Anda di halaman 1dari 24

ALAT SAMBUNG KAYU: PAKU, PASAK DAN ALAT-ALAT SAMBUNG

MODERN

MODUL 5
ALAT SAMBUNG KAYU: PAKU, PASAK DAN ALAT-ALAT
SAMBUNG MODERN
A.

Pendahuluan
Selain alat sambung baut/mur, maka dikenal pula alat-alat sambung kayu yang lain,
yakni: paku, pasak dan alat-alat sambung modern. Pada modul ke lima ini kita akan mempelajari
mengenai alat-alat sambung tersebut. Akan dijelaskan mengenai kelebihan dan kelemahan
masing-masing penggunaan alat sambung tersebut. penyajian dalam modul ini juga akan diserta
dengan cara perhitungan jika seorang mahasiswa atau ahli ingin mengetahui jumlah alat
sambung yang akan digunakan dalam suatu sambungan juga cara penempatannya.
Kegiatan belajar mahasiswa dalam modul ini terdiri 4 kegiatan pembelajaran: (1) Uraian
materi pembelajaran, (2) Rangkuman, (3) Latihan, (4) Tes dan Kunci
Kompetensi khusus yang akan dicapai setelah mahasiswa mempelajari modul ini adalah:
1) Menjelaskan tentang kelebihan dan kelemahan mempergunakan alat sambung paku, pasak dan
alat-alat sambung modern, pada sambungan kayu.
2) Menghitung pemakaian paku, pasak dan alat-alat sambung modern pada sambung kayu

B.

PENYAJIAN
B.1. PAKU
Paku termasuk alat sambung yang tertua disamping baut. Paku-paku itu biasanya dibuat
dari baja Thomas, yang mempunyai ds.max = 6000-8000kg/cm2 dan 1t.max = 8000 12000
kg/cm2. Bermacam-macam bentuk paku seperti yang tampak pada gambar dibawah ini

Gambar 33. Jenis-jenis Paku


a) Paku tampang bulat. Banyak dipergunakan di Indonesia. tetapi penggunaan itu tidak mendukung
gaya dalam arti yang sesungguhnya, melainkan gaya yang didukungnya hanya kecil saja, seperti
untuk pembuatan perabot-perabot rumah tangga, untuk pembuatan jendela, pintu dan sebagainya,
dimana tidak atau hampir tidak diterima gaya-gaya oleh paku itu.
b) Paku tampang segitiga. Kini tidak banyak lagi dipakai, terutama di Indonesia.
c) Paku tampang persegi. Banyak dipakai di benua Eropa, terutama pada konstruksi pendukung.
d) Paku alur spiral. (spirally groveed nail). Diapaki untuk keperluan-keperluan istimewa, terutama
bila diperlukan kuat-cabutnya (whitedrawl resistance). Paku ini mempunyai dukungan gesek
yang besar berhubung kelilingnya tidak rata.
e) Paku alur lurus (longitudinally groveed nail). Banyak banyak dipakai di benua Eropa, terutama
alat sambung pada konstruksi dukung.
f)

Paku sisik (barbed nail). Dipakai untuk keperluan-keperluan yang khusus.

Perbandingan paku yang alur lurus dan yang tampang bulat itu ialah 1,2 sampai 1,4. Oleh
karena itu paku yang tampang bulat di Eropa semakin terdesak penggunaannya pada konstruksi
dukung. Disamping mempunyai dukungan gesek yang besar, tegangan disekeliling lubang di
dalam katu di dalam kayu boleh dikata merata. Gambar kiri menunjukkan pembagian tegangan
jika dipergunakan paku bulat. Garis tegangannya berupa parabola. Gambar kanan menunjukkan
pembagian tegangan pada kayu dibawah paku alur lurus. Bidang tegangannya mendekati persegi
empat panjang, jadi lebih merata.

Gambar 34. Pembagian Tegangan Pada Kayu di Bawah Paku Alur Lurus

Menurut pengujian-pengujian perbandingan tk/ds untuk masing-masing paku berlainan


dan rata-rata di dapat untuk paku bulat tk/ds = 0,50, dan untuk paku alur lurus tk/ds = 0,75. Di
bawah ini diberikan hasil-hasil penelitian yang telah dijalankan di Chalmers University of
Technology di Gothenborg, Swedia oleh Tarsten Mler dengan menggunakan paku bulat d = 5,1
mm dan paku lurus d = 4,8 mm (tabel 11).
Ternyata bahwa paku alur lurus lebih kuat dari pada yang bulat, walaupun garis
tengahnya lebih kecil.

