Anda di halaman 1dari 6

Bab 1

Pendahuluan
Perguruan Islam al Khairaat adalah lembaga pendidikan yang didirikan oleh Sayed Idrus bin
Salim Al Jufrie seorang ulama asal Hadramaut (Yaman Selatan ) pada tahun 1930 di Palu
Sulawesi Tengah. Dalam waktu yang relative singkat cabang-cabangnya telah berkembang di
pelosok pedesaan. Kehadiran lembaga perguruan Islam al Khairaat di tengahtengah umat Islam
yang berpusat di Palu adalah bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan Negara,
Pendidikan dan pengajarannya terfokus pada bidang agama dan dakwah Islamiyah. Aktifitas
yang dilakukan oleh Perguruan Islam al Khairaat baik melalui dakwah, ceramah maupun
pendidikan adalah merupakan misi utama dari perguruan ini dalam upaya mengarahkan dan
member petunjuk terhadap umat manusia, dengan harapan dapt terhindar dari kebodohan dan
kesesatan. Faktor yang mendukung pesatnya perkembangan perguruan Islam al Khairaat
adalah menanamkan jiwa keikhlasan, bukan hanya dibebankan kepada para santrinya, tetapi
juga terhadap semua unsur yang terlibat dalam proses belajar mengajar, baik kyai atau
pengajarnya, pengelola maupun pembantu-pembantunya.Peranan perguruan Islam al Khairaat
dalam aktivitasnya di segala bidang kemajuan bangsa dan agama terutama dalam bidang
pendidikan dan menanamkan mental keagamaan adalah amat besar peranannya dalam upaya
peningkatan pendidikan dengan penyebaran Islam. Penelitian ini menggunakn metode historis
yaitu proses untuk menguji dan menganalisa secar kritis terhadap hasil rekaman dan
peninggalan masa lampau. Dalam pengumpulkan sumber data menggunakan studi literature
yaitu melalui penelitian kepustakaan, baik berupa dokumen maupun buku, Koran atau majalah,
juga mengadakan interview terhadap ahli waris (keluarga) pendiri perguruan Islam al Khairaat,
tokoh-tokoh masyarakat, dan juga alumni perguruan Islam al khairaat. Dari penelitian ini dapat
disimpulkan bahwa pada saat berdirinya perguruan Islam al Khairaat kondisi masyarakat Palu
tidak diatur oleh suatu peraturan yang Islam dan jauh dari hukum atau undang-undang Islam,
padahal masyarakat Palu mayoritas beragama Islam akan tetapi keadaan pendidikan
keagamaan masih terbatas dalam bentuk pengajian al Qur'an secara tradisional dengan cara
meniru dan menghafal serta ejaan yang dipakai dalam pengajian al Qur'an adalah
menggunakan ejaan bahasa Bugis. Setelah perguruan Islam al Khairaat ini berdiri dengan
aktivitasnya di bidang pendidikan dan pengajaran, bidang dakwah Islamiyah, serta usaha-usaha
sosial kemasyarakatan, peranan dan kontribusinya cukup signifikan ikut serta dalam
mencerdaskan kehidupan bangsa, menciptakan sumber daya manusia.

Bab II
Pembahasan
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang dikhawatirkan Belanda ketika mereka menjajah
Indonesia. Sebab, mereka menyadari bahwa ketakberpendidikan mayoritas rakyat Indonesia
kala itu merupakan salah satu akses utama mudahnya Belanda melakukan penjajahan dan
menggantungkan cita-cita kolonialisme di tanah air Nusantara. Sehingga, pendidikan di
Indonesia menjadi salah satu aspek yang dimonopoli dan paling diawasi oleh Belanda.
Oleh karena itu, ketika pada tahun 1914 Belanda terdesak untuk menyediakan akses
pendidikan bagi rakyat Indonesia. Maka, Belanda membuka lembaga pendidikan yang berbasis
Nasrani serta berada ketat di bawah pengawasan Belanda. Sehingga, lembaga pendidikan itu
pun sejatinya, hanya memenuhi kebutuhan pendidikan bagi orang-orang Belanda dan kalangan
pro-Belanda sekaligus menjadi akses bagi Belanda untuk memberikan doktrin kolonialisme
mereka kepada masyarakat Indonesia.
