Anda di halaman 1dari 11

1

Status Epileptkus Refrakter Konvulsif pada Anak-Anak: Etiologi, Faktor


Risiko Terkait dan Hasil
Abstrak
Tujuan
Status epileptikus refrakter (SER) merupakan penyakit yang mengancam jiwa
anak-anak dimana pasien kejang tidak memberi respon yang baik terhadap terapi
initial anti konvulsan. SER berkaitan dengan tingginya tingkat mortalitas dan
morbiditas.
Penelitian ini bertujuan untuk mensurvei faktor risiko tertinggi dari status
epileptikus (SE) menjadi SER pada anak-anak, dan akibat dini yang
ditimbulkannya.
Bahan & Metode
Studi ini mengamati pasien dengan SE yang dirawat di Rumah Sakit Anak Tabriz,
Iran, selama tahun 2007 dan 2008, dengan mengamati profil klinis, etiologi,
metode pengobatan yang diberikan pada pasien dan hasil yang mereka dapat saat
keluar dari rumah sakit.
Hasil
Di antara 132 pasien dengan SE, 53 pasien (40,15%) menderita SER. Etiologi dari
kategori simptomatik akut adalah faktor risiko yang paling dianggap berpengaruh
terhadap perubahannya menjadi SER pada pasien (P = 0,004). Ensefalitis adalah
etiologi paling umum dari gejala akut SE. Tidak ada hubungan yang signifikan
yang diamati antara SER dengan usia pasien, jenis kelamin, waktu dari pemberian
obat awal dan jenis kejang. Tingkat kematian yang didapat 8,3% dan defisit
neurologis dini terjadi pada 25,7% dari kasus. Tidak satu pun dari SER dengan
ensefalitis pulih seperti kondisi semula. Mortalitas dan morbiditas secara
signifikan lebih tinggi pada anak-anak dengan SER dibandingkan pada mereka
dengan SE saja dengan P = 0,006).
Kesimpulan
Etiologi SE secara signifikan mempengaruhi prognosisnya, dengan kejadian
signifikan dari SER dalam kelompok simptomatik akut. Karena gangguan
neurologis akut seperti ensefalitis dan meningitis adalah penyebab paling sering
dari SER pada anak-anak, tatalaksana yang tepat diperlukan untuk menghindari
kerusakan otak permanen.
Kata kunci: Satus epileptikus refrakter; Etiologi; Mortalitas; Morbiditas; Anakanak

12
Journal Reading : Hariana Etriya 101010-01 Fakultas Kedokteran
Abdurrab 2016

Pegantar
Status epileptikus (SE) didefinisikan sebagai aktivitas kejang konvulsif terus
menerus atau aktivitas kejang konvulsif intermiten tanpa pulihnya kesadaran
diantara kejang yang berlangsung selama lebih dari 30 menit. SE adalah kegawat
daruratan neurologis yang paling sering mengancam nyawa pada anak-anak(1-3).
Antara SE konvulsif atau non-konvulsif SE keduanya memberi pengaruh saat
anak-anak dan dewasa; hal ini kadang-kadang dikaitkan dengan tinggiya tingkat
morbiditas dan mortalitas, terutama pada bayi bervariasi dari 4% hingga 39%
dalam beberapa penelitian (4-6). SE yang berhenti dengan obat antikonvulsan,
termasuk status epileptikus non-refrakter (NRSE) atau refrakter terhadap obat,
seperti, status epileptikus refrakter (SER), SE yang tidak berespon baik pada
terapi awal dari dua atau tiga obat antikonvulsan, atau status epileptikus yang
berlangsung 60 menit atau lebih (1, 2, 7, 8).
Angka kejadian SE per tahun adalah 41 per 100.000 orang, di antaranya
sekitar 9% sampai 44% menjadi SER (10/9). SER memiliki tingkat morbiditas
dan mortalitas yang lebih tinggi (11), dengan laporan total kematian 16% (12).
faktor risiko yang terkait dengan SER tidak begitu jelas diketahui pada anak-anak.
Faktor risiko untuk SER yaitu termasuk usia muda, penundaan onset pengobatan
dan memiliki focal kejang motorik (13).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi etiologi, faktor risiko
yang terkait dan hasil SER pada pasien SE anak.
Bahan & Metode
Populasi penelitian
Kelompok studi yang dimasukkan dalam penelitian ini sesuai kriteria
inklusi berikut: pasien kurang dari 18 tahun yang telah ditetapkan dengan
diagnosis status epileptikus di Rumah Sakit Anak, Tabriz, Iran antara 2007 dan
2008. Jika pasien mengalami lebih dari satu episode SE, hanya episode pertama
dari SE yang akan dimasukkan pada penelitian.

