Anda di halaman 1dari 19

Membangun Perusahaan yang Adaptif

Penting bagi entrepreneur untuk mendirikan bisnis yang tetap felksibel di luar
fase startup. Perusahaan yang fleksibel meningkatkan peluang bagi
karyawannya, mengawali perubahan positif, dan menyebarkan gairah untuk
menjadi lebih inovatif. Entrepreneur dapat membangun sebuah perusahaan yang
adaptif dengan berbagai cara. Berikut ini bukan aturan yang mengikat tetapi
aturan berikut ini dapat meningkatkan peluang sebuah perusahaan untuk tetap
adaptif dan inovatif baik melalui dan setelah fase pertumbuhan.

Berbagi visi entrepreneur


Visi entrepreneur harus disebarkan ke seluruh perusahaan ke semua karyawan
agar mereka memahami arah perusahaan dan berbagi tanggung jawab atas
pertumbuhannya. Entrepreneur dapat berkomunikasi mengenai visinya secara
langusng kepada pegawainya melalui rapat, percakapan, atau seminar. Visi juga
bisa disampaikan memlaui kegiatan simbolis atau kegiatan lainnya seperti temu
sosial, acara penganugerahan, dan pameran. Apapun formatnya, berbagi visi
memungkinkan perseonel perusahaan untuk mendapatkan impian dan menjadi
bagian tak terpisahkan dalam membangun masa depan.

Meningkatkan persepsi peluang


Ini dapat dicapai dengan desain pekerjaan yang cermat. Pekerjaan ini
seharusnya memiliki tujuan yang jelas dan spesifik bagi mereka yang akan
dibebani tanggung jawab. Setiap level hierarki semestinya diberitahu mengenai
perannya dalam produksi hasil akhir produk atau layanan. Ini sering dikenal
sebagai "tetap dekat dengan pelanggan". Cara lain untuk meningkatkan peluang
ialah melalui koordinasi yang cermat dan integrasi seluruh area fungsional
dengan teliti. Ini memungkinkan pegawai dalam area fungsional berbeda untuk
bekerjasama sebagai satu keseluruhan yang erat dan solid.
Tanamkan perubahan sebagai tujuan perusahaan
Ini membutuhkan sebuah kecenderungan menuju inovasi dan perubahan
daripada pengukuhan status quo. Jika peluang diketahui, lingkungan perusahaan
harus tidak hanya mendorong peluang untuk muncul tatpi mencapai tujuan.
Dalam konteks ini, sebuah keinginan untuk menemukan peluang mungkin
muncul jika sumber daya diadakan dan kendala sektoral ditekan. Mengobarkan
semangat inovasi
Keinginan personil untuk mengejar peluang harus dipupuk secara teratur. Katakata saja tidak akan sanggup menciptakan iklim inovatif. Langkah yang spesifik,
seperti berikut ini harus diambil : sistem imbalan lingkungan yang
memungkinkan untuk gagal tanpa dihakimi, operasional yang fleksibel, dan
pengembangan tim perusahaan.

Kegagalan dalam Inovasi

Posted July 29, 2010 by Iwan Catur Kusworo in Work. Tagged: Innovation, Leadership,
Organization. 2 Comments

Riset menunjukkan bahwa antara 50 hingga 90 persen project


yang dilakukan oleh banyak organisasi hanya menunjukkan sedikit perbaikan atau bahkan
tidak memberikan kontribusi sama sekali terhadap goal perusahaan. Bahkan satu survei yang
berhubungan dengan produk dan inovasi menyatakan bahwa dari tiga ribu ide utnuk produk
baru, hanya satu yang berhasil sukses di pasaran.
Kegagalan merupakan sebuah hal yang tidak terelakkan dalam proses inovasi, bahkan
banyak organisasi yang terbilang sukses memasukkan hal ini sebagai sebuah faktor yang
memiliki resiko kejadian tinggi. Efek dari kegagalan inovasi berakibat pada hilangnya
investasi dan akan berakibat pada turunnya moral karyawan, umumnya berupa sikap sinis dan
hilangnya motivasi untuk berubah di kemudian hari.
Inovasi yang gagal seringkali merupakan ide-ide yang bagus, hanya saja di tahap berikutnya
ide-ide tersebut menghadapi kendala biaya, kurangnya skill atau kadang ketidaksesuaiannya
dengan goal organisasi saat itu.
Kegagalan seharusnya sudah bisa diidentifikasi sehingga ide-ide yang ada bisa segera
diseleksi lebih awal. Proses seleksi yang lebih awal akan menghindari penggunaan sumber
daya untuk aktifitas yang tidak memberikan keuntungan pada organisasi.
Sebuah organisasi bisa belajar bagaimana menghindari kegagalan jika setiap ide yang muncul
didiskusikan terlebih dahulu, bahkan diperdebatkan jika perlu. Pada kenyataannya pelajaran
berharga yang bisa diambil dari sebuah kegagalan seringkali lebih dikesampingkan daripada
pelajaran berharga yang bisa diambil dari sebuah kesuksesan.
Penyebab kegagalan inovasi ini sudah banyak diteliti dan menunjukkan hasil yang bervariasi.
Beberapa penyebabnya berasal dari luar organisasi (eksternal) sehingga sulit untuk
mengendalikannya, dan beberapa lainnya berasal dari dalam organisasi (internal). Penyebab
internal bisa dibagi menjadi penyebab yang berhubungan dengan struktur budaya organisasi
dan penyebab yang berhubungan dengan proses inovasi itu sendiri.

