Anda di halaman 1dari 53

SKKNI

STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA

PENGAWAS PEKERJAAN BETON

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM


2009

KATA PENGANTAR
Dalam rangka penyiapan tenaga profesional di bidang jasa konstruksi pada suatu Jabatan Kerja
tertentu, baik untuk pemenuhan kebutuhan nasional di dalam negeri maupun untuk kepentingan
penempatan ke luar negeri, diperlukan adanya perangkat standar yang dapat mengukur dan
menyaring tenaga kerja yang memenuhi persyaratan sesuai dengan kompetensinya.
Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) merupakan suatu hal yang sangat penting
dan dibutuhkan sebagai tolok ukur untuk menentukan kompetensi tenaga kerja sesuai dengan
jabatan kerja yang dimilikinya.
Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk tenaga kerja jasa konstruksi disusun
berdasarkan analisis kompetensi setiap jabatan kerja yang melibatkan para pelaku pelaksana
langsung dilapangan dan ahlinya dari jabatan kerja yang bersangkutan. Untuk mendapatkan SKKNI
diawali dengan desk study, survey, wawancara dan workshop. Dari hasil tersebut, yang masih dalam
format DACUM, dimasukkan ke dalam format RMCS, yang selanjutnya akan dibahas dalam pra
konvensi yang melibatkan Tim Komite RSKKNI, Tim Teknis, BNSP (Badan Nasional Sertifikasi
Profesi), LPJK (Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi), unsur Perguruan Tinggi, para Pakar dan
Nara Sumber yang berkaitan dengan Jabatan Kerja tersebut.
Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) PENGAWAS PEKERJAAN BETON pada
pekerjaan di bidang Bangunan Gedung disusun dengan mengacu pada format dan ketentuan yang
diatur dengan Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor : Kep.
227/MEN/2003, tanggal 31 Oktober 2003 tentang cara Penetapan Standar Kompetensi Kerja
Nasional Indonesia dan perubahannya No. KEP.69/MEN/V/2004, tanggal 4 Mei 2004, serta Peraturan
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor : PER.21/MEN/X/2007 untuk dapat digunakan
sebagai acuan dalam pembinaan dan penetapan persyaratan pada jabatan tersebut dan berlaku
secara nasional.
Diharapkan adanya Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) tersebut dapat
meningkatkan mutu tenaga kerja Indonesia dan mutu hasil pekerjaan di lapangan. Di sisi lain standar
kompetensi kerja ini tetap masih memerlukan penyempurnaan sejalan dengan tuntutan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan industri Jasa Konstruksi, sehingga
setiap masukan untuk penyempurnaan sangat diperlukan.
Akhirnya kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan Standar Kompetensi
Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) ini, kami ucapkan terima kasih.
Jakarta,
Agustus 2009
Departemen Pekerjaan Umum
Kepala Badan Pembinaan Konstruksi dan Sumber Daya Manusia

(...........................................)
NIP

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..............................................................................................

DAFTAR ISI ............................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................

B. Tujuan .....................................................................................................

C. Pengertian SKKNI ...................................................................................

D. Penggunaan SKKNI ................................................................................

E. Struktur, Skema Pengembangan dan Format Standar Kompetensi


Kerja Nasional Indonesia ........................................................................

F. Kodefikasi Standar Kompetensi ............................................................

10

G. Gradasi Kompetensi Kunci ....................................................................

12

H. Rumusan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia ............................

13

I.

Tim Penyusun Standar Kompetensi .......................................................

15

BAB II

STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA SEKTOR


KONSTRUKSI SUB BIDANG BANGUNAN GEDUNG, JABATAN
KERJA PENGAWAS PEKERJAAN BETON

A. Standar Kompetensi mengacu Jenjang Kualifikasi / Jabatan Kerja .....

18

B. Kualifikasi Jabatan Kerja ........................................................................

18

C. Pemaketan SKKNI dalam kualifikasi Jabatan Kerja .............................

20

D. Kompetensi Kerja ....................................................................................

21

E. Daftar Unit Kompetensi ...........................................................................

22

BAB III. PENUTUP .................................................................................................

52

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Undang-undang No. 18 Tahun 1999, tentang : Jasa Konstruksi beserta peraturan


pelaksanaannya tersurat dan tersirat bahwa tenaga kerja yang melaksanakan
perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan konstruksi harus memiliki sertifikat
keahlian dan atau ketrampilan.
Keharusan memiliki SERTIFIKASI KEAHLIAN DAN ATAU KETERAMPILAN:
mencerminkan adanya tuntutan kualitas tenaga kerja yang betul-betul dapat
diandalkan. Kondisi tersebut memerlukan langkah nyata dalam mempersiapkan
perangkat (standar baku) yang dibutuhkan untuk mengukur kualitas kerja jasa
konstruksi.

Sesuai dengan Keputusan Dewan Pengurus Lembaga Pengembangan Jasa


Konstruksi Nasional (LPJKN) No. 71/KPYTS/D/VIII/2001 : pasal 2 ayat (1), tujuan
sertifikasi adalah memberikan informasi objektif kepada para pengguna jasa bahwa
kompetensi tenaga kerja yang bersangkutan memenuhi bakuan kompetensi yang
ditetapkan untuk klasifikasi dan kualifikasinya, dan pasal 9 ; ayat (1) : Untuk setiap
kualifikasi dalam suatu klasifikasi harus dibuat bakuan kompetensinya secara jelas
termasuk tata cara mengukur.

Selain itu undang-undang nomor 13 tahun 2003, tentang Ketenagakerjaan, terutama


pasal 10 ayat (2), menetapkan bahwa Pelatihan kerja diselenggarakan berdasarkan
program pelatihan yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja, diperjelas lagi
dengan Peraturan Pelaksanaannya yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor: 31 tahun 2006, tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional :
1. Pasal 3, Prinsip dasar pelatihan kerja adalah, huruf (b) berbasis pada kompetensi
kerja.
2. Pasal 4 ayat (1), Program pelatihan kerja disusun berdasarkan SKKNI, Standar
Internasional dan/atau Standar Khusus.

Undang-undang dan Peraturan Pemerintah tersebut diatas menyebut tentang


kompetensi yaitu suatu ungkapan kualitas Sumber Daya Manusia yang terbentuk

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

dengan menyatunya 3 aspek spesifik terdiri : Ranah Pengetahuan (domain Kognitif


atau Knowledge), Ranah Keterampilan (domain Psychomotorik atau Skill) dan Ranah
Sikap Perilaku (domain Affektif atau Attitude/Ability), atau secara definitif pengertian
kompetensi ialah penguasaan disiplin keilmuan dan pengetahuan serta keterampilan
menerapkan metode dan teknik tertentu didukung sikap perilaku kerja yang tepat, guna
mencapai dan atau mewujudkan hasil tertentu secara mandiri dan atau berkelompok
dalam penyelenggaraan tugas pekerjaan.

Jadi apabila seseorang atau berkelompok telah mempunyai kompetensi kemudian


dikaitkan dengan tugas pekerjaan tertentu sesuai dengan kompetensinya, maka akan
dapat menghasilkan atau mewujudkan sasaran dan tujuan tugas pekerjaan tertentu
yang seharusnya dapat terukur dengan indikator sebagai berikut : dalam kondisi
tertentu, mampu dan mau melakukan suatu pekerjaan, sesuai volume dan dimensi
yang ditentukan, dengan kualitas sesuai standar dan mutu / spesifikasi, selesai dalam
tempo yang ditentukan.

Indikator ini penting untuk memastikan kualitas SDM secara jelas, lugas dan terukur,
serta untuk mengukur produktivitas tenaga kerja dikaitkan dengan perhitungan biaya
pekerjaan yang dapat menentukan daya saing.
B.

Tujuan

Penyusunan Standar kompetensi Sektor Jasa Konstruksi

mempunyai tujuan yaitu

pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang bergerak dalam bidang keahlian
tersebut diatas sesuai dengan kebutuhan masing-masing pihak diantaranya :
1. Institusi pendidikan dan pelatihan
a. Memberikan informasi untuk pengembangan program kurikulum.
b. Sebagai acuan dalam penyelenggaraan pelatihan, penilaian dan sertifikasi.
2. Dunia usaha/industri dan pengguna tenaga kerja
a. Membantu dalam rekruitmen tenaga kerja.
b. Membantu penilaian unjuk kerja.
c. Mengembangkan program pelatihan bagi karyawan berdasarkan kebutuhan.
d. Untuk membuat uraian jabatan.
3. Institusi penyelenggara pengujian dan sertifikasi
a. Sebagai acuan dalam merumuskan paket-paket program sertifikasi sesuai
dengan kualifikasi dan levelnya.
SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

b. Sebagai acuan dalam penyelenggaraan pelatihan, penilaian dan sertifikasi.


Selain tujuan tersebut diatas, tujuan lain dari penyusunan standar ini adalah untuk
mendapatkan pengakuan secara nasional maupun internasional. Hal-hal yang perlu
diperhatikan untuk mendapatkan pengakuan tersebut adalah :
1. Menyesuaikan penyusunan standar kompetensi tersebut dengan kebutuhan
industri/usaha, dengan melakukan eksplorasi data primer dan sekunder secara
komprehensif.
2. Menggunakan referensi dan rujukan dari standar-standar sejenis yang digunakan
oleh negara lain atau standar internasional, agar dikemudian hari dapat dilakukan
proses saling pengakuan (Mutual Recognition Arrangement MRA).
3. Dilakukan

bersama

dengan

representatif

dari

asosiasi

pekerja,

asosiasi

industri/usaha secara institusional, dan asosiasi lembaga pendidikan dan pelatihan


profesi atau para pakar dibidangnya agar memudahkan dalam pencapaian
konsesus dan pemberlakuan secara nasional.

C.

Pengertian SKKNI
1.

Kompetensi Kerja
Kemampuan

kerja

setiap

individu

yang

mencakup

aspek

pengetahuan,

keterampilan dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan.

2.

Konsep SKKNI
Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia yang selanjutnya disebut SKKNI
adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan,
keterampilan dan/atau keahlian, sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan
tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

D.

Penggunaan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia

Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia yang telah disusun dan telah
mendapatkan pengakuan oleh para pemangku kepentingan akan dirasa bermanfaat
apabila telah terimplementasi secara konsisten. Standar Kompetensi Kerja digunakan
sebagai acuan untuk :
1. Menyusun uraian pekerjaan.
2. Menyusun dan mengembangkan program pelatihan dan sumber daya manusia.
SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

3. Menilai unjuk kerja seseorang.


4. Sertifikasi Kompetensi / Profesi di tempat kerja.
Dengan dikuasainya kompetensi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan maka
seseorang mampu :

1. Mengerjakan suatu tugas atau pekerjaan.


2. Mengorganisasikan agar pekerjaan dapat dilaksanakan.
3. Menentukan langkah apa yang harus dilakukan pada saat terjadi sesuatu yang
berbeda dengan rencana semula.
4. Menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah atau
melaksanakan tugas dengan kondisi yang berbeda.

E.

