Anda di halaman 1dari 69

KATA PENGANTAR

Assalamua laikum Wr Wb
Rumah sakit Ratu Zalecha sebagai pusat rajukan dari berbagai instansi kesehatan
diarea Kabupaten Bnajar telah mempersiapkan diri sebagai rumah sakit yang bebas
dari nyeri, dengan beberapa dokter yang teiah diikutsertakan dalam kegiatan ilmiah
management nyeri.
Diharapkan dengan adanya management nyeri yang baik di RS. Ratu Zalechadapat
mengurangi nyeri pasien baik pasien anak-anak maupiin pasien dewasa.
Panduan managemen nyeri dibuat untuk menyamakan persepsi, tata laksana dan
penanganan nyeri pada pasien di RS. Ratu Zalecha .
Dengan panduan ini diharapkan semakin meningkatkan kualitas layanan kesehatan
di RS. Ratu Zalecha . Seiring beijalannya waktu dan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknoiogi tak menuntut adanya perubahan dalam penanganan
nyeri pasien. Untuk itu tidak menuntut adanya beberapa perubahan dan revisi akan
dilakukan secara berkala demi kesempumaan dan kualitas pelayanan di RS. Ratu
Zalecha .
Wasalamua laikum Wr w

PANDUAN MANAJEMEN NYERI


RUMAH SAKIT RATU ZALECHA
BAB I
DEFINISI
Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang diakibatkan adanya kerusakan jaringan
yang sedang atau akan terjadi, atau pengalaman sensorik dan emosional yang merasakan
seolah-olah terjadi kerusakan jaringan. (International Association for the Study of Pain).
Nyeri akut adalah nyeri dengan onset segera dan durasi yang terbatas, memiliki hubungan
temporal dan kausal dengan adanya cedera atau penyakit.
Nyeri kronik adalah nyeri yang bertahan untuk periode waktu yang lama. Nyeri kronik adalah
nyeri yang terus ada meskipun telah terjadi proses penyembuhan dan sering sekali tidak
diketahui penyebabnya yang pasti.
Asesmen pasien terdiri atas 3 proses utama :
1. Mengumpulkan informasi dan data : dari anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
penunjang/pemeriksaan yang lain.
2. Melakukan analisis informasi dan data sehingga menghasilkan suatu diagnosa untuk
mengidentifikasi kebutuhan pelayanan kesehatan pasien.
3. Membuat rencana pelayanan untuk memenuhi semua kebutuhan pasien yang telah
diidentifikasi.
Asesmen nyeri merupakan asesmen yang dilakukan terhadap pasien jika didapatkan data
subyektif dan/atau data obyektif bahwa pasien mengalami nyeri.
Asesmen nyeri terdiri dari :
1. Asesmen awal
-

Asesmen yang dilakukan pada awal ketika pasien datang ke rumah sakit.

Asesmen yang dilakukan pada awal ketika pasien datang ke rumah sakit.

Tujuan dilakukannya asesmen awal adalah:


a. Memahami pelayanan apa yang dicari pasien
b. Memilihjenis pelayanan yang terbaik bagi pasien.
c. Menetapkan diagnosis awal.
d. Memahami respon pasien terhadap pengobatan sebelumnya.

2. Asesmen ulang
Asesmen yang dilakukan pada pasien selama proses pelayanan pada interval tertentu
berdasarkan kebutuhan dan rencana pelayanan atau sesuai kebijakan dan prosedur
rumah sakit.
-

Asesmen ulang merupakan kunci untuk memahami apakah keputusan pelayanan sudah
tepat dan efektif.

Manajemen nyeri merupakan implementasi/pelaksanaan dari perencanaan pelayanan pasien

BAB III RUANG LINGKUP


RUANG LINGKUP
Asesmen dan manajemen nyeri dilakukan untuk semua pasien rawat jalan maupun
rawat inap di Rumah Sakit Ratu Zalecha .
Asesmen dan manajemen nyeri ini dilakukan oleh dokter dan perawat yang kompeten
sesuai perizinan, undang-undang dan peraturan yang berlaku.

ASESMEN NYERI
A. Mengumpulkan informasi dan data
1. Anamnesis
a. Keluhan Utama
Keluhan utama nyeri sertakan data lamanya keluhan nyeri tersebut.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Onset nyeri: akut atau kronik, traumatik atau non-traumatik.
Karakter dan derajat keparahan nyeri : nyeri tumpul, nyeri taj am, rasa
terbakar, tidak nyaman, kesemutan, neuralgia.
Pola penjalaran/penyebaran nyeri.
Durasi dan lokasi nyeri.
Gejala lain yang menyertai misalnya kelemahan, baal, kesemutan,
mual/muntah, atau gangguan keseimbangan/kontrol motorik.
Faktor yang memperberat dan memperingan.

Kronisitas.

Hasil pemeriksaan dan penanganan nyeri sebelumnya, termasuk respons


terapi.

Gangguan/kehilangan fungsi akibat nyeri/luka.

Penggunaan alat bantu.

Perubahan fungsi mobilitas, kognitif, irama tidur, dan aktivitas hidup dasar
{activity of daily living).

Singkirkan kemimgkinan potensi emergensi pembedahan, seperti adanya


ffaktur yang tidak stabil, gejala neurologis progresif cepat yang
berhubungan dengan sindrom kauda ekuina.
c. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat penyakit dahulu.

Riwayat pembedahan/operasi.

d. Riwayat Psikologis, Sosial, Ekonomi, Budaya

Riwayat konsumsi alkohol, merokok, atau narkotika.


Identifikasi pengasuh/perawat utama (primer) pasien.
Identifikasi kondisi tempat tinggal pasien yang berpotensi menimbulkan
eksaserbasi nyeri.
Pembatasan/restriksi partisipasi pasien dalam aktivitas sosial yang
berpotensi menimbulkan stres. Pertimbangkan juga aktivitas penggantinya.
Masalah psikiatri (misalnya depresi, cemas, ide ingin bunuh diri) dapat
menimbulkan pengaruh negatif terhadap motivasi dan kooperasi pasien
dengan program penanganan/manajemen nyeri ke depannya. Pada pasien
dengan masalah psikiatri, diperlukan dukungan psikoterapi/psikofarmaka.
Pekerjaan yang melibatkan gerakan berulang dan rutin, seperti mengangkat
benda berat, membungkuk atau memutar; merupakan pekerjaan tersering
yang berhubungan dengan nyeri punggung.
Tidak dapat bekeijanya pasien akibat nyeri dapat menimbulkan stres bagi
pasien/keluarga.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Evaluasi riwayat medis keluarga terutama penyakit genetik.
f. Riwayat Alergi
Riwayat alergi makanan, obat, dan allergen yang lain jika ada.
g. Riwayat Pengobatan
Daftar obat-obatan yang pemah dan sedang dikonsumsi pasien untuk
mengurangi nyeri.
Cantumkan juga mengenai dosis, tujuan minum obat, durasi, efektifitas,
dan efek samping.
* Direkomendasikan untuk mengurangi atau memberhentikan obat-obatan
dengan efek samping kognitif dan fisik.
h. Asesmen sistem organ yang komprehensif
Evaluasi gejala kardiovaskular, psikiatri, pulmoner, gastrointestinal,
neurologi, reumatologi, genitourinaria, endokrin, dan muskuloskeletal.

* Gejala konstitusional: penurunan berat badan, nyeri malam hari, keringat


malam, dan sebagainya.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Umum
Tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu tubuh.
Ukurlah berat badan dan tinggi badan pasien.
Periksa apakah terdapat lesi/luka di kulit seperti jaringan parut akibat
operasi, hiperpigmentasi, ulserasi, tanda bekas jarum suntik.
Perhatikan juga adanya ketidaksegarisan tulang (malalignment), atrofi otot,
fasikulasi, diskolorasi, dan edema.
b. Status Mental
Nilai orientasi pasien.
Nilai kemampuan mengingat jangka panjang, pendek, dan segera.
Nilai kemampuan kognitif.
Nilai kondisi emosional pasien, termasuk gejala-gejala depresi, tidak ada
harapan, atau cemas.
c. Pemeriksaan Sendi
Selalu periksa kedua sisi untuk menilai kesimetrisan.
Nilai dan catat pergerakan aktif semua sendi, perhatikan adanya
keterbatasan gerak, diskinesis, raut wajah meringis, atau asimetris.

Nilai dan catat pergerakan pasif dari sendi

yang

terlihat

abnormal/dikeluhkan oleh pasien (saat menilai pergerakan aktif).


Perhatikan adanya limitasi gerak, raut wajah meringis, atau asimetris.
Palpasi setiap sendi untuk menilai adanya nyeri.

Pemeriksaan stabilitas sendi untuk mengidentifikasi adanya cedera


ligamen.

d. Pemeriksaan Motorik
Nilai dan catat kekuatan motorik pasien dengan menggunakan kriteria di
bawah ini:

Derajat
5

Definisi
Tidak terdapat keterbatasan gerak, mampu melawan tahanan kuat.

Mampu melawan tahanan ringan.

Mampu bergerak melawan gravitasi.

Mampu bergerak/bergeser ke kiri dan kanan tetapi tidak mampu melawan


gravitasi.

Terdapat

kontraksi

otot

(inspeksi/palpasi),

tidak

menghasilkan

pergerakan.
0

Tidak terdapat kontraksi otot.

e. Pemeriksaan Sensorik
Lakukan pemeriksaan : sentuhan ringan, nyeri (tusukan jarum - pin prick),
getaran, dan suhu.
f. Pemeriksaan Neuroiogis lainnya
Evaluasi nervus kranial I - XII, terutama jika pasien mengeluh nyeri wajah
atau servikal dan sakit kepala.
Periksa refleks otot, nilai adanya asimetris dan klonus. Untuk mencetuskan
klonus membutuhkan kontraksi > 4 otot.
Refleks

Segmen spinal

Biseps

C5

Brakioradialis

C6

Triseps

Cl

Tendon patella

L4

Hamstring medial

L5

Achilles

SI

Nilai adanya refleks Babinski dan Hoffman (hasil positif menunjukkan lesi
upper motor neuron),
Nilai gaya berjalan pasien dan identifikasi defisit serebelum dengan
melakukan tes dismetrik (tes pergerakan jari - ke - hidung, pergerakan tumit
- ke - tibia), tes disdiadokokinesia, dan tes keseimbangan (Romberg dan
Romberg modifikasi).
g. Pemeriksaan Khusus
Terdapat 5 tanda non-organik pada pasien dengan gejala nyeri tetapi tidak
ditemukan etiologi secara anatomi. Pada beberapa pasien dengan 5 tanda ini
ditemukan mengalami hipokondriasis, histeria, dan depresi.
Kelima tanda ini adalah :
1) Distribusi nyeri superfisial atau non-anatomik.
2) Gangguan sensorik atau motorik non-anatomik.
3) Verbalisasi berlebihan akan nyeri (over-reaktif).
4) Reaksi nyeri yang berlebihan saat menjalani tes/pemeriksaan nyeri.
5) Keluhan akan nyeri yang tidak konsisten (berpindah-pindah) saat
gerakan yang sama dilakukan pada posisi yang berbeda (distraksi).
3. Pemeriksaan Elektromiografi (EMG)
a. Membantu mencari penyebab nyeri akut/kronik pasien.
b. Mengidentifikasi area persarafan/cedera otot fokal atau difus yang terkena.
c. Mengidentifikasi atau menyingkirkan kemungkinan yang berhubungan dengan
rehabilitasi, injeksi, pembedahan, atau terapi obat.
d. Membantu menegakkan diagnosis.
e. Pemeriksaan serial membantu pemantauan pemulihan pasien dan respons
terhadap terapi.
f. Indikasi: kecurigaan saraf teijepit, mono-/poli-neuropati, radikulopati.
g. Namun pemeriksaan ini belum tersedia di RS Ratu Zalecha.
4. Pemeriksaan Sensorik Kuantitatif
a. Pemeriksaan sensorik mekanik (tidak nyeri): getaran

b. Pemeriksaan sensorik mekanik (nyeri): tusukan jarum, tekanan


c. Pemeriksaan sensasi suhu (dingin, hangat, panas)
d. Pemeriksaan sensasi persepsi
5. Pemeriksaan Radiologi
a. lndikasi:
Pasien nyeri dengan kecurigaan penyakit degeneratif tulang belakang.
Pasien dengan kecurigaan adanya neoplasma, infeksi tulang belakang,
penyakit inflamatorik, dan penyakit vascular.
Pasien dengan defisit neurologis motorik, kolon, kandung kemih, atau
ereksi.
Pasien dengan riwayat pembedahan tulang belakang.
Gejala nyeri yang menetap > 4 minggu.
b. Pemilihan pemeriksaan radiologi:
Bergantung pada lokasi dan karakteristik nyeri.
Foto polos : untuk skrining inisial pada tulang belakang (fraktur,
ketidaksegarisan vertebra, spondilolistesis, spondilolisis, neoplasma).
MRI : gold standard dalam mengevaluasi tulang belakang (hemiasi diskus,
stenosis spinal, osteomyelitis, infeksi ruang diskus, keganasan, kompresi
tulang belakang, infeksi). Namun pemeriksaan ini belum tersedia di RS
Ratu Zalecha .
CT-scan : evaluasi trauma tulang belakang, hemiasi diskus, stenosis
spinal.Namun pemeriksaan ini belum tersedia di RS Ratu Zalecha .
Radionuklida bone-scan : sangat bagus dalam mendeteksi perubahan
metabolisme tulang (mendeteksi osteomyelitis dini, fraktur kompresi yang
kecil/minimal, keganasan primer, metastasis tulang). Namun pemeriksaan
ini belum tersedia di RS Ratu Zalecha.
6. Asesmen Psikologi
a. Nilai mood pasien, apakah dalam kondisi cemas, ketakutan, depresi.
b. Nilai adanya gangguan tidur, masalah terkait pekerjaan.

c. Nilai adanya dukungan sosial, interaksi sosial.


