Anda di halaman 1dari 17

DRAMA ASHABUL KAHFI Oleh: Acep Yonny

PARA PELAKU
TAMLIKHA: Pemuda, cerdas, penasihat raja
MARTUNUS: Pemuda, tegas, tegap, kepala keamanan istana
MAKSALMINA: Pemuda, bijak, seorang hakim
BIRUNUS:, Pemuda, idealis, penyair
DOMINUS: Pemuda, mudah lapar, penyair
YATHUNUS: Pemuda, ceplas-ceplos, penyair
FALYASTATYUNUS Pemuda, gagap dan latah, petani
QITMIR: Anjing hitam
RAJA: Berwibawa dan bijak
SINOPSIS
Drama Ashabul Kahfi diinspirasi dari surat Al Kahf, surat yang ke-18 dalam Kitab suci Al
Quran. Drama ini mengisahkan tujuh orang pemuda dan seekor anjing yang bersembunyi
di dalam gua. Ketujuh pemuda itu adalah Tamlikha, Martunus, Maksalmina, Birunus,
Dominus, Yathunus, Falyastatyunus, serta seekor anjing yang bernama Qitmir.
Dikisahkan bahwa mereka dikejar pasukan kerajaan yang dipimpin oleh seorang rejim
yang kejam. Rejim itu bernama Decyanus. Di samping dikenal sebagai raja yang zalim,
Decyanus adalah penyembah berhala yang mewajibkan seluruh rakyatnya untuk memuja
berhala. Tindakan yang zalim dan pemujaan berhala sangat bertentangan dengan
keyakinan tujuh pemuda. Ketujuh pemuda tersebut sangat meyakini akan Keesaan Tuhan
dan Tuhan yang sesungguhnya bukanlah berhala-berhala yang selama ini disembahsembah. Demi menjaga keyakinan inilah ketujuh pemuda rela meninggalkan jabatan,
pekerjaan, dan kesenangan yang bersifat duniawi. Akibatnya mereka diburu untuk
ditangkap karena keyakinan tersebut dapat membahayakan kerajaan. Dalam pelariannya
tersebut, ketujuh pemuda dan seeokor anjing bersembunyi di dalam gua. Dengan
kekuasaan_Nya, Allah menjaga dan melindungi ketujuh pemuda dari kejaran rejim
Decyanus. Allah menidurkan mereka selama tiga ratus tahun syamsiah atau tiga ratus
sembilan tahun qomariah. Kemudian, Allah membangunkan mereka kembali agar
menjadi pelajaran bagi manusia bahwa Allah Maha Besar dan tidak ada yang mustahil

bagi Tuhan. Meski sempat bertanya-tanya dan terheran-heran dengan kejadian yang
mereka alami, peristiwa tersebut makin menambah keimanan mereka kepada Tuhan.
PANGGUNG GELAP SOUND EFFECT: SUARA PERKUSI DARI BERBAGAI ARAH
ONLY SOUND (OS)
KOOR MASSA: Tangkap para pemberontak! Tangkap buronan!
LAMPU MENYOROT SEBUAH GUA TAMPAK MULUT GUA DAN SEBAGIAN ISI
DI DALAMNYA LAMPU MENYOROT PENONTON YANG DISETTING SEPERTI
BERADA DALAM HUTAN. TIGA ORANG PEMUDA BERLARI DARI ARAH
BELAKANG PENONTON KETIGA PEMUDA ITU LARI TERGOPOH-GOPOH.
SEMPAT TERJATUH, TETAPI SEGERA BANGUN DAN BERLARI
TAMLIKHA: Hai, akan kau bawa ke mana?
MARTUNUS: Ssst. Diamlah!
TAMLIKHA: Siapa kau?
MARTUNUS: Ssst. Belum saatnya bicara!
MAKSALMINA: Tapi
MARTUNUS: Cepatlah, tak ada waktu untuk berdebat!
TAMLIKHA: Kakiku sakit
MARTUNUS: Ayolah, mereka sebentar lagi menyusul kita.
TAMLIKHA: (Menyeringai kesakitan) Tapi
MARTUNUS: Cepatlah, kalau sampai kita tertangkap, kita akan dijebloskan ke dalam
penjara. Setelah itu kita disuruh bertarung dengan singa-singa yang lapar!
TAMLIKHA: Aku tak takut mati!
MARTUNUS: Tapi kita tak ingin mati sia-sia bukan!
MAKSALMINA: Kau benar, perjuangan belum berakhir!
TAMLIKHA: Ya, tapi(merintih kesakitan)
MARTUNUS: Mari, aku gendong Tuan. Naiklah ke punggungku!
TAMLIKHA DIGENDONG MARTUNUS MAKSALMINA MENGIKUTI DARI
BELAKANG DENGAN PENUH WASPADA KETIGA PEMUDA ITU MEMASUKI
GUA TAMLIKHA DAN MAKSALMINA LANGSUNG TERSUNGKUR KEHABISAN

