Anda di halaman 1dari 10

Tugas

April, 2016

REFERAT
DISLOKASI LUTUT (ARTICULATIO GENUS)

Disusun Oleh :
Nama

: Ani Bandaso

Stambuk

: N101 12 012

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2016

BAB I
PENDAHULUAN
Sendi lutut merupakan persendian yang paling besar pada tubuh manusia.
Sendi ini terletak pada ekstremitas inferior yaitu antara tungkai atas dan tungkai
bawah. Pada dasarnya sendi lutut ini terdiri dari dua articulatio condylaris diantara
condylus femoris medialis dan lateralis dan condylus tibiae yang terkait dan
sebuah sendi pelana, diantara patella dan facies patellaris femoris (Helmi, 2012).
Cedera adalah memar atau luka, atau dislokasi dari otot, sendi atau tulang
yang disebabkan oleh kecelakaan, benturan (body contact) atau gerakan yang
berlebihan sehingga otot, tulang, atau sendi tidak dapat menahan beban atau
menjalankan tugasnya (Helmi, 2012)
Dislokasi atau pergeseran tulang adalah suatu keadaan persendian tidak
dalam keadaan anatomis (bergeser), dalam hal ini karena terjadi robekan yang
mengakibatkan pergeseran tulang dari tempatnya. Gejala dislokasi antara lain
dapat dilihat dengan ciri-ciri sebagai berikut: pembengkakan terjadi dengan cepat,
terasa nyeri yang sedang sampai berat, terdapat perbedaan yang jelas pada bagian
tubuh yang terluka.
Dislokasi sendi sering terjadi pada olahragawan yaitu terpelesetnya bonggol
sendi dari tempatnya. Apabila sebuah sendi pernah mengalami dislokasi, maka
ligament pada sendi tersebut akan kendor, sehingga sendi tersebut mudah
mengalami dislokasi kembali (dislokasi habitualis). Penanganan yang dapat
dilakukan pada saat terjadi dislokasi adalah segera menarik persendian tersebut
dengan arah sumbu memanjang (Helmi, 2012).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1

DEFINISI
Dislokasi adalah pindahnya permukaan sentuh tulang yang
menyusun sendi. Cedera ini dihasilkan oleh gaya yang menyebabkan sendi
melampaui batas normal anatomisnya (Helmi, 2012). Pindahnya ujung
tulang yang incomplete disebut dislokasi tidak sempurna atau subluxation.
Oleh harena fungsi ligamen adalah juga untuk mencegah perpindahan atau
pergerakkan sendi yang abnormal, semua sprain menghasilkan beberapa
derajad subluxation. Dislokasi yang komplit atau luxation, terjadi saat ada
pemisahan yang komplet dari ujung tulang (Helmi, 2012).
Dislokasi lutut adalah merupakan suatu kondisi lepasnya sendi
lutut yang disebabkan oleh benturan keras seperti kecelakaan lalu lintas.
Dislokasi lutut bisa berupa hal-hal berikut ini :
a. Dislokasi anterior, yang disebabkan oleh trauma hiperektensi berat
pada lutut
b. Dislokasi posterior, sering disebabkan injuri dashboard dengan
mekanisme fleksi pada lutut.
c. Dislokasi medial, lateral, atau rotasi, merupakan kondisi trauma yang
bersifat varus, valgus, atau rotasi.( Helmi, 2012).

ANATOMI DAN FISIOLOGIS


Persendian adalah suatu hubungan antara dua buah tulang atau lebih
yang dihubungkan melalui jaringan ikat pada bagian luar dan pada bagian
dalam. Pada articulatio terdapat rongga sendi dengan permukaan tulang
yang dilapisi oleh tulang rawan. Sendi lutut merupakan sendi di extremitas
inferior yang menghubungkan tungkai atas (paha/ femur) dengan tungkai
bawah (tibia) (Helmi, 2012).
Fungsi dari sendi ini adalah untuk melakukan gerakan flexi, extensi
dan sedikit rotasi pada tugkai bawah. Untuk melakukan fungsi gerak ini
diperlukan antara lain:

Otot-otot penggerak sendi

kapsul sendi yang berfungsi untuk melindungi bagian tulang yang


bersendi supaya jangan lepas bila bergerak

Adanya permukaan tulang yang dengan bentuk tertentu yang


mengatur luasnya gerakan.

Adanya cairan dalam rongga sendi yang berfungsi untuk mengurangi


gesekan antara tulang pada permukaan sendi.

Ligamentum-ligamentum yang ada di sekitar sendi lutut yang


merupakan penghubung kedua buah tulang (femur dan tibia) yang
bersendi sehingga sendi menjadi kuat untuk melakukan gerakan
(Snell, 2011)
Articulatio genus (sendi lutut) adalah sendi yang terbesar dan paling

rumit di seluruh tubuh. Pada dasarnya sendi ini terdiri atas dua buah sendi
condylaris antara condylus femoris medialis dan lateralis dengan condylus
tibiae yang bersesuaian serta sebuah sendi pelana antara patella dan facies
patellaris femoris. Perhatikan bahwa fibula tidak terlibat pada sendi ini.

