Anda di halaman 1dari 26

PRESENTASI KASUS

BAD OBSTETRIC HISTORY

Disusun oleh :
Muh. Khairul Fitrah
110.2011.170

Pembimbing :
dr. Riyanto Irawan M, Sp.OG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


SMF OBSTETRI GINEKOLOGI RSUD SERANG
JUNI 2016

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb,
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas
rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan presentasi kasus yang berjudul Bad
Obstetric History.
Presentasi kasus ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas dalam menempuh
kepaniteraan klinik di bagian obstetrik dan ginekologi di RSUD dr.Drajat Prawiranegara.
Dalam penulisan presentasi kasus ini penulis tidak terlepas dari kesulitan dan hambatan yang
dihadapi, namun berkat pertolongan dari berbagai pihak presentasi kasus ini dapat terwujud.
Tidak lupa ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya dan setinggi-tingginya kepada
dr. Riyanto Irawan M, Sp.OG yang telah bersedia meluangkan waktu dan pikirannya untuk
memberikan petunjuk, bimbingan dan pengarahan kepada penulis dalam penyusunan
presentasi kasus ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada berbagai pihak
yang telah membantu.
Penulis menyadari bahwa penulisan presentasi kasus ini masih jauh dari sempurna
karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki penulis. Meskipun demikian, penulis telah
berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikannya.
Akhir kata penulis berharap semoga presentasi kasus

ini dapat bermanfaat bagi

penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. Penulis mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari seluruh pihak demi kesempurnaan presentasi kasus ini.

Serang, Juni 2016

Muh. Khairul Fitrah

BAB I
PENDAHULUAN
Gangguan hipertensi pada kehamilan adalah penyebab utama kematian ibu dan
perinatal di seluruh dunia, dengan persentasi hingga 25% kematian ibu. Preeklampsia dan
eklampsia merupakan hipertensi yang paling sering terjadi, dan mempersulit sekitar 5% dari
seluruh kehamilan dengan kenaikan persentasi sekitar 17% menyebabkan kematian ibu dan
12% kematian perinatal.
Eklampsia merupakan keadaan dimana ditemukan serangan kejang tiba-tiba yang
dapat disusul dengan koma pada wanita hamil, persalinan atau masa nifas yang menunjukan
gejala preeklampsia sebelumnya. Eklampsia banyak terjadi pada trimester terakhir dan
semakin meningkat saat mendekati kelahiran. Pada kasus yang jarang, eklampsia terjadi pada
usia kehamilan kurang dari 20 minggu. Sektar 75% kejang eklampsia terjadi sebelum
melahirkan, 50% saat 48 jam pertama setelah melahirkan, tetapi kejang juga dapat timbul
setelah 6 minggu postpartum. Eklampsia termasuk dari tiga besar penyebab kematian ibu di
Indonesia.
Tujuan penulisan
Tujuan dari presentasi kasus ini adalah untuk mengetahui faktor predisposisi, cara
mendiagnosis, serta penanganan dari eklampsia post partum.

BAB II
REKAM MEDIS
I.

Identitas Pasien
Nama

: Ny.

Usia

: 22 tahun

No. Rekam medis

Jenis kelamin

: Perempuan

Tempat tanggal lahir

:-

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Karyawan swasta

Agama

: Islam

Tanggal masuk

: 21-08-15 (pukul 04.01)

Ruangan

: Bersalin

II. Anamnesa (Autoanamnesis pada tanggal 21/08/2015 Pukul 04.05 WIB)


Keluhan utama

: Mules-mules ingin melahirkan

Keluhan tambahan : - Keluar air-air dan lendir darah dari jalan lahir
-

Tekanan darah yang tinggi

Riwayat penyakit sekarang :


Ibu hamil datang ke IGD maternal RSUD Dr. Drajat Prawiranegara Serang diantar
keluarga membawa surat rujukan dari klinik muchibbat. Diagnosis rujukan G1P0A0
Hamil 39 minggu dengan PEB dan KPD. Ibu mengatakan ini adalah kehamilan pertama,
usia kehamilan 39 minggu, riwayat keguguran disangkal. Ibu mengaku mulai merasakan
mules-mules seperti ingin melahirkan sejak 6 jam sebelum masuk rumah sakit. Keluhan
juga disertai keluar air-air, lendir dan darah. Dirumah saat ibu merasa mules-mules
keluarga memanggil dukun paraji, namun oleh dukun ibu dianjurkan untuk dibawa ke
puskesmas atau klinik. Ibu kemudian dibawa keklinik, diperiksa tekanan darah ibu
200/140 mmHg dan diberikan terapi kemudian dirujuk ke RSUD.
Ibu mengaku sebelum dan selama hamil tidak pernah memiliki riwayat tekanan darah
yang tinggi, ibu rutin memeriksakan kehamilannya di klinik dan tidak pernah memiliki

masalah darah tinggi. Mual, muntah, kepala pusing, nyeri ulu hati, pandangan kabur,
riwayat kejang juga disangkal. Riwayat urut dukun sebanyak 5 kali pada usia kehamilan
3,4,6,7 dan 9 bulan. Ibu mengaku mengalami telat menstruasi selama 1 bulan sebelum
hamil, karena keluhan tersebut pasien memeriksakan diri ke bidan, didapatkan tes
kehamilannya positif. Pasien mengatakan tidak mengalami keluhan yang mengganggu
selama kehamilannya dan mulai merasakan pergerakan janinnya sejak usia kehamilan 4
bulan hingga sekarang.
-