Penyebab internal yang berhubungan dengan struktur budaya organisasi:


1. Poor Leadership (Kurangnya kepemimpinan)
2. Poor Organization (Organisasi yang lemah)
3. Poor Communication (Kurangnya komunikasi)
4. Poor Empowerment (Kurangnya pemberdayaan)
5. Poor Knowledge Management (Manajemen keilmuan yang lemah)
Sedangkan penyebab internal yang berhubungan dengan proses inovasi antara lain adalah:
1. Poor goal definition (Penentuan tujuan yang lemah)
2. Poor alignment of actions to goals (Ketidaksesuaian antara pelaksanaan dengan
tujuan)
3. Poor participation in teams (Kurangnya partisipasi dalam tim)
4. Poor monitoring of results (Kurangnya pemantauan terhadap hasil yang dicapai)
5. Poor communication and access to information (Kurangnya komunikasi dan akses ke
pusat informasi)
Proses penentuan tujuan agar berjalan efektif harus dengan bahasa yang jelas serta
disampaikannya dengan cara yang mudah dipahami oleh setiap orang yang terlibat dalam
proses inovasi. Kesesuaian antara project yang akan dilaksanakan dengan tujuan organisasi
harus tergambarkan secara eksplisit. Tiap project harus bisa mewakili tiap goal. Partisipasi
anggota tim mengacu pada sikap mental tiap individu dalam tim tersebut, dan masing-masing
individu seharusnya mampu untuk bertanggung jawab pada tugas dan perannya. Selain itu
untuk lebih memacunya perlu diterapkan reward system, yang akan memberikan penghargaan
apabila berhasil mencapai target dari tiap goal. Pemantauan terhadap hasil yang dicapai
membutuhkan juga pemantauan terhadap goal, pelaksanaan dan tim yang terlibat dalam
proses inovasi.
Individu dalam tim bagaikan atom dari sebuah organisasi yang sangat dekat dengan
aktifitas sehari-hari. Apresiasi dan penghargaan serta motivasi untuk mewujudkan tujuan
organisasi dalam menghasilkan (atau bahkan melakukan inovasi terhadap) produk dan
layanan harus selalu diberikan.
Dari perspektif ini, inovasi bisa berhasil apabila secara terstruktur mampu menyatukan setiap
individu dengan organisasi dalam mencapai tujuannya. Inovasi juga secara efektif diharapkan
mampu memotivasi setiap individu agar tercipta budaya organisasi yang mendukung dalam
menciptakan masa depan yang jauh lebih baik.
Sejumlah produk teknologi terkenal di dunia akhirnya lenyap. Penyebabnya, si produsen
terlalu nyaman dengan kesuksesan. Padahal perkembangan teknologi yang begitu pesat
menuntut inovasi yang juga harus dilakukan secara cepat.

Sejumlah produk teknologi terkenal di dunia akhirnya lenyap. Penyebabnya, si produsen


terlalu nyaman dengan kesuksesan. Padahal perkembangan teknologi yang begitu pesat
menuntut inovasi yang juga harus dilakukan secara cepat.
Kodak dan Fuji Film adalah contoh dua nama terkenal ketika era rol film berjaya untuk
fotografi. Mereka melupakan untuk melakukan inovasi dan hanya fokus pada film. Padahal
mereka bisa mempunyai kemampuan untuk melakukan inovasi di bidang digital. Majalah
Forbes menyebutkan bahwa Kodak gagal menggunakan fotografi digital, teknologi yang
diciptakan.
Ini kegagalan strategis yang merupakan penyebab langsung dari penurunan selama beberapa
dekade Kodak sebagai fotografi digital. Ini menghancurkan model bisnis berbasis filmnya,
tulis Forbesdalam artikel yang berjudul How Kodak Failed. Gerard J Tellis, profesor
University of Southern Californias Marshall School of Business, menyebutkan Kodak adalah
contoh nyata sebuah brand yang kurang mengantisipasi perubahan. Saat masih berjaya,
Kodak hanya fokus pada percetakan.
Mereka sebenarnya mempunyai sebagian besar paten untuk digital fotografi, tetapi gagal
untuk komersialisasi karena fokusnya pada film. Ketika era film berakhir mereka panik.
Dalam keputusasaan, perusahaan mengakuisisi bisnis pencetakan dan pencitraan medis,
untuk mendiversifikasi jauh dari film, tulis Tellis, seperti dilansir Forbes(4/9). Tellis juga
mencontohkan bagaimana seharusnya Hewlett- Packard (HP) bisa mempunyai tablet jauh
lebih dulu dari Apple. HP telah memiliki tablet lima tahun sebelum Apple mengeluarkan
iPad. Tetapi, HP tidak mengusahakan untuk memperbesar produk tersebut karena fokus pada
personal computer (PC) dan komputer jinjing (laptop).
Hal ini menjadi bumerang bagi HP karena setelah Apple mengeluarkan iPad, penjualan PC
dan laptop mulai menurun. Jika HP mengembangkan inovasi mereka di bidang tablet sejak
awal, bukan tidak mungkin saat ini menjadi salah satu pemain terbesar di samping Apple dan
Samsung. Dalam keputusasaan, HP mengakuisisi perusahaan perangkat lunak, Autonomy,
sebesar USD11 miliar, kata Tellis yang kemudian menyebutkan nilai Autonomy kemudian
turun dalam beberapa bulan setelahnya.
Kegagalan HP mengantisipasi tablet bisa dijadikan gambaran bahwa masa depan PC cukup
suram. Saat ini PC memang masih banyak dipakai, khususnya di kantor- kantor baik
pemerintah maupun swasta, namun jumlahnya makin berkurang. Untuk kebutuhan pribadi,
hampir semua orang bahkan sudah menggunakan laptop atau tablet. Jika para produsen PC
tidak menyikapi perkembangan ini, sangatmungkinperusahaanmereka bakal gulung tikar.
Saat ini sudah banyak produsen yang menyadari hal tersebut.
Lembaga International Data Corporation (IDC) memprediksi penjualan PC akan turun 9,7%
tahunini. Penurunaninilebihbesar dibanding prediksi IDC pada Maret lalu yang sebesar 1,3%.
Tentang masa depan PC, Forbespada 13 Agustus lalu memublikasikan tulisan Death of the
PC: Time to Kiss Your Computer Goodbye?. Menurut analisa Forbes, kejatuhan PC di era
baru di mana smartphone dan tablet akan lebih dominan. Banyak hal yang bisa dilakukan
dengan kedua gadget ini.
Seperti memeriksa Facebook dan Twitter, menonton YouTube, bermain game, mengirim email, menjalankan aplikasi bisnis, dan banyak lagi. Tidak seperti PC, smartphone dan tablet
yang nyata portabel dan membiarkan pengguna bekerja dan bermain di mana pun mereka

