Anda di halaman 1dari 76

ASUHAN KEPERAWATAN

KERACUNAN

Kelompok 2 :
Ira Purnamasari

20111660033

Aisyah Hardiyanti

20111660006

Sofia Imas

20111660067

Defri Hermawan

20111660016

Arif Tri Ardianto

20111660010

Moh. Hairunnas

20111660043

PRODI S1 KEPERAWATAN SEMESTER VII B


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya
maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan Makalah Asuhan Keperawatan
Keracunan. Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan
untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat.
Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangankekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan
yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis
harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi
pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan
dapat tercapai, Amin.

Surabaya, 18 November 2014

Penulis

DAFTAR ISI
JUDUL ............................................................................................................1
KATA PENGANTAR......................................................................................2
DAFTAR ISI ...................................................................................................3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .....................................................................................5
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................6
1.3 Tujuan...................................................................................................6
1.4 Manfaat.................................................................................................6
BAB II
STUDI LITERATUR
2.1 Pengertian ..............................................................................................7
2.2 Etiologi...................................................................................................8
2.3 Patofisiologi..........................................................................................36
2.4 Manifestasi Klinis.................................................................................37
2.5 WOC.....................................................................................................40
2.6 Pemeriksaan Diagnostik.......................................................................41
2.7 Penatalaksanaan....................................................................................42
2.8 Pengkajian.............................................................................................76
2.9 Intervensi Keperawatan........................................................................77
2.10 Discharge Planning.............................................................................79

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan...........................................................................................81
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................82

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keracunan atau overdosis obat dapat menyebabkan perubahan fisik dan
mental cepat pada seseorang. Saksi mata adalah seseorang yang harus memberikan
perawatan awal dan menghubungi pusat keracunan atau nomor darurat. Keracunan
atau overdosis obat yang umum dijumpai disebabkan oleh asetaminofen, amfetamin,
benzodiazepin, karbon monoksida, kokain, hidrokarbon fluorinisasi, asam lisergik
dietilamida (LSD), metanol, opiat, salisilat, dan antidepresan trisiklik.
Pada tahun 2001, lebih dari 2 juta pajanan terhadap berbagai obat dan racun
dilaporkan ke American Association of Poison Control Centres. Dari semua pajanan
ini, 1.074 menyebabkan kematian. Kelompok usia yang memiliki pajanan terbanyak
adalah anak-anak yang berusia kurang dari 6 tahun (42,4%); namun, kelompok usia
terbanyak yang berakhir kematian adalah orang dewasa (95%). Tipe pajanan racun
yang dilaporkan ke pusat pengendalian keracunan berbeda-beda: jamu-jamu yang
dibeli di toko makanan kesehatan, gigitan ular dan artropoda, alkohol atau obatobatan, gas yang dikeluarkan oleh pembakaran yang tidak bagus, tanaman beracun,
dan bahan berbahaya industri yang tumpah atau dibuang.
Karena pengalaman klinis dan informasi penelitian baru, terapi untuk pajanan
terhadap racun berubah dengan cepat. Petugas kesehatan profesional dapat merasakan
tantangan untuk tetap menjadi yang terdepan dalam terapi yang paling baru. Makalah
ini menampilkan panduan umum untuk pengkajian dan penatalaksanaan pasien
keracunan atau overdosis.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Pasien Keracunan ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan
keracunan
1.3.2 Tujuan khusus
o Untuk mengetahui pengertian keracunan
o Untuk mengetahui patofisiologi keracunan
o Untuk mengetahui manifestasi klinis keracunan
o Untuk mengetahui WOC keracunan
o Untuk mengetahui penatalaksanaan dan pemeriksaan diagnostik
keracunan

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat menjelaskan bagaimana asuhan keperawatan gawat darurat
pada keracunan sehingga dapat digunakan sebagai kerangka dalam pengembangan ilmu
keperawatan gawat darurat.
1.4.2 Manfaat Praktis
Sebagai bahan pertimbangan sebagai salah satu strategi asuhan keperawatan gawat
darurat pada keracunan sehingga meningkatkan kualitas keperawatan di bidang
keperawatan gawat darurat.

BAB II

STUDI LITERATUR
2.1 PENGERTIAN
Setiap keadaan yang menunjukkan kelainan multisistem dengan penyebab yang tidak
jelas harus dicurigai kemungkinan keracunan. Misalnya bila ditemukan penurunan tingkat
kesadaran mendadak, gangguan napas, manifestasi berat pada pasien psikiatri, sakit dada
pada anak remaja, aritmia yang mengancam nyawa, atau gejala klinis pada pekerja dengan
lingkungan kerja yang mengandung bahan kimia, asidosis metabolik yang sukar dicari
penyebabnya, tingkah laku aneh, atau pun kelainan neurologis dengan penyebab yang sukar
diketahui (Mansjoer, 1999).
Racun adalah zat yang ketika tertelan, terisap, diabsorpsi, menempel pada kulit, atau
dihasilkan di dalam tubuh dalam jumlah yang relatif kecil menyebabkan cedera dari tubuh
dengan adanya reaksi kimia. Keracunan melalui inhalasi dan menelan materi toksis, baik
kecelakaan dan kesengajaan, merupakan kondisi bahaya kesehatan, sekitar 7% dari semua
pengunjung departemen kedaruratan datang karena masalah toksis (Smeltzer, 2001).
Rute pajanan yang paling umum pada keracunan adalah inhalasi, ingesti, dan injeksi.
Reaksi kimia racun mengganggu sistem kardiovaskular, pernapasan, sistem saraf pusat, hati,
pencernaan (GI), dan ginjal. Sebagian besar pajanan terhadap gas beracun terjadi di rumah.
Keracunan dapat terjadi akibat pencampuran produk pembersih rumah tangga yang tidak
semestinya atau rusaknya alat rumah tangga yang melepaskan karbon monoksida.
Pembakaran kayu, bensin, oli, batu bara, atau minyak tanah juga menghasilkan karbon
monoksida. Gas karbon monoksida tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak
menimbulkan iritasi, yang membuatnya amat berbahaya. Menelan zat racun atau racun dapat
terjadi di berbagai lingkungan dan pada kelompok usia yang berbeda-beda. Keracunan di
rumah biasanya terjadi jika anak menelan pembersih alat rumah tangga atau obat-obatan.
Penyimpanan yang tidak semestinya bahan-bahan ini dapat menjadi penyebab kecelakaan
tersebut. Tanaman, pestisida, dan produk cat juga merupakan zat beracun yang potensial di
rumah tangga. Karena gangguan mental atau penglihatan, buta huruf, atau masalah bahasa,
lansia dapat menelan obat-obatan dengan jumlah yang salah. Selain itu, keracunan dapat
terjadi di lingkungan perawatan kesehatan saat obat-obatan diberikan tidak sebagaimana
mestinya. Hal yang sama, keracunan juga dapat terjadi di lingkungan perawatan kesehatan
jika obat-obatan yang normalnya hanya diberikan melalui rute subkutan atau intramuskular
diberikan lewat intravena, atau jika obat-obatan yang salah disuntikkan. Keracunan karena
7

