Anda di halaman 1dari 13

STUDI ATAS BELANJA MODAL, PENDAPATAN ASLI DAERAH

(PAD), DAN DANA ALOKASI UMUM (DAU) DALAM


HUBUNGANNYA DENGAN BELANJA PEMELIHARAAN DALAM
ANGGARAN PEMERINTAH DAERAH DI INDONESIA

Proposal Seminar Riset Pertama


Untuk memenuhi sebagian persyaratan
Mencapai derajat Magister Akuntansi

Diajukan oleh:

Kepada:
2014

Proposal Riset Seminar Riset Pertama


A. Judul
Studi Atas Belanja Modal, Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan Dana Alokasi
Umum (DAU) dalam hubungannya dengan Belanja Pemeliharaan dalam anggaran
pemerintah daerah di Indonesia.

B. Latar Belakang
Kebijakan otonomi daerah yang tertuang dalam UU No. 22 Tahun 1999 tentang
pemerintahan daerah dan UU No. 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antara
pemerintah pusat dan daerah merupakan reformasi menuju perubahan pembangunan yang
adil dan merata. Perkembangan reformasi terus berlanjut dengan diikuti terbitnya UU No
32 Tahun 2004 sebagai perubahan dan penyempurnaan dari UU No. 22 Tahun 1999 dan
UU No 33 Tahun 2004 sebagai perubahan dan penyempurnaan UU No. 25 Tahun 1999.
Selain itu ketentuan perundangan tersebut diikuti dengan dikeluarkannya PP No 58 Tahun
2005 tentang pengelolaan keuangan daerah yang merupakan perubahan dari PP Nomor
105 Tahun 2000 dan Permendagri No 21 Tahun 2011 yang merupakan perubahan kedua
atas permendagri No 59 Tahun 2007 dan Permendagri No 13 Tahun 2006 tentang
pedoman pengelolaan keuangan daerah. Dari berbagai perubahan-perubahan peraturan
tersebut dimaksudkan untuk memberikan peluang bagi daerah untuk menggali potensi
daerah yang dimiliki dan meningkatkan kemampuan kinerja keuangan dalam rangka
mewujudkan kemandirian daerah.
Dalam rangka era otonomi daerah,

dimaknai dengan adanya peningkatan

pelayanan di berbagai sektor terutama di sektor publik. Peningkatan layanan publik ini
diharapkan menjadi komitmen dari berbagai pihak untuk menciptakan pelayanan publik
yang akuntabel dan responsif atas kebutuhan masyarakat. Dalam aspek pelaksanaan,
pemerintah daerah dihadapkan dengan menciptakan sistem manajemen yang mampu
mendukung operasional pembangunan daerah. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan
tersebut adalah masalah pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah. Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan instrumen kebijakan yang utama bgi
pemerintah darah yang berimplikasi pada perubahan dalam sistem pembuatan keputusan
terkait

dengan

pengalokasian

sumber

daya

dalam anggaran

pemerintah

daerah.

Sebelumnya penentuan alokasi ditentukan oleh Pemerintah pusat dengan mengacu pada
realisasi anggaran tahun sebelunya dengan sedikit peningkatan tanpa merubah jenis atau

pos belanja. Sistem ini disebut anggaran berimbang dan dinamis (line-item and
incremental budgeting). Setelah otonomi daerah yang berlaku sejak tahun 2003,
pendekatan anggaran yang digunakan adalah berbasis kinerja (performance-based
budgeting). Performance-Based Budgeting mengalokasikan sumber daya pada program
dan bukan pada unit pelaksana organisasi. Anggaran berbasis kinerja dirancang sebagai
jawaban atas permasalahan berbagai kelemahan yang terdapat dalam anggaran tradisional
yang selama ini digunakan dalam penyusunan APBD (Kumarotomo dan Purwanto, 2005).
Selain itu, peran DPRD sebagai legislatif daerah menjadi semakin besar sehingga dapat
menjadi instrumen untuk dilaksanakannya check and balances pada pemerintahan daerah
dan upaya untuk memberdayakan DPRD agar lebih aspiratif.
Dari aspek regulasi, pada Peraturan Pemerintah (PP) No. 58 Tahun 2005 dan
Peraturan menteri dalam negeri (Permendagri) No 13 Tahun 2006 yang di rubah dan di
sempurnakan ke dalam Permendagri No 21 Tahun 2011, memberikan penegasan bahwa
daerah memiliki kewenangan untuk menentukan alokasi sumber daya ke dalam belanjabelanja dengan menganut asas kepatutan, kebutuhan, dan kemampuan daerah. Pemerintah
daerah bekerjasama dengan DPRD terlebih dahulu menentukan kebijakan umum APBD
(KUA) dan prioritas