B. Analisa informasi dan data
Setelah data komprehensif yang sudah dikumpulkan, baik berupa data subjektif
maupun data objektif, maka dilakukan analisa informasi dan data. Bagian ini terdiri
dari : penulisan ringkasan, penyusunan daftar masalah, membuat pengkajian dari
masing- masing masalah (diagnosa dan diagnosa banding).
C. Membuat rencana pelayanan untuk memenuhi semua kebutuhan pasien yang
telah diidendfikasi.
Rencana pelayanan meliputi: rencana diagnosis, rencana terapi, rencana monitoring,
dan rencana edukasi.

10

BAB IV
SKALA NYERI
Indikator tunggal yang paling penting untuk mengetahui intensitas nyeri adalah keluhan
pasien. Intensitas nyeri merupakan gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh
pasien, pengukuran intensitas nyeri sangat subyektif, maka pendekatan obyektif yang
paling mungkin adalah dengan menggunakan skala nyeri.
Skala nyeri yang digunakan di RS Ratu Zalecha sebagai berikut:
1. Numeric Rating Scale

Indikasi : digunakan pada pasien dewasa dan anak berusia > 9 tahun yang dapat
menggunakan angka untuk melambangkan intensitas nyeri yang dirasakannya.

Instruksi : pasien akan ditanya mengenai intensitas nyeri yang dirasakan dan
dilambangkan dengan angka antara 0-10.
0

= tidak nyeri

1-

3 = nyeri ringan (sedikit mengganggu aktivitas sehari-hari)

4-6

= nyeri sedang (gangguan nyata terhadap aktivitas sehari-hari)

7-10

= nyeri berat (tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari)

i:

>

A
A
AA
N J __ . 1 __ ___ 1 1
one Mid

AA
____ __ 1 1
Moderate

9
0

A
______
____
Severe

Numeric Rating Scale


2 Wong Baker Faces Pain Scale

11

Indikasi: pada pasien (dewasa dan anak > 3 tahun) yang tidak dapat
menggambarkan intensitas nyerinya dengan angka, gunakan asesmen.

Instruksi: pasien diminta untuk menunj uk/memilih gambar mana yang paling
sesuai dengan yang ia rasakan. Tanyakan juga lokasi dan durasi nyeri:

0-1
2-

= sangat bahagia karena tidak merasa nyeri sama sekali


3

- sedikit nyeri

4-5

= cukup nyeri

6-7

= lumayan nyeri

8-9

= sangat nyeri

10

- amat sangat nyeri (tak tertahankan)

12

3. Comfort Scale
Indikasi: pasien bayi, anak, dan dewasa di ruang rawat intensif/kamar operasi/ruang rawat
inap yang tidak dapat dinilai menggunakan Numeric Rating Scale dan Wong Baker Faces
Pain Scale.
Instruksi : terdapat 9 kategori dengan setiap kategori memiliki skor 1 - 5 , dengan skor
total antara 9 - 45.
-

Kewaspadaan

Ketenangan

Distress pemapasan

Menangis
Pergerakan

Tonus otot

Tegangan wajah

Tekanan darah basal

Denyut jantung basal

Pada pasien dalam pengaruh obat anestesi atau dalam kondisi sedasi sedang,
asesmen dan penanganan nyeri dilakukan saat pasien menunjukkan respon berupa
ekspresi tubuh atau verbal akan rasa nyeri.
Kategori

Skor

Tanggal / waktu

1- tidur pulas/nyenyak
2 - tidur kurang nyenyak
Kewaspadaan 3 - gelisah
4 - sadar sepenuhnya dan waspada
5 - hiper alert
1- tenang
2 - agak cemas
Ketenangan 3 - cemas
4 - sangat cemas
5 - panic

13

1- tidak ada respirasi spontan dan tidak


ada batuk
2 - respirasi spontan dengan sedikit/tidak
ada
Distress
respons terhadap ventilasi
pernapasan 3 - kadang-kadang batuk atau terdapat
tahanan
terhadap ventilasi
4 sering
batuk,
terdapat
1- bemapas dengan tenang, tidak
menangis
Menangis
2 - terisak-isak
3 - meraung
4 - menangis
1- tidak ada pergerakan
2 - kedang-kadang bergerak perlahan
Pergerakan 3 - sering bergerak perlahan
4 - pergerakan aktif/gelisah
5 - pergrakan aktif termasuk badan dan
1 - otot relaks sepenuhnya, tidak ada tonus
otot
2 - penurunan tonus otot
Tonus otot 3 - tonus otot normal
4 - peningkatan tonus otot dan fleksi jari
tangan dan
kaki
1 - otot wajah relaks sepenuhnya
2 - tonus otot wajah normal, tidak terlihat
Tegangan wajah tegangan
otot wajah yang nyata
b b
j h
lih
Comfort Scale

14

Kategori

Skor

Tanggal / waktu

4 - tegangan hampir di seluruh otot wajah


5 - seluruh otot wajah tegang, meringis
1- tekanan darah di bawah batas normal
2 - tekanan darah berada di batas normal secara
konsisten
3 - peningkatan tekanan darah sesekali > 15% di
atas batas normal ( 1 - 3 kali dalam observasi
Tekanan darah selama 2 menit)
basal
4 - seringnya peningkatan tekanan darah > 15%
di
atas batas normal (> 3 kali dalam observasi
selama 2 menit)
5 - peningkatan tekanan darah terus-menerus >
1- denyut jantung di bawah batas normal
2 - denyut jantung berada di batas normal secara
konsisten
3 - peningkatan denyut jantung sesekali > 15%
di
Denyut jantung atas batas normal ( 1 - 3 kali dalam observasi
basal
selama 2 menit)
4 - seringnya peningkatan denyut jantung > 15%
di
atas batas normal (> 3 kali dalam observasi
selama 2 menit)
Skor total

15

BAB VI
ASESMEN ULANG
Asesmen ulang dilakukan pada pasien yang dirawat lebih dari beberapa jam danmenunjukkan
adanya rasa nyeri, sebagai berikut:
1.

Lakukan asesmen nyeri yang komprehensif setiap kali melakukan kunjungan/visite kepasien.

2.

Dilakukan pada : pasien yang mengeluh nyeri, 1 jam setelah tatalaksana nyeri, setiapempat
jam (pada pasien yang sadar/bangun), pasien yang menjalani prosedur menyakitkan, sebelum
transfer pasien, dan sebelum pasien pulang dari rumah sakit.

3.

Pada pasien yang mengalami nyeri kardiak (jantung), lakukan asesmen ulang setiap 5 menit
setelah pemberian nitrat atau obat-obat intravena.

4.

Pada nyeri akut/kronik, lakukan asesmen ulang tiap 30 menit - 1 jam setelah pemberian obat
nyeri.

5.

Derajat nyeri yang meningkat hebat secara tiba-tiba, terutama bila sampai menimbulkan
perubahan tanda vital, merupakan tanda adanya diagnosis medis atau bedah yang baru
(misalnya komplikasi pasca-pembedahan, nyeri neuropatik).

16

MAN AJEMEN NYERI


A. MANAJEMEN NYERI AKUT
1. Nyeri akut merupakan nyeri yang terjadi < 6 minggu.
2. Melakukan asesmen nyeri : anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
penunjang, dan asesmen nyeri menggunakan skala nyeri.
3. Menentukan mekanisme nyeri:
a. Nyeri somatik:
Diakibatkan adanya kerusakan jaringan yang menyebabkan pelepasan zat
kima dari sel yang cedera dan memediasi inflamasi dan nyeri melalui
nosiseptor kulit.
Karakteristik : onset cepat, terlokalisasi dengan baik, dan nyeri bersifat
tajam, menusuk, atau seperti ditikam.
Contoh : nyeri akibat laserasi, sprain, fraktur, dislokasi.
b. Nyeri visceral:
Nosiseptor visceral lebih setikit dibandingkan somatic, sehingga jika
terstimulasi akan menimbuikan nyeri yang kurang bisa dilokalisasi,
bersifat difus, tumpul, seperti ditekan benda berat
Penyebab : iskemi/nekrosis, inflamasi, peregangan ligament, spasme otot
polos, distensi organ berongga/lumen.
Biasanya disertai dengan gejala otonom, seperti mual, muntah, hipotensi,
bradikardia, berkeringat.
c. Nyeri neuropatik:
Berasal dari cedera jaringan saraf.
Sifat nyeri: rasa terbakar, nyeri menjalar, kesemutan, alodinia (nyeri saat
disentuh), hiperalgesia.
Gejala nyeri biasanya dialami pada bagian distal dari tempat cedera
(sementara pada nyeri nosiseptif, nyeri dialami pada tempat cederanya).

17

Biasanya diderita oleh pasien dengan diabetes, multiple sclerosis, hemiasi


diskus, AIDS, pasien yang menjalani kemoterapi/radioterapi.
4. Tatalaksana sesuai mekanisme nyerinva. a.
Farmakologi: gunakan Step-Ladder WHO
OAINS efektif untuk nyeri ringan-sedang, opioid efektif untuk nyeri
sedang - berat.
Mulailah dengan pemberian OAINS/opioid lemah (langkah 1 dan 2)
dengan pemberian intermiten {pro re nata - pm) opioid kuat yang
disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
Jika langkah 1 dan 2 kurang efektif/nyeri menjadi sedang - berat, dapat
ditingkatkan menjadi langkah 3 (ganti dengan opioid kuat dan pm
analgesik dalam kurun waktu 24 jam setelah langkah 1).
Penggunaan opioid hams dititrasi. Opioid standar yang sering digunakan
adalah Morfin, Codein.
Jika pasien memiliki kontraindikasi absolut OAINS, dapat diberikan
opioid ringan.
Jika fase nyeri akut pasien telah terlewati, lakukan pengurangan dosis
secara bertahap:

Intravena : antikonvulsan, Ketamine, OAINS, Opioid.

Oral : antikonvulsan, antidepresan, antihistamin, anxiolytic, Kortikosteroid,


anestesi lokal, OAINS, Opioid, Tramadol.

Rektal (supositoria): Parasetamol, Aspirin, Opioid, Fenotiazin.

Topical : Lidokain patch, EMLA.

Subkutan : Opioid, anestesi local.

18

Efek puncak dari dosis intravena dapat teijadi selama 15 menit sehingga semua
pasien harus diobservasi dengan ketat selama fase ini.
Algoritma Pemberian Opioid Intermiten Intravena untuk Nyeri Akut

Mild Pain
Pain Score 1

ins;

Paracetamol NSAS3S f w12


bribed resMarty}eg. tow

Step3

3- Step WHO Analgesic Ladder8


*Keterangan:
* Patch Fentanyl tidak boleh digunakan untuk nyeri akut karena tidak sesuai
indikasi dan onset keijanya lama.
Untuk nyeri kronik : pertimbangkan pemberian terapi analgesik adjuvan
(misalnya : Amitriptilin, Gabapentin).
2Istilah:
NS AID :non-steroidal anti-inflammatory drug.
S/R :slow release.
PRN :when required.
b. Berikut adalah algoritma pemberian Opioid intermiten (pm) intravena untuk nyeri akut,
dengan syarat:
Hanya digunakan oleh staf yang telah mendapat instruksi.
Tidak sesuai untuk pemberian analgesik secara rutin di ruang rawat inap biasa.

19

Keterangan :
atatan:
Skor nyeri:
Skor sedasi:
0
= tidak nyeri
0 = sadar penuh
ka tekanan darah sistolik
1 - 3 - nyeri ringan 4 - 6 1 = sedasi ringan, kadang < 1 0 0 mmHg : haruslah
= nyeri sedang .7 - 10 = mengantuk,
dalam
rentang
30%
nyeri berat
mudah dibangunkan
tekanan darah sistolik
2 = sedasi sedang, sering secara normal
pasien
(jika
konstan mengantuk, mudah diketahui), atau carilah
dibangunkan
saran/bantuan.
3 = sedasi berat, somnolen, sukar
dibangunkan
S = tidur
Gunakan tabel obat-obatan antiemetic (jika diperlukan).
Teruskan penggunaan OAINS i.v jika diresepkan bersama dengan opioid.
c. Manajemen efek samping :

Opioid
-

Mual dan muntah : antiemetic

Konstipasi : berikan stimulan buang air besar, hindari laksatif yang


mengandung serat karena dapat menyebabkan produksi gas- kembung-kram
perut.