Kesadaran itulah yang kemudian dirasakan oleh Habib Idrus Bin Salim Al-Djufri. Sehingga,
beliau pun terdorong untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan murni yang berbasis Islam
di Palu yang kemudian diberi nama Madrasah Al Khairaat Al Islamiyah. Madrasah tersebut
secara resmi didirikan pada 30 Juni 1930 sesuai dengan peresmian gedung pertamanya.
Walaupun sejatinya madrasah tersebut telah berdiri dan berkiprah jauh sebelum itu.
Selain sebagai lembaga dakwah Islam di Indonesia. Lembaga pendidikan itu kemudian juga
diorientasikan guna menjadi lembaga untuk mencerdaskan rakyat Indonesia. Setidaknya, agar
rakyat Indonesia menyadari buruknya cita-cita kolonialisme Belanda yang telah lama
digantungkan di Nusantara serta menyadari akan keterjajahan dan ketertindasan mereka di
tanah airnya sendiri. Sehingga kemudian kemerdekaan dan kesejahteraan akan terasa di tanah
air Indonesia. Singkatnya, secara umum Al Khairaat memiliki cita-cita sesuai dengan namanya;
menebarkan kebaikan-kebaikan di Indonesia. Kewibawaan dan keterpandangan sosok Habib
Idrus Bin Salim Al-Djufri di Palu menjadikan Belanda terpaksa patut mengizinkan tekad Habib
Idrus Bin Salim Al-Djufri tersebut. Walaupun, sejak berdiri, Al Khairaat terus mendapatkan
pengawasan ketat dari Belanda. Hingga tahun 1933 merupakan tahun-tahun yang sulit bagi
Habib Idrus Bin Salim Al-Djufri dalam membangun Al Khairaat. Sebab, selama itu adalah masamasa awal perintisan Al Khairaat. Selain pengawasan ketat dan tekanan yang dilakukan oleh
pihak Belanda. Minimnya tenaga pengajar merupakan variabel lain yang menjadi hambatan
bagi Al Khairaat di masa-masa perintisan tersebut. Oleh karena itu, pada masa-masa itu Habib
Idrus Bin Salim Al-Djufri menjadi sosok guru utama yang terlibat di seluruh proses belajarmengajar di Madrasah Al Khairaat Al Islamiyah. Beliau juga menjadi sosok utama yang
melindungi dan mempertahankan eksistensi Al Khairaat di tengah-tengah pengawasan ketat
dan tekanan dari pihak Belanda. Namun, walau berada dalam keadaan yang begitu sulit, di
masa-masa perintisan itu Habib Idrus Bin Salim Al-Djufri telah mampu menorehkan berbagai
prestasi signifikan bagi rakyat Indonesia melalui di Al Khairaat.Sederetan prestasi signifikan
tersebut, diantaranya:
Masyarakat sekitar menjadi memahami Islam secara utuh serta meninggalkan berbagai tradisi
bernuansa animisme yang tak sesuai dengan ajaran Islam yang saat itu memang masih ada
dan berkembang di masyarakat sekitar.

Masyarakat sekitar mulai memahami buruknya cita-cita kolonialisme Belanda di tanah air
Indonesia serta mulai tumbuh kesadaran untuk mengakhiri penjajahan Belanda tersebut.
Mulai terkumpulnya dana-dana bagi kelanjutan pengembangan Al Khairaat, baik dari para
dermawan, simpatisan atau pun dari hasil usaha dagang Habib Idrus Bin Salim Al-Djufri yang
sebagian kemudian dihibahkan kepada Al Khairaat.
Mampu mendirikan sebuah gedung madrasah untuk menunjang proses belajar-mengajar di Al
Khairaat yang diresmikan pada 30 Juni 1930, sekaligus menyediakan kediaman bagi Habib
Idrus Bin Salim Al-Djufri di lingkungan gedung madrasah itu pula. Acara tersebut dihadiri oleh
sejumlah tokoh masyarakat sekitar, diantaranya; Madika Palu, Waliyullah Al-Habib Ahmad Bin
Ali Al Muhdar dari Wani.
Telah berhasil mencetak dua lulusan, yaitu Syech Abd. Rahman Bin Syech Al-Djufri
(keponakan Habib Idrus Bin Salim Al-Djufri) dan Muhammad Gasim Maragau (Putera Kaili).
