Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos uterus yang terdiri dari sel-sel
jaringan otot polos, jaringan pengikat fibroid dan kolagen. Mioma belum pernah
ditemukan sebelum terjadinya menarche, sedangkan setelah menopause hanya kirakira 10% mioma yang masih tumbuh. Mioma uteri sering ditemukan pada wanita
usia reproduksi (20-25%), dimana prevalensi mioma uteri meningkat lebih dari 70 %
dengan pemeriksaan patologi anatomi uterus, membuktikan banyak wanita yang
menderita mioma uteri asimptomatik.1
Tumor ini merupakan tumor pelvik terbanyak pada organ reproduksi wanita.
Diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20%-30% dari seluruh wanita. Mioma uteri
ini menimbulkan masalah besar dalam kesehatan dan terapi yang paling efektif
belum didapatkan, karena sedikit sekali informasi mengenai etiologi mioma uteri itu
sendiri. Baru-baru ini penelitian sitogenetik, molekuler dan epidemiologi
mendapatkan peranan besar komponen genetik dalam patogenesis dan patobiologi
mioma uteri.1
Di Indonesia mioma uteri ditemukan 2,39-11,7% pada semua penderita
ginekologi yang dirawat. Jarang sekali mioma ditemukan pada wanita berumur 20
tahun, paling banyak pada umur 35-45 tahun. Mioma uteri ini lebih sering didapati
pada wanita nulipara atau yang kurang subur. Faktor keturunan juga memegang
peran.2
Mioma uteri menimbulkan masalah besar dalam kesehatan dan terapi yang
efektif belum didapatkan, karena sedikit sekali informasi mengenai etiologi mioma
uteri itu sendiri. Walaupun jarang menyebabkan mortalitas, namun morbiditas yang
ditimbulkan oleh mioma uteri ini cukup tinggi karena mioma uteri dapat
menyebabkan nyeri perut dan perdarahan uterus abnormal, serta diperkirakan dapat
menurunkan tingkat kesuburan.2
Perdarahan uterus yang abnormal merupakan gejala klinis yang paling sering
terjadi dan paling penting. Gejala ini terjadi pada 30% pasien dengan mioma uteri.
Wanita dengan mioma uteri mungkin akan mengalami siklus perdarahan haid yang

teratur dan tidak teratur. Menorrhagia dan atau metrorrhagia sering terjadi pada
penderita mioma uteri.2
Penanangan mioma uteri dapat dilakukan secara konservatif maupun dengan
tindakan pembedahan. Beberapa pilihan terapi pembedahan tergantung pada
beberapa faktor, diantaranya ukuran mioma, gejala yang ditimbulkan tidak dapat
teratasi dengan penanganan konservatif, sangkaan keganasan, dan pertimbanganpertimbangan khusus lainnya.2
Karena bermacam-macamnya gejala yang muncul akibat mioma uteri sehingga
diperlukan suatu cara mendiagnosis mioma supaya tidak terjadi kesalahan diagnosa.
Maka dari itu presentasi kasus kami ini menekankan secara lebih mengenai
bagaimana mendiagnosa mioma uteri.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFENISI
Mioma uteri adalah tumor jinak otot polos uterus jinak yang berasal dari otot
polos uterus, yang diselingi untaian jaringan ikat. Tumor ini juga dikenal dengan
istilah fibromioma, leiomioma, atau pun fibroid.1
B. ANATOMI UTERUS
Uterus (rahim) merupakan organ yang tebal, berotot, berbentuk buah pir, yang
sedikit gepeng kearah muka belakang, terletak di dalam pelvis antara rektum di
belakang dan kandung kemih di depan. Ukuran uterus sebesar telur ayam dan
mempunyai rongga. Dindingnya terdiri atas otot polos. Ukuran panjang uterus adalah
7-7,5 cm lebar di atas 5,25 cm, tebal 1,25 cm. Berat uterus normal lebih kurang 57
gram.
Pada masa kehamilan uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama
dibawah Pengaruh estrogen dan progesterone yang kadarnya meningkat. Pembesaran
ini pada dasarnya disebabkan oleh hipertropi otot polos uterus, disamping itu serabut
serabut kolagen yang ada menjadi higroskopik akibat meningkatnya kadar estrogen
sehingga uterus dapat mengikuti pertumbuhan janin. Setelah Menopause, uterus
wanita nullipara maupun multipara, mengalami atrofi dan kembali ke ukuran pada
masa predolesen.
Uterus dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu :
1. Fundus Uteri (dasar rahim) : bagian uterus yang proksimal yang terletak
antara kedua pangkal saluran telur.
2. Korpus Uteri : Bagian uterus yang membesar pada kehamilan. Korpus uteri
mempunyai fungsi utama sebagai tempat janin berkembang. Rongga yang
terdapat pada korpus uteri disebut kavum uteri atau rongga rahim.
3. Serviks Uteri : Ujung serviks yang menuju puncak vagina disebut porsio,
hubungan antara kavum uteri dan kanalis servikalis disebut ostium uteri yaitu
bagian serviks yang ada di atas vagina

Uterus juga dapat dibagi berdasarkan dindingnya yaitu :


1. Endometrium di korpus uteri dan endoserviks di serviks uteri. Endometrium
terdiri atas epitel kubik, kelenjar-kelenjar, dan jaringan dengan banyak
pembuluh-pembuluh

darah

yang

berlekuk-lekuk.

