyit, pare, kembang telang atau bunga biru, buah noni, pala,
daun sirsak, dan pegagan.

BAB II
DEPRESI DAN ANTIDEPRESAN

2.1 Etiologi dan Patofisiologi


Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang
berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk
perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia,
kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta bunuh diri (Kaplan et al., 1997).
Etiologi gangguan depresi sangat komplek dan melibatkan banyak faktor,
seperti

faktor

sosial,

perkembangan

jiwa

dan

bilogis,

sehigga

untuk

menjalaskannya tidak dapat dijelaskan dari satu macam faktor. Faktor faktor
yang terlibat bias muncul secara bersama sama tetapi juga bias sendiri sendiri
(Teter et al.,2007). Dilaporkan, pasien dengan gangguan mood mengalami
kelainan di metabolit amin biogenik, seperti asam 5-hydroxyindoleacetic (5HIAA), asam homovanilic (HVA), dan 3-methoxy-4hydroxyphenil-glycol
(MHPG) di dalam darah, urin dan cairan serebrospinal (Siste dan Ismail, 2010 ).
Patofisiologi depresi dijelaskan dalam beberapa hipotesis. Amina biogenik
merupakan hipotesis yang menyatakan, depresi disebabkan menurunnya atau
berkurangnya jumlah neurotransmitter norepinefrin (NE), serotonin ( 5 HT ) dan
dopamine (DA) dalam otak ( Sukandar dkk., 2009 ). Hipotesis sensitivitas
reseptor yaitu perubahan patologis pada reseptor yang dikarenakan terlalu
kecilnya stimulasi oleh monoamine dapat menyebabkan depresi. Hipotesis
desregulasi, tidak beraturannya neurotransmitter sehingga terjadi gangguan
depresi dan psikiatrik. Dalam teori ini ditekankan pada kegagalan hemeostatik
sistem neurotransmitter, bukan pada penurunan atau peningkatan absolute
aktivitas neurotransmitter (Teter et al.,2007 ).
Timbulnya depresi dihubungkan dengan peran beberapa neurotransmiter
aminergik. Neurotransmiter yang paling banyak diteliti ialah serotonin. Konduksi
impuls dapat terganggu apabila terjadi kelebihan atau kekurangan neurotransmiter
di celah sinaps atau adanya gangguan sensitivitas pada reseptor neurotransmiter

tersebut di post sinaps sistem saraf pusat. Pada penelitian dibuktikan bahwa
terjadinya depresi disebabkan karena menurunnya pelepasan dan transmisi
serotonin (menurunnya kemampuan neurotransmisi serotogenik). Beberapa
peneliti

menemukan

bahwa

selain

serotonin

terdapat

pula

sejumlah

neurotransmiter lain yang berperan pada timbulnya depresi yaitu norepinefrin,


asetilkolin dan dopamin. Sehingga depresi terjadi jika terdapat defisiensi relatif
satu atau beberapa neurotransmiter aminergik pada sinaps neuron di otak,
terutama pada sistem limbik (Willner, 1997).
Penurunan jumlah dari serotonin dapat mencetuskan terjadinya gangguan
depresi, dan beberapa pasien dengan percobaan bunuh diri atau mengakhiri
hidupnya mempunyai kadar cairan cerebrospinal yang mengandung kadar
serotonin yang rendah dan konsentrasi rendah dari uptake serotonin pada platelet
(Kaplan et al., 1997).
Pada gangguan ini, selain serotonin dan norepinefrin, dopamin juga
mempunyai peran. Dopamin merupakan neurotransmitter yang disekresikan oleh
neuron dari substansi gria mid brain. Dopamin pada posisi lain mengaktivitasi
protein Gi yang berikatan dengan reseptor alfa 2, kondisi ini akan menghambat
adenil siklase sehingga cAMP menurun. Hal ini sebagai umpan balik kanal ion K.
Dalam kondisi stress dalam mensekresikan dopamine yang berlebihan sehingga
aktivasi protein Gi meningkat dan aktivasi kanal ion K pun meningkat. Hal ini
menyebabkan ion K dalam jumlah berlebih akan keluar dari kanal ion sehingga
terjadi hiperpolarisasi dan penghambatan transmisi potensial aksi yang berlebihan
hingga terjadi hipereksitabelitas jaringan dan mendepresikan susunan syaraf pusat
(Ikawati, 2006).

2.2 Klasifikasi Depresi


Gangguan distimia adalah gangguan perasaan depresi yang ditandai
dengan gejala kronis ( kurang lebih 2 tahun ) dan berada pada tingkat keparahan
yang ringan, tetapi juga dapat menghambat fungsi normal dengan baik (NIMH,
2011). Gejala distimia yang biasa muncul seperti menurun atau meningkatnya
nafsu makan, sulit untuk berkonsentrasi, perasaan mudah putus asa, mudah lelah,
8

gangguan tidur seperti insomnia dan hipersomnia. Orang dengan

gangguan

distimia mungkin pernah mengalami episode depresi berat selama hidupnya


(Varcorolis et al, 2006).
Ganguan depresi mayor (gangguan unipolar) adalah gangguan yang
terjadi satu atau lebih episode depresi. Gangguan depresi mayor terjadi tanpa ada
riwayat episode manik atau hipomanik alami (Nevid dkk, 2003). Gangguan
depresi mayor ditandai dengan beberapa gangguan yang seperti gangguan tidur,
makan, belajar, dan gangguan untuk menikmati kesenangan (NIMH, 2011).
Gangguan depresi bipolar, sering disebut depresi manik ( Sonne dan
Brady, 2002) adalah gangguan yang melibatkan suasana hati yang ekstrim
(berupa euphoria). Gangguan tersebut dapat dipicu oleh stess dan tekanan dari
kehidupan sehari hari, peristiwa traumatis, trauma fisik / cedera kepala (Fisher,
2006). Gangguan bipolar merupakan masalah kesehatan masyarakat yang
signifikan, dan sering kali tidak terdiagnosis dan tidak diobati untuk jangka
panjang (Sonne dan Brady, 2002)

