Anda di halaman 1dari 15

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR RESIKO BAYI LAHIR MATI DI KOTA

PALEMBANG
Risa Devita, Desi Ulandari
Sekolah Tinggi Ilmu KesehatanAisyiyah, Palembang
risa_devita@yahoo.com, desi.ulandari86@yahoo.com

ABSTRAK
Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan
kesehatan yang telah dicanangkan dalam Sistem Kesehatan Nasional dan bahkan dipakai sebagai
indikator sentral keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia. AKB di Kota Palembang
tahun 2004, berdasarkan Laporan Indikator Database 2005 UNFPA 6th Country Programme adalah
26,68 untuk laki-laki dan 20,02 untuk wanita per 1.000 kelahiran hidup.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan bentuk pendekatan model peluang bayi
lahir mati di Kota Palembang dan menganalisis faktor-faktor risiko yang berpengaruh signifikan
terhadap bayi lahir mati di Kota Palembang.
Jenis penelitian ini termasuk dalam observasional yang bersifat cross sectional. Sampel
dalam penelitian ini adalah ibu yang melahirkan di Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI,
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang, Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang Tahun
2014 dengan besar sampel sebanyak 290 responden. Teknik sampling yang digunakan adalah
simple random sampling dengan mengumpulkan data Rekam Medik (RM). Teknik analisis data
dilakukan dengan secara deskriptif dan inferensial. Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret-Juli
2015.
Hasil analisis data dengan model regresi logistik mengggunakan prosedur Backward
Stepwise didapatkan model regresi logistik bayi lahir mati dengan ketepatan 87,2% didapatkan
variabel yang signifikan adalah usia ibu yang beresiko, adanya komplikasi persalinan, usia
kehamilan yang abnormal, adanya riwayat abortus dan berat badan lahir rendah. Dimana dengan
besarnya peluang bayi lahir mati 89.61% dan peluang bayi lahir hidup sebesar 10,39%.
Kata Kunci : status kelahiran bayi, usia ibu, jenis persalinan, komplikasi persalinan, usia
kehamilan, jumlah kehamilan, jumlah anak sebelumnya, kejadian abortus, berat bayi saat lahir.

ABSTRACT
The Infant Mortality Rate (IMR) is one sign the success of health development that has
been proclaimed in National Healthcare System and even worn as an indicator of the success of
central health development in Indonesia. Based on the Indicators Database Report 2005 UNFPA
Country 6th Program that the Infant Rate Mortality In Palembang city in 2004 are 26,68 for men
and 20,02 for women per 1,000 live births.
The purpose of this research to get the form of approach opportunities model infant
mortality in Palembang city, and analyze risk factors influential significantly toward infant
mortality in Palembang city .
The type of this research includes in observational with crosssectional character. Sample
of this research was the mother who gave birth at Palembang BARI Hospital (Public hospital),
Muhammadiyah Hospital , and Siti Khadijah Islamic Hospital in 2014 with total 290 respondents.
Simple random sampling is used in this research with collecting the data from medical records.
The research was done from March to July 2015.

Result of the data analysis with logistic regression by Backward Stepwise procedure
shown that newborn mortality logistic regression model with exactness 87,2% obtained
significant variables are mother with age risk, complication of delivery, abnormality of age
gestational, abortion history and low birth weight. Where was the opportunity infant mortality was
89,61% and the opportunity of infant live was 10,39%.
Keywords: Newborn status, mother age, type of delivery, delivery complication, age gestational,
the number of pregnancy, the number of kid previously, abortion, low birth weight.
PENDAHULUAN
Penurunan angka kematian bayi (AKB) sangat berpengaruh pada kenaikan umur harapan
hidup waktu lahir. Angka kematian bayi sangat peka terhadap perubahan kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat, sehingga perbaikan derajat kesehatan tercermin pada penurunan angka
kematian bayi dan kenaikan umur harapan hidup pada waktu lahir. Meningkatnya umur harapan
hidup secara tidak langsung juga memberi gambaran tentang adanya peningkatan kualitas hidup
dan derajat kesehatan masyarakat. AKB merupakan salah satu indikator keberhasilan
pembangunan kesehatan yang telah dicanangkan dalam Sistem Kesehatan Nasional dan bahkan
dipakai sebagai indikator sentral keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia.
Data SDKI 2012 menunjukkan kematian bayi untuk periode lima tahun sebelum survei
(2008-2012) adalah 32 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Angka kematian balita dan kematian
anak masing-masing sebesar 40 dan 9 kematian per 1.000 kelahiran. AKB di Sumatera Selatan
berdasarkan Laporan SDKI tahun 2007 mencapai 42 per 1000 kelahiran kemudian menurun di
tahun 2008 sebesar 25 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan AKB di Kota Palembang tahun 2004,
berdasarkan Laporan Indikator Database 2005 UNFPA 6th Country Programme adalah 26,68 untuk
laki-laki dan 20,02 untuk wanita per 1.000 kelahiran hidup (Dinas Kesehatan Kota Palembang,
2011).
Secara umum, penyebabnya bayi lahir mati ada dua macam yaitu endogen dan eksogen.
Kematian bayi endogen atau kematian neonatal disebabkan oleh faktor-faktor yang dibawa anak
sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi. Menurut Mochtar (1998),
kematian bayi yang disebabkan dari kondisi bayinya sendiri yaitu BBLR, bayi prematur, dan
kelainan kongenital. Pendapat Saifudin (2014), kematian bayi yang dibawa oleh bayi sejak lahir
adalah asfiksia. Sedangkan kematian bayi eksogen atau kematian post-neonatal disebabkan oleh
faktor-faktor yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.
Bayi lahir mati dapat pula diakibatkan dari kurangnya kesadaran akan kesehatan ibu.
Banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya, Ibu jarang memeriksakan kandungannya
kebidan; hamil diusia muda; jarak yang terlalu sempit; hamil diusia tua; kurangnya asupan gizi
bagi ibu dan bayinya; makanan yang dikonsumsi ibu tidak bersih; fasilitas sanitasi dan higienitas
yang tidak memadai. Disamping itu, kondisi ibu saat hamil yang tidak bagus dan sehat, juga dapat
berakibat pada kandungannya, seperti faktor fisik; faktor psikologis; faktor lingkungan, sosial, dan
budaya (Sulistyawati, 2009).
Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa karakteristik demografi ibu yang disertai pula
kondisi ibu saat hamil yang diduga memang memiliki risiko terhadap kematian bayi. Meskipun
sudah ada beberapa penelitian yang telah mengungkapkan faktor-faktor penyebab kematian bayi,
namun sampai saat ini belum ada model yang dapat dijadikan acuan tentang faktor-faktor risiko
bayi lahir mati. Salah satu alat analisis yang digunakan untuk membuat model faktor-faktor risiko
bayi lahir mati adalah melalui regresi logistik.
Pemodelan regresi logistik untuk bayi lahir mati memiliki nilai variabel respon yang
terdiri dari dua kategori yaitu bayi yang lahir hidup dan bayi yang lahir mati. Pemodelan ini dapat
menentukan pengaruh variabel-variabel bebas terhadap variabel respon. Selanjutnya dengan model
tersebut dapat ditentukan besarnya peluang bayi lahir mati. Untuk itu pada penelitian ini akan
dilakukan penelitian tentang analisis faktor-faktor risiko bayi lahir mati di Kota Palembang.

KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Bayi Lahir Mati
Bayi lahir mati (neonatal 0-28 hari) adalah menghilangnya tanda-tanda kehidupan bayi
yang terjadi pada bulan pertama setelah kelahiran, dan umumnya disebabkan oleh faktorfaktor yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat konsepsi atau
didapat pada saat kehamilan (Amiruddin, 2014)
Bayi lahir mati (neonatal 0-28 hari) adalah bayi yang mengalami komplikasi seperti
asfiksia, trauma kelahiran, infeksi dan kelainan bawaan dan kematiannya pada masa perinatal
atau usia dibawah 1 bulan dan neonatal atau pada usia minggu pertama kelahiran
(Prawirohardjo, 2014).
B. Faktor-faktor Penyebab Kematian Bayi Lahir
Beberapa faktor-faktor penyebab kematian bayi lahir diantaranya adalah:
1. Kekurangan gizi selama hamil
Kekurangan gizi selama hamil akan berakibat buruk terhadap janin. Penentuan status gizi
yang baik yaitu dengan mengukur berat badan ibu sebelum hamil dan kenaikkan berat
badan selama hamil. Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat memengaruhi proses
pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian
neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfiksia. Intra partum (mati dalam kandungan)
lahir dengan berat badan rendah (BBLR).
2. Berat badan lahir rendah
Bayi berat lahir rendah (BBLR) / Low birthweight infant adalah bayi dengan berat badan
lahir 1500 sampai kurang dari 2500 gram. Neonatus atau bayi baru lahir dengan berat
badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahirnya kurang dari 2500 gram.
3. Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun
Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun dapat menimbulkan pertumbuhan janin kurang baik,
persalinan lama dan perdarahan pada saat persalinan karena keadaan rahim belum pulih
dengan baik. Ibu yang melahirkan anak dengan jarak yang sangat berdekatan (di bawah dua
tahun) akan mengalami peningkatan risiko terhadap terjadinya perdarahan pada trimester
III.
4. Penyakit asma pada ibu
Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya serangan,
karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen (O2) atau hipoksia. Keadaan hipoksia bila
tidak segera diatasi tentu akan berpengaruh pada janin, dan sering terjadi keguguran,
persalinan prematur atau berat janin tidak sesuai dengan usia kehamilan.
5. Penyakit hipertensi dalam kehamilan
Penyakit hipertensi dalam kehamilan merupakan kelainan vaskuler yang terjadi sebelum
kehamilan atau timbul dalam kehamilan atau pada permulaan persalinan, hipertensi dalam
kehamilan menjadi penyebab penting dari kelahiran mati dan kematian neonatal. Ibu
dengan hipertensi akan menyebabkan terjadinya insufisiensi plasenta, hipoksia sehingga
pertumbuhan janin terhambat dan sering terjadi kelahiran prematur.
6. Konsumsi obat-obatan pada saat hamil
Peningkatan penggunaan obat-obatan (antara 11% dan 27% wanita hamil, bergantung pada
lokasi geografi) telah mengakibatkan makin tingginya insiden kelahiran prematur, BBLR,
defek kongenital, ketidakmampuan belajar, dan gejala putus obat pada janin.
7. Ketuban Pecah Sebelum Waktunya
Ketuban Pecah Sebelum Waktunya (KPSW) adalah pecahnya ketuban sebelum waktunya
melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum watunya
melahirkan. KPSW preterm adalah KPSW sebelum usia kehamilan 3 minggu. KPSW
memanjang adalah KPSW yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan
(Rukiyah, dkk. 2014).
8. Air ketuban melebihi 2000 cc
Air ketuban melebihi 2000 cc adalah gejala hidramnion terjadi semata-mata karena faktor
mekanik sebagai akibat penekanan uterus yang besar kepada organ-organ seputarnya.