Struktur, Skema Pengembangan dan Format Standar Kompetensi Kerja


Nasional Indonesia

Pengembangan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Jasa Konstruksi


mengacu kepada Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik
Indonesia Nomor : PER.21/MEN/X/2007 tentang Tata Cara Penetapan SKKNI dan
(Pada tahun 2008 masih Rancangan) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.
....../PRT//M/200..., tentang : Pedoman Pembinaan Teknis Pelaksanaan Sistem
Pelatihan Berbasis Kompetensi Kerja Jasa Konstruksi.
1. Struktur Standar Kompetensi
Standar Kompetensi suatu Bidang Keahlian distrukturkan dengan bentuk seperti di
bawah ini (bentuk ini diterapkan secara luas di dunia internasional) :

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

STRUKTUR STANDAR KOMPETENSI

STANDAR KOMPETENSI
Terbentuk atas sejumlah unit kompetensi yang diperlukan untuk melaksanakan
pekerjaan tertentu

UNIT KOMPETESI
Merupakan uraian fungsi dan tugas atau pekerjaan yang mendukung
Tercapainya Standar kompetensi, setiap unit kompetensi memiliki sejumlah
elemen-kompetensi

ELEMEN KOMPETENSI
Merupakan sejumlah fungsi tugas atau pekerjaan yang mendukung ketercapaian
unit kompetensi dan merupakan aktivitas yang dapat diamati

KRITERIA UNJUK KERJA


Merupakan pernyataan sejauh mana elemen kompetensi yang dipersyaratkan
tersebut terukur berdasarkan pada tingkat yang diinginkan

BATASAN VARIABEL
Pernyataan-pernyataan kondisi atau konteks dimana kriteria unjuk Kerja tersebut
diaplikasikan

PANDUAN PENILAIAN
Pernyataan-pernyataan kondisi atau konteks sebagai acuan dalam
melaksanakan penilaian

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

2. Skema Pengembangan Standar Kompetensi


Skema pengembangan standar kompetensi dapat digambarkan sebagaimana
diperlihatkan pada diagram dibawah ini :

DETAIL SKEMA PENGEMBANGAN STANDAR KOMPETENSI

.
1. BIDANG KEAHLIAN
ATAU PEKERJAAN

2. UNIT-UNIT
KOMPETENSI

KUALIFIKASI

4. KRITERIA UNJUK
KERJA

KOMPETENSI KUNCI
KUALIFIKASISI

KUALIFIKASISI

3. ELEMEN
KOMPETENSI

5. BATASAN
VARIABEL

6. PANDUAN
PENILAIAN

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

PANDUAN PENILAIAN

3. Format Standar kompetensi

Kode

: Kode unit diisi dan ditetapkan dengan mengacu pada format


kodifikasi SKKNI.

Judul Unit

: Mendefinisikan tugas/pekerjaan suatu unit kompetensi yang


menggambarkan

sebagian

atau

keseluruhan

standar

kompetensi.
Deskripsi Unit

: Menyebutkan Judul Unit yang mendeskripsikan pengetahuan


dan keterampilan yang dibutuhkan dalam mencapai standar
kompetensi.

Elemen Kompetensi : Mengidentifikasi tugas-tugas yang harus dikerjakan untuk


mencapai kompetensi kompetensi berupa pernyataan yang
menunjukkan komponen-

Komponen

pendukung

unit

kompetensi sasaran apa yang harus dicapai.


Kriteria Unjuk

: Menggambarkan kegiatan yang harus dikerjakan untuk


memperagakan Kerja kompetensi di setiap elemen, apa yang
harus dikerjakan pada waktu menilai dan apakah syarat-syarat
dari elemen dipenuhi.

Batasan Variabel

: Ruang lingkup, situasi dan kondisi dimana kriteria unjuk kerja


diterapkan. Mendefinisikan situasi dari unit dan memberikan
informasi lebih jauh tentang tingkat otonomi perlengkapan dan
materi yang mungkin digunakan dan mengacu pada syaratsyarat yang ditetapkan, termasuk peraturan dan produk atau
jasa yang dihasilkan.

Panduan Penilaian : Membantu menginterpretasikan dan menilai unit dengan


mengkhususkan

Penilaian

petunjuk

nyata

yang

perlu

dikumpulkan, untuk memperagakan kompetensi sesuai tingkat


keterampilan yang digambarkan dalam kriteria unjuk kerja,
yang meliputi :

Pengetahuan dan keterampilan yang yang dibutuhkan


untuk sesesuorang dinyatakan kompeten pada tingkatan
tertentu.

Ruang lingkup pengujian menyatakan dimana, bagaimana


dan dengan metode apa pengujian seharusnya dilakukan.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

Aspek penting dari pengujian Menyebutkan hal-hal pokok


dari pengujian dan kunci pokok yang perlu dilihat pada
waktu pengujian.

Kompetensi kunci

: Keterampilan umum yang diperlukan agar kriteria unjuk kerja


tercapai pada tingkatan kinerja yang dipersyaratkan untuk
peran/ fungsi pada suatu pekerjaan.

Kompetensi kunci meliputi :


1. Mengumpulkan, mengorganisir dan menganalisis informasi.
2. Mengkomunikasikan ide-ide dan informasi.
3. Merencanakan dan mengorganisir aktivitas-aktivitas.
4. Bekerja dengan orang lain dan kelompok.
5. Menggunakan ide-ide dan teknik matematika.
6. Memecahkan masalah.
7. Menggunakan teknologi.
F.

Kodefikasi Standar kompetensi.


Kodefikasi unit kompetensi dan kualifikasi pada SKKNI Jasa Konstruksi pada dokumen
ini, untuk sementara mencantumkan dua versi yaitu berdasar pada Kepmenakertrans
No. 70A/MEN/2003 dan Permenakertrans No. 21 Tahun 2007. Pencantuman kedua
versi pengkodefikasi tersebut berdasar pada beberapa pertimbangan sebagai berikut:
a. Pengembangan

standar

kompetensi

kerja

pada

jasa

konstruksi

telah

dilakukan sejak tahun 2003, dan telah menghasilkan sekitar ........ jabatan kerja dan
telah dipergunakan baik sebagai rujukan untuk penyelenggaraan pelatihan dan
sertifikasi kompetensi.
b. Kodefikasi unit kompetensi dan kualifikasi jasa konstruksi dengan mengacu
Kepmenakertrans No. 70A/MEN/2003, telah menjadi bagian dari data base pada
sektor jasa konstruksi untuk keperluan sertifikasi tanaga kerja, sertifikasi badan
usaha dan dipergunakan pada saat MRA dengan negara lain.
c. Masalah harmonisasi kodefikasi unit kompetensi dan kualifkasi pada jasa
konstruksi akan menjadi salah satu topik, yang akan dibahas dalam kerangka
kerjasama antara Dep PU, Depnakertrans dan LPJKN sebagaimana tertuang
dalam 8KB antara Dep PU, Depnakertrans dan LPJKN.
d. Pencantuman kodefikasi unit kompetensi dan kualifikasi pada dokumen, akan
ditetapkan setelah diperolehnya kesepakatan antara Dep PU, Depnakertrans dan
LPJKN.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

10

Pengkodean Unit Kompetensi dan Jabatan Kerja (Versi Permenakertrans No.


PER.21/MEN/X/2007, tentang Tata Cara Penetapan Standar Kompetensi Kerja
Nasional Indonesia).
a. Kodifikasi Pekerjaan/Profesi/Jabatan Kerja Jasa Konstruksi (Berdasarkan PERMEN
NAKERTRANS Nomor : PER.21/MEN/X/2007 dan KBLI 2005).
F

II

8
10. Versi Pembuatan paket SKKNI 2 digit nomor urut
9.

KKNI Level I, II,III, IV, V, VI, VII, VIII, IX


(1 digit angka romawi)

8.

Sub Bagian Sub Bidang Pekerjaan Konstruksi /


Lapangan usaha (pekerjaan/profesi/ jabatan),
2 digit angka dari katalog jabatan kerja.

7.

Bagian Sub Bidang Pekerjaan Konstruksi (1 digit angka)

Semua Bagian Sub Bidang


=0

Beton
=1
o

6.

Sub Kelompok : Usaha Jasa Konstruksi (1 digit angka)

Semua Usaha Jasa Konstruksi 0

Perencanaan
1
UUJK

Pelaksanaan
2

Pengawasan
3

Peningkatan
4
KBLI-2005

Pemeliharaan
5

Perbaikan
6
o

5.

Kelompok

Pemasangan Pondasi & Pilar

Pemasangan Atap

Instalasi Elektrikal

Instalasi Mekanikal

Instalasi AC

= 45.241
= 45.244
= 45.315
= 45.316
= 45.317

Sub Golongan
Konstruksi Gedung
Konstruksi Khusus
Instalasi Gedung

= 45.21
= 45.24
= 45.31

Golongan :
Konst. Gedung & Bang. Sipil
Instalasi Gedung & Bang. Sipil
Penyelesaian Konst. Gedung

= 452
= 453
= 454

2.

Golongan Pokok :

= 45

1.

Kategori : Konstruksi

=F

4.

3.

b. Pemberian kode unit kopetensi ditambah :

0 8
2 digit nomor urut unit kompetensi

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

11

G.

Gradasi Kompetensi Kunci


Kompetensi Kunci dibagi menjadi 3 tingkat berdasar tingkat kesulitan pekerjaan
Tingkat 1

Kemampuan untuk mengerjakan tugas rutin menurut cara yang telah


ditentukan, bersifat sederhana dan merupakan pengulangan, serta
sewaktu-waktu sering diperiksa perkembangannya. Unjuk kerja
tingkat-1 adalah kemampuan yang dibutuhkan untuk Menyebutkan
pekerjaan sederhana berulang-ulang secara efisien dan memuaskan
berdasar pada kriteria atau prosedur yang telah ditetapkan dengan
kemampaun mandiri.
Untuk itu tingkat 1 ini harus mampu :
1) Melakukan proses yang sederhana dan telah ditentukan,
2) Menilai mutu berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.

Tingkat 2

Kemampuan untuk mengerjakan tugas yang lebih luas dan lebih rumit
yang

ditandai

dengan

peningkatan

otonomi

pribadi

terhadap

pekerjaannya sendiri dan pekerjaan tersebut kemudian diperiksa oleh


atasan setelah pekerjaan selesai. Maka unjuk kerja tingkat-2
merupakan tingkat kemampuan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
tugas / pekerjaan yang menentukan pilihan, aplikasi dan integrasi dari
sejumlah elemen atau data / informasi untuk membuat penilaian atas
kesulitan proses dan hasil. Untuk itu, tingkat-2 ini harus mampu :
1) Mengelola atau menyelesaikan suatu proses
2) Menentukan kriteria penilaian terhadap suatu proses atau kerja
evaluasi terhadap suatu proses.

Tingkat 3

Kemampuan untuk mengerjakan kegiatan rumit dan tidak rutin yang


dikerjakan sendiri dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan orang
lain. Unjuk kerja tingkat-3 merupakan tingkat kemampuan yang
dibutuhkan untuk mengevaluasi dan merancang kembali proses,
menetapkan

dan

menggunakan

prinsip-prinsip

dalam

rangka

menentukan cara yang terbaik dan tepat untuk menetapkan kriteria


penilaian kualitas. Untuk itu, pada tingkat 3 ini harus mampu :
1) Menentukan prinsip dasar dan proses.
2) Mengevaluasi

dan

mengubah

bentuk

proses

atau

membentuk ulang proses.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

12

3) Menentukan kriteria untuk mengevaluasi dan / atau penilaian


proses.
H.

Rumusan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia

PARAMETER

KUALIFIKASI
KEGIATAN

PENGETAHUAN

TANGGUNG JAWAB

Melaksanakan kegiatan :

Lingkup terbatas.

