Anda di halaman 1dari 133

STANDAR

PELAYANAN RADIOLOGI

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS RADIOLOGI


INDONESIA

STANDAR PELAYANAN RADIOLOGI

@2011 pada penyusun


Editor: Bambang Budyatmoko
Kontributor Naskah:
A. Tenri A.Siswanto Avianti Djurzan
Bambang
Budyatmoko
Chunadi Ermanta
Daniel Makes
M. Djakaria
Indrati Suroyo
Iwan Ekayuda
Jacub Pandelaki
Kahar Kusumawidjaja
M. Yamin
N. Diana Yulisa
Patricia M. Widjaja
Prijo Sidipratomo
Paulus
Rahardjo
Sawitri Darmiati
Sudarmo S. P
Tonny Kuncoro

ISBN: 978-979-755-155-1
Cetakan pertama 2011

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS RADIOLOGI SELURUH


INDONESIA (PDSRI)

HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG-UNDANG


Dilarang keras mengutip, menjiplak atau memfotokopi baik
sebagian maupun seluruh isi buku ini serta
memperjualbelikannya tanpa mendapat izin tertulis dari
penyusun.

KATA PENGANTAR
Standar Pelayanan Radiologi merupakan suatu kebutuhan yang amat penting dan harus
ada dalam organisasi.
Standar pelayanan radiologi ini digunakan sebagai acuan oleh dokter spesialis radiologi,
organisasi profesi, rumah sakit, pusat-pusat pendidikan atau lembaga lainnya. Persiapan untuk
membuat standar ini sudah dirintis sejak lama, bermula dari kebutuhan PDSRI Jaya kemudian
dalam perjalanan waktu, berkembang menjadi kebutuhan rumah sakit, dan lembaga kesehatan
lainnya. Buku ini akan selalu diperbaiki, sesuai dengan perkembangan ilmu radiologi dan situasi
kesehatan masyarakat Indonesia.
Di dalam buku ini dibahas mengenai ketentuan standar pelayanan secara umum, pedoman
dan petunjuk praktik radiologi, standar teleradiologi, radio diagnostik pada gawat darurat,
pemeriksaan radiologi konvensional, pemeriksaan radiologi dengan kontras, dan pemeriksaan
ultrasonografi, CT Scan, MRI, Doppler USG, radiologi nuklir serta radiologi intervensional.
Standar pelayanan radio diagnostik ini bukanlah suatu hal yang sudah sempurna, dan
sesuai dengan perkembangan ilmu radiologi, melainkan harus selalu diperbaiki dan ditambah
secara terus menerus. Oleh karena itu saran-saran perbaikan sangat kami harapkan.
Akhir kata banyak terima kasih kami ucapkan kepada contributor buku ini: dr. A. Tenri
A.Siswanto,SpRad, dr. Aviyanti Djurzan,SpRad, dr. Bambang Budyatmoko,SpRad, Prof dr
Chunadi Ermanta SpRad, dr. Daniel Makes,SpRad, Prof. dr. H.M.Djakaria, SpRad, dr. Indrati
Suroyo, SpRad, dr. Iwan Ekayuda, SpRad, dr. Jacub Pandelaki, SpRad, dr.Kahar Kusumawidjaja,
SpRad, dr M Yamin Sp Rad dan kawan-kawan, dr.N.Diana Yulisa,SpRad, dr.Patricia
M.Widjaja,SpRad, dr. Prijo Sidipratomo Sp Rad, dr. Paulus Rahardjo SpRad, dr. Sawitri
Darmiati,SpRad, Prof. dr. Sudarmo S.Purwohudoyo, SpRad, serta dr. Tonny Kuncoro S, SpRad,
atas saran dan kontribusi yang sudah diberikan.
Kepada semua pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam pembuatan naskah ini, kami
ucapkan pula terima kasih yang tiada terhingga. Semoga hasil karya ini dapat bermanfaat bagi
semua.
Wassalam,
Jakarta, 6 September 2011
Editor

Bambang Budyatmoko

DAFTAR ISI
Kata Pengantar .. 3
Daftar Isi 4
Bab 1 Pendahuluan 7
Bab 2 Ketentuan Umum Standar,Pedoman, dan Petunjuk Praktik Radiologi

Bab 3 Standar Teleradiology Indonesia ...11


Bab 4 Prosedur Pemeriksaan Radiologi Standar pada Keadaan ..
Gawat Darurat ...13
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.
L.

Trauma Serviko Torako Lumbal . .13


Trauma Kepala .13
Pemeriksaan CT Scan Kepala ...14
Trauma Dada .14
Trauma pada Traktus Urinarius 14
Trauma pada Hati ..15
Trauma pada Lien ......15
Trauma Orbita ...15
Akut Abdomen ..16
Invaginasi ..16
Aspirasi Benda Asing ....17
Atresia Ani .....17

Bab 5 Standar Teleradiology Indonesia ...18


A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.

Pemeriksaan Radiologi Konvensional Tanpa Kontras .18


Pemeriksaan Traktus Respiratorius Bagian Atas ......18
Pemeriksaan Tulang Kepala .18
Pemeriksaan Tulang Temporal .19
Tulang-tulang Ekstremitas ....19
Pemeriksaan Tulang Belakang ......19
Pemeriksaan Radiologi Konvensional dengan Kontras 19
Protokol Pemeriksaan pada Abdomen Polos/PIV .24
Sistografi ...27
Uretrosistografi .28
MSU (Micturating Sisto Uretrography) ..28

L. Bipolar Sistografi 29
M. Pielografi Retrograd ....30
N. Mielografi ....31
O. Histerosalpingografi (HSG) .....33
P. Arthrografi ..34
Q. Pelvimetri 35
R. Mammografi 36
S. Galaktografi 36
Bab 6 Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) Abdomen dan Pelvic ..38
A.
B.
C.
D.
E.

Pemeriksaan USG Abdomen ..38


Pemeriksaan Pelvis .....39
Sonografi Kranium .39
Pemeriksaan USG Payudara ...........40
Pemeriksaan USG Muskuloskeletal ...41

Bab 7 Pemeriksaan USG Doppler Pembuluh Darah .43


A. Pemeriksaan Doppler Pembuluh Darah di Pelvik ..43
B. Pemeriksaan Doppler Pembuluh Darah Ekstremitas Inferior 44
C. Pemeriksaan Doppler Pembuluh Darah Ekstremitas Superior ...46
Bab 8 Pemeriksaan Radiologi Nuklir ....48
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Kelenjar Tiroid ...48


Ginjal ..49
Tulang .....55
Saluran Cerna .57
Onkologi .....58
Terapi .59

Bab 9 Pemeriksaan PETSCAN .63


Bab 10 Pemeriksaan Angiografi ...64
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Persiapan Angiografi .64


Radiologi-Neuroradiologi Intervensional ......65
Pemeriksaan Angiografi ....68
Teknik Artiografi .......75
Venografi Ekstremitas Inferior 77
Contoh Formulir Persiapan Angiografi dan Radiologi Intervensional ....78

Bab 11 Kontras Media 84

A. Tinjauan Umum Tentang Kontras Media 84


B. Aplikasi Kontras Media pada MRI ..90
Bab 12 Protokol Pemeriksaan CT Scan ..93
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.
L.

CT Scan Otak ...93


CT Scan Hipofisis ....93
CT Scan Telinga/OS. Petrosum ...93
CT Scan Orbita 94
CT Scan Nasofaring, Orofaring, Lidah ...94
CT Scan Laring (Pita Suara) ...95
CT Scan Tiroid ....95
CT Scan Sinus Paranasalis .95
CT Scan Toraks ..95
CT Scan Abdomen Atas .96
CT Scan Abdomen Bawah/Pelvis ......97
CT Scan Spinal ...97

Bab 13 Pemeriksaan MSCT Cardiac .98


Bab 14 Pemeriksaan CT Angiografi 101
A. Pemeriksaan MSCT Scan Leher Khusus (CTA Carotis) ....101
B. Pemeriksaan CT Angiografi Aorta Abdominalis (CTA Abdominalis).102
C. Pemeriksaan CT Angiografi Tungkai Bawah (CTA RUN OFF) ..104
Bab 15 Pemeriksaan MRI 106
A. Protokol Standar untuk Pemeriksaan MRI Ekstremitas ...106
1. Ekstremitas Atas .106
2. Ekstremitas Bawah .109
B. Protokol Standar untuk Pemeriksaan MRI Kepala ...112
C. Protokol Standar untuk Pemeriksaan MRI Kol. Vertebrae ..120
1. Vertebrae Servikal ..120
2. Vertebrae Torakal ...121
3. Vertebrae Lumbo-Sakral 121
D. Protokol Pemeriksaan MRI Abdomen dan Pelvis ....122
1. MRI Abdomen 122
2. MRCP ..123
3. MRI Pelvis ...123
E. Protokol Pemeriksaan MRI Breast dan Cardiac ...124
1. Pemeriksaan MRI Breast .124
2. Pemeriksaan MRI Cardiac ...124

Bab 16 White Paper Clinical Priviledges .125

BAB 1 PENDAHULUAN
Radiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan penggunaan
semua modalitas yang menggunakan energy radiasi pengion maupun non-pengion, untuk
kepentingan imaging diagnosis dan prosedur terapi dengan menggunakan panduan radiologi.
Teknik pencitraan dan penggunaan emisi radiasi dengan sinar-X, radioaktif, dan radiasi radio
frekwensi elektromagnetik oleh atom-atom juga termasuk dalam radiologi.

Keanggotaan Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia(PDSRI) menjamin


hak dan wewenang seorang dokter spesialis radiologi(Sp.Rad). PDSRI sekaligus menuntut
dedikasi para anggotanya terhadap pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia dalam
pelayanan radiologi. Kode Etik Kedokteran Indonesia merupakan landasan etik pelayanan
radiologi di Indonesia.
Pelayanan Radiologi pada hakikatnya harus bisa memberikan tindakan medis yang
aman, efektif, dan berperikemanusiaan. Selain itu tindakan medis yang dilakukan harus
berdasarkan ilmu kedokteran mutakhir, dan teknologi tepat guna dengan mendayagunakan
sumber daya manusia yang berkompeten dan profesional. Kompetensi dan keprofesionalan
sangat penting dalam menggunakan peralatan dan obat-obatan yang sesuai dengan standar,
pedoman, dan petunjuk profesi radiologi Indonesia.
Berikut ini ruang lingkup pelayanan radiologi.
1. Pelayanan radiologi dengan modalitas yang terkait dengan X-ray.
2. Prosedur pencitraan dan intervensi dengan menggunaka Fluoroskopi.
3. Pelayanan pemeriksaan Mammografi.
4. Pelayanan pemeriksaan Bone Mineral Densitometri.
5. Pelayanan pemeriksaan dan intervensi dengan USG.
6. Pelayanan pemeriksaan Doppler.
7. Pelayanan pemeriksaan dan intervensi dengan CT-Scan.
8. Pelayanan pemeriksaan dan intervensi dengan MRI.
9. Diagnostik dan Intervensi Angiography/Angiografi.
10. Pelayanan Radiologi Nuklir.
11. PET Scan.
12. Prosedur ablasi dan Crio/Thermoablasi.
Tujuan pelayanan radiologi adalah sebagai berikut.
1. Memberikan pelayanan radiologi yang memberikan informasi pencitraan untuk
diagnostik maupun pengobatan pasien atau untuk medical check up. Dalam hal ini
termasuk radiologi konvensional, USG, Study Doppler, Densitometri tulang,
Mammografi, CT Scan, MRI, Radiologi Nuklir, dan PET/CT.
2. Memberikan Pelayanan dalam tindakan diagnostik dan intervensi angiografi.
Kewajiban professional seorang dokter spesialis radiologi diuraikan dalam sumpah
profesi, etik profesi, standar profesi, dan prosedur operasional yang berlaku. Dalam
melaksanakan profesi dokter spesialis radiologi, diperlukan adanya rambu-rambu yang
memberikan perlindungan hukum baik bagi pemberi layanan maupun bagi penerima
layanan medis. Berikut ini akan dipaparkan tentang standar, pedoman, dan petunjuk
praktik radiologi Indonesia yang dapat dipakai sebagai acuan pelayanan radiologi di
Indonesia.

BAB 2 KETENTUAN UMUM STANDAR, PEDOMAN,


DAN PETUNJUK PRAKTIK RADIOLOGI
Standar pelayanan radiologi merupakan ketentuan-ketentuan atau persyaratan
minimum untuk pelayanan radiologi di seluruh Indonesia.
Standar-standar ini berkembang melalui berbagai proses berdasarkan consensus yang
diterima secara luas dan pertimbangan bukti ilmiah. Standar-standar ini dapat disesuaikan
pada keadaan-keadaan yang tidak lazim, misalnya kedaruratan yang ekstrim,

ketidaktersediaan peralatan, dan lain-lain. Pengurus Cabang Radiologi dapat membuat


Standar Pelayanan Radiologi untuk wilayahnya dengan mengacu pada Standar Pelayanan
Radiologi Indonesia(PDSRI).
Syarat ini juga tidak boleh diabaikan untuk tingkat/kelas rumah sakit tipe D,
sedangkan pada rumah sakit propinsi dan rumah sakit pendidikan wajib dipatuhi. Adalah
menjadi kewajiban dan wewenang Pemerintah untuk memenuhi kebutuhan tenaga dokter
spesialis radiologi agar tercapai pelayanan radiologi yang berkualitas, aman, dan professional.
A. Standar Tenaga Radiologi
1. Pelayanan Radiologi
Pelayanan radiologi adalah bagian vital dari pelayanan kesehatan dasar yang
memerlukan tenaga/personil yang kompeten. Tindakan radiologi adalah tindakan medis
dan dilakukan oleh tenaga medis yang telah mendapat pendidikan/pelatihan yang legal.
2. Jenjang Kompetensi Pelayanan Radiologi
Pelayanan radiologi dilakukan oleh dokter spesialis radiologi(SpRad) dan/atau
dokter spesialis radiologi konsultan(SpRad K). Bila tidak ada SpRad dan SpRad K,
pelayanan radiologi dilakukan oleh dokter peserta didik program spesialis radiologi.
Berikut ini penjelasan masing-masing kompetensi dokter radiologi.
a. Dokter Spesialis Radiologi
Dokter Spesialis Radiologi adalah dokter yang telah menyelesaikan program
pendidikan dokter spesialis radiologi di pusat pendidikan yang diakui atau lulusan luar
negeri yang telah melakukan adaptasi dan Ujian Nasional BPNRI, serta sudah
mendapat Surat Tanda Registrasi(STR).
b. Dokter Spesialis Radiologi Konsultan (SpRad K)
Dokter Spesialis Radiologi Konsultan adalah dokter spesialis radiologi yang telah
mendalami salah satu cabang ilmu radiologi yang telah diakui oleh PDSRI. Tanggung
jawab dan kompetensinya sama dengan dokter spesialis radiologi, dan bertindak
sebagai konsultan dalam bidang pendidikan keilmuannya.
c. Peserta Program Dokter Spesialis Radiologi -1 (PPDS-1)
Peserta program dokter spesialis radiologi-1, yaitu dokter yang sedang menjalani
program pendidikan untuk menjadi dokter spesialis radiologi di pusat-pusat
pendidikan yang diakui PDSRI. PPDS-1 tersebut dapat melakukan tindakan radiologi
di rumah sakit pendidikan dan di rumah sakit mitra pendidikan (rumah sakit jejaring),
serta bertanggung jawab sesuai dengan tingkat kompetensinya.

3. Pelayanan Radiologi pada kondisi tertentu


a. Di rumah sakit yang tidak memiliki SpRad
Di rumah sakit yang tidak memiliki SpRad tetapi di wilayah/daerah tersebut ada
SpRad, maka rumah sakit yang bersangkutan harus meminta bantuan kepada
SpRad tersebut untuk pelayanan radiologi sesuai dengan aturan departemen
kesehatan yang berlaku (kepmenkes 512 psl 9-10). Oleh karena itu, perlu dibangun
jejaring pelayanan radiologi.
b. Di wilayah yang tidak ada SpRad
Bila tidak ada SpRad di wilayah/daerah tersebut, tanggung jawab medis radiologi
di rumah sakit yang memerlukan pelayanan radiologi dilimpahkan kepada dokter
yang mempunyai sertifikat kompetensi terbatas dari Kolegium Radiologi
Indonesia yang berlaku untuk jangka waktu 1 tahun. Jika sudah ada SpRad di
tempat tersebut maka wewenang tersebut otomatis di serahkan kepada spesialis
radiologi.
B. Standar Pelayanan Radiologi
Standar-stadar pelayanan radiologi ini berlaku bagi semua pasien yang mendapat
pelayanan radiologi, kecuali bila terjadi keadaan darurat, maka tindakan bantuan hidup
harus didahulukan. Dalam keadaan yang tidak biasa sehingga penyimpangan dapat
diterima, misalnya kedaruratan ekstrim, dokter SpRad yang bertanggung jawab dapat
memodifikasi standar ini. Dianjurkan bahwa bila ini dilakukan harus dicatat dalam
rekam medis pasien, berikut dengan alasannya.

BAB 3 STANDAR TELERADIOLOGI INDONESIA


A. Definisi Teleradiologi
Teleradiologi adalah transmisi elektronik gambar radiografi dari semua modalitas
radiologi kepada spesialis radiologi secara langsung atau sesegera mungkin dari satu lokasi ke
lokasi yang lain, yang dapat dikerjakan untuk tujuan interpretasi dan konsultasi serta untuk
memberikan pelayanan terbaik bagi pasien.
B. Persyaratan Teleradiologi
Dalam pelaksanaannya, teleradiologi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.

1. Teleradiologi hanya dilakukan oleh dokter spesialis radiologi.


2. Teleradiologi dapat dikerjakan apabila persyaratan sudah sesuai dengan standar
pelayanan teleradiologi dan disetujui oleh PDSRI(Perhimpunan Dokter Spesialis
Radiologi Indonesia) Pusat setelah mendapat rekomendasi PDSRI cabang.
3. Teleradiologi dapat dilaksanakan oleh pelayaan kesehatan yang berada dalam wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan ke atau dari luar negeri.
4. Teleradiologi harus tetap menhaga kerahasiaan data pasien sesuai dengan undangundang kesehatan yang berlaku.
5. Teleradiologi selamanya selalu dikembangkan untuk kepentingan pasien yang terbaik
berdasarkan keamanan pasien dan standar pelayanan kesehatan yang berlaku.
6. Perlengkapan atau peralatan dan manfaat teleradiologi selalu dievaluasi minimal satu
tahun sekali oleh PDSRI sesuai PERMENKES No.1014/MENKES/SK/XI/2008
tentang Standar Pelayanan Radiologi Diagnostik.
7. Seluruh konsultasi teleradiologi ke luar negeri harus sesuai dengan peraturan PB IDI.
C. Pelaksanaan Teleradiologi
1. Teleradiologi yang digunakan untuk konsultasi ke Negara lain dapat dikerjakan atas
persetujuan tertulis pasien atau pengampu dan setelah ada kesepakatan termasuk jasa
teleradiologi antara sarana kesehatan dan ahli radiologi dengan pihak luar negeri.
2. Teleradiologi harus mengacu dan tidak boleh bertentangan dengan undang-undang
Praktik Kedokteran Indonesia dan PERMENKES 512.
3. Teleradiologi tidak dapat digunakan oleh sarana kesehatan/rumah sakit untuk bekerja
sama dengan institusi atau dokter spesialis radiologi luar negeri kecuali sepengetahuan
dan seijin dokter spesialis radiologi setempat dan ijin tertulis PDSRI Pusat.

D. Teleradiologi untuk daerah terpencil


Teleradiologi untuk daerah terpencil dapat memanfaatkan departemen radiologi dari
rumah sakit pendidikan yang berada di propinsi tersebut. Teleradiologi di daerah
terpencil dapat pula memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan propinsi terdekat atau
rumah sakit jejaring yang mampu melaksanakan, sampai ada dokter spesialis radiologi
yang bertugas atau seijin dokter spesialis radiologi yang bertugas ditempat tersebut.
E. Interpretasi Teleradiologi
1. Teleradiologi dapat dimanfaatkan oleh profesi kesehatan yang lain (selain dokter
spesialis radiologi) sebagai konsultasi saja dan bukan untuk membuat laporan
interpretasi (ekspertise).
2. Laporan interpretas teleradiologi dapat dibuat tertulis atau dikomunikasikan langsung
ke departemen radiologi setempat atau klinisi yang meminta, serta dapat didiskusikan
sesuai kebutuhan.

3. Laporan interpretasi teleradiologi dapat dikomunikasikan langsung ke departemen


radiologi yang terkait atau klinisi yang meminta, serta dapat didiskusikan sesuai
kebutuhan.
4. Laporan interpretasi atau konsultasi teleradiologi oleh dokter spesialis radiologi di
tempat praktik dapat dikirim dan dicetak dari jarak jauh tanpa memerlukan tanda
tangan. Akan tetapi pada lembar interpretasi dicantumkan interpretasi atau konsultasi
ini dibuat berdasarkan teleradiologi.
5. Hasil interpretasi atau konsultasi teleradiologi harus dapat dipertanggungjawabkan
serta sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku di wilayah NKRI.
F. Kwalitas Teleradiologi
Perlengkapan atau peralatan untuk melakukan proses teleradiologi, secara keseluruhan
memiliki kwalitas hasil pencitraan(imaging) yang dapat diinterpretasi.
G. Jasa Teleradiologi.
1. Jasa interpretasi teleradiologi minimal sama dengan jasa interpretasi radiologi.
2. Jasa konsultasi teleradiologi kepada dokter spesialis radiologi lain minimal dibagi
sama rata.
3. Jasa konsultasi teleradiologi dari profesi kesehatan lain pada sarana pelayanan
kesehatan yang tidak memiliki dokter spesialis radiologi besarnya minimal sama
dengan jasa interpretasi radiologi.
4. Jasa konsultasi teleradiologi ke luar negeri besranya sesuai dengan kesepakatan
kerjasama yang dibuat bersama.
H. Hasil Interpretasi Teleradiologi
Hasil interpretasi konsultasi teleradiologi mencantumkan nama dokter spesialis
radiologi yang meminta dan dokter spesialis radiologi yang menjawab konsultasi.

BAB 4 PROSEDUR PEMERIKSAAN RADIOLOGI


STANDAR PADA KEADAAN GAWAT DARURAT
A. Trauma Serviko Torako Lumbal
1. Tujuan pemeriksaan serviko lumbal
Tujuan pemeriksaan radiologi standar pada traima serviko torako lumbal adalah
sebagai berikut.
a. Memperlihatkan fraktur, fragmen fraktur, dan memperlihatkan komplikasi yang
ditimbulkan oleh trauma di daerah tersebut.
b. Memperlihatkan adanya korpus alienum seperti proyektil pada luka tembak.
2. Teknik pemeriksaan
Teknik-teknik pemeriksaan radiologi standar yang dilakukan terhadap pasien trauma
serviko torako lumbal adalah sebagai berikut.
a. Foto polos
b. CT Scan
c. MRI

Dalam praktiknya, foto polos cukup dibuat dua posisi saja (AP dan lateral) dan
diusahakan untuk tidak memanipulasi pasien. CT scan atau MRI dilakukan apabila
informasi dari foto polos kurang mencukup, atau apabila trauma diduga mengenai
medulla spinalis.
B. Trauma Kepala
1. Tujuan pemeriksaan trauma kepala
Tujuan pemeriksaan trauma kepala adalah untuk menemukan fraktur, perdarahan
ekstra dan intra serebral serta komplikasi lain akibat trauma. Untuk GCS kurang dari
14 atau cedera kepala berat, segera gunakan CT scan kepala. Untuk trauma wajah
dapat dibuat foto Waters bila keadaan memungkinkan atau CT csan 3D.
2. Teknik pemeriksaan
Foto polos kepala dibuat AP dan lateral saja. Sebaiknya pada foto lateral digunakan
sinar horizontal sehingga daerah servikal masuk lapangan radiografi. Dilarang
memanipulasi pasien, terutama bila diduga adanya fraktur servikal. Untuk trauma
wajah dapat digunakan foto Waters bila keadaan memungkinkan atau CT scan 3D.
C. Pemeriksaan CT scan kepala
Pemeriksaan CT scan kepala dilakukan dengan posisi pasien berbaring, dengan
potongan aksial. Apabila perlu dilakukan potongan lebih, maka pemotongannya
dilakukan dibawah garis OM line (REIDS). Pemeriksaan CT scan kepala juga
dilakukan apabila pasien dicurigai mengalami fraktur tulang-tulang wajah dan
basis crania. Selain itu, pemeriksaan CT scan kepala dilakukan dalam reformatting
sagital atau koronal dan tiga dimensi window tulang pada daerah fraktur dan
kontras media tidak digunakan.
D. Trauma Dada
1. Tujuan pemeriksaan radiologi standar pada trauma dada
Pemeriksaan radiologi juga dilakukan untuk trauma dada dengan tujuan sebagai
berikut.
a. Mencari adanya fraktur tulang-tulang dinding dada.
b. Mencari adanya benda asing (luka tembak)
c. Mencari adanya kelainan pada mediastinum.
d. Mencari adanya hematotoraks, pneumotoraks, dan efusi pleura.
2. Teknik pemeriksaan
Pada trauma dada, pemeriksaan dilakukan dengan foto polos AP dan lateral sebagai
data dasar untuk mencari adanya fraktur, pneumotoraks, hematotoraks, benda asing,
dan melihat kelainan diafragma sinus. Pemeriksaan trauma dada dengan USG
digunakan untuk melihat adanya efusi pleura. Sedangkan pemeriksaan trauma dada
dengan CT scan digunakan untuk melihat adanya pneumotoraks yang tersembunyi,

adanya benda asing atau adanya dugaan cedera pada pembuluh darah(dissecting
aorta). Pada keadaan ini digunakan kontras media.
E. Trauma pada Traktus Urinarius
1. Tujuan pemeriksaan radiologi standar pada Traktus Urinarius
Tujuan pemeriksaan radiologi pada traktus urinarius dilakukan untuk melihat
kemungkinan adanya kontusio, laserasi atau ruptur ginjal, dan buli-buli.
2. Teknik pemeriksaan
Teknik pemeriksaan trauma pada traktus urinarius dilakukan denga foto polos
abdomen untuk melihat adanya fraktur pada tulang-tulang, melihat perubahan udara
usus dan garis psoas, serta peritoneal fat line.
3. Pemeriksaan PIV
Pemeriksaan PIV dilakukan untuk melihat fungsi ginjal, sistem kalises-ektravasasi
kontras pada ginjal dan buli-buli, tanpa persiapan dan tanpa kompresi pada perut.
Apabila perlu dilakukan dengan menggunakan kontras dosis ganda.
USG dan CT scan digunakan untuk menilai parenkim ginjal, struktur buli-buli, dan
organ sekitarnya. Pemeriksaan USG dan CT scan dilakukan untuk memperlihatkan
adanya hematom di dalam buli-buli dan organ sekitarnya, serta memperlihatkan
adanya ruptur organ. Pemeriksaan ini digunakan untuk melengkapi pemeriksaan
terdahulu bila hasilnya masih meragukan. Khusus pada USG ginjal, hasilnya dapat
digunakan sebagai screening, bila dicurigai adanya kontusio atau ruptur ginjal, dan
buli-buli.
F. Trauma pada Hati
1. Tujuan pemeriksaan radiologi standar pada trauma hati
Tujuan pemeriksaan radiologi standar pada trauma hati adalah untuk memperlihatkan
adanya laserai atau hematom serta ruptur dari lobus-lobus hati.
2. Teknik pemeriksaan
Pemeriksaan trauma hati dilakukan melalui pemeriksaan USG hati. Hal ini dilakukan
untuk melihat struktur parenkhim hati, melihat adanya hematom intra parenkimal, atau
pericapsular. Apabila pemeriksaan USG sulit dilakukan pada orang-orang yang gemuk
atau terdapat banyaknya udara di usus dan mengganggu pemeriksaan dengan USG,
maka dilakukan pemeriksaan dengan CT scan.
G. Trauma pada Lien
1. Tujuan pemeriksaan radiologi standar untuk trauma pada lien
Pemeriksaan radiologi standar untuk trauma pada lien bertujuan untuk
memperlihatkan kemungkinan adanya ruptur limpa.
2. Teknik pemeriksaan
Pemeriksaan trauma pada lien dilakukan dengan USG untuk memperlihatkan adanya
hematom intrakapsular serta adanya ruptur pada limpa. Pemeriksaan CT scan hanya
dilakukan bila pemeriksaan USG hasilnya meragukan.

H. Trauma Orbita
1. Tujuan pemeriksaan radiologi standar pada trauma orbita
Pemeriksaan radiologi standar pada trauma orbita bertujuan untuk memperlihatkan
adanya fraktur dinding orbita serta memperlihatkan adanya benda asing, radio opak,
dan hematom sekitar orbita.
2. Teknik pemeriksaan
Pemeriksaan pada trauma orbita dilakukan dengan foto polos AP, lateral, dan Caldwell
untuk memperlihatkan adanya fraktur dinding orbita. Pemeriksaan juga dapat
dilakukan menggunakan metode Pfeiper Comberg untuk memperlihatkan benda asing
pada orbita intra atau ekstra ocular. Bila diperlukan, pemeriksaan dapat menggunakan
CT scan dengan potongan aksial dan koronal.