2.3 Gejala Klinis


Gejala depresi pada setiap orang berbeda beda, hal ini tergantung pada
berat atau ringannya gejala ( Depkes, 2007 ). Gejala yang ditemui pada pasien
depresi yaitu gejala emosional, gejala fisik, gejala intelektual atau kognitif dan
gangguan psikomotor. Gejala emosi ditandai dengan berkurangnya kemauan
untuk menikmati kesenangan, kehilangan minat, kegiatan, hobi yang biasa
dikerjakan, tampak sedih, pesimis, tidak ada rasa percaya diri, merasa tidak
berharga, perasaan cemas yang berlebihan, merasa bersalah yang tidak realistis,
dan berhalusinasi (Teter et al.,2007).
Gejala fisik yang biasa muncul adalah kelelahan, nyeri ( terutama sakit
kepala ), gangguan tidur ( sulit tidur, terbangun di malam hari), ganguan nafsu
makan, keluhan pada sistem pencernaan, keluhan pada sistem kardiovaskular
(terutama palpitasi) dan hilangnya gairah seksual (Teter et al.,2007)
Gejala intelektual atau kognitif, meliputi: penurunan kemampuan untuk
berkonsentrasi, ingatan yang lemah terhadap kejadian yang baru terjadi,
9

kebingungan dan ketidakyakinan. Gejala psikomotorik yang biasanya muncul


yaitu, retardasi psikomotorik ( perlambatan gerakan fisik, proses berpikir, dan
bicara) atau agitasi psikomotor ( Sukandar dkk., 2008).

2.4 Penatalaksaan Terapi


Tujuan terapi depresi adalah untuk mengurangi gejala depresi akut,
meminimalkan efek samping, memastikan kepatuhan pengobatan, membantu
pengembalian ketingkat fungsi sebelum depresi, dan mencegah episode lebih
lanjut ( Sukandar dkk., 2008 ).
Banyaknya jenis terapi pengobatan, keefektivitan pengobatan juga akan
berbeda beda antara orang yang satu dengan orang yang lain. Psikater biasanya
memberikan medikasi dengan menggunakan antidepresan untuk menyeimbangkan
kimiawi otak penderita. Terapi yang digunakan untuk pasien dipengaruhi oleh
hasil evaluasi riwayat kesehatan serta mental pasien ( Depkes, 2007 )
Untuk melakukan pengobatan pada pasien dengan gangguan depresi
mayor, ada 3 tahapan yang harus dipertimbangkan antara lain :
a. Fase akut, fase ini berlangsung 6 sampai 10 minggu. pada fase ini
bertujuan untuk mencapai masa remisi ( tidak ada gejala ).
b. Fase lanjutan, fase ini berlangsung selama 4 sampai 9 bulan setelah
mencapai remisi. pada fase ini bertujuan untuk menghilangkan gejala sisa
atau mencegah kekambuhan kembali.
c. Fase pemeliharaan, fase ini berlangsung 12 sampai 36 bulan. Pada fase ini
tujuannya untuk mencegah kekambuhan kembali.

2.5 Terapi Non Farmakologi


1) Psikoterapi
Psikoterapi

adalah

terapi

pengembangan

yang

digunakan

untuk

menghilangkan atau mengurangi keluhan keluhan serta mencegah kambuhnya


gangguan pola perilaku maladatif (Depkes, 2007). Teknik psikoterapi tersusun
seperti teori terapi tingkah laku, terapi interpersonal, dan terapi untuk pemecahan

10

sebuah masalah. Dalam fase akut terapi efektif dan dapat menunda terjadinya
kekambuhan selama menjalani terapi lanjutan pada depresi ringan atau sedang.
Pasien dengan menderita depresi mayor parah dan atau dengan psikotik
tidak direkomendasikan untuk menggunakan psikoterapi. Psikoterapi merupakan
terapi pilihan utama utuk pasien dengan menderita depresi ringan atau sedang
(Teter et al., 2007)
2) Electro Convulsive Therapy (ECT)
Electro Convulsive Therapy adalah terapi dengan mengalirkan arus listrik
ke otak (Depkes, 2007). Terapi menggunakan ECT biasa digunakan untuk kasus
depresi berat yang mempunyai resiko untuk bunuh diri (Depkes, 2007). ECT juga
diindikasikan untuk pasien depresi yang tidak merespon terhadap obat
antidepresan (Lisanby, 2007). Terapi ECT terdiri dari 6 12 treatment dan
tergantung dengan tingkat keparahan pasien. Terapi ini dilakukan 2 atau 3 kali
seminggu,

dan

sebaiknya

terapi

ECT

dilakukan

oleh

psikiater

yang

berpengalaman (Mann. 2005).


Electro Convulsive Therapy akan kontraindikasi pada pasien yang
menderita epilepsi, TBC miller, gangguan infark jantung, dan tekanan tinggi intra
karsial (Depkes, 2007).

2.6 Terapi Farmakologi


Antidepresan merupakan obat-obat yang efektif pada pengobatan depresi,
meringankan gejala gangguan depresi. Ada beberapa golongan obat antidepresan
yang beredar saat ini yaitu: obat antidepresan golongan trisiklik (TCA) , inhibitor
monoamine oksidase (MAOI), serta inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI).
Antidepresan trisiklik adalah kelompok obat yang banyak diresepkan (misal:
amitriptilin, klomipramin, dll). TCA bekerja dengan cara menghambat
pengambilan neurotransmitter 5-hidroksitriptamin (serotonin) dan noradrenalin
(norepinefrin). Obat ini efektif dalam waktu 2-4 minggu dan memiliki efek
samping yang tidak menyenangkan yang meliputi pandangan kabur, mulut kering,
konstipasi dan retensi urine (Brooker, 2006).