Mengungkap kembali

Berulang dan sudah


biasa

Menggunakan
pengetahuan yang
terbatas

Dalam konteks yang


terbatas

Terhadap kegiatan
sesuai arahan
Dibawah pengawasan
langsung.

Tidak memerlukan
gagasan

Tidak ada
tanggungjawab
terhadap pekerjaan
orang lain.

Lingkup agak luas.

Mengungkap kembali

Terhadap kegiatan
sesuai arahan

Mapan dan sudah


biasa.

Menggunakan
pengetahuan yang
terbatas.

Melaksanakan kegiatan :

II

Dengan pilihan - pilihan


yang terbatas terhadap
sejumlah tanggapan
rutin

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

Tidak memerlukan
gagasan.

Dibawah pengawasan
tidak langsung dan
pengendalian mutu.
Punya tanggung jawab
terbatas terhadap
kuantitas dan mutu.
Dapat diberi tanggung
jawab membimbing
orang lain

13

PARAMETER

KUALIFIKASI
KEGIATAN

PENGETAHUAN

TANGGUNG JAWAB

Melaksanakan kegiatan :

III

IV

Dalam lingkup yang


Luas dan memerlukan
keterampilan yang
sudah baku

Menggunakan
pengetahuan pengetahuan teoritis
yang relevan

Terhadap kegiatan
sesuai arahan dengan
otonomi terbatas.

Dengan pilihan - pilihan


terhadap sejumlah
prosedur

Menginterpretasikan
informasi yang
tersedia

Dibawah pengawasan
tidak langsung dan
pemeriksaan mutu.

Dalam sejumlah
Konteks yang sudah
biasa

Menggunakan
perhitungan dan
pertimbangan.

Bertanggungjawab
secara memadai
terhadap kuantitas
dan mutu hasil kerja.

Menerapkan sejumlah
pemecahan masalah
yang sudah baku.

Dapat diberi
Tanggung jawab
terhadap hasil kerja
orang lain.

Menggunakan basis
pengetahuan yang luas
dengan mengaitkan
sejumlah konsep teoritis.
Membuat interpretasi
analisis terhadap data
yang tersedia.
Pengambilan
keputusan
berdasarkan kaidah kaidah yang berlaku.
Menerapkan
sejumlah pemecahan
masalah yang bersifat
inovatif terhadap
masalah masalah
yang konkrit dan
kadang - kadang tidak
biasa.

Terhadap
kegiatan
yang
direncanakan
sendiri.
Dibawah bimbingan dan
evaluasi yang luas.
Bertanggung jawab
penuh terhadap kuantitas
dan mutu hasil kerja.
Dapat diberi tanggung
jawab terhadap kuantitas
dan mutu hasil kerja orang
lain.

Melaksanakan kegiatan :
Dalam lingkup yang luas dan
memerlukan keterampilan
penalaran teknis.
Dengan pilihan - pilihan yang
banyak terhadap sejumlah
prosedur.
Dalam berbagai konteks yang
sudah biasa maupun yang
tidak biasa.

Melaksanakan kegiatan :
Dalam lingkup yang luas dan
Menerapkan basis
memerlukan keterampilan
pengetahuan yang luas
penalaran teknis khusus
dengan pendalaman yang
(spesialisasi).
cukup dibeberapa area.
Dengan pilihan - pilihan yang
Membuat interpretasi
sangat luas terhadap sejumlah
analitik terhadap sejumlah
prosedur yang baku dan tidak
data yang tersedia yang
baku.
memiliki cakupan yang luas
Yang memerlukan banyak
Menentukan metode pilihan prosedur standar
metode dan prosedur yang

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

Melakukan :
Kegiatan yang diarahkan
sendiri dan kadang kadang memberikan
arahan kepada orang lain.
Dengan pedoman atau
fungsi umum yang luas.
Kegiatan yang
memerlukan tanggung
jawab penuh baik sifat,
jumlah maupun mutu dari

14

PARAMETER

KUALIFIKASI
KEGIATAN

PENGETAHUAN

maupun non standar.


Dalam konteks yang rutin
maupun tidak rutin.

TANGGUNG JAWAB

tepat - guna dalam


hasil kerja.
pemecahan sejumlah
Dapat diberi
masalah yang konkrit yang
tanggungjawab terhadap
mengandung unsur-unsur
pencapaian hasil kerja.
teoritis.

Mencakup keterampilan, pengetahuan dan tanggungjawab yang memungkinkan seseorang


untuk :

VII

Menyebutkan secara sistematik dan koheren atas prinsip - prinsip utama dari
suatu bidang dan,
Melaksanakan kajian, penelitian dan kegiatan intelektual secara mandiri disuatu
bidang menunjukkan kemandirian intelektual serta analisis yang tajam dan
komunikasi yang baik.
Mencakup keterampilan, pengetahuan dan tanggungjawab yang memungkinkan seseorang
untuk :

VIII

Menunjukkan penguasaan suatu bidang dan,


Merencanakan dan melaksanakan proyek penelitian dan kegiatan intelektual
secara original berdasarkan standar- standar yang diakui secara internasional.
Mencakup keterampilan, pengetahuan dan tanggungjawab yang memungkinkan seseorang
untuk :

IX

I.

Menyumbangkan pengetahuan original melalui penelitian dan kegiatan


intelektual yang dinilai oleh ahli independen berdasarkan standar internasional .

TIM PENYUSUN STANDAR KOMPETENSI


Tim penyusun RSKKNI terdiri dari :
1. Tim Komite Penyusunan RSKKNI

NO

NAMA

JABATAN DI

JABATAN

INSTANSI

DALAM TIM

Ir. Dadang Krisnandar,


MT

Sekretaris BPKSDM

Pengarah

Dr. Ir. Andreas Suhono,


M.Eng

Kepala Pusat Pembinaan


Kompetensi dan Pelatihan
Konstruksi

Ketua

Ir. Yaya Supriatna

Kepala Pusat Pembinaan


Keahlian dan Teknik Konstruksi

Wakil Ketua

Aca Ditamihardja, ME

Kepala Bidang Kompetensi


Keterampilan Konstruksi

Sekretaris

Dr. Ir. Poernomo


Soekirno

Ketua Bidang Diklat LPJKN

Anggota

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

KET

15

NO

NAMA

JABATAN DI

JABATAN

INSTANSI

DALAM TIM

Muchtar Aziz, ST, MT

Direktur Standarisasi,
Kompetensin dan Program
Pelatihan, Ditjen Bina Lattas,
Depnakertrans

Anggota

Drs. Rachmad Sujali

Kepala Bidang Standarisasi


Badan Nasional Sertifikasi Profesi

Anggota

Ir. Drs. Asrizal Tatang

Pakar/Perguruan Tingga

Anggota

Ir. Pito Sumarno

Asosiasi Profesi

Anggota

10

Ir. Suardi Bahar

Asosiasi Perusahaan Kontraktor

Anggota

11

Ir. Cipie T. Makmur

Asosiasi Perusahaan Konsultan

Anggota

KET

2. Tim Teknis RSKKNI dan Tim Sekretariat

NO

NAMA

JABATAN DI

JABATAN

INSTANSI

DALAM TIM

TIM TEKNIS

Aca Ditamihardja, ME

Ir. Ati Nurzamiati Z, MT

Yanuar Tri Kurniawan, ST

Anggota

Ir. Sudjatmiko, Dipl. HE

Anggota

Encik Hardiansyah P. Putra, ST

Anggota

Lasino, ST. APU

Anggota

Ir. Bambang Tri Sukmono, MM

Anggota

Ir. R.G Eko Djuli Sasongko, MM

Anggota

Bambang Suroso, ST

Anggota

II

TIM SEKRETARIAT

Isral Kamuli

Anggota

Reddy S

Anggota

Tahtihal

Anggota

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

KET

Ketua
Sekretaris /
Anggota

16

3. Peserta Workshop
a. Tim Pengarah
Aca Ditamihardja, ME

Pusbin KPK Departemen PU

Ir. Agus Sugiarto, MM

PT. Lenggogeni

Ir. Drs. Asrizal Tatang

LPJKN

b. Curriculum Development/ Fasilitator


Drs. Riki Iswar, CES

PT. Lenggogeni

Ir. Andi Darmawan

PT. Lenggogeni

Ir. A. Asbandi

PT. Lenggogeni

c. Peserta
No.

Nama

Jabatan

Perusahaan

MUHAMMAD PARLUSI

Staf Bagian Operasional

PT. ISTAKA KARYA

IR. ISMEDY

Auditor ISO

PT. ISTAKA KARYA

BENNY RAJAGUKGUK

Supervisor

PT. INDRA KARYA

DODI AFRIYADI

Site Inspektor

PT. INDRA KARYA

SUGIARTO, ST

Site Inspektor

PT. INDRA KARYA

TITO BRAMANTIO BISMO

Pengawas

PT. ARKONIN

ZAKY FIQTURRAHMAN

Pengawas

PT. ARKONIN

AHMAD HUDAYA, BE

Ketua

KOPEKJAKON/PMJK
JABAR

REZA HIDAYAT, ST

Wakil Ketua

KOPEKJAKON/PMJK
JABAR

10

YUDI HARDJONO

Supervisior

PT. SAC NUSANTARA

11

IR. DRS. MULYONO

Staff Pengajar / Dosen

POLITEKNIK NEGERI
JAKARTA

12

RAHMAT HARMANTO

Pengawas Casting

PT. SCW JAKARTA

13

A. ASBANDI

Supervisior

PT DINANI ABADI

14

DESI APRIYAN

Staf Pengajar

PNJ

15

DARAWATI

Staf Ahli Pengendalian


Bangunan Gedung

PT. WIJAYA KARYA

16

YOGASWARA

Pengawas Pekerjaan Beton

PT. SAC NUSANTARA

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

17

BAB II
STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA
SEKTOR KONSTRUKSI SUB BIDANG PEKERJAAN BANGUNAN GEDUNG
JABATAN KERJA : PENGAWAS PEKERJAAN BETON
A.

Standar Kompetensi mengacu Jenjang Kualifikasi/Jabatan Kerja

Penetapan jenjang kualifikasi jabatan kerja / profesi kerja mengacu pada Kerangka
Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Kerangka Kualifikasi Jasa Konstruksi
(KKJK).
Sesuai hasil studi literatur, konsep standar kompetensi mencakup semua aspek kinerja
tugas / pekerjaan untuk membangun wawasan yang tidak terbatas hanya kemampuan
tugas secara sempit tetapi mencakup 5 (lima) dimensi kompetensi yang perlu
dikembangkan yaitu :
1. Kemampuan dalam tugas (task skill).
2. Kemampuan mengelola tugas (task management skill).
3. Kemampuan mengatasi suatu masalah tak terduga dengan cermat dan tepat
(contingency management skill).
4. Kemampuan menyesuaikan dengan lingkungan kerja (job/ role environments skill).
5. Kemampuan mentransfer atau adaptasi dalam situasi kerja yang berbeda/ baru
(transferable management skill).
Dimensi kompetensi tersebut di atas dapat muncul dalam kegiatan yang berbeda dari
format standar, misalnya dapat berada dalam elemen kompetensi, kriteria unjuk kerja,
dan batasan variabel.
B.

