Anda di halaman 1dari 11

PATOFISIOLOGI

ASFIKSIA NEONATORUM

Pembimbing:
Dr. Mas Wisnuwardhana, Sp. A

Disusun oleh:
Brenda Shahnaz Qurrota Aina Baihaqi
03011057

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BEKASI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA
2016
I.

DEFINISI

Menurut

World

Health

Organization

(WHO),

asfiksia

adalah

kegagalan bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir.


Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), asfiksia pada bayi baru lahir
(BBL) adalah kegagalan napas secara spontan dan teratur pada saat lahir
atau beberapa saat setelah lahir.1
Asfiksia merupakan penyebab kematian neonatus yang paling
tinggi, 27% kematian neonatus diakibatkan oleh asfiksia dan angka
kematian sekitar 41,94% di RS pusat rujukan propinsi. 2
Anoksia adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan akibat
dari kekurangan oksigen yang menyeluruh karena sejumlah sebab primer.
Hipoksia merujuk pada kadar oksigen arteri yang kurang dari normal, dan
iskemia merujuk pada aliran darah ke sel atau organ tidak mencukupi
untuk mempertahankan fungsi normalnya.3
Istilah BBL digunakan untuk bayi yang baru lahir pada menit-menit
pertama sampai beberapa jam selanjutnya. Periode neonatal ialah periode
bayi dari lahir sampai umur 28 hari.4
II.
ETIOLOGI
1. Faktor ibu
Keadaan ibu yang dapat mengakibatkan aliran darah ibu melalui
plasenta berkurang, sehingga aliran oksigen ke janin berkurang akibatnya
akan menyebabkan gawat janin dan akan berlanjut sebagai asfiksia BBL,
antara lain:

Preeklamsia dan eklamsia


Perdarahan antepartum (plasenta previa, solution plasenta)
Partus lama atau partus macet
Demam sebelum dan selama persalinan
Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
Kehamilan lebih bulan (lebih dari 42 minggu usia kehamilan)

2. Faktor plasenta dan tali pusat


Keadaan plasenta atau tali pusat yang dapat mengakibatkan
asfiksia BBL, akibat penurunan aliran darah dan oksigen melalui tali pusat
bayi, antara lain:

Infark plasenta

Hematom plasenta
Lilitan tali pusat
Tali pusat pendek
Simpul tali pusat
Prolapsus tali pusat

3. Faktor bayi
Keadaan bayi yang dapat mengalami asfiksia walaupun kadangkadang tanpa didahului tanda gawat janin, antara lain:

Bayi yang kurang bulan/ prematur (kurang dari 37 minggu usia

kehamilan)
Air ketuban bercampur mekonium
Kelainan kongenital yang memberi dampak pada pernapasan bayi.2

III.

PATOFISIOLOGI
Oksigen sangat penting bagi kehidupan sebelum dan setelah

persalinan. Selama di dalam Rahim, janin mendapatkan oksigen dan


nutrisi dari ibu melalui mekanisme difusi melalui plasenta yang berasal
dari ibu diberikan kepada darah janin. Sebelum lahir, alveoli paru bayi
menguncup dan berisi cairan. Paru janin tidak berfungsi sebagai sumber
oksigen atau jalan untuk mengeluarkan CO2 (karbon dioksida) sehingga
paru tidak perlu diperfusi atau dialiri darah dalam jumlah besar.

Setelah lahir, bayi tidak berhubungan dengan plasenta lagi sehingga


akan bergantung kepada paru sebagai sumber utama oksigen. Oleh
karena itu, beberapa saat setelah lahir paru harus segera terisi oksigen
dan pembuluh darah paru harus berelaksasi untuk memberikan perfusi
pada alveoli dan menyerap oksigen untuk diedarkan ke seluruh tubuh.

Biasanya BBL akan melakukan usaha untuk menghirup udara ke


dalam paru hal ini menyebabkan cairan paru keluar dari alveoli ke
jaringan interstisial di paru, sehingga oksigen dapat diantarkan ke arteri
pulmonal

dan

menyebabkan

arteriol

berelaksasi.

Jika

keadaan

ini

terganggu maka arteriol pulmonal akan tetap konstriksi dan pembuluh


darah arteri sistemik tidak mendapat oksigen sehingga tidak dapat
memberikan perfusi ke organ-organ tubuh yang penting seperti otak
jantung, ginjal, dan lain-lain. Bila keadaan ini berlangsung lama maka

akan menyebabkan kerusakan jaringan otak dan organ lain yang dapat
menyebabkan kematian atau kecacatan. 2
Transisi