Riwayat menstruasi :
Menarche

: Usia 11 tahun

Lama

: 7 hari

Banyak

: 3x Ganti pembalut, stosel (-)

Siklus

: Teratur

Dismenorrhe

: Disangkal

Flour Albus

: Bening, tidak berbau busuk

HPHT

: 20-11-14

TP

: 27-08-15

Riwayat Pernikahan :
Menikah 1 kali selama 2 tahun
Usia ibu saat menikah : 20 tahun, usia suami saat menikah : 25 tahun

Riwayat kehamilan dan persalinan :


G1P0A0
Hamil ini

Riwayat ANC :
- Ibu rutin memeriksakan kehamilannya setiap bulan di klinik
- Ibu diberi vitamin dan penambah darah, diminum teratur
- Ibu ditimbang berat badannya dan diukur tekanan darahnya. Berat badannya
naik sesuai dengan usia kehamilan

Riwayat Imunisasi :
Suntik TT (toksoid tetanus) sebanyak 2 kali

Riwayat Kontrasepsi :
KB suntik yang 3 bulan selama 7 bulan, berhenti karena ingin punya anak.

Riwayat Penyakit Dahulu :


a. Asma

: Keluhan sesak napas disertai bunyi mengi disangkal


b. Diabetes Mellitus
: Keluhan banyak makan,

banyak

minum, dan banyak buang air kecil disangkal


c. Hipertensi
: Keluhan sakit kepala disertai nyeri tengkuk dan
riwayat darah tinggi disangkal
d. Hepatitis
: Keluhan mual muntah dan riwayat sakit kuning
disangkal
e. Penyakit Jantung

: Keluhan cepat lelah saat beraktivitas

dan sesak pada malam hari disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


a. Asma

: Keluhan sesak napas disertai bunyi mengi disangkal


b. Diabetes Mellitus
: Keluhan banyak makan,

banyak

minum, dan banyak buang air kecil disangkal


c. Hipertensi
: Keluhan sakit kepala disertai nyeri tengkuk dan
riwayat darah tinggi disangkal
d. Hepatitis
: Keluhan mual muntah dan riwayat sakit kuning
disangkal
e. Penyakit Jantung

: Keluhan cepat lelah saat beraktivitas

dan sesak pada malam hari disangkal.

III. Pemeriksaan Fisik


a). Keadaan umum
Kesadaran

: Sedang
: Composmentis

Tanda vital

Tekanan darah
Nadi
Suhu
Frekuensi nafas

: 150/70 mmHg
: 102 x/menit
: 36,8C
: 24 x/menit

b). Status Generalis

Kepala

: Normocephale, rambut hitam, tidak mudah dicabut

Mata

THT
Leher

: Konjungtiva anemis (-/-), Sklera ikterik (-/-), Refleks

cahaya (+/+)
: Tidak ada keluhan, dalam batas normal
: Pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-)
Thorax : Simetris saat statis dan dinamis, mammae membesar,
papilla mammae menonjol, areola mammae menghitam,

Pulmo
Cor
Abdomen
Extremitas

kelenjar montgomery menonjol


: Vesikuler (+/+), wheezing (-/-), ronkhi (-/-)
: S1S2 Reguler, murmur (-), gallop (-)
: Bising usus (+), Status obstetrikus
: Akral hangat, edema pada tungkai

c). Status Obstetrik

Inspeksi :
Perut terlihat membesar dan memanjang, linea nigra (+), striae gravidarum (+)
Palpasi :
Leopold I :
TFU 27cm, teraba bulat lunak
Leopold II :
Kanan : teraba bagian kecil janin
Kiri : teraba tahanan memanjang
Leopold III :
Teraba bulat keras terfiksir
Leopold IV :
Divergen
His : 3x dalam 10 menit selama 30 detik
Taksiran berat janin : (27-12) x 155 = 2325 gram, susp. IUGR

Auskultasi :
DJJ : 144 x/menit, teratur

d). Pemeriksaan Dalam


VT: V/U/V Tidak ada kelainan
Pembukaan 6 cm
Ketuban jernih
Tes Lakmus (+)
Efficement 60%
Penurunan kepala di Hodge II
Kesan panggul luas
IV. Pemeriksaan Laboratorium

Hemoglobin : 12,10 g/dL (13,00 15,3)


Leukosit
: 16.110 /L (4.400 11.300)
Hematokrit : 35,70 % (35,00 47,00)
Trombosit
: 186.000 L (140.000 440.000)
MCV
: 78,30 fl (80 - 96)
MCH
: 26,5 pg (28 33)
MCHC
: 33,90 g/Cl (31 36)
GDS
: 106 (70-140)
SGOT
: 30,00 U/L (15,00-48,00)
SGPT
: 33,00 U/L (20,00-60,00)
Albumin
: 2,2 g/dL (3,20-4,80)
Globulin
: 3,30 g/dL (2,50-5,00)
Leukosit urin : 2-3 LPB (1,00-4,00)
Albumin urin : ++
HBsAg kualitatif : negatif (-)
Anti HIV
: Non reaktif

V. Diagnosis Kerja
G1P0A0 hamil 39 minggu inpartu kala 1 fase aktif dengan PEB + KPD 6 jam + inertia
uteri janin tunggal hidup susp. IUGR, presentasi kepala
VI. Penatalaksanaan