Sendi lutut ini termasuk dalam jenis sendi engsel, yaitu pergerakan
dua condylus femoris diatas condylus tibiae. Gerakan yang dapat
dilakukan oleh sendi ini yaitu gerakan flexi, extensi dan sedikit rotatio.
Jika terjadi gerakan yang melebihi kapasitas sendi maka akan dapat
menimbulkan cedera yang antara lain terjadi robekan pada kapsul dan
ligamentum di sekitar sendi.5 Sendi antara femur dan tibia adalah sebuah
sendi sinovial tipe ginglymus (sendi engsel), tetapi mempunyai sedikit
kemungkinan gerak rotasi. Sendi antara patella dan femur adalah sendi
sinovial jenis pelana (Snell, 2011).
Patella yang merupakan jenis tulang sesamoid terletak pada segmen
inferior dari tendo m. quadriceps femoris pada permukaan ateroinferior.
Pinggir atas, lateral dan medial merupakan tempat perlekatan berbagai
bagian m.quadriceps femoris. Patella dicegah bergeser ke lateral selama
kontraksi m. quadriceps femoris oleh serabut-serabut horizontal bawah m.
vastul medialis dan oleh besarnya ukuran condylus lateralis femoris (Snell,
2011).
3

EPIDEMIOLOGI
Sekitar 50 % kasus dislokasi lutut anterior posterior akan
memberikan penekanan dari arteri popliteus dan kompresi pada saraf
poplitea, dimana sekitar 12-13 % kasus dislokasi lutut (Helmi, 2012)

ETIOLOGI
Penyebab paling sering yang dilaporkan adalah tabrakan kendaraan
bermotor, meskipun kecelakaan industri, cedera terkait pertanian, dan
cedera olahraga juga sering menyebabkan dislokasi patella.

PATOFISIOLOGI
Dislokasi lutut adalah gangguan sendi secara menyeluruh sehingga
permukaan artikular tibia dan femur tidak lagi bersentuhan. Subluksasi
bersifat serupa, tetapi sebagian permukaan artikular masih tetap
bersentuahn. (Greenberg, 2008)

MANIFESTASI KLINIS

Dislokasi lutut ( Knee dislocation ) adalah cedera yang jarang


terjadi yang dapat disebabkan oleh mekanisme traumatik substansial.
Kekuatan yang secara langsung menghantam lutut yang berada dalam
posisi fleksi dapat menggeser tibia ke posterior ( dorsal), menyebabkan
lutut mengalami dislokasi ke posterior. Dislokasi lutut anterior disebabkan
oleh beban aksial yang bertumpu pada lutut yang hiperekstensi, seperti
yang dapat terjadi saat terjatuh dengan posisi vertikal atau bahkan akibat
penekanan pada obesitas berat. Tekanan valgus dan varus substansial dapat
menyebabkan dislokasi lateral dan medial bila kedua ligamentum kolateral
terganggu (Greenberg, 2008).
7

PEMERIKSAAN FISIK
Dislokasi lutut pada kondisi trauma termasuk jarang didapatkan di
knik. Adapun riwayat trauma dengan benturan yang hebat pada
lutut.keluha utama yang paling sering muncul adalah nyeri. Oleh karena
timbulnya nyeri dan keterbatasan geak, maka semua bentuk kegiatan
pasien menjadi berkurang dan kebutuhan pasien perlu banyak dibantu oleh
orang lain (Helmi, 2012).

Look, Secara klinis adanya dislokasi patella memberikan perubahan


atau deformitas pada sendi lutut. Ekspresi waah pasien meringis
kesakitan apabila melakukan perubahan posisi ututna. Periksa adanya
perubahan warna kulit, berupa ekimosis atau memar luas. Kaji adanya
keluhan nyeri lokal hebat disertai parestesia, adana perubahan nadi,
perfusi yang tidak baik (akral dingin dan pucat pada sisi lesi), CRT> 3
detik pada bagian distal kaki yang merupakan respon dari
pembengkakakan pada bagian proksimal betis dimana hal ini
merupakan tanda-tanda penting terjadinya sindrom komparteme yang
harus dihindari perawat. Apabila kondisi ini tidak segera dilakukan,
intervensi lebih dari 6 jam dalam batas waktu kemampuan jaringan
perifer, maka akan terjadi nekrosis jaringan distal dan ekstremitas
bawah selanjutnya akan dilanjutkan amputasi

Feel, adanya nyeri tekan (tenderness) pada lutut.