suntikan juga dapat terjadi di lingkup penyalahgunaan zat, seperti jika pecandu heroin tidak
sengaja menyuntikkan pemutih atau heroin yang terlalu banyak (Morton. Fontaine. Hudak.
Gallo, 2011).
Masuknya sebagian besar pasien keracunan di unit perawatan kritis adalah karena
overdosis sengaja atau dugaan bunuh diri akibat overdosis. Sebagian besar dari riwayat
mereka, para pasien ini sering kali menderita masalah jiwa, masalah penyalahgunaan zat, atau
keduanya. Gejala dan sindrom putus zat sering mempersulit pengkajian kemungkinan
toksidroma. Toksidroma adalah sekumpulan tanda dan gejala (sindrom) yang terkait dengan
overdosis atau pajanan terhadap golongan tertentu obat-obatan dan racun. Zat yang paling
banyak disalahgunakan adalah nikotin, alkohol, heroin, marijuana, analgesik narkotik,
amfetamin, benzodiazepin, dan kokain. Beberapa anak-anak dan remaja beralih ke zat yang
biasa digunakan di rumah tangga karena mudah didapat. Orang yang berupaya mengatasi
stres lewat penyalahgunaan zat membutuhkan program terapi komprehensif untuk membahas
tentang koping dan masalah adaptasi mereka (Morton. Fontaine. Hudak. Gallo, 2011).

2.2 ETIOLOGI
Menurut Mansjoer, (1999) dalam Kapita Selekta Kedokteran. Penyebab dari keracunan
adalah:
Opiat
Umumnya kelompok opiate digunakan untuk mengatasi nyeri melalui mekanisme efek
depresi pada otak. Morfin, yang merrupakan bagian dari kelompok ini, digunakan untuk
terapi medis pada nyeri dada, edema paru, dan untuk mengatasi rasa sakit berlebihan pada
keganasan, namun dalam perkembangannya sering disalahgunakan. Di Indonesia belum
pernah ada laporan tentang angka kematian akibat overdosis opiate, namun jangan sampai
lengah karena mungkin saja kasus akan bertambah seiring bengan kemajuan zaman. Pada
umumnya kelompok opiate, mempunyai kemampuan menstimulasi susunan saraf pusat
melalui aktivitasi reseptor yang akan menyebabkan efek sedai dan depresi napas. Kematian
umumnya terjadi karena apnea atau aspirasi paru dari cairan lambung. Mekanisme terjadinya
reaksi edema paru akut (nonkardiogenik) hingga saat ini masih belum jelas. Reaksi toksisistas
sangat beragam, tergantung dati cara pemberian, efek toleransi pada pemakai kronik, lama
kerja, dan masa paruh obat yang akhirnya akan menentukan tingkat toksisitas.
Manifestasi klinis

Dosis toksisk selalu akan menyebabkan kesadaran turun sampai koma, depresi pernapasan,
sianosism nadi lemah, hipotensi, spasme saluran cerna dan biliter, dapat terjadi edema paru,
dan kejang. Pupil yang pinpoint dapat mengalami dilatasi pada anoksia berat. Kematian
karena gagal napada dapat terjadi dalam 2-4 jam setelah pemakaian per oral maupun
subkutan. Pada pemakaian secara intravena dapat berlangsung lebih cepat. Beberapa tanda
dan gejala yang dapat terjadi ialah hipertermia, aritmia jantung, hipertensi, bronkospasme,
sindrom parkinsonisme, nekrosis tubular akut (akibat rabdomiolisis dan mioglobinuria), serta
gagal ginjal. Kulit berwarna kemerahan, leukositosis, dan hipoglikemia dapat terjadi (pernah
dilaporkan).
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium untuk melihat kadar dalam darah tidak selalu diperlukan karena
pengobatan berdasarkan besarnya masalah lebih diperlukan daripada konfirmasi kadar/ jenis
obat. Pada evaluasi perlu dilakukan pemeriksan analisis darah serial, penilaian fungsi paru
dan foto toraks untuk kasus dengan kelainan paru, disamping pemeriksaan glukosa darah dan
elektrolit.
Penatalaksanaan
Sebelum melangkah pada pengobatan, perlu mengetahui alur penatalaksanaan keracunan
opiate seperti dibawah ini agar mendapat suatu gambarang yang lebih jelas.
Pengobatan :
1. Nalokson (narcan)
Nalokson adalah antidote untuk intoksikasi opiate baik pada kasus dewasa maupun anak.
Dosis dewasa 0,4 -2mg. dosis dapat diulang pada kasus berat dengan panduan perbaikan
gejala klinis. Dapat dipertimbangkan drip nalokson bila ada kecurigaan intoksikasi
dengan obat narkotika yang long acting. Efek nalokson berlangsung sekitar 2-3 jam. Bila
dalam observasi tidak ada respons setelah pemakaian total 10 mg, diagnosis intoksikasi
opiate perlu dikaji ulang.
2. Edema paru diobati sesuai dengan antidotnya, yaitu pemberian naloksosn di samping
oksigen dan respirator bila diperlukan.
3. Pada hipotensi diberikan cairan iv yang adekuat. Bila dipertimbangkan pemberian
dopamine dengan dosis 2-5 mcg/kg BB/menit dan dapat dititrasi bila diperlukan.
4. Pada pasien dengan intoksikasi per oral jangan dilakukan percibaan untuk membuatnya
muntah.
5. Bilas lambung. Dapat dilakukan segera setelah intoksikasi dengan opiate oral, awasi jalan
napas dengan baik.
6. Arang aktif ( activated charcoal) dapat diberikan pada intoksikasi per oral dengan
mencampurkan 240ml cairan dengan 230g arang, dapat diberikan sampai 100 g.

7. Bila terjadi kejang, dapat diberikan diazepam 5-20 mg dan dapat diulang bila perlu.
Monitor tekanan darah dan tanda depresi napas. Bila ada indikasi dapat dilakukan
intubasi.
Psikotropik
Penyalagunaan obat-oabat sering terjadi terutama pada kalangan dewasa muda yang sering
kita temukan baik ditempat praktek maumpun di rumah sakit. Ekstacy (XTC) termasuk
turunan amfetamin dan dimasukkan dalam kelompok obat halusinogenik. Nama kimia bahan
ini adalah MDMA (methylene-dioxy-meth-amphetamine). Obat-obat halusinogenik adalah
obat yang mempunyai kemampuan membuat ilusi visual, distorsi penerimaan sensori,
synesthesia (dapat melihat suara dan membau warna) depersonalisasi, dan derealisasi.
Beberapa macam halusinogen yang dikenal :
LSD ( lysergic aic diethyl-amide )
Morning glory ( tanaman keluarga convulaceae )
Meskalin ( alkaloid peyote cactus )
Amfetamin dan turunannya
Jamur tertentu ( species psilocybe, conocybe )
Turunan triptamin
Biji-bijian ( nutmeg)
Mariyuana
Kokain ( crack )
Macam macam amfetamin dan analognya :

Meth amphetamine ( crank, sepeed, ice, glass, cristal tea )


DOM ( dimethoxy methyl- a,phetamine), atau STP ( serenity, tranquility, peace)
MDA ( methylene dioxy-amphetamine, love drug, mellow drug)
MDMA ( methylene dioxy meth emphetamine, XTC, adam )
MDEA ( methylene dioxy-eth-amphetamine, eva)