memiliki koneksi seluler atau nirkabel. Mungkinitusebabnya IDC memperkirakan


pengiriman tablet akan melampaui PC portabel pada 2013 dan total pengiriman PC pada
2015, analisis Forbes sebagaimana ditulis kontributornya, Raj Sabhlok. Selain mobilitas,
perangkat ini juga akan memperluas opsi komputasi (computing) pribadi dengan faktor baru.
Metode input yang akan mengubah cara berinteraksi dan berpikir tentang teknologi.
Sederhananya, komputer dan komputasi akan menjadi semakin transparan. Mendatang
kegiatan duduk di depan monitor, mengetik pada keyboard dan menggeser navigasi kursor
dengan mouse akan semakin terabaikan. Pengguna gadget semakin dimanjakan dengan
berbagai aplikasi dan fitur. Di Apple misalnya ada Siri (fitur yang bisa diperintah melalui
suara).
Anda tidak perlu menatap iPhone atau iPad untuk menggunakan Siri. Tekan saja tombol
home dan mulai berbicara. Siri akan mengirim pesan, jadwal pertemuan, menjawab
pertanyaan, dan banyak lagi, tulis Sabhlok untuk menggambarkan semakin mudahnya
melakukan kegiatan berkomunikasi saat ini. Di Samsung, Galaxy S4 ada air gestures.
Aplikasi ini bisa membuat pengguna tidak perlu menyentuh secara fisik seperti menekan
menggesekkan layar telepon.
Cukup melambaikan tangan di depan sensor telepon untuk menampilkan waktu dan tanggal,
notifikasi, pesan yang belumdibaca. Semua gadgetakan melakukan inovasi untuk menambah
keunggulan. Inovasi bukan hanya dilakukan bagi produk yang terancam ditinggalkan, tapi
jugabagi produkyangsaat inimasihdigemari. Jikatidak, suatuhari produk itu akan ditinggalkan.
islahuddin
March 05, 2012 Penulis: Mazlan Mohamad
Kategori: Konvensional

Kebanyakan penganalisa ekonomi meramalkan, pada tahun 2012 banyak syarikat-syarikat


besar akan merasai kesan kegawatan ekonomi dunia akan menjadi lebih perlahan
berbanding tahun sebelumnya.

Ia dimulakan dengan berita pengumuman penutupan bahagian kamera jenama Kodak


sehingga terpaksa memfailkan perlindungan bankrup.
Pengumuman ini mengejutkan pemain-pemain industri korporat dunia terutama di Amerika
Syarikat. Ini kerana syarikat Eastman Kodak Co. (Kodak) mempunyai reputasi sebagai salah
satu syarikat global yang paling berinovasi.
Semenjak diasaskan 131 tahun yang lalu oleh George Eatsman, Kodak merupakan perintis
dan pencetus kepada idea dan inovasi baru dalam industri fotografi.
5 Inovasi Kodak Sebelum Bungkus Tikar

Mula memperkenalkan kameranya pada tahun 1888 dengan slogan You press the button, we
do the rest, Kodak berterusan menghasilkan pelbagai inovasi baru yang menjadi standard
baru dalam industrinya antaranya seperti berikut:
1. Menghasilkan gulungan filem penggambaran yang mampu merakam filem
dengan suara (1929).
2. Memperkenalkan filem Kodachrome yang mampu merakam gambar
berwarna (1935).
3. Memperkenalkan kamera instamatic iaitu kamera pertama yang
mudah digunakan oleh orang biasa malah oleh kanak-kanak dengan
kaedah point and shoot (1963).

4. Menghasilkan kamera digital (1975).


5. Melancarkan laman web yang membolehkan pengguna memuat naik
gambar dan berkongsinya dengan pengguna lain (1997).

Malah ramai yang tidak menyedari kamera dan filem Kodak digunakan untuk mengambil
gambar pertama di bulan pada tahun 1969.
Namun, apa yang menyebabkan syarikat gergasi Kodak, yang pernah menguasai 90% pasaran
filem dan kamera Amerika Syarikat, ditinggalkan jauh oleh pesaingnya dalam industri
kamera digital?
Terdapat dua faktor yang dikenalpasti oleh penganalisa industri menyumbang ke arah
kegagalan Kodak yang boleh dijadikan panduan bagi mereka yang mempunyai perniagaan
sendiri:
Tidak Berani Berubah

Penganalisa industri bersependapat ini adalah faktor utama kegagalan Kodak.

Walaupun Kodak merupakan syarikat pertama yang menghasilkan teknologi kamera digital,
namun ia tidak menggunakan kelebihan tersebut untuk menguatkan lagi cengkaman
pasarannya yang pada ketika itu menguasai 85% peratus pasaran kamera di Amerika
Syarikat.

Malah, jurutera Kodak yang menghasilkan teknologi tersebut pada tahun 1975, Steve Sasson,
menggambarkan reaksi dingin pengurusan tertinggi Kodak terhadap inovasi tersebut seperti
berikut :
But it was filmless photography, so managements reaction was this, thats cute but dont
tell anyone about it.
Sedangkan, ironinya, melalui kajian pasaran yang dijalankan Kodak sendiri pada tahun 1981,
mereka menganggarkan era kamera digital bakal menggantikan era kamera berasaskan filem
dalam tempoh sepuluh tahun lagi.
Pada masa yang sama, pesaingnya seperti Sony dan Canon melihat peluang tersebut dan
membuat tepat dengan membuat pelaburan besar dalam pengeluaran kamera digital.
Menurut pakar pemasaran di Amerika Syarikat, Avi Dan, sebab utama pengurusan Kodak
mengabaikan teknologi kamera digital adalah kerana mereka bimbang ia akan menjejaskan
jualan gulungan filemnya, dan kertas gambar Kodak yang merupakan penyumbang utama
kepada pendapatan Kodak.
Pengurusan Kodak sedar sekiranya ia beralih kepada kamera digital sebagai produk utama,
ini bermakna bahagian pengeluaran gulungan filem dan kertas gambar Kodak akan ditutup
sepenuhnya kelak.
Takut Rugi Besar

Disebabkan pelanggan tidak perlu lagi menggunakan gulungan filem dan mencetak gambar.

Kedua-dua produk Kodak tersebut mempunyai margin keuntungan mencecah 80% pada masa
itu, dan mereka tidak sanggup mengambil risiko mengorbankan margin untung yang
sangat tinggi ini.
Meskipun menyedari kamera digital mempunyai potensi besar untuk menjadi penjana utama
pendapatan Kodak.
Kesilapan pengurusan Kodak di sini ialah ia melihat perniagaan Kodak sebagai sebuah
pengeluar produk semata-mata. Jika Disney merupakan perniagaan yang menjual keriangan
dan kegembiraan, maka Kodak pula sebenarnya adalah perniagaan penceritaan (story
telling) .
Di mana sesiapa pun berpeluang merakam setiap detik indah dalam kehidupan mereka untuk
dipelihara, dikongsi dan diceritakan kepada teman-teman dan generasi akan datang.
Bukankah sekeping gambar lebih bermakna daripada seribu perkataan (a picture is worth a
thousand words)?
Penting Lagi Fokus Pada Kehendak Pelanggan

Apabila produk menjadi fokus utamanya, maka Kodak hanya mementingkan cara untuk
menghasilkan gulungan filem yang lebih baik dengan teknologi digital.
Sewajarnya, Kodak menggunakan teknologi digital untuk membolehkan pelanggan merakam
gambar dengan lebih mudah serta pada kos yang lebih rendah.

Tambahan, pengurusan Kodak pada masa itu percaya strategi pemasaran mereka yang
disokong oleh bajet yang besar, akan dapat mempengaruhi pelanggan untuk kekal
menggunakan gulungan filem bagi mengambil gambar.
Sedangkan realitinya, sikap dan kehendak pelanggan berubah mengikut perubahan
teknologi dan contoh terbaik adalah perubahan dari penggunaan komputer peribadi atau riba
kepada tablet komputer yang sedang berlaku sekarang.
Walaupun akhirnya Kodak menghasilkan kamera digitalnya secara serius untuk bersaing
dengan Nikon, Canon dan Sony namun ianya telah terlambat.
Ini diakui sendiri oleh Antonio Perez, CEO Kodak pada Ogos 2011 yang mengatakan Kodak
telah jauh ketinggalan di belakang pesaing-pesaingnya dalam era fotografi digital.
Pada yang sama kemunculan telefon bimbit berkamera turut menambah kesan negatif kepada
jualan kamera digital Kodak.
Visi Syarikat yang Gelap Gelita

Dalam usahanya untuk mengekang kejatuhan pendapatannya dan penguasaan pasaran yang
makin terhakis, Kodak membuat pelaburan dalam bidang-bidang perniagaan baru yang
kebanyakannya tidak berkaitan dengan perniagaan terasnya, melalui pengambilalihan
syarikat-syarikat lain.

Antara perniagaan yang dibeli adalah perniagaan bahan kimia, bahan pencuci, peralatan
pengujian perubatan dan perniagaan farmaseutikal.
Hampir kesemua perniagaan-perniagaan ini mengakibatkan kerugian besar pada Kodak, dan
terpaksa dilupus atau dijual termasuk perniagaan farmaseutikalnya.
Kodak ada turut melabur di dalam bidang perniagaan yang berkaitan iaitu pengeluaran
kamera digital, mesin pencetak inkjet dan membeli hakmilik laman web perkongsian foto
iaitu ofoto.com, yang dijenamakan semula sebagai Kodak Gallery.
Secara kasarnya ia kelihatan seperti pelaburan yang bersesuaian. Namun begitu terdapat satu
masalah pada modul perniagaan produk-produk barunya, iaitu masih memfokuskan pada
usaha untuk mendapatkan pelanggan mencetak gambar.
Kebebasan Kepada Pengguna

Seperti contohya, kamera digital Advantix Preview hanya membolehkan pengguna melihat
gambar yang diambil. Tetapi gambar tersebut tidak boleh disimpan secara digital. Sebaliknya
ia masih menggunakan gulungan filem.
Kamera EasyShare Kodak pula djual bersama mesin pencetak gambar (snapshot thermal
printers) dan ofoto.com pula diposisikan sebagai laman web, yang turut membolehkan
pengunjung mencetak gambar mereka secara pesanan melalui talian (online) .