Move, ketidakmampuan lutut dalam melakukan seluruh gerakan.
Pemeriksaan move harus dilakukan hati-hati agar jangan sampai
memberikan cedera pada arteri popoliteus dan kompresi pada nervus
poplitea (Helmi, 2012)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan radiografi dapat memprediksikan tingkat dislokasi
lutut. Pada dislokasi komplet dengan perubahan posisi sendi yang jauh
akan menyebabkan cedera pada arteri poplitea. Pemeriksaan USG dupleks
biasa dilakukan untuk mendeteksi adanya injuri vaskular (Helmi, 2012).

DIAGNOSIS
Dislokasi lutut biasanya terdiagnosis secara klinis. Namun, jika
reduksi spontan telah terjadi sebelum pasien tiba di unit gawat darurat,
maka diagnosis dapat menjadi keliru (Greenberg, 2008).
Pemeriksaan fisik dapat memperlihatkan

memperlihatkan

instabilitas struktur ligamen lutut, dengan tibia terselip di anterior ( paling


sering ), posterior, medial, atau lateral. Karena cedera vaskular sering
terjadi pada dislokasi lutut, maka denyut nadi distal dapat berkurang atau
tidak ada. Akibatnya, semua robekan ligamentum bikrusiatum harus
dipertimbangkan sebagai dislokasi lutut sampai terbukti tidak (Greenberg,
2008).

10

TATALAKSANA
Penatalaksanaan dislokasi lutut harus segera dilakukan reduksi.
Reduksi dibawah anestesi sangat diperlukan ; tindakan ini biasanya
dilakukan dengan menarik langsung pada garis kaki, tetapi hiperekstensi
harus dihindari, karena membahayakan pembuluh darah popliteus. Jika
reduksi dapat dicapai, tungkai diistirahatkan pada bebat belakang dengan
posisi lutut : berfleksi 150 dan sirkulasi diperiksa berulang-ulang selama
seminggu berikutnya (Helmi, 2012).

Konsultasi ortopedik yang sangat cepat sangat penting dilakukan


untuk cedera ini, dan ahli bedah vaskular juga dapat diperlukan jika
dicurigai terjadi cedera arteri poplitea. Setelah direduksi, lutut harus
dibidai pada posisi netral. Jika dicurigai terjadi cedera vaskular, maka
dianjurkan melakukan angiografi. Namun bila jelas terdapat defisit
vaskular, jangan menbuang-buang waktu melakukan angiografi; lebih
baik, pasien harus dibawah langsung ke ruang operasi untuk perbaikan
vaskular yang menyelamatkan ekstremitas. Pasien dengan nadi yang kuat
angkat (pedal pulse ) yang secara konsisten baik dan tidak memiliki tandatanda atau gejala iskemia, dapat dipantau secara ketat dan tidak
memerlukan arteriografi, meskipun nadi harus diperiksa setiap jam. Pasien
harus diberi analgesik tetapi sebaiknya tidak berlebihan, karena
pengobatan

yang

berlebihan

dapat

memnggaggu

kemampuan

menyampaikan secara akurat nyeri iskemia yang mengancam ekstremitas.


(Greenberg, 2008).
11

PROGNOSIS
Reduksi tertutup kadang- kadang gagal karena ligamen medial
yang robek terletak antara femur dan kondilus tibia, maka harus dilakukan
reduksi terbuka, ligamen dijahit kembali ke tempatnya dan kapsul
diperbaiki. Penahanan beban dalam gips dapat dilakukan segera setelah
pasien dapat mengangkat kakinya. Gerakan lutut diperoleh kembali bila

12

gips dilepas (Helmi, 2012).


KOMPLIKASI KLINIS
Dislokasi lutut biasanya menyebabkan gangguan pada dua atau
lebih ligamen lutut utama. Arteri poplitea dapat meregang, robek, atau
terpotong, yang dapat menyebabkan gangguan vaskular yang mengancam
ekstremitas. Cedera nervus peroneus dan tibia pernah dilaporkan,
bersamaan dengan fraktur femur suprakondilar dan plateau tibial
(Greenberg, 2008).

BAB III
KESIMPULAN
Dislokasi lutut pada kondisi trauma termasuk jarang didapatkan di klinik.
Dislokasi lutut adalah merupakan suatu kondisi lepasnya sendi lutut yang
disebabkan oleh benturan keras seperti kecelakaan lalu lintas atau cedera karena
olahraga juga sering menyebabkan dislokasi patella. Namun, dislokasi lutut
dilaporkan Paling sering akibat tabrakan kendaraan bermotor.

DAFTAR PUSTAKA
Snell, R,.S. 2011. Anatomi Klinis Berdasarkan Sistem. Jakarta : EGC.
Helmi,. Z,. N. 2016. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba
Medika.
Greenberg, I., M . 2011. Teks Atlas Kedokteran Kedaruratan. Jakarta : Erlangga
Medical Series