Anda di halaman 1dari 4

CERPEN ANTARA SIMBOK, MAMA, DAN PAPA

Karya : sartono kusumoningrat


Anakku, masik duduk di TK. Suatu siang ia pulang dengan menangis. Aku
tidak begitu memperhatikannya karena tangis dan anak-anak adalah dunia yang
tidak terpisahkan. Di jok boncengan sepeda ontelku ia tampak tidak mau bicara.
Aku tersenyum saja. Ah, nanti dia toh akan berhenti sendiri dengan tangisnya.
mana mungkin ia betah menangis seharian.
Ketika sampai di rumah ia mogok makan. Istriku membujuknya dengan keras
karena ia khawatir anakku akan jatuh sakit. Kalau anakku jatuh sakit, aku dan
istriku jugalah yang akan kerepotan sendiri.
"Mengapa kamu menangis ?" tanya istriku dengan cemas. Anakku menggeleng.
"Ayolah cerita sama Simbok." anakku teguh dengan gelengan kepalanya.
"Kamu dimarahi guru ?" aku nimbrung mencoba mencairkan kebisuannya.
Bagaimanapun aku harus mengakui bahwa hati kecilku ingin tahu apa yang
menjadi persoalannya sehingga ia pulang sekolah sambil menangis.
Demi mendengar pertanyaanku anakku bertambah berguncang dadanya menahan
tangis. Mungkin sekali ia merasa jengkel ketika sepanjang jalan ia tak kutanyai
perihal penyebab tangisnya. Barangkali ia merasa tidak aku sayangi, tidak aku
perhatikan sehingga rasa jengkel dan sakit hatinya terasa menumpuk di dada.
"Aku malu.." tiba-tiba ia berbicara dalam keterbataan.
"Lho, apa yang mesti membuatmu malu ?"
"Pokoknya aku malu."
"Lho, malu kan mesti ada sebabnya to, Nak ?"
"Aku diejek."
Aku tertawa. Istriku memberengut, matanya mendelik, tidak setuju dengan
tertawaku.
"Bapak itu kok malah tertawa. Apa yang ditertawakan ?" istriku sewot.
"Lho wong cuma diejek saja kok menangis."
"Lho anak kita kan masih kecil. Kalau dia diejek dan tidak kuat menanggung malu
jelas dia akan menangis ta Pak ? Sakit hati !"
"Nak, kamu diejek bagaimana kok lantas menangis tanpa henti ?"

"Aku diejek karena tidak punya ibu."


"Huaaa.haaa.haaa." Sungguh aku terbahak-bahak mendengar penuturan
anakku ini.
"Lho, lho, lho, aku ini apamu Nak kalau bukan ibumu ?" tanya istriku di sela suara
tawaku.
"Tidak. Aku tidak punya Ibu. Hanya punya Simbok !" anakku berteriak. Air mata
masih saja terburai-burai di permukaan pipinya yang tembem.
Aku tidak dapat menghentikan ketawaku. Istriku yang mendengar omongan anakku
tersenyum kecut.
"Lho apa bedanya to Nak ?"
"Simbok menurut teman-temanku adalah kampungan. Ndesa !"
"Ooolaaah Nak. Yang ndesa itu justru teman-temanmu itu." istriku membela diri.
Apa teman-temanmu itu tahu artinya simbok ? Mana mungkin mereka tahu !
Bahkan orang tua mereka pun aku jamin tidak tahu artinya simbok. Anakku sayang,
kamu harus tahu bahwa kata simbok memiliki arti yang sangat mulia, Nak."
"Tidak. Aku ingin memanggil Simbok dengan Mama atau Mami. Aku tidak mau lagi
memanggil Simbok dengan simbok. Nanti dikata-katai sebagai bocah ndesa lagi."
Kini aku menghentikan tertawaku. Nampaknya persoalan sebutan simbok dan
mama ini menjadi persoalan yang gawat bagi anakku. Hal ini bisa mengganggu
eksistensinya di sekolah. Bisa mempengaruhi rasa percaya dirinya. Kalau hal ini
dibiarkan begitu saja tidak mustahil akan membuat prestasi sekolahnya jeblok atau
bahkan ia akan mogok sekolah.
"Ketahuilah Nak, sebutan simbok memiliki arti yang dalam, bukan main-main." Aku
turut menandaskan apa yang dikatakan istriku dengan wajah yang kubuat serius.
Anakku menghapus sisa air mata di sudut-sudut matanya. Wajahnya juga serius
memperhatikanku. "Simbok itu memiliki makna sebagai orang yang suka tombok.
Tombok itu artinya menutup kekurangan, melunasi, dan membuat sempurna.
Contohnya kalau bapakmu ini sedang tidak punya uang untuk belanja, Simbok
itulah yang akan menomboki. Jika bajumu robek, maka Simbokmu inilah yang akan
tombok dengan waktu, tenaga, dan biaya untuk membuat bajumu utuh kembali.
Demikian juga dengan hal-hal lainnya."
Anakku memandangku dan memandang wajah simboknya berganti-ganti.
Nampaknya ia mencoba memahami apa yang aku katakan. Barangkali ia memang
tidak dapat mengerti sepenuhnya dengan apa yang baru saja aku jelaskan itu.
Tetapi paling tidak apa yang aku jelaskan itu entah separo atau seperempatnya
pasti bisa menyangkut di dalam isi kepalanya.

