Anda di halaman 1dari 13

MATERI PITNAS

PERHIMPUNAN PERAWAT GINJAL INTENSIF INDONESIA


INNA GRAND BALI BEACH SANUR 12-14 OKTOBER 2O12

ASPEK PSIKOSOSIAL PADA PASIEN DIALYSIS


Oleh : Rini Purwanti Amd.Kep

I.

Pendahuluan
Penyakit apapun yang berlangsung dalam kehidupan manusia dipersepsikan
sebagai suatu penderitaan dan mempengaruhi kondisi psikologis dan sosial orang yang
mengalaminya. Akan tetapi petugas kesehatan seringkali cenderung memisahkan aspek
biologis dari aspek psikososial yang dialami pasien. ( Leung, 2002 )
Secara global terdapat 200 kasus gangguan ginjal persejuta penduduk. Delapan
juta diantara jumlah populasi yang mengalami gangguan ginjal berada dalam tahap gagal
ginjal kronis. Salah satu penelitian mengatakan terdapat hubungan antara mengalami
gagal ginjal dengan timbulnya gangguan psikiatri pada pasien ( Cohen.et.al 2004 ).
Kondisi ini bisa terjadi pada kasus gangguan ginjal akut maupun penyakit ginjal kronis.
Aspek psikososial menjadi penting diperhatikan karena perjalanan penyakit yang
kronis dan sering membuat pasien tidak ada harapan. Pasien sering mengalami ketakutan,
frustasi dan timbul perasaan marah dalam dirinya ( Harvey S, 2007 ). Penelitian oleh para
professional dibidang penyakit ginjal menemukan bahwa lingkungan psikosial tempat

Workshop dan symposium pitnas bali 2012Page 1

pasien penyakit ginjal kronis ( PGK ) tinggal mempengaruhi perjalanan penyakit dan
kondisi fisik pasien ( Leung, 2002 )
Kondisi yang telah disebutkan diatas yang membuat salah satu tugas perawat dialisis
sebelum melakukan prosedur hemodialisis kepada pasien disarankan untuk menilai status
kesehatan jiwa pasien yang akan di hemodialisis ( Hudson et al 2005 )

II.

Aspek Psikologis pasien Hemodialisis


Ada beberapa aspek psikologis pasien dialisis yang perlu diperhatikan oleh tenaga
kesehatan khususnya perawat hemodialis sebelum melakukan intervensi medis pada
pasien. Aspek psikososial tersebut diantaranya adalah:
1. Emosi

Perasaan takut adalah ungkapan emosi pasien gagal ginjal yang paling sering
disampaikan. Pasien sering merasa takut akan masa depan yang akan dihadapi dan
perasaan marah yang berhubungan dengan pertanyaan mengapa hal tersebut
terjadi pada dirinya. Ketakutan dan perasaan berduka juga kerap datang karena
harus tergantung seumur hidup dengan alat cuci darah. Perasaan ini tidak bisa
dielakkan dan seringkali afeksi emosional seperti rasa takut, marah, berduka
merasa kesepian, ditujukan kepada sekeliling seperti pasangan, karyawan dan staf
di rumah sakit. Kondisi ini perlu dikenali oleh semua orang yang terlibat dengan
pasien.
2. Harga diri

Pasien dengan penyakit ginjal kronis seringkali merasa kehilangan kontrol akan
dirinya. Mereka memerlukan waktu yang panjang untuk beradaptasi dan
Workshop dan symposium pitnas bali 2012Page 2

menyesuaikan diri dengan apa yang dialaminya. Perubahan peran adalah sesuatu
yang tidak bisa dihindari. Adanya terapi rutin yang harus dijalani sering
bertabrakan dengan jadwal kegiatan sehari hari ( kerja ) pasien sebelum sakit.
Sebagai contoh seorang pencari nafkah di keluarga harus berhenti bekerja karena
sakitnya. Perasan menjadi beban keluarga akan menjadi masalah buat individu ini.
Selain itu juga pasien seringkali merasa dirinya berubah. Adanya kateter yang
menempel misalnya pada pasien dengan dialisis peritoneal, lesi di kulit, nafas
berbau ureum dan perut yang membuncit membuat percaya diri dan citra diri
pasien terpengaruh. Selain itu tindakan dialisis rutin juga dapat menyebabkan
perubahan fisik terutama kulit menjadi lebih gelap, hal ini juga dapat
mempengaruhi kepercayaan diri pasien dan secara tidak langsung hal ini dapat
menyebabkan pasien menarik diri dalam pergaulan.
3. Gaya hidup

