Anda di halaman 1dari 23

Clinical Science Session

BENDA ASING DI TELINGA

Disusun Oleh:
Zulis Chairani

0810313199

Syandrez Prima Putra

0910311020

Preseptor:
dr. Sukri Rahman, Sp.THT-KL

BAGIAN ILMU KESEHATAN TELINGA,


HIDUNG, TENGGOROK, KEPALA DAN LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya
penulis dapat menyelesaikan penulisan referat yang berjudul Benda Asing di Telinga ini.
Adapun referat ini penulis ajukan sebagai salah satu syarat dalam mengikuti
kepaniteraan klinik di Bagian Ilmu Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Pada
kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu penyelesaian penulisan referat ini terutama kepada dr. Sukri Rahman, Sp.THT-KL
sebagai preseptor kami.
Penulisan referat ini masih memiliki banyak kekurangan, oleh karena itu penulis
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak. Semoga referat ini dapat
bermanfaat bagi peningkatan pemahaman di bidang Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan
Leher, terutama mengenai benda asing di telinga.

Padang, 6 Juli 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.....................................................................................................................i
Daftar Isi..............................................................................................................................ii
Daftar Gambar.....................................................................................................................iii
Daftar Tabel.........................................................................................................................iv
Daftar Grafik........................................................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...........................................................................................................1
1.2 Tujuan Penulisan........................................................................................................2
1.3 Batasan Masalah.........................................................................................................2
1.4 Metode Penulisan.......................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................................3
2.1

Anatomi dan Fisiologi Telinga Luar..........................................................................3

2.2

Definisi.......................................................................................................................6

2.3

Epidemiologi..............................................................................................................7

2.4

Etiopatogenesis..........................................................................................................8

2.5

Manifestasi Klinis......................................................................................................9

2.6

Diagnosis....................................................................................................................10

2.7

Diagnosis Banding.....................................................................................................10

2.8

Penatalaksanaan.........................................................................................................10

2.9

Komplikasi.................................................................................................................14

BAB III KESIMPULAN...................................................................................................16


DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................17

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Anatomi Telinga................................................................................................. 4


Gambar 2. Anatomi Daun Telinga ...................................................................................... 4
Gambar 3. Anatomi membran timpani................................................................................ 5
Gambar 4. Membran timpani............................................................................................... 5
Gambar 5. Benda asing di telinga luar................................................................................. 7
Gambar 6. Benda asing yang tersumbat di bagian sempit di liang telinga.......................... 11

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Jenis-jenis benda asing pada meatus auditori eksternal menurut usia dan jenis
kelamin
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
8
Tabel 2. Komplikasi akibat benda asing di telinga berdasarkan usia
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
14
Tabel 3. Komplikasi
benda
asing
telinga
berdasarkan
tipenya
...............................................................................................................................
...............................................................................................................................
15

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1. Lokasi benda asing tersering................................................................................ 8


Grafik 2. Kebutuhan anestesi umum berdasarkan tipe benda asing.................................... 13
Grafik 3. Kebutuhan anestesi umum berdasarkan kelompok umur..................................... 13

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Benda asing di telinga merupakan masalah di bidang THT yang banyak ditemukan
di pelayanan gawat darurat.1 Kejadian tersering adalah pada telinga bagian luar.2 Insidennya
mencapai 11% untuk semua kasus benda asing termasuk di hidung dan tenggorok. 1 Dalam
pelayanan darurat THT dari sebuah rumah sakit tersier di Sao Paulo selama periode Februari
2010 sampai Januari 2011, benda asing di liang telinga menyumbang sebanyak 5,3% dari
seluruh kasus gawat darurat.1 Benda asing yang ditemukan di liang telinga ini dapat sangat
bervariasi, baik berupa benda mati atau benda hidup, seperti binatang, komponen tumbuhtumbuhan, atau mineral.3,4 Jika tidak ditatalaksana dengan baik, maka dapat menyebabkan
berbagai macam komplikasi seperti perforasi membran timpani, gangguan pendengaran dan
edema pada liang telinga.
Benda asing di telinga harus dikeluarkan. Keberhasilan dalam mengangkat benda
asing tergantung pada banyak hal diantaranya kemampuan dokter, jenis benda asing,
manipulasi sebelumnya, keterlihatan dan kedalaman benda asing serta ketersediaan alat. 5
Komplikasi yang berat dapat terjadi sebanyak 22% dari kasus. Meskipun pengangkatan benda
asing biasanya cukup sederhana, potensi komplikasinya menjadi penting bagi seorang dokter
THT. Pengangkatan benda asing tidak jarang dilakukan di ruang operasi, dengan pasien
dibawah sedasi atau anestesi umum. Selain itu penatalaksanaan yang terlambat berhubungan
dengan lesi yang lebih besar dan lebih serius, sehingga meningkatkan komplikasi. 1 Oleh
sebab itu, penting bagi seorang dokter untuk mengetahui lebih lanjut tentang benda asing di
telinga beserta penatalaksanaanya.
.

