Anda di halaman 1dari 16

STATUS PENDERITA

Masuk Puskesmas

: 22 November 2010

Pukul

: 11.00 WIB

I. ANAMNESIS
Identitas
-

Nama penderita

: Slamet R.

Jenis kelamin

: Laki-laki

Umur

: 21 tahun

Pekerjaan

: Pedagang

Pendidikan

: SMU

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Alamat

: Gang Pekerjaan Umun, Kelurahan Kedaton Bandar


Lampung

Riwayat Penyakit
Keluhan utama

: Demam

Keluhan tambahan

: Tidak bisa bab, sakit kepala, lidah pahit dan mual.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke Balai Pengobatan Puskesmas Rawat Inap Kedaton dengan
keluhan demam + 4 hari turun naik, demam terutama dirasakan
menjelang sore dan malam hari. Demam tidak disertai kejang, mengigau
atau penurunan kesadaran. Terkadang demam disertai dengan menggigil.
Selain keluhan tersebut pasien juga tidak bisa bab , lidah pahit, mual, tidak nafsu
makan selama demam timbul . Keluhan batuk disangkal. Pasien juga
menyangkal timbul bintik-bintik merah pada tubuhnya
Pasien belum pernah berobat ataupun minum obat selama sakit.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien mengaku belum pernah menderita sakit seperti ini sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga
Dalam keluarga tidak ada yang menderita sakit seperti ini.
Riwayat Imunisasi
BCG

: 1 kali

Polio

: 3 kali

DPT

: 3 kali

Campak

: 1 kali

Hepatitis B

: 3 kali

Kesan

: Imunisasi dasar lengkap

II. PEMERIKSAAN FISIK


Status Present
-

Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Kompos Mentis

Tekanan Darah

: 100/60 mmHg

Nadi

: 86 x/menit

Respirasi

: 24x/menit

Suhu

: 38 C

BB

: + 60 kg

Status gizi

: Cukup

Status Generalis
Kelainan mukosa kulit/subkutan yang menyeluruh
-

Pucat

: (-)

Sianosis

: (-)

Ikterus

: (-)

Perdarahan

Oedem umum

: (-)
: (-)

Turgor

: Cukup

Pembesaran KGB generalisata

: (-)

KEPALA
-

Bentuk

: Bulat, simetris

Rambut

: Hitam, lurus, tidak mudah dicabut, pertumbuhan merata

Kulit

: Tidak ada kelainan

Mata

: Palpebra tidak cekung, konjungtiva tidak anemis, sklera


ikterik, kornea jernih, lensa jernih, refleks cahaya (+/+)

Telinga

: Bentuk normal, simetris, liang lapang, serumen (-/-)

Hidung

: Bentuk normal, septum deviasi (-), pernafasan cuping


hidung (-), sekret (-)

Mulut

: Bibir kering, sianosis (-), lidah (tengah kotor, tepi


hiperemis, tremor), faring tidak hiperemis.

LEHER
-

Bentuk

: Simetris

Trakhea

: Di tengah

KGB

: Tidak membesar

JVP

: Tidak meningkat

THORAKS
-

Inspeksi

: Bentuk simetris,retraksi sela iga (-), retraksi substrernal (-)


retraksi suprasternal (-)

PARU

Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

ANTERIOR
KIRI
KANAN
Pergerakan
Pergerakan
pernafasan
pernafasan
simetris
simetris
Fremitus taktil
Fremitus taktil
= kanan
= kiri
Sonor
Sonor
Suara nafas
Suara nafas
vesikuler
vesikuler
Ronkhi (-)
Ronkhi (-)
Wheezing (-)
Wheezing (-)

POSTERIOR
KIRI
KANAN
Pergerakan
Pergerakan
pernafasan
pernafasan
simetris
simetris
Fremitus taktil = Fremitus taktil =
kanan
kiri
Sonor
Sonor
Suara nafas
Suara nafas
vesikuler
vesikuler
Ronkhi (-)
Ronkhi (-)
Wheezing (-)
Wheezing (-)

JANTUNG
-

Inspeksi

: Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

: Iktus kordis tidak teraba

Perkusi

: Redup

Auskultasi

: Bunyi jantung I-II murni, murmur (-), gallop (-).

