Anda di halaman 1dari 13

PORTOFOLIO 1

Kasus
Luka Bakar Pada Anak

Disusun sebagai syarat kelengkapan program dokter internship oleh:


dr. Sri Mahtufa Riski

Pendamping:
dr. Irmastuti, MARS

Stase Unit Gawat Darurat


RSUD H. Padjonga Dg. Ngalle Kabupaten Takar
2016

Borang Portofolio Internship RSUD H. Padjonga Dg. Ngalle Periode Februari 2016- 2017
Nama Peserta
Nama Wahana
Topik
Tanggal (kasus)
Nama Pasien
Tanggal Presentasi

dr. Sri Mahtufa Riski


RSUD H. Padjonga Dg. Ngalle
Luka Bakar pada Anak
26 Juni 2016
An. I

Tempat Presentasi
Obyektif presentasi
Keilmuan
Diagnostik
Neonatus
Lansia
Deskripsi

RSUD H. Padjonga Dg. Ngalle

No. RM :
Nama Pendamping :
dr. Irmastuti, MARS

Tinjauan Pustaka
Keterampilan
Penyegaran
Manajemen
Masalah
Istimewa
Bayi
Anak
Remaja
Bumil
Laki-laki, 3 tahun, terkena ledakan petasan dan mengalami luka bakar gr.
II-III seluas 4% pada area wajah dan luka bakar gr. I seluas 2% pada area

Tujuan :
Bahan bahasan :
Cara membahas :

leher.
Penatalaksanaan awal luka bakar pada anak
Tinjauan Pustaka
Riset
Kasus
Diskusi
Presentasi dan Diskusi
Email

Data Pasien :
Nama Klinik :

Nama : An. I
Usia : 3 tahun
No Registrasi :
RSUD H. Padjonga Dg. Telepon :
Terdaftar Sejak :

Audit
Pos

Ngalle
Data Utama untuk bahan diskusi :
1. Riwayat Penyakit Sekarang :
Dialami pasien 1 jam SMRS. Pasien bermain petasan, kemudian pasien tanpa sengaja
ledakan petasan tersebut mengenai daerah wajah dan lehernya. Pasien segera dilarikan ke
UGD RSUD. H. Padjonga Dg. Ngalle.
2. Riwayat Pengobatan :
Tidak ada pengobatan yang telah diberikan sebelumnya
3. Riwayat Kesehatan/penyakit :
Pasien tidak pernah dirawat di Rumah Sakit sebelum ini.
4. Riwayat Penyakit Keluarga : 5. Riwayat Pekerjaan : 6. Lain-lain (Pemeriksaan fisik dan Penunjang)
Primary Survey
o Airway and cervical control : Clear, patent
o Breathing and ventilation: spontan, RR 24x/menit, vesikuler, simetris kiri
sama dengan kanan
o Circulation and bleeding control: Nadi 112x/mnt, regular, kuat angkar,
2

akral dingin (-)


o Disability neurological status: GCS 15 (E4M6V5), RC (+)/(+),isokor

3mm
o Exposure: Suhu 36,7 oC
Secondary Survey
o Mata : Konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/o Leher : JVP tidak distensi, dalam batas normal
o Paru : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/o Jantung : S1, S2 takikardia, irama sinus, murmur -/-, gallop -/o Abdomen : Datar lembut. Bising usus (+). Hepar dan lien tidak teraba
o Ekstremitas : CRT < 2 detik, Edema -/-,
o Status Lokalis : Penyebaran luka bakar seperti gambar di bawah. Luka
bakar (+) pada kening sebelah kiri, pelipis kiri, pipi kiri, hidung, dasar
eritama dan putih, tampak basah, tepi luka terdapat kulit yang nekrosis
berwarna kehitaman, bulla (-), tidak ada lagi rambut pada permukaan
kulit, bulu mata terbakar (-), alis terbakar sebahagian, bulu hidung
terbakar (-) bekas jelaga di cuping hidung (-), hematoma (-), pendarahan
aktif (-), jaringan nekrotik (+) pada daerah hidung, nyeri tekan (+). Dan
Luka bakar (+) pada daerah leher, dengan dasar kemerahan, bulla (-),
Nyeri tekan (+)

