Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pelaksanaan Praktek Lapangan Industri


Pada dewasa ini teknologi dan ilmu pengetahuan sudah berkembang pesat. Seiring
dengan perkembangan zaman, dunia industripun turut berkembang pesat pula di
Indonesia. Terdapat banyak macam-macam industri yang berkembang saat ini.
Perkembangan industri ini di tunjang karena adanya tenaga kerja yang terampil, kerja
keras, disiplin dan berwawasan.
Salah satu industri yang sedang berkembang saat ini adalah industri
ketenagalistrikan, yang mana pada saat ini PT. PLN (Persero) salah satu perusahaan
BUMN sebagai produsen listrik. PT. PLN (Persero) membangun

pembangkit -

pembangkit untuk memenuhi kebutuhan listrik pelanggan yang semakin meningkat.


Pembangkit tenaga air, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) menjadi
tumpuan bagi PT. PLN (Persero) untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Listrik merupakan suatu energi yang sangat dibutuhkan dewasa ini. Penggunaan
tenaga listrik merupakan suatu kebutuhan atau tuntutan hidup yang tidak dapat
dipisahkan dalam menunjang segala aktivitas sehari-hari, untuk penerangan, keperluan
rumah tangga, industri, perkantoran, transportasi, olah raga, dan banyak lagi kegiatan
atau hal-hal yang sangat bergantung pada listrik.
Umumnya listrik diperoleh dari mengubah energi kinetik menjadi energi listrik,
salah satunya adalah generator listrik.Generator listrik terdiri dari bagian utama yaitu
stator dan rotor.Rotor berputar terhadap stator sehingga menimbulkan induksi
elektromagnetik yang menyebabkan timbulnya energi listrik.
Generator tersebut untuk dapat berputar tentunya memerlukan

pemutar atau

penggerak mula (primeover) yang dalam prakteknya bisa bermacam-macam jenisnya.


Jenis penggerak mula untuk pemutar generator listrik pada umumnya merupakan suatu
mesin yang didalamnya terjadi proses konversi. Salah satu pemutar arau penggerak
mula tersebut adalah turbin air. Turbin air memanfaatkan tenaga yang ada pada air untuk
memutar runner yang selanjutnya memutar poros dan kemudian memutar rotor pada
generator. Proses konversi yang terjadi adalah perubahan energi dari energi awal
(potensial) diubah menjadi energi mekanik atau putar.
1

Turbin air merupakan suatu sistem yang komplek yang didalamnya terdapat banyak
komponen peralatan, salah satunyacooling water system adalah suatu sistem yang
menyangkut tentang pendinginan suatu peralatan. Sistem pendinginan dimaksudkan
untuk mengurangi panas berlebih darisuatu peralatan agar peralatan tersebut tidak cepat
rusak.
Fungsi dari cooling water systempada PLTA adalah untuk menjaga agar mesin tidak
beroperasi pada temperatur yang sangat tinggi (overheating) maka sangat diperlukan
sistem pendingin yang efektif. Jika mesin dioperasikan pada temperatur tinggi maka
efisiensi mesin akan menurun. Pada dasaarnya sistem pendingin pada PLTA
menggunakan air yang diambil dari water supply dan dipompa oleh sebuah pompa
sentrifugal.
1. Tujuan Pelaksanaan PLI ( Pengalaman Lapangan Industri )
Adapun tujuan dari Pengalaman Lapangan Industridi PT. PLN (Persero)
Sektor Pengendalian Pembangkitan Bukittinggi PLTA Maninjauadalah :
a. Tujuan Umum
1. Membandingkan teori yang telah didapat di bangku perkuliahan dengan
penerapannya di dunia kerja, serta hubungannya dengan teknologi yang
berkembang dewasa ini di dalam bidang industri.
2. Mengaplikasikan

teori

yang

telah

didapat

di

perkuliahan

dan

menerapkannya dalam dunia industri.


3. Mengaplikasikan ide kreatif pada bidang industri.
4. Sebagai sarana untuk belajar bersosialisasi di dalam dunia kerja yang
berkaitan dengan perindustrian.
5. Melatih kerja sama dan kedisiplinan dalam dunia kerja.
6. Melihat secara langsung kegiatan di perusahaan/industri.

b. Tujuan Khusus

1. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada SI Teknik Mesin,
Konsentrasi Produksi, Universitas Negeri Padang.
2. Mempelajari lebih dalam mengenai proses produksi yang ada di perusahaan,
dan terutama ingin mengetahui dan memahami tentang system dan
mekanisme pembangkit listrik tenaga air.
3. Mempelajari dan mengetahui cooling water

sytem

dan

prosedur

pemeliharaan di PT. PLN (Persero) Sektor Pengendalian Pembangkitan


Bukittinggi PLTA Maninjau.
2. Manfaat
a. Bagi Mahasiswa
1. Mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama masa perkuliahan.
2. Memperdalam dan meningkatkan kualitas, keterampilan dan kreativitas
pribadi.
3. Melatih diri agar tanggap dan peka dalam menghadapi situasi dan kondisi
lingkungan kerja.
4. Melatih diri dalam hal kerjasama untuk menghasilkan pemahaman yang
sejalan.
5. Mengukur kemampuan mahasiswa dalam bersosialisasi dan bekerja dalam
suatu perusahaan.
6. Menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman sebagai generasi terdidik
untuk nantinya dapat terjun ke dalam masyarakat terutama di lingkungan
pendidikan dan industri.
b. Bagi Instansi atau Perusahaan
1. Kunjungan mahasiswa PLI dapat dimanfaatkan sebagai mitra tukar pikiran
dalam menghadapi berbagai masalah yang terjadi dalam kegiatan praktis
yang berhubungan dengan Teknik Mesin.
2. Tugas mahasiswa yang merupakan inti dari program PLI, yaitu Case Study
(Studi Kasus) dan Problem Solving (Pemecahan Masalah), dapat

dimanfaatkan oleh instansi atau perusahaan untuk menyelesaikan suatu


topik secara khusus.
3. Instansi atau perusahaan dapat mengusulkan persoalan-persoalan yang
timbul di dalam instansi atau perusahaan dan mahasiswa dapat diminta
untuk mengidentifikasi persoalan yang ada.
c. Bagi Jurusan Teknik Mesin UNP
1. Sebagai bahan masukan, evaluasi dan pengembangan kurikulum bagi
Perguruan Tinggi pada umumnya, Jurusan Teknik Mesin pada khususnya
mengenai ilmu terapan yang sesuai dengan kondisi yang nyata.
2. Selain sangat penting dari segi pola pengembangan kurikulum, aspek tenaga
kerja juga akan banyak memanfaatnya bagi perguruan tinggi, untuk
menyelaraskan perkembangannya dengan dunia profesi yang berhubungan.
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut :
a. Bagaimana proses dasar pembangkitan PLTA Maninjau
b. Bagaimanakahproses dan fungsi cooling water systempada PLTA Maninjau?
c. Bagaimanakah pemeliharaancooling water systemdi PLTA Maninjau?
4. Batasan Masalah
Laporan ini hanya akan membahas tentang kegiatan selama PLI di PT. PLN
(Persero) Sektor Pengendalian Pembangkitan Bukittinggi PLTA Maninjau antara
lain :
1)
2)
3)
4)

Proses dasar pembangkitanPLTA Maninjau


Prosescooling water system
Peralatan cooling water system
Prosedurpemeliharaancooling water systempada PLTA Maninjau.

5. Metode Pengumpulan Data

Metode

pengumpulan

data

merupakanfaktor

yang

pentingdalampenyusunanlaporan, dalamhalinimetodepengumpulan data yang


penulisgunakanadalah:
a. Observasilangsungkelapanganuntukmengetahuiperalatan-peralatan

yang

digunakanpada PLTA Maninjau.


b. Bertanyakepadakaryawandanstaf di PLTA Maninjau.
c. Metodemengumpulkan

data

daninformasidaribuku-

bukupenunjangsebagaireferensi.

B. Deskripsi PT. PLN (Persero) Sektor Pengendalian Pembangkitan Bukittinggi


PLTA Maninjau.
Didalam deskripsi tentang perusahaan/industri dimana PLI dilaksanakan akan
dibahas mengenai sejarah berdirinya perusahaan/industri, struktur organisasi dan
fasilitas yang tersedia di perusahaan tersebut.

Gambar 1.1. Gedung Sektor Pembangkitan Bukittinggi (SBKT)

Sektor Pembangkitan Bukittinggi (SBKT) melakukan pengolahan operation


dan maintenance seluruh unit Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di wilayah
provinsi Sumatera Barat. Sektor pembangkitan Bukittinggi ini telah meraih sertifikat
ISO 9001 (Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja) serta memperoleh
penghargaan Zero Accident Award (ZAA).
1. Sejarah Berdirinya PLTA Maninjau
PLTA Maninjau berada disebelah barat daya Danau Maninjau, terleta kirakira 125 Km pinggir pantai keutara kota Padang. Keseluruhan proyekPLTA
Maninjau merupakan daerah vulkanik yang terletak dipinggir

Bukit

Barisan.

Bukit Barisan ini memanjang hampir tidak ada putus-putusnya dari ujung yang
satu ke ujung yang lainya padapinggir sebelah barat Pulau Sumatra

dengan

evaluasi yang bervariasi,elevasi yang tertinggi dari bukitinggi mencapai ketinggian


400 meter. Danau Maninjau merupakan suatu kaldera yang sudah mati dengan
tinggi permukaan air 464 meter, pinggiran perbukitan dikelilingi danau sangat
curamdengan ketinggian sekitar mencapai 800 meter.

Gambar 1.2. Power House PLTA Maninjau

Rencana pembangunan PLTA Maninjau ini sudah berlangsung sejak zaman


kolonial

Belanda

dan

Jepang, tetapi

realisasi

dari

perencanaan

tersebut

dilakukan sekitar tahun 1965, sebuah perusahaan konsultant koe co Ltd. Japan,
mengadakan penelitian tentang kemungkinan dibangunnya pembangkit listrik
dimaninjau. Setelah diadakan penyelidikan ulang oleh sebuah Firma dari
Jerman, Lehmayerir Internasinal Gmbh mengadakan studi menyeluruh terhadap
masalah pembangunan pembangkit tenaga listrik dimaninjau pada tahun 1977.
Hasil studi tersebut dijadikan sebagai pedoman untuk pembangunan PLTA
Maninjau.
Penelitian

terakhir

yang

dilakukan

oleh

pihak

PLN pembangunan II

PIKITRING Sumbar-Riau yang saat itu dikepalai oleh bapak Ir. Januar Muin,
dilakukan bersama beberapa konstributor lainya pada awal tahun 1975. Hasil
penelitian tersebut pada tahun 1976 dijadikan sebagai salah satu pedoman
pemerintah untuk memperoleh dana pinjaman dari ADB (Asian Development
Bank) untuk keperluan pembangunan PLTA Maninjau.
Pada tahun 1977 pihak PLN menunjuk konsultan Electrowat Enggineering
service Ltd Zurich Switzerland dan Nippon Koei Ltd Jepang untuk memulai
pembangunan proyek PLTA maninjau, pelaksanaan proyek yang dilakukan
kedua perusahaan ini meliputi pekerjaan perencanaan, pembangunan dan
pemasangan alat-alat listrik dan mesin selama pelaksanaan proyek. Sebagai
kontraktor pelaksana pembangunan power house (bangunan gedung) sentral
PLTA Maninjau dan pembangunan trowongan (tunnel) dan dam (weir) serta
pintu

masuk

air (intake). Pekerjaan

ini

dilaksanaan

oleh

kontraktor

OBAYASHIGUMI Co. Ltd (meliputi pekerjaan sipil).


Pekerjaan pintu air termasuk sistim kontrolnya, pembangunan pipa pesat
(penstock) dan

pipa pembagi (manifold) dilaksanakan oleh kontraktor

KURIMOTO Co. Ltd. Untuk pekerjaan elektro mekanik meliputi pengerjaan


pemasangan Turbin dan Generator serta seradang hubung (switch yard)
dilaksanakan dan diawasi oleh kontraktor SUMITOMO Co. Ltd dengan

pengerjaan turbin dilaksanakan oleh TOSHIBA, sedangkan bagian generator dan


switch

yard dilaksanakan

oleh MEIDENSA. Penyelesaian

proyek

tersebut

dilaksanakan dengan empat tahap pemasangan turbin dan generator dengan


tahap pengoperasian yaitu:
1 Tahapan pertama turbin unit IV tanggal 13 September 1983
2 Tahapan kedua turbin unit II tanggal 2 Oktober 1983
3 Tahapan ketiga turbin III tanggal 13 Oktober 1983
4 Tahapan kempat turbin unit I tanggal 13 November
Peresmian PLTA Maninjau dilaksanakan oleh presiden Soeharto pada
tanggal

28 Desember

1983, saat

itu PLTA

Maninjau

berada

dibawah

pengawasan dan operasional PLN Wilayah III Sumbar-Riau sebagai salah satu
bagian dari satu administrasi surat keputusan Direksi No. 079/DIR/82. Sesuai
dengan tingkat perkembangan organisasi selanjutnya, maka dengan surat
keputusan Direksi No. 097.K/023/DIR/1997, PLN Sektor Bukittinggi berubah
nama menjadi PT. PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagsel Sektor Pembagkitan
Bukittinggi yang berkedudukan di Bukittinggi dengan unit kerja PLTA Maninjau
Lubuk Sao.
Tenaga listrik yang dihasilkan PLTA Maninjau dengan daya terpasang 4 X
17 MW dan tegangan 10 kv dinaikan menjadi 150 kv melalui trafo utama dan
disalurkan melalui jaringan transmisi 150 kv yang terinterkoneksi dengan sistem
Sumbagtengsel yang harus mengikuti aturan Unit Pengaturan Beban (UPB)
yang terletak di Lubuk Alung, yaitu:
1

Line 1

: Pariaman

Line 2

: Lubuk Alung

Line 3

: Padang Luar

Line 4

: Simpang 4 I (satu)

Line 5

: Simpang 4 II (dua)

Untuk melayani konsumen di Lubuk Basung, Maninjau dan Bukittinggi


digunakan transformer 150/20 kv yang disalurkan melalui feeder I,II,III dan
IV Lubuk Basung dan feeder Bukittinggi.

Gambar1.3. Pintu Air Masuk (Intake) PLTA Maninjau

Gambar 1.4. Intake dan Power Hause PLTA Maninjau


Pekerjaan pintu air termasuk system kontrolnya, pembangunan pipa pesat
(Penstock) dan pipa pembagi (Manifold) dilaksanakan oleh kontraktor KURIMOTO
Co. Ltd. Untuk pekerjaan elektromekanik meliputi pengerjaan pemasangan Turbin
dan Generator serta Switch Yard dilaksanakan

dan diawasi oleh kontraktor

SUMITOMO Co. Ltd dengan pengerjaan turbin dilaksanakan oleh TOSHIBA,

10

sedangkan bagian generator dan

Switch Yard dilaksanakan oleh MEIDENSA.

Penyelesaian proyek tersebut dilaksanakan dengan empat tahap pemasangan turbin


dan generator dengan tahap pengoperasian yaitu:
1.
2.
3.
4.

Tahapan pertama turbin unit IV tanggal 13September 1983


Tahapan kedua turbin unit II tanggal l2 Oktober 1983
Tahapan ketiga turbin unit III tanggal 13 Oktober 1983
Tahapan keempat turbin unit I tanggal 13November 1983
Peresmian PLTA Maninjau dilaksanakan oleh Presiden Soeharto pada tanggal

28 Desember 1983, saat itu PLTA Maninjau berada dibawah pengawasan dan
operasional PLN

Wilayah III Sumbar-Riau sebagai salah satu bagian dari satu

administrasi surat keputusanDireksi No.079/DIR/82. Sesuai dengan tingkat


perkembangan organisasi selanjutnya, maka dengan surat keputusan Direksi
No.097.K/023/DIR/1997, PLN Sektor Bukittinggi berubah nama menjadi PT. PLN
(Persero) Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan Sektor Pembagkitan Bukittinggi
yang berkedudukan di Bukittinggi dengan unit kerja PLTA Maninjau Lubuk Sao.

Gambar 1.5. Lokasi PLTA Maninjau

11

2. Visi Dan Misi PT.PLN (Persero)


Visi
Menjadi perusahaan pembangkitan terkemuka dan unggul di Indonesia dengan

kinerja kelas dunia dengan bertumpu pada potensi insani.


MISI
1. Menjalankan usaha pembangkitan energi listrik yang efisien, handal, dan
berwawasan lingkungan.
2. Menerapkan tata kelola pembangkitan kelas dunia yang didukung oleh
sumber daya manusia berpengalaman dan berpengetahuan.
3. Menjadikan budaya perusahaan sebagai tuntunan didalam pelaksanaan tugas
dan tanggung jawab.
MOTTO
energi kita untuk kehidupan yang lebih baik
(our energy for a better life)

3. Struktur Organisasi

14

Gambar 1.6. Struktur Organisasi


4. Data Non-Teknis PLTA Maninjau

Gambar 1.6. Danau Maninjau


Tabel 1.Area Danau Maninjau
No

Data Area Danau

Satuan

15

1
2
3
4

Luas Daerah Curahan Hujan


LuasDanau
Elevasi Air Tertinggi
Elevasi Air Terendah

235 Km2
94 Km2
464m
461,5m

5. Bendungan

Gambar 1.7. Bendungan Air

Tabel 2.Data Bendungan


N
o
1
2
3
4
5

Data Bendungan Air

Satuan

Tinggi
Lebar Masing-masing
Panjang Puncak Total
Elevasi Dasar
Tinggi Air Maksimum

2m
60 m
6m
462 m
462 m

6. Weir
Tabel 3.Dataweir
No
1
2
3
4

Data Weir
Tipe
Tinggi
Lebar
ElevasiDasar

7. Intake PLTA Maninjau

Satuan
DoubleGate
2,5 m
2 x 3,5 m
462 m

16

Gambar 1.9.Intake
Tabel 4.Data Intake
No
1
2
3
4

Data Intek
Tipe
Tinggi
Lebar
ElevasiDasar

Satuan
RollerGate
3,4 m
2 ,4 m
453,75 m

8. Terowongan Pipa Pesat

Gambar 1.10. Terowongan PipaPesat


Tabel 5.Terowongan Pipa Pesat
No
1
2
3
4

Data Terowongan Pipa Pesat

Satuan

Diameter
Panjang
Diameter Pipa
Panjang Pipa

3,4 m
4,3km
2,7 m
584m

17

5
6

Sudut Kemiringan
ManiFold

60
Steel Linier

9. TailRace

Gambar 1.11.Tail Race PLTA Maninjau

Tabel 6.Tail Race


No
1
2

Data Tail Race


Ukuran ( L x T )
Panjang Saluran

10. Gedung Pembangkit

Satuan
2(2,8X 3,3)m
350 m

18

Gambar 1.11.Gedung Pembangkitan


Tabel 1.12.Luas Area Pembangkitan
No
1
2
3
4

Data Area Pembangkit

Satuan

Tipe
Panjang
Lebar
Tinggi

Semi UnderGruond
56m
28 m
45 m

11. Data Teknis PLTA ManinjauTurbin

19

Gambar 1.13.Bentuk TurbinPLTAManinjau


Tabel 11.Spesifikasi Turbin
No

Data Turbin

Satuan

Type

VF-IRS

Merek

TOSHIBA

Kapasitas terpasang

17,5 KW

Serial No.

3601075

Rate Head

210,1m

Max Head Efisien

226m

Debit air max

9,54m

Kecepatan Putar

600 rpm

EnergiYang Dihasilkan

99,2m/kW

Kecepatan Awal

1,02 rpm

10

12. Generator Pembangkit

20

Gambar 1.14.Unit Generator


Tabel 12 Spesifikasi Generator
No

Data Generator

Satuan

Type

VF-IRS

Frekuensi

50 Hz

Kapasitas terpasang

4 x17,KW

Output

4x 21,5MVA

Power Factor

0,79 %

226m

Speed
Voltage

HubunganGulungan

Double Star

Perbandingan Shortcircuit

: 1,15

10

TekananOliPenggerak

110 Kg/cm2

11

Tekanan UdaraPenggerak

12 18 Kg / cm2

12

PendinginUdara

1300 liter/liter

13

KelasIsolasi

B Class

14

Arus

2150 A

15

TeganganExiter

150 volt

16

Standard

jec. 144

17

Produksitahunan

1981

13. Main Transformer

10 KV

21

Gambar 1.15.Transformator
Tabel 13.Trafo
No

Data Trafo

Satuan

Tipe

BoarDiagraf

Kapasitas

16000/21500kVA

Tegangan

P.10KV,S 150KV

Frekuensi

50Hz

Cooling

Onan

14. Aktifitas Perusahaan


Tenaga listrik yang dihasilkan PLTA Maninjau dengan daya terpasang
4X17 MW dan tegangan 10 KV dinaikan menjadi 150 KV melalui transformer
step-up 10/150 KV yang terinterkoneksi dengan sistem Sumbagteng dengan

22

tujuan untuk melayani jaringan interkoneksi Sumbar-Riau melalui SUTT 150


KV Maninjau Lubuk Alung- Padang- Ombilin- Padang Luar- PayakumbuhKoto Panjang Garuda Sakti Teluk Lembu dan gardu-gardu induk serta
tegangan menengah 20 KV. Secara terperinci sistem transmisi tenaga listrik 150
KV PLTA Maninjau adalah sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.
e.

Line
Line
Line
Line
Line

1
2
3
4
5

: Maninjau Pariaman 40 km
: Maninjau Lubukalung 56 km
: Maninjau - Padang luar 42 km
: Maninjau - Simpang 4 I (satu) 75 km
: Maninjau - Simpang 4 II (dua) 75 km

Untukm elayani konsumen disekitar daerah PLTA Maninjau itu sendiri


digunakan Transformer step-down 150/20 KV yang disalurkan melalui feederfeeder. Secara terperinci sistem transmisi tenaga listrik 20 KV PLTA Maninjau
adalah sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.

Feeder 1
Feeder 2
Feeder 3
Feeder 4

: Maninjau
: Lubuk Basung 1
: Pasar Usang
: Lubuk Basung

C. Perencanaan Kegiatan PLI di PLTA Maninjau


Pengalaman Lapangan Industri (PLI) dilaksanakan pada perusahaan/industri
yang bergerak di bidang jasa atau non jasa yang disesuaikan dengan jurusan
masing-masing mahasiswa. Pemilihan tempat direkomendasikan dari mahasiswa
kemudian disetujui oleh koordinator PLI jurusan dan ditetapkan oleh koordinator
Unit

Hubungan

Industri

(UHI).

Penulis

melaksanakan

PLI

di

PT.

PLN(Persero)Sektor Pengendalian Pembangkitan Bukittinggi PLTA Maninjau.


Dalam melaksanakan Pengalaman Lapangan Industri ini, metode
pengumpulan data yang penulis gunakan adalah:
1. Kegiatan Umum :

23

a. Pengenalanterhadapsejarahperusahaan,

ruanglingkupkerja,

tatatertibperusahaandanstrukturorganisasiperusahaan.
b. Pengenalan proses produksiperusahaan.
c. Pengenalanalattentang bagian-bagian Main coolingwaterpumpyang
digunakan di PLTA Maninjau.
2. Kegiatan Khusus :
a. Mengetahuiapa itu Cooling Water systempada PLTA Maninjau
b. Mengetahui fungsicooling Watersystem di PLTA Maninjau.
c. Observasi langsung kelapangan untuk mengetahui peralatan-peralatan
yang digunakan pada PLTA Maninjau.
d. Bertanya kepada karyawan dan staf di PLTA Maninjau.
e. Metode mengumpulkan data dan informasi dari buku-buku penunjang
sebagai referensi.
Penulis berharap Pengalaman Lapangan Industri ini dapat dilaksanakan
pada tanggal 20 Juni 2016 s/d 10 Agustus 2016.
Rincian kegiatan dapat di lihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 14. Jadwal Pelaksanaan Pengalaman Lapangan Industri
No

Tanggal

Kegiatan

Catatan

1
2

20 Juni 2016
21 Juni 23 Juni 2016

Kedatangan di Perusahaan
OrientasiLapangan

Tanggal dan

24 Juni 31 Juli 2016

Kegiatanpengambilan data

ini dapat

25 Juli 5 Agustus 2016

danikutsertapada proses bekerja


PenyusunanLaporan

berubah

10 Agustus 2016

KembalikeKampus

lama kegiatan

sesuai dengan
kondisi
perusahaan.

D. Pelaksanaan Kegiatan Pengalaman Lapangan Industri serta Hambatan


-Hambatan yang Ditemui
Pelaksanaan kegiatan PLI yang dimulai tanggal 20 Juni 2016 sampai dengan
10 Agustus 2016 dalam hal ini pemeliharaan seluruh unit PLTA Maninjau,telah
berjalan sesuai perencanaan. Disiplin ilmu yang penulis pahami selama

24

menempuh studi di Jurusan Teknik Mesin FT UNP sangat berhubungan dengan


apa yang penulis temui di Industri khususnya di PLTA Maninjau. Dari mata
kuliah yang berhubungan dengan industri dapat membantu penulis dalam
memahami konsep pembangkitan listrik di PLTA Maninjau.
Dalam proses kegiatan PLI di PLTA Maninjau, penulis menemukan
beberapa hambatan yaitu pemeliharaan di bidang kelistrikan yang tidak didapat
pada bangku perkuliahan.sebagai contoh,pemeliharaan Generator yang tidak ada
di pelajari di perkuliahan dan menyebabkan penulis kurang megerti dan
memahaminya. Namun, penulis selalu berusaha untuk belajar dan memahami
sesuai yang butuhan PLTA Maninjau, yakni bidang pemesinan dan kelistrikan.
Hambatan ini akan penulis jadikan pelajaran dan sebagai pengalaman yang
berharga untuk kedepannya.
Kegiatan pemeliharaan rutin yang direncanakan PLTA Maninjau,tidak
seluruhnya berjalan sesuai rencana. Banyak faktor yang menghambat
pemeliharaan rutin pada setiap unit, salah satunya adalah kerusakan pada
komponen turbin yang di luar dugaan, seperti kebocoran pada U-Packing
turbin,kekurangan oli pada Main Cooling Water Pump membuat pompa cepat
panas. Namun, hambatan ini dapat di atasi dengan cara penambahan jadwal
pemeliharaan di luar jadwal yang telah di rencanakan.

25

BAB II
PEMBAHASAN
A. ASPEK TEORITIS
1. Prinsip dasar Pembangkitan PLTA Maninjau

Gambar 2.16. Proses pembangkit PLTA Maninjau


PLTA Maninjau merupakan salah satu pembangkit hydro sektor Bukittinggi yang
bersumber dari Danau Maninjau dengan luas 94 km2, elevasi max 464,00 mdpl, dan min
461,50 mdpl. Energi Potensial yang dimiliki Danau Maninjau mampu mengalirkan air
melalui headrace tunel sepanjang 4,3 km. Air tersebut akan melewati surge tank yang
berfungsi sebagai pengaman apabila terjadi water hammer menuju penstock sepanjang
578 m dengan beda ketinggian permukaan atas dan bawah 235 m

sehingga

mengubahnya menjadi Energi Kinetik melewati inlet valve. Kemudian menghantam


runner turbin disini terjadi perubaan Energi Kinetik menjadi Energi Mekanik yang
ditandai dengan adanya putaran pada poros turbin yang dikopel dengan rotor generator
karena adanya putaran di rotor generator yang mengeluarkan medan magnit disebabkan
sistem penguat dan dipotong oleh kumparan stator sehingga menghasilkan Energi
Listrik.
2. Pengertian UmumSistem Pendingin Air

26

Sistem pendingin adalah suatusistem yang menyangkut tentang pendinginan suatu


peralatan. Sistem pendinginan dimaksudkan untuk mengurangi panas berlebih darisuatu
peralatan agar peralatan tersebuttidak cepat rusak.dalam sistem pendingin ada beberapa
media yang digunakan untuk pendinginan yaitu air, minyak danudara.sistem pendingin
pada PLTA Maninjau menggunakan media air sebagai media pendingin atau yang biasa
disebut dengan Cooling water system.
Dengan sirkulasi air, yangmenggunakan gravity head. Alasanmemilih air sebagai
media pendinginadalah karena air lebih cepat dalammendinginkan temperatur
daripadaminyak atau udara, hal ini dikarenakanair memiliki temperatur yang
lebihdingin daripada udara ataupun minyak.Tetapi ada pula kelemahanapabila
menggunakan air yakniapabila terjadi kebocoran pada pipa pendingin maka air tersebut
akan bercampur dengan minyak sehinggaakan terjadi gangguan pada peralatanperalatan yang mengalamikebocoran. Peralatan yang digunakanadalah head cooling
water tank,reducing valve dan main strainer.
3.

Jenis Sistem Pendingin

Berdasarkan siklusnya,terdapat 2 (dua) macam sistem air pendingin, yaitu sistem


siklusterbuka dan sistem siklus tertutup.PLTA menggunakansistem siklus terbuka
karena air yang dipasok dari bendungansetelah digunakan langsungdibuang ke tail race.
Serta dengan penggunaan siklus terbuka disinisangat efisien daripadamenggunakan
siklus tertutup.hal ini karena jika PLTAmenggunakan siklus tertutupmaka masih
memerlukan alat penunjang lain yang biayanyaakan semakin membengkak.
4.

Bagian Dan Fungsi Sistem Pendingin Pada PLTA

Fungsi dari sistem pendingin pada PLTAadalah untuk menjaga agar mesin tidak
beroperasi padatemperatur yang sangat tinggi(overheating) maka sangatdiperlukan
sistem pendinginyang efektif. Jika mesindioperasikan pada temperatur tinggi maka
efisiensi

mesin

akanmenurun.

Pada

dasaarnya

sistem pendingin

pada

PLTAmenggunakan air yang diambildari water supply dan dipompaoleh sebuah pompa
sentrifugal.

27

Adapun Peralatan Yangdigunakan Pada Sistem Pendinginan :


a. Centrifugal Pump
Dasar Pompa adalah suatu alat pengangkut untuk memindahkan zat cair dari suatu
tempat ke tempat lain dengan memberikan gaya tekan terhadap zat yang akan
dipindahkan,seperti misalnya pemindahan crude oil dari tanki penambungan bahan baku
yang akan dialirkan ke kolom Destilasi. Pada dasarnya gaya tekan yang diberikan untuk
mengatasi friksi yang timbul karena mengalirnya cairan di dalam pipa saluran karena
beda evevasi (ketinggian) dan adanya tekanan yang harus dilawan.
Perpindahan zat cair dapat terjadi menurut ara horizontal maupun vertical, seperti
zat cair yang berpindah secara mendatar akan mendapatkan hambatan berupa gesekan
dan turbulensi, sedangkan zat. Pada zat cair dengan perpindahan ke arah vertical,
hambatan yang timbul terdiri dari hambatan-hambatan yang diakibatkan dengan adanya
perbedaan tinggi antara permukaan isap (suction) dan permukaan tekan ataupun tahanan
luar, maka arus akan mengalir pada konduktor-konduktor rotor. Karena konduktorkonduktor rotor yang mengalirkan arus ditempatkan di dalam daerah medan magnet
yang dihasilkan stator, maka akan terbentuklah gaya mekanik (gaya lorentz) pada
konduktor-konduktor rotor. Hal ini sesuai dengan hukum gaya lorentz yaitu bila suatu
konduktor yang dialiri arus berada dalam suatu kawasan medan magnet, maka
konduktor tersebut akan mendapat gaya elektromagnetik.
Centrifugal Pumpadalah suatu pompa yang memindahkan cairan dengan
memanfaatkan gaya sentrifugal yang dihasilkan oleh putaran impeler. Pompa
centrifugal mengubah enegi kecepatan menjadi energi tekanan. Ada juga yang
menyebutnya sebagai mesinkecepatan karena semakin cepat putaran pompanya maka
akan semakin tinggi tekanan (head) dihasilkan.

28

Gambar 2.16.Centrifugal Pump


b. Motor 3 PhaseMain Cooling Water Pump PLTA Manijau
Motor induksi merupakan motor arus bolak balik yang paling banyak digunaan di
dunia industri. Penamaannyaberasal dari prinsip kerjanya, bahwa arus rotor motor ini
bukan diperoleh dari sumber tertentu tapi merupakan arus terinduksi sebagai akibat
adanya perbedaan relatif antara putaran rotor dengan medan putar yang dihasilkan oleh
arus stator.

29

Gambar 2.17.MotorMCWP

c. PompaMain Cooling water Pump


Pompa pendingin utama yang berfungsi untuk memompakan air yang ada pada
ruang Stop logmenuju ke head Tank,yang melewati

Main Strainersebelum di

pergunakanuntuk mendinginka peralatan-peralatan di PLTA Maninjau. Khususnya untuk


mendinginkan Generator dan Turbin.

Gambar 2.18. Pompa


d. Head Tank

30

Head tank memilki total kapasitas 8x3,5x7 Volume air.Head tank berfungsi untuk
menjaga flow dari air pendingin didalam close auxiliary cooling water system pada
supply utama dari sirkulasi sistem low.Head tank dilengkapi oleh dengan sebuah
vitting,level indikator dan sebuah tabung Level (Level Botlle).Level Botlle di lengkapi
Floating Swicth.

.
Gambar 2.19.Head Tank PLTA Maninjau
e. Main Strainer
Main Strainer berfungsi untuk menyaring kotoran yang terdapat pada air sebelum
di gunakan untuk pendingin pada seluruh peralatan yang pada PLTA Maninjau. Air yang
digunakan berasal darihead tank yang kemudian di alirkan ke main strainer
menggunakan gravitasi.Di dalam main strainer air disaring ke Booster pump untuk
dinaikan tekananya.Booster Pump ini berfungsi untuk menaikan tekanan air di dalam
pipa yang berasal dari valve 20 WC,yang kemudian dialirkan ke water plow relay
menuju turbin bearing dan shaftseal dan ada juga yang dialirkan ke sub strainer dan
alat penditeksi tekanan air (63 WB dan 63 W).Selain itu booster pump juga berfungsi
untuk memompa air dari main strainer ke stuffing box untuk Pendinginan Shaft seal
dan menahan tekanan dari

draft tube,juga untuk Pendingin Turbin Bearing

berkapasitas 120 Liter /menit.Pengoperasian booster pump bergantian secara periodik.

31

Gambar 2.20.Main

stariner

f. Sub Strainer
Sub

Strainer

berfungsi sebagai

penyaring

airyang

dialirkan ke shaft

seal danTurbin Bearing dan ada juga yang dialirkan menuju alat pengukur tekanan dan
alat pendeteksi air.
g. Water flow Relay
Water flow Relay berfungsi untuk menditeksi aliran air yang mengalir didalam
pipa pendingin.

Gambar 2.21. Flow Relay


h. Air Cooler
Air cooler berfungsi menyerap panas udara yang di dalam generatoragar tetap
dalam kondisi baik beroperasi.

32

Gambar 2.22. Air Cooler


i. Panel Pompa Utama.
Secara umum panel pompa berfungsi untuk pengendali pompa pendingin di
sistem main cooling water pump PLTA Maninjau.
1.

Motor dilindungi oleh over load jika pompa macet atau ampere naik

2.

secara tiba-tiba. Maka overload akan mematikan aliran listrik .


Phase protector, dimana alat ini akan mematikan motor pompa jika

3.

salah satu phase mati, sehingga tidak membuat motor terbakar .


Ampere meter dan Volt meter , yang mana kondisi pompa harus

terjaga voltage maupun arusnya sehingga umur motor dapat panjang.


4.
Saklar automatic dan manual juga sudah dipasang dalam panel ini.

33

Gambar 2.23. Panel Pompa


B. PROSES TAHAPAN-TAHAPAN MAINTENANCE COOLING WATER
SYSTEM
Pada umumnya komponen turbin air dan alat bantunya di lakukan dalam 3
tahapan pemeliharaan, yaitu :
1 Pemeliharaan Preventif
Pemeliharaan preventif adalah perawatan yang bertujuan mencegah terjadinya
kerusakan, atau cara perawatan yang di rencanakan untuk pencegahan
(preventif). Perawatan preventif di lakukan secara rutin, dilakukan secara
berulang dengan priode waktu harian, mingguan dan bulanan dengan kondisi
sedang beroperasi. Seperti pemeriksaan temperatur bearing, air pendingin,
minyak tekan dan sebagainya, pada sistim pendingin air yaitu meliputi :
a. Water Cooling Sistem
1. Predictive maintenance
2. Pemeriksaan Pelumasan Pompa Air
3. Pemeriksaan Sistem Pemipaan air Pendingin turbin Bearing
4. Pergantian Grasse motor pompa air Pendingin
5. Pembersihan Filter air pendingin
b. Instalasi Pemipaan
1. Pengecekan Head tank dan Pemipaan
2. Pengecekan Motor pompa hydrant
3. Pelumasan Valve
c. Main Strainer

34

1. Membilas air Main strainer.


2. Membersihkan Body Main strainer.
d. Shaft seal
1. Membersihkan filter Shaft seal.
e. Pembersihan stop Log
1. Membersihakan Ruang stop log.
f. Flow relay
1. Pembersihan Flow relay
2. Pemeliharaan Korektif
Pemeliharaan korektif adalah tindakan perawatan untuk mengembalikan fungsi
sebuah peralatan produksi yang mengalami kerusakan, baik ringan, sedang maupun
parah, agar bisa melakukan fungsinya dalam mendukung proses produksi dalam sebuah
plan atau pabrik. Seperti pemeliharaan cooling water system pada PLTA Maninjau
terjadi kerusakan pada :
1
2
3

Flow relay pada saat start Unit muncul indikasi alarm.


Air pendingin habis di karenakan pompa mati.
Kegagalan pada auxiliary drainage.

2 Predictive Maintenance
Pemeliharaan predictive adalah sistem pemeliharaan preventive berbasis kondisi
peralatan dengan cara memonitori peralatan secara terus menerus atau berkala pada saat
mesin operasi atau stop. Hasil pengecekan dianalisa dan di evaluasi serta di simpulkan
prakiraan kondisi untuk di tuangkan dalam rekomendasi pemeliharaan.
Pengecekan rutin kondisi mesin ada 2 macam yaitu :

35

1. Kondisi langsung, yaitu meliputi pengukuran volume/massa aliran, suhu,


kecepatan dan tekanan.
2. Kondisi tidak langsung, yaitu meliputi pengukuran vibrasi, jumlah dan ukuran
partikel suatu komponen yang terlepas, kondisi keretakan, nilai konduktivitas,
kebisingan dan tahanan listrik.
Objek yang di pantau pada cooling water system PLTA Maninjau untuk
keperluan pemeliharaan predictive meliputi :
a. Tahanan isolasi
b. Vibrasi Bearing MCWP
c. Temperatur panel MCB

C. PEMBAHASAN
1. Sistem Air Pendingin PLTA Maninjau

36

Gambar 2.24. Sistem Pendingin PLTA Maninjau


Sistem air pendingin / sirkulasi air pedingin PLTA Maninjau berdasarkan level air
di Head Tank apabila level air 258,65 Floating Switch akan memerintahkan Main
Water Pumpbekerja memompakan air sampai level air di Head Tank 260,50 mdpl secara
prioritas tergantung jumlah unit yang beroperasi :

1 - 2 unit yang beroperasi hanya satu pompa akan beroperasi secara hidup mati
3 unit yang beroperasi satu pompa akan bekerja terus menerus
4 unit yang beroperasi pompa prioritas akan bekerja terus menerus dan pomp
bantu akan bekerja hidup mati.
Untuk mensupply air dari hasil pemakaian turbin di Tail Race menuju Head Tank
pada elevasi 257,5 mdpl melewati Check Valve dengan ketinggian 30 M kemudian air
tersebut disupply secara gravitasi melalui Main Stainer untuk disaring selanjutnya
menuju ke Upper & Thrust Bearing sebanyak 300 liter/menit, Air Cooler sebanyak
1300liter/menit, Lower Bearing sebanyak 120 liter/menit kemudian keluar ke Tail Race
melalui Flow Relay sedangkan untuk Turbin Bearing sebanyak 130 liter/menit, Shaft
Seal sebanyak 30 liter/menit, keluarannya ke Sump pit melalui Flow Relay. Supply air
pendingin untuk Genset tidak melewati Main Stainer dan keluarannya langsung ke Tail
Race Manifold. Apabila ketiga Main Water Pump tidak bisa di hidupkan sementara di
butuhkan air pendingin,supply air bisa di ambil melalui Reducing valve.
2. Uraian Pemeliharaan
Bagian peralatan sistem pendingin merupakan bagian yang penting dari sistem
pendinginan yang dioperasikan pada PLTA Maninjau. Secara umum Sistem air
pendingin / sirkulasi air pedingin

PLTA Maninjau berdasarkan level air di Head

TankFloating Switch akan memerintahkan Main Water Pump bekerja memompakan air

37

ke head tank setelah pemakaian turbin kemudian disupplay ke bagian-bagian yang di


dinginkan dan keluar ke manifold.
Pemeliharaan dan Pembersihan bagian Sistem pendingin PLTA Maninjau
dilakukan dengan tujuan memeriksa dan memelihara, pemeriksaan korosi agar tidak
adanya kendala-kendala yang tidak di inginkan saat sistem beroperasi.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan kegiatan pengalaman lapangan industri di PT. PLN (Persero)
Pembangkitan unit Maninjau berlangsung, maka penulis dapat mengambil kesimpulan
sebagai berikut :
1.

Prinsip kerja PLTA Maninjau merupakan salah satu pembangkit hidro sektor
Bukittinggi yang bersumber dari Danau Maninjau. Energi Potensial yang dimiliki
Danau Maninjau mengalirkan air melalui headrace tunel. Air tersebut akan

38

melewati surge tank yang berfungsi sebagai pengaman apabila terjadi

water

hummer menuju penstock sehingga mengubahnya menjadi Energi Kinetik melewati


inlet valve. Kemudian menghantam runner turbin disini terjadi perubaan Energi
Kinetik menjadi Energi Mekanik yang ditandai dengan adanya putaran pada poros
turbin yang dikopel dengan rotor generator karena adanya putaran di rotor
generator yang mengeluarkan medan magnit disebabkan sistem penguat dan
2.

dipotong oleh kumparan stator sehingga menghasilkan Energi Listrik.


Proses Cooling water system merupakan sistem air pendingin PLTA Maninjau
berdasarkan level air di Head Tank kemudian Floating Switch akan memerintahkan
Main Water Pump bekerja memompakan air sampai level air di Head Tank secara

prioritas tergantung jumlah unit yang beroperasi :


1 - 2 unit yang beroperasi hanya satu pompa akan beroperasi secara hidup mati
3 unit yang beroperasi satu pompa akan bekerja terus menerus
4 unit yang beroperasi pompa prioritas akan bekerja terus menerus dan pompa
bantu akan bekerja hidup mati.
Untuk mensupply air dari hasil pemakaian turbin di Tail Race menuju Head Tank
melewati Check Valve dengan ketinggian 30 M kemudian air tersebut disupply
secara gravitasi melalui Main Stainer untuk disaring selanjutnya menuju ke Upper
& Thrust Bearing, air Cooler, Lower Bearing kemudian keluar ke Tail Race melalui
Flow Relay sedangkan untuk Turbin Bearing, Shaft Seal, keluarannya ke Sump pit
melalui Flow Relay. Supply air pendingin untuk Genset tidak melewati Main
Stainer dan keluarannya langsung ke Tail Race Manifold. Apabila ketiga Main
Water Pump tidak bisa di hidupkan sementara di butuhkan air pendingin, supply air
bisa di ambil melalui Reducing valve.
3.
fungsi cooling water system adalah Main Cooling water system mempunyai
peran yang sangat penting dalam proses menjamin ketersedianya pasokan listrik,
dimana perannya adalah sebagai pelindung komponen-komponen yang penting
dalam proses terbangkitnya listrik di PLTA Maninjau seperti Generator dan Turbin.
Mendinginkan Generator yang mana bagian-bagian Generator yang di dinginkan

yaitu: Upper Bearing, Cooler dan Lower Bearing.


Mendinginkan Turbin pada Bagian Turbin yang yaitu: Turbin Bearing.
Mendinginkan Peralatan-peralatan yang ada pada PLTA Maninjau untuk
meningkatkan efisiensi peralatan agar mengurangi kerusakan pada peralatan
yang mengandung panas .

39

4. Pemeliharaan cooling water system di PLTA Maninjau di lakukan dalam 3 tahapan,


yaitu :
1. Perawatan Preventif adalah perawatan yang bertujuan mencegah terjadinya
kerusakan, atau cara perawatan yang di rencanakan untuk pencegahan
(preventif). Perwatan preventif di lakukan secara rutin, dilakukan secara
berulang dengan priode waktu harian, mingguan dan bulanan dengan kondisi
sedang beroperasi. Seperti Pemeriksaan temperatur bearing, air pendingin,
minyak tekan dan sebagainya, pada sistim pendingin air.
2. Pemeliharaan Korektif adalah tindakan perawatan untuk mengembalikan fungsi
sebuah peralatan produksi yang mengalami kerusakan, baik ringan, sedang
maupun parah, agar bisa melakukan fungsinya dalam mendukung proses
produksi dalam sebuah plan atau pabrik. Seperti pemeliharaan cooling water
1

system pada PLTA Maninjau terjadi kerusakan pada flow relay, dan pompa mati.
Predictive Maintenance adalah sistem pemeliharaan preventive berbasis kondisi
peralatan dengan cara memonitori peralatan secara terus menerus atau berkala
pada saat mesin operasi atau stop. hasil pengecekan dianalisa dan di evaluasi
serta di simpulkan prakiraan kondisi untuk di tuangkan dalam rekomendasi

1
2

pemeliharaan.
Pengecekan rutin kondisi mesin ada 2 macam yaitu :
Kondisi langsung
Kondisi tidak langsung
Objek yang di pantau pada cooling water system PLTA Maninjau untuk
keperluan pemeliharaan predictive meliputi, Tahanan isolasi, Vibrasi Bearing
MCWP dan Temperatur panel MCB.

B. Saran
Dari hasil diskusi dan pengalaman lapangan industri penulis menyarankan:
Dalam pemeliharaan selalau mengunakan alat pelindung diri (APD).
Mengutamakan keselamatan kerja dan menjaga kebersihan lingkungan unit.

40