ABDOMEN
-

Inspeksi

: Datar, simetris

Palpasi

: Nyeri tekan abdomen (-), Hepatomegali (-)


Splenomegali (-)

Perkusi

: Timpani

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

GENITALIA EXTERNA
- Kelamin

: Laki-laki, tidak ada kelainan

EKSTREMITAS
-

Superior

: Akral hangat, Oedem (-/-),sianosis (-)

Inferior

: Akral hangat, Oedem (-/-),sianosis (-)

III.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hasil laboratorium tanggal 22 November 2010.


1. Darah Lengkap
-

Hb

: 14,4 gr/dl

Hematokrit

: 35 %

Leukosit

: 4700/ul

LED

: 15 mm/jam

Trombosit

: 186.000 /uI

2. Tes Widal
-

Thyphi H antigen (+)

: 1/320

Thyphi O antigen (+)

: 1/320

Parathyphi A-O antigen (+)

: 1/160

Parathyphi B-O antigen (+)

: 1/320

3. Tes malaria tidak ditemukan


IV. Diagnosis Kerja
Demam Tifoid
V. Penatalaksanaan
Non Medikamentosa
Tirah baring (bed rest)
Asupan cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi karena demam
Makan makanan yang bergizi, rendah lemak dan lunak agar tidak
memberatkan kerja usus
Jaga higiene dan kebersihan diri maupun orang yang merawat untuk
menghindari penularan
Monitoring keadaan klinis dan waspadai tanda-tanda perburukan atau
komplikasi
Medikamentosa
IVFD RL XV tts/ menit
Kloramfenikol 250 mg 4 x tab 2
Paracetamol tab 3 x 500mg
Antasida tab 3 x tab 1 ( dikunyah sebelum makan)
VI. Anjuran Pemeriksaan
-

Pemeriksaan Gall Kultur

VII. Prognosis
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam

: ad bonam

Quo ad sanationam

: ad bonam

Demam Tifoid
6

A. Pendahuluan
Demam Tifoid adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri
Salmonella enteretica serotype Typhi (S typhi). Sementara Demam Paratifoid,
penyakit yang gejalanya mirip namun lebih ringan dari Demam Tifoid disebabkan
oleh S paratyphi A,B atau C. Bakteri S typhi hanya menginfeksi manusia. Orang
biasanya menderita penyakit ini setelah memakan atau meminum makanan atau
minuman yang terkontaminasi oleh kotoran (feses) yang mengandung S typhi.
Demam Tifoid merupakan penyakit endemik (penyakit yang selalu ada di
masyarakat sepanjang waktu walaupun dengan angka kejadian yang kecil) di Asia
Tenggara termasuk Indonesia. Insiden infeksi Salmonella tertinggi terjadi pada
usia 1-4 tahun. Angka kematian lebih tinggi pada bayi, orang tua dan pada orang
dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun (HIV, keganasan). Studi terakhir
dari Asia Tenggara mendapatkan bahwa insidens tertinggi terjadi pada anak di
bawah usia 5 tahun. Kasus yang berujung pada kematian tidak lebih dari 1%,
meskipun demikian, angka ini bervariasi di seluruh dunia. Di Pakistan dan
Vietnam, dari pasien yang dirawat di rumah sakit, angkanya kurang dari 2 %,
sementara di beberapa area di Papua Nugini dan Indonesia, angkanya bisa
mencapai 30-50 %. Hal ini sebagian besar disebabkan karena tertundanya
pemberian antibiotik yang tepat.
B. Etiologi
Salmonella sp. adalah bakteri yang menyebabkan timbulnya demam tifoid.
Bakteri ini banyak terdapat di kotoran, tinja manusia, dan makanan atau minuman
yang terkena kuman yang di bawa oleh lalat. Sebenarnya sumber utama dari
penyakit ini adalah lingkungan yang kotor dan tidak sehat. Tidak seperti virus
yang dapat beterbangan di udara, bakteri ini hidup di sanitasi yang buruk seperti
lingkungan kumuh, makanan, dan minuman yang tidak higienis. Genus
Salmonella terdapat pada usus manusia, binatang, dan unggas. Berbentuk batang
gram negatif, berukuran 2 sampai 4u x 0,6u, bergerak (kecuali Salmonella

