Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
Resusitasi ( respirasi artifisialis) adalah usaha dalam memberikan ventilasi yang
adekuat, pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen
kepada otak, jantung dan alat-alat vital lainnya.1
Ventilasi pada neonatus dapat menggunakan beberapa macam alat seperti:
1.
2.
3.
4.
5.

Self-inflating bags
Flow-inflating bag
T-piece resuscitator
Laryngeal mask airways
Endotracheal tube 2
Continuos Positive Airway Pressure (CPAP) adalah merupakan suatu alat untuk

mempertahankan tekanan positif pada saluran napas neonatus selama pernafasan spontan.
CPAP merupakan suatu alat yang sederhana dan efektif untuk tatalaksana respiratory distress
pada neenatus. Penggunaan CPAP yang benar terbukti dapat menurunkan kesulitan bernafas,
mengurangi ketergantungan terhadap oksigen, membantu memperbaiki dan mempertahankan
kapasitas residual paru, mencegah obstruksi saluran nafas bagian atas, dan mecegah kollaps
paru, mengurangi apneu, bradikardia, dan episode sianotik, serta mengurangi kebutuhan
untuk dirawat di Ruangan intensif. Beberapa efek fisiologis dari CPAP antara lain 3 :
1. Mencegah kolapsnya alveoli paru dan atelektasis
2. Mendapatkan volume yang lebih baik dengan meningkatkan kapasitas residu
fungsional
3. Memberikan kesesuaian perfusi, ventilasi yang lebih baik dengan menurunkan pirau
intra pulmonar
4. Mempertahankan surfaktan
5. Mempertahankan jalan nafas dan meningkatkan diameternya
6. Mempertahankan diafragma.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Resusitasi ( respirasi artifisialis) adalah usaha dalam memberikan ventilasi yang
adekuat, pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen
kepada otak, jantung dan alat-alat vital lainnya.1
Ventilasi pada neonatus dapat menggunakan beberapa macam alat seperti:
1.
2.
3.
4.
5.

Self-inflating bags
Flow-inflating bag
T-piece resuscitator
Laryngeal mask airways
Endotracheal tube

Self-inflating bags merupakan alat yang paling banyak dipakai dalam ventilasi
manual. Alat ini memiliki katup pengaman yang menjaga tekanan inflasi sebesar 35 cm H2O.
Namun katup pengaman ini kurang efektif bila digunakan terlalu kuat. Positive EndExpiratory Pressure (PEEP) dapat diberikan apabila katup PEEP disambungkan. Tetapi selfinflating bags tidak dapat menggunakan CPAP. Selain itu, self-inflating bags tidak dapat
digunakan untuk mengalirkan oksigen aliran bebas (free-flow oxygen). 2
Flow-inflating bags atau balon tidak mengembang sendiri dapat mengembang apabila
ada sumber gas. Alat ini tidak memiliki katup pengaman. Selain itu, dengan alat ini dapat
dialirkan oksigen aliran bebas dan lebih baik dalam resusitasi neonatus.
T-piece resuscitator merupakan alat yang dapat mengatur aliran udara serta juga dapat
membatasi tekanan yang diberikan. Tekanan inflasi yang diinginkan dan waktu inspirasi lebih
stabil dengan alat ini dibandingkan dengan self-inflating bags dan flow-inflating bags.
Laryngeal mask airway (LMA) merupakan alat yang dapat digunakan apabila
penggunaan sungkup sudah tidak efektif. Ukuran yang biasa digunakan yaitu 1. 2

Indikasi penggunaan endotracheal tube antara lain:


1. Penghisapan mekonium dari trakea
2

2.
3.
4.
5.

Saat ventilasi menggunakan sungkup sudah tidak efektif


Koordinasi dengan kompresi dada
Penggunaan Epinefrin
Keadaan resusitasi khusus (seperti hernia diafragma kongenital)
Untuk mengurangi terjadinya hipoksia saat melakukan intubasi, sebaiknya