Kualifikasi Jabatan Kerja


Analisis

kompetensi

merupakan

langkah

utama

untuk

penyusunan

Standar

Kompetensi Kerja bidang pekerjaan bangunan gedung secara mekanis dipersiapkan


untuk pegangan atau tolok ukur penilaian kapasitas kemampuan untuk menduduki
jabatan kerja Pengawas Pekerjaan Beton Jabatan kerja dimaksud harus jelas dan
pasti posisinya dalam klasifikasi dan kualifikasinya, pada umumnya di lingkungan jasa
konstruksi dapat digambarkan seperti tipikal struktur organisasi sebagai berikut :

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

18

TIPIKAL ORGANISASI BANGUNAN GEDUNG

KUALIFIKASI

MANAGER
PERALATAN DAN LOGISTIK

MANAGER
LAPANGAN

MANAGER
ADMINISTRASI

PELAKSANA :
PELAKSANA :
PELAKSANA :
PELAKSANA :

ASISTEN
PELAKSANA :
PELAKSANA
PELAKSANA :
PELAKSANA :

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

AHLI
UTAMA

VI

MANAGER
TEKNIK

PENGAWAS
PEKERJAAN
BETON

MANAGER QUALITY
ASSURANCE

K
E
A
H
L
I
A
N

AHLI
MADYA

IV

III

II

TUKANG

JAKONS

KKNI

KEPALA
PROYEK

AHLI
MUDA

K
E
T
R
A
M
P
I
L
A
N

TEKNISI
SENIOR

TEKNISI
YUNIOR

TENAGA
TERAMPIL

19

C. Pemaketan SKKNI dalam kualifikasi Jabatan Kerja


1
2

Sektor
Sub Sektor/Bidang
Pekerjaan

: Jasa Konstruksi.
: Sipil.

Sub Bidang Pekerjaan

: Bangunan Gedung.

Klasifikasi Pekerjaan

Nama Jabatan Kerja

: PENGAWAS PEKERJAAN BETON

Persyaratan Jabatan

a.

Pendidikan minimal

: Pendidikan STM/SMK (TEKNIK)

b.

Pengalaman Kerja

: -

Pengawasan Bagian Sub Bidang Bangunan


Gedung.

Untuk STM/SMK atau setara, berpengalaman


minimal 3 tahun dalam di bidang pekerjaan
beton secara terus menerus.

Untuk D-3 atau setara, berpengalaman minimal 2


tahun di bidang pekerjaan beton secara terus
menerus.

c.

Kesehatan

: -

Sehat Jasmani dan rohani, yang dinyatakan


dengan surat keterangan dokter.

d.
7

10

Sertifikat

Jenjang KKNI/KKJK
Deskripsi Jabatan
Kerja/Profesi
Kode Jabatan

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

: -

Tidak cacat fisik yang mengganggu pekerjaannya


Bersertifikat Level III (Jika Ada).

: Level IV / (Ahli Muda Senior).


Mampu Mengawasi Pekerjaan Beton, Meliputi
: Persiapan, Pelaksanaan, Perawatan, Penyusunan
Laporan dan SMK3L.
: ..

20

D. KOMPETENSI KERJA
Kompetensi Kerja Pengawas Pekerjaan Beton terdiri dari :

No.
I.
1

Kode Unit

Judul Unit Kompetensi

KELOMPOK KOMPETENSI UMUM


.................................... 01

Menerapkan Prosedur Pengawasan Pekerjaan Beton


di Tempat.
Mengawasi

.................................... 02

Keselamatan,

Penerapan

Sistem

Manajemen

Kesehatan Kerja, dan Lingkungan

(SMK3L).
Melakukan Komunikasi dan Koordinasi di Tempat

.................................... 03

II.

KELOMPOK KOMPETENSI INTI

.................................... 01

................................... 02

Melaksanakan Pengawasan Pekerjaan Beton.

.................................... 03

Membuat Laporan Pengawasan Pekerjaan Beton.

III.

KELOMPOK KOMPETENSI KHUSUS

.................................... 01

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

Kerja.

Melaksanakan Pengawasan Persiapan Pekejaan


Beton.

21

E. Daftar Unit Kompetensi


Uraian unit-unit kompetensi tergambarkan sebagai berikut :
KODE UNIT

....................................01

JUDUL UNIT

Menerapkan Prosedur Pengawasan Pekerjaan Beton di Tempat

DESKRIPSI UNIT

Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan


sikap kerja yang

diperlukan untuk menerapkan prosedur

pengawasan pekerjaan beton di tempat kerja

ELEMEN KOMPETENSI
1. Mengindentifikasi Prosedur
Pengawasan Pekerjaan Beton

KRITERIA UNJUK KERJA


1.1. Prosedur yang terkait dengan Pengawasan
Pekerjaan Beton diidentifikasi dan dipahami sesuai
dengan kebutuhan.
1.2. Ketentuan tentang SNI Beton atau Standar yang
sejenis diidentifikasi sesuai dengan kebutuhan.
1.3. SOP, Format Isian dan Dokumen Lain yang terkait
disiapkan.

2. Menerapkan Prosedur
Pengawasan Pekerjaan Beton
.

2.1. Ketentuan

Tentang

Prosedur

Pengawasan

Pekerjaan Beton dengan pekerjaan pembetonan


diterapkan.
2.2. Ketentuan

Tentang

Prosedur

Pengawasan

Pekerjaan Beton Terkait dengan Pengawasan


Pekerjaan Beton dipatuhi.
2.3. Ketentuan

Tentang

Prosedur

Pengawasan

Pekerjaan Beton Terkait dengan Pengawasan


Pekerjaan Beton dilaksanakan.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

22

ELEMEN KOMPETENSI
3. Mengawasi Prosedur

KRITERIA UNJUK KERJA


3.1. Ketentuan Tentang Prosedur Pengawasan

Pengawasan Pekerjaan Beton

Pekerjaan Beton yang Terkait dengan Pengawasan

Terkait dengan Pengawasan

Pekerjaan Beton diawasi.

Pekerjaan Beton.

3.2. Ketentuan Tentang Prosedur Pengawasan


Pekerjaan Beton yang Terkait dengan Pengawasan
Pekerjaan Beton dipatuhi.
3.3. Ketentuan Tentang Prosedur Pengawasan
Pekerjaan Beton i yang Terkait dengan
Pengawasan Pekerjaan Beton dilaksanakan.
3.4. Catatan/rekaman penerapan Prosedur
Pengawasan Pekerjaan Beton dibuat dengan
menggunakan format dan prosedur laporan yang
ditetapkan

BATASAN VARIABEL
1. Konteks Variabel.
1.1. Unit ini diterapkan sebagai kompetensi kelompok dan menjadi dasar penentuan
kemampuan untuk dapat melakukan pekerjaan pada pengawas pekerjaan beton
pada bangunan gedung sesuai dengan peraturan dan perundangan jasa
konstruksi.
1.2. Unit ini berlaku untuk melaksanakan pengawas pekerjaan beton pada bangunan
gedung yang meliputi :
1.2.1. Seluruh komponen beton yang akan dilaksanakan.
1.2.2. Alat-alat bantu lainnya.
1.3. Ketentuan tentang peraturan diterapkan sesuai dengan kontrak kerja.
1.4. Ketentuan tentang tanggung jawab pengawasan atas kegagalan pekerjaan
konstruksi dan kegagalan bangunan diterapkan dengan benar.
1.5. Persyaratan kepemilikan sertifikat dengan benar sebagai pengawas pekerjaan
beton di penuhi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
2. Perlengkapan yang diperlukan.
2.1. Buku Petunjuk dan peraturan Undang-undang Jasa Konstruksi antara lain :
2.1.1.

Undang-undang Nomor. 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi.

2.1.2 . Undang-undang Nomor. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.


2.1.3.

Undang-Undang Nomor. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

23

2.2. Buku Petunjuk dan peraturan Pelaksanaan Pekerjaan dilapangan antara lain :
2.2.1. Spesifikasi Teknis yang sesuai dengan Dokumen Kontrak.
2.2.2. Gambar-gambar Disain dan gambar-gambar kerja termasuk perubahannya.
2.2.3. Rencana Kerja Pelaksanaan (SOP).
2.2.4. Peraturan dan dokumen lain yang terkait.
2.3. Buku Prosedur Pengawasan Pekerjaan Beton yang ditetapkan dan berlaku.
3. Tugas-tugas yang harus dilakukan.
3.1. Mengindentifikasi Peraturan dan Perundangan Jasa Konstruksi yang Terkait
dengan Pengawasan Pekerjaan Beton.
3.2

Menerapkan Peraturan dan Perundangan Jasa Konstruksi yang Terkait dengan


Pengawasan Pekerjaan Beton.

3.3

Mengawasi Penerapan Peraturan dan Perundangan Jasa Konstruksi yang Terkait


dengan Pengawasan Pekerjaan Beton.

4. Peraturan-peraturan yang diperlukan.


4.1. Undang-undang Nomor. 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi.
4.2. Undang-undang Nomor. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
4.3. Undang-undang Nomor. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
4.4. Undang-Undang Nomor. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
4.5. Peraturan-peraturan lain yang terkait
4.6. Petunjuk Manual yang dirumuskan oleh perusahaan.
4.7. SOP yang terkait dan diberlakukan.

PANDUAN PENILAIAN
1. Kondisi Pengujian.
Kompetensi yang tercakup dalam unit kompetensi ini harus diujikan secara konsisten
pada seluruh elemen dan dilaksanakan pada situasi pekerjaan yang sebenarnya di
tempat kerja atau di luar kerja secara simulasi dengan kondisi seperti tempat kerja
normal dengan menggunakan kombinasi metode uji untuk mengungkap pengetahuan,
keterampilan dan sikap kerja sesuai dengan tuntutan standar.
Metode uji antara lain :
1.1. Ujian tertulis.
1.2. Ujian lisan.
1.3. Peragaan teknik di tempat kerja/simulasi.
1.4. Portofolio atau metode lain yang relevan.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

24

2. Keterkaitan dengan unit lain:


2.1

Unit kompetensi yang harus dimiliki sebelumnya :


-

2.2

Kaitan dengan unit lain.


2 2 1. ....................................02

Mengawasi

Penerapan

Sistem

Manajemen

Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan


(SMK3L)..
2 2 2. .................................... 03 Melakukan Komunikasi dan Koordinasi di
Tempat Kerja.
2.2.3. .................................... 01 Melaksanakan Pengawasan Persiapan
Pekerjaan Beton.
2.2.4. .................................... 02 Melaksanakan Pengawasan Pekerjaan Beton.
2.2.5. .....................................03 Membuat

Laporan

Pengawasan

Pekerjaan

Beton.