gallinarum dan Salmonella pullorum), mempunyai flagel peritrik. Samonella


bersifat aerob dan anerob fakultatif, suhu optimum untuk pertumbuhannya adalah
370 C dan pH optimum 6-8. Salmonella tumbuh dengan mudah dalam media yang
sederhana, tetapi hampir tidak dapat memfermentasikan laktosa dan sukrosa.
Salmonella membentuk asam dan kadangkala gas dari fermentasi glukosa dan
mannosa. Salmonella tidak menghidrolisis urea dan membentuk H2S. Kuman ini
bertahan dari pendinginan dalam waktu yang lama. Salmonella peka terhadap
Chlorampenicol, tetapi resistan pada beberapa bahan kimia (contoh hijau brilliant,
sodium tetrathionat, sodium deoxycholat) yang menghibisi beberapa bakteri usus.
Selain itu Salmonella adalah bakteri gram negatif yang termasuk family dari
Enterobacteriaceae. Bersifat motil, anaerob fakultatif dan sensitif terhadap
beberapa antibiotik. Ada 107 strain dari organisme ini yang telah berhasil
diisolasi, beberapa diantaranya menunjukkan keanekaragaman karakteristik sistem
metabolisme, level virulensi, dan prevalensi dari gen yang mengkode multi drug
resistensi. Identifikasi dalam menentukan diagnostik dapat dilakukan dengan
menanam pada media Mac Conkey dan EMB agar, dan bakteri ini sama sekali
tidak memfermentasikan laktosa. Salmonella thypi hanya menghasilkan asam
tanpa menghasilkan gas saat ditanam di media TSI, yang mana media ini sering
digunakan untuk membedakan Salmonella thypi dengan Enterobacteraceae
lainnya.

C. Patogenesis
Untuk menimbulkan penyakit, dibutuhkan jumlah tertentu S typhi yang masuk ke
dalam saluran cerna. Sebelum sampai ke usus halus, kuman ini harus melewati
asam lambung. Segala hal yang menyebabkan penurunan asam lambung (proses
penuaan, obat-obatan untuk menurunkan asam lambung seperti antasid, anti H-2
reseptor, dan proton pump inhibitor), mempermudah kuman ini masuk sampai ke
usus halus, akibatnya meski kuman yang masuk jumlanya hanya sedikit, yang
bersangkutan akan jatuh sakit.

Setelah sampai di usus halus, kuman ini akan menempel di kelenjar getah bening
di dinding usus bagian dalam (plak Peyer). Lalu kuman menembus dinding usus
bagian dalam dan menyebar ke kelenjar getah bening usus lainnya sampai ke hati
dan limpa.
Waktu yang dibutuhkan sejak kuman masuk sampai timbul gejala (masa inkubasi)
sekitar 7-14 hari. Setelah itu kuman S. typhi akan masuk ke dalam darah
(bakteriemia) dan dapat menyebar ke berbagai organ tubuh. Tempat bersarangnya
kuman ini selain hati dan limpa adalah kandung empedu, sumsum tulang dan ada
juga yang tetap menetap di plak Peyer.

D. Manifestasi Klinis
Setelah kuman masuk ke dalam saluran cerna, akan ada masa tanpa gejala (masa
inkubasi) sekitar 7-14 hari. Pada saat bakteriemia, akan timbul demam. Suhu
tubuh awalnya akan naik perlahan dan lebih tinggi setiap malamnya dari malam
sebelumnya, dikenal dengan istilah Stepping ladder. Oleh karena itu, suhu tubuh
harus diukur menggunakan termometer dan bukan hanya dengan perabaan. Hal ini
berlangsung selama 7 hari, lalu setelah itu, suhu tubuh akan menetap tinggi sekitar
39-40 oC.
Selain demam, juga akan muncul gejala lain seperti flu-like symptoms, sakit
kepala, lesu, tidak nafsu makan, mual, rasa tidak nyaman di perut yang sukar
dilokalisir, batuk kering, konstipasi atau diare. Pada anak-anak dan orang dengan
penurunan sistem kekebalan tubuh, diare lebih sering terjadi dibanding konstipasi.
Jika anak anda diperiksa oleh dokter, maka akan didapatkan anak tampak sakit
berat, peningkatan suhu tubuh, bradikardia relatif (normalnya jika suhu tubuh
meningkat 1 oC, maka denyut nadi akan meningkat 10 poin; hal ini tidak terjadi
pada demam tifoid), lidah tifoid (permukaan lidah berwarna putih sementara
tepinya berwarna merah), nyeri pada perut, pembesaran hati dan limpa. Pada ras

