Anda di halaman 1dari 6

Hasil Dan Pembahasan

A. Hasil
1. Visus
Probandus memiliki visus 15 feet pada mata kanan. Karena waktu terbatas, maka
tidak dilakukan pemeriksaan pada mata kiri. Visus mata kanan probandus 6/4,5 yang artinya
bahwa probandus memiliki kemampuan melihat sejauh 6 meter, sedangkan pada orang
normal memiliki kemampuan melihat sejauh 4,5 meter.
2. Refraksi
Pemeriksaan refraksi pada probandus tidak dilakukan karena hasil visus probandus
menunjukan mata normal.
3. Buta Warna
Tidak ditemukan kelainan buta warna pada probandus.
4. Lapang Pandang
Probandus menunjukan memiliki lapang pandang yang normal. Hal ini ditunjukkan
dengan probandus masih dapat membedakan warna kapur diluar lingkaran yang kecil.

B. Pembahasan

1. Visus
Pada praktikum pemeriksaan visus didapat hasil 15 feet untuk mata kanan
probandus. Perhitungan visus untuk 15 feet adalah:

15

3
3
=4,5 m 1 feet = m
10
10

Artinya,

visus

probandus

tersebut

adalah

6
4,5

dengan

artian

probandus bisa melihat pada jarak 6 meter sedangkan orang normal pada jarak
4,5 meter.
Visus adalah ketajaman atau kejernihan penglihatan, sebuah bentuk yang
khusus di mana tergantung dari ketajaman fokus retina dalam bola mata dan
sensitifitas dari interpretasi di otak. Visus adalah sebuah ukuran kuantitatif suatu
kemampuan untuk mengidentifikasi simbol-simbol berwarna hitam dengan latar
belakang putih dengan jarak yang telah distandardisasi serta ukuran dari simbol
yang bervariasi. Ini adalah pengukuran fungsi visual yang tersering digunakan
dalam klinik. Istilah visus 20/20 adalah suatu bilangan yang menyatakan jarak
dalam satuan kaki yang mana seseorang dapat membedakan sepasang benda.
Satuan lain dalam meter dinyatakan sebagai visus 6/6. Dua puluh kaki dianggap
sebagai tak terhingga dalam perspektif optikal (perbedaan dalam kekuatan optis
yang dibutuhkan untuk memfokuskan jarak 20 kaki terhadap tak terhingga
hanya 0.164 dioptri). Untuk alasan tersebut, visus 20/20 dapat dianggap sebagai
performa nominal untuk jarak penglihatan manusia; visus 20/40 dapat dianggap
separuh dri tajam penglihatan jauh dan visus 20/10 adalah tajam penglihatan
dua kali normal.
Visus dipengaruhi oleh :
1. Madia refrakta : Kornea, Aqueous humor, Lensa, Vitreous humor.
2. Kekeruhan media refrakta
3. Saraf
2. Refraksi
Pada praktikum kali ini, tidak ditemukan refraksi pada mata probandus,
baik refraksi berupa miopi, hipermetropi, astigmatisma maupun presbiopi.
Miopi adalah refraksi dimana mata probandus tidak dapat memfokuskan
bayangan tepat di retina, tetapi bayangan jatuh di depan retina. Penderita miopi
dapat ditolong menggunakan lensa cekung.
Hipermetropi adalah refraksi dimana mata probandus tidak dapat
memfokuskan bayangan tepat di retina, tetapi bayangan jatuh di belakang
retina. Penderita hipermetropi dapat di tolong menggunakan lensa cembung.
Astigmatisma adalah refraksi dimana mata probandus membiaskan
cahaya yang datang di banyak titik dan di jatuhkan di banyak titik pula. Hal ini
disebabkan oleh ketidakrataan bentuk kornea. Penderita astigmatisma dapat di
tolong menggunakan lensa silindris
Presbiopi adalah refraksi sama dengan hipermetropi tetapi beda
penyebab. Presbiopi disebabkan oleh lensa yang tidak bias berakomodasi.
Refraksi adalah pembelokan berkas cahaya dari satu medium ke medium
lain yang berbeda . Kelainan refraksi adalah keadaan bayangan tegas tidak
dibentuk pada retina. Secara umum, terjadi ketidak seimbangan sistem
penglihatan pada mata sehingga menghasilkan bayangan yang kabur. Sinar
tidak dibiaskan tepat pada retina, tetapi dapat di depan atau di belakang retina
dan tidak terletak pada satu titik fokus. Kelainan refraksi dapat diakibatkan
terjadinya kelainan kelengkungan kornea dan lensa, perubahan indeks bias, dan
kelainan panjang sumbu bola mata.