3. Pengetahuan yang dibutuhkan.


3.1. Persyaratan industri/sektor asuransi dan pertanggungan sehubungan dengan
tanggung jawab staf individu.
3.2. Peraturan Perundang-undangan Ketenagakerjaan sehubungan dengan hak dan
kewajiban atasan dan bawahan.
3.3. Peraturan Perundang-undangan Jasa Konstruksi.
3.4. Prosedur Peraturan dan Perundangan Jasa Konstruksi yang terkait dengan
Pengawasan Pekerjaan Beton di tempat kerja bidang Jasa Konstruksi.
3.5. Prosedur Pengawasan Pekerjaan Beton

4. Keterampilan yang dibutuhkan.


4.1. Pemahaman dan Penerapan Peraturan dan Perundangan Jasa Konstruksi yang
terkait dengan Pengawasan Pekerjaan Beton.
4.2. Menerima dan menerapkan Peraturan dan Perundangan Jasa Konstruksi yang
terkait dengan Pengawasan Pekerjaan Beton.
4.3. Penerapan

peraturan-peraturan

yang

berlaku

berdasarkan

Peraturan

dan

Perundangan Jasa Konstruksi yang terkait dengan Pengawasan Pekerjaan Beton

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

25

5. Aspek Kritis.
Aspek Kritis yang harus diperhatikan :
5.1 Kemampuan

mengidentifikasi

pemahaman

dan

penerapan

Peraturan

dan

Perundangan Jasa Konstruksi yang terkait dengan Pengawasan Pekerjaan Beton


di tempat kerja.
5.2 Kemampuan menilai pelaksanaan Peraturan dan Perundangan Jasa Konstruksi
yang terkait dengan Pengawasan Pekerjaan Beton.
5.3 Kemampuan kedisiplinan dalam penerapan Peraturan dan Perundangan Jasa
Konstruksi yang terkait dengan Pengawasan Pekerjaan Beton.
5.4 Kemampuan untuk melakukan tindakan pelanggaran terhadap Peraturan dan
Perundangan Jasa Konstruksi yang terkait dengan Pengawasan Pekerjaan Beton.
5.5 Kemampuan dalam melakukan tindakan pencegahan pelanggaran terhadap
Peraturan dan Perundangan Jasa Konstruksi yang terkait dengan Pengawasan
Pekerjaan Beton.

6. Kompetensi Kunci.
NO
1.

KOMPETENSI KUNCI
Mengumpulkan, menganalisis dan mengorganisasikan
informasi.

TINGKAT
2

2.

Mengkomunikasikan informasi dan ide-ide.

3.

Merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan.

4.

Bekerjasama dengan orang lain dan kelompok.

5.

Menggunakan gagasan secara matematis dan teknis.

6.

Memecahkan masalah.

7.

Menggunakan teknologi.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

26

KODE UNIT

.................................... 02

JUDUL UNIT

Mengawasi Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan,


Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (SMK3L)

DESKRIPSI UNIT

Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan


sikap kerja yang diperlukan untuk melakukan SMK3L terkait
dengan pengawasan pekerjaan beton di bangunan gedung

ELEMEN KOMPETENSI
1. Mengindentifikasi SMK3L.

KRITERIA UNJUK KERJA


1.1 SMK3L
1.2 Sistem Manajemen Keselamatan, Kesehatan
Kerja dan Lingkungan (SMK3L) dipahami sesuai
dengan kebutuhan.
1.3 Sistem Manajemen Keselamatan, Kesehatan
Kerja dan Lingkungan (SMK3L) dipilih sesuai
dengan kebutuhan

2. Menyiapkan peralatan Alat


Pelindung Diri (APD) dan (APK)
serta perlengkapan P3K sesuai
ketentuan SMK3L.

2.1 Persiapan peralatan APD sesuai Standar SMK3L


disiapkan.
2.2 Persiapan peralatan (APK) sesuai Standar Sistem
Manajemen Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan
Lingkungan (SMK3L) disiapkan.
2.3 Persiapan peralatan P3K disiapkan..

3. Menggunaan Alat Pelindung Diri


(APD) dan Alat Pengaman Kerja
(APK), serta perlengkapan P3K
sesuai ketentuan SMK3L.

3.1. Penggunaan peralatan APD sesuai SMK3L


dilaksanakan.
3.2. Pengawasan Penggunaan peralatan APK seuai
SMK3L dilaksanakan.
3.3. Penggunaan peralatan P3K dilaksanakan.

BATASAN VARIABEL
1. Konteks Variabel.
1.1. Unit ini diterapkan sebagai kompetensi kelompok dan menjadi dasar penentuan
kemampuan untuk dapat melakukan pekerjaan pada pengawas pekerjaan beton
pada bangunan gedung.
1.2. Unit ini berlaku untuk melaksanakan pekerjaan pengawas pekerjaan beton yang
meliputi :
2.1.1. Seluruh komponen beton yang akan dilaksanakan.
2.1.2. Alat-alat bantu lainnya.
SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

27

1.3. Ketentuan tentang peraturan diterapkan sesuai dengan kontrak kerja.


1.4. Ketentuan tentang tanggung jawab pengawasan atas kegagalan pekerjaan
konstruksi dan kegagalan bangunan diterapkan dengan benar.
1.5. Persyaratan kepemilikan sertifikat dengan benar sebagai pengawas pekerjaan
beton di penuhi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
1.6. Potensi bahaya dan resiko kecelakaan kerja yang diidentifikasi meliputi bahaya
kecelakaan fisik / kimia, bahaya kebakaran dan bahaya ledakan.
1.7

Pengendalian bahaya dan resiko kecelakaan kerja yang dilakukan meliputi :


1.7.1. Mengawasi pemilihan, penyiapan, pemeliharaan, dan pemakaian APD.
1.7.2. Memilih, memeriksa, memelihara dan menggunakan APK.

1.8. Mengawasi tindakan pencegahan pencemaran lingkungan di tempat kerja.


1.8.1. Membuang potongan-potongan barang-barang yang berbahaya, kayu
bekas bekisting, pecahan-pecahan beton serta puing-puing lainnya, sesuai
dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku.
1.8.2. Mengawasi pembersihkan lokasi pekerjaan dari sisa-sisa bahan material
yang tidak terpakai setelah pekerjaan selesai.
1.9. Mengawasi penerapan sistem manajemen mutu sesuai dengan prosedur.

2. Perlengkapan yang diperlukan.


2.1. APD antara lain :
2.1.1. Sepatu keselamatan (safety shoes).
2.1.2. Helm pengaman (safety helmet).
2.1.3. Sarung tangan (gloves).
2.1.4. Sabuk pengaman (safety belt).
2.1.5. Tali Pengaman (Safety Line).
2.1.6. Jas Hujan.
2.2. APK antara lain :
2.2.1. Alat pemadam api ringan (APAR).
2.2.2. Perlengkapan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).
2.2.3. Rambu-rambu keselamatan kerja.
2.2.4. Jaring Pengaman (safety net).

3. Tugas-tugas yang harus dilakukan.


3.1. Mengindentifikasi SMK3L
3.2. Mengawasi persiapan peralatan Alat Pelindung Diri (APD) dan Alat Pengaman
Kerja (APK), serta perlengkapan P3K sesuai ketentuan SMK3L.
3.3. Mengawasi penggunaan APD, APK dan P3K sesuai ketentuan SKM3L.
SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

28

4. Peraturan-peraturan yang diperlukan.


4.1.

Undang-undang Nomor. 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi.

4.2.

Undang-undang Nomor. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

4.3.

Undang-undang Nomor. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

4.4.

Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan

4.5.

Peraturan-peraturan lain yang terkait.

4.6.

Petunjuk Manual yang dirumuskan oleh perusahaan.

4.7.

SOP yang terkait dan diberlakukan.

PANDUAN PENILAIAN
1. Kondisi Pengujian.
Kompetensi yang tercakup dalam unit kompetensi ini harus diujikan secara konsisten
pada seluruh elemen dan dilaksanakan pada situasi pekerjaan yang sebenarnya di
tempat kerja atau di luar kerja secara simulasi dengan kondisi seperti tempat kerja
normal dengan menggunakan kombinasi metode uji untuk mengungkap pengetahuan,
keterampilan dan sikap kerja sesuai dengan tuntutan standar.
Metode uji antara lain :
1.2.

Ujian tertulis .

1.3.

Ujian lisan.

1.4.

Peragaan teknik di tempat kerja/simulasi.

1.5.

Portofolio atau metode lain yang relevan.

2. Keterkaitan dengan unit lain :


2.2

Unit kompetensi yang harus dimiliki sebelumnya :


-

2.3

Kaitan dengan unit lain.


2.2.1. ....................................01 Menerapkan Prosedur Pengawasan Pekerjaan
Beton di Tempat.
2.2.2.......................................03 Melakukan Komunikasi dan Koordinasi di
Tempat Kerja.
2.2.3. .................................... 01 Melaksanakan Pengawasan Persiapan
Pekerjaan Beton.
2.2.4. .................................... 02 Melaksanakan Pengawasan Pekerjaan Beton.
2.2.5. .....................................03 Membuat

Laporan

Pengawasan

Pekerjaan

Beton.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

29

3. Pengetahuan yang dibutuhkan.


3.1.

Persyaratan industri / sektor asuransi dan pertanggungan sehubungan dengan


tanggung jawab staf individu.

3.2.

Peraturan Perundang-undangan Ketenagakerjaan sehubungan dengan hak dan


kewajiban atasan dan bawahan.

3.3.

Peraturan Perundang-undangan Jasa Konstruksi.

3.4.

Prosedur SMK3L di tempat kerja bidang Jasa Konstruksi.

4. Keterampilan yang dibutuhkan.


4.1.

Mengidentifikasi penyebab utama kecelakaan tempat kerja berkaitan dengan


lingkungan kerja serta cara mengendalikan bahaya/resiko kecelakaan kerja dan
pencegahannya.

4.2.

Pemahaman dan penerapan gambar kerja / detail dalam pelaksanaan di


lapangan.

4.3.

Penerapan peraturan-peraturan yang berlaku untuk SMK3L.

4.4.

Pemahaman dalam jadwal pelaksanaan, produktifitas tukang, tugas dan tanggung


jawab setiap tukang/pekerja yang ada di bawah koordinasinya.

5. Aspek Kritis.
Aspek Kritis yang harus diperhatikan :
5.6

Kemampuan mengidentifikasi potensi bahaya dan resiko kecelakaan kerja di


tempat kerja.

5.7

Kemampuan menilai ketidak lengkapan APK.

5.8

Kemampuan kedisiplinan dalam pemakaian APD sesuai dengan ketentuan


SMK3L.

5.9

Kemampuan untuk melakukan tindakan penanggulangan kecelakaan kerja bila


terjadi keadaan darurat lainnya di tempat kerja.

5.10 Kemampuan dalam melakukan tindakan pencegahan pencemaran lingkungan di


tempat kerja.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

30

6. Kompetensi Kunci.
NO

KOMPETENSI KUNCI

TINGKAT

1.

Mengumpulkan, menganalisis dan mengorganisasikan informasi.

2.

Mengkomunikasikan informasi dan ide-ide.

3.

Merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan.

4.

Bekerjasama dengan orang lain dan kelompok.

5.

Menggunakan gagasan secara matematis dan teknis.

6.

Memecahkan masalah.

7.

Menggunakan teknologi.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

31

KODE UNIT

.................................... 03

JUDUL UNIT

Melakukan Komunikasi dan Koordinasi di Tempat Kerja

DESKRIPSI UNIT

Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan


sikap kerja yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dan
koordinasi terkait dengan pengawasan pekerjaan beton di
bangunan gedung

ELEMEN KOMPETENSI
1. Menerima Informasi yang terkait
dengan Pengawasan Pekerjaan
Beton.

KRITERIA UNJUK KERJA


1.1 Informasi di Tempat Kerja diterima yang terkait
dengan pengawasan pekerjaan beton
1.2 Informasi di Tempat Kerja dipahami yang terkait
dengan pengawasan pekerjaan beton
1.3 Informasi di Tempat Kerja diolah yang terkait
dengan pengawasan pekerjaan beton

2. Mengindentifikasi Informasi
yang diterima Terkait dengan
Pengawasan Pekerjaan Beton.
.

2.1 Informasi yang diterima Terkait dengan


Pengawasan Pekerjaan Beton diidentifikasi.
2.2 Informasi yang diterima Terkait dengan
Pengawasan Pekerjaan Beton dipilih sesuai
dengan kebutuhan.
2.3 Informasi yang diterima Terkait dengan
Pengawasan Pekerjaan Beton disusun sesuai
dengan kebutuhan.