plafon anggaran sementara (PPAS) sebagai arahan dalam

pengalokasian sumberdaya dalam APBD. KUA dan PPAS merupakan pedoman yang
merupakan hasil penjaringan aspirasi masyarakat sehingga diperoleh gambaran yang
cukup tentang kebijakan jangka pendek dan kebijakan jangka panjang yang berkaitan
dengan kebijakan pengelolaan keuangan daerah (Solichin, 2009).
Proses penyusunan anggaran kinerja dimulai dari satuan kerja-satuan kerja yang
ada di pemerintah daerah, seperti dinas, badan, bagian, dan kantor, melalui dokumen
usulan anggaran yang disebut Rencana Satuan Kerja (RASK) (Kepmendagri No. 29
Tahun 2002). Setiap satuan kerja mengajukan dua jenis belanja, yakni belanja tidak
langsung dan belanja langsung. Dalam struktur APBD terdiri atas tiga bagian, yaitu
pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Pendapatan dibagi menjadi tiga kategori yaitu
PAD, dana perimbangan, dan pendapatan lain-lain yang sah. Selanjutnya belanja daerah
terdiri dari beberapa elemen, diantaranya adalah belanja aparatur daeah dan belanja
pelayanan publik. Belanja aparatur daerah merupakan belanja yang dialokasikan atau di
gunakan untuk membiayai kegiatan yang hasil, manfaat, dan dampaknya tidak secara
langsung dinikmati oleh masyarakat (publik). Sementara belanja pelayanan publik
merupakan belanja yang dialokasikan atau di gunakan untuk membiayai kegiatan yang
hasil, manfaat, dan dampaknya secara langsung dinikmati oeleh masyarakat (publik).

