Anda di halaman 1dari 8

III.

RENCANA PERAWATAN

a. PENDAHULUAN
Diagnosis ortodonsi dianggap lengkap bila daftar problem pasien diketahui
dan antara problem patologi dan perkembangan dipisahkan . Tujuan rencana
perawatan adalah mendisain strategi operator dengan bijaksana dan hati-hati dalam
menggunakan keputusannya yang digunakan untuk menyelesaikan problem
tersebut dengan memaksimalkan manfaat bagi pasien dan meminimalkan beaya
dan risiko.

Universitas Gadjah Mada

b. PENYAJIAN

RANGKAIAN DARI TAHAP RENCANA PERAWATAN ORTODONTIK

Hasil diagnosis disusun dalam daftar yang lengkap problem pasien. Meskipun ada
beberapa problem patologi yang tercatat, tetapi jika 5 karakteristik dari maloklusi digunakan
di dalam struktur daftar problem, maka akan didapat maksimum 5 problem besar dari
perkembangan , meskipun rata-rata pasien tidak mempunyai sebanyak itu Jika daftar
problem tentang perkembangan dijumpai dihubungkan dengan maloklusi seharusnya
dibuat skema klasifikasinya untuk mempermudah proses rencana perawatan. Mempunyai
problem yang banyak pada daftar problem akan membingungkan.
Langkah pertama dalam merencanakan perawatan ortodontik adalah memisahkan
problem patologi dari problem ortodontik ( perkembangan) , maka proses rencana
perawatan dapat diatur sebagai berikut.
1. problem ortodontik dijadikan prioritas
2. catat kemungkinan perawatan dengan lengkap
3. evaluasi kemungkinan solusinya, pertimbangkan factor-faktor yang berpengaruh
4. jelaskan konsep rencana perawatan dengan pasien dan keluarganya
5. buat rencana perawatan secara detail dan tahap-tahapnya
Prinsip terpenting adalah bahwa pasien tidak harus dalam keadaan kesehatan yang
sempurna jika mendapat perawatan ortodontik. Tetapi jika ada penyakit atau patologi yang
menyertainya hams sudah dalam pengawasan. Artinya penyakit kronik atau akut yang
mungkin ada harus dihentikan. Untuk kasus ini problem patologi harus di rawat sebelum
perawatan ortodontik dimulai. Pada rangkaian perawatan , perawatan ortodontik dilakukan
sesudah mengontrol keadaan penyakit sistemik, perawatan periodontal dan pembuatan
restorasi gigi.
Contoh kasus : pasien dengan problem patologi ada inflamasi flap pada molar dua bawah,
rencana perawatannya adalah melakukan irigasi dan observasi dengan menjaga oral
hygiene . Juga adanya attached gingival yang minimal pada anterior bawah , rencana
perawatannya adalah hanya diobservasi selama tahap perawatan ortodontik

Universitas Gadjah Mada

DAFTAR PRIORITAS PROBLEM ORTODONTIK


Problem ortodontik pasien dijadikan prioritas dalam membuat tahap proses
rencana perawatan, dengan maksud memaksimalkan manfaat bagi pasien, karena itu
problem harus diidentifikasi dan rencana perawatan harus difokuskan pada keluhan
pasien. Sebagai contoh, jika pasien mengeluh adanya protrusi dan gigi insisivus yang tidak
teratur, maka harus memprioritaskan keluhannya walaupun ada gigi molar yang hilang dan
memerlukan perawatan prostodontik. Sebaliknya jika protrusi dan gigi yang tidak teratur
bukan merupakan keluhan pasien tetapi ada problem fungsi oklusal, maka mengganti gigi
yang hilang merupakan prioritas perawatan.
Kesukaran selalu akan dihadapi oleh operator untuk menghindari terjadinya
benturan kepentingan. Sebagai contoh pasien dengan keluhan protrusi dagu dan
mempunyai maloklusi klas III. Jika operator memfokuskan perhatiannya kepada problem
maloklusi klas III dan membuat gigi-gigi menjadi oklusi yang baik dan mengacuhkan
kondisi dagunya, kelihatannya pasien akan puas dengan hasil perawatan, tetapi rencana
perawatan yang dibuat tidak sesuai dengan problem pasien.
Contoh kasus : pasien dengan deep overbite yang besar, skeletal dan dental., ada
crowding derajat sedang pada maksila dan ringan pada mandibula. Relasi molar 1/2 tonjol
klas II. Pada pasien ini koreksi elongasi insisivus adalah kunci pertama perawatan

Universitas Gadjah Mada

KEMUNGKINAN PERAWATAN
Tahap selanjutnya dari rencana perawatan adalah mendaftar kemungkinan
perawatan dari tiap problem dimulai dari prioritas tertinggi. Pada tahap ini tiap problem
dipertimbangakn secara individual dan pada saat itu kemungkinan solusinya dibuat seakanakan problem pasien hanya satu.
Pertimbangkan kemungkinan solusi bagi pasien sebagai hal yang pertama, pada
kasus ini overbite sangat besar dan fasial pendek dengan super erupsi dari gigi insisivus
maksila dan mandibula. Hal ini memerlukan koreksi curve of Spee pada lengkung bawah
dan koreksi kurve pada lengkung atas. Ada 3 jalan yang dapat dilakukan.
1.

absolut intrusi insisivus atas dan bawah, dengan menggerakkan apeks akar
mendekati hidung dan tepi bawah mandibula,

2.

relatif intrusi insisivus dengan mempertahankan insisivus selagi mandibula


tumbuh dan gigi posterior erupsi,

3.

ekstrusi gigi posterior yang memungkinkan mandibula rotasi ke bawah dan ke


belakang

Relatif intrusi dari insisivus dan ekstrusi dari gigi-gigi posterior pada batasan gerakan
gigi

adalah

sama.

mengkompensasi

Perbedaannya

bertambah

adalah

tingginya

molar

apakah
(

pertumbuhan

apakah

vertical

mandibular

plane

ramus
angle

dipertahankan (relatif intrusi) atau menambah rotasi mandibula ke bawah dan ke belakang
(ekstrusi). Pada usia 17 tahun pertumbuhan vertical sudah tidak dapat diharapkan atau
hanya terjadi sedikit, maka absolut intrusi atau ekstrusi adalah kemungkinannya. Pada
pertumbuhan yang telah berhenti, mendatarkan (leveling) lengkung dengan ekstrusi gigi-gigi
posterior akan mengakibatkan rotasi mandibula ke bawah dan ke belakang terutama pada
klas II yang hal ini tidak diharapkan terjadi pada pasien. Maka intrusi adalah solusi yang
terbaik untuk memperbaiki deep overbite meskipun akan menimbulkan perawatan yang
kompleks.
Problem kedua adalah crowding gigi insisivus yang berat pada lengkung atas dan
ringan pada lengkung bawah. Untuk menentukan apakah akan dilakukan ekspansi rahang
atau ekstraksi premolar di pertimbangkan atas keadaan posisi akhir insisivus. Pasien ini
mempunyai hidung dan dagu yang maju, sehingga estetik akan lebih baik bila insisivus lebih
maju. Secara estetik akan tidak menguntungkan bila dilakukan retraksi insisivus karena
akan menyebabkan hidung nampak besar, tetapi jika ekstraksi tetap akan dilakukan maka
penutupan ruang dilakukan dengan cara memajukan gigi posterior ke depan. Anchorage
untuk mengintrusi gigi anterior akan tidak sesuai dengan pola penutupan ruang ini. Oleh
karena itu jika intrusi insisivus merupakan pilihan yang terbaik, maka ekspansi lengkung
juga harus dipertimbangkan.
Universitas Gadjah Mada

Problem ketiga adalah tendensi klas II, yang dapat diperbaiki dengan
pertumbuhan mandibula, tetapi pasien ini telah selesai masa pertumbuhannya.
Karena itu pemakaian elastik klas II yang menarik lengkung mandibula ke depan
dapat dipertimbangkan walaupun elastik ini cenderung menyebabkan ekstrusi molar
bawah

dan

dapat

merotasi

mandibula

kebawah

dan

kedepan,

karenanya

pemakaiannya harus hati-hati.

FAKTOR-FAKTOR DALAM MENGEVALUASI KEMUNGKINAN PERAWA Ada 4 faktor


tambahan yang relevan yang harus dipertimbangkan:
1. Interaksi antar kemungkinan solusi
Interaksi antar kemungkinan solusi dari berbagai problem pasien akan lebih mudah
dilihat jika kemungkinannya didaftar, seperti pada kasus diatas akan lebih jelas jika
tiap pasien kemungkinan solusinya menjadi problem yang diprioritaskan akan juga
mensolusi problem yang lainnya
Pada kasus diatas yang penting diperhatikan adalah adanya hubungan antara
perubahan vertical dan horizontal dari posisi mandibula . Bayangkan jika pada
kondisi yang sebaliknya yaitu adanya open bite, sering kali masalahnya terjadi
tidak pada pengurangan erupsi dari insisivus tetapi akibat erupsi yang berlebihan
pada gigi posterior dan terjadinya mandibula yang rotasi kebawah
dan kebelakang_ Karenanya pada keadaan ini pemakaian elastik vertical untuk
mengelongasi gigi anterior bukan merupakan solusinya. Perawatan hams ditujukan
untuk depresi elongasi gigi posterior , atau mencegahnya erupsi selagi
Universitas Gadjah Mada

bagian lain tumbuh. Hal ini akan membuat mandibula rotasi ke atas bersama gigi
insisivus, walaupun jika mandibula rotasi ke atas juga akan maju ke depan dan
akan menjadi baik bila pasien mempunyai maloklusi klas II pada awainya , tetapi
akan menjadi jelek bila pasien mempunyai maloklusi klas III
Interaksi lain yang penting adalah hubungan antara insisivus yang protrusi dan
penentuan ekstraksi dan ekspansi. Ekspansi lengkung untuk memperbaiki gigi
yang crowding dengan arah transversal akan cenderung membuat insisivus lebih
protrusif Pada keadaan ini kemungkinan estetik akan lebih menguntungkan, tetapi
gigi-gigi yang teratur tersebut tidak akan stabil dibandingkan jika gigi insisivus
diretraksi.
2. Kompromi
Pada pasien dengan problem yang bermacam-macam tidak mungkin diselesaikan
semuanya. Karenanya hams dilakukan kompromi prioritas dari daftar problem.
Tujuan perawatan ortodontik adalah mendapatkan oklusi yang ideal, dengan estetik
fasial yang ideal, dan hasil yang stabil dan sering kali
sukar untuk mencapai ketiga-tiganya.
Meskipun oklusi dental didambakan tetapi tidak semua pasien dapat menerima
perlakuan ini. Kadang-kadang oklusi ideal dirubah dengan ekstraksi untuk
mencapai estetik yang baik dan stabil.
3. Beaya dan risiko
Hubungan antara kesulitan perawatan dan manfaat perawatan harus juga
dipertimbangkan. Kesulitan untuk menentukan risiko dan beaya tidak hanva
tergantung pada soal keuangan tetapi juga kooperasi , kenyamanan, waktu, dan
faktor-faktor lain. Sebagai contoh pasien dengan openbite, untuk mengurangi tinggi
fasial jika dilakukan operasi rahang akan membutuhkan banyak biaya dan risikonya
besar dibandingkan jika digunakan elastik untuk mengelongasi insisivus atau
dengan mengurangi oklusal gigi posterior yang kedua cara tersebut dilakukan untuk
mengurangi tinggi gigitan.
4. Pertimbangan lain
Penting untuk memberikan pertimbangan perawatan pada tiap individu pasien.
Sebagai contoh apakah waktu perawatan diminimalkan sehubungan dengan
adanya penyakit periodontal? Haruskah tahap perawatan ditangguhkan karena
tidak pastinya pola pertumbuhan ?

MENDAPATKAN IZIN INFORMASI (INFORMED CONSENT)


Dokter hams selalu menganalisa situasi pasien sehingga dapat menentukan
perawatan yang terbaik dan sesuai dengan permintaan pasien. Diskusi dengan pasien dan

Universitas Gadjah Mada

keluarganya seharusnya dilakukan dengan rutin untuk membicarakan keuntungan dan


kerugian dari macam perawatan.

Beberapa situasi spesifik sering terjadi pada ortodontik terutama pada penentuan
final rencana perawatan antara perawatan dengan ekstraksi dan ekspansi. Sebagai contoh
adanya kerugian jika gigi-gigi diekstraksi , dan keuntungan pada stabilitas hasil yang yang
lebih baik terhadap estetik fasial. Problem lain yang sering ada , pada kasus maloklusi Klas
II pada awal remaja. Ada 2 aspek yang harus didiskusikan yaitu tentang keuntungan
perawatan awal dan menunggu sampai remaja `Valaupun pada beberapa pasien pemilihan
waktu perawatan tidak akan berpengaruh terhadap hasil perawatan. Pada kasus maloklusi
yang melibatkan factor skeletal, diskusi harus dilakukan untuk merancanakan macam
perawatan , apakah memerlukan bedah orto atau tidak. Sebagai contoh adanya fungsi
rahang yang akan lebih baik dengan dilakukannya pergerakan gigi insisivus, dibandingkan
dengan fungsi dengan rahang pada posisi yang benar padahal estetik fasial akan lebih baik
jika hubungan rahang benar.

Universitas Gadjah Mada

DETAIL RENCANA PERAWATAN


Pada rencana perawatan kasus Klas 11 yang akan dirawat dengan alat fungsional
sehubungan dengan adanya modifikasi pertumbuhan akan melibatkan mekanoterapi yang
digunakan. Mekanoterapi dapat berupa bionator dengan memajukan mandibula 4 mm,
insisivus mandibula ditutupi, gigi-gigi posterior mandibula dibiarkan erupsi, dan gigi-gigi
maksila diblok secara vertical. Pemilihan prosedur perawatan hams memenuhi kriteria
efektif dalam mencapai hasil yang diharapkan dan efisien dalam waktu perawatan.
Sebagai contoh jika rencana perawtan adalah mengekspansi lengkung maksila yang
sempit, kemungkinan dapat dilakukan dengan spring pada alat removable, ekspansi
lengkung lingual

Universitas Gadjah Mada