TENAGA MARTUNUS TAMPAK WASPADA BERJAGA DI MULUT GUA


TAMLIKHA: Siapa kau?
MARTUNUS: Itu tak penting
MAKSALMINA: (Berbisik) Sepertinya dia adalah kepala keamanan istana.
TAMLIKHA: Kepala keamanan istana? O, ya, aku ingat. Dia, dia bernama Martunus.
MAKSALMINA: Kenapa Tuan pertaruhkan jabatan, bahkan nyawa Tuan untuk kami?
MARTUNUS: Itu tak penting.
TAMLIKHA: Kenapa?
MARTUNUS: Kenapa pula Tuan-Tuan berani menentang Yang Mulia?
TAMLIKHA: Ini masalah keyakinan Tuan.
MARTUNUS: Seperti halnya Tuan. Tuan adalah orang kepercayaan raja. Semua orang
mengagumi kecerdasan Tuan. Yang Mulia tak tak segan-segan menganugerahkan apa pun
yang Tuan inginkan. Apalagi yang kurang dari Tuan? Masih muda, tetapi telah menjadi
penasihat raja. Namun, kenapa Tuan justru menentangnya hingga Tuan dijebloskan ke
dalam penjara?
TAMLIKHA: Keyakinan kepada Tuhan tak bisa dihitung dengan akal, harta, dan jabatan.
Bahkan, selembar nyawa pun tak ada artinya bila disandingkan dengan keyakinan.
Keyakinan adalah landasan dasar keberimanan kepada Tuhan..
MARTUNUS: Bagaimana dengan Tuan Maksalmina? Tuan adalah seorang hakim agung.
Jabatan yang tidak sembarang orang mampu mendudukinya. Apalagi Tuan pun masih
terbilang sangat muda. Namun, kenapa Tuan berani menentang keputusan Yang Mulia?
MAKSALMINA: Aku tak takut kehilangan jabatan dan masa depanku. Yang lebih
kutakutkan adalah aku tahu kebenaran yang hakiki, tetapi aku tidak bisa menjalankannya.
MARTUNUS: Jadi kalian tidak takut dengan apa pun? TAMLIKHA: Tidak ada yang
perlu ditakutkan, kecuali kepada Allah semata.
MAKSALMINA: Kenapa Tuan melepaskan kami dari penjara dengan mempertaruhkan
nyawa sendiri?
MARTUNUS: Kalian adalah orang berilmu tinggi. Nyawa seorang ilmuwan jauh lebih
berharga daripada seribu orang awam. Sudah lama aku mengikuti pemikiran-pemikiran
Tuan. Keyakinan kita sama Tuan. Yakin bahwa Allah itu satu dan Maha Segalanya.

SOUND EFFECT: SUARA LAMAT-LAMAT ORANG BERTERIAK. MARTUNUS


SEGERA BERSIAGA DENGAN PEDANGNYA MELINDUNGI DUA PEMUDA.
TIGA PEMUDA BERLARI KETAKUTAN DARI ARAH PENONTON. DUA PEMUDA
BERLARI LEBIH DAHULU, SEDANG YANG SEORANG LAGI TERTINGGAL.
DOMINUS: (Napas yang tidak beraturan) Tunggu, tunggu
YATHUNUS: Aduh, ayo cepat!
DOMINUS: Aku tak kuat lagi.
BIRUNUS: Ayolah, mereka tidak jauh lagi.
DOMINUS: Na...na..pasku, ooh...
YATHUNUS: (Mengeluarkan perbekalannya) ini, minumlah!
DOMINUS: (Meminum dengan cepat). Kalian pergilah!
YATHUNUS: Sst, jangan melantur! Ayo cepat habiskan, lalu kita pergi!
DOMINUS: Kalian pergilah dahulu. Aku tak apa di sini.
BIRUNUS: Gila kamu ! Mana mungkin kami meninggalkanmu. Kau adalah bagian dari
kami!
DOMINUS : Tapi aku tak ingin kalian tertangkap gara-gara aku.
BIRUNUS : Sudahlah, nggak usah debat, ayo jalan !
DOMINUS DIPAPAH BIRUNUS DAN YATHUNUS. LAMPU MENYOROT GUA
TAMPAK MARTUNUS BERSEMBUNYI DI BALIK BATU DI DALAM GUA. IA
TENGAH

BERJAGA-JAGA

DENGAN

PEDANGNYA.

TAMLIKHA

DAN

MAKSALMINA TIDAK TAMPAK KARENA BERSEMBUNYI DI BALIK BATU


BESAR. BIRUNUS, DOMINUS, DAN YATHUNUS BERJALAN KE MULUT GUA.
BIRUNUS: Untuk sementara kita bersembunyi di sini.
YATHUNUS : Kau yakin di sini aman ?
BIRUNUS : Di sini tempat aku bertapa.
YATHUNUS : Kau yakin aman ?
BIRUNUS: Semoga Tuhan melindungi kita.
DOMINUS: Ya, hanya kepada Tuhanlah kita memohon perlindungan.
BIRUNUS: Ayo, kita masuk. Gua ini cukup luas.
KETIKA BIRUNUS, DOMINUS, DAN YATHUNUS MELANGKAH MASUK GUA,
MARTUNUS SEGERA MENGHUNUS PEDANGNYA.

