Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DALAQM

PEREKONOMIAN INDONESIA

MAKALAH

PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH


DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA
MATA KULIAH : KEUANGAN NEGARA DAN
DAERAH

OLEH :
ARAFI, S.ST
NO. POKOK : 2012940012

SEKOLAH PASCASARJANA

PROGRAM MAGISTER ILMU ADMINITRASI


NEGARA
KONSENTRASI OTONOMI DAERAH
UNUVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
T.A 2013
ABSTRAK
ARAFI, S.ST Universitas Muhammahdiyah Jakarta, Program Pascasarjana Ilmu Adminitrasi
Kosentrasi Otonomi Daerah, Keuangan Negara dan Daerah, Pengelolaan Keuangan Daerah Dalam
Perekonomian Indonesia.
Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah yang dapat dinilai dengan uang
dan segala sesuatu berupa uang dan barang yang dapat dijadikan milik daerah yang berhubungan
dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Berdasarkan pengertian tersebut pada prinsipnya
keuangan daerah mengandung beberapa unsur pokok, yaitu hak daerah yang dapat dinilai,
kewajiban daerah dengan uang, dan kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban
tersebut.
Hak daerah dalam rangka keuangan daerah adalah segala hak yang melekat pada daerah
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang digunakan dalam usaha pemerintah daerah
mengisi kas daerah. Keuangan daerah dituangkan sepenuhnya kedalam APBD. Pengelolaan
Keuangan Daerah yaitu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat APBD

adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh
pemerintah daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan daerah. Selanjutnya pengelolaan
keuangan daerah merupakan keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan pelaksanaan,
penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah. Dalam konteks
ini lebih difokuskan kepada pengawasan keuangan daerah yang dilakukan oleh DPRD.

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis
dapat

menyelesaikan

makalah

yang

berjudul

Pengelolaan

Keuangan

Daerah

Dalam

Perekonomian Indonesia pada mata kuliah Keuangan Negara dan Daerah pada Program Pascasarjana Ilmu
Adminitrasi Pemrintahan Kesentrasi Otonomi Daerah.Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan
terimakasih kepada:
1.

Orang tua penulis yang selalu memberikan dukungan baik dalam bentuk moral maupun
moril, demi mencapai citacita yang penulis harapkan.

2.

Rekan-rekan yang telah banyak membantu baik secara langsung maupun tidak langsung
dalam penyelesaian makalah ini tepat pada waktunya.
Penulis sadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kejanggalan dan kekurangan
baik dalam segi penulisan maupun penempatan kata-kata, untuk itu penulis mohon masukan yang
sifatnya membangun agar bisa memperbaiki penulisan makalah selanjutnya.

Penulis
ARAFI, S.ST

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan kedua
atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan
keuangan daerah, Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala
bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban. Sementara pengelolaan keuangan
daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan,
pelaporan,

pertanggungjawaban,

dan pengawasan

keuangan

daerah

tersebut.

Pemegang

Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah adalah kepala daerah yang karena jabatannya
mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan daerah.
Hak dan kewajiban daerah tersebut perlu dikelola dalam suatu sistem pengelolaan keuangan
daerah. Pengelolaan keuangan daerah merupakan subsistem dari sistem pengelolaan keuangan
Negara dan merupakan elemen pokok dalam penyelenggaraan pemerintah daerah. Pengelolaan
keuangan daerah juga harus dilakukan dengan cara yang baik dan bijak agak keuangan daerah
tersebut bisa menjadi efisien penggunaanya yang sesuai dengan kebutuhan daerah.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana pengelolaan keuangan daerah?
2.

Bagaimana Analisis pengelolaan keuangan daerah?

3.

Bagaimana pengaruh pengelolaan keuangan daerah terhadap perekonomian Indonesia?

1.3 Tujuan
1.
Untuk Mengetahui bagaimana sebenarnya pengelolaan uang daerah secara garis besar
2.
3.

Untuk mengetahui secara garis besar pengaruh pengelolaan keuangan daerah terhadap
perekonomian Indonesia
Untuk mengetahui analisis tentang pengelolaan keuangan daerah
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Keuangan Daerah