dilakukan pre-oksigenasi, dengan cara memberikan oksigen aliran bebas selama 20


detik. Biasanya digunakan blade yang lurus pada tindakan ini. Blade no.1 digunakan
untuk bayi aterm, no.0 untuk bayi preterm, dan no.00 untuk bayi yang sangat preterm.
Ukuran dari endotracheal tube dipilih berdasarkan berat dari neonatus. Posisi dari
endotracheal tube yang benar dapat ditandai dengan peningkatan laju nadi, adanya
pengeluaran CO2, terdengarnya suara nafas, pergerakan dinding dada, adanya embun
pada selang, dan tidak ada distensi abdomen saat ventilasi. Apabila tidak ada
peningkatan dari laju nadi dan tidak ada pengeluaran CO2, posisi dari endotracheal
tube harus diperiksa dengan laringoskop. 2
Ukuran ET
Berat (gram)
Usia gestasi (minggu)
2,5
<1000
<28
3,0
1000-2000
28-34
3,5
2000-3000
34-38
3,5-4,0
>3000
> 38
Tabel 1.Ukuran Endotracheal tube tergantung berat bayi dan usia gestasi.

Gambar 1. Pemasangan endotracheal tube

Ada 3 jenis alat yang dapat digunakan untuk melakukan ventilasi pada bayi baru lahir,
masing-masing memiliki cara kerja yang berbeda 4,5,6
1. Balon mengembang sendiri (self inflating bag), setelah dilepaskan dari
remasan akan terisi spontan dengan gas (oksigen atau udara atau campuran
keduanya) ke dalam balon.

Gambar 2. Balon mengembang sendiri


(Dikutip dari American Academy of Pediatrics dan American Heart Associatioan. Buku
panduan resusitasi neonatus. Edisi ke-5, 2006).

2. Balon tidak mengembang sendiri (flow inflating bag), disebut juga balon
anestesi, terisi hanya bila gas yang berasal dari gas bertekanan mengalir ke
dalam balon. Balon tidak mengembang sendiri dapat mengembang apabila
ada sumber gas. Alat ini tidak memiliki katup pengaman, namun dengan alat
ini dapat dilakukan PEEP atau CPAP karena adanya katup yang dapat
mengatur aliran udara. Selain itu, dengan alat ini dapat dialirkan oksigen aliran
bebas dan lebih baik dalam resusitasi neonatus.

Gambar 3. Balon tidak mengembang sendiri


(Dikutip dari American Academy of Pediatrics dan American Heart Associatioan. Buku
panduan resusitasi neonatus. Edisi ke-5, 2006).

3. T-piece resuscitator , bekerja hanya bila dialiri gas yang berasal dari sumber
bertekanan ke dalamnya. Gas mengalir langsung, baik ke lingkungan sekitar
maupun ke bayi, dengan cara menutup atau membuka lubang pada pipa T
dengan jari atau ibu jari.

Gambar 4. T-piece resuscitator

(Dikutip dari American Academy of Pediatrics dan American Heart Associatioan. Buku
panduan resusitasi neonatus. Edisi ke-5, 2006).

Secara ringkas tabel berikut menggambarkan karakteristik masing-masing alat:


Jenis alat
Balon

Kelebihan

Kelemahan

mengembang Selalu terisi setelah diremas Tetap bertekanan walaupun tidak

sendiri

walaupun tanpa sumber gas

terdapat

bertekanan

sungkup dan wajah bayi

Katup

pelepas

lekatan

antara

tekanan Membutuhkan reservoar oksigen

berfungsi untuk menjaga

untuk mendapatkan oksigen

tidak terjadi pengembang-

kadar tinggi

an balon berlebihan

Tidak dapat digunakan dengan


baik untuk memberikan O2
aliran bebas melalui sungkup
Tidak dapat digunakan untuk
memberikan

CPAP

(Continuous Positive Airway


Pressure)

dan

baru

dapat

memberikan TPAE (Tekanan


Positif Akhir Ekspirasi) bila
Balon

ditambahkan katup TPAE


tidak Memberikan O2 21%-100% Membutuhkan lekatan rapat

mengembang sendiri

tergantung sumber
Mudah menentukan apakah

antara sungkup dan wajah bayi


untuk dapat mengem-bang

sungkup telah melekat pada Membuutuhkan


wajah bayi

gas

untuk dapat mengembang

Dapat memberikan O2 aliran Umumnya


bebas 21%-100%

sumber

tidak

mempunyai

katup pelepas tekanan untuk

pengaman
Tabel 2. karakteristik alat-alat resusitasi

INDIKASI DAN KONTRA INDIKASI


Ada beberapa kriteria terjadinya respiratory distress pada neonatus yang merupakan
indikasi penggunaan CPAP. Kriteria tersebut meliputi 7 :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Frekuansi nafas > 60 kali permenit


