Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
Fraktur Monteggia merupakan fraktur ulna sepertiga proksimal disertai
dislokasi dari bagian proksimal sendi radioulnar tepatnya pada kaput os radius.
Secara relatif merupakan kecederaan yang jarang terjadi dan angka kejadian
diperkirakan kurang dari 5% dari kejadian fraktur antebrachii. Fraktur monteggia
sering terjadi pada anak anak. Pada tahun 1814, Giovanni Battista Monteggia
mendeskripsikan fraktur ini sebagai fraktur 1/3 proksimal ulna dengan dislokasi
kaput radius kearah anterior. Pada tahun 1967, Bado mengutip istilah Monteggia
dan mengkalsifikasikannya menjadi 4 tipe (Guiton, 2009).
Insidensi fraktur Monteggia adalah <5% dari seluruh fraktur antebrachii. Dari
hasil klasifikasi Bado, tipe I merupakan tipe tersering (59%) dari seluruh fraktur
Monteggia diikuti Bado tipe III (26%), tipe II (5%), dan tipe IV (1%).Angka
kejadian fraktur Monteggia hanya 1/3 berbanding angka fraktur Galeazzi (Guiton,
2009).
Pasien dengan fraktur monteggia dapat mengeluhkan adanya sendi siku yang
bengkak, deformitas, serta terbatasnya ROM (Range Of Movement) karena nyeri
khususnya dirasakan saat melakukan gerakan pronasi dan supinasi. Pada kejadian
fraktur monteggia, kaput radius biasanya dapat dipalpasi karena terjadinya
dislokasi kaput kearah anterior, ataupun antero proksimal (Goh, 2011).
Mayoritas di berbagai negara yang mengalami fraktur atau dislokasi
awalnya akan berobat terlebih dahulu ke dokter layanan primer. Fraktur yang
terjadi dapat mengenai orang dewasa maupun anak-anak. Fraktur yang mengenai
lengan bawah pada anak sekitar 82% pada daerah metafisis tulang radius distal,
dan ulna distal. Fraktur tulang radius dapat terjadi pada 1/3 proksimal, 1/3 tengah
atau 1/3 distal (Goh, 2011).
Penanganan pada fraktur monteggia ini merupakan hal yang sangat penting,
mengingat akan prognosis pada pasien dan juga komplikasi yang mungkin terjadi.
Penanganan yang tidak tepat pada fraktur ini dapat menimbulkan komplikasi yaitu
adalah infeksi, perdarahan, malunion, nonunion, cedera saraf, redislokasi kaput
radius, synostosis radioulnar dan nyeri kronik. Dari berbagai macam komplikasi
yang dapat terjadi terdapat komplikasi malunion dari fraktur monteggia.
1

Komplikasi malunion fraktur monteggia adalah residual subluksasi radiocapitellar,