Infus RL + MgSO4 40% 6 gr LB I 28 tpm (terpasang dari klinik)


Amoxicilin 1 x 2 gr (skin test)
Periksa lab darah dan urin
Melakukan EKG & konsul jantung
Observasi Ku, Ks, Tanda-tanda vital, His dan DJJ
Observasi kemajuan persalinan

VII. Prognosis
Kehamilan

: dubia ad malam

Persalinan

: dubia ad bonam

VIII. Hasil persalinan


Telah lahir bayi perempuan pada pukul 05.20 WIB (21/08/15) secara spontan, BB : 2200
gram PB : 46 cm. Menangis segera, tidak ada kelainan kongenital, anus +, plasenta dilahirkan
lengkap, Apgar score 6/7/8.

FOLLOW UP
Tanggal

Jam

21/08/2015

04.05

Perjalanan Penyakit
IGD
S/ Ibu mengatakan perut terasa
mules dan kencang
O/ KU = Sedang, KS = CM
TD = 150/70 mmHg
N= 102 x/menit
R = 24 x/menit
T = 36.8 C
Hasil lab tgl 21/08/15 :
Hb : 12,10
Leu : 16.110
Ht : 35,70
Tr : 186.000

Terapi / Tindakan Medis

Infus RL + MgSO4 40% 6 gr


LB I 28 tpm (sudah dipasang
dari klinik)
Inj. Amoxicilin 1x 2gr (skin
test)

04.45

A/ G1P0A0, Hamil 39 minggu


inpartu kala 1 fase aktif dengan PEB
+ KPD 6 jam janin tunggal hidup
presentasi kepala
P/

Obs. Ku Ks Tanda vital His


DJJ kemajuan persalinan
Melakukan EKG
Dokter jaga konsul jantung
04.40 pindah VK

S/ Ibu mengatakan perut terasa


mules
O/ KU = Sedang, KS = CM
TD = 150/90 mmHg
N = 96 x/menit
R = 24 x/menit
T = 36.8 C
His : 3x10x35
Djj : 140x/menit
VT: V/U/V Tidak ada kelainan
Pembukaan 8 cm
Ketuban + Rembes
Tes Lakmus +
Efficement 80%
Penurunan Hodge III kesan
Panggul Luas
A/ G1P0A0 Hamil 39 minggu
inpartu kala 1 fase aktif dengan PEB
+ KPD 6 jam janin tunggal hidup
presentasi kepala
P/

Infus RL + MgSO4 40% 6 gr


LB I 20 tpm
Obs Ku Ks Tanda vital HIS
DJJ
Support mental ibu
Observasi kemajuan persalinan

04.50

Dilakukan CTG

05.10

S/ Ibu mengatakan ingin mengedan,


mules semakin kuat dan sering
O/ KU = Sedang, KS = CM
TD = 150/100 mmHg
N= 92 x/menit
R = 21 x/menit
T = 36.8 C
His : 4x10x45
Djj : 140x/menit
VT: V/U/V Tidak ada kelainan
Pembukaan lengkap
Ketuban - jernih
Efficement 100%
Penurunan Hodge III

Tampak perineum menonjol, anus


dan vulva membuka
A/ Persalinan Kala II
D/ G1P0A0, Hamil 39 minggu inpartu
kala II dengan PEB janin tunggal
hidup presentasi kepala
P/
Pimpin Persalinan
05.18

S/ Bayi dilahirkan
O/ Presentasi kepala : bayi dilahirkan
dengan cara spontan BB 2200
gram PB 46 cm
A/ Kala II
P/
Injeksi Oxy 10U

05.21

S/ Plasenta dilahirkan
O/ Dilakukan PTT, masase uterus,
ruptur perineum Grade II
PPV (+) 200cc inaktif
A/ Kala III
D/ P1A0, Post partum spontan
dengan PEB bayi lahir hidup
P/ Plasenta dilahirkan lengkap

05.40

Perdarahan dirawat, perdarahan ibu


dibersihkan.
Kala IV

06.00

S/ Ibu merasa lelah dan mengantuk


O/ KU = Sedang, KS = CM
TD = 170/110 mmHg
N= 90 x/menit
R = 22 x/menit
T = 36,8 oC
ASI (-/-)
TFU 2 jari dibawah pusat
Kontraksi uterus baik
A/ P1A0 Post partum spontan
dengan PEB bayi lahir hidup
P/

08.00

S/
O/ KU = Sedang, KS = CM
TD = 150/90 mmHg

Vitamin A
Amoksisilin 3 x 500 mg
As.Mefenamat 3 x 500 mg
Hemafort 1 x 1
Adalat oros 1 x 30 mg
Obs ku, ks, tanda vital
Observasi perdarahan
pervaginam
Konsul dokter sp. jantung dan
penyakit dalam

N= 92 x/menit
R = 24 x/menit
T = 36,7 oC
ASI (-/-) BAB (-) BAK (-)
TFU 2 jari dibawah pusat
Kontraksi uterus baik
PPV (+) sedikit inaktif
Dc urine 200 cc
A/ P1A0, Post partum spontan
dengan PEB bayi lahir hidup
P/
09.00