Journal Reading : Hariana Etriya 101010-01 Fakultas Kedokteran


Abdurrab 2016

Desain penelitian
Kami melakukan studi analisis cross-sectional berbasis rumah sakit di
Rumah Sakit Anak Tabriz. Tabriz adalah pusat rujukan tersier utama yang
memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada pasien anak-anak dari barat-laut
Iran, terutama Timur Provinsi Azerbaijan di semua subspesialisasi anak. Total 132
pasien awalnya dengan SE (Gambar 1), yang kemudian distabilkan oleh staf
terlatih ruang pelayanan gawat darurat (UGD) dengan memberikan akses
intravena dan menerapkan protokol perawatan SE di rumah sakit; kemudian,
dirawat ke Pediatric Intensive Care Unit (PICU), dengan pemantauan tekanan
darah, pulse oksimetri dan monitoring jantung secara terus menerus. Beberapa
pasien dengan masalah kardiorespirasi (terutama kasus SER) diintubasi dan
mengunakan ventilasi mekanis (ventilator).
Monitoring Elektroensefalografik (EEG) tidak digunakan untuk diagnosis
awal SE konvulsif, tapi dilakukan ketika kejang telah terkendali untuk
menyingkirkan diagnosis kemungkinan SE non-convulsive.
Studi ini disetujui oleh Komite Etik dari Tabriz University of Medical
Sciences dan mendapat informed consent dari seluruh orang tua anak-anak yang
dirawat.
Definisi dan klasifikasi
Status epileptikus (SE) didefinisikan sebagai kejang konvulsif terus
menerus atau aktivitas kejang konvulsif intermitten tanpa pulihnya kesadaran di
antara kejang berlangsung selama lebih dari 30 menit (1, 2).
Status Epileptikus Refrakter (SER)
Tidak ada definisi tersendiri untuk SER. Definisi yang digunakan dalam
literatur berbeda berdasarkan jumlah obat yang digunakan dan durasi aktivitas
kejang (7). Namun, kami menggunakan definisi berikut untuk SER di Studi ini:
status epilepticus yang tidak merespon terapi awal dengan dosis yang benar dari
dua atau tiga obat antikonvulsan, atau status epilepticus yang menetap selama 60
menit atau lebih meskipun dengan pengobatan sesuai dosis terapi setidaknya satu
obat lini pertama, diikuti oleh salah satu obat lini kedua (1, 2, 10, 12).
Journal Reading : Hariana Etriya 101010-01 Fakultas Kedokteran
Abdurrab 2016

Non-Refraktori Status Epileptikus


Istilah non-refractory status epileptikus (NRSE) adalah digunakan untuk
menunjukkan pasien yang SE yang berhenti dengan obat lini pertama dan/atau
kedua dalam waktu kurang dari 60 menit setelah pemberian obat pertama sesuai
dengan protokol pengobatan rumah sakit.
Protokol perawatan rumah sakit
Tidak ada konsensus tentang terapi yang optimal dari SE dan SER dalam
literatur (14). Kami menggunakan protokol yang dimodifikasi dari "Medical
College of Virginia tentang Protokol Pengobatan Status Epileptikus untuk Anak
"(15) untuk standarisasi perawatan SE pediatrik dan pengobatan di ruang gawat
darurat dan PICU. Tujuan pengobatan adalah kontrol penuh klinis aktifitas
epilepsi konvulsif pasien. Semua pasien diobati menggunakan protokol berikut:
Lini 1: Anak-anak yang memperlihatkan aktivitas kejang konvulsif selama lebih
dari 5 menit mendapat tiga ulangan dosis 0,3 mg/kg diazepam intravena pada
interval lima belas menit bersama dengan dosis 20 mg/kg fenitoin intravena (pada
rentang 1 mg/kg per menit).
Lini 2: Jika kejang kembali atau berlanjut, pasien diberi fenobarbital intravena
dengan dosis 20 mg / kg selama 10 sampai 30 menit. Jika SE berlanjut pada
anak-anak kurang dari 2 tahun, diberikan 100 mg piridoksin.
Lini 3: Jika SE terus meskipun mendapat obat lini pertama dan kedua, atau kejang
berlangsung 60 menit atau lebih, Kondisi dianggap sebagai RSE dan pasien
mendapat midazolam intravena, loading dose 0,2 mg/kg diberikan diikuti dengan
infus sadar 1-5 ug/kg per min dititrasi setiap 15 menit. Pengobatan biasanya 24
jam.
Lini 4: Jika kontrol masih belum tercapai, natrium thiopental dengan dosis awal
intravena 5 mg/kg dan dosis pemeliharaan 1-5 mg/kg/h di PICU diperlukan.

