Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN KEGIATAN USAHA KESEHATAN ASYARAKAT

MINI PROJECT
DETEKSI KASUS KEMATIAN BAYI DI KECAMATAN KABILA AKIBAT FEBRIS
I.

PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Kematian anak merupakan masalah utama kependudukan dunia. Oleh
sebab itu masalah kematian anak termasuk dalam Millenium Development
Goals (MDGs). Dalam MDGs poin ke-4 disebutkan bahwa menurunkan angka
kematian anak. Indikatornya adalah angka kematian anak harus turun
sebanyak dua pertiga dari tahun 1990. Pada tahun 1990, angka kematian
anak mencapai 97 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Target saat ini adalah
32 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Indikator kedua adalah proporsi anak
usia satu tahun yang mendapat imunisasi campak. Angka ini telah
meningkat, menjadi 72% untuk bayi dan 76% untuk anak dibawah 23 bulan
pada 2006, namun masih perlu ditingkatkan lagi.
Angka kematian bayi (IMR) berdasarkan SDKI 2012 sendiri terlihat
belum merata pada seluruh Indonesia. Terjadi ketimpangan yang cukup besar
pada beberapa provinsi. Angka kematian bayi (IMR) tertinggi berdasarkan
SDKI 2012 berada di provinsi Papua Barat yang mencapai 74 per 1.000
kelahiran hidup. Sedangkan IMR terendah dicapai oleh provinsi Kalimantan
Timur yang mencapai 21 per 1.000 kelahiran hidup dan diikuti oleh provinsi
DKI Jakarta yang mencatatkan angka 22 per 1.000 kelahiran hidup. Provinsi
Gorontalo sendiri ternyata berada di peringkat ke-2, dibawah provinsi Papua
Barat, yaitu 67 per 1000 kelahiran hidup. Ketimpangan yang terjadi ternyata
bukan karena faktor geografis Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan bahwa
beberapa provinsi di Pulau Sulawesi sudah mencapai IMR yang cukup rendah.
Provinsi Sulawesi Selatan misalnya, mempunyai IMR 25 per 1.000 kelahiran
hidup yang sama dengan Provinsi D.I.Yogyakarta. Sedangkan Provinsi
Sulawesi Utara mempunyai IMR 33 per 1.000 kelahiran hidup. Ketimpangan
inilah yang seharusnya diperbaiki sehingga IMR Indonesia pun akan membaik
dan sesuai dengan MDGs.

2. Pernyataan Masalah
Kematian bayi di Indonesia sebenarnya dapat dicegah dengan baik.
Kesadaran orangtua untuk membawa bayinya yang sakit kepada petugas
kesehatan sudah mengalami peningkatan yang cukup baik sejak era JKN,
walaupun masih perlu peningkatan. Disamping itu, petugas kesehatan juga
harus dapat dengan cepat dan tepat mendeteksi apakah bayi mengalami
sakit berat yang harus segera dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan
pelayanan lebih baik atau cukup ditangani di fasilitas kesehatan primer saja.
Bayi dengan gejala demam, terkadang dianggap sebagai suatu
penyakit yang umum. Terkadang orangtua masih menunggu beberapa hari
untuk membawanya ke fasilitas kesehatan. Sedangkan petugas kesehatan di
fasilitas kesehatan primer kadang menemukan bayi yang sudah terlanjur
sakit berat sehingga sudah sulit untuk melakukan penanganan. Selain itu,
kurang aware-nya petugas kesehatan terhadap gejala-gejala umum bayi
sakit seperti febris menyebabkan anak tidak dirujuk atau dipulangkan
dengan obat penurun demam saja tanpa edukasi yang tepat. Padahal
penyembuhan tidak hanya terjadi dengan pemberian obat saja, melainkan
edukasi yang tepat kepada orangtua sehingga dapat menunjang
kesembuhan.
Temuan kasus kematian bayi akibat febris di kecamatan kabila adalah 1
kasus pada tahun 2014. Menurut pengakuan orangtua, bayinya menderita
demam yang cukup tinggi selama 1 hari. Kemudian pada sore harinya, beliau
membawa bayinya ke praktek dokter dan diberi obat untuk dibawa pulang.
Esok harinya orangtua membawa bayinya kembali periksa ke dokter di RS
Toto Kabila. Akan tetapi pada akhirnya nyawa bayi tersebut tidak tertolong
setelah beberapa jam mendapatkan penanganan di RS Toto Kabila.
3. Tujuan

Meningkatkan pengetahuan orangtua maupun petugas kesehatan


terutama di layanan primer pada bayi dengan gejala febris sehingga
mengurangi angka kematian bayi akibat febris.
4. Manfaat
Menurunkan angka kematian bayi akibat febris sehingga secara tidak
langsung akan menurunkan angka kematian bayi khususnya provinsi
Gorontalo dan umumnya pada seluruh Indonesia.
II.

TINJAUAN PUSTAKA
Perhatian khusus harus diberikan terhadap anak dengan demam. Dari
segi anamnesis, harus didapatkan beberapa informasi penting tentang : lama
dan sifat demam, ruam kemerahan pada kulit, kaku kuduk atau nyeri leher,
nyeri kepala, nyeri saat buang air kecil atau gangguan berkemih lainnya
(frekuensi lebih sering), nyeri telinga, tempat tinggal atau riwayat bepergian
dalam 2 minggu terakhir ke daerah endemis malaria.
Pada pemeriksaan fisik, harus didapatkan informasi tentang : keadaan
umum dan tanda vital, nafas cepat, kaku kuduk, ruam kulit, manifestasi
perdarahan kulit (purpura, petikie), selulitis atau pustul kulit, cairan keluar
dari telinga atau gendang telinga merah pada pemeriksaan otoskopi, pucat
pada telapak tangan/bibir/konjungtiva, dan nyeri sendi atau anggota gerak.
Pemeriksaan laboratorium sederhana juga penting, mengingat anak
sakit gejalanya tidak akan selalu spesifik, akan tetapi nilai laboratorium
dapat menunjukkan arah diagnosisnya. Pemeriksaan laboratorium sederhana
seperti pemeriksaan darah tepi lengkap yang meliputi Hb, Hct, jumlah dan
hitung jenis leukosit dan trombosit, serta apusan darah tepi merupakan
pemeriksaan sederhana yang seharusnya dapat dilakukan di fasilitas
kesehatan primer.
Diagnosis banding bagi anak dengan demam terdapat 4 kategori
utama, yaitu : Demam karena infeksi tanpa tanda lokal, demam karena
infeksi disertai tanda lokal, demam disertai ruam, dan demam lebih dari
tujuh hari. Berikut ini adalah tabel diagnosis banding berdasarkan 4 kategori
utama anak dengan demam berdasarkan World Health Organization (WHO).
Tabel 1. Diagnosis Banding untuk Demam tanpa dsertai tanda lokal
Diagnosis
Sign & Symptom
Demam Dengue, Demam
Demam mendadak tinggi (2-7hari)
Berdarah Dengue,
Manifestasi perdarahan (min. rumple leed +)
Sindrom Syok Dengue
Hepatomegali
Tanda-tanda gangguan sirkulasi
Peningkatan Hct, trombositopenia, leukopenia
Riwayat keluarga/tetangga sakit/tersangka
DBD
Malaria
Demam tinggi khas bersifat intermiten
Demam terus menerus
Menggigil, nyeri kepala, berkeringat
Anemia
Hepato-splenomegali
Apusan darah (+)
Demam Tifoid
Demam lebih dari 7 hari
Terlihat jelas sakit tanpa sebab yang jelas
Nyeri perut, kembung, mual-muntah, diare,
konstipasi
Infeksi Saluran Kemih
Demam terutama di bawah umur 2 tahun
Nyeri ketika berkemih

Sepsis

Berkemih lebih sering dari biasanya


Mengompol (diatas usia 3 tahun)
Ketidakmampuan menahan kemih pada anak
yang sebelumnya bisa dilakukannya
Nyeri ketuk kosto-vertebra / suprapubik
Hasil urinalisis proteinuria, leukosituria
(>5/lpb) dan hematuria (>5/lpb)
Terlihat jelas sakit berat tanpa penyebab
yang jelas
Hipo atau Hipertermia
Takikardia, takipneu
Gangguang sirkulasi
Leukositosis atau leukopenia

Tabel 2. Diagnosis banding Demam yang disertai tanda lokal


Diagnosis
Sign & Symptom
ISPA viral
Batuk/pilek, nyeri telan
Tanda peradangan di saluran napas atas
Tidak terdapat gangguan sistemik
Pneumonia
Batuk
Takipneu
Otitis Media
Nyeri telinga
Otoskopi tampak membran timpani
hiperemis/cembung keluar/perforasi
Riwayat otorea <2minggu
Sinusitis
Perkusi sinus wajah yang terserang terdapat
tanda radang
Cairan hidung berbau
Mastoiditis
Benjolan lunak dan nyeri di daerah mastoid
Radang setempat
Abses Tenggorokan
Nyeri tenggorokan pada anak yang lebih besar
Keuslitan menelan/mendorong masuk air liur
Teraba nodus servikal
Meningitis
Kejang, kesadaran menurun, nyeri kepala,
muntah
Kaku kuduk
Ubun-ubun cembung
Pungsi lumbal +
Infeksi jaringan lunak Selulitis
dan Kulit
Demam Rematik Akut Panas pada sendi, nyeri, dan bengkak
Karditis, eritema marginatum, nodul subkutan
Peningkatan LED dan kadar ASTO
Tabel 3. Diagnosis banding Demam dengan Ruam
Diagnosis
Sign & Symptom
Campak
Ruam yang khas
Batuk, hidung berair, mata merah
Luka di mulut
Kornea keruh
Baru saja terpajan dengan kasus campak
Riwayat imunisasi campak Rubella
Ruam yang khas

Eksantema
Subitum
Demam skarlet

Demam Berdarah
Dengue
Infeksi virus lain

Pembesaran kelenjar getah bening postaurikular,


suboksipital, colli-posterior
Terutama pada usia 6-18 bulan
Ruam muncul setelah suhu turun
Demam tinggi, tampak sakit berat
Ruam merah kasar seluruh tubuh, biasanya didahului
di daerah lipatan (leher, ketiak, lipatan inguinal)
Peradangan hebat pada tenggorokan dan kelainan
pada lidah (strawberry tongue)
Pada penyembuhan terdapat kulit bersisik)
Lihat tabel.1
Gangguan sistemik ringan
Ruam non spesifik

Tabel 4. Diagnosis banding demam >7hari


Diagnosis
Sign & Symptom
Demam Tifoid
Lihat tabel.1
TB (milier)
Demam tinggi
Berat badan turun
Anoreksia
Pembesaran hati dan/atau spleen
Batuk
Tes tubgerkulin dapat positif atau negatif
Riwayat TB dalam keluarga
Pola milier yanghalus pada foto polos dada
Endokarditis
Berat badan turun
Infektif
Pucat
Jari tabuh
Bising jantung
Splenomegali
Peteikie +
Hematuri mikroskopis
Splinter haemorrhages in nail beds
Demam Rematik
Bising jantung yang dapat berubah-ubah
Akut
Artritis/atralgia
Gagal jantung
Takikardia
Pericardial friction rub
Korea
Diketahui baru terinfeksi streptokokal
Abses dalam
Demam tanpa fokus infeksi yang jelas
Radang setempat/nyeri
Tanda-tanda spesifik yang tergantung tempat abses
Diantara beberapa diagnosis banding tersebut, yang paling sering
menyebabkan kematian pada bayi maupun anak usia 2 bulan 5 tahun adalah
demam akibat infeksi virus dengue. Demam akibat virus dengue masih
merupakan permasalahan di Indonesia, dan kasusnya selalu ada dari tahun ke
tahun. Demam akibat infeksi virus dengue mempunyai 2 macam varian, yaitu
Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue.
o Demam Dengue
Demam tinggi mendadak, ditambah minimal 2 gejala :
-nyeri kepala

-nyeri retro orbita


-nyeri otot/tulang
-ruam kulit
-leukopenia
-IgG/IgM +
Tidak ditemukan tanda kebocoran plasma (hemokonsentrasi, efusi
pleura, asites)
Tatalaksana demam dengue sebenarnya dapat dirawat saja di
rumah dengan memberikan edukasi pada orangtua. Berikan anak
banyak minum dengan air hangt atau larutan oralit untuk
mengganti cairan yang hilang akibat demam dan muntah. Berikan
parasetamol untuk demam. Jangan berikan asetosal atau ibuprofen
karena obat-obatan ini dapat merangsang perdarahan. Anak harus
dibawa ke rumah sakit apabila demam tinggi, kejang, tidak bisa
minum, dan muntah terus-menerus.
o Demam Berdarah Dengue
-Klinis
Gejala yang harus ada yaitu :
*Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung
terus-menerus selama 2-7hari
*Terdapat manifestasi perdarahan yang ditandai dengan :
>Rumple leed +
>Peteikie, ekimosis, purpura
>Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi
>Hematemesis dan atau melena
*Hepatomegali
*Syok (nadi cepat & lemah, hipotensi, kaki tangan dingin dan
lembab, WPK < 2s, pasien tampak gelisah)
-Laboratorium
>Trombositopenia (100.000/ul atau kurang)
>Adanya kebocoran plasma karena peningkatan permeabilitas
kapiler, dengan >manifestasi sebagai berikut :
>Peningkatan Hct 20% dari baseline
>Penurunan Hct 20% dari baseline setelah mendapat terapi
cairan
>Efusi pleura/erikardial, asites, hipoproteinemia
Dua kriteria klinis pertama ditambah satu kriteria laboratorium
(atau hanya peningkatan hematokrit) cukup untuk menegakkan
diagnosis kerja DBD.
Derajat penyakit DBD diklasifikasikan dalam 4 derajat :
Derajat I Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi
perdarahan adalah
rumple leed +
Derajat II Derajat I + perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain
Derajat III Terdapat tanda-tanda kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan
lambat, hipotensi,
sianosis di sekitar mulut, kulit dingin dan lembap, anak tampak
gelisah
Derajat IV Syok berat, nadi tidak teraba, tekanan darah tidak terukur
Semua anak dengan gejala yang mengarah ke DBD harus segera
dirujuk ke RS untuk dilakukan penanganan utama yaitu pemberian cairan
melalui jalur infus. Sedangkan anak dengan DB dapat dipulangkan dengan
pemberian parasetamol serta edukasi pada orangtua untuk memberikan anak

minum yang banyak dan segera membawa ke RS jika ditemukan tanda-tanda


bahaya seperti demam tetap tinggi, kejang, tidak mau minum, dan muntah
terus-menerus.
III.

Metode
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya
kematian anak dengan demam adalah dengan melakukan penyuluhan yang
baik pada orangtua tentang tanda-tanda bahaya yang dapat dijumpai pada
anak dengan febris. Orangtua harus mengetahui bagaimana demam itu
muncul, apakah mendadak tinggi yang mengarah kepada demam dengue,
ataukah perlahan-lahan naik, ataupun naik turun dengan pola khas malaria
yang disertai dengan menggigil serta berkeringat. Orangtua juga harus
mencermati kapan anaknya mulai demam, sehingga dapat memudahkan
petugas kesehatan menentukan arah diagnosis yang tepat. Selain itu petugas
kesehatan yang menerima bayi maupun anak dengan gejala demam, harus
melakukan anamnesis yang mendalam tentang beberapa penyakit yang dapat
menimbulkan kematian seperti demam dengue maupun demam berdarah
dengue. Apabila ternyata didapatkan kecurigaan ke arah infeksi virus dengue,
petugas kesehatan selain memberikan obat yang tepat, juga harus melakukan
edukasi yang baik kepada orangtua. Edukasi sederhana yang penting yaitu
meliputi pemberian cairan yang adekuat selama bayi maupun anak masih
dapat minum, melihat keadaan umum anaknya, apakah masih aktif atau
gelisah atau bahkan menjadi lemas, apakah kulitnya dingin dan lembap yang
menunjukkan adanya kemungkinan bayi atau anak sudah berada pada DBD
derajat III/IV yang harus segera dibawa ke RS secepatnya.

IV.

Kesimpulan & Saran


Pengetahuan orangtua yang baik tentang demam pada bayi/anak
disertai dengan pengetahuan dan awareness dari petugas kesehatan dapat
bersinergi untuk mencegah kematian yang disebabkan oleh gejala demam.
Petugas kesehatan juga dapat memberikan edukasi yang baik, sehingga
orangtua mengerti apa saja tanda bahaya sederhana yang dapat mereka
deteksi di rumah sehingga tidak terjadi keterlambatan penanganan. Petugas
kesehatan juga harus aware akan beberapa penyakit, salahsatunya adalah
DBD yang mempunyai gejala awal demam tinggi yang jika tidak diberikan
penanganan yang baik dan edukasi yang tepat dapat menyebabkan kematian.
Gorontalo, 21 Januari 2016
PESERTA
dr. Ahmad Kusumaputra
1973122419993031003

PENDAMPING
dr. Nurhayati Ayuba
NIP