Kodak gagal atau mungkin juga enggan untuk memahami bahawa fotografi secara digital
adalah mengenai kebebasan kepada pengguna, untuk memilih sama ada ingin mencetak
atau menyimpan sahaja gambar secara digital.
Dan realitinya, kebanyakkan pengguna kini memilih untuk tidak mencetak gambar tetapi
berkongsi dengan rakan-rakan di laman web melalui e-mel, Facebook, Flickr dan pelbagai
lagi laman media sosial. Era cuci gambar untuk disimpan di dalam album telah lama
berlalu.
Bagi penganalisa industri, apa yang berlaku di Kodak merupakan pengajaran amat penting
kepada syarikat-syarikat gergasi yang lain.
Apabila pengurusan Kodak menolak teknologi kamera digital atas alasan bimbang ia
membunuh produk sedia ada, ia sebenarnya membuka ruang kepada pesaing mereka untuk
membunuh produk tersebut bagi pihak Kodak dan meraih keuntungan dari situ.
Sekiranya Kodak menumpukan kepada penjualan kamera digital pada masa itu, keuntungan
yang dijana akan dapat mengimbangi kerugian bahagian gulungan filem dan kertas
gambarnya.
Kegagalan Kodak berubah mengikut perubahan semasa dan berasa selesa (complacent)
dengan kedudukan mereka mengakibatkan jenama Kodak yang telah bertahan lebih 131
tahun dalam industri fotografi kini hanya tinggal dalam lipatan sejarah.
Kredit: Viktor Nagornyy, BC Lee, Khnh Hmoong, ekkiPics, Keilir Iceland, ILRI
DALAM situasi pasar yang semakin kompetitif, diperlukan sebuah inovasi untuk
memenangkannya. Kreativitas adalah sebagai kunci kesuksesan inovasi. Lantas bagaimana
cara meningkatkan kreativitas karyawan?
Bagi seorang karyawan, kreativitas dapat membantu meningkatkan kemampuan
melaksanakan tugas-tugas yang diberikan dan kesuksesan dalam karier atau pekerjaan.
Karyawan yang kreatif akan selalu hadir dengan gagasan-gagasan baru agar ia dan juga
perusahaan dapat melaksanakan aktivitasnya dengan lebih efektif dan efifien.
Kreativitas berarti keberanian untuk mengambil risiko karena mencoba hal-hal baru yang
belum pernah dilakukan sebelumnya dan hasilnya belum pasti. Tentu lebih aman jika
memakai metode lama yang hasilnya sudah teruji. Ini berarti harus lebih berani melakukan
kekeliruan secara berlebihan. Tentu saja harus mempertimbangkan segala risiko dan
konsekuensi dengan cermat terlebih dahulu.
Jika demikian, kreativitas adalah sesuatu yang sangat luas penerapannya. Seperti dilansir dari
situs portalhr.com, secara sederhana, J.S Bruner mendefinisikan kreativitas dalam bukunya
Toward a Theory of Instruction sebagai kejutan yang efektif, di mana hasilnya adalah sesuatu
yang mengejutkan. Misalnya, karena baru, belum pernah ada, belum pernah terpikirkan, dan
unik.

Sementara dalam penelitian ilmiah yang berjudul The Process of Creative Thinking,
kreativitas dilihat sebagai salah satu dari tiga unsur, yaitu melihat dengan sudut pandang yang
baru, menemukan hubungan baru, membentuk kombinasi baru dari objek, konsep, atau
fenomena.
Kreativitas di perusahaan, lebih berorientasi kepada pengambilan keputusan kreatif untuk
menghadapi berbagai tantangan organisasi dalam mencapai tujuan bersama. Karena itu,
alangkah baiknya jika setiap karyawan memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan
kreatif, baik secara individu maupun kolektif, yang akhirnya berujung pada inovasi.
Untuk menumbuhkan kreativitas dalam diri karyawan, pendekatan melalui pelatihan,
training, atau seminar saja tidak cukup. Paling tidak dibutuhkan tiga elemen penting, yakni
fondasi, proses, dan reward. Hal mendasar yang dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan
yang kreatif adalah dukungan dari top manajemen.
"Sebagai pemimpin yang baik, tidak ada salahnya menampung ide-ide baru dari karyawan.
Jika karyawan memberikan ide, jangan langsung dimentahkan. Hal ini akan membuat
karyawan merasa tidak dihargai dan enggan menyumbang ide di kemudian hari," papar
Senior Consultant EXPERD Linawaty Mustopoh.
Adakalanya pula, karyawan merasa tidak percaya diri untuk mengemukakan gagasan,
padahal dirinya memiliki gagasan yang cemerlang. Mencermati hal ini, merupakan tugas
atasan untuk melakukan pendekatan kepada karyawannya dan mendorong mereka untuk
berani mengeluarkan gagasan tersebut.
Sementara untuk mengembangkan kreativitas sendiri, perlu dikembangkan sebuah sistem
yang dapat mendukungnya. Dulu kita mengenal kotak saran yang terbuka bagi seluruh
karyawan untuk menyumbangkan sarannya melalui kotak tersebut. Namun, di sebagian besar
kasus, saran-saran itu hanya berkumpul di kotak itu saja tanpa ada tindakan lebih lanjut.
"Untuk menindaklanjuti, perusahaan dapat membentuk sebuah tim yang membahas saransaran yang masuk dan apakah mungkin untuk diterapkan," ujar Linawaty. Bukan tidak
mungkin, dari saran-saran yang masuk dapat bermanfaat dalam meningkatkan produktivitas
perusahaan. Cara lain untuk meningkatkan kreativitas karyawan, yakni dengan menciptakan
iklim kompetisi di korporasi.
Seperti sistem bonus yang diberikan kepada setiap individu yang mengerjakan tugasnya lebih
baik daripada yang lain. Dengan begitu, SDM lain pun akan terpacu untuk mengerjakan
tugas-tugasnya dengan lebih baik lagi. Menurut Linawaty, setiap orang dapat menjadi kreatif
asalkan mereka mau. Biasanya, orang kreatif mencintai pekerjaannya. "Jika seseorang tidak
menyukai pekerjaannya, kreativitas agak sulit ditumbuhkan," katanya.
Mitos yang menyatakan bahwa kreativitas hanya dimiliki orang-orang tertentu adalah keliru.
Sebaliknya, kreativitas dapat ditumbuhkembangkan pada setiap orang melalui proses yang
sifatnya bertahap. Sebuah penelitian menunjukkan, pemimpin yang memberikan stimulasi
intelektual dan mendorong bawahannya untuk berpikir lebih terbuka dapat meningkatkan
kreativitas bawahannya.
Kreativitas juga dapat ditumbuhkan melalui pelaksanaan tugas yang dilakukan bersama-sama