dari

kehidupan

janin

intrauterin

ke

kehidupan

bayi

ekstrauterin, menunjukkan perubahan sebagai berikut. Alveoli paru janin


dalam uterus berisi cairan paru. Pada saat lahir dan bayi mengambil nafas
pertama, udara memasuki alveoli paru dan cairan paru diabsorbsi oleh
jaringan paru. Pada napas kedua dan berikutnya, udara yang masuk ke
dalam alveoli bertambah banyak dan cairan paru diabsorbsi sehingga
kemudia seluruh alveoli berisi udara dan mengandung oksigen. Aliran
darah paru meningkat secara dramatis. Hal ini disebabkan oleh ekspansi
paru yang membutuhkan tekanan puncak inspirasi dan tekanan akhir
ekspirasi yang lebih tinggi. Ekspansi paru dan peningkatan tekanan
oksigen alveoli, keduanya menyebabkan penurunan resistensi vaskuler
paru dan peningkatan aliran darah paru setelah lahir. Aliran intrakardial
dan ekstrakardial mulai beralih arah yang kemudian diikuti penutupan
duktus

arteriosus.

menyebabkan

Kegagalan

hipertensi

penurunan

pulmonal

resistensi

persisten

pada

vaskuler
BBL

paru

(Persistent

Pulmonary Hypertension of the Neonate), dengan aliran darah paru yang


inadekuat dan hipoksemia relative. Ekspansi paru yang inadekuat
menyebabkan gagal napas. 4
Pernapasan adalah tanda vital pertama yang berhenti ketika BBL
kekurangan oksigen. Pada periode awal, bayi akan mengalami pernapasan
cepat (rapid breathing) yang disebut gasping primer. Setelah periode awal
ini akan diikuti dengan keadaan bayi tidak bernapas (apnoe) yang disebut
apnoe primer. Pada saat ini frekuensi jantung mulai menurun, namun
tekanan darah masih tetap bertahan. 2
Bila keadaan ini berlangsung lama dan tidak dilakukan pertolongan
pada BBL, maka bayi akan melakukan usaha napas megap-megap yang
disebut gasping sekunder, dan kemudian masuk dalam periode apnoe
sekunder. Pada saat ini frekuensi jantung semakin menurun dan tekanan
darah semakin menurun dan dapat menyebabkan kematian bila bayi tidak
segera ditolong. Sehingga setiap menjumpai kasus dengan apnoe, harus
dianggap sebagai apnoe sekunder dan segela dilakukan reusitasi. 2

Gambar 1. Apnoe Primer dan Sekunder


Sistem
Sistem

Pengaruh
Saraf Ensefalopati hipoksik-iskemik, infark, perdarahan

Pusat

intrakranial,

Kardiovaskular

hiertonia
Iskemia miokardium, kontraktilitas jelek, bising

Pulmonal

jantung, insufisiensi trikuspidalis, hipotensi


Sirkulasi janin persisten, perdarahan

edema

otak,

hipotonia,

paru,

sindrom kegawatan pernapasan


Nekrosis tubular akut atau korteks
Perdarahan adrenal
Cerna Perforasi, ulserasi, nekrotik

Ginjal
Adrenal
Saluran
Metabolik
Metabolik
Kulit
Hematologi

IV.

kejang,

Sekresi ADH yang tidak sesuai, hyponatremia,


hipoglikemia, hipokalsemia, mioglobinuria
Nekrosis lemak subkutan
Koagulasi intravaskular tersebar
Tabel 1. Pengaruh Asfiksia

DIAGNOSIS

Asfiksia

pada

BBL

ditandai

dengan

keadaan

hipoksemia,

hiperkarbia, dan asidosis. Menurut APP dan ACOG (2004), asfiksia


perinatal pada seorang bayi menunjukkan karakteristik berikut:

Asidemia

metabolik

atau

campuran

(metabolik

dan

respiratorik) yang jelas, yaitu pH <7, pada sampel darah yang

diambil dari arteri umbilikalis


Nilai APGAR 0-3 pada menit ke-5
Manifestasi neurologi pada periode BBL, termasuk kejang,

koma, atau ensefalopati hipoksik-iskemik


Terjadi disfungsi sistem multiorgan segera pada periode BBL.4

Anamnesis:

Gangguan atau kesulitan waktu lahir (lilitan tali pusat, sungsang,

ekstraksi vakum, ekstraksi forsep, dll)


Lahir tidak bernapas/ menangis
Air ketuban bercampur mekonium

Pemeriksaan fisik:

Bayi tidak bernapas atau napas megap-megap


Denyut jantung < 100 x/menit
Tonus otot menurun

Untuk diagnosis asfiksia tidak perlu menunggu nilai skor Apgar. 2


V.
PENATALAKSANAAN
1. Resusitasi
Begitu lahir bayi tidak menangis maka dilakukan langkah awal yang
terdiri dari
o Hangatkan bayi di bawah pemancar panas atau lampu
o Posisikan kepala bayi sedikit ekstensi