Hidramnion harus dianggap sebagai kehamilan dengan risiko tinggi karena dapat
membahayakan ibu dan anak.
9. Perdarahan pada kehamilan diatas 22 minggu
Perdarahan pada kehamilan diatas 22 minggu hingga mejelang persalinan yaitu sebelum
bayi dilahirkan. Komplikasi utama dari perdarahan antepartum adalah perdarahan yang
menyebabkan anemia dan syok yang menyebabkan keadaan ibu semakin buruk.
10. Kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi
Kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel
telur. Bayi yang dilahirkan dengan kelainan kongenital, umumnya akan dilahirkan sebagai
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) atau bayi kecil untuk masa kehamilannya.
11. Infeksi hepatitis terhadap kehamilan
Infeksi hepatitis terhadap kehamilan bersumber dari gangguan fungsi hati dalam mengatur
dan mempertahankan metabolisme tubuh, sehingga aliran nutrisi ke janin dapat terganggu
atau berkurang. Oleh karena itu, pengaruh infeksi hepatitis menyebabkan abortus atau
persalinan prematuritas dan kematian janin dalam rahim.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini termasuk dalam observasional (Supriyanto, 2003). Ditinjau dari
segi waktu, penelitian ini bersifat cross sectional, karena hanya dilakukan dalam satu waktu.
Variabel dependent (Y) dalam penelitian ini adalah status kelahiran. Variabel independent
(X) adalah Usia Ibu (X1), Jenis Persalinan (X2), Komplikasi Persalinan (X3), usia kehamilan
(X4), jumlah kehamilan (X5), jumlah anak sebelumnya (X6), kejadian abortus (X7), berat bayi
saat lahir (X8).
Penelitian ini dilakukan di 3 Rumah Sakit Di Kota Palembang yaitu Rumah Sakit Umum
Daerah Palembang BARI, Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dan Rumah Sakit Islam Siti
Khadijah Palembang yang di anggap mewakili data Kota Palembang. Penelitian dimulai dari
Bulan Februari Juli 2015.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang melahirkan di Rumah Sakit di Kota
Palembang Tahun 2014. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian ibu yang melahirkan di
Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI, Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dan
Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang dengan besar sampel sebanyak 290 ibu yang
melahirkan baik secara normal ataupun abnormal tahun 2014. Teknik sampling yang digunakan
adalah simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data Rekam
Medik (RM) dari ibu melahirkan tahun 2014 di Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI,
Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang dan Rumah Sakit Islam Siti Khadijah Palembang.
Teknik analisis data dilakukan dengan secara deskriptif dan inferensial. Statistik
deskriptif dilakukan dengan menampilkan distribusi masing variabel baik berupa tabel distribusi
maupun grafik secara univariat. Analisis inferensial dilakukan untuk analisis bivariat dan
multivariat. Analisis bivariat dilakukan dengan statisitik uji chi-square untuk melihat hubungan
antara satu variabel dependen dengan satu variabel independen, sedangkan analisis multivariat
dilakukan dengan model regresi logistik untuk membentuk model faktor-faktor yang berisiko
terhadap bayi lahir mati, sehingga masing-masing individu dapat terlihat peluang atau risiko
mengalami bayi lahir mati.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah sampel persalinan yang diambil dari
beberapa RS di Kota Palembang yang berjumlah 290 sampel.

Tabel 1. Distribusi Responden Menurut Status Kelahiran, Usia Ibu, Jenis Persalinan,
Komplikasi Persalinan, Usia Kehamilan, Jumlah Kehamilan, Jumlah Anak Sebelumnya,
Kejadian Abortus dan Berat Bayi Saat Lahir di Kota Palembang Tahun 2014
Status Kelahiran

Jumlah

Bayi lahir hidup

189

65.2

Bayi lahir mati

101

34.8

Total

290

100

Usia Tidak Beresiko


(19 35 tahun)

207

71.4

Usia Beresiko
(< 19 Tahun dan > 35 Tahun)

83

28.6

Total

290

100

Normal

150

51.7

Sectio Caesaria

140

48.3

Total

290

100

Tidak Ada

133

45.9

Pre Eklampia dan Eklampsia

35

12.1

Ketuban Pecah Dini

45

15.5

Lainnya

77

26.6

Total

290

100

Normal

210

72.4

Prematur

64

22.1

Postmatur

16

5.5

Total

290

100

Jumlah Kehamilan

Jumlah

Usia Ibu

Jenis Persalinan

Komplikasi Persalinan

Usia Kehamilan

93

32.1

97

33.4

45

15.5

24

8.3

18

6.2

2.8

0.7

0.7

12

0.3

Total

290

100

95

32.8

104

35.9

46

15.9

22

7.6

16

5.5

1.0

0.7

0.3

0.3

Total

290

100

Tidak Pernah

259

89.3

Pernah

31

10.7

Total

290

100

Berat Badan Lahir

Jumlah

Normal

197

69.7

Rendah

93

32.1

Jumlah Anak Sebelumnya

Kejadian Abortus

Total

290

100

Sumber : Pengolahan Data, 2015


Dari tabel 1, dapat diketahui bahwa dari 290 bayi yang lahir sebanyak 34.8% bayi lahir
mati. Sebagian besar usia ibu dalam kategori usia tidak beresiko (19-35 tahun) yaitu sebesar
71,4%. Sebanyak 51,7% dengan persalinan normal baik spontan pervaginam atau spontan dengan
bantuan alat. Sebagian besar dengan tidak ada kompilkasi persalinan yaitu 45,9%. Sebagian besar
72,4% dengan usia kehamilan cukup bulan/normal. Sebanyak 33,4% dengan jumlah kehamilan ke2. Sebanyak 35,9% dengan jumlah anak sebelumnya 2 orang. Sebagian besar 89,3% tidak pernah
abortus. Sebagian besar 69,7% dengan berat badan lahir normal.
Deskripsi Variabel dalam Model
Variabel-variabel bebas yang diamati dapat dilihat keterkaitannya dengan variabel respon
melalui tabel-tabel kontingensi (tabulasi silang) berikut.
Tabel 2. Tabulasi Silang Status Kelahiran Bayi Berdasarkan Usia Ibu
Status Bayi Lahir
Hidup
Mati
Usia Tidak Beresiko
129
78
62,3%
37,7%
Usia Beresiko
60
23
72,3%
27,7%
Total
189
101
65,2%
34,8%
Sumber : Pengolahan Data, 2005
Usia Ibu

Total
207
100,0%
83
100,0%
290
100,0%

Berdasarkan Tabel 2, jumlah bayi lahir mati sebesar 37,7 % berasal dari ibu yang berumur
antara 20-35 tahun (usia tidak beresiko), sedangkan 27,7% berasal dari usia ibu yang beresiko,
yaitu ibu yang berumur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun memberikan kontribusi kecil
terhadap jumlah bayi lahir mati di Kota Palembang.
Tabel 3. Tabulasi Silang Status Kelahiran Bayi Berdasarkan Jenis Persalinan
Status Bayi Lahir
Hidup
Mati
Normal
92
58
61,3%
38,7%
Sectio Caesaria
97
43
69,3%
30,7%
Total
189
101
65,2%
34,8%
Sumber : Pengolahan Data, 2015
Jenis Persalinan

Total
150
100,0%
140
100,0%
290
100,0%

Berdasarkan Tabel 3 jumlah bayi lahir mati dengan persalinan normal sebanyak 58
(38,7%) dari 150 persalinan, sedangkan persalinan Sectio Caesaria hanya ada 43 (30,7%) bayi
yang lahir mati dari 140 persalinan. Dari data menunjukkan bahwa kelahiran bayi mati lebih besar
pada persalinan normal.

Tabel 4. Tabulasi Silang Status Kelahiran Bayi Berdasarkan Komplikasi Persalinan


Status Bayi Lahir
Hidup
Mati
Tidak Ada
91
42
68,4%
31,6%
Pre Eklamsia/Eklampsia
24
11
68,6%
31,4%
Ketuban Pecah Dini
29
16
64,4%
35,6%
Lainnya
45
32
58,4%
41,6%
Total
189
101
65,2%
34,8%
Sumber : Pengolahan Data, 2015
Komplikasi Persalinan

Total
133
100,0%
35
100,0%
45
100,0%
77
100,0%
290
100,0%

Berdasarkan Tabel 4, sebanyak 31,6 % bayi lahir mati berasal dari ibu yang tidak
mengalami komplikasi selama kehamilan ataupun persalinan. Bayi lahir mati yang berasal dari ibu
yang mengalami komplikasi paling banyak terjadi pada ibu yang mengalami ketuban pecah dini
yang mencapai 35,6%. Ibu yang mengalami komplikasi lainnya juga relatif tinggi dengan berbagai
macam komplikasi selain di atas, yaitu mencapai 41,6%.
Tabel 5. Tabulasi Silang Status Kelahiran Bayi Berdasarkan Usia Kehamilan
Status Bayi Lahir
Hidup
Mati
Normal
165
45
78,6%
21,4%
Prematur
8
56
12,5%
87,5%
Postmatur
16
0
100,0%
0,0%
Total
189
101
65,2%
34,8%
Sumber : Pengolahan Data, 2015
Usia Kehamilan

Total
210
100,0%
64
100,0%
16
100,0%
290
100,0%

Berdasarkan Tabel 5, sebagian besar 87,5% bayi lahir mati berasal dari ibu yang
mengalami usia kehamilan prematur, sedangkan ibu dengan usia kehamilan normal ada 45 (21,4%)
yang mengalami bayi lahir mati. Pada data tersebut tidak ditemukan status bayi lahir mati pada
usia kehamilan postmatur, meskipun resiko usia kehamilan post term sama dengan usia prematur.
Tabel 6. Tabulasi Silang Status Kelahiran Bayi Berdasarkan Jumlah Kehamilan
Jumlah Kehamilan
1

Status Bayi Lahir


Hidup
Mati
60
33
64,5%
35,5%

Total
93
100,0%

60
37
61,9%
38,1%
29
16
3
64,4%
35,6%
16
8
4
66,7%
33,3%
5
15
3
83,3%
16,7%
6
2
6
75,0%
25,0%
1
1
7
50,0%
50,0%
1
1
8
50,0%
50,0%
1
0
12
100,0%
0,0%
189
101
Total
65,2%
34,8%
Sumber : Pengolahan Data, 2015
2

97
100,0%
45
100,0%
24
100,0%
18
100,0%
8
100,0%
2
100,0%
2
100,0%
1
100,0%
290
100,0%

Berdasarkan Tabel 6, jumlah bayi lahir mati paling banyak terjadi pada kehamilan kedua.
Meskipun kehamilan pertama disebut-sebut sebagai kehamilan berisiko dikarenakan kondisi ibu
yang belum siap secara fisik maupun mental atau karena faktor usia ibu yang masih terlalu muda,
namun pada penelitian ini terjadi justru pada kehamilan kedua.
Tabel 7. Tabulasi Silang Status Kelahiran Bayi Berdasarkan Jumlah Anak Sebelumnya
Jumlah Anak Sebelumnya
0
1
2
3
4
5
6
7
9

Status Bayi Lahir


Hidup
Mati
62
33
65,3%
34,7%
66
38
63,5%
36,5%
29
17
63,0%
37,0%
16
6
72,7%
27,3%
11
5
68,8%
31,3%
2
1
66,7%
33,3%
1
1
50,0%
50,0%
1
0
100,0%
0,0%
1
0

Total
95
100,0%
104
100,0%
46
100,0%
22
100,0%
16
100,0%
3
100,0%
2
100,0%
1
100,0%
1

Total

100,0%
189

0,0%
101

100,0%
290

65,2%

34,8%

100,0%

Sumber : Pengolahan Data, 2015


Pada Tabel 7, jumlah bayi lahir mati juga terjadi pada persalinan kedua (jumlah anak
sebelumnya satu). Namun bayi lahir mati pada ibu dengan jumlah anak yang lebih dari 4 (sudah
melahirkan lebih dari 4 kali) jumlahnya tidak sebanyak pada ibu dengan persalinan pertama
padahal ibu yang telah melahirkan lebih dari 4 kali termasuk ibu dengan kehamilan berisiko tinggi.
Tabel 8. Tabulasi Silang Status Kelahiran Bayi Berdasarkan Kejadian Abortus
Status Bayi Lahir
Kejadian Abortus
Total
Hidup
Mati
Tidak Pernah
165
94
259
63,7%
36,3%
100,0%
Pernah Abortus
24
7
31
77,4%
22,6%
100,0%
Total
189
101
290
65,2%
34,8%
100,0%
Sumber : Pengolahan Data, 2015
Bayi lahir mati berdasarkan Tabel 8, sebanyak 22,6 % berasal dari ibu yang pernah
mengalami abortus. Riwayat abortus pada kehamilan sebelumnya diketahui juga ikut
mempengaruhi kejadian bayi lahir mati (kematian janin) pada kehamilan berikutnya. Namun
demikian, dari data yang diperoleh sebanyak 36,3% bayi lahir mati berasal dari ibu yang tidak
mempunyai riwayat abortus pada kehamilan sebelumnya.
Tabel 9. Tabulasi Silang Status Kelahiran Bayi Berdasarkan Berat Bayi Saat Lahir
Status Bayi Lahir
Hidup
Mati
Normal
170
27
86,3%
13,7%
Rendah
19
74
20,4%
79,6%
Total
189
101
65,2%
34,8%
Sumber : Pengolahan Data, 2015
Berat Bayi Lahir

Total
197
100,0%
93
100,0%
290
100,0%

Berdasarkan Tabel 9, bayi lahir mati 79,6% merupakan bayi dengan berat lahir rendah
(BBLR) dan hanya ada 27 (113,7%) bayi lahir mati yang berasal dari berat bayi normal. Hal ini
menunjukkan bahwa berat bayi rendah memiliki resiko lebih besar untuk terjadinya kasus bayi
lahir mati.
Pembentukan Model
Analisis data menggunakan model regresi logistik dimaksudkan untuk mengetahui faktorfaktor yang signifikan mempengaruhi bayi lahir mati serta mengetahui besarnya peluang bayi lahir
mati berdasarkan faktor-faktor tersebut. Faktor-faktor yang dimaksud terdiri dari usia ibu

( X 1) , jenis persalinan ( X 2 ), komplikasi persalinan ( X 3) , usia kehamilan ( X 4) ,

X 5 ), jumlah anak sebelumnya ( X 6 ), kejadian abortus ( X 7 ), dan


berat bayi saat lahir (
X 8 ) yang disebut sebagai variabel-variabel bebas. Sedangkan variabel
jumlah kehamilan (

responnya adalah status kelahiran bayi meliputi bayi lahir hidup ( y 0) dan bayi lahir mati
( y 1) .
Dalam penelitian ini, pemilihan model terbaik dilakukan dengan menggunakan prosedur
Backward Stepwise. Prosedur Backward Stepwise menghilangkan variabel dari model berdasarkan
algoritma statistik dengan melihat tingkat kepentingan dari sebuah variabel, kemudian
mengeluarkan variabel-variabel tersebut dari model berdasarkan aturan yang tetap. Variabel
penting didefinisikan sebagai variabel yang mempunyai pengaruh yang nyata terhadap model.
Pada regresi logistik, uji nyata variabel dilakukan dengan uji khi-kuadrat rasio likelihood.
Oleh karena itu, pada setiap langkah dalam algoritma Stepwise variabel yang dianggap
berpengaruh nyata adalah variabel yang menghasilkan perubahan terbesar dalam log-likelihood
relatif terhadap model yang tidak mengandung variabel tersebut.
Jumlah variabel yang masuk ke dalam model regresi logistik sangat ditentukan oleh nilai
, yaitu nilai yang menentukan seberapa pentingnya suatu variabel. Pada setiap tahap, variabel
bebas yang tidak nyata (p-value (sig) lebih besar dari (0,05) akan dikeluarkan dari model. Proses
dihentikan jika tidak ada lagi variabel yang bisa dikeluarkan dari model.
Tabel 10. Hasil Analisis Regresi Logistik Langkah ke-4
95% C.I.for EXP(B)
Variabel
X1(1)

S.E.

,958

Wald
,444

X3

Df

Sig.

4,653

,031

6,815

,078

Exp(B)

Lower

Upper

2,607

1,092

6,228

X3(1)

-,456

,423

1,166

,280

,634

,277

1,450

X3(2)

-,237

,613

,149

,699

,789

,237

2,624

X3(3)

-1,527

,591

6,669

,010

,217

,068

,692

17,851

,000

X4(1)

29,422

1480852,768

,000

1,000

5994919310858,930

0,000

X4(2)

31,691

1480852,768

,000

1,000

57998094772829,800

0,000

X7(1)

1,583

,698

5,144

,023

4,868

1,240

19,116

X8(1)

-2,561

,419

37,319

,000

,077

,034

,176

-30,552

1480852,768

,000

1,000

,000

X4

Constant

Dari pengujian model secara simultan diperoleh nilai statistik uji G (-2 log likelihood =
206.669). Nilai tersebut menunjukkan bahwa model yang diperoleh signifikan dengan p-value uji
G sebesar 0,076 < 0,10. Pengujian secara parsial menunjukkan masih ada variabel bebas yang
tidak signifikan. Variabel yang menghasilkan p-value terbesar dari perubahan Log-Likelihood pada
tahap ini adalah

X4

yaitu usia kehamilan sebesar 0,414 maka variabel ini dikeluarkan dari

model. Berdasarkan Tabel 4.12, hasil pengujian secara parsial menunjukkan semua variabel nyata
(signifikan) pada taraf 10% sehingga proses selesai.
Hasil analisis regresi logistik yang diperoleh merupakan model terbaik. Berdasarkan
Tabel 9, dapat dilihat bahwa model regresi logistik bayi lahir mati yang diperoleh adalah sebagai
berikut :

(X )

exp( 30,55 0,958 X 1(1) 0,456 X 3(1) 0,237 X 3( 2 ) 1,527 X 3( 3) 29,42 X 4(1)

1 exp( 30,55 0,958 X 1(1) 0,456 X 3(1) 0,237 X 3( 2) 1,527 X 3( 3) 29,42 X 4(1

Model ini memberikan ketepatan hasil prediksi sebesar 87,2 %, artinya model ini sudah
baik dalam memprediksi data. Dari semua tahap pemodelan yang telah dilakukan di atas, maka
diperoleh model terbaik yaitu model dengan variabel-variabel yang signifikan sebagai berikut :
1. Usia Ibu (X1)
X1(1) = Usia Beresiko
2.

Komplikasi persalinan

( X 3)

X 3(1) = Preeklamsia/Eklampsia
X 3( 2) Ketuban Pecah Dini
X 3(3) Lainnya
3.

Usia Kehamilan

X
X
4.
5.

4 (1)
4( 2)

= Prematur

Postmatur

Kejadian Abortus (X7)


X7(1) = Pernah Abortus
Berat bayi saat lahir

( X 8)

X 8(1) Berat lahir rendah.


Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa peluang bayi lahir mati dari suatu persalinan.
Sebagai contoh, misalkan diketahui seorang ibu berusia antara < 19 tahun dan > 35 tahun,
mengalami pre eklampia/eklampsia atau ketuban pecah dini atau komplikasi persalinan lainnya,
usia kehamilan prematur atau postmatur, pernah aborsi dan bayi dengan berat lahir rendah.
Berdasarkan karakteristik tersebut didapat model peluang bayi lahir mati sebagai berikut :

(X )

exp( 30,55 0,958 X 1(1) 0,456 X 3(1) 0,237 X 3( 2 ) 1,527 X 3( 3) 29,42 X 4(1)

1 exp( 30,55 0,958 X 1(1) 0,456 X 3(1) 0,237 X 3( 2) 1,527 X 3( 3) 29,42 X 4(1

0,8961
Hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa besarnya peluang bayi lahir mati yaitu
89,61%. Dengan kata lain, peluang bayi tersebut akan lahir hidup yaitu sebesar 10,39%.
Pembahasan
Dari penelitian ini didapatkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap
bayi lahir mati di kota Palembang adalah usia ibu yang beresiko (< 19 tahun dan > 35 tahun),
adanya komplikasi persalinan (Preeklempsia/eklampsia, ketuban pecah dini atau komplikasi
persalinan lainnya), usia kehamilan yang tidak normal (prematur atau postmatur), adanya riwayat
aborsi dan bayi dengan berat lahir rendah. Dan peluang bayi lahir mati dari suatu persalinan

dengan faktor resiko tersebut adalah sebesar 89,61% sangat besar dibandingkan peluang bayi
tersebut untuk hidup yaitu hanya 10.39%.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa jumlah bayi lahir mati sebesar 37,7 %
berasal dari ibu yang berumur antara 20-35 tahun (usia tidak beresiko), sedangkan 27,7% berasal
dari usia ibu yang beresiko. Wanita pada usia antara 19-35 tahun masih pada rentang sehat untuk
reproduksi karena tidak beresiko tinggi. Karakteristik usia mempunyai pengaruh yang erat dengan
perkembangan alat-alat reproduksi wanita, dimana reproduksi sehat bagi seorang wanta untuk
hamil dan melahirkan adalah 19-35 tahun.
Keadaan ini disebabkan karena pada usia kurang dari 19 tahun wanita pada umumnya
secara fisik alat reproduksinya belum matang untuk menerima hasil konsepsi dan dari segi
psikologis seorang wanita yang berumur terlalu muda belum cukup dewasa untuk menjadi
seorang ibu. Sedangkan pada usia lebih dari 35 tahun, elastisitas alat-alat panggul dan sekitarnya
serta alat-alat reproduksi pada umumnya mengalami kemunduran sehingga dapat mempersulit
persalinan dan dapat menyebabkan lahirnya bayi dengan komplikasi misalnya asfiksia (Manuaba,
2010). Wanita yang melahirkan anak pada usia <19 tahun dan > 35 tahun rentan terhadap
perdarahan paska persalinan dan menimbulkan bahaya pada ibu dan bayi yang dapat menyebabkan
kematian baik pada ibu dan bayi. Resiko kematian bayi (neonatus)pad kelompok usia dibawah 19
tahun dan di atas 35 tahun adalah 3 kali lebih tinggi daripada kelompok umur reproduksi sehat
(Mochtar, 1998).
Hasil penelitian sebanyak 31,6 % bayi lahir mati berasal dari ibu yang tidak mengalami
komplikasi selama kehamilan ataupun persalinan. Bayi lahir mati yang berasal dari ibu yang
mengalami komplikasi paling banyak terjadi pada ibu yang mengalami ketuban pecah dini yang
mencapai 35,6%. Ibu yang mengalami komplikasi lainnya juga relatif tinggi dengan berbagai
macam komplikasi selain di atas, yaitu mencapai 41,6%. Komplikasi persalinan adalah kondisi
dimana nyawa ibu dan atau janin yang ia kandung terancam yang disebabkan oleh gangguan
langsung saat persalinan. Komplikasi persalinan sering terjadi akibat dari keterlambatan
penanganan persalinan, dan dianggap sebagai salah satu penyebab terjadinya kematian ibu bersalin
yang juga dapat menyebabkan kematian pada bayi. Menurut Hariadi, R (2004) mengatakan bahwa
di Indonesia, persalinan yang didahului dengan kejadian ketuban pecah dini relatif besar, yaitu
pada kisaran 6% - 20%.
Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar 87,5% bayi lahir mati berasal dari ibu yang
mengalami usia kehamilan prematur, sedangkan ibu dengan usia kehamilan normal ada 45 (21,4%)
yang mengalami bayi lahir mati. Pada data tersebut tidak ditemukan status bayi lahir mati pada
usia kehamilan postmatur, meskipun resiko usia kehamilan post term sama dengan usia prematur.
Bayi kurang bulan, terutama dengan usia kehamilan < 32 minggu, mempunyai resiko kematian 70
kali lebih tinggi karena kesulitan untuk beradaptasi dengan kehidupan di lauar rahim akibat
ketidakmatangan sistem organ tubuh seperti paru, jantung, ginjal dan hati (Fetomaternal POGI,
2005).
Berdasarkan hasil penelitian sebanyak 22,6 % bayi lahir mati berasal dari ibu yang pernah
mengalami abortus. Riwayat abortus pada kehamilan sebelumnya diketahui juga ikut
mempengaruhi kejadian bayi lahir mati (kematian janin) pada kehamilan berikutnya. Namun
demikian, dari data yang diperoleh sebanyak 36,3% bayi lahir mati berasal dari ibu yang tidak
mempunyai riwayat abortus pada kehamilan sebelumnya. Berdasarkan penelitian Lestariningsih
dan Duarsa A (2013) berpendapat bahwa ibu yang mempunyai riwayat abortus 29,0% melahirkan
bayi lahir mati, sedangkan 12,9% tidak melahirkan bayi lahir mati. Hubungan riwayat abortus
dengan kejadian bayi lahir mati secara statistik signifikan (nilai p=0,012). Kejadian bayi lahir mati
pada ibu yang mempunyai riwayat abortus mempunyai peluang risiko melahirkan bayi lahir mati
1,79 kali lebih besar dibandingkan pada responden yang tidak mempunyai riwayat abortus.
Berdasarkan hasil penelitian, bayi lahir mati 79,6% merupakan bayi dengan berat lahir
rendah (BBLR) dan hanya ada 27 (113,7%) bayi lahir mati yang berasal dari berat bayi normal.
Hal ini menunjukkan bahwa berat bayi rendah memiliki resiko lebih besar untuk terjadinya kasus
bayi lahir mati. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Ida Bagus Gde Manuaba dan
Js.Lesinksi bahwa faktor yang beresiko terjadinya kematian perinatal pada riwayat persalinan
salah satunya adalah persalinan dengan berat bayi lahir rendah (Manuaba, 1998).

KESIMPULAN
1.

2.

3.

Berdasarkan penelitian diketahui bahwa dari 290 bayi yang lahir sebanyak 34.8% bayi lahir
mati, sebagian besar usia ibu dalam kategori usia tidak beresiko (19-35 tahun) yaitu sebesar
71,4%. sebanyak 51,7% dengan persalinan normal baik spontan pervaginam atau spontan
dengan bantuan alat, sebagian besar dengan tidak ada kompilkasi persalinan yaitu 45,9%,
sebagian besar 72,4% dengan usia kehamilan cukup bulan/normal, sebanyak 33,4% dengan
jumlah kehamilan ke-2, sebanyak 35,9% dengan jumlah anak sebelumnya 2 orang, sebagian
besar 89,3% tidak pernah abortus dan sebagian besar 69,7% dengan berat badan lahir normal.
Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap bayi lahir mati di kota Palembang adalah
usia ibu yang beresiko (< 19 tahun dan > 35 tahun), adanya komplikasi persalinan
(Preeklempsia/eklampsia, ketuban pecah dini atau komplikasi persalinan lainnya), usia
kehamilan yang tidak normal (prematur atau postmatur), adanya riwayat aborsi dan bayi
dengan berat lahir rendah.
Peluang bayi lahir mati dari suatu persalinan dengan faktor resiko tersebut adalah sebesar
89,61% sangat besar dibandingkan peluang bayi tersebut untuk hidup yaitu hanya 10.39%.

UCAPAN TERIMA KASIH


Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Direktur RSUD Palembang BARI, Direktur RS
Muhammadiyah Palembang, RSI Siti Khadijah Palembang yang telah memberikan izin penelitan,
Dirjen DIKTI yang telah mendanai penelitian, Civitas STIKES Aisyiyah Palembang serta semua
rekan yang telah membantu selesainya penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA
Agresti, A. 2002. Categorical Data Analysis. John Wiley & Sons. New York.
Azizah, Ninik, 2013. Hubungan Antara Ketuban Pecah Dini Dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi
Baru Lahir. Jurnal EduHealth, Vol 2 No 2, September 2013: 126-129
Amiruddin, Ridwan. 2014. Determinan Kesehatan ibu dan anak. Jakarta: Trans info Media.
Badan Pusat Statistik, BKKBN, dan Kemenkes. 2012. Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia. Laporan Pendahuluan. Jakarta
Dinas Kesehatan Kota Palembang. 2011. Profil Kesehatan Kota Palembang Tahun 2011.
Palembang. Di Akses 20 April 2014, dari http://dinkes.palembang.go.id
Hariadi, R. 2004. Ilmu Kedokteran Fetomaternal. Surabaya: 2004
Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI, 2005. Panduan Pengelolaan Persalinan Preterm
Nasional. Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI. Surabaya

Hosmer, D.W. & S. Lemeshow. 2000. Applied Logistic Regression. John Wiley & Sons.
New York.

Lestariningsih; Duarsa A, 2013. Hubungan Preeklamsia dalam Kehamilan dengan


Kejadian BBLR di RSUD Jendral Ahmad Yani Kota Metro Tahun 2011. Jurnal
Kesehatan Masyarakat Nasional Vol 8, No 1

Mahmudah, Ummul; Cahyati, Hary Widya; Wahyuningsih., Setyo Anik. 2011. Analisis Faktor Ibu
dan Bayi Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kematian Perinatal. Kemas Volume 7
Nomor 1 Hal 46-56
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri: obstetri fisiologi, obstetri patologi. Edisi Dua. Jakarta;
EGC
Muslihatun, Nur Wafi. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta:

Fitramaya.

Rukiyah, Ai Yeyeh dan Lia Yuliayanti. 2014. Asuhan Kebidanan Patologi. Jakarta : TIM
Saifuddin, Abdul Bari. 2009. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: PT Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Saifuddin, Abdul Bari. 2014. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Jakarta: PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
Sulistyawati, Ari. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Jakarta: Salemba Medika
Tjokronegoro, A. & S. Sudarsono. 1999. Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan. Jakarta,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia..
Azizah, Ninik, 2013. Hubungan Antara Ketuban Pecah Dini Dengan Kejadian Asfiksia Pada Bayi
Baru Lahir. Jurnal EduHealth, Vol 2 No 2, September 2013: 126-129