Gaya hidup pasien akan berubah seiring dengan perjalanan penyakitnya. Hal yang
perlu diingat adalah pada pasien dengan penyakit ginjal kronis yang menjalani
dialisis rutin harus menjalani diit makanan secara ketat. Adanya perubahan diet
seperti pembatasan asupan protein dan larangan makan buah serta adanya
pembatasan asupan air akan membuat pasien berupaya untuk melakukan
perubahan pola makannya. Disamping itu kebiasaan mengkonsumsi alkohol atau
merokok adalah sesuatu yang mutlak harus dihentikan. Adanya hal tersebut
menuntut pasien untuk mengubah gaya hidupnya.
Keharusan untuk kontrol atau melakukan dialysis di Rumah Sakit juga akan
membuat keseharian pasien berubah. Terkadang karena adanya komplikasi pasien
harus berhenti bekerja dan diam di rumah. Hal hal ini yang perlu mendapat
dorongan untuk pasien agar lebih mudah beradaptasi.
Workshop dan symposium pitnas bali 2012Page 3

4. Fungsi seksual

Pada pasien dengan penyakit ginjal kronis sering terjadi kondisi uremik. Hal ini
dapat menyebabkan peningkatan hormon prolaktin sehingga menyebabkan
infertilitas serta hilangnya libido. Disamping

itu penggunaan obat obat anti

hipertensi dan obat obat yang bekerja secara sentral serta beta bloker sering
menjadi penyebab terjadinya impotensi. Obat lain yang dianggap terlibat meliputi
cimetidine, fenothiazine, antidepresan trisiklik dan metoclopramide.
Selain hal tersebut diatas perubahan fungsi sexual juga bisa dikarenakan masalah
psikologis, misalnya adanya depresi. Pemasangan alat seperti pada peritoneal
dialisis juga ditengarai menjadi penyebab terjadinya penurunan fungsi sexual.

III.

Gangguan psikologis pasien dialysis


Dibawah ini adalah beberapa macam gangguan psikososial pada pasien dialisis yang
sering terjadi.
1. Depresi

Depresi adalah kondisi gangguan kejiwaan yang paling banyak ditemukan pada
pasien penyakit ginjal kronis. Depresi merupakan suatu kondisi gangguan
kejiwaan yang melibatkan penurunan suasana perasaan dan hilangnya minat
terhadap kehidupan. Gejala yang sering timbul adalah sulit tidur, susah
konsentrasi, tidak ada nafsu makan, gangguan seksual, mood yang mudah naik
turun dan gejala gejala psikosomatik. Prevalensi depresi berat pada populasi
umum adalah sekitar 1,1% - 15% pada laki laki dan 1,8% - 23% pada wanita.
Workshop dan symposium pitnas bali 2012Page 4

Namun pada pasien hemodialisis prevalensinya meningkat menjadi 20 30%


bahkan bisa mencapai 47%. Chen dkk mengatakan bahwa terdapat Hubungan
antara depresi dan mortalitas yang tinggi

pada pasien ginjal kronik

yang

menjalani hemodialisis jangka panjang. Beberapa gejala yang timbul yang timbul
sukar untuk mendeteksi adanya depresi pada pasien penyakit ginjal kronik. Hal
tersebut dikarenakan kondisi afeksi yang negative seperti mudah marah /
tersinggung, menarik diri, berduka dll,

pada pasien ginjal kronik seringkali

gejalanya tumpang tindih gejalanya dengan gejala gejala pasien gagal ginjal yang
mengalami uremia seperti irritabilitas, gangguan kognitif, ensefalopati akibat
pengobatan atau akibat hemodialisis yang kurang maksimal ( cukor et al 2007 )
Pendekatan psikodinamik pada gangguan depresi adalah suatu kondisi yang
berhubungan dengan hilangnya sesuatu didalam diri manusia tersebut. Hal ini
disebut sebagai factor eksogen sebagai penyebab depresinya. Kondisi gagal ginjal
yang biasanya dibarengi dengan hemodialisis adalah kondisi yang sangat tidak
nyaman. Kenyataan bahwa pasien gagal ginjal terutama gagal ginjal kronik yang
tidak bisa lepas dari hemodialisis sepanjang hidupnya menimbulkan dampak
psikologis yang tidak sedikit. Faktor kehilangan sesuatu yang sebelumnya ada
seperti kebebasan, pekerjaan dan kemandirian adalah hal hal yang sangat
dirasakan oleh para pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis. Hal ini bisa
menimbulkan dampak psikologis yang tidak sedikit. Faktor kehilangan sesuatu
yang sebelumnya ada seperti kebebasan, pekerjaan, kemandirian adalah hal hal
yang sangat dirasakan oleh para pasien gagal ginjal yang menjalani dialisis. Hal
ini bisa menimbulkan gejala gejala depresi yang nyata pada pasien gagal ginjal
sampai dengan tindakan bunuh diri.