Pembangunan

dalam

sektor

pelayanan

kepada

publik

akan

merangsang

masyarakat untuk lebih aktif dan bergairah dalam bekerja karena ditunjang oleh fasilitas
yang memadai, selain itu investor juga akan tertarik kepada daerah karena fasilitas yang
diberikan oleh daerah. Dengan bertambahnya produktivitas masyarakat dan investor yang
berada di daerah akan berdampak pada peningkatan pendapatan asli daerah. Pendapatan
asli daerah yang semakin tinggi akan merangsang pemrintah daerah untuk lebih
meningkatkan mutu pelayanannya kepada publik sehingga tingkat pertumbuhan ekonomi
daerah akan meningkat seiring dengan meningkatnya pendapatan per kapita.
Pemerintah daerah sejak beberapa tahun terakhir memprioritaskan peningkatan
anggaran belanja modal sejalan dengan dikeluarkannya Permendagri No 37 Tahun 2012
yang menyebutkan bahwa jumlah belanja modal pada tahun anggaran 2013 yang
dialokasikan dalam APBD sekurang-kurangnya 29 persen dari total belanja daerah.
Namun kenyataannya, pemerintah daerah hanya berusaha untuk meningkatkan anggaran
belanja modal sampai batas minimal sebesar 29 persen dari total anggaran belanja daerah.
Secara teoritis apabila suatu organisasi melakukan suatu kebijakan untuk membelanjakan
dana dari anggaran yang sudah di tetapkan untuk belanja modal, maka hal tersebut akan
berhubungan dengan anggaran pemeliharaan organisasi tersebut.
Belanja pemeliharaan akan muncul ketika ada sesuatu yang harus dipelihara dan
sesuatu tersebut adalah aset tetap. Di sisi lainnya, anggaran belanja pemeliharaan tidak
disesuaikan dengan peningkatan atau penurunan aset tetap yang harus dipelihara agar
tetap dalam kondisi layak untuk digunakan dalam rangka pelayanan masyarakat dan
penyelenggaraan pemerintahan. Anggaran pemeliharaan harusnya menjadi salah satu
prioritas dalam belanja daerah untuk menjaga terpeliharanya aset tetap. Pemerintah
daerah kurang perhatian terhadap anggaran belanja pemeliharaan disebabkan sumber
pendapatan daerah yang kecil. Dana perimbangan yang menjadi sumber utama dalam
pendapatan daerah telah diprioritaskan untuk kepentingan belanja modal dan belanja
pegawai. Maka, sumber dana untuk belanja pemeliharaan akan lebih banyak bersumber
dari pendapatan asli daerah. Dengan demikian, jumlah anggaran belanja pemliharaan
dalam APBD sangat tergantung pada tinggi rendahnya pendapatan Asli Daerah.
Penelitian yang menguji pengaruh belanja modal terhadap belanja pemeliharaan
sudah banyak dilakukan. Tetapi, hasil yang ditunjukkan dari berbagai penelitian belum
konsisten dan sering terjadi kontradiksi antar satu penilitian dengan penelitian lain.
Menurut Govindarajan (1998), untuk menyelesaikan perbedaan dari hasil penelitian
tersebut, dapat dilakukan dengan pendekatan kontinjensi (contingency approach).

Pendekatan ini yang dikemukakan memberikan gagasan bahwa sifat hubungan antara
belanja modal dengan belanja pemeliharaan mungkin berbeda satu situasi dengan situasi
yang lain. Pendekatan ini secara sistematis mengevaluasi berbagai kondisi atau variabel
yang dapat mempengaruhi hubungan antara belanja modal dengan belanja pemeliharaan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bermaksud untuk melakukan
analisis pengaruh Belanja Modal, Pendapatan Asli Daerah, dan Dana Alokasi Umum
terhadap anggaran belanja pemeliharaan di Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di
Indonesia.

C. Konteks Riset
Dalam penelitian

ini akan meneliti mengenai belanja modal dan belanja

pemeliharaan sesuai dengan peraturan terbaru serta mengetahui Pendapatan Ali Daerah
dan Dana alokasi Umum sebagai faktor yang mempengaruhi belanja pemeliharaan.
Struktur belanja yang digunakan dalam penyusunan APBD sampai dengan tahun
anggaran 2006 masih mengacu kepada Kepmendagri No. 29 Tahun 2002. Sementara
laporan realisasi APBD tahun anggaran 2006 sudah harus mengacu pada Standar
Akuntansi pemerintahan atau PP No 24 Tahun 2005 (revisi terbaru PP No. 71 Tahun
2010).

Maka perlu pemahaman mengenai teknik pengkonversian dari struktur belanja

versi kepmendagri No 29 Tahun 2002 ke versi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 71


Tahun 2010 tentang Standar Akuntasi Pemerintahan (SAP).
Berdasarkan kepmendagri No 29 Tahun 2002, belanja daerah dibagi ke dalam dua
bagian, yaitu bagian belanja aparatur daerah dan bagian belanja pelayanan publik.
Masing-masing bagian belanja tersebut dirinci menurut kelompok belanja yang meliputi
belanja administrasi umum, belanja operasi dan pemeliharaan serta belanja modal. Setiap
kelompok belanja dirinci menurut jenis belanja. Jenis belanja dirinci menurut objek belanja.
Selanjutnya setiap objek belanja dirinci menurut rincian objek belanja. Sedangkan di dalam
SAP, tidak mengenal adanya pembagian ke dalam bagian belanja aparatur daerah dan bagian
belanja pelayanan publik. Di samping itu, tidak ada pengelompokkan ke dalam belanja
administrasi umum maupun belanja operasi dan pemeliharaan. Pengklasifikasian belanja
daerah berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan pada dasarnya lebih sederhana, namun
setelah keluar nya Permendagri No. 13/2006 sebagai pengganti Kepmendagri No. 29/2002
maka banyak terjadi perubahan yang mendasar dalam peraturan tersebut diantaranya
diperkenakan kembali adanya bendahara penerima dan bendahara pengeluaran. Selain itu,