S/ Ibu tampak kejang selama 1


menit
O/ KU = buruk , KS = somnolen
TD = 200/120 mmHg
N= 100 x/menit
R = 25 x/menit
T = 36,7 oC
ASI (-/-) BAB (-) BAK (+)
TFU 2 jari dibawah pusat
Kontraksi uterus baik
PPV (+) sedikit inaktif
Dc urine : 400 cc
A/ P1A0, Post partum spontan
dengan eklampsia bayi lahir hidup
P/

09.15

Lapor dr. Suriyaman Sp.OG

09.30

Visit dr. Eny Sp.S


S/ Tidak kejang
O/ Ku: lemah Ks: CM
TD = 160/120 mmHg
N= 95 x/menit
R = 24 x/menit
T = 36,7
St.neurologis dbn
A/ P1A0, Post partum spontan
dengan eklampsia bayi lahir hidup

09.45

Infus 2 line
Taka : inf RL 20 tpm
Taki : inf RL + MgSO4 40%
LB I 20 tpm dengan inf pump
Obs ku, ks, tanda vital
Observasi perdarahan
pervaginam
Obs Input - output
Visit dr.sp Jp diagnosis post
partum PEB th/ adalat oros
(TD> 140/90)

MgSO4 20% 2 gr IV secara


perlahan
Melakukan suction keluar
lendir keruh 5cc
Fiksasi pada tangan dan kaki
pasien
Obs ku, ks, tanda vital

Konsul dr.sp. saraf via tlp:


pasang O2, citicholin 2x500
mg, Phenitoin 3x100 mg, bila
kejang lagi beri diazepam 1
amp perlahan.
Th/ Furosemid 1 amp
Inf RL 16 tpm
Protab PEB lanjutkan
Th/ citicholin dan feniton acc
diberikan
Diazepam tidak acc diberikan

Th/ NaCl + neurosanbe 20 tpm


Inj citicholin 2x500 mg
Phenitoin 3x100 mg
Inj diazepam 1 amp perlahan
bila kejang

P/
10.35

Ambil darah cek H2TL pp dan


Albumin. Dc urine : 750 cc

11.30

S/ Ibu tampak kejang lagi selama 1


menit
O/ KU = buruk , KS = somnolen
TD = 210/110 mmHg
N= 103 x/menit
R = 23 x/menit
T = 37 C
Hasil lab pp :
Hb : 12,90
Leu : 20.310
Ht : 39,30
Tr : 186.000
Albumin : 2,00
BAB (-) BAK (+)
TFU 2 jari dibawah pusat
Kontraksi uterus baik
PPV (+) sedikit inaktif
A/ P1A0, Post partum spontan
dengan eklampsia bayi lahir hidup
Lapor dr. Suriyaman Sp.OG
P/

11.40

12.00

13.05

S/ Tidak kejang
O/ Ku: lemah Ks: CM
TD = 160/100 mmHg
N= 95 x/menit
R = 24 x/menit
T = 36,7
BAB (-) BAK (+)
TFU 2 jari dibawah pusat
Kontraksi uterus baik
PPV (+) sedikit inaktif
Dc urine : 800 cc
A/ P1A0 Post partum spontan
dengan eklampsia bayi lahir hidup
P/
S/ Ibu tampak kejang lagi selama
30 detik

Sistenol tab 4x1

Memasang pipa guedle

Observasi ketat 2-4 jam post


eklampsi
Diazepam amp bila kejang
O2 3 lpm
Sistenol 4x1 acc diberikan
Drip RL + neurosanbe 20 tpm

Obs Ku, Ks, TTV, PPV


Mengatur posisi pasien sedikit
ekstensi dan posisi miring kiri

O/ KU = buruk , KS = somnolen
TD = 160/100 mmHg
N= 98 x/menit
R = 24 x/menit
T = 36,5 C
BAB (-) BAK (+)
TFU 2 jari dibawah pusat
Kontraksi uterus baik
PPV (+) sedikit inaktif
P/

22/08/1

14.00

ICU
S/ Tidak kejang
O/ Ku: lemah Ks: CM
TD = 160/100 mmHg
N= 90 x/menit
R = 23 x/menit
T = 36,5
A/ P1A0, Post partum spontan
dengan eklampsia bayi lahir hidup
P/

20.00

S/ Kepala terasa pusing


O/ Ku: lemah Ks: CM
TD = 150/100 mmHg
N= 86 x/menit
R = 22 x/menit
T = 36,6
A/ P1A0, Post partum spontan
dengan eklampsia bayi lahir hidup
P/

05.00

S/ Ibu mengeluh badan terasa lemas


O/ Ku: sedang Ks: CM
TD = 150/100 mmHg
N= 84 x/menit
R = 22 x/menit
T = 36,5C
Hasil Lab (22/08/15) :
Al : 1,50
Cl : 105,00
Na : 133,10
K : 4,02

O2 10 lpm
Inj. Diazepam amp / IV
Pindah ICU
Monitoring Ku, Ks, TTV
Infus 2 line
Tangan kanan : inf RL +
neurosanbe 20 tpm
Tangan kiri : inf RL + MgSO4
40%
Inj citicholin 2x500 mg
Phenitoin 3x100 mg
Inj diazepam 1 amp perlahan
bila kejang
Sistenol tab 4x1
Adalat oros 1x1