Menurut Deddy Supriady Bratakusumah & Dadang Solihin (2004 : 379) keuangan daerah
adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang
dapat dinilai dengan uang termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan
hak dan kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut, dalam kerangka
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Sedangkan menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 Tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban
daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang
termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah
tersebut.
Dengan demikian keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang. Keuangan daerah digunakan
untuk membiayai semua kebutuhan daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan.
2.2. Sumber Keuangan Daerah
Dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, sumber pendapatan daerah terdiri atas :
A. Pendapatan Asli Daerah
Pendapatan Asli Daerah yang selanjutnya disebut PAD, yaitu penerimaan yang diperoleh
Daerah dari sumber-sumber dalam wilayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (Pasal 1 Undang-Undang Nomor 33
Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah).
B. Dana Perimbangan
Merupakan sumber Pendapatan Daerah yang berasal dari APBN untuk mendukung
pelaksanaan kewenangan pemerintahan daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi kepada
daerah, yaitu terutama peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik.
Dana Perimbangan merupakan kelompok sumber pembiayaan pelaksanaan desentralisasi yang
alokasinya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, mengingat tujuan masing-masing jenis
penerimaan tersebut saling mengisi dan melengkapi (Deddy Supriady Bratakusumah & Dadang
Solihin, 2007 : 173-174). Dana Perimbangan merupakan sumber pembiayaan yang berasal dari
bagian daerah dari Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan,
penerimaan dari sumber daya alam, serta Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus (Ahmad
Yani, 2004 : 15). Lebih jelasnya Dana Perimbangan terdiri dari :
1. Dana Bagi Hasil
Dana bagi hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada
daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka
pelaksanaan desentralisasi (Pasal 1 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004).
2. Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Umum, selanjutnya disebut DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN,
yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai
kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (Pasal 1 Undang-Undang Nomor 33
Tahun 2004).
3. Dana Alokasi Khusus
Dana Alokasi Khusus, selanjutnya disebut DAK adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN
yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus

yang merupakan urusan daerah dan sesuai prioritas nasional (Pasal 1 Undang-Undang Nomor 33
Tahun 2004).
C. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah
Menurut Pasal 43 Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Daerah, lain-lain pendapatan terdiri atas pendapatan hibah dan
pendapatan dana darurat. Hibah adalah Penerimaan Daerah yang berasal dari pemerintah negara
asing, badan/lembaga asing, badan/lembaga internasional, Pemerintah, badan/lembaga dalam negeri
atau perseorangan, baik dalam bentuk devisa, rupiah maupun barang dan/atau jasa, termasuk tenaga
ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar kembali. Sedangkan Dana Darurat adalah dana yang
berasal dari APBN yang dialokasikan kepada Daerah yang mengalami bencana nasional, peristiwa
luar biasa, dan/atau krisis solvabilitas.
2.3 Pengelolaan Keuangan Daerah
Pengelolaan Keuangan Daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan,
pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan
tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan
DPRD, dan ditetapkan dengan peraturan daerah.
Peraturan pemerintah No 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
mendefinisikan Keuangan Daerah sebagai semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala
bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. yang dimaksud
daerah di sini adalah pemerintah daerah yang merupakan daerah otonom berdasarkan peraturan
perundang-undangan. Daerah otonom ini terdiri dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan
pemerintah kota. karena pemerintah daerah merupakan bagian dari pemerintah (pusat) maka
keuangan daerah merupakan bagian tak terpisahkan dari keuangan negara.
Timbulnya hak akibat penyelenggaraan pemerintah daerah tersebut menimbulkan aktivitas
yang tidak sedikit. Hal itu harus diikuti dengan adanya suatu sistem pengelolaan keuangan daerah
untuk mengelolanya. Pengelolaan keuangan daerah sebagaimana dimaksud, merupakan subsistem
dari sistem pengelolaan keungan negara dan merupakan elemen pokok dalam penyelenggaraan
pemerintahaan daerah. Untuk menjamin pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah tersebut maka
hendaknya sebuah pengelolaan keuangan daerah meliputi keseluruhan dari kegiatan-kegiatan
perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban dan pengawasan
keuangan daerah.
2.4 Dasar Hukum Pengelolaan Keuangan Daerah
Undang-undang Dasar 1945 pasal 18 menyebutkan bahwa Negara Kesatuan Republik
Indonesia dibagi atas daerah-daerah propinsi dan daerah propinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota,
yang tiap-tiap propinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dalam
undang-undang. Lebih lanjut pada pasal 18 A dijelaskan bahwa hubungan keuangan, pelayanan
umum, pemanfaatn sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintahan pusat dan
pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang.
Berkaitan dengan pelaksanaan dari pasal 18 dan 18 A tersebut di atas setidaknya terdapat
beberapa peraturan perundang-undangan yang menjelaskan lebih lanjut. adapun Peraturan tersebut
antara lain :
UU No 17 tahun 2003 tentang Keaungan Negara.
UU No 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.