Tabel 11. Jenis Sambungan, Jenis Kayu dan Kekuatan


Jenis
Paku

Sambunga
n tampang

Jenis kayu

Lebar
kayu
dalam
mm

Pinus
silvestris/
Swedish
Pinus

51

394

478

51

415

666

2
2
4
4
4
4
2
2

Swedish fir

52
52
32
32
33
33
53
53

496
487
380
366
321
347
305
301

480
728
693
1119
641
1106
474
684

Bulat
Aluru
lurus
Bulat
Alur lurus
Bulat
Alur lurus
bulat
Alur lurus
Bulat
Alur lurus

ds kayu
kg/cm2

Pmax
perpaku
kg

Pbulat/Palur
lurus

0,72

0,66
0,62
0,58
0,69

Di Indonesia satu-satunya macam paku yang dipergunakan ialah paku tampang bulat,
walaupun daya dukungnya hanya kecil saja.
Kebaikan-kebaikan konstruksi kayu dengan paku dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Harga paku adalah murah, maka konstruksi itu seluruhnya murah pula.
2. Konstruksinya adalah kaku (jadi baik), sasaran-sasaran di dalam sumbangan hanya kecil.
3.

Di dalam pembuatan konstruksi beserta sambungannya tidak diperlukan tenaga ahli, cukup
dikerjakan oleh tukang atau pekerja biasa, sedang alat-alatnya yang diperlukan sangat sederhana,
ialah palu dan catut saja.

4. Pekerjaan dapat dijalankan dengan cepat.


5. Perlemahan kayu karena paku-paku itu kecil.
Kekuatan sambungan dapat menyimpang dari daftar 13 tersebut asal dihitung menurut
rumus-rumus di bawah ini.
Tampang satu :
atau

= 3,5 d2 Tk
Tampang dua :

0,5 dl Tk

untuk 1 7d

untuk 1 7d
dm Tk

untuk m 7d

atau

= 3,5 d2 Tk

untuk m 7d

Tabel 12. Beban Yang Diijinkan Per Paku


Diameter paku d(1/10
mm) panjang paku 1
(mm)

Kelang
singan

Kekuatan 1 paku tampang satu (kg)


B.J. Kayu = 0,3
B.J. Kayu = 0,4
B.J. Kayu = 0,5
TK = 75 kg/ cm2
TK = 100 kg/cm2
TK = 125 kg/cm2
kg
kg
kg

No

Tebal
kayu

20

28/51 (2BWG 12)


31/63 (2 1/2 BWG 11)
34/76 (3 BWG 10)

7,2
6,5
5,9

20
23
25

27
31
34

34
38
42

25

31/63 (2BWG 11)


34/76 (3 BWG 10)
38/89 (3 1/2 BWG 9)

8,1
7,4
6,6

24
32
35

33
40
47

42
50
59

34/76 (3BWG 10)


38/89 (3 1/2 BWG 9)
40/102 (4 BWG 8)

8,8
7,9
6,5

30
38
47

40
50
63

50
63
78

30

35

38/89 (3 1/2 BWG 9)


42/102 (4 BWG 8)

9,2
8,3

38
46

50
61

63
77

40

40/102 (4 BWG 8)
52/114 (4 1/2 BWG 6)

9,5
7,6

46
70

61
94

77
118

Tabel 13. Paku kawat biasa


Ukuran paku
2 BWG 12
2 BWG 11
2 BWG 10

d (mm)
2,77
3,05
3,40

Jumlah paku kira-kira per kg

2 1/2 BWG 11
2 1/2 BWG 10
2 1/2 BWG 9

3,05
3,40
3,76

280

3 BWG 10
3 BWG 9
3 BWG 8

3,40
3,76
4,19

185

3 1/2 BWG 9
3 1/2 BWG 8
3 1/2 BWG 8

3,76
4,19
4,57

120

400

4 BWG 8
4,19
4 BWG 7
4,57
93
4 BWG 6
5,15
Syarat-syarat yang harus diperhatikan dalam menggunakan sambungan paku:
1. Kekuatan paku tidak dipengaruhi oleh besarnya sudut penyimpangan antara arah gaya dan
arah serat.
2. Jika paku dipergunakan pada konstruksi yang selalu atau yang kadar-lengasnya kayu selalu
tinggi, maka kekuatan paku harus dikalikan dengan angka 2/3. Dan jika dipergunakan pada
konstruksi yang tidak terlindung, maka kekuatan paku harus dikalikan dengan angka 5/6.
3. Jika beban didukungnya bersifat sementara (termasuk akibat tekanan angin) maka kekuatan
sambungan dapat dinaikan dengan 25%.
4. Apabila dalam satu baris terdapat lebih dari 10 batang paku, maka kekuatan paku harus
dikurangi dengan 10 % dan jika lebih dari 20 batang harus dikurangi 20 %.
5. Pada sambungan dengan paku, paling sedikit harus digunakan 4 batang paku.
6. Jarak paku minimum harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: (gambar 3.28)
a.