Journal Reading : Hariana Etriya 101010-01 Fakultas Kedokteran


Abdurrab 2016

Etiologi
SE diklasifikasikan menjadi 4 kategori berdasarkan penelitian yang
diterbitkan sebelumnya (16-19) sebagai berikut:
(A) Acute symptomatic : SE berkembang karena gangguan neurologis akut seperti
trauma, infeksi SSP, gangguan metabolik atau gangguan sistematis.
(B) Remote Symptomatic : Kategori ini termasuk pasien dengan gangguan
neurologis tertentu (encephalopaties kronis) predisposisi untuk serangan epilepsi;
dan ini termasuk kasus karena kelainan bawaan sebelumnya atau didapatkan
kerusakan

otak

epileptogenik.

beberapa

peneliti

memisahkan

kategori

encephalopaties progresif yang lain termasuk mereka yang dengan remote


symptom(18).
(C) Idiopathic: kategori idiopatik, yang kadang-kadang juga disebut kriptogenik,
termasuk pasien epilepsi yang memiliki SE karena penghentian dadakan dari obat
anticonvulsant atau tidak adanya lesi yang mendasari dalam sistem saraf pusat
atau kerusakan otak kausal.
(D) febrile: febrile SE termasuk serangan epilepsi disertai demam yang
berlangsung lebih dari 30 menit sementara analisis cairan serebrospinal tidak
menunjukkan apa-apa untuk mendukung infeksi SSP.
Data demografis, klinis dan paraclinical
Data pasien dikumpulkan dan catat dalam tiga kategori menggunakan instrumen
pengumpulan data kuesioner dan ulasan grafik terkait sebagai berikut:
(A) Data demografi termasuk usia dan jenis kelamin.
(B) Data klinis termasuk riwayat medis, neurologis dan pemeriksaan fisik lainnya,
jenis kejang, durasi SE, berbagai jenis perawatan yang digunakan dan efek
samping yang terjadi. Klasifikasi dan jenis kejang dilakukan berdasarkan kriteria
International League against Epilepsy (ILAE) (1).
(C) Data Paraclinical termasuk sampel darah yang dikumpulkan pasien untuk
CBC dan angka elektrolit serum seperti natrium, kalsium, fosfor, magnesium,
glukosa, kreatinin dan laktat. data laboratorium yang tercatat selama 24 jam
pertama setelah onset SE. Dalam rangka untuk melakukan uji metabolisme dan
toksikologi tertentu sampel, darah dan urine dari beberapa pasien juga
dikumpulkan sesuai dengan riwayat, pemeriksaan klinis dan hasil tes awal
Journal Reading : Hariana Etriya 101010-01 Fakultas Kedokteran
Abdurrab 2016

mereka. Jika dicurigai meningitis atau ensefalitis (seperti pada kasus semua pasien
demam), cairan serebrospinal juga diambil untuk pemeriksaan (analisis, kultur
dan PCR herpes simpleks). Dianggap sebagai ensefalitis jika adanya gejala
penyakit demam akut sebelum,