Workshop dan symposium pitnas bali 2012Page 5

Kepustakaan mencatat bahwa tindakan bunuh diri pada pasien penyakit ginjal
kronis yang mengalami hemodialisis di Amerika serikat bisa mencapai 500 kali
lebih banyak daripada populasi umum. Selain tindakan nyata dalam melakukan
tindakan bunuh diri, sebenarnya penolakan terhadap kegiatan hemodialisis yang
terjadwal dan ketidakpatuhan terhadap diet rendah potassium adalah salah satu hal
yang bisa dianggap sebagai upaya halus untuk bunuh diri.

2. Kecemasan

Dibandingkan dengan depresi, gangguan kecemasan mendapat perhatian kecil


secara klinis pada populasi penyakit ginjal kronis. Pada suatu penelitian dengan
menggunakan metode diagnostic the primary care evaluation of mental disorders
(PRIME-MD) menemukan bahwa tingkat kecemasan pada pasien hemodialisis
adalah sebesar 30%. Dampak negative kecemasan terhadap kualitas hidup dan
cacat diseluruh penyakit telah dibuktikan, tetapi efek tertentu pada pasien gagal
ginjal belum diteliti. Penelitian di Turki menemukan bahwa depresi bukan
kecemasan berhubungan erat dengan penambahan berat badan intradialytic.
Terjadinya kecemasan berkaitan dengan tuntutan kerja dan distress
spiritual akibat kesulitan menemukan arti dan tujuan kehidupan pribadi. Dalam
hal ini cara yang bisa dipilih perawat untuk mengalihkan perhatian dari stress ke
hal lain adalah mencari hal hal yang lucu dalam pengalaman kerja, belajar dari
pasien untuk menerima keterbatasan dan untuk mengambil waktu yang sesuai
lepas dari pekerjaan untuk bermain dan beristirahat.
3. Dimensia Dialysis
Workshop dan symposium pitnas bali 2012Page 6

Dimensia dialysis juga dikenal dengan sebutan ensefalopati dialysis adalah


sindroma yang fatal dan progressive . pada prakteknya hal ini jarang terjadi dan
biasanya terjadi pada pasien yang sudah menjalani dialisis paling sedikit satu
tahun. Kondisi ini diawali dengan gangguan bicara seperti gagap yang kemudian
berlanjut menjadi disartria, disfasia dan akhirnya tidak bisa bicara sama sekali.
Semakin lama kondisi ini semakin berat sampai berkembang menjadi mioklonus
fokal maupun menyeluruh, kejang fokal atau umum, perubahan kepribadian,
waham dan halusinasi. Dimensia dialysis disebabkan karena keracunan
aluminium yang berasal dari cairan dialysis dan garam aluminium yang
digunakan untuk mengatur level fosfat serum. Pencegahannya dengan
menggunakan bahan dialisis yang tidak mengandung aluminium. Pada awalnya
kondisi ini dapat kembali baik namun jika dibiarkan dapat menjadi progressive
sampai dengan periode 1 15 bulan kedepan setelah gejala awal. Kematian
biasanya terjadi dalam rentang 6 12 bulan setelah permulaan gejala.
4. Sindrom disequilibrium

Kondisi sindrom disequilibrium cukup sering terjadi pada pasien yang menjalani
dialisis. Hal ini biasanya terjadi selama atau segera setelah proses hemodialisis.
Kondisi ini disebabkan oleh koreksi berlebihan dari keadaan azotemia yang
membuat ketidakseimbangan osmotic dan perubahan pH darah yang cepat.
Kondisi ketidakseimbangan ini yang membuat adanya edema cerebral yang
menyebabkan timbulnya gejala gejala klinik seperti sakit kepala, mual, kram otot,
irritabilitas, agitasi, perasaan mengantuk dan kadang kejang. Gejala psikosis juga
bisa terjadi. Sindrom disequilibrium biasa terjadi setelah3 s/d 4 jam setelah
hemodialisis namun juga bisa terjadi 48 jam setelah prosedur itu dilakukan.