dengan orang lain. Kerja sama dengan orang lain dalam sebuah tim, terutama yang memiliki
latar belakang yang beragam, dapat mendorong kreativitas. (nsa)
Browser anda tidak mendukung iFrame
Setiap perusahaan pasti sangat mengharapkan memiliki para karyawan yang kreatif.
Bagamanapun juga kreativitas merupakan aset besar bagi setiap perusahaan. Kreativitas itu
sendiri memiliki peran yang besar untuk kemajuan bisnis, karena tanpa kreativiats suatu
usaha atau bisnis takan sulit untuk bisa bersaing.
Tingginya persaingan bisnis saat ini, mau tidak mau perusahaan harus memiliki inovasi yang
tinggi yang pastinya inovasi tersebut akan lahir dari para karyawan yang kreatif.
Sayangnya ide kreatif dari karyawan seringkali terpendam dan tidak bisa diekspresikan
secara maksmimal. Akibatnya, perusahaan tidak bisa memanfaatkan investasi dari dalam diri
karyawan secara maksimal pula.
Padahal, potensi yang dimiliki setiap karayawan bisa ditingkatkan agar ide kreatif yang
dimiliki bisa tereksplor secar maksimal. Didukung dengan pengetahuan yang cukup dan
tindakan yang tepat maka ide kreatif yang mereka miliki bisa ditingkatkan. Hal ini
merupakan bukti juga bahwa kreativitas adalah sesuatu yang bisa dipelajari.
Berikut ini cara meningkatkan kreativitas
a. Brainstorming merupakan cara yang bisa dilakukan oleh perusahaan untuk mengumpulkan
ide atau pendapat dari para karyawan. Langkah ini akan memancing kreativitas karyawan
untuk mencurahkan berbagai ide kreatif mereka.
Cara ini biasanya dilakukan dalam rangka pengembangan produk baru atau menciptakan
inovasi baru. Selain itu cara ini juga dianggap efektif dalam rangka membantu perusahaan
dalam menyelesaikan masalah mengenai persaingan bisnis dan lain sebagainya.
b. Memanfaatkan beragam ide dari para karyawan juga merupakan cara menigkatkan
kreativitas yang bisa lakukan oleh perusahaan. Ketika perusahaan sedang menjalani rapat,
pastinya aka nada berbagai ide kreatif yang muncul dari para anggota rapat. Melalui beragam
ide yang masuk, perusahaan bisa memanfaatkan beragam ide yang pastinya ide tersebut bisa
berdampak pada kemajuan perusahaan. Beragam ide tersebut juga bertujuan untuk
mendapatkan perspektif baru.
c. Pelatihan merupakan salah satu pendukung dari tahapan brainstorming. Pelatihan yang
diberikan bisa memasukkan unsur permainan dan juga pemberian motivasi.
Cara ini sangat penting untuk membantu menigkatkan rasa percaya diri dari setiap karyawan.
Selain itu, cara ini juga sangat efektif untuk melatih karyawan ketika bekerja dalam tim.

Selain itu melalui pelatihan dan berbagai kegiatan yang ada di dalamnya sangat diharapkan
mampu menghilangkan rasa takut ketika mereka akan menympaikan ide kratif mereka. Rasa
takut dan ragu yang seringkali dimiliki oleh mereka bisa menjadi hambatan terbesar dalam
memajukan suatu perusahaan.
d. Memberikan dukungan kepada karyawan juga merupakan salah satu cara meningkatkan
kreativitas. Dukungan yang diberikan bisa dimulai dari hubungan yang baik antara atasan
perusahaan dan karyawan.
Ketika hubungan yang baik terjalin maka akan memberikan semangat dan rasa percaya diri
kepada karyawan. Dengan begitu mereka akan leih terbuka dalam mengungkapkan ide yang
dimiliki.
e. Memberikan fasilitas yang diperlukan oleh karyawan juga sudah sepantasnya diberikan.
Beberapa fasilitas tersebut bisa meliputi media yang berupa teknologi, aneka buku refernsi
dan inspirasi, atau mungkin berbagai media lainnya.
Dengan mengatahui cara meningkatkan kreativitas tersebut, seharusnya perusahaan bisa
segera meningkatkan kualitas karyawan melalui peningkatan kreativitas yang mereka miliki.
Hal ini sangat penting untuk dilakukan sebagai upaya untuk terus meningkatkan kualitas
perusahaan.
Angka persaingan dalam dunia bisnis yang terus meningkat memang hanya bisa diimbangi
dengan ide kreatif dan mewujudkannya menjadi suatu produk unggulan dari perusahaan itu
sendiri.
Jika potensi yang dimiki oleh karyawan tidak bisa dikembangkan secara maksimal, maka
sebenarnya perusahaan sudah bisa dikatakan tidak berhasil dalam mengembangkan potensi
yang ada.
Salah satu kunci sukses sebuah bisnis ada di dalam karyawannya. Karyawan
merupakan stakeholder utama sebuah bisnis. Alasannya, tanpa mereka bisnis
tidak bisa dijalankan dengan semestinya. Salah satu cara membangun tim yang
baik adalah menumbuhkan kreativitas di dalam diri karyawannya. Bagaimana
caranya? Richard Branson, pendiri Grup Virgin, menandaskan cara membangun
kreativitas di dalam diri karyawan tidak lain adalah dengan memberikan
kebebasan kepada mereka.
"Sejak awal membangun Virgin, saya menggunakan pendekatan tersebut
dengan memberi karyawan kebebasan, kebebasan yang sama yang selama ini
saya nikmati," kata Richard Branson dalam kolomnya di situs entrepreneur.com.
Sampai sekarang, Grup Virgin terbentuk dari lusinan perusahaan yang dikepalai
oleh CEO dan manajer yang memiliki kebebasan untuk menjalankan bisnis
mereka sendiri. "Filosofi ini mungkin bertentangan dengan aturan bisnis pada
umumnya di mana harus ada komando dari pusat. Tapi, kenyataannya hal ini