pengelompokan jenis belanja lebih menekankan pada belanja langsung dan belanja tidak
langsung.

Belanja modal dalam peraturan Permendagri No. 13 Tahun 2006 terdapat dalam
bagian belanja langsung. Belanja modal digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan
dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang
mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (duabelas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan
pemerintahan, seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan,
jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya. Nilai pembelian/pengadaan atau
pembangunan aset tetap berwujud yang dianggarkan dalam belanja modal hanya sebesar
harga beli/bangun aset. Barang Modal yang disebut sebagai aset tetap merupakan
prasyarat utama yang ibutuhkan oleh pemerintah daerah dalam memberi pelayanan
kepada masyarakat.Untuk menambah aset tetap, pemerintah daerah merencanakan
kebutuhan daerah dalamanggaran barang modal, berupa sarana dan prasarana dalam
APBD. Biasanya setiap tahun diadakan pengadaan aset tetap oleh pemerintahan daerah,
sesuai dengan prioritas anggaran dan pelayanan publik yang memberikan manfaat jangka
panjang.
Sedangkan Belanja Pemeliharaan berfokus pada belanja yang dikeluarkan dan
tidak menambah dan memperpanjang masa manfaat dan atau kemungkinan besar tidak
memberi manfaat ekonomik di masa yang akan datang dalam bentuk kapasitas, mutu
produksi,

atau

peningkatan

standar

kinerja

tetap

dikategorikan

sebagai belanja

pemeliharaan dalam laporan keuangan. Belanja pemeliharaan terdapat dalam bagian


belanja barang dan jasa pada akun belanja langsung. Berdasarkan Lampiran VII Peraturan
Menteri Keuangan nomor 238/PMK.05/2011 tentang pedoman umum sistem akuntansi
pemerintahan,

perlakuan

belanja

pemeliharaan

berdasarkan

kapitalisasi

nilai

aset

menggunakan nilai satuan minimum kapitalisasi aset tetap. belanja pemeliharaan dapat
dikapitalisasi jika: (1) Pengeluaran tersebut rnengakibatkan bertambahnya masa manfaat,
kapasitas, kualitas, dan volume aset yang telah dimiliki; dan (2) Pengeluaran tersebut
memenuhi batasan minimum nilai kapitalisasi aset tetap/aset lainnya. Alokasi belanja
pemilharaan aset tetap atau aset lainnya di pergunakan oleh instansi meliputi pemeliharaan
gedung dan bangunan, pemeliharaan peralatan dan mesin, pemeliharaan jalan, irigasi dan
jaringan, dan pemeliharaan Aset Tetap Lainnya.

Peningkatan

investasi

pemerintah

daerah

(belanja

modal

dan

belanja

pemeliharaan) diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan publik yang pada


gilirannya

mampu

meningkatkan

tingkat

partisipasi

(kontribusi)

publik

terhadap

pembangunan yang tercermin dari peningkatan PAD. Anggaran Pendapatan Belanja


Daerah (APBD) bersumber dari PAD dan penerimaan dana perimbangan yang bersumber
dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang diberikan kepada daerah dalam
rangka pelaksanaan desentralisasi. Pendapatan asli daerah dan dana perimbangan untuk
masing-masing daerah berbeda tergantung dari endowment faktor, meliputi sumber daya
alam yang dimiliki.