Monitoring Ku, Ks, Tandatanda vital


Terapi lanjut

A/ P1A0 Post partum spontan 1 hari


yang lalu dengan eklampsia bayi
lahir hidup
P/
10.00

15.00

23/08/15

24/08/15

06.00

S/ Tidak ada keluhan


O/ Ku: Baik Ks: CM
TD = 150/90 mmHg
N = 82 x/menit
R = 21 x/menit
T = 36,8C
A/ P1A0 Post partum spontan 1 hari
yang lalu dengan eklampsia bayi
lahir hidup
P/
S/ Tidak ada keluhan
O/ Ku : Baik Ks: CM
TD = 140/90 mmHg
N = 84 x/menit
R = 22 x/menit
T = 36,5 C
A/ P1A0 Post partum spontan 1 hari
yang lalu dengan eklampsia bayi
lahir hidup
P/

Monitoring Ku, Ks, Tandatanda vital

Visit dr spesialis saraf dan


jantung
Terapi lanjut

Obs Ku, Ks, tanda-tanda vital


Terapi oral lanjutkan
Acc pindah WK

R. Wijaya kusuma
S/ Tidak ada keluhan
O/ Ku: Baik Ks: CM
TD = 150/100 mmHg
N = 82 x/menit
R = 21 x/menit
T = 36,9 C
BAB (-)
BAK(+)
TFU 2 jari dibawah pusat
Kontraksi uterus baik
Lokia rubra
A/ P1A0 Post partum spontan 2 hari
yang lalu dengan eklampsia bayi
lahir hidup
Obs Ku, Ks, TTV
P/
Terapi oral lanjutkan

06.00

09.00

S/ Tidak ada keluhan


O/ Ku: Baik Ks: CM
TD = 130/90 mmHg
N = 82 x/menit
R = 21 x/menit
T = 36,5 C
BAB (+)
BAK (+)
TFU 2 Jari dibawah pusat
Kontraksi uterus baik
Lokia rubra
A/ P1A0 Post partum spontan 3 hari
yang lalu dengan eklampsia bayi
lahir hidup
P/
Visit dr. Heika sp.OG

Obs Ku, Ks, TTV


Terapi oral lanjutkan
Acc pulang
Terapi oral lanjutkan

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi Eklampsia
Eklampsia merupakan keadaan dimana ditemukan serangan kejang tiba-tiba yang dapat
disusul dengan koma pada wanita hamil, persalinan atau masa nifas yang menunjukan
gejala preeklampsia sebelumnya. Eklampsia dibedakan menjadi eklampsia gravidarum
(antepartum), eklampsia partuirentum (intrapartum), dan eklampsia puerperale
(postpartum), berdasarkan saat timbulnya serangan. Eklampsia banyak terjadi pada
trimester terakhir dan semakin meningkat saat mendekati kelahiran. Pada kasus yang
jarang, eklampsia terjadi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu. Sektar 75% kejang
eklampsia terjadi sebelum melahirkan, 50% saat 48 jam pertama setelah melahirkan,
tetapi kejang juga dapat timbul setelah 6 minggu postpartum.
2. Epidemiologi dan faktor predisposisi
Eklampsia termasuk dari tiga besar penyebab kematian ibu di Indonesia. Menurut
laporan KIA Provinsi tahun2011, jumlah kematian ibu yang dilaporkan sebanyak 5.118
jiwa. Penyebab kematian ibu terbanyak masih didominasi Perdarahan (32%), disusul

hipertensi dalam kehamilan (25%), infeksi (5%), partus lama (5%) dan abortus (1%).
Penyebab lain lain (32%) cukup besar, termasuk di dalamnya penyebab penyakit non
obstetrik.
Faktor predisposisi eklampsia adalah usia (wanita berusia 40 tahun atau lebih pada
primipara maupun multipara), jarak antar kehamilan, riwayat preeklampsia atau
eklampsia sebelumnya, Riwayat keluarga preeklampsia eklampsia, kehamilan multifetus,
diabetes melitus, hipertensi kronik, indeks masa tubuh, kondisi sosioekonomi, dan
frekuensi ANC.
3. Etiologi dan Patofisiologi
Hingga saat ini etiologi dan patogenesis dari hipertensi dalam kehamilan masih belum
diketahui dengan pasti. Telah banyak hipotesis yang diajukan untuk mencari etiologi dan
patogenesis dari hipertensi dalam kehamilan namun hingga kini belum memuaskan.
Patofisiologi kejang eklamptik belum diketahui secara pasti. Kejang eklamptik dapat
disebabkan oleh hipoksia karena vasokonstriksi lokal otak, dan fokus perdarahan di
korteks otak. Kejang juga sebagai manifestasi tekanan pada pusat motorik di daerah
lobus frontalis. Beberapa mekanisme yang diduga sebagai etiologi kejang adalah sebagai
berikut :
a) Edema serebral
b) Perdarahan serebral
c) Infark serebral
d) Vasospasme serebral
e) Pertukaran ion antara intra dan ekstra seluler
4. Diagnosis Dan Gambaran Klinis Eklampsia
Seluruh kejang eklampsia didahului dengan preeklampsia. Preeklampsia dibagi menjadi
ringan dan berat. Penyakit digolongkan berat bila ada satu atau lebih tanda dibawah ini :
1) Tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih, atau tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih
2) Proteinuria 5 gr atau lebih dalam 24 jam; 3+ atau 4+ pada pemeriksaan kualitatif
3) Oliguria, diuresis 400 ml atau kurang dalam 24 jam
4) Keluhan serebral, gangguan penglihatan atau nyeri di daerah epigastrium
5) Edema paru atau sianosis.
Pada umumnya serangan kejang didahului dengan memburuknya preeklampsia dan
terjadinya gejala-gejala nyeri kepala di daerah frontal, gangguan penglihatan, mual keras,
nyeri di daerah epigastrium, dan hiper refleksia. Terdapat beberapa perubahan klinis yang
memberikan peringatan gejala sebelum timbulnya kejang, adalah sakit kepala yang berat