dislokasi radiocapitellar

(dislokasi anterior dari kaput radius saat supinasi),

transient ulnar-nerve palsy, dan laserasi parsial nervus radialis (Ruchelsman,


2009).
1. Residual Subluksasi Radiocapitellar
Subluksasi merupakan dislokasi parsial atau sebagian dari sendi, dan
masih ada bagian persendian yang bersatu. Dalam kasus ini terdapat lepasnya
sebagian kaput radius dari persedian radioulna proksimal.
2. Dislokasi Radiocapitellar
Dislokasi merupakan suatu kondisi dimana seluruh bagian tidak berada
pada tempatnya lagi. Dislokasi radiocapitellar terjadi pada seluruh sendi
radioulna. Pada komplikasi ini terjadi kondisi dimana seluruh kaput radius
yang sudah tidak melekat pada persendian radioulna pada saat posisi tangan
supinasi.
3. Transient Ulnar-Nerve Palsy
Transient Ulnar-Nerve Palsy adalah kondisi dimana nervur ulnaris
kehilangan fungsinya yang disebabkan karena komplikasi malunion fraktur
monteggia. Kondisi ini diakibatkan karena injuri dan penekanan yang keras
pada nervus ulnaris. Hal tersebut mengakibatkan hilangnya rangsang sensoris
dan juga penurunan fungsi untuk mengontrol digiti IV-V, sehingga digiti IV-V
tidak bisa merasakan rangsangan dan terdapat kelemahan untuk menggerakan
jari tersebut.
4. Laserasi Parsial Nervus Radialis
Dalam kasus ini komplikasi malunion fraktur monteggia yang dapat terjadi
namun jarang adalah laserasi parsial nervus radialis. Kondisi ini disebabkan
dari komplikasi subluksasi ataupun dislokasi sendi radiocapitellar. Terjadi
penurunan rangsang sensoris pada sebagian tangan dan juga kelemahan otot
pada tangan yang sering disebut wrist drop atau finger drop.
Tingkatan pemahaman jangka pendek dan jangka panjang dari fraktur
monteggia ini akan membantu dokter menentukan kebijakan tindak lanjut yang
akan dilakukan dan memberikan informasi kepada keluarga tentang prognosis
penyakitnya. Salah satu tujuannya adalah meningkatkan rujukan yang tepat waktu
dan pengobatan yang optimal (Goh, 2011).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Fraktur Monteggia merupakan fraktur 1/3 proksimal os ulna dengan
dislokasi dari bagian kaput radius kearah proksimal yang berhubungan dengan
fraktur antebrachii. Kejadian fraktur monteggia ini merupakan kecederaan
yang jarang terjadi dan angka kejadian diperkirakan kurang dari 5% dari
kejadian fraktur antebrachii. Fraktur ulna dapat terlihat secara klinis maupun
radiologis. Kelainan yang menyertai dislokasi kaput radius sering tidak jelas
dan mungkin tidak terlihat.Untuk mendiagnosa fraktur Monteggia harus
berdasarkan gejala klinis dan foto radiografi seluruh antebrachii dan siku.
Penilaian secara cepat dan tepat diperlukan bagi mencegah disabilitas
permanen atau disfungsi ekstremitas (Guiton, 2009).
Pada

tahun

1814,

Giovanni

Battista

Monteggia

dari

Milan,

mendiskripsikan kecederaan ini sebagai fraktur 1/3 proksimal ulna dengan


disokasi anterior kaput radius. Deskripsi ini dilakukan pada masa pre-Roentgen
dengan hanya berdasarkan anamnesis, riwayat kecederaan dan hasil
pemeriksaan fisik.Pada tahun 1967, Bado mengutip istilah lesi Monteggia dan
mengklasifikasikan kecederaan ini menjadi 4 tipe. Klasifiasi Bado ini dinilai
berdasarkan searahnya apex dari fraktur terhadap arah dislokasi kaput radius.
Klasifikasinya sebagai berikut: (Guiton, 2009).
1. Tipe I :Fraktur proksimal atau 2/3 distal ulna dengan dislokasi anterior
kaput radius
2. Tipe II : Fraktur proksimal atau 2/3 distal ulna dengan dislokasi posterior
kaput radius
3. Tipe III : Fraktur metafisis ulna dengan dislokasi lateral kaput radius
4. Tipe IV : Fraktur proksimal atau 2/3 distal ulna dan radius dengan
dislokasi anterior kaput radius
Pemahaman tentang penanganan yang tepat serta rujukan dari pasien
fraktur monteggia ini merupakan hal yang sangat penting, mengingat prognosis
ataupun komplikasi pada fraktur monteggia ini. Prognosis pada pasien akan
baik bila fraktur ditangani dengan cepat dan tepat, namun bila tidak ditangani

prognosis pasien ini akan buruk dan akan menimbulkan komplikasi


(Ruchelsman, 2009).
Komplikasi yang dapat terjadi dari fraktur monteggia ini adalah infeksi,
perdarahan, malunion, nonunion, cedera saraf, redislokasi kaput radius,
synostosis radioulnar dan nyeri kronik. Komplikasi ini dapat dikurangi dengan
diagnosa dini, reduksi adekuat, fiksasi yang stabil dan perawatan pasca operasi
yang sesuai (Ruchelsman, 2009).
Dari berbagai macam komplikasi yang dapat terjadi terdapat komplikasi
malunion dari fraktur monteggia. Komplikasi malunion fraktur monteggia
adalah residual subluksasi radiocapitellar, dislokasi radiocapitellar (dislokasi
anterior dari kaput radius saat supinasi), transient ulnar-nerve palsy, dan
laserasi parsial nervus radialis (Ruchelsman, 2009).
1. Residual Subluksasi Radiocapitellar
Subluksasi merupakan dislokasi parsial atau sebagian dari sendi, dan
masih ada bagian persendian yang bersatu. Dalam kasus ini terdapat
lepasnya sebagian kaput radius dari persedian radioulna proksimal.
2. Dislokasi Radiocapitellar
Dislokasi merupakan suatu kondisi dimana seluruh bagian tidak berada
pada tempatnya lagi. Dislokasi radiocapitellar terjadi pada seluruh sendi
radioulna. Pada komplikasi ini terjadi kondisi dimana seluruh kaput radius
yang sudah tidak melekat pada persendian radioulna pada saat posisi
tangan supinasi.
3. Transient Ulnar-Nerve Palsy
Transient Ulnar-Nerve Palsy adalah kondisi dimana nervur ulnaris
kehilangan fungsinya yang disebabkan karena komplikasi malunion
fraktur monteggia. Kondisi ini diakibatkan karena injuri dan penekanan
yang keras pada nervus ulnaris. Hal tersebut mengakibatkan hilangnya
rangsang sensoris dan juga penurunan fungsi untuk mengontrol digiti IV-V,
sehingga digiti IV-V tidak bisa merasakan rangsangan dan terdapat
kelemahan untuk menggerakan jari tersebut.
4. Laserasi Parsial Nervus Radialis
Dalam kasus ini komplikasi malunion fraktur monteggia yang dapat terjadi
namun jarang adalah laserasi parsial nervus radialis. Kondisi ini
disebabkan

dari

komplikasi

subluksasi

ataupun

dislokasi

sendi

radiocapitellar. Terjadi penurunan rangsang sensoris pada sebagian tangan

dan juga kelemahan otot pada tangan yang sering disebut wrist drop
atau finger drop.
B. Epidemiologi
Fraktur yang terjadi dapat mengenai orang dewasa maupun anak-anak,
fraktur yang mengenai lengan bawah pada anak sekitar 82% pada daerah
metafisis tulang radius distal, dan ulna distal. Fraktur monteggia sering terjadi
pada anak anak. Insidensi fraktur Monteggia adalah <5% dari seluruh fraktur
antebrachii. Bado tipe I merupakan tipe tersering (59%) dari seluruh fraktur
Monteggia diikuti Bado tipe III (26%), tipe II (5%), dan tipe IV (1%). Angka
kejadian fraktur Monteggia hanya 1/3 berbanding angka fraktur Galeazzi
(Guiton, 2009).
C. Etiologi dan Predisposisi
Tulang bersifat relatif rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan dan
gaya pegas untuk menahan tekanan. Penyebab utama fraktur Monteggia adalah
jatuhnya seseorang yang diikuti oleh outstretchhand dan tekanan maksimal
pada gerakan pronasi. Apabila siku dalam keadaan fleksi, kemungkinan untuk
terjadinya fraktur tipe II atau III lebih tinggi. Pada beberapa kasus, cedera
langsung

ke

lengan

bawah

bisa

menghasilkan

kecederaan

yang

sama.Evans pada tahun 1949 dan Pennrose melakukan studi mengenai etiologi
fraktur

Monteggia pada

cadaver

dengan cara

menstabilkan

humerus

dan menggunakan energi secara subjektifpada lengan bawah. Pennrose


menyebutkan bahwa lesi

dengan

tipe

II

merupakan

variasi pada

dislokasi posterior dari siku (Ruchelsman, 2009).


Menurut Bado, lesi tipe III yang merupakan akibat dari gaya lateral ke
siku sering terjadi pada anak-anak. Trauma energi tinggi ( kecelakaan
kendaraan bermotor) dan trauma energi rendah (jatuh dari posisi berdiri) bisa
mengakibatkan fraktur Monteggia (Ruchelsman, 2009).
D. Patofisologi

Struktur yang terdapat di lengan bawah saling berhubungan erat dan


sebarang gangguan ke salah satu tulang akan memberi kesan kepada tulang
lainnya. Tulang radius dan ulna berhubungan langsung hanya di bagian
proksimal dan distal sendi radioulnar. Kedua tulang dihubungkan oleh
membrana interosseus di sepanjang antara kedua tulang. Ini memungkinkan
tulang radius untuk berputar (rotasi) di sekitar ulna. Apabila terjadi fraktur
ulna, tenaga dipindahkan di sepanjang membrana interoseus dan menyebabkan
dislokasi proksimal radius. Akibatnya, membrana interoseus proksimal dari
fraktur akan terganggu, terjadi dislokasi proksimal sendi radioulnar, dan
dislokasi sendi radiocapitellar (Strauss, 2006).
Dislokasi kaput radius dapat mengakibatkan kecederaan nervus radius.
Cabang posterior interoseus dari nervus radius yang melewati collum dari
radius beresiko tinggi mengalami kecederaan Bado tipe II. Cedera nervus
medianus cabang anterior dari membrana interoseus dan nervus ulnaris turut
dilaporkan. Kebanyakan cedera saraf merupakan neurapraxias (saraf yang
cedera dan tidak mengtransmisi impuls) dan biasanya sembuh antara 4-6 bulan.
Pemasangan splint pada pergelangan tangan dalam keadaan fleksi dan latihan
range-of-motion membantu mencegah kontraktur saat menunggu penyembuhan
saraf (Strauss, 2006).
E. Penegakan Diagnosis
1. Anamnesis
Pada anamnesis pasien akan mengalami nyeri pada siku. Tergantung
dari tipe fraktur dan keparahannya, pasien dapat mengalami pembengkakan
siku, deformitas, krepitasi, dan parestesi. Sebagian pasien mungkin tidak
mengalami nyeri hebat saat istirahat, namun fleksi siku dan rotasi lengan
bawah adalah terbatas dan sangat nyeri (Strauss, 2006).
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan meliputi hal berikut (Overly, 2002):
a. Inspeksi luar pada kulit dilakukan untuk memastikan tidak terjadi fraktur
terbuka. Nadi dan pengisian kapiler harus dicatat. Hematom mungkin

terjadi pada lokasi dislokasi walaupun tidak terjadi trauma langsung pada
daerah tersebut.
b. Kaput radius yang terdislokasi dapat dipalpasi di bagian anterior,
posterior atau anterolateral. Pada cedera tipe I dan IV, kaput radius dapat
dipalpasi di fossa antecubital. Kaput radius dapat dipalpasi di daerah
posterior pada cedera tipe II dan daerah lateral pada cedera tipe III.
c. Fraktur Monteggia pada anak-anak biasanya memberikan gambaran
tipikal yang lebih mengarah pada fraktur ulna dibandingkan dengan arah
dislokasi kaput radius. Apabila terjadi variasi tipe fraktur pada tulang
immature anak-anak maka akan terbentuk pola khas yang mempengaruhi
terapi. Deformitas plastik dari ulna yang terkait dengan dislokasi anterior
kaput radius mencapai 31% dari cedera anterior Monteggia.
3. Pemeriksaan Penunjang
Menggunakan foto polos sudah cukup untuk menegakkan diagnosis
fraktur Monteggia.Tehnik yang dilakukan adalah orthogonal, yaitu antara
tulang dan pesawat harus membetuk sudut 90 derajat. Dan termasuk
sendi pergelangan tangan dan siku juga harus ikut terfoto. Diambil baik
posisi anterior posterior dan lateral serta tidak lupa tangan yang sehat juga
diambil fotonya. Prinsipnya adalah membuat foto dari dua sisi yang berbeda
yaitu sisi anteroposterior dan sisi lateral (Nakamura, 2008).
Yang didapatkan adalah fraktur ulna yang nyata, tetapi dislokasi dari
kaput radialis mugkin tidak jelas atau terlewatkan. Untuk menilai sendi
radiocapitellar, garis parallel ditarik sesuai aksis tulang radius. Garis ini
harus menuju ke salah satu titik pada sendi siku (Nakamura, 2008).

Gambar 1 dan 2 : lesi Bado tipe I, merupakan fraktur Monteggia yang


paling sering (Nakamura,2008).

Gambar 3 : lesi Bado tipe II (Nakamura, 2008).

Gambar 4 dan 5 : lesi Bado tipe III dengan dislokasi lateral kaput radius
(Nakamura, 2008).
F. Penatalaksanaan
1. Konservatif
Tatalaksana nyeri dilakukan sedini mungkin. Apabila terjadi fraktur terbuka,
status imunisasi tetanus pasien harus ditentukan dan harus segera diberikan
antibiotik intravena. Luka terbuka harus diirigasi dengan larutan saline steril
dan ditutup dengan kasa yang steril dan lembab. Kaput radius tidak boleh
langsung direduksi. (Overly, 2002).
Penatalaksanaan dari komplikasi malunion fraktur monteggia dengan defisit
neurologis seperti transient ulnar-nerve palsy, dan laserasi parsial nervus
radialis bisa dengan cara konservatif yaitu dengan pemberian obat obatan
NSAID seperti ibuprofen untuk membantu mengurangi hematom yang terjadi
disekitar nervus ulnaris dan radialis. Kemudian dapat dilakukan juga latihan
tangan (Nerve gliding exercies) untuk membantu mencegah kekakuan yang
terjadi pada lengan dan pergelangan tangan (Athwal, 2015).

10

Gambar 6. Nerve gliding exercise

2. Operatif
Penatalaksanaan pada komplikasi malunion fraktur monteggia yaitu dengan
operatif. Untuk komplikasi residual subluksasi radiocapitellar, dan dislokasi
radiocapitellar yaitu dengan arthroplasty. Tehnik operatif mengacu pada
mobilisasi dari distal ke proksimal dari perlekatan fasia ke bagian lateral dari
muskulus trisep, dengan melindungi suplai darah arteri interosseous. (Morrey,
2002).
Terdapat tiga tehnik dalam operatif arthroplasty. Tehnik pertama interposisi
yaitu dengan menempatkan otot diantara sela capitellum dan kaput radius,
dengan cara dilipat atau ditautkan pada os radius dan capitellum (Morrey,
2002).

Gambar 7. Tipe-1 Interposisi


Tehnik kedua interposisi yaitu dengan merotasi bagian distal dari trisep
melewati sendi, diantara capitellum dan kaput radius. Atau dengan meresksi
bagian proksimal dari radius kemudian menginsersi bagian diantara kaput
radius dengan bagian ulna dibawah sudut sigmoid (Morrey, 2002).

11

Gambar 8. Tipe-2 Interposisi


Tehnik ketiga interposisi yaitu dengan melekatkan otot melingkari collum
radius dan menautkan kepada persendian radioulnar, dan mencegah subluksasi
dan dislokasi radiocapitellar. Dibuat sebuah lubang pada collum radius,
lakukan jahitan pada muskulus dan ikat pada lubang yang terapat di collum
radius tersebut. (Morrey, 2002).

Gambar 9. Tipe-3 Interposisi


Reduksi ulna dilakukan terlebih dahulu sebelum dilakukan reduksi kaput
radius. Jika terdapat fraktur terbuka, operasi dilakukan secara elektif. Jika
kaput radius masih belum bisa direduksi dengan memperbaiki ulna, reduksi
ulna lanjutan bisa dilakukan dengan supinasi forearm dan tekanan langsung
pada kaput radius biasanya berhasil. Ketika kaput radius secara anatomis
tidak bisa direduksi, memanipulasi sendi dan kapsulnya dengan memperbaiki
ligamentum anular bisa dilakukan (Ruchelsman, 2009).
Pada komplikasi malunion fraktur monteggia dengan defisit neurologis
seperti transient ulnar-nerve palsy, dan laserasi parsial nervus radialis bisa
dengan cara operatif. Terdapat dua tehnik operatif untuk penanganan defisit
neurologis yang terjadi. Pertama dengan memperlebar fossa mediana cubiti.
Dalam operasi ini bagian atas dari ligament di mediana kubiti dipotong sedikit,
hal ini meningkatkan ukuran fossa dan menurunkan tekanan pada nervus

12

ulnaris dan radialis. Setelah prosedur operasi ini, ligament akan sembuh dan
membuat jaringan baru. Pertumbuhan baru dari ligament ini memungkinkan
lebih banyak terdapat ruang pada fossa mediana kubiti, sehingga persarafan
yang diteruskan ke bagian tangan tidak terjadi kelemahan (Athwal, 2015).

Gambar 10. Operasi fossa mediana kubiti


Kedua dengan tehnik operasi transposisi nervus ulnaris, yaitu dengan
memindahkan nervus ulnaris yang semula posisinya berada di posterior
epicondylus medial, dipindahkan ke bagian anterior. Merubah posisi nervus ke
arah anterior ini mencegah nervus ulnaris terkompresi dan terperangkap
diantara penonjolan tulang dan persendian (Athwal, 2015).

G. Komplikasi
Komplikasi fraktur monteggia yang dapat terjadi adalah infeksi,
perdarahan, malunion, nonunion, cedera saraf, redislokasi kaput radius,
synostosis radioulnar dan nyeri kronik. Komplikasi ini dapat dikurangi dengan
diagnosa dini, reduksi adekuat, fiksasi yang stabil dan perawatan pasca operasi
yang sesuai (Goh, 2011).
Komplikasi dari malunion fraktur monteggia adalah residual subluksasi
radiocapitellar, dislokasi radiocapitellar, transient ulnar-nerve palsy, dan
laserasi parsial nervus radialis (Ruchelsman, 2009).
1. Residual Subluksasi Radiocapitellar

13

Subluksasi merupakan dislokasi parsial atau sebagian dari sendi, dan


masih ada bagian persendian yang bersatu. Dalam kasus ini terdapat
lepasnya sebagian kaput radius dari persedian radioulna proksimal.
2. Dislokasi Radiocapitellar
Dislokasi merupakan suatu kondisi dimana seluruh bagian tidak berada
pada tempatnya lagi. Dislokasi radiocapitellar terjadi pada seluruh sendi
radioulna. Pada komplikasi ini terjadi kondisi dimana seluruh kaput radius
yang sudah tidak melekat pada persendian radioulna pada saat posisi
tangan supinasi.
3. Transient Ulnar-Nerve Palsy
Transient Ulnar-Nerve Palsy adalah kondisi dimana nervur ulnaris
kehilangan fungsinya yang disebabkan karena komplikasi malunion
fraktur monteggia. Kondisi ini diakibatkan karena injuri dan penekanan
yang keras pada nervus ulnaris. Hal tersebut mengakibatkan hilangnya
rangsang sensoris dan juga penurunan fungsi untuk mengontrol digiti IV-V,
sehingga digiti IV-V tidak bisa merasakan rangsangan dan terdapat
kelemahan untuk menggerakan jari tersebut.
4. Laserasi Parsial Nervus Radialis
Dalam kasus ini komplikasi malunion fraktur monteggia yang dapat terjadi
namun jarang adalah laserasi parsial nervus radialis. Kondisi ini
disebabkan

dari

komplikasi

subluksasi

ataupun

dislokasi

sendi

radiocapitellar. Terjadi penurunan rangsang sensoris pada sebagian tangan


dan juga kelemahan otot pada tangan yang sering disebut wrist drop
atau finger drop.
H. Prognosis
Prognosis yang terjadi pada komplikasi malunion fraktur monteggia
adalah dubia ad bonam (Goh, 2011).

14

BAB III
KESIMPULAN
1. Fraktur Monteggia merupakan dislokasi dari bagian proksimal sendi radioulnar
yang berhubungan dengan fraktur antebrachii.
2. Insidensi fraktur Monteggia adalah <5% dari seluruh fraktur antebrachii.
Sebesar 82% ditemukan pada anak anak pada lempeng metafisis.
3. Komplikasi dari malunion fraktur monteggia adalah residual subluksasi
radiocapitellar, dislokasi radiocapitellar (subluksasi anteriot dari kaput radius
saat supinasi), transient ulnar-nerve palsy, dan laserasi parsial nervus radialis.
4. Penatalaksanaan penyakit ini adalah dengan terapi konservatif ataupun
operatif.

15

DAFTAR PUSTAKA

Athwal, George S., Fischer, Stuart J., Wiater, Michael J., 2015. Ulnar Nerve
Entrapment at the Elbow. American Academy Of Orthopaedic Surgeons.
Carter, Michel A. 2006. Fraktur dan Dislokasi dalam: Price Sylvia A, Wilson
Lorraine

McCarty.Patofisiologi

Konsep

Klinis

Proses-Proses

Penyakit.Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.Edisi 6. Hal 1365-1371.


Guitton, TG., Ring D, Kloen P.2009. Long-term evaluation of surgically treated
anterior monteggia fractures in skeletally mature patients. J Hand Surg Am.
34(9):1618-24.
Goh, Lesley A., Peh Wilfred C. G. 2011. Fraktur-Klasifikasi, Penyatuan, dan
Komplikasidalam : Corr Peter. Mengenali Pola Foto-Foto Diagnostik.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.. Hal 112-121.

16

Nakamura, K., Hirachi, K., Uchiyama, S.et al. 2009. Long-term clinical and
radiographic outcomes after open reduction for missed Monteggia fracturedislocations in children. J Bone Joint Surg Am.91(6):1394-404.
Ruchelsman, DE., Pasqualetto, M., Price, AE., Grossman, JA. 2009. Persistent
posterior interosseous nerve palsy associated with a chronic type I
monteggia fracture-dislocation in a child: a case report and review of the
literature. Hand (N Y). 4(2):167-72.
Tan, JW., Mu, MZ., Liao, GJ., et al. 2008. Pathology of the annular ligament in
paediatric Monteggia fractures.Injury. 39(4):451-5.
Overly, F., Steele, D. 2002.Common pediatric fractures and dislocations. Clinical
Pediatric Emergency Medicine.3(2):106-117.
Strauss, EJ., Tejwani, NC., Preston, CF., et al. 2006. The posterior Monteggia
lesion with associated ulnohumeral instability. J Bone Joint Surg Br.
88(1):84-9.

17