D. Problem Riset
Secara

teoritis,

terdapat

keterkaitan

antara

belanja

modal

dan

belanja

pemeliharaan. Hal ini dikarenakan persentase Belanja Modal dan Belanja Pemeliharaan
dalam suatu daerah dapat menjadi indikator atas bertambahnya aset daerah. Jika
pemerintah daerah ingin menambah aset daerah yang ada, maka pemerintah daerah perlu
menaksir besarnya realisasi Belanja Pemeliharaan agar Belanja Modal dan Belanja
Pemeliharaan aset dapat seimbang.
Tetapi faktanya realisasi anggaran Belanja Modal setiap tahunnya di daerah tidak
diikuti

dengan

penambahan

Belanja

Pemeliharaan.

Dalam

kondisi

lain,

Belanja

Pemeliharaan mungkin meningkat bahkan terealisasi 100% tapi hal tersebut tidak
menjamin aset daerah telah dipelihara dengan baik. Banyaknya gedung-gedung dan
fasilitas yang tidak terawat sebagaimana seharusnya dan tidak digunakan sesuai fungsinya
diakibatkan dana yang tersedia hanya digunakan untuk pembangunan dengan dana yang
tidak cukup untuk melakukan perawatan dalam tahun anggaran berjalan atau karena
adanya kecurangan dalam penggunaan Belanja Pemeliharaan yang tidak digunakan
semana harusnya.
Kasus penyelewengan Belanja Pemeliharaan dan Belanja Modal yang terjadi di
daerah-daerah seperti yang terjadi di Provinsi Jawa Barat yaitu kasus korupsi anggaran
pemeliharaan jalan dan jembatan senilai Rp 24 miliar. Kasus ini terjadi pada tahun
anggaran 2013 dimana

anggaran tersebut diperuntukkan untuk belanja pegawai sekitar

RP 9 miliar, belanja barang dan jasa sekitar Rp 14 miliar dan sisanya untuk Belanja
Modal (www. Pikiran-rakyat.com). Laporan Keuangan Pemerintah Daearah (LKPD)
Tahun 2008 dimana terdapat penyelewengan atas pembebanan Belanja Pemeliharaan
rutin atau berkala kendaraan dinas atau operasional sekretariat DPRD Provinsi Sumatera
Utara merugikan keuangan daerah sebesar Rp1.200.711.500 (sumutpos.co).
Keputusan untuk meningkatkan belanja modal merupakan bagian dari keinginan
untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan publik, yang diikuti dengan

peningkatan belanja-belanja lain, yakni belanja pemeliharaan. Namun, tidak berarti


belanja modal sebagai penyebab atau prediktor bagi kenaikan belanja pemeliharaan.
Peneliti

tertarik

untuk

mengetahui hubungan

Belanja

Modal,

DAU,

dan

Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Belanja Pemeliharaan. Hal ini dikarenakan
penggunaan anggaran belanja yang tepat sasaran akan mempengaruhi pendapatan asli
daerah, dan apabila pendapatan asli meningkat maka dipastikan Belanja Pemeliharaan
pun ikut meningkat begitupun DAU-nya.
Penelitian yang dilakukan di Indonesia tentang pengaruh antara Belanja Modal
dengan Belanja Pemeliharaan belum banyak dilakukan dan hasilnya masih berbeda-beda.
Karo-Karo (2006) yang menemukan bahwa tidak terdapat korelasi di antara Belanja
Modal dan Belanja Pemeliharaan. Dia menggunakan sampel kabupaten/kota di Pulau
Jawa untuk anggaran 2003-2004 dan menemukan bahwa ketika pemerintah daerah
membuat kebijakan untuk mengalokasikan anggaran Belanja Modal, tidak diiringi dengan
pengalokasian untuk belanja operasional dan pemeliharaan yang seimbang. Diduga
penyebabnya adalah tidak akuratnya pemerintah daerah dalam mengalokasikan anggaran
terhadap

proyek/kegiatan.

Sri

hayati

Br.

Sembiring

(2009),

hasil

penelitiannya

menunjukkan bahwa Belanja Modal secara individual berpengaruh terhadap belanja


pemeliharaan,

selain

berpengaruh terhadap

itu

hasil penelitin

juga

Belanja Pemeliharaan.

menunjukan PAD secara individual


Selain menunjukkan pengaruh secara

individual hasil penelitiannya juga menunjukkan Belanja Modal dan PAD secara
serempak berpengaruh terhadap Belanja Pemeliharaan.
Sedangkan dalam abdullah dan halim (2004) menemukan menunjukkan bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara Belanja Modal dengan Belanja Pemeliharaan.
Pendapatan daerah yang berasal dari dana perimbangan, terutama dari hasil pajak/bukan
pajak, Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK) berpengaruh
terhadap

anggaran Belanja Modal,

artinya apabila terjadi kenaikan dalam dana

perimbangan akan mengakibatkan kenaikan juga dalam Belanja Modal. Dari penelitian
ini dapat diketahui bahwa PAD dan DAU memiliki hubungan positif dengan Belanja
Modal. Sehingga dapat diartikan bahwa semakin tinggi PAD dan DAU yang diperoleh
daerah maka akan semakin tinggi pula belanja modal dan Belanja Pemeliharaan yang
dikeluarkan daerah. Karena secara teoritis apabila suatu organisasi melakukan suatu
kebijakan untuk membelanjakan dana dari anggaran yang sudah ditetapkan untuk Belanja
Modal, maka hal tersebut akan berpengaruh terhadap Belanja Pemeliharaan organisasi
tersebut.

Beberapa penelitian yang dilakukan diluar negeri diperoleh hasil yang juga masih
perlu diperkuat dengan bukti-bukti empiris, seperti hasil penelitian Thomassen (1990)
juga memberikan catatan penting bagi penganggaran Belanja Modal ini. Ia menyatakan
bahwa paling tidak setengah dari state yang melaporkan item Belanja Modal dan non
Belanja Modal secara terpisah gagal menggabungkan anggarannya untuk melakukan
evaluasi secara simultan dan komparatif untuk kedua item belanja tersebut. Kamensky
(2004) melakukan penelitian atas kota-kota yang menjadi anggota National League of
Cities

menemukan

bahwa

sebanyak

57%

kota

di

Amerika

Serikat

tidak

mempertimbangkan biaya pemeliharaan dan perbaikan terhadap expected life suatu


project. Menurutnya manajer publik perlu memahami lebih jauh biaya total dari Belanja
Modal, bukan hanya pengeluaran untuk konstruksi dan pengadaan. Bland dan Nunn
(2002) menyatakan bahwa terdapat perbedaan dalam proses pembuatan keputusan antara
anggaran Belanja Modal dengan anggaran belanja pemeliharan. Perbedaan tersebut terjadi
karena sifat kedua belanja yang berbeda. Belanja Modal adalah belanja variabel, yakni
belanja yang terjadi karena adanya kebutuhan atau aktivitas untuk menghasilkan aset
tetap, sementara Belanja Pemeliharaan bersifat rutin dari tahun ke tahun, sesuai dengan
keadaan aset tetap yang dimiliki oleh pemerintah.

E. Pertanyaan Riset
Pertanyaan riset sebagai berikut:
Apakah Belanja Modal, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Pendapatan Asli Daerah
(PAD) memiliki hubungan pada Belanja Pemeliharaan di anggaran pemerintah daerah?
F. Kontribusi Riset
Beberapa

manfaat

yang

diharapkan dalam penelitian ini adalah berupa

kontribusi empiris, teori, dan praktis, yaitu:


1. Kontribusi empiris, untuk memperkuat penelitian sebelumnya berkenaan dengan
pengaruh Belanja Modal, Dana Alokasi Umum dan Pendapatan Asli Daerah terhadap
Belanja Pemeliharaan pada Kabupaten/Kota di Indonesia.