Dalam

masa

haid

endometrium untuk sebagian besar dilepaskan, untuk kemudian tumbuh


menebal dalam masa reproduksi pada kehamilan dan pembuluh darah
bertambah banyak yang diperlukan untuk memberi makanan pada janin.
2. Miometrium (lapisan otot polos) di sebelah dalam berbentuk sirkuler, dan
disebelah luar berbentuk longitudinal. Diantara kedua lapisan ini terdapat
lapisan otot oblik, berbentuk anyaman. Lapisan otot polos yang paling
penting pada persalinan oleh karena sesudah plasenta lahir berkontraksi kuat
danmenjepit pembuluh-pembuluh darah yang ada di tempat itu dan yang
terbuka.
3. Lapisan serosa (peritoneum viseral) terdiri dari lima ligamentum yang
menfiksasi dan menguatkan uterus yaitu:
a. Ligamentum kardinale kiri dan kanan yakni ligamentum yang terpenting,
mencegah supaya uterus tidak turun, terdiri atas jaringan ikat tebal, dan
berjalan dari serviks dan puncak vagina kearah lateral dinding pelvis.
Didalamnya ditemukan banyak pembuluh darah, antara lain vena dan
arteria uterine.
b. Ligamentum sakro uterinum kiri dan kanan yakni ligamentum yang
menahan uterus supaya tidak banyak bergerak, berjalan dari serviks
bagian belakang kiri dan kanan kearah sarkum kiri dan kanan.
Ligamentum rotundum kiri dan kanan yakni ligamentum yang menahan
uterus agar tetap dalam keadaan antofleksi, berjalan dari sudut fundus
uteri kiri dan kanan, ke daerah inguinal waktu berdiri cepat karena uterus
berkontraksi kuat.
c. Ligamentum latum kiri dan kanan yakni ligamentum yang meliputi tuba,
berjalan dari uterus kearah sisi, tidak banyak mengandung jaringan ikat.
d. Ligamentum infundibulo pelvikum yakni ligamentum yang menahan tuba
fallopi, berjalan dari arah infundibulum ke dinding pelvis. Di dalamnya
ditemukan urat-urat saraf, saluran-saluran limfe, arteria dan vena ovarika
C. EPIDEMIOLOGI

Mioma uteri merupakan tumor pelvis yang terbanyak pada organ reproduksi
wanita. Jarang sekali ditemukan pada wanita berumur 20 tahun dan belum pernah
(dilaporkan) terjadi sebelum menarche, paling banyak ditemukan pada wanita
berumur 35-45 tahun (proporsi 25%). Setelah menopause hanya kira-kira 10%
mioma masih tumbuh. Proporsi mioma uteri pada masa reproduksi 20-25%.
Mioma uteri lebih banyak ditemukan pada wanita berkulit hitam, karena
wanita berkulit hitam memiliki lebih banyak hormon estrogen dibanding wanita kulit
putih. Pernah ditemukan 200 sarang mioma dalam satu uterus pada wanita kulit
hitam, dimana biasanya hanya 5-20 sarang saja.
D. ETIOLOGI
Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan diduga
merupakan penyakit multifaktorial. Dipercaya bahwa mioma merupakan sebuah
tumor monoklonal yang dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplastik
tunggal. Sel-sel tumor mempunyai abnormalitas kromosom lengan 12q15 atau 6p21.
Ada beberapa faktor yang diduga kuat sebagai faktor predisposisi terjadinya mioma
uteri, yaitu : (1,2,4)
1. Estrogen : Mioma uteri kaya akan reseptor estrogen. Meyer dan De Snoo
mengajukan teori Cell nest atau teori genitoblast, teori ini menyatakan bahwa
untuk terjadinya mioma uteri harus terdapat dua komponen penting yaitu: sel
nest ( sel muda yang terangsang) dan estrogen (perangsang sel nest secara
terus menerus).Percobaan Lipschutz yang memberikan estrogen kepada
kelinci percobaan ternyata menimbulkan tumor fibromatosa baik pada
permukaan maupun pada tempat lain dalam abdomen.19 Hormon estrogen
dapat diperoleh melalui penggunaan alat kontrasepsi yang bersifat hormonal
(Pil KB, Suntikan KB, dan Susuk KB). Peranan estrogen didukung dengan
adanya kecenderungan dari tumor ini menjadi stabil dan menyusut setelah
menopause dan lebih sering terjadi pada pasien yang nullipara.
2. Progesteron : Reseptor progesteron terdapat di miometrium dan mioma
sepanjang siklus menstruasi dan kehamilan. Progesteron merupakan
antagonis natural dari estrogen. Progesteron menghambat pertumbuhan tumor