Dalam arah gaya : 12 d untuk tepi kayu yang dibebani


5 d untuk tepi kayu yang tidak dibebani

b. Dalam arah tegak lurus arah gaya :


5 d untuk jarak sampai tepi kayu
5 d untuk jarak antara baris-baris
7. Panjang paku minimum baik untuk sambungan tampang satu maupun dua harus memenuhi
syarat-syarat seperti tercantum dalam gambar 35.

8.

Apabila

ada

banyak kemungkinan, bahwa paku akan berkarat, maka hendaknya dipakai paku yang
disepuh seng atau cadmium.

Gambar 35. Panjang paku minimum baik untuk sambungan tampang satu
maupun dua

9. Ujung paku yang keluar dari sambungan sebaiknya dibengkokkan tegak lurus arah serat, asal
pembengkokan tersebut tidak akan merusakan kayu.
10. Jika sesuatu konstruksi dengan paku berbentuk lengkung, maka jari-jari lengkungannya
paling kecil harus 400 l, jika l adalah tebal papan kayu yang dipergunakan dalam konstruksi
tersebut.

Di dalam gambar-gambar konstruksi penjorokan-penjorokan tersebut tidak digambar. Oleh


karena itu tukang-tukang yang bersangkutan harus diberi petunjuk di dalam menempatkan
paku-paku tersebut sesuai dengan penjorokan itu.
Contoh 1.
Sebuah batang kayu durian berukuran 10/14 sebesar S = 6000 kg. konstruksi terlindung dan
beban permanen. Diminta menyambungnya dengan paku.
Gambar 36.
Penyelesaian :
Sebagai plat sambung diambil 2 x 4/14. dari daftar 13 diambil paku 4 BWG 8, dan
dengan B.J. = 0,4 terdapat

= 61 kg. jadi n =

. ( = = 1). Kita pakai 4

baris paku dengan jarak 2,8 cm, maka setiap baris terdiri dari 99 : 2,4 = 13. Karena pada
sebuah garis terdapat 13 > 10 batang, maka
Jadi

= 0,90 x 61 = 55 kg dan n =

batang (gambar 37).


Catatan :

untuk setiap paku dikurangi dengan 10 %.


Dipakai 4 baris masing-masing 14

Sebetulnya dapat dipakai 5 baris, yang memerlukan tinggi balok 6 x 5d = 30 x 0,43 =


12,6 < 14 cm. Tetapi kita pakai 4 baris saja, berhubung paku kita pukulkan dari kedua sisi dan
jika kita ambil 5 baris, maka kemungkinan timbul, bahwa ujung-ujung paku dari sisi yang
satu akan tertumbuk pada ujung paku dari sisi lain.

Gambar 37

Gambar: 38

Contoh 2:
Dari sebuah titik buhul sebuah rangka diketahui bahwa batang D 1 berukuran 1 x 6/12
dan batang horizontal berukuran 2 x 3/12 beban dalah permanen dan konstruksi terlindung,
sedang kayu mempunyai B.J. = 0,5 (meranti). Diminta menyambung dengan paku.
Penyelesaian :
Dari daftar 13 kita pilih paku 3 BWG 10, dan dengan B.J. = 0,5 terdapat

50 kg

(tampang satu). = = 1. Dipakai baris yang memerlukan 5 x 5d = 25 x 0,34 = 8,5 < 12 cm.
Pada setiap baris dipakai 3 batang paku yang memerlukan lebar batang

+5d) = 0,707 x 0,34 = 8,9 < 12 cm. Karena sudut 45

(12d + 10d

tidak berpengaruh pada kekuatan

paku maka sambungan itu dapat mendukung gaya sebesar : 24 x 50 = 1200 > 1150 kg.

Penempatan paku dapat dilukiskan pada gambar 38.