Gatal : pertimbangkan untuk mengganti opioid jenis lain, dapat juga


menggunakan antihistamin.

Mioklonus : pertimbangkan untuk mengganti opioid, atau berikan


Benzodiazepine untuk mengatasi mioklonus.

Depresi pemapasan akibat Opioid : berikan Nalokson (campur 0,4 mg


Nalokson dengan NaCl 0,9% sehingga total volume mencapai 10 ml).
Berikan 0,02 mg (0,5 ml) bolus setiap menit hingga kecepatan pemapasan
meningkat. Dapat diulang jika pasien mendapat terapi Opioid jangka
panjang.

OAINS:
Gangguan gastrointestinal: berikan PPI (proton pump inhibitor).
-

Perdarahan akibat disfungsi platelet: pertimbangkan untuk mengganti


OAINS yang tidak memiliki efek terhadap agregasi platelet.

20

d. Pembedahan : injeksi epidural, supraspinal, infiltrasi anestesi lokal di tempat


nyeri.
e. Non-farmakologi:
Olah raga
Imobilisasi
Pijat
Relaksasi
Stimulasi saraf transkutan elektrik8
5. Follow-up/Asesmen Ulang
a.

Asesmen ulang sebaiknya dilakukan dengan interval yang teratur.

b.

Panduanu m u m :

Pemberian parenteral: 30 menit

Pemberian oral: 60 menit

Intervensi non-farmakologi: 30 - 60 menit.

6. Pencegahan
a.

Edukasi pasien:

Berikan

informasi

mengenai

kondisi

dan

penyakit

pasien,

serta

tatalaksananya.

Diskusikan tujuan dari manajemen nyeri dan manfaatnya untuk pasien.

Beritahukan bahwa pasien dapat mengubungi tim medis jika memiliki


pertanyaan/ingin berkonsultasi mengenai kondisinya.

Pasien dan keluarga ikut dilibatkan dalam menyusun manajemen nyeri


(termasuk penjadwalan medikasi, pemilihan analgesik, dan jadwal kontrol).

b.

Kepatuhan pasien dalam menjalani manajemen nyeri dengan baik.

7. Medikasi saat pasien pulang


a.

Pasien dipulangkan segera setelah nyeri dapat teratasi dan dapat beraktivitas
seperti biasa/normal.

b.

Pemilihan medikasi analgesik bergantung pada kondisi pasien.

21

Berikut adalah algoritma asesmen dan manajemen nyeri akut:


Algoritma Asesmen Nyeri Akut

22

Algoritma Manajemen Nyeri Akut

Pilih alternatif terapi


yang lainnya

tidak
Lihat manajemen
ya
nyeri kronik.
Pertimbangkan
----untukmerujuk ke
spesialis yang
sesuai

Apakah nyeri
> 6 minggu ?
AV

---------------
__________ i ______
Pencegahan

Edukasi pasien
Terapi farmakologi
Konsultasi (jika perlu)
Prosedur pembedahan
Non-farmakologi

ya
Kembali ke kotak
'tentukan
tidak
mekanisme
nyeri'

Mekanisme
nyeri sesuai ?

tidak
Analgesik adekuat ?
ya
ya

Efek samping
pengobatan ?

....... - .......... w

Manajemen
efek samping

tidak
f

Follow-up /
nilai ulang

e-

23

B. MANAJEMEN NYERIKRONIK
1. Nyeri kronik : nyeri yang persisten/berlangsung >6 minggu.
2. Melakukan asesmen nyeri:
a. Anamnesis, pemeriksaan fisik (karakteristik nyeri, riwayat manajemen nyeri
sebelumnya), pemeriksaan penunjang, dan asesmen nyeri dengan skala nyeri.
b. Asesmen fungsional:
nilai aktivitas hidup dasar (ADL), identifikasi kecacatan/disabilitas.
buatlah tujuan fungsional spesifik dan rencana perawatan pasien.
nilai efektifitas rencana perawatan dan manajemen pengobatan.
3. Menentukan mekanisine nyeri:
a. Manaj emen bergantung pada j enis/klasifikasi nyerinya.
b. Pasien sering mengalami > 1 jenis nyeri.
c. Terbagi menjadi 4 jenis :
1) Nyeri neuropatik:
-

Disebabkan oleh kerusakan/disfungsi sistem somatosensorik.

Contoh : neuropati DM, neuralgia trigeminal, neuralgia pasca- herpetik.

Karakteristik : nyeri persisten, rasa terbakar, terdapat penjalaran nyeri


sesuai dengan persarafannya, baal, kesemutan, alodinia.

Fibromyalgia : gatal, kaku, dan nyeri yang difus pada musculoskeletal


(bahu, ekstremitas), nyeri berlangsung selama > 3 bulan.

2) Nyeri otot: tersering adalah nyeri miofasial


-

Mengenai otot leher, bahu, lengan, punggung bawah, panggul, dan


ekstremitas bawah.

Nyeri dirasakan akibat disfungsi pada 1/lebih jenis otot, berakibat


kelemahan, keterbatasan gerak.

Biasanya muncul akibat aktivitas pekerjaan yang repetitive.


Tatalaksana : mengembalikan fungsi otot dengan fisioterapi,
identifikasi dan manajemen faktor yang memperberat (postur, gerakan
repetitive, faktor pekerjaan).

3) Nyeri inflam asi (dikenal juga dengan istilah nyeri nosiseptif) :

24

Contoh : artritis, infeksi, cedera jaringan (luka), nyeri pasca-operasi.

Karakteristik : pembengkakan, kemerahan, panas pada tempat nyeri.


Terdapat riwayat cedera/luka.

Tatalaksana :

manajemen proses inflamasi dengan

anti bio tik/antirematik, OA1NS, kortikosteroid.


4) Nyeri mekanis/kompresi:
-

Diperberat dengan aktivitas, dan nyeri berkurang dengan istirahat.

Contoh : nyeri punggung dan leher (berkaitan dengan strain/sprain


ligamen/otot), degenerasi diskus, osteoporosis dengan fraktur kompresi,
fraktur.

Merupakan nyeri nosiseptif.

Tatalaksana : beberapa memerlukan dekompresi atau stabilisasi.

4. Asesmen lainnya
a. Asesmen psikologi : nilai apakah pasien mempunyai masalah psikiatri (depresi,
cemas, riwayat penyalahgunaan obat-obatan, riwayat penganiayaan secara
seksual/fisik, verbal, gangguan tidur).
b. Masalah pekeijaan dan disabilitas.
c. Faktor yang mempengaruhi:

Kebiasaan akan postur leher dan kepala yang buruk.

Penyakit lain yang memperburuk/memicu nyeri kronik pasien.

d. Hambatan terhadap tatalaksana:


1) Hambatan komunikasi/bahasa.
2) Faktor finansial.
3) Rendahnya motivasi dan jarak yang jauh terhadap fasilitas kesehatan.
4) Kepatuhan pasien yang buruk.
5) Kurangnya dukungan dari keluarga dan teman.

25

5. Manajemen nyeri kronik


a. Prinsip Level 1 :
1) Buatlah rencana perawatan tertulis secara komprehensif (buat tujuan,
perbaiki tidur, tingkatkan aktivitas fisik, manajemen stres, kurangi nyeri).
2) Pasien harus berpartisipasi dalam program latihan untuk meningkatkan
fimgsi.
3) Dokter dapat mempertimbangkan pendekatan perilaku kognitif dengan
restorasi fungsi untuk membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan
fungsi.
-

Beritahukan kepada pasien bahwa nyeri kronik adalah masalah yang


rumit dan kompleks. Tatalaksana sering mencakup manajemen stress,
latihan fisik, terapi relaksasi, dan sebagainya.

Beritahukan pasien bahwa fokus dokter adalah manajemen nyerinya.


Ajaklah pasien untuk berpartisipasi aktif dalam manajemen nyeri.

Berikan medikasi nyeri yang teratur dan terkontrol.

Jadwalkan control pasien secara rutin, jangan biarkan penjadwalan


untuk control dipengaruhi oleh peningkatan level nyeri pasien.

Bekerjasama dengan keluarga untuk memberikan dukungan kepada


pasien.

Bantulah pasien agar dapat kembali bekerja secara bertahap.

Atasi keengganan pasien untuk bergerak karena takut nyeri.

4) Manajemen psikososial (atasi depresi, kecemasan, ketakutan pasien).


b. Manajemen Level 1

: menggunakan pendekatan standar dalam

penatalaksanaan nyeri kronik termasuk farmakologi, intervensi, nonfarmakologi, dan terapi pelengkap/tambahan.
1) Nyeri Neuropatik
Atasi penyebab yang mendasari timbulnya nyeri:
- Kontrol gula darah pada pasien DM.

26

Pembedahan. kemoterapi, radioterapi untuk pasien tumor dengan


kompresi saraf.
Kontrol infeksi (antibiotik).

Terapi simptomatik :
-

antidepresan trisiklik (Amitriptilin).

antikonvulsan : Gabapentin, Karbamazepin.

obat topical (Lidocaine patch 5%, krim anestesi).

OAINS, Kortikosteroid, Opioid.

anestesi regional : blok simpatik, blok epidural/intratekal, infus


epidural/intratekal.

terapi berbasis-stimulasi: akupuntur, stimulasi spinal, pijat.


rehabilitasi fisik : bidai, manipulasi, alat bantu, latihan mobilisasi,
metode ergonomis.
prosedur ablasi :

kordomiotomi, ablasi saraf dengan

radioffekuensi.
-

terapi lainnya : hypnosis, terapi relaksasi (mengurangi tegangan otot


dan toleransi terhadap nyeri), terapi perilaku kognitif (mengurangi
perasaan terancam atau tidak nyaman karena nyeri kronis).

2) Nyeri otot

Lakukan skrining terhadap patologi medis yang serius, faktor


psikososial yang dapat menghambat pemulihan.

Berikan program latihan secara bertahap, dimulai dari latihan


dasar/awal dan ditingkatkan secara bertahap.

Rehabilitasi fisik:
-

Fitness : angkat beban bertahap, kardiovaskular, fleksibilitas,


keseimbangan

Mekanik
Pijat, terapi akuatik

27

Manajemen perilaku:
-

stress/depresi

teknik relaksasi

perilaku kognitif

ketergantungan obat

manajemen amarah

Terapi obat:
-

analgesik dan sedasi

antidepresan
opioid j arang dibutuhkan

3) Nyeri inflamasi
Kontrol inflamasi dan atasi penyebabnya.
Obat anti-inflamasi utama : OAINS, Kortikosteroid.
4) Nyeri mekanis/kompresi
Penyebab yang sering : tumor/kista yang menimbulkan kompresi pada
struktur yang sensitif dengan nyeri, dislokasi, fraktur.
Penanganan efektif: dekompresi dengan pembedahan atau stabilisasi,
bidai, alat bantu.
Medikamentosa kurang efektif. Opioid dapat digunakan untuk
mengatasi nyeri saat terapi lain diaplikasikan.
c. Manajemen Level 1 lainnya :
1) OAINS dapat digunakan untuk nyeri ringan - sedang atau nyeri nonneuropatik.
2) Skor DIRE : digunakan untuk menilai kesesuaian aplikasi terapi Opioid
jangka panjang untuk nyeri kronik non-kanker.9

28

Skor DIRE (Diagnosis, Intractibility, Risk, Efficacy)


Skor

Faktor
Diagnosis

Penjelasan

1 = kondisi kronik ringan dengan temuan objektif minimal


atau tidak adanya diagnosis medis yang pasti. Misalnya :
fibromyalgia, migraine, nyeri punggung tidak spesifik.
2 = kondisi progresif perlahan dengan nyeri sedang atau
kondisi nyeri sedang menetap dengan temuan objektif medium.
Misalnya : nyeri punggung dengan perubahan degenerative
medium, nyeri neuropatik.
3 = kondisi lanjut dengan nyeri berat dan temuan objektif
nyata.
Misalnya : penyakit iskemik vascular berat, neuropati lanjut,
stenosis spinal berat.
Intractability 1 = pemberian terapi minimal dan pasien terlibat secara
(keterlibatan) minimal dalam manajemen nyeri.
2 = beberapa terapi telah dilakukan tetapi pasien tidak
sepenuhnya terlibat dalam manajemen nyeri, atau terdapat
hambatan ( finansial, transportasi, penyakit medis ).
3 = pasien terlibat sepenuhnya dalam manajemen nyeri tetapi
respons terapi tidak adekuat.
Risiko (R ) R = jumlah skor P + K + R + D
Psikologi
1 = disfungsi kepribadian yang berat atau gangguan jiwa yang
mempengaruhi terapi.
Misalnya : gangguan kepribadian, gangguan afek berat.
2 - gangguan jiwa / kepribadian medium/sedang.
Misalnya : depresi, gangguan cemas.
3 = komunikasi baik. Tidak ada disfungsi kepribadian atau
gangguan jiwa yang signifikan
Kesehatan 1 = penggunaan obat akhir-akhir ini, alkohol berlebihan,
penyalahgunaan obat.
2 = medikasi untuk mengatasi stress, atau riwayat remisi
psikofarmaka.
3 = tidak ada riwayat penggunaan obat-obatan.
Reliabilitas 1 = banyak masalah : penyalahgunaan obat, bolos kerja/jadwal
kontrol, komplians buruk.
2 = terkadang mengalami kesulitan dalam komplians, tetapi
secara keseluruhan dapat diandalkan.
3 = sangat dapat diandalkan (medikasi, jadwal kontrol, dan
terapi).
Dukungan 1 = hidup kacau, dukungan keluarga minimal, sedikit teman dekat,
sosial
kehilangan peran dalam kehidupan normal.