Merintih ( Grunting) dalam derajat sedang sampai parah
Retraksi nafas
Saturasi oksigen < 93% (preduktal)
Kebutuhan oksigen > 60%
Sering mengalami apneu
Semua bayi cukup bulan atau kurang bulan, yang menunjukkan salah satu kriteria

tersebut diatas, harus dipertimbangkan untuk menggunakan CPAP. Pada penggunaan CPAP,
pernapasan spontan dengan tekanan positif dipertahankan selama siklus respirasi, hal ini yang
disebut disebut dengan continuous positive airway pressure. Pada mode ventilasi ini, pasien
tidak perlu menghasilkan tekanan negatif untuk menerima gas yang diinhalasi. Hal ini
dimungkinkan oleh katup inhalasi khusus yang membuka bila tekanan udara di atas tekanan
atmosfer. Keistimewaan CPAP adalah dapat digunakan pada pasien-pasien yang tidak
terintubasi. Beberapa gangguan nafas atau respiratory distress yang dapat diatasi dengan
mempergunakan CPAP antara lain 7 :
1. Bayi kurang bulan dengan Respiratory Distress Syndrom
2. Bayi dengan Transient Takipneu of the Newborn (TTN)
3. Bayi dengan sindroma aspirasi mekoneum
4. Bayi yang sering mengalami apneu dan bradikardia karena kelahiran kurang bulan
5. Bayi yang sedang dalam proses dilepaskan dari ventilator mekanis
6. Bayi dengan penyakit jalan nafas seperti trakeo malasia, dan bronkitis
7. Bayi pasca operasi abdomen
Adapun beberapa kondisi respiratory distress pada neonatus, tetapi merupakan kontraindikasi
pemasangan CPAP antara lain 8 :
1. Bayi dengan gagal nafas, dan memenuhi kriteria untuk mendapatkan support
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

ventilator
Respirasi yang irreguler
Adanya anomali kongenital
Hernia diafragmatika
Atresia choana
Fistula tracheo-oeshophageal
Gastroschisis
Pneumothorax tanpa chest drain
Trauma pada nasal, yang kemungkinan dapat memburuk dengan pemasangan
nasal prong

10. Instabilitas cardiovaskuler, yang akan lebih baik apabila memdapatkan support
ventilator
11. Bayi yang lahir besar, yang biasanya tidak dapat mentoleransi penggunaan CPAP,
sehingga menimbulkan kelelahan bernafas, dan meningkatkan kebutuhan oksigen
KOMPLIKASI PEMASANGAN CPAP
Pemasangan nasal CPAP pada beberapa kasus dapat mengakibatkan komplikasi.
Komplikasi pemasangan CPAP antara lain 7 :
1. Cedera pada hidung, misalnya erosi pada septal nasi, dan nasal snubbing. Penggunaan
nasal prong atau masker CPAP dapat mengakibatkan erosi pasa septal nasi, sedangkan
penggunaan CPAP dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan snubbing
hidung
2. Pneumothorak. Kejadian Pneumothorak dapat terjadi karena proses penyakit dari
Respiratory Distress Syndrom ( karena alveolar yang over distensi) , dan angka
kejadian tersebut meningkat dengan penggunaan CPAP.
3. Impedasi aliran darah paru. Terjadi karena peningkatan resistensi vaskularisasi paru,
dan penurunan cardiac output, yang disebabkan oleh peningkatan tekanan inthorakal
karena penggunaan CPAP yang tidak sesuai.
4. Distensi abdomen. Pada kebanyakan neonatus tekanan spingkter oeshiphagus bagian
bawah cukup baik untuk dapat menahan distensi abdomen karena tekanan CPAP.
Tetapi distensi abdomen dapat terjadi sebagai komplikasi dari pemaangan CPAP.
Resiko terjadinya distensi abdomen dapat berkurang dengan pemasangan orogastric
tube (OGT)
5. Nasal prong atau masker pada CPAP dapat menyebabkan ketidaknyamanan bayi, yang
dapat menyebabkan agitasi dan kesulitan tidur pada bayi.