3. Menindaklanjuti informasi yang

3.1 Informasi disampaikan sesuai dengan Kebutuhan

diterima terkait dengan

yang terkait dengan Pengawasan Pekerjaan

Pengawasan Pekerjaan Beton.

Beton.
3.2 Informasi dikoordinasikan dengan Pihak Terkait
Pengawasan Pekerjaan Beton.
3.3 Informasi ditindaklanjuti terkait dengan
Pengawasan Pekerjaan Beton.

BATASAN VARIABEL
1. Kontek Variabel.
1.1. Unit kompetensi ini diterapkan dalam kelompok kerja dan sebagai acuan
pengawas pekerjaan beton dalam skala besar.
1.2. Unit ini diterapkan dengan menggunakan media yang tepat, meliputi :

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

32

1.2.1. Surat perintah kerja, atau perintah lisan dari atasan langsung sebagai dasar
pengawas pekerjaan beton.
1.2.2. Surat edaran dari atasan yang menjadi pedoman pengawas kegiatan di
tempat kerja.
1.2.3. Komunikasi dan koordinasi langsung dalam kelompok untuk menyampaikan
informasi secara jelas.
2. Perlengkapan dan Peralatan
2.1. Media komunikasi antara lain :
2.1.1. Surat perintah kerja.
2.1.2. Surat edaran.
2.1.3. Komunikasi lisan dan kode isyarat.
2.2. Alat komunikasi.
2.2.1. Telepon / Handy Talkie.
2.2.2. Komunikasi lisan.
2.2.3. Formulir standar perusahaan.
3. Tugas tugas yang harus dilakukan
3.1. Menerima informasi yang terkait dengan pekerjaan.
3.2. Mengidentifikasi informasi yang diterima terkait dengan pekerjaan.
3.3. Menindaklanjuti informasi
4. Peraturan peraturan yang diperlukan
4.1

Prosedur standar perusahaan.

4.2

Pedoman kerja dalam kelompok kerja.

4.3

Manual pelaksanaan pengecoran beton.

4.4

Spesifikasi teknik beton.

PANDUAN PENILAIAN
1. Kondisi Pengujian.
Kompetensi yang tercakup dalam unit kompetensi ini harus diujikan secara konsisten
pada seluruh elemen dan dilaksanakan pada situasi pekerjaan yang sebenarnya di
tempat kerja atau di luar kerja secara simulasi dengan kondisi seperti tempat kerja
normal dengan menggunakan kombinasi metode uji untuk mengungkap pengetahuan,
keterampilan dan sikap kerja sesuai dengan tuntutan standar.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

33

Metode uji antara lain :


1.1. Ujian tertulis.
1.2. Ujian lisan.
1.3. Peragaan teknik di tempat kerja/simulasi.
1.4. Portofolio atau metode lain yang relevan.

2. Keterkaitan dengan unit lain :


2.1. Unit kompetensi yang harus dimiliki sebelumnya :
2.2. Kaitan dengan unit lain.
2.2.1. ....................................01 Menerapkan Prosedur Pengawasan Pekerjaan
Beton di Tempat.
2.2.2. ....................................02

Mengawasi

Penerapan

Sistem

Manajemen

Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan


(SMK3L)..
2.2.3. ....................................01

Melaksanakan Pengawasan Persiapan


Pekerjaan Beton.

2.2.4. .................................... 02 Melaksanakan Pengawasan Pekerjaan Beton.


2.2.5. .....................................03 Membuat

Laporan

Pengawasan

Pekerjaan

Beton.
3. Pengetahuan Yang dibutuhkan.
3.1. Komunikasi yang efektif.
3.2. Jenis komunikasi.
3.3. Sistem dan prosedur melakukan komunikasi.
3.4. Teknik berkomunikasi.
3.5. Teknik pelaksanaan beton.
4. Keterampilan yang dibutuhkan.
4.1.

Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa tulis dan lisan.

4.2.

Kemampuan menyampaikan permasalahan dilapangan ke atasan.

4.3.

Kemampuan menyelesaikan masalah.

5. Aspek Kritis.
Aspek Kritis yang harus diperhatikan :
5.1

Kemampuan untuk menyiapkan bentuk komunikasi tertulis mengikuti format


standar dari perusahaan.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

34

5.2

Kemampuan menggunakan alat komunikasi untuk melakukan komunikasi.

5.3

Kemampuan menyampaikan informasi secara efektif.

5.4

Kemampuan menerapkan manajemen mutu.

5.5

Kemampuan membuat laporan kegiatan dan laporan SMK3L serta pencegahan


pencemaran lingkungan pada formulir standar perusahaan.

6. Kompetensi Kunci.
NO

KOMPETENSI KUNCI

TINGKAT

1.

Mengumpulkan, menganalisis dan mengorganisasikan informasi.

2.

Mengkomunikasikan informasi dan ide-ide.

3.

Merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan.

4.

Bekerjasama dengan orang lain dan kelompok.

5.

Menggunakan gagasan secara matematis dan teknis.

6.

Memecahkan masalah.

7.

Menggunakan teknologi.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

35

KODE UNIT

.................................... 01

JUDUL UNIT

Melaksanakan Pengawasan Persiapan Pekejaan Beton

DESKRIPSI UNIT

Unit

kompetensi

ini

berhubungan

dengan

pengetahuan

keterampilan dan sikap kerja untuk melakukan Pengawasan


Persiapan Pekerjaan Beton yang meliputi : gambar kerja,
perubahan gambar, rencana dan metode kerja, ijin pelaksanaan
kerja, campuran beton, serta kesiapan lokasi kerja pada bangunan
gedung.

ELEMEN KOMPETENSI
1. Mempelajari dokumen kontrak

KRITERIA UNJUK KERJA


1.1 Gambar kerja dipelajari.

yang berhubungan dengan

1.2 Gambar kerja diklarifikasikan.

pengawasan pekerjaan beton.

1.3 Perubahan gambar kerja dicermati.


1.4 Spesifikasi teknis beton yang dipakai dipelajari.

2. Mengawasi persiapan
peralatan, material, dan tenaga
kerja.

2.1 Kesiapan peralatan diperiksa sesuai dengan


standar kebutuhan minimal yang ditetapkan
2.2 Kesiapan material diperiksa sesuai dengan jenis,
volume dan spesifikasi yang ditetapkan
2.3 Kesiapan tenaga kerja diperiksa sesuai dengan
kebutuhan dari jumlah dan kualifikasi/kompetensi
yang ditetapkan

3. Memeriksa metoda kerja, ijin


pelaksanaan kerja.

3.1 Rencana dan jadwal kerja diperiksa sesuai dengan


rencana kerja proyek secara menyeluruh.
3.2 Metode kerja diperiksa sesuai dengan metode kerja
standar yang ditetapkan dalam peraturan beton
yang dipakai.
3.3 Ijin pelaksanaan kerja diperiksa sesuai peraturan
yang berlaku
3.4 Ijin kerja disetujui sesuai dengan kewenangan yang
dimiliki.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

36

ELEMEN KOMPETENSI
4. Memeriksa campuran beton.

KRITERIA UNJUK KERJA


4.1 Pengambilan bahan pembuatan beton diawasi
sesuai dengan SOP terkait dan berlaku
4.2 Volume bahan campuran beton diperiksa
4.3 Rencana campuran beton diperiksa berdasar pada
standar beton yang berlaku.
4.4 Dokumen campuran beton diperiksa sesuai dengan
persyaratan standar beton yang berlaku.
4.5. Laporan/Catatan hasil pemeriksaan campuran beton
dibuat dengan mengunakan format yang berlaku.

5. Memeriksa kesiapan lokasi

5.1 Kesiapan lokasi kerja diperiksa sesuai dengan

kerja.

standar minimal persyaratan lokasi pekerjaan beton


yang ditetapkan
5.2 Kesiapan sarana lokasi kerja diperiksa sesuai
dengan standar minimal persyaratan sarana
pekerjaan beton yang ditetapkan
5.3 Kesiapan prasarana lokasi kerja diperiksa sesuai
dengan standar minimal persyaratan prasarana
pekerjaan beton yang ditetapkan
5.4 Laporan / catatan hasil persiapan pengawasan
pekerjaan beton dibuat dengan menggunakan
format yang berlaku.

BATASAN VARIABEL
1. Konteks Variabel.
1.1 Mempelajari dokumen kontrak :
1.1.1. Gambar kerja berikut perubahannya dipelajari.
1.1.2. Gambar kerja berikut perubahannya dikoordinasikan dengan pihak terkait.
1.1.3. Perubahan gambar keja dicermati.
1.1.4. Spesifikasi teknis dipelajari.
1.2

Mengawasi persiapan peralatan, material, dan tenaga kerja :


1.2.1. Kesiapan peralatan diperiksa.
1.2.2. Kesiapan material diperiksa.
1.2.3. Kesiapan tenaga kerja diperiksa.

1.3

Memeriksa metode kerja, ijin pelaksanaan kerja.


1.3.1. Rencana dan jadwal kerja dipelajari.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

37

1.3.2. Metode kerja dipelajari.


1.3.3. Ijin pelaksanaan kerja
1.3.4. Ijin kerja disetujui.
1.4

Memeriksa campuran beton.


1.4.1. Pengambilan bahan pembuatan beton diawasi.
1.4.2. Volume bahan campuran beton diperiksa.
1.4.3. Rencana campuran beton diperiksa.
1.4.4. Dokumen campuran beton diperiksa.

1.5.

Memeriksa campuran beton.


1.5.1. Kesiapan lokasi kerja diperiksa.
1.5.2 Kesiapan sarana lokasi kerja diperiksa.
1.5.3 Kesiapan prasarana lokasi kerja diperiksa.

2. Perlengkapan dan Peralatan yang diperlukan untuk memeriksa gambar :


2.1. Perlengkapan antara lain :
2.1.1. Gambar denah bangunan.
2.1.2. Gambar tampak bangunan.
2.1.3. Gambar potongan bangunan.
2.1.4. Gambar rencana konstruksi beton.
2.1.5. Gambar detail konstruksi beton (bekisting, besi, areal bidang cor, dll).
2.1.6. Spesifikasi Teknis dan Pedoman Peraturan Beton yang berlaku.
2.2. Peralatan :
2.2.1. Alat ukur.
2.2.2. Kalkulator.
2.2.3. Alat Tulis Kantor (ATK).
2.2.4. Kamera.
2.2.5. Peralatan Slump Test.
2.2.6. Peralatan Benda Uji Beton.
3. Tugas-tugas yang harus dilakukan.
3.1. Mempelajari dokumen kontrak.
3.2. Mengawasi persiapan peralatan, material, dan tenaga kerja
3.3. Memeriksa metode kerja, ijin pelaksanaan kerja
3.4. Memeriksa bahan campuran beton
3.5. Memeriksa kesiapan lokasi kerja.
3.6. Memeriksa kesiapan peralatan benda uji beton.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

38

4. Peraturan-peraturan yang diperlukan.


4.1. Prosedur operasi standar perusahaan.
4.2. Spesifikasi, SOP dan peraturan tentang beton yang dipakai.
4.3. Standar / ketentuan SMK3L.
4.4. Petunjuk Manual mutu yang digunakan.

PANDUAN PENILAIAN
1. Kondisi Pengujian.
Kompetensi yang tercakup dalam unit kompetensi ini harus diujikan secara konsisten
pada seluruh elemen dan dilaksanakan pada situasi pekerjaan yang sebenarnya di
tempat kerja atau di luar kerja secara simulasi dengan kondisi seperti tempat kerja
normal dengan menggunakan kombinasi metode uji untuk mengungkap pengetahuan,
keterampilan dan sikap kerja sesuai dengan tuntutan standar.
Metode uji antara lain :
1.1. Ujian tertulis.
1.2. Ujian lisan.
1.3. Peragaan teknik di tempat kerja / simulasi.
1.4. Portofolio atau metode lain yang relevan.
2. Keterkaitan dengan unit lain :
2.2. Unit kompetensi yang harus dimiliki sebelumnya :
2.2. Kaitan dengan unit lain
2.2.1. ....................................01 Menerapkan Prosedur Pengawasan Pekerjaan
Beton di Tempat.
2.2.2. ....................................02

Mengawasi

Penerapan

Sistem

Manajemen

Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan


(SMK3L).
2.2.3..................................... 03

Melakukan Komunikasi dan Koordinasi di


Tempat Kerja.

2.2.4. .................................... 02 Melaksanakan Pengawasan Pekerjaan Beton.


2.2.5. .....................................03 Membuat

Laporan

Pengawasan

Pekerjaan

Beton.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

39

3. Pengetahuan Yang dibutuhkan :


3.1. Pemahaman dan penerapan gambar kerja/detail dalam pelaksanaan di lapangan.
3.2. Pemahaman dalam penggunaan peralatan kerja dan peralatan pendukung lainnya.
3.3. Pemahaman peraturan-peraturan yang berlaku untuk perwujudan hasil pekerjaan,
seperti :
3.3.1. Peraturan perundangan yang terkait dengan pengawas pekerjaan beton,
3.3.2. Prosedur operasi standar perusahaan.
3.3.3. Spesifikasi dan metode pengawas pekerjaan beton.
3.3.4. Standar / ketentuan SMK3L.
3.4. Pemahaman dalam jadwal pelaksanaan, produktifitas tukang, tugas dan tanggung
jawab setiap tukang / pekerja yang ada di bawah koordinasinya.
4. Keterampilan yang dibutuhkan :
4.1. Membaca dan menguasai gambar kerja.
4.2. Membaca dan memahami instruksi kerja.
4.3. Keterampilan untuk mengidentifikasi tempat-tempat kritis yang mungkin menjadi
hambatan kerja.
4.4. Keterampilan untuk mengidentifikasi material beton
4.5. Pengenalan lingkungan.
5. Aspek Kritis
Aspek Kritis yang harus diperhatikan :
5.1. Kemampuan menilai ketidak lengkapan gambar-gambar kerja.
5.2. Kemampuan menilai ketidak jelasan informasi pada persyaratan teknis dan
spesifikasi bahan.
5.3. Kemampuan untuk mengukur dimensi gambar dan tenaga kerja serta peralatan
yang diperlukan.
5.4. Kemampuan menerapkan metode / cara kerja yang tepat-guna dan berdaya guna.
5.5. Kemampuan untuk menerapkan peraturan-peraturan tentang SMK3L.
5.6. Kemampuan merencana jadwal pelaksanaan pekerjaan.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

40

6. Kompetensi Kunci.
NO

KOMPETENSI KUNCI

TINGKAT

1.

Mengumpulkan, menganalisis dan mengorganisasikan informasi.

2.

Mengkomunikasikan informasi dan ide-ide.

3.

Merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan.

4.

Bekerjasama dengan orang lain dan kelompok.

5.

Menggunakan gagasan secara matematis dan teknis.

6.

Memecahkan masalah.

7.

Menggunakan teknologi.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

41

KODE UNIT

....................................02

JUDUL UNIT

Melaksanakan Pengawasan Pekerjaan Beton

DESKRIPSI UNIT

Unit

kompetensi

ini

berhubungan

dengan

pengetahuan,

ketrampilan dan sikap kerja yang mencakup pengawas pekerjaan


beton, memeriksa kesesuaian mutu beton, memeriksa kekentalan
dan suhu beton, mengawasi pembuatan benda uji, memeriksa
hasil test beton, memeriksa kesiapan dan penggunaan alat bantu
kerja pelaksanaan pengecoran, memeriksa metode kerja dan
pelaksanaan
pengiriman

pengecoran,
beton,

memeriksa

serta

memeriksa

volume

dan

interval

penyelesaian

akhir

pelaksanaan beton di bangunan gedung

ELEMEN KOMPETENSI
1. Melakukan pengawasan /

KRITERIA UNJUK KERJA


1.1 Kesesuain mutu beton yang akan dipakai diperiksa

pemeriksaan mutu beton.

sesuai dengan standar beton yang dipergunakan


1.2 Test slump dan suhu beton diperiksa SOP pemeriksaan
slum dan suhu beton yang berlaku.
1.3 Pembuatan benda uji diawasi sesuai dengan peraturan
dan SOP yang berlaku
1.4 Hasil tes kuat tekan beton diperiksa sesuai ketentuan.
1.5 Laporan/catatan hasil pengawasan pemeriksaan mutu
beton dibuat dengan menggunakan format yang berlaku.

2. Melakukan pengawasan

2.1 Ketersediaan alat kerja pengecoran beton diperiksa standar

pemakaian alat kerja


pengecoran beton.

minimal alat pekerjaan beton yang ditetapkan


2.2 Kesiapan kondisi alat kerja pengecoran beton diperiksa
sesuai dengan manual dan SOP pemeriksaan kondisi alat
2.3 Penggunaan alat kerja pengecoran beton diawasi sesuai
dengan manual pengoperasian alat yang berlaku.
2.4 Ketentuan alat kerja pengecoran beton diawasi.
2.5 Laporan/catatan hasil pengawasan pemakaian alat kerja
pengecoran beton dibuat dengan menggunakan format
yang berlaku.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

42

ELEMEN KOMPETENSI
3. Melakukan pengawasan /

KRITERIA UNJUK KERJA


3.1 Metode pelaksanaan pengecoran beton diawasi sesuai

pemeriksaan pengecoran

dengan standar proses pengecoran beton yang

beton.

ditetapkan
3.2 Jarak waktu (Interval) pengiriman beton diawasi sesuai
dengan jadual waktu dalam perencanaan yang
ditetapkan dan disetujui
3.3 Volume beton yang dikirim, diawasi sesuai dengan
perhitungan kebutuhan volume beton dalam dokumen
tteknis kontrak
3.4 Proses pengecoran beton diawasi sesuai dengan SOP
yang berlaku
3.5 Penyelesaian akhir (finishing) pengecoran beton
diawasi sesuai dengan SOP yang berlaku.
3.6 Laporan/catatan hasil pengawasan pengecoran beton
dibuat dengan menggunakan format yang berlaku.

4. Melakukan pengawasan /

4.1 Metode perawatan beton diperiksa sesuai dengan teknis

pemeriksaan perawatan
beton.

perawatan beton yang ditetapkan


4.2 Proses perawatan beton diawasi. sesuai dengan teknis
perawatan beton yang ditetapkan
4.3 Hasil akhir perawatan beton diperiksa sesuai dengan
standar mutu beton yang ditetapkan.
4.4 Laporan/catatan hasil pengawasan perawatan beton
dibuat dengan menggunakan format yang berlaku.

5. Melakukan pengawasan /

5.1 Metode pembukaan / pembongkaran acuan dan perancah

pemeriksaan pembukaan /

diperiksa sesuai dengan persyaratan teknis pembokanaran

pembongkaran acuan dan

perancah yang ditetapkan.

perancah.

5.2 Proses pembukaan / pembongkaran acuan dan perancah


diawasi sesuai dengan persyaratan teknis pembongkaran
perancah yang diberlaku.
5.3 Proses perbaikan beton (jika ada) diawasi
5.4 Proses perapihan beton diawasi sesuai dengan
persyaratan standar mutu beton yang ditetapkan dan
SOP yang berlaku.
5.5 Laporan / catatan hasil pengawasan pekerjaan beton
dibuat dengan menggunakan format yang berlaku.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

43

BATASAN VARIABEL
1. Konteks Variabel.
1.1

Melakukan pengawasan mutu beton.


1.1.1. Kesesuaian mutu beton yang akan dipakai diperiksa.
1.1.2. Test slump dan suhu beton diperiksa.
1.1.3. Pembuatan benda uji diawasi.
1.1.4. Hasil tes kuat tekan akan diperiksa.

1.2

Melakukan pengawasan pemakaian alat kerja pengecoran beton.


1.2.1. Kesiapan alat kerja pengecoran beton diperiksa (kondisi dan jumlah).
1.2.2. Kesiapan kondisi alat kerja pengecoran beton diperiksa.
1.2.3. Penggunaan alat kerja pengecoran beton diawasi.
1.2.4 Ketentuan alat kerja pengecoran beton diawasi.

1.3

Melakukan pengawasan pengecoran beton.


1.3.1. Metode pelaksanaan pengecoran beton diawasi.
1.3.2. Internal dan jarak pengiriman diawasi.
1.3.3. Volume pengiriman dan total volume beton diawasi.
1.3.4. Proses pengecoran beton diawasi.
1.3.5. Penyelesaian akhir (finishing) pengecoran beton diawasi.

1.4

Melakukan pengawasan perawatan beton


1.4.1. Metoda perawatan beton diperiksa
1.4.2. Proses perawatan beton diawasi
1.4.3. Hasil Akhir perawatan beton diperiksa

1.5

Melakukan pengawasan pembukaan / pembongkaran acuan dan perancah.


1.5.1. Metode pembukaan / pembongkaran acuan dan perancah diperiksa.
1.5.2. Proses pembukaan / pembongkaran acuan dan perancah diawasi.
1.5.3. Proses perapihan dan perbaikan (jika ada) diawasi.
1.5.4. Proses perapihan beton diawasi.

2. Perlengkapan dan Peralatan yang diperlukan untuk pengawasan pelasanaan


pekerjaan beton.
2.1. Perlengkapan antara lain :
2.1.1. Peralatan SMK3L yang diperlukan dalam Pengawasan Pekerjaan Beton.
2.1.2. Perangkat lunak dan keras yang tersedia untuk menunjang penyusunan
rencana kerja.
2.1.3. Fasilitas kantor yang memadai di lokasi selama pelaksanaan pengawas
pekerjaan beton.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

44

2.2. Peralatan :
2.2.1.

ATK.

2.2.2. Kalkulator.
2.2.3. Jadwal Induk (Master Schedule) pelaksanaan pekerjaan.
2.2.4. Gambar Kerja dan SOP.
2.2.5. Peralatan Slump Test
2.2.6. Peralatan benda uji beton
3. Tugas-tugas yang harus dilakukan.
3.1. Melakukan Pengawasan kesesuaian mutu.
3.2. Melakukan pengawasan pemakaian alat kerja pengecoran beton.
3.3. Melakukan pengawasan pengecoran beton.
3.4. Melakukan pengwasan perawatan beton.
3.4. Melakukan pengawasan pembukaan/pembongkaran acuan dan perancah.