Selain itu, juga tercatat telah berhasil mencetak dua tenaga pengajar yang kemudian diminta
oleh Habib Idrus Bin Salim Al-Djufri untuk membantu beliau di Al Khairaat, yaitu; S. Muhammad
Bin Syech Al-Djufri dan S. Sagaf Bin Syech Al-Djufri.
Ketika memasuki tahun 1934, upaya pengembangan Al Khairaat mulai dilakukan oleh Syech AlDjufri. Oleh karena itu, dari tahun itu hingga tahun 1956 dikenal sebagai masa pembangunan Al
Khairaat.
Upaya pengembangan tersebut dilakukan dengan pendekatan tradisional. Dalam artian, Syech
Al-Djufri melakukan pendekatan secara langsung dengan mendatangi berbagai tokoh-tokoh
serta kalangan-kalangan bangsawan sekitar serta menyampaikan ceramah-ceramah guna
menyampaikan dan menarik simpati masyarakat sekitar terhadap kiprah Al Khairaat. Kegiatan
tersebut dilakukan beliau hingga mencapai daerah Poso-Ampana, Luwak-Banggai, Tinombo,
Parigi, Gorontalo, Menado hingga mencapai wilayah Ternate. Bahkan, tercatat bahwa Syech AlDjufri sempat mengunjungi beberapa wilayah di Jawa dan Kalimantan.
Namun, hambatan tetap mewarnai laju perkembangan Madrasah Al Khairaat Al Islamiyah
tersebut. Dalam periode ini, salah satu hambatan terbesar yaitu saat Al Khairaat mengalami
Instruksi Peringatan. Instruksi ini muncul akibat kecurigaan yang mulai memuncak dari pihak
Belanda terhadap Al Khairaat dengan berbagai aktifitasnya. Terlebih, sejak awal kelahirannya Al
Khairaat telah diduga oleh pihak Belanda sebagai lembaga pendidikan yang mengimbangi dan
meredam upaya penyebaran ajaran Nasrani oleh lembaga-lembaga pendidikan bentukan
Belanda, khususnya Bala Keselamatan yang berpusat di Kalawara.
Oleh karena itu, pada tahun 1939 secara mendadak Inspektur Pengajaran dari Manado tiba-tiba
mendatangi Al Khairaat untuk melihat kurikulum serta buku pegangan pengajaran di Al Khairaat.
Pasalnya, sempat terkabar bahwa Al Khairaat menjadikan buku berjudul Izdhatun Nasyiin
karya Mustafah Algalayin dari Libanon sebagai buku pegangan pengajarannya. Dan, jika itu
benar-benar terbukti, maka dapat dipastikan bahwa Belanda akan menghentikan seluruh
aktifitas Al Khairaat karena dinilai mengancam eksistensi Belanda di Indonesia. Apalagi, tercatat
bahwa banyak alumnus Al Khairaat yang aktif sebagai anggota atau pun pengurus Serikat
Islam, sebuah organisasi yang gencar mendakwahkan Islam dan menggerakkan pengikutnya
untuk menuntut kemerdekaan Indonesia.
Sederetan kecurigaan itu membuat Belanda semakin ketat mengawasi dan menekan Al
Khairaat. Sehingga, laju pengembangan Al Khairaat pun menjadi terkendala. Beberapa tokoh Al
Khairaat pun banyak yang mulai ditindak karena tuduhan telah ikut serta secara aktif dalam
kegiatan menentang penjajahan Belanda dan menuntut kemerdekaan Indonesia. Diantara
beberapa insiden tersebut, yaitu:
Tuduhan terhadap M.S. Patimbing pada Desember 1939 yang dituduh mengadakan rapat

gelap di dalam Masjid Kampung Soho (Kota Luwuk) saat beliau masih bertugas sebagai guru Al
Khairaat di Ampana, Poso. Atas tuduhan itu, M.S. Patimbing dikenai hukuman oleh Belanda dan
Masjid Kampung Soho dilarang digunakan untuk ibadah shalat Jumat.
Pada tahun 1942, Ustad Abdussamad (Kepala Madrasah Cabang Dondo, Ampana) bersama
lima kawannya dikenai hukuman keras dengan dibuang ke laut sekitar Tojo dan Poso, Perairan
Teluk Tomini oleh Belanda.