Obat ini terdapat dalam bentuk tablet, bubuk, dan injeksi. Obat ini bekerja pada neuron
adrenergic, dopaminergik, dan serotonergik dalam susunan saraf pusat, dengan cara langsung
sebagai transmitter palsu atau tak langsung dengan melepaskan neutrotransmiter endogen.
Obat-obat ini mulai menimbulkan efek sesudah pemberian selama kurang lebih 20-30 menit
dan berakhir kurang lebih 4-48 jam, tergantung jenis, cara pemeberian, dan dosis obat. Dosis
letal biasanya beberapa kali dosis halusinogenik. Obat-obat ini seringkali di dapatkan dalam
bentuk kombinasi dengan narkotik, kafein, lidokain, aspirin, dll.
Manifestasi klinis
Dari anamnesis di dapatkan riwayat konsumsi obat-obat yang di duga mempunyai sifat
halusinogenik. Gejala pasien bisa ringan atau berat. Pasien mengeluh nyeri kepala, palpitasi,
sesak, nyeri dada, parestesi, banyak omong, euphoria, empati, terlalu percaya diri, insomnia,
10

dan kadang-kadang perubahan persepsi visual ringan. Pada keracunan ringan didapatkan
gejala pasien mudah tersinggung, mulut kering, palpitasi, hipertensi ringan, gelisah, tak bisa
istirahat, tremor, midrasis dan flushing. Pada keracunan sedang didapatkan keluhan rasa
takut, agitasi, mual, muntah, nyeri perut, kejang otot, hiperefleksi, diaphoresis, takikardi,
hipertensi, hipertemia, panik, dan halusinasi. Pada keracunan berat, pasien akan tampak
derilium, kejang-kejang, gejala fokal SPP (perdarahan intracranial), koma, aritmia, otot-otot
kaku, hipertensi, gangguan hemostasis, gagal napas, gagal ginjal akut, syok dan meninggal
dunia mendadak. Pada pasien yang biasa mengkonsumsi obat terus-menerus kemudiam
menghentikannya secara tiba-tiba, dapat terjadi gejala kelelahan otot menyeluruh, depresi
agitatif, flash back, hipertermian perasaan dingin seluruh tubuh, dan perasaan takut yang
berlebihan selama kurang lebih 2 minggu.
Pemeriksaan penunjang
Satu-satunya cara untuk mendiagnosis pasti keracunan obat ini adalah melalui analisis
laboratorium. Bahan untuk analisis berasal dari darah, cairan lambung, atau urin. Obat
golonganan amfetamin akan tertahan dalam urin selama 2hari. Pemeriksaan dan penyaringan
yang cepat dan sederhana menggunakan kromatografi lapisan tipis dapat digunakan untuk
mendeteksi 90% keracunan umum. Sekarang terdapat cara-cara pemeriksaan lebih baru
dengan teknik yang lebih maju dan cepat misalnya enzyme multiple immunoassay. Pada
kasus keracunan sedang dan berat diperlukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan
darah lengkap,elektrolit, glukosa darah, uji faal ginjal, CPK, analisis gas darah, urinalisis,
EKG, dan foto toraks.

Penatalaksanaan
Prinsip pengobatan pada pasien adalah menghindari kontak/eliminasi obat-obat tersebut
dengan cara :
1.
2.
3.
4.
5.

Mencegah konsumsi obat-obat tersebut.


Memberikan norit atau obat-obat katarsis.
Perangsangan muntah pada pasien dengan kesadaran yang baik.
Bilas lambung.
Melakukan dieresis paksa oleh karena obat-obat ini diekskresikan ke ginjal.

Pengobatan simtomatis yang dapat dilakukan adalah :

Bila timbul ansietas, dapat diberikan benzodiazepine atau diazepam 0,05-0,1 mg/kg
BB iv atau per oral dapat diulang 5- 10 menit

11

Bila pasien agitasi atau psikosis, diberikan haloperidol 5-10 mg iv/im dapat diulang

10 60 memnit
Bila timbul hipertensi berat, dapat diberikan penghambat atau vasodilator
Takikardi supraventikular yang diikuti gejala iskemia jantung dapat diatasi dengan

penghambat
Takikardi ventricular dapat diberi lidokain dan penghambat
Iskemia miokard dapat diberi morfin atau preparat nitrat
Hipertemia diatasi dengan pendinginan badan
Bila terjadi koagulopati, dapat diperbaiki dengan heparin dan / atau komponen darah.
Perawatan intensif diperlukan pada kasus-kasus berat, terutama bila kesadaran pasien
mulai menurun, terdapat tanda-tanda gagal napas, atau ada gangguan sistem
kardiovaskular.

Botulisme
Botulisme adalah suatu bentuk keracunan spesifik sebagai akibat penyerapan toksisn yang
dikeluarkan oleh clostridium botulinum, yang terdiri dari 6 strain imunologik, yaitu strain A,
B, C, D, E, dan F. Toksin botulinum adalah toksin yang kuat. Spora C. botulinum dapat
bertahan pada suhu 100 C sampai beberapa jam, tetapi pada suhu 120 C spora dapat merusak
dalam 30 menit. Semua jenis toksiinya dapat hancur pada suhu 100 C selama 10 menit, atau
80 C selama 30 menit. Infeksi pada manusia biasanya melalui makanan yang tercemar oleh
toksin botulinum yang telah terbentuksebelumnya. Sangat jarang melalui luka yang
tyerinfeksi oleh C. botulinum. Tidak ada bukti bahwa kuman botulinum membentuk toksin di
dalam saluran pencernaan.
Botulisme terjadi bila terdapat hal-hal seperti di bawah ini yaitu :

Makanan tercemar oleh kuman C. botulinum atau sporanya.


Kondisi yang memungkinkan pertumbuhan sopra.
Keadaan dan waktu yang memungkinkan terbentuknya toksin sebelum makanan

tersebut dimakan.
Bahan yang mengandung toksin tersebut tidak atau kurang sempurna dipanaskan.
Bahan makanan yang tercemar toksin dimakan oleh pejamu yang peka.

Toksin botulinum diserap terutama di lambung dan bagian atas usus halus. Toksin yang
mencapai bagian bawah usus halus dan usus besar mungkin dapat diserap secara perlahanlahan dan menyebabkan gejala dengan mula kerja lambat maupun lama pada beberapa
pasien. Toksin botulinum mempunyai efek farmakologis yang sangat spesifik, yaitu
menghambat hantaran pada serabut saraf kolinergik dan mengadakan sparring dengan serabut
adrenergic. Pada penyelidikan diperlihatkan bahwa sejumlah kecil toksin mengganggu
12