Kesimpulan :
Wajah (4%) + leher (2%) = 6% luas tubuh

Hasil Laboratorium (26/6/2016)


- Hb : 10,0 g/dl
- Leukosit : 13.500/ uL
Daftar Pustaka:

- Ht : 24,8%
- Trombosit : 667.000/uL

1. Fauci AS, et al. Harrisons Principles of Internal Medicine. 18th Ed. USA: The McGrawHill Companies; 2012.
2. Wyatt J.P, et al. Oxford Handbook of Emergency Medicine. 4 th Ed. UK: Oxford
University Press; 2012.
3

Hasil Pembelajaran
1. Temuan pemeriksaan Luka bakar
2. Diagnosis Luka bakar berdasarkan derajatnya
3. Resusitasi luka bakar bila diperlukan
4. Tatalaksana lanjutan luka bakar
5. Tatalaksana bedah
6. Komplikasi yang dapat terjadi
7. Edukasi kepatuhan perawatan di rumah dan kontrol kesehatan
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio:
Pasien masuk RS mendukung diagnosis Combustio gr II-III seluas 4% et regio facialis +
combustion ge I seluas 2% et regio collumna e.c ledakan petasan (explosive). Pada kasus ini
diagnosis ditegakkan berdasarkan:
1. Subyektif:
Pasien bermain petasan, kemudian pasien tanpa sengaja ledakan petasan tersebut
mengenai daerah wajah dan lehernya. Kecelakaan seperti ini mengakibatkan hilangnya
fungsi kulit dan iritasi pada ujung syaraf sensoris sehingga pasien sangat merasa nyeri.
Luka bakar pada wajah yang dialami pasien dapat menyebabkan kerusakan jalan napas
dan dapat mengakibatkan sesak, namun dalam kasus ini tidak ditemukan tanda-tanda
tersebut.
2. Obyektif:
Pemeriksaan Fisik: Primary survey ditemukan paten (Airway bebas, breathing
spontan, regular, 24x/menit Cirlulation Nadi = 112x/menit) dan kesadaran
Composmentis GCS15 (E4M6V5). Pada pemeriksaan ini dinilai apakah ada
tanda-tanda syok. karena ditakutkan terjadi syok hipovolemik akibat kekurangan
cairan yang disebabkan karena hilangnya fungsi protektif pada kulit. Dan bila
terjadi takipneu tanpa disertai dengan tanda-tanda kelainan pada paru
menandakan kecurigaan pada trauma inhalasi seperti edema laring. Namun pada

pasien ini, keadaan pasien masih dalam batas normal.


Status Lokalis :
o Regio Facialis: Luka bakar (+) pada kening sebelah kiri, pelipis kiri, pipi kiri,
hidung, dasar eritema dan putih, tampak basah, tepi luka terdapat kulit yang
nekrosis berwarna kehitaman, bulla (-), tidak ada lagi rambut pada permukaan

kulit, bulu mata terbakar (-), alis terbakar sebahagian, bulu hidung terbakar (-)
bekas jelaga di cuping hidung (-), hematoma (-), pendarahan aktif (-),
jaringan nekrotik (+) pada daerah hidung, Nyeri tekan (+).
o Regio Collumna: luka bakar (+) dengan dasar kemerahan, bulla (-), Nyeri
tekan (+)
3. Assessment :
o Definisi dan Etiologi
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau hilangnya jaringan yang disebabkan
kontak dengan sumber panas seperti api (flame dan kontak benda panas), air panas (Scald),
uap panas, gas panas, bahan kimia (asam atau basa), aliran listrik, sunburn, dan radiasi. Luka
bakar merupakan salah satu jenis trauma yang mempunyai angka morbiditas dan mortalitas
tinggi yang memerlukan penatalaksanaan khusus sejak awal (fase syok) sampai fase lanjut.
Luka bakar akibat ledakan juga menyebabkan kerusakan organ dalam akibat daya ledak
(eksplosif). Pada luka bakar yang disebabkan oleh bahan kimia terutama asam menyebabkan
kerusakan yang hebat akibat reaksi jaringan sehingga terjadi diskonfigurasi jaringan yang
menyebabkan gangguan proses penyembuhan.Luka bakar pada anak 65,7% disebabkan oleh
air panas atau uap panas (scald). Mayoritas dari luka bakar pada anak-anak terjadi di rumah
dan sebagian besar dapat dicegah. Dapur dan ruang makan merupakan daerah yang
seringkali menjadi lokasi terjadinya luka bakar. Anak yang memegang oven, menarik taplak
dimana di atasnya terdapat air panas, minuman panas atau makanan panas.
o Klasifikasi Luka Bakar
Kedalaman luka bakar ditentukan oleh tinggi suhu, lamanya pajanan suhu tinggi, adekuasi
resusitasi, dan adanya infeksi pada luka. Selain api yang langsung menjilat tubuh, baju yang
ikut terbakar juga memperdalam luka bakar. Bahan baju yang paling aman adalah yang
terbuat dari bulu domba (wol). Bahan sintetis seperti nilon dan dakron, selain mudah terbakar
juga mudah meleleh oleh suhu tinggi, lalu menjadi lengket sehingga memperberat kedalaman
luka bakar. Kedalaman luka bakar dideskripsikan dalam derajat luka bakar, yaitu luka bakar
derajat I, II, atau III:

Derajat I
Pajanan hanya merusak epidermis sehingga masih menyisakan banyak jaringan untuk
dapat melakukan regenerasi. Luka bakar derajat I biasanya sembuh dalam 5-7 hari dan

dapat sembuh secara sempurna. Luka biasanya tampak sebagai eritema dan timbul
dengan keluhan nyeri dan atau hipersensitivitas lokal. Contoh luka bakar derajat I adalah
sunburn.

Derajat II
Lesi melibatkan epidermis dan mencapai kedalaman dermis namun masih terdapat epitel
vital yang bisa menjadi dasar regenerasi dan epitelisasi. Jaringan tersebut misalnya sel
epitel basal, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan pangkal rambut. Dengan adanya
jaringan yang masih sehat tersebut, luka dapat sembuh dalam 2-3 minggu. Gambaran
luka bakar berupa gelembung atau bula yang berisi cairan eksudat dari pembuluh darah
karena perubahan permeabilitas dindingnya, disertai rasa nyeri. Apabila luka bakar
derajat II yang dalam tidak ditangani dengan baik, dapat timbul edema dan penurunan
aliran darah di jaringan, sehingga cedera berkembang menjadi full-thickness burn atau
luka bakar derajat III.
Derajat II dangkal/superficial (IIA)
Kerusakan mengenai bagian epidermis dan lapisan atas dari dermis. Organ-organ kulit
seperti folikel rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea masih banyak.
Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 10-14 hari tanpa terbentuk sikatriks.
Derajat II dalam/deep (IIB)
Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis dan sisa-sisa jaringan epitel tinggal
sedikit. Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea
tinggal sedikit. Penyembuhan terjadi lebih lama dan disertai parut hipertrofi. Biasanya
penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.

Derajat III
Mengenai seluruh lapisan kulit, dari subkutis hingga mungkin organ atau jaringan yang
lebih dalam. Pada keadaan ini tidak tersisa jaringan epitel yang dapat menjadi dasar
regenerasi sel spontan, sehingga untuk menumbuhkan kembali jaringan kulit harus
dilakukan cangkok kulit. Gejala yang menyertai justru tanpa nyeri maupun bula, karena
pada dasarnya seluruh jaringan kulit yang memiliki persarafan sudah tidak intak.

o Berat dan Luas Luka Bakar


Berat luka bakar bergantung pada dalam, luas, dan letak luka. Usia dan kesehatan
pasien sebelumnya akan sangat mempengaruhi prognosis. Adanya trauma inhalasi juga akan
mempengaruhi berat luka bakar.
Jaringan lunak tubuh akan terbakar bila terpapar pada suhu di atas 46oC. Luasnya
kerusakan akan ditentukan oleh suhu permukaan dan lamanya kontak. Luka bakar
menyebabkan koagulasi jaringan lunak. Seiring dengan peningkatan suhu jaringan lunak,
permeabilitas kapiler juga meningkat, terjadi kehilangan cairan, dan viskositas plasma

meningkat dengan resultan pembentukan mikrotrombus. Hilangnya cairan dapat


menyebabkan hipovolemi dan syok, tergantung banyaknya cairan yang hilang dan respon
terhadap resusitasi. Luka bakar juga menyebabkan peningkatan laju metabolik dan energi
metabolisme.
Semakin luas permukaan tubuh yang terlibat, morbiditas dan mortalitasnya
meningkat, dan penanganannya juga akan semakin kompleks. Luas luka bakar dinyatakan
dalam persen terhadap luas seluruh tubuh. Ada beberapa metode cepat untuk menentukan
luas luka bakar, yaitu:
Estimasi luas luka bakar menggunakan luas permukaan palmar pasien. Luas telapak
tangan individu mewakili 1% luas permukaan tubuh. Luas luka bakar hanya dihitung
pada pasien dengan derajat luka II atau III.
Rumus 9 atau rule of nine untuk orang dewasa (Wallaces rule of nines)
Pada dewasa digunakan rumus 9, yaitu luas kepala dan leher, dada, punggung, pinggang
dan bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri, paha kanan, paha kiri, tungkai
dan kaki kanan, serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%. Sisanya 1% adalah daerah
genitalia. Rumus ini membantu menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar pada
orang dewasa.
Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relatif permukaan kepala anak jauh
lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil. Karena perbandingan luas
permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda, dikenal rumus 10 untuk bayi, dan rumus 1015-20 untuk anak.

Metode Lund dan Browder


Metode yang diperkenalkan untuk kompensasi besarnya porsi massa tubuh di kepala pada
anak. Metode ini digunakan untuk estimasi besarnya luas permukaan pada anak. Apabila
tidak tersedia tabel tersebut, perkiraan luas permukaan tubuh pada anak dapat
menggunakan Rumus 9 dan disesuaikan dengan usia:
o Pada anak di bawah usia 1 tahun: kepala 18% dan tiap tungkai 14%. Torso dan

lengan persentasenya sama dengan dewasa.


o Untuk tiap pertambahan usia 1 tahun, tambahkan 0.5% untuk tiap tungkai dan
turunkan persentasi kepala sebesar 1% hingga tercapai nilai dewasa.

Lund and Browder chart illustrating the method for calculating the percentage of body surface
area affected by burns in children.

o Pembagian Luka Bakar


1. Luka bakar berat (major burn)
a. Derajat II-III > 20 % pada pasien berusia di bawah 10 tahun atau di atas usia 50 tahun
b. Derajat II-III > 25 % pada kelompok usia selain disebutkan pada butir pertama
c. Luka bakar pada muka, telinga, tangan, kaki, dan perineum
d. Adanya cedera pada jalan nafas (cedera inhalasi) tanpa memperhitungkan luas luka
bakar

e. Luka bakar listrik tegangan tinggi


f. Disertai trauma lainnya
g. Pasien-pasien dengan resiko tinggi
2. Luka bakar sedang (moderate burn)
a. Luka bakar dengan luas 15 25 % pada dewasa, dengan luka bakar derajat III kurang
dari 10 %
b. Luka bakar dengan luas 10 20 % pada anak usia < 10 tahun atau dewasa > 40 tahun,
dengan luka bakar derajat III kurang dari 10 %
c. Luka bakar dengan derajat III < 10 % pada anak maupun dewasa yang tidak
mengenai muka, tangan, kaki, dan perineum
3. Luka bakar ringan
a. Luka bakar dengan luas < 15 % pada dewasa
b. Luka bakar dengan luas < 10 % pada anak dan usia lanjut
c. Luka bakar dengan luas < 2 % pada segala usia (tidak mengenai muka, tangan, kaki,
dan perineum

o Fase Pada Luka Bakar


Dalam perjalanan penyakit, dapat dibedakan menjadi tiga fase pada luka bakar, yaitu:
1.

2.

3.

Fase awal, fase akut, fase syok


Pada fase ini, masalah utama berkisar pada gangguan yang terjadi pada saluran nafas
yaitu gangguan mekanisme bernafas, hal ini dikarenakan adanya eskar melingkar di
dada atau trauma multipel di rongga toraks; dan gangguan sirkulasi seperti
keseimbangan cairan elektrolit, syok hipovolemia. Yang bisa dilakukan pada fase ini
adalah: menghindarkan pasien dari sumber penyebab luka bakar, evaluasi ABC, periksa
apakah terdapat trauma lain, resusitasi cairan, pemasangan kateter urine, pemsangan
NGT, pemeriksaan tanda vital dan laboratorium, manajemen nyeri, profilaksis tetanus,
pemberian antibiotik dan perawatan luka.
Fase setelah syok berakhir, fase sub akut
Masalah utama pada fase ini adalah Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS)
dan Multi-system Organ Dysfunction Syndrome (MODS) dan sepsis. Hal ini merupakan
dampak dan atau perkembangan masalah yang timbul pada fase pertama dan masalah
yang bermula dari kerusakan jaringan (luka dan sepsis luka)
Fase lanjut
Fase ini berlangsung setelah penutupan luka sampai terjadinya maturasi jaringan.
Masalah yang dihadapi adalah penyulit dari luka bakar seperti parut hipertrofik,
kontraktur dan deformitas lain yang terjadi akibat kerapuhan jaringan atau struktur
tertentu akibat proses inflamasi yang hebat dan berlangsung lama

o Pembagian zona kerusakan jaringan:


1. Zona koagulasi, zona nekrosis

10

Merupakan daerah yang langsung mengalami kerusakan (koagulasi protein) akibat


pengaruh cedera termis, hampir dapat dipastikan jaringan ini mengalami nekrosis
beberapa saat setelah kontak. Oleh karena itulah disebut juga sebagai zona nekrosis.
2. Zona statis
Merupakan daerah yang langsung berada di luar/di sekitar zona koagulasi. Di daerah ini
terjadi kerusakan endotel pembuluh darah disertai kerusakan trombosit dan leukosit,
sehingga terjadi gangguam perfusi (no flow phenomena), diikuti perubahan permeabilitas
kapilar dan respon inflamasi lokal. Proses ini berlangsung selama 12-24 jam pasca cedera
dan mungkin berakhir dengan nekrosis jaringan.
3. Zona hiperemi
Merupakan daerah di luar zona statis, ikut mengalami reaksi berupa vasodilatasi tanpa
banyak melibatkan reaksi selular. Tergantung keadaan umum dan terapi yang diberikan,
zona ketiga dapat mengalami penyembuhan spontan, atau berubah menjadi zona kedua
bahkan zona pertama.
o Indikasi Rawat Inap Pada Pasien Luka Bakar
Menurut American Burn Association, seorang pasien diindikasikan untuk dirawat inap bila:
1. Luka bakar derajat III > 5%
2. Luka bakar derajat II > 10%
3. Luka bakar derajat II atau III yang melibatkan area kritis (wajah, tangan, kaki, genitalia,
perineum, kulit di atas sendi utama) risiko signifikan untuk masalah kosmetik dan
kecacatan fungsi
4. Luka bakar sirkumferensial di thoraks atau ekstremitas
5. Luka bakar signifikan akibat bahan kimia, listrik, petir, adanya trauma mayor lainnya,
atau adanya kondisi medik signifikan yang telah ada sebelumnya
6. Adanya trauma inhalasi

o Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pemeriksaan darah rutin dan kimia darah


Urinalisis
Pemeriksaan keseimbangan elektrolit
Analisis gas darah
Radiologi jika ada indikasi ARDS
Pemeriksaan lain yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis SIRS dan MODS

11

o Penatalaksanaan
Luka bakar pada penatalaksanaan antara anak dan dewasa pada prinsipnya sama namun pada
anak akibat luka bakar dapat menjadi lebih serius. Hal ini disebabkan anak memiliki lapisan
kulit yang lebih tipis, lebih mudah untuk kehilangan cairan, lebih rentan untuk mengalami
hipotermia (penurunan suhu tubuh akibat pendinginan). Pasien dengan luka bakar yang luas
dapat dengan mudah terjadi komplikasi mulai dari dehidrasi, syok, kerusakan paru,
hipermetabolisme, emboli, gagal ginjal akut, infeksi sepsis, hingga sampai komplikasi
psikososial dan estetika. Penanganan yang cepat dan tepat merupakan kunci dalam
tatalaksana luka bakar.
Secara sistematik dapat dilakukan 6c : clothing, cooling, cleaning, chemoprophylaxis,
covering and comforting (contoh pengurang nyeri). Untuk pertolongan pertama dapat
dilakukan langkah clothing dan cooling, baru selanjutnya dilakukan pada fasilitas kesehatan.
Pemberian cairan intravena (melalui infus) diberikan bila luas luka bakar >10%. Bila kurang
dari itu dapat diberikan cairan melalui mulut. Cairan merupakan komponen penting karena
pada luka bakar terjadi kehilangan cairan baik melalui penguapan karena kulit yang
berfungsi sebagai proteksi sudah rusak dan mekanisme dimana terjadi perembesan cairan
dari pembuluh darah ke jaringan sekitar pembuluh darah yang mengakibatkan timbulnya
pembengkakan (edema). Bila hal ini terjadi dalam jumlah yang banyak dan tidak tergantikan
maka volume cairan dalam pembuluh darah dapat berkurang dan mengakibatkan kekurangan
cairan yang berat dan mengganggu fungsi organ-organ tubuh.
Cairan infus yang diberikan adalah cairan kristaloid (ringer laktat, NaCl 0,9%/normal
Saline). Kristaloid dengan dekstrosa (gula) di dalamnya dipertimbangkan untuk diberikan
pada bayi dengan luka bakar. Jumlah cairan yang diberikan berdasarkan formula dari
Parkland : [3-4 cc x berat badan (kg) x %TBSA] + cairan rumatan (maintenance per 24 jam).
Cairan rumatan adalah 4cc/kgBB dalam 10 kg pertama, 2cc/kgBB dalam 10 kg ke 2 (1120kg) dan 1cc/kgBB untuk tiap kg diatas 20 kg. Cairan formula parkland (3-4ccx kgBB x
%TBSA) diberikan setengahnya dalam 8 jam pertama dan setengah sisanya dalam 16 jam
berikutnya. Pengawasan kecukupan cairan yang diberikan dapat dilihat dari produksi urin
yaitu 0,5-1cc/kgBB/jam.
o Komplikasi
-

Fase Akut: syok, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit

12

Fase Subakut: infeksi dan sepsis


Fase Lanjut: parut hipertropik

o Prognosis
Prognosis dan penangangan luka bakar terutama tergantung pada dalam dan luasnya
permukaan luka bakar; dan penanganan sejak fase awal sampai penyembuhan. Selain itu
faktor letak daerah yang terbakar, usia, dan keadaan kesehatan penderita juga turut
menentukan kecepatan penyembuhan.
4. Planning :

Penatalaksanaan awal -> UGD


o Pasang O2 2-4 liter/menit
o IVFD NaCl 0,9% 20 TPM
o Covering : pakaian yang menutupi luka dilepaskan
o Cooling: dinginkan daerah luka yang terkena luka bakar dengan
menggunakan air dingin yang mengalir atau NaCl 0,9% selama 20 menit.
o Cleaning: bersihkan luka dari bekas ledakan dan sisa kotoran
(debridement luka)
o Chemoprophylaxis: berikan krim burnazin pada daerah leher, Injeksikan
Ceftriaxone 500mg/8jam/iv (skin test)
o Covering: tutup dengan sufratul, kompres dingin luka dengan kasa basah,
lalu tutup dengan kasa kering, ganti verban minimal 2 kali sehari
o Comforting: untuk mengurangi nyeri diberikan injeksi ketorolac

ampul/8jam/iv, dan paracetamol sirup 3x1,5cth. Inj.


Edukasi:
o Saat mandi, gosok permukaan kulit secara lembut untuk membantu
mengangkat kulit yang mati.
o Jaga kebersihan lingkungan dan pakaian.
Konsultasi:
Bila terjadi kontraktur akan dilakukan pembedahan oleh ahli bedah pelastik dan
perawatan oleh ahli rehabilitasi medik
Rujukan: (-)
Kotrol:
Kontrol rutin ke puskesmas/ poliklinik bedah

13