kulit putih akan nampak bercak-bercak berwarna merah muda (rose spot)
berukuran 2-4 mm di daerah dada dan perut. Tetapi, untuk ras kulit berwarna,
bercak ini jarang sekali terlihat. Pada anak di bawah 5 tahun dapat terjadi
penurunan kesadaran bahkan kejang.
E. Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis klinis untuk demam tifoid sukar untuk ditegakkan. Di daerah endemik
seperti Indonesia, demam tanpa sebab yang jelas yang berlangsung lebih dari 7
hari harus dicurigai demam tifoid sebagai salah satu diagnosis yang mungkin.
Pada pemeriksaan darah rutin, kadar hemoglobin, leukosit dan trombosit bisa
dalam nilai normal atau sedikit menurun. Tes fungsi hati (SGOT/SGPT) biasanya
meningkat ringan. Pada anak-anak, kadar leukosit bisa meningkat sampai 20.00025.000/mm3. Kadar trombosit yang rendah mungkin berhubungan dengan derajat
keparahan penyakit.
Untuk membantu penegakkan diagnosis, yang dijadikan standar baku adalah
ditemukannya kuman S typhi pada biakan darah, biakan sumsum tulang, biakan
getah empedu, biakan feses (yang paling lazim dikerjakan adalah kultur darah).
Sementara itu pemeriksaan Widal tidak dianjurkan pada daerah-daerah endemis,
seperti di Indonesia ini.
Biakan darah akan menghasilkan hasil yang positif pada 60-80 % kasus. Hal ini
dipengaruhi oleh penggunaan antibiotik sebelum sampel darah diambil dan
jumlah darah yang diambil. Sampel darah diambil pada minggu pertama
timbulnya gejala, biasanya sebanyak 10 15 mL. Sementara itu, biakan sumsum
tulang akan menghasilkan hasil yang positif pada 80-95 % kasus, terlepas apakah
sebelum sampel diambil sudah ada penggunaan antibiotik atau belum. Biakan
yang berasal dari sumsum tulang memang lebih sensitif dari biakan darah karena
pada dasarnya kuman S typhi lebih banyak berada di sumsum tulang daripada di
darah. Meskipun demikian, sampel dari sumsum tulang lebih sulit untuk diperoleh
daripada sampel darah. Setelah sampel diambil, sampel tersebut akan ditempatkan

10

dalam medium yang mendukung tumbuhnya kuman S typhi tersebut (medium


empedu). Dalam 48-72 jam, kultur tersebut akan dilihat di bawah mikroskop
apakah terdapat kuman S typhi atau tidak.
Penggunaan tes Widal dalam membantu diagnosis demam tifoid masih
kontroversial dan tidak dianjurkan. Hal ini dikarenakan tes Widal kurang sensitif
dan kurang spesifik untuk diganosis, ditambah lagi hasilnya bervariasi antar
daerah yang satu dengan daerah yang lain. Tes ini sebenarnya untuk mendeteksi
antibodi terhadap antigen O dan H dari S typhi. Masalahnya, tidak hanya S typhi
yang memiliki antigen O dan H ini, tetapi Salmonella serotype lain juga. Selain
itu antigen O dan H pada S typhi juga bereaksi silang dengan antigen
Enterobacteriaceae. Pasien dengan demam tifoid juga tidak selalu menimbulkan
kadar antibodi yang dapat terdeteksi ataupun menunjukkan kenaikan titer
antibodi. Jika diagnosa demam tifoid ditegakkan hanya berdasarkan tes Widal ini,
maka tidak jarang terjadi overdiagnosis.
Pemeriksaan penunjang lain masih dikembangkan untuk membantu mendiagnosis
demam tifoid. Di Malaysia, sudah dikembangkan tes Thypidot dan Thypidot-M.
Dari hasil penelitian, tes Thypidot dan Thypidot-M memang lebih unggul
dibandingkan tes Widal, akan tetapi biayanya mencapai 4 kali biaya tes Widal. Di
samping itu, tes Thypidot dan Thypidot-M tidak bisa menggantikan kultur dalam
biakan empedu (gall culture) sebagai standar baku mendiagnosis demam tifoid.
Meskipun demikian, jika secara klinis pasien diduga tifoid sementara hasil kultur
negatif atau tidak bisa melakukan kultur darah, Thypidot-M ini bisa digunakan

F. Penatalaksanaan
Di daerah endemik, lebih dari 60-90 % kasus demam tifoid dirawat di rumah
dengan pemberian antibiotik dan tirah baring (bed rest). Jika tidak memungkinkan
untuk di rawat di rumah atau terjadi komplikasi sebaiknya dirawat di rumah sakit.

11

Selain pengobatan (medikamentosa) juga ada pengobatan non-medikamentosa


untuk membantu proses penyembuhan demam tifoid.
Tatalaksana medikamentosa (obat-obatan) untuk demam tifoid:
1. Antibiotik, untuk membunuh kuman S typhi
Awalnya antibiotik yang digunakan untuk mengobati demam tifoid adalah
kloramfenikol.

Selain

kloramfenikol,

amoxicillin

dan

trimethoprim

sulfamethoxazole (TMP-SMX) juga dapat digunakan.


Golongan florokuinolon (ofloksasin atau ciprofloksasin) dalam jangka waktu
pendek (3-7 hari) juga terbukti ampuh dalam mengobati S typhi. Akan tetapi, obat
ini masih kontroversi untuk digunakan pada anak-anak atau wanita hamil. Obat ini
dapat mengganggu pertumbuhan tulang rawan anak. Selain itu, di beberapa daerah
mulai muncul pula spesies S typhi yang resisten terhadap florokuinolon.
Jika kuman S typhi sudah resisten dengan florokuinolon, maka azitromisin dan
golongan sefalosporin generasi terbaru (misalnya cefixime atau ceftriakson) dapat
digunakan. Ceftriakson cukup aman untuk anak-anak dan wanita hamil.
2. Antipiretik, untuk mengurangi rasa tidak nyaman yang timbul akibat demam
Untuk anak-anak, bisa digunakan Paracetamol dengan dosis 10-15 mg/kg BB,
setiap 4-6 jam.
3. Steroid, hanya untuk demam tifoid yang berat, yaitu ensefalopati tifoid yang
ditandai dengan penurunan kesadaran, koma, syok
Biasanya diberikan di rumah sakit karena butuh pengawasan ketat. Dapat
digunakan Deksametason dengan dosis awal 3 mg/kg BB diikuti dengan 1 mg/kg
BB setiap 6 jam selama 48 jam.

12

Tatalaksana Non-medikamentosa untuk demam tifoid:


1. Tirah baring (bed rest)
2. Asupan cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi karena demam
3. Makan makanan yang bergizi, rendah lemak dan lunak agar tidak memberatkan
kerja usus
4. Jaga higiene dan kebersihan diri maupun orang yang merawat untuk
menghindari penularan
5. Monitoring keadaan klinis dan waspadai tanda-tanda perburukan atau
komplikasi
G. Komplikasi
Komplikasi terjadi pada 10-15 % kasus dan biasanya terjadi setelah 2 minggu
pasien mengalami gejala. Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain perdarahan
saluran cerna, usus pecah (perforasi) dan ensefalopati tifoid.
Perdarahan saluran cerna merupakan komplikasi yang paling sering terjadi, sekitar
10 % kasus. Hal ini terjadi karena erosi/pengikisan plak Peyer yang sudah mati
(nekrosis) dari dinding usus bagian dalam yang dilalui pembuluh darah. Biasanya
akan terlihat darah di feses. Perdarahan biasanya ringan dan tidak membutuhkan
transfusi. Hanya 2 % kasus yang menunjukkan perdarahan yang cukup fatal.
Perforasi usus adalah komplikasi yang cukup serius, terjadi pada 1-3 % kasus.
Terdapat lubang di usus, akibatnya isi usus dapat masuk ke dalam rongga perut
dan menimbulkan gejala. Tanda-tanda perforasi usus adalah nyeri perut yang tidak