atau pada saat timbulnya SE, dengan CSF

pleositosis dan tidak ada temuan positif dalam kultur cairan serebrospinal (12).
Outcome
Hasil akhir pasien pasien diambil dari hasil evaluasi selama rawat inap dan
selama pemulangan. Diikategorikan menjadi tiga kelompok yang berbeda
berdasarkan prognosis jangka pendek termasuk mortalitas (kematian), morbiditas
(perkembangan defisit neurologis baru) dan pemulihan (kembali ke kondisi
semula, yaitu, kondisi neurologis yang sama seperti sebelum SER atau SENR)
(Gambar 1). Hasil dianggap "kurang" jika terjadi kematian dan/atau morbiditas
dan dianggap "baik" jika pasien sembuh (7).
Analisis statistik
Analisis univariat digunakan untuk menentukan faktor-faktor terkait
perubahan SER pada pasien dengan SE. Chi-square dan uji Fisher digunakan
untuk membandingkan hasil jangka pendek antara SER dan kelompok SENR.
T-test digunakan untuk analisis data kontinyu dengan distribusi normal dan uji
Mann Whitney U untuk data dengan distribusi tidak-normal. Analisis statistik
yang digunakan SPSS 17,0 (Chicago, IL, USA). perbedaan yang dianggap
signifikan adalah P <0,05.
Hasil
Usia, jenis kelamin dan pasien
Terdapat 73 (55,30%) anak laki-laki dan 59 (44,70%) anak perempuan
dengan SE yang datang ke rumah sakit. Dari 132 pasien, 79 (59,85%) SENR dan
53 (40,15%) SER, dengan usia rata-rata 38,44 0,61 bulan (mulai 2-204 bulan)
untuk kelompok SENR dan 40,11 0,78 bulan (mulai 1-156 bulan) untuk
kelompok SER, masing-masing (P = 0.82). Berkenaan dengan jenis kelamin, 46
(58,22%) di Kelompok SENR dan 27 (50,94%) dalam kelompok SER anak lakiJournal Reading : Hariana Etriya 101010-01 Fakultas Kedokteran
Abdurrab 2016

laki (P = 0,28). Interval waktu antara inisiasi kejang dan pemberian obat
antikonvulsan adalah 20,83 17,48 menit (mulai dari 3 sampai 75 menit) dalam
kelompok SENR dan 15,02 13,56 menit (mulai 2-45 menit) pada kelompok
SER (P = 0,15).
Etiologi
Tabel 1 membandingkan faktor etiologi yang terkait dengan dua kelompok pasien.
terdapat variasi etiologi yang agak signifikan antara kedua kelompok. etiologi
acute Symptomatic adalah Faktor risiko yang terkait dengan SER (OR = 3,35;
95% CI 1.47-7.61, P = 0,001). Fibrile atau kejang dengan demam juga
berpengaruh pada SER (P=0,001). Etiologi dari acute symptomatic dan remote
symptomatic pada SE ditunjukkan pada Tabel 2.
Protokol perawatan rumah sakit
Seluruh 53 pasien dengan SER mendapat antikonvulsan, yaitu diazepam,
fenitoin dan fenobarbital, dan midazolam infus juga. 42 (79,24%) pasien, SE
berakhir dan 11 (20,76%) diberi infus thiopental ketika tidak berespon pada
pemberian midazolam.
Outcome
Mengenai hasil jangka pendek pasien, terdapat 11 (8,33%) kematian, 9 dan
2 berasal dari kelompok SER dan kelompok SE, masing-masing (OR = 7,34; 95%
CI: 1,52-35 / 46; P = 0,008). Risiko kematian 7 kali lebih tinggi di Kelompok SER
dibandingkan dengan kelompok SE. Defisit neurologis dini terjadi pada 21 pasien
(38,18%) SER dan pada 13 (16,88%) pasien SE (OR = 3,04; 95% CI: 1,36-6,82; P
= 0,006). Tak satu pun dari SER dengan ensefalitis pulih kembali. Hasil outcome
pasien dibagi kedalam dua kategori baik dan buruk (hasil yang buruk berarti
kematian atau berkembang menjadi defisit neurologis dini) menunjukkan bahwa
ada hubungan yang signifikan antara hasil pasien dan etiologinya. Dari
keseluruhan, hasil buruk paling banyak pada etiologi acute symptomatic
kelompok SE (P = 0,04). Tidak ada hubungan yang signifikan antara hasil yang
buruk dengan usia pasien, jenis kelamin dan inisiasi dari obat antikonvulsan.
Journal Reading : Hariana Etriya 101010-01 Fakultas Kedokteran
Abdurrab 2016