B.2. ALAT-ALAT SAMBUNG PASAK KAYU
Untuk mendukung gaya yang besar, baut tidak mencukupi kekuatannya, maka sebagai
gantinya dapat dipakai pasak-pasak dari kayu, yang bentuk tampangnya dapat persegi
panjang atau bulat.
1. Pasak persegi panjang
Pasak-pasak persegi panjang hanya dipakai didalam sambungan tampang dua saja.
Sebagai bahannya umumnya dipergunakan kayu keras, misalnya: kesambi, walikukun dan
sebagainya. Untuk pasak persegi panjang cara meletakkankannya ada dua macam, yaitu arah
serat pasak dan dapat juga tegak lurus batang asli atau melintang. Cara pertama mempunyai
keuntungan bahwa penyusutan pasak dalam arah batang kayu asli hanya kecil. Cara kedua
mempunyai kebaikan, bahwa besar, tetapi kejelekannya ialah bahwa penyusutannya dalam
arah batang asli (yaitu dalam arah tangensial atau radial) besar, hingga lama-kelamaan
bekerjanya pasak itu tidak akan baik.
2. Pasak selindrik
3. Pasak bulat system kluber
4. Pasak-pasak persegi panjang dipakai didalam
B.3. ALAT-ALAT SAMBUNG MODERN
Apabila kita mempergunakan pasak-pasak yang dibicarakan sebelumnya, umumya
diperlukan menghitung yang banyak. Dengan dipakainya alat-alat sambung modern, maka
pekerjaan perhitungan menjadi berkurang banyak, sedang hasil penyambungan itu menjadi
lebih baik, dari pada jika dipergunakan pasak-pasak.
Alat-alat sambung modern tersebut banyak macamnya, diantaranya: yang banyak
dipakai ialah kokot-kokot buldog, Aliigator, Geka, dan sebagainya, cincin-cincin belah
(splitiring), plat-plat geser (shear plates) dan lain-lainnya. Kebanyakan alat-alat sambung itu
dijual dan diindungi oleh paten diberbagai-bagai negari; diseluruh dunia terdapat lebih dari
60 alat-alat sambung yang mempunyai paten. Di dalam sambungan itu dipergunakan baut
lekat yang bergaris tengah kecil; cara bekrjanya plat-plat sambung itu dala prinsipnya sama
dengan pasak-pasak yang telah dibicarakan sebelumnya, yaitu dibebani gaya desak dan gaya
geser.

Gambar 39. Alat Sambungan Modern

Gaya yang dapat didukungnya lebih besar dari pada jika hanya dipergunakan baut
saja. Karena luas tampang gaya batang kayu yang disambung relatif masih besar.
1. Cincin belah
Seperti yang sudah tertera didalam namanya, bentuknya seperti cincin, seperti terlihat
pada gambar di atas. Cincin itu dapat tertutup dan mungkin juga terbuka. Ada dua macam,
yaitu terbuka biasa dan terbuka dengan lidah. Cincin yang terbuka mempunyai keuntungan
terhadap yang tertutup, yaitu bahwa dapat mudah dimasukkan dalan lubang. Juga apbila
lubang itu tidak lagi berbentuk bulat yang disebabkan karena, menyusutnya kayu dengan arah
serat.

Gambar 40. Cincin Belah

Lubang-lubang didalam kayu harus dibuat terlebih dahulu dan untuk itu diperlukan
alat yang khususuntuk keperluan tersebut; umumnya pekerjaan itu dilakukan oleh
perusahaan-perusahaan konstruksi kayu yang memiliki alat tersebut.
Cincin-cincin belah dapat dipakai untuk menyambung segala macam kayu, baik kayu
karas maupun kayu lunak. Untuk kayu keras yang agak sukar untuk ditemus oleh gigi kokot,

lebih baik dipergunakan cincin belah. Jadi cincin belah itu sangat tepat untuk konstruksi
dengan kayu jati atau dengan kayu keras lainnya.
Dengan mempergunakan cincin beleh luas tampang yang menerimah desakan menjadi
lebih besar. Selain gaya itu didukung oleh setengah keliling luar daripada cincin itu kayu
yang terapit didalam cincin belah itupun ikut mendukung gaya juga.sebuah sambungan
tampang dua seperti dalam gambar 42 mempunyai bagian-bagian yang terbentuk, terdesak,
dan tergeser.

Gambar 42. Sambungan Tampang Dua


Luas tarikan

: bh (2.t2.d2 + d(b-t))

Luas desakan : 2.t2.d2 + d(b-t).


Luas geseran : 2 ad2 .ftd2 / 4
Dimana :
d1 = garis tengah dalam dari pada cincin belah.
D2 = garis tengah luar dari pada cincin belah
A = jarak antara pusat cincin belah sampai ujung batang.
D = garis tengah baut
B = lebar kayu
H = tinggi kayu
T2 = tebal cincin belah
F = dalamnya tekikan (stengah tinggi cincin belah)
Dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan kita dapat dapat mengambil
kesimpulan bahwa kekuatan tanggungan itu dipengaruhi oleh :
a.

Macam kayu

b. Arah gaya terhadap arah serat kayu


c.

Ukuran-ukuran kayu yang disambung dan plat sambung

d. Kadar lengas kayu

e.

Jarak antara pasak-pasak

f.

Ukuran patah

g. Ukuran baut.
Yang paling mudah membuatnya ialah cincin belah biasa. Oleh Prof kreugers dari
Swedia telah meneliti mengenai kekuatan cincin belah terbuka biasa. Hasilnya ialah seperti
tertera dalam daftar di bawah ini (untuk kayu dengan b,j = 0,6 dan berlaku untuk satu pasang
cincin belah).
Selanjutnya disarankan oleh Prof. kreugers, agar cincin belah itu jangan dipergunakan
untuk sambungan tampang satu dan lagi pula untuk sebuah sanbungan tidak boleh digunakan
lebih dari tiga pasang.
Contoh perhitungan:
Sebuah batang kayu berukuran 8/15 mendukung gaya tarik 8 ton. Kontruksi terlindung, beban
permanen diminta menyambungnya dengan cincin belah terbuka biasa (sistim kreungers)
kayu kelas II (Bj = 0,6 )
Jawaban
Sebagai plat sambung dipergunakan batang-batang kayu 2 x 5 / 15 dipergunakan cincin belah
dengan tanda 125/ 84 ini adalah satu-satunya cincin belah yang memenuhi syarat ukuran
kayu minimum 8/15 setiap pasang cincin-belah dapat memikul 3500 kg maka diperlukan
8000/3500 =2,3 pasang dipergunakan 3 pasang. Penyelesaian selanjutnya dapat dilihat pada
gambar di bawah ini.

Sambungan Titik Buhul


Sudah dijelaskan diatas bahwa cincin belah berubah-ubah menurut besarnya sudut
antara arah gaya dan arah serat kayu. Semakin besar sudut itu semakin kecil daya dukungnya
sambungan-sambungan itu banyak kita jumpai pada titik buhul konstruksi rangka.ditiitk
buhul itu umumnya bertemulah tiga batang atau lebih (kecuali dititik perletakan) dan masingmasing batang itu membuat sudut yang berlain-lainan dengan batang lainnya.
Apabila kita mempergunakan cincin belah sebaiknya dipakai papan kayu yang
tebalnya memenuhi syarat minimum. Jadi masing-masing batang pada rangka itu terdirio dari

2 pasang atau lebih. Cara menghitung titik buhul ini tidak begitu sederhana dan memerlukan
analisa yang agak mendalam pada pokoknya kita harus menentukan dan menyelidiki gaya
yang timbul didalam masing-masing batang yang bertemu ditiitik buhul itu akhirnya
ditentukan daya dukung cincin belahnya sesuai ndengan besarnya sudut antara arah gayadan
arah serat batang.disebuah titik buhul dari sebuah rangkah , bertemulah batang-batanga1, a2,
d1 dan v1, gaya-gaya yang bekerja dalam masing-masing ialah :A 1 = 2,27 ton, A2 = 4,0 ton,
D1 = -2,0, V1 = 4,0
Sudut a antara batang-batang D1 dan A2 adalah 300 batang permanen konstruksi
terlindung . diminta menyambung dengan cincin belah sistim kreugers (kayu kelas II dengan
berat jenis = 0,6).

Batang D terletak diantara batang V batang A. Kita tinjau lebih dahulu pertemuan
batang mendatar dengan diagonal (gambar C). Gaya yang bekerja dalam batang D 1 diuraikan
menjadi komponen mendatar sebesar 1,73 ton dan komponen tegak sebesar 1 ton, komponen
tegak tidak dapat didukung oleh batang mendatar A1 atau A2, melainkan akan didukung oleh
batang tegak V1. Jadi disini bagan pembebanan cincin belah menjadi seperti gambar c jadi
batang D1 dibebani gaya mendatar sebesar 1,73 ton di sebelah ;luar. Batang D disebut batang
yang dibebani. Sedangkan batang B disebut batang yang membebani. Di dalam hal ini
dipakai cincin belah 100/25 yang dapat mendukung gaya 2300 kg (lihat daftar 17) oleh
karena arah gaya membentuk sudut 30 0 dengan arah serat batang D1 maka pasak itu dapat
mendukung gaya Pa = 2300 (1-0,31 min 300) = 195 ton x 1,73 ton + aman.
Sekarang kita tinjau pertemuan batang tegak dengan diagonal (gambar d).

Batang tegak tidak mendukung gaya mendatar akibat bekerjanya batang D 1, jadi V1 hanya
mendukung gaya tegak saja untuk mengimbangi komponen tegak dari D 1, sebab komponen
mendatar telah didukung oleh batang mendatar. Oleh karena itu cukup kita pandang batang
diagonal D1 saja. Karena disini pasaknya mendukung gaya dengan sudut apit 60 0, sedang
untuk V1 arah gaya sejajar arah serat. Batang D 1 adalah batang yang dibebani dan batang V1
adalah batang yang membebani. Jadi jika dipergunakan cincin belah 100/25 sambungan
dapat mendukung gaya sebesar P = 2300 (1-0,3) sin 60 0 ) = 1702 kg > 100kg. Tetapi untuk
memudahkan pembuatan lubang dan sebagainya dipergunakan satu macam cincin belah.
2. Kokot bulldog
Banyak kita jumpaialat-alat sambung yang bergigi, seperti kokot Bulldog, Alligator,
Geka dan sebagainya. Kokot bulldog adalah alat sambung yang paling banyak dipergunakan
di dunia. Di samping gaya bekerja baik, kokot ini harganya murah. Dengan diketemukan dan
digunakannya kokot bulldog terbukalah kemungkinan untuk membuat kontruksi-kontruksi
yang besar dan bermacam-macam bentuknya. Pada pemakaian kokot ini bidang desakan
dalam sambungan menjadi seakin besar, dan daya dukungnya adalah besar, lagipul luas
tampang kayu tidak banyak dikurangi, sehingga perlemahan hanya kecil.
Besarnya baut yang dipakai ternyata mempengaruhi daya dukung kokot tersebut
seperti tercatat dalam daftar 18 di bawah ini. Ukuran cincin cukup penting dan perlu sekali
diperhatikan. Lebarnya paling sedikit harus diambil 4,5 x garis tengah baut, sedangkan
tebalnya palaing sedikit 0,4 x garis tengah baut dan maksimum 5 mm. Jikka kita memakai
baut dengan garis tengah incih maka ukuran cincin tutup itu menjadi sebagai berikut:
Lebar 4,5 x 20 = 90mm
Tebal 0,4 x 20 = 9mm, dipakai 5mm.
Kokot bulldog dibuat dari bahan siemens martin dan umumnya difernis untuk
bangunan-bangunan biasa. Untuk bangunan-bangunan perancah, jembatan, menara da
sebagainya dimana ada bahaya karat, maka harus dipakai kokot yang disepuh dengan seng.
Cara pemakaiannya.
Batang-batang kayu yang telah diberi lubang tempat baut diletakkan satui di atas yang
lain dengan sebuah kokot diantaranya : apabila perlu kokot itu dapat dipaku pada batang
kayunya karena pada setiap kokot terdapat beberapa lubang untuk keperluan tersebut.
Cara mendesak kokot ke dalam lubang kayu dapat dijalankan dengan memutar mur
dari pada baut, karena gaya tarik dalam baut maka lambat laun gigi-gigi kokot itu masuk ke
dalam kayu untuk kontruksi yang besar pendesakan itu sebagian dapat dijalankan dengan

menempatkan kayu di atas plat kokot, kemudian dipukul dengan palu. Jika kayu yang
dipergunakan dalam kontruksi itu kerasseperti kayu jati, mka harus dipergunakan baut yang
lebih besar garis tengahnya, sedangkan cincin-cincin tutupnya harus diambil yang lebih besar
juga. Biasanya ukuran cincin-cincin tutup ini diambil yang lebih besar sampai13 x 13 cm,
sedangkan tebalnya diambil 10-20 mm. Pemutaran mur dapat dijalankan dengan mudah dan
baik dengan kunci istimewa. Setelah gigi kokot cukup dalam masuknya di dalam kayu maka
baut-baut tersebut dilepas kemudian diganti denga baut beserta cincin-cincin tutupnya yang
lebih kecil sesuai dengan peraturan. Pemuatan sambungan dengan bulldog itu dapat
dikerjakan oleh tukang-tukang biasa, artinya tidak memerlukan tenaga yang ahli.
Pada uumumnya pemakaian kokot yang berukuran besar lebih hemat dari pada jika
kita menggunakan kokot yang kecil, asaal lebar kayu itu mencuklupi. Kokot bulldog itu
sangat tepat jika di dalam kontruksi itu dipakai papan-papan kayu, jadi ukuran tebalnya kecil.
Sambungan-sambungan itu kemungkinan akan memegas, sehingga mur menjadi kurang
keras, oleh karenanya beberapa waktu setelah sambungan itu dibuat, hendaklah diperiksa
apakah mur masih tetap keras dan jika perlu baut-baut lekat harus dikeraskan.
Untuk bangunan-bangunan yang tidak terlindung yaitu seperti ring mengalami
perubahan karena berubahnya kadar lengas udara nilai-nilai kekuatan masing-masing kokot
itu harus dikalikan dengan faktor macamnya konstruksi(). Angka kekuatan di dalam daftar
itu berlaku bila arah gaya sejajar dengan arah serat. Jikalau arah gaya tegak lurus arah
seratmaka angka-angka tersebut harus dikurangi dengan 25%. Apabila arah gaya dan arah
serat membentu k sudut . maka harus diambil:
P = p (1-0,25 sin )
Kekuatan kokot tersebut didasarkan atas kekuatan kayu dengan bj = 0,5 dan berlaku
oleh sebuah kokot. Maka untuk kayu-kayu dengan bj lain harus diubah sesuai dengan bj-nya
(sebanding dengan bj-nya). Demikian pula diberikan faktor lamanya pembebanan ().