UU No 15 tahun 2003 tentang Pemeriksaan atas tanggung jawab pengelolaan Keuangan Negara.
UU No 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional.
UU No 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
UU No 33 tahun 2004 tentang Perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
Undang-undang tersebut diatas menjadi acuan pengelolaan keuangan daerah. Peraturan
perundang-undangan diatas terbit atas dasar pemikiran adanya keinginan untuk mengelola keuangan
negara dan daerah secara efektif dan efisien. Ide dasar tersebut kemudian mengilhami suatu
pelaksanaan tata kelola pemerintahan yang baik yang memiliki tiga pilar utama, yaitu transparansi,
akuntabilitas, dan partisipatif.
Banyaknya

Undang-undang

yang

menjadi

acuan

dalam

pengelolaan

anggaran

mengakibatkan perlunya akomodasi yang baik dalam tingkat pelaksanaan (atau peraturan
dibawahnya yang berwujud peraturan pemerintah). Peraturan pelaksanaan yang berwujud Peraturan
Pemerintah tersebut harus komprehensif dan terpadu (omnibus regulation) dari berbagai undangundang tersebut diatas. Hal ini bertujuan agar memudahkan dalam pelaksanaanya dan tidak
menimbulkan multi tafsir dalam penerapanya. Peraturan tersebut memuat barbagai kebijakan terkait
dengan perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah.
Beberapa permasalahan yang dipandang perlu diatur secara khusus diatur dalam Peraturan
menteri Dalam Negeri terpisah. Beberapa contoh Permendagri yang mengatur masalah pengelolaan
keuangan daerah secara khusus antara lain :
1) Permendagri No 7 tahun 2006 tentang standarisasi sarana dan prasarana kerja pemerintahan daerah
jo permendagri No 11 tahun 2007
2) Permendagri No 16 tahun 2007 tentang Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tantag
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Rancangan Peraturan Kepala daerah tentang
Penjabaran Angaran Pendapatan dan Belanja Daerah
3) Permendagri No 17 tahun 2007 tentang Pedoman Tekhnis pengelolaan Barang Milik Daerah
4) Permendagri N0 61 tahun 2007 tentang Pedoman Tekhnis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
Umum Daerah
2.5 Ruang Lingkup Keuangan Daerah
Bahasan ruang lingkup keuangan daerah meliputi hak daerah, kewajiban daerah, penerimaan
daerah, pengeluaran daerah, kekayaan daerah dan kekayaan pihak lain yang dikuasai daerah.
secara lebih rinci dapat dijelaskan bahwa ruang lingkup keuangan daerah meliputi hal-hal dibawah ini:
1) Hak daerah untuk memungut pajak Daerah dan retribusi daerah serta melakukan pinjaman ;
2) Kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan Pemerintahan daerah dan membayar tagihan
pihak ketiga;
3) Penerimaan daerah, adalah keseluruhan uang yang masuk ke kas daerah. pengertian ini harus
dibedakan dengan pengertian pendapatan daerah karena tidak semua penerimaan merupakan
pendapatan daerah. Yang dimaksud dengan pendapatan daerah adalah hak pemerintah daerah yang
diakui sebagai penambah nilai kekayan bersih;
4) Pengeluaran daerah adalah uang yang keluar dari kas daerah. Seringkali istilah pengeluaran daerah
tertukar dengan belanja daerah. yang dimaksud dengan belanja daerah adalah kewajiban pemerintah
daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih;
5) Kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang,
barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uanga, termasuk kekayaan yang dipisahkan
pada perusahaan daerah;

6) Kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas
pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum. UU keuangan Negara menjelaskan bahwa yang
dimaksud dengan kekayaan pihak lain adalah meliputi kekayaan yang dikelola oleh orang atau badan
lain

berdasarkan

kebijakan

pemerintah,

yayasan-yayasan

di

lingkungan

kementerian

negara/lembaga, atau perusahaan negara/daerah.