Ketika penjajahan beralih ke tangan Jepang pun, pengawasan ketat dan tekanan keras
terhadap aktifitas Al Khairaat terus dilakukan oleh Jepang dengan asumsi yang sama;
dikhawatirkan Al Khairaat akan menjadi lembaga pendidikan yang mencerdaskan rakyat
Indonesia serta menyadarkan mereka akan keterjajahannya oleh Jepang serta nantinya
menuntut kemerdekaan. Dan, Al Khairaat dipaksa oleh Jepang untuk diliburkan hingga batas
waktu yang tak ditentukan dengan alasan gedung madrasah itu akan menjadi markas Nantako
oleh tentara Jepang. Tak aktifnya Al Khairaat berlangsung hingga Proklamasi Kemerdekaan RI
pada 17 Agustus 1945. Dan, saat Indonesia sudah merdeka, maka Al Khairaat pun aktif
kembali. Secara resmi instruksi aktifnya kembali Al Khairaat itu turun pada 17 Desember 1945.
Al Khairaat pun kembali berkiprah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bagi Indonesia.
Namun, perjuangan belum berakhir. Pasca-Proklamasi Kemerdekaan RI pun Al Khairaat masih
mendapat tekanan dari Nederlands Indische Civiel Administrasi (NICA)yang kala itu masih
menguasai daerah sana. Al Khairaat ditekan oleh NICA dengan tuduhan bahwa banyak
anggotanya yang terlibat dalam Gerilya Kilat, sebuah gerakan yang aktif mengadakan sabotase
dan menjadi mata-mata para pejuang pergerakan yang berusaha memerdekakan daerah sana
dari NICA.Di tengah-tengah berbagai hambatan itu, Al Khairaat tetap berkiprah dalam aspek
pendidikan. Sehingga, perkembangan dan prestasi semakin ditorehkan oleh Al Khairaat dalam
memajukan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Lulusan-lulusan berkualitas terus dicetak
oleh madrasah tersebut. Berbagai lulusannya juga telah diutus ke daerah-daerah serta
menorehkan berbagai prestasi dalam mencerdaskan rakyat Indonesia di masing-masing
daerah; Bailo, Tinombo, Pulau Togian, Banggai, Batui, Kintom, Bungku, Poso, dll. Mereka juga
hingga membuka cabang Al Khairaat di masing-masing daerah tersebut. Sehingga Al Khairaat
pun menjadi terkenal di berbagai wilayah di seantero Indonesia sebagai sebuah lembaga
pendidikan dan dakwah Islam yang mencerdaskan rakyat Indonesia dan berperan aktif dalam
mewujudkan kemerdekaan Indonesia.Di masa transisi, masyarakat di Lembah Palu
mengadakan gerakan yang pada puncaknya menyelenggarakan demonstrasi di hadapan
Pemerintah NIT di Palu untuk menyampaikan Maklumat 6 Mei 1950. Kegiatan itu mendapat
respon positif dan aktif dari Al Khairaat. Sehingga, pada 15 Juni 1951, Al Khairaat
menyelenggarakan konferensi terkait hal itu. Konferensi sehari di Gedung Al Khairaat itu dihadiri
sekitar 100 orang yang terdiri dari para tokoh masyarakat, kepala distrik hingga para raja sekitar
Palu, Donggala dan sekitarnya. Konferensi itu dipimpin oleh M.S. Patimbang dan sekertarisnya,
Kamaruddin Patimbang. Konferensi itu pun menghasilkan beberapa maklumat, yaitu:
Maklumat tentang kebulatan dukungan Al Khairaat terhadap Maklumat 6 Mei 1950, serta
menentang setiap ancaman terhadap Pemerintahan RI yang berpusat di Jogja.
Maklumat untuk membangun dan membina serta mengembangkan Al Khairaat sebagai wadah
yang bergerak untuk kepentingan rakyat Indonesia, khususnya umat Islam.
Pada tahun 1953, setelah Habib Idrus Bin Salim Al-Djufri kembali dari perjalanan panjangnya
membangun cabang-cabang Al Khairaat, beliau segera membangun gedung baru agar mampu
menampung kapasitas murid yang kala itu mulai melebihi kapasitas gedung lama. Beliau
mendirikan gedung bertingkat dua dengan motif bangunan ala Arab yang ditopang oleh dana
dari usaha dagang beliau serta bantuan dari para dermawan. Sejak saat itu, perkembangan

Madrasah Al Khairaat Al Islamiyah begitu pesat. Apalagi, paska kedatangan Hi. Rustam Arsjad
dari tugas mengajarnya di Kalimantan, beliau membuka madrasah satu tingkat di atas
Madrasah Ibtidaiyah, yaitu; Madrasah Mualimin. Madrasah Mualimin tersebut ditempuh selama
3 tahun dengan dibekali kurikulum berbasis keguruan. Sehingga, lulusannya siap untuk
diterjunkan langsung sebagai tenaga pengajar ke cabang-cabang Al Khairaat di seluruh
Indonesia. Bahasa Arab juga menjadi salah satu nilai unggul madrasah ini. Sehingga,
lulusannya dikenal dengan kualitas yang bermutu.