dengan dua cara yaitu:mengaktifkan 17 - Beta hidroxydesidrogenase dan


menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor.
3. Umur : mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun, ditemukan
sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering
memberikan gejala klinis antara 35-45 tahun.
4. Paritas : lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relatif
infertil, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakah infertil menyebabkan
mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertil, atau
apakah kedua keadaan ini saling mempengaruhi.
5. Faktor ras dan genetik : pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit
hitam, angka kejadiaan mioma uteri tinggi. Terlepas dari faktor ras, kejadian
tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita
mioma.
6. Fungsi ovarium : diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan
pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarche,
berkembang setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause.
Mioma merupakan monoclonal dengan tiap tumor merupakan hasil dari
penggandaan satu sel otot. Etiologi yang diajukan termasuk di dalamnya
perkembangan dari sel otot uterus atau arteri pada uterus, dari transformasi
metaplastik sel jaringan ikat, dan dari sel-sel embrionik sisa yang persisten.
Penelitian terbaru telah mengidentifikasi sejumlah kecil gen yang mengalami mutasi
pada jaringan ikat tapi tidak pada sel miometrial normal.4
E. PATOGENESIS
Meyer dan De Snoo mengajukan teori Cell Nest atau teori genioblast.
Percobaan Lipschultz yang memberikan estrogen kepada kelinci percobaan ternyata
menimbulkan tumor fibromatosa baik pada permukaan maupun pada tempat lain
dalam abdomen. Efek fibromatosa ini dapat dicegah dengan pemberian preparat

progesteron atau testosteron. Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama sehingga
terjadi hipoestrogenik dapat mengurangi ukuran mioma. Efek estrogen pada
pertumbuhan mioma mungkin berhubungan dengan respon mediasi oleh estrogen
terhadap reseptor dan faktor pertumbuhan lain. Terdapat bukti peningkatan produksi
reseptor progesteron, faktor pertumbuhan epidermal dan insulin-like growth factor 1
yang distimulasi oleh estrogen. Anderson dkk, telah mendemonstrasikan munculnya
gen yang distimulasi oleh estrogen lebih banyak pada mioma daripada miometrium
normal dan mungkin penting pada perkembangan mioma. Namun bukti-bukti masih
kurang meyakinkan karena tumor ini tidak mengalami regresi yang bermakna setelah
menopause sebagaimana yang disangka. Lebih daripada itu tumor ini kadang-kadang
berkembang setelah menopause bahkan setelah ooforektomi bilateral pada usia dini.
(1,2,4)

Dikenal dua tempat asal mioma uteri yaitu serviks uteri dan korpus uteri.
Mioma pada serviks uteri hanya ditemukan sebanyak 3 % dan pada korpus uteri
ditemukan 97% kasus. Berdasarkan tempat tumbuh atau letaknya, mioma uteri dapat
diklasifikasikan menjadi : (1)
1. Mioma intramural: Mioma terdapat di korpus uteri diantara serabut
miometrium. Bila mioma membesar atau bersifat multiple dapat menyebabkn
pembesaran uterus dan berbenjol-benjol
2. Mioma submukosum: Mioma tumbuh tepat dibawah endometrium dan
menonjol ke dalam rongga uterus. Kadang mioma uteri submukosadapat
tumbuh terus dalam kavum uteri dan berhubungan dengn tangkai yang dikenal
dengan polip. Karena konraksi uterus, polip dapat melalui kanalis servikalis dan
sebgian kecil atau besar memasuki vagina yang dikenal dengan nama myoma
geburt.
3. Mioma uteri subserosum: Mioma terletak dibawah tunika serosa, tumbuh kerah
luar dan menonjol ke permukaan uterus. Mioma subserosa dapat tumbuh
diantara kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma ligamenter yang
dapat menekan ligamenter dan arteri iliaka. Miom jenis ini juga dapat tumbuh

menempel pada jaringan lain misalnya ke omentum dan kemudian


membebaskan diri dari uterus sehingga disebut wandering dan parasite fibroid.
Hampir separuh kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada
pemeriksaan ginekologik karena tumor ini tidak mengganggu. Gejala yang timbul
sangat tergantung pada tempat sarang mioma ini berada serviks, intramural,
submukus, subserus), besarnya tumor, perubahan dan komplikasi yang terjadi.
F. MANIFESTASI KLINIK
1. Perdarahan abnormal: Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah
hipermenore, menoragia dan dapat juga terjadi metroragia. Beberapa faktor
yang menjadi penyebab perdarahan ini, antara lain adalah 1,4:
Pengaruh ovarium sehingga terjadilah hyperplasia endometrium

sampai adeno karsinoma endometrium.