1.2 TUJUAN PENULISAN


Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas tentang benda asing di
telinga.

1.3 BATASAN MASALAH


Batasan masalah dalam makalah ini antara lain mengenai definisi, epidemiologi,
etiologi, patogenesis, manifestasi klinis klinis, diagnosis, penatalaksanaan, dan komplikasi
dari benda asing di telinga.

1.4 METODE PENULISAN


Makalah ini disusun dengan merujuk ke berbagai kepustakaan dan literatur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI FISIOLOGI TELINGA LUAR


Telinga luar terdiri dari daun telinga, liang telinga sampai membran timpani. Daun
telinga (pinna/ aurikulla) berasal dari pinggir-pinggir celah brankial pertama dari arkus
brankialis pertama dan kedua. Daun telinga disarafi oleh cabang aurikulotemporalis dari saraf
mandibularis serta saraf aurikularis mayor dan oksipitalis minor yang merupakan cabang
pleksus servikalis. Liang telinga berasal dari celah brankial pertama ektoderm. Membrana
timpani mewakili membran penurup celah tersebut. Selama satu stadium perkembanganya,
liang telinga akhirnya tertutup sama sekali oleh suatu sumbatan jaringan telinga tapi
kemudian terbuka kembali, namun demikian kejadian ini mungkin merupakan suatu faktor
penyebab dari beberapa kasus atresia atau stenosis pada liang telinga ini.6,7
Daun telinga merupakan gabungan dari tulang rawan yang di liputi kulit. Bentuk
tulang rawan ini unik dan dalam merawat trauma telinga luar, harus di usahakan untuk
mempertahankan bagunan ini. Kulit dapat terlepas dari rawan di bawahnya oleh hematom
atau pus, dan eawan yang nekrosis dapat menimbulkan deformitas kosmetik pada pinna
(telinga kembang kol).7
Liang telinga memiliki tulang rawan pada bagian lateral namun bertulang di sebelah
medial. Seringkali ada penyempitan liang telinga pada perbatasan tulang dan rawan ini. Sendi
temporomandibularis dan kelenjar parotis terletak di depan terhadap liang teling sementara
prosesus mastoideus terletak di belakangnya. Saraf fasialis meninggalkan foramen
stilomasteodeus dan berjalan ke lateral menuju prosesus stilodeus di posteroinferior liang
telinga, dan kemudian berjalan di bawah liang teling untuk memasuki kelnjar parotis. Rawan

liang telinga merupakan salah satu patokan pembedahan yang digunakan untuk mencari saraf
fasialis; patokan lainnya adalah sutura timpanomasteodeus.7
Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen
(kelenjar keringat) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga.
Pada duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen.8

Gambar 1. Anatomi Telinga

Gambar 2. Anatomi Daun Telinga

Membran timpani adalah perbatasan telinga tengah, berbentuk bundar dan cekung
bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas
disebut pars flaksida (membran Shrapnell), sedangkan bagian bawah pars tensa (membran
propria). Pars flaksida hanya berlapis dua, yaitu bagian luar ialah lanjutan epitel kulit liang
telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, seperti epitel mukosa saluran napas.
Pars tensa mempunyai satu lapis lagi di tengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen
dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier di bagian luar dan sirkuler pada bagian
dalam.8

Gambar 3. Anatomi membran timpani

Gambar 4. Membran timpani


Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani disebut sebagai
umbo, dari umbo bermula suatu reflek cahaya ke arah bawah yaitu pada pukul 7 untuk
5

membran timpani kiri dan pukul 5 untuk membran timpani kanan. Refelek cahaya (cone of
light) ialah cahaya dari luar yang dipantulkan oleh membran timpani. Di membran timpani
terdapat 2 macam serabut, sirkuler dan radier. Serabut inilah yang mneyebabkan timbulnya
refleks cahaya yang berupa kerucut itu.8
Membran timpani dibagi menjadi 4 kuadran, dengan menarik garis searah dengan
prosesus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu di umbro, sehingga
didapatkan bagian anterior-superior, posterior-superior, anterior-inferior, dan posteriorinferior untuk menyatakan letak perforasi membran timpani.8
Pada pars flaksida terdapat daerah yang disebut atik. Di tempat ini terdapat aditus ad
antrum, yaitu lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum mastoid.8

