Anda di halaman 1dari 15

REFERAT

ABSES SEPTUM NASI


Untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok
Kepala dan Leher
di RSUD Embung Fatimah Kota Batam

Disusun Oleh :

Frans Rahmat
61110001
Pembimbing :

dr.Azwan Mandai,Sp.THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT TELINGA HIDUNG TENGGOROK


KEPALA DAN LEHER RSUD EMBUNG FATIMAH KOTA BATAM
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BATAM
2016
BAB I
PENDAHULUAN

Hidung merupakan organ penting, yang seharusnya mendapat perhatian lebih dari
biasanya; merupakan salah satu organ pelindung tubuh terpenting terhadap lingkungan yang
tidak menguntungkan. Dari segi anatomis, hidung memiliki kavum nasi yang mempunyai 4 buah
dinding, yaitu dinding medial, lateral, inferior, dan superior. Dinding medial hidung adalah
septum nasi yang dibentuk oleh tulang dan tulang rawan.1
Abses septum nasi adalah suatu kondisi yang jarang terjadi yang telah dilaporkan oleh
Little. Abses paling sering terbentuk setelah didahului oleh adanya septal hematoma. Biasanya
terdapat riwayat trauma nasal. Abses septum juga dapat terjadi setelah operasi septum nasi.
Abses septum nasi merupakan suatu kumpulan pus yang terdapat di antara kartilago atau tulang
septum dengan mukoperikondrium atau mukoperiosteum.1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
ABSES SEPTUM

II.1. Definisi
Abses septum nasi didefinisikan sebagai pus atau nanah yang terkumpul antara
tulang rawan septum nasi dengan mukoperikondrium atau tulang septum dengan
mukoperiosteum yang melapisinya.2,3
Abses septum biasanya didahului oleh trauma hidung yang kadang-kadang sangat
ringan sehingga tidak dirasakan oleh penderita, akibatnya timbul hematoma septum yang
bila terinfeksi akan menjadi abses. Pada umumnya, abses septum nasi yang besar, terasa
nyeri dan mukosa mengalami inflamasi dan ditutupi oleh eksudat.3
Abses septum dapat berakibat serius pada hidung oleh karena menyebabkan nekrosis
kartilago septum yang kemudian menjadi destruksi dan lambat laun menjadi hidung pelana.
Komplikasi yang sangat berbahaya berupa infeksi intrakranial sehingga setiap abses septum
nasi harus dianggap sebagai kasus emergensi yang memerlukan penanganan yang tepat dan
segera.4
II.2. Epidemiologi
Kasus abses septum nasi sangat jarang ditemukan sehingga sangat sedikit
dibicarakan dalam berbagai kepustakaan. Eavei mendapatkan 3 kasus abses septum nasi
dalam waktu 10 tahun terakhir di Childrens hospital Los Angeles. Fearon mendapatkan 43
kasus abses septum nasi dalam periode 8 tahun di Hospital for Sick Children di Toronto.
Ambrus menyatakan pada dekade terakhir ini didapatkan hanya 14 kasus abses septum nasi,
termasuk 16 kasus yang terjadi lebih dari periode 10 tahun di Massachusetts Eye and Ear
Infirmary.2,4
Di Rumah Sakit M.DJamil Padang didapatkan 3 kasus abses septum nasi dalam

waktu 2 tahun terakhir. Usia yang paling sering terkena adalah di bawah 15 tahun diikuti
usia 16-31 tahun dan jarang usia lanjut. Laki-laki lebih sering dibandingkan wanita. Hal ini
dihubungkan dengan agresivitas dan aktivitas mereka sehingga insidens trauma mudah
terjadi.3
II.3. Anatomi
Septum nasi membagi cavitas nasi menjadi dua rongga kiri dan kanan. Septum nasi
terdiri dari dua bagian, yaitu tulang posterior dan tulang rawan bagian anterior. Pada bagian
caudal septum teridentifikasi tiga sudut, sudut septum anterior dapat dipalpasi dengan
menekan area supratip nasal, sudut posterior terletak dibawah nasal spine articulation pada
perlintasan bibir/hidung, sudut midseptal terletak di pertengahan antara sudut anterior dan
posterior septal.5 Septum kartilagenus merupakan plat rata kartilago dengan kuadrilateral
yang tidak teratur yang berartikulasi dengan lamina perpendicular os ethmoid, os vomer, dan
premaksilaris.6

Gambar 1. Bagian tulang yang membentuk septum nasi.5

Bagian terbesar dari septum nasi dibentuk oleh lamina perpendikularis os ethmoid
posterior dan tulang rawan septum anterior, vomer membentuk bagian dari posterior septum
nasi, krura medial dari karitlago alar mayor dan prosesus nasal bawah (Krista) maksila
membentuk bagian anterior septum. Lamina prependikularis os etmoid membentuk
sepertiga atas atau lebih septum nasi yang berhubungan dengan bagian horizontal os
etmoid.6

Gambar 2. Tulang rawan septum nasi.7


Bagian anterior dan superior berhubungan dengan os frontalis dan os nasal, di
posterior berhubungan dengan os sphenoid, di postero-inferior dengan os vomer dan anteroinferior dengan kartilago septum. Vomer terletak di septum nasi bagian posterior. Bagian
superior vomer membentuk sendi os sphenoid dan lamina prependikularis os etmoid, dan
dibagian inferior dengan Krista nasalis os maksila dan os palatina.Tulang rawan septum
bagian posterior mempunyai pinggir yang tipis dan masuk kedalam alur lamina
prependikularis os etmoid, dan pinggir posterior juga masuk celah Krista nasalis. Periostium
dan perikondrium dari tulang rawan septum dihubungkan oleh jaringan konektif yang
dibentuk oleh ligamentum yang memungkinkan terjadinya gerakan dari tulang tersebut.
Apabila jaringan konektif itu tidak ditemukan atau salah satu sisi alur atau celah dari Krista
nasal tidak tumbuh dengan baik maka dislokasi tulang rawan septum mudah terjadi.6

II.3.1. Perdarahan
Bagian anterosuperior septum nasi dan dinding lateral memperoleh perdarahan dari
arteri ethmoidalis anterior dan posterior, sedangkan bagian posteroinferior septum nasi
memperoleh dari arteri sfenopalatina dan arteri maksilaris interna. Arteri etmoidalis anterior
dan posterior adalah cabang dari oftalmika yang berasal dari a. karotis intema. A.etmoidalis
anterior adalah pembuluh darah kedua terbesar yang memperdarahi hidung bagian dalam,
yang memperdarahi kedua bagian antero-superior dri septum dan dinding lateral hidung.
Vena - vena hidung mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan dengan arteri. 6

Gambar 2 : Vaskularisasi Hidung.8


Pada bagian kaudal septum nasi terdapat pleksus Kiesselbach yang terletak tepat di
belakang vestibulum. Pleksus ini merupakan anastomosis dari arteri sfenopalatina, arteri

etmoidalis anterior, arteri palatina mayor. Area ini paling sering menjadi sumber perdarahan
atau epistaksis.9
II.3.2. Persarafan
Bagian anterosuperior hidung bagian dalam dipersarafi oleh n.etmoidalis anterior
dan posterior, sedangkan cabang dari n. maksilaris dan ganglion pterigopalatina
mempersarafi bagian posterior dan sensasi pada bagian anteroinferior septum nasi dan
dinding lateral. Rongga hidung lainnya, sebagian besar mendapat persarafan sensoris dari n.
maksila melalui ganglion sfenopalatinum. Ganglion sfenopalatinum, selain memberikan
persarafan sensoris, juga memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa
hidung. Ganglion ini menerima serabut sensoris dari n. maksila (n. V-2), serabut
parasimpatis dari n. Petrosus profundus. Disamping mensarafi hidung, ganglion
sfenopalatina mempersarafi kelenjar lakrimalis dan palatum.6

Gambar 4. Persarafan septum nasi 6


II.4. Etiologi dan Patogenesis
Penyebab abses septum nasi tersering adalah trauma (75%) seperti akibat
kecelakaan, perkelahian, olah raga ataupun trauma yang sangat ringan sehingga tidak
dirasakan penderita seperti mengorek kotoran hidung atau mencabut bulu hidung.3,10
Penyebab lain adalah akinbat penyebaran dari sinus etmoid dan sinus sphenoid. Abses

septum nasi dapat terjadi secara spontan pada pasien sindrom imunodefisiensi didapat.
Patogenesis Abses septum nasi dapat terjadi akibat furunkel intranasal, peradangan sinus,
akibat komplikasi operasi hidung dan penyakit sistemik.11
Abses septum nasi hampir selalu didahului oleh hematoma septum nasi yang
terinfeksi.4,9 Hematoma septum nasi terjadi akibat trauma pada septum nasi yang merobek
pembuluh darah yang berbatasan dengan tulang rawan septum nasi. 12 Darah akan terkumpul
pada ruang di antara tulang rawan dan mukoperikondrium. Hematoma ini akan memisahkan
tulang rawan dari mukoperikondrium, sehingga aliran darah sebagai nutrisi bagi jaringan
tulang rawan terputus, maka terjadilah nekrosis.11,12 Tulang rawan septum nasi yang tidak
mendapatkan aliran darah masih dapat bertahan hidup selama 3 hari, setelah itu kondrosit
akan mati dan resorpsi tulang rawan akan terjadi.12
Tulang septum nasi dan triangular kartilago dapat ikut terlibat dan perforasi pada
septum nasi dapat terjadi apabila gejala tidak segera ditangani dengan baik. Pada akhirnya
sedikit atau banyak akan terjadi parut dan hilangnya penyangga pada 2/3 kaudal septum, ini
akan menghasilkan hidung pelana, retraksi kolumella, dan pelebaran dasar hidung. Jika ada
fraktur tulang rawan, maka darah akan mengalir ke sisi kontralateral dan terjadilah hematom
septum bilateral.11,12 Hematom yang terjadi dapat besar sehingga dapat menyumbat kedua
nares.11 Akibat keadaan yang relatif kurang steril di bagian anterior hidung, hematoma
septum nasi dapat terinfeksi dan akan cepat berubah menjadi abses septum nasi yang
mempercepat resorpsi tulang rawan yang nekrotik.13

Gambar 5. Hematom septum nasi 7


Staphylococcus aureus merupakan organisme yang paling sering ditemukan pada
hasil kultur abses septum nasi. Begitu pula Streptococcus pneumoniae, streptococcus
milleri, Streptococcus viridians, Staphylococcus epidermis, Haemophillus influenza dan
kuman anaerob juga ditemukan pada abses septum nasi. Tidak semua hematom septum nasi
berkembang menjadi abses, bila sembuh dengan terapi antibiotik akan terbentuk jaringan
ikat, sehingga akan terjadi penebalan jaringan septum nasi yang dapat menyebabkan
obstruksi saluran nafas dan retraksi yang menimbulkan kontraktur septum nasi.11
II.5. Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada
anamnesis didapatkan sebagian besar abses septum nasi biasanya mempunyai riwayat
trauma. Gejala abses septum adalah adanya obstruksi nasi bilateral yang parah dengan rasa
nyeri di hidung. Terkadang pasien juga mengeluhkan adanya demam dan menggigil serta
nyeri dikepala dibagian frontal. Abses septum nasi sering timbul 24-48 jam setelah trauma,
terutama pada dewasa muda dan anak.11
Perlu ditanyakan riwayat operasi hidung sebelumnya, gejala peradangan hidung dan
sinus paranasal, furunkel intra nasal, penyakit gigi dan penyakit sistemik. Apabila akibat
trauma hidung, terkadang pada inspeksi masih tampak kelainan berupa eskoriasi, laserasi
kulit, epistaksis, deformitas hidung, edema dan ekimosis. Pemeriksaan sebaiknya tanpa
menggunakan spekulum hidung. Tampak pembengkakan septum berbentuk bulat dengan
permukaan licin pada kedua sisi.12
Identifikasi abses septum nasi sangat mudah bagi para ahli, tetapi tidak jarang dokter
gagal dalam mengamati keadaan ini. Karena kegagalan dalam mengidentifikasi hematoma
atau abses septum nasi cukup banyak, maka diperlukan pemeriksaan intra nasal yang teliti.
Jika penderita tidak kooperatif, misalnya pada anak-anak, pemeriksaan dapat dilakukan
dengan anestesi umum. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior, seluruh septum nasi harus
diperiksa dari kaudal septum nasi sampai nasofaring. Tampak pembengkakan unilateral
ataupun bilateral, mulai tepat di belakang kolumella meluas ke posterior dengan jarak
bervariasi. Perubahan warna menjadi kemerahan atau kebiruan pada daerah septum nasi
yang membengkak menunjukkan suatu hematoma. Daerah yang dicurigai dipalpasi dengan

forsep bayonet atau aplikator kapas untuk memeriksa adanya fluktuasi dan nyeri tekan. Pada
palpasi dapat ditemukan nyeri tekan.12,13

(a)

(b)

Gambar 6. (a) dan (b) pembengkakan bilateral pada septum nasi.16


Untuk memastikan abses septum nasi cukup dengan aspirasi pada daerah yang
paling fluktuasi. Pada aspirasi akan didapatkan pus pada abses septum nasi, sedangkan dari
hematoma septum nasi akan keluar darah. Beberapa penulis menyarankan tindakan rutin
berupa aspirasi sebelum diberikan tindakan operatif. Pus yang diperoleh sebaiknya
diperiksakan di laboratorium untuk menentukan jenis kuman dan tes sensitifitas terhadap
antibiotik.4,12 Selain bernilai diagnostik, aspirasi juga berguna untuk mengurangi ketegangan
jaringan di daerah abses septum nasi dan mengurangi kemungkinan komplikasi ke
intrakranial. Pemeriksaan laboratorium darah akan menunjukkan leukositosis. Pemeriksaan
foto rontgen sinus paranasal atau CT scan harus dilakukan untuk mencari etiologi ataupun
komplikasi.12,13
II.6. Penatalaksanaan
Abses septum nasi dan hematoma septum nasi harus dianggap sebagai kasus darurat
dalam bidang THT dan tindakan penanggulangannya harus segera dilakukan untuk
mencegah adanya komplikasi lebih lanjut. Penatalaksanaan abses septum nasi yang
dianjurkan yaitu drainase, antibiotik parenteral dan rekonstruksi defek septum. Tujuan dari

rekonstruksi adalah untuk menyangga dorsum nasi, memelihara keutuhan dan ketebalan
septum, mencegah perforasi septum yang lebih besar dan mencegah obstruksi nasal akibat
deformitas.14
Sebelum insisi terlebih dahulu dilakukan aspirasi abses dan dikirim ke laboratorium
untuk pemeriksaan kultur dan tes sensitifitas. Insisi dan drainase abses septum nasi dapat
dilakukan dalam anestesi lokal atau anestesi umum. Insisi dilakukan 2 mm dari kaudal
kartilago kira-kira perbatasan antara kulit dan mukosa (hemitransfiksi) atau caudal septal
incision (CSI) pada daerah sisi kiri septum nasi. Septum nasi dibuka secara perlahan-lahan
tanpa merusak mukosa. Jaringan granulasi, debris dan kartilago yang nekrosis diangkat
dengan menggunakan kuret dan suction. Sebaiknya semua jaringan kartilago yang patologis
diangkat.14,15

(a)

(b)

(c)

Gambar 7. Teknik insisi hematom / abses septum nasi.15

Dilakukan pemasangan tampon anterior dan pemasangan salir untuk mencegah


rekurensi. Drainase bilateral merupakan kontraindikasi karena dapat menyebabkan perforasi
septum nasi. Pada abses bilateral atau nekrosis dari tulang rawan septum nasi dianjurkan
untuk segera melakukan eksplorasi dan rekonstruksi septum nasi dengan pemasangan
implan tulang rawan.16

Gambar 9. Drainase abses septum nasi.16

II.7. Komplikasi
Deformitas dan gangguan fungsi hidung akibat abses septum nasi dapat dibedakan
dalam tiga proses di bawah ini. Pertama, hilangnya sanggahan mekanik dari kartilago
piramid dan lobul. Kedua, adanya retetraksi dan atrofi jaringan ikat. Ketiga, terdapat
angguan pertumbuhan hidung dan muka bagian tengah.16
Abses septum nasi dapat juga menimbulkan komplikasi yang berat dan berbahaya
bila terjadi penjalaran infeksi ke intrakranial berupa meningitis, abses otak dan empiema
subaraknoid.2,12 Penjalaran ke intrakranial dapat melalui berbagai jalan.16
Komplikasi lainnya yaitu berupa penjalaran infeksi ke organ-organ di sekitar hidung
dapat juga melalui saluran limfe dan selubung saraf olfaktorius sehingga terjadi infeksi ke
orbita dan sinus paranasal. Keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan destruksi tulang
rawan dan tulang hidung sehingga terjadi deformitas yang berupa hidung pelana,retraksi
kolumella,dan pelebaran dasar hidung. Nekrosis pada setiap komponen septum nasi dapat
menyebabkan terjadinya perforasi septum nasi.17

II.8. Pencegahan
Abses septum dapat dicegah dengan mengenali dan menangani hematoma septum
pada tahap awal. Ini merupakan alasan dilakukannya inspeksi dan palpasi septum nasi
(setelah dekongesti dan anastesi mukosa) pada pasien yang baru saja mengalami trauma,
terutama pada anak-anak. Hal yang sama juga digunakan pada pasien yang telah menjalani
operasi septal dan tidak dapat bernafas melalui hidung setelah pelepasan perban dibagian
dalam hidung.18

DAFTAR PUSTAKA
1. Soepardi Arsyad, et al. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala
dan Leher, edisi 6. FKUI: Jakarta. Hal 126-7
2. Debnam J.M, Gillenwater A.M, Ginsberg L.E, Nasal septal abscess in Patients with
Immunosuppression. AJNR Am J Neuroradiol. 2007;28:1878 -79
3. Cervera E.J, Calderon N.R, Enriquez de Salamanca J, Post-traumatic haematoma and abscess
in the nasal septa of children. Acta otorinolaryngol.2008;59(3):139-41
4. Budiman B.J, Diagnosis dan Penatalaksanaan Abses Septum Nasi. Jurnal Kesehatan Andalas.
2013; (2) : 51-56.
5. Jalaludin MAB, Nasal Septal Abscess-Retrospective Analysis Of 14 cases from University
Hospital, Kuala lumpur. Singapore Med J.1993:34:435-437
6. Baker SR. Principles of Nasal Reconstruction. Missouri: Mosby inc; 2002.p22.
7. Snell, Richard S, Anatomi Klinik, Edisi 6. Jakarta : EGC 2006,803-871.
8. Jessica
Ngo,
MD,
Nasal
septal
hematoma
drainage,
dikutip

dari

www.emedicine.medscape.com
9. Netter, Frank H, Thlas of human anatomy, 4th Ed, USA : Elsevier,s Health Sciene
Departement 2006.37-49.
10. Soepardi E.A, et all. Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher, Edisi 6. Jakarta 2007 : 15560.
11. Bailey B. Head & neck Surgery Otolaryngology, 4th Ed, USA : Lippicont Williams-Wilkinss;
2006.p 327
12. Dirk J.M, Ivar C.T, Gilbert J.N nasal septal Abscess in Children. Arch Otolaryngology HNS
2008: 134: 842-43.
13. Shih-hung Lo, MD. Nasal septal abscess as a complication of laser inferior turbinectomy.
Chang Gung Med J. 2004:27:390-92
14. Harry A.A. Perforasi septum nasi. Dikutip dari www.library.usu.ac.id
15. Roytesa R.Savage.Hematoma of the nasal septum. American Academic of Pediatric
2006;27;478-79
16. Riechelmann H,Rettinger G. Tree-steps recontruction of complex saddle nose deformities.
Arch Otolaryngol Head Neck Surg 2004;130:334-38

17. Bechara Y.Ghorayeb, MD. Imaging nasal septal abscess. Otolaryngology head & neck
surgery, texas 2011.
18. Huizing E, et al. Functional reconstructive Nasal Surgery. New york : George Thieme Verlag;
2003;177-78.