hantaran saraf di dekat percabangan akhir dan di ujung serabut saraf, sebelum motor end
plate, dan menghambat pelepasan asetilkolin. Reaktivitas serabut otot terhadap asetilkolin
tidak mengalami gangguan. Hal ini berbeda dengan kerja kurare yang menghambat respons
serabut otot terhadap asetilkolin.
Manifestasi klinis
Akibat botulisme bervariasi sebagai penyakit yang ringan sampai dengan penyakit yang berat
dan dapat menimbulkan kematian dalam waktu 24 jam. Gejala gejala klinis biasanya
dimulai 12-36 jam setelah toksin termakan, walaupun pernah pula dilaporkan setelah 3-14
hari. Pada umumnya, bila gejala timbul lebih cepat, maka keadaannya lebih serius dan berat.
Gambaran klinisnya sangat khas, yaitu dilatasi pupil yang menetap, kekeringan selaput
lender, dan kelumpuhan otot yang progresif dengan angka kematian yang tinggi. Gejala lain
dapat berupa mual dan muntah, rasa lemah, pusing dan vertigo, rasa kering pada mulut dan
tenggorok, kadang-kadang disertai rasa nyeri di tenggorok, dan gejala neurologis dapat
timbul segera dan bersamaan atau sesudah 12-72 jam, berupa gangguan otot-otot pernapasan.
Pasien biasanya tetap sadar, berorientasi baik, dan afebris, tapi pada yang berat kadangkadang kesadaran dapat somnolen, kesulitan berbicara, dan menelan. Selaput lendir mulut
dan lidah kering dan kasar. Kelemahan serabut otot terutama pada leher, ekstremitas
proksimal, dan otot-oto pernapasan timbul sesuai dengan perjalanan penyakit. Reflex tendo
biasanya tetap baik. Bisa didapatkan distensi abdomen dengan bisisng usus melemah atau
menghilang, serta retensi urin. Gejala terakhir, berupa kelumpuhan otot pernapasan (paralisis
respirasi), kegagalan pernapasan, obstruksi jalan napas, dan infeksi sekunder pada paru-paru,
dapat menjadi penyebab-penyebab kematian. Henti jantung yang mendadak sering terjadi
pada beberapa pasien dengan gangguan pernapasan yang berat, tetapi apakah hal ini terjadi
sekunder oleh karena anoksia atau kerja primer dari toksin botulinum masih belum jelas.
Pada pasien yang sembuh, kembalinya fungsi otot-otot pernapasan, menelan, dan berbicara
dapat berlangsung cepat, dan perbaikan tersebut sering terjadi dalam waktu 1 minggu.
Kelemahan umum, konstipasi, gangguan ocular dapat menetap untuk beberapa minggu,
bahkan kadang-kadang beberapa bulan.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium rutin hampir tidak membantu penegakkan diagnosis botulisme.
Pemeriksaan EKG menunjukkan kelainan berupa gangguan konsuksi ringan, perubahan
nospesifik gelombang T dan segmen ST, serta kelainan irama yang bervariasi dapat
ditemukan.
Penatalaksanaan
13

Pasien dengan botulisme dapat meninggal karena kegagalan pernapasan. Trakeostomi segera
atau penggunaan respirator mekanis dapat mempertahankan hidup. Enema pemebersih
diberikan untuk mengeluarkan toksin yang tidak diserap dalam usus besar. Segera setelah
diagnosis klinis dibuat, dilakukan uji kulit terhadap antitoksin. Bila negatif segera diberikan
100.000 unit antitoksin tipe A dan tipe B serta antitoksin tipe E 10.000 unit secara iv. Karena
setiap antotoksin tersebut adalah antigen spesifik, maka tidak ada proteksi silang di antara
antitoksin-antitoksin tersebut. Karena antitoksin botulisme tetap berada dalam sirkulasi darah
selama 30 menit hari, maka dianjurkan dosis terapeutik total harus segera diberikan daripada
pemeberian dosis kecil secara multiple dalam waktu yang lebih lama. Antitoksin dengan
dosis, 1/3 dosis terapeutik harus diberikan sebagai profilaksi pad aorang-orang yang
diketahui makan bahan makanan yang tercemar namun belum memperlihatkan gejala-gejala
klinis. Ada dugaan bahwa C botulinum dapat berkembang biak dlam saluran cerna manusia,
maka sebaiknya diberikan pula antibiotic untuk mencegah komplikasi infeksi yang spesifik.
Insektisida Golongan Organofosfat
Insektisida golongan penghambat kolinesterase sangat toksisk, yang termasuk senyawa
organofosfat, misalnya parathion, malation, systox, TEPP, HEPT, dan OMPA. Toksisistas
bahan ini bervariasi. Satu tetes parathion pekat di mata sudah dapat memabukkan. Insektisida
golongan ini diabsorpsi secara tepat melalui kulit yang intak atau setelah inhalasi dan per
oral. Insektisida ini berkerja dengan menghambat dan menginaktivasikan enzim asetil
kolinesterase. Enzim ini secara normal menghancurkan asetilkolin yang dilepaskan oleh
susunan saraf pusat, ganglion autonom, ujung-ujung saraf parasimpatis, dan ujung-ujung
saraf motorik. Hambatan asetilkolinesterase menyebabkan tertumpuknya sejumlah besar
asetilkolin pada tempat-tempat tersebut.
Manifestasi Klinis
Gejala klinis biasanya muncul dalam 2 jam setelah kontak. Pada susunan saraf pusat,
perangsangan awal akan segera diikuti depresi sel-sel yang menyebabkan kejang, kemudian
penurunan kesadarn, dan depresi pernapasan. Rangsangan awal yang diikuti dengan
hambatan pada ganglion autonom menyebabkan gangguan yang bervariasi dan multiple pada
alat-alat tubuh yang dipersarafi oleh sistem saraf otonom. Penumpukan asetilkolin pada ujung
saraf simpatis meneybabkan konstriksi pupil, penglihatan kabur, stimulasi otot-otot intestinal
berupa kejang perut, muntah, dan diare, perangsangan kelenjar sekretoris yang menyebabkan
rinore, salvias, banyak keringat, dan bronkore, konstriksi otot-otot bronchial dengan gejalagejala gangguan konduksi atrioventikular. Penumpukan asetilkolin yang menetap pada
14

sambungan neuromuscular menyebabkan tremor, kejang dan fasikulasi yang diikuti dengan
hambatan neuromuscular dan paralisis flasid. Gejala klinis penting ialah adalah sianosis dan
edema paru.
Pemeriksaan penunjang
Kadar kolinesterase plasma berkurang sampai 30% normal, terutama pada pasien yang
kontak dengan insektisida organofosfat secara kronik dengan gejala keracunan akut. Kadangkadang pada orang yang berkontak dalam waktu singkat kolinesterase plasma mungkin
sedikit meningkat.
Penatalaksanaan
1. Mencegah kontak selanjutnya, misalnya dengan menggunakan sarung tanpa karet, segera
melepasakan pakaian yang terkontaminasi, mencuci kulit sampai bersih dengan sabun dan
air, dan terakhir melakukan sekaan dengan etil alcohol,
2. Aspirasi dan bilas lambung bila racun tertelan.
3. Terapi suportif intensif dengan perhatian khusus untuk mempertahankan pernapasan dan
koreksi sianosis.
4. Segera setelah sianosis teratasi, harus diberikan atropine sulfat 2 mg iv dan diulangi
dengan interval 5-10 menit sampai tercapai atropinasi. Teruskan dengan dosis efektif
untuk sedikitnya tiga hari. Atropine jangan diberikan pada pasien yang masih sianosis
karena dapat menginduksi fibrilasi ventrikel. Tidak luar biasa bila diperlukan sampai 50
mg atropine dalam 24 jam pertama dan bahkan pernah diberikan sampai 1,5 g kepada
seorang anak dalam waktu 1 hari. Hal ini mengharuskan tersedianya atropine dalam
jumlah banyak.
5. Pralidoksin adalah suatu reaktivator kolinesterase spesifik dan harus digunakan
disamping atropine. Diberikan dalam suntikan 30 mg/kg BB (yaitu diatas 1-2 g) iv
dengan kecepatan yang tidak melebihi 500 mg/menit dan diulang tiap setengah jam, bila
perlu. Setelah menyuntikkan pralidoksin, efek atropine dapat menjadi lebih jelas dan
mungkin diperlukan dosis atropine. Sayangnya pralidoksim tidak melintasi sawar otak
sehingga selama beberapa hari dan bahkan berminggu-minggu, gangguan psikis masih
terlihat pada pasien tersebut. Pengobatan alternative yang dapat melintasi sawar otak
dapat bekerja lebih cepat daripada pralidoksim dengan efek samping yang kurang adalah
abidoksim (toxogonin) obat ini dapat pula digabungkan dengan atropine dan akan
menghasilakn reaksi pengobatan yang baik. Obidoksim diberikan melalui suntikan im
dengan dosis 3 mg / kg BB.