11

Obat lini kedua dalam mengobati gangguan depresi mayor adalah


Monoamine Oxidase Inhibitors. MAO Inhibitors meningkatkan ketersediaan
neurotransmitter dengan cara menghambat aksi dari Monoamine Oxidase, suatu
enzim yang normalnya akan melemahkan atau mengurangi neurotransmitter
dalam sambungan sinaptik (Nevid et al., 2005). MAOIs sama efektifnya dengan
Tricyclic Antidepressants tetapi lebih jarang digunakan karena secara potensial
lebih berbahaya (Reus and Osborne, 2000).
Selective Serotonine Reuptake Inhibitors (SSRI) mempunyai struktur yang
hampir sama dengan Tricyclic Antidepressants, tetapi SSRI mempunyai efek yang
lebih langsung dalam mempengaruhi kadar serotonin. Pertama SSRI lebih cepat
mengobati gangguan depresi mayor dibandingkan dengan obat lainnya. Pasienpasien yang menggunakan obat ini akan mendapatkan efek yang signifikan dalam
penyembuhan dengan obat ini.
Kedua, SSRI juga mempunyai efek samping yang lebih sedikit
dibandingkan dengan obat-obatan lainnya. Ketiga, obat ini tidak bersifat fatal
apabila overdosis dan lebih aman digunakan dibandingkan dengan obat-obatan
lainnya. Dan yang keempat SSRI juga efektif dalam pengobatan gangguan depresi
mayor yang disertai dengan gangguan lainnya seperti: gangguan panik, binge
eating, gejala-gejala pramenstrual (Reus and Osborne, 2000)

12

BAB III
FITOTERAPI ANTIDEPRESAN

3.1

Tanaman yang Digunakan

3.1.1

Kayu Kuning (Arcangelisia flava (L.) Merr)

Gambar 1. Kayu Kuning


Klasifikasi
Divisi
: Spermatophyta
Sub Divisi
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledoneae
Bangsa
: Ranunculales
Suku
: Menispermaceae
Marga
: Arcanigelisia
Jenis
: Arcangelisia flava Merr. (Plantamor, 2016).
Arcangelisia flava (L) Merr dikenal sebagai aruey ki koneng di daerah
sunda, sedangkan di jawa lebih dikenal dengan sebutan Oyod sirawan, peron
kebo, peron sapi, sirawan susu, atau sirawan tai (Heyne,1950).
Terdapat di dataran rendah sampai 800 meter dari permukaan air laut dan
terdapat sebagai tanaman menjalar kayu kuning merupakan tumbuhan asli Asia
Tenggara yang tumbuh di hutan-hutan tropis, antara lain di Sumatera, Kalimantan,
Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya (Supriadi, 2001).

13

Batang tanaman Arcangelisia flava mengandung senyawa berberin klorida,


jatrorrhizin, 8- hidroksiberberin, limasin dan palmatin (Siwon, 1982). Dari
penelitian diketahui bahwa berberin yang merupakan alkaloid isokinolin yang
terkandung dalam tanaman kayu kuning ini memiliki banyak aktivitas
farmakologi yaitu sebagai antihipertensi, antiinflamasi, antidepresan, antikanker,
antimikroba, hipolipidemik, hepatoprotektif dan antidiabetik (Singh et al., 2010).
Berberin menghambat prolyl oligopeptidase (POP) dengan cara yang
tergantung dosis. Berberine juga dikenal untuk mengikat reseptor sigma seperti
banyak obat antidepresan sintetis. Berberin adalah senyawa alami yang telah aman
diberikan kepada manusia, hasil awal menunjukkan inisiasi uji klinis pada pasien
dengan depresi, gangguan afektif bipolar, skizofrenia, atau penyakit terkait di
mana kemampuan kognitif yang terkena, baik dengan ekstrak atau berberin murni
(Kulkarni, 2008).
Hasil penelitian Tiara Artyani tahun 2014 menunjukkan bahwa ekstrak
larut air kayu kuning yang mengandung berberin klorida dengan kadar 2,711 %
b/b pada dosis 312 mg/kgBB mampu memberikan efek antidepresan pada mencit
putih galur balb-c ditinjau dari immobility time dengan metode forced swim test.
3.1.2

Daun Kemangi (Ocimum basilicum)

Gambar 2. Daun Kemangi


Klasifikasi
Kingdom

: Plantae

14

Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Tubiflorae

Famili

: Lamiaceae

Genus

: Ocimum

Spesies

: Ociumum sanctum L (Plantamor, 2016).


Kemangi banyak dimanfaatkan sebagai anti peradangan, antibiotik alami,

diuretik, analgesik, melancarkan peredaran darah, membersihkan racun,


antimalaria, nyeri haid, antijamur, mencegah kanker dan mengurangi kolesterol.
Kemangi juga kaya akan betakaroten dan magnesium yang berfungsi menjaga dan
memelihara kesehatan jantung. Kemangi dapat diambil minyak atsirinya. Minyak
atsiri ocimum basilicum mengandung berbagai macam zat kimia, salah satunya
ialah eugenol. Kandungan eugenol dalam minyak atsiri Ocimum basilicum
sebanyak 46%. Eugenol memiliki banyak khasiat, salah satunya sebagai
antidepresan (Hadipoentyanti, 2008).
Minyak atsiri daun kemangi diketahui memiliki efek antidepresan
menggunakan metode tail suspension, swimming forced. Sedangkan uji
antidepresan dengan metode radial arm maze menunjukkan minyak atsiri daun
kemangi tidak dapat menghambat penurunan kemampuan kognitif akibat stressor
berulang. Minyak atsiri daun kemangi memiliki kandungan eugenol yang dapat
menghambat enzim Mono Amino Oksidase A dan B (MAO Inhibitor) (Adelina,
2013).
Penghambat MAOA dapat menonaktifkan isoenzim MAOA sehingga
dapat meningkatkan konsentrasi norepinefrin, serotonin, dan dopamine dalam
neuron sinaptik. Studi menunjukkan bahwa terapi dengan penghambat MAOA
dapat menyebabkan perubahan sensitivitas reseptor -adrenergik, -adrenergik
dan reseptor serotonin. Cara kerja penghambat MAOA adalah dengan membentuk
senyawa stabil dengan enzim MAOA, menyebabkan inaktivasi enzim MAOA.
Hal ini mengakibatkan terjadinya

peningkatan

15

jumlah

norepinefrin,

epinefrin,

dan

serotonin

dalam neuron kemudian berdifusi sebagai

neurotransmiter yang berlebih ke dalam rongga sinaptik (Insani, 2010).


