Anda di halaman 1dari 12

TINJAUAN KRITIS PROSES PENYUSUNAN DAN SUBSTANSI MATERI KAJIAN

LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS KAWASAN II-VI KOTA SURAKARTA


TAHUN 2015
Oleh
Atyadhisti Anantisa (21040112130042)
Ir. Djoko Suwandono, MSP
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Diponegoro
Email :atyadhisti.anantisa16@pwk.undip.ac.id
Abstrak
Sehubungan dengan terbitnya Perda Kota Surakarta Nomor 1 Tahun 2012 tentang
RTRW Kota Surakarta maka sesuai UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang
RTRW sebagai rencana umum tata ruang memerlukan RRTR sebagai perangkat operasional
berupa RDTR. Proses penyusunan Perda tersebut mencakup enam kawasan sedangkan
dalam proyek ini mengkaji Kawasan II-VI Kota Surakarta sebagai bagian dari Kebijakan/
Rencana/ Program (KRP). Kegiatan ini merupakan suatu upaya untuk meyakinkan rencana
atau kegiatan pembangunan tersebut tidak merusak lingkungan sekaligus menjamin
keberlanjutan pembangunan itu sendiri. Acuan dari kegiatan ini yaitu UU Nomor 32 Tahun
2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Kajian Lingkungan Hidup
Strategis (KLHS) ini berfungsi untuk memastikan prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi
dasar dan terintegrasi dalam pembangunan Kota Surakarta. Mengingat Kota Surakarta isu
permasalahan dalam penyediaan hunian yang layak, pengelolaan sampah, pengelolaan
sanitasi/ air limbah, pengelolaan drainase kota, dan pengelolaan ruang RTH kota. Perumusan
rekomendasi alternatif penyempurnaan terhadap kebijakan, rencana, dan/ atau program
diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan hidup Kawasan II-VI Kota Surakarta
sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Tinjauan kritis ini akan membahas proses penyusunan KLHS Kawasan II-VI Kota
Surakarta dan materi yang dibahas. Proyek ini merupakan proyek yang dilakukan oleh PT.
Trikarsa Buwana Persada Gemilang di Ungaran Kabupaten Semarang. Proyek ini
berlangsung selama 5 bulan, namun dalam realisasinya proyek dilakukan lebih cepat yaitu 4
bulan. Tinjauan kritis yang dilakukan yaitu meninjau proses penyusunan KLHS Kawasan IIVI sesuai dengan teori Thomas B. Fisher dan materi yang dibahas sesuai dengan Robert B.
Gibson, et. al. Setelah tinjauan kritis dilakukan, diketahui bahwa penyusunan KLHS Kawasan
II-VI Kota Surakarta sudah mengikuti dan sesuai dengan teori Thomas B. Fisher dan substansi
materi yang dibahas telah memenuhi kriteria dari Robert B. Gibson, et. al namun perlu adanya
pembahasan lebih dalam mengenai konsep capaian/ kriteria pembangunan keberlanjutan.
Kata Kunci : Tinjauan Kritis, Proses Penyusunan, Substansi Materi, Kajian Lingkungan Hidup
Strategis (KLHS)
I.

PENDAHULUAN
Perda Kota Surakarta Nomor 1
Tahun 2012 mengatur tentang RTRW Kota
Surakarta sesuai UU Nomor 26 Tahun
2007 tentang penataan ruang RTRW.
Proses penyusunan Perda yang mencakup
enam kawasan Kota Surakarta tersebut
perlu dilakukan suatu upaya memastikan
rencana kegiatan pembangunan yang
dilakukan tidak memiliki efek negatif
terhadap lingkungan. Selain itu, Kajian

Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) ini


dilakukan untuk menjamin keberlanjutan
pembangunan itu sendiri. KLHS dalam hal
ini merupakan suatu proses sistematis
untuk mengevaluasi pengaruh lingkungan
hidup dari suatu RDTR dan menjamin
prinsip-prinsip
keberlanjutan
telah
terintegrasi dalam substansi RDTR
tersebut. Sebagaimana diketahui RDTR
Kota
Surakarta
berperan
strategis
mendukung
pengembangan
Kota

Surakarta
sebagai
Pusat
Kegiatan
Nasional (PKN) berbasis sektor-sektor
industri, perdagangan dan jasa komersial,
serta pariwisata dan budaya.
KLHS yang disusun mengacu pada
UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan
dan
Pengelolaan
Lingkungan Hidup. Sekaligus merupakan
dokumen yang wajib disusun dalam RDTR
sesuai amanat dari UU Nomor 32 Tahun
2009. RDTR Kawasan II-VI dikaji
pengaruhnya terhadap kondisi lingkungan
hidup seperti dengan mengidentifikasi isu
pembangunan berkelanjutan. Dari hal
tersebut maka perlu dilakukan tahapan
penyempurnaan
RDTR
yang
ada
kemudian
merumuskan
rekomendasi
perbaikannya. Pentingnya penyusunan
KLHS yang dilakukan menjadi alasan
disusunnya critical review ini. Laporan
critical review terhadap proyek Kajian
Lingkungan Hidup Strategis (KLHS)
Kawasan II-VI Kota Surakarta memiliki
tujuan untuk memberikan penilaian dan
kritikan atas produk KLHS yang dihasilkan.
Selain itu, penyusunan KLHS di masa
depan diharapkan dapat lebih baik dengan
adanya penilaian dan kritikan ini. Melalui
kritikan ini pembangunan berkelanjutan
dapat lebih teridentifikasi pencapaiannya
dan diketahui urgensinya.

Ruang lingkup Kajian Lingkungan


Hidup Strategis (KLHS) yang disusun yakni
Kawasan II-VI Kota Surakarta. Kawasan II
berada di bagian barat daya kota yakni
sebagian besar Kecamatan Laweyan dan
sebagian wilayah Kecamatan Banjarsari.
Sedangkan Kawasan III sebagian besar
Kecamatan Banjarsari dan Kawasan IV
sebagian besar Kecamatan Jebres serta
sebagian wilayah Kecamatan Banjarsari.
Kemudian Kawasan V sebagian besar
Kecamatan Jebres dan sebagian wilayah
Kecamatan Banjarsari. Terakhir Kawasan
VI berada di pusar kota meliputi sebagian
wilayah Kecamatan Jebres, Kecamatan
Serengan, Kecamatan Pasar Kliwon,
Kecamatan Jebres, dan Kecamatan
Banjarsari.
Ruang lingkup materi penyusunan
Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS)
Kawasan II-VI Kota Surakarta terdiri dari
tahap penyusunan Laporan Pendahuluan,
Laporan Antara, dan terakhir Laporan Akhir
dengan tahun anggaran 2014 selama 4
bulan.

Sumber : Bappeda, 2010

Gambar 1
Peta Rencana Struktur Ruang Kota Surakarta

II.

TINJAUAN SINGKAT PROYEK


a. Dasar Hukum
Peraturan undang-undang yang
digunakan sebagai dasar hukum
penyusunan Kajian Lingkungan
Hidup Strategis (KLHS) Kawasan
II-VI Kota Surakarta yaitu:
1. Undang-Undang Nomor 26
Tahun
2007
tentang
Penataan Ruang (Lembaran
Negara Tahun 2007 Nomor
68, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4725);
2. Undang-Undang Nomor 32
Tahun
2009
tentang
Perlindungan
dan
Pengelolaan
Lingkungan
Hidup (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun
2009 Nomor 140);
3. Undang-Undang Nomor 23
Tahun
2014
tentang
Pemerintahan
Daerah
sebagaimana telah diubah
melalui Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang
Nomor 2 Tahun 2014
Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 23
Tahun
2014
Tentang
Pemerintahan
Daerah
(Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor
246, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia
Nomor 5589);
4. Peraturan Pemerintah Nomor
27 Tahun 1999 tentang
Analisa Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup (Lembaran
Negara Tahun 1999 Nomor
59, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 3838);
5. Peraturan Pemerintah Nomor
15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan
Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun
2010 Nomor 21, Tambahan
Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5103);
6. Peraturan Pemerintah Nomor
68 Tahun 2010 tentang
Bentuk dan Tata Cara Peran
Masyarakat dalam Penataan

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

Ruang (Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun
2010 Nomor 118, Tambahan
Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5160);
Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 17
Tahun
2009
Tentang
Pedoman Penentuan Daya
Dukung Lingkungan Hidup
Dalam Penataan Ruang
Wilayah;
Peraturan
Menteri
Lingkungan Hidup Nomor 09
Tahun
2011
tentang
Pedoman
Umum
Kajian
Lingkungan Hidup Strategis;
Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum Nomor 20 Tahun 2011
tentang
Pedoman
Penyusunan Rencana Detail
Tata Ruang dan Peraturan
Zonasi Kabupaten/Kota;
Keputusan
Menteri
Lingkungan Hidup Nomor 17
Tahun 2001 tentang Jenis
Rencana Usaha dan/atau
kegiatan
yang
wajib
dilengkapi dengan analisis
mengenai
dampak
lingkungan hidup;
Peraturan Daerah Provinsi
Jawa Tengah Nomor 22
Tahun
2003
tentang
Pengelolaan
Kawasan
Lindung di Provinsi Jawa
Tengah (Lembaran Daerah
Provinsi Jawa Tengah Tahun
2003 Nomor 134);
Peraturan Daerah Provinsi
Jawa Tengah Nomor 5 Tahun
2007 tentang Pengendalian
Lingkungan Hidup Provinsi
Jawa Tengah (Lembaran
Daerah
Provinsi
Jawa
Tengah Tahun 2007 Nomor 5
Seri E Nomor 2, Tambahan
Lembaran Daerah Provinsi
Jawa Tengah Nomor 4);
Peraturan Daerah Provinsi
Jawa Tengah Nomor 6 Tahun
2010 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Provinsi Jawa
Tengah Tahun 2009 - 2029
(Lembaran Daerah Provinsi

Jawa Tengah Tahun 2010


Nomor
6,
Tambahan
Lembaran Daerah Provinsi
Jawa Tengah Nomor 28);
14. Peraturan
Daerah
Kota
Surakarta Nomor 8 Tahun
2009 tentang Bangunan
(Lembaran Daerah Kota
Surakarta Tahun 2009 Nomor
9); dan
15. Peraturan
Daerah
Kota
Surakarta Nomor 1 Tahun
2012 tentang Rencana Tata
Ruang
Wilayah
Kota
Surakarta
2011-2031
(Lembaran Daerah Kota
Surakarta Tahun 2012 Nomor
1).
b. Tinjauan Proyek
KLHS disusun sebagai tindak
lanjut dari RDTR Kota Surakarta
yang mencakup enam kawasan.
KLHS tersebut dapat dikerjakan
apabila
isu
pembangunan
berkelanjutan
teridentifikasi
sheingga diketahui pengaruh
RDTR Kawasan II sampai VI
terhadap
kondisi
lingkungan
hidup.
Kemudian
langkah
selanjutnya
merumuskan
alternatif penyempurnaan RDTR
Kawasan II sampai VI dan
merekomendasikan
perbaikan
dari RDTR sebelumnya.
KLHS Kawasan II-VI Kota
Surakarta disusun dengan tujuan
mengkaji KRP yang tertuang
dalam RDTR Kota Surakarta
Kawasan II-VI sejauh mana telah
memenuhi kaidah lingkungan
dalam konsep pembangunan
berkelajutan
(sustainable
development). Selain itu tujuan
lain yang dicapai yaitu tersedianya
dokumen
KLHS
sebagai
pendukung RDTD Kota Surakarta
Kawasan
II-VI
dengan
mengutamakan
prinsip
pembangunan
berkelanjutan
dalam kebijakan, rencana, dan
program yang tertuang dalam
RDTR sesuai kaidah UU No 32
Tahun 2009.

Penyusunan kajian lingkungan


hidup strategis terbagi menjadi
tiga tahap yaitu:
1. Terumuskannya pengkajian
pengaruh RDTR Kawasan
II-VI
terhadap
kondisi
lingkungan hidup di wilayah
perencanaan:
a. Teridentifikasinya
masyarakat
dan
pemangku kepentingan
lainnya;
b. Teridentifikasinya
isu
pembangunan
berkelanjutan;
c. Teridentifikasinya RDTR
Kawasan II - VI; dan
d. Terumuskannya
telaahan
pengaruh
RDTR Kawasan II - VI
terhadap
kondisi
lingkungan hidup.
2. Terumuskannya alternatif
penyempurnaan
RDTR
Kawasan II-VI.
3. Terumuskannya
rekomendasi
perbaikan
RDTR Kawasan II - VI dan
Pengintegrasian
Hasil
KLHS.
Metode dan pendekatan yang
digunakan masih berhubungan
dengan kebijakan, rencana, dna
program yang tertuang dalam
RDTR Kota Surakarta Kawasan IIVI yakni dengan mengkaji
pengaruh RDTR terhadap kondisi
lingkungan hidup di wilayah RDTR
Kota Surakarta Kawasan II - VI
meliputi identifikasi, masyarakat,
dan pemangku kepentingan; isu
pembangunan
berkelanjutan;
RDTR Kota Surakarta Kawasan IIVI; dan pengaruh RDTR terhadap
kondisi lingkungan hidup. Selain
itu, perumusan alternatif RDTR
juga diberikan serta rekomendasi
perbaikan RDTR yang terintegrasi
dengan hasil KLHS.
Data yang digunakan yaitu
kondisi lingkungan hidup setiap
kawasan yakni penggunaan lahan
dan ruang terbuka hijau, kondisi
sosial
kependudukan,
perekonomian,
sarana
dan

prasarana,
permukiman,
kesehatan masyarakat
serta
sanitasi lingkungan, kerawanan
bencana, dan cagar budaya.
Kemudian diperlukan pula data
isu pebangunan berkelanjutan
setiap kawasan dan kebijakan,
rencana, dan/ atau program dari
RDTR sendiri.
III.

TINJAUAN
KRITIS
PELAKSANAAN KLHS KAWASAN
II-VI KOTA SURAKARTA
a.
Literatur Proses Pelaksanaan
Penyusunan KLHS
Proses pelaksanaan penyusunan
KLHS terdapat dari 6 metode yaitu:
1. Penapisan dengan teknik yang
digunakan
yaitu
indikator,
ckecklist, dan konsultasi tenaga
ahli.
2. Pelingkupan
dengan
teknik
indikator,
checklist,
matriks,
partisipasi publik, dan konsultasi.
3. Kajian dampak yakni dengan
matriks, survey, partisipasi publik,
konsultasi,
jaringan,
analisis
statistik, dan peta overlay.
4. Review dengan konsultasi dan
partisipasi publik.
5. Pengambilan keputusan yaitu
dengan checklist, matriks, dan
peta overlay.
6. Tindak lanjut yakni dengan
indikator dan survey.
Terdapat 18 kriteria dalam proses
pelaksanaan KLHS menurut Robert B.
Gibson, et. al yang merupakan konsolidasi
temuan dari literatur penilaian internasional
dan review Kanada dan pengalaman KLHS
internasional. Berikut merupakan kriteria
yang sebaiknya ada dalam penyusunan
KLHS.
1. Tujuan dan proses tidak perlu
dibahas,
lebih
membahas
komitmen
untuk
mencapai
pembangunan
berkelanjutan
dengan evaluasi dan keputusan
kriteria yang tepat serta rencana
kebijakan program memenuhi
kriteria.
2. Aturan
yang
dirancang
memastikan
semua
isu
terselesaikan,
terlaksananya
musyawarah
pembangunan

rencana
kebijakan
program,
keberlanjutan
dan
penilaian
lingkungan yang dibahas, serta
alternatif.
3. Menjelaskan hubungan antara
rencana kebijakan program dan
pembangunan, tinjauan, serta
persetujuan dari proyek terkait
dengan batas yang jelas apakah
rencana kebijakan program, dapat
memberikan arahan.
4. Fleksibilitas proses penyusunan
yang dilakukan untuk memenuhi
berbagai macam kebutuhan yang
berpengaruh dalam rencana,
kebijakan, dan program.
5. Memastikan pengimplementasian
dari proses penyusunan KLHS
dengan koordinasi pihak terkait
dan legalitas.
6. Evaluasi tujuan rencana kebijakan
program yang telah disusun
khususnya berkaitan dengan
kriteria keberlanjutan.
7. Mempertimbangkan
efek
keberlanjutan di masa depan.
8. Penilaian
terhadap
tingkat
kepentingan suatu isu.
9. Membagi secara jelas peran dan
tanggung jawab pelaksanaan.
10. Melakukan
kolaborasi
dan
kerjasama untuk mencapai
tujuan.
11. Membuka kesempatan untuk
berpartisipasi yakni dengan
musyawarah terbuka.
12. Keputusan
yang
diambil
transparan
dan
dapat
diperhitungkan.
13. Keputusan yang diambil bersifat
resmi yakni dalam forum dan
terintegrasi dengan rencana
kebijakan program yang sudah
ada.
14. Evaluasi kembali keputusan
yang diambil apakah sudah
mencapai tujuan awal dan
memenuhi prinsip berkelanjutan.
15. Terdapat prosedur monitoring,
review, pembelajaran berulang,
dan identifikasi kebutuhan untuk
pengimplementasian
16. Administrasi imparsial dimana
pemerintah dan pihak tertentu

memiliki tanggung jawab secara


resmi.
17. Sumber daya memadai dan
memiliki motivasi.
18. Konteks strategis yang dibahas
jelas,
indikator
yang
dikembangkan, dll.
b.
Best Practice
Best practice yang diangkat yakni
KLHS Negara Cina Bagian Barat. The
Great Western Development Strategy
(GWDS) merupakan kampanye nasional
jangka panjang untuk meningkatkan
daerah barat Cina dan perekonomiannya.
Terdapat lima kunci pembangunan yaitu
penggunaan eksploitasi sumber daya air,
pemanfaatan lahan, pembangkit energi,
pembangunan pariwisata, dan rehabilitasi
serta
konservasi
ekologi.
Indikator
lingkungan yag dipiilh yaitu ketersediaan
sumber daya air, erosi tanah, salinasi
tanah, kerusakan hutan, degradasi lahan,
keanekaragaman hayati, kualitas air, dan
kualitas udara.
Metode yang digunakan yaitu
dengan matriks penilaian, penggabungan
ahli penilaian, dan trend analisis yang
berfungsi untuk menganalisis serta
memprediksi dampak lingkungan. Evaluasi
kompleks dan jangka panjang pada
keamanan ekologi. Wilayah barat meliputi
6,8 km2 yakni 71,4% dari seluruh luas
lahan daratan Cina. Dalam bahan dan
metode yang dibahas yaitu background
keseluruhan dari Cina bagian Barat,
deskripsi
dari
kegiatan
strategi

pembangunan yang dilakukan, decisionmaking framework, dan metode yang


digunakan dalam penyusunan KLHS
sendiri selanjutnya penilaian kondisi dari
setiap
indikator
yang
ditentukan
sebelumnya.
Terakhir
mengevaluasi
keseluruhan kualitas ekologi.
Setelah
mendapat
kondisi
keseluruhan status ekologi, selanjutnya
mengidentifikasi masalah lingkungan yang
ada dan dampak lingkungan yang didapat
dari pembangunan yang dilakukan.
Kemudian
setelah
mengetahui
keseluruhan kondisi dan isu permasalah
serta dampaknya dilakukan perencanaan
seperti sumber air, penggunaan lahan,
pembangkit energi, rehabilitasi dan
restorasi ekologi, serta keseluruhan hasil
dampak. Langkah akir dari perencanaan
kemudian rekomendasi kebijakan, prioritas
mitigasi area, dan menetapkan prinsip
keamanan ekologi.
c.
Tinjauan
Kritis
Proses
Penyusunan KLHS Kawasan II-VI
Kota Surakarta
Pelaksanaan KLHS Kawasan II-VI
Kota Surakarta perlu dilakukan tinjauan
kritis untuk mengetahui bagaimana proses
penyusunan yang dilakukan. Berdasarkan
literatur Thomas B. Fisher terdapat
tahapan penyusunan KLHS. Berikut
merupakan pembahasannya bagaimana
proses penyusunan KLHS dengan teori
yang ada.

Tabel 1
Tinjauan Kritis Proses Pelaksanaan Penyusunan KLHS Kawasan II-VI Kota Surakarta
Proses Penyusunan
No.
Tahapan
Tinjauan Kritis
KLHS
(+) Terdapat tahapan penapisan dalam
penyusunan KLHS Kawasan II-VI Kota
Surakarta. Teknik yang digunakan yakni
Teknik yang digunakan
terdapat indikator UU No 32 Tahun 2009, PP
dalam tahapan penalisan
1.
Penapisan
Nomor 15 Tahun 2010, dan Peraturan Menteri
yaitu indikator, ckecklist,
(Permen) Nomor 20/PRT/M/2011.
dan konsultasi tenaga ahli.
(-) Penjelasan tenaga ahli belum disebutkan
secara detil dalam proses penapisan hanya
disebutkan pelibatan instansi terkait.
Teknik yang digunakan
dalam
tahapan
(+) Terdapat indikator, matriks, partisipasi
pelingkupan yaitu indikator,
2.
Pelingkupan
publik, dan konsultasi yang dibahas. Terdapat
checklist,
matriks,
tabel pembagian proses pelibatan publik.
partisipasi publik, dan
konsultasi

No.

Tahapan

Proses Penyusunan
KLHS

Kajian
dampak

Teknik yang digunakan


dalam
tahapan
kajian
dampak yaitu matriks,
survey, partisipasi publik,
konsultasi, dan jaringan.

Review

Teknik yang digunakan


dalam tahapan review yaitu
konsultasi dan partisipasi
publik.

5.

Pengambilan
Keputusan

Teknik yang digunakan


dalam
tahapan
pengambilan
keputusan
yakni dengan checklist dan
matriks.

6.

Tindak Lanjut

Teknik yang digunakan


yakni dengan indikator dan
survey.

3.

4.

Tinjauan Kritis
(+) Kebijakan rencana program telah dianalisis
dampaknya
terkait
isu
pembangunan
berkelanjutan
dalam
bentuk
matriks.
Dilakukan
survey
lapangan,
pelibatan
masyarakat, konsultasi dalam FGD.
(-) Analisis statistik kurang digunakan dalam
pengkajian dampak sehingga pengolahan data
yang terkumpul kurang diolah.
(-) Tidak adanya peta overlay, kurang
pembuatan dan pengolahan peta. Peta hanya
berdasarkan RDTR yang sebelumnya disusun.
(+) Telah dilakukan konsultasi terkait instansi
terkait dalam FGD dan setiap sidang.
Partisipasi publik cukup terlibat dalam tahapan
ini.
(+) Dilakukan checklist dan matriks untuk
mengambil
keputusan.
Matriks
yang
digunakan yaitu menilai keijakan rencana
program/ KRP dengan isu berkelanjutan serta
penilaian isu pembangunan sendiri dan urutan
prioritasnya.
(+) Pengambilan keputusan terintegrasi
dengan RDTR yang telah disusun dan dibahas
dengan instansi terkait.
(-) Proses pengerjaan yang terbagi individual
tidak dibahas lebih dalam/ didiskusikan dalam
tim penyusun sehingga kurang keputusan
yang diambil kurang mendalam.
(+) Rekomendasi disusun sesuai isu
pembangunan berkelanjutan yang diangkat
dan terintergrasi dengan RDTR yang disusun,
hasil survey serta analisis yang dilakukan.
(-) Tindak lanjut yang dibahas berdasarkan
masalah prioritas hanya berdasarkan dampak
negatif yang ditimbulkan kurang mengangkat
potensi yang dapat dikembangkan sehingga
tercapai pula kondisi yang lebih baik.

Sumber: Hasil Analisis Penyusun, 2016

d.

Tinjauan Kritis Dokumen KLHS


Kawasan II-VI Kota Surakarta
Pelaksanaan KLHS Kawasan II-VI
Kota Surakarta perlu dilakukan tinjauan
kritis untuk mengetahui bagaimana materi
yang dibahas dalam dokumen KLHS
No.

1.

tersebut. Berdasarkan literatur Robert B.


Gibson, et. al terdapat 18 kriteria yang
harus dibahas. Berikut merupakan
pembahasannya
bagaimana
materi
dokumen KLHS yang dibahas dengan teori
yang ada.

Tabel 2
Tinjauan Kritis Materi KLHS Kawasan II-VI Kota Surakarta
Kriteria
Materi KLHS
Tinjauan Kritis
KLHS
atau
Strategic (+) Komitmen untuk mencapai
Environmental
Assesment pembangunan
berkelanjutan
(SEA) adalah instrument telah dibahas.
pendukung
perencanaan (-)
Haya
dibahas
aspek
Membahas komitmen
pembangunan berkelanjutan keberlanjutan tidak disebutkan
yang ingin dicapai.
melalui upaya internalisasi bagaimana
kriteria
kepentingan lingkungan hidup keberlanjutan yang dicapai
(LH)
dan
prinsip-prinsip dalam aspek tersebut.
pembangunan berkelanjutan (-) Aspek keberlanjutan yang
ke
dalam
perencanaan dievaluasi selanjutnya hanya

No.

Kriteria

Materi KLHS
pembangunan.
Upaya
pengarusutamaan
kepentingan LH dan prinsipprinsip
pembangunan
berkelanjutan ini penting
karena
pelaksanaan
pembangunan selama ini
selain telah meningkatkan
keuntungan ekonomi, juga
mengakibatkan kemerosotan
kualitas LH dan persoalanpersoalan sosial.

2.

Semua isu yang diangkat


terselesaikan.

Setiap kawasan memiliki isu


yang
berbeda
seperti
contohnya tingginya jumlah
masyarakat berpenghasilan
rendah/
pra-sejahtera,
adanya
RTLH,
adanya
permukiman liar, penggunaan
air tanah tinggi, masalah
drainase, adanya lahan kritis,
kurangnya RTH, masalah
transportasi, dan terdapat
potensi cagar budaya.

3.

Menjelaskan dan
meninjau hubungan
antara Kerangka
Rencana Program/ KRP
dengan pembangunan.

Hubungan KRP dalam RDTR


dan
isu
pembangunan
berkelanjutan dibahas dalam
matriks penilaian.

4.

Fleksibilitas proses
penyusunan untuk
memenuhi kebutuhan
terkait pengembangan
KRP.

Terdapat usulan tambahan


KRP setiap kawasan.

5.

Memastikan
pengimplementasian dari
proses penyusunan KLHS
dengan koordinasi pihak
terkait dan legalitas.

Pengimplementasian
telah
didiskusikan dalam FGD.

6.

Evaluasi tujuan rencana


kebijakan program yang
telah disusun khususnya

KRP dievaluasi dalam bentuk


matriks
dengan
isu
pembangunan berkelanjutan
yang diangkat.

Tinjauan Kritis
diperbaiki kondisi kebijakan
rencana programnya, kurang
meningkatkan potensi yang
dimiliki
sesuai
kriteria
pembangunan keberlanjutan.

(+) Semua isu yang diangkat


telah
terbahas
dan
terselesaikan.
(+) Terlaksananya musyawarah
mengenai KRP, keberlanjutan
dan penilaian isu pembangunan
berkelanjutan.
(-) KRP yang ditelaah terkait isu
pembangunan
berkelanjutan
hanya KRP prioritas yang
berdampak
negatif.
KRP
prioritas yang berdampak positif
tidak di telaah lebih lanjut dalam
rekomendasi.
(+) Frekuensi dampak positif
dan negatif dari KRP terhadap
isu
pembangunan
telah
dianalisis.
(+) Analisis yang dibahas telah
didiskusikan dengan instansi
terkait.
(-) KRP yang menyumbang
dampak positif paling banyak
tidak ditindak lanjuti.
(+) KRP fleksibel karena selain
terintegrasi
dengan
RDTR
terdapat usulan KRP yang perlu
ditambahkan.
(-) Perlu adanya evaluasi untuk
meningkatkan kondisi dari isu
pembangunan
berkelanjutan
yang menyumbang dampak
positif paling tinggi.
(+) Selain implementasi dan
legalitas
didapat
pula
persetujuan dari analisis yang
disusun serta konfirmasi data
yang dikumpulkan.
(-) Belum adanya desain
perencanaan
mengenai
program pembagunan fisik yang
dilakukan instansi atau pihak
terkait.
(+) Sudah ada evaluasi antara
KRP dan isu yang diangkat.
(-) Belum adanya evaluasi
terkait kriteria keberlanjutan

No.

Kriteria
berkaitan dengan kriteria
keberlanjutan.

Materi KLHS

7.

Mempertimbangkan efek
keberlanjutan di masa
depan.

Dalam
jangka
panjang
seharusnya kegiatan industri
yang ada di Kawasan II, V,
dan VI saat ini (contoh industri
batik) perlu dikaji untuk
direlokasi ke arah pinggiran
atau luar kota. Sedangkan
dalam
jangka
panjang
perdagangan
dan
jasa
Kawasan
III
perlu
dikembangkan
ke
arah
pinggiran.

8.

Penilaian terhadap tingkat


kepentingan suatu isu.

Terdapat
identifikasi
isu
pembangunan berkelanjutan
Kawasan II-VI.

9.

Membagi secara jelas


peran dan tanggung
jawab pelaksanaan.

Terdapat
identifikasi
pemangku kepentingan yang
dijelaskan
dalam
bentuk
tabel.

10.

Melakukan kolaborasi dan


kerjasama untuk
mencapai tujuan.

Dilakukan kolaborasi dan


kerjasama untuk menyusun
KLHS Kawasan II-VI.

11.

Membuka kesempatan
untuk berpartisipasi yakni
dengan musyawarah
terbuka.

Dilakukan
FGD
dengan
instansi pemerintah terkait
dan setiap kecamatan yang
masuk dalam Kawasan II-VI.

12.

Keputusan yang diambil


transparan dan dapat
diperhitungkan.

Keputusan yang diambil telah


disampaikan dalam FGD
sehingga
dapat
diperhitungkan.

13.

Keputusan yang diambil


bersifat resmi.

Keputusan
yang
diambil
bersifat
resmi
karena
disampaikan dalam forim dan
terintegrasi dengan RDTR.

14..

Evaluasi kembali
keputusan yang diambil.

Dilakukan perbaikan apabila


saat FGD terdapat revisi atau
masukan.

Tinjauan Kritis
karena kriteria keberlanjuran
sendiri belum dijelaskan, hanya
aspek
keberlanjutan
yang
dibahas.
(+) Terdapat pertimbangan efek
keberlanjutan di masa depan
selain
tertuang
dalam
identifikasi
KRP
yakni
penghitungan daya tampung
dan
daya dukung setiap
kawasan.
(-) Hanya beberapa kawasan
yang memiliki pertimbangan
efek keberlanjutan di masa
depan.
(-) Hanya satu aspek yang
dipertimbangkan,
kurang
dibahas efek keberlanjutan di
masa depan secara mendalam.
(+) Penilaian isu pembangunan
dilakukan berdasarkan kriteria
penilaian prioritas dan nilai
bobot kriteria serta dampak -/+
yang didapat dari KRP yang
ada.
(+) Terdapat penjelasan bentuk
pelibatan yang dan pemangku
kebijakan.
(-) Belum dijelaskan tanggung
jawab
pengimplementasian
secara fisik.
(+) Terdapat kolaborasi dan
kerjasama dengan Bappeda dan
instansi
pemerintah
Kota
Surakarta
serta
pelibatan
masyarakat dalam survey.
(+) Menerima masukan dari
instansi
terkait
dan
mengkonfirmasi
data
serta
analisis yang dilakukan.
(+) Penyampaian keputusan
dalam FGD telah disetujui.
(-) Perhitungan yang dilakukan
masih secara umum hanya
dilihat dari segi sosial fisik belum
secara ekonomi.
(+) Keputusan yang diambil
bersifat resmi karena mendapat
persetujuan pemerintah dan
disampaikan dalam forum.
(+) Keputusan yang dibuat
terintegrasi dengan KRP yang
telah disusun sebelumnya.
(+) Keputusan yang diambil
akan
diperbaiki
apabila
mendapat kritik atau saran saat
FGD dilakukan.
(-) Tidak ada evaluasi bersama
tim penyusun dalam keputusan

No.

Kriteria

Materi KLHS

15.

Terdapat prosedur
monitoring, review,
pembelajaran berulang,
dan identifikasi kebutuhan
untuk
pengimplementasian.

Terdapat tahapan revisi atau


perbaikan, dalam tahapan
tersebut
terdapat
pula
prosedur
review
dan
pembelajaran berulang.

16.

Administrasi imparsial
dimana pemerintah dan
pihak tertentu memiliki
kerjasama dan tanggung
jawab resmi.

Pemerintah
dan
instansi
terkait memiliki kerjasama
dan tanggung jawab resmi.
Hal ini dapat diketahui dari
proses FGD yang dilakukan.

Sumber daya memadai


dan memiliki motivasi.

Kinerja yang dilakukan setiap


anggota dalam tim penyusun
memiliki kemampuan yang
berbeda.
Namun
setiap
anggota sudah mengerjakan
sesuai tugas yang dibagi.

Konteks strategis yang


dibahas jelas, indikator
yang dikembangkan, dll.

Tujuan dari keberlanjutan


yang dibahas sudah jelas
yakni mengacu pada UndangUndang Nomor 32 Tahun
2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup, Pemerintah Daerah
wajib
menyusun
Kajian
Lingkungan Hidup Strategis
(KLHS) untuk memastikan
bahwa prinsip pembangunan
berkelanjutan telah menjadi
dasar dan terintegrasi dalam
pembangunan suatu wilayah
dan/atau kebijakan, rencana,
dan/atau program.
Aspek keberlanjutan yang
dibahas disebutkan yaitu
aspek sosial, ekonomi, dan
lingkungan.

17.

18.

Sumber: Hasil Analisis Penyusun, 2016

Tinjauan Kritis
yang diambil. Dilakukan secara
individual begitu pula saat
melakukan revisi perbaikan.
(+)
Revisi,
review,
dan
pembelajaran berulang dapat
ditemui dari penyusunan KLHS.
(-) Tidak adanya identifikasi
kebutuhan
untuk
pengimplementasian,
peninjauan hanya dilakukan
untuk mengetahui kondisiyang
perlu diperbaiki.
(+)
Terdapat
partisipasi,
kerjasama, dan tanggung jawab
secara legal dari pemerintah
serta instansi terkait.
(-) Belum ada pembagian tugas
secara
jelas
untuk
pengimplementasian di masa
depan.
(+)
Semua
anggota
mengerjakan
bagian
yang
diberikan dan menyelesaikan
sesuai deadline.
(-) Tidak semua anggota
memiliki kemampuan
yang
sama sehingga beban yang
diterima tidak seimbang.
(+) Dilakukan survey untuk
mendukung
pembangunan
keberlanjutan dalam aspek
sosial,
ekonomi,
dan
lingkungan.
Tujuan
dalam
pembahasan telah disebutkan.
(+)
Isu
pembangunan
berkelanjutan sudah masuk ke
dalam aspek pembangunan
berkelanjutan dan diidentifikasi
dampak serta rekomendasi
perbaikannya.
(-) Konteks strategis hanya
dijelaskan dalam perbaikan
aspek keberlanjutan. Kurang
jelas
membahas
kriteria
keberlanjutan yang ingin dicapai
sehingga tidak terdapat indikator
yang dikembangkan.
(-) Strategi yang dibahas terkait
isu hanya membahas perbaikan
dari nilai tertinggi dampak
negatif yang diberikan, tidak
membahas pula peningkatan
kondisi dari nilai tertinggi
dampak positif yang dimiliki.

IV.

LESSON LEARNED
Proses penyusunan KLHS yakni
terdiri dari 6 tahapan yaitu penapisan,
pelingkupan, kajian dampak, review,
pengambilan keputusan, dan tindak lanjut.
KAK atau Kerangka Acuan Kerja berperan
penting dalam proses penyusunan KLHS
ini. Proses penyusunan KLHS Kawasan IIVI Kota Surakarta secara keseluruhan
sudah terorganisasi dengan baik yakni
mulai dari proses penapisan hingga tindak
lanjut. Muatan materi yang dibahas secara
keseluruhan sudah cukup, walaupun tidak
semua dibahas detil namun 18 kriteria
menurut Robert B. Gibson, et. al sudah
dibahas didalamnya.
Lesson learned yang akan dibahas
yakni manfaat dari kerja praktek yang
didapat, saran bagi kegiatan KLHS
Kawasan II-VI Kota Surakarta, dan
kesimpulan dari tinjauan kritis
yang
dilakukan. Berikut uraiannya.
a. Manfaat Kerja Praktek
Kerja praktek yang dilakukan
tentunya membawa manfaat.
Selain mengerti salah satu proyek
yang dilakukan, diketahui pula
bagaimana kondisi dunia kerja
dalam
bidang
perencanaan.
Selain itu mengerti berbagai peran
yang didapat dalam sebuah tim
penyusun. Selain mengerjakan
tugas yang diberikan, mendapat
pembelajaran
untuk
dapat
bersosialisasi
dan
mental
berinteraksi
dengan
pihak
penting. Jadi tidak hanya hardskill
saja yang didapat melainkan
softskill. Kemudian kedisiplinan
dan kecepatan juga dilatih disini,
pengeditan
laporan
yang
sebelumnya berhari-hari dalam
hal ini dibutuhkan secara cepat
hanya dalam beberapa jam.
b. Saran Bagi Kegiatan dan
Penyusunan KLHS
Saran yang diberikan yakni terkait
dengan proses penyusunan KLHS
dan materi yang dibahas.
Proses Penyusunan KLHS
- Sebaiknya dalam penapisan
tenaga ahli yang dilibatkan
perlu dijelaskan.
- Analisis statistik dalam
pengkajian
dampak

sebaiknya digunakan untuk


mempermudah olah data.
- Perlu adanya pembuatan
peta overlay dan jenis peta
baru lainnya.
- Dalam
pengambilan
keputusan walaupun secara
individual perlu adanya
diskusi bersama sehingga
keputusan yang diambil
lebih
matang
dan
mendalam.
- Identifikasi yang dilakukan
tidak hanya membahas
lebih
dalam
perbaikan
dampak negatif saja perlu
dibahas
peningkatan
kondisi dari dampak positif
dengan bobot tertinggi pula.
Substansi Materi KLHS
- Perlu dijelaskan kriteria
keberlanjutan yang ingin
dicapai.
- Aspek keberlanjutan yang
dibahas perlu meingkatkan
potensi yang dimiliki.
- Prioritas
KRP
yang
berdampak positif ditelaah
perlu telaah lebih dalam dan
masuk dalam rekomendasi.
- Perlu adanya evaluasi dan
tindak lanjut dari analisis
prioritas dampak positif
yang didapat terkait dengan
KRP.
- Perlu dilakukan evaluasi
tujuan KRP dengan kriteria
keberlanjutan.
- Efek keberlanjutan di masa
depan
perlu
lebih
dipertimbangkan
dan
dianalisis lebih dalam.
- Perlu
adanya
evaluasi
bersama tim penyusun
dalam keputusan yang
ditetapkan.
- Setiap
anggota
harus
memiliki motivasi yang
besar untuk mengerjakan
dan berlatih.
- Konteks strategis perlu
dibahas
jelas
dengan
indikator
yang
dikembangkan.

c. Kesimpulan
Dari hasil tinjauan kritis proyek
KLHS Kawasan II-VI Kota
Surakarta, dapat disimpulkan
bahwa proses penyusunan KLHS
telah berjalan secara sistematis.
Sedangkan substansi materi yang
dibahas cukup lengkap namun
perlu
membahas
konsep
keberlanjutan lebih dalam.
V.

UCAPAN TERIMA KASIH


Penyusun ingin mengucapkan terima
kasih kepada pihak yang memiliki peran
dalam penyusunan tinjauan kritis ini.
1. Kedua Orang tua yang selalu
mendukung dan memberikan
semangat selama proses kerja
praktek dan pengerjaan laporan.
2. Bapak Ir. Djoko Suwandono, MSP
selaku dosen pembimbing Kerja
Praktek yang telah memberikan
bimbingan dalam penyusunan
laporan ini.
3. Bapak Widjonarko, ST, MT selaku
dosen koordinator Kerja Praktek
yang telah memberikan masukan
dalam penyusunan laporan.
4. Direktur PT. Trikarsa Buwana
Persada Gemilang yang telah
memberikan kesempatan kepada
penyusun untuk dapat melakukan
Kerja Praktek serta kerjasamanya
selama praktikan melakukan
Kerja Praktek.
5. Agung Pangarso sebagai tim
leader PT. Trikarsa Buwana
Persada Gemilang yang telah
memberikan pengarahan dan
tugas kepada penyusun sehingga
mempunyai kontribusi terhadap
proyek yang dikerjakan.
6. Muchammad
Apri
Fitriyanto
Dityana, ST sebagai pembimbing
Kerja
Praktek
yang
telah
memberikan
bimbingan
dan
arahan selama masa Kerja
Praktek di PT. Trikarsa Buwana
Persada Gemilang.
7. Ferry Oloan Nadeak selaku
partner kerja praktek yang telah
memberikan
bantuan
dan
kerjasama selama kerja praktek.
8. Teman-teman Planologi 2012.

9. Semua
pihak
yang
memberikan
bantuan
penyusunan laporan.

telah
dalam

VI. DAFTAR PUSTAKA


Fischer, T. B. (2010). The theory and
practice of strategic environmental
assessment: towards a more
systematic approach. Routledge.
Gibson, R. B., Benevides, H., Doelle, M., &
Kirchhoff, D. (2010). Strengthening
strategic environmental assessment
in Canada: an evaluation of three
basic
options.
Journal
of
Environmental
Law
and
Practice, 20(3), 175.
Li, W., Liu, Y. J., & Yang, Z. (2012).
Preliminary strategic environmental
assessment of the great western
development strategy: safeguarding
ecological security for a new Western
China.
Environmental
management,49(2), 483-501.
PT. Trikarsa Buwana Persada Gemilang.
2015. Kerangka Acuan Kerja
Penyusunan Kajian Lingkungan
Hidup Strategis Kawasan II-VI Kota
Surakarta.
Ungaran:
Tidak
diterbitkan