29

Skor

Faktor

Efikasi

Skor total

Penjelasan
2 = kurangnya hubungan dengan oral dan kurang berperan
dalam sosial.
3 = keluarga mendukung, hubungan dekat. Terlibat dalam
kerja/sekolah, tidak ada isolasi sosial.
1 - fungsi buruk atau pengurangan nyeri minimal meski
dengan penggunaan dosis obat sedang-tinggi.
2 = fungsi meningkat tetapi kurang efisien (tidak
menggunakan opioid dosis sedang-tinggi).
3 = perbaikan nyeri signifikan, fungsi dan kualitas hidup
tercapai dengan dosis yang stabil.
=D+I+R+E

Keterangan :
Skor 7-13

: tidak sesuai untuk menjalani terapi opioid jangka panjang

Skor 14-21

: sesuai untuk menjalani terapi opioid jangka panjang

3) Intervensi : injeksi spinal, blok saraf, stimulator spinal, infus intratekal,


injeksi intra-sendi, injeksi epidural.
4) Terapi pelengkap / tambahan : akupuntur, herbal,
d. Manajemen Level 2
1) Meliputi rujukan ke tim multidisiplin dalam manajemen nyeri dan
rehabilitasinya atau pembedahan (sebagai ganti stimulator spinal atau infus
intratekal).
2) Indikasi : pasien nyeri kronik yang gagal terapi konservatif/manajemen
level 1.
3) Biasanya rujukan dilakukan setelah 4-8 minggu tidak ada perbaikan
dengan manajemen level 1.
Berikut adalah algoritma asesmen dan manajemen nyeri kronik :

30

Algoritma Asesmen Nyeri Kronik

31

Algoritma Manajemen Nyeri Kronik

32

C. MANAJEMEN NYERI PAD A PEDIATRIK


1. Prevalensi nyeri yang sering dialami oleh anak adalah : sakit kepala kronik,
trauma, sakit perut dan faktor psikologi.
2. Sistem nosiseptif pada anak dapat memberikan respons yang berbeda terhadap
kerusakan jaringan yang sama atau sederajat.
3. Neonatus lebih sensitif terhadap stimulus nyeri.
4. Berikut adalah algoritma manajemen nyeri mendasar pada pediatrik :
Algoritma Manajemen Nyeri Mendasar Pada Pediatrik
1. Asesmen nyeri pada anak

Nilai karakteristik nyeri

Lakukan pemeriksaan medis dan penunjang yang sesuai

Evaluasi kemungkinan adanya keterlibatan mekanisme


nosiseptif dan neuropatik

Kajilah faktor yang mempengaruhi nyeri pada anak

:1:
2. Diagnosis penyebab primer dan sekunder

Komponen nosiseptif dan neuropatik yang ada saat ini

Kumpulkan gejala-gejala fisik yang ada

Pikirkan faktor emosional, kognitif, dan perilaku

3. Pilih terapi yang sesuai

Obat
Analgesik
Analgesik adjuvant
anestesi

Non-obat
Kognitif
Fisik
i perilaku

33

4. Impiementasi rencana manajemen nyeri

Berikan umpan balik mengenai penyebab dan faktor yang mempengaruhi nyeri kepada orang tua
(dan anak)

Berikan rencana manajemen yang rasional dan terintegrasi

Asesmen ulang nyeri pada anak secara rutin

Evaluasi efektifitas rencana manajemen nyeri

5. Pemberian analgesik:
a. By the ladder5 : pemberian analgesik secara bertahap sesuai dengan level
nyeri anak (ringan, sedang, berat).
Awalnya, berikan analgesik ringan - sedang (level 1).
Jika nyeri menetap dengan pemberian analgesik level 1, naiklah ke level 2
(pemberian analgesik yang lebih poten).
Pada pasien yang mendapat terapi opioid, pemberian parasetamol tetap diaplikasikan
sebagai analgesik adjuvant.
* Analgesik adjuvant:

Merupakan obat yang memiliki indikasi primer bukan untuk nyeri


tetapi dapat berefek analgesik dalam kondisi tertentu.

Pada anak dengan nyeri neuropatik, dapat diberikan analgesik adjuvant


sebagai level 1.

Analgesik adjuvant ini lebih spesifik dan efektif untuk mengatasi nyeri
neuropatik.

Kategori:
- Analgesik multi-tujuan : antidepresan, agonis adrenergic alfa-2, Kortikosteroid,
anestesi topical.
Analgesik untuk nyeri neuropatik : antidepresan, antikonvulsan,
agonis GABA, anestesi oral-lokal.
Analgesik untuk nyeri musculoskeletal :

relaksan otot,

34

Benzodiazepine, inhibitor osteoklas, radiofarmaka.


b. By the clock5 : mengacu pada waktu pemberian analgesik.
Pemberian haruslah teratur, misalnya : setiap 4 - 6 jam (disesuaikan dengan
masa kerja obat dan derajat keparahan nyeri pasien), tidak boleh pm (jika
perlu) kecuali episode nyeri pasien benar-benar intermiten dan tidak dapat
diprediksi.
c. By the child*: mengacu pada peemberian analgesik yang sesuai dengan
kondisi masing-masing individu.
Lakukan monitor dan asesmen nyeri secara teratur.
Sesuaikan dosis analgesik jika perlu.
d. By the mouth :mengacu pada jalur pemberian oral.
Obat harus diberikan melalui jalur yang paling sederhana, tidak invasive,
dan efektif; biasanya per oral.
Karena pasien takut dengan jarum suntik, pasien dapat menyangkal bahwa
mereka mengalami nyeri atau tidak memerlukan pengobatan.
*

Untuk mendapatkan efek analgesik yang cepat dan langsung, pemberian


parenteral terkadang merupakan jalur yang paling efisien.

Opioid kurang poten jika diberikan per oral.


* Sebisa mungkin jangan memberikan obat via intramuscular karena nyeri
dan absorbsi obat tidak dapat diandalkan.
Infus kontinu memiliki keuntungan yang lebih dibandingkan i.m, i.v, dan
subkutan intermiten, yaitu :

tidak nyeri, mencegah terjadinya

penundaan/keterlambatan pemberian obat, memberikan control nyeri yang


kontinu pada anak.
Indikasi : pasien nyeri di mana pemberian per oral dan opioid parenteral
intermiten tidak memberikan hasil yang memuaskan, adanya muntah hebat
(tidak dapat memberikan obat per oral).
e. Analgesik dan anestesi regional: epidural atau spinal
Sangat berguna untuk anak dengan nyeri kanker stadium lanjut yang sulit
diatasi dengan terapi konservatif.

35

Harus dipantau dengan baik.


Berikan edukasi dan pelatihan kepada staf, ketersediaan segera obatobatan dan peralatan resusitasi, dan pencatatan akurat mengenai tanda
vital/skor nyeri.
f. Manajemen nyeri kronik
Biasanya memiliki penyebab multipel, dapat melibatkan komponen
nosiseptif dan neuropatik.
Lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik menyeluruh.
Pemeriksaan penunjang yang sesuai.
Evaluasi faktor yang mempengaruhi.
Program terapi : kombinasi terapi obat dan non-obat (kognitif, fisik, dan
perilaku).
Lakukan pendekatan multidisiplin.
g. Berikut adalah tabel obat-obatan non-opioid yang sering digunakan untuk
anak:
Obat-obatan Non-opioid
Obat
Dosis
Keterangan
Parasetamol 10-15 mg/kgBB oral, Efek
antiinflamasi
kecil,
efek
setiap 4-6 jam
gastrointestinal dan hematologi minimal
Ibuprofen
5-10 mg/kgBB oral,
setiap 6-8 jam
Efek antiinflamasi. Hati-hati pada pasien
dengan gangguan hepar/renal, riwayat
perdarahan gastrointestinal atau hipertensi.
Naproksen
10-20 mg/kgBB/hari Efek antiinflamasi. Hati-hati pada pasien
oral, terbagi dalam 2 dengan disfungsi renal. Dosis maksimal 1
dosis
g/hari.
Diklofenak 1 mg/kgBB oral, setiap 8 Efek antiinflamasi. Efek samping sama
- 12 jam
dengan ibuprofen dan naproksen. Dosis
maksimal 50 mg/kali.
h. Panduan penggunaan Opioid pada anak :
Pilih rute yang paling sesuai. Untuk pemberian jangka panjang, pilihlah
jalur oral.
Pada penggunaan infus kontinu i.v, sediakan obat Opioid kerja singkat
dengan dosis 50% - 200% dari dosis infus per jam kontinu pm.

36

Jika diperlukan > 6 kali opioid kerja singkat pm dalam 24 jam, naikkan
dosis infus i.v per-jam kontinu sejumlah : total dosis Opioid pm yang
diberikan dalam 24 jam dibagi 24. Altematif lainnya adalah dengan
menaikkan kecepatan infus sebesar 50%.
Pilih Opioid yang sesuai dan dosisnya.
Jika efek analgesik tidak adekuat dan tidak ada toksisitas , tingkatkan dosis
sebesar 50%.
Saat tapering-off atau penghentian obat : pada semua pasien yang
menerima opioid > 1 minggu, harus dilakukan tapering-off (iintuk
menghindari gejala withdrawal). Kurangi dosis 50% selama 2 hari, lalu
kurangi sebesar 25% setiap 2 hari. Jika dosis ekuivalen dengan dosis
rnorfrn oral (0,6 mg/kgBB/hari), opioid dapat dihentikan.
Meperidin tidak boleh digunakan untuk jangka lama karena dapat
terakumulasi dan menimbulkan mioklonus, hiper-refleks, dan kejang.
i. Terapi alternatif/tambahan:
Konseling
Manipulasi chiropractic
Herbal
6. Terapi non-obat
a. Terapi kognitif: merupakan terapi yang paling bermanfaat dan memiliki efek
yang besar dalam manajemen nyeri non-obat untuk anak
b. Distraksi terhadap nyeri dengan mengalihkan atensi ke hal lain seperti musik,
cahaya, warna, mainan, permen, komputer, permainan, film, dan sebagainya.
c. Terapi

perilaku

bertujuan

untuk

mengurangi

perilaku

yang

dapat

meningkatkan nyeri dan meningkatkan perilaku yang dapat menurunkan nyeri.


d. Terapi relaksasi : dapat bempa mengepalkan dan mengendurkan jari tangan,
menggerakkan kaki sesuai irama, menarik napas dalam.

37

Terapi Non-Obat
Kognitif

Informasi
Filihan dan kontrol
Distraksi dan atensi
Hipnosis
Psikoterapi

Perilaku
latihan
terapi relaksasi
umpan balik positif
modifikasi gaya
hidup/perilaku

Fisik

pijat
flsioterapi
stimulasi termal
stimulasi sensorik
akupuntur
TENS (transcutaneous
electrical nerve stimulation)

D. MANAJEMEN NYERIPADA KELOMPOK USIA LANJUT (GERIATRI)


1. Lanjut usia (lansia) didefmisikan sebagai orang-orang yang berusia > 65 tahun.
2. Pada lansia, prevalensi nyeri dapat meningkat hingga dua kali lipatnya
dibandingkan dewasa muda.
3. Penyakit yang sering menyebabkan nyeri pada lansia adalah artritis, kanker,
neuralgia trigeminal, neuralgia pasca-herpetik, reumatika polimialgia, dan
penyakit degenerative.
4. Lokasi yang sering mengalami nyeri : sendi utama/penyangga tubuh, punggung,
tungkai bawah, dan kaki.
5. Alasan seringnya terjadi manajemen nyeri yang buruk adalah :
a. Kurangnya pelatihan untuk dokter mengenai manajemen nyeri pada geriatrik.
b. Asesmen nyeri yang tidak adekuat.
c. Keengganan dokter untuk meresepkan Opioid.
6. Asesmen nyeri pada geriatric yang valid, reliabel, dan dapat diaplikasikan
menggunakan Functional Pain Scale seperti di bawah ini:
7.

