Anda di halaman 1dari 15

Tugas Remidial

Farmakologi 3

Pentingya Desinfeksi dan Sterilisasi Pada


Prosedur Bedah Mulut

Disusun Oleh :
Yon Aditama (04031181419018)

Dosen Pembimbing :
dr. Yuliarni, M.Kes

Program Studi Pendidikan Dokter Gigi


Fakultas KedokteranUniversitas Sriwijaya
2016

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik
dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun
isinya yang sangat sederhana.
Harapan saya semoga makalah ini dapat memenuhi tugas remedial Farmakologi 3 yang
diberikan oleh dr. Yuliarni, M.Kes
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat
kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan
yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Palembang, 22 Juni 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
Kesadaran pasien dan para professional kesehatan tentang adanya bahaya potensial yang
berkaitan dengan kontaminasi silang makin meningkat karena adanya publikasi dan usaha pendidikan
mengenai AIDS (Acquired Immunodefiiency Syndrome). Bukti-bukti menunjukkan bahwa tingkat
risiko bagi dokter gigi dan stafnya berkaitan langsung dengan kontaknya terhadap darah. Oleh karena
itu, bedah mulut atau prosedur yang lain yang mengakibatkan keluarnya darah menempatkan dokter
gigi dan stafnya pada risiko tinggi, tidak hanya terhadap AIDS tetapi juga kondisi-kondisi lain yang
disebabkan virus dalam darah misalnya hepatitis B. Saliva dan darah memberikan risiko penularan
Mycobacterium tuberculosis, staphylococcus, cytomegalovirus dan virus herpes simplek tipe 1 dan 2.
Infeksi bisa menyebar melalui kontak langsung dengan darah, saliva, tetesan-tetesan, aerosol, dan
instrumen yang terkontaminasi.
Karena semua pasien yang terinfeksi tidak bisa dengan mudah diidentifikasi, baik secara
historik, pemeriksaan fisik, maupun laboratorium, maka pencegahan secara rutin seperti desinfeksi
dan sterilisasi harus digunakan pada semua pasien. Apabila dilakukan bedah mulut, darah yang keluar
dan meningkatnya kemungkinan tumbuhnya kuman oleh karena pemakaian instrumen yang tajam
(pemaparan parenteral), dapat dikurangi hanya dengan tindakan kontrol yang efektif.

BAB II

PEMBAHASAN
2.1. Lingkungan Kamar Bedah
Dekontaminasi
Kebersihan saja tidaklah cukup untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kontaminasi
silang. Dekontaminasi permukaan permukaan yang tersentuh sekresi mulut pasien, instrumen atau
tangan operator biasanya bisa diatasi dengan bahan kimia antikuman (Tabel 1-1). Semua permukaan
kerja yang terkontaminasi, pertama-tama dilap dengan handuk pengisap untuk menghilangkan bahanbahan organik kemudian didesinfeksi dengan larutan pemutih (clorox diencerkan dalam perbandingan
1:10 sampai dengan 1:100 tergantung bahan organik yang ada). Hal tersebut dilakukan setiap hari.
Pemutih salah satu bahan anti-kuman yang murah dan efektif, namun perlu diperhatikan bahwa bahan
ini bersifat korosif terhadap logam khususnya alumunium
Pelindung permukaan
Kertas dengan lapisan kedap air, alumunium foil atau plastik yang jernih bisa dipergunakan sebagai
pentup permukaan yang mudah terkontaminasi dengan darah atau saliva, yang sulit didesinfeksi
secara efektif misalnya pegangan lampu dan kepala unit sinar X. Penutup ini dibuka oleh personel
yang menggunakan sarung tangan pada akhir suatu tindakan pembedahan, kemudian diganti dengan
yang bersih (sesudah melepas sarung tangan atau mengganti sarung tangan). Selama prosedur
pembedahan, permukaan yang tidak terlindungi misalnya pengontrol kursi atau lampu operasi bisa
diatur atau digunakan tanpa menimbulkan kontaminasi dengan menggunakan sponge bedah 4x4 dan
tangan yang memakai sarung tangan sebagai barier tambahan. Idealnya pengontrolan dengan tangan
dihindarkan atau dikurangi. Tempat kumur, dispenser untuk sabun dan pengontrol kursi sebaiknya
menggunakan peralatan yang bisa dioperasikan dengan kaki.
Peralatan yang tajam
Peralatan tajam yang biasanya digunakan di dalam prosedur bedah mulut dan sering terkontaminasi
darah dan saliva misalnya, jarum suntik, jarum jahit, bilah (blade) skapel, elevator periosteal, dan
elevator akar, dianggap berpotensi untuk menginfeksi dan harus ditangani dengan cara khusus untuk
mencegah luka yang tidak sengaja. Untuk menghindari kontak yang tidak diperlukan, semua peralatan
disposibel ditempatkan di dalam wadah yang diletakkan sedekat mungkin dengan tempat
penggunaannya. Jarum yang kotor jangan dibengkokkan, dipatahkan/ditutup, atau dengan kata lain
jangan dipegang dengan tangan. Untuk pengulangan suntikan anastesi lokal, sebaiknya jarum
ditempatkan terbuka diatas tempat yang steril ketimbang harus melepas tutup jarum sekali lagi. Kunci
keberhasilan penaganan alat-alat tajam yang terkontaminasi adalah mengurangi frekuensi
pemakaiannya sehingga menurunkan kesempatan terjadinya tusukan atau goresan yang tidak

disengaja. Secara umum, semua alat yang disposibel diautoklaf dulu sebelum dibuang. Pada kasus
perawatan pasien yang menular, peralatan disposibel dibungkus rangkap dua sesegera mungkin
sesudah digunakan.
Tabel 1-1. Pedoman mengenal bahan-bahan desinfeksi dan sterilisasi kimia
Nama dagang
Bancide

Komposisi Kimia
Glutaraldehid 2%, sifat

Desinfektan
Kekuatan penuh

Sterilan
Kekuatan penuh, 1 jam

Stearall

asam, potensinya

selama 10 menit pada

pada 60o 4 jam pada

Wavicide-01

ditingkatkan dengan

suhu kamar.

suhu 40-50o, dan 10

ethoxylates nnon-ionik

jam pada suhu kamar.

Cidex-7

dari alkohol linear


Glutaraldehid 2%

Kekuatan penuh, 10

Kekuatan penuh 10

Procide-28

alkalin

menit pada suhu kamar

jam pada suhu kamar

Glutaraldehid

Diencerkan 1:16 10

Kekuatan penuh 10

2%alkalin dengan

menit pada suhu kamar

jam pada suhu kamar

Glutarex

buffer fenol
Glutaraldehid 2%

Kekuatan penuh 10

Kekuatan penuh 10

Omni II

netral
0-phenylphenol 9,0%

menit pada suhu kamar


Diencerkan 1:32, 10

jam pada suhu kamar


-

dan o-benzyl-p-

menit pada suhu kamar

chlorophenol
Iodophors, iodine 1%

Diencerkan sesuai

Centra-28
Omnicide
Sporicidin

Wascodyne

petunjuk pabrik 30
Larutan pemutih

Sodium hipoklorit

menit
Diencerkan 1:5 sampai

1:100, 10-30 menit

2.2. Pemeliharaan Alat


Alat-alat kritis
Untuk menentukan tingkat sterilisasi/desinfeksi yang layak, maka alat-alat digolongkan sesuai
dengan penggunaan dan aplikasinya. Alat-alat kritis adalah alat-alat yang berkontak langsung dengan
daerah steril pada tubuh yaitu semua struktur atau jaringan yang tertutup kulit atau mukosa, karena
semua ini mudah terserang infeksi. Peralatan kritis harus steril sebelum digunakan. Termasuk dalam
kategori ini yaitu jarum suntik, skalpel, elevator, bur, tang, jarum jahit dan peralatan untuk implantasi
misalnya, implan, bahan aloplastik dan bahan hemostatik. Apabila memungkinkan sebaiknya
peralatan disterilisasi dengan atuoklaf. Kelayakan tingkat sterilitasi bisa diuji seminggu sekali dengan

menggunakan peralatan tes spora. Kontrol berikutnya untuk menunjukkan bahwa autoklaf sudah
dilakukan adalah menggunakan indikator yang peka terhadap panas/uap yang ditempelkan diluar
pembungkus alat (lihat Gb. 1-1B). Apabila penggunaan autoklaf tidak memungkinkan, desinfeksi
yang sangat baik dapat dicapai dengan menggunakan bahan kimia yang terdaftar pada US
Enviromental Protection Agency (EPA), waktu pemaparan tergantung pada instruksi pabrik, diikuti
dengan pembasuhan menggunakan air steril. Cara lain untuk mensterilkan adalah dengan merendam
dalam air mendidih selama paling sedikit 10 menit (tabel 1-2).
Alat-alat semikritis
Peralatan semikitis adalah alat-alat yang bisa bersentuhan tetapi sebenarnya tidak digunakan
untuk penetrasi ke membran mukosa mulut. Meskipun terkontaminasi oleh saliva dan darah, alat
tersebut biasanya tidak membawa kontaminan ke daerah steril di dalam tubuh. Kaca mulut dan alatalat lain yang digunakan untuk pemeriksaan dan tes termasuk kedalam kategori ini. Handpiece,
digunakan untuk bedah mulut idealnya bisa diautoklaf. Jika harus menggunakan handpiece yang lain,
maka setiap selesai pemakaian sebaiknya dilakukan pengurasan air pendingin 20-30 menit, kemudian
disikat di dalam air dan kotorannya dihilangkan dengan sabun. Kemudian dengan hati-hati dilap
dengan bahan pengisasp yang mengandung bahan antikuman yang terdaftar di EPA sebagai
desinfektan rumah sakit dan mycobactericidal.
Peralatan nonkritis
Peralatan nonkritis adalah peralatan yang biasanya tidak berkonta dengan membran mukosa.
Ini meliputi countertops, pengontrol posisi kursi, kran yang dioperasikan dengan tangan, dan
pengontrol kontak untuk melihat gambar sinar-X. Apabila terkontaminasi dengan darah, saliva atau
keduanya, mula-mula harus dilap dengan handuk pengisap kemudian didesinfeksi dengan larutan
antikuman yang cocok, misal 5000 ppm (pengenceran larutan pemutih 1:10, clorax) atau 500 ppm
(pengenceran 1:100 sodium hipoklorit). Harus hati-hati karena sodium hipoklorit korosif terhadap
logam.
Menghilangkan debris
Diperlukan ruangan atau tempat terpisah untuk mempersiapkan peralatan. Bak yang
digunakan untuk menyikat alat biasanya dianggap sudah terkontaminasi dan tidak boleh digunakan
untuk mencuci tangan. Apabila bak cuci tangan yang terpisah tidak ada, maka bak tersebut harus
diguyur dan didekontaminasi dulu dengan menggunakan desinfektan yang terdaftar di EPA. Orang
yang menyikat peralatan harus memakai sarung tangan yang tebal. Semua saliva, darah atau sisa
jaringan dibersihkan sebelum dilakukan sterilisasi dan desinfeksi (Gambar 1-1A). Dianjurkan
memakai pembersih ultrasonik.
Pengemasan peralatan

Pengemasan peralatan yang steril merupakan seni tersendiri. Membungkus peralatan yang
benar menggunakan kain yang bisa dipakai ulang atau menggunakan bungkus sekali pakai adalah
dengan dua lapis. Semua peralatan yang berengsel harus dalam keadaan terbuka. Pengemasan ini
diperlengkapi dengan pita indikator yang peka panas/uap yang dengan perubahan warnanya bisa
menunjukkan bahwa bungkusan tersebut sudah diautoklaf (Gambar 1-1C). Tanggal dilakukannya
autooklaf dicatat pada bagian luar setiap bungkusan. Peralatan yang dibungkus hanya satu lapis, harus
diautoklaf lagi setiap 30 hari, sedangkan yang dibungkus rangkap dua bisa tahan sampai enam bulan.
Tabel 1-2. Tingkatan relatif aktivitas biosidal terhadap beberapa macam kelompok mikroorganisma
Tingkat aktivitas

Bakteri

Baksil

Spora bakterial

Virus non-

Virus lipid

biosidal
Tinggi
Sedang
Rendah

vegetatif
+
+
+

tuberkel
+
+
-

+
-

lipid
+
+
-

+
+
+

Gambar 1-1. Pemeliharaan alat. A. Memakai sarung tangan karet yang tebal sewaktu mencuci alatalat bedah. B. Peralatan bedah dibungkus rangkap dua kemudian ditempeli indikator peka panas untuk
menunjukkan bahwa peralatan tersebut sudah diautoklaf. C. Selofan digunakan membungkus alat
secara individual sebelum diautoklaf. Jika tidak tersedia indikator peka panas pada bungkus, dapat
ditepeli dengan plester indikator.

2.3. Peralatan Siap Pakai/Disposibel


Peralatan siap pakai
Sterilitas bisa dengan mudah dipastikan pada keadaan kritis dengan menggunakan alat-alat
siap pakai, disposibel. Yang paling penting adalah jarum suntik yang digunakan untuk anastesi lokal
atau bahan lain. Jarum tersebut terbungkus sendiri-sendiri dan disterilkan, sehingga dijamin ketajaman
dan sterilitasnya. Pemasangan jarum pada selubungnya jangan dilakukan dengan tangan. Apabila
tidak ada alternatif lain untuk memasang selubung jarum, maka bisa digunakan hemostat/needle
holder. Benang dan jarum jahit juga tersedia dalam bentuk siap pakai. Ini adalah yang disebut armed
suture yaitu jarum yang disatukan dengan benang jahitnya. Bilah skalpel dan kombinasi bilah-tangkai
juga tersedia dalam bentuk steril untuk sekali pemakaian (Gambar. 1-2A). Sarung tangan steril baik
yang panjang maupun pendek menjamin adanya asepsis dan dibungkus rangkap dua untuk menjamin
bahwa pada waktu pemakaian tidak terkontaminasi. Sebagian besar agen hemostatik, bahan pengganti
tulang aloplastik, dan material untuk implan tidak membutuhkan sterilisasi lagi. Sponge dan bahanbahan dressing biasanya tersedia dalam bungkusan steril yang terpisah. Penutup yang steril, idealnya
dengan pelindung plastik digunakan apabila diperkirakan akan terjadi kontaminasi oleh darah atau
saliva. Sebagian besar peralatan dibungkus dengan sistem peel down (Gambar. 1-2B). Dibungkus
rangkap dua sehingga memungkinkan orang yang tidak menggunakan sarung tangan membuka dan
menyerahkan isinya kepada orang lain yang sudah memakai sarung tangan membuk dan menyerahkan
isinnya kepada orang lain yang sudah memakai sarung tangan atau menaruh isinya di atas tempat
yang steril (Gambar 1-2C). Apabila bungkusnya sibek peralatan tersebut sebaiknya jangan digunakan.
Meskipun bisa diautoklaf, tak ada peralatan disposabel yang boleh digunakan ulang. Label pada
kemasan sering berisi peringatan agar tidak digunakan ulang, dan peringatan ini mempunyai kekuatan
hukum.

Gambar 1-2. Alat-alat yang sudah disterilisasi. A. Bilah skalpel dibungkus tersendiri dan diambil
dengan menggunakan suatu alat. B. Beberapa alat disposabel tersedia dalam bungkus rangkap,
sehingga asisten yang tidak memakai sarung tangan dapat menggunakan tekknik peel-down dan
memindahkan isinya tanpa terjadi kontaminasi. C. Seringkali lebih mudah menaruh alat yang sudah
disterilkan pada permukaan yang steril.

2.4. Operator dan Staf


Dokter gigi sebagai penentu
Penentu keberhasilan rencana pengontrolan infeksi di bedah mulut adalah dokter gigi.
Tindakan kontrol infeksi yang rutin yang dibuat untuk membatasi atau mengurangi kontaminasi silang
adalah cerminan langsung dari sikap dokter gigi. Tingkat kinerja pengontrolah infeksi pad praktek
gigi jarang melebihi sikap yang diperlihatkan oleh setiap praktisi.

Pakaian klinik
Pakaian klinik dipilih yang lengannya tidak melebihi siku sehingga memungkinkan tangan
dicuci sampai ke siku. Apabila pembedahan yang dilakukan kemungkinan menyebabkan darah atau
saliva mengotori pakaiang, maka bisa digunakan gaun lengan panjang baik yang dapat dipakai ulang
atau, lebih ideal lagi bila digunakkan yang disposibel. Apabila dipakai gaun yang digunakan ulang,
sesudah dipakai harus dicuci dengan air panas dan deterjen. Pakaian klinik harus diganti setiap hari
apabila tercemar oleh darah.
Menggosok
Pencucian tangan yaitu menggosok, mengawali teknik asepsis/sterilisasi, digunakan pada
bedah mulut (Gambar 1-3). Pemakaian sabun anti-kuman harus sesuai dengan rekomendasi
pabriknya. Biasanya diperlukan paling tidak pennggosokan 5-6 menit menggunakan sikat
disposibel/yang sudah diautoklaf, baik yang sederhana atau yang berisi sabun. Untuk prosedur nonbedah, sabun biasa sudah dianggap cukup layak oleh CDC (Centre for Disease Control). Alternatif
lain adalah mencuci tangan dengan sabun antikuman ( Chlorhexidine gluconat 4%) selama satu menit.
Sesudah itu dilap dengan handuk kertas secara hati-hati. Jangan gunakan lap kertas multi fungsi.
Handuk steril yang disposibel bisa digunakan, tetapi untuk pemakaian harian di rumah sakit lap kertas
biasa sudah dianggap cukup.
Triad barrier
Untuk mengatasi kontaminasi silang pada dokter gigi, staf dan pasiennya maka digunakan
triad barrier yaitu masker, sarung tangan, dan kacamata pelindung. Sarung tangan uji disposibel yang
nonsteril bisa digunakan untuk kebanyakan prosedur bedah mulut. Apabila sterilitas sangat
diperlukan, misalnya pemasangan implan atau bahan aloplastik untuk menambah lingir (ridge), dapat
digunakan sarung tangan steril (Gambar 1-4). Kekurangan sarung tangan uji adalah bahwa hanya
mempunyai satu ukuran saja atau berukuran S, M, L yang membatasi akurasi pemakaian dengan tepat.
Juga agak sedikit tebal dibanding sarung tangan bedah, sehingga mengurangi sensasi taktil pada
tangan. Meskipun demikian, keuntungan utamanya adalah harganya murah.
Masker dapat digunakan dengan mudah dibeli di toko. Masker dengan tali lebih nyaman
digunakan untuk jangka panjang dibanding yang menggunakan elastik. Keuntungan masker elastik
adalah bisa dilepas dengan cepat dan mudah bila ingin dibuka sewaktu-waktu. Seperti halnya sarung
tangan, masker harus diganti setiap kali ganti pasien.
Kacamata pelindung yang terbuat dari plastik dan ringan melengkapi triad barrier tersebut.
Perlindungan mata dari saliva, mikroorganisme, aerosol dan debris sangat diperlukan untuk operator
maupun asistennya.

Imunisasi
Barangkali pelindung yang paling mudah digunakan dan yang paling jarang digunakan
sebagai sumber perlindungan untuk dokter gigi dan staf adalah imunisasi, misalnya Heptavax-B untuk
perlindungan terhadap hepatitis B. Sewaktu pertama kali diperkenalkan, ketakutan tanpa dasar
terhadap AIDS menjadikan tindakan perlindungan yang sangat berharga ini kurang dihargai
selayaknya. Recombivax-Hb suatu vaksin genetik (bukan dari darah) sekarang ini juga boleh
diberikan. CDC sangat menganjurkan agar personel gigi diimunisasi Hepatitis B. Vaksinasi bukan
berarti bahwa kita bisa melonggarkan prinsip-prinsip desinfeksi dan sterilisaasi.
Gambar 1-3. Penggosokan. A. Sabun anti-kumang dan dispenser yang bisa dioperasikan dengan
kaki. Apabila menggunakan chlorhexidine gluconate 4% (Hibiclens) maka pembasuhan 30-60 detik
sudah cukup untuk kebanyakan prosedur prakterk. B. Kombinasi sikat/sponge disposibel yang diberi
sabun juga tersedia. C. Keran air dirancang sedemikian rupa sehingga bisa membasuh sampai ke siku
dan tidak mengkontaminasi tangan.

Gambar 1-4. Penggunaan sarung tangan. A. Sarung tangan bedah dibungkus rangkap dua dengan
bahan yang mudah disobek. Ujung pembuka diberi tandan sehingga posisi ujung/pangkal sarung
tangan bisa diketahu sebelum dibuka. B. Apabila menggunakan sistem hand to hand, glove to glove,
maka sarung tangan kiri dipegang pada mansetnya dan tangan dimasukkan. C. Tangan kiri yang sudah
menggunakan sarung tangan memegang manset sarung tangan kanan (glove to glove). D. Tangan
kanan dimasukkan ke dalam sarung tangan (hand to hand).

2.5. Pasien
Riwayat kesehatan
Mendapatkan riwayat kesehatan dan kesehatan gigi dengan teliti sebelum melakukan
perawatan adalah kewajiban. Jawaban pasien terhadap pertanyaan mengenai AIDS, hepatitis, herpes
dan tuberkulosis tidaklah menjamin bahwa pasien mengatakan yang sebenarnya. Ia mungkin tidak
mennyadari bahwa keadaan itu terjadi. Paling tidak riwayat kesehatan harus meliputi kesehatan
umum, rasa sakit yang ada, obat-obatan dan pengobatan, alergi, dan tekanan darah.
Pemeriksaan
Pemeriksaan rongga mulut paling tidak mencakup jaringan lunak (servikofasial dan oral), gigi
(visual dan radiografis), oklusi dan malposisi gigi, serta jaringan pendukung dan struktur gigi.
2.6. Perencanaan untuk Kontrol Infeksi
Kontrol kontaminasi silang
Nyata-nyata bahwa perlindungan bagi pasien, para pekerja kesehatan termmsuk diri kita sendiri dari
ancaman kontaminasi silang sangat diperlukan. Pada masa lalu tindakan seperti ini (triad barrier)
sangat mengganggu pasien, tetapi sekarang ini kegagalan untuk memberikan perlindungan yang
menyeluruh jauh lebih menyusahkan. Untuk memastikan kualitas, perlu mencantumkan pernyataan

tertulis. Berbagai macam cara sterilisasi, yaiitu autoklaf, pemanasan kering, atau kimia dibicarakan
mendetail. Perencanaan meliputi metode sterilisasi dan waktu sterilisasi yang dipersyaratkan untuk
semua instrumen di klinik. Garis besar prosedur yang digunakan untuk dekontaminasi daerah
perawatan juga sangat penting. Metode untuk pembuangan peralatan yang tajam dan bahan-bahan
yang terkontaminasi diterangkan secara detail. Sebagai tambahan apabila klinik tidak diperlengkapi
dengan sarana untuk penatalaksanaan pasien yang diketahui terinfeksi, maka harus didapatkan suatu
sarana perawatan yang layak untuk rujukan.

BAB III

PENUTUP
Kesimpulan
Walaupun pencegahan infeksi selalu dilakukan, banyaknya ancaman kontaminasi silang
membutuhkan cara-cara yang baru dan lebih menyeluruh. Meskipun virus AIDS (HIV) telah
ditemukan dalam saliva, bahaya paling besar dari pendedahan dengan AIDS dan hepatitis B adalah
melalui darah yang terkontaminasi. Oleh karenanya apabila akan dilakukan tindakan bedah mulut,
maka perlindungan harus merupakan kesatuan dengan tindakan bedah. Harus diperkirakan bahwa
semua pasien berisiko tinggi. Mengapa? Karena pasien tidak menyadari bahwa mungkin ia adalah
karier, dan oleh karena itu kontaminasi silang merupakan ancaman. Kesimpulannya, klinik yang tidak
mempraktekkan higiene yang baik untuk setiap pasien, tidak akan mampu mengatasi pasien karier
serta pasien yang didiagnosis berpenyakit.

Daftar Pustaka

Purwanto & Basoeseno .Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta .
2001.

Larjava, Hannu. Oral Wound Healing : Cell Biologi and Clinical Management. SPi Publisher
Services, Pondicherry, India. 2012.