"Tapi panggilan simbok tetap ndesa Pak. Kenapa to Simbokku itu tidak boleh
kupanggil mama ?"
Istriku tersenyum pahit. Aku pun begitu.
"Di samping aku tidak tahu apa makna di balik kata mama itu, aku juga merasa
lebih sreg dengan sebutan simbok karena aku lebih paham, lebih mengerti makna
kata itu daripada kata mama atau mami, Nak."
"Tapi aku malu."
Aku terdiam. Aku mencoba memahami apa yang sedang dialami oleh anakku satusatunya itu. Pengaruh lingkungan ternyata sangat kuat sebagai penyebab
perubahan dan pembentukan kejiwaan anak. Padahal aku tidak mau sebenarnya
anakku ikut-ikutan gaya hidup orang lain. Bagiku sebutan mama atau mami
membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Di samping aku harus mengerti apa
makna dan etimologisnya, aku juga harus paham pada konsekuensi sosial dan
psikologisnya bagi keluargaku sendiri.
Sejauh pengertahuanku, sebutan ini bukan berasal dari bahasa bangsaku, bangsa
Indonesia. Kata mama dan mami konon berasal dari daratan Eropa sana. Oleh
bangsa bule hal ini dibawa sampai ke negeri-negeri jajahannya. Oleh karena
penjajahan itu, bangsa pribumi menjadi dan dijadikan bangsa yang inferior oleh
bangsa penjajah. Sebutan-sebutan, gelar, gaya berpakaian, gaya berbahasa secara
langsung maupun tidak menjadi alat untuk mengkelaskan bangsa. Bangsa penjajah
menempatkan dirinya sebagai bangsa yang superior. Kesuperioran ini ditunjukkan
dengan berbagai cara. Salah satunya adalah sebutan mama, papa, papi, daddy,
momy, dan mami ini.
Sebutan mama dan mami menjadi penanda bahwa keluarga yang bersangkutan
adalah keluarga yang lebih super daripada keluarga yang menyebut orang tua
perempuannya dengan simbok. Dikesankan lebih barat, modern, intelek, dan
mencirikan kultur kota sebagai bentuk oposisi dari kultur desa yang diwakili oleh
sebutan simbok. Sebutan itu juga mengesankan bentuk kesuperioran yang lain.
Entah super tingkat kekayaannya, pangkatnya, kedudukan sosialnya,
intelektualitasnya, atau bahkan hanya biar disangka keluarga yang tidak
ketinggalan zaman. Kini anakku sedang merasakan dampak dari semuanya itu. Aku
sangat kesulitan menjelaskan ini pada anakku.
"Kalau aku tidak boleh menyebut mama pada Simbok, aku tidak mau sekolah !"
Anakku mengancam. Baginya etimologi kata itu barangkali memang tidak penting.
Ia hanya melihat fungsinya sekarang. Bukan pada perjalanan sejarah artinya. Kata
mama, papa, mami, dan papi lebih mengesankan fungsi kultur kota, modern, dan
hebat. Ini yang dimaui anakku. Ia tidak mau ketinggalan zaman dengan temanteman sekelasnya. Apa boleh buat, aku yang sangat malu disebut papa karena aku
memang tidak tahu artinya terpaksa menerima kenyataan itu. Mulai detik itu aku

rela disebut papa dan istriku yang biasa disebut simbok rela disebut mama demi
ketenteraman hati anak kami. Dalam hati aku aku tersenyum getir, satu sekrup
budaya lokal bangsaku telah lepas .