Workshop dan symposium pitnas bali 2012Page 7

IV.

Intervensi masalah psikososial


Intervensi psikososial harus dilakukan sedini mungkin sejak diagnosis gagal ginjal
ditegakkan. Hal ini juga membutuhkan usaha yang terus menerus untuk membuatnya
tetap berjalan. Selain itu dibutuhkan kerjasama antara petugas kesehatan dan
keluarga.
1. Peran petugas kesehatan

Petugas kesehatan yang berkecimpung dalam bidang ini, dokter spesialis, dokter
jaga, perawat dan staf lainnya bisa mempengaruhi dan dipengaruhi secara
negative maupun positif jika berhubungan dengan pasien gagal ginjal. Petugas
kesehatan yang terlibat dalam tim bisa diberikan kesempatan untuk menilai
penyebab stress, membangun ide ide, membagikannya dengan sejawat dan
menciptakan kesempatan untuk saling menghormati. Ada beberapa langkah yang
bisa dilakukan oleh petugas kesehatan dalam rangka menanggulangi masalah
psikososial pasien.
1) Penilaian kondisi

Penilaian kondisi pasien akan menentukan kebutuhan pasien, mengidentifikasi


masalah dan masalah masalah yang menjadi potensial untuk timbul serta
mengumpulkan informasi untuk rencana pengobatan sehingga bantuan yang
sesuai bisa diberikan. Penilaian ini berfokus pada efek sakit terhadap pasien.
Beberapa informasi berguna termasuk gaya hidup, pola kehidupan sehari hari,
kekuatan kepribadian dan minat, cara adaptasi sehari hari, pengertian akan
penyakit saat ini, persepsi terhadap pengobatan yang diberikan, tekanan hidup
atau perubahan belakangan ini dan beberapa masalah yang terkait dengan
Workshop dan symposium pitnas bali 2012Page 8

penyakit. Dengan mendengarkan pasien dan keluarga dalam diskusi, perawat


bisa mengidentifikasi masalah psikososial yang terkait dengan penyakit dan
kebutuhan akan bantuan. Di waktu yang sama informasi tentang pengobatan
yang dilakukan dengan bagaimana harapan dari sakit yang diderita bisa
dijelaskan.
2) Implikasi keperawatan

Penyakit Ginjal Kronik mempunyai karakteristik penurunan kondisi yang


cepat. Bantuan keperawatan dalam bidang psikososial harus berusaha
memfasilitasi penyesuaian perubahan akibat sakit yang dialami. Perawat juga
perlu memperbaiki interaksi sosial dan gaya hidup dengan mencegah kondisi
sakit yang lebih jauh, mengontrol gejala dan menjadikan hemodialisis menjadi
bagian dari kehidupan normal sehari hari. Pengetahuan pasien yang baik
tentang penyakit yang dideritanya akan mengurangi kecemasan pasien. Hal ini
yang membuat sangat penting bagi perawat untuk mempunyai keahlian dalam
menyediakan informasi yang jelas demi membantu pasien untuk menentukan
tujuan dari perawatan dan membantu pemecahan masalah untuk kemampuan
fungsional fisik yang lebih baik.

3) Membesarkan hati

Peran dari tenaga kesehatan adalah membesarkan hati dan jika mungkin
membuat pasien mampu menerima tanggung jawab akan kesehatan dan
kebahagiaan serta mampu mengisi tanggung jawab mereka di keluarga dan
masyarakat. Pada kondisi ini perawat dapat membesarkan hati pasien untuk
Workshop dan symposium pitnas bali 2012Page 9

menerima keterbatasan pribadi akibat kondisi sakit dan pengobatannya.