dan menetap, perubahan mental sementara, pandangan kabur, fotofobia, iritabilitas, nyeri
epigastrik, mual, muntah. Namun, hanya sekitar 50% penderita yang mengalami gejala
ini. Persentase gejala sebelum timbulnya kejang eklampsia adaah sakit kepala yang berat
dan menetap (50-70%), gangguan penglihatan (20-30%), nyeri epigastrium (20%), mual
muntah (10-15%), perubahan mental sementara (5-10%).
Tanpa memandang waktu dari onset kejang, gerakan kejang biasanya dimulai dari daerah
mulut sebagai bentuk kejang di daerah wajah. Beberapa saat kemuadian seluruh tubuh
menjadi kaku karena kontraksi otot yang menyeluruh, fase ini dapat berlangsung 10
sampai 15 detik. Pada saat yang bersamaan rahang akan terbuka dan tertutup dengan
keras, demikian juga hal ini akan terjadi pada kelopak mata, otot-otot wajah yang lain dan
akhirnya seluruh otot mengalami kontraksi dan relaksasi secara bergantian dalam waktu
yang cepat. Keadaan ini kadang-kadang begitu hebatnya sehingga dapat mengakibatkan
penderita terlempar dari tempat tidurnya, bila tidak dijaga. Lidah penderita dapat tergigit
oleh karena kejang otot-otot rahang. Fase ini dapat berlangsung sampai satu menit,
kemudian secara berangsur kontraksi otot menjadi semakin lemah dan jarang dan pada
akhirnya penderita tak bergerak. Setelah kejang diafragma menjadi kaku dan pernapasan
berhenti. Selama beberapa detik penderita seperti meninggal karena henti napas, namun
kemudian penderita bernapas panjang dan dalam, selanjutnya pernapasan kembali
normal. Apabila tidak ditangani dengan baik, kejang pertama ini akan diikuti dengan
kejang-kejang berikutnya yang bervariasi dari kejang yang ringan sampai kejang yang
berkelanjutan yang disebut status epileptikus.
Proteinuria hampir selalu didapatkan, produksi urin berkurang, bahkan kadang kadang
sampai anuria dan pada umumnya terdapat hemoglobinuria. Setelah persalinan urin
output akan meningkat dan ini merupakan tanda awal perbaikan kondisi penderita.
Proteinuria dan edema menghilang dalam waktu beberapa hari sampai dua minggu
setelah persalinan apabila keadaan hipertensi menetap setelah persalinan maka hal ini
merupakan akibat penyakit vaskuler kronis.
5. Penatalaksanaan
a. Tujuan Terapi Eklampsia
-

Menghentikan berulangnya serangan kejang

Menurunkan tensi.

Mengusahakan supaya O2 cukup dengan mempertahankan kebebasan jalan nafas.


b. Penanganan Kejang

Beri obat anti konvulsan

Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, sedeka, sedotan, masker O2 dan
tabung O2 ).

Lindungi pasien dari trauma.

Aspirasi mulut dan tonggorokkan.

Baringkan pasien pada posisi kiri, trendelenburg untuk mengurangi resiko aspirasi.

Beri oksigen 4-6 liter / menit.


c. Penanganan Umum

Jika tekanan diastolik > 110 mmHg, berikan hipertensi sampai tekanan diastolik
diantara 90-100 mmHg.

Pasang infuse RL dengan jarum besar (18 gauge atau lebih).

Ukur keseimbangan cairan jangan sampai terjadi overload.

Kateterisasi urine untuk mengeluarkan volume dan proteinuria, jika jumlah urine
kurang dari 30 ml / jam.

Infus cairan dipertahankan 1 1/8 ml/jam

Pantau kemungkinan oedema paru.

Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan


kematian ibu dan janin.

Observasi tanda-tanda vital setiap jam

Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda oedema paru. Jika ada oedema paru
hentikan pemberian cairan.

Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan beadside

Pemberian antikejang dengan dosis awal : beri MgSO4 (4 gram) per IV sebagai
larutan 20%, selama 5 menit.

Dosis pemeliharaan : MgSO4 (50%) 6 gr setiap 4 jam kemudian dilanjutkan sampai


24 jam pasca persalinan atau kejang terakhir.

Sebelum pemberian MgSO4 periksa : frekuensi pernafasan minimal 16x /menit.


Refleks Patella (+), urin minimal 30 ml/jam dalam 4 jam terakhir.

Stop pemberian MgSO4, jika : frekuensi pernafasan < 16x/menit.