Minyak atsiri Ocimum basilicum dengan dosis 2,5 x 10-2 ml/Kg BB
memiliki efek sebagai antidepresan pada mencit Balb/c diukur dari immobility
time mencit Balb/c pada Tail suspension test (Insani, 2010).
3.1.3

Daun Kayu Manis (Cinnamomum zeylanikum)

Gambar 3. Daun Kayu Manis


Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Magnoliidae

Ordo

: Laurales

Famili

: Lauraceae

Genus

: Cinnamomum

Spesies

: Cinnamomum zeylanicum Blume (Plantamor, 2016).


Tanaman kayumanis dapat tumbuh pada dataran rendah, sedang sampai

dataran tinggi, tanaman selain menghasilkan kulit, Dari ranting, yang tidak dapat

16

digunakan serta daun yang terbuang dapat diproses menjadi minyak kayumanis
atau cinamon oil. Jenis lain kayumanis yang banyak ditanam di Indonesia adalah
C. burmanii, C.zeylanikum dan C. cassia.
Kayu manis adalah salah satu bahan alam yang dikembangkan sebagai
obat yang dapat memberi efek antidepresan. Minyak atsiri daun kayu manis
(Cinnamomum zeylanikum) mengandung eugenol dan memiliki efek MAOI
sebagai antidepresan.
Pemberian Minyak atsiri daun kayu manis (Cinnamomum zeylanikum)
mampu memendekkan immobility time secara bermakna (ANOVA p<0,05)
dengan signifikansi 0,001. Hal ini diduga karena kandungan eugenol yang dapat
menghambat enzim monoamin oksidase A. Dosis Minyak atsiri daun kayu manis
(Cinnamomum zeylanikum) yang memberikan efek antidepresi paling besar pada
penelitian ini adalah 1000mg/kg bb/hari.

3.1.4

Jamur Tlethong (Psilocybe cubensis)

Gambar 4. Jamur Tlethong


Klasifikasi
Kingdom:
Division:
Class:
Order:
Family:
Genus:

Fungi
Basidiomycota
Agaricomycetes
Agaricales
Hymenogastraceae
Psilocybe

17

Species: Psilocybe cubensis


Jamur Tlethong (Psilocybe cubensis) yang lebih dikenal masyarakat
dengan nama magic mushroom. Jamur ini telah lama disalahgunakan dengan
tujuan non-medis yaitu untuk mengubah suasana hati dan memperoleh sensasi
dengan berhalusinasi. Menurut Gartz (1993), Jamur Tlethong (Psilocybe cubensis)
mengandung senyawa kimia seperti psilocybin yang berpotensi sebagai
antidepresan (Kurama, 2013).
Berdasarkan

Penelitian

yang

telah

dilakukan

Nofri

P. Kurama

menunjukkan bahwa zat aktif yang terdapat dalam jamur Tlethong (Psilocybe
cubensin) yakni Psilocybin memiliki efek sebagai obat antidepresan dengan
menghambat pengambilan kembali serotonin dan/atau noradrenalin. Sesuai
dengan mekanisme kerja dari obat antidepresan yakni dengan menghambat
pengambilan kembali serotonin dan/atau noradrenalin dari celah sinaptik ke dalam
akloplasma, hambatan dari pengambilan kembali serotonin ini akan menyebabkan
mood menjadi lebih baik sedangkan hambatan dari pengambilan kembali
noradrenalin akan menyebabkan meningkatkan aktivitas (Kurama, 2013).
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan serta pembahasannya
dapat disimpulkan bahwa ekstrak Jamur Tlethong (Psilocybe cubensis) memiliki
efek sebagai obat antidepresan yang ditinjau dari immobility time dari tikus
dengan metode forced swim test. Dapat disimpulkan juga bahwa ekstrak dengan
dosis 750 mg/KgBB dan 625 mg/KgBB memiliki efek yang lebih baik
dibandingkan dengan ekstrak dosis 500 mg/KgBB (Kurama, 2013).

3.1.5

Valerian (Valeriana javanica atau Valeriana hardwickii Wall)

18

Gambar 5. Valerian
Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Asteridae

Ordo

: Dipsacales

Famili

: Valerianaceae

Genus

: Valeriana

Spesies

: Valeriana javanica (Bl.) Dc (Plantamor, 2016).


Valeriana javanica merupakan spesies valerian yang tumbuh di Indonesia.

Spesies yang telah lama digunakan sebagai obat di Eropa karena efek sedatif dan
anti-anxietasnya adalah Valeriana officinalis atau yang lebih dikenal sebagai
valerian. Kandungan Valerian adalah Seskuiterpen (Asam valerenat dan
derivatnya, valeranon, valeranal, kessyl ester) dan valepotriat (valtrat, didrovaltrat,
asevaltrat, isovaleroksi hidroksi valtrat). Akar dan rimpang valerian mengandung
minyak atsiri berupa seskuiterpen (asam valerenat dan derivatnya, valeranon,

19

valeranal, kessyl ester) dan valepotriat (valtrat, didrovaltrat, asevaltrat,


isovaleroksihidroksivaltrat) (Adelina, 2013).
Valeriana javanica merupakan spesies valerian yang tumbuh di Indonesia.
Spesies yang telah lama digunakan sebagai obat di Eropa karena efek sedatif dan
anti-anxietasnya adalah Valeriana officinalis atau yang lebih dikenal sebagai
valerian. Kandungan Valerian adalah Seskuiterpen (Asam valerenat dan
derivatnya, valeranon, valeranal, kessyl ester) dan valepotriat (valtrat, didrovaltrat,
asevaltrat, isovaleroksi hidroksi valtrat). Akar dan rimpang valerian mengandung
minyak atsiri berupa seskuiterpen (asam valerenat dan derivatnya, valeranon,
valeranal, kessyl ester) dan valepotriat (valtrat, didrovaltrat, asevaltrat,
isovaleroksihidroksivaltrat). Asam valerenat secara in vitro dapat berefek agonis
parsial terhadap reseptor 5-HT5a yang berperan penting dalam susunan sistem
syaraf pusat untuk menurunkan formasi cAMP sehingga dapat berperan dalam
mekanisme antidepresan. Secara in vivo, inhalasi minyak atsiri dari akar valerian
dapat memperpanjang waktu tidur tikus yang diinduksi pentobarbital. Asam
valerenat mampu menghambat enzim pemecah GABA yang menghasilkan efek
sedasi. Bahkan, dua senyawa flavonoid yang berasal dari akar valerian (Valeriana
wallichii), 6-metilapigenin dan hesperidin, terbukti mampu berikatan dengan sisi
ikatan benzodiazepine (Adelina, 2013).
3.1.6

Pinang (Areca catechu Linn)

Gambar 6. Pinang
Klasifikasi

20

Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas

: Arecidae

Ordo

: Arecales

Famili

: Arecaceae (suku pinang-pinangan)

Genus

: Areca

Spesies

: Areca catechu L. (Plantamor, 2016).