4. Peraturan-peraturan yang diperlukan.


4.1. Prosedur operasi standar perusahaan.
4.2. Spesifikasi dan petunjuk manual penggunaan alat bantu kerja.
4.3. Standar / ketentuan SMK3L.
4.4. Petunjuk Manual mutu yang digunakan.
4.5. Standar Operasional Pelasanaan Pengecoran Beton.
4.6. Peraturan dan Perundang-undangan Jasa Konstruksi.

PANDUAN PENILAIAN
1. Kondisi Pengujian.
Kompetensi yang tercakup dalam unit kompetensi ini harus diujikan secara konsisten
pada seluruh elemen dan dilaksanakan pada situasi pekerjaan yang sebenarnya di
tempat kerja atau di luar kerja secara simulasi dengan kondisi seperti tempat kerja
normal dengan menggunakan kombinasi metode uji untuk mengungkap pengetahuan,
keterampilan dan sikap kerja sesuai dengan tuntutan standar.
Metode uji antara lain :
1.1. Ujian tertulis.
1.2. Ujian lisan.
1.3. Peragaan teknik di tempat kerja/simulasi.
1.4. Portofolio atau metode lain yang relevan.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

45

2. Keterkaitan dengan unit lain:


1.1 Unit kompetensi yang harus dimiliki sebelumnya:
2.2. Kaitan dengan unit lain
2.2.1. ....................................01 Menerapkan Prosedur Pengawasan Pekerjaan
Beton di Tempat.
2.2.2. ....................................02

Mengawasi

Penerapan

Sistem

Manajemen

Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan


(SMK3L).
2.2.3..................................... 03

Melakukan Komunikasi dan Koordinasi di


Tempat Kerja.

2.2.4..................................... 01

Melaksanakan Pengawasan Persiapan


Pekerjaan Beton.

2.2.5..................................... 03

Membuat

Laporan

Pengawasan

Pekerjaan

Beton.

3. Pengetahuan yang dibutuhkan


3.1. Pemahaman dan menerapkan gambar kerja / detail dalam pelaksanaan di
lapangan.
3.2. Penerapan peraturan-peraturan yang berlaku untuk SMK3L.
3.3. Pemahaman dalam jadwal pelaksanaan, produktivitas tukang, tugas dan tanggung
jawab setiap tukang/pekerja yang ada di bawah koordinasinya.
4. Keterampilan yang dibutuhkan
4.1. Keterampilan di bidang pembuatan jadwal pekerjaan.
4.2. Keterampilan di bidang pembuatan jadwal penggunaan bahan.
4.3. Keterampilan di bidang pembuatan jadwal penggunaan peralatan.
4.4. Keterampilan di bidang pembuatan jadwal pembagian / penugasan tenaga kerja.
5. Aspek Kritis
Aspek Kritis yang harus diperhatikan :
5.1. Kemampuan menilai ketidak lengkapan gambar-gambar kerja.
5.2. Kemampuan menghitung volume pekerjaan.
5.3. Kemampuan merencana jadwal pelaksanaan pekerjaan.
5.4. Kemampuan menghitung kebutuhan bahan dan kebutuhan tenaga kerja serta
anggaran dan upah kerja.
5.5. Kemampuan menyusun program mingguan.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

46

6. Kompetensi Kunci.
NO

KOMPETENSI KUNCI

TINGKAT

1.

Mengumpulkan, menganalisis dan mengorganisasikan informasi.

2.

Mengkomunikasikan informasi dan ide-ide.

3.

Merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan.

4.

Bekerjasama dengan orang lain dan kelompok.

5.

Menggunakan gagasan secara matematis dan teknis.

6.

Memecahkan masalah.

7.

Menggunakan teknologi.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

47

KODE UNIT

.................................... 03

JUDUL UNIT

Membuat Laporan Pengawasan Pekerjaan Beton

DESKRIPSI UNIT

Unit

kompetensi

ketrampilan

ini

berhubungan

dan sikap kerja

dengan

pengetahuan,

yang mencakup

penyusunan

pelaporan pengawasan pekerjaan beton di bangunan gedung.

ELEMEN KOMPETENSI
1. Membuat laporan SMK3L.

KRITERIA UNJUK KERJA


1.1 Data-data terkait SMK3L dikumpulkan.
1.2 Laporan SMK3L dibuat sesuai format yang ditentukan.
1.3 Laporan SMK3L diserahkan kepada pihak yang terkait.

2. Membuat laporan

2.1 Data-data hasil pengawasan pekerjaan beton

Pengawasan Pekerjaan
Beton.

dikumpulkan dan diidentifikasi.


2.2 Laporan pengawasan pekerjaan beton dibuat.
2.3 Laporan pengawasan beton diserahkan kepada pihak
terkait.

3. Membuat Laporan Mampu

3.1 Materi yang berkaitan dengan laporan mampu telusur

Terlusur Proses. (Ijin,


Gambar, Lokasi denah,

proses dikumpulkan dan diidentifikasi.


3.2 Materi yang berkaitan dengan laporan mampu telusur

Jumlah Tenaga, Cuaca, Alat


Kerja, Nomer Kendaraan

proses dibuat.
3.3 Materi yang berkaitan degnan laporan mampu telusur

Truck Mixer (Batch Number)

proses diserahaan kepada pihak terkait.

BATASAN VARIABEL
1. Kontek Variabel.
1.1. Unit ini diterapkan sebagai kompetensi kelompok dan menjadi dasar penentuan
kemampuan untuk dapat melakukan penyusunan laporan pengawas pekerjaan
beton.
1.2. Unit ini berlaku untuk melaksanakan laporan pengawas pekerjaan beton yang
meliputi:
1.2.1. Seluruh proses kegiatan pelaksanaan beton.
1.2.2. Mutu, volume dan waktu pengadaan material beton
1.2.3. Jumlah dan volume tenaga kerja, alat bantu kerja, yang digunakan
1.2.4. Kondisi lingkungan, jalan kerja, cuaca, serta kejadian-kejadian yang ada
selama proses pelaksanaan pengecoran.
1.2.5. Catatan-catatan khusus saat berlangsungnya pelaksanan.
1.2.6. Penyusunan Laporan Mampu Telusur Proses.
SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

48

2. Perlengkapan dan Peralatan yang diperlukan untuk proses penyusunan laporan


pengawas pekerjaan beton.
2.1. Perlengkapan antara lain :
2.1.1. APD dan alat-alat SMK3L serta P3K yang terkait dengan pengawasan.
2.1.2. Daftar jumlah kebutuhan dan mutu material beton sesuai dengan gambar
pelaksanaan.
2.1.3. Gambar denah lokasi pelaksanaan pengecoran beton.
2.1.4. Peralatan angkut dan peralatan lain yang berhubungan dengan unit lainnya.
2.2. Peralatan :
2.2.1. ATK.
2.2.2. Kalkulator.
2.2.3. Jadwal Induk (Master Schedule) pelaksanaan pekerjaan.
2.2.4. Dokumen Kontrak
2.2.5. Format-format laporan pengawasan Pekerjaan Beton.
2.2.6. Kamera.
3. Tugas-tugas yang harus dilakukan.
3.1. Membuat laporan pengawasan pelaksanaan pekerjaan beton
3.2. Membuat laporan SMK3L
3.3. Membuat Laporan Mampu Telusur Proses (Ijin, Gambar, Lokasi denah, Jumlah
tenaga, Cuaca, Alat Kerja Batch Number)
4. Peraturan-peraturan yang diperlukan.
4.1. Prosedur operasi standar perusahaan.
4.2. Spesifikasi dan petunjuk manual pemasangan.
4.3. Standar / ketentuan SMK3L.
4.4. Petunjuk Manual mutu yang digunakan.
4.5. Peraturan dan Perundang-undangan Jasa Konstruksi.
4.6. SOP yang terkait dan kebijakan perusahaan.
PANDUAN PENILAIAN
1. Kondisi Pengujian.
Kompetensi yang tercakup dalam unit kompetensi ini harus diujikan secara konsisten
pada seluruh elemen dan dilaksanakan pada situasi pekerjaan yang sebenarnya di
tempat kerja atau di luar kerja secara simulasi dengan kondisi seperti tempat kerja
normal dengan menggunakan kombinasi metode uji untuk mengungkap pengetahuan,
keterampilan dan sikap kerja sesuai dengan tuntutan standar.
SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

49

Metode uji antara lain :


1.1. Ujian tertulis
1.2. Ujian lisan.
1.3. Peragaan teknik di tempat kerja/simulasi.
1.4. Portofolio atau metode lain yang relevan.

2. Keterkaitan dengan unit lain:


2.1. Unit kompetensi yang harus dimiliki sebelumnya:
2.2. Kaitan dengan unit lain
2.2.1. ....................................01 Menerapkan Prosedur Pengawasan Pekerjaan
Beton di Tempat.
2.2.2. ....................................02

Mengawasi

Penerapan

Sistem

Manajemen

Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan


(SMK3L).
2.2.3 .....................................03

Melakukan Komunikasi dan Koordinasi di


Tempat Kerja.

2.2.4. ................................... 01

Melaksanakan

Pengawasan

Persiapan

Pekerjaan Beton.
2.2.5. ...................................03

Melaksanakan Pengawasan Pekerjaan Beton.

3. Pengetahuan Yang dibutuhkan :


3.1. Pemahaman dan penerapan pengisian format-format laporan dalam pengawasan
di lapangan.
3.2. Pengecekan penerapan peraturan-peraturan yang berlaku untuk SMK3L.
3.3. Pemahaman dalam jadwal pelaksanaan, produktifitas tukang, tugas dan tanggung
jawab setiap tukang/pekerja beserta fungsi dan kegunaan alat bantu kerja yang
akan dipergunakan.
4. Keterampilan yang dibutuhkan :
4.1. Pemahaman tentang Pelaksanaan Pekerjaan Beton
4.2. Analisa perhitungan pekerjaan beton sederhana.
4.3. Hubungan kerja dengan pekerja, mandor, pelaksana, staf dan pimpinan proyek.
4.4. Manajemen untuk pengawas pekerjaan beton.
4.5. Pemahaman tentang mutu serta karakteristik beton.
4.6. Keuangan/pembukuan sederhana.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

50

5. Aspek Kritis.
Aspek Kritis yang harus diperhatikan :
5.1. Kemampuan menilai ketidak cocokan pelaksanaan dengan sop serta gambargambar kerja.
5.2. Kemampuan menganalisa kekuatan struktur bangunan.
5.3. Kemampuan menilai kesesuaian dalam memilih material dan tenaga kerja serta
peralatan yang diperlukan.
5.4. Kemampuan memahami pedoman SMK3L.

6. Kompetensi Kunci.
NO
1.

KOMPETENSI KUNCI
Mengumpulkan, menganalisis dan mengorganisasikan
informasi.

TINGKAT
2

2.

Mengkomunikasikan informasi dan ide-ide.

3.

Merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan.

4.

Bekerjasama dengan orang lain dan kelompok.

5.

Menggunakan gagasan secara matematis dan teknis.

6.

Memecahkan masalah.

7.

Menggunakan teknologi.

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

51

BAB III
PENUTUP

Dengan ditetapkannya Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Jasa


Konstruksi Sub bidang Bangunan Gedung untuk Jabatan Kerja Pengawas Pekerjaan
Beton berlaku secara nasional dan menjadi acuan bagi penyelenggaraan pendidikan dan
pelatihan serta uji kompetensi dalam rangka sertifikasi kompetensi tenaga kerja di
Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal,

Agustus 2009

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi


Republik Indonesia

SKKNI PENGAWAS PEKERJAAN BETON

52