menjadi salah satu kunci keberhasilan bisnis kami," kata Branson.


Pada tahun lalu, Virgin meluncurkan bisnis mobile di Chili dan Polandia, dua
negara yang mana merek Virgin sama sekali belum dikenal. Proses bisnis di sana
diakui Branson cukup sulit dan berisiko. Tapi, tim Virgin di sana dinilai telah
bekerja dengan sangat baik. Tim di Chili dan Polandia mampu membaca dan
memenuhi kebutuhan pasar di masing-masing area sehingga bisnis bisa berjalan
dengan baik.
"Kami memberi kebebasan besar kepada karyawan di kedua negara tersebut
untuk melakukan hal-hal yang menurut mereka baik dan cocok dengan konteks
di sana. Dan, kedua perusahaan tersebut bisa membuktikan diri sukses di proses
awal," kata Branson.
Branson menandaskan juga bahwa memberi kebebasan kepada karyawan
ternyata bisa menumbuhkan rasa memiliki dan passion kuat mereka dalam
bekerja. Kultur kuat Grup Virgin, sambung Branson, adalah berani menerobos
aturan-aturan tradisional dalam berbisnis dan selalu melihat nilai lebih
ketimbang profit dari strategi out of the box tersebut. "Don't just play the game,
Changet it for good!" pungkas Branson. http://ldreddeer.ca/wpcontent/uploads/2012/03/richard_branson.jpg

Bab II: Membangun Kreativitas dan Inovasi


1. Inovasi adalah kemampuan seseorang untuk mengembangkan ide-ide untuk memecehan
masalah dan ide-ide tersebut dapat diterima oleh masyarakat.
2. Inovasi digunakan dalam kewirausahaan untuk dapat membuat sesuatu yang baru yang
berbeda dari pasar dengan mengeluarkan ide-ide baru yang dapat diterima dan diminati oleh
masyarakat.
3. Beberapa tahap dalam proses inovasi adalah sebagai berikut:
Melihat peluang. Peluang muncul ketika ada persoalan yang muncul atau
dipersepsikan sebagai suatu kesenjangan antara yang seharusnya dan realitanya. Oleh
karenanya, perilaku inovatif dimulai dari ketrampilan melihat peluang.
Mengeluarkan ide. Ketika dihadapkan suatu masalah atau dipersepsikan sebagai
masalah maka gaya berfikir konvergen yang digunakan yaitu mengeluarkan ide yang
sebanyak-banyaknya terhadap masalah yang ada. Dalam tahap ini kreativitas sangat
diperlukan.
Mengkaji ide. Tidak Semua ide dapat dipakai, maka dilakukan kajian terhadap ide
yang muncul. Gaya berfikir divergen atau mengerucut mulai diterapkan. Salah satu dasar
pertimbangan adalah seberapa besar ide tersebut mendatangkan kerugian dan keuntungan. Ide
yang realistic yang diterima, sementara ide yang kurang realistic dibuang. Kajian dilakukan
terus menerus sampai ditemukan alternative yang paling mempunyai probabilitas sukses yang
paling besar.

Implementasi. Dalam tahap ini, keberanian mengambil resiko sangat diperlukan.


Resiko berkaitan dengan probabilitas kesuksesan dan kegagalan, oleh karenanya David Mc
Clelland menyarankan pengambilan resiko sebaiknya dalam taraf sedang. Hal ini berakaitan
dengan probabilitas untuk sukses yang disebabkan oleh kemampuan pengontrolan perilaku
untuk mencapai tujuan atau berinovasi.

4. Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk mengembangkan ide-ide untuk