Gambar 5. A. Erosi septum nasi, B. Nasal snubbing akibat CPAP

PERLENGKAPAN CPAP
Sistem CPAP sendiri terdiri dari 3 komponen yaitu 9 :
1. Sebuah sirkuit yang mengalirkan gas terus menerus, untuk diisap. Sunber oksigen dan
udara bertekanan yang menghasilkan gas untuk dihirup. Pencampur oksigen yang
memungkinkan gas dapat diberikan sesuai FiO2 yang sesuai. Sebuah flow meter yang
mengkontrol kecepatan aliran terus menerus dari gas yang dihirup ( biasanya
dipertahankan pada kecepatan 5-7 liter ). Sebuah humidifier yang melembabkan dan
menghangatkan gas yang dihirup.
2. Sebuah alat untuk menghubungkan sirkuit ke saluran nafas neonatus. Dalam prosedur
ini , nasal prong merupakan metode yang paling banyak digunakan.
3. Sebuah alat untuk menghasilkan tekanan positif pada alat sirkuit. Tekanan positif
dalam sirkuit dapat dicapai dengan memasukkan pipa ekspirasi bagian distal dalam
larutan asam asetat 0,25% atau sampai kedalaman yang diharapkan (5cm) atau katub
CPAP.

PENGGUNAAN CPAP
CPAP adalah salah satu alat yang digunakan sebagai tatalaksana respiratory distres
pada neonatus. Seperti penggunaan alat kesehatan lainnya penggunaan CPAP juga harus
memperhatikan standard kebersihan dan keamanan. Menjaga kebersiha jalan nafas bayi
merupakan kunci keberhasilan tatalaksana paru yang baik. Mencuci tangan yang benar
sebelum menyantuh prong atau pipa CPAP, adalah suatu keharusan. Ujung selalng yang lain
yang tidak digunakan juga harus bersih., dan harus dijauhkan dari lantai atau tempat yang
tidak bersih lainnya 10.
Cara pemasangan CPAP adalah sebagai berikut 10 :

1. Tempelkan selang oksigen dan udara ke pencampur dan flow meter, lalu hubungkan
ke alat pengatur kelembapan. Pasang flow meter antara 5-10 liter
2. Tempelkan satu selang ringan , lemas dan berkerut ke alat pengatur kelembapan.
Hubungkan probe kelembapan, dan suhu ke selang kerut yang masuk ke bayi.
Pastikan probe suhu tetap diluar inkubator atau tidak di dekat sumber panas dari
penghangat.
3. Siapkan satu botol air steril di dekat alat pengatur kelembapan
4. Jaga kebersihan ujung selang
Untuk menghubungkan sistem ini ke bayi, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
1. Posisikan bayi dan naikkan kepala tempat tidur 300
2. Hisap lendir dari mulut, hidung, dan faring. Pastikan bayi tidak mengalami atresia
choana
3. Letakkan gulungan kain dibawah bahu bayi, sehingga leher bayi dalam posisi ekstensi
untuk menjaga jalan nafas tetap terbuka.
4. Lembabkan prong dengan air steril atau Nacl 0,9% sebelum memasukkannya kedalam
hidung bayi. Masukkan dengan posisi lengkungan kebawah. Sesuaikan sudut prong
dan kemudian sesuaikan selang kerut dengan posisi yang sesuai.
5. Masukkan pipa Orogastrik (OGT) dan lakukan aspirasi isi perut, kita boleh
membiarkan pipa lambung tetap ditempatnya untuk mencegah distensi lambung
6. Pergunakan topi untuk menjaga kehangatan bayi
7. Setelah bayi nyaman dan stabil dengan CPAP, barulah kita melakukan fiksasi agar
nasal prong tidak bergeser dari tempatnya.

2
1

10

5
7

1. Heater
2. Reusable tube
set
3. Oksigen udara
blender
4. Botol
humadifier
5. Control panel
6. Tempat tabung
oksigen
7. Perangkap air
8. Kompresor
udara mini
9. Preasure gauge
compressor

8
9

Gambar 7. Contoh Penggunaan Bubble CPAP

11

Gambar 8. Buble Generator Humdifier

Gambar 9. Humudifier Display

Gambar 10. Pengatur suhu


12

Preasure Gauge
Compressor
Gambar 11. Mini Compressor
Suatu sistem CPAP yang baik mempunyai karakteristik sebagai berikut 8 :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pipanya fleksibel dan ringan sehingga pasien bisa mengubah posisi dengan mudah
Mudah dilepas dan ditempel
Resistensinya rendah, sehingga pasien bisa bernafas dengan spontan
Relatif tidak invasif
Sederhana dan mudah dipahami, oleh semua pemakai
Aman dan efektif dari segi biaya.