3. Buta warna
Pada praktikum kali ini, tidak ditemukan buta warna pada mata
probandus, baik buta warna parsial maupun buta warna total.
Buta warna adalah suatu kelainan yang disebabkan ketidakmampuan selsel kerucut mata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu akibat faktor
genetis. Faktor genetis ini adalah kelainan genetik / bawaan yang diturunkan dari
orang tua kepada anaknya, kelainan ini sering juga disebut sex linked, karena
kelainan ini dibawa oleh kromosom X. Artinya kromosom Y tidak membawa
faktor buta warna. Hal inilah yang membedakan antara penderita buta warna
pada pria dan wanita. Seorang wanita ini disebut juga 'carrier' atau pembawa
sifat. Hal ini menunjukkan ada satu kromosom X yang membawa sifat buta
warna.

Klasifikasi buta warna :


1. Trikromasi
Yaitu mata mengalami perubahan tingkat sensitivitas warna dari satu atau lebih sel
kerucut pada retina. Jenis buta warna inilah yang sering dialami oleh orang-orang. Ada tiga
klasifikasi turunan pada trikomasi:
Protanomali, seorang buta warna lemah mengenal merah
Deuteromali, warna hijau akan sulit dikenali oleh penderita
Trinomali (low blue), kondisi di mana warna biru sulit dikenali penderita.
2. Dikromasi
Yaitu keadaan ketika satu dari tiga sel kerucut tidak ada. Ada tiga klasifikasi turunan:
Protanopia, sel kerucut warna merah tidak ada sehingga tingkat kecerahan warna merah atau
perpaduannya kurang
Deuteranopia, retina tidak memiliki sel kerucut yang peka terhadap warna hijau
Tritanopia, sel kerucut warna biru tidak ditemukan.
3. Monokromasi
Monokromasi sebenarnya sering dianggap sebagai buta warna oleh orang umum.
Kondisi ini ditandai dengan retina mata mengalami kerusakan total dalam merespon warna.
Hanya warna hitam dan putih yang mampu diterima retina.
Penyebab Buta Warna
Buta warna adalah kondisi yang diturunkan secara genetik. Dibawa oleh kromosom X
pada perempuan, buta warna diturunkan kepada anak-anaknya. Ketika seseorang mengalami
buta warna, mata mereka tidak mampu menghasilkan keseluruhan pigmen yang dibutuhkan
untuk mata berfungsi dengan normal.
Fakta-fakta tentang Buta Warna
1. Buta warna lebih sering terjadi pada seseorang berjenis kelamin lelaki dibandingkan
perempuan. Sebanyak 99% seorang buta warna tidak mampu membedakan antara
warna hijau dan merah. Juga ditemukan kasus penderita yang tak bisa mengenali
perbedaan antara warna merah dan hijau.
2. Cacat mata ini merupakan kelainan genetik yang diturunkan oleh ayah atau ibu.
3. Belum dapat dipastikan berkaitan jumlah penderita, akan tetapi sebuah penelitian
menyebutkan sebesar 8 -12% lelaki Eropa adalah pengidap buta warna. Sementara
persentase perempuan Eropa yang buta warna adalah 0,5 -1%. Tingkat buta warna di
benua lain tentu bervariasi.

4. Tidak ada cara untuk mengobati buta warna, karena ia bukan penyakit melainkan
cacat mata. Bisa jadi seorang buta warna akan merasa tersiksa dengan keadaan ini.
Sebagian perusahaan menetapkan syarat bahwa pekerjanya harus tidak buta warna.
5. Untuk mengetahui apakah seseorang menderita buta warna, dilakukan tes dengan
menggunakan plat bernama Ishihara.

4. Lapang Pandang
Pada praktikum kali ini probandus melakukan pemeriksaan pada mata kanan yang
menunjukan bahwa mata kanan probandus masih mampu membedakan warna kapur diluar
lingkaran kecil pada perimetri.
Apabila pada saat pemeriksaan, probandus baru dapat membedakan warna kapur pada
saat kapur sudah ada di dalam lingkaran kecil, menunjukan adanya kelainan pada lapang
pandang probandus.
Salah satu kelainan pada lapang pandang ialah gloukoma. Kelainan ini disebabkan
karena saluran cairan yang keluar dari bola mata terhambat sehingga bola mata akan
membesar dan bola mata akan menekan saraf mata yang berada di belakang bola mata yang
akhirnya saraf mata tidak mendapatkan aliran darah sehingga saraf mata akan mati.
Gloukoma dapat dicegah dengan deteksi dan penanganan dini. Beberapa faktor yang dapat
menyebabkan penyakit Gloukoma :
1. Riwayat glaukoma di dalam keluarga.
2. Tekanan bola mata tinggi
3. Miopia (rabun jauh)
4. Diabetes (kencing manis)
5. Hipertensi (tekanan darah tinggi)
6. Migrain atau penyempitan pembuluh darah otak (sirkulasi buruk)
7. Kecelakaan/operasi pada mata sebelumnya
8. Menggunakan steroid (cortisone) dalam jangka waktu lama
9. Lebih dari 45 tahun.

4. Cara Kerja
Visus ( Ketajaman Penglihatan)
a. Probandus berdiri/ duduk pada jarak 6 meter dari Optotype van snellen
b. Tinggi mata horizontal dengan Optotype van snellen
c. Mata diperiksa satu persatu, dengan memasang bingkai kacamata khuhus pada orang
percobaan dan tutup mata kirinya dengan penutup hitam khusus yang tersedia dalam
kotak lensa.
d. Periksa visus mata kanan orang percobaan orang dengan menyuruhnya membaca
huruf yang saudara tunjuk. Dimulai dari baris huruf yang terbesar (seluruh huruf)
sampai baris huruf yang terkecil ( seluruh huruf) yang masih dapat dibaca OP dengan
lancar tanpa kesalahan.
e. Catat visus mata kanan orang percobaan.
f. Ulangi pemeriksaan ini pada mata kiri.
g. Catat hasil pemeriksaan.
Refraksi
1. Untuk membedakan mata OP, yang mempunyai visus 6/6 tersebut emetrop atau
hipermetrop maka dilakukan pemeriksaan sebagai berikut :
a. Pasang bingkai kacamata khusus pada probandus dan tutup mata kirinya dengan penutup
hitam khusus.
b. Pasang di depan mata kanannya lensa sferis +0.25 D dan periksa lagi visusnya.
c. Jika mata kanan OP adalah E, pemeriksaan dihentikan.
d. Jika mata OP adalah H, teruskan pemasangan lensa-lensa dengan setiap kali memberikan
lensa positif yang 0.25 D lebih kuat. Lensa positif yang terkuat yang memberikan visus
maksimal merupakan ukuran bagi derajat hipermetrop dalam dioptri (D).
e. Catat derajat H probandus dalam dioptri
2. Jika visus mata kanan OP tanpa lensa lebih kecil dari 6/6 maka mata itu biasanya M. Untuk
menetapkan derajat miopi, dilakukan pemeriksaan sebagai berikut :
a. Pasang bingkai kacamata khusus pada OP dan tutup mata kirinya dengan penutup hitan
khusus.
b. Pasang didepan mata kanannya, lensa sferis negatif mulai dari -0.25 D dengan setiap kali
memberikan lensa negatif yang -0.25 D lebih kuat.
c. Periksa lagi visusnya setiap kali setelah perubahan kekuatan lensa.
d. Lensa negative yang terlemah yang memberikan visus maksimal merupakan ukuran bagi
derajat miopi yang menyatakan dalam dioptri.
e.Catat derajat M orang percobaan dalam dioptri.
Jika dalam pemberian lensa sferis visus tetap tidak mencapai 6/6 maka harus diingat adanya
astigmatisme. Cara memperbaiki astigmatisma dilakukan dengan lensa silindris sebagai
berikut :

a. Pasang bingkai kacamata khusus pada orang percobaan dan tutup mata kirinya dengan
penutup hitam khusus.
b. Pasang didepan mata kananya lensa silindris visus OP tersebut maksimal.