Permukaan endometrium yang lebih luas dari pada biasa.
Atrofi endometrium di atas mioma submukosum.
Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang
mioma diantara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit
pembuluh darah yang melaluinya dengan baik.

2. Rasa nyeri: Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena
gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai nekrosis
setempat dan peradangan. Pada pengeluaran mioma submukosum yang
akan dilahirkan, pula pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis
servikalis dapat menyebabkan juga dismenore.

3. Gejala dan tanda penekanan: Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat
mioma uteri. Penekanan pada kandung kemih akan menyebabkan poliuri,
pada uretra dapat menyebabkan retensio urine, pada ureter dapat
menyebabkan

hidroureter

dan

hidronefrosis,

pada

rectum

dapat

menyebabkan obstipasi dan tenesmia, pada pembuluh darah dan pembuluh


limfe dipanggul dapat menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul.

4. Infertilitas dan abortus: Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma


menutup atau menekan pars intertisialis tuba, sedangkan mioma
submukosum juga memudahkan terjadinya abortus oleh karena distorsi
rongga uterus. Rubin (1958) menyatakan bahwa apabila penyebab lain
infertilitas sudah disingkirkan, dan mioma merupakan penyebab infertilitas
tersebut, maka merupakan suatu indikasi untuk dilakukan miomektomi.1,2,4
G. PENEGAKAN DIAGNOSIS
1. Anamnesis: Dalam anamnesis dicari keluhan utama serta gejala klinis mioma
lainnya, faktor resiko serta kemungkinan komplikasi yang terjadi.
2. Pemeriksaan fisik: Pemeriksaan status lokalis dengan palpasi abdomen.
Mioma uteri dapat diduga dengan pemeriksaan luar sebagai tumor yang keras,
bentuk yang tidak teratur, gerakan bebas, tidak sakit.
3. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium: Akibat yang terjadi pada mioma uteri adalah
anemia akibat perdarahan uterus yang berlebihan dan kekurangan zat besi.
Pemeriksaaan laboratorium yang perlu dilakukan adalah Darah Lengkap
(DL) terutama untuk mencari kadar Hb. Pemeriksaaan lab lain
disesuaikan dengan keluhan pasien.

b. Imaging
Pemeriksaaan dengan USG akan didapat massa padat dan homogen
pada uterus. Mioma uteri berukuran besar terlihat sebagai massa pada
abdomen bawah dan pelvis dan kadang terlihat tumor dengan

kalsifikasi.
Histerosalfingografi digunakan untuk mendeteksi mioma uteri yang

tumbuh ke arah kavum uteri pada pasien infertil.


MRI lebih akurat untuk menentukan lokasi, ukuran, jumlah mioma
uteri, namun biaya pemeriksaan lebih mahal.

H. DIAGNOSIS BANDING

1. Tumor solid ovarium


2. Miosarkoma, koriokarsinoma
3. Tumor abdomen
I. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan mioma Uteri tidak semua mioma uteri memerlukan
pengobatan bedah. Penanganan mioma uteri tergantung pada umur, status fertilitas,
paritas, lokasi dan ukuran tumor, sehingga biasanya mioma yang ditangani yaitu
yang membesar secara cepat dan bergejala serta mioma yang diduga menyebabkan
fertilitas. Secara umum, penanganan mioma uteri terbagi atas penanganan konservatif
dan operatif. Penanganan konservatif bila mioma berukuran kecil pada pra dan post
menopause tanpa gejala. Cara penanganan konservatif

yaitu observasi dengan

pemeriksaan pelvis secara periodic setiap 3-6 bulan, bila pasien anemia lakukan
transfusi.
Pengobatan operatif meliputi miomektomi dan histerektomi. Miomektomi
adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus. Tindakan ini
dapat dikerjakan misalnya pada mioma submukoum pada myom geburt dengan cara
ekstirpasi lewat vagina. Pengambilan sarang mioma subserosum dapat mudah
dilaksanakan apabila tumor bertangkai. Apabila miomektomi ini dikerjakan karena
keinginan memperoleh anak, maka kemungkinan akan terjadi kehamilan adalah 3050%. Histerektomi adalah pengangkatan uterus, yang umumnya tindakan terpilih.
Histerektomi dapat dilaksanakan perabdominan atau pervaginam. Yang akhir ini
jarang dilakukan karena uterus harus lebih kecil dari telor angsa dan tidak ada
perlekatan dengan sekitarnya. Adanya prolapsus uteri akan mempermudah prosedur
pembedahan. Histerektomi total umumnya dilakukan dengan alasan mencegah akan
timbulnya karsinoma servisis uteri. Histerektomi supravaginal hanya dilakukan
apabila terdapat kesukaran teknis dalam mengangkat uterus.1

Komplikasi yang terjadi berupa perubahan sekunder pada mioma uteri yang
terjadi sebagian besar bersifat degenerasi. Hal ini oleh karena berkurangnya
pemberian darah pada sarang mioma. Perubahan sekunder tersebut antara lain : 1,3,4,5

Atrofi : sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan mioma uteri menjadi

kecil.
Degenerasi hialin : perubahan ini sering terjadi pada penderita berusia lanjut.
Tumor kehilangan struktur aslinya menjadi homogen. Dapat meliputi sebagian
besar atau hanya sebagian kecil dari padanya seolah-olah memisahkan satu

kelompok serabut otot dari kelompok lainnya.