Sirkuit CPAP lengkap harus dirangkai dan siap digunakan setiap saat. Jika memerlukan
CPAP, seharusnya kita hanya tinggal memnyambungkan CPAP ke nasal prong yang sesuai
dan tepat ukurannya, menyalakan alat pengatur kehangatan dan mengisi tabung botol outlet
dengan air steril.
Selama penggunaan CPAP hendaknya kita mengevaluasi tanda vital bayi , sistem
kardiovaskuler ( perfusi sentral, perifer, tekanan darah), respon neurologis ( tonus otot,
13

kesadaran dan respon terhadap stimulasi), gastrointestinal ( distensi abdomen, visible loops
dan bising usus). Hisap lendir harus selalu dilakukan dari rongga hidung, mulut, faring dan
perut setiap 2-4 jam, sesuai dengan kebutuhan. Meningkatnya upaya nafas, kebutuhan
oksigen, dan insiden apneu atau bradikardi, dapat disebabkan karena adanya lendir berlebih.
Untuk melunakkan konsistemsi lendir dapat digunakan NaCl 0,9% 8,9.
Selama penggunaan CPAP kita harus selalu memantau apakah alat selalu berfungsi
dengan baik, dan tidak terjadi perburukan pada kondisi bayi yang mengharuskan kita
menghentikan penggunaan CPAP. Berikut adalah kondisi-kondisi yang mengindikasikan
kegagalan penggunaan CPAP dan memerlukan ventilasi mekanis 11:
1.
2.
3.
4.

FiO2 > 60 %
PaCO2 > 60mmHG
Asidosis metabolik menetap dengan defisit basa > -8
Terlihat retraksi yang semakin lama semakin meningkat dan menunjukkan

kelelahan pada bayi


5. Sering mengalami apneu dan bradikardia
6. Pernafasan yang irreguler
Apabila terjadi kondisi tersebut, maka kita harus mempertimbangkan untuk
melakukan intubasi dan support ventilasi mekanik.
PEMBERIAN MINUM SELAMA PENGGUNAAN CPAP
Pemberian minum dapat diberikan selama penggunaan CPAP nasal. Sebelum
memberikan makanan harus dilakukan aspirasi terlebih dahulu untuk menghindari udara yang
berlebihan di lambung akibat penggunaan CPAP. Jika kondisinya stabil, bayi dapat minum
personde 11.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Bari,A.H, Waspodo.(2006). Buku Acuan Nasional Pelayanan kesehatan Maternal
dan Neonatal, Jakarta: YBP-SP
2. Buku resusitasi : Kattwinkel J. Buku Panduan Resusitasi Neonatus. 5th ed. USA:
American Academy of Pediatrics dan American Heart Association. 2006
3. Quinsland Maternity Neonatal a Clinical Guideline program. Management of
neonatal respiratory distress incorporating the administration of continuous
positive airway pressure. Queensland: State of Queensland ( Queensland health );
2009. p. 1-19.
4. Allwood AC, Madar RJ, Baumer JH, Readdy L, Wright D. Changes in
resuscitation practice at birth. Arch Dis Child Fetal Neonatal Ed. 2003;88 :F375
F379[Abstract/Free Full Text]
5. Hoskyns EW, Milner AD, Hopkin IE. A simple method of face mask resuscitation
at birth. Arch Dis Child. 1987;62 :376 378[Abstract]
6. Cole AF, Rolbin SH, Hew EM, Pynn S. An improved ventilator system for
delivery-room

management of the newborn. Anesthesiology. 1979;51 :356

358[ISI][Medline]
7. Continous possitive airway pressure (cpap) nursing guideline. Journal [serial on
the Internet]. 2012 : 1.0
8. Roberts C, Parker T, Algert C, Bowen J, Nassar N. Trends in use of neonatal cpap:
A population-based study. BMC pediatrics. 2011;11(89):1-7.
9. Roehr C, Schmalish A, Proquitte R, Wauer R. Use of continous positive airway
pressure (CPAP) in neonatal units, a survey of current preferences and practice in
germany. Eur J Med Res. 2007 26 April;12:139-44.
10. Bomont R, Cheema I. Use of nasal continuos positive airway pressure during
neonatal transfers. Arch Dis Child Fetal Neonatal 2006;91:85-9.
11. Americans Academy of , American Heart Assosiation. The use of cpap in a
grunting newborn. In: Mc Gowan J, editor. NRP instructor update: AAP, AHA;
2012.

15