15

6. Bila diperlukan sedasi atu pengontrol konvulsi, barbiturate dengan masa kerja singkat
dapat digunakan tetapi harus sangat berhati hati-hati. Aminofilin, morfin, dan fenotiazine
tidak boleh diberikan.

Menurut Smeltzer, (2001) dalam Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.
Penyebab dari keracunan adalah:
Keracunan korosif
Keracunan zat korosit meliputi alkalin dan agens asam yang dapat menyebabkan kerusakan
jaringan setelah kontak dengan membran mukosa.

Produk alkalin: Iye, pembersih kering, pembersih toilet, deterjen nonfosfat; pembersih

oven, baterai(baterai yang digunakan untuk jam,kalkulator,kamera), tablet Clinitest


Produk asam: pembersih toilet, pembersih kolam renang, pembersih logam,
penghilang karat, asam baterai

Pengkajian
1
2

Catat tipe dan kuantitas dari agens yang ditelan


Kaji nyeri dan sensasi terbakar dalam mulut dan tenggorokan,nyeri pada saat menelan,
muntah, pengeluaran air liur,dan hematoria
Diagnosa keperawatan dapat meliputi perubahan membran mukosa oral yang berhubungan
dengan menelan racun korosif dan risiko terhadap kekerasan pada diri sendiri.
16

Penatalaksanaan Kedaruratan
1.

Berikan air (atau susu) untuk pengenceran .


a. pencairan tidak diusahakan jika pasien mengalami edema jalan nafas akut atau
obstruksi atau jika terdapat bukti klinis perforasi esofagus, lambung atau usus.
b. jangan rangsang muntah jika pasien telah mengkonsumsi asam, basa kuat atau zat

korosif lain.
2. Pasien biasanya dibawah kerumah sakit untuk obsevasi dan rencana endoskopi untuk
evaluasi daerah yang terbakar dan ulerasi dalam.
3. Minta evaluasi psikiatrik jika keracunan adalah upaya bunuh dirih.

Keracunan melalui inhalasi


Penatalaksanaan umum
1
2
3
4
5
6

Bawa pasien ke udara segar dengan segera; buka semua pintu dan jendela
Longgarkan semua pakaian ketat
Mulai resusilitasi kardiopulmonal jika diperlukan.
Cegah menggigil; bungkus pasien dalam selimut.
Pertahankan pasien setenang mungkin.
Jangan berikan alkohol dalam bentuk apa pun.

Keracunan karbon monoksida


Keracunan karbon monoksida mungkin terjadi karena kecelakaan industri atau di rumah
usaha bunuh diri. Keadaan ini berinmplikasi pada kematian lebih banyak dari pada agens
toksik lain kecuali.karbon monoksida merupakan toksik karena efeknya yang mengikat
hemuglobin sirkulasi yang menurunkan kapasitas yang membawa oksigen darah.
Hemuglobin mengabsorbsi karbon monoksida lebih dari 200 kali dari pada mengabsorsi
oksigen. Ikatan karbon monoksida dengan hemoglobin, disebut karboksihemoglobin, tidak
mentranspor oksigen.
Manifestasi klinis dan pengkajian. Karena sistem saraf pusat mempunyaikebutuhan kritis
terhadap oksigen, sistem ini menunjukkan toksisitas karbon monoksida. Seseorang yang
menderita keracunan karbon monoksida tampak terintoksikasi ( dari hepoksia serebral ).
Tanda dan gejala lain meliputi sakit kepala, kelemahan otot palpitasi, pusing, konfusi mental
dan dapat menjadi koma dengan cepat. Warnah kulit tidak merupakan tanda yang
17

menyakinkan dapat merupakan rentang dari merah mudah sampai sianotik atau pucat.
Terpajan karbon monoksida membutuhkan penanganan segera. Diagnosa keperawatan
meliputi gangguan pertukaran gas dan resiko dan resiko terhadap kekerasan diri sendiri.
Penatalaksanaan kedaruratan. Tujuan penata laksanaan adalah untuk mengembalikan
oksigenasi serebral dan hipoksia miokrad dan untuk mempercepat eliminasi karbon
menoksida.
1. Berikan oksigen 100% pada atmosfer atau tekanan hiperbarik untuk menangani hipoksia
dan peningkatan eliminasi karbon monoksida.
2. Ambil darah untuk kader karbokhemoglobin; oksigen dberikan sampai dengan kadar
karboksihemoglobin kurang dari 5%.
3. Observasi pasien secara konstan. Gangguan psikolosis, paralisis spastik,ataksia,
gangguan visual, dan penyimpangan kepribadian mungkin menetap setelah resusitasi dan
dapat menjadi gejala kerusakan sistem saraf pusat permanen.
4. Ketika terjadi keracunan karbon monoksida yang tidak disengaja,hubungi departemen
kesehatan. Saluran atau bangunan juga harus diispeksi.
5. Minta konsultasi psikiatrik jika keracunan adalah usaha bunuh diri.

Keracunan kontaminasi kulit


(luka bakar kimiawi)
Cedera karena pemajanan pada bahan kimia masih menantang karena jumlah yang besar dari
agens dengan kerja yang berbeda dan efek mitabolik. Keparahan luka bakar kimia di tentukan
oleh mekanisme kerja, kekuatan, konsentrasi, dan jumlah durasi pemajanan zat kimia ke
kulit.
Penatalaksanaan kedaruratan
Basahi kulit dengan air menglir dari pancuran, pipah penyiram atau kran
2 Teruskan untuk mengalir air kekulit ketika melepaskan pakaian kulit dari petugas perawat
kesehatan halus di lindungi dengan tetap jika daerah yang terbakar luas atau agens
terseut sangat toksis
Berikan bilas yang lebih lama dengan jumlah air hangat
Selanjutnya tentukan identitas dan katakteristik agens kimia untuk tindakan lanjut .
5 Berikan tindakan luka bakar standart yang tepat untuk ukuran dan lokasi luka ( tindakan
antimikroba,tetanus profilaksi ).
18

6 Instruksikan pasien untuk memeriksa kembali area yang terkena pada 24 dan 72 jam dan hari
ke-7 terhadap resiko meremehkan type cedera ini .