Kondisi kondisi seperti ini yang bisa memberikan persepsi positif dan
pengertian diantara pasien dan petugas kesehatan.
4) Peningkatan kualitas hidup

Pasien dengan karakter dependen atau tergantung mungkin beradaptasi


dengan terapi lebih mudah, namun ketergantungan yang berlebihan dapat
menciptakan permintaan yang ekstrim kepada pengasuh dan dapat
menghambat rehabilitasi. Beberapa pasien mungkin mendapat secondary
gain dari penyakit yang diderita dan beberapa yang lainnya menikmati peran
menjadi pasien. Perawat dapat memfasilitasi adaptasi pasien terhadap hal hal
yang dibutuhkan sehubungan dengan perawatan dengan memaksimalkan
kekuatan pasien dan mendorong pasien lebih baik lagi. Terapi yang lebih
bersifat individu dan meminimalkan kompleksitasnya dapat membantu
perilaku yang lebih menurut. Penilaian, edukasi, motivasi, pemberian
dukungan membesarkan hati dan mengajarkan cara membantu diri sendiri dan
memonitor diri sendiri akan membuat pada akhirnya peningkatan kepatuhan
pasien dan pasien mampu hidup dengan kondisi yang dialaminya.
Jika dalam program rehabilitasi terdapat kelompok kelompok suportif seperti
latihan fisik bersama, program edukasi bersama atau kegiatan bersama lainnya
maka hal ini akan membuat pasien lebih nyaman. Hal ini disebabkan karena
adanya hubungan kebersamaan dengan orang yang senasib dan adanya
penghargaan social serta apresiasi dari rekan senasib. Kegiatan ini bisa
membuat isolasi pasien terhadap lingkungan lingkungan berkurang. Dan pada
akhirnya kegiatan kegiatan ini sangat berkontribusi dengan peningkatan
kepatuhan pasien dalam proses terapi.
Workshop dan symposium pitnas bali 2012Page 10

2. Peran keluarga

Anggota keluarga memerankan hal yang penting dalam kesejahteraan pasien.


Mereka tidak boleh dikesampingkan dalam proses penanganan pasien. Perubahan
pola kehidupan keluarga mungkin diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pasien.
Pasien dan keluarga harus dibantu untuk menceritakan perasaan mereka dalam
suatu hubungan saling percaya agar dapat menyesuaikan dengan proses adaptasi
dari sakit pasien. Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa perasaan
bersalah, kesedihan dan kehilangan yang sangat dan sering terjadi pada pasangan
pasien.
Edukasi dan informasi yang adekuat bagi pasien dan keluarga tentang penyakit
yang dialami dan perjalanan penyakit akan sangat penting dan harus dimulai sejak
sebelum memutuskan untuk melakukan dialysis.

V.

Ringkasan
Ada beberapa aspek psikologis

pada pasien dialisis yang harus dipahami oleh

petugas kesehatan terutama perawat hemodialisis sebelum melakukan intervensi


medis. Aspek tersebut antara lain : emosi, harga diri, gaya hidup dan fungsi seksual.
Sedangkan masalah psikologis

pasien hemodialisis yang sering terjadi adalah :

depresi, kecemasan, dimensia dialisis dan sindrom disequilibrium. Perawat yang


bekerja di unit Hemodialisis sering dihadapkan

pada pasien yang mengalami

problem psikologis dan perilaku. Membangun kemampuan untuk mengenali dan


beradaptasi dengan masalah itu adalah sesuatu yang diperlukan. Seringkali intervensi
psikologis tidak bekerja karena keterbatasan dari segi perawat. Untuk itu perawat
diharapkan dapat belajar cara cara mengatasi masalah psikologis yang terjadi, baik
Workshop dan symposium pitnas bali 2012Page 11

yang dialami pasien, keluarga maupun petugas yang ada dalam unit hemodialsis itu
sendiri.

Daftar pustaka
Chen CK, Tsai YC, Hsu HJ, Wu IW, Sun CY, Chou CC, et al. In Depression and Suicide Risk in
Hemodialysis Patient With Chronic Renal Failure
Leung DKC, Psychosocial aspect in renal patients, Proceedings of the first Asian Chapter
Meeting ISPD. December 13 15, 2002, Hong Kong Peritoneal Dialysis International, vol. 23
( 2003 ), Supplement 2
Cukor D, Coplan J, Brown C, Friedman S, Cromwell-Smith A, Peterson RA, Kimmel PL. In
depression and Anxiety in Urban Hemodialysis Patients. Clin J Am Soc Nephrol 2007;2:484-490
Burrows-Hudson,S., Prowant,B. American Nephrology Nurses Association Nephrology Nursing
Standards of Practice and Guidelines for Care. ( 2005 ). Pp. 71 72
Levenson JL, Owen JA. Renal and Urological Disorder in Clinical Manual of
Psycopharmacology in the Medically III.
Workshop dan symposium pitnas bali 2012Page 12

Workshop dan symposium pitnas bali 2012Page 13