Siapkan antidotum jika terjadi henti nafas, Bantu dengan ventilator. Beri kalsium
glukonas 2 gr (20 ml dalam larutan 10%) IV perlahan lahan sampai pernafasan mulai lagi.
6. Komplikasi

Komplikasi yang terberat ialah kematian ibu dan janin, usaha utama ialah melahirkan bayi
hidup dari ibu yang menderita eklampsia.
Berikut adalah beberapa komplikasi yang ditimbulkan pada

preeklampsia berat dan

eklampsia :
1. Solutio Plasenta, Biasanya terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih
sering terjadi pada preeklampsia.
2. Hipofibrinogemia, Kadar fibrin dalam darah yang menurun.
3. Hemolisis, Penghancuran dinding sel darah merah sehingga menyebabkan plasma
darah yang tidak berwarna menjadi merah.
4. Perdarahan Otak. Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal
penderita eklampsia
5. Kelainan mata, kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung selama
seminggu.
6. Edema paru, pada kasus eklampsia, hal ini disebabkan karena penyakit jantung.
7. Nekrosis hati, nekrosis periportan pada Qreeclampsia, eklamsi merupakan akibat
vasopasmus anterior umum. Kelainan ini diduga khas untuk eklampsia.
8. Sindrome Hellp, Hemolysis, elevated liver enymes dan low platelete.
9. Kelainan ginjal, kelainan berupa endoklrosis glomerulus, yaitu pembengkakkan
sitoplasma sel endotial tubulus. Ginjal tanpa kelainan struktur lain, kelainan lain yang
dapat timbul ialah anuria sampai gagal ginjal.
10. Komplikasi lain, lidah tergigit, trauma dan faktur karena jatuh akibat kejang-kejang
preumania aspirasi, dan DIC (Disseminated Intravascular Coogulation)
11. Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra uteri.

BAB IV
DISKUSI KASUS
Permasalahan :
1. Apakah diagnosis sudah tepat?
2. Apakah penatalaksanaan sudah tepat?
3. Apa saja komplikasi dari eklampsia dan komplikasi apa yang mungkin
terjadi pada pasien ini?
4. Bagaimana prognosis pada pasien ini?
Pembahasan :
1. Apakah diagnosis sudah tepat?
Diagnosis masuk :
G1P0A0 hamil 39 minggu inpartu kala 1 fase aktif dengan PEB + KPD 6 jam +
inertia uteri janin tunggal hidup susp. IUGR, presentasi kepala.
Diagnosis akhir :
P1A0 Post partum spontan dengan Eklampsia bayi lahir hidup.
Diagnosis hamil, PEB, KPD 6 jam, inertia uteri janin tunggal hidup, presentasi
kepala ditegakkan melalui :
a. Anamnesis
Ibu mengatakan ini adalah kehamilan pertama, usia kehamilan 39 minggu,
riwayat keguguran disangkal. Ibu mengaku mulai merasakan mules-mules
seperti ingin melahirkan sejak 6 jam sebelum masuk rumah sakit. Keluhan
juga disertai keluar air-air, lendir dan darah. Dirumah saat ibu merasa mulesmules keluarga memanggil dukun paraji, namun oleh dukun ibu dianjurkan

untuk dibawa ke puskesmas atau klinik. Ibu kemudian dibawa keklinik,


diperiksa tekanan darah ibu 200/140 mmHg dan diberikan terapi kemudian
dirujuk ke RSUD.
Ibu mengaku mengalami telat menstruasi selama 1 bulan sebelum hamil,
karena keluhan tersebut pasien memeriksakan diri ke bidan, didapatkan tes
kehamilannya positif.
b. Pemeriksaan Fisik Obstetrik
Inspeksi :
Perut terlihat membesar dan memanjang, linea nigra (+), striae gravidarum

(+)
Palpasi :
Leopold I :
TFU 27cm, teraba bulat lunak
Leopold II :
Kanan : teraba bagian kecil janin
Kiri : teraba tahanan memanjang
Leopold III :
Teraba bulat keras terfiksir
Leopold IV :
Divergen
His : 3x dalam 10 menit selama 30 detik
Taksiran berat janin : (27-12) x 155 = 2325 gram

Auskultasi :
DJJ : 144 x/menit, teratur
Pemeriksaan Dalam
VT: V/U/V Tidak ada kelainan
Pembukaan 6 cm
Ketuban + Rembes
Tes Lakmus +
Efficement 60%
Penurunan Hodge II, kesan Panggul Luas
c). Pemeriksaan penunjang
Albumin urin (++)
Kemudian diagnosis akhir berubah menjadi :
P1A0 Post partum spontan dengan Eklampsia bayi lahir hidup
Pada pasien ini di diagnosa dengan eklampsia karena setelah melahirkan terdapat
beberapa tanda eklampsia, antara lain tekanan darah yang tinggi disertai kejang
kemudian diikuti dengan penurunan kesadaran dan tidak memiliki riwayat tekanan
darah tinggi sebelum kehamilan.

2. Apakah penatalaksanaan sudah tepat ?


Pada pasien ini diberikan :
Antibiotika profilaktik 1 gram intravena karena ketuban yang berfungsi
sebagai barrier (pelindung) janin sudah pecah sehingga pemberian antibiotika

ini bertujuan untuk mencegah infeksi.