Keracunan melalui tusukan:


Sengatan serangga
Individu mungkin mempunyai sensitivitas yang eksrem terhadap bisa Hymnoptera (setengah
lebah, hornets, yellow jackets, dan tawon ). Alergi bisa di perkirakan menjadi reaksi humoral
IgE dengan resiko kedaruratan akut. Sengatan pada daerah kepala dan leher adalah hal yang
serius, meskipun sengatan pada area tubuh dapat menyebabkan anafilaksis. Mekanisme klinis
bervariasi dari ultikaria umum, gatal, malaise, ansietas, sampai edema laring, bronkhospasme
berat, syok dan kematian. Umum nya waktu yang lebih pendek diantara senngatan dan
kejadian dari gejala yang berat merupakan prognosis yang paling buruk.
Penatalaksanaan kedaruratan
1. Berikan epinefrin (cair) secara langsung. Masase daerah tersebut untuk mempercepat
absorbsi
2. Jika sengatan pada ekstremitas, berikan torniket dengan tekanan yang tepat untuk
membendung aliran vena dan limfatik
3. Tindakan terhadap syok anafilatik
4. Konsulkan semua orang yang sensitif pada bisa Hymnoptra untuk membawa kit
tindakan sendiri yang berisi torniket, epinefrin, bentuk injeksi, inhalasi dan
antihistamin oral, dan intruksi tertulis. Intruksikan pasien untuk memgikuti hal hal
berikut :
a. Injeksi sendiri segera dengan epinefrin
b. Buang penyengat dengan garukan cepat kuku jari. Jangan tekan kantung bisa
hal ini mungkin menyebab kan injeksi bisa tambahan
c. Bersihkan area dengan sabun air dan tempelkan es
d. Pasang tornikat proksimal terhadap sengatan
e. Laporkan pada fasilitas perawatan kesehatan terdekat untuk memeriksa lebih
lanjut
5. Semua individu yang alergi harus menggunakan tanda gelang untuk menandakan
hipersensitivitas

19

6. terapi hipersensitivitas harus di berikan pada seseorang yang memppunyae sistemik


atau lokal
Pendidikan pasien dan pertimbangan di rumah. Instruksikan pasien, keluarga, dan
orang terdekat untuk membatasai pemajanan pada sengatan serangga dengan mengikuti
tindakan sebagai berikut:

Hindari tempat dimana sengatan serangga berkumpul (kemah, daerah piknik)


Hindari area tempat makan serangga (pangkal bunga, buah masak, sampah,

lapangan tempat tumpukan daun )


Hindari pergi keluar dengan telanjang kaki (sarang yellow jacket dan tepung sari

yang ada di tanah)


Hindari parfum, sabun yang baunya menyengat, dan warna terang yang menarik

lebah
Jaga jendela mobil tertutup
Semprot sampah kaleng dengan insektisida kerja singkat
Musnahkan sarang tawon dan hornets atau lebah area rumah
Kurangi gerakan jika serangga terbang sekeliling kita (gerakan, khususnya lari,
meningkatkan kemungkinan disengat)
Pelajari injeksimandiri epinefrin

Gigitan ular
Bisa (racun) ular menyebabkan kira kira 8.000 dari 45.000 gigitan ular yang terjadi setiap
tahun di amerika serikat dabn menyebabkan 9 sampai 15 kematian. Anak antara usia 1 dan 9
tahun adalah korban yang biasa ditemui. Jumlah terbesar gigitan terjadi selamat siang hari
pada musim panas. Bisa gigitan ular adalah kedaruratan medis. Bisa ular di temukan pada
setiap negara bagian di amerika serikat.bagian yang berbeda dari negara dan dunia
mempunyai tipe ular berbeda, karena bisa ular adalah kedaduratan medis perawat harus
mengenal tipe ular yang ada di daerah tersebut. Bisa ular terdiri dari terutama protein yang
mampunyai efek fisiologik yang luas atau bervariasi. Sistem multiorgan, terutama
neurologik, kardiovaskuler, sistem pernapasan mungkin terpengaruh. Bantuan awal pertama
pada daerah gigitan ular meliputi mengistirahatkan korban, melepaskan benda yang
mengingkat seperti cincin, memberikan kehangatan membersihkan luka, menutup luka
dengan balutan steril, dan imobilisasi bagian tubuh di bawah tinggi jantung. Es atau torniket

20

tidak di gunakan. Evaluasi awal di departemen kedaduratan di lakukan dengan cepat


meliputi:

Menentukan apakah ular berbisa atau tidak


Menentukan dimana dan kapan gigitan terjadi dan sekitar gigitan
Menetapkan urutan kejadian, tanda dan gejala (bekas gigitan, nyeri, edema, dan

eritema jaringan yang digigit dan di dekatnya)


Menentukan keparahan dampak keracunan
Menantau tanda vital
Mengukur dan mencatat lingkar ekstremitas sekitar gigitan atau area pada beberapa

titik.
Dapatkan data laboratorium yang tepat

(mis. HDL, urinalisis, dan pemeriksaan

pembekuan)
Proses dan prognosis gigitan ular bergantung pada jenis dan jumlah bisa dimana terjadi
gigitan dan kesehatan umum , usia serta ukuran korban .tidak ada protokol khusus
penatalaksanaan gigitan ular . pedoman umum meliputi :
1. Dapatkan data dasar laboratorium
2. Jangan gunakan es, torniket, heparin, atau

kortikostaroid selama tahap akut.

Kartikosteroid dikontraindikasikan pada 6-8 jam pertama setelah gigitan karena agen
ini mendepresi produk antibodi dan menyembunyikan kerja antivenin (antitoksin
untuk bisa ular)
3. Cairan perenteral dapat digunakan untuk penatalaksanaan hipotensi. Jika vasopresin
digunakan untuk penamganan hipotensi penggunaan harus dalam jangka pendek
4. Bedah eksplorasi terhadap gigitan jarang diindikasikan
5. Observasi pasien dengan teliti selama 6 jam; pasien tidak pernah dibiarkan tanpa
perhatian
Pemberian antivenin (antitoksin). Antivenin paling efektif di berikan dalam 12 jam dari
gigitan ular. Dosis bergantung pada tipe ular dan perkiraan

keparaan gigitan. Anak

membutuhkan lebih banyak antivenin daripada orang dewasa karena tubuh nya kecil dan
lebih rentan terhadap efek toksi bisa. Uji kulit atau mata harus di lakukan sebelum nya untuk
dosis awal untuk mendekteksi alergi terhadap antivenin. Sebelum memberikan antivenin dan
setiap 15 menit setelahnya, sekitar bagian yang terkena di periksa. Antivenin diberikan
dengan tetesan IV kapanpun mungkin meskipun pemberian ini dapat di lakukan, bergantung
pada keparahan gigitan antivenin di cairkan dengan 500-1000 ml salin normal; volume
cairan mungkin di turun kan untuk anak. Infus dimulai perlahan dan kecepatan meningkat
21

setelah 10 menit jika tidak ada reaksi. Dosis total harus diinfus 4-5 jam pertama setelah
keracunan, dosis awal sampai dengan gejala menurun. Setelah gejala menurun , sekitar
daerah yang terkena harus di ukur setiap 30-60 menit selama 48 jam kemudian. Penyebab
yang paling umum dari reaksi serum adalah infus antivenim yang terlalu cepat, meskipun
sekitar 3% dari pasien dengan uji kulit negatif mengembangkan reaksi tidak berhubungan
dengan kecepatan infus. Reaksi terdiri dari perasaan penuh di wajah, urtikaria, pruritus,
keletihan dan khawati. Gejala bini mungkin di ikuti dengan takikardia, nafas pendek,
hipotensi, dan syok. Pada situasi ini, infus harus di hentikan segera dan di berikan
difenhidramin IV. Vasoppresor di gunakan jika terdapat syok. Resusitasi kedaduratan harus
siap pada saat antivenin di berikan.