I. Akut Abdomen
1. Tujuan pemeriksaan radiologi standar pada akut abdomen
Pemeriksaan radiologi standar untuk akut abdomen bertujuan sebagai berikut.
a. Memperlihatkan adanya perforasi usus.
b. Mencari adanya tanda sumbatan traktus gastrointestinal (obstruksi ileus), atau
paralityk ileus.
c. Menilai adanya distensi usus besar dan usus kecil.
d. Mencari adanya udara bebas, asites, kalsifikasi intra dan ekstra peritoneal dan
dinding abdomen.
2. Teknik pemeriksaan
a. Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tiga posisi:
1) Terlentang.
2) duduk ( toraks dan abdomen )
3) Lateral dekubitus.
b. Pada penderita yang payah pemeriksaan dilakukan seperti berikut
1) Posisi AP terlentang.
2) Posisi terlentang, sinar horizontal.
3) Lateral dekubitus kalau mungkin, atau posisi semi erect dengan fluoroskopi.
c. Lain-lain:
Untuk melihat udara di rectum, gunakan posisi telungkup, dengan sinar horizontal.
Pada kasus bayi dan anak gunakan posisi terlentang AP dan posisi lateral. Gunakan
sinar horizontal bila perut sangat kembung. Bila perut tidak terlalu kembung,
gunakan posisi telungkup, dengan sinar horizontal.
J. Invaginasi

Pemeriksaan radiologi standar pada invaginasi bertujuan untuk mendiagnosis dan


melakukan tindakan terapi bila memungkinkan. Teknik pemeriksaan yang dilakukan
adalah sebagai berikut.
1. Foto polos terlentang.
2. AP untuk melihat distribusi udara usus.
3. USG untuk melihat adanya tanda Dough Nut atau Pseudokidney Diagnosis dan
terapinya dilakukan dengan barium enema dan tinggi permukaan kontras dengan
meja pasien tidak lebih dari 100cm;
4. Tidak boleh menggunakan massage(pemijatan) untuk mendorong kontras.
5. Tindakan reposisi dengan barium dikatakan gagal apabila setelah dicoba sebanyak
3 kali tidak berhasil.
6. Tindakan barium enema tidak dilakukan bila sudah terjadi tanda-tanda peritonitis.
K. Aspirasi Benda Asing
Pemeriksaan radiologi dilakukan dengan tujuan untuk menemukan benda asing, radio
opak atau menemukan akibat dari benda asing tersebut. Benda-benda asing yang
dimaksud adalah:
1. Uang logam
Apabila benda asing tersebut adalah logam maka dapat dilakukan pemeriksaan
foto toraks dan abdomen dan bila perlu dilakukan pemeriksaan fluoroskopi untuk
melihat benda asing di daerah servikal.
2. Aspirasi benda non radio opak, misalnya kacang
Untuk kasus seperti ini pemeriksaan dilakukan dengan membuat foto toraks dalam
kondisi inspirasi dan ekspirasi untuk menemukan adanya atelektasis atau fokal
emfisema distal dari daerah sumbatan.
3. Duri ikan atau jarum yang tertelan
Untuk kasus seperti ini, pemeriksaan dilakukan dengan membuat foto daerah
servikal kondisi jaringan lunak untuk menemukan benda asing tersebut. Apabila
benda asing tersebut tidak ditemukan, gunakan kontras barium dengan sebelumnya
menelan kapas terlebih dahulu agar lokasi dapat dilakukan dengan tepat. Apabila
diperlukan dapat menggunakan CT scan.
L. Atresia Ani
Tujuan pemeriksaan radiologis pada atresia ani adalah untuk memperlihatkan jenis
atresia ani, letaknya, (tinggi atau rendah). Batasnya adalah garis pubo koksigeus.
Pemeriksaannya dapat dilakukan dengan cara membuat foto polos pada posisi rectum
di atas kira-kira selama 3 sampai dengan 5 menit. Setelah itu dilakukan identifikasi
apakah udara terletak dibawah garis pubo koksigeus atau diatas garis tersebut. Cara
identifikasinya pasien dalam posisi bersujud (prone), sinar horizontal atau gunakan
USG dengan mengukur jarak dari kulit.

BAB 5 PROSEDUR PEMERIKSAAN RADIOLOGI


KONVENSIONAL
Pemeriksaan radiologi konvensional adalah pemeriksaan radiologi yang ditujukan
kepada organ-organ toraks dan traktus respiratorius bagian atas tulang, dan sistem
musculoskeletal, traktus urinarius dan sistem reproduksi, traktus digestivus, serta organ
superficial: mammae-tiroid-testis, dan jaringan lunak lainnya. Pemeriksaan radiologi
konvensional ini dilakukan tanpa kontras dan dengan kontras.
A. Pemeriksaan radiologi konvensional tanpa kontras
Pemeriksaan-pemeriksaan radiologi konvensional tanpa kontras yang sering dilakukan
antara lain sebagai berikut:
1. Foto toraks
Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk memperlihatkan struktur morpologi organorgan dalam rongga toraks seperti jantung dan pembuluh darah besar, paru-paru,
rongga pleural, serta struktur organ lain dalam rongga mediatinum dan paru.
Foto toraks dibuat dalam posisi PA dan sebaiknya disertai dengan foto lateral
untuk memperlihatkan kelainan-kelainan dalam dua dimensi. Bila diperlukan
dibuat foto top lordotic untuk memperlihatkan bagian atas paru-paru. Untuk
memperlihatkan struktur jantung dan pembuluh darah besar dilakukan
pemeriksaan Cor analisis dengan meminum barium sebelum pembuatan foto dada
pada PA lateral. Untuk penderita-penderita payah hanya diperlukan foto dalam
posisi berbaring.
B. Pemeriksaan Traktus Respiratorius Bagian Atas
Yang paling sering diperlukan adalah pemeriksaan sinus paranasal. Tujuan
pemeriksaan ini adalah memperlihatkan struktur sinus paranasal, septum nasi, konka
nasalis, dan adenoid. Untuk jenis pemeriksaan ini dibutuhkan foto Waters dengan
mulut terbuka dan foto lateral. Bila perlu dibuat foto AP kepala.
C. Pemeriksaan Tulang Kepala

Pemeriksaan foto kepala bertujuan untuk memperlihatkan adanya fraktur, adanya


tekanan intracranial yang meninggi dengan terbukanya sutura dan kontanel serta
sella tursika yang melebar.
Pemeriksaan foto kepala juga memperlihatkan struktur tulang-tulang kepala,
misalnya lesi-lesi osteolitik, osteoblastik, pelebaran diploe, serta ada atau tidaknya
klasifikasi patologis.

D. Pemeriksaan Tulang Temporal


Pemeriksaan tulang temporal bertujuan untuk memperlihatkan struktur tulang
temporal, misalnya apakah terdapat fraktur, terjadi infeksi akut atau kronis, serta ada
atau tidaknya kolesteatoma dan tumor-tumor di daerah CPA, seperti neurinoma
akustik. Pemeriksaan foto tulang temporal memerlukan foto-foto pada posisi Schuller,
Stenvers, Chause III atau Towne sesuai dengan kebutuhan.
E. Tulang-tulang Ekstremitas
Pemeriksaan tulang-tulang ekstremitas bertujuan memperlihatkan adanya fraktur,
osteomyelitis, penyakit degeneratif atau destruksi tulang akibat metastasis, tumor
tulang primer atau penonjolan tulang. Pada pemeriksaan ini dibuat foto pada posisi AP
dan lateral serta sedapat mungkin memperlihatkan sendi.
F. Pemeriksaan Tulang Belakang
Pemeriksaan ini memperlihatkan struktur tulang vertebra servikal torakal-lumbal dan
sakrum serta koksigeus. Pemeriksaan ini bertujuan memperlihatkan kemungkinan
kelainan congenital vertebrae, skoliosis atau dekstruksi tulang serta fraktur patologis
akibat metastasis, tumor primer, trauma, infeksi atau osteoporosis serta penyakit
degeneratif.
G. Pemeriksaan Radiologi Konvensional dengan Kontras
1. Saluran Cerna Bagian Atas
a. Persiapan umum:
Pasien mengurangi jumlah makanan;
Pasien berpuasa 4-6 jam sebelum pemeriksaan tergantung pada kondisi umur;
pada bayi puasa hanya 2-3 jam saja, boleh minum air manis, asal jangan susu
tanpa laksan.
b. Foto abdomen survey bila diperlukan
Foto yang dilakukan sekurang-kurangnya foto abdomen AP untuk mengetahui
adanya tumor, ileus paralitik/sumbatan.
c. Tes minum
Bila ada disfagi, pasien diberi minum air putih. Bila tidak bisa menelan,
barium meal ditiadakan.
d. Kesadaran menurun

Tes kesadaran dan aktivitas kooperatif.


e. Kontra indikasi
Kelainan yang ditemukan pada ad a, b, dan c merupakan kontra indikasi untuk
meneruskan pemeriksaan saluran cerna bagian atas. Juga pada keadaan
hematemesis akut.

f. Indikasi umum
Hematemesis, melena, penurunan berat badan, anemia, nyeri epigastrium,
gangguan pencernaan, khusus diar, disfagia, dan muntah-muntah.
3. Oesofagus Bagian Atas-Bawah
a. Kontras
Larutan barium encer
Larutan barium tebal(pasta)
Larutan kontras non-ionik
b. Teknik
1) Kontras tunggal-barium encer
Minum satu teguk barium encer/kontras non-ionik yang dilarutkan.
Setelah diminum, dilihat dengan fluoroskopi, adakah sumbatan,
dilatasi, atau menyempit. Bila ada dilatasi saja dan dugaan adanya
akalasia, barium encer boleh ditambah. Foto AP, lateral, oblik, di
daerah khusus Cardia.
2) Kontras tunggal-barium kental
Bila ada penyempitan atau jalannya kontras tersumbat, barium boleh
ditambah. Foto oblik dan lateral, AP. Buat foto lagi yang fase ekspirasi
untuk mengisi oesofagus bagian distal. Buat foto seluruh oesofagus,
film besar, AP, lateral.
c. Indikasi
Dikerjakan pada Ca. oesofagus, struktur oesofagus, dan lain-lain. Post operatif
anastomosis esophagus dimulai dengan barium encer dan barium kental. Bila
dikhawatirkan adanya perforasi dan anastomosis bocor, dapat dilakukan
dengan larutan kontras non-ionik.
d. Pasca pemeriksaan oesofagus
Dibuat foto toraks untuk kontrol aspirasi kontras bila perlu. Untuk pengamatan
pasase barium, bila perlu, dilakukan foto abdomen.
4. Lambung-Duodenum
a. Kontras
1) Larutan barium sulfat dalam air 1:3 sampai 1:4
2) Larutan barium sulfat 120-200 W/V/%
3) Larutan gastrografin (sudah tidak diproduksi saat ini), kontras
non-ionik
4) Kontras ganda terdiri dari larutan barium dan udara atau gas.
b. Teknik
1) Cara kontras tunggal

Pasien minum satu atau dua teguk kontras. Ikuti dengan fluoroskopi sampai
kontras menyebar dan menggambarkan mukosa lambung. Buatlah satu foto
mukosa dalam posisi terlentang. Minum satu gelas kontras tersebut sampai
habis. Buatlah foto-foto sebagai berikut.
a) Satu foto dalam posisi tegak.
b) Satu foto terlentang (LAO dan RAO).
c) Satu foto tengkurap (kontras kebanyakan lari
ke antrum dan bulbus dan sisanya
menggambarkan mukosa fundus).
d) Spot foto: di daerah yang dicurigai ada
kelainan dibuat beberapa spot foto dengan
posisi yang berbeda dan dengan kompresi.
2) Cara kontras ganda
a) Sebelumnya pasien diberi spasmolitik 1 ampul.
b) Intramuscular 15 sampai 30.
Kontras diberikan sebelum pemeriksaan atau bila diberikan intravena dapat
langsung diberikan pada saat pemeriksaan. Tujuannya agar lambung dalam
keadaan relaksasi dan dapat meregang dengan baik serta mengurangi
peristaltic.
c) Perhatikan
kontra
indikasi
pemberian
spasmolitik antara lain aritmia, takikardi,
glaucoma, dan hipertrofi porstat. Pada anakanak tidak perlu diberikan spasmolitik.
d) Pasien meminum kontras barium lebih kurang 30 cc, kemudian buat foto dalam
posisi tengkurap (prone) untuk melihat dinding anterior. Pasien berdiri lagi,
minum 1 gelas kontras barium dan masukkan udara atau gas. Udara dimasukkan
dengan menggunakan nasogastric tube, akan tetapi sekarang jarang dipakai.
e) Untuk gas dapat diberikan gas effervescent atau bila tidak ada dapat dipakai 1,5
gram atau 3 tablet bicarbonas natricus kemudian ditambahkan 1 sendok asam
sitrat.
f) Foto-foto dibuat seperti kontras tunggal.
3) Lain-lain
Foto lateral dibuat bila dijumpai adanya tumor intra abdomen pada anak-anak.
c. Indikasi
Hematemesis, melena (dimana pendarahan sudah berhenti),
Penurunan berat badan,
Nyeri epigastrium,
Tumor-tumor lambung/di luar lambung.
d. Kontra indikasi
Adanya perforasi,
Ileus,
Keadaan umum yang buruk,
Hal-hal lain yang mungkin memperburuk keadaan penderita.

5. Usus Halus
a. Indikasi dan kontra indikasi
Anemia yang tidak diketahui sebabnya, sakit perut yang tidak diketahui sebabnya,
tanda-tanda malabsorpsi, berat badan menurun, dan adanya keluhan pada saluran
cerna.
Kontra indikasi yang terjadi yaitu obstruksi usus halus.
b. Persiapan
Sama dengan lambung duodenum (pasien berpuasa minimal 8 jam),
Pasien tidak boleh memakan makanan yang berlemak.
c. Kontras
Sama dengan lambung duodenum.
d. Teknik
Follow-through(diminum),
Dapat dikerjakan sama dengan pemeriksaan lambung duodenum,
Foto-foto posisi terlentang dan lateral,
Bila perlu berdiri atau kompresi,
Dibuat dengan spot foto/bucky table,
Foto 1/2 1 jam 2 jam 4 jam,
Prinsip kontras sudah masuk sekum,
Waktu dapat diperpanjang atau diperpendek sesuai keadaan,
Dengan kateter duodenum,
Kateter dimasukkan sampai duodenum,
Kontras dan udara dimasukkan,
Foto diambil dengan fluoroskopi.
6. Kolon (Barium Enema)
a. Indikasi
Diare kronis, hematoschezia.
Indikasi umum: konstipasi kronis dan perubahan pola defikasi.
Indikasi-indikasi menurut klinis:
1) Kolitis
2) Tumor kolon
3) Tumor intra abdominal di luar kolon
4) Kelainan congenital, missal: hirschprung
5) Invaginasi
6) Ileus obstruksi rendah, misalnya volvulus
7) Hal-hal lain yang diperkirakan berasal dari kolon

b. Kontra indikasi:
Perforasi,

Kolitis berat dimana dinding kolon menjadi sangat tipis dan ditakutkan perforasi,
NEC, tipus, dan sebagainya,
Keadaan umum yang jelek;leus paralitik.
c. Persiapan
1) Obstipasi kronis
a) Minimal 2 hari sebelum pemeriksaan kolon
b) Makanan yang mudah dicerna, lunak, tidak mengandung serat dan lemak.
c) Minum banyak diberi laksa dan dipuaskan
2) Tanpa riwayat obstipasi
a) Minimal 1 hari sebelum pemeriksaan makan makanan yang mudah dicerna,
lunak tidak mengandung serat dan lemak, minum air biasa yang banyak dan
sering,
b) Diberikan laksan kira-kira 8-12 jam sebelumnya,
c) Puasa makan kira-kira 8 jam,
d) Minum air tidak dibatasi.
3) Dengan riwayat diare
d. Laksan
Jenis laksan yang digunakan sesuai dengan kondisi penderita.
1) Dengan riwayat obstipasi diberi laksan kuat/berat seperti:
a) Castrol oil,
b) Garam inggris,
c) Lemonade purgative
2) Dalam keadaan normal digunakan laksan ringan misalnya Laxadine dan
Dulcolax
e. Teknik
1) Teknik kontras tunggal
a) Setelah kontras masuk ke rectum dan sigmoid, buat foto oblik atau lateral
supaya rectum dan sigmoid tidak saling tumpah tindih.
b) Kontras kemudian dimasukkan sampai sekum, apendiks, dan ileum
terminal.
c) Dibuat foto (ikhtisar) post evakuasi.
d) Foto dengan KV tinggi digunakan untuk melihat kelainan intra luminal,
misalnya polip.
2) Kontras ganda
Spasmolitik diberikan bila perlu saja. Misalnya bila penderita terlalu mulas
atau untuk menilai indentasi bersifat fungsional atau patologis.
3) Fase pengisian
Kontras dimasukkan ke dalam lumen, tergantung kepada bentuk dan
panjangnya kolon. Pada umumnya sampai pertengahan kolon transversum.
Dengan melakukan mobilisasi, kontras masuk ke dalam kolon asendens
sampai sekum.
4) Fase pelapisan

Kontras dalam lumen didiamkan selama kurang lebih 1 menit supaya dalam
melapisi mukosa kolon.
5) Fase evakuasi
Kontras dikeluarkan melalui irrigator ke dalam kantong dengan jalan
merubah posisi penderita.
6) Fase pengembangan
Dilakukan pemompaan udara ke dalam kolon melalui irrigator.
7) Fase pemotretan
Foto-foto dibuat tergantung pada kebutuhan mulai dari rekto-sigmoid, supine,
AP-LAT atau oblik.

H.
1.
a.
b.
c.
d.

8) Efek samping
Perforasi, refleksi vagal karena distensi yang berlebihan atau terlalu cepat,
meteorismus.
Protokol Pemeriksaan pada PIV(Pyelografi Intravena)
Tujuan pemeriksaan PIV
Menilai fungsi ekskresi ginjal.
Menilai morfologi dari struktur sistem pelviokalises.
Menilai kemampuan miksi.
Membuat PIV dalam kondisi optimal.

2. Indikasi
Semua kelainan pada da di luar traktus urinarius yang dicurigai mempengaruhi traktus
urinarius.
3. Kontradiksi
a. Absolut, jika hipersenstif terhadap kontras thireotoksikosis.
b. Relative, jika keadaan umum buruk, diabetes mellitus, miyeloma multiple, dan
dekompensasi kordis. Dipertimbangkan dengan saksama keuntungan dan bahayanya.
Pada keadaan dimana kadar kreatinin lebih besar 6 mg/dL sebaiknya PIV tidak
dilakukan.
4. Persiapan penderita
a. Tujuan menghilangkan sebanyak mungkin feses dari traktus gastrointestinalis.
b. Untuk memperoleh gambaran PIV optimal. Caranya:
1) Minum laksan 6 jam sebelumnya.
2) Jenis laksa tergantung kebutuhan (lihat bab pemeriksaan kolon)
3) Mengurangi minum dan tidak merokok pada hari pemeriksaan.
4) Mengisi inform consent.
5. Persiapan alat
a. Jarum suntik bersayap (wing needle), atau jarum kateter, dan kompresor pinggang. Akan
tetapi, kompresor pinggang tidak dipakai pada keadaan:
1) Trauma ginjal

2)
3)
4)
b.
1)
2)
3)
4)
c.

Penderita dengan asites


Tumor abdomen
Neonates
Obat-obatan
Adrenalin
Oradexon/kortikosteroid lain
Antihistamin, avil
Infuse garam fisiologi, glukosa.
Alat lain: tabung O2 (oksigen, resusitasi set)
PIV tidak dikerjakan sebelum obat-obatan emergency tersedia.

6. Tempat pemeriksaan
a. Rumah sakit
b. Tempat praktik dengan perlengkapan pada pasal 5
7.
a.
b.
c.
d.

Pemeriksaan klinis
Anamnesis, pernah reaksi yodium/obat-obatan
Wanita hamil atau tidak
Pemeriksaan fisk bila diperlukan
Post operasi

8.
a.
b.
1)
2)

Kontras media/dosis
Larutan meglumin diatrizoat, kombinasi sodium diatrizoat
Nama dagang
Kontras ionik: urografin, angiografin.
Kontras non ionik: ultravist-omnipaque-lopamiro, dan lain-lain.

c. Dosis
1) Dewasa sampia 50kg
2) Pada keadaan ureum/kreatinin normal:
a) 1 ampul urografin 76% > 60 kg,
b) 2 ampul urografin 76%,
c) Anak-anak menurut umur,neonates 2-3 cc/kgBB,
d) Dosis ganda menurut pertimbangan ahli radiologi,
e) Lebih baik gunakan kontras non-ionik, dosis bervariasi, rata-rata 1 cc/kgBB.
9. Teknik standar foto
a. Foto abdomen polos
b. Foto ginjal dengan kompresi foto 5, 10 menit,
c. Foto ikhtisar kompresi lepas, meliputi:
1) Foto 15menit,
2) Foto 30menit-terlentang, tengkurap, tegak atas indikasi
d. Variasi, meliputi:
1) Foto oblik-foto lateral,
2) Waktu dapat diperpanjang sesuai keperluan diagnoss, setelah dinilai foto basah dan
standar,

3) Premiksi, postmiksi vesika urinaria,


4) Pada neonates posisi supine 5-10, 15-30 menit diberikan minum air saat pemeriksaan.
Tujuannya agar lambung berkembang dan sistem kalises mudah dinilai.
10. Teknik penyuntikan
a. Intravena melalui jarum bersayap/jarum kateter dalam waktu 25 menit,
b. Bolus injeksi 1-2 menit,
c. Post injeksi spooling bilasan dengan NaCl fisiologis,
d. Jarum tidak boleh dicabut sebelum selesai,
e. Melalui infuse drip, misalnya pada trauma ginjal, sebanyak 250 cc 300 cc dalam larutan
35% dalam 1 jam. Waktu dan tetesan cairan disesuaikan dengan kondisi penderita.
11.
a.
b.
c.
1)
2)

Nefrogram (pre-sekresi) foto dibuat atas indikasi seperti tumor dan sebagainya
Menilai fase sekretis kontras,
Menilai kontur ginjal,
Teknik,
Foto 1 menit 2 menit post injeksi
Tomogram.

12. Rapid sequences pyelography untuk mendapatkan informasi keadaan ginjal pada:
a. Permulaan sekresi sampai sekresi,
b. Waktu 1 menit-3 menit-5 menit,
c. Tomogram,
d. Selanjutnya seperti biasa.
13. PIV Tanpa persiapan
a. PIV, cito, karena kecelakaan
b. Karena sebab lain PIV tak perlu persiapan, misalnya pada penderita diabetes;
c. Sebaiknya dibuat tomogram.
I. Sistografi
1. Tujuan pemeriksaan
Tujuan pemeriksaan sistografi adalah untuk memperlihatkan struktur kandung kemih
serta struktur infravesika dan organ-organ sekitarnya.
2. Persiapan
Rectum dikosongkan kecuali pada keadaan akut.
3. Indikasi
a. Tumor buli-buli,
b. Ruptur buli-buli,
c. Divertikel,
d. Neurogenic bladder,

e. Hipertrofi prostat,
f. Sistitis kronis,
g. Tumor-tumor sekitar buli-buli.
4. Kontra indikasi
Infeksi akut saluran kemih
5. Teknik
a. Menggunakan kateter dengan balon(folley) atau tanpa balon. Ukuranya tergantung
keadaan, ukuran yang biasa dipakai adalah 16 atau 18 F, transuretra dan cara fungsi supra
pubik.
b. Kandung kencing dikosongkan.
c. Menggunakan kontras dengan kepekatan 15% - 20% dalam larutan NaCl fisiologis
sebanyak 150 250 cc.
d. Foto dibuat pada posisi AP oblik.
6. Lain-lain
Kontras dapat berupa tunggal atau ganda dengan yodium atau udara.
J. Uretroristografi
1. Tujuan pemeriksaan: seperti ad I.1
2. Indikasi: seperti ad I.3 ditambah dengan keadaan-keadaan seperti struktur uretra
dan ruptur uretra.
3. Kontra indikasi: seperti ad I.4
4. Teknik
a. Menggunakan semprit khusus untuk mengisi uretra dan kandung kemih atau
menggunakan NGT.
b. Menggunakan anestesi local (jelly).
c. Ujung semprit diletakkan pada ujung uretra, pengisian dilakukan dengan perlahan dan
tekanan yang tepat.
d. Foto dibuat pada posisi oblik apabila diperkirakan kontras sudah mulai mengisi.
e. Foto lain berupa foto AP dan oblik setelah kandung kencing penuh,
f. Kontras yang digunakan dengan kepekatan 20% atau 15%, jumlah kontras yang
dilarutkan seperti ad 150-250 cc.
K. MSU (Micturating Sisto Uretrography)
MSU dilakukan terutama pada pasien anak-anak.
1. Tujuan pemeriksaan
a. Memperlihatkan gambaran traktus urinarius dan bila mungkin seluruh traktus urinarius
dengan jala retrograd dan dengan menggunakan fluoroskopi.
b. Memperlihatkan refluks.
2. Indikasi

a.
b.
c.
d.

Infeksi saluran kencing yang berulang,


Kelainan genitalia eksterna,
Nyeri waktu kencing,
Pancaran air seni yang abnormal.

3. Kontra indikasi
Infeksi akut saluran kencing.
4. Teknik
a. Penggunaan kateter tergantung kebutuhan. Misalnya 5F 8F untuk mengeluarkan urin.
b. Buli-buli diisi kontras dengan kepekaan 15% dalam larutan NaCl 250 ml.
c. Kontras harus sesuai dengan suhu ruangan (tidak boleh terlalu dingin).
d. Kontras diberikan dengan cara tetesan dengan kecepatan 120 tetes/menit.
e. Kontras diletakkan pada ketinggian kira-kira 1 meter dari permukaan tubuh.
f. Dilakukan pemeriksaan fluoroskopi secara intermiten untuk mencegah radiasi yang
berlebihan.
g. Pengisian dihentikan pada saat kandung kencing penuh, pada Neonatus bisa dilihat
adanya reflex Babinsky. Pengisian pada anak-anak yang lebih besar dihentikna setelah
merasa penuh atau setelah merasa sakit.
5. Foto-foto
a. Foto dibuat pada saat pengisian awal untuk melihat uretra dan struktur infra vesika.
b. Foto juga dibuat pada saat buli-buli penuh ataupun sebelum buli-buli penuh apabila ada
refluks.
c. Posisi AP dan oblik.
d. Apabila ada post voiding, dibuat foto dengan melihat refluks. Pada neonatus dapat
dipakai es untuk merangsang miksi.
L. Bipolar Sistografi
1. Tujuan pemeriksaan
Tujuan pemeriksaan bipolar sistografi untuk memperlihatkan struktur kandung kemih,
infra vesika, serta uretra dengan jalan mengisi kandung kemih melalui stoma supra pubis
serta uretra.
2. Indikasi
Pada keadaan dimana digunakan stoma seperti ruptur uretra, struktur uretra, dan
sebagainya.
3. Kontra indikasi
Infeksi akut saluran kemih.

4. Teknik
Menggunakan fluoroskopi untuk melihat distensi buli-buli dan mencegah distensi yang
berlebihan atau adanya ekstravasasi. Kontras yang digunakan kepekatannya 20%. Bulibuli diisi terlebih dahulu melalui stoma dan langkah selanjutnya adalah mengisi uretra.
M. Pielografi Retrograd
1. Tujuan pemeriksaan
a. Memperlihatkan sistem pielokalises dan ureter dengan cara pengisian kontras yang postif.
b. Untuk mencari kelainan morfologik pada sistem pielokalises dan ureter sehubungan
dengan kemungkinan adanya tumor, radang, dan kelainan bawaan pada traktus urinarius.
2. Teknik pemeriksaan
a. Kateter kecil dimasukkan ke dalam ureter (satu atau kedua ureter) oleh ahli urologi atau
ahli radiologi yang sudah terlatih dibidang urologi, melalui sistokopi.
b. Sebelum pemasukkan kateter oleh ahli urologi dilakukan pemeriksaan buli-buli dengan
sistokopi.
c. Kontras positif (urografin dan sejenisnya) dimasukkan ke dalam ureter, pielum, dan
kalises di bawah pengawasan fluoroskopi oleh ahli radiologi.
3. Pembuatan foto
a. Pembuatan spot foto dibawah pengamatan fluoroskopi pada sistem pelviokalises. Foto
dibuat PA, lateral/oblik sedangkan untuk ureter foto cukup PA saja.
b. Pembuatan foto dengan posisi berdiri setelah kateter dikeluarkan, untuk melihat arus
kontras dari ginjal ke buli-buli, dan untuk menilai ureter.
c. Foto-foto dengan overhead tube dapat ditambahkan setelah kateter dicabut.
4. Dosis kontras
a. Dosis kontras bervariasi dari 10 sampai dengan 30 cc, tergantung pada besarnya kalises
dan pielum.
b. Pengisian kontras dihentikan setelah pada fluoroskopi kalises dan pielum sudah Nampak
penuh atau adanya keluhan penderita yang merasa pegal atau sakit pada pinggangnya.
c. Pemberian tekanan yang lebih tidak dilakukan karena kemungkinan terjadinya backflow
drai kontras yang dapat merusak pernekhim ginjal, ruptur, dan ureter.
d. Konsentrasi kontras yang dipakia rendah sekitar 30 sampai dengan 35%. Kontras yang
pekat tidak akan digunakan karena akan menutup bayangan kelainan radiolusen, polip,
dan lain-lain.
e. Pencabutan kateter sebaiknya dilakukan oleh ahli urologi/radiologi. Bila ada kesulitan
dalam pengeluaran kateter sebaiknya dilakukan oleh ahli urologi.
5. Indikasi dan kontra indikas pielografi retrograde
a. Pada umumnya dilakukan pada ginjal-ginjal yang PIV nya tidak menampakkan ekskresi
kontras.

b.
c.
6.
a.
b.

Indikasi dan kontra indikasi ditetapkan oleh ahli urologi.


Dari segi radiologi hipersensitif terhadap kontras.
Tindakan steril
Dilakukan pensterilan semaksimal mungkin, untuk menghindari bahaya infeksi.
Pencegahan dilakukan dengan pemberian antibiotik kalau perlu.

7. Pembuatan foto
a. Spot foto dibuat pada waktu pemeriksaan fluoroskopi dengan posisi tegak untuk melihat
dan menetapkan sumbatan pada sistem pelvio-ureter.
b. Foto oblik dibuat untuk menilai jenis sumbatan atau kelainan pada pelvio-ureter.
c. Pembuatan foto oblik, PA, lateral dengan spot foto atau over head dilakukan untuk
menilai vesico-ureter junction.
8. Indikasi
a. Mencari sebab-sebab sumbatan pada sistem pelvio-ureter yang tidak jelas tampak pada
pemeriksaan PIV.
b. Sumbatan yang timbul pasca bedah.
c. Kontra indikasi dari bedah urologi.
d. Hipersensitif terhadap kontras.
e. Keadaan umum yang buruk dan tidak kooperatif.
N. Mielografi
1. Pilihan kontras media
a. Kontras non-ionik larut air misalnya, lopamino 200. Kontras lain adalah Omnipaque atau
Ultravist (merek dagang), digunakan dengan konsentrasi osmolalitas yang rendah.
Contoh kontras larut air lainnya Amipaque 170 mg dan metrizamide.
b. Kontras larut minyak tidak digunakan lagi, misalnya Durolipaque dan Myodil.
2.
a.
b.
c.

Dosis
Lopamiro/Ultravist/Omnipaque;10 cc untuk dewasa.
Durolipaque: 5 cc untuk orang dewasa
Untuk anak diperhitungkan menurut umur.

3.
a.
b.
c.

Jenis pemeriksaan mielografi


Mielografi lumbal-kaudografi
Mielografi torako lumbal
Mielografi servikal

1)
a)
b)
c)
d)

Tujuan pemeriksaan mielografi


Meneliti kantong dura dari Th.XII sampai daerah sacrum
Meneliti jalannya urat saraf perifer (nerve root).
Mencari kelainan (defect), tekanan, dan indentasi terhadap dura.
Mencari filling defect dari pengisian ruang subaraknoid.

2) Teknik injeksi

a)
b)
c)
d)

Posisi tidur miring membungkuk.


Posisi duduk membungkuk.
Posisi tengkurap feet down, membungkuk.
Cara memasukkan kontras non-ionik:
Posisi kaki rendah.
Cairan/likuor dikeluarkan lebih kurang 5 cc untuk pemeriksaan laboraturium.
Injeksikan kontras pelan-pelan dengan tekanan konstan. Pasien tidak boleh bergerak.

e) Cara memasukkan kontras larut minyak (sudah tidka dilakukan):


Dilakukan pelan-pelan supaya kontras tetap homogen. Kontras yang masuknya tersendarsendat menyebabkan kontras terpisah-pisah dalam subaraknoid.
3) Tempat injeksi
a) Untuk mielografi lumbal, torakal, dan servikal pungsi dilakukan pada lumbal belakang
antara L4-L5 atau L3-L4 pada posisi miring.
b) Pada L4-L5 dilakukan pada pasien dengan posisi duduk.
c) Pada L3-L4 pungsi dilakukan hati-hati. Tidak boleh dilakukan pungsi antara L2-L3
karena beresiko terkena konus medularis.
d) Khusus untuk servikal bila pungsi lumbal hasilnya kurang baik, dilakukan pungsi servikal
C1-C2 dari lateral di bawah pengamatan fluoroskopi dari lateral.
e) Hanya dikerjakan oleh/bersama ahli yang sudah berpengalaman.
f) Untuk post mielografi kontras tidak perlu dikeluarkan per pungsi.
g) Untuk mielografi dengan kontras
Pungsi dilakukan di daerah lumbal. Dilakukan pada posisi seperti di atas.
Jumlah kontras berkisar antara 5 cc sampai 10 cc. tergantung pada besarnya kantung
medula.
Untuk lokasi sumbata (tumor dan lain-lain) cukup dimasukkan 5 cc kontras ke dalam
subaraknoid.
Post mielografi kontras harus sebaik mungkin dikeluarkan dari subaraknoid dengan
pungsi.
Foto pada mielografi dengan kontras minyak sama dengan foto pada mielografi dengan
kontras larut air.
Kontras larut minyak dijaga jangan sampai masuk ke dalam sisterna magna atau sisterna
lainnya.
Foto lateral dengan sinar horizontal perlu dibuat bila ada sumbatan di daerah torakal atau
di daerah servikal, juga di daerah lumbal. Posisi penderita dalam hal ini harus tengkurap
(prone).
Pada mielografi dengan kontras larut air sebaiknya dikombinasi dengan pemeriksaan CT.
foto sinar horizontal tidak diperlukan lagi.
4) Kontra indikasi
a) Kontra indikasi pada pungsi lumbal/servikal yaitu terjadinya tekanan intracranial yang
meninggi.
b) Keadaan umum yang memburuk.

c) Hipersensitif terhadap yodium.


5)
a)
b)
c)

Indikasi
Tetraparesis, paraparesis anggota badan.
Gangguan ventrikuler
Low pack pain yang belum ditemukan penyebabnya.

O. Histerosalpingografi (HSG)
1.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Indikasi
Infertilitas
Pendarahan intrauterine yang abnormal.
Abortus berulang.
Post setio Caesaria.
Untuk melihat patensi tuba setelah strerilisasi.
Massa intrauterine.
Mengetahui kelainan bawaan uterus.
Translokasi IUD.

2.
a.
b.
c.
d.

Kontra indikasi
Kehamilan
Infeksi (salpingitis, vaginitis, dan sebagainya).
Alergi kontras
Post menstruasi karena kemungkinan vaskularisasi bertambah.

3.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Komplikasi
Nyeri oleh karena tindakan/kontras.
Infeksi setelah tindakan.
Perdarahan
Reaksi alergi
Refleks vasovagal
Intravasasi.

4.
a.
b.
c.
d.
e.
1)
2)
3)

Teknik
Dilakukan 7-9 hari setelah menstruasi.
Menggunakan fluoroskopi/tanpa fluoroskopi.
Kandung kencing dikosongkan/miksi sebelum pemeriksaan.
Posisi litotomi
Dapat dilihat dengan bermacam-macam metode seperti berikut.
Dengan kanul metal seperti Green Army Tage, Jarcho, dan Schultze.
Malstrom Westerman Methode dengan pompa vacuum pada servik.
Dengan memakai kateter Folley pediatric 8F dan 9F.

5. Kontras
a. Kontras yang larut air seperti: Urografin, Hexabrix, Ultravist, Omnipaque, lopamiro, dan
sebagainya.

b. Jumlah kontras kira-kira 5-10 cc tergantung teknik yang dipakai.


6.
a.
b.
c.

Foto-foto
Dibuat foto supine dengan jumlah kontras kira-kira 2-4 cc untuk mengisi uterus.
Kontras dihabiskan untuk menilai tuba dan spill. Posisi oblik kiri/kanan.
Foto supine dibuat setelah kanul dicabut.

P. Arthrografi
1. Indikasi
a. Adanya gangguan dari sendi lutut.
b. Untuk melihat struktur post menisectomy.
2. Kontra indikasi
a. Adanya tanda-tanda infeksi atau infeksi sekitarnya.
b. Alergi kontras.
3.
a.
1)
2)
3)

Teknik
Menggunakan fluoroskopi
Kontras positif/kontras cair seperti Urografin, Ultravist, dan lain-lain.
Kontras negative-berupa udara/oksigen.
Campuran.

b.
c.
d.
e.
f.

Jumlah kontras kira-kira 10-15 cc.


Dikerjakan dengan tindakan sterilitas sebaik-baiknya.
Jarum dimasukkan ke dalam rongga sendi.
Aspirasi cairan sinovial.
Dimasukkan kontras.

4.
a.
b.
c.
d.
e.

Pemotretan
Posisi netral
Ekso rotasi biasa (555 - 205)
Ekso rotasi maksimal (455)
Endo rotasi biasa (155 - 205).
Endo rotasi maksimal (455).

Q. Pelvimetri
1. Tujuan pemeriksaan
Tujuan pemeriksaan pelvimetri adalah untuk memperlihatkan gambaran jalan lahir dan
ukurannya.
2. Indikasi
a. CPD atau terdektesi adanya CPD.
b. Kecurigaan adanya kelainan mayor seperti anencephaly yang ditunjukkan dengan USG.

3. Teknik
Foto AP dan lateral sebaiknya menggunakan meja khusus. Beberapa hal yang harus
terlihat jelas misalnya: promontorium-spina ischiadika-os sacrum dan koksigeus serta
simfisis pubis.
4. Pengukuran
a. Indikasi pelvis
Sudut antra garis antero-posterior(diameter AP), dengan garis promontorium, normal
lebih dari 905. Diameter AP adalah garis antara batas atas simfisis pubis-promontorium.
b. Pelvic inlet
1) Diameter AP: jarak antara batas atas simfisis pubis-promontorium.
2) Diameter tranversum: jarak terlebar pelvic inlet.
c. Mid pelvic
1) Diameter AP: jarak antara batas bawah simfisis pubis- os sacrum IV/V.
2) Diameter tranversum: jarak antara spina ischiadika-garis diameter AP inlet.
d. Pelvic-outlet: jarak tuberositas ischiadika-SV.
e. Mengert Index
1) Pelvic inlet: diameter AP x diameter TRSV cm2
2) Mid pelvic: diameter AP x diameter TRSV cm2
f. Kapasitas panggul
1) Pelvic inlet: (Mengert index x 100%)/120
2) Mid pelvic: (Mengert index x 100%)
R. Mammografi
1.
a.
b.
c.
d.

Indikasi
Skrining(screening).
Keluhan di payudara (benjolan, nyeri, nipple discharge, dan lain-lain)
Wanita dengan resiko tinggi kanker payudara.
Kontrol pasca terapi.

2. Persiapan
Tidak diperlukan persiapan khusus.
3. Cara pemeriksaan
Dilakukan kompresi pada kedua payudara pada posisi kraniokaudal (CC) dan
mediolateral (MLO) dengan sebagian muskulus pektoralis mayor masuk dalam lapangan.
S. Galaktografi
1. Indikasi
Nipple discharge patologis, biasanya unilateral dan masih berlangsung.

2. Kontra indikasi
Terjadi proses inflamasi.
3. Kontra indikasi relatif
Alergi kontras.
4. Cara pemeriksaan
a. Pemeriksaan sitologik harus sudah dilakukan sebelum pemeriksaan galaktografi.
b. Pasien harus senyaman mungkin, lebih baik bila digunakan magnifikasi.
c. Buat foto mammografi tanpa kontras untuk mengetahui kecukupan kondisi foto.
d. Nipple dan kulit sekitarnya dibersihkan dengan desinfektan. Masukkan kanul ke
dalam nipple ditempat keluarnya cairan. Gunakan kanul ukuran 25-30 gauge, tumpul,
dan pendek, dapat juga digunakan kanul limfografi. Hubungkan kanul dengan syringe
(jarum suntik) yang telah berisi kontras non-ionik. Usahakan tidak ada udara sebelum
dimasukkan ke dalam duktus.
e. Pada pasien yang cemas dapat digunakan anestesi lokal.
f. Fiksasi kanul.
g. Masukkan 0,1-0,5 ml kontras tanpa udara, bila perlu dapat ditambah.
h. Buat foto mammografi 2 posisi (CC dan ML) dengan kompresi moderate.

BAB 6 PEMERIKSAAN ULTRASONOGRAFI (USG)


ABDOMEN DAN PELVIC
A. Pemeriksaan USG Abdomen
Pemeriksaan USG Abdomen adalah pemeriksaan organ-organ abdomen. Misalnya hati,
kandung empedu, pankreas, ginjal, dan lain-lain.
1. Tujuan
Pemeriksaan ini untuk memperlihatkan struktur morfologi organ-organ abdomen seperti
hati, kandung empedu, pankreas, lien, kedua ginjal, buli-buli, prostat atau adneksa, struktur
vascular, termasuk arteri dan vena serta kelenjar sekitarnya(mesenterium, para aortal, para
iliaka), keadaan usus-usus, adanya ascites, portal hipertensi, dan lain-lain.
Kelainan yang diperlihatkan bervariasi mulai adanya ruptur, kontusio jaringan karena
trauma, perdarahan, adanya batu atau tumor, dan sebagainya.
2. Teknik
Berikut ini beberapa teknik yang harus diperhatikan berkaitan dengan pemeriksaan USG
abdomen.
a. Pada keadaan akut seperti trauma, tidak perlu dilakukan persiapan seperti puasa.
Pemeriksaan terutama ditujukan untuk melihat keadaan organ-organ serta kemungkinan
adanya cairan bebas intra abdominal.
b. Pada keadaan elektif, diperlukan puasa untuk mendapatkan hasil yang optimal. Puasa
diperlukan sekitar 5-6 jam sebelumnya atau sebaiknya dilakukan pemeriksaan USG pagipagi sebelum makan pagi.
c. Untuk neonatus puasa hanya kira-kira sekitar 2-3 jam saja. Puasa terutama ditujukan bila
kita ingin menilai kandung empedu dan salurannya. Untuk pemeriksaan lain misalnya
ginjal, tidak diperlukan puasa sebelumnya bahkan harus minum 20-30 menit sebelumnya
untuk melihat buli-buli.

d. Untuk menilai pankreas dengan optimal, pasien harus minum air terlebih dahulu
sebanyak kira-kira 500 cc untuk dewasa agar lambung terisi air sehingga pankreas mudah
dilihat terutama bagian caudanya. Pemeriksaan USG abdomen menggunakan transduser
linier atau convec dengan frekuensi antara 2,5 sampai 5 MHz.
e. Untuk orang-orang gemuk digunakan transduser 2,5 MHz dan untuk neonatus atau orangorang yang kurus, dapat digunakan transduser 5 MHz. Bila ada peralatan tambahan
seperti Color Doppler, nilai diagnostic akan lebih baik, terutama pada penilaian struktur
pembuluh darah.

3. Penilaian (pemeriksaan)
Pemeriksaan yang dilakukan terhadap struktur masing-masing organ abdomen, struktur
vascular dan sistem bilier, digunakan untuk menilai apakah ada batu, SOL atau kista, mengukur
besarnya SOL, mengecek ada atau tidaknya hematom, pembesaran kelenjar atau bendungan pada
sistem traktus urinarius, mengecek ada atau tidaknya cairan bebas atau asites. Pemeriksaan ini
dilakukan dengan seteliti mungkin dengan mengacu pada keterangan klinis serta pemeriksaan
fisik sebelum pemeriksaan USG.
B. Pemeriksaan pelvis
Pemeriksaan USG daerah pelvis dilakukan terutama pada penilaian kehamilan. Misalnya
apakah ada kehamilan, adakah fetus, atau janin dalam kantung kehamilan? Selain itu untuk
mengetahui apakah kehamilan tersebut hidup atau intra uterine fetal death?
Untuk penilaian kehamilan normal pemeriksaan meliputi posisi janin, letak plasenta, dan
insersinya, cairan amnion, kelainan mayor, dan janin, serta jumlah janin dalam uterus.
Disamping itu, penilaian tentang usia kehamilan, taksiran partus serta ada atau tidaknya lilitan
tali pusat. Pemeriksaan USG pelvis juga digunakan pada dugaan adanya kehamilan di luar uterus
atau kehamilan ektopik terganggu (KET).
Pemeriksaan ditujukan terutama untuk melihat cairan bebas di dalam Kavum Douglasi atau
dalam rongga abdomen, kadang-kadang dapat dilihat janin. Untuk kasus-kasus dengan infeksi
pelvis diperlukan pemeriksaan USG untuk melihat daerah adnexa dan untuk mengetahui apakah
ada fokal abses seperti tubo ovarial abses dan sebagainya.
1. Persiapan
Persiapan tidak diperlukan pada kehamilan lanjut. Pada awal kehamilan atau keadaan
patologis seperti KET dan infeksi pelvis, kadang-kadang pasien diminta minum terlebih dahulu
agar buli terisi air dan dapat digunakan sebagai jendela untuk melihat struktur uterus dan adnexa.
2. Transduser

Dalam pemeriksaan pelvis, digunakan transduser seperti USG abdomen. Apabila


diperlukan, dapat digunakan transduser transvaginal.
C. Sonografi Kranium
1. Tujuan
Tujuan pemeriksaan sonografi kranium adalah untuk memperlihatkan struktur morfologi
intracranial selama fontanel atau sutura masih terbuka.
2. Indikasi
a. Penurunan kadar Hb pada neonatus.
b. Kelainan neurologis.
c. Kelainan pernapasan yang tidak diketahui sebabnya.
d. Sutura yang melebar.
e. Fontanel yang menonjol.
f. Ukuran kepala yang lebih besar dari normal.
g. Follow up tindakan seperti pemasangan ventil, dan sebagainya.
3. Kontra indikasi tidak ada
4. Pasca tindakan Sonografi Cranium, persiapan bagi pasien tidak diperlukan
5. Teknik
a. Sebaiknya menggunakan sector scanner 3,5-5-10 MHz. apabila scanner jenis ini tidak
ada, dapat digunakan linier scanner.
b. Potongan koronal aksial sagital daerah para sagital untuk melihat seluruh struktur
intracranial.
6. Dinilai
a. Konvigurasi ventrikel
b. Besarnya ventrikel
c. Ekhostruktur ventrikel
d. Pleksus koroideus
e. Parenkim otak
f. Sulkus dan girus
g. Falk dan tentorium serebri
h. Dengan Doppler dinilai vascular intracranial.
D. USG Payudara
1.
a.
b.
c.
d.

Indikasi
Terutama pada wanita di bawah usia 30 tahun.
Keluhan di payudara (benjolan, nyeri, nipple discharge, dan lain-lain)
Control pasca terapi.
Sebagai konfirmasi setelah pemeriksaan mammografi pada hasil mammografi yang
meragukan.
e. Untuk penuntun biopsy atau penuntun pre operative.
2. Peralatan

a. Menggunakan transduser superficial minimal 7,5 MHz. Makin tinggi makin baik
resolusinya.
b. Jelly digunakan antara kutis dan transduser.

3. Cara pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan terhadap kedua payudara dan aksila pada pasien dengan posisi
suphine dan ekstensi tangan ipsilateral melewati kepalanya.
4. Penilaian
Penilaian hasil pemeriksaan yang dilakukan berkaitan dengan struktur fibroglandular,
duktus laktiferus, ada atau tidaknya SOL, lokasinya, tepi lesinya, kistik atau solid, ukurannya,
jumlah lesi, dan sebagainya.
E. Pemeriksaan Ultrasonografi Muskuloskeletal
1. Definisi
Pemeriksaan Ultrasonografi Muskuloskeletal (UM) adalah kompetensi radiologi untuk
menentukan diagnosis beragam kelainan yang melibatkan jaringan lunak (lemak subkutan,
pembuluh darah, saraf, dan lain-lain), struktur sendi(membrane synovial, ligament, dan tendon),
serta beberapa kelainan tulang dengan menggunakan modalitas/alat ultrasound. Pemeriksaan ini
dilakukan untuk melengkapi pemeriksaan musculoskeletal yang lain seperti foto polos.
a. Peralatan yang digunakan
Alat ultrasound dengan linear probe/transduser 7.5 MHz atau lebih tinggi. Frekuensi
probe yang optimal adalah 10 MHz atau lebih tinggi. Untuk struktur yang lebih kecil, seperti
daerah jari-jari, dapat digunakan transduser tipe hockey stick untuk mendapatkan resolusi yang
lebih baik.
b. Persiapan penderita
Pada pemeriksaan UM ini tidak ada persiapan khusus untuk penderita. Foto polos sedapat
mungkin disediakan sebelum pemeriksaan karena dengan adaya foto polos untuk bagian yang
akan diperiksa bisa memberikan informasi yang penting untuk membantu diagnose. Bila
dibutuhkan, dokter dapat meminta pemeriksaan foto polos sebelum memberikan diagnose
ultrasonografi.
2. Protokol pemeriksaan

Posisi penderita atau posisi dari bagian-bagian tubuh yang diperiksa bervariasi tergantung dari
bagian tubuh yang akan diperiksa dan juga tergantung maksud pemeriksaannya. Dalam
pemeriksaan UM tidak ada standar posisi pemeriksaa. Untuk pemeriksaan tendon dan ligament,
sedapat mungkin dilakukan pada aksis panjang maupun aksis pendeknya. Berikut ini adalah
panduan pemeriksaan yang paling umum dilakukan, yaitu pemeriksaan bahu.

a. Pemeriksaan long biceps tendon


1) Pasien duduk, sebaiknya pada kursi dengan sandaran rendah dan tempat duduknya dapat
berputar.
2) Lengan atas pada posisi anatomi atau pada posisi sedikit rotasi internal (mengarah ke
lutut kontralateal). Siku fleksi 905, dan telapak tangan menghadap ke atas.
3) Mulai pemriksaan ke long biceps tendon diantara greater dan tuberosities minor.
4) Lakukan pemeriksaan aksis panjang dan aksis pendek.
b. Posisi pemeriksaan untuk tendon subscapularis.
Dari pemeriksaan long head of biceps eksternal rotasikan lengan atas dengan siku tetap di
samping tubuh.
c. Posisi pemeriksaan tendon supraspinatus
Posisikan tangan memegang saku belakang dengan siku mengarah ke posterior. Bila
pasien merasa tidak nyaman dengan posisi ini , modifikasikan posisi dengan tetap posisi
siku ke belakang sebisa mungkin, walaupun tangan mungkin tidak dapat mencapai saku
belakang.
d. Pemeriksaan dinamis impingement
Pemeriksaan untuk subracomial impingement dilakukan dengan penempatan probe pada
bidang koronal. Tepi medial probe menempel sisi lateral acromion. Pasien dalam posisi
lengan internal-rotasi, mengabduksikan lengan. Dengan maneuver seperti ini, tendon
supraspinatus dan subdeltoid bursa dapat dilihat termasuk ke bawah arkus
korakoakromial.
e. Pemeriksaan tendon infraspinatus dan teres minor
Posisikan probe pada sisi posterior dari sendi glenohumeral dengan lengan menyilang
tubuh, tangan menggapai bahu kontralateral. Posisi ini juga dipakai untuk memeriksa
struktur posterior sendi glenohumeral dan resesus posteriornya.

BAB 7 PEMERIKSAN USG DOPPLER PEMBULUH


DARAH
A. Pemeriksaan Doppler Pembuluh Darah di Pelvis
1. Pengertian
Pemeriksaan Doppler pembuluh darah di pelvis merupakan pemeriksaan ultrasonografi
pada pembuluh darah arteri maupun vena di daerah vacum pelvis.
2. Tujuan pemeriksaan
Tujuan pemeriksaan ini untuk mendiagnosa adanya kelainan pembuluh darah arteri dan
vena di daerah vacum pelvis.
3. Persiapan pemeriksaan
Untuk pemeriksaan ini tidak ada persiapan khusus yang harus dilakukan pasien sebelum
pemeriksaan.
4.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

h.

i.
j.
k.
l.
m.

Teknik dan protokol pemeriksaan


Menggunakan transduser konvek dengan menggunakan frekwensi 3,5-5 MHz.
Frekwensi transduser dan gain dipilih pada pembuluh darah yang sehat.
Pasien pada posisi supine. Apabila diperlukan, pasien miring kanan atau kiri untuk
mengurangi gas usus.
Pemeriksaan dimulai di bifurkasio aorta setinggi umbilicius, sepanjang arteri iliaka
comunis, iliaka externa, berserta sistem vena dengan orientasi longitudinal dan tranversal.
Menentukan pembuluh darah nama yang akan dievaluasi.
Pemeriksaan selalu dimulai dengan grayscale kemudian dilanjutkan dengan Doppler.
Grayscale dilakukan secara tranversal dan longitudinal untuk menilai besar bentuk
pembuluh darah, adanya thrombus, adanya struktur hiperekoik/soekoik(soft plaque
maupun hard plaque) pada dinding pembuluh darah, serta ketebalan dinding arteri.
Pada pasien dengan contour abdomen yang tipis untuk mengevaluasi adanya thrombus
pada vena dapat dilakukan penekanan, bila hal itu tidak dapat dikerjakan, maka dilakukan
color doppler untuk mapping.
Setelah itu, dilanjutkan dengan doppler secara tranversal dan longitudinal
Color gain diatur maksimal tetapi tidak boleh terjadi noisy.
Velocity range (PRF) diatur sekecil mungkin tetapi tidak boleh terjadi aliasing.
Color box dibuka secukupnya agar frame rate maksimal.
Doppler angle dan doppler sterring diatur agar didapatkan sudut doppler sekecil mungkin
(kurang dari 60 derajat).

n. Samping gate besarnya 2/3 jam dari lumen.


o. Pada sistem arteri dilakukan evaluasi kecepatan aliran (PSV), doppler sign (bentuk
spectrum), stenosis, dan derajat stenosis. Sedangkan pada sistem vena cukup dilakukan
mapping.
B. Pemeriksaan Doppler Pembuluh Darah Ekstremitas Inferior
1. Pengertian
Yang dimaksud dengan pemeriksaan doppler pembuluh darah ekstremitas inferior adalah
pemeriksaan ultrasonografi pada pembuluh darah arteri dan vena di ekstremitas inferior.
2. Tujuan pemeriksaan
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendiagnosa adanya kelainan pembuluh darah arteri
dan vena di ekstremitas inferior.
3. Persiapan pemeriksaan
Sebelum pemeriksaan tidak ada persiapan khusus yang harus dilakukan oleh pasien.
Pasien cukup istirahat lebih dari 5 menit sebelum pemeriksaan dimulai.
4. Teknik dan protokol pemeriksaan
a. Menggunakan transduser dengan frekwensi tinggi yaitu frekwensi 5-7,5 MHz, tergantung
dari tebal tipisnya soft tissue.
b. Frekwensi transduser dan gain dipilih pada pembuluh darah yang sehat.
c. Pasien berada pada posisi supine untuk pemeriksaan arteri-vena femoralis komunisprofunda maupun superficial, arteri-vena tibialis anterior, arteri-vena poplitea, tibialis
posterior dan peroneal dengan posisi prone dengan sedikit elevasi pada distal ekstremitas
dengan meletakkan pengganjal di lutut (ankle).
d. Pemeriksaan dimulai dari sepanjang arteri-vena femoralis komunis sampai bifurcatio
kemudian arteri-vena femoralis profunda, femoralis superficial, poplitea, kemudian
trifurcation arteri-vena tibialis anterior, posterior, dan peroneal dengan orientasi
longitudinal dan dilanjutkan dengan arteri dorsalis pedis.
e. Menentukan pembuluh darah mana yang akan dievaluasi.
f. Pemeriksaan selalu dimulai dengan grayscale kemudian dilanjutkan dengan doppler.
g. Grayscale dilakukan secara tranversal dan longitudinal untuk menilai besar bentuk
pembuluh darah, adanya thrombus, adanya struktur hiperekoik/isoekoik (soft plaque
maupun hard plaque) pada dinding pembuluh darah, serta ketebalan dinding arteri. Kutis
dan subcutis juga dievaluasi.
h. Untuk menilai adanya thrombus pada sistem vena dilakukan teknik kompresi. Probe
diletakkan tranversal terhadap pembuluh darah kemudian dilakukan kompresi secara
intermiten (setiap 1-2 cm).

i. Semua sistem vena profunda (vena femoralis komunis-superficial-poplitea-tibialis


anterior-posterior dan peroneal) dan superficial (vena saphena magna dan parva)
dievaluasi.
j. Setelah itu, dilanjutkan dengan doppler secara longitudinal.
k. Pembuluh darah yang akan dievaluasi ditentukan dahulu.
l. Color gain diatur maksimal tetapi tidak boleh terjadi noisy.
m. Velocity range (PRF) diatur sekecil mungkin tetapi tidak boleh terjadi aliasing.
n. Color box dibuka secukupnya agar frame rate maksimal.
o. Doppler angle dan doppler sterring diatur agar didapatkan sudut doppler sekecil
mungkin(kurang dari 60 derajat).
p. Sampling gate besarnya 2/3 dari lumen.
q. Pada sistem arteri, kecepatan aliran(PSV), doppler sign(bentuk spectrum),stenosis, dan
derajat stenosis dievaluasi.
r. Pada sistem vena dilakukan mapping dan dilakukan tes fungsi katub untuk menilai ada
tidaknya insufisiensi pada katub vena.
s. Insufisiensi kronis vena pad avena profunda atau varicosis pada vena perifer dievaluasi
dengan cara scan doppler secara longitudinal pada vena. Setelah itu, dilakukan test
provokatif/valsava manuver pada vena femoralis komunis-superficial dan poplitea.
t. Bila didapatkan insufisiensi di daerah proksimal maka tes dilanjutkan sampai poplitea
dan vena tungkai.
u. Bila proksimal kompeten/tidak ada insufisiensi maka kompetensi katub vena didaerah
distal harus ditentukan.

C. Pemeriksaan Doppler Pembuluh Darah Ekstremitas Superior


1. Pengertian

Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan ultrasonografi pada pembuluh darah ekstremitas


superior.
2. Tujuan pemeriksaan
Tujuan pemeriksaan ini untuk mendiagnosa adanya kelainan pembuluh darah arteri
dan vena di ekstremitas superior serta vena subclavia.
3. Persiapan
Sebelum pemeriksaan,tidak ada persiapan khusus yang harus dilakukan oleh pasien.
Pasien cukup beristirahat lebih dari 5 menit sebelum pemeriksaan di mulai .
4. Teknik dan Protokol
a. Menggunakan tranduser dengan frekwensi tinggi yaitu frekwensi 5-5-7,5 MHz
untuk arteri - vena subclavia dan arteri axillaris.Sedangkan untuk arteri di tangan
menggunakan transduser 7,5-10 MHz.
b. Frekwensi transduser dan gain di pilih pada pembuluh darah yang sehat.
c. Pasien berposisi supine pada arteri-vena subclavia dan arteri-vena
axillaris.Sedangkan pada pemeriksaan lengan dan jari-jari posisi tangan supine.
d. Pemeriksaan di mulai di arteri-vena subclavia, axillaris, brachialis, sampai dengan
arteri-vena didaerah arcus palmaris.
e. Pemeriksaan selalu di mulai dengan grayscale kemudian dilanjutkan dengan
doppler.
f. Grayscale dilakukan secara transversal dan longitudinal untuk menilai besarnya
bentuk pembuluh darah, adanya thrombus, adanya struktur hiperekoik/iseokoik
(soft plaque maupun hard plaque) pada dinding pembuluh darah, serta ketebalan
dinding arteri. Kutis dan Subcutis juga di evaluasi.
g. Untuk mencari adanya thrombus pada sistem vena dilakukan teknik kompresi
kecuali pada vena subclavia yang berada disupraclavicula.
h. Vena subclavia yang berada di supraclavicula discan secara longitudinal dengan
spectrum doppler.
i. Pemeriksaan untuk menilai thrombus dimulai di vena axillaris sampai
pergelangan tangan dengan cara melakukan kompresi intermiten (setiap 1-2 cm)
dengan probe posisi transversal. Semua sistem vena profunda (vena axillaris,
brachialis, radialis, ulnaris),dan vena superficial (vena basilica,cephalica)
dievaluasi.
j. Setelah itu, dilanjutkan dengan doppler secara longitudinal.
k. Tentukan pembuluh darah yang akan dievaluasi.
l. Color gain diatur maksimal tetapi tidak boleh terjadi noisy.
m. Velocity range (PRF) diatur sekecil mungkin tetapi tidak boleh terjadi aliasing.
n. Color box dibuka secukupnya agar frame raete maksimal.
o. Doppler angle dan doppler strerring diatur agar didapatkan sudut doppler sekecil
mungkin (kurang dari 60 derajat).

p. Sampling gate besarnya 2/3 dari lumen.


q. Pada sistem arteri dievaluasi kecepatan aliran (PSV), doppler sign (bentuk
spectrum), stenosis, dan derajat stenosis. Sedangkan pada sistem vena cukup
dilakukan mapping.

BAB 8 PEMERIKSAAN RADIOLOGI NUKLIR


A. Kelenjar Tiroid

1. Sidik Kelenjar Tiroid (Thyroid scintigraphy)


a. Indikasi.
1. Evaluasi nodul tiroid
2. Evaluasi pembesaran kelenjar tiroid tanpa nodul yang jelas.
3. Evaluasi jaringan tiroid ektopik atau sisa pasca-operasi.
4. Evaluasi fungsi tiroid.
b. Radiofarmaka
1) Nal-131 uCi,diberikan per oral.
2) 99m Tc-pertechnetate, dosis 2-5 mCi,diberikan iv.
c. Persiapan
1) Bila yang digunakan radiofarmaka Nal-131,pasien dipuasakan selama 6 jam.
2) Obat-obat dihentikan selama beberapa waktu (lihat tabel).
d. Peralatan
Kamera gamma dengan atau tanpa kolimator pinhole; kalau tidak ada dapat
menggunakan kolimator LEHR (Low Energy High Resolution) untuk 99 mTcpertechnetate dan energi medium untuk 131I.
Pemilihan kolimator tergantung pada energi radiasi gamma utama dari radionuklida
yang digunakan, yaitu 131I : 364 keV dan 99mTc-pertecnetate:140 keV.
e. Tatalaksana
1) Pencitraan dilakukan 10 sampai dengan 15 menit setelah penyuntikan 99mTcpertechnetate iv, atau 24 jam setelah minum NaI-131.
2) Posisi pasien tidur terlentang di bawah kamera gamma dengan leher dalam
keadaan hiperekstens.
3) Pencitraan statik dilakukan pada posisi AP (kalau perlu oblik kiri atau kanan).
4) Pada kartilogo tiroid dan jugular diberi tanda ; matrix:256x256
5) Peak energi disesuaikan dengan radionuklida,yaitu 140 keV (untuk 99
mTc),159,0(untuk 123I), dan 360 keV (131I) dengan window:20%.
6) Jumlah cacahan: 400.000 kcts (99mTc-pertechnetate) atau 100.000 kcts (Nal-131)
7) Proses pencitraan berlangsung selama 5-10 menit.
f. Catatan
Radionuklida yang paling ideal untuk evaluasi kelenjar tiroid adalah NaI-123,karena
energinya tidak begitu tinggi (159 keV) dengan waktu parah pendek (13,2 jam). NaI123 adalah suatu radionuklida produksi siklotron, sayangnya NaI-123 saat ini belum
ada di Indonesia.
Obat-obatan tertentu, terutama yang mengundang iodium dan hormon tiroid, akan
mengganggu pencitraan.Daftar beberapa oabat-obat tersebut dan lama penghentian
sebelum dilakukan penyidikan tiroid dapat dilihat pada table 4.1. dibawah ini.
Tabel 8.1. Lama penghentian obat
Nama Obat
Obat yang mengandun iodium (Sol.lugol
betadine, kontras radiologi)
Obat-obat antiroid (neomereazole, PTU)

Lama Penghentian
Minimal 4 minggu
3-5 hari

Obat-obatan mengandung vitamin dan mineral


Hormon tiroid T4
Hormon tiroid T3

1 minggu
4 minggu
1 minggu

B. Ginjal
1. Sidik ginjal (Renal Scintigraphy)
a. Indikasi
1) Deteksi adanya proses desak ruang pada ginjal
2) Mengetahui jaringan yang masih berfungsi dari suatu pielonefritis
3) Deteksi malformasi arteri-vena
4) Deteksi daerah yang avaskular (infark ginjal, abses, dan kista)
5) Deteksi kelainan ginjal congenital seperti horse shoe kidney.
b. Radiofarmaka
1) 99mTc-DMSA sebanyak 5 mCi.
2) 99mTc-Glukoheptonat sebanyak 10 mCi.
3) Disuntikkan intravena pada vena mediana cubiti.
c. Persiapan
Tidak ada persiapan khusus bagi pasien.
d. Peralatan
1) Kamera gamma, kolimator: LEHR paralel hole.
2) Pengaturan energi(energy setting): energi rendah(low energy) dengan puncak pada
140 KeV.
3) Window width: 20%
e. Tatalaksana
1) Posisi pasien terlentang.
2) Lapang pandang pencitraan sedemikian rupa sehingga mencakup ginjal dan kandung
kemih. Proyeksi posterior.
3) Protokol akuisisi:
a) Pencitraan statik 2-3 jam setelah injeksi
b) Total counts 400 Kcount.
c) Posisi posterior, dilanjutkan dengan RAO dan LAO apabila diperlukan.

f. Penilaian
1) Pada sidik ginjal normal,akan tampak kontur ginjal halus dengan distribusi
radioaktivitas rata.
2) Pada ginjal normal,akan tampak defect ( kelainan/cacat) yang murtiple yang sisinya
berbatas tegas.
2. Renografi Konvensional

Secara garis besar ginjal mempunyai dua fungsi utama yaitu fungsi filtrasi dan reabsorbsi
sekresi. Fungsi filtrasi dilakukan oleh glomerulus sedangkan fungsi reabsorbsi dan
sekresi dilakukan oleh sel-sel tubuli.
a. Indikasi
1. Evaluasi perfusi dan fungsi ginjal.
2. Uji saring hipertensi renovaskular.
3. Deteksi dan evaluasi obstruksi sistem koleksi ginjal.
4. Evaluasi trauma ginjal.
b. Radiofarmaka
1) Radiofarmaka yang biasa digunakan adalah 131I hippuran sebanyak 300uCi atau
99mTc-MAG3 sebanyak 4mCiyang disuntikkan di vena median kubiti secara
bolus.
2) Radiofarmaka ini hampir seluruhnya disekresikan oleh tubuli.
3) Konsentrasi maksimal terjadi dalam 5 menit pasca injeksi, dan hilang dari
parenkim dan sistem koleksi dalam 30 menit.
4) Seperti juga 131I hippuran,99mTc-MAG3 juga di eliminasi hampir sempurna
melalui sekresi tubulus. Nilai klerens MAG3 lebih rendah dibandingkan dengan
nilai hippuran, hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan dalam protein
pembawa.
c. Persiapan
1) Penderita harus dalam keadaan hidrasi baik dengan memberikan minum 500 ml
sebelum pemeriksaan.
2) Pada pemakaian radiofarmaka 131I-hippuran,penderita sebelumnya diberi larutan
lugol 10 tetes untuk memblok jaringan tiroid agar tidak menangkap 131I.
3) Kandung kemih penderita diusahakan dalam keadaan kosong.
d. Peralatan
1) Kamera gamma: large field of view.
2) Kolimator: LEHR untuk 99Tc-MAG3.
3) Medium energy collimator untuk pemakaian 131I-hippuran.
4) Pengaturan energy (energy setting) :
a) Energi rendah (low energi) pada puncak 140 KeV.
b) Window width: 20%
e. Tatalaksana
1) Posisi pasien terlentang,karena dari arah posterior.
2) Deteksi ditempatkan sedemikian rupa hingga ginjal dan kandung kemih berada
dalam lapang pandang pencitraan.
3) Protokol akusisi :
a) Teknik pencitraan dinamik
b) Frame time I: 6 frame 10 detik
c) Frame time II: 15 frame /1 menit
4) Pemrosesan data :
a) Seluruh data kasar digabung. Setelah itu, dibuat ROI pada kedua ginjal serta
dibawah kedua ginjal untuk substraksi latar belakang untuk membuat kurva
waktu-aktivitas.
f. Penilaian

1) Pada pencitraan dinilai penangkapan radioaktivitas oleh kedua ginjal untuk


melihat kemampuan ginjal mengekskresi radiofarmaka.
2) Penilaian kurva sebagai berikut :
a) Fase pertama initial
Terjadi peningkatan secara cepat segera setelah penyuntikan radiofarmaka
yang menunjukkan kecepatan injeksi dan aliran darah vascular ke dalam
ginjal. Dari fase ini dapat juga dilihat teknik dari penyuntikan radiofarmaka,
apakah bolus aaatau tidak. Fase ini terjadi kurang dari 2 menit.
b) Fase kedua sekresi
Menunjukkan kenaikan yang lebih lamban dan meningkatkan secara bertahap.
Fase ini berkaitan dengan proses penangkapan radiofarmaka oleh dan didalam
ginjal melalui proses difusi lewat sel-sel tubuh kedalam lumen tubulus.Dalam
keadaan normal fase ini mencapai puncak dalam waktu 2-5 menit.
c) Fase ketiga/ekskresi
Tampak kurva menurun dengan cepat setelah mencapai puncak kurva yang
menunjukkan keseimbangan antara radioaktifitas yang masuk dan yang
meninggalkan ginjal.
g. Catatan
Pada penderita yang sebelumnya telah dilakukanIVP, pemeriksaan renogram harus
ditunda dahulu kurang lebih dari dua minggu.Hal ini bertujuan agar edema sel-sel
tubuli akibat penggunaan zat kontras pada IVP mereda.

3. Renografi kaptopril
Sekresi Angiotensin II (A-II) di ginjal merupakan gal yang penting dalam pemeliharaan
fungsi ginjal secara normal. Sistem rennin angiotensin memainkan peranan penting dalam
patogenesis hipertensi renovaskular.Penurunan perfusi renal akan merangsang pelepasan
rennin kedalam sirkulasi darah yang dapat menyebabkan kadar a-II plasma meningkat.A-II
selain sebagai vasokonstriktor terutama di arteriole eferen akan merangsang juga sekresi
aldosteronoleh korteks adrenal serta merangsang sistem saraf simpatis.
Renografi kaptopril merupakan modifikasi dari renografi konvensional yang dilakukan
dengan memberikan 25-50 mg kaptopril sebelum pemeriksaan dilakukan.
Kaptopril (ACE inhibitor) akan menghambat vasokonstriksi arteriolar glomerulus yang
disebabkan oleh A-II, menurunkan laju filtrasi glomerulus, aliran urin, dan retensi garam di
ginjal yang sakit. Penurunan laju filtrasi glomerulus ini melatar belakangi adanya perubahan

pada renogram.Pada ginjal dengan stenosia,renalis, penurunan fungsi terlihat setelah


pemberian kaptopril.
a. Indikasi
Uji saring hipertensi renovaskular.
b. Radiofarmaka
99mTc-MAG3 sebanyak 5 mCi atau uCi 131I-hippuran disuntikkan intraven secara
bolus melalui vena mediana cubiti.
c. Persiapan
Persiapan hampir sama dengan pemeriksaan renogram konvensional. Hanya satu jam
sebelum pemeriksaan, penderita diberi 25-50 mg kaptopril per oral.
Penderita dianjurkan puasa paling kurang 4 jam sebelum pemberian dalam
pengobatan diuretic, obat harus dihentikan 2-3 hari sebelum pemeriksaan. Apabila
radiofarmaka yang digunakan 131I-hippuran, maka 15 menit sebelum pemeriksaan
penderita diberi 1cc larutan lugol.
d. Peralatan
1) Kamera gamma LFOV
2) Kolimator: LEHR untuk 99mTc-MAG3,
3) Medium energy collimator untuk pemakaian 131I-hippuran
4) Pengaturan energi (energy setting):
a) Energi rendah (low energy) pada puncak 140 Kev
b) Window width: 20%
e. Tatalaksana
a. Posisi pasien terlentang, karena dari arah posterior.
b. Deteksi ditempatkan sedemikian rupa hingga ginjal dan kandung kemih berada
dalam lapamh pandang pencitraan.
c. Protokol akuisisi:
1) Teknik pencitraan dinamik.
2) Frame/time I: 6 frame/10 detik
3) Frame/time II: 15 frame/1 menit.
d. Pemrosesan data:
1) Seluruh data kasar digabung, kemudian dibuat ROI pada kedua ginjal serta di
bawah keduaginjal untuk substraksi latar belakang dan didapatkan kurva
aktivitas terhadap waktu.

F. Penilaian
Penilaian pada umumnya berdasarkan penilaian kualitatik terhadap kurva
renogram. Penilaian semi kuantitatif berdasarkan rekomendasi Working Party on
Diagnostic Criteria of Renovascular Hypertension with Captopril Renography
adalah sebagai berikut.
1) Derajat 0: normal.
2) Derajat 2-salah satu dari yang berikut.
a) Perlambatan ringan dari fase sekresi (fase 2).

b) Penurunan aktifitas maksimal


3) Waktu puncak (Tmaks) abnormal 6<Tmaks<11menit.
4) Derajat 2A.
Perlambatan fase sekresi dan Tmaks, dengan fase ekskresi.
5) Derajat 2B.
Perlambatan fase sekresi, Tmaks tanpa fase ekskresi.
6) Derajat 3
Penurunan yang nyata atau penangkapan radiofar maka tidak ada sama sekali.
G. Nilai
1) Apabila terjadi perubahan dari satu atau lebih derajat (termasuk 2A>2B) fra
dan pasca-katopril, maka terdapat probabilitas tinggi untuk hipertensi
renovaskular.
2) Probalitasnya rendah apabila derajat nya 0 pasca-katopril.
3) Probalitasnya intermediate apabila renografi awal abnormal tanpa ada
perbedaan antara fra dan pasca-katopril.
4) Penilaian kuantitatif lain meliputi:
a) Perubahan fungsi terpisah (split renal function) dengan misbah 60/40%
atau lebih.
b) Perpanjangan waktu transit parenkim.
c) Aktivitas residual korteks (cacahan pada 20-30 menit versus cacahan pada
puncak)
d) Perubahan laju filtrasi glomerulus total(penurunan 15% atau lebih);
berguna untuk mendeteksi stenosis a. renalis bilateral atau pada pasien
dengan hanya satu ginjal.
4. Renografi Diuresis
Prinsip pemeriksaan ini berdasarkan fenomena bahwa obstruksi yang terjadi di ginjal
dapat disebabkan oleh hambatan statis yang dengan aliran urin yang tinggi setelah
pemberian diuretik diharapkan dapat menghilangkan hambatan tadi. Renografi bioresis
merupakan modifikasi renografi konvensional dengan intervensi farmakologi diuretika
furosemid.
a. Indikasi
Pemeriksaan renografi dieresis ini dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut tingkat
obstruksi ginjal, apakah total atau parsial. Misalnya, pada megapielum, hipoteni
pielum, atau batu.
b. Persiapan
Persiapan yang dilakukan seperti pemeriksaan renografi konvensional
c. Peralatan
1) Kamera gamma LFOV
2) Kolimator, meliputi:
a) LEHR untuk 99mTc-MAG3
b) Medium energy collimator untuk pemakaian 131I-hippuran.
3) Energy setting
a) Low energy pada puncak 140 KeV.

b) Window width: 20%


d. Tata laksana
1) Posisi pasien terlentang
2) Deteksi ditempatkan sedemikian rupa hingga ginjal dan kandung kemih berada
dalam lapang pandang pencitraan dari proyeksi posterior.
3) Protokol akuisisi
a) Teknik pencitraan dinamik.
b) Matrix 128 x 128
c) Frame/time I: 6 frame/10 detik.
d) Frame/time II: 15 frame/1 menit.
Pemeriksaa diikuti dengan saksama dan bila setelah 15 menit tidak tampak
penurunan fase III (retensi radiofarmaka pada ginjal), segera berikan
furomesid 20mg intravena. Pemeriksaan terus dilanjutkan lebih kurang 10
menit setelah penyuntikan furosemid.
4) Pemrosesan data
Kemungkinan yang dapat ditemukan sebagai berikut.
a) Pemberian furosemid tak mengubah bentuk kurva obstruksi (fase III terusnaik).
Gambaran demikian dikenal sebagai gambaran obstruksi total.
b) Pemberian furosemid menyebabkan perubahan kurva renogram dengan cepat dan
ekskresinya menjadi sangat efektif; gambaran ini ditemukan pada hidronefrosis
non-obstruksi atau dilatasi hipotonik.
c) Apabila pengaruh furosemid pada kurva obstruksi hanya bersifat parsial, tidak
cepat dan ekskresinya lambat maka gambaran demikian menunjukkn adanya
obstruksi atau subtotal.

C. Tulang
1. Sidik Tulang (Bone Scintigraphy)
Sidik tulang merupakan pemeriksaan yang telah lama digunakan untuk membantu
menegakkan diagnosa dan mengikuti perjalanan penyakit. Sidik tulang dianggap sebagai
pemeriksaan terpilih untuk deteksi dini proses metastasis tumor ke tulang.
Radiofarmaka yang paling sering digunkan untuk sidik tulang adalah 99mTc-MDP
(methylenediphosphonate). Radiofarmaka ini apabila disuntikkan ke dalam tubuh secara
intravena akan ditangkap oleh sel-sel osteoblast (osteoblastic-mapping). Mekanisme
penangkapan radiofarmaka tersebut tergantung pada kemampuan bahan tersebut berkaitan
dengan ion-ion organik dan reaksinya dengan berbagai unsure organik pada tulang.
Atas dasar mekanisme inilah, maka pemeriksaan sidik tulang menjadi sangat sensitif
dibandingkan dengan pemeriksaan radiologi yang didasarkan adanya perubahan anatomi. Hasil
positif sudah dapat diperoleh 3 sampai dengan 18 bulan lebih awal dibandingkan pemeriksaan

radiologi. Sebaliknya pemeriksaan ini menjadi kurang spesifik, karena setiap proses peningkatan
osteoblastik oleh sebab apapun akan memberikan gambaran positif.
Untuk evaluasi vaskularisasi suatu lesi pada tulang dapat dilakukan pemeriksaan dengan
metode tiga fase (three-phase-bone scan).
a. Indikasi
Pemeriksaan dilakukan apabila ada indikasi seperti berikut.
1) Metastasis pada tulang
2) Tumor tulang primer
3) Osteomielitis
4) Nekrosis aseptic
5) trauma
6) kelainan sendi
7) penyakit metabolic pada tulang
b. Radiofarmaka
99Tc-MDP (methylenediphosphonate) dengan dosis 15 sampai dengan 20 mCi
disuntikkan secara intravena pada v.mediana cubiti.
c. Persiapan
Tidak diperlukan persiapan khusus
d. Peralatan
1) Kamera gamma planar dilengkapi data processor
2) Kolimator LEHR
a) Puncak energy: 140 KeV
b) Window width: 20%
e. Tatalaksana
Pencitraan dilakukan dengan metode tiga fase
1) Fase pertama (vascular)
a) Penderita tidur terlentang dengan detector ditempatkan sedemikian rupa sehingga
tubuh yang akan diperiksa berada di atas lapang pandang detector.
b) Pemeriksaan fase pertama merupakan pemeriksaan dinamik dalam frame
berukuran matrix 128x128 dengan waktu pencacahan 3 detik/frame selama 2
menit.
c) Posisi pencitraan: anterior dan atau posterior.
d) Pencitraan dimulai bersamaan dengan saat penyuntikan radiofarmaka secara
bolus.
2) Fase kedua (boold pool)
a) Pemeriksaan fase kedua dilaksanakan segera setelah fase pertama selesai berupa
pencitraan static dalam frame berukuran matrix 256x256 sebanyak 700 Kcounts.
b) Posisi pencitraan: anterior dan posterior.
3) Fase ketiga
a) Fase ketiga merupakan pemeriksaan statik yang dilakukan 3 jam pasca
penyuntikan radiofarmaka.

b) Sebelum memasuki ruang pemeriksaan penderita dianjurkan untuk buang air kecil
dengan hati-hati untuk menghindari kontaminasi. Pada fase ketiga ini dilakukan
pemeriksaan seluruh tubuh (whole body scan) dari posisi anterior dan posterior
dilanjutkan dengan pemeriksaan spot pada bagian-bagian yang mencurigakan.
Pemeriksaan dalam frame berukuran matrix 256x256 sebanyak 700 Kcounts.
c) Posisi pencitraan: anterior dan posterior. Apabila diperlukan pemeriksaan
dilakukan dengan posisi miring (oblique) untuk memperjelas lokasi kelainan.

D. Saluran Cerna
1. Pemeriksaan Divertikulum Meckle
a. Indikasi
1) Mendeteksi dan mencari lokasi divertikulum meckle yang mengandung mukosa
gaster yang berfungsi
2) Mendeteksi dan mencari lokasi struktur patologis lain yang mengandung mukosa
gaster.
b. Waktu pemeriksaan: 1 jam 15 menit
c. Peralatan dan energy window
1) Gamma camera: LFOV
2) Collimator: LEHR, parallel hole
3) Window width: 20% window dipusatkan pada 140 kev
d. Radiofarmaka
1) Tc-99m sodium Pertechnetate (Tc-O4)
2) Dosis: 10 mCi intravena
e. Protokol akuisisi
1) Dynamic flow 20 frame/30 sec, matriks 128x128x16,
2) Diikuti dengan pencitraan static setiap 5,10,15,30,45 dan 60 menit, 1000 kcts, matriks
256x256x16.
Catatan: semua gambar dibuat pada posisi yang sama.
2. Pemeriksaan Perdarahan Gastrointestinal
Pemeriksaan perdarahan gastrointestinal ditujukan untuk mencari lokasi perdarahan
gastrointestinal.
a. Waktu pemeriksaan
1) 2 jam : 1 jam untuk pengambilan darah
2) 4 jam untuk pencitraan
3) Pencitraan lanjut dilakukan 24 jam sesudah pemeriksaan pertama apabila
diperlukan.
b. Persiapan pasien
Harus dilakukan pemasangan infuse/jalur intravena
c. Peralatan dan energy window
1) Gamma camera: LFOV

2) Collimator: LE, general purpose, parallel hole


3) Window width: 20% dipusatkan pada 140 kev
d. Radiofarmaka
1) Tc-99m Red Blood Cells
2) Dosis: 30 mCi Tc-O4
3) Cara melabel: in vivo
4) Suntikan intravena
e. Catatan
1) Pasien diberikan 2,0 ml stannous pyrophosphate intravena. Tunggu 20-30 menit,
kemudian ambil 8 cc ACD dan tunggu sampai mengendap. Setelah itu, serum
disisihkan. Sediment RBC dilabel dengan Tc-99m dan disuntikkan intravena.
2) Formulir jalur label darah harus diisi untuk setiap pasien perdarahan saluran cerna.
Teknisi dan saksi yang sama mengambil darah dan menyuntikkannya kembali, diikuti
seluruh instruksi pada formulir jalur darah.
3) Darah akan dilabel oleh ahli radiofarmaka. Jika tidak, ikuti perintah pemberian etiket
pada manual farmasi.
f. Protokol akuisisi
1) Posisi pasien berbaring terlentang dibawah FOV kamera yang besar(meliputi
abdomen dan pelvis).
2) Dynamic flow: 30 frame/2 second dilanjutkan dengan 6 frame/300 second, matriks
128x128x8.
3) Dilanjutkan dengan static selama 5 menit pada 1,2,3 dan 4 serta 24 jam bila perlu.
E. Onkologi
1. Skintimammografi (99Tc Sestamibi)
a. Indikasi
1) Massa pada payudara yang dicurigai merupakan keganasan dengan pemeriksaan
ultrasonografi dan mammografi radiologi.
2) Penyakit keganasan payudara yang telah dicurigai bermetatasis ke KCB aksilla.
3) Dicurigai tumor payudara residif.
b. Radiofarmaka
1) 99mTc-sestamibi dengan dosis 15 mCi.
2) Pemberian secara intravena pada vena mediana cubiti inspilateral payudara yang
normal atau vena di daerah dorsalis pedis.
c. Persiapan
Pada pemeriksaan ini tidak diperlukan persiapan khusus
d. Peralatan
1) Kamera gamma planar dilengkapi processor.

2) Kolimator LEHR/LEGP.
3) Puncak energy: 140 KeV
4) Window width: 20%
e. Tatalaksana
1) Posisi prone
Menggunakan mammopad khusus, dimana kedua mammae dapat menggantung
dengan bebas, dengan posisi tangan ke atas. Pada pencitraan planar statik lateral,
kolimator sedekat mungkin dengan kedua payudara, aksila dimasukkan dalam
lapangan, matriks 256x256 selama 10 menit, kemudian diambil lagi selama 3
menit menggunakan nipple marker.
2) Posisi anterior
Tangan dibelakang kepala, dilakukan pencitraan planar statik selama 10 menit dan
3 menit menggunakan nipple marker.
F. Terapi
1. Pengobatan Hipertiroid dengan Iodium Radioaktif
a. Indikasi
Semua jenis hipertiroid, kecuali tirotoskosis faktitia, hipertiroid dalam kehamilan,
atau sedang laktasi, dan hipertiroid postpartum.
b. Radiofarmaka
NaI-131 dengan dosis rendah (80-150aCi/g), dosis sedang (150-200uCi/g), atau dosis
tinggi (>200uCi/g), diberikan per oral.
c. Persiapan
1) Obat atau makanan yang mengandung iodium tinggi dihentikan paling kurang
satu minggu sebelumnya.
2) Obat-obat antitiroid dihentikan paling kurang 5 hari sebelumnya.
3) Pada hari pemberian pasien puasa, dan baru boleh makan satu jam setelah
pemberian 131I.
d. Catatan
1) Dosis ditentukan menggunakan rumus tertentu, berdasarkan uptake dan perkiraan
berat kelenjar tiroid
2) Efek samping yang perlu diperhatikan
a) Eksaserbasi tirotoksikosis, jarang terjadi (biasanya dalam satu minggu pasca
pengobatan)
b) Rasa pembengkakan di daerah tiroid dan mulut kering (biasanya hilang
sendiri).

c) Hipotiroid selintas (biasanya 3 sampai dengan 6 bulan pasca-pengobatan)

d) Hipotiroid menetap(dipantau dengan menentukan kadar TSH secara periodik


3 sampai dengan 6 bulan sekali).
3) Apabila dalam 3 sampai dengan 6 bulan belum menunjukkan perbaikan,
pengobatan dengan iodium radioaktif dapat diulang kembali.
4) Pasien wanita atau istri pasien pria tidak dibolehkan hamil selama 6 bulan pascapengobatan. Oleh karena itu, pakailah obat/alat kontrasepsi selama waktu
tersebut.
5) Pasien dianjurkan untuk tidak berada dekat dengan bayi atau anak-anak berusia
dibawah 12 tahun atau wanita hamil selama paling kurang 2 hari selama
pengobatan.
2. Pengobatan Karsinoma Tiroid Berdiferensiasi Baik
Karsinoma berdiferensiasi baik berasal dari jaringan epithelial folikel tiroid. Penyakit
tersebut banyak dijumpai pada wanita daripada pria. Ada 3 jenis karsinoma yang dikenal, yaitu
karsinoma tiroid folikuler, papilifer, dan campuran.
Karsinoma tiroid folikuler secara histologis mempunyai gambaran yang mirip dengan
jaringan tiroid normal, sering bermetastasis secara hematogen secara dini, sehingga pada saat
penderita berobat penyakit sudah bermetastasis jauh ke tulang dan paru.
Insiden karsinoma tiroid papilifer lebih tinggi daripada karsinoma tiroid folikuler dan
banyak dijumpai oada decade II-III, serta usia lanjut. Penyakit tersebut berkembang lebih lambat
dan bermetastasis ke kelenjar getah bening regional.
Jaringan tiroid normal maupun patologis mengakumulasi ion 131I dan radiofarmaka lain,
dengan demikin teknik kedokteran nuklir mempunyai peranan yang penting dalam penanganan
penderita karsinoma tiroid berdiferensiasi baik pasca-tiroidektomi total.
a. Protokol pengobatan
1) Lakukan sidik kelenjar tiroid dan seluruh tubuh (SST/whole body scan) dengan 25 mCi 131I dalam 4 sampai dengan 6 minggu pasca tiroidektomi total. Tujuanya
untuk mengetahui adanya sisa jaringan tiroid di thyroid bed dan kemungkinan
metastasis.
2) Periksa kadar TSHs dan tiroglobulin (Tg) sebagai pembanding. Jangan diberikan
terapi substitusi dahulu kepada pasien.
3) Apabila pada sidik kelenjar tiroid jaringan tiroid tampak masih utuh (satu lobi),
rujuk kembali penderita kepada dokter bedahnya untuk dilakukan tiroidektomi
total.
4) Apabila hanya dijumpai sisa jaringan tiroid, maka dilakukan tiroablasi dengan
dosis 50 mCi. Pasien dirawat dikamar isolasi sampai paparan radiasi mencapai 1
mrm/m/jam.
5) Berikan
terapi
substitusi
pasca-ablasi
dan
dianjurkan
pasien
kontrol(memeriksakan kembali dirinya) 6 bulan lagi. 1 bulan sebelum kontrol
pasien diminta menghentikan terapi substitusi sedikitnya 4 minggu dan

3.
a.
b.

c.

d.

e.
f.

memeriksa kadar TSHs serta Tg sebelum dilakukan sidik seluruh tubuh (SST).
Bila tidak dijumpai sisa jaringan tiroid atau metastasis pada sidik seluruh tubuh
(SST), maka pasien langsung diberi terapi substitusi dan diminta kontrol kembali
6 bulan kemudian.
6) Bila SST (+), kadar TSHs(-), kadar serum TSHs tinggi dan Tg rendah. Apabila
kadar serum Tg tinggi, walaupun SST (-) maka hal ini merupakan indikasi untuk
melanjutkan terapi. Dosis maksimal yang dapat diberikan adalah sebanyak 1
Curie.
7) Bila dalam 2 kali waktu kontrol (6 bulan) berturut-turut hasil pemeriksaan baik,
maka masa kontrol diperpanjang menjadi 1 tahun sekali. Bila hasil pemeriksaan 2
kali waktu kontrol (1 tahun) berturut-turut baik pula maka penderita dianjurkan
untuk kontrol 2 tahun sekali. Bila 2 kali waktu kontrol (2 tahun) hasil
pemeriksaan baik, maka penderita dianjurkan untuk kontrol kembali 5 tahun
sekali.
Pengobatan Paliatif Rasa Nyeri pada Tulang Akibat Proses Metastasis
Indikasi
Rasa nyeri akibat proses metastasis ke tulang.
Kontra indikasi
Pengobatan tidak dapat diberikan kepada pasien wanita yang sedang hamil atau laktasi,
pasien dengan fraktur patologis, dan pemeriksaan darah tepi abnormal.
Persiapan
Sebelum dilakukan pengobatan tersebut sebelumnya dilakukan pemeriksaan sidik tulang
untuk memastikan adanya proses metastasis ke tulang yang bersifat menangkap
rafiofarmaka.
Radiofarmaka
153Sm-EDTMP 0,5-1 mCi/kgBB intravena
Sidik tulang dilakukan 4 jam setelah penyuntikan untuk memastikan radiofarmaka telah
memasuki tulang yang terkena metastasis.
Efek samping
Mielosupresi yang bersifat sementara dan relative ringan (2 sampai dengan 4 minggu)
Catatan
Pengobatan paliatif dapat diberikan bersama-sama dengan radioterapi eksterna,
kemoterapi, dan terapi hormonal bila keadaan umum pasien memungkinkan. Pengobatan
ulang dapat diberikan bila rasa nyeri timbul kembali 3 sampai dengan 24bulan pasca
pengobatan paliatif dengan pemberian radionuklida bila jumlah trombosit > 60.000/ml
dan leukosit > 2.400/ml

BAB 9 PEMERIKSAAN PET SCAN


A. Prosedur Pemeriksaan Pet CT
1. Persiapan pasien
a. Pasien yang memiliki diabetes (DM) berpuasa makan 12 (dua belas jam).
b. Pasien diperbolehkan minum air putih.

c. Pasien tidak berolahraga/melakukan aktifitas berat selama 12 (dua belas jam) sebelum
pemeriksaan.
d. Level gula darah 140 mg/dl.
e. Pasien tidak boleh merokok dalam waktu 1 x 24 jam sebelum pemeriksaan.
f. Pasien yang tidak dapat berjalan, harus dibantu oleh anggota keluarganya (sesuai
aturan BAPETEN), dan akan dipasang kateter untuk kelancaran dan kenyamanan
pasien.
g. Pada saat scanning, pasien harus tenang, dan kooperatif. Apabila pasien panas sampai
menggigil, sering batuk, sebaiknya diobati terlebih dahulu. Pada kasus-kasus tertentu
pasien perlu didampingi anaestesi.
h. Apabila gula darah pasien tinggi, diberikan suntikan insulin pertama. Pemberian
suntikan dapat diulang sampai gula darah ideal agar tidak terjadi false negative.
i. Obat Metformin dihentikan untuk sementara dan diganti dengan obat lain minimal 2
hari.
j. Tidak diberikan obat pemacu sel darah dalam 5 hari terakhir, misalnya Leukokine,
Leucogen, Neupogen, Granocyte, dan lain-lain)
k. Periksa Ureum & Creatinin (toleransi Creatinin 1.8 untuk penggunaan kontras).
l. Pemeriksaan diagnostik yang sudah dilakukan mohon disertakan maksimal pada
waktu pemeriksaan PET-CT Scan.
m. Karena FDG memiliki paruh waktu, maka pasien diwajibkan untuk datang tepat pada
waktu yang dijadwalkan.
2. Tindakan Pemeriksaan
a. Pasien disuntik (intravena): FDG dengan dosis pemberian: 10-15 mci (370-555 MBq)
(3,7 5,2 MBq/kg. Max 740 MBq).
b. Pasie diistirahatkan selama 45 sampai dengan 60 menit.
c. Setelah itu pasien diletakkan di atas pesawat PET-CT sebelumnya, vesica urinaria
dikosongkan.
d. Dilakukan penyuntikan kontras (bila perlu) dan CT Scan dioperasikan dari Cranial
Caudal, setelah itu PET Scan dari Caudal-Cranial untuk mengurangi pengaruh
aktivitas dalam vesica urinaria yang tinggi pada pencitraan.
3. Pemeriksaan PET-CT dilakukan
1 minggu setelah biopsi, 6 minggu post operasi, 4-6 minggu post chemoterapi, dan 6-12
minggu post radiasi.

BAB 10 PEMERIKSAAN ANGIOGRAFI


A. Persiapan Angiografi
1. Indikasi
a. Diagnosis penyakit vascular primer.
b. Diagnosis dan lokasi tumor vascular.

c. Tindakan sebelum operasi.


d. Diagnosis dan terapi komplikasi
e. Prosedur endovascular dalam radiologi intervensional.
2. Kontra Indikasi
a. Absolut: pasien tidak stabil, misalnya sepsis.
b. Relatif: infark jantung, alergi kontras,koagulopati (gangguan faktor pembekuan),
tidak dapat berbaring (supine), sisa pemeriksaan barium, hamil, dan menstruasi.
3. Persiapan
a. Tempat perawatan sebelum dan sesudah tindakan.
b. Riwayat penyakut, pemeriksaan fisik, dan radiologi sebelumnya.
c. Izin tindakan medik.
d. Laboraturium:Hb,Ht,leukosit,trombosit,masa perdarahan,masa pembekuan, ureum,
dan kreatinin.
e. Puasa 6-8 jam sebelum pemeriksaan.
f. Infus D5 %, 150 ml/jam.
g. Premedikasi (bila perlu): diazepam 10 mg, oral.
h. Kosongkan kandung kemih atau pasang kateter urin.
i. Identitas pasien dan catatan rekam medis lengkap.
j. Pulsasi a. femoralis atau a. brakialis.
k. Mencukur rambut pubis.
l. Antibiotic pra dan pasca prosedur.
4. Obat-obatan
a. Heparinisasi: stop 5-12 jam, PTT 1,2 x control. Mulai lagi setelah prosedur = 6-12
jam. Dapat diberikan protamine sulfat dengan dosis 100 berbanding 1.
b. Warfarin: stop 1-2 hari, beri FFP atau vitamin K (25-50 mg, IM) sampai PT = 15
detik.
c. Aspirin = fungsi agregasi trombosit mencapai normal dalam 3-10 hari.
d. Trombosit= 75.000/ml, jika < 75.000 beri dahulu tranfusi FFP sebanyak 10 kantong.
Jika antara 75.000 -100.000 berikan tranfusi selama tindakan.
e. IDDM: insulin pada pagi hari dosis. Infus D5% tetesna emergensi. Pada tengah
hari berikan makanan oral dan insulin awal.
f. Gagal ginjal: kontras yang diberikan maksimal 5 ml/KgBB dibagi kreatinin serum.
g. Infeksi menular: hepatitis, HIV
h. Demam: berikan antibiotik dan antipiretik.
i. Hipertensi: berikan obat sebelumnya agar terkontrol
j. Alergi: berikan antihistamin atau kortikosteroid.
5. Hal-hal yang perlu diperhatikan
a. Untuk sedasi dan analgetik: Midazolam dan Fentanyl.
b. Usia tua: kurangi dosis kontras sampai 50%

c. Untuk penyakit serebrovaskular dan jantung koroner: hindari obat-obatan penurun


tekanan darah cepat dan cardiac output
d. Untuk penyakit hati: hindari barbiturate dan kurangi dosis sedative dan analgesic.
e. Feokromositoma dengan tekanan darah labil pakai Dibenzyline 4 x 10 mg, oral
selama 1 minggu sebelumnya.
f. Phentolamine untuk krisis hipertensi.
g. Konsul ahli anestesi.
h. Myeloma multiple: hidrasi cairan harus baik.
i. Sickle cell anemia dan polisitemia vera: dapat terjadi komplikasi angiografi berupa
trombo emboli.
B. Radiologi-Neororadiologi Intervensional
1. Peran radiologi intervensional
a. Biopsi per kutan (bantuan fluoroskopi, USG, CT atau MRI)
1) Sitologi,
2) Paru,
3) Mediastinum,
4) Payudara,
5) Tulang,
6) Intra abdomen,
7) Kelenjar getah bening.
b. Penatalaksanaan kumpulan cairan patologid (abses)
1) Intraperitoneum,
2) Retroperitoneum dan pelvis,
3) Intratorakal.
c. Penatalaksanaan penyakit sistem bilier
1) PTC (percutaneos transhepatic cholangiography)
2) PTCD (percutaneos transhepatic chlolangiography drainage)
3) Biliary endoprosthesis (stent duktus bilier) pada keganasan
4) Kelainan lain:
Obstruksi benigna dengan dilatasi duktus
Fistula
Kolelitiasis
d. Penatalaksanaan kelainan traktus urogenital
1) Nefrostomi per kutan
2) Struktur dan fistula ureter atau uretra
3) Urolitiasis
4) Uretroplasti pada hipertrofi prostate
5) Rekanalisasi tuba
e. Penatalaksanaan kelainan sistem vascular
1) Hemoptisis atau batuk darah

2)
3)
4)
5)
6)

Perdarahan traktus digestivus: atas dan bawah


Hematemesis karena pecahnya varises esophagus (TIPS)
Perdarahan karena trauma
Pemasangan porth catheter
Embolisasi atau kemoteraoi tumor:
Paru
Hepar (hepatoma)
Ginjal
Urogenital (mioma uteri, perdarahan karsinoma serviks uteri)
Tulang

7) Embolisasi malformasi vascular:


AVM
AVF
Aneurisma
Varikokel
8) Obstruksi vascular:
PTA (percutaneos transluminal angioplasty)
Aspirasi thrombus atau atrektomi per kutan
Trombolisis
Stent
Filter vena cava
Sampel darah vena pada kelainan adrenal.
f. Penatalaksanaan kelainan traktus digestivus
a) Struktur esophagus, intestinum dan klorektal
b) Gastrostomi dan enferal feeding
c) Fistula
g. Penatalaksanaan kelainan sistem lakrimalis
h. Pengeluaran benda asing
2. Peran neuroradiologi intervensional
a. Embolisasi
1) Meningioma
2) Juvenile nasopharyngeal angiofibroma
3) Paragnaglioma
4) Tumor korpus vestebrae
5) Epistaskis
6) Perdarahan tumor jaringan lunak leher
7) AVF dan trauma vascular
8) AVF a. vertebralis
9) Malformasi vascular spinal
10) Dural arteriovenosa intracranial
11) CCF (carotid cavernous fistulae)
12) Pial dan dural AVM
13) Aneurisma

b. Angioplasty dan stenting


1) Karotis interna ekstrakranial dan bifurkasio
2) Intrakranial
c. Penatalaksanaan stroke iskemik akut
d. Lain-lain
1) Penatalaksanaan hemangioma dan malformasi vascular superficial daerah
servikofasial
2) Kemoterapi tumor daerah leher dan kepala
3) Oklusi:
A. karotis interna temporer dan permanent
Vascular ekstra dan intracranial
Stent pada trauma vascular supra aorta
Sampel sinus petrosus inferior
Blok saraf dan disektomi
HNP (herniasi discus lumbal dan servikal)

C. Pemeriksaan Angiografi
1. Aortografi Torakalis
a. Indikasi
1) Trauma aorta
2) Aeurisma disekting atau aterosklerosis
3) Emboli
4) Steal phenomenon
b. Alat:
1) Akses femoralis: kateter pigtail diameter 6 Fr, panjang 90 cm
2) Akses brakialis: kateter pigtail 5 Fr, 60 cm
3) Guidewire standar, diameter 0,030 inch, bentuk J
c. Pemberian kontras
1) Konsentrasi yodium 350 mg I/ml, dosis 25-30 ml/detik, volume total 60-80 ml
d. Prosedur
Memasukkan kateter pigtail harus selalu dengan tuntuan guidewire, lalu ujung kateter
diletakkan sedikit diatas katup aorta(aorta asendens), posisi 35-450 RPO (bila perlu
ditambah posisi AP atau LPO).
2. Aortografi Abdominalis
a. Indikasi
1) Penyakit oklusi vascular
2) Persiapan kateterisasi selektif
3) Pemetaan aneurisma
4) Persiapan pembedahan intra abdomen (revaskularisasi aorta-ekstermitas)
b. Alat
1) Kateter pigtail 5 Fr, 60 cm

2) Guidewire standar
c. Pemberian kontras
Konsentrasi yodium 350 mg I/ml, dosis 15-25 ml/detik, volume total 45-80 ml.
d. Prosedur
Dengan tuntunan guidewire ujung kateter diletakkan sedikit di atas trunkus celiacus
(vertebrata torakal 12), posisi AP dan lateral.

3. Arteriografi Celiacus
a. Indikasi
1) Tumor visceral
2) Perdarahan saluran cerna atas
3) Prabedah pirai porto-vena
b. Alat
Kateter RC1 atau Cobra atau Yashiro, 5 Fr, 65 cm
c. Pemberian kontras
Konsentrasi yodium 350 mg I/ml, dosis 6-10 ml/detik, volume total 36-60 ml.
d. Prosedur
1) Ujung kateter sampai setinggi T12-L1, lalu ujungnya diarahkan ke anterior
kemudian diturunkan perlahan-lahan sampai terasa tersangkut di pangkal trunkus
coeliacus. Untuk meyakini apabila perlu, dilakukan tes dengan menyuntikkan
kontras 1-2 ml
2) Posisi AP dengan vertebrata di garis tengah dan batas atas diafragma kanan
terlihat.
4. Arteriografi Hepatica
a. Indikasi
1) Pemetaan vascular prabedah: hepatoma, tranplantasi
2) TAI (Trans Arterial Infusion) dan TAE (Trans Arterial Embolization)
3) Hipertensi porta
4) Arteritis, aneurisma, trauma dan hemophilia
b. Alat
1) Kateter RC atau cobra, rosch hepatic atau simmon

2) Guidewire
3) Microcatheter 3 Fr atau SP catheter (Terumo)
c. Pemberian kontras
1) Konsetrasi yodium 350 mg I/ml
2) Dari a. hepatica komunis: 6-8 ml/detik, volume total 30-40 ml.
3) Dari a. hepatica propria: 4-5 ml/detik, volume total 25-30 ml.
4) Atau injeksi 5-10 ml dengan tangan (tanpa alat injeksi), terutama bila memakai
microcatheter.

d. Prosedur
1) Terlebih dahulu melakukan arteriografi celiacus untuk pemetaan a. hepatica.
2) Masukkan guidewire melewati kateter di coeliacus, lalu diarahkan selektif ke a.
hepatica komunis atau a. hepatica propria (tergantung kebutuhan)
3) Setelah itu, kateter dimasukkan secara perlahan-lahan sampai maksimal (jangan
dipaksa karena bisa berakibat robekan/ disekting pada endotel).
4) Apabila tidak berhasil guidewire dikeluarkan dan diganti dengan microchateter
(SP catheter, Terumo).
5) Posisi AP dengan abdomen kuadran kanan atas terlihat (termasuk batas atas
diafragma dan batas bawah hepar), dapat ditambah posisi oblik bila terdapat
superposisi dengan organ lain.
6) Arteriografi mesentrika superior harus dikerjakan karena sebanyak 18,5% a.
hepatica dapat berasal dari arteri tersebut.
5. Arteriografi Renalis
a. Indikasi
1) Hipertensi renovaskular
2) Fistel arteriovena(AVF)
3) Tumor
4) Trauma
5) Transplantasi ginjal
b. Alat
Cobra 5 Fr
c. Pemberian kontras
Konsentrasi yodium 350 mg I. ml dosis 4-7 ml/detik, volume total 10-21 ml 5 ml
dengan tangan.
d. Prosedur
Terlebih dahulu dilakukan aortografi abdominal sebelum memasukkan kateter secara
selektif ke a. renalis kanan dan kiri karena a.renalis dapat multiple (25%) dan

kelainan di pangkal a. renalis dapat terdeteksi. B. renalis kanan umumnya setinggi L1


dan a. renalis kiri sedikit di bawahnya.
e. Posisi AP dan posterior oblik, bila perlu dengan magnifikasi (pembesaran).

6. Arteriografi Mesentrika Superior


a. Indikasi
1) Perdarahan saluran cerna: divertikel,AVM, angiodisplasia (perdarahan di atas 0,5
ml/menit baru terdeteksi)
2) Tumor
3) Trombosis
4) Portografi indirek (untuk mengevaluasi vena porta)
b. Alat
Cobra 5 Fr
c. Pemberian kontras
1) Konsentrasi yodium 350 mg I/ml, dosis 5-8 ml/detik, volume total 36-60 ml
2) 5-10 ml dengan tangan
d. Prosedur
1) Lokasi a. mesenterika superior terletak 1 cm dibawah celiacius atau setting T12L1.
2) Posisi sedikit RPO (10-15) berguna untuk portografi (pangkal v. porta akan
terlihat lebih jelas tanpa superposisi dengan vertebra dan karena pengaruh
gravitasi, kontras lebih banyak ke v. porta)
3) Apabila diperlukan, dapat diberikan Tolazoline 25 mg yang diencerkan dalam 10
ml NaCl 0,9% lalu disuntikkan secara selektif intra arterial dan ditunggu selama
45 detik sebelum dilakukan angiografi.
7. Arteriografi Mesenterika Inferior
a. Indikasi
1) Perdarahan saluran cerna bawah
2) Iskemi usus (emboli atau thrombosis arteri/vena)
b. Alat
Cobra 5 Fr
c. Pemberian kontras
1) Konsentrasi yodium 350 mg I, dosis 3-5 ml/detik, volume total 9-15 ml
2) 5-10 ml dengan tangan
d. Prosedur
1) Lokasi a. mesenterika inferior setinggi L2 atau di pedikel L3
2) Posisi AP (pertama harus diambil pada daerah rectum dan kedua pada fleksura
lienalis).

3) Untuk menghindari superposisi, perlu dipasang kateter di kandung kemih agar


kontras di dalamnya dapat dikeluarkan.
8. Arteriografi Pelvis
a. Indikasi
1) Aneurisma, AVM
2) Atheroocclusive vascular disease
3) Trauma
4) Tumor
5) Impotensi vascular
b. Alat
1) Pigtail 5 Fr
2) Selektif kontralateral: Cobra, 5 Fr
3) Selektif ipsilateral: Cobra 2 atau reverse-curve (Simmons 2),5 Fr
c. Pemberian kontras
1) Konsentrasi yodium 300 mg I/ml
2) Posisi aorta: dosis 12-15 ml/detik, volume total 36-45 ml
3) Posisi untuk selektif a. iliaka: 4-6 ml/detik, total 16-36 ml
d. Prosedur
1) Dengan penuntun guidewire, kateter pigtail dimasukkan, lalu diletakkan 3-4 cm di
atas bifurkasio aorta.
2) Posisi AP ditambah posisi oblik.
3) Apabila perlu, dapat dilakukan selektif ke a. iliaka interna.
9. Arterografi Ekstremitas Superior Manus
a. Indikasi
1) Tromboemboli
2) Subcalvian steal
3) Thoratic outlet syndrome
4) Tumor
5) Aneurisma, AVM, AVF
b. Alat
Headhunter 5 Fr, panjang 110 cm
c. Pemberian kontras
1) Konsentrasi yodium 300 mg I/ml
2) Injeksi pada a. subkalavia: 6-10 ml/detik, volume total 18-30 ml
3) Injeksi pada a. brakialis: 3-6 ml/detik, volume total 24 ml.
4) Untuk manus: 4-5 ml/det, volume total 20 ml
5) Atau secara praktis semuanya sekitar 5-10 ml dengan tangan
d. Prosedur
1) Masukkan kateter sampai a. subklavia (bila perlu dengan tuntunan guidewire)

2) Posisi AP untuk a. subklavia dan aksilaris dan posisi 15-20 kaudal untk a.
brakialis proksimal.
3) Untuk mendeteksi thoratic outlet syndrome diperlukan posisi adduksi dan
abduksi.
4) Posisi lengan abduksi 60-90 dan manus dalam posisi supinasi. Posisi lanjutan:
pronasi manus dan rotasi internal humerus.
5) Untuk manus ujung kateter diletakka di a. brakialis distal (sedikit di atas siku).
Bila perlu diberikan Tolazolin 25 mg, intra arteri, ditunggu 30 detik. Posisi AP
dengan manus supinasi dan posisi kedua, manus sedikit pronasi.
10. Arteriografi Ekstermitas Inferior Unilateral
a. Indikasi
1) Trauma
2) Evaluasi tumor
3) Emboli
4) Pemetaan vaskular untuk tandur kulit
b. Alat
1) 4-5 Fr Pigtail atau Cobra
2) Guidewire
3) Kontras 300 mg I/ml
4) Injector
c. Pemberian kontras
1) Manual sebanyak 10-20 ml.
2) Injector: 5-8 ml/detik, untuk 35-60 ml volume kontras.
d. Prosedur
1) Pasang introducer sheath
2) Masukkan kateter
3) Untuk ipsilateral: kontras langsung disuntikkan melalui introducer sheath
4) Untuk kontra lateral: ujung kateter diletakkan di pangkal a. iliaka komunis
5) Suntikkan kontras
6) Ambil gambar dari pelvis sampai pedis.

11. Angiografi Pulmonalis


a. Indikasi
1) Embolisasi paru sebelum penggantian filter v. cava, bila deep vein thrombosis
pada ekstremitas atau renal vein thrombosis.
2) Evaluasi penyakit tromboembolik kronis pada Aa. Pulmonaris sentralis
menyebabkan hipertensi pulmonal pada pasien yang merupakan kandidat untuk
tromboembolektomi.
3) Evaluasi pada kelainan congenital.

b. Kontra indikasi relatif


1) Evaluasi kardiologi mungkin diperlukan pada beberapa kasus.
2) Coexistent severe pulmonary hypertension. Penilaian noninvasive dari
tekanan/aliran pulmonal dapat dicatat dengan EKG dan mungkin dapat dibantu
dengan MRA.
3) Left bundle brouch block pada ECG. Pasangkan kateter transvenous pacing untuk
menghambat timbulnya complete heart block apabila pada pemasangan kateter
menginduksi timbulnya right bundle branch block (RBBB).
4) Ventricular irritability. Lakukan pulmonary arteriogram bila didapati adanya
resiko dari antikoagulan atau terapi trombolitik yang tinggi.
5) Penyakit-penyakit berkaitan yang mematikan (CHF), harus dievaluasi dan
ditangani dengan sebaik-baiknya sebelum dilakukan angiogram.
6) Bila tercatat adanya reaksi kontras yang berbahaya sebelumnya.
c. Persiapan sebelum tindakan
1) Prosedur standar persiapan angiografi
Periksa status kardiopulmonal (riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, tes
diagnostik, dan lain-lain). Walaupun parameter klinis dan laboratorium setiap
orang tidak spesifik, namun kombinasi manifestasi yang signifikan mengarah
pada PE adalah penting untuk memilih pasien yang mungkin memerlukan
pemeriksaan lebih lanjut.
2) Menilai ulang/review
CXR (chest x-ray): untuk menyingkirkan gambaran klinis yang mirip dengan PE
dan membantu interpretasi V/Q scan.
ECG: untuk menyingkirkan acute myocardial infarction, menilai aritmia, dan
mengevaluasi right ventricular strain (p-pulmonale, right axis deviation, RBBB
atau S1Q3T3).
3) V/Q scan: bersamaan dengan penilaian klinis membantu pemilihan pasien
untuk menjalani angiografi serta berfungsi sebagai peta untuk menentukan
jalur pulmonary arteriogram yang sesuai.
4) Venous studies: right-sided hemodynamic (bila telah ada dan pemasangan kateter
Swan-Ganz sebelumnya). PCWP berguna untuk menyingkirkan left- sided failure.
RVEDP dan tekanan PA dapat menentukan derajat pulmonary hypertension, yang
bila ada maka dapat digunakan untuk menentukan rancangan pulmonary
angiogram yang sesuai.
5) Periksa elektrolit serum, ureum/kreatinin, parameter koagulasi (PT <1,5 kontrol;
PT <5 detik) dan trombosit (>75.000).
6) Tangani keadaan aritmia dengan prophylactic lidocaine 50-100 mg iv, dan
lakukan konsultasi dengan kardiolog.
7) Pemeriksaan harus dilakukan dengat cardiac monitoring yang berkesinambungan
(kontinyu) pada setiap pasien.
8) Lakukan persiapan untuk memasang tranvenous pacer bila pasien menderita
LBBB.
d. Prosedur

1) Akses melalui vena


Masukkan venous sheath 8-9 Fr dengan teknik Seldinger ke v. femoralis (lebih
baik sebelah kanan), bila tidak ditemukan trombosis iliofemoral. 14% pasien yang
menjalani pulmonary angiography mengalami thrombus di IVC.
2) Kateter
Kateter Grollman 7Fr atau 8.3Fr (atau kateter Pigtail 7Fr yang dimanipulasi
dengan tip-deflecting wire).
Kateter Swan-Ganz 7Fr untuk pengukuran tekanan dan possible subselective
ballon occlusion injection. Kateter ini juga dapat diganti melalui wire dengan
diagnostic chateter lainnya bila dip erlukan. Penggantian mi harus dilakukan
dengan cepat untuk mencegah timbulnya aritmia saat endokardium bers
inggungan dengan wire terbuka.
3) Ukur tekanan jantung kanan. Sekitar 30% pasien yang menjalani pulmon ary
angiography mempunyai pulmonary hypertension.
4) RVEDP d mmHg + PA diastolic d70 mmHg
Bila tekanan lebih tinggi, resiko kematian akibat pulmonary angiography akan
tinggi. Pada kasus ini, gunakan subselective injection (dengan teknik ballon
acciusion, bila perlu), atau media kontras non-ionik atau keduanya. Tindakan
pengamanan mi lebih penting jika cardiac output di bawah normal.
D. Teknik Arteriografi Pulmonalis
1. Kontras
a. Diatrizoate meglumin (Hypaque 76) atau Sodium diatrozoate meglumin (Renografin
76).
b. Pada pasien dengan tekanan jantung kanan yang meningkat, gunakan Iohexol 350,
Iopamidol 370 dan Hexabrix.
2. Injection
a. Selektif: Arteri pulmonal kanan atau kiri: 40-50 ml dalam 20-25 ml/detik.
b. Subselektif: Gunakan V/Q scan sebagai panduan, khususnya pada pasien dengan
pulmonary hypertension (RVEDP e 2OmmHg)-rate dan volumenya disesuaikan
menurut area yang dipelajari (5-15 ml/detik selama 2 detik; dengan ballon occlusion,
tidak lebih dari 5-7 ml total volume).
c. Main PA injection: 70 ml dalam 35 ml/detik, untuk evaluasi anatomic central
pulmonary arteries dengan kelainan congenital.
3. Imaging
a. Gunakan V/Q scan sebagai petunjuk jalan, bukti adanya single clot sering kali
merupakan satu-satunya petunjuk untuk menentukan terapi.
b. Selalu rekam film dengan inspirasi maksimal, mulai dengan pandangan ipsilateral
anterior dan posterior oblik (45-600) untuk sisa yang diduga paling mencurigakan
pada V/Q scan. Tambahan pandangan AP mungkin sekali-sekali diperlukan.
c. Pandangan superselective magnified peripheral mungkin diperlukan, terutama bila
V/Q scan menunjukkan emboli perifer kecil, yang dapat terlewatkan bila injeksi

dibuat di tengah. 76% pada pasien dengan PIOPED hanya memiliki single clot dan
25%nya terletak di perifer.
d. Jika menggunakan kateter balon untuk subselective injection, pastikan untuk tidak
pernah melakukan oklusi total selama injeksi.
e. Bila didapati adanya kecurigaan cardiac trauma, segera hentikan tindakan. Evaluasi
kondisi pasien untuk adanya cardiac tamponade (tekanan, ECG dan emergency
echocardiogram di meja).
4. Penatalaksanaan pasca tindakan
Penatalaksanaan pasca tindakan angiografi yang standar.
a. Apabila pasien mengalami cardiac trauma, hentikan pemberian antikoagulan, kirim
ke ICCU.
b. Apabila pasien mengalami premature ventricular contraction (PVC) yang sering,
berikan bolus lidocaine 50 mg iiv melalui kateter ke RA (maksimum sampai 100 mg).
c. Untuk pasien dengan ventricular tachicardia (VT) yang rekuren, berikan bolus seperti
PVC, dan mulai pemberian tetesan 2-4 mg/menit. Hindari pemberian infus yang
cepat, yang dapat menyebabkan penurunan kontraktilitas jantung dan kemungkinan
kejang.
d. Apabila pasien dengan PE pada angiografi memiliki kontra indikasi terhadap
antikoagulan atau terapi tromboalitik, penggantian percutaneous dan IVC filter
sebaiknya dipertimbangkan sebelum mageluarkan kateter.
5. Komplikasi
a. Kematian: 0,1-0,5%, pada pasien dengan RVEDP> 20 mmHg
b. Non fatal major dan minor:
RV perforasi - 1%
Endocardial stain - 0,4%
Significant symptomatic arrhythmia - 0,8%
Cardiopulmonary arrest - 0,4%
Renal dysfunction - 1% terutama pada pasien lansia
Contrast reaction -0,8%
E. Venografi Ekstremitas Inferior
1. Indikasi
a. Deep vein thrombosis (DVT)
b. Varises
2. Alat
a. 19-21 gauge butterfly/wing needle
b. Infus set
c. NaC1 0,9%
d. Three-way
e. Pasta nitrogliserin
f. Syringe 60 ml, 3 buah

3. Pemberian kontras
Konsentrasi yodium 240 mgI/mi, dosis I mi/detik, volume total 150-180 ml.
4. Prosedur
a. Kaki pasien yang akan diperiksa direndam dengan air hangat.
b. Pasien dibaringkan pada titling table, sudutkan 30.
c. Pasang tourniquet pada pergelangan kaki.
d. Oleskan pasta nitrogliserin dan lakukan pemijatan.
e. Suntikkan jarum di vena dorsum pedis, disarankan dekat digiti I.
f. Pasang three-way dengan infus NaCl 0,9%.
g. Meja disudutkan 45, kontras disuntikkan perlahan-lahan dengan fluoroskopi
dijalankan agar ekstravasasj ada dapat terlihat langsung.
h. Apabila vena dalam belum terisi baik dapat dipasang tourniquet di genudan pangkal
paha atau dengan manuver valsava serta pemijatan.
i. Lokasi yang diambil gambarnya adalah krusis, genu, femoral sampai pelvis.
j. Posjsi AP dan oblik.
k. Setelah selesai harus dilakukan flushing atau tetesan infus diteruskan dngan NaC1
0,9%.

F. Contoh Formulir Persiapan dan Radiologi Intervensional


1. Persiapan
Nama
:
Umur
Nomor rekam medik
:
Lokasi
Dokter penunjuk
:
Tanggal
Diagnosis
:
Prosedur
:
No.prosedur
A. Data Klinik
Prosedur dan indikasi

Keluhan dan simtom

: ..

Riwayat medis

: ..

Kelainan jantung

: ..

CAD/MI/CHF/Arrhythmia/Valvulopathy
2.
3.
4.
5.
6.

Penyakit pembuluh darah perifer


Hipertensi
Diabetes
Penyakit ginjal
PPOK/asam

:
:
:
:
:

:
:
:
:

7. Koagulopati
8. Gangguan neurologist
TIA/stroke/kejang
9. Kanker
10. Penyakit infeksi

:
:

Hepatitis/HIV

:
:

Lain-lain
Disfungsi hati/myeloma
Multiple/Pheochromositoma/Hemosistinuira
Riwayat bedah

Obat-obat yang digunakan sekarang

Anti koagulanisa
Infuse heparin hentikan 4-6 jam sebelum prosedur

Oral aspirin, hentikan 3-10 hari sebelum prosedur


Alergi (sensifitas obat/makanan) : .
Reaksi kontras sebelumnya

: .

Menstruasi (periode)

: .

Kehamilan

: .

Periksa kontras terakhir

: .

B. Temuan Fisik
Kondisi pasien
:
Tidak dapat tidur terlentang/tidak ko-operatif/stabik/tidak stabil/instubasi
Tekanan darah
:
Denyut nadi
:
Suhu
:
Laju pernafasan
:
Pemeriksaan jantung
:
ECG
:
Denyu
t

Idem

Aksilar
is

Idem

Idem

Idem

Idem

Kanan
Kiri
Bising

Carotis

Abdomen

Femoral

Kanan
Kiri

Lain-lain
C.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Hasil laboratorium
Trombosit
PT
PTT
Ureum
Hb/Hct
Leukosit

:
:
:
: ...
:
:

D. Hasil Laboraturium
a. Radiografi polos/USG/TK/ dan lainnya

E.
a.
b.
c.
d.
e.

Rencana
Jadwal
Cukur dan persiapan
Mulai puasa minum 4 jam sebelum pemeriksaan
Pengiriman chart dan permintaan
Perhatikan dan pertimbangkan
1. Hidrasi
: ..
2. Antibiotik
: ..
3. Premedikasi
: ..
4. Evaluasi koalugasi
: ..
5. Profilaksasi
: ..
6. Konsultasi dengan ahli lain
: ..
7. Surat persetujuan
: ..
8. Buli-buli kosong/kateter lain
: ..

F.
a.
b.
c.

Biaya Pemeriksaan
Angiografi
IVR
---

: ..
: ..

Jakarta, ---

2. Rencana prosedur
Lokasi fungsi

Bahan

Pakaian pasien

Jarum semprit

1 cc
3 cc
5 cc
10 cc
Mangkok/cawan
Holder tajam
Pakaian steril
Sponge steril
Set mikrofungsi
Scalpel
Jarum
Klemp arteri
Klip handuk
Stop cock 3 arah
Kall spisiologis
Lidocaine
Kantong tekanan
Penutup tabung sinar x steril
Introducer shath
Jarum

:
:
:
:
:
:
: ...
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Wire
Kateter
Diagnostik
Guiding
Media kontas
Heparin
Balon

:
: ....
:
:
:
:
:

Bahan embolik

: ..

Stent

: ..

Marker/tanda(keharusan/sesuatu keharusan)

: ..

Steamer

: ..

Instruksi/perhatikan kesus

: ..

Jakarta, .
Ahli Radiologi
3. Pasca Prosedur
Keterangan
Lokasi fungsi

Komplikasi

Diagnosa pasca prosedur

Dikirim ke
Dokter

Kamar/ruangan

Kondisi
Instruksi umum
Tidur baring

: (sisi/posisi)

Istirahat tubuh selama

: .. jam

Ekotremitas

Istirahat selama

: - . jam

Periksa lokasi pungsi dan denyut nadi distal dari tempat pungsi setiap
15 menit x 4
30 menit x 4
1 jam x 2
4 jam x 1
Perhatikan/beritakan
Hematom/perdarahan
Perubahan penampakan (warna, suhu, denyut nadi)
Komplikasi lain
Periksa tanda vital
15 menit x 4
30 menit x 4
1jam x 4
Pertimbangkan
Hidrasi
: .
Antibiotik
: .
Obat simtomatik
: .
Monitor komplikasi
: .
Monitor seduah prosedur intravensi
: .
Perintah lain
Introducer sheath
: .
Pemberian makan
: .
Angkat dan ganti pembalut
: .

Jakarta,
Ahli Radiologi

BAB 11 KONTRAS MEDIA


A. Tinjauan Umum Tentang Kontras Media
1. Pendahuluan
Penggunaan kontras media untuk pemeriksaan diagnostik radiologi sudah dimulai hampir
bersamaan dengan ditemukannya sinar X oleh W. C. Rontgen. Kontras digunakan untuk melihat
bagian-bagian yang tidak terlihat dengan pemeriksaan sinar X, misalnya usus, ginjal, pembuluh
darah, dan lain-lain.
Prinsip dasar dan penggunaan kontras adalah bahan yang digunakan dan luar tubuh untuk
meningkatkan nilai diagnostik.
Jenis-jenis kontras media yang digunakan adalah kontras media yang bersifat negatif dan
kontras media yang bersifat positif. Kontras media negatif adalah udara dan CO2. Sedangkan
kontras media positif, misalnya barium sulfat dan kontras yodium.
2. Klasifikasi kontras media
Klasifikasi Kontras Media
Kontras Negatif

Kontras positif

Barium sulfat dan Yodium


Udara dan CO2
Larut dalam air

Derivat triiodobenzoat

Larut dalam minyak

Jenis-jenis kontras media


Monomer ionic

Dimer ionic

Oral kolegrafi

Oral/Angio

iv kolegrafi

Lopodate

lothalamat

lodipamic acid loxaglic acid

Locetamide acid Diatrizoat


Loxhithalamat

lodoxamic
lotroxic acid

Lodamic acid
Lodamic acid
Monomer Non-ionik

Dimer Non-ionik

Urografi Angiografi

Myelografi

Lopamedol
Iohexol
Lopromide

lotrolan

Angio

Loversol
Lopentol
Belakangan ini juga dikembangkan dimmer non-ionik untuk angiografi

3. Penggunaan kontras
Kontras media cukup luas digunakan dalam bidang radiologi. Misalnya, untuk mengisi
lumen dengan kontras opak untuk memperlihatkan struktur lambung dan usus. Selain itu,
digunakan juga untuk pengisian lumen pembuluh darah seperti pada pemeriksaaan angiografi.
Kontras juga digunakan untuk memperlihatkan struktur morfologi organ dan fungsi ekskresinya
seperti pada traktus urinarius, kandung empedu, dan memperlihatkan penyangatan kontras
seperti pada pemeriksaan CT scan, dan sebagainya.
Dengan pemberian kontras maka beberapa kondisi yang tidak terlihat dengan
pemeriksaan polos, misalnya batu lusen dan tumor akan dapat diperjelas. Pemilihan kontras
media yang digunakan adalah berdasarkan keamanan (safety) dalam penggunaan dan sifatnya
yang kurang toksik.
4. Jenis kontras media
Kontras media larut air yang pertama kali digunakan (kira-kira tahun 1953) adalah
derivat cliatrizoat. Struktur kontras ini terdiri dan 1 atom benzene dengan 3 atom yodium
sebagai dasar pengembangan kontras kemudian.
Bahan kontras ini berkembang menjadi kontras ionik dan non-ionik. Adapun yang
dimaksud dengan kontras ionik adalah kontras yang mengandung ion. Adapun kationnya atau ion
positifnya adalah natrium atau meglumine dan ion negatifnya adalah derivat benzene dengan 3
atom yodium dan grup carboxyl (COO).
Kontras non-ionik adalah kontras yang terdiri dan atom benzene dengan 3 atom yodium
dan terikat dengan grup hydroxyl (OH). Kontras ini kemudian berkembang dan dikenal sebutan
monomer yang terdiri dan 3 atom yodium dan 1 ikatan benzene serta dimmer yaitu terdiri dan 2
ikatan benzene dengan 6 atom yodium.
Baik kontras ionik maupun non-ionik dikenal dalam dua bentuk tersebut. Hal yang cukup
penting untuk diperhatikan dan berbagai macam kontras adalah seperti tampak pada tabel
berikut.
Tabel
Beberapa contoh kontras media yang dapat ditemukan di pasaran

No.
1.

Jenis kontras
Ionic monomer
Metrizoat
Amidotrizoate
Gastrografin
Ioxithalamate

Nama Generik
Iothalamate
Isopaque
Urografin-Angiografin

Nama Dagang
Conray-Vasoray

Osmolalitas
1500-1600

Telebrix

2.

Ionik Dimer

Ioxaglat

Hexabrix

600

3.

Non-ionik monomer

Iohexol

Omnipaque

500-700

4.

Iopamidol
Iopromide
Loversol
Non-ionik Dinner

Iopamiro
Ultravist
Optiray
Iodixanol

Visipaque

300

Iotrolan

Isovist

Yang penting diperhatikan dan kontras media adalah osmolalitasnya. Kontras


ionik mempunyai osmolitas yang tinggi dan pada umumnya lebih rentan terhadap
dosis yang tinggi. Sebaliknya, kontras non-ionik pada umumnya mempunyai
osmolalitas yang rendah.
a. Dosis pemberian kontras media
Dosis pemberian kontras media diatur sedemikian rupa agar efek sampingnya
dapat ditekan sekecil mungkin. Anak-anak pada umumya lebih rentan terhadap
dosis kontras yang diberikan. Sedangkan dosis rekomendasi untuk pemeriksaan
adalah sebagai berikut.
1) Mielografi sebaiknya tidak lebih dari 3 gram yodium pada orang dewasa.
2) IVP: sebaiknya menggunakan dosis tidak lebih dari 600 mg yodium/kg BB.
3) Angiografi: sebaiknya dosis yang diberikan tidak melebihi 1000 mg yodium/
kgBB.
b. Mekanisme toksik kontras media
Dawson membagi efek toksik kontras media ini terutama atas 3 bagian seperti
berikut.
1) Osmolalitasnya
Hiperosmolalitas dari kontras media akan menyebabkan peningkatan volu
me plasma secara akut, terjadinya vasodilatasi, pelepasan histamine-cedera
pada endotel pembuluh darah, yang dapat menyebabkan tromboplebitis,
dan rasa nyeri dan panas pada arteriografi. Semakin kurang osmolalitasnya
maka semakin kurang pula toksisitasnya.

2) Kemotoksisitas
Efek kemotoksik ini berhubungan dengan molekul kontras media yang
berinteraksi derigan makromolekul tubuh seperti membrane sel protein
plasma. Efek toksik ini berkaitan erat dengan gugus karboksil dalam kontras
ionik.
Sebagai contoh kontras media ionik bersifat neurotoksik dalam subaraknoid. Oleh
sbab itu, jangan gunakan kontras ionik untuk mielografi.
3) Balance ion
Apabila kontras disuntikkan ke dalam pembuluh darah dan jika konsentrasi ion terlalu
tinggi atau terlalu rendah, akan mengakibatkan efek samping seperti, fibrilasi
ventrikel yang terjadi pada arteriografi koroner. Efek samping umumnya dapat dibagi
atas:
a) Efek samping umum seperti: mual atau muntah, reaksi alergik, sampai syok.
b) Efek yang ditimbulkan oleh perbedaan osmolalitasnya seperti nyeri, panas,
bradikardi, atau vasodilatasi.
Selain itu efek samping dapat dibagi atas:
a) Efek samping ringan seperti urtikaria, mual, dan muntah.
b) Efek samping sedang seperti sesak nafas.
c) Efek samping berat: syok, edema laring, dan kejang-kejang.
Sebagian besar efek samping ini terjadi pada 5 menit pertama setelah penyuntikan.
Sedangkan beberapa efek samping lambat terjadi setelah beberapa jam atau beberapa
hari pasca pemberian kontras. Misalnya, timbulnya eritema dan parotitis.
Secara keseluruhan efek samping terhadap kontras media bervariasi. Menurut
beberapa peneliti dengan ribuan kasus dan penelitian multi senter efei sampingnya
adalah seperti pada tabel berikut.
Tabel
Beberapa penelitian mengenai efek samping kontras media.
Peneliti

% efek
samping

% Efek samping Berat

Nama

Tahun

Ionik

Palmer
Wolf
Kataya
ma
Laroche

1988
1986

3,8
4,1

Nonionik
1,2
0,7

1990

12,7

3,1

1998

Ion
ik
0,1
0,4
0,2
2

Nonionik
0,01
0,0
0,04
0,04

Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut terlihat jelas bahwa ditemukan angkaangka efek samping yang lebih rendah pada penggunaan kontras media non-ionik
dibandingkan dengan kontras media ionik.

5. Profilaksis dan Premedikasi


Sering timbul pertanyaan apakah profilaksis dan premedikasi membuat pemeriksaan
menjadi lebih aman? Meskipun menurut Clauss dan Taenzer tes kulit tidak menjamin terjadinya
reaksi alergi, perhimpunan dokter spesialis radiologi Jerman dan Jepang menggunakan tes ini
untuk melindungi pasien dan aspek medikolegal.
Tindakan premedikasi meskipun tidak menghilangkan kemungkinan terjadinya reaksi
alergi tetap dianjurkan, terutama untuk mereka dengan riwayat alergi atau pernah alergi.
Pemberian premedikasi juga dianjurkan berkaitan dengan pemberian kontras terhadap orangorang tua (75 tahun) dan mereka dengan riwayat gangguan fungsi hati, jantung, dan pernafasan.
Tauber menganjurkan pemberian antagonis terhadap reseptor HI dan H2 10 sampai 15
menit sebelum pemberian kontras. H1 antagonis yang dipakai adalah Fenistil mg dan H2
antagonis adalah simetidin (Tagament) dengan dosis 200 mg, untuk BB antara 40-60 kg.
Lasser menganjurkan pemberian kortikosteroid oral 32 mg metilprednisolon (Medrol) 12
jam dan 2 jam sebelurn pemberian kontras akan mengurangi efek samping.
Almen & Aspellin menganjurkan pemberian 50 mg prednisolon (10 tablet) 12 dan 2 jam
sebelum pemberian kontras serta Clemastin 2 ml i.m 1 jam sebelurn pemeriksaan.
6. Tindakan Pengobatan
Efek samping tidak dapat diramalkan, dapat terjadi begitu saja meskipun persiapan
dilakukan dengan matang. Tes kulit meskipun dikatakan tidak menjamin harus dilakukan.
Pemberian informed consent atau persetujuan dalm tindakan medis sebelum pemeriksaan juga
harus dilakukan demi hukum.
Klinik radiologi atau rumah sakit yang melakukan pemeriksaan dengan kontras sudah
seharusnya menyediakan obat-obatan dan saran untuk melakukan tindakan pertolongan bila
terjadi efek samping. Sesuai dengan standar prosedur operasional radiologi, perlu disediakan
alat-alat resusitasi sederhana, tangki oksigen, serta obat-obatan untuk keadaan darurat medik
seperti adrenalin, antihistamin, dan hidrokortison sebelum melakukan pemberian kontras.
Sebaiknya obat-obatan yang diberikan dalam bentuk injeksi iv sehingga efeknya lebih cepat.

Untuk efek samping ringan sering tidak perlu dilakukan tindakan pengobatan. Untuk efek
samping berat perlu tindakan pengobatan terutama pemberian adrenalin subkutan 0,3 ml,
kortikosteroid, dan pemberian oksigen. Pemberian adrenalin dan steroid dapat diulang bila perlu.
7. Kesimpulan
Pemakaian bahan kontras dalam bidang radiologi diperlukan untuk meningkatkan nilai
diagnostik. Kontras media dapat bersifat negatif misalnya, udara. Kontras juga dapat bersifat
positif misalnya, barium dan yodium.
Kontras media yodium yang pertama adalah derivat diatrizoat yaitu 3 atom yodium dalam
ikatan benzene. Dalam perkembangannya kontras media dapat bersifat monomer atau dimer serta
sifat ionik dan non-ionik.
Efek samping dan kontras media terutama disebabkan oleh efek kemotoksisitas,
osmolalitas, dan balans ion. Tindakan preventif seperti skin test tetap diperlukan untuk aspek
medikolegal. Sedangkan tindakan premedikasi dapat menurunkan efek samping yang timbul.
Klinik atau rumah sakit yang melakukan pemeniksaan radiologi dengan kontras sudah
seharusnya mempunyai peralatan oksigen dan obat-obatan pada keadaan darurat serta
mempunyai tenaga yang mempunyai pengetahuan mengenai efek samping kontras dan
pertolongan yang harus diberikan.
B. Aplikasi Kontras Media pada MRI
1. Pendahuluan
Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah suatu alat kedokteran dibidang pemeriksaan
diagnostik radiologi yang menggunakan medan magnet. Kemampuan MRI dalam diferensiasi
jaringan lunak sangat baik. Dengan kontras yang sesuai dengan tujuan pemeriksaannya MRI
dapat meningkatkan nilai diagnostik dan memperlihatkan detail kelainan morfologi.
2. Kontras media dalam bidang radiologi
Bahan kontras merupakan senyawa-senyawa yang digunakan untuk meningkatkan
visualisasi (visibility) struktur-struktur internal pada sebuah pencitraan diagnostik medik. Seperti
telah dijelaskan sebelumnya, kontras media dapat diklasifikasikan sebagai berikut
a. Kontras media negatif: CO2 dan udara.
b. Kontras media positif: barium, kontras yodium intravaskuler, intratekal.
c. Microbubbles kontras untuk pemeriksaan USG.
3. Sejarah kontras media MRI
a. In vitro: Bloch, Hansen dan Packard tahun 1946
b. Pemberian ferum nitnit memperpendek waktu relaksasi TI
c. Dilanjutkan Bloembergen dan Solomon

d. Penggunaan kontras dengan MRI pertama kali oleh Leuterbur, Mendoca, Diaz dan
Rudin (1978)
e. Penggunaan kontras media pada manusia pertama kali menggunakan Gadolinium
DTPA (Magnevist).
f. Penelitian lanjut: kontras cukup aman, dapat ditoleransi organ.
g. Efek samping lebih sedikit dibandingkan non-ionik.

4. Prinsip dasar kontras MRI


Mempengaruhi waktu relaksasi proton T1 dan T2.
Sinyal akan berbeda.
5. Jenis Kontras MRI
Paramagnetik
Superparamagnetik
Paramagnetik
Gadolinium
Chromium
Mangan
Nikel
6. Pengaruh kontras pada Intensitas
a. Paramagnetik kontras
Sifat kontras: larut dalam air
Diekskresi ginjal 3 jam (75%), 24 jam (100%)
Dapat digunakan untuk kasus insufisiensi renal
Dosis : 0,1-0,2 mmol/KgBB
Lethal dose :8 mmol/KgBB
Kontras tidak menembus BBB
Menyala pada T1W1
Efek samping kadang-kadang: sakit kepala, rasa panas
b. Superparamagnetik kontras
Bentuk: suspensi
Setelah melalui vascular terjadi efek fagosit.
Nama barang: Resovist (Schering) dan Endoderm (Guerbet).
7. Penggunaan kontras media dalam klinik

Tumor
Infeksi
Lain-lain: Demielinisasi, MRA, Kontras IV, Tes bolus 1 cc
Menggunakan software canggih: Smart Prep (GE), Bolus Track (Philips), MRA
Non-invasif
Tanpa kontras/kontras yodium dan radiasi
Dahulu 2D TOF
8. Prospek kontras MRI di masa datang
Kontras khusus
Label antibodi
Melihat keganasan
Metastasis kelenjar
Infark miokrad
9. Kesimpulan
IKontras meningkatkan nilai diagnostik.
Memperpendek waktu relaksasi T1-T2.
Jenis kontras umum: Gadolinium.
Dosis: 0,1-0,2 mmol/KgBB.
Masa datang dapat dilabel dengan antibodi untuk organ tertentu.
Pemeriksaan ini mahal, hendaknya digunakan secara selektif.

BAB 12 PROTOKOL PEMERIKSAAN CT SCAN


A. CT Scan Otak
1. Teknik
Dibuat potongan aksial dan OM line/Reids baseline sampai vertek.
Tebal potongan 4-5 mm infratentorial, atau semua rata 7 mm.
Lesi di midline sebaiknya dibuat potongan koronal sebagai tambahan.
Tambahkan kondisi tulang pada kasus trauma serebral dan suspek fraktur tulang kepala.
Indikasi pemberian kontras diberikan pada kasus-kasus dengan dugaan tumor, infeksi,
kelainan vaskular seperti AVM, dan aneurisma.
B. CT Scan Hipofisis
1. Teknik
Dibuat potongan koronal 2-5 mm, tanpa dan dengan bolus kontras.
Setelah itu, dilanjutkan dengan axial scan 2 - 5 mm dan CM line, sampai supra sella (2
mm bila lesi kecil, mikroadeoma atau hipofisis tampak normal; dan 5 mm bila
makroadenoma atau tumor besar).
FOV kecil (160 - 200) mulai dan processus clinoideus anterior sampai dorsum sella.
C. CT Scan Telinga/OS. Petrosum
1. Teknik
High resolution (CT kondisi tulang)
a. Kasus non tumor/trauma basis cranii
Dibuat potongan aksial dan koronal 2 mm sejajar dengan aksis os. Petrosum, mencakup
seluruh tulang os. Petrosum, tanpa kontras, kondisi tulang (WW dan WL yang tinggi).
b. Kasus tumor atau infeksi (abses)
Potongan aksial 2-5 mm mencakup seluruh os. petrosum, tanpa dan dengan
pemberian kontras, kondisi tulang dan soft tissue.
Potongan koronal 2-5 mm sebagai tambahan, dalam kondisi tulang dan soft tissue
mencakup daerah os petrosum yang abnormal saja.

D. CT Scan Obrita
1. Teknik
a. Tumor dan infeksi
Buat potongan aksial 3-5 mm dan dinding inferior sampai dinding superior mencakup
seluruh cavum orbita, sudut sejajar dengan N. optikus atau menggunakan garis infra
orbitomeatal tanpa dan dengan kontras.
Bila perlu buat rekortstruksi coronal/sagital.
b. Fraktur orbita
Potongan koronal dan aksial 2-4 mm tanpa kontras.
Dicetak dalam kondisi soft tissue dan kondisi tulang di daerah fraktur, FOV kecil (160200).
Dapat dilanjutkan dengan 3D.
E. CT Scan Nasofiring, Orofaring, Lidah
1. Teknik
a. Nasofaring
Potongan aksial 3-5 mm, FOV 250 mii kondisi dengan filter agak tinggi, lebih tinggi dan
otak.
Buat potongan dan palatum sampai sinus frontalis, sudut sejajar dengan palatum tanpa
dan dengan bolus kontras, kemudian dilanjutkan dengan potongan aksial 5 mm sejajar
korpus vertebrata servikal dan C2 sampai dengan C6 dengan FOV 200 mm untuk
mencari pembesaran kelenjar leher.
Setelah itu dibuat potongan koronal 3-5 mm tergantung besar-kecilnya kelainan dari
koana sampai vertebra servikal sejajar dengan dinding posterior nasoforing.
FOV 250 mm, potongan koronal kadang perlu dibuat dalam kondisi tulang yang
mengalami destruksi basis cranii.
b. Orofaring
Sama dengan nasofaring, hanya mulainya agak rendah, garis aksial dimulai dari
mandibula ke atas.
c. Lidah
Antara gigi dan rongga mulut pasien harus diganjal dengan sepotong gabus atau
styrofoam, agar pada potongan koronal lidah tidak menyatu dengan palatum.
Teknik hampir sama dengan nasofaring, hanya aksial, koronal, dan sagitalnya harus
mencakup seluruh daerah lidah.
Bila tumor diduga berada di 2/3 depan lidah, lebih baik dibuat koronal dahulu tanpa
kontras
dan
dengan
kontras,
baru
kemudian
dibuat
aksialnya.
Sedangkan untuk tumor di pangkal lidah, sebaiknya dibuat aksial dahulu, korona, dan
kemudian sagital.

F. CT Scan Laring (Pita Suara)

1. Teknik
Potongan pra kontras
Aksial 5 mm dan epiglottis sampai cincin trachea 1-2 sejajar dengan pita suara.
b. Potongan dengan kontras
Aksial 2-3 mm di daerah pita suara, mulai dan batas sampai batas bawah lesi.
Bila didapatkan pembesaran kelenjar, dibuat potongan leher 5 mm post kontras (delayed
scan).
FOV 160-200 mm, tanpa dan dengan bolus kontras.
G. CT Scan Tiroid
1. Teknik
Potongan aksial 3-5 mm dari bagian atas kelenjar tiroid sampai bagian bawah, biasanya
mulai setinggi C5-6 sampai thoracic inlet, tanpa dan dengan bolus kontras.
Setelah itu, diulang/ delayed scan untuk mendapatkan batas lesi dan tambahan informasi
yang lebih baik setelah seluruh kelenjar tiroid mengalami penyangatan merata.
FOV
160-200
mm.
Catatan:
Pada CT scan pita suara dan tiroid, untuk menghasilkan potongan koronalnya, dapat
dibuatkan teknik MPR (multiplanar rekontruksi). Untuk itu harus dibuat potongan 1-2
mm pada waktu bolus kontras sepanjang daerah yang diperlukan untuk potongan
koronalnya.
H. CT Scan Sinus Paranasalis
Teknik
Soft tissue
a. Sinusitis
Potongan koronal 2 mm di bagian depan sinus dan 4 mm di bagian posterior,
mulai dari os. nasal sampai rongga nasofaring.
Potongan aksial dan dasar sinus maksilaris sampai sinus frontalis 3-5 mm, tanpa
kontras, kondisi soft tissue, FOV 200-250 mm.
b. Tumor sinus
Potongan koronal 3-5 mm dan dinding depan sinus sampai nasofaring atau tumor
habis, tanpa dan dengan kontras.
Kemudian aksial 5 mm dan dasar sinus sampai sinus frontalis atau mencakup seluruh
tumor kondisi soft tissue dan tulang bila ada destruksi tulang.

I. CT Scan Toraks
1. Teknik
Bila memungkinkan sebaiknya dipakai teknik high resolution.

Potongan aksial langsung, dengan kontras dari puncak paru sampai diafragma.
Tebal potongan antara 5-10 mm tergantung besarnya lesi paru, atau dibuat kombinasi
antara 10 mm pada daerah yang tidak ada lesi dan potongan tipis di daerah lesi.
Bila proses di bawah hilus, potongan diteruskan ke bawah sampai seluruh lesi terpotong.
Bila proses di atas arkus aorta /puncak paru, potongan diteruskan sampai seluruh lesi
terpotong.
Kondisi dicetak dalam dua macam window yaitu window mediastinum dan paru.
Permintaan khusus untuk CT parenkim paru biasanya dibuat untuk kasus-kasus emfisema
atau infiltrat paru.
Dibuat potongan aksial scan tanpa kontras, filter high resolution, tebal potongan 2 mm
dengan indeks potongan 8-10mm dan puncak paru sampai diafragma.
Untuk tumor esophagus, pemeriksaan CT scan toraks dilakukan sambil meminum kontras
oral hingga didapatkan lumen tumor yang sempit sebagai batas atas tumor.
Bolus kontras diberikan, dan scan dibuat di atas batas atas tumor sampai batas bawah
tumor dan filmnya dicetak dengan kondisi mediastinum.
Potongan koronal dan sagital dapat diperoleh dengan teknik MPR dan untuk itu
diperlukan potongan yang tipis antara 2 sampai 3 mm.
J. CT Scan Abdomen Atas
1. Teknik
Potongan aksial dibuat dari diafragma sampai ginjal.
Pada saat pra kontras, tebal potongan 10 mm indeks 10-15 mm.
Bolus kontras diberikan pada daerah yang menjadi pemeriksaan.
Apabila organ/kelainan yang diperiksa besar, seperti hepar dan lien, tebal potongan 10
mm, indeks 8-12 mm.
Apabila organ/kelainannya yang diperiksa sedang (ginjal, lambung, atau usus) dipakai
tebal potongan 5-8mm, indeks 8-12 mm.
Untuk organ yang sedang (ginjal, lambung, usus) dipakai tebal potongan 5-8 mm.
Untuk organ kecil seperti (kelenjar adrenal, pankreas dan kandung empedu) dipakai tebal
potongan antara 2-5 mm.
Pada kasus tertentu seperti tumor yang hipervaskular/hemangioma, khusus untuk hepar
dan ginjal, perlu dibuat delayed scan apabila dicurigai ada kelainan pada bolus kontras.
Pada alat CT spiral/helical CT, untuk hepar dan ginjal sebaiknya dipakai program volume
spiral scan untuk mendapatkan dual phase (fase arterial dan portal pada hepar atau fase
cortex dan medulla pada ginjal), kemudian dibuat lagi delayed scan untuk mendapat fase
equilibrium (untuk hepar) dan fase ekskresi (untuk ginjal) di mana sistem
pelviokalisesnya terisi penuh.
K. CT Scan Abdomen Bawah/Pelvis
1. Teknik
Potongan aksial dan L 3 sampai buli-buli/kelenjar prostat.
Pra kontras: tebal potongan 10 mm.

Bolus kontras di daerah yang ada kelainan, tebal potongan tergantung besar kecilnya
kelainan, biasanya dipakai tebal potongan 5 mm.
Kadang-kadang kontras oral tidak mengisi rectum dan sigmoid, oleh karena itu
diperlukan kontras melalui rectum.
Khusus untuk ca. serviks yang masih stadium II-III, dibuat potongan 3 mm pada waktu
bolus kontras.
Delayed scan kadang diperlukan bila batas tumor tidak jelas, dikehendaki pengisian bulibuli oleh kontras.
Potongan koronal dan sagital dibuat melalui teknik MPR.
L. CT Scan Spinal
1. Teknik
Dibuat potongan aksial.
FOV 160 mm, tanpa kontras atau dengan kontras intratekal, disebut CT-mielografi.
Untuk kasus HNP, potongan hanya di daerah ruang discus, sejajar dengan discus, dengan
ketebalan potongan 2-4 mm, kondisi soft tissue dan tulang bila perlu.
Untuk penilaian kanal stenosis, dapat dibuat satu potongan sejajar dengan korpus
vertebrata di daerah yang ada kelainannya, kondisi soft tissue dan tulang.
Umumnya diperlukan kontras terutama untuk kasus abses paravertebra atau untuk
melihat infiltrasi tumor ke dalam kanalis vertebralis.

BAB 13 PEMERIKSAAN MSCT CARDIAC


A. Pengertian
Pemeriksaan MSCT Cardiac (CT scan jantung) adalah
memperlihatkan gambaran pembuluh darah arteri yang ada di jantung.
B. Tujuan

pemeriksaan

untuk

Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk menentukan diagnosa pada pasien dengan
dugaan adanya gangguan pada sistem pembuluh darah di jantung. Misalnya, pasien dengan
diagnosa chest pain.
Hasil pemeriksaan MSCT Cardiac dapat digunakan sebagai acuan bagi petugas dalam
mengerjakan pemeriksaan CT-Scan cardiac. Selain itu, berfungsi pula untuk mendapatkan hasil
pemeriksaan CT-Scan yang optimal.
C. Prosedur
1. Persiapan
a. Satu hari sebelum pemeriksaan pasien dilarang merokok, minum kopi, dan alkohol.
b. Pasien berpuasa 4-6 jam sebelum pemeriksaan.
c. Cek ureum dan kreatinin darah pasien.
d. Observasi keadaan pasien dengan cara mengukur tensi nadi. Apabila tensi di atas 65
pasien pasien diistirahatkan terlebih dahulu. Apabila dalam waktu 30 menit tensi
masih tinggi, pasien diberi oabat Lopressor 1 tablet. Lopressor ini diberikan dengan
tujuan menurunkan nadi, menurunkan tekanan darah, dan menenangkan pasien.
e. Setiap 30 menit setelah pemberian Lopressor keadaan pasien harus selalu di periksa.
Bila sudah stabil nadinya, EKG dipasangkan pada pasien dan demikian juga dengan
perangkat infus untuk penyuntikan kontras dengan jarum infus ukuran besar,
misalnya ukuran 18.
f. Siapkan mesin injektor dengan kontras media sebanyak 80-100 ml, serta flow rate
suntikan 5 ml/detik, dan pressure yang digunakan 325 psi.
2. Pelaksanaan
Setelah selesai proses registrasi, klik ikon menu New Patient yang ada di monitor.
Masukkan identitas pasien, nomor urut registrasi, pemeriksaan dan nama dokter
pengirim, kemudian klik gambaran anatomi paru-paru, pilih protokol Snapeshot
Segment.
Atur posisi pasien di meja pemeriksaan dengan posisi feet first (kaki terlebih dahulu),
dengan posisi senyaman mungkin. Sentrasikan tubuh simetris di bidang tengah
pemeriksaan dengan menekan tombol lampu laser.
Tentukan daerah yang akan dilakukan pemeriksaan dengan sentrasi sternal notch.
Tekan tombol Cutter Line di gantry untuk memposisikan meja pemeriksaan pada posisi
nol.
Klik Confirm, tekan tombol Move untuk menggerakkan meja. Tekan tombol Start
di keyboard. Keluar gambar topogram rongga thorax. Bersamaan dengan itu klik Next
Series, keluar program untuk Smart Score, tentukan area pemeriksaan dengan
mengklik Show Localiser yaitu setinggi 2 cm di bawah karina, dan sebagai batas
bawah apex jantung. Setelah siap klik Confirm. Tekan tombol Start di keyboard.

Pesawat akan melakukan proses scanning secara otomatis sesuai dengan program yang
telah ditentukan. Keluar gambar penampang axial dan Smart Score. Smart Score ini
bertujuan untuk melihat kalsium di pembuluh darah jantung. Setelah selesai pemeriksaan
smart score,klik Next Series untuk program Timing Bolus, yaitu untuk menentukan
prep group (Sec) yang akan digunakan pada CTA coronary.
Kemudian gunakan Smart Prep dengan menekan tombol ROI pada Aorta Ascenden dan
amati grafik treshold sampai nilai HU 300. Atur monitor delayed 3s.
Dapat juga menggunakan timing bolus, kontras akan dimasukkan bersamaan dengan xray sebanyak 20cc, tanpa saline. Keluar gambaran aorta ascenden pulmonary trunk. Klik
Measurement, klik Miroi, elips ROT, taruh elips di daerah aorta ascenden, klik
OK. Keluar grafik, hitung dengan rumus: (A x 2+8) atau (A
- 1 + 18), dengan A sebagai nilai puncak (peak) tertinggi. Klik Next Series untuk
program SS Segment. Atur daerah sama seperti pada smart score. Tentukan prep group
berdasarkan
nilai
yang
telah
dihitung
pada
timing
bolus.
Tekan tanda suritikan, masukkan nama kontras media yang dipakai. Tekan tombol Start
di keyboard bersamaan dengan menekan tombol Start di monitor injector. Mesin
pesawat akan melakukan pemeriksaan secara otomatis.
Bila smart prep operator digunakan, grafik kenaikan dan HU harus diperhatikan.
a. Memproses (processing) gambaran jantung
1)Klik retro recon.
2) Klik phase ubah menjadi 35-85 % dengan increment 10.
3) Klik accept, confirm. Jika selesai ke Advance Window (AW).
4) Klik nama pasien, pilih retro ss segment, klik Volume Viewer.
5) Klik Right Coronary, keluar phases selection, OK.
b.
1)
2)
3)

Vessel Analizer
Mencari Start: pilih pembuluh kanan yang pertama keluar (Awal RCA).
RCA: ujung RCA yang paling panjang dan lebar.
Klik Next, keluar Confirm Phase, Accept. Lihat di lumen, atur jika ada pembuluh
yang kelihatan sempit, kemudian letakkan kursor di pembuluh darah yang dicurigai.
4) Klik Shift, Edit, Edit Center. Atur garis yang merah sehingga ada di tengah
pembuluh, ubah X section menjadi Best L section. Bila di Best L section sudah
terlihat bagus, tetapi lumen kelihatan sempit ubah menjadi No Lock dan atur sehingga
lumennya tidak sempit.

5) Kalau sudah OK atur pembuluh pada berbagai posisi, tekan Fl untuk filming, dan tekan
S untuk simpan gambar.
6) Jika sudah selesai fracking untuk RCA tekan Accept, Save Tracking. Lakukan sama
untuk tracking di pembuluh kin (LAD dan LCX). Format film 3x3.
c. Tree VR (Volume Rendering)
1) Klik Select New Protocol, pilih Tree Vessel, sehingga keluar gambar kemudian taruh
kursor di RCA, tekan Shift, klik Display Vessel hingga keluar gambar pembuluh
darah RCA, atur sehingga posisi jelas dan awal RCA sampai ujung RCA. Tekan Fl
untuk filming dan S untuk simpan gambar.
2) Setelah itu, letakkan kursor di LAD, tekan mouse kiri sehingga keluar pembuluh darah
secara otomatis, tekan Fl untuk cetak ke film dan S untuk menyimpan gambar.
Lakukan yang sama untuk LCX. Format film 2 x 3.
d. 3D In Space
1) Patient List, klik nama pasien, klik series Axial ss Segment.
2) Klik Volume Viewer.
3) Klik VR Heart klik Volume Rendering, hapus bagian yang tidak diperlukan dengan
menggunakan lambang gunting, Cut inside/outside tergantung bagian mana yang
diarsir.
4) Klik 3D, auto select, Add Vessel untuk menambah panjang pembuluh, atau Remove
Vessel untuk membuang pembuluh yang tidak diperlukan.
5) Atur sehingga menjadi bagus, atur pada berbagai posisi, tekan Fl, untuk mencetak ke
film dan 5 untuk simpan gambar. Format yang dipakai 2 x 3.
e. Hitung Calsium Scoring
1) Klik Smart Score.
2) Klik Analize.
3) Klik Region warnai perkapuran yang ada di pembuluh darah sesuai regionnya.
4) Klik Preview.
5) KIik File.
6) Klik Print, OK.

BAB 14 PEMERIKSAAN CT ANGIOGRAFI


A. Pemeriksaan MSCT-Scan Leher Khusus (CTA CAROTIS)
1. Pengertian
Pemeriksaan MSCT-Scan Leher Khusus adalah pemeriksaan CT-scan leher untuk
menentukan gambaran dan sistem pembuluh darah arteri carotis interna dan ekstrna dengan
penampang axial serta format gambar MIP (Maximal Image Projection) dan VR (Volume
Rendering).
2. Tujuan

Tujuan dan pemeriksaan ini adalah untuk menentukan diagnosa pada pasien dengan
dugaan adanya gangguan pada sistem diagnosa CVD non Haemhorhagic, TIA, dan vertigo.
Selain itu, pemeriksaan ini juga berguna sebagai acuan bagi petugs dalam mengerjakan
pemeriksaan CT-Scan leher khusus, dan untuk medapatkan hasil pemeriksaan CT-Scan yang
optimal.
3. Prosedur
a. Persiapan
1) Pasien berpuasa 4-6 jam sebelum pemeriksaan.
2) Cek ureum dan kreatinin darah pasien.
3) Pasang perangkat infus untuk penyuntikan kontras dengan jarum infus ukuran
besar, misalnya no. 18.
4) Siapkan mesin injektor dengart kontras media sebanyak 80-l00ml, serta flow rate
suntikan 4.5ml/detik.
4. Pelaksanaan
Setelah proses registrasi pasien klik ikon menu New Patient yang ada di monitor.
Masukkan identitas pasien, nomor urut registrasi pemeriksaan, dan nama dokter
pengirim. Setelah itu, klik gambaran anatomi leher, pilih protokol CoW.
Secara otomatis akan muncul platform scout mode kepala. Atur kepala di sandaran
kepala. Usahakan dagu pasien agak fleksi, sentrasikan kepala simetris di bidang tengah
pemeriksaan dengan menekan tombol lampu laser.
Tentukan daerah yang akan dilakukan pemeriksaan dengan sentrasi outline di daerah
sentral notch.
Tekan tombol Outer line di gantry untuk memposisikan meja pemeriksaan pada posisi
nol.

Klik Confirm, tekan tombot Move untuk menggerakkan meja. Tekan tombol Start di
keyboard, dan akan keluar gambar topogram leher. Bersama dengan itu klik Next Series.
Tentukan area pemeriksaan yaitu dari daerah setinggi arcus aorta sampai setinggi basis cranii
dengan bidang potongan sejajar orbitomeatal line, dengan ketebalan 1.25mm setelah siap, klik
Confirm. Tekan tombol Start di keyboard.
Peswat akan melakukan proses scanning secara otomatis sesuai dengan program yang telah
ditentukan.
Setelah itu, keluar gambar penampang axial dan Ct-Scan leher polos.
Setelah selesai pemeriksaan CT-Scan leher polos, klik Next Series untuk fase kontras.
Tentukan Pre group(sec) sekitar 16 detik. Setelah itu, masukkan nama kontras kemudian klik

Confirm, atau dapat menggunakan Smart Prep dengan meletakkan ROI pada Aorta
Ascenden, dan mengamati grafik treshold.
Tekan tombol Start di keyboard bersamaan dengan menekan tombol Start monitor injector.
Mesin pesawat akan melakukan pemeriksaan secara otomatis. Setelah itu, akan keluar gambar.
Proses gambar dalam bentuk MIP dan VR. Tampilkan gambar arteri carotis interna dan ekstrerna
dalam bentuk MIP dan VR. serta print gambar pada film dengan format 9 segment.
B. Pemeriksaan CT Angiografi Aorta Abdomen (CTA Aorta Abdominalis)
1. Pengertian
Pemeriksaan CT angiografi Aorta Abdomen adalah pemeriksaan CT-Scan untuk
menampilkan gambaran dan sistem pembuluh darah aorta abdominalis serta cabang-cabangnya
dengan penampang axial serta format gambar MIP (Maksimal Image Pro-jection).
2. Tujuan
Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk menentukan diagnosa pada pasien dengan
dugaan adanya gangguan pada sistem pembuluh darah aorta abdominalis dan cabang-cabangnya.
Misalnya, pasien dengan diagnosa thrombus dan aorta abdomen, dissection, dan post pasang
sent. Hasil pemeriksaan ini juga dipakai sebagai acuan bagi petugas dalam mengerjakan
pemeriksaan CT-Scan Angiografi Aorta Abdomen, serta untuk mendapatkan hasil pemeriksaan
CT-Scan yang optimal.
3. Prosedur
Berikut ini prosedur yang harus dilakukan sebelum dan pada waktu pemeriksaaI CT
angiografi Aorta Abdomen.

1. Persiapan
a. Pasien puasa 4-6 jam sebelum pemeriksaan.
b. Cek urenum dan kreatinin darah pasien.
c. Pasang seperangkat infus untuk penyuntikan kontras dengan jarum infus ukuran
besar, misalnya no.18 dengan menggunakan cairan fisiologis (Na 0,9%), untuk
penyuntikan kontras media.
d. Siapkan mesin injektor dengan kontras media sebanyak 80-100 ml, saline 50ml, flow
rate 4.5m1/s, prosedure 300 psi.
2. Pelaksanaan
a. Klik New Patient yang ada di monitor, kemudian masukkan data-data pasien.
b. Klik gambaran anatomi paru, pilih protokol Late Venous.
c. Secara otomatis akan muncul platform scout mode.

d. Atur posisi pasien tidur terlentang di meja pemeriksaan dengan tangan di atas kepala
dan posisi feet first. Sentrasikan tubuh simetris di bidang tengah pemeriksaan
dengan menekan tombol lampu laser.
e. Sentrasi garis outline berada di daerah xypoideus.
f. Tekan tombol Outer Line di gantry untuk memposisikan meja pemeriksaan pada
posisi nol.
g. Klik Confirm, tekan tombol Move.
h. Tekan tombol Start di keyboard, keluar gambar topogram abdomen posisi lateral.
i. Tekan Move kemudian tekan tombol Start, keluar gambar topogram abdomen
posisi AP.
j. Klik Next Series, tentukan area yang akan dilakukan pemeriksaan dengan
mengklik Show Localiser dari daerah diafragma sampai pelvis.
k. Setelah siap, klik Confirm. Tekan tombol Start di keyboard.
l. Pesawat akan melakukan scanning secara otomatis.
m. Setelah selesai pemeriksaan CT-Scan abdomen polos, klik Repeat Series. Pilih
series Late Venous.
n. Tentukan prep group (sec) sekitaf0 detik. Masukkan nama kontras kemudian klik
Confirm.
o. Dapat juga menggunakan Smart Prep dengan meletakkan ROI rada Aorta
Ascenden, dan mengamati grafik treshold 300 HU.
p. Atur injektor, kontras yang digunakan 80-90 ml, flow rate 4.5ml/sec, pressure 300
psi.
q. Tekan tombol Start di keyboard bersamaan dengan menekan tombol Start di
monitor injektor. Mesin pesawat akan melakukan pemeriksaan secara otomatis.
r. Klik komputer AW, pilih nama pasien.
s. Pilihlah gambar yang akan diproses, klik Volume Viewer, pilih lung, klik
Reformat, untuk menampilkan gambar dalam bentuk MIP, klik Circulus Wilisi
untuk menampilkan gambar dalam bentuk VR gambar dalam bentuk VT di print ke
printer medical imager. Sedangkan dalam bentuk MIP print ke printer dalam film
dengan sembilan segment.
C. PEMERIKSAAN CT ANGIOGRAFI TUNGKAI BAWAH (CTA RUN OFF)
1. Pengertian
Pemeriksaan CT angiografi adalah pemeriksaan CT-Scan untuk menampilkan gambaran
dan sistem pembuluh darah tungkai bawah serta cabang-cabangnya dengan penampang axial
serta format gambar MlP (Maksimal Image Projection) dan VR (Volume Rendering).
2. Tujuan
Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk menentukan diagnosa pada pasien dengan dugaan
adanya gangguan pada sistem pembuluh darah arteri tungkai bawah dan cabang-cabangnya.
Misalnya, pasien dengan diagnosa thrombus dan aorta abdomen dissection, dan post pasang
stent. Pemeriksaan ini juga bertujuan sebagai acuan bagi petugas dalam mengerjakan

pemeriksaan CT-Scan angiografi tungkai, dan untuk mendapatkan hasil pemeriksaan CT-Scan
yang optimal.
3. Prosedur
a. Persiapan
1) Pasien berpuasa 4-6 jam sebelum pemeriksaan.
2) Cek ureum dan kreatinin darah pasien:
3) Pasang infus set untuk penyuntikan kontras dengan jarum infus ukuran besar,
misal no.18 dengan mengguakan cairan fisiologis (Na CI 0.9 %), untuk
penyuntikan kontras media.
4) Siapkan mesin injektor dengan kontras media sebanyak 80-100 ml, salin 50 ml,
flow rate 4.5 ml/detik, pressure 300 psi.
b. Pelaksanaan
1) Klik New Patient yang ada di monitor, masukan data-data pasien.
2) Klik gambaran anatomi hp joint, pilih protokol Run off 0,625mm kemudian
secara otomatis akan muncul platform scout mode tungkai bawah.
3) Atur posisi pasien tidur terlentang di meja pemeriksaan dengan tangan di atas
kepala dan posisi feet first. Sentrasikan tubuh simetris di bidang tengah
pemeriksaan dengan menekan tombol lampu laser.
4) Sentrasi garis outline di daerah umbilikus.
5) Tekan tombol Outer Line di gantry untuk memposisikan meja pemeriksaan
pada posisi nol.
6) Klik Confirm, tekan tombol Move.
7) Tekan tombol Start di keyboard. Keluar gambar topogram tungkai bawah/
ekstremitas bawah posisi lateral.
8) Tekan move kemudian tekan tombol Start, keluar gambar topogram tungkai
bawah/ekstremitas bawah posisi Antero Posterior (AP).
9) Klik Next Series, tentukan area yang akan dilakukan pemeriksaan dengan
mengklik Show Localiser dan daerah Umbilicus sampai ankle.
10) Setelah siap, klik Confirm. Tekan tombol Start di keyboard. Pesawat akan
melakukan scanning secara otomatis.
11) Setelah selesai pemeriksaan CT-Scan polos tungkai bawah, klik Next Series.
12) Tentukan kembali area yang akan dilakukan pemeriksaan dengan mengklik
Show Localiser dan daerah umbilicus sampai ankle. Masukkan nama kontras
kemudian klik Confirm.
13) Atur injektor, kontras yang digunakan 90-100 ml, flow rate 4.5 mi/sec, pressure
325 psi kemudian klik Arm.

14) Tentukan titik Smart Prep di atas bifurcation aorta iliaca komunis, buat ROT
dititik tersebut sebagai ajuan, atur treshold sampai menunjukkan angka 250.
15) Klik monitor phase untuk memonitor treshold dititik ROI yang telah dibuat.
16) Tekan tombol Start di keyboard bersamaan dengan menekan tombol Start di
monitor injektor. Ketika threshold sudah mendekati 150, klik Scan maka CTScan akan melakukan pemeriksaan secara otomatis.
17) Klik ke komputer AW, pilihan nama pasien.
18) Pilihlah gambar yang akan diproses, klik Volume Viewer, pilih Re-format,
untuk menampilkan gambar dalam bentuk MIP, klik VR untuk
3D. Gambar dalam bentuk VR diprint ke printer medical imager. Sedangkan
gambar dalam bentuk MIP print ke printer dalam film dengan format sembilan
segment.

BAB 15 PEMERIKSAAN MRI


A. Protokol Standar untuk Pemeriksaan MRI Ekstremitas
1. Ekstremitas Atas

a. Sendi pergelangan tangan


1) Jenis coil: GPFLEX COIL
2) Tujuan: Untuk melihat kelainan patologis jaringan dan sendi di daerah
pergelangan tangan.
3) Indikasi: tumor, abses, ruptur, dan lain-lain.
4) Persiapan pasien:
a) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
b) Pasien mengganti baju dengan pakaian yang telah disediakan di ruang ganti
dan menyimpan semua barng-barang di dalam loker yang telah
disediakan.
c) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan ear plug
untuk menutup telinga.
19) Teknik pemeriksaan:
a) Masukkan data pasien di RX manager computer.
b) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil yang sesuai dan sentrasikan di
pergelangan tangan.
c) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek di tengah gantri.
d) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:
- Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi potongan gambar
yang akan dibuat
-

Buat potongan Axial SE T1

Buat potongan Coronal SE T1


-

Buat potongan Coronal Stir

Buat potongan Coronal GRE T2

Buat potongan Cor FSE PD & T2

20) Jika ada kelainan tumor, abses atau adanya indikasi kearah SOL maka diperlukan
penyuntikan kontras media dilanjutkan dengan pengambilan gambar potongan
Axial, Coronal, dan Sagital SE T1
a. Sendi siku (Elbow Joint)
1) Jenis coil: GPFLEX COIL
2) Tujuan: untuk melihat kelainan patologis jaringan dan sendi di daerah siku.
3) Indikasi: tumor, abses, ruptur, dan lain-lain.
4) Persiapan pasien:
a) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
b) Mengganti baju dengan pakaian yang telah disediakan di ruang ganti dan
menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
c) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan ear- plug untuk
menutup telinga.
5) Teknik pemeriksaan:
a) Masukkan data pasien di RX manager computer.
b) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil yang sesuai, sentrasikan di pertengahan siku yang
diperiksa.
c) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantry.
d) Tentukan
protokol
pada
window
site
dan
pilih
series.
- Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi potongan gambar
yang akan dibuat.
-

Buat potongan Axial SE T 1.

Buat potongan Coronal SE T 1.

Buat potongan Coronal Stir.

Buat potongan Coronal GRE T 2.

Buat potongan Cor FSE & T 2.

e) Jika ada kelainan, kembali ke protokol pertama.


a. Humeri
1) Jenis coil : GPFLEX COIL
2) Tujuan: untuk melihat kelainan patologis jaringan dan sendi di daerah siku.
3) Indikasi: tumor, abses, ruptur, dan lain-lain.
4) Persiapan pasien:
a) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan
b) Pasien mengganti baju dengan pakaian yang telah disediakan di ruang ganti dan
menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
c) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan ear plug untuk
menutup telinga.

5) Teknik pemeriksaan
a) Masukkan data pasien di RX manager computer.
b) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil yang sesuai dan sentrasikan di pergelangan tangan.
c) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantry.
d) Tentukan
protokol
pada
window
site
dan
pilih
series:
Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi potongan gambar yang akan
dibuat.
- Buat potongan Axial SE T1.
-

Buat potongan Coronal SE T1.

Buat potongan Coronal Stir.

Buat potongan Coronal GRE T2.

Buat potongan Cor FSE PD & T2.

6) Jika ada kelainan, kembali ke protokol pertama.


b. Sendi bahu
1) Jenis coil: SHOULDERPA4
2) Tujuan: untuk melihat kelainan patologis jaringan dan sendi di daerah siku
3) Indikasi: tumor, abses, ruptur, dan lain-lain.
4) Persiapan pasien:
a) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaam
b) Pasien mengganti baju dengan pakaian yang telah disediakan di ruang ganti dan
menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
c) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan ear- plug untuk
menutup telinga.
5) Teknik pemeriksaan:
a) Masukkan data pasien di RX manager computer.
b) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil yang sesuai dan sentrasikan di pertengahan bahu yang
diperiksa.
c) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantry.
d) Tentukan
protokol
pada
window
site
dan
pilih
series:
- Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi potongan gambar
yang akan dibuat.
-

Buat potongan Axial SE T 1.

Buat potongan Coronal SE T 1.

Buat potongan Coronal Stir.

Buat potongan Coronal GRE T 2.

Buat potongan Cor FSE & T 2.

6) Jika ada kelainan kembali ke protokol pertama.


2. Ekstremitas Bawah
a. Femur
1) Jenis coil: BODY COIL.
2) Tujuan: untuk melihat kelainan patologis jaringan dan sendi di daerah siku.
3) Indikasi: tumor, abses, ruptur, dan lain-lain.
4) Persiapan pasien:
a) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
b) Pasien mengganti baju yang telah disediakan di ruang ganti dan menyimpan
semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
c) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan ear- plug untuk
menutup telinga.
5) Teknik pemeriksaan:
a) Masukkan data pasien di RX manager computer.
b) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil yang sesuai dan sentrasikan di pertengahan femur yang
diperiksa.
c) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantry.
d) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:
- Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi potongan gambar yang akan
dibuat.
- Buat potongan Axial SE T 1.
- Buat potongan Coronal SE T 1.
- Buat potongan Coronal Stir.
- Buat potongan Coronal GRE T 2.
- Buat potongan Cor FSE & T 2.

6) Jika ada kelainan kembali ke protokol pertama.

b. Articulatio Genu
1) Jenis coil: EXTREME COIL.
2) Tujuan: untuk melihat kelainan patologis jaringan dan sendi di daerah genu.
3) Indikasi: tumor, abses, ruptur, meniscus tear, dan lain-lain.

4) Persiapan pasien:
a) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
b) Pasien mengganti baju dengan pakaian yang telah disediakan di ruang ganti
dan menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
c) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan ear- plug untuk
menuutup kuping.
5) Teknik pemeriksaan:
a) Masukkan data pasien di RX manager computer.
b) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil yang sesuai dan sentrasikan di pertengahan lutut yang
diperiksa.
c) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantry.
d) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:
- Buat 3-plane lokalisir i.mtuk menentukan lokasi potongan gambar yang akan
dibuat.
- Buat potongan Sag T2 FSE.
- Buat potongan Sag PD FSE.
- Buat potongan Coronal Stir.
- Buat potongan Coronal PD & T 2 FSE.
- Buat potongan Axial T2 FSE atau 3D-SPGR
6) Jika ada kelainan, kembali ke protokol pertama
c. Articulatio Talocruralis (Ankle Joint)
1) Jenis coil: EXTREME COIL.
2) Tujuan: untuk melihat kelainan patologis jaringan dan sendi di daerah genu.
3) Indikasi: tumor, abses, ruptur, meniscus tear, dan lain-lain.

4) Persiapan pasien:
a) Pasien mengisi formulir screening sebelin-. z-asiik ke ruang pemeriksaan.
b) Pasien mengganti baju dengan pakaian yarg teLth disediakan di ruang ganti
dan menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
c) Pasien diberi penjelasan sebelum pemersaan dan dipasangkan ear- plug untuk
menutup telinga.
5) Teknik pemeriksaan:
a) Masukkan data pasien di RX manager coer.
c) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil yang sesuai dan sentrasikan di pertengahan ankle joint
yang diperiksa.
d) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantry.
e) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:
- Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi potongan gambar yang akan
dibuat.
- Buat potongan Sag T2 FSE.
- Buat potongan Sag PD FSE.
- Buat potongan Coronal Stir.
- Buat potongan Coronal PD & T 2 FSE.
- Buat potongan Axial T2 FSE.
6) Jika ada kelainan, kembali ke protokol pertama.
d. Pedis
1) Jenis coil: EXTREME COIL
2) Tujuan: untuk melihat kelainan patologis jaringan dan sendi di daerah genu
3) Indikasi: tumor, abses, ruptur, meniscus tear, dan lain-lain.
4) Persiapan pasien:
a) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
b) Pasien mengganti baju dngan pakaian yang telah disediakan di ruang ganti dan
menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.

c) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan ear- plug untuk
menutup telinga.
5) Teknik pemeriksaan:

a) Masukkan data pasien di RX manager computer.


b) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil yang sesuai. Sentrasikan di pertengahan pedis yang
diperiksa.
c) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantry.
d) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:
- Buat 3-palne lokalisir untuk menentukan lokasi potongan gambar yang akan
dibuat.
- Buat potongan Sag T2 FSE.
- Buat potongan Sag PD FSE.
1. Buat potongan Coronal Stir.
2. Buat potongan Coronal PD & T 2 FSE.
3. Buat potongan Axial T2 FSE.
6) Jika ada kelainan kembali ke protokol pertama.
b. Articulatio coxae atau pelvis
1) Jenis coil: TORSOPA
2) Tujuan: untuk melihat kelainan patologis jaringan dan sendi di daerah genu.
3) Indikasi: tumor, abses, ruptur, meniscus tear, dan lain-lain.
4) Persiapan pasien:
a) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
b) Pasien mengganti baju dengan pakaian yang telah disediakan di ruang ganti dan
menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
c) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan ear plug untuk
menutup telinga.
5) Teknik pemeriksaan:
a) Masukkan data pasien di RX manager computer.
b) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa dengan
memasang coil yang sesuai dan sentrasikan di pertengahan pelvis yang diperiksa.

c) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantry.
d) Tentukan protokol pada window site dan piih series:
- Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi potongan gambar yang akan dibuat.
- Buat potongan Axial T1 SE.
- Buat potongan Cor T2 FSE.
- Buat potongan Coronal T2 GRE.
- Buat potongan Axial Stir.
6) Jika ada kelainan, kembali ke protokol pertama.
B. Protokol Standar untuk Pemeriksaan MRI Kepala
1. Brain dengan Sefalgia
(Ada riwayat post trauma/perdarahan)
a. Jenis coil: HEAD COIL
b. Tujuan: untuk melihat kelainan patologis jaringan otak.
c. Indikasi: tumor, abses, dan lain-lain.
d. Persiapan pasien:
1) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
2) Pasien mengganti baju dengan pakaian yang telah disediakan di ruang
ganti dan menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah
disediakan.
3) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan ear
plug untuk menutup telinga.
e. Teknik pemeriksaan:
1) Masukkan data pasien di RX manager computer.
2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang
diperiksa dengan memasang coil khusus kepala dan sentrasikan di per
tengahan sudut mata.
3) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah
gantry.
4) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:
a) Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi potongan gambar yang
V

akan dibuat.
b) Buat potongan Axial T2 SE.
c) Buat potongan Axial T2 FSE.
d) Buat potongan Axial T2 Flair.
e) Buat potongan Sag Ti.
f) Buat potongan Coronal T2SE.
f. Jika ada kelainan tumor, abses, atau adanya indikasi kearah SOL, maka
perlu penyuntikan kontras media dilanjutkan dengan pengambilan
gambar potongan Axial, Coronal, dan Sagital SE T1, (bila perlu dengan
Fat Sat).
-

2. Brain dengan Sefalgia


(Ada riwayat post trauma/perdarahan)
a. Jenis coil: HEAD COIL
b. Tujuan: untuk melihat kelainan patologis jaringan otak.
c. Indikasi: perdarahan dan lain-lain.
c. Persiapan pasien:
1) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
2) Pasien mengganti baju dengan pakaian yang telah disediakan di ruang
ganti dan menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah
disediakan.
3) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan ear
plug untuk menutup telinga.
d. Teknik pemeriksaan:
1) Masukkan data pasien di RX manager computer.
2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang
diperiksa dengan memasang coil khusus kepala dan sentrasikan di per
tengahan sudut mata.
3) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah
gantry.

4) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:


a) Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi potongan yang akan
diambil berikutnya.
V

b)

Buat potongan Axial T2 SE.

c) Buat potongan Axial T2 FSE.


d) Buat potongan Axial T2 Flair.
e) Buat potongan Cor T2 Flair
f) Buat potongan Diffusion.
g) Buat potongan MRA
f. Jika ada kelainan, kembali ke protokol pertama
3. Brain dengan CVD, Stroke, TIA
a. Jenis coil: HEAD COIL
b. Tujuan: untuk melihat kelainan patologis jaringan otak..
c. Indikasi: perdarahan, infrak lama, dan infrak barn.
d. Persiapan pasien:
1) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
2) Pasien mengganti baju yang telah disediakan di ruar ian menyimpan semua
barang-barang di dalam loker yang telah disediakar..
3) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan earplug untuk
menutup telinga.
e. Teknik pemeriksaan:
1) Masukkan data pasien di RX manager computer.
2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan obek yang diperiksa dengan
memasang coil khusus kepala dengan sentrasi di pertengahan sudut mata.
3) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantry.
4) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:

a) Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi Potongan gambar yang akan
dibuat.
b) Buat potongan Axial T2 SE.
c) Buat potongan Axial T2 FSE.
d) Buat potongan Axial T2 Flair.
e) Buat potongan Cow T2 FSE.
f) Buat potongan Diffusion.
g) Buat potongan MRA.
f. Jika ada kelainan, kembali ke protokol pertama.
4. Brain dengan Tumor dan Metastasis
a. Jenis coil: HEAD COIL.
b. Tujuan: untuk meliat kelainan patologis jaringan otak
c. Indikasi: SOL, tumor, dan lain-lain
d. Persiapan pasien:
1) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
2) Pasien mengganti baju dengan pakaian yarg telah disediakan di ruang ganti dan
menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
3) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipastngkan earplug untuk menutup
telinga.
e. Teknik pemeriksaan:
1) Masukkan data pasien di RX manager computer.
2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa dengan
memasang coil khusus kepala dengan sentrasi di pertengahan sudt mata.
3) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tngah gantri.
4) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:
a) Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi potongan gambar yang akan dibuat.

b) Buat potongan Axial T1 SE.


c) Buat potongan Axial T2 FSE.
d) Buat potongan Axial T2 Flair.
e) Buat potongan Axial T1 SE dengan kontras.
f) Bila ada SOL buat potongan Coronal dan atau Sagital T1 SE bila perlu dengan Fat
Sat.
5. Brain dengan Epilepsi
a. Jenis coil: HEAD COIL
b. Tujuan: untuk melihat kelainan patologis jaringan otak
c. Indikasi: kejang-kejang
d. Persiapan pasien:
1) Pasien megisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
2) Pasien mengganti baju dengan pakaian yang telah disediakan di ruang ganti dan
menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakart.
3) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan earplug untuk
menutup telinga.
e. Teknik pemeriksaan:
1) Masukkan data pasien di RX manager computer.
2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil khusus kepala dengan sentrasi di pertengahan sudut mata.
3) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantry.
4) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:
a) Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi potongan yang akan diambil
berikutnya.

b) Buat potongan Axial T1 SE.


c) Buat potongan Axial T2 FSE.
d) Buat potongan Axial T2 Flair.
e) Buat potongan Sag T1 SE.
f) Buat potonan Cor 3D SPGR oblique.
g) Buat potongan MRA.
f. Jika ada kelainan, kembali ke protokol pertama tanpa Fat Sat.
6. Sella Tursica/Tumor Hipofisis
a. Jenis coil: HEAD COIL.
b. Tujuan: untuk melihat kelainan patologis hipofisis.
c. Indikasi: sefalgia, penglihatan ganda, dan lain-lain.
d. Persiapan pasien:
1) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
2) Pasien mengganti baju dengan pakaian yang telah disediakan di ruang ganti dan
menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
3) Pasien dibeeri penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan earplug untuk
menutup telinga.
e. Teknik pemeriksaan:
1) Masukkan data pasien di RX manager computer.
2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil khusus kepala dengan sentrasi di pertengahan sudut
mata.
3) Tekan tombol angka nol dart setting sehingga objek berada di tengah gantry.
4) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:

a) Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi potongan gambar yang akan
dibuat.
b) Buat potongan Sag T1 SE (tipis 2-3 mm di Sella Tursica).
c) Buat potongan Axial T2 FSE (potongan normal seluruh kepala).
d) Buat potongan Sag T2 SE (tipis 2-3 mm di Sella Tursica).
e) Jika tumornya kecil diambil Dynamic-Scan Potongan Coronal 6 Slice di
daerah Sella Tursica.
f) Jika tumornya besar buat potongan Sag T1 SE dan Cor Ti SE tipis 2-3 mm di
Sella Tursica.

7. Cranial Nerve/CPA Tumor (IAC)


a. Jenis coil: HEAD COIL.
b. Tujuan: untuk melihat kelainan patologis di CPA
c. Indikasi: sefalgia, tinnitus, kuping berdengung.
d. Persiapan pasien:
1) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
2) Pasien mengganti baju dengan pakaian yang telah disediakan di ruang ganti dan
menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
3) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan earplug untuk
menutup telinga.
e. Teknik pemeriksaan:
1) Masukkan data pasien di RX manager computer.

2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil khusus kepala dengan sentrasi di pertengahan sudut
mata.
3) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantri.
4) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:
a) Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi potongan yang akan diambil
berikutnya.
b) Buat potongan Axial T1 SE (tipis di CPA).
c) Buat potongan Axial T2 FSE (buat normal seluruh kepala).
d) Buat potongan Axial T1 SE dan Cor SE tipis di CPA bila perlu Fat Sat dan
buat potongan 3D SPGR.
8. Kasus pediatric: Retardasi Mental, Kelainan Kongental
a. Jenis coil: HEAD COIL
b. Tujuan: untuk melihat kelainan patologis jaringan otak.
c. Indikasi: retardasi mental dan kelainan kongental
d. Persiapan pasien:
1) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
2) Pasien mengganti bajunya dengan baju yang telah disediakan di ruang ganti
dan menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
3) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan telinganya di tutup dengan
earplug.
e. Teknik pemeriksaan:
1) Masukkan data pasien di RX manager komputer

2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil khusus kepala dengan sentrasi di pertengahan sudut
mata.
3) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantry.
4) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:
a) Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi potongan yang akan
diambil berikutnya.
b) Buat potongan Axial T1 Flair.
c) Buat potongan Axial T2 FSE.
d) Buat potongan Sat T1 SE.
e) BuatpotonganCor T2 FSE.
f. Jika ada kelainan kembali ke protokol pertama.
g. Jika pasien tidak kooperatif diperlukan anestesi sebelum pemeriksaan dilakukan
dan perjanjian mengenai tindakan anestesi dilakukan satu hari sebelumnya.
9. Kasus pasien yang Tidak Kooperatif/Emergensi (Fast Brain)
a. Jenis coil: HEAD COIL.
b. Tujuan: untuk melihat kelainan patologis di CPA
c. Indikasi: retardasi mental, kelainan kongenital, dan lain-lain.
d. Persiapan pasien:
1) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan
2) Pasien mengganti baju pasien dengan baju yang telah disediakan di ruang ganti
dan menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
3) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan pasangkan earplug untuk
menutup telinga pasien.
e. Teknik pemeriksaan:

1) Masukkan data pasien di RX manager computer.


2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil khusus kepala dengan sentrasi berada di pertengahan sudut
mata.
3) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantry.
4) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:
a) Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi potongan yang akan diambil
berikutnya.
b) Buat potongan Axial T1 SE.
c) Buat potongan Axial T2 FSE.
d) Buat potongan Sag T1 SE.
e) Buat potongan Axial T2 Flair.
f. Jika ada kelainan, kembali ke protokol pertama.
g. Jika pasien tidak kooperatif, diperlukan anestesi sebelum dilakukan pemeriksaan dan
untuk itu diadakan perjanjian satu hari sebelumnya.
10. Spektroskopi
a. Jenis coil: HEAD COIL.
b. Tujuan: untuk melihat kelainan patologis jaringan otak.
c. Indikasi: retardasi mental, kelainan kongenital infeksi, tumor, dan lain-lain.
d. Persiapan pasien:
1) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
2) Pasien mengganti baju dengan pakaian yang telah disediakan di ruang ganti dan
simpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
3) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan earplug untuk
menutup telinga.

e. Teknik pemeriksaan:
1) Masukkan data pasien di RX manager computer.
2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil khusus kepala dengan sentrasi berada di pertengahan
sudut mata.
3) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantry.
4) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:
a) Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi potongan yang akan diambil
berikutnya.
b) Buat potongan Axial Localiser 10 mm.
c) Buat potongan SI PRESS (Multivoxel).
11. Perfusion
a. Jenis coil: HEAD COIL.
b. Tujuan: untuk melihat kelainan patologis dalam otak.
c. Indikasi: CVD akut (stroke<3 jam)
d. Persiapan pasien:
1) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
2) Pasien mengganti baju dengan pakaian yang telah disediakan di ruang ganti dan
simpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
3) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan earplug untuk
menutup telinga pasien
e. Teknik pemeriksaan:
1) Masukkan data pasien di RX manager computer.
2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dgan objek yang diperiksa dengan
memasang coil khusus kepala dengan sentrasi berada di pertengahan sudut mata.

3) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek di tengah gantri.
4) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:
a) Buat 3-plane lokalisir untuk menentukan lokasi potongan yang akan diambil
berikutnya.
b) Buat potongan Axial T2 FSE.
c) Buat potongan Axial T2 Flair.
d) Buat potongan Diffusion.
e) Buat potongan Perfusion (dengan kontras)
C. Protokol Standar untuk Pemeriksaan MRI Col. Vertebrae
1. Vertebrae Servikal
a. Jenis coild: UCS12.
b. Tujuan: untuk melihat kelainan patologis yang ada didaerah servikal.
c. Indikasi: HNP, tumor, abses, dan lain-lain.
d. Persiapan pasien:
1) Pasien mengisi formulir screening sebelum rnasuk ke ruang perneriksaan
2) Pasien mengganti baju dengan pakaian yang telah disediakan di ruang ganti
dan menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
3) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan pasang earplug untuk
menutup telinga
e. Teknik pemeriksaan:
1) Masukkan data pasien di RX manager computer.
2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil khusus spine dengan sentrasi berada di hyoid bone.
3) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantry.

4) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:


a) Buat potongan 3 Plane localisir.
b) Buat potongan Sagital T1 SE.
c) Buat potongan Sagital T2 FSE.
d) Buat potongan Axial T2 GRE.
f. Jika ada kelainan tumor, abses atau adanya indikasi kearah SOL, maka
diperlukan penyuntikan kontras dengan pengambilan gambar potongan Axial T1
SE, Cor T1 SE, dan Sagital SE T1. Apabila perlu dilakukan pengambilan gambar
dengan Fat Sat dan Ax 3-D SPGR serta MRI Myelo.
2. Vertebrae torakal
a. Jenis coil: UCSTLMID
b. Tujuan: untuk melihat kelainan patologis yang ada di daerah servikal.
c. Indikasi: HNP, tumor, abses, dan lain-lain.
d. Persiapan pasien:
1) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
2) Pasien mengganti baju pasien dengan pakaian yang telah disediakan di ruang
ganti dan menyimpan semua barang-ba rang di dalam loker yang telah
disediakan.
3) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan earplug untuk
menutup telinga.
e. Teknik pemeriksaan:
1) Masukkan data pasien di RX manager computer.
2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil khusus spine dengan sentrasi sejajar dengan aksila.
3) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantry.

4) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:


a) Buat potongan 3 Plane localisir.
b) Buat potongan Sagital T1 SE.
c) Buat potongan Sagital T2 FSE.
d) Buat potongan Axial T2 FSE/T2 GRE.
f. Jika ada kelainan kembali ke protokol pertama.
3. Vertebrae Lumbosakral
a. Jenis coil: UCSTLBOT.
b. Tujuan: untuk melihat kelainan patologis yang ada di daerah lumbosakral.
c. Indikasi: HNP, tumor, abses, dan lain-lain.
d. Persiapan pasien:
1) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
2) Pasien mengganti baju dengan pakaian yang telah disediakan di ruang ganti dan
menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
3) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan pasangkan earplug untuk
menutup telinga pasien.
e. Teknik pemeriksaan:
1) Masukkan data pasien di RX manager computer.
2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil khusus spine dengan sentrasi di SIAS.
3) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantry.
4) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:
a) Buat potongan 3 Plan localisir.

b) Buat potongan Sagital T1 SE.


c) Buat potongan Sagital T2 FSE.
d) Buat potongan Axial T2 FSE.
f. Jika ada kelainan, kembali ke protokol pertama.

D. Protokol Pemeriksaan MRI Abdomen dan Pelvis


1. MRI Abdomen
a. Jenis coil: TORSOPA
b. Tujuan: untuk melihat kelainan di daerah rongga abdomen
c. Indikasi: tumor, abses, dan lain-lain.
d. Persiapan pasien:
1) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
2) Pasien mengganti baju dengan pakaian yang telah disediakan di ruang ganti
dan menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
3) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan earplug untuk
menutup telinganya.
e. Teknik pemeriksaan:
1) Masukkan data pasien di RX manager computer.
2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil torsopa dengan sentrasi berada di bawah procesus
xypoideus dan pasang alat respiratori di badan.

3) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantry.
4) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:
a) Buat potongan Coronal localisir.
b) Buat potongan Axial T2 Screening.
c) Buat potongan Axial SPGR T1, Breathold.
d) Buat potongan Axial SPGRT1 Fat Sat.
e) Buat potongan Axial T1 SE Fat Sat.
f. Jika ada kelainan tumor, abses atau adanya indikasi ke arah SOL maka diperlukan
penyuntikan kontras dengan pengambilan gambar potongan Axial T1 SE, Cor t1
SE, dan Sagital SE T1, bila perlu dengan Fat Sat.
2. MRCP
a. Jenis coil: TORSOPA
b. Tujuan: untuk melihat kelainan daerah kandung empedu.
c. Indikasi: bendungan saluran kandung empedu oleh batu tumor atau proses radang
d. Persiapan pasien:
1) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
2) Pasien mengganti baju denganpakaian yang telah disediakan di ruang ganti
dan menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
3) Pasien diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan earplug untuk
menutup telinga.
e. Teknik pemeriksaan:
1) Masukkan data pasien di RX manager computer.
2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang COIL Torsopa dengan sentrasi berada di bawah procesus
xypoideus dan pasang alat respiratori di badan.

3) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek beradadi tengah gantry.
4) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:
a) Buat potongan Coronal localisir.
b) Buat potongan Axial T2 Screening.
c) Buat potongan Axial SPGR T1, Breathold.
d) Buat potongan Coronal SS FSE Thin Slices.
e) Buat potongan Coronal SS FSE Thick Slab.
3. MRI Pelvis
a. Jenis coil: TORSOPA
b. Tujuan: untuk melihat kelainan daerah rongga pelvis.
c. Indikasi: tumor, abses, kelainan pada reproduksi
d. Persiapan pasien:
1) Pasien mengisi formulir screening sebelum masuk ke ruang pemeriksaan.
2) Pasien mengganti baju dengan pakaian yang telah disediakan di ruang ganti
dan menyimpan semua barang-barang di dalam loker yang telah disediakan.
3) Pasien. diberi penjelasan sebelum pemeriksaan dan dipasangkan earplug untuk
menutup telinganya.
e. Teknik pemeriksaan:
1) Masukkan data pasien di RX manager computer.
2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan sesuai dengan objek yang diperiksa
dengan memasang coil torsopa dengan sentrasi berada di bawah umbilikus dan
pasang alat respiratori di badan.
3) Tekan tombol angka nol dan setting sehingga objek berada di tengah gantri.
4) Tentukan protokol pada window site dan pilih series:

a) Buat potongan Coronal localisir.


b) Buat potongan Axial T1 SE.
c) Buat potongan Axial T2 FSE (tipis di uterus-serviks/prostate atau bulibuli).
d) Buat potongan Sag T2 FSE (tipis di daerah uterus atau prostat).
f. Jika ada kelainan kembali ke protokol pertama
E. Protokol pemeriksaan MRI Breast dan Cardiac
1. Pemeriksaan MRI Breast
a. Pasang Breast Coil sedemikian rupa sehingga laser beam lamp jatuh tepat
ditengah garis mid line vertebrae thorakal 4.
b. Pada menu scan Rx, pilih protokol Breast rutin, yang terdiri dari series potongan:
1) 3 plane scanogram dengan sequence 2D Fast, spin echo single shot, keluar
gambar scanogram, bikin potongan.
2) Potongan Axial T2 Fast STIR.
3) Potongan Axial T1.
4) Potongan Axial T2.
5) Potongan Axial Vibrant.
6) Potongan Sag Vibrant.
c. Jika dicuri ada tumor, abses atau SOL maka diperlukan penyuntikan kontras,
kemudian Et potongan Axial Vibrant Multiphase. Setelah itu, dibuat kurve dengan
meletakkan ROL pada tumor atau daerah yang dicurigai.
d. Munculkan Film Composer dan atur format 4 x 5, tekan Fl untuk memindahkan
gambar yang terseleksi ke film composer. Jumlah film yang digunakan untuk
dokumentasi sebanyak 6 lembar.
2. Pemeriksaan MM Cardiac

a. Pengertian
Pemeriksaan MRI Cardiac adalah pemeriksaan MM pada daerah jantung
dengan menggunakan medan magnet untuk menghasilkan gambaran
radiografi sesuai dengan parameter yang diatur sehingga menghasilkan
potongan per slice pada organ yang diperiksa.
b. Tujuan
Tujuan pemeriksaan MRI Cardiac adalah untuk memperlihatkan gambaran
functional, perfusion, viability otot jantung. Selain itu berfungsi sebagai acuan
bagi petugas dalam mengerjakan pemeriksaan MRI Cardiac, dan untuk
mendapatkan hasil pemeriksaan MM yang optimal.
c. Prosedur
Jenis Coil: CARDIAC Coil.
Indikasi: Infark, PCI, Post stenting dan lain-lain.
d. Persiapan pasien:
1) Membuat perjanjian di bagian administrasi radiologi.
2) Mengisi formulir screening dan informed consent sebelum dilakukan
pemeriksaan.
3) Merigenakan baju yang telah disiapkan di ruang ganti baju.
4) Semua benda berlogam (ferromagnetic) dilepas.
5) Memberikan earphone (earplug) kepada pasien.
6) Memberikan penjelasan sebelum pemeriksaan dimulai.
7) Pasien dipasangi infus set di kedua lengan.
e. Teknik pemeriksaan:
1) Masukkan data pasien di RX protokol manager.
2) Atur posisi pasien di meja pemeriksaan dengan meletakkan badannya di
cardiac coil.

3) Atur badan pasien supine sedemikian rupa sehingga laser bean lamp jatuh
tepat ditengah garis mid line Thoracal 4.
4) Aktifkan Gatting control (pernafasan dan EKG).
5) Pada menu scan Rx, pilih protokol Cardiac MR Echo yang terdiri dari
series potongan 3 plane scanogram dengan sequence 2D FIESTA,
sehingga keluar gambar scanogram bikin potongan.
6) Lakukan Calibrasi dengan Shim Volum pada daerahjantung.
7) Pilih menu Cardiac MR Echo kemudian pilih Real Time Sequence.
Pada real time sequence, buat potongan jantung false 4 chamber kemudian
masuk ke menu Function bildn potongan real 4 chamber dengan
sequence FIESTA.
8) Dan potongan 4 chamber real buat potongan short axis, dan potongan
short axis, buat potongan 3 chamber, 2 chamber.
9) Selesai function masuk ke menu Time Course Perfusion, dengan seq
uence GRE. Buat potongan short axis dan basal sampai apical.
10) Setelah itu, persiapkan kontras 9Gd dan Adenosin, suntik bersamaan
dengan acquisition data Time Course Perfusion (TCP).
11) Setelah selesai masuk ke menu Miocard Delayed Inhansment (MDI)
buat potongan short axis dan basal ke apical jantung.
12) Munculkan Film Composer dan atur format 4x4. Tekan Fl untuk
memindahkan gambar yang terseleksi ke film composer. Jumlah film yang
digunakan untuk dokumentasi sebanyak 6 lembar.

BAB 16 WHITE PAPER CLINICAL PRIVILEDGE


INSTALASI RADIOLOGI RUMAH SAKIT
A. Latar Belakang
White paper clinical priviledge instalasi radio rumah sakit, memberikan arah yang jelas
bagi ahli radiologi yang baru dan maupun lama dalam pelayanan radiologi diagnostik dan
intervensional rumah sakit.
Radiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan penggunaan semua
modalitas yang menggunakan energi radiasi pengion maupun non-pengion untuk kepentingan
imaging diagnosis atau prosedur terapi dengan menggunakan panduan radiologis. Termasuk di
dalamnya teknik pencitraan dan penggunaan emisi radiasi dan sinar-X, radiologi, ultrasonografi,
dan radiasi radio frekuensi ektromagnetik oleh atom-atom.
Radiolog (Dokter Spesialis Radiologi) adalah seseorang dengan bidang spesialisasi yang
memiliki kemampuan:
1. Melakukan pemeriksaan penilaian/expertise terhadap hasil gambar foto radiografi
konvensional kontras dan non kontras, Ultrasonografi, CT Scan, CT Cardiac/CTA,
Magnetic Resonance Imaging/MRI. (Spectroscopy, MRCP, MRU, MR Cardiac, MR
Breast, dan Musculosceletal), Radiologi nuklir, Mammografi, BMD, serta PET Scan.
2. Melakukan tindakan radiografi intervensional fluoroscopy diagnostik dan terapi
3. Melakukan pemeriksaan Doppler.
Dokter Spesialis Radiologi adalah dokter yang mempunyai sertifikat spesialis radiologi
yang mampu melakukan pemeriksaan dengan peralatan radiologi sesuai dengan kurikulum
Program Pendidikan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia dan telah dinyatakan lulus ujian
Nasional oleh Badan Penguji Nasional Radiologi Indonesia dan Institusi Pendidikan.
Kurikulum pendidikan dokter spesialis radiologi ditetapkan oleh kolegium Persatuan
Dokter Spesialis Radiologi Indonesia. Kurikulumnya meliputi pengetahuan teori, pemahaman
tentang teori, keterampilan dalam praktik, kemampuan komunikasi, dan profesionalisme dalam
bidang radiologi. Seorang dokter spesialis radiologi yang kompeten harus memenuhi standar
berikut ini.
1. Lulus ujian muatan lokal oleh pusat pendidikan yang bersangkutan.

2. Lulus ujian Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Penguji Nasional/ Kolegium
Radiologi Indonesia.
3. Memiliki sertifikat Spesialis Radiologi dan Kolegium Radiologi Indonesia.
4. Memiliki Ijazah Spesialis Radiologi yang dikeluarkan fakultas Kedokteran Univers
itas yang bersangkutan.
Pemeriksaan Radiologi di Rumah Sakit .meliputi:
DIMINTAKAN

DISETUJUI

DIMINTAKAN

DISETUJUI

DIMINTAKAN

DISETUJUI

Radiologi Konvensional Tanpa Kontras (Bayi dan


Dewasa)
1. Kepala
2. Vert.Cervical, Thoracal, Lumbal, Sacral,
dan Coccygeal
3. Thorax
4. Abdomen
5. Pelvis
6. Ekstremitas atas dan bawah
Radiologi Konvensional Dengan Kontras
(Bayi dan Dewasa)
1. Eshophagogram
2. OMD
3. Barium follow through
4. Barium enema
5. Lopografi
6. Fistulografi
7. Sialografi
8. Myelografi
9. BNO-IVP
10. BNO-Cystogram
11. Uretrocystogram
12. H.S.G
13. Phlebogram
14. Cholangiogram dengan Tube
15. ERCP
CT Scan Non Kontras dan Kontras (Bayi dan
Dewasa)
a. Parenchym otak dan tulang-tulang
b. Orbita
c. Mastoid
d. Sinus paranasal
e. Sella Tursica
f. Leher

g.
h.
i.
j.
k.
l.

DIMINTAKAN

Thorax
Abdomen Atas-Bawah
Vert. Cervical s/d coccygeal
Extremitas Atas dan Bawah
CT Scan myelogram
CT guided (Biopsi)

DISETUJUI

MRI
1. Brain
a. MRI Brain
b. MRI
Functional
Diffusin-Perfussion
c. MRA
Intracranial
Vascular
d. MRI-MRA Intracranial
Vascular
e. MRA Carotis dan
Vertebralis
f. MR
Spectroscopy
Brain
g. MR
Spectroscopy
Prostat
h. MRI Brain dan MR
Spectrocopy
i. MRI Prostat
j. MRI Hypofise
2.
a.
b.
c.
d.
e.

Head and Neck


MRI Orbita
MRI Nasopharyng
MRI Oropharyng
MRI Thyroid
MRI
kelenjar
Leher/Tumor leher
f. MRI Laryng
3.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Muskuloskeletal
MRI Shoulder
MRI Ellbow
MRI Wrist
MRI Knee
MRI Ankle
MRI Ekstremitas

4.
a.
b.
c.

Spine
MRI Cervical
MRI Thoracal
MRI Lumbosacral

5.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Abdomen
MRI Upper
MRI Lower Abdomen
MRCP
MRI Urografi
MRI
MRI
Aorta
Abdominalis
g. MRI Whole
h. MRI Renalis
i. MRS Whole Body
6.
a.
b.
c.
d.

DIMINTAKAN

DISETUJUI

DIMINTAKAN

DISETUJUI

DIMINTAKAN

DISETUJUI

Mediastinum
MR Aorta Thoracalis
MRI Mediatinum
MR Breast
MR Cardiac

Radiologi Intervensional
1. Trans
Arterial
Embolism (TAE)
2. TACI
3. Arteriografi
4. Venografi
5. Stenting
USG
1. Kepala
2. Leher
3. Abdomen
4. Organ
Superfisilais
Thyroid
5. Vaskuler
6. Musculoskeletal

Kodokteran Nuklir
1. Bone scan

2.
3.
4.
5.
6.
7.

Rebal Scan
Thyroid Scan
TR Digestivus
Scinti Mammo
Therapy Nuklir
Pet Scan

Anda mungkin juga menyukai