Areca catechu Linn dikenal sebagai Pinang di Indonesia. Pinang memiliki

kandungan alkaloid (arecaidine dan arecoline), pilocarpine, muscarine,(+)


katekin dan ()-epikatekin. Ekstrak etanolik Pinang dapat mengurangi durasi
imobilitastikus secara signifikantanpa berefek terhadap aktivitas motorik spontan
(dosis 4-80 mg/kg). Fraksi diklormetan Pinang dapat menghambat monoamina
oksidase A (MAO-A) dengan nilai IC50 sebesar 665 65,1 g/ml. Pinang dapat
mengurangi durasi imobilitas secara signifikan bahkan sama dengan moclobemide
(sebuah selektif MAO-A Inhibitor) tanpa menyebabkan perubahan yang
signifikan terhadap aktivitas motorik (Adelina, 2013).
Pinang mengandung alkaloid seperti arecaidine, arecoline, dan senyawa
lainnya yang tidak ditemukan dapat menghambat MAO namun ekstrak
diklormetan Pinang mampu berefek sebagai antidepresan. Dengan kata lain, ada
senyawa selain alkaloid yang dimiliki Pinang yang dapat berefek sebagai
antidepresan (Adelina, 2013).

21

3.1.7

Cabe Jawa (Piper longum Bl atau Piper rectrofractum Vahl. )

Gambar 7. Cabe Jawa


Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Magnoliidae

Ordo

: Piperales

Famili

: Piperaceae (suku sirih-sirihan)

Genus

: Piper

Spesies

: Piper retrofractum Vahl. (Plantamor, 2016).


Piper longum Bl memiliki nama lokal cabe jawa. Alkaloid piperidine

(piperine) yang merupakan kandungan utama cabe jawa, ditemukan dapat


menghambat aktivitas MAO-A dan MAO-B pada otak tikus secara kompetitif.
Selain itu, piperin juga menunjukkan aktivitas antidepressant-like dengan uji tail
suspension. Tiga senyawa lainnya yang dapat diisolasi dari fraksi metilen klorida
Piper longum yaitu metilpiperat, guinensin, dan piperlonguminin juga
menunjukkan efek antidepresan. Metilpiperat dan guinensin menghambat aktivitas
MAO dengan nilai IC50 berturutturut sebesar 3,6 dan 139,2 M. Sedangkan

22

metilpiperat lebih mengambat MAO-B secara selektif (IC50 =1,6 M)


dibandingkan dengan MAO-A (IC50=27,1 M) (Adelina, 2013).
Piperin yang berasal dari isolasi ekstrak etanol Piper longum
menghasilkan aktivitas penghambatan MAO-A (IC50 =20,9 M) dan MAO-B
(IC50 =7,0 M). Kemampuan piperin sebagai antidepresan serupa dengan obat
antidepresan sintetik fluoxetin tanpa perubahan ambulasi. Dengan demikian
piperin dapat menjadi kandidat senyawa alami sebagai agen antidepresan
(Adelina, 2013).

3.1.8

Kunyit (Curcuma longa Linn)

Gambar 8. Kunyit
Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas

: Commelinidae

Ordo

: Zingiberales

Famili

: Zingiberaceae (suku jahe-jahean)

Genus

: Curcuma

Spesies

: Curcuma longa L. (Plantamor, 2016).


Curcuma longa Linn dikenal sebagai kunyit. Kunyit berasal dari India

namun sudah lama digunakan di Indonesia sebagai bahan masakan. Kandungan


23

utama dalam kunyit adalah kurkumin. Kurkumin merupakan Monoamine Oxidase


Inhibitor (MAOI), baik MAO-A maupun MAO-B. Selain itu kurkumin juga
mengatur tingkat norepinefrin, dopamin, dan serotonin. Peran lainnya, kurkumin
berfungsi sebagai antiinflamasi yang berperan penting dalam patofisiologi
penyakit depresi. Sayangnya penggunaan kurkumin secara klinis tidak
menjanjikan karena kurkumin sulit diabsorbsi di sistem pencernaan (Adelina,
2013).
Kurkumin dengan dosis 10-80 mg/kgBB menghambat imobilitas dan
meningkatkan level serotonin (5-HT) dan dopamin dengan efek bergantung dosis.
Pemberian kurkumin dengan dosis 20 dan 40 mg/kgBB bersama dengan piperin
(2,5mg/kgBB) menghasilkan potensiasi aktivitas farmakologis, biokimia, dan
neurokimia. Kurkumin juga menghambat pelepasan glutamat yang diduga
berperan dalam mekanisme antidepresan. Kemungkinan mekanisme antidepresan
lainnya yaitu dengan berinteraksi dengan reseptor 5-HT1A, 5-HT1B, dan 5HT2C. Penelitian lain menyebutkan ekstrak air kunyit dengan dosis 140-560
mg/kgBB mampu mengurangi waktu imobilitas mencit. Dengan demikian,
kurkumin menjanjikan sebagai agen antidepresann (Adelina, 2013).

3.1.9

Pare (Momordica charantia Linn)

Gambar 9. Pare

24

Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Dilleniidae

Ordo

: Violales

Famili

: Cucurbitaceae (suku labu-labuan)

Genus

: Momordica

Spesies

: Momordica charantia L. (Plantamor, 2016).


