Anda di halaman 1dari 14

PRESENTASI KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ilham

Umur

: 13 tahun

Alamat

: Kedaton

Pekerjaan

: Pelajar

Suku Bangsa

: Jawa

Agama

: Islam

ANAMNESA
Keluhan Utama

: Gatal di sela jari tangan dan selangkangan

Keluhan Tambahan

: Tidak ada

Riwayat Perjalanan Penyakit


Pasien anak laki-laki 13 tahun datang dengan keluhan gatal-gatal di sela jari
tangan dan selangkangan sejak sebulan yang lalu. Awalnya sekitar sebulan yang
lalu, timbul bintil-bintil kecil berwarna merah sebesar ujung jarum pentul yang
berisi cairan bening di sela-sela jari tangan yang terasa sangat gatal terutama pada
malam hari. Tiga hari kemudian, bintil-bintil tersebut berkembang menjadi
sebesar lada yang berisi nanah, karena digaruk akhirnya pecah menjadi koreng.
Satu minggu kemudian keluhan ini meluas sampai ke daerah selangkangan.
Dua minggu yang lalu pasien berobat ke Puskesmas dan diberi obat makan
dua macam serta satu obat salep (pasien lupa nama obatnya), tapi setelah minum
obat tersebut keluhan gatal hanya berkurang sedikit. Setelah obat habis pasien
berobat kembali ke Puskesmas. Manurut ibu pasien, adik pasien juga mengalami
keluhan serupa.

Pengobatan Yang Pernah Didapat


Tablet 2 macam dan salep.
Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum: Tampak Sakit Ringan
Kesadaran

: Compos Mentis

Vital sign
Tekanan Darah

: Tidak dilakukan

Nadi

: 72 x/menit

Respirasi Rate

: 20 x/menit

Suhu

: Afebris

Gizi

: Cukup

Thorak

: Dalam batas normal

Abdomen

: Dalam batas normal

KGB

: Dalam batas normal

Status Dermatologis
Lokasi

Regio Interdigiti manus dextra et sinistra


Regio Inguinal

Inspeksi

Regio Interdigiti manus dextra et sinistra


- Papul multiple diskret milier sampai lentikuler
- Pustul multiple diskret milier sampai lentikuler
- Erosi dan krusta

Regio Inguinal
- Papul multiple diskret milier sampai lentikuler
- Pustul multiple diskret milier sampai lentikuler
- Erosi dan krusta
Tes Manipulasi
Tidak dilakukan.
Laboratorium
Tidak dilakukan.
RESUME
Pasien seorang anak laki-laki berumur 13 tahun datang dengan keluhan gatal
terutama pada malam hari di sela jari tangan dan perut bagian bawah sejak sekitar
sebulan yang lalu disertai timbul bintil-bintil kecil, berwarna merah sebesar ujung
jarum pentul yang berisi cairan bening di sela jari tangan. Dua minggu yang lalu
pasien berobat ke Puskesmas dan diberi obat makan dua macam serta satu obat
salep (pasien lupa nama obatnya), tapi setelah minum obat tersebut keluhan gatal
hanya berkuarang sedikit. Setelah obat habis pasien berobat kembali ke
Puskesmas dan diberi obat-obatan yang sama. Pasien telah 2 kali berobat ke
Puskesmas dan mendapat pengobatan yang sama namun keluhan tidak hilang.
Status generalis dalam batas normal, status dermatologis pada regio interdigiti
manus dextra et sinistra dan regio abdomen didapatkan papul multiple diskret
milier sampai lentikuler, pustul multiple diskret milier sampai lentikuler serta
erosi dan krusta. Tes manipulasi dan laboratorium tidak dilakukan.
DIAGNOSA BANDING
1. Skabies.
2. Prurigo.
3. Dermatitis.

DIAGNOSA KERJA
Skabies.
PENATALAKSANAAN
1. Umum
-

Meningkatkan kebersihan perorangan dan lingkungan.

Menghindari kontak langsung dan tidak langsung dengan orang yang


terkena.

Menjemur alat-alat tidur dan jangan memakai pakaian/handuk bersamasama.

Merebus pakaian, handuk, sprei, selimut, karpet, dan bahan-bahan yang


dapat berpotensi lembab.

Mengobati orang terdekat (anggota keluarga yang lain yang serumah) bila
ada yang menderita keluhan yang sama.

2. Khusus
a. Sistemik

: Antihistamin
Antibiotik

: CTM

3 x 1 tablet

: Amoksisilin

3 x 1 tablet

Anti-Inflamasi : Dexamethason
b. Topikal

3 x 1 tablet

Salep 2-4 (Asidum salisilikum 2% + sulfur presipitatum 4%). Diolesi


sekali sehari (malam sebelum tidur) ke seluruh tubuh selama 3 hari
berturut-turut. Apabila keluhan masih ada, maka penggunaan salep dapat
diulang seminggu kemudian.
PEMERIKSAAN ANJURAN
Pemeriksaan cairan lesi (mikroskop).
PROGNOSA
Ad bonam.

DISKUSI

Pada pasien ini ditegakkan diagnosis skabies berdasarkan anamnesis dan


pemeriksaan fisik. Dari anamnesa didapatkan keluhan gatal terutama pada malam
hari pada sela-sela jari tangan dan selangkangan, yang disertai bintil-bintil sebesar
ujung jarum pentul yang berisi cairan bening. Adik pasien juga menderita keluhan
yang sama. Pada pemeriksaan fisik didapatkan papul dan pustule multiple diskret
milier sampai lentikuler, juga ditemukan erosi dan krusta yang timbul karena
garukan.
Diagnosis skabies dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal. Pada
kasus ini ditemukan 3 dari 4 tanda cardinal yaitu : Pruritos nocturna, penyakit ini
menyerang manusia secara berkelompok, dan tempat predileksi merupakan
tempat dengan stratum korneum yang tipis. Kasus ini didiagnosis banding dengan
prurigo dan dermatitis. Pada prurigo juga ditemukan gambaran lesi yang mirip
yaitu berupa urtikaria papular kecil, ekskoriasi akibat garukan dan adanya krusta.
Sedangkan pada dermatitis juga didapatkan papul, vesikel dan pustul akibat
infeksi sekunder yang mirip dengan lesi pada pasien ini.
Penatalaksanaan pada pasien ini terdiri dari penatalaksanaan secara umum dan
khusus. Secara umum pasien dianjurkan untuk meningkatkan kebersihan
perorangan dan lingkumgan, tidak memakai pakaian dan handuk secara bersamasama karena dapat menularkan ke anggota keluarga yang lain. Pengobatan secara
khusus yaitu dengan diberikan secara sistemik dan topikal. Pengobatan sistemik
diberikan antibiotik, antipruritus, dan anti-inflamasi. Pemberian antibiotik
dimaksudkan untuk pengobatan infeksi sekunder karena pada pemeriksaan fisik
ditemukan pustul mltiple, erosi dan eksoriasi yang diakibatkan oleh garukan.
Antipruritus diberikan untuk mengurangi keluhan gatal yang terutama timbul pada
malam hari sehingga pasien dapat beristirahat. Untuk pengobatan topikal
diberikan salep 2-4 (Asidum salisilikum 2% + sulfur presipitatum 4%) karena

efektif pada hampir semua stadium tungau (kecuali telur), mudah digunakan dan
kurang toksik bila dibandingkan dengan gameksan. Sedangkan anti-inflamasi
diberikan untuk mengurangi kemungkinan lebih lanjut terjadinya peradangan pada
pasien.
Pada kasus ini sebaiknya setiap anggota keluarga (salah satunya adik pasien) yang
terkena juga harus diobati karena dapat menularkan kembali kepada penderita
yang sudah sembuh.

SKABIES

Pendahuluan
Pengetahuan dasar tentang penyakit ini diletakkan oleh Van Hebra, bapak
Dermatologi modern. Penyebabnya ditemukan pertama kali oleh Benomo pada
tahun 1687, kemudian oleh Mellanby dilakukan percobaan induksi pada
sukarelawan selama perang dunia II.
Sinonim
The itch, gudik, budukan, gatal agogo.
Definisi
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitasi
terhadap Sarcoptes scabiei var. hominis dan produknya (Derber, 1971).
Epidemilogi
Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemic scabies. Banyak faktor
yang membantu perkembangan scabies seperti social ekonomi yang rendah,
hygiene yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas, kesalahan
diagnosis dan perkembangan dermatografik serta ekologik, penyakit ini dapat
dimasukkan dalam PHS (Penyakit akibat Hubungan Seksual).
Cara penularan (transmisi)
1.

Kontak langsung (kontak kulit dengan kulit), misalnya berjabat

tangan, tidur bersama dan hubungan seksual.


2.

Kontak tidak langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk,

sprei, bantal.
Penularan biasanya oleh Sarcoptes scabiei betina yang sudah dibuahi atau kadang
oleh bentuk larva. Dikenal pula Sarcoptes scabiei var. animalis yang kadang-

kadang dapat menulari manusia terutama pada mereka yang banyak memelihara
binatang peliharaan, misalnya anjing.
Etiologi
Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachinida, ordo Ackarima,
super famili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis.
Selain itu terdapat S.scabiei yang lain, misalnya pada kambing dan babi. Secara
morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan
bagian perutnya rata. Tungau ini translusen, berwarna putih kotar dan tidak
bermata. Ukurannya yang betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350
mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200
mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan
sebagai alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan
rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut
dan keempat berakhir dengan alat perekat.
Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang
terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang masih dapat hidup beberapa
hari dalam terowongan yang digali oleh betina. Tungau betina yang telah dibuahi
menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3 mm sehari
dan sambil meletakkana telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40
atau 50. Bentuk betina yang dibuahi ini dapat hidup dalam sebulan lamanya. Telur
akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari dan menjadi larva yang mempunyai
3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal di terowongan, tetapi dapat juga diluar.
Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan
betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai
bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari.
Patogenesis
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh
penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi
terhadap sekreta dan ekskreta tunau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan

setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan
ditemukannya papul, vesikel, urtikaria dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul
erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder.
Gejala Klinis
Ada 4 tanda kardinal :
1.

Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena

aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.
2.

Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam sebuah

keluarga. Biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula dalam
sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang
berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi,
yang seluruh anggota keluarga terkena. Walaupun mengalami infestasi tungau,
tetapi tidak memberikan gejala. Penderita bersifat sebagai pembawa (carrier).
3.

Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat predileksi yang berwarna

putih atau keabuan, berbentuk garis lurus atau berkelok-kelok, rata-rata panjang 1
cm, pada ujung terowong itu ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi
sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi dan lain-lain).
Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang
tipis, yaitu sela-sela jari tangan, prgelangan tangan bagian volar, siku bagian luar,
lipat ketiak bagian depan, areola mammae (wanita), umbilicus, bokong, genitalia
eksterna (pria) dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak
tangan dan telapak kaki.
4.

Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat

ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.


Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal tersebut.
Skabies kadang tampak dalam bentuk bervariasi seperti laporan Parish, LC dkk
yang menemukan hanya erupsi pruritik tidak spesifik pada orang tua dan lemah di
suatu rumah rawatan. Sehubungan dengan ini perlu waspada dengan berbagai
bentuk khusus (nonklasik) skabies seperti (Orkin, 1977; Orkin 1986) :

1.

Skabies pada orang bersih, bentuk ini ditandai dengan gejala minimal dan

terowongan sukar ditemukan. Walaupun demikian pada penderita ini pada


beberapa tempat predileksi dapat terkena. Mungkin tungau hilang dengan mandi
berulang.
2.

Skabies inkognito, timbul karena salah diagnosis dan diobati dengan

kortikostreroid terutama dengan derivat yang terfluorinisasi. Gejala dan tanda


klinis membaik tetapi infestasi dan kemungkinan penularan tetap ada. Seringkali
menimbukan gejala klinis yang tidak biasa, distribusi atipik, lesi yang meluas dan
kadang menyerupai penyakit lain.
3.

Skabies nodularis, dengan lesi nodus coklat kemerahan yang gatalpada

daerah tertutup terutama ginatis laki-laki, inguinal dan aksila. Tungau jarang
ditemukan pada nodus dan penyakit ini jarang dikenal menyebabkan salah
diagnosis untuk jangka lama dan disangka hosticytosis X dan limfoma. Gambaran
histopatologis mirip gambaran limfoma (terutama penyakit Hodgkin) dan gigitan
arthropoda. Pembantu diagnostik dalam hal ini ialah adanya lesi yang bersamaan
atau lesi khas. Selain itu disokong juga oleh distribusi, gambaran morfologi dan
histopatologi nodus. Nodus dapat bertahan beberapa bulan hingga beberapa tahun
meskipun telah diberikan obat anti skabies. Peningkatan IgE dalam plasma dapat
dijumpai pada penderita skabies nodularis.
4.

Skabies pada bayi dan anak. Salah diagnosis sering terjadi pada kasus ini

karena tidak adanya kecurigaan pada penyakit ini. Seringkali sudah adanya
eksematisasi yang mengaburkan gejalanya dan distribusi lesi yang tidak khas
termasuk kepala, leher, telapak tangan dan telapak kaki. Lesi sering berupa
vesikel, bulae, disertai lesi sekunder akibat garukan. Penyakit ini mengakibatkan
kurang suka makan dan penurunan berat badan pada bayi.
5.

Skabies Dishidrosiform (Dyshydosiform Scabies)

Jenis scabies ini ditandai dengan adanya les berupa kelompok vesikel dan pustul
pada tangan dan kaki yang sering berulang dan tiap kali sembuh dengan

10

antiskabies topikal. Tidak dapat ditemukan tungau pada lesi dan jenis penyakit ini
ternyata dapat sembuh sendiri secara bertahap yaitu dalam beberapa bulan sampai
lebih dari satu tahun. Penyakit ini umumya dijumpai pada anak-anak yang
diadopsi di negara-negara Asia (Vietnam dan Korea).
6.

Skabies yang ditularkan oleh hewan

Di Amerika sumber utam skabies dari hewan adalah anjing. Kelainan ini berbeda
dari skabies manusia, transmisi lebih mudah, pola distribusi berbeda yaitu di sela
jari dan genitalia externa tidak dikenal, tidak dijumpai terowongan dan masa
inkubasi lebih pendek. Tetapi kelainan ini bersifat sementara (4-8 minggu) karena
tungau skabies hewan tidak dapat melanjutkan siklusnya pada manusia.
7.

Skabies Krustosa (S. Norwegia)

Bentuk ini ditandai oleh lesi yang khas, eritematosa dengan krusta tabal dan
daerah hiperkeratotik pada kulit kepala yang berambut, telinga, siku, lutut, telapak
kaki dan tangan serta bokong disertai skuama. Dapat disertai distrofi kuku dan
menjadi generalisata. Pruritus tidak menonjol dan bentuk ini walaupun jarang
tetapi sangat menular bahkan bersentuhan sepintas karena populasi tungau sangat
tinggi. Bentuk ini dijumpai pada penderita dengan defisiensi imunologik,
keterbelakangan mental dan kelemahan fisik. Pengobatan immunosupresif dapat
mengubah bentuk-bentuk skabies menjadi bentuk krustosa.
8.

Skabies yang ditularkan melalui hubungan seksual

Skabies ini sering ditemukan bersama penyakit hubungan seksual yang lain
seperti gonore, sfilis, pedikulosis pubis, herpes genitales dan lainnya. Apabila ada
skabies di daerah genital perla dicari kemungkinan penyakit hubungan seksual
yang lain, dimulai pemeriksaan biakan untuk gonore dan pemeriksaan serologi
untuk sfilis.

11

Pembantu diagnosis
Cara menemukan tungau :
1. Carilah mula-mula terowongan, kemudian pada ujung yang terlihat papul
atau vesikel dicongkel dengan jarum dan diletakkan di atas sebuah kaca
obyek, lalu ditutup dengan kaca penutup dan dilihat dengan mikroskop
cahaya.
2. Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung di atas selembar yertas
putih dan dilihat dengan kaca pembesar.
3. Dengan membuat biopsi irisan. Caranya : lesi dijepit dengan 2 jari
kemudian dibuat irisan tipis dengan pisau dan diperiksa dengan mikroskop
cahaya.
4. Dengan biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan H.E.
Diagnosis Banding
Ada pendapat yang mengatakan penyakit skabies ini merupakan the great
immitator karena dapat menyerupai banyak penyakit kulit lain dengan keluhan
gatal. Sebagai diagnosis banding adalah prurigo, pedikulosis korporis, dermatitis
dan lain-lain.
Pengobatan
Syarat obat yang ideal adalah :
1.

Harus efektif terhadap semua stadium tungau.

2.

Harus tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik

3.

Tidak berbau atau kotor serta tidak merusak atau mewarnai pakaian.

4.

Mudah diperoleh dan harganya murah.

Cara pengobatannya adalah seluruh anggota keluarga harus diobati (termasuk


penderita yang hiposensitisasi).
Jenis obat topikal :
1.

Belerang endap (sulfur presipitatum) dengan kadar 4-20% dalam bentuk


salep atau krim. Preparat ini karena tidak efektif terhadap stadsium telur,
maka penggunaanya tidak boleh kurang dari 3 hari. Kekurangan yang lain

12

ialah berbau dan mengotori pakaian dan kadang menimbulkan iritasi. Dapat
dipakai pada bayi berumur kurang dari 2 tahun.
2.

Emulsi benzyl benzoas (20-25%), efektif terhadap semua stadium, diberikan


setiap malam selama tiga hari. Obat ini sulit diperoleh, sering menimbulkan
iritasi dan kadang makin gatal setelah dipakai.

3.

Gamma Benzena Heksa Klorida (gameksan = gammexane) kadarnya 1%


dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua
stadium, mudah digunakan dan jarang menimbulkan ritasi. Obat ini tidak
dianjurkan pada anak dibawah 6 tahun dan wanita hamil, karena toksik pada
susunan saraf pusat. Pemberiannya cukup sekali, kecuali jika masih ada
gejala diulangi seminggu kemudian.

4.

Krotamiton 10% dalam krim atau losio juga merupakan obat pilihan
mempunyai dua efek sebagai antiskabies dan antigatal; harus dijauhkan dari
mata, mulut dan uretra.

5.

Permetrin dengan kadar 5% dalam krim, kurang toksik dibandingkan


gameksan, efektifitasnya sama, aplikasi hanya sekali dan dihapus setelah 10
jam. Bila belum sembuh diulangi setelah seminggu. Tidak dianjurkan pada
bayi di bawah umur 2 bulan.

13

Daftar Pustaka

Handoko, Ronny P. Penyakit Parasit Hewani. Dalam : Djuanda A, Djuanda S,


Hamzah M, Aisah S, editor. Ilmu Penyakit Kulit Kelamin. Edisi III. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI; hal. 93-100
Mansjoer A, Suprophaita, Wardhani, Wahyu Ika, dkk. Editor. Kapita Selekta
Kedokteran Jilid 2. Edisi III. Jakarta: Media Aesculapius; 2000. hal. 110-112
Sjamsudin, Udin dan Dewoto, Hedi R. Histamin dan Alergi. Dalam : Farmakologi
dan Terapi. Edisi IV. Jakarta; Gaya Baru; 1997. hal. 252-254.

14