2.6 Pengaruh terhadap Perekonomian Indonesia
Sesuai dengan uraian diatas bahwa sumber-sumber keuangan daerah dipengaruhi oleh 3
komponen utama, yaitun:
1. Pendapatan asli daerah
2. Pendapatan yang berasal dari pusat
3. Pendapatan lain-lain dari daerah yang sah
Diantara ketiga komponen sumber pendapatan tersebut, komponen kedua yaitu pendapatan
yang berasal dari pusat salah satunya adalah hibah yang didasarkan pada Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2012 merupakan cerminan atau indikator dari ketergantungan
pendanaan pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat. Di samping itu besarnya dana dari pusat
tersebut juga membawa konsekuensi kebijakan proyek pemerintah pusat yang secara fisik
implementasinya itu berada di daerah. Sehingga ada beberapa proyek pemerintah pusat melalui
APBN tetapi dana itu juga masuk di dalam anggaran pemerintah daerah (APBD). Adapun
pembiayaan pemerintah dalam hubungannya dengan pembiayaan pemerintah pusat diatur sebagai
berikut:
Urusan yang merupakan tugas pemerintah pusat di daerah dalam rangka dekonsentrasi dibiayai atas
beban APBN.
Urusan yang merupakan tugas pemerintah daerah dalam rangka desentralisasi dibayar dari dan atas
beban APBD.
Urusan yang merupakan tugas pemerintah pusat atau pemerintah daerah atasnya, yang dilaksanakan
dalam rangka tugas perbantuan, dibiayai oleh pemerintah pusat atas beban APBN atau pemerintah
daerah diatasnya atas beban APBD pihak yang menugaskan.
Sepanjang potensi sumber keuangan daerah belum mencukupi, Pemerintah pusat memberikan
sejumlah sumbangan kepada pemerintah daerah. Dengan demikian bagi Pemerintah Daerah Tingkat
II Kabupaten atau Kodya disamping mendapat bantuan dari pemerintah pusat juga mendapat
limpahan dari Pemda Tingkat I Propinsi. Meskipun bisa jadi limpahan, dana propinsi tersebut berasal
dari pemerintah pusat lewat APBN. Berbagai penelitian empiris yang pernah dilakukan menyebutkan
bahwa dari ketiga sumber pendapatan daerah seperti tersebut diatas peranan dari pendapatan yang
berasal dari pusat sangat dominan.
Dalam implementasinya dekonsentrasi merupakan sarana bagi perangkat birokrasi pusat
untuk menjalankan praktek sentralisasi yang terselubung sehinggga kemandirian daerah menjadi
terhambat. Pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional dilaksanakan
berdasarkan prinsip otonomi daerah dan pengaturan sumber-sumber daya nasional yang
memberikan kesempatan bagi peningkatan demokrasi dan kinerja daerah untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat menuju masyarakat madani yang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme
(KKN). Penyelenggaraan pemerintahan daerah juga merupakan subsistem dari pemerintahan negara
sehingga antara keuangan daerah dengan keuangan negara akan mempunyai hubungan yang erat
dan saling mempengaruhi (Ahmad Yani. 2004).

BAB III
KESIMPULAN
Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan
pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan
yang berhubungan dengan hak dan kewajiban. Sementara pengelolaan keuangan daerah adalah
keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan,
pertanggungjawaban,

dan pengawasan

keuangan

daerah

tersebut.

Pemegang

Kekuasaan

Pengelolaan Keuangan Daerah adalah kepala daerah yang karena jabatannya mempunyai
kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan daeran
Dari Analisis di atas dapat disimpulkan bahwa keuangan daerah ini memang harus bisa
dikelola dengan efisien oleh pemerintah daerah masing-masing. Tetapi kenyataanya antara rencana
yang sudah ditetapkan dengan realisasi dalam pengelolaan keuangan daerah ada perbedaan, hal ini
dikarenakan adanya beberapa permasalahan yang sebagian besar permasalahan-permasalahan
tersebut disebabkan keadaan intern dari pejabat-pejabat daerah itu sendiri. Untuk mengatasi
permasalahan tersebut sebenarnya hal mendasar yang harus dirubah adalah sikap personal dari
pejabat-pejabat daerah terutama mengenai kebijakan menghambur-hamburkan dana yang secara
tidak langsung akan berpengaruh terhadap pribadi pejabat-pejabat daerah.
Disamping itu, dengan adanya sumber dana keuangan daerah yang salah satunya berasal
dari bantuan pemerintah pusat maka diharapkan pemerintah daerah memang harus bisa lebih efisien
dalam mengelola keuanganya agar anggaran dana dari pemerintah pusat yang sudah dianggarkan
sebelumnya bisa tercukupi dengan baik. Walaupun pemerintah pusat sudah memberikan instruksi
bahwa ketika keuangan daerah mengalami kekurangan bisa meminta ke pemerintah pusat, tetapi
secara langsung hal ini bisa membuat kondisi keuangan pusat yang semakin berkurang dan secara
tidak langsung akan membuat kemandirian suatu daerah dalam mengelola keuanganya akan menjadi
terhambat. imam moden

DAFTAR PUSTAKA

mad Yani. 2004. Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
dy Supriady Bratakusumah & Dadang Solihin. 2004. Otonomi Penyelenggaran Pemerintahan Daerah. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama.
ang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Makalah:
Keuangan Daerah
Undang-Undang Nomor No 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

ang-Undang Nomor Nomor 13 Tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah

Undang-Undang Nomor Nomor 2 Tahun 2012,tentang sumber pendapatan daerah.