Diskusi
SE konvulsif adalah bentuk paling umum dari SE dan terhitung sekitar
90% dari semua kasus SE pediatrik (4). Dalam penelitian ini, SER terjadi pada
40.15% pasien dengan SE konvulsif. Dalam sebuah studi dari 193 pasien SE
pediatrik, 26% mendapat SER (16). Penelitian berbeda telah melaporkan
prevalensi SER antara pasien SE dari 11% menjadi 43% (4, 8-12, 20-22).
Perbedaan antara beberapa penelitian dapat dikaitkan pada keanekaragaman
sosiologis, ekonomis dan geografis dari populasi penelitian, bias yang ada saat
inklusi dan kurangnya definisi standar untuk SER. Rumah Sakit Anak Tabriz
adalah pusat rujukan tingkat tersier dan hampir semua anak dengan kondisi kritis
(seperti SE) ada disini. Etiologi acute symptomatic adalah penyebab SER yang
paling umum (41,51%), dan SE karena etiologi gejala akut meningkatkan risiko
SER 3.35 kali. Dalam berbagai penelitian, etiologi gejala akut (acute
symptomatic) terbukti berhubungan dengan faktor risiko utama terjadinya SER
pada pasien SE. Dalam sebuah studi pada 22 anak-anak dengan SER, etiologi
acute symptomatic terbukti sebagai faktor risiko SER serta mortalitas
berhubungan dengan penentuan etiologi dan temuan EEG (12). Dalam sebuah
artikel outcome pasien terdapat mortalitas SE pada anak-anak, remaja dan orang
dewasa, sekuel dan risiko kekambuhan SE umumnya berhubungan dengan
penyebab yang mendasari; akibat SER yang paling sering yaitu kondisi neurologis
akut atau Penyakit neurodegenerative (2).
Dalam penelitian ini, jenis epilepsi tidak terbukti sebagai faktor risiko
SER, tapi dalam beberapa penelitian, fokus kejang pada onset dari kejang
epileptik dianggap sebagai faktor risiko yang mempengaruhi SER (20, 22).
Serupa dengan penelitian lain, tidak ada hubungan yang signifikan antara
terjadinya SER pada anak-anak , usia, dan jenis kelaminnya (2, 4, 13, 19, 21-22);
Namun, beberapa Studi menunjukkan bahwa usia merupakan faktor risiko SER
(6, 23).
Seperti penelitian lain, kita tidak mengamati hubungan yang signifikan
antara inisiasi obat-obatan antikonvulsan dan terjadinya SER; Namun, satu studi
menunjukkan korelasi antara keterlambatan dalam pengobatan awal dengan
transformasi SE menjadi SER (8).
Journal Reading : Hariana Etriya 101010-01 Fakultas Kedokteran
Abdurrab 2016

Faktor risiko utama SER adalah etiologinya yaitu gejala akut (acute
symptomatic),

yang

menyebabkan

kerusakan

struktural-fungsional

dan

ketidakmampuan untuk merespon obat antikonvulsan. Meskipun upaya yang


dilakukan dipusatkan untuk mengendalikan kejang, sangat penting bahwa terapi
ditujukan pada kondisi yang mendasarinya jika memungkinkan. Jelas, jika tidak
dilakukan, akan menjadi risiko yang signifikan untuk perpanjangan SE dan akan
lebih sulit untuk dikontrol (12/8).
Menurut penelitian ini, infus midazolam mengakhiri serangan epilepsi 43
(78,19%) dari pasien dengan SER. Tingkat keberhasilan midazolam dalam
mengendalikan kejang bervariasi mulai dari 73% sampai 95% (20, 24-25). Di
sebuah studi banding antara thiopental, midazolam dan propofol untuk
mengendalikan SER, tingkat keberhasilannya sama untuk ketiga jenis obat
tersebut; Namun, tingkat kekambuhan lebih tinggi pada kelompok midazolam
bahkan meskipun efek samping yang kurang sistematis (26). Penanganan
refraktori status epileptikus heterogen dalam banyak aspek, bahkan di antara
dokter yang paling sering bertemu dengan kondisi berat ini (27). Tampaknya
diluar kondisi di mana PICU kurang menguntungkan dan dengan pertimbangan
masalah biaya pengobatan, midazolam adalah obat yang sedikit lebih murah untuk
refraktori general SE konvulsif pada anak-anak (29).
Dalam penelitian ini, 45 (34,09%) pasien mendapat hasil yang buruk
(kematian dan defisit neurologis dini) yang secara signifikan lebih tinggi pada
kelompok SER dibandingkan kelompok SENR; Hasil ini serupa dengan yang
diperoleh oleh beberapa penelitian, ada hubungan antara hasil neurologis pasien
SE dan etiologinya (4, 12, 16, 22). Dalam sebuah studi dari 122 anak-anak dengan
SE, terdapat kematian langsung yang disebabkan general konvulsif SE (29). Oleh
sebab itu, dalam rangka mengurangi angka kematian dan kesakitan, pengendalian
SE bukan merupakan satu-satunya faktor yang berkontribusi; diagnosis awal yang
tepat pada tepat penyakit akut yang mendasari sangat memberikan kontribusi
untuk meningkatkan outcome pasien.
Dalam penelitian kami, tidak ada SER yang disebabkan oleh ensefalitis
kembali ke kondisi semula. Dalam sebuah studi dari 46 anak-anak dengan SE
sekunder yang terduga ensefalitis, 20 didiagnosis dengan SER, 6 meninggal dunia
Journal Reading : Hariana Etriya 101010-01 Fakultas Kedokteran
Abdurrab 2016