Momordica charantia Linn dikenal sebagai pare di Indonesia. Ekstrak

metanol daun pare memiliki aktivitas sebagai antidepresan terhadap tikus dengan
dosis 300 mg/kgBB dibandingkan obat imipramin. Aktivitas antidepresan ekstrak
daun pare dilihat dengan metode forced swim test dan menunjukkan penurunan
waktu mobilitas tikus. Pare mengandung momordisin, momordin, momorkarin,
momordisinin, karantin, asam trikosanik, resin, asam resinat, saponin, vitamin A
dan C serta minyak lemak (asam oleat, asam linoleat, asam stearat dan
L.oleostearat) namun belum dapat dipastikan senyawa aktif mana yang berperan
sebagai antidepresan karena belum ada penelitian yang mendukung data tersebut
(Adelina, 2013).

3.1.10 Kembang Telang atau Bunga Biru (Clitoria ternatea)

Gambar 10. Bunga Biru

25

Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Rosidae

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceae (suku polong-polongan)

Genus

: Clitoria

Spesies

: Clitoria ternatea L. (Plantamor, 2016).


Clitoria ternatea memiliki nama lokal kembang telang atau bunga biru.

Clitoria ternatea mengandung saponin, alkaloid, flavonoid(anonim), asam lemak,


delfinidin 3,3,5-triglukosida, fenol, betasitosterol namun belum dapat dipastikan
senyawa mana yang berperan utama sebagai antidepresan. Sedangkan untuk
ekstrak Clitoria ternatea telah terbukti berefek antidepresan yang bergantung pada
dosis. Penelitian lainnya menyebutkan, ekstrak akar Clitoria ternatea dapat
meningkatkan jumlah asetilkolin dan aktivitas asetilkolinesterase pada otak tikus.
Selain itu, ekstrak Clitoria ternatea dapat mengurangi durasi imobilitas melalui
sistem serotonergik dan asetilkolin sedangkan tidak berefek signifikan terhadap
tingkat dopamin dan noradrenalin (Adelina, 2013).
3.1.11 Noni (Morinda citrifolia)

Gambar 11. Noni

26

Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Asteridae

Ordo

: Rubiales

Famili

: Rubiaceae (suku kopi-kopian)

Genus

: Morinda

Spesies

: Morinda citrifolia L. (Plantamor, 2016).


Ekstrak buah Morinda citrifolia atau noni dapat berefek sebagai

antidepresan dengan menghambat enzim MAO-A (78%) dan MAO-B (49%). Tiga
dari sembilan senyawa aktif yang terkandung dalam buah Noni merupakan
antidepresan yang potensial. Tiga senyawa tersebut adalah dua golongan
flavonoid (kaempferol dan kuersetin) dan satu golongan lignan ((+)-3,4,3,4tetrahidro-9,7-epoksilignan-7,9-lakton).

Dengan

potensial menjadi antidepresan alami (Adelina, 2013).

3.1.12 Pala (Myristica fragrans)

Gambar 12. Pala


Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

27

demikian

buah

Noni

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Magnoliidae

Ordo

: Magnoliales

Famili

: Myristicaceae

Genus

: Myristica

Spesies

: Myristica fragrans Houtt (Plantamor, 2016).


Myristica fragrans dikenal dengan nama Pala. Ekstrak n-heksan biji pala

memiliki aktivitas sebagai antidepresan yang signifikan melalui uji tail


suspension
dan forced swim dengan dosis yang memberikan efek antidepresan terbesar adalah
10 mg/kgBB. Standar pembanding yang digunakan adalah imipramin dengan
dosis 15 mg/kgBB dan fluoksetin dengan dosis 20 mg/kgBB. Ramuan Indian yang
memiliki komposisi pala sebesar 1,4% juga memiliki aktivitas sebagai
antidepresan. Senyawa aktif yang berperan sebagai antidepresan adalah miristisin,
elemisin, safrol, dan isoeugenol. Miristisin memiliki mekanisme kerja dengan
menghambat enzim Mono Amine Oxidase (MAO) sedangkan untuk senyawa
lainnya belum diketahui mekanisme kerja spesifiknya (Adelina, 2013).

3.1.13 Daun Sirsak (Annona muricata Linn.)

Gambar 13. Daun Sirsak


28

Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Magnoliidae

Ordo

: Magnoliales

Famili

: Annonaceae

Genus

: Annona

Spesies

: Annona muricata L. (Plantamor, 2016).


Tanaman sirsak (Annona muricata L.) merupakan tanaman yang berasal

dari daerah yang beriklim tropis di benua Amerika. Tanaman ini secara luas telah
banyak digunakan sebagai obat karena kandungan senyawa bioaktifnya (terutama
asetogenin, alkaloid, dan flavonoid) yang ditemukan pada daun, akar, kulit batang,
buah dan biji (Pinto et al., 2005: 33).
Beberapa spesies Annona (Annonaceae) secara tradisional digunakan
untuk pengobatan antikecemasan, antikejang, dan penenang. Dalam penelitian
Hasrat et al (1997), melakukan isolasi senyawa bioaktif alkaloid isoquinolin pada
buah sirsak (Annona muricata L.). hasil isolasi menunjukkan bahwa Annona
muricata L. mengandung komponen alkaloid Annonaine, Nornuciferine, dan
Asimilobine. Kemudian dilakukan pengujian fungsional secara in vitro untuk
penentuan mekanisme kerja senyawa tersebut. Dari hasil pengujian secara in vitro
mengemukakan bahwa senyawa-senyawa tersebut menunjukkan adanya interaksi
dengan reseptor serotonin (5HT1A) dan interaksi dengan sistem bioaminergik
lain, yang bekerja dengan inhibitor uptake dominan. Senyawa derivat alkaloid
isoquinolin tersebut dapat mempengaruhi sistem saraf pusat dan berefek sebagai
antidepresan (Praja, 2016).
Hasil penelitian Silvia Praja tahun 2016 bahwa ekstrak etanol daun sirsak
dengan dosis 250 mg/kg bb mencit memberikan efek antidepresan berdasarkan

29

perbedaan bermakna waktu imobilitas pada metode Forced Swimming Test (FST)
dengan nilai p=0.000 yang dibandingkan dengan kelompok kontrol.