38

Functional Pain Scale


Keterangan
Skala
nyeri
0
Tidak nyeri
1
Dapat ditoleransi (aktivitas tidak terganggu)
2
Dapat ditoleransi (beberapa aktivitas sedikit terganggu)
3
Tidak dapat ditoleransi (tetapi masih dapat menggunakan telepon,
menonton TV, atau membaca)
4
Tidak dapat ditoleransi (tidak dapat menggunakan telepon, menonton
TV, atau membaca)
5
Tidak dapat ditoleransi (dan tidak dapat berbicara karena nyeri)
*Skor normal / yang diinginkan : 0 - 2

7. Intervensi non-farmakologi:
a. Terapi termal : pemberian pendinginan atau pemanasan di area nosiseptif
untuk menginduksi pelepasan Opioid endogen.
b. Stimulasi listrik pada saraf transkutan/perkutan, dan akupuntur.
c. Blok saraf dan radiasi area tumor.
d. Intervensi medis pelengkap/tambahan atau altematif: terapi relaksasi, umpan
balik positif, hipnosis.
e. Fisioterapi dan terapi okupasi.
8. Intervensi farmakologi (tekankan pada keamanan pasien):
a. Non-opioid : OAINS, Parasetamol, COX-2 inhibitor, antidepresan trisiklik,
Amitriptilin, Ansiolitik.
b. Opioid:
Risiko adiksi rendah jika digunakan untuk nyeri akut (jangka pendek).
Hidrasi yang cukup dan konsumsi seratfbulking agent untuk mencegah
konstipasi (preparat Senna, Sorbitol).
B erikan opioid j angka pendek.
* Dosis rutin dan teratur memberikan efek analgesik yang lebih baik daripada
pemberian intermiten.
Mulailah dengan dosis rendah, lalu naikkan perlahan.
Jika efek analgesik masih kurang adekuat, dapat menaikkan Opioid sebesar
50 - 100% dari dosis semula.

39

c. Analgesik adjuvant:
OAINS dan Amfetamin : meningkatkan toleransi Opioid dan resolusi
nyeri.
Nortriptilin, Klonazepam, Karbamazepin, Fenitoin, Gabapentin,
Tramadol, Mexiletine : efektif untuk nyeri neuropatik.
Antikonvulsan : untuk neuralgia trigeminal.
Gabapentin : neuralgia pasca-herpetik 1 - 3 x 100 mg sehari dan dapat
ditingkatkan menjadi 300 mg/hari.
9. Risiko efek samping OAINS meningkat pada lansia. Insiden perdarahan
gastrointestinal meningkat hampir dua kali lipat pada pasien > 65 tahun.
ll.Semua fase farmakokinetik dipengaruhi oleh penuaan, termasuk absorbsi, distribusi,
metabolisme, dan eliminasi.
12. Pasien lansia cenderung memerlukan pengurangan dosis analgesik. Absorbs
sering tidak teratur karena adanya penundaan waktu transit atau sindrom
malabsorbsi.
13. Ambang batas nyeri sedikit meningkat pada lansia.
14. Lebih disarankan menggunakan obat dengan waktu paruh yang lebih singkat.
15. Lakukan monitor ketat jika mengubah atau meningkatkan dosis pengobatan.
16. Efek samping penggunaan Opioid yang paling sering dialami: konstipasi.
17. Penyebab tersering timbulnya efek samping obat : polifarmasi (misalnya pasien
mengkonsumsi analgesik, antidepresan, dan sedasi secara rutin harian).
18. Prinsip dasar terapi farmakologi : mulailah dengan dosis rendah, lalu naikkan
perlahan hingga tercapai dosis yang diinginkan.
19. Nyeri yang tidak dikontrol dengan baik dapat mengakibatkan:
a. Penurunan/keterbatasan mobilitas. Pada akhimya dapat mengarah ke depresi
karena pasien frustasi dengan keterbatasan mobilitasnya dan menurunnya
kemampuan fimgsional.
b. Dapat memmmkan sosialisasi, gangguan tidur, bahkan dapat menurunkan
imunitas tubuh.
c. Kontrol nyeri yang tidak adekuat dapat menjadi penyebab munculnya agitasi

40

dan gelisah.
d. Dokter cenderung untuk meresepkan obat-obatan yang lebih banyak.
Polifarmasi dapat meningkatkan risiko jatuh dan delirium.
20. Beberapa obat yang sebaiknya tidak digunakan (dihindari) pada lansia :
a. OAINS : Indometasin dan Piroksikam (waktu paruh yang panjang dan efek
samping gastrointestinal lebih besar).
b. Opioid : Pentazocine, Butorphanol (merupakan campuran antagonis dan
agonis, cenderung memproduksi efek psikotomimetik pada lansia); Metadon,
Levorphanol (waktu paruh panjang).
c. Propoxyphene : neurotoksik.
d. Antidepresan : tertiary amine tricyclics (efek samping antikolinergik).
21. Semua pasien yang mengkonsumsi opioid, sebelumnya harus diberikan kombinasi
preparat senna dan obat pelunak feses (bulking agents).
22. Pemilihan analgesik : menggunakan 3 - step ladder WHO (sama dengan
manajemen pada nyeri akut).
a. Nyeri ringan - sedang : analgesik non-opioid.
b. Nyeri sedang : opioid minor, dapat dikombinasikan dnegan OAINS dan
analgesik adjuvant.
c. Nyeri berat: opioid poten.
23. Satu-satunya perbedaan dalam terapi analgesik ini adalah penyesuaian dosis dan
hati-hati dalam memberikan obat kombinasi.

41

BAB VIII
DOKUMENTASI
Asesmen nyeri di rawat jalan didokumentasikan dalam Medical Record Electronic
(MRE) Rawat Jalan*
Asesmen nyeri di rawat inap didokumentasikan dalam rekam medis pasien rawat inap.
Catatan perkembangan pasien didokumentasikan dalam lembar Catatan
Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT).
Pemberian edukasi/penyuluhan didokumentasikan di formulir lembar edukasi kepada
pasien dan keluarga pasien terintegrasi di status rekam medis pasien.

42

BAB VIII
PENUTUP
Panduan assessmen nyeri dan manajemen nyeri dibuat dengan tujuan sebagai pedoman
para tenaga kesehatan RS Ratu Zalecha agar dalam proses assesmen pasien dapat sesuai
dengan panduan yang berlaku sehingga dengan proses assemen yang efektif akan
menghasilkan keputusan pelayanan pengobatan pasien yangs esuai dengan kebutuhan
pengobatan pasien.
Revisi sebagai bentuk perbaikan dan penyempurnaan akan dilakukan secara periodic,
sehingga panduan ini dapat disesuaikan dengan keadaan dan kondisi perkembangan RS
Ditetapkandi

Tanggal

: .

Tepattanggal

Direktur,
RS Ratu Zalecha .

43

KEPUSTAKAAN
http://cQnsultgerirn.org/uploads/File/trythis/trv this 7.pdf . Pain assessment for older
adults.
RNAO (2013). Assessment and Management of Pain. Third Edition.
http://www. caresearch. com. au/caresearch/ClinicalPractice/Phvsical/Pain/Assessme
ntTools. Assessment Tools.
httv://pain. about com/od/testinsdiasnosis/is/vain-scales . Pain scales and Pain
Assessment.
www. dhhs. tas. gov. au/_.. ./Pain Management_Final211209 PCSSubComm... Pain Management.
www.asahq.ors. Practice Guidelines for Chronic Pain Management.
www. suideline. sov/content. aspx?id=9744. National Guideline Clearinghouse / Pain
Management Guidelines.
www. ncbi. nlm. nik gov/.. Evidence-Based Assessment ofPediatric Pain.
www.yainmed. ors. American Academy of Pain Medicine - Clinical Guidelines.
www.rcn.org.uk>... Recognition & Assessment of Acute Pain in Children.
www.who.int/medicines/areas/qualitv safety/suide on pain/en/.
Treatmen
t
Guidelines on Pain.
www. viha. ca/NR/rdonlyres/...2D23.../PrinciplesOfPainAssessment pdf. Princciples
of Pain Assessment.

44

LAMPIRAN :
FARMAKOLOGIOBAT ANALGESIK
1. Lidokain tempel (Lidocainepatch ) 5%
a. Berisi Lidokain 5% (700 mg).
b. Mekanisme kerja : memblok aktivitas abnormal di kanal natrium neuronal.
c. Memberikan efek analgesik yang cukup baik ke jaringan lokal, tanpa adanya efek
anestesi (baal), bekerja secara perifer sehingga tidak ada efek samping sistemik.
d. Indikasi : sangat baik untuk nyeri neuropatik (misalnya neuralgia pasca-herpetik,
neuropati diabetik, neuralgia pasca-pembedahan), nyeri punggung bawah, nyeri
miofasial, osteoarthritis.
e. Efek samping : iritasi kulit ringan pada tempat menempelnya Lidokain.
f. Dosis dan cara penggunaan : dapat memakai hingga 3 patches di area yang paling
nyeri (kulit harus intak, tidak boleh ada luka terbuka), dipakai selama <12 jam
dalam periode 24 jam.
2. Eutectic Mixture of Local Anesthetics (EMLA)
a. Mengandung Lidokain 2,5% dan Prilokain 2,5%
b. Indikasi : anestesi topical yang diaplikasikan pada kulit yang intak dan pada
membrane mukosa genital untuk pembedahan minor superfisial dan sebagai premedikasi untuk anestesi infiltrasi.
c. Mekanisme kerja : efek anestesi (baal) dengan memblok total kanal natrium saraf
sensorik.
d. Onset kerjanya bergantung pada jumlah krim yang diberikan. Efek anestesia lokal
pada kulit bertahan selama 2-3 jam dengan ditutupi kassa oklusif dan menetap
selama 1-2 jam setelah kassa dilepas.
e. Kontraindikasi: methemoglobinemia idiopatik atau kongenital.

45

f. Dosis dan cara penggunaan : oleskan krim EMLA dengan tebal pada kulit dan
tutuplah dengan kassa oklusif.
3. Parasetamol
a. Efek analgesik untuk nyeri ringan-sedang dan anti-piretik. Dapat dikombinasikan
dengan opioid untuk memperoleh efek analgesik yang lebih besar.
b. Dosis : 10 mg/kgBB/kali dengan pemberian 3-4 kali sehari. Untuk dewasa dapat
diberikan dosis 3-4 kali 500 mg perhari.
4. Obat Anti-lnflamasi Non-Steroid (OAINS)
a. Efek analgesik pada nyeri akut dan kronik dengan intensitas ringan-sedang, antipiretik.
b. Kontraindikasi : pasien dengan Triad Franklin (polip hidung, angioedema, dan
urtikaria) karena sering terjadi reaksi anafilaktoid.
c. Efek samping : gastrointestinal (erosi/ulkus gaster), disfungsi renal, peningkatan
enzim hati.
d. Ketorolak:
Merupakan satu-satunya OAINS yang tersedia untuk parenteral. Efektif untuk
nyeri sedang - berat.
Bermanfaat jika terdapat kntraindikasi opioid atau dikombinasikan dengan
opioid untuk mendapat efek sinergistik dan meminimalisasi efek samping
opioid (depresi pemapasan, sedasi, stasis gastrointestinal). Sangat baik untuk
terapi multi-analgesik.
5. Efek Analgesik pada Antidepresan
a. Mekanisme keija : memblok pengambilan kembali norepinefrin dan serotonin
sehingga meningkatkan efek neurotransmitter tersebut dan meningkatkan aktivasi
neuron inhibisi nosiseptif.
b. Indikasi: nyeri neuropatik (neuropati DM, neuralgia pasca-herpetik, cedera saraf
perifer, nyeri sentral).
c. Contoh obat yang sering dipakai : Amitriptilin, Imipramine, Despiramin : efek
antinosiseptif perifer. Dosis : 50 - 300 mg, sekali sehari.

46

6. Anti-konvulsan
a. Carbamazepine : efektif untuk nyeri neuropatik. Efek samping : somnolen,
gangguan berjalan, pusing. Dosis : 400 - 1800 mg/hari (2-3 kali perhari). Mulai
dengan dosis kecil (2 x 100 mg), ditingkatkan perminggu hingga dosis efektif.
b. Gabapentin : merupakan obat pilihan utama dalam mengobati nyeri neuropatik.
Efek samping minimal dan ditoleransi dengan baik. Dosis : 100 - 4800 mg/hari
(3-4 kali sehari).
7. Antagonis kanal natrium
a. Indikasi: nyeri neuropatik dan pasca-operasi.
b. Lidokain : dosis 2 mg/kgBB selama 20 menit, lalu dilanjutkan dengan 1-3
mg/kgBB/jam titrasi.
c. Prokain : 4 - 6,5 mg/kgBB/hari.
8. Antagonis kanal kalsium
a. Ziconotide : merupakan anatagonis kanal kalsium yang paling efektif sebagai
ahalgesik. Dosis : 1 3 ug/hari. Efek samping : pusing, mual, nistagmus,
ketidakseimbangan berjalan, konstipasi. Efek samping ini bergantung dosis dan
reversibel jika dosis dikurangi atau obat dihentikan.
b. Nimodipin, Verapamil : mengobati migraine dan sakit kepala kronik. Menurunkan
kebutuhan morfm pada pasien kanker yang menggunakan eskalasi dosis morfm.
9. Tramadol
a. Merupakan analgesik yang lebih poten daripada OAINS oral, dengan efek
samping yang lebih sedikit/ringan. Berefek sinergistik dengan medikasi OAINS.
b. Indikasi : Efektif untuk nyeri akut dan kronik intensitas sedang (nyeri kanker,
osteoarthritis, nyeri punggung bawahm neuropati DM, fibromyalgia, neuralgia
pasca-herpetik, nyeri pasca-operasi).
c. Efek samping : pusing, mual, muntah, letargi, konstipasi.
d. Jalur pemberian : intravena, epidural, rektal, dan oral.
e. Dosis Tramadol oral: 3 - 4 kali 50- 100 mg (perhari). Dosis maksimal: 400 mg
dalam 24 jam.

47

f. Titrasi : terbukti meningkatkan toleransi pasien terhadap medikasi, terutama


digunakan pada pasien nyeri kronik dengan riwayat toleransi yang buruk terhadap
pengobatan atau memiliki risiko tinggi jatuh.
Jadwal Titrasi Tramadol
Jadwal Titrasi
Protokol Dosis Inisial
Direkomendasikan
Titrasi
untuk
Lanjutusia
Titrasi 10 4 x 50 mg
Risiko jatuh
hari
selama 3 hari
Sensitivitas
x 50 mg selama 3 hari.
medikasi
Naikkan menjadi 3 x 50 mg
selama 3 hari.
Lanjutkan dengan 4 x 50 mg.
Dapat dinaikkan sampai tercapai
efek analgesik yang diinginkan.
Lanjut usia
Titrasi 16 4 x 25 mg
Risiko jatuh
hari
selama 3 hari
Sensitivitas
medikasi
x 25 mg selama 3 hari.
Naikkan menjadi 3 x 25 mg
selama 3 hari.
Naikkan menjadi 4 x 25 mg
selama 3 hari.
Naikkan menjadi 2 x 50 mg dan 2
x 25 mg selama 3 hari.
Naikkan menjadi 4 x 50 mg.
Dapat dinaikkan sampai tercapai
efek analgesik yang diinginkan.
10. Opioid
a. Merupakan analgesik poten (tergantung-dosis) dan efeknya dapat ditiadakan oleh
Nalokson.
b. Contoh opioid yang sering digunakan : Morfin, Sufentanil, Meperidin.
c. Dosis opioid disesuaikan pada setiap individu, gunakanlah titrasi.
d. Adiksi terhadap opioid sangat jarang terjadi bila digunakan untuk penatalaksanaan
nyeri akut.
e. Efek samping:
Depresi pemapasan, dapat terjadi pada :
Overdosis : pemberian dosis besar, akumulasi akibat pemberian secara

48

infus, opioid long acting.


Pemberian sedasi bersamaan (Benzodiazepin, antihistamin, antiemetik
tertentu).
-

Adanya kondisi tertentu : gangguan elektrolit, hipovolemia, uremia,


gangguan respirasi dan peningkatan tekanan intrakranial.
Obstructive sleep apnoes atau obstruksi jalan nafas intermiten.

Sedasi: adalah indikator yang baik untuk dan dipantau dengan menggunakan
skor sedasi, yaitu:
0

= sadar penuh

= sedasi ringan, kadangmengantuk,mudah dibangunkan

= sedasi sedang, sering secara konstan mengantuk, mudah


dibangunkan

= sedasi berat, somnolen, sukardibangunkan

= tidur normal

Sistem Saraf Pusat:


Euforia, halusinasi, miosis, kekakukan otot
Pemakai MAOI: pemberian petidin dapat menimbulkan koma

Toksisitas metabolit:
-

Petidin (Norpetidin) menimbulkan tremor, twitching, mioklonus


multifokal, kejang.
Petidin tidak boleh digunakan lebih dari 72 jam untuk penatalaksanaan
nyeri pasca-bedah.
Pemberian Morfin kronik : menimbulkan gangguan fimgsi ginjal, terutama
pada pasien usia > 70 tahun.

Efek kardiovaskular:
Tergantung jenis, dosis, dan cara pemberian; status volume intravascular;
serta level aktivitas simpatetik.
Morfin menimbulkan vasodilatasi.
Petidin menimbulkan takikardi.

49

Gastrointestinal:
Mual, muntah. Terapi untuk mual dan muntah : hidrasi dan pantau tekanan
darah dengan adekuat, hindari pergerakan berlebihan pasca-bedah, atasi
kecemasan pasien, obat antiemetic.
Perbandingan Obat-Obatan Anti-Emetik
Kategori
Metoklopra Droperidol
mid
Butirofenon
Durasi (jam)

Ondansetro
n

8-24

Proklorpe
r
azin
6

4-6
(dosis rendah) 24
(dosis tinggi)
Efek samping:
Ekstrapiramidal
Anti-kolinergik
Sedasi

Dosis (mg)
Frekuensi
Jalur pemberian

++

++

+
10

+
0,25-0,5
Tiap 4-6 jam

4
Tiap 12 jam

+
12,5

i.v, i.m

Oral, i.v

Tiap 4-6 jam


Oral, i.v, i.m

Tiap 6-8 jam


Oral, i.m

f. Pemberian Oral:
Sama efektifnya dengan pemberian parenteral pada dosis yang sesuai.
Digimakan segera setelah pasien dapat mentoleransi medikasi oral.
g. Injeksi intramuscular:
Merupakan rute parenteral standar yang sering digunakan.
Namun, injeksi menimbulkan nyeri dan efektifitas penyerapannya tidak dapat
diandalkan.
Hindari pemberian via intramuscular sebisa mungkin.
h. Injeksi subkutan
i.

Injeksi intravena:
Pilihan perenteral utama setelah pembedahan major.

50

j.

Dapat digunakan sebagai bolus atau pemberian terus-menerus (melalui infus).


Terdapat risiko depresi pemapasan pada pemberian yang tidak sesuai dosis.
Injeksi supraspinal:

Lokasi mikroinjeksi terbaik : mesencephalic periaqueductal gray (PAG).

Mekanisme keija : memblok respons nosiseptif di otak.

Opioid intraserebroventrikular digunakan sebagai pereda nyeri pada pasien


kanker.

k. Injeksi spinal (epidural, intratekal):

Secara selektif mengurangi keluamya neurotransmitter di neuron komu


dorsalis spinal

l.

Sangat efektif sebagai analgesik.

Harus dipantau dengan ketat.

Injeksi perifer :

Pemberian opioid secara langsung ke saraf perifer menimbulkan efek anestesi


lokal (pada konsentrasi tinggi).

Sering digunakan pada : sendi lutut yang mengalami inflamasi.

51

ASSESSMENT MATEKNITAS RS.RATU ZALECHA


PENCEGAHAN RISIKO TtNGGl

DMK5.1

revisl 2/201J

Pemeriksaan Genitourinaria & Ginekoiogi

Normal
Poliuri
Menstruasi
Perineum
Genetalia
Catatan:

Normal VT 0:

Bekas luka Episiotomi


9ff: ........ ...... %

............. cm

Pemeriksaan Neuroiogi

Hematuri P

P Folley cateter AnUri

2
1
Verbal

Gerak

Ketuban Wama

ft ....

P Oedem ^ Beium

ketuban

Kejang Parese
kiri Pupil
Nilai pasien
anisokor

Disorientasi/bingung
Jawaban tidak sesuai

2
1

Suara tidak dimengerti/erangan/teriakan

Meconial

Gelisah ^
Tetraplegi jlj
Tremor Jz Koma
Total skor: 3-15
Skor pasien:

13-15
(ringan) 9-12
(sedang) P
3-8(berat)

Tidak merespon
Orientasi baik

Pecah

pecah P iernih

Terbuka saat dipanggii


Terbuka terhadap rangsang nyeri

4
3

Tidak merespon
Mengikuti perintah
Melokatisir nyeri

Menarik diri dari rangsang nyeri

Fleksi abnormal anggota gerak terhadap rangsangan

2
1

Disuria
P Menapouse

P Lochea ....................

6
5

abnormal

Oliguri

Vertigo
Normal
Sakit kepala Parese
kanan Parapiegi
bawah Samnolen
Afasia
Pusing
Glasgow Coma Scale Dewasa
Parapiegi atas
Tetraparese
Mata
4 Terbuka spontan
3

inkontinensia P Sekret

Ekstensi abnormal anggota gerak terhadap rangsangan


Tidak merespon
Total nilai

Pemeriksaan Muskuloskletal dan integumen


Turgor
Warna kulit
Akrat
Kondisi luka

Jelek

__ Baik _ O CD
Kemerahan

Sianosis
Panas

Hangat

Hiperpigmentasi
Dingin

Ikterik
Kering

Ada, sebutkan.

8asah P Tidak ada


P Terdapat fraktur, sebutkan;..

P Terdapat edema, sebutkan.,.


Pemeriksaan Norton Scale (Resiko kulit)
Kondisi fisik

Sangat buruk

Buruk

Cukup baik

4 Baik

Kondisi mental

Tidak sadar

Bingung

Apatis

4 Komposmentis

Di tempat tidur

Di kursi

Jalan dgn bantuan

4 Dapat pindah

Tidak bergerak
Selalu ngompol+feses

Sangat terbatas
Sering ngompol

3
3

Agak terbatas
Kadang ngompol

4 Baik
4 Tidak ngompol

Aktifitas M obi
litas
inkontinensia

1
2
Total skor: kondisi fisik+kondisi mental+aktifitas+mobilitas+inkontinensia =.
Pemeriksaan Aktifitas Harian Dasar (ADL)
Makan/minum
0 Mandiri
IVlflilUl

Memakai baju BAB/BAK


Naik turun tempat tidur

nnarrcm i
0 Mandiri
0 Mandiri
U

0 Mandiri

1
i

1
1
1
Total nilai ADL

52
0

100% dibantu

5
02
52
0
52
0

100% dibantu

iUO?b uiodntu
100% dibantu
100% dibantu

Nilai pasien

DMK5.
1revisi 2/2913

ASSESSMENT MATERN1TAS RS.RATU ZALECHA


3

Nama Pasien :

No. RM :

Pemeriksaan Resiko Jatuh Morse


Faktor

Skata

Point

Riwayat jatuh

Ya
Tidak

25

Diagnosa medis (> 2


dtagnosa medis)

Ya
Tidak

15

Alat bantu

Perabot

30

Tongkat,kruk,walker

15

0
0

Tidak ada/kursi roda/perawat/tirah baring

Terpasang infus

Ya
Tidak

20
0

Gaya berjalan

Terganggu
Lemah

20
10

Normal/tirah baring/imobiiisasi
Sering lupa/respon tdk sesuai perintah

0
15

Orientasi baik terhadap din sendiri

Status mental

Skor Pasien

(Criteria resiko jatuh : Rendah, Sedang, Tinggi


Catatan:
Resiko tinggi: > 45, Resiko sedang: 25-44 , Resiko rendah: 0-24
Pemertksaan Nyeri

Total = .............

Wong Baker Pain Scala


Skala nyeri..........
; ( 5#"); (W )

(V1; :

i (J^) \ ( %? '):
4 r fl " "
r^.. .................. ,
Agiiin :
0 2 iidak safe.it
Mer.ggattggi.i,

St -iik it ftakit :
fneriggaitgjgu i; akis
i i JRHM i iyt*i i ______ vitas
Kejang
Sifat nyeri Kualitas

Nyeri tajam

nyeri Faktor pemberat Cahaya

''"s "' ' to


Sarigat Tak r/i*Kgrigu :
TcrtahaiikAa

Konstan

Intermiten

Nyeri bakar

Nyeri dalam

Gerakan

Berbaring

Makan
Faktor peringan
Sunyi
Obat-obat dirumah (daftar obQ dosis, frekuensi, terakhir Oi minum)

Dingin

Nama obat:

Kebutuhan informast

Tanda Tangan dan Nama Terang

Lainnya

Lainnya

Lainnya

ASSESSMENT MEDICAL BEDAH RS.RATU ZALECHA


Hal, 3

Hal. 1

rcvisi 2/2013

Nama :

No. RM :

Tanggal:
Jam :
Kondisi saat masuk
Jaian
Asal pasien
Poll
Suhu..... *C Nadi.................. mnt TD .....

W!B
Tempat tidur
Kursi roda
1GD
Kamaroperasi
..... mmHg Nafas........................ x/mnt

Lainnya

Diagnosa medis : ............... .......


DPJP :..........................................
Keiuhan utama : ........................
Riwayat penyakit sekarang: ....
Alergi
Alat bantu yang digunakan

Tidak ada
Tidak ada

Ada
Jenis reaksi:.........
Ada, sebutkan ...

Riwayat penyakit pasien


Merokok

Tidak ada
Ya

Ada, sebutkan...
Tidak

Riwayat penyakit Keiuarga


Imunisasi

Tidak ada
Belum

Ada, sebutkan...
Sudah, sebutkan

Kebiasaan beribadah

Selalu

Kadang-kadang

Persepsi terhadap sakitnya


Status pernikahan
Keiuarga
Tempat tinggal
Aktifitas

d Cobaan Allah d Hukuman


Menikah
Belum menikah
Tinggal serumah Tinggal sendiri
Rumah
Panti asuhan
Mandiri
Tongkat

Q Lainnya.. .............
Duda/janda

Curiga penganiayaan
Status emosional
Informasi di dapat dari

Ya
Tidak
Kooperatif Cemas
Pasien
Keiuarga

Jenis:.................

Jumlah/hari: .......

Tidak pernah

Lainnya ...............
Kursi roda
OTirah baring
Depresi
Ingin mengakhiri
Lainnya ...............

Bagiao 3: Pemeriksaan fisik


Pemeriksaan Kepala dan leher ____
Mata

Norma!

Cowong

Perdarahan Sklera pucat Konjungtiva ikterus Sekret

Hidung

Normal

Perdarahan

Trismus Lidah kotor Perdarahan

Mulut

Normal

Stomatitis

Serumen Benda asing

Telinga

Norma!

Perdarahan

Peningkatan JVP Pembesaran kelenjar tyroid

Leher

Normal

Kaku kuduk

Normal

Batuk

Nyeri saat nafas

Irama tidak teratur

Sesak
Asimetris

Funnel chest
Terdapat wheezing

Pigeons chest
Terdapat ronchi

Barrel chest
Hemoptisis

Catatan :
Pemeriksaan Paru

Catatan:
Pemeriksaan iantung

Normal

Takikardi

Nyeri dad a
Bradikardi

Edema
Ireguier

Fatique
Ortopnea

CRT > 3 detik

Normal

Muntah

Anoreksia

Disfagia

Diare

Mual
Kaku

Kembung
Konstipasi
Tidak ada bising usus

Catatan :

Catatan :

Distensi
Hiperperistaitik
Nyeri tekan bagian ........................

Pemeriksaan Status Nutrisi (MUST)


PemerlksaanGenitourinaria & Ginekoiogi
Hematuri
TB ....... .cm Normal

Inkontinensia

Disuria

o
Foliey cateter
Anuri
Oliguri
2
Sekret abnormal
Skor
1
Catatan:
>20 MUHAMMADIYAH
18,5
- 20
<18,5
ASSESSMENT MEDICAL BEDAH RS.
LAMONGAN
Persentase kehilangan
1
NormalBB
Vertigo Sakit
o kepala
2Kejang
Pemeriksaan Neurqiogi
Pusing Pupil anisokor <5%
Tremor
5-10% 1
>10% 2
Gelisah

o
Komposmentis Apatis
Samnolen
Kesadaran
Sopor
Efek akut akibat penyakit

Poliuri

Skor total:

MenstruasI
0 : Resiko rendah
1-2 : Resiko
sedang
DMK
5.1
> 2 : Resiko berat

Glasgow Coma Scale Dewasa


Nilai
0 : tidak ada gangguan dalam asupan makanan
Mata
4 Terbuka spontan
1 : asupan makan kurang/ tidak ada asupan makan selama 2-5 hari
3 Terbuka saat dipanggil
2 : asupan makan kurang/ tidak ada asupan makan selama > 5 hari
Terbuka terhadap rangsang nyeri
Verbal

Gerak

2
1 Tidak merespon
5 Orientasi baik
4 Disorientasi/bingung
3 Jawaban tidak sesuai

2 Suara tidak dimengerti/erangan/teriakan


1 Tidak merespon
6 Mengikuti perintah
5 Melokaiisir nyeri
4 Menarik diri dari rangsang nyeri
3 Fleksi abnormal anggota gerak terhadap rangsangan

DMK 5.1
rwisi

Koma

Total skor:

2 Ekstensi abnormal anggota gerak terhadap rangsangan


1 Tidak merespon

3-15
Skor pasien:

Total nilai

13-15 (ringan)

9-12 (sedang)

3-8 (berat)

Pemeriksaan Muskulosk>etal dan integumen


Turgor
Baik

ielek

Warna kulit

Kemerahan

Sianosis

Hiperpigmentasi

Ikterik

Akral

Hangat
Basah

Panas

Dingin

Kering

Kondisi luka

Tidak ada

Ada, sebutkan..,

Terdapat fraktur, sebutkan.


Terdapat edema, sebutkan,
Pemeriksaan Norton Seale (Resiko kulit)
Kondisi fisik Kondisi mental
1 Sangat buruk
1 Tidak sadar
Aktifitas

2 Buruk
2 Bingung

3
3

Cukup baik
Apatis

4 Baik
4 Komposmentis

Mobilitas

Di tempat tidur

2 Di kursi

Jalan dgn bantuan

4 Dapat pindah

Inkontinensia

Tidak bergerak
Selaiu ngompol+fe:

2 Sangat terbatas
Sering ngompol
2

3
3

Agak terbatas
Kadang ngompol

4 Baik
4 Tidak ngompol

Total skor: kondisi fisik+kondisi mentai+aktifitas+mobilitas+inkontinensia Pasien beresiko dekubitus jika nilai < 14

Nama Pasien :

No. RM:

Pemeriksaan Aktifitas Harian Dasar

Niiatpasien
Mandiri

Makan/minum
ASSESSMENT
Hal- 3

Mandi

MEDICAL

0
1 50% dibantu
2
Mandiri
dibantu
0
1 50%LAMONGAN
2
BEDAH
RS. MUHAMMADIYAH
Mandiri

Faktor

Riwayat
Memakaijatuh
baju BAB/BAK
Naik turun tempat tidur
Diagnosa medis {> 2 diagnosa
medis)
Pemeriksaan Resiko Jatyh Morse
Alat bantu

Terpasang infus
Gaya berjalan

Status mental

Skaia1 50% dibantu

0
Ya
0 Mandiri
1 50% dibantu
Tidak
Mandiri
0
1 50% dibantu
Total
nllaiADL
Ya
Tidak

100% dibantu
100% dibantu

100% dibantu
Point

100% dibantu
25

0
100% dibantu

revisi
Skor 2/2013
Pasien

15
0

Perabot

30

Tongkat,kruk,walker
Tidak ada/kursi roda/perawat/tirah baring

15

Ya
Tidak

20

Terganggu
Lemah

20

0
0
10

Normai/tirah baring/imobiiisasi

Sering lupa/respon tdk sesuai perintah


Orientasi baik terhadap diri sendiri

15
0

(Criteria resiko jatuh : Rendah, Sedang, Tinggi


Catatan :
Resiko tinggi: >45, Resiko sedang : 25-44, Resiko rendah : 0-24

Total = ..............

DMK 5.1
Pemeriksaan Nyeri
__ Wong Baker Pain Scaja

(OS' ^ : f \ ,(N, :

V' '""'2 ' """/" 'T'""":

'

^:

^
Ska la nyeri

K : 1 J; K \/v V^y

UJ" '

tulaSc. iaktt ; Sedikst safcit . A^ak. Megg*t\gg SangM


Tak
' meaggaiijggu ; afejivita* raen^attjjjgu J tertah^ukan
Lokasi nyeri

Sifat nyeri
Kualitas nyeri

^ Kejang
^ Nyeri tajam

Konstan
Nyeri bakar

^ Intermiten
O Nyeri da lam

^ Lainnya

Faktor pemberat

^ Cahaya

Gerakan

^ Berbaring

^ Lainnya

Faktor peringan

^ Makan

Sunyi

^ Dingin

^ Lainnya

Obat-obat dirumah (daftar obat,dosis,frekuensi,terakhir kail minum)


Nama obat:

Kebutuhan informasf

Tanda Tangan dan Mama Terang

ASSESSMENT ANAK RS.RATU ZALECHA

BMK5.1

Nama : __________________________________________________ No. RM : _________________________________________________________


Tanggal: ____________________ Jam : ____________WIB
Kondisi saat masuk

Jaian

pTempattidur

PKursiroda

Lainnya

Asa! pasien

Poli

iGD

Kamar operasi

Suhu....... C Nadi ............... mnt TD ..............................mmHg

Nafas ....... x/mnt

Diagnosa medis : .........................................................................


DPJP

: ..................................................................

Keluhan utama : ........................................................... .... .... ....


Riwayat penyakit sekarang: ........................................ ................................................................................................
Alergi
Alat bantu yang digunakan

Tidak ada
Tidak ada

Ada
Ada, sebutkan .........

Riwayat penyakit pasien


Merokok

Tidak ada
Ya

Ada, sebutkan ............


Tidak

Riwayat penyakit Keiuarga


Imunisasi

Tidak ada
Belum

Ada, sebutkan ............


Sudah, sebutkan ....

Kemampuan berdo'a

Mampu

Kurang

P Belum

Kemampuan berdzikir

Mampu

Kurang

Belum

Tempattinggal
Aktifitas

Rumah
Mandiri

Panti asuhan
Tongkat

Lainnya ....................
Kursi roda

PTirah baring

Curiga penganiayaan

Ya

P Tidak

Status emosional

Kooperatif

P Cemas

Depresi

p Ingin mengakhiri

informasi di dapat dari

Pasien

p Keiuarga

P Lainnya .......... .....

Mata Normal

Cowong

P Perdarahan

Sklera pucat

P Konjungtiva ikterus

Hidung Normal

Perdarahan

P Sekret

Mulut Normal

Stomatitis

P Trismus

P Lidah kotor

p Perdarahan

Telinga Normal

Perdarahan

P Serumen

Benda asing

Leher Normal
Catatan:

Kaku kuduk

P Peningkatan JVP

Pembesaran kelenjartyroid

Normal

Batuk

p Nyeri saat nafas

p Irama tidak teratur

Sesak

Funnel chest

P Pigeons chest

P Barrel chest

Asimetris

Terdapat wheezing

P Terdapat ronchi

P Hemoptisis

Normal

Nyeri dada

P Edema

p Fatique

Takikardi

Bradikardi

P Ireguler

P Ortopnea

E Muntah

^ Anoreksia

^ Disfagia

^ Diare

Mual

Kembung

p Konstipasi

Distensi

p Hiperperistaitik

Kaku

Tidak ada bising usus

Jenis reaksi: .........

Jenis : ... ..............

P Jumlah/hari:..........

Pemerifeaan Paru

Catatan:

CRT > 3 detik

Catatan :
::Pemeriksamga$tromt$tittalv;:;;5p;S!-|^
O Normal

Nyeri tekan bagian

Catatan :

Skor total:

TB ........cm BB ................ kg
Skor

1
>20

Persentase kehilangan BB

Efek akut akibat penyakit

18,5 - 20
1

<5%

1
2

0 : Resiko rendah
<18,5

2
5-10%

0 : tidak ada gangguan dalam asupan makanan


: asupan makan kurang/ tidak ada asupan makan selama 2-5 hari
: asupan makan kurang/ tidak ada asupan makan selama > 5 hari

>10%
2

1-2 : Resiko sedang


p > 2 : Resiko berat

ASSESSMENT ANAK RS.RATU ZALECHA


Hail

DMK 5.1

revfei 2/2013

rvTiai VIJ

Hal. 2
Pemeriks&ariGenitourinafia & Ginekologi
Normal Hematuri

Inkontinensia
Oliguri

p Folley cateter Anuri

Disuria
Sekret abnormal

Poliuri
Menstruasi

ASSESSMENT ANAK RS.RATU ZALECHA

BMK5.1

Catatan :

Pemertksaan Neurologi

Normal
Vertigo
Sakit kepala
Samnolen
____________ Sopor
Kesadaran Komposmentis
Pusing p Apatis _______________________
Pupil anisokor
Tremor
Glasgow Coma Scale Dewasa
Mata

Verbal

Kejang Gelisah

Nilai

Koma

4 Terbuka spontan

Total skor:

3 Terbuka saat dipanggil


Terbuka terhadap rangsang nyeri
2
1 Tidak merespon

3-15

13-15 (rmgan)

5 Orientasi baik

9-12(sedang)

4 Disorientasi/bingung
3 Jawaban tidak sesuai

3-8 (berat)

Skor pasien :

2 Suara tidak dimengerti/erangan/teriakan


1 Tidak merespon
Gerak

6 Mengikuti perintah
5 Melokalisir nyeri
4 Menarik dirt dari rangsang nyeri
3 Fieksi abnormal anggota gerak terhadap rangsangan
Ekstensi abnormal anggota gerak terhadap rangsangan
2
1 Tidak merespon
Total nilai

Pemeriksaan Muskulosidetal dan Integumeh


Turgor
Warna kulit
Akrai

Baik
Kemerahan
Hangat

Jelek
Sianosis
Panas

Hiperpigmentasi
Dingtn

p Ikterik
Kering

^ Basah
Kondisi luka

Tidak ada

Ada, sebutkan..........

^ Terdapat fraktur, sebutkan. Terdapat edema, sebutkan.


PemeriksaanNortonScale (fteslkokulit)
Kondisi fisik Kondisi mental

1 Sangat buruk

2 Buruk

3 Cukup baik

4 Baik

Aktifitas Mobilitas

1 Tidak sadar

2 Bingung

3 Apatis

4 Komposmentis

Inkontinensia

1 Di tempat tidur

2 Di kursi

3 Jaian dgn bantuan 4 Dapatpindah

1 Tidak bergerak
Selalu ngompoi+feses
1

2 Sangat terbatas
Sering ngompol
2

3 Agak terbatas
3 Kadang ngompol

4 Baik
4 Tidak ngompol

Total skor: kondisi fisik+kondisi mental+aktifitas+mobilitas+inkontinensia =. Pasien beresiko dekubitus jika nilai < 14
Pemerlksaan Aktifitas HarianDasar (A0O
Makan/minum
0 Mandiri

Nilai pasien

Mandiri
Mandiri

1 50% dibantu
X 50% dibantu

Mandiri

50% dibantu

2 100% dibantu
2 100% dibantu
100% dibantu
2
2 100% dibantu

Mandiri

1
Total nilai ADL

50% dibantu

2 100% dibantu

Mandi

Memakai baju BAB/BAK

Naik turun tempat tidur

50%dibantu

ASSESSMENT ANAK RS.RATU ZALECHA

DMK5.1
revisi2/2013

Hal. 3

Nama Pasien:

No.RM:

Parameter

Kriteria

Usia

Jenis kelamin

Diagnosis

Gangguan kognitif

Nilai

<3tahun
* 3-7tahun

4
3

7-13tahun

> 13 tahun

Laki-laki

* Perempuan

Diagnosis neurologi
Perubahan oksigenasi

4
3

Gangguan perilaku
Diagnosa lainnya

Tidak menyadari keterbatasan diri


Lupa akan adanya keterbatasan diri

3
2

Orientasi baik
Faktor lingkungan

* Riwayat jatuh
* Pasien menggunakan alat bantu

4
3

Pasien diletakkan di tempat tidur

* Area diluar RS

Respon terhadap:
Pembedaha n/sedas/a nestesi Da!am24jam

Dalam48jam

* > 48 jam/tidak menjalani


Penggunaan medikamentosa

Penggunaan multiple obat

* Penggunaan salah satu obat


Tidak ada medikasi

2
1

Kriteria resiko jatuh: Rendah, Tinggi


Catatan

Nilai anak

Total = ..............

Risiko rendah : skor 7 -11, Resiko tinggi: > 12

Pemeriksaan Nyeri
Wong Baker Pain Scala

tsdak sak.it ; Se-ckkit ieikjt j Agafc . Misaggariggu:

t-

>:

Smgfrt

Skala nyeri

10

Tak

fjjetiggangjE.u aktivitair m*ngai;gU ieiTahank^rt


Lokasi nyeri : Sifat
Kejang
Konstan
nyeri Kualitas

Intermiten

nyeri Faktor

Nyeri tajam

Nyeri bakar

Nyeri da lam

pemberat Faktor

Cahaya

Gerakan

Berbaring

Makan

Sunyi
peringan
Obat-bat dirumah (daftar obat, dosis, frekuensi, terakhir kali minum)

Dingin

Lainnya
Lainnya
Lainnya

Nama obat:

Kebutuhan informasi

Tanda Tangan dan Nama Terang

RUMAH SAKIT MUHAMMADIYAH LAMONGAN

Nama Pasien:

No.RM:

PENGKAJIAN IGD /

DMK4.1
remi2 2013

POLI
Penskajian diambil dan ; Pasien Tanggal Jam:
Oranglain
Riwayat Keperawatan :
1. Keluhan Ulama
2. Keluhan Penyakit Sekarang

3. Riwayat Penyakit Dahulu :

4. Riwayat Alergi
5.Pemerik$aan Umum
Tanda-tanda vital
B1
Iramanafas
(Breathing) Batuk
Pola pemapasan
Suara nafas
Alat bantu nafas
B2 (Blood) Keluhan nyeri
dAkral
d
Perdarahan:
Cyanosis
CRT
B3 (Brain) GCS :
Kesadaran ;
Reflek cahaya
Pupil
Kelumpuhan
Keluhan pusing
B4 ( Binder) BAK
Nyeri tekan
B5 (Bowel) BAB
Abdomen
Nyeri tekan
Jejas abdomen
B6 (Bone) Pergerakan sendi
Dislokasi
Fraktur
Luka
Resiko jatuh
Pemeriksaan Penunjang:

Diagnosa Medis :

Tidakada
Ada
Tidakada

Kapan
Dimana
Dengan Penyakit
Ada

Suhu : ...... C Nadi...


..x/mnt RR:.
...... x/mnt TD : .............. mmHg
Berat Badan .......... kg
Sp02......... ..... %
Teratur
Tidak teratur
Tidakada
Ada
Tidakada
D Dypsnoe Kusmaul Cheyne stoke
Vesikuler
Ronki
Wheezing
Yajenis .................
Tidak
Ada
Tidak ada
Hangat
Kering
Dingin
Q Tidakada
Ada ......... ...cc
Q Tidakada
Ada
1-2 detik
D > 3 detik
.
Composmentis
Positif
Isokor
Tidakada
Tidakada
Spontan
Tidak
Normal
Supel
Ada
Ada
Bebas
Tidakada
Tidakada
Tidakada
Ya
Laborat
Radiologi
ECG

Apatis
Samnolen O Stupor Koma
Negatif
Anisokor
Ada
Ada
Tidak spontan
Terpasang kateter urin
Ya
Produksi urine : ..... CC
Cair
Konstipasi
Kembung Ascites
Tegang
Tidak
n Tidak
Terbatas
Ada
Ada .........
Ada
Bersih
Kotor
Tidak
Hasil
Ada
Tidak ada
Hasil
Ada
Tidak ada
Hasil
Ada
Tidak ada
Tanda tangan

Terapi Medis
Namaperawat :
Kcterangan:

Centang

fVj Sesuai Pilihan dan Untuk Tttik - titik ( ...................................... ) : Tulis Sesuai Keadaan Pasien

Nama Pasien:

No.RM:

DMK4.1
revist 2
2013

RUMAH
SAKIT MUHAMMADIYAH
LAMONGAN
PENGKAJIAN
IGD / POLI

Pengkaiian diambil dari : Pasien Tanggal Jam:


Oranglain
Riwayat Keperavvatan ;
1.
4,Keluhan
RiwayatUtama
Alergi ___ ______ Tidak ada ___________ Ada
2.
Keluhan
Penyakit
Sekarang
S.Pemeriksaari Umum
Tanda-tanda vital Suhu .......C Nadi ..........x/mnt RR: ............. x/mnt TO :.............. mmHg
Berat Badan ........... kg Sp02........................ %
3. Riwayat Penyakit Dahulu : Tidak ada
B1
Teratur
(Breathing) Irama nafas Batuk Tidak ada
Poia pemapasan Tidak ada
Suara nafas Alat Vesikuler
bantu nafas
Yajenis ...............
B2 (Blood) Keluhan nyeri
Ada
d d
Akrai
Hangat
Perdarahan:
Q Tidak ada
Cyanosis
n Tidak ada
CRT
O 1-2 detik
B3 (Brain) GCS :
Kesadaran :
Composmentis
Reflek cahaya
Positif
Pupil
Isokor
Kelumpuhan
D Tidak ada
Keluhan pusing Tidak ada
B4 ( Blader) BAK
Spontan
Nyeri tekan
O Tidak
B5 (Bowel) BAB
Normal
Abdomen
Supel
Nyeri tekan
O Ada
Jejas abdomen
Ada
B6 (Bone) Pergerakan sendi Bebas
Dislokasi
Tidak ada
Tidak ada
Fraktur
Luka
Tidak ada
Ya
Resiko jatuh
Pemeriksaan Penunjang:
Laborat
Radiologi
ECG
Diagnosa Medis :
Ada

Tidak teratur Ada


Dypsnoe Kusmaul Cheyne stoke
Ronki Wheezing

.. Tidak
Tidak ada
Kering
Ada ......... ...cc
Ada
> 3 detik

Dingin

Apatis
Samnolen Stupor Q Koma
Negatif
Anisokor
Ada
Ada
Tidak spontan Terpasang kateter urin
Ya
Produksi urine : ..... CC
Cair
Konstipasi
a
Kembung Ascites Tegang
Tidak
Tidak
Terbatas
Ada
Ada .........
Ada
Bersih Kotor
Tidak
Hasil
Ada Tidak ada
Hasil
Ada Tidak ada
Hasil
OAda Tidak ada
Tanda
Kapan
Dimana
Dengan Penyakit

Terapi Medis
Namaperawat :
Keterangan:

Centang

(V) Sesuai Pilihan dan Untuk Titik -ffik( ....................................... ) : Tulis Sesuai Keadaan Pasian

DMK5.1
DMK 5.1

ASSESSMENT MEDICAL BEDAH RS.RATU ZALECHA MARTAPURA

ASSESSMENT MATERNITAS RS. RATU ZALECHA


ai.i

Ttvmxmz

Bagian 1 : Data Unrnm ______________________ _


Nama

No, RM:

Tanda Tangan dan Nama Terang

ASSESSMENT MEDICAL BEDAH RS.RATU ZALECHA MARTAPURA

Tanggal: ________________ Jam : __________ WIB


Kondisi saat masuk Jalan
Asal pasien Poli
Suhu ..... "C Nadi .............. .mnt TD .................. mmHg
Diaertn<;a medis : ............... ...... , ........... ..... ..............
Keluhan utama : ..................
Riwayat
penyakit
sekarang:.
Tidak ada
Alergi
Alat bantu yang digunakan Tidak ada

Q Tempat tidur IGD Kursiroda


Kamaroperasi
Nafas ..... x/mnt

DMK5.1
p Lainnya

DPJP : .... .....................

Ada
Ada, sebutkan.......

Q Jents reaksi: ............

Riwayat penyakit pasien


Riwayat kehamilan
sekarang
Riwayat ha id

Tidak ada
Ada, sebutkan.........
Hamil ke ....Umur kehamilan : ..... ..
HPHT: .............. ........

ANC : ......... kali


HP: ..........................

Riwayat persalinan lalu

Q Aterm ..... X
Spontan.....X
Tidak

p Abortus ..... X
p MeninggaL..X
p Lainnya, sebutkan...
Jenis : ........ ......
P Jumiah/hari: ......

Merokok

Q Prematur.....X
SC....... X
Ya

TT: .......... kali

Riwayat penyakit Keiuarga Tidak ada

Ada, sebutkan .........

Kebiasaan beribadah
Persepsi terhadap sakitnya
Status pemikahan
Keiuarga
Tempat tinggai
Aktifitas
Curiga penganiayaan
Status emosionat
Informasi di dapat dari

Kadang-kadang
P Hukuman
Q Belum menikah
p Tinggai sendiri
Q Panttasuhan
p Tongkat
Tidak
p Cemas
Keiuarga

Tidak pernah
Lainnya .....................
p Duda/janda

Lainnya ...................
Q Kursi roda
p Tirah baring

Selalu
Cobaan Allah
Menikah
Tinggai serumah
Rumah
Mandiri
Ya
Kooperatif
Pasien

p Oepresi
p Ingin mengakhiri
Q Lainnya ...................

Beaaaeriksfc&a Kepala/ feber


Mata Normal
Hidung Q Normal
Muiut Q Normal
Telinga Normal

Cowong
Perdarahan
Q Stomatitis
Perdarahan

p Perdarahan
Sekret
Perdarahan
Q Serumen

Pucat

pIkterus

Lidahkotor
p Benda asing

p Gigi caries

Leher p Normal
Catatan:

Kaku kuduk

Q Peningkatan JVP

p Pembesaran kelenjartyroid

Putting Q Qatar
Colustrum Positif
Paru p Normal
Sesak

Menonjot
Negatif
Batuk
Funnel chest

Massa lain
Nyeri saat nafas
Pigeons chest

p Irama tidak teratur


p Barrel chest

Asimetris
Jantung p Normal
Takikardi
Catatan:

Terdapat ranch!
Nyeri dada
Q Bradikardi

Q Terdapat wheezing
CRT > 3 detik
Q Ireguler

p Hemoptisis
p Edema
p Ortopnea

p Fatique
'

Q Nyeri

P Tidak

TFU : ......................... .......... .. Cortenen : ....... ..........X/mnt Kontraksi uterus :


Massa Tidak ada
Ada, Biia ada besar:....
Keluhan Tidak ada
Mual
Kaku
Catatan:

Q Muntah
Kembung
Tidak ada bising usus

Pernerfbaart Status Nutrisi {MMST}


TB ...... cm BB ................kg
Skor
o
Persentase kehilangan BB o

>20
<5%

Efek akut akibat penyakit

p Anoreksia
p Konstipasi

p Disfagia
P Diare
p Distensi
p Hiperperistaltik
p Nyeri tekan bagian.

18,5 - 20
1
5-10%
1

0 : tidak ada gangguan dalam asupan makanan


1 : asupan makan kurang/ tidak ada asupan makan seiama 2-5 hari
2 : asupan makan kurang/ tidak ada asupan makan seiama > 5 hari

Skor total:

p 0 : Resiko rendah
<18,5
>10%

p 1-2 : Resiko sedang


p > 2 : Resiko berat