10

dan 13 berkembang menjadi defisit neurologis. Dalam pemeriksaan tindak lanjut


(follow-up), tidak pasien yang pulih seperti kondisi neurologis sebelumnya (30).
Keterbatasan penelitian ini adalah tersedianya fasilitas pemantauan EEG,
kita tidak menggunakan alat canggih ini untuk mendeteksi kejang subklinis dan
mendeteksi pola cetusan yang tertekan untuk mengevaluasi efek infus thiopental.
Kesimpulannya, etiologi SE secara signifikan berpengaruh pada
prognosissnya, kejadian yang signifikan dari SER yaitu dalam kelompok gejala
akut (Acute symptomatic). Karena gangguan neurologis akut seperti ensefalitis
dan meningitis adalah penyebab umum dari SER pada anak-anak, diperlukan
manajemen yang tepat untuk menghindari kerusakan otak permanen.
Acknowledgment
Penelitian ini secara finansial didukung oleh Tabriz University of Medical
Sciences. Para penulis mengucapkan terima kasih kepada orang tua dari anakanak yang berpartisipasi dalam penelitian ini. Kami juga sangat menghargai Staf
UGD, Neurologi, bangsal, dan PICU yang berkontribusi dalam mengelola pasien
Masalah Penting : Tidak adamasalah penting
Kontribusi penulis :
Mohammad Barzegar: Studi desain, koordinator proyek, tinjauan literatur, review
naskah Mohammad Mahdavi: desain studi, pengumpulan data, analisis data
Afshin Ghalehgolab Behbahani: Editing dan merevisi naskah Aidin Tabrizi:
Ulasan Sastra, mempersiapkan naskah
Tabel 1. Faktor etiologi Terkait dengan SE dan RSE
Etiologi
Grup
RSE
NRSE
P.Value
Febrile
6 (11,32)
34 (43,4)
0,001
Acute Symptomatic
22 (41,51)
12 (15,19)
0,001
Remote Symptomatic
20 (37,73)
22 (27,84)
0,27
Idiopatic
5 (9,43)
11 (13,92)
0,28
NRSE: non refraktori status epileptikus; RSE: refraktori status epileptikus

Journal Reading : Hariana Etriya 101010-01 Fakultas Kedokteran


Abdurrab 2016

11

Tabel 2: Etiologi dari 76 kasus dengan status epilepticus akut atau remote gejala
yang diteliti dalam penelitian ini
1. Acute symptomatic
(34 2.Remote symptomatic
(42)
)
Encephalitis
14
Cerebral palsy, Global developmental
24
delay and Mental retardation
Meningitis
5
Hydrocephaly
1
Hyponatermia
4
Anjelman syndrome
1
Hypernatremia
1
Rett syndrome
1
Intracranial hemorrhage 3
Sturge-weber
2
Drug induced
3
Tuberosis sclerosis
1
Cerebral infarction
1
Suspected Alper disease
1
Hypoglycemia
2
Organic aciduria
1
Hypoxic ischemic
1
Brain malformation
8
enceph induced
Brain Tumor
2

Kasus
diagnosis
SE yang
kedalam analisis
Kasusdengan
dengan
diagnosis
SEdimasukkan
yang dimasukkan
kedalam analisis
n = 132n = 132

SE yang tidak berakhir dengan protokol


SE yang berakhir dengan perawatan
pengobatan
rumah
sakit
(Refractory
rumah sakit
ang tidak
berakhir
dengan
protokol
pengobatan
status
yang
berakhir
dengan
perawatan
rumah
sakit rumah sakit (Refractory
status
protokol (Non refraktori
epileptikus)
protokol (Non refraktori
epileptikus)
status epileptikus)
status epileptikus)
n = 53 n = 53
n = 79
n = 79
n = 79
n = 79
Kematian n= 11
Morbiditas n = 21
Pemulihan n= 21

Kematian n =2
Morbiditas n =13
Pemulihan n = 64

Gambar 1. Desain Penelitian: Populasi, Grup, hasil akhir

Journal Reading : Hariana Etriya 101010-01 Fakultas Kedokteran


Abdurrab 2016