memecahkan masalah dan bahkan menemukan peluang baru dengan ide-ide baru tersebut.
5. Peran kreatifitas dalam kewirausahaan adalah dengan kemampuan tersebut seseorang dapat
memutarbalikkan keadaannya dengan melihat dan menemukan peluang yang dia dapat dari
ide-ide yang dia keluarkan agar seseorang dapat melakukan usaha yang baru di pasar.
6. Cara berpikir kreatif dalam kewirausahaan adalah dengan tidak membatasi pikiran diri
sendiri, hilangkan asumsi-asumsi, penilaian-penilaian lalu coba berpikir lagi. Ketika anda
tidak membatasi pikiran anda, maka anda sudah termasuk orang yang berpikir kreatif dan
out of the box
7. Cara membangun kreatifitas, yaitu :
Ubah cara berfikir anda dari negative ke positif
Selalu bertanya
Bertindak
Mencari sudut pandang lain
Cari informasi sebanyak-banyaknya
Disiplin
Jangan biarkan kritik menghambat kreatifitas
Membuat sesuatu
Jangan takut gagal
8. Faktor-faktor yang mempengaruhi inovasi dan kreatifitas dalam perusahaan, yaitu :
Lingkungan, yaitu perusahaan manufaktur dengan pangsa pasar terendah lebih besar
kemungkinannya untuk berinovasi melalui inovasi yang bersifat reaktif, adaptif atau serentak.
Mutu, yaitu perusahaan inovatif memberikan perhatian besar pada mutu, tetapi
pengecekan mutu tidak hanya dilakukan pada akhir produksi, tetapi pada setiap proses kerja
yang didukung informasi.Kerjasama tim, yaitu perusahaan yang memperkenalkan dan
mengembangkan kerjasama tim yang efektif akan lebih berinovasi.
Komunikasi, yaitu komunikasi dan koordinasi antar departemen merupakan penentu
yang penting bagi inovasi.Komunikasi internal perusahaan berupa pertemuan berkala juga
berpengaruh terhadap inovasi.
Dukungan manajemen, yaitu komitmen manajemen dan dukungan sumber daya
manajemen sangat mempengaruhi karyawan mengembangkan inovasi.
Keterbukaan, yaitu perusahaan inovatif membiarkan kebijakan, strategi dan asumsi
terbuka untuk dipertanyakan.Partisipasi, yaitu keterlibatan karyawan untuk menumbuhkan

rasa memiliki dan saling menghormati serta menghilangkan kecurigaan diantara para
karyawan dan manajemen.
9. Faktor-faktor yang menghambat inovasi dan kreativitas dalam perusahaan, yaitu :
Menurut Zimmerer (dalam Suryana, 2003 : 44-45) ada beberapa faktor yang
menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya:
Tidak kompeten dalam manajerial. Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan
dan pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat
perusahaan kurang berhasil.
Kurang berpengalaman baik dalam kemampuan mengkoordinasikan, keterampilan
mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan.
Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik,
faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas.
Mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan memelihara aliran
kas menyebabkan operasional perusahan dan mengakibatkan perusahaan tidak lancar.
Gagal dalam perencanaan. Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan,
sekali gagal dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.
Lokasi yang kurang memadai. Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang
menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan perusahaan
sukar beroperasi karena kurang efisien.
Kurangnya pengawasan peralatan.Pengawasan erat berhubungan dengan efisiensi dan
efektivitas. Kurang pengawasan mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan tidak
efektif.
Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha.Sikap yang setengah-setengah
terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan
sikap setengah hati, kemungkinan gagal menjadi besar.
Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan.
Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan, tidak akan
menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh
apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan setiap waktu.

10. Nama Pengusaha : Steven Paul Jobs


Sejarah Singkat : Steven Paul Steve Jobs (lahir di San Francisco, California, Amerika
Serikat, 24 Februari 1955 meninggal di Palo Alto, California, Amerika Serikat, 5 Oktober
2011 pada umur 56 tahun) adalah seorang tokoh bisnis dan penemu Amerika Serikat. Ia
adalah pendiri pendamping, ketua, dan mantan CEO Apple Inc. Jobs juga sebelumnya
menjabat sebagai pejabat eksekutif Pixar Animation Studios; ia menjadi anggota dewan
direktur The Walt Disney Company pada tahun 2006, setelah pengambilan alih Pixar oleh
Disney. Namanya dicantumkan sebagai produser eksekutif dalam film Toy Story tahun
1995.Pada akhir 1970-an, Jobs, bersama pendiri pendamping Apple Steve Wozniak, Mike
Markkula, dan lainnya, merancang, mengembangkan, dan memasarkan salah satu jajaran
komputer pribadi pertama yang sukses secara komersial, yaitu seri Apple II. Pada awal 1980an, Jobs termasuk orang-orang yang pertama kali melihat potensi komersial dari antarmuka

pengguna grafis yang digerakkan tetikus PARC Xerox yang kemudian mendorong pembuatan
Macintosh. Setelah kalah melawan keputusan dewan direktur tahun 1984, Jobs
mengundurkan diri dari Apple dan mendirikan NeXT, sebuah perusahaan pengembangan
platform komputer yang berkecimpung dalam pasar pendidikan tinggi dan bisnis. Pembelian
NeXT oleh Apple pada tahun 1996 membawa kembali Jobs ke perusahaan yang ia dirikan
bersama, dan ia menjabat sebagai CEO-nya sejak 1997 hingga 2011.
Visi : Apple di setiap meja.
Misi : Apple memicu revolusi komputer pribadi pada tahun 1970an dengan Apple II dan
diciptakan kembali komputer pribadi pada tahun 1980 dengan Macintosh. Apple
berkomitmen untuk membawa pengalaman komputasi personal terbaik kepada siswa,
pendidik, profesional kreatif dan konsumen di seluruh dunia melalui inovatif software,
hardware dan persembahan internet.
Nilai yang dianut : tidak mudah putus asa, disiplin, dan mau belajar
Produk : komputer desktop (iMac), laptop (Macbook Air), ponsel (iPhone), pemutar MP3
(iPod), komputer tablet (iPad), dan juga toko retail yang menjual music (Apple Music Store).
11. Untuk tugas kewirausahaan semester ini, saya beserta kelompok akan mencoba
memasarkan produk fashion seperti kaos (t-shirt) dan baju wanita yang sedang in akhir-akhir
ini.
12. Diferensiasi utama dari produk yang kami miliki adalah kami mendapatkan produk
langsung dari produsen dari luar untuk baju wanita dan membuat kaos pria dengan
menggunakan design dari kami sehingga produk kami berbeda dari produk pesaing yang
sejenis. oleh muhamadramadhan in Uncategorized mei,10,2012