2. Kontribusi teori, sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang tertarik dalam bidang
kajian belanja modal dan belanja pemeliharaan baik dalam hal teori maupun metode
penelitian.
3. Kontribusi praktis, sebagai masukan bagi pemerintah daerah Kabupaten/Kota di
Indonesia

mengenai sejauh mana peran belanja modal, Dana Alokasi Umum,

Pendapatan asli Daerah terhadap belanja pemeliharaan serta dapat menjadi masukan
dalam mengambil keputusan di masa yang akan datang.

G. Metode Riset
Berdasarkan rumusan masalah penelitian dan landasan teori, maka kerangka konsep
penelitian ini adalah sebagai berikut:

Kerangka penelitian ini adalah :


Variabel Independen

Variabel Dependen

Belanja Modal (X1 )

Pendapatan Asli
Daerah (X2 )

Belanja Pemeliharaan (Y)

Dana Alokasi Umum


(DAU) (X3 )

Berdasarkan gambar diatas terdapat satu variabel dependen (Y), yaitu Belanja
Pemeliharaan dan tiga variabel independen yaitu Belanja Modal (X1 ), DAU (X2 ) dan
Pendapatan Asli Daerah (X3 ). Diprediksi ketiga variabel independen akan mempengaruhi
belanja

pemeliharaan,

yakni dapat menaikkan dan menurunkan anggaran belanja

pemeliharaaan.
Anggaran Belanja Modal yang terealisasi setiap tahunnya akan menunjukkan
adanya penambahan aset tetap suatu daerah, penambahan aset tersebut juga harus diikuti
dengan penambahan Belanja Pemeliharaan sehingga aset pemerintah daerah yang dimiliki
tersebut

dapat

dimanfaatkan

secara

efektif

sesuai

dengan

kegunaannya.

Untuk

mendapatkan aset tetap, pemerintah daerah cukup merealisasikan anggaran Belanja


Modal pada tahun berjalan sedangkan untuk Belanja Pemeliharaan pemerintah daerah
harus mengeluarkan secara rutin dan terus-menerus selama aset tersebut dimiliki oleh
pemerintah daerah sehingga penambahan jumlah aset pemerintah daerah setiap tahunnya
seharusnya juga meningkatkan jumlah anggaran Belanja Pemeliharaan.
Pendapatan asli daerah berpengaruh terhadap Belanja Pemeliharaan, sehingga
apabila pendapatan asli daerah meningkat maka realisasi Belanja Pemeliharaan dalam
satu tahun anggaran juga meningkat hal ini karena pendapatan asli daerah digunakan
untuk membiayai belanja atau pengeluaran daerah dengan tujuan dapat meningkatkan
kesejahteraan

dan

memberikan

pelayanan

yang

lebih

baik

kepada

masyarakat.

Peningkatan pendapatan asli daerah merupakan indikasi kemampuan daerah dalam


membiayai pengeluarannya dalam satu tahun anggaran, jika pendapatan asli daerah suatu
daerah dapat ditingkatkan, maka daerah tersebut dapat mencukupi belanjanya sendiri.
Belanja Pemeliharaan adalah salah satu belanja rutin pemerintah daerah yang sebagian
daerah telah mampu dibiayai oleh pendapatan asli daerahnya sendiri. Perbandingan
pendapatan asli daerah dengan besarnya Belanja Pemeliharaan menunjukkan kemampuan
nyata suatu propinsi dalam membiayai belanja rutinnya.
Penerimaan daerah dari unsur PAD belum cukup untuk memenuhi kebutuhan
daerah. Sehingga masih perlu bantuan dana yang berasal dari pusat melalui Dana Alokasi
Umum (DAU). Hal ini dikarenakan semakin tinggi DAU yang diterima maka akan
semakin tinggi Belanja Modal yang juga akan mempengaruhi Belanja Pemeliharaannya.
Dalam Abdullah dan Halim menyatakan bahwa pendapatan dari pemerintah pusat berupa
dana perimbangan di pemerintah daerah di indonesia merupakan sumber utama APBD.
Sayang kontribusi DAU terhadap Belanja Pemeliharaan masih belum efektif mengingat
banyak daerah yang belum merata pembangunannya.
Populasi

dalam penelitian ini adalah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan purposive sampling.
Menurut Sugiyono (2003) pengambilan sampel dengan purposive sampling merupakan
teknik penentuan sampel dalam pertimbangan tertentu. Pemilihan sampel didasarkan pada
metode purposive sampling dengan kriteria kelengkapan data penelitian yang dimiliki
Kabupaten/Kota. Pemilihan sampel ini juga atas dasar Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD) kabupaten/kota yang telah menggunakan format baru yaitu Permendagri

No. 21 Tahun 2011 yang merupakan perubahan kedua dari permedagri No. 13 Tahun
2006.
Data yang dianalisis dalam penelitian ini bersumber dari realisasi APBD untuk
tahun 2008-2014. Untuk mencapai tujuan dan pembuktian hipotesis yang diajukan dalam
penelitian ini digunakan data sekunder, yang bersumber dari dokumen APBD, program
magister akuntansi UGM, situs-situs pemerintah daerah, yang memuat laporan ralisasi
PBD pemeritah daerah kabupaten/kota di Indonesia. data sekunder yang digunakan
adalah data belanja modal, belanja pemeliharaan, pendapatan asli daerah, dana alokasi
umum pada APBD.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi
berganda (Multiple Regresion Analysis) yakni data sekunder tersebut akan diolah dengan
menggunakan SPSS 18.00 for windows. Berdasarkan uji tersebut, selanjutnya akan dilakukan
suatu persamaan regresi berganda yakni sebagai berikut:
Y = 0 + 1 X1 + 2 X2 + e
Dimana:
Y

= Anggaran Belanja Pemeliharaan (ABP)

= Nilai Y bila X = 0 atau nilai konstan

1, 2

= Koefisien Regresi

X1

= Nilai Aset Tetap yang Akan Dipelihara (AT)

X2

= Pendapatan Asli Daerah (PAD)

= error

Referensi
Abdullah, Syukriy & Abdul Halim, Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) dan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) Terhadap Belanja Pemerintah Daerah : Studi Kasus

Kabupaten/Kota di Jawa dan Bali, Simposium Nasional Akuntansi VI , Surabaya, 1617 Oktober, 2003
Allen, Richard & Daniel Tommasi. 2001. Managing Public Expenditure: A Reference Book
for Transition Countries. Paris: SIGMA-OECD.
http://www.oecd.org/puma/sigmaweb.
Anwar, Rozan. 2009. Pengembangan Model; Metodologi. FISIP UI.
Bland, Robert & Samuel Nunn. 2002. The impact of capital spending on municipal
operating budgets Public Budgeting & Finance (Summer): 32-47.
Irawan, Prasetya, dkk. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Sekolah Tinggi
Ilmu Administrasi.
Kamensky, John M. 2004. Budgeting for state and local infrastructure: Developing a
strategy. Public Budgeting and Finance (Autumn): 3-17.
Karo-Karo, Syukur Selamat. 2006. Hubungan Belanja Modal dengan Belanja Operasional
dan Pemeliharaan pada Pemerintah Kabupate/Kota di pulau Jawa. Program Magister
Sains-Pascasarjana UGM, Tesis. Tidak dipublikasikan. Yogyakarta.
Kurniawati, R. 2010. Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) Dan Pendapatan Asli Daerah
(PAD) Terhadap Belanja Pemerintah Daerah Provinsi, Kota, Dan Kabupaten Di
Indonesia. tesis pascasarjana (dipublikasikan). Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.
------------------------, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
------------------------, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
------------------------, Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
------------------------, Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah.
Sembiring, Sri Hayati. 2010. Analisis Pengaruh Belanja Modal dan Pendapatan Asli Daerah
terhadap Belanja Pemeliharaan dalam Realisasi Anggaran Pemerintahan Kabupaten
dan Kota di propinsi Sumatera Utara. Tesis. Pasca Sarjana (Dipublikasikan).
Universitas Sumatera Utara, Medan.
Thomassen, Henry. 1999. Capital budgeting for a state. Public Budgeting & Finance 10
(Winter):72-86.