Gambar 2. Posisi Kepala Saat Resusitasi


5

o Isap lender dari mulut kemudian hidung


o Keringkan bayi sambal merangsang taktil dengan menggosok
punggung atau menyentil ujung jari kaki dan mengganti kain
yang basah dengna kain yang kering

Gambar 3. Rangsangan Taktil

o Reposisi kepala bayi


o Nilai bayi: usaha napas, warna kulit, dan denyut jantung
Bila bayi tetap tidak bernapas, maka lakukan ventilasi tekanan
positif, dengan memakai balon dan sungkup selama 30 detik

dengan kecepatan selama 40-60 kali per menit


Nilai bayi: usaha napas, warna kulit, dan denyut jantung
Bila belum bernapas, dan denyut jantung 60 x/menit, lanjutkan VTP
dengan kompresi dada secara terkoordinasi selama 30 detik
Nilai bayi: usaha napas, warna kulit, dan denyut jantung
o Bila denyut jantung <60 x/menit, beri epinefrin dan lanjutkan
VTP dengan kompresi dada
o Bila denyut jantung >60 x/menit, hentikan kompresi dada,

lanjutkan VTP
Pemasangan pipa ET

dapat

dilakukan

resusitasi. 2

Gambar 4. Kompresi Dada

pada

setiap

tahapan

Gambar 5. Pemilihan Sungkup Untuk Resusitasi

Gambar 6. Alur Resusitasi Neonatus


2. Terapi Medikamentosa
Epinefrin
Indikasi:

o Denyut ajntung janin <60x/menit setelah paling tidak 30 detik


dilakukan ventilasi adekuat

dan kompresi dada belum ada

respon
o Asistolik
Dosis: 0,1-0,3 ml/ kgBB dalam larutan 1:10.000 (0,001-0,003 mg/
kgBB)
Cara: IV dan endotrakeal, dapat diulang setiap 3-5 kali bila perlu.2

Cariran penganti volume darah


Indikasi:
o Bayi baru lahir yang
hypovolemia

dan

tidak

dilakukan
ada

resusitasi

respon

dengan

mengalami
resusitasi.

Hypovolemia kemungkinan akibat adanya perdarahan atau


syok. Klinis ditandai adanya pucat, perfusi buruk, nadi kecil/
lemah, dan pada resusitasi tidak memberikan respon yang
adekuat
Jenis cairan:
o Larutan kristaloid yang isotonis (NaCl 0,9%, Ringer laktat)
o Tranfusi darah golongan O negative jika diduga kehilangan
darah banyak dan bila fasilitas tersedia
Dosis: dosis awal 10 ml/ KgBB IV pelan selama 5-10 menit. Dapat
diulang sampai menunjukkan respon klinis.2

Natrium Bikarbonat
Indikasi:
o Asidosis metabolik secara klinis (napas cepat dalam, sianosis)
Persyaratan: bayi telah dilakukan ventilasi secara efektif
Dosis: 2 mEq/KgBB atau 2 ml/ KgBB (4,2%) atau 1 ml/ KgBB (8,4%)
Cara: diencerkan dengan aquabides atau dekstrose 5% sama
banyak diberikan secara intravena dengan kecepatan minimal 2
menit yaitu 1mEq/ kgBB/ menit
Efek samping: pada keadaan hiperosmolaritas dan kandungan CO2
dari bikarbonan merusak fungsi miokardium dan otak. 2

Nalokson
Indikasi:

o Bila bayi tetap mengalami depresi napas setelah frekuensi


jantung dan warna kulit menjadi normal
o Ibu mendapat obat narkotika pada 4 jam sebelum persalinan
Kontraindikasi:
o Bayi dari ibu yang diduga menggunakan narkotik karena
dapat menimbulkan withdrawl sign
Dosis: 0,1 mg/ kgBB diberikan secara intravena atau intramuscular.
Setiap bayi yang diberi nalokson karena depresi napas karena
narkotik dimonitor ketat beberapa jam.4

DAFTAR PUSTAKA

1. Triana A, Damayanti IP, Afni R, Yanti JS. Buku Ajar Kebidanan


Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Asfiksia Neonatorum. 1st
ed. 2012. p. 164. Deepublish: Yogyakarta.
2. UKK Perinatologi IDAI. Pelayanan Kegawatdaruratan

Obstetri

Neonatal Esensial Dasar Buku Acuan. 2005.p. 61-9. Departemen


Kesahatan Republik Indoneisa: Jakarta.
3. Nelson WE, Behrman RE, Kliegman R, Arvin AM. Janin dan Bayi
Neonatus: Jejas lahir. In: Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Ed 15 th. Vol 1.
2000. p. 581-3. WB Saunders Company: Philadelphia, Pennsylvania.
4. Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A. Buku Ajar
Neonatologi: Asfiksia dan Resusitasi Bayi Baru Lahir. 1 st ed. 2009.
p. . Badan Penerbit IDAI: Jakarta.

10