Contoh perhitungan:
1. Batang tarik dari kayu damar mendukung gaya p = 5,5 ton.(beban permanen dan konstruksi
terlindung). Kayu berukuran 6/14 (lihat gambar).

Sebagai plat sambung dipakai 2 x 4/14. Maka kita pilih kokot bulldog persegi 10x10 cm,
dengan baut berdiameter 5/8 inchi. Dari daftar 18 terdapat p = 1500 kg. Diketahui pula =
,maka
N= 5500/ 1500 =3,75
Dipakai dari 4 buah daftar terdapat :
A1=17 cm
A2= 11 cm
Cincin tuutp berukuran tebal 0,4.16 =6,4 mm, dipakai 5 mm (tebal max) 1,5.16 =71
mm,dipakai 7,5 cm.
Catatan : kayu damar diambil b.j-nya =0,5 jadi p = cukup diambil dari daftar 18, tanpa ada
perubahan akibat B.J

C.

PENUTUP
C.1. RANGKUMAN
Paku termasuk alat sambung yang tertua disamping baut. Paku-paku itu biasanya dibuat
dari baja Thomas, yang mempunyai ds.max = 6000-8000kg/cm2 dan 1t.max = 8000
12000 kg/cm2.
Kebaikan-kebaikan konstruksi kayu dengan paku dapat disimpulkan sebagai berikut:
(a) Harga paku adalah murah, maka konstruksi itu seluruhnya murah pula. (b) Konstruksinya
adalah kaku (jadi baik), sasaran-sasaran di dalam sumbangan hanya kecil, (c) Di dalam
pembuatan konstruksi beserta sambungannya tidak diperlukan tenaga ahli, cukup dikerjakan
oleh tukang atau pekerja biasa, sedang alat-alatnya yang diperlukan sangat sederhana, ialah
palu dan catut saja, (d) Pekerjaan dapat dijalankan dengan cepat, (e) Perlemahan kayu karena
paku-paku itu kecil.
Untuk mendukung gaya yang besar, baut tidak mencukupi kekuatannya, maka sebagai
gantinya dapat dipakai pasak-pasak dari kayu, yang bentuk tampangnya dapat persegi
panjang atau bulat.
Apabila kita mempergunakan pasak-pasak yang dibicarakan sebelumnya, umumya
diperlukan menghitung yang banyak. Dengan dipakainya alat-alat sambung modern, maka
pekerjaan perhitungan menjadi berkurang, sedang hasil penyambungan itu menjadi lebih
baik, dari pada jika dipergunakan pasak-pasak. Alat-alat sambung modern tersebut banyak
macamnya, diantaranya: yang banyak dipakai ialah kokot-kokot buldog, Aliigator, Geka, dan
sebagainya, cincin-cincin belah (splitiring), plat-plat geser (shear plates) dan lain-lainnya.
C.2. LATIHAN
Sesuai soal nomor 1 di atas, sebuah batang kayu jati berukuran 10/16 sebesar S = 6500 kg.
konstruksi terlindung dan beban permanen. Diminta menyambungnya dengan paku.
C.3. TES DAN KUNCI
TES
1. Pada sebuah titik buhul pada sebuah konstruksi rangka untuk kuda-kuda bertemu 4 batang V,
D, H1 dan H2. Gaya V = 0,5 ton, H1 = 2,1 ton, dan = 40 0. Konstruksi terlindung dan beban
permanen, ukuran-ukuran batang seperti tampak pada gambar di bawah. Selesaikan titik
buhul itu dengan paku, jika digunakan albizia dengan B.J. 0,3.

2.

Sebuah batang 2 x 4/16 mendukung gaya sebesar 6000 kg. Kayu mempunyai B.J. = 0,5.
Konstruksi terlindung dan beban permanen. Diminta menyambung batang tersebut.

3.