Keracunan makanan
Keracunan makanan adalah penyakit yang tiba tiba dan mengejutkan yang dapat terjadi
setelah mkenelan makanan atau minuman yang terkontaminasi. botulisme adalah keracunan
makanan yang serius yang menbutuh kan sueveilens terus menerus.
Penata laksanaan kedaruratan
1. Menentukan sumber dan tipe keracunan makanan
a. Dapatkan mamakanan yang di curigai dan bawa ke fasilitas kesehatan
b. Dapat kan riwayat
Seberapa cepat gejala muncul setelah makan? (Awitan segera

menunjukkan keracunan kimia, tanaman, atau binatang )


Apa yang dimakan sebelum makan? apakah makanan mempunyai
bau / rasa tidak biasa (banyak makakan menyebab kan keracunan

bakteri tidak mempunyai bau atau rasa yang tidak biasa )


Apakah orang lain menjadi sakit karena makanan makanan yang sama?
Apakah terjadi muntah? apa yang terliat pada muntahan ?
Apakah terjadi diare? ( diare biasanya tidak ada pada botulisme dan

pada keracunan ikan atau kerang lain)


Adakah gejala yang neurologik? (ini terjadi pada botulisme dan

keracunan kimia, tanaman, dan binatang)


Apakah pasien demam? (demam terlihat pada salmonela,favism
[mencerna kacang fava], menelan fava beans), dan beberapa ikan yang

mengandung racun
Bagaimana penampilan pasien?
22

2. Kumpulkan makanan, isi lambung, muntah, serum, dan feses untuk pemeriksaan
3. Pantau tanda vital terus menerus.
Kaji pernafasan, tekanan darah, sensori, tekanan vena sentral (jika di indikasikan),

4.

dan aktifitas otot


Timbang berat badan pasien untuk perbandingan

Dukungan sistem pernafasan. Kematian karna paralisis pernafasan terjadi pada


botulisme, keracunan ikan dan sebagainya.

5.

Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. Muntah berlebihan menyebabkan


alakalosis dan diare berlebihan menyebabkan asidosis: sejumlah besar elektrolit dan
air hilang melalui muntah dan diare

Observasi untuk syok hipovolemia karena kehilangan cairan dan elektrolit


Evaluasi terhadap letargi, frekuensi nadi, demam, oliguari, anuria, hipotensi, dan

delirium
Dapatkan elektrolit darah

6.

Koreksi dan kontrol hipoglikimea

7.

Kontrol mual

Berikan obat antiemetik secara parenteral jika pasien tidak menoleransi cairan

atau pengobatal per oral


Berikan teh ringan, minuman karbonat atau air biasa untuk mual ringan
Berikan cairan ringan 12-24 jam setelah mual dan muntah
Secara berangsur untuk residu rendah, diet lunak.

23

Menurut Boswick, (1988) dalam Perawatan Gawat Darurat. Penyebab dari keracunan adalah:
Keracunan karbonmonoksida
Organ yang paling sensitif terhadap keracunan karbonmonoksida dan akibat kekurangan
oksigen arteri adalah potak dan jantung.pasien dapat menampilkan berbagai defisit
neurologis, kejang atau koma. Bisa timbul aritmia dan infark miokardium. Kulit dan mukosa
pasien bisa berwarna merah muda atau seperti buah ceri. Pengobatan keracunan
karbonmonoksida mencakup pemindahan dari lingkungan beracun dan ventilasi dengan
oksigen 100%. Bila ada ruang hiperbarik, maka cara pengobatan ini harus dipertimbangkan,
meskipun telah lewat beberapa setelah inhalasi karbonmonoksida.
Keracunan salisilat
Salisilat dapat langsung merangsang pusat pernafasan, dengan akibat hiperfentilasi dan
alkalosis respiratorik. Bila kadar toksis salisilat menetap, timbul asidosis metabolik. Pada saat
ini biasanya opasien dalam keadaan koma. Bila pasien sadar usahakan menentukan obat apa
yang telah dimakannya. Minta orang mencari dan mengumpulkan tempat obat yang mungkin
mengfandung obat. Bila telah memakan beberapa obat, sering mereka mempunyai efek
anatagonistik; sehingga ukuran pupil dan reaktifitasnya sering merupaka indikator tak
berguna bagi status fisik pasien. Penatalaksanaan salisilat terdiri dari bilas lambung, karena
salisilat dpat menetap untuk waktu lama didalam traktur gastrointestinalis. Dehidrasi harus
dikoreksi dengan pemeberian 500 ml larutan Ringer Laktat intra vena per jam. Penting
mempertahankan pernafasan yang adekuat.
Keracunan barbiturate
Barbiturate, sedative lain dan alkohol yang sering digunakan bersama-sama, menekan
susunan syaraf pusat. Jalan pernafasan yang bebas dan oksigenasi yang adekuat yang harus
dipertahankan selain menyokong sirkulasi. Harus dilakukan bilas lambung.
Keracunan dosis obat psikotropik
Dengan meningkatnya penggunaan obat, yang memiliki aktifitas seperti atropin maka lebih
banyak pasien yang ditremukan dengan koma dan psikosis atropine. Obat-obat ini mencakup
antidepresi, antihistamin, antiparkinson dan beberapa anti psikotik. Tanda dan gejala koma
keracunan atropine adalah delirium, takikardia, tak adanya bising usus, kulit kering hangat,
hipertermia dan pengurangan sekresi. Aritmia jantung terjadi pada kelebihan dosis yang
24

hebat. Fisotigmin merupakan antidutom spesifik untuk jenios keracunan ini. Dosisnya 1-2 mg
intramoskular setiap 30 menit sampai 3 jam.perlambatan denyut jantung dan peningkatan
bising usus merupakan indicator paling sensitive untuk kerja fisostigmin.
Kelebihan dosis narkotika
Bila ada kemungkinan kelebihan dosis suatu obat dan pernafasan tertekan, maka nalokson
(Narcan) dapat diberikan untuk menentukan dengan cepat kemungkinan keracunan narkotika.
Dosis yang biasa 0,4 mg intravena, yang diulang setiap tiga atau empat menit sampai
frekuensi pernapasan lebih dari 8 kali per menit. Bila tak ada respon setelah 2 atau 3 dosis,
maka cari penyebab depresi pernapasan lainnya.
Parkinson yang Diinduksi Obat
Orang yang mendapat obat antipsikotik bisa mendadak menderita efek samping. Ia meliputi
gerakan parkinson, distonia, tortikolis dan krisis okulogirik. orang ini perlu ditentermkan
bahwa gejala ini menyusahkan tapi tak mengancam nyawa. Benztropin (Cogentin) atau
difenhidramin (Benadryl) intramuskular atau intravena akan menghilangkan gejala dalam 530 menit. Distonia akut biasanya diobati melalui jalur intramuskular atau intravena, yang
diikuti dosis pemeliharaan per oral. Dosis benztropin yang umum diberikan adalah 2 mg
intramuskular atau intravena, kemudian 2 mg 3 kali sehari per oral; dosis dehidramin yang
umum diberikan adalah 50 mg intramuskular atau intravena, yang diikuti oleh 50 mg 2 atau 3
kali sehari per oral.