Pemberian protab PEB terhadap ibu sudah diberikan untuk mencegah

terjadinya kejang
Infus RL jaga
Observasi Ku, Ks, TTV, Input-Output
Konsul penyakit dalam
Konsul jantung
Konsul saraf

Pengelolaan pada pasien ini telah sesuai dengan pedoman terapi eklampsia, yaitu
mengatasi kejang dan diberikan pengobatan suportif, rawat bersama di unit
perawatan intensif dengan bagian-bagian yang terkait.
3. Apa saja komplikasi dari eklampsia dan komplikasi apa yang mungkin
terjadi pada pasien ini?
Berikut adalah beberapa komplikasi yang ditimbulkan pada preeklampsia berat
dan eklampsia :
1. Solutio Plasenta.
Biasanya terjadi pada ibu yang menderita hipertensi akut dan lebih sering
terjadi pada preeklampsia.
2. Hipofibrinogemia.
Kadar fibrin dalam darah yang menurun.
3. Hemolisis.
Penghancuran dinding sel darah merah sehingga menyebabkan plasma darah
yang tidak berwarna menjadi merah.
4. Perdarahan Otak.
Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian maternal penderita
eklampsia
5. Kelainan mata.
Kehilangan penglihatan untuk sementara, yang berlangsung selama seminggu.
6. Edema paru.
Pada kasus eklampsia, hal ini disebabkan karena penyakit jantung.
7. Nekrosis hati.
Nekrosis periportal pada preeklampsia, eklapmsia merupakan akibat
vasopasmus anterior umum. Kelainan ini diduga khas untuk eklampsia.
8. Sindroma Hellp.
Hemolysis, elevated liver enymes dan low platelete.
9. Kelainan ginjal.

Kelainan berupa endoklrosis glomerulus, yaitu pembengkakkan sitoplasma sel


endotial tubulus. Ginjal tanpa kelainan struktur lain, kelainan lain yang dapat
timbul ialah anuria sampai gagal ginjal.
10. Komplikasi lain.
Lidah tergigit, trauma dan faktur karena jatuh akibat kejang-kejang preumania
aspirasi, dan DIC (Disseminated Intravascular Coogulation)
11. Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra uteri.
Tidak terdapat komplikasi yang cukup berarti pada pasien ini dikarenakan
penatalaksanaan yang sudah cukup tepat.
4. Bagaimana prognosis pasien ini?
Eklampsia adalah suatu keadaan yang sangat berbahaya. Oleh karena itu,
prognosisnya kurang baik untuk ibu maupun anak. Multipara mempunyai
prognosis yang lebih buruk, terutama jika umur ibu lebih dari 35 tahun dan juga
dipengaruhi oleh keadaan pada waktu pasien masuk rumah sakit.
Diuresis juga mempengaruhi prognosisnya. Jika produksi urin lebih dari 800 cc
dalam 24 jam atau 200 cc tiap 6 jam, prognosisnya akan lebih baik. Sebaliknya,
oliguri dan anuri merupakan gejala yang buruk.
Pada pasien ini : Usia 22 tahun, Anak pertama, tidak disertai koma, keadaan
pasien berangsur-angsur membaik, sehingga prognosis pada pasien ini dubia ad
bonam.
BAB V
KESIMPULAN

1. Diagnosa akhir pasien adalah Ny. S Para 1 Abortus 0 post partum spontan dengan
eklampsia
2. Pasien primigravida dipimpin mengedan jam 05.10 dan lahir bayi perempuan pada
pukul 05.20 WIB (21/08/15) secara spontan, BB : 2200 gram PB : 46 cm
3. Setelah bayi lahir, plasenta lahir spontan lengkap, dilakukan masase fundus uteri dan
kontraksi uterus keras.
4. Pasien mengalami kejang 3,5 jam post partum (eklampsia) selama 1 menit dan
terjadi berulang sebanyak 3x.
Faktor predisposisi eklampsia adalah usia (wanita berusia 40 tahun atau lebih pada
primipara maupun multipara), jarak antar kehamilan, riwayat preeklampsia atau
eklampsia sebelumnya, riwayat keluarga preeklampsia eklampsia, kehamilan multifetus,

diabetes melitus, hipertensi kronik, indeks masa tubuh, kondisi sosioekonomi, dan
frekuensi ANC.
Pada kasus eklampsia diagnosis dan penanganan kejang harus segera dilakukan,
apabila tidak ditangani dengan baik, kejang pertama akan diikuti dengan kejang-kejang
berikutnya yang bervariasi dari kejang yang ringan sampai kejang yang berkelanjutan dan
dapat menimbulkan komplikasi. Komplikasi terberat yang dapat terjadi ialah kematian
ibu dan janin.

DAFTAR PUSTAKA

Anna EC, Susane H, Alysin JL. Risk Factor for Eclampsia : a Population based Study in
Washington State, 1987 2007. American Journal of Obstetri and Gynecology. 2011; 205 :
553.
Direktorat Bina Kesehatan Ibu. Factsheet : Upaya Percepatan Penurunan Angka Kematian
Ibu. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI; 2012.
Kaze et al. Post-partum trend in blood pressure levels, renal function and proteinuria in
women with severe preeclampsia and eclampsia in Sub-Saharan Africa: A 6-months cohort
study. BMC Pregnancy and Childbirth. 2014; 14:134
World Health Organization (WHO). WHO recommendation for prevention and treatment of
preeclampsia and eclampsia. Geneva : Reproductive health pubication; 2011.
Yaliwal RG, Jaju PB, Vanishree M. Eklampsia and perinatal outcome a retrospektive study
in a teaching hospital. Journal of clinical and diagnostic research. 2011; 5(5): 1056-1059.

Anda mungkin juga menyukai