3.1.14 Pegagan (Centella asiatica L.)

Gambar 14. Pegagan


Klasifikasi
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas

: Rosidae

Ordo

: Apiales

Famili

: Apiaceae

Genus

: Centella

Spesies

: Centella asiatica (L.) Urban (Plantamor, 2016).


Pegagan merupakan tanaman herba tahunan yang tumbuh menjalar dan

berbunga sepanjang tahun. Tanaman akan tumbuh subur bila tanah dan
lingkungannya sesuai hingga dijadikan penutup tanah. Pegagan hijau sering
dijumpai di daerah persawahan, di sela-sela rumput, di tanah yang agak lembab
baik yang terbuka atau agak ternaungi, juga dapat ditemukan di dataran rendah
sampai daerah dengan ketinggian 2500 m dpl (Depkes RI, 1977).

30

Penggunaan tumbuhan sebagai obat, berkaitan dengan kandungan kimia


yang terdapat dalam tumbuhan tersebut terutama zat bioaktif. Tanpa adanya suatu
senyawa bioaktif dalam tumbuhan maka secara umum tumbuhan itu tidak dapat
digunakan sebagai obat. Penelitian menyebutkan hasil uji fitokimia daun pegagan
terdapat kandungan triterpenoid. Pegagan mengandung bahan aktif seperti
triterpenoid glikosida (terutama asiatikosida, asam asiatik, asam madekasik, made
kasosida, flavonoid (kaemferol dan kuercetin), volatil oil (valerin, kamfor, siniole
dan sterol tumbuhan seperti kamfesterol, stigmasterol, sitosterol), pektin, asam
amino, alkaloid hidrokotilin,

miositol, asam brahmik, asam centelik, asam

isobrahmik, asam betulik, tanin serta garam mineral seperti kalium, natrium,
magnesium, kalsium dan besi. Zat valerin

yang ada memberikan rasa pahit

(Vinolina, 2014).
Penelitian lain menunjukkan, berbagai penyakit seperti skleroderma,
gangguan pembuluh vena, maupun gangguan pencernaan rata-rata dapat
disembuhkan dengan ramuan itu hingga 80% setelah 2 - 18 bulan. Pada orang
dewasa dan tua penggunaan Centella asiatica sangat baik untuk membantu
memperkuat daya kerja otak, meningkatkan memori, dan menanggulangi
kelelahan. Tanaman ini juga bermanfaat bagi anak-anak penderita attention deficit
disorder (ADD). Hal ini karena adanya efek stimulasi pada bagian otak sehingga
meningkatkan kemampuan seseorang untuk lebih konsentrasi dan fokus. Di
samping itu juga mempunyai efek relaksasi pada sistem saraf yang overaktif
Pendapat lain menyatakan, dalam pengobatan Ayurveda di India tanaman ini
dikenal sebagai herba untuk awet muda dan memperpanjang usia. Hal ini terbukti
dari pengamatan, gajah yang kita kenal memiliki umur panjang karena satwa ini
memakan cukup banyak tanaman pegagan. Di Cina menggunakan berbagai bagian
tanaman pegagan seperti daun digunakan untuk leukorrhea dan demam,
sedangkan untuk bisul digunakan tunas pegagan. Pegagan juga telah digunakan
selama berabad-abad sebagai tonik otak, untuk umur panjang telah menjadi sangat
populer di Cina (Vinolina, 2014).

31

Pada penelitian Santi Era Puspitasari (2007), ekstrak pegagan (Centela


asiatica L.) dengan dosis 2mg/Kg BB memiliki aktivitas sebagai anti depresan
terhadap mencit jantan putih galur Swiss Webster menggunakan alat Rotasound
modifikasi sebagai penginduksi depresi.

3.2

Contoh Produk Herbal yang Beredar di Pasaran

Nama Produk :
PG Pegagan Ekstrak
Nomor Registrasi :
POM TR. 133 372 671
Bentuk Sediaan :
Kapsul
Komposisi :
Ekstrak Pegagan
Industri Pembuat :
CV. NATURAFIT THIBBUNNABAWI Kab. Sragen, Jawa Tengah
Indikasi :
Meningkatkan daya ingat dan konsentrasi

Nama Produk :
Daun Sirsak
Khasiat :
Antikanker, antidepresi, antibakteri,
antihipertensi, antidiabetes, dan
antioksidan.
Komposisi :
Ekstrak Daun Sirsak
Aturan Pemakaian :
Pengobatan : 3 X sehari 3 - 5 kapsul,
sampai sembuh untuk hasil optimal minum
s/d kurang lebih 12 botol.
Pencegahan / pemeliharaan : 2 X sehari 2

32

kapsul.
Nomor Registrasi :
POM TR. 133 371 931
Bentuk Sediaan :
Kapsul isi 60
Industri Pembuat :
Herbal Indo Utama
Nama Produk :
GNC HERBAL PLUS FINGERPRINTED
VALERIAN ROOT
Nomor Registrasi :
POM TI. 014 303 501
Bentuk Sediaan :
Kapsul
Komposisi :
Ekstrak Akar Valerian
Industri Pendaftar :
PT. GUNA NUTRINDO SEHAT
Indikasi :
Meredakan stress dan kecemasan
Memperbaiki pola tidur
Meningkatkan relaksasi

33

DAFTAR PUSTAKA

Adelina, Rosa. 2013. Kajian Tanaman Obat Indonesia yang Berpotensi sebagai
Antidepresan. Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan
Litbang Kesehatan, Kemenkes RI. Volume 3 Nomer 1 Tahun 2013.
Amir, N.A. 2005. Depresi : Aspek Neurobiology Diagnosis dan Tatalaksana.
Penerbit FKUI. Jakarta.
Artyani, Tiara. 2014. EFEK ANTIDEPRESAN EKSTRAK LARUT AIR KAYU
KUNING (Arcangelisia flava (L.) Merr) PADA MENCIT BALB-C
DITINJAU DARI IMMOBILITY TIME DENGAN METODE FORCED
SWIM TEST. Universitas Gadjah Mada: Jakarta. [Skripsi]
Brooker, C. 2006. Churchill Livingstones Mini Encyclopaedia of Nursing. 19
Edition. Elsevier Limited. Norfolk. Terjemahan Andry, Brahm, dan Dwi
Depkes RI. 1977. Materia Medika Indonesia. Jilid I. Jakarta
Depkes. 2007. Pharmaceutical Care Untuk Penderita Gangguan Depresif,
(online), http://www.binfar.depkes.go.id. (diakses 27 Mei 2016).
Fisher, C. 2006. The Secret Life of Manis Depression: Everything You Need to
Know about Bipolar Disorder, BBC Learning & Interactive, London.
Grollman, A. 1972. Pharmacology and Therapy of Depression. The American
Journal of Psychiatry. 113:950
Guyton, C.A., and Hall, J.E. 2005. Textbook of Medical Physiology. Eleven
Edition. Elsevier. Philadelphia. Terjemahan Irawati Setiawan. 2007.
Fisiologi Kedokteran. EGC. Jakarta. 929-942
Hadipoentyanti E, Wahyuni S. 2008. Keragaman selasih (Ocimum Spp.)
berdasarkan karakter morfologi, produksi, dan mutu herba. Jurnal Littri.
14(4): 141-148.
Heyne, K. 1950. De nuttige planten van Nederlandsch Indie. Second Edition.
Biblio Bazaar. Batavia. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid II. Terjemahan
Badan Litbang Kehutanan. Yayasan Sarana Wana Jaya. Jakarta. 757-758.
Ikawati, Z. 2006. Pengantar Farmakologi Molekuler. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta.
Insani, RR Lely. 2010. EFEK MINYAK ATSIRI DAUN KEMANGI (OCIMUM
BASILICUM) SEBAGAI ANTIDEPRESAN PADA MENCITBALB/C
DITINJAU DARI IMMOBILITY TIME PADA TAILSUSPENSION TEST.
Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro: Semarang.

34

Ismail, R. I. & Siste, K., 2010, Gangguan Depresi, Dalam Elvira,Silvia D.,
Hadisukanto, Gitayanti, Buku Ajar Psikiatri, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta.
Kulkarni SK, Dhir A. 2008. "On the mechanism of antidepressant-like action of
berberine chloride". European Journal of Pharmacology 589 (1-3): 16372.
doi:10.1016/j.ejphar.2008.05.043. PMID 18585703.
Kurama, Nofri P., Bodhi, Widdhi. Wiyono, Weny. 2013. Uji Efek Antidepresan
Ekstrak Metanol Jamur Tlethong (Psilocybe cubensis) Pada Tikus Putih
Jantan (Rattus norvegicus): ditinjau dari Immobility Time Dengan Metode
Forced Swim Test. Jurnal Ilmiah Farmasi, Pharmacon, UNSRAT Vol.2
No.03
Lisanby, S.H. 2007. Electrocovulsive Therapy for Depression, The New England
Journal of Medicine, number 19, volume 357: 1939 1945
Mann, J. J. 2005. The Medical Management of Depressi, The New England
Journal of Medicine, number 17, volume 353: 1819 1834.
Mudjadid, E. 2006. Buku Ajar Penyakit Dalam. Gangguan Psikosomatik:
Gambaran Umum dan Pathofisiologinya. Jilid II. Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam. FKUI. Jakarta.
Kaplan, H.I., B.J.Sadock, J.A.Grebb. 1997. Synopsis of Psychiatry. Tenth Edition.
Lippincott Williams and Wilkins. Philadelphia. Sinopsis Psikiatri. 2010.
Terjemahan Kusuma, Widjaja. Kusuma, Widjaja. Binarupa Aksara
Publisher. Tangerang. 116, 123-125.
Nevid, J.S., Spencer. A. Rathus, B. Greene . 2005. Psikologi Abnormal.
Terjemahan Tim Psikologi Universitas Indonesia. Edisi Kelima. Jilid 1.
Penerbit Erlangga. Jakarta.
NIMH. 2011. Depression, (online), http://www.nimh.nih.gov. (diakses 27 Mei
2016).
Plantamor. http://www.plantamor.com/index.php?plant=144 (diakses tanggal 30
Mei 2016)
Puspitasari, Santi E. 2007. Efek Antidepresan Ekstrak Pegagan (Centella asiatica
L.) Pada Mencit Jantan Putih Dengan Alat Rotasound Modifikasi.
Universitas Surabaya: Surabaya.
Reus, V.I, and Osborne S.F. 2000. Psychoneuroendocrinology. Kaplan & Sadocks
Comprehensive Textbook of Psychiatry. Seventh Edition. Lippincott
Williams and Wilkins Publishers. Philadelphia.
Singh, A., Duggal, S., Kaur, N., Singh, J. 2010. Berberin: Alkaloid with Wide
Spectrum of Pharmacological Activities. Journal of Natural Product. 3:6475.
Sukandar, E. Y., Andrajati, R., Sigit, I. J., Adnyana, K. I., Setiadi, P. A. A.,
Kusnandar, 2009, ISO Farmakoterapi, Cetakan kedua, PT. ISFI Penerbitan,
Jakarta.
Supriadi. 2001. Tumbuhan Obat Indonesia: Penggunaan dan Khasiatnya. Pustaka
Populer Obor. Jakarta. 6-8.
Sonne, S. C.,& Brady, T. M.D. 2002. Bipolar Disorder and Alcoholism, (diakses
tanggal 27 Mei 2016).

35

Teter, C. S., Kando, J. C., Wells, B. G., & Hayes, P. E., 2007, Depressive
Disorder, dalam Dipiro, J. T., Talbert, R. L., Yee, G. C., Matzke, G. R.,
Wells, B. G.,& Posey Micheal, L.,(eds), Pharmacotherapy A
Pathophysiologic Approach,7th Edition, Appleton and lange, New York.
Varcorolis, E. M., Carson, V. B. & Shoemaker, N. C. 2006. Foundations of
Psychiatric Mental Health Nursing A Clinical Approach, Fifth Edition,
Elseviers Health Science Rights Departemenr, Philadelphia USA.
Willner P. 1997. The mesolimbic dopamine system as a target for rapid
antidepressant action. Journal of International C linical Psychopharmacy.
Widiarti. 2009. Ensiklopedia Keperawatan. EGC. Jakarta.

36