MARTUNUS: Siapa kalian?


BIRUNUS, DOMINUS, DAN YATHUNUS MELANGKAH MUNDUR
BIRUNUS: Aaku..Aku..Birunus. Ini temanku Yathunus, dan Dominus.
MARTUNUS: Mau apa kalian kemari?
BIRUNUS: Kalau kau ingin menangkap kami, tangkaplah kami. Kami tak takut mati.
MARTUNUS: Siapa kau sebenarnya?
BIRUNUS: Sudah kubilang, Bi ru nus.
MARTUNUS: Mau apa kalian kemari?
BIRUNUS: Tidak perlu banyak bertanya. kalau kau ingin menangkap kami, tangkaplah!
Namun, kami takkan menyerah begitu saja!
MARTUNUS GEMAS. IA SIAP MENGAYUNKAN PEDANGNYA.
TAMLIKHA: Tunggu! Mereka bukan musuh kita. Tampaknya aku pernah mendengar
nama mereka. Siapakah kalian?
BIRUNUS: Ah, kami hanyalah sekelompok manusia yang suka bermain-main dengan
kata. Bagi kami kata tak sekadar deretan huruf, tetapi senjata sakti untuk menggugah
kesadaran manusia.
MAKSALMINA: Kesadaran? Apa maksudmu?
BIRUNUS: Menyatunya ilmu di dalam rasa. Menyatunya rasa di dalam tindakan Itulah
kesadaran.
TAMLIKHA: O, tak salah lagi. Aku jadi ingat. Syair-syair kalian telah membuat murka
Yang Mulia. Kalian sungguh pemberani!
BIRUNUS: "Sudah lama aku memikirkan soal langit. Aku lalu bertanya pada diriku
sendiri: 'siapakah yang mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan
terpelihara, tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah?
Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu? Siapakah yang menghias
langit itu dengan bintang-bintang bertaburan? ' Kemudian kupikirkan juga bumi ini:
'Siapakah yang membentang dan menghamparkannya di cakrawala? Siapakah yang
menahannya dengan gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan tidak
miring?' Aku juga lama sekali memikirkan diriku sendiri: 'Siapakah yang mengeluarkan
aku sebagai bayi dari perut ibuku? Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi
makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada yang membuat, dan sudah tentu bukan Yang

Mulia Decyanus.
SOUND EFFECT: SUARA LANGKAH KAKI ORANG BERLARI. SUARA ORANGORANG MENGEJARNYA SUARA ANJING MENYALAK LAMPU MENYOROT
SEORANG PEMUDA DAN SEEKOR ANJING SEORANG PEMUDA DAN SEEKOR
ANJING BERLARI DARI ARAH PENONTON. SEORANG PEMUDA BERLARI
DIIKUTI ANJINGNYA PEMUDA ITU MEMASUKI GUA. ANJING TERUS
MENYALAK DI MULUT GUA MARTUNUS TAMPAK BERJAGA-JAGA DENGAN
PEDANGNYA.

TAMLIKHA,

MAKSALMINA,

DOMINUS,

BIRUNUS,

DAN

YATHUNUS BERSEMBUNYI DI BALIK BATU.


FALYASTATYUNUS: (Menenangkan anjing dengan gagap) Ssst, ja..ja.. .ja..ja..jangan
be..be..be..risik!. Me..me..mereka pas..pasti akan me..menemu..kan ki..kita.
MARTUNUS

MENDEKATI

FALYASTATYUNUS

DENGAN

MENGHUNUS

PEDANGNYA FALYASTATYUNUS KAGET DAN MEMBUAT GERAKAN LUCU


ANJING ITU MENGERAM DAN SIAP-SIAP MEMBELA TUANNYA
MARTUNUS: Siapa kamu?
FALYASTATYUNUS: (Latah) Si..si..apa ka..kakamu?
MARTUNUS: Kamu siapa?
FALYASTATYUNUS: (latah) Ka..ka..kamu si..siapa?
MARTUNUS: Kubunuh kamu!
FALYASTATYUNUS: Ku..ku..ku.. bunuh ka...mu!
MAKSALMINA: Setop, dia pasti Falyastatyunus
FALYASTATYUNUS: Falyastatyunus sa, ya sa..saya.
MARTUNUS: Darimana Tuan tahu?
MAKSALMINA: Aku tengah mempelajari perkaranya. Dia sebenarnya tidak bersalah.
Dia petani yang jujur. Tapi, dia difitnah karena tidak mau bekerja sama dengan penguasa.
MARTUNUS: Jadi?
MAKSALMINA: Lepaskanlah. Dia orang yang baik!
FALYASTATYUNUS: A...a..aku pe..pe..pe..pe..ta..ni dari suku Yunus. Tu..Tuhan kami
adalah Tu..Tu..Tuhan langit dan bu...bumi. Ka..ka..kami ti..ti..dak me..menyeru se...selain
Dia.

SOUND EFFECT: SUARA ORANG-ORANG SEMAKIN DEKAT DAN RIUH


ANJING TERUS MENYALAK MARTUNUS: Ssst. Hentikan suaramu. Mereka akan
datang kemari.
FALYASTATYUNUS: Qit..Qitmir...ber..ber..hentilah!
DOMINUS: Tuan-tuan, apa yang harus kita lakukan? Mereka semakin mendekati kita.
MARTUNUS Tak ada jalan keluar. Kita sudah terkepung.
TAMLIKHA: Sabar. Tidak perlu panik. Inilah ujian keimanan kita. Kita pasrahkan
kepada Tuhan. Mari kita berdoa. Hidup dan mati ditangan Allah.
MAKSALMINA: (memimpin doa) Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami
dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini.
KETUJUH PEMUDA ITU MEREBAHKAN DIRINYA . DAN SEEKOR ANJING
DUDUK DI MULUT GUA. MEREKA SEMUA TERTIDUR MUSIK:
KOOR PADUAN SUARA MENYANYIKAN LAGU ASHABUL KAHFI (yang
dipopulerkan RAIHAN) LIRIK LAGU ASHABUL KAHFI (RAIHAN) Tercatat sudah
dalam sejarah Tujuh pemuda yang beriman Melarikan diri kedalam gua Demi
menyelamatkan iman Disangka tidur hanya sehari Rupanya 309 tahun Zaman bertukar
beberapa kurun Di bumi bersejarah Urdhu Begitulah kuasa Ilahi Kepada ashabhul kahfi
Tiada mustahil di dunia ini Jika kita beriman dan bertakwa Tercatat sudah dalam sejarah
Tujuh pemuda yang beriman Tulang belulang berserakan Tulang dari binatang
tunggangan Juga anjing yang dijanjikan surga Qitmir yang mulia
DALAM GUA_ PAGI HARI SOUND EFFECT: SUARA KICAU BURUNG KETUJUH
PEMUDA ITU MULAI BANGUN
TAMLIKHA: O, Sudah pagi rupanya
BIRUNUS: Pulas sekali tidurku.
YATHUNUS: O, badanku kotor sekali. Sebaiknya aku mandi dulu.
FALYASTATYUNUS: He, Qi..qittmir ma..mana? O, di..di.. ma..ma..na..dia?
DOMINUS: Lihat, tulang-tulang apa ini? Jangan-jangan FALYASTATYUNUS: Qit
qitqitmir?
MARTUNUS: Ada apa Falyastatyunus?
FALYASTATYUNUS MENANGIS
MARTUNUS: Siapa yang membunuhnya? Aneh, kenapa kita tidak dibunuh sekalian ?

Maafkan aku Falyastatyunus. Aku tadi tertidur. Aku tak sempat menjaga anjingmu.
MAKSALMINA: Aneh, rasanya kita baru sebentar tertidur. Tapi...
TAMLIKHA: Tidak ada tanda-tanda anjing ini dibunuh. Tulang ini bukan lagi seperti
tulang biasa. Tulang ini seperti fosil, seperti sudah beratus-ratus tahun lamanya.
BIRUNUS: Mana mungkin. Kita baru saja semalam di sini. Mana mungkin anjing ini
berubah menjadi fosil. Atau ini bukan Qitmir?
MARTUNUS: Semalam sudah kuperiksa seluruh isi gua ini. Tidak ada tulang belulang di
sekitar sini.
MAKSALMINA: Berarti ini tulang Qitmir?
DOMINUS: Siapa yang telah membunuhnya?
MARTUNUS: Semalam aku masih melihat dia duduk di sebelah Tuan Falyastatyunus.
Lalu aku tertidur dan aku bangun sudah seperti ini?
TAMLIKHA: Ehm, kurasa bukan semalam kita tertidur, tetapi telah bertahun-tahun.
BIRUNUS, DOMINUS,
YATHUNUS: Bertahun-tahun?
TAMLIKHA: Bukan, beratus-ratus tahun. BIRUNUS, DOMINUS, YATHUNUS:
Beratus-ratus tahun? Hahaha....
TAMLIKHA: Aku serius! BIRUNUS (Tertawa) Tuan pandai bercanda.
MAKSALMINA: (menunjuk sesuatu) Cepatlah keluar! Lihat ada yang aneh. Banyak
asap mengepul di sekitar sini. Berarti tempat kita tidak jauh dari perkampungan.
MARTUNUS: Sungguh aneh. Rasanya kemarin tempat ini hutan belantara, sangat jauh
dari perkampungan.
BIRUNUS: Aku sangat mengenal daerah ini. Setahuku gua ini jauh dari perkampungan.
Bahkan, gua ini jarang dikunjungi orang, kecuali aku yang suka bertapa di sini .
DOMINUS: Jadi sudah berapa lama kita tinggal di sini?
TAMLIKHA: Siapa yang mau pergi ke perkampungan? Kita semua sudah lapar. Kita
perlu belanja.
MARTUNUS: Aku saja.
TAMLIKHA: Jangan, itu berbahaya! Ciri-cirimu mudah dikenali orang. Kau saja
Falyastatyunus. Kau seorang petani, jadi tidak banyak yang mengenalimu.
FALYASTATYUNUS: Ta..ta..tapi...

TAMLIKHA: Aku akan membersamaimu. Kau punya uang kan?


FALYASTATYUNUS: Ya, ya...ma..masih ada. Cu..cu..cukuplah un..ununtuk makan
se..se..sehari.
MARTUNUS Ini, aku tambahkan uangnya agar dapat untuk bekal seminggu di sini.
BIRUNUS: Aku ikut. Aku bisa menjadi petunjuk jalan. Aku sangat mengenal daerah ini.
YATHUNUS: Aku juga ikut.
TAMLIKHA Cukup tiga orang saja. Tuan Falyastatyunus, Birunus, dan saya.
FALYASTATYUNUS: Ta..ta..tapi pa..pa..pakaian dan tu..tu..tubuh kikita susu..sudah
kokokotor?
BIRUNUS: Tidak jauh dari sini ada sungai. Kita mandi di sana.
MARTUNUS: Hati-hati, jangan berbuat yang mencurigakan. Kita semua berada dalam
pengawasan.
TAMLIKHA, BIRUNUS, DAN FALYASTATYUNUS BERPAMITAN OUT STAGE
YATHUNUS Apa yang harus kita lakukan di sini ?
MAKSALMINA : Kita tunggu mereka DOMINUS Tapi, perutku tak tahan lagi.
MAKSALMINA: Tunggulah, sebentar lagi mereka datang. DOMINUS: Aduh, aku lapar
MAKSALMINA: Bertahanlah
DOMINUS: Aku tak kuat lagi
MAKSALMINA: Sabarlah
MARTUNUS: Kenapa mereka lama sekali?
MAKSALMINA: Ah, baru sebentar.
MARTUNUS: Aku takut terjadi apa-apa.
MAKSALMINA: Kita pasrahkan kepada Tuhan. Semoga Tuhan melindunginya.
DOMINUS: Bagaimana kalau aku pergi mencari makanan? YATHUNUS: Jangan, tiga
orang sahabat kita saja belum pulang.
DOMINUS: Tapi
MARTUNUS: Kita tidak tahu keadaan di luar sana.
DOMINUS: Aku lapar sekali.
MAKSALMINA: Kita semua lapar, tetapi cobalah menahan diri.
MARTUNUS: Biar aku saja yang berburu. Kalian tunggu di sini.
MAKSALMINA: Tapi...

MARTUNUS: Jangan khawatir, aku seorang prajurit. Aku bisa bergerak dengan gesit.
Aku akan sekalian melihat keadaan di sekitar. Kalau ternyata tidak aman, kita harus
segera meninggalkan tempat ini.
MAKSALMINA: Baiklah, kau seorang prajurit tentu lebih paham daripada kami.
MARTUNUS Jangan meninggalkan gua ini sebelum ada pemberitahuan dariku!
MAKSALMINA: Berhati-hatilah, kawan!
MARTUNUS OUT STAGE YATHUNUS Menurutmu sudah berapa lama kita di sini?
DOMINUS: Entahlah
YATHUNUS: Ah, kau hanya perut saja yang dipikirkan
DOMINUS: Apalah artinya hari ini, esok, lusa, kemarin, atau bertahun-tahun yang lalu.
YATHUNUS: Semua waktu punya arti dan nilai.
DOMINUS: Lalu?
YATHUNUS: Dalam putaran waktu tentu banyak peristiwa yang bersejarah
DOMINUS: Bersejarah?
YATHUNUS: Tidakkah kau merasakan hal yang aneh dengan keadaan kita sekarang ?
DOMINUS:
Aneh?
YATHUNUS: Tentu saja aneh.
DOMINUS: Ya, ya, ya, aneh. Perutku terasa lapar sekali. Rasanya seperti sudah berharihari aku tak makan, padahal kita baru semalam di sini.
YATHUNUS: Selalu saja isi perut yang menjadi ukuranmu.
DOMINUS: Maaf, aku tak bisa lagi berpikir jernih.
SOUND EFFECT : SUARA BEBERAPA LANGKAH KAKI KUDA
MAKSALMINA: Ssst, kalian dengar suara apa itu?
YATHUNUS: Seperti.
SOUND EFFECT: SUARA RINGKIK KUDA DAN LAGKAH-LANGKAH KUDA
LEBIH DARI SATU.
MAKSALMINA: Ssst, ada yang menuju kemari!
MUSIK: IRAMA MENEGANGKAN YATHUNUS, DOMINUS, DAN MAKSALMINA
SEGERA BERSEMBUNYI DI BALIK BATU
YATHUNUS: Di mana Martunus, Birunus, Tamlikha, Falyastatyunus? Mengapa mereka

tidak kembali?
DOMINUS: Jangan-jangan
YATHUNUS: O, celaka kalau sampai tertangkap
MAKSALMINA: Sst, jangan menduga yang tidak-tidak.
DOMINUS: Jangan-jangan.
YATHUNUS: Bisa jadi.
MAKSALMINA: Ssst, jangan berpikiran buruk!
SOUND EFFECT: SUARA LANGKAH-LANGKAH KUDA YANG MENJAUH
YATHUNUS: Mereka pasti para prajurit yang menangkap teman-teman kita!
DOMINUS: (Menangis) O, tidak, aku tidak ingin kehilangan kalian.
YATHUNUS: Bagaimana Tuan Maksalmina? Apa yang harus kita lakukan?
MIKSALMINA: Kita doakan semoga teman-teman dalam lindungan_Nya.
YATHUNUS DAN DOMINUS: Amin.
DOMINUS MASIH MENANGIS
MAKSALMINA: Sudahlah, jangan menangis. Menangis tak menyelesaikan masalah.
YATHUNUS: Apakah sebaiknya kita menyusul mereka?
MAKSALMINA: Ke mana?
YATHUNUS: Istana. Mereka pasti dibawa ke sana.
MAKSALMINA: Lalu?
YATHUNUS: Kita lepaskan mereka!
MAKSALMINA: Kita harus menyadari kekuatan diri. Kita tidak memiliki ilmu bela diri.
Senjata pun tak punya.
YATHUNUS: Aku punya kawan dekat. Dia seorang jenderal. Mungkin beliau bisa
melepaskan kawan-kawan kita.
MAKSALMINA: Apakah jenderal itu berani melawan Yang Mulia?
YATHUNUS: Paling tidak, membujuk Yang Mulia agar memberikan hukuman yang
ringan. MAKSALMINA: Mustahil, aku kenal watak Yang Mulia. Kalau sudah membenci
seseorang, Yang Mulia tak segan-segan memberikan hukuman yang teramat keji.
YATHUNUS: Tapi, bukankah Tamlikha itu orang kepercayaan Yang Mulia?
MAKSALMINA: Tamlikha telah menghianati Yang Mulia! Tamlikha telah berani
menentang tuhan-tuhan yang disembah Yang Mulia.

YATHUNUS: Lalu.
MARTUNUS IN

STAGE DENGAN

TERGOPOH-GOPOH

MAKSALMINA,

DOMINUS DAN YATHUNUS SANGAT TERKEJUT


YATHUNUS: Kau
MARTUNUS: O, syukurlah kalian selamat!
MAKSALMINA: Ada apa ini?
MARTUNUS: Aku tadi melihat pasukan kerajaan menuju gua ini.
MAKSALMINA: Ya, untung saja tidak masuk gua.
MARTUNUS: Syukurlah
DOMINUS: Apa yang kau lihat di luar sana?
MARTUNUS: Sungguh aneh.
MAKSALMINA: Maksudmu?
MARTUNUS: Banyak yang berubah. Keadaan alamnya dan para penduduknya.
DOMINUS: Berubah?
MAKSALMINA: Alam di sekitar gua ini tidak sama dengan keadaan kemarin kita ke
sini. Tak jauh dari gua ini sudah ada perkampungan. Anehnya, model pakaian mereka
berbeda dengan kita.
DOMINUS: Berbeda?
YATHUNUS: Tentu saja beda. Kau kan pakai seragam prajurit yang sudah lusuh dan bau.
(Tertawa), sedangkan mereka rakyat biasa.
MARTUNUS: Tapi, pakaian mereka jelas berbeda dengan orang-orang kampung yang
biasa kita lihat.
MAKSALMINA: Lalu siapa mereka?
MARTUNUS: Itulah yang mengherankan. Logat bahasa mereka pun berbeda, tetapi
sedikitnya aku masih bisa memahaminya.
YATHUNUS: Kau sempat bicara dengan mereka?
MARTUNUS: Semula aku tak berani mendekati mereka, tetapi aku mendengar mereka
membicarakan kawan-kawan kita.
DOMINUS: Hah, apa yang terjadi dengan mereka?
MARTUNUS: Tampaknya Tamlikha, Birunus, Falyastatyunus telah ditangkap.
DOMINUS, YATHUNUS, MAKSALMINA: Ditangkap?

MARTUNUS: Mereka dituduh mencuri harta karun.


DOMINUS, YATHUNUS, MAKSALMINA: Mencuri harta karun?
MARTUNUS: Karena itu mereka dibawa ke istana
DOMINUS: Celaka. Mereka pasti mendapat hukuman yang berat.
DOMINUS MENANGIS KEMBALI
MAKSALMINA: Apa alasan mereka dituduh mencuri harta karun?
MARTUNUS: Aku tidak tahu. Aku segera pergi karena beberapa penduduk mulai
mencurigaiku.
YATHUNUS: Mencurigaimu?
MARTUNUS: Mereka selalu melihat pakaian yang kukenakan.
MAKSALMINA: Mereka mengejarmu ?
MARTUNUS: Entahlah. Aku segera menyelinap pergi.
DOMINUS: Namun, bagaimana nasib kawan-kawan kita?
YATHUNUS: Apa yang harus kita lakukan Tuan Maksalmina ?
MAKSALMINA: Aku belum bisa berpikir panjang. Kejadian ini sungguh mengejutkan.
MARTUNUS: Ada lagi yang membuatku merasa aneh.
YATHUNUS: Kau tidak sedang mengigau bukan?
MARTUNUS: Aku bicara dengan sesadar-sadarnya!
DOMINUS: Apalagi yang aneh?
MARTUNUS: Waktu aku melihat prajurit berkuda yang hendak menuju ke sini, aku lihat
seragam mereka berbeda dengan seragam prajurit yang biasa dikenakan.
MAKSALMINA: Berarti....ah, mana mungkin...
DOMINUS: Apa kita hidup di zaman yang berbeda?
YATHUNUS: Kau...kau tidak tengah bermimpi bukan?
MARTUNUS: Sudah kubilang aku berkata dengan penuh kesadaran. Kalau tak percaya
sini aku penggal kepalamu! (sambil menghunus pedangnya).
MAKSALMINA: Tuan, tahan emosimu! Sekarang semuanya duduk!
MAKSALMINA, MARTUNUS, YATHUNUS, DAN DOMINUS DUDUK. MEREKA
TAMPAK BERPIKIR KERAS.
SOUND EFEECT: SUARA DERAP KAKI-KAKI KUDA
MARTUNUS: Celaka. Mereka menuju kemari!

MAKSALMINA: Tenanglah, kita pasrahkan kepada Tuhan. Hidup dan mati adalah
wilayah kekuasaan Tuhan.
LAMPU

MENYOROT

TAMLIKHA,

BIRUNUS,

FALYASTATYUNUS

DAN

ROMBONGAN KERAJAAN DATANG DARI ARAH PENONTON.


TAMLIKHA: Ampun Yang Mulia. Sebaiknya kita berjalan kaki saja. Hamba khawatir
suara kuda-kuda ini membuat mereka ketakutan.
RAJA: Baiklah. Kita semua berjalan kaki dan tanpa banyak bersuara! .
TAMLIKHA, BIRUNUS, FALYASTATYUNUS, DAN ROMBONGAN KERAJAAN
BERJALAN KAKI MENUJU GUA. KETIKA MENDEKATI MULUT GUA,
TAMLIKHA MEMINTA ROMBONGAN BERHENTI.
TAMLIKHA: Ampun Yang Mulia. Sebaiknya hamba dan kawan-kawan yang masuk lebih
dahulu ke dalam gua. Hamba akan menjelaskan kepada mereka.
RAJA: Silakan!
TAMLIKHA, BIRUNUS, FALYASTATYUNUS MASUK GUA (IN STAGE) KETUJUH
PEMUDA ITU SALING BERPELUKAN.
MAKSALMINA: Kalian...bagaimana?
TAMLIKHA; Panjang sekali ceritanya.
BIRUNUS: Hai, kami bawakan makanan yang lezat buat kalian.
DOMINUS: O, makanan apa ini? Aku lapar sekali.
FALYASTATYUNUS:

Ma..ma..kanlah!

I..ni...pem...pem..pembe..be..rian

Yang...Yang...Mu..mu..lia.
MARTUNUS, DOMINUS, YATHUNUS, DAN MAKSALMINA: (Terkejut) Pemberian
Yang Mulia?
MARTUNUS: Kalian tidak dihukum?
BIRUNUS: Justru kami dijamu dengan sangat istimewa.
MARTUNUS, DOMINUS, YATHUNUS, DAN MAKSALMINA: Dijamu?
BIRUNUS: Ya, benar-benar dijamu. Yang Mulia sungguh baik dan bijak.
MAKSALMINA: Hah? Kalian pasti telah dicuci otak. Kalian telah menghianati
keyakinan kalian sendiri!
MARTUNUS: Aku tak sudi menerima makanan ini. (menghunus pedang) Pergi kalian.
Kalian telah berkhianat!

TAMLIKHA: Tunggu, jangan salah paham. Raja yang sekarang bukanlah Yang Mulia
Decyanus.
YATHUNUS: Maksud Tuan?
TAMLIKHA: Saat ini kerajaan dipimpin oleh raja yang alim, bijak dan satu keyakinan
dengan kita.