Pada tahun 1951, sebagai salah satu langkah adaptasi dengan kondisi daerah setempat, nama
Madrasah Al Khairaat Al Islamiyah dirubah menjadi Perguruan Islam Al Khairaat. Saat Abas
Palimuri kembali dari tugas belajarnya di SGA Jakarta, beliau juga mendapat restu dari Habib
Idrus Bin Salim Al-Djufri untuk mendirikan MLP (Madrasah Lanjutan Pertama), sederajat SMP.
Dan, selanjutnya juga dibuka PGAP yang disesuaikan dengan program PGA yang diasuh
langsung oleh Departemen Agama. Bachren Thajeb ditunjuk sebagai kepala sekolahnya.
Kegiatan non-akademis juga kemudian terus berkembang di Al Khairaat, dari olah raga hingga
keorganisasian. Ketika memasuki tahun 1956, Al Khairaat telah memulai menata
keorganisasiannya secara lebih sistematis. Mereka mulai melakukan langkah koordinasi dan
integrasi internal di Al Khairaat. Upaya koordinasi dan integrasi internal di Al Khairaat ini
sejatinya telah dimulai saat Al Khairaat melakukan Konferensi 15 Juni 1951. Namun, konferensi
itu ternilai masih terbatas. Oleh karena itu, secara resmi upaya pertemuan akbar antar
pengurus dan pimpinan Al Khairaat secara keseluruhan dilakukan pada tahun 1956 bertepatan
dengan Ulang Tahun ke-25 Al Khairaat. Pertemuan tersebut kemudian dikenal dengan
Muktamar I Al Khairaat. Muktamar I tersebut secara umum dilaksanakan guna memenuhi
keinginan Habib Idrus Bin Salim Al-Djufri untuk membicarakan dengan seluruh pengurus Al
Khairaat terkait perkembangan di masa itu serta orientasi Al Khairaat di masa depan. Muktamar
I tersebut memang ternilai sangat signifikan. Sebab, melalui forum itulah koordinasi dan
integrasi mulai terjadi di Al Khairaat. Selain itu, Muktamar I tersebut ternilai telah berhasil
merumuskan keorganisasian Al Khairaat secara sistematis. Pelaksanaan Muktamar Al Khairaat
itu pun menjadi agenda rutin Al Khairaat guna melakukan koordinasi, integrasi serta
sistematisasi internal di Al Khairaat. Muktamar II pun kembali dilaksanakan pada 1963 di
Ampana, Poso. Muktamar III berlangsung pada tahun 1970. Muktamar IV dilangsungkan pada
tahun 1981. Dan, Muktamar V digelar pada tahun 1987.

Bab III
Penutup
Sebagai Lembaga Pendidikan Islam yang berusaha untuk membentuk insan-insan yang
beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, lembaga ini memikul beban tanggung jawab moral
dan ide terhadap kehidupan dan perkembangan pendidikan Islam, demi kepentingan dan
peningkatan kualitas umat.
Penciptaan manusia yang berkualitas akan melahirkan umat yang mampu menciptakan
hubungan yang selaras antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan lingkungannya
dan manusia dengan Khaliqnya.
Pendiri Alkhairaat menempatkan peranan dan program pendidikan pada urutan prioritas yang
dianggap mampu memberikan nilai tambah terhadap peningkatan kualitas umat. Dan hal ini
telah mejadi komitmen "abnaul Khairaat" (penerus) untuk melanjutkan amanah pendirinya.
Sesuai pula dengan cita-cita awal berdirinya, bahwa lembaga ini tidak hanya bergulat dibidang
pendidikan secara khusus, namun telah berupaya memberikan dan sekaligus menanamkan
misi keislaman yang hakiki melalui jalur dakwah serta usaha-usaha sosial lainnya, seperti
pembinaan muallaf, suku terasing, dan lain-lain.