Degenerasi kistik: dapat meliputi daerah kecil maupun luas, dimana sebagian
dari mioma menjadi cair, sehingga terbentuk ruangan-ruangan yang tidak teratur
berisi agar-agar, dapat juga terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan
limfe sehingga menyerupai limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak ini

tumor sukar dibedakan dari kista ovarium atau suatu kehamilan.


Degenerasi membatu (calcereus degeneration) : terutama terjadi pada wanita
berusia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam sirkulasi. Dengan adanya
pengendapan garam kapur pada sarang mioma maka mioma menjadi keras dan

memberikan bayangan pada foto rontgen.


Degenerasi merah (carneus degeneration) : perubahan ini terjadi pada kehamilan
dan nifas. Patogenesis : diperkirakan karena suatu nekrosis subakut sebagai
gangguan vaskularisasi. Pada pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti
daging mentah berwarna merah disebabkan pigmen hemosiderin dan hemofusin.
Degenerasi merah tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda disertai
emesis, haus, sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus membesar dan nyeri
pada perabaan. Penampilan klinik ini seperti pada putaran tangkai tumor

ovarium atau mioma bertangkai.


Degenerasi lemak : jarang terjadi, merupakan kelanjutan degenerasi hialin.

Komplikasi yang terjadi pada mioma uteri 1,3,4,5 :


Degenerasi ganas.
Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemukan hanya 0,32-0,6% dari
seluruh mioma; serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma uterus.
Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus yang

telah diangkat. Kecurigaan akan keganasan uterus apabila mioma uteri cepat
membesar dan apabila terjadi pembesaran sarang mioma dalam menopause.
Torsi (putaran tangkai).
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan
sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian terjadilah
sindrom abdomen akut. Jika torsi terjadi perlahan-lahan, gangguan akut tidak
terjadi.
Nekrosis dan infeksi.
Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang diperkirakan
karena gangguan sirkulasi darah padanya.

BAB III
KASUS
STATUS GINEKOLOGI
Tanggal Pemeriksaan : 13-05-2016
Jam : 11.00 wita

Ruangan : Matahari

IDENTITAS
Nama
Alamat
Agama

: Ny. R
: Jl. Mangunsarkoro No. 29
: Islam

Umur
: 48 tahun
Pekerjaan
: Wiraswasta
Pendidikan
: SMA

ANAMNESIS
Menarche
: 15 tahun
Darah haid
: Banyak
Haid Terakhir : 14 April 2016
Perkawinan

: 1 kali

Siklus
: 28 hari
dismenorrhea : Ya
Lama Haid
: 7 hari

dengan suami sekarang 21 tahun

Keluhan Utama :
Seorang wanita masuk Pav Matahari rumah sakit Undata dengan pengantar
dari Poliklinik KB dan KIA RSUD Undata dengan mioma uteri. Pasien mengeluhkan
perut membesar sejak 1 tahun terakhir disertai pengeluaran darah haid yang
banyak, berwarna merah segar dan lamanya 10 hari tidak disertai nyeri perut.
Awalnya perut pasien terasa keras dan secara perlahan-lahan 2 tahun terakhir, perut
membesar hingga sebesar bola takraw. Benjolan pada perut tidak nyeri. Kemudian
pasien memeriksakan dirinya ke poliklinik KB dan KIA RSUD Undata dan
disarankan untuk menjalani operasi pengangkatan tumor dan jika perlu dilakukan
pengangkatan kandungan dan pasien serta suami pasien setuju. Buang air kecil dan
buang air besar lanacar.

Riwayat Obstetri :
GI
: Lahir pada tahun 1996 di RS H Makassar, cukup bulan, lahir spontan
letak belakang kepala, jenis kelamin perempuan, berat badan 2900 gram
Riwayat KB :
Pasien tidak pernah memakai kontrasepsi sebelumnya
Riwayat Penyakit Dahulu :
Hipertensi (+), Diabetes Mellitus (+), Penyakit Jantung (+), Asma (-)

PEMERIKSAAN FISIK
KU
Kesadaran
BB
TB

: sakit sedang
: Compos mentis
: 40 kg
: 155 cm

Tekanan Darah
Nadi
Respirasi
Suhu

:
:
:
:

130/80 mmHg
80 kali/menit
18 kali/menit
36,5 C

Kepala Leher
: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterus (-/-), edema
palpebra (-/-), pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-).
Thorax
: Pergerakan simetris bilateral, vokal fremitus kanan= kiri, bunyi
napas vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-). Bunyi jantung I, II murni reguler,
murmur (-)
Abdomen : bentuk cembung, teraba massa setinggi umbilikus, konsistensi padat
kenyal, ukuran 13 cm x 10 cm x 5 cm, letak ditengah, mobile, nyeri tekan tidak
ada.
Ekstremitas :
Edema (-/-), akral hangat (+/+)

PEMERIKSAAN GINEKOLOGIK
Inspeksi

: fluor (), fluksus (+), vulva tidak ada kelainan

Inspekulo

: fluor (), fluksus (+),vagina tidak ada kelainan, porsio licin,


livide (-), erosi (), OUE tertutup

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah lengkap:

WBC
RBC
HCT
PLT

Kimia darah :

8.02x10^3/uL (N)
4.62x10^6/uL (N)
33.3 % (N)
423x10^3/uL (N)

G2PP 127.3 mg/dl (N)


Glukosa puasa 104.4 mg/dl (+)

HbsAg : non reaktif

Pemeriksaan USG ginekologi

HGB 9.6 g/dL (-)


BT
: 330 ( 1-5 menit)
CT

: 630 (5-15 menit)

Hasil USG
EKG
Foto toraks

:
:

kesan Mioma uterus


Dalam Batas Normal
:
Jantung dan paru-paru kesan normal

DIAGNOSIS
Ny, 48 Tahun + Susp. Multiple Mioma uteri

ANJURAN
Pemeriksaan Histopatologi

PENATALAKSANAAN
IVFD RL 20tpm
Transfusi 1 bag PRC
Informed concent pro histerektomi kalau perlu Salphingioovorectomy
Rencana Operasi setelah HB > 10 mg/dl
Siap Whole blood 3 bag
PROGNOSIS
Dubia ad bonam

FOLLOW UP HARI PERTAMA (14 Mei 2016)

S:
Pusing (-), lemas (+), keluar darah dari jalan lahir (-), mual (-), BAB
(+), BAK (+).
O :Ku : baik

Kesadaran : kompos

mentis

TD: 140/80 mmhg


P: 20 x/m

N: 80 x/m
S : 36,6 C
Konjungtiva anemis -/ Abdomen : bentuk cembung, teraba massa setinggi 2 jari bawah pusat,
konsistensi padat kenyal, permukaan rata, mobile, Nyeri tekan (-)

A : Susp. Multiple Mioma uteri


P : IVFD Rl 20 tpm

- Rencana transfusi 1 bag PRC

- Siap WB 3 bag

FOLLOW UP HARI KEDUA (15 Mei 2016)


S :Lemas (+), pusing (-), nyeri perut bagian bawah (-), keluar darah dari jalan
lahir (-), BAB (+), BAK (+)

O :Ku : baik

Kesadaran : kompos

mentis

TD: 110/80 mmhg


P:18 x/m

N: 80 x/m
S : 36,6 C
Konjungtiva anemis -/ Abdomen : bentuk cembung, teraba massa setinggi pusat, konsistensi padat
kenyal, permukaan rata, mobile, Nyeri tekan (-)

Hasil laboratorium :
Hb
:10,3 g/dl (-)
GDS : 138 mg/dl (+)
A
: Susp. Multiple Mioma uteri
P
:
- IVFD RL 20 tpm
- Rencanakan operasi senin 16 Mei 2016
- Konsul bagian anastesi

LAPORAN OPERASI

Tanggal 16 Mei 2016 jam 09.00 WITA operasi dimulai

Pasien dibaringkan telentang di meja operasi di bawah pengaruh

anastesi spinal. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik selanjutnya abdomen


dan sekitarnya ditutup dengan doek steril kecuali lapangan operasi. Setelah dalam
anestesia spinal dilakukan insisi pada abdomen secara pfannenstiel 14 cm.
Insisi diperdalam lapis demi lapis secara tajam dan tumpul. Dilakukan eksplorasi,
terlihat uterus membesar dengan ukuran 13 x 10 x 5 cm dan kista pada kedua
ovarium

ukuran

cm.

Diputuskan

untuk

dilakukan

(histerectomy+Salphingoovorektomy bilateral) HTSOB. Ligamentum rotundum


dextra diklem dengan tiga buah klem, digunting, dilakukan ligasi. Sisi uterus
bagian pangkal tuba sinistra dijahit, di lakukan ligasi pada tuba sinistra, kemudian
digunting. Ligamentum ovarii proprium sinistra diklem dengan tiga buah klem,
digunting dijahit ligasi. Ligamentum latum dijepit dengan tiga buah klem, dijahit
ligasi. Begitu juga sisi kontralateral, kontrol perdarahan (+). Plica vesica uterine
diidentifikasi dijepit dengan dua buah kocher, digunting kecil diantaranya dan
diperlebar ke lateral sampai ligamentum rotundum lalu disisihkan ke bawah
dengan kasa steril. Identifikasi arteri uterina dextra, vasa uterina dextra diklem
dengan tiga buah klem, digunting, dijahit ligasi, kontrol perdarahan (+)
ligamentum cardinale dan ligamentum sakrouterina dijepit, digunting, dijahit
ligasi begitu juga sisi kontra lateralnya. Identifikasi puncak vagina kemudian
diklem dengan klem bengkok, uterus dipotong sampai lepas dari vagina.
Transfusi 2 bag PRC. Uterus diangkat bersama tuba uterina bilateral dan
ovarium bilateral. Puncak vagina diklem dengan beberapa klem panjang,
dimasukkan kasa betadine ke vagina, puncak vagina djahit. Ekslplorasi kembali
sisa uterus. Kavum abdomen dibersihkan dari sisa-sisa perdarahan, kontrol
perdarahan

(-). Abdomen ditutup lapis demi lapis, fascia secara jelujur, fat

secara jelujur dengan cat gut, kulit dijahit secara subcuticular . Luka operasi
ditutup dengan kasa steril. Perdarahan : 700 cc. Diuresis : 300 cc. Jam 12.00
WITA operasi selesai.
Diagnosis pra operatif

: Mioma uteri

Diagnosis post operatif

: post HT + SOB a.i. Multiple Mioma Uteri


(Mioma submukosa dan intramural + kista
ovarium bilateral)

Jenis operasi

: HT + SOB

Lama operasi

: 3 jam

Jaringan yang dieksisi ke PA

: Mioma uteri dan kista ovarium

Instruksi Post Operasi

Observasi TTV dan perdarahan


Jaringan mioma periksa patologi anatomi
IVFD RL : Futrolit (1 : 1 ) => 28 tpm
Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/IV
Inj. Ketorolac 1 amp/8 jam/IV
Inj. Ranitidin 1 amp/12 jam/IV
Inj. Asam Traneksamat 1 amp/12 jam/IV
Cek HB 6 jam post operasi, jika Hb < 8 mg/dl transfusi hingga HB 10 mg/dl
Puasa sampai flatus/peristaltik (+)

FOLLOW UP HARI KE EMPAT (17 Mei 2016)

S : Nyeri luka operasi (+), keluar darah dari jalan lahir (-), Sakit Ulu hati (+),
suah tidur (-), flatus (+), BAB (-), BAK (+).

O : Ku : Sakit Sedang
Kesadaran: kompos mentis
S: 36,8 C
TD: 120/80 mmhg
Konjungtiva anemis (-/-)
N: 88 x/m
Bising usus (+)
P: 20 x/m

A : post HT + SOB a.i. Multiple Mioma Uteri (Mioma submukosa dan


intramural + kista ovarium bilateral)

P : Observasi TTV dan perdarahan

IVFD RL : Futrolit (1 : 1) =>

28 tpm

Kaltrofen supp

Inj. Ceftriaxone 1 gr/12jam/IV

Aff kateter

FOLLOW UP Hari Ke Lima (18 Mei 2016)


S : Nyeri bekas operasi (+), lemas (+), flatus (+), BAB (-), BAK (+).
O : Ku : lemah

Kesadaran : kompos

mentis

TD: 120/800 mmhg


P: 18 x/m

N: 78 x/m
S: 36.5 C

Abdomen
:
datar, lemas, BU (+) N, Luka bekas operasi terawat
A : post HT + SOB Hari ke-2 a.i. Multiple Mioma Uteri (Mioma submukosa
dan intramural + kista ovarium bilateral)

P : AFF Infus

Cefadroxyl 500 mg 2x1

Asam Mefenamat 500 mg 3x1

Hemafort 1x1

Menunggu Hasil PA

Kesadaran : kompos mentis


P: 20 x/m
FOLLOW
Hari Ke Eanam (19 Mei 2016)
TD: 120/70 UP
mmhg
S: 36.5 C
S
:
Nyeri
bekas
operasi
(+),
lemas
(+),
flatus
N: 84 x/m
(+), BAB (+), BAK (+).
O : Ku : lemah

Abdomen : datar, lemas, BU (+) N, Luka bekas operasi terawat, Ganti


Verban

A : post HT + SOB hari ke-3 a.i. Multiple Mioma Uteri (Mioma


submukosa dan intramural + kista ovarium bilateral)
P : Terapi Lanjut
Cefadroxyl 500 mg 2x1
Asam Mefenamat 500 mg 3x1
Hemafort 1x1
Boleh pulang

BAB IV

PEMBAHASAN

Hal-hal yang akan didiskusikan pada kasus ini terdiri dari :


Pada kasus ini, diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,

pemeriksaan fisik, pemeriksaan ginekologik dan pemeriksaan penunjang


sebagai berikut :
-

Dari anamnesis didapatkan adanya keluhan perut membesar yang baru


disadari sejak 1 tahun yang lalu disertai pengeluaran darah haid yang
banyak, berwarna merah segar dan tidak disertai nyeri perut. Awalnya
perut pasien terasa keras dan secara perlahan-lahan 2 bulan terakhir
perut membesar hingga sebesar bola takraw.

Pada pemeriksaan abdomen ditemukan bentuk cembung, teraba massa dua


jari dibawah pusat, konsistensi padat kenyal, permukaan rata, letak
ditengah, mobile, nyeri tekan tidak ada.

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah USG yang

menunjukkan suatu mioma uteri.

Sebagian besar kasus mioma uteri tidak menunjukkan gejala khas,


bahkan kadang-kadang mioma yang besar pada penderita gemuk tidak
terdeteksi. Gejala yang timbul tergantung pada lokasi, ukuran, adanya
komplikasi dan status kehamilan penderita. Adapun gejala klinik yang
sering adalah perdarahan uterus abnormal, nyeri, adanya gejala akibat
penekanan, infertilitas dan abortus spontan.

Pada kasus ini ditemukan perdarahan uterus abnormal berupa menoragia


yang merupakan manifestasi klinik paling sering dan paling penting.
Penyebab menoragia ialah perluasan dari permukaan endometrium,
hiperplasia endometrium dan penekanan vena oleh mioma/tumor yang
mengakibatkan kongesti vena di endometrium.

Disamping perdarahan dari jalan lahir, penderita juga mengaku tidak


terdapat nyeri perut saat menjelang haid. Kepustakaan menyebutkan

bahwa mioma jarang menimbulkan keluhan nyeri, kecuali bila terjadi


gangguan vaskularisasi seperti penyumbatan pembuluh darah, infeksi dan
torsi mioma bertangkai atau karena tumor masuk kerongga pelvis dan
menekan saraf lumbosakral sehingga menimbulkan nyeri yang menjalar ke
punggung atau ekstremitas bawah.

Secara umum penanganan kasus mioma uteri adalah penanganan


konservatif, operatif, sinar/radiasi dan medikamentosa. Penanganan
operatif dilakukan tergantung usia penderita, paritas, besarnya mioma
uteri, beratnya keluhan yang ditimbulkan serta fungsi reproduksi.
Tindakan operatif dapat berupa miomektomi atau histerektomi yang dapat
dilakukan

transabdominal,

perlaparaskopi

ataupun

transvaginal.

Miomektomi dilakukan bila fungsi reproduksi masih diperlukan (masih


menginginkan anak) serta keadaan mioma memungkinkan. Histerektomi
dilakukan bila fungsi reproduksi sudah tidak diperlukan, pertumbuhan
tumor cepat dan terdapat perdarahan yang membahayakan penderita.

Pada kasus ini dilakukan histerektomi totalis mengingat ukuran mioma


yang cukup besar, adanya perdarahan yang bisa membahayakan penderita
serta usia penderita yang menjelang menopause. Kedua ovarium juga di
angkat karena adanya kista ovarium yang berukuran > 5cm. Hal ini di
lakukan untuk mencegah terjadinya pembesaran pada kista ovarium.

Untuk persiapan pra operatif, seharusnya dilakukan pemeriksaan


laboratorium lengkap yaitu periksa darah rutin, fungsi hemostasis, fungsi
ginjal, fungsi hati, gula darah, EKG dan foto toraks, namun pada pasien ini
tidak diperiksa fungsi ginjal dan fungsi hepar. Maksud pemeriksaan ini
untuk mengetahui penyakit penyerta dan untuk mengantisipasi adanya
penyulit disaat tindakan anestesia, saat operasi dan pasca operasi.

Prognosis pada kasus ini adalah dubia ad bonam dimana waktu


pemeriksaan dalam ditemukan adanya massa yang membesar ukuran 13
cm x 10 cm x 5 cm, permukaan berbenjol, nyeri tekan tidak ada sehingga
kemungkinan adalah tumor jinak. Hal ini harus di pastikan dengan hasil

pemeriksaan PA. Hingga laporan kasus ini di buat hasil PA pada pasien ini
belum ada.

DAFTAR PUSTAKA

1. Joedosoepoetro MS. Tumor-tumor Jinak Pada Alat-alat Genital Dalam,


Ilmu Kandungan, editor Prawirohardjo S, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta,2009: 338-344
2. Benson, R. Buku Saku Obstetri dan Ginekologi. Edisi 9. Cetakan I.
Jakarta:Penerbit EGC; 2008.
3. Hart MD, McKay D. Fibroids in Gynecology Ilustrated, London :
Churchill Livingstone. 2000; 213-216
4. Mehine

M,

Kaasinen,

Netta,

Katainen

R,Heinonen,

Kilpivaara,

Kuosmanen, Gentile,Vahteristo and Lauri A. Characterization of Uterine


Leiomyomas by Whole-Genome Sequencing. The new england journal
medicine. Massachusetts Medical Society. 2013; p43-53
5. DeCherney, A.H.,Nathan, L. Current Obstetry and Gynecology Diagnosis
and Therapy. McGraw-Hill, 2003; P :693-699