Yang Mulia sangat meyakini bahwa Tuhan itu hanya satu dan

Mahasegalanya.
DOMINUS: Benarkah?
BIRUNUS: Demi Tuhan, apa yang kami bicarakan adalah benar!
MAKSALMINA: Aku percaya dengan kalian. Semua ini memang terjadi di luar akal
manusia. Dan, kebesaran Tuhan tidak bisa kita ukur dengan keterbatasan akal manusia.
TAMLIKHA: Atas kejadian ini sesungguhnya kita harus lebih meyakini atas kekuasaan
Tuhan.
BIRUNUS: Kita sungguh bersyukur telah dipilih Tuhan menjadi salah satu bukti
kekuasaan Tuhan. Semoga orang-orang menyadarinya.
FALYASTATYUNUS: Ma..ma..af, Ya..ya..Yang Mu..mu..lia tetetelah meme
nunggu.
TAMLIKHA: Oya, kami tadi diantar langsung oleh Yang Mulia beserta para pembesar
istana. Mereka ingin bertemu dengan kalian.
YATHUNUS: Wow, kita akan menghadap raja baru. Siapa nama Yang Mulia ?
MAKSALMINA: Tidak! Itu tidak penting!
TAMLIKHA: Maksudmu?
MAKSALMINA: Sebaiknya kita tidak menemui Yang Mulia dan siapa pun juga.
BIRUNUS Kenapa begitu?
MAKSALMINA: Akuaku
TAMLIKHA: Katakanlah.
MAKSALMINA: Aku takut.
MARTUNUS: Aku akan melindungimu.
MAKSALMINA: Aku tak
BIRUNUS: Tenanglah. Raja yang sekarang sungguh bijak.
MAKSALMINA: Aku tak pernah takut akan hal itu. Kematian bukan hal yang perlu kita
takutkan. Tapi ....

YATHUNUS: Tapi, apa Tuan?


DOMINUS: Kau trauma?
MAKSALMINA: Aku takut kita kehilangan_Nya.
MARTUNUS: Apa maksudmu?
MAKSALMINA: Tak lama lagi kita akan dikenal oleh banyak orang. Seluruh warga
negeri ini akan membicarakan kita. Kita pasti akan disanjung dan didewa-dewakan.
DOMINUS (Membayangkan yang indah) Oh, kita akan menjadi orang paling penting.
Apa pun yang kita minta pasti terwujud.
YATHUNUS (Membayangkan yang indah) Kau benar. Kita akan hidup damai. Tak ada
yang perlu dipermasalahkan lagi soal keyakinan. Mereka sama-sama mengakui Tuhan
yang Esa.
MAKSALMINA: Tentu saja aku bersyukur berada di negeri yang baru ini. Namun, aku
belum siap menjadi orang terkenal. Aku takut lupa diri. Lupa pada siapa yang
menciptakanku. Aku takut muncul tuhan-tuhan baru dalam diriku.
BIRUNUS: Tuhan-tuhan baru?
MAKSALMINA: Kesombongan pada akal, harta, dan tahta dapat menjadikan diriku
seperti tuhan.
TAMLIKHA: Kaukau..benar.
MAKSALMINA: Sesungguhnya keimananku masih sangat lemah. Aku masih sangat
mudah terlena. Maafkan aku kawan-kawan. Silakan kalau kalian ingin menemui Yang
Mulia, aku di sini saja.
MARTUNUS: Aku juga lebih baik di sini.
BIRUNUS: Yang kuperjuangkan selama ini adalah mengubah cara pandang masyarakat
untuk menyembah Tuhan yang Esa. Kini mereka sudah menyadarinya. Jadi, aku cukup
senang berada di sini saja.
TAMLIKHA: Apa Yang Mulia lakukan saat ini sudah sejalan dengan apa yang kuimpikan
dahulu. Masyarakat yang berketuhanan, adil, dan makmur Tugasku kupikir sudah selesai.
Aku ingin tinggal bersama kalian, jauh dari keramaian dunia.
FALYASTATYUNUS:

Ya,

ka..ka..lian...be...be..benar.

A...a...aku....le...le..bih...su...su...suka ber...ber..ta...ta...fakur di...si...si...ni.


DOMINUS: O, lihat, Yang Mulia dan rombongan istana tengah menuju ke mari.

YATHUNUS: Apa yang harus kita lakukan?


MAKSALMINA: Mari kita berdoa. Kita pasrahkan diri ini kepada Tuhan. Tuhan pasti
memiliki skenario yang jauh lebih sempurna daripada yang kita pikirkan.
KETUJUH PEMUDA BERDOA. DOA DIPIMPIN MAKSALMINA.
MAKSALMINA : Ya Allah Tuhan kami. Bukanlah maksud kami kurang bersyukur atas
karunia_Mu. Bukanlah maksud kami ingin mencampuri takdir_Mu. Namun, kami
sesungguhnya hamba-hamba_Mu yang lemah dan hina. Bila Engkau biarkan kami berada
di sini bersama mereka, kami takut keimanan kami akan luntur karena dalam hati kami
tersimpan benih-benih kesombongan dan keserakahan. Namun, andai memang itu yang
Kau kehendaki, kuatkanlah iman kami dari segala godaan dunia. Perjalankanlah kami
pada akhir kehidupan yang khusnul khotimah.
KEENAM PEMUDA MENGAMININYA. KETUJUH PEMUDA STOP MOTION
LAYAR
Selengkapnya

TUTUP
:

http://fiksiana.kompasiana.com/acep.yonny/drama-ashabul-

kahfi_55c931fa79937348084b21d9