2.2 DEFINISI
Benda asing dalam suatu organ ialah benda yang berasal dari luar tubuh atau dari
dalam tubuh, yang dalam keadaan normal tidak ada. Benda asing di telinga merupakan
masalah yang sering ditemukan oleh dokter THT, dokter anak dan dokter layanan primer
terutama di pelayanan gawat darurat.1,3,4 Benda asing yang ditemukan di liang telinga dapat
sangat bervariasi, baik berupa benda mati atau benda hidup, seperti binatang, komponen
tumbuh-tumbuhan, atau mineral.3,4 Selain itu, benda asing pada telinga merupakan salah satu
kasus gawat darurat yang utama. Kejadian tersering adalah pada telinga bagian luar. Jika
tidak ditatalaksana dengan baik, maka dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi
seperti perforasi membran timpani, gangguan pendengaran dan edema pada liang telinga.2

Gambar 5. Benda asing di telinga luar

2.3 EPIDEMIOLOGI
Benda asing di telinga merupakan kasus yang sering ditemukan pada instalasi gawat
darurat THT. Insidennya mencapai 11% untuk semua kasus benda asing termasuk di hidung
dan tenggorok.2 Benda asing di liang telinga paling sering terjadi pada anak usia < 5 tahun,
sedangkan pada dewasa lebih jarang terjadi.4,9
Dalam pelayanan darurat THT dari sebuah rumah sakit tersier di Sao Paulo, terdapat
15.640 kasus dalam periode waktu Februari 2010 sampai Januari 2011. Benda asing
menyumbang 827 kunjungan, atau 5,3% dari semua kasus. Pasien memiliki usia rata-rata
19,8 tahun dan usia rata-rata 8 tahun. Insiden lebih besar ditemukan pada individu yang
berusia < 8 tahun dengan insiden puncak pada usia 3 tahun.2
Dari 827 pasien yang dilibatkan dalam penelitian, 386 adalah perempuan (46,7%)
dan 441 adalah laki-laki (53,3%), dengan rasio perempuan dan laki-laki 1,14 : 1,00.
Kebanyakan benda asing (94,8%) terletak di telinga, hidung atau tenggorokan. Lokasi benda
asing pada kelompok pasien sebagian besar berada di telinga (64,4%), diikuti oleh fossae
hidung (19,5%), dan orofaring (8,9%). Lokasi benda asing yang sulit di tentukan adalah
sebanyak 2,9% kasus.2

Tabel 1. Jenis-jenis benda asing pada meatus auditori eksternal menurut usia dan jenis
kelamin2

Grafik 1. Lokasi benda asing tersering

2.4 ETIOPATOGENESIS
Benda asing yang masuk ke liang telinga dapat berupa benda mati organik dan non
organik, atau benda hidup.7 Pada anak kecil sering ditemukan kacang hijau, manik, mainan,
karet penghapus dan terkadang baterai. Pada orang dewasa yang relatif sering ditemukan
adalah kapas cotton bud yang tertinggal, potongan korek api, patahan pensil, kadang-kadang
ditemukan serangga kecil seperti kecoa, semut atau nyamuk.3

Faktor-faktor yang berperan dalam masuknya benda asing di liang telinga adalah
keinginan untuk mengeksplorasi rongga-rongga tubuh (orifisium) terutama pada anak. Hal ini
terjadi akibat kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak dari benda-benda yang berisiko
masuk ke liang telinga. Faktor lainnya antara lain rasa ingin tahu (curiosity), iritasi karena
otalgia, ketertarikan pada benda-benda kecil, keinginan untuk bersenang-senang (fun
making), retardasi mental dan ADHD.4,10 Sementara pada dewasa biasanya disebabkan karena
kecelakaan/ ketidaksengajaan atau karena gangguan jiwa.9

2.5 MANIFESTASI KLINIS


Pasien dewasa pada umumnya dapat mengatakan kepada pemeriksa bahwa ada
sesuatu dalam telinganya. Sementara pada anak, berdasarkan usianya, mungkin dapat
mengetahui bahwa ada benda asing dalam telinganya atau muncul dengan keluhan nyeri
telinga atau telinga berair. Pasien mungkin dapat merasakan ketidaknyamanan dan keluhan
mual atau muntah jika ada serangga yang hidup di liang telinga. Gejala lainnya dapat berupa
gangguan pendengaran atau rasa penuh di liang telinga.11
Pada pemeriksaan fisik, temuan dapat bervariasi tergantung benda dan lama waktu
benda tersebut sudah berada di liang telinga. Benda asing yang baru saja masuk ke dalam
telinga biasanya muncul tanpa kelainan selain adanya benda asing tersebut yang terlihat
secara langsung atau dengan otoskopi. Nyeri atau perdarahan dapat terjadi pada benda yang
melukai liang telinga atau jika terjadi ruptur membran timpani, atau akibat usaha pasien yang
memaksakan pengeluaran benda tersebut. Jika sudah terlambat, dapat ditemukan eritema,
pembengkakan dan sekret berbau dalam liang telinga. Serangga dapat merusak liang telinga
atau membran timpani melalui gigitan atau sengatan.11

2.6 DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Tidak ada pemeriksaan
laboratorium ataupun radiologi yang direkomendasikan sebagai pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan fisik adalah alat diagnostik yang utama. Otoskop dapat digunakan sambil
menarik pinna ke arah posterosuperior.11 Pada pasien yang dicurigai terdapat gangguan
pendengaran dapat dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni. CT scan dapat dilakukan
untuk menentukan lokasi dan komplikasi akibat benda asing.12

2.7 DIAGNOSIS BANDING


Benda asing di liang telinga perlu dibedakan dari beberapa penyakit di bawah ini
yang memiliki manifestasi klinis yang mirip, antara lain:11
1) Abrasi liang telinga
2) Serumen impaction
3) Hematoma
4) Otitis eksterna
5) Tumor
6) Perforasi membran timpani

2.8 PENATALAKSANAAN
Benda asing di liang telinga harus dikeluarkan.5 Liang telinga luar terdiri dari bagian
tulang rawan dan bagian tulang yang dilapisi oleh lapisan tipis dari kulit dan periosteum.
Bagian tulang sangat sensitif karena kulit hanya memberikan sedikit bantal yang melapisi
periosteum. Dengan demikian, upaya mengeluarkan benda asing dapat sangat menyakitkan. 13
Selain itu, liang telinga luar menyempit di bagian perhubungan antara bagian tulang rawan
dan bagian tulang. Benda asing dapat menjadi tersangkut di tempat tersebut sehingga
meningkatkan kesulitan pada saat dikeluarkan. Upaya untuk mengeluarkan benda asing
mungkin akan mendorongnya lebih jauh ke dalam liang telinga dan tersangkut di titik yang
sempit tersebut. Selain itu, membran timpani dapat rusak akibat penekanan benda asing yang
terlalu dalam atau akibat peralatan yang digunakan selama proses pengangkatan. Oleh sebab
10

itu, visualisasi yang adekuat, peralatan yang memadai, pasien yang kooperatif, dan
kemampuan dokter adalah kunci untuk mengangkat benda asing.13

Gambar 6. Benda asing yang tersumbat di bagian sempit di liang telinga.

Indikasi dan Kontra Indikasi14


Tindakan pengangkatan benda asing dari telinga diindikasikan apabila terdapat
visualisasi yang baik dari benda asing yang teridentifikasi di dalam liang telinga luar.
Kontraindikasi pengangkatan benda asing adalah sebagai berikut:
-

Adanya perforasi membran timpani, kontak antara benda asing dengan membran
timpani, atau tidak bagusnya visualisasi liang telinga, sehingga diindikasikan untuk
konsultasi emergensi THT untuk pengangkatan melalui operasi mikroskopik dan

spekulum.
Apabila terdapat baterai alat bantu dengar, sehingga konsultasi emergensi THT
selalu dilakukan karena dapat menyebabkan nekrosis dalam waktu singkat dan
menyebabkan perforasi membran timpani dan komplikasi lainnya. Jadi, irigasi tidak
boleh dilakukan pada kasus seperti ini, karena dapat menyebabkan percepatan proses
nekrotik.

Metode
11

Banyak teknik untuk tatalaksana benda asing ditelinga yang tersedia, dan pilihan
tergantung pada situasi klinis, jenis benda asing yang dicurigai, dan pengalaman dokter.
Pilihan meliputi irigasi air, forsep pengangkat (misal: forsep alligator), loop cerumen, rightangle ball hooks, dan kateter hisap. Serangga hidup dapat dibunuh cepat dengan
menanamkan alkohol, 2% lidokain (Xylocaine), atau minyak mineral ke liang. Hal ini
sebaiknya dilakukan sebelum pengangkatan, tetapi tidak boleh digunakan jika membran
timpani mengalami perforasi.13 Benda asing berbentuk bulat tidak dapat diangkat dengan
forsep. Metode ini menimbulkan rasa nyeri dan dapat mengakibatkan laserasi di liang
telinga dan benda asing masuk lebih dalam sehingga membutuhkan bius umum untuk
mengangkatnya. Teknik irigasi dapat dilakukan untuk benda yang kecil dan dekat dengan
membran timpani.5 Aseton dapat digunakan untuk melarutkan benda asing styrofoam atau
untuk melunakkan cyanoacrylate (contoh: lem perekat).13
Tindakan pertama untuk mengangkat benda asing sangat penting karena angka
keberhasilan dapat berkurang jika tindakan pertama gagal. Selain itu, komplikasi akan
meningkat jika pengangkatan berulangkali gagal. Pada saat pengangkatan sering dirasakan
nyeri, dan dapat menyebabkan perdarahan yang menyebabkan keterbatasan visualisasi. Oleh
sebab itu kadang diperlukan sedasi atau anestesi. Indikasi lainnya meliputi pasien yang
mengalami trauma pada membran timpani, benda asing yang melekat kuat pada 2/3 medial
liang telinga atau yang dicurigai menyentuh membran timpani, benda asing dengan pinggir
yang tajam (seperti pecahan kaca) atau kegagalan pengangkatan yang berulang-ulang.13

12

Grafik 2. Kebutuhan anestesi umum berdasarkan tipe benda asing

Grafik 3. Kebutuhan anestesi umum berdasarkan kelompok umur

Benda asing yang lebih dari satu tidak jarang pula dijumpai, terutama pada anak. Oleh
sebab itu, orifisium lainnya di kepala harus dilihat setelah pengangkatan benda asing dari
liang telinga luar. Antibiotik tetes telinga diperlukan pada pasien dengan otitis eksterna dan
harus dipertimbangkan jika terdapat laserasi atau trauma liang telinga. Audiografi harus
dipertimbangkan jika terdapat trauma pada membran timpani atau dicurigai adanya gangguan
pendengaran.13

13

2.9 KOMPLIKASI
Komplikasi berat dapat terjadi di sebanyak 22% dari kasus yang di temukan, dan
morbiditas terkait dengan benda asing oleh karena itu, benda asing harus di tangani secara
benar.2
Tabel 2. Komplikasi akibat benda asing di telinga berdasarkan usia2

Penanganan yang tidak tepat akan dapat menimbulkan pendarahan, trauma pada
liang telinga, trauma pada membran timpani dan tulang-tulang pendengaran. Hal ini akan
menambah angka kesakitan pada pasien, sehingga akan memerlukan tindakan eksplorasi
dalam bius umum untuk mengangkat benda asing tersebut. Marques seperti dikutip
Figueiredo menyatakan kurangnya pengalaman dalam manajemen benda asing di telinga
merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya komplikasi iatrogenik.5
Pada pasien ini tindakan pertama mengeluarkan benda asing dilakukan tanpa bius,
ternyata gagal. Pada tindakan kedua dilakukan dalam bius umum. Setelah itu pasien
mengalami pusing berputar dan nyeri pada telinga. Trauma telinga tengah biasanya
menimbulkan tuli konduktif. Perforasi membran timpani, hemotimpani dan kerusakan
tulang-tulang pendengaran merupakan penyebab terbanyak tuli konduktif pada trauma
telinga tengah. 90 % perforasi membran timpani dapat menutup secara spontan.
Miringoplasti dilakukan apabila penutupan spontan tidak terjadi dalam 3 bulan. Pembedahan
dilakukan bila terdapat kerusakan yang serius di telinga, benda asing di telinga dalam atau
ada gejala kerusakan di telinga tengah.5
Perforasi membran timpani tanpa kelainan di telinga tengah akan menyebabkan dua
efek berbeda pada pendengaran. Pertama adalah pengurangan luas membran timpani yang
14

merupakan pusat pengerahan tenaga ke telinga tengah sehingga mengurangi gerakan tulang
pendengaran. Makin besar perforasi makin berkurang permukaan membran sebagai
pengumpul tenaga suara, akhirnya suara hanya ditampung di kuadran posterior sisa
membran timpani tempat tulang-tulang pendengaran atau sisa tulang-tulang pendengaran
berada. Efek kedua terhadap pendengaran oleh perforasi adalah akibat energi suara yang
lansung ke tingkap bulat tanpa dihambat oleh membran timpani. Efek itu akan semakin
besar sebanding dengan besarnya perforasi.5

Tabel 3. Komplikasi benda asing telinga berdasarkan tipenya2

15

BAB III
KESIMPULAN

Benda asing di telinga merupakan masalah yang sering ditemukan oleh dokter THT,
dokter anak dan dokter layanan primer terutama di pelayanan gawat darurat. Benda asing
yang ditemukan di liang telinga dapat sangat bervariasi, baik berupa benda mati atau benda
hidup, seperti binatang, komponen tumbuh-tumbuhan, atau mineral. Kejadian tersering
adalah pada telinga bagian luar. Gejala yang muncul bervariasi sesuai usia, selain itu
pemeriksaan fisik dapat berbeda tergantung benda dan lamanya benda tersebut berada di
liang telinga. Diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, sementara
tidak ada rekomendasi untuk pemeriksaan penunjang.
Benda asing di liang telinga harus dikeluarkan. Banyak teknik pengangkatan yang
dapat dilakukan, dan pilihan tergantung pada situasi klinis, jenis benda asing yang dicurigai,
dan pengalaman dokter. Jika tidak ditatalaksana dengan baik, maka dapat menyebabkan
berbagai macam komplikasi seperti perforasi membran timpani, gangguan pendengaran dan
edema pada liang telinga. Oleh sebab itu penting bagi seorang dokter mengetahui tentang
benda asing di telinga dan penatalaksanaannya.

16

DAFTAR PUSTAKA

1. Gomes JM, Andrade JSC, Matos RC, et al. ENT foreign bodies: profile of the cases seen
at a tertiary hospital emergency care unit. Braz J Otorhinolaryngol. 2013;79(6):699-703.
2. Fornazieri MA, Cutolo D, Moreira JH, et al. Foreign-body in External Auditory Meatus:
Evaluation of 462 Cases. Intl. Arch. Otorhinolaryngol., So Paulo - Brazil.
2010;14(1):45-49.
3. Hafil AF, Sosialisman, Helmi. Kelainan Telinga Luar. Dalam Soepardi EA, dkk. Buku
Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi 7. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2012; hal.53.
4. Shresta I, Shrestha BL, Amatya RCM. Analysis of Ear, Nose and Throat Foreign Bodies
in Dhulikhel Hospital. Kathmandu Univ Med J. 2012;38(2):4-8
5. Edwad Y, Fitria H. Trauma pada Tingkap Lonjong Akibat Ekstraksi Benda Asing di
Liang Telinga. 2013. Diakses dari http://repository.unand.ac.id/17151/1/Ruptur_
tingkap_lonjong.pdf pada tanggal 5 Juli 2014.
6. Sloane E. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2010;
hal.189.
7. Adam, George L. BOIES Buku Ajar Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorokan THT Edisi
6. 1997; hal.57-59.
8. Soetirto I, Hendarmin H, Bashiruddin J. Gangguan Pendengaran (Tuli). Dalam Soepardi
EA, dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi 7.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2012; hal.10-13.
9. Yaroko AA, Irfan M. An Annual Audit of the Ear Foreign Bodies in Hospital Universiti
Sains Malaysia. Malaysian Family Physician. 2012;7(1):2-5.
10. Chinski A, Foltran F, Gregori. Foreign bodies in the ears in children: the experience of
the Buenos Aires pediatric ORL clinic. The Turkish Journal of Pediatrics. 2011; 53:425429.
11. Mantooth R. Ear Foreign Body Removal in Emergency Medicine. 2013. Diakses dari
http://emedicine.medscape.com/article/763712-overview pada tanggal 5 Juli 2014.
12. Asokarathinam K, Shwetha, Prabakaran J. Unrolling Stone Gathers no Moss!
Asymptomatic Long-Standing Foreign Body in the External Ear- A Case Report.
International Journal of Basic and Applied Medical Sciences. 2014;4(1):7-9.
13. Heim SW, Maughan KL. Foreign Bodies in the Ear, Nose, and Throat. Am Fam
Physicians. 2007;76:1185-9.
14. Kwong AOK, et al. Ear Foreign Body Removal Procedures. 2012. Diakses dari
http://emedicine.medscape.com/article/80507-overview pada tanggal 5 Juli 2014.

17