25

Menurut Kidd, Sturt, Fultz (2010) dalam Pedoman Keperawatan Emergensi. Penyebab dari
keracunan adalah:
Keracunan Anarkida
Tipe

Lokasi dan

Gejala

Tindakan

Kalajengking

deskriptif
Paling banyak

Nyeri intens dengan

Imobilisasi bagian

ditemukan di barat

sedikit eritema atau

yang sakit.

daya Amerika Serikat

bengkak atau tidak

Jangan memasang

(Arizona, New

ada sama sekali.

torniket

Mexico, dan Texas)*

Satu spesies

Antihipertensi

(Centruroides

Pastikan profilaksis

sculpturatus)

tetanus dan difteria

menusukkan bisa

diberikan

neurotoksik yang

Analgesic

mematikan.

Dukungan ABC

Gejala dapat meliputi

( jalan napas,

mengi, stridor, salvias

pernapasan, dan

berlebihan,

sirkulasi)

diaphoresis, konfusi,
kejang, hipertensi,
Laba-laba black

Umum ditemukan di

takipnea, takikardia.
Bisa neurotoksik

widow

California dan bagian

Nyeri pada tempat

lain A,S

gigitan mungkin tajam diazepam dan kalsium

Biasanya ditemukan

dan menyengat atau

glukonat untuk

di gedung terbuka

seperti tusukan peniti

spasme otot

seperti gudang dan

ringan

Antivenin pada pasien

bawah batu-batuan

Nyeri tungkai,

yang sakit serius

Tanda seperti jam

kemerahan local dan

Imobilisasi tungkai

pasir berwarna hitam

bengkak

dan kompres dingin

dan merah di

Dua tanda merah kecil

abdomen*

mungkin ada

Oksigen 100% dengan


masker, akses IV,

Dua tanda merah kecil


26

mungkin ada
Spasme otot, sakit
kepala, mual, muntah,
refleks hiperaktif,
ptosis, hipertensi,
diaphoresis, demam,
Laba-laba Brown

Ditemukan di

kejang, syok
Nyeri ringan atau

Recluse

potongan kayu,

tidak terasa nyeri pada pada tempat gigitan

loteng, kloset, dan

tempat gigitan, edema

Tentukan status

tempat gelap

local, eritema,

imunisasi tetanus dan

Ditemukan di barat

pembentukan lepuh

difteria

daya, tengah bagian

ukuran kecil, iskemia

Antibiotic

selatan, dan Negara

local

Debridement area

tenggara

Tampilan nekrosis

nekrotik dan gunakan

Hindari traum lanjut

Cokelat terang dengan ulseratif berat pada

balutan steril

bentuk biola cokelat

hari ketiga sampai

Dapsone dapat

gelap di punggung

keempat

diberikan untuk

Demam, menggigil,

menghambat fungsi

malaise

neutrofil,
menghambat fungsi
neutrofil, penyebab

utama nekrosis kulit


*Allen C Arachnid envenomations. Emerg Med Clin North Am 10 (2): 269-297, 1992

Sengatan semut api (Hymenoptera), lebah, dan tawon


Serangga ini menginjeksikan bisa melalui penyengat yang beruhungan dengan reservoir
(kantong) bisa. Sengatan umumnya pada musim panas dan biasanya mengenai kepala, dan
ekstremitas.

Gejala

27

Reaksi lokal: Pasien mengalami nyeri segera pada tempat sengatan. Eritema, edema,

dan gatal mungkin ada


Reaksi sistemik: Pasien mengalami neyri gatal-gatal, mual, muntah, konjungtivitis,
rhinitis, bengkak pada wajah, nyeri abdomen, edema laring (stridor), spasme bronkus
(mengi), dan syok anafilatik. Hipotensi dan takikardia juga ada pada reaksi sistemik.

Terapi

Berikan oksigen 100% dengan masker nonrebreather.


Antisipasi dan siapkan untuk krikotirotomi bila ada stridor berat.
Albuterol aerosol atau metaproterenol dapat digunakan untuk spasme bronkus
Berikan akses IV dengan diameter besar
Infuse salin normal atau laktat Ringer dan berikan bolus cairan sesuai dengan

kebutuhan untuk mempertahankan TD sistolik >90 mm Hg


Lepaskan penyengat dengan penjepit
Jangan menggunakan forsep untuk memegang atau menarik penyengat karena

tindakan ini dapat memijat kantung bisa dan melepaskan lebih banyak toksin
Difenhidramin IV sering digunakan pada keracunan ringan.
Untuk reaksi berat berikan epineprin (1:1000) secara subkutan, 0,3 ml untuk

dewasa dan 0,01 ml/kg untuk anak


Hidrokortisom harus diberikan pada kasus berat

Obat
Antivenin (Latrodectus

Dosis dan rute


Dosis tunggal 6000 U

Pertimbangan khusus
Uji sensitivitas terhadap serum

mactanus-spesies black

Seluruh vial antivenin (2,5

kuda sebelum

window)

ml) dianjurkan untuk orang

menggunakannya; dapat diuji

dewasa dan anak

dengan kulit atau uji

IV- setiap dosis harus

konjungtiva

diencerkan dengan air 2,5 ml

Uji kulit: Injeksikan ke dalam

untuk melarutkan isi dengan

kulit, tidak lebih dari 0,02 ml

seksama; selanjutnya

materi uji (larutan 1:10 serum

encerkan dalam 50 ml salin

kuda normal yang sama dapat

normal untuk injeksi; berikan

digunakan sebagai control;

selama 15 menit

evaluasi hasil dalam 10-20

Dapat diberikan IM

menit; bulatan urtikaria


mengelilingi zona eritrma
adalah reaksi positif
Uji konjungtiva: untuk orang
28

dewasa, teteskan ke dalam


kantung konjungtiva satu tetes
larutan 1: 10 serum kuda
normal ; untuk anak , teteskan
kedalam kantung konjungtiva
satu tetes larutan 1 : 100 ;
gatal, kemerahan, dan mata
berair, biasanya terjadi dalam
10-30 menit, adalah reaksi
positif
pantau tanda-tanda vital
dengan ketat karena adanya
antivenin ( crotalidae)

keracunan sedang sampai

kemungkinan anafilaksis
paling efektif dalam 4 jam

polivalen ( untuk pengobatan

berat dapat memerlukan 30

gigitan dan kurang efektif

gigitan ular berbisa )

150 ml ( 3 15 vial )

setelah 8 jam; namun, harus

bergantung pada keparahan

diberikan meskipun setelah 24

dan toksisitas gigitan.

jam terlewat

infuskan 5 10 ml IV selama

harus menunjukkan uji kulit

5 menit; bila tidak ada reaksi,

atau konjungtiva negatif

istirahat harus diberikan

sebelum memebrikan obat IV.

selama kira-kira 30 menit

panatau dengan ketat , karena

kalsium glukonat ( untuk

sampai 2 jam.
orang dewasa : kalsium

kemuingkinan anafilaksis akut


hanya untuk penggunaan IV

spasme otot karena keracunan

glukonat 10 %, 1 2 ml / kg

pantau apakah ada hipotensi

sengatan black widow )

IV sampai 10 ml / dosis

dapson

jangan melebihi 2 ml/ menit


50-100 dua kali sehari

berikan sampai nekