Anda di halaman 1dari 10

KELUARGA BERKWALITAS : FOKUS PADA ASPEK KESEHATAN

Dr Jazil Karimi SpPD K-EMD FINASIM


Simposium di Pekanbaru, 6 Agustus 2016
PENDAHULUAN
Pada prinsipnya semua insan manusia bercita-cita hidup sehat dan berkwalitas.
Sebab dengan modal sehat semua potensi diri akan bisa di kembangkan, dilatih
menjadi unggul, mampu berkiprah dan berkompetisi untuk menunjukkan prestasi
diri. Dan pada gilirannya menjadi contoh tauladan bagi lingkungannya sehingga
mengispirasi orang lain untuk berubah ( agen Pembaharuan), dengan kata lain
berkwalitas memberi manfaat bagi sesama.
Setiap insan akan berkembang, diawali usia bayi menjadi

anak, remaja,

pemuda, dewasa. Kemudian kembali layu setelah memasuki lanjut usia (lansia,
diatas 80 tahun) karena fisiologi menurun sejalan dengan penurunan secara fisik,
psikologis dan sosial, yang kita kenal masa pensiun berkwalitas golden Citizen .
Setiap fase usia tersebut diatas mempunyai problema kesehatan yang khas,
dan berdampak pada kwalitas generasi tersebut. Untuk mendapatkan output
terbaik, maka tidak bisa di pisahkan dari pemahaman faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi kwalitas kesehatan yang didambakan. Terkait faktor pertumbuhan
fisik ( pola makan seimbang, aktivitas fisik dan olahraga),
( sanitasi, sekolah dan kampus, masyarakat, ruang publik dll),

faktor lingkungan
dan lingkungan

sosial.
Bisa di pahami bahwa bila keluarga berkwalitas, dimana mampu memberi
ketauladanan yang di butuhkan anak dalam tumbuh kembang, karena tercipta
suasana kondusif demokratis yang harmonis, dapat dipastikan bahwa si anak kelak
akan siap untuk berpartisipasi di masyarakat. Sebaliknya bila keluarga gagal dan
peranannya diambil alih oleh lingkungan, maka kemungkinan besar akan terbawa
oleh pergaulan negatif ( kenakalan remaja, kekerasan seksual, narkoba, kebut2 an
dll).
Dapat disimpulkan kwalitas keluarga akan menentukan kwalitas generasi
remaja, masyarakat dan bangsa.

Makalah ini mencoba membahas dari sudut

pandang kesehatan, khusus pada segmen usia remaja dan dewasa muda yang
relevan dengan topik.

APA ITU KELUARGA BERKWALITAS


Perdefinisi keluarga adalah unit terkecil dari bangsa. Karena itu mempersiapkan
anak untuk bisa berperan aktif dan berpartisipasi kelak di lingkungan masyarakat
menjadi tanggung-jawab keluarga dimana anak dibesarkan. Model pendidikan yang
diterapkan

dalam

keluarga

akan

menentukan

kwalitas

keberhasilan

dalam

membangun karakter anak. Dari tiga model pendidikan, terbukti bahwa model
pendidikan demokratis lebih unggul bila dibandingkan dengan model lain yakni
model overprotektif dimana anak selalu diatur dan kelak menjadi cenderung pasif
tanpa inisiatif. Atau model Permisif tanpa aturan yang berdampak kelak menjadi
pribadi peragu.
Model pendidikan demokratis bercirikan menuntun anak agar bertanggung
jawab sesuai usia, antara lain memberi apresiasi secara wajar bila berprestasi yakni
dengan memberi pujian yang wajar. Dan sebaliknya

bijak memberi koreksi bila

menemukan kurang sempurna, berupa contoh bukan retorika kata. Jadi orang tua
bukan hanya menyalahkan saja,

berdampak anak dididik untuk berani mencoba

tanpa takut salah dan terbuka menerima koreksi konstruktif. Dengan kata lain
sianak tidak di kondisikan dalam suasana terkungkung oleh kalimat- kalimat

jangan ini, apalagi begitu .


Dalam keluarga berkwalitas

diusia remaja

akan terbentuk karakter yang

diidamkan. Antara lain pintar otak dengan prestasi akademik, mampu berinisiatif
karena rasa tanggung jawab, berkarakter disiplin karena membutuhkan, selalu jujur
karena tidak takut salah, dan mampu membangun bekerjasama dengan siapapun.
Sehingga pada gilirannya sang remaja si mahasiswa/ wi
membangun network ( ukhuwah) dengan lingkungan,
modern, karena

sangat menyadari

tersebut

mampu

sebagai ciri masyarakat

bahwa dizaman moderen sekarang tidak

mungkin hidup tanpa bantuan sekitarnya. Dan mampu membedakan lingkungan


baik, tanpa tergoda.
PROBLEMA KESEHATAN DAN KIAT HIDUP SEHAT
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, metal, spiritual maupun
social yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara social dan
ekonomi ( WHO, UU Kesehatan no 36, 2009). Mencakup 5 aspek dibandingkan UU
no 23/ 1992 hanya 3 aspek ( fisik, mental dan social) saja. Produktif berarti

mempunyai pekerjaan atau penghasilan secara ekonomi, dan secara social memiliki
kegiatan seperti sekolah atau kegiatan pelayanan social. Itulah sebabnya,
kesehatan itu bersifat holistic atau menyeluruh mencakup ke lima aspek tersebut.
Kesehatan secara

fisik

terwujud bila sesorang tidak merasa sakit dan memang

secara klinis tidak sakit, tidak ada gangguan fungsi tubuh. Kesehatan mental (jiwa)
mencakup aspek pikiran dan emosional. Pikiran sehat tercermin cara berpikir logis
( masuk akal), berpikir secara runtut. Emosisional yang sehat tercermin

dari

kemampuan mengekspresikan emosi ( takut, gembira, khawatir, sedih, dll).


Gangguan kesehatan menurut teori klasik ( Blum 1974) disebabkan oleh 4
determinen yang diurut berdasarkan besarnya pengaruh yaitu: 1) faktor lingkungan
fisik ( iklim, sarana dan prasarana) dan non-fisik ( social, budaya, ekonomi, politik);
2) factor prilaku; 3) Pelayanan kesehatan; dan 4) Keturunan atau herediter. Khusus
untuk keshatan individu disamping ke empat factor tersebut juga berperan faktor
internal seperti umur, gender, pendidikan dll.
Dalam Piagam Ottawa (1986) menetapkan prasyarat untuk kesehatan (
prerequisites for health) mencakup 9 faktor : Perdamaian, tempat tinggal,
pendidikan (education),

makanan ( food), pendapatan, ekosistem yang stabil,

sumber daya yang berkesinambungan,, keadilan social, dan pemerataan. Dimana


secara akumulatif saling mempengaruhi.
Berbicara tentang Pendidikan ( education), Indeks Pembangunan Manusia yang
di kembangkan oleh Badan Pembangunan- Perserikatan Bangsa- Bangsa (UNDP)
mencakup tiga indicator utama, yakni: pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Karena
ketiga

factor tersebut saling terkait dan juga saling mempengaruhi, maka

rendahnya ketiga factor akan menimbulkan masalah di masyarakat.


Dan kalau di amati di Negara berkembang termasuk Indonesia ada tiga masalah
social yakni a) kebodohan ( igonarancy) akibat dari pendidikan rendah; b) berbagai
penyakit (diseases) akibat dari rendahnya derajat dan pelayanan kesehatan; dan c)
Kemiskinan (Proverty) akibat dari rendahnya ekonomi. Ketiga factor tersebut saling
mempengaruhi seperti diagram 1.
Diagram 1: Hubungan antara Penyakit, Kebodohan dan Kemiskinan.

Kesehatan

Penyakit

Kebodoh
an

Kemiskina
n

Pendidika
n

Ekonomi

Adapun faktor makanan ( foods) dan gizi menjadi asupan utama untuk
kesehatan, sebab tanpa asupan makanan yang berkualitas ( gizi seimbang) maupu
kuantitas nya ( jumlah asupan) orang tidak dapat mencapai derajat kesehatan yang
optimal. Sebab makanan

diperlukan untk pertumbuhan dan pengganti sel tubuh

yang rusak, dan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Kecukupan asupan makanan
pada tataran individu sangat dipengaruhi oleh ketersediaan makanan dalam
keluarga dan pada gilirannya akan berdampak terhadap pendapatan keluarga
tersebut. Dan secara global terbukti bahwa

semakin tinggi pendapatan nasional

bruto suatu Negara sejalan dengan tingkat kesehatan penduduknya.


Dari 5 negara di Asia ( Profil kesehatan Indonesia, 2009) terbukti bahwa angka
kematian bayi (AKB) paling tinggi adalah Indonesia sebesar 34/ 1000 dibandingkan
dengan Singapura 3/ 1000, Thailand 8/1000, Malaysia 12/100, dan Pilipina 32/1000.
Oleh karena itu upaya menjaga kesehatan seharusnya diarahkan pada 4 pilar,
yakni 1) Upaya promotif yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan, agar
berdampak terhadap 2) Preventif untuk mencegah terjadi penyakit secara sedini
mungkin. Dan bila jatuh sakit maka di perlukan fasilitas untuk 3) Pengobatan
( Kuratif), agar penyakit terkontrol baik mencapai target terapi yang diharapkan,
sehingga

dapat terhindar dari

terjadinya

komplikasi. Komplikasi

akan

memerlukan upaya pelayanan lanjutan, berupa 4) Rehabilitasi medis agar fungsi

fisiologi kembali menjadi

normal atau optimal, untuk berusaha dapat menjalani

kehidupan sehari-hari kembali.


Kendala real sehari-hari

adalah, meskipun upaya kesehatan promotif untuk

preventif terbukti (dari hasil berbagai penelitian yang sohih) sangat


murah,

berupa modifikasi gaya hidup, akan tetapi

belum menyadari. Maka disini

efektif dan

sulit dikerjakan oleh karena

sangat di perlukan

edukasi perorangan atau

perkelompok secara intensif dan berkesinambungan. Membudayakan pola hidup


sehat dalam keluarga akan sangat bermakna memberikan dampak nyata terhadap
upaya preventif. Salah satu upaya adalah mencegah terjadi kegemukan sebagai
titik awal dari berbagai penyakit degeneratif di kemudian hari, disini kita butuhkan
kwalitas keluarga.
KEGEMUKAN ADALAH AWAL DARI PENYAKIT DEGENERATIF
Kegemukan(Obesitas) adalah berat badan yang berlebihan. Yang dawali oleh
pola hidup yang

salah ke barat-baratan ( westernisasi) berupa pola makan

berlebihan, dan aktivitas fisik kurang karena dimanja oleh produk tehnologi, serta
malas berolahraga merasa tidak ada waktu karena
pembiaran obesitas, dalam beberapa tahun kemudian

kesibukan kerja. Budaya


akan diikuti munculnya

berbagai faktor risiko, dan berbagai faktor resiko tersebut dalam beberapa tahun
berikut secara kolektif akan berdampak terjadinya penyakit degeneratif, berupa
penyakit Kardiovaskuler ( Penyakit Jantung Koroner, Stroke di otak, dan Penyakit
Pembuluh darah di tungkai), Diabetes, Penyakit rematik sendi dll. Kumpulan dari
berbagai faktor risiko, berupa Obesitas sentral ( gemuk perut), Hipertensi > 140/90
mmhg, Profil lipid tidak sehat, Kadar gula darah puasa > 100 mg/dl, dikenal dengan
istilah Sindroma Metabolik, yang menimbulkan risiko terjadi Penyakit Jantung
sebesar 3 kali lipat.
Lamanya waktu dan fase dari obesitas sampai terjadinya kerusakan pembuluh
darah terungkap selama lebih dari 10 tahun. Ini berarti bahwa bila dilakukan upaya
pencegahan, melalui

pengendalian dan pengobatan intensif terhadap masing-

masing faktor risiko tersebut, maka terbukti dapat mencegah terjadinya kerusakan
pembuluh darah. Kemampuan menumbuhkan budaya sehat dalam keluarga inilah
menjadi pembeda kualitas keluarga, apakah berkwalitas atau tidak.

Penyakit degenerative memiliki beberapa fase,dan setiap fase tersebut merupakan sasaran yang
amat penting, dalam upaya mencegah terjadinya Penyakit Pembuluh Darah, yaitu:

1. Fase Pola hidup yang sehat ( healthy life style), ditandai oleh adanya budaya yang kuat dan
lingkungan (enviroment) yang mendukung untuk hidup secara sehat didalam keluarga tersebut.
2. Fase Pola hidup salah kebarat-baratan: ditandai kurang gerak, malas berolah raga, pola
makan tinggi lemak dan kurang serat (kurang sayur dan buah2an).
2.

Kegemukan ( obesitas sentral) : diukur Lingkar pinggang (Lp) pria > 90 cm, wanita > 80 cm

3.

Sindroma Metabolik (SM)

4.

Risiko Penyakit Jantung akibat Metabolik (Mecar risk)

: Obesitas sentral plus ( lemak tinggi, hipertensi, prediabetes)

Jelas bahwa fase 0, tahap awal yang merupakan peluang pencegahan terbaik, tapi sering terlupakan
bahkan kita sia-siakan. Mungkin karena tidak tahu atau terlambat tahu atau sudah tahu tapi belum yakin
mamfaatnya. Dengan berjalannya waktu yang disia-siakan, terdapat bukti kuat

dari penelitian

epidemiologi terutama dinegara berkembang, bahwa kegemukan cenderung semakin tinggi prevalensinya
pada kelompok remaja dan usia muda ( 18- 30 tahun). Sebagai akibat perubahan gaya hidup, dampak dari
kemajuan ekonomi ( kemakmuran) disatu sisi dan urbanisasi dari desa ke kota.
Fase 1, terjadi karena pengaruh lingkungan konsumtif, sehingga menjadikan kehidupan sedanter, dimana
banyak duduk sedikit gerak. Merasa tidak ada waktu untuk rileks karena kesibukan, stress tidak mampu
di kelola dengan cerdas, kadar adrenalin tinggi, sehingga sulit untuk menikmati indahnya bunga ditaman
dan kicau burung, sedekah senyumpun hilang. Diperburuk oleh pola makan yang berlebihan dan tidak
seimbang, inilah kehidupan keluarga secara materi sukses tapi nilai menjadi gersang.
Fase 2. Terjadi Obesitas sentral (gemuk perut), penampilan fisik mulai dirusak oleh perut menonjol
( model buah apel). Tapi terkadang justru malah dibanggakan keluarga sebagai petanda makmuran dan
jelas itu anggapan salah. Lebih memprihatinkan adalah kecenderungan pada akhir-akhir ini dimana
kegemukan justru cenderung mulai terjadi pada usia relatif muda yaitu pada anak- anak dan remaja. Yang
berbeda dengan keadaan 20 tahun lalu, dimana kegemukan banyak terjadi pada usia diatas 40 tahun.
Celakanya, kegemukan malah dianggap baik oleh sebagian besar masyarakat, tapi sebaliknya oleh WHO
dalam statemennya, setelah mempunyai banyak bukti dan berkesimpulan bahwa kegemukan adalah
penyakit gizi kronik.
Fase 3, yaitu memasuki usia 40 an, ditemukan sudah banyak faktor resiko. Tapi anehnya terkadang
kesempatan cek up ditolak, karena takut bila ketahuan penyakitnya. Sehingga saat datang kedokter

menjadi kaget luar biasa karena baru ketahuan ternyata tensi tinggi, atau kadar gula tinggi, lemak pun
ikut tinggi. Tapi seringkali nasehat dokter untuk menurunkan berat badan yang sudah jauh diatas ideal (
tinggi dalam cm dikurangi 100) dianggap angin lalu. Karena dikalahkan oleh salero yang ingin terus
makan berlebihan dengan alasan menikmati hasil kerja keras. Sehingga Kami adalah golongan yang
makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang (al hadist),

masih sulit dijalankan.

Fase 4, merupakan fase telah terjadi Penyakit degeneratif.


Ditandai oleh proses kerusakan dinding pembuluh

darah, bersifat progresif berlangsung pelan-pelan

tapi pasti dari penyempitan menuju penyumbatan. Kualitas kesehatan mulai terganggu, mungkin mulai
dirasakan tidak enak didada pada saat bergerak, sebagai petanda sudah ada penyempitan pembuluh darah
jantung. Nyeri dada pada saat beraktivitas mulai dirasakan apabila derajat penyempitan pada pembuluh
darah koroner pada jantung sudah lebih dari 50%.
Untuk mengetahui lebih awal sebelum ada keluhan nyeri, dianjurkan pemeriksaan rekam jantung

atau

bila perlu dilakukan test treadmil (pembebanan). Petanda bertambah beratnya derajat penyempitan
ditandai oleh semakin sering timbul nyeri dada bila beraktivitas, bahkan mungkin dirasakan nyeri saat
kerja ringan sehari-hari. Sifat nyeri dada dirasakan khas yaitu seperti beban menghimpit, sesak nafas
seperti mau putus, dan berlangsung lebih dari 20 menit. Waspadalah akan serangan jantung. Atau akan
disertai sesak nafas mungkin petanda kegagalan jantung memompa darah.

KIAT PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN


Upaya pencegahan lebih baik daripada mengobati setelah jatuh sakit. Di awali dari upaya promotif
untuk hidup sehat, untuk mencegah sebelum jatuh sakit, itu lebih baik lagi.
Upaya promotif merupakan prinsip kerja dari ilmu kedokteran modern, sebagai hasil kemajuan penelitian
mencapai tingkat seluler dan bahkan di tingkat molekuler dan genetik yang sudah maju. Mampu
mendorong upaya yang lebih dini dan awal untuk menghambat proses penyakit.
Itu pulalah pembeda utama antara kedokteran moderen dibandingkan Ilmu kedokteran kuno / tradisional
seperti akupuntur dari Tiongkok, Yoga dan vegetarian dari India, dan terakhir adalah ber bekam dari Arab.
Kedokteran moderen di tandai dengan berkembangnya ilmu anatomi tubuh manusia, ilmu faal di awal
abad pertenghan.
Kedokteran tradisional justru fokus hanya pada pengobatan (kuratif) setelah sakit saja. Tapi realita
dimasyarakat terkadang lebih

banyak tertarik bahkan punya perhatian justru setelah jatuh sakit, dan

kurang merespon upaya hulu berupa promotif hidup sehat untuk pencegahan jatuh sakit, suatu penyesalan
yang terlambat.

Beberapa kiat pencegahan yang dapat dilakukan sejalan dengan proses penyakit degeneratif, dimana
setiap fase 0-4 harus dipandang sebagai sasaran target. Semakin dini akan memberikan hasil semakin
baik pula, yaitu :
1. Mempertahankan pola makan sehari-hari yang sehat dan seimbang.
-

Meningkatkan konsumsi serat tinggi (sumber dari sayur dan buah2an)

Membatasi makanan tinggi lemak dan karbohidrat sederhana ( gula)

2. Melakukan kegiatan jasmani secara rutin, teratur dan terukur seperti berjalan kaki, berkebun, naik
tangga dll. Hindari duduk terlalu lama ( lebih dari 2-3 jam) dan diimbangi dengan gerak dan
senam.
3. Lakukan olah raga erobik teratur dan terukur, disesuaikan dengan usia dan kemampuan fisik
( miknimal 3 x seminggu, selama 150 menit).
Berolahraga yang benar berarti dilakukan secara rileks, senang tanpa paksaan, penuh harapan
akan sehat ( vasodilatasi pembuluh darah).
Tarik nafas dalam dan dilepas pelan-pelan (tekanan dalam alveoli paru meningkat akan
meningkatkan pertukaran zat asam dan pengeluaran karbon monoksida).
Gerakan otot secara berirama dan menyeluruh, sehingga jantung akan terpacu memompa darah
sampai 5 kali normal, yang akan berdampak meningkatkan kebugaran tubuh dan sehat,

awet

muda dan bahagia yang selalu didambakan setiap insan.


4. Mempertahankan Berat Badan (BB) normal atau idaman ( seimbang antara berat dengan tinggi).
Bukti yang sohih dari penelitian menunjukkan bahwa menurunkan BB yang lebih sebesar 5-10 %
saja sudah memberikan mamfaat klinis, apalagi bila bisa mencapai BB normal atau ideal.
5. Hadapilah stress yang terjadi secara wajar, berlatih mencerdaskan kemampuan emosi dengan
meningkatkan kecerdasan intelektual dan spiritual agar kesuksesan yang diperoleh tidak terasa
gersang nilai.
6. Kontrol teratur, ikuti saran dokter yang merawat agar sasaran target tercapai, yaitu:
-BB ideal ( TB-100) 10%
-Lipid darah terkontrol baik yaitu :
Kolestero total <200 mg/dl, LDL < 130 mg/dl,
HDL kolesterol > 40 pada laki2 dan > 50 pada wanita, Trigliserid < 150 mg/ dl.
-Kadar gula darah (KGD) puasa < 110 mg/dl dan sewaktu < 140 mg/dl
-Tensi < 130/80 cm hg.

7. Bila sudah terjadi Penyakit Pembuluh Darah, ikutilah aturan pengobatan. Berupa konservatif dan
medikamentosa ( obat-obatan), pemasangan stent untuk melonggarkan penyempitan atau
angioplasti atau tindahan pintas koroner.
Terbukti bahwa pemakaian obat penurun kadar lipid yang mencapai sasaran terapi, dapat
mengurangi indikasi operasi by pass jantung. Karena terbukti obat tersebut mampu menstabilkan
plak agar tidak pecah dan sekaligus melonggarkan kembali lumen dari pembuluh darah. Akan
tetapi harga obat-2an tersebut relatif mahal dan membutuhkan waktu pemakaian lama bahkan
mungkin seumur hidup.
Jadi fakta ini pulalah yang jadi dasar, kenapa upaya pencegahan sedini mungkin jauh lebih
bermamfaat. Tapi justru dirasakan tidak begitu menarik karena memang harus dibayar dengan
pengorbanan berupa:

perubahan gaya hidup untuk merobah takdir diri. Terkadang kita lebih

senang dengan apa yang sudah ada sejak dulu meskipun terbukti salah, daripada merubah hari
ini untuk mencapai hari esok yang lebih baik.
KESIMPULAN
Kualitas keluarga akan menentukan kualitas generasi remaja, masyarakat dan
bangsa. Model pendidikan

yang diterapkan dalam keluarga akan menentukan

kualitas keberhasilan dalam membangun karakter anak, bahwa model pendidikan


demokratis lebih unggul bila dibandingkan dengan model overprotektif atau model
Permisif.
Kesehatan adalah keadaan sehat, dengan 5 faktor penentu yaitu factor
fisik, metal, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup
produktif secara sosial dan ekonomi.

Gangguan kesehatan menurut teori klasik

disebabkan oleh 4 determinen yang diurut berdasarkan besarnya pengaruh yaitu:


faktor lingkungan;

faktor prilaku; Pelayanan kesehatan; dan Keturunan atau

herediter. Khusus untuk kesehatan individu juga berperan faktor internal seperti
umur, gender, pendidikan dll.
Prasyarat untuk kesehatan mencakup 9 faktor: Perdamaian, tempat tinggal,
pendidikan,

makanan, pendapatan, ekosistem yang stabil, sumber daya yang

berkesinambungan,, keadilan social, dan pemerataan. Dan ada tiga masalah sosial
yang mempengaruhi kesehatan, yakni kebodohan akibat dari pendidikan rendah;
berbagai penyakit

akibat dari rendahnya derajat dan pelayanan kesehatan; dan

kemiskinan akibat dari rendahnya ekonomi.

Kegemukan(Obesitas) yang dawali oleh pola hidup yang

salah ke barat-baratan

( westernisasi). Budaya pembiaran obesitas, akan diikuti munculnya berbagai faktor


risiko dan

dalam beberapa tahun berikut secara kolektif akan berdampak

terjadinya penyakit degeneratif, berupa penyakit Kardiovaskuler ( Penyakit Jantung


Koroner, Stroke di otak, dan Penyakit Pembuluh darah di tungkai), Diabetes,
Penyakit rematik sendi dll.
Upaya promotif merupakan prinsip kerja dari ilmu kedokteran modern, sebagai hasil kemajuan
penelitian mencapai tingkat seluler dan bahkan di tingkat molekuler dan genetik yang sudah maju. Yang
mampu mendorong upaya yang lebih dini untuk menghambat proses penyakit degeneratif.
Akhirnya semua itu terserah kepada diri masing-masing Berusahalah untuk hari esok yang lebih baik
( al-hadist).