13

tertahankan (acute abdomen), atau nyeri perut yang sudah ada sebelumnya
mengalami perburukan, denyut nadi meningkat dan tekanan darah menurun secara
tiba-tiba. Ini membutuhkan penanganan segera.
Ensefalopati tifoid ditandai dengan penurunan kesadaran, koma, syok, hanya bisa
berbaring dengan mata setengah tertutup. Dengan pemberian deksametason
(steroid) 3 mg/kg BB melalui infus dalam 30 menit diikuti 1 mg/kg BB dalam 6
jam selama 48 jam, mengurangi angka kematian karena ensefalopati tifoid.
Meskipun pasien sembuh, ada sekitar 5-10 % yang mengalami kekambuhan,
tetapi gejalanya lebih ringan dibanding sebelumnya. Untuk anak-anak biasanya
angkanya lebih rendah, sekitar 2-4 %. Setelah sembuh pun, kadang kala di dalam
feses pasien masih terdapat kuman S typhi yang dapat menular ke orang lain. Jika
hal ini terjadi selama lebih dari 3 bulan, maka orang tersebut disebut pembawa
(carrier) kronik. Meskipun demikian, tidak semua akan menjadi carrier kronik,
kurang dari 2 % pasien anak akan menjadi carrier kronik, semakin dewasa,
semakin mungkin menjadi carrier kronik. Wanita dan orang tua atau orang yang
menderita batu saluran empedu (cholelitiasis) merupakan kelompok yang paling
sering menjadi carrier kronik. Meskipun demikian, para carrier kronik tidak
menunjukkan gejala apapun. Itulah, mengapa menjaga higiene pribadi dan
lingkungan menjadi sangat penting untuk mencegah penularan penyakit ini.
H. Pencegahan
Untuk dapat mencegah penyakit ini harus tahu terlebih dahulu cara penularan dan
faktor resikonya.
Kuman S typhi menular melalui jalur oro-fekal, artinya kuman masuk melalui
makanan atau minuman yang tercermar oleh feses yang mengandung S typhi. Di
negara endemis seperti Indonesia, faktor resikonya antara lain makan makanan
yang tidak disiapkan sendiri di rumah (karena tidak terjamin kebersihannya),
minum air yang terkontaminasi, kontak dekat dengan penderita tifoid, sanitasi

14

perumahan yang buruk, dan higiene perorangan yang tidak baik. Oleh karena itu,
pencegahan yang dapat dilakukan antara lain :
Menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan dengan sabun sebelum makan
& mencuci tangan setelah BAB.
Memasak air sampai matang dan mencuci sayuran hingga bersih
Hindari makanan dari hinggapan lalat
Menjaga kebersihan lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya
Selain hal-hal di atas, saat ini sudah tersedia vaksin untuk tifoid. Ada 2 macam
vaksin, yaitu vaksin hidup yang diberikan secara oral (Ty21A) dan vaksin
polisakarida Vi yang diberikan secara intramuskular/disuntikkan ke dalam otot.
Menurut FDA Amerika, efektivitas kedua vaksin ini bervariasi antara 50-80 %.
Vaksin hidup Ty21A diberikan kepada orang dewasa dan anak yang berusia 6
tahun atau lebih. Vaksin ini berupa kapsul, diberikan dalam 4 dosis, selang 2 hari.
Kapsul diminum dengan air dingin (suhunya tidak lebih dari 37 oC), 1 jam
sebelum makan. Kapsul harus disimpan dalam kulkas (bukan di freezer). Vaksin
ini tidak boleh diberikan kepada orang dengan penurunan sistem kekebalan tubuh
(HIV, keganasan). Vaksin juga jangan diberikan pada orang yang sedang
mengalami gangguan pencernaan. Penggunaan antibiotik harus dihindari 24 jam
sebelum dosis pertama dan 7 hari setelah dosis keempat. Sebaiknya tidak
diberikan kepada wanita hamil. Vaksin ini harus diulang setiap 5 tahun. Efek
samping yang mungkin timbul antara lain, mual, muntah, rasa tidak nyaman di
perut, demam, sakit kepala dan urtikaria.
Vaksin polisakarida Vi dapat diberikan pada orang dewasa dan anak yang berusia
2 tahun atau lebih. Cukup disuntikkan ke dalam otot 1 kali dengan dosis 0,5 mL.
Vaksin ini dapat diberikan kepada orang yang mengalami penurunan sistem imun.
Satu-satunya kontra indikasi vaksin ini adalah riwayat timbulnya reaksi lokal yang
berat di tempat penyuntikkan atau reaksi sistemik terhadap dosis vaksin
sebelumnya. Vaksin ini harus diulang setiap 2 tahun. Efek samping yang mungkin
timbul lebih ringan dari pada jika diberikan vaksin hidup. Dapat timbul reaksi

15

lokal di daerah penyuntikkan. Tidak ada data yang cukup untuk direkomendasikan
kepada wanita hamil.

16