Sebuah titik buhul dari sebuah kuda-kuda terlukis pada gambar di bawah ini. kayu yang
dipakai adalah kayu pinus (B.J = 0,5) gaya-gaya batang akibat beban permanen adalah
sebagai berikut :
Gambar a.

Gambar a.

Gambar b.

Gambar c.
V = 500 kg
B1 = 3800 kg sedangkan 450
Batang-batang D terdiri dari 2 bagian dengan tebal 4 cm B1 dan B2 terdiri dri 2 bagian
dengan tebal 4 cm dan batang v terdiri dari 1 bagian dengan tebal 4 cm. Dimintah melukis
sambungan tersebut dengan kokot bulldog dan dinta pula menentukan lebar batang-batang
tersebut.
KUNCI
1. Sin 40 0 = 0,648

D=

sambungan V dengan dipakai paku 4 BWG 8 dan dengan

B.J. = 0,5 terdapat

= 47 kg untuk sambungan tampang satu. Karena memenuhi syarat

sebagai sambungan tampang dua, maka

= 2 x 47 = 94 kg. ( = = 1).

Maka n =

Sambungan D dengan H :
Dipakai seperti di atas. Maka n =

Dipakai 8 batang.
2. Sebagai plat sambung diambil 1 x 4/16 + 2 x 2/16, dipilih paku 4 BWG 7. garis tengah =
0,46 dan dengan B.J. = 0,5 terapat TK = 125 kg/cm2 (daftar 13).
Maka kita pakai rumus-rumus :

Maka n

dipakai 32 batang (lihat gambar) yaitu 16 batang untuk satu sisi

untuk setengah sambungan ( = = 1).

3. Penyelesaian:
Dengan diagram kremona dapat ditentukan gaya-gaya batang :
V = + 500 kg

B2 = + 3800 kg Dx - 500

= 700 kg

B1 = + 3800 kg
= = 1 dan dengan B.J = 0,5, maka kekuatan kokot sesuai dengan yang tertera dalam daftar
18
Cara a
Batang-batang D diletakan antara v dan Bmaka batang b dibebani v dan (B2-B1). Sambungan
V-D :
D dibebani gaya 500 kg dengan arah sudut 450

// (1-0,25 sin 450) = 300 kg sin

45 =0,707
=607 kg

// =

Dipakai kokot bulat 2

" dengan baut

" = (1 cm) dapat mendukung gaya 0,4

ton
Karenadisini ada 2 buah (1 pasang) kokot, maka dapat mendukung gaya 0,8 ton > 0,607 ton+
aman
Cincin tutup garis tengahnya = 4,5 =4,5 x1 = 4,5 cm dan tebalnya 0,4 d = 4mm .
D dibebani gaya 500 kg dengan arah sudut 45 0 jadi sama saja dengan sambungan V-D, maka
ukuran-ukuran kokot dan bautnya diambil sama dengan yang diatas
Ukuran-ukuran kayu :

V= 1 X 4/8
D= 2 X 4/8

lihat syarat-syarat min untuk kayu.

B = 2X 4/10
Luas batang mendatar (B1 B2) = 80 cm2, P = 0,8X 80 = 64 cm 2ini dapat mendukung gaya 64x
85 = 5440 kg > 3800 kg + aman.
Cara b
Batang-batang Bdiletakan diantara V dan D
Hubungan B-D:
B dibebani 710 kg dengan bersudut 450

//

//

(1-0,25 sin 450) = 710 kg

tengah

= 862 kg dipakai : satu pasang kokot 2

" dengan baut bergaris

" dan ini dapat mendukung gaya 2 x 0,5 = 1,0 ton > 862 kg +aman.

Hubungan B - V
B dibebani 500 kg dengan bersudut 900

//

=
=

//

(1-0,25 sin 900) = 500 kg


= 665kg.

Untuk ini dipakai juga kokot 2

" dengan baut bergaris tengah

" dan dapat

mendukung gaya 1000 kg > 665 kg + aman


Ukuran cicin tutup dan ukuran kayu dapat ditentukan seperti cara a.
DAFTAR PUSTAKA
1.

ANONIMOUS, 1961. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia (PPKI)

NI-5. Yayasan

Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan: Bandung


2. DUMANAUW, J.F, 1982. Mengenal Kayu. Penerbit Gramedia: Jakarta
3. FRICK, HEINZ, 1980. Ilmu Konstruksi Bangunan. Penerbit Kanisius: Jogjakarta
4. TJOA PWEE HONG dan DJOKOWAHJONO, F.H. 1996. Konstruksi Kayu. Penerbit
Universitas Atma Jaya: Jogjakarta
5. YAP, FELIX. 1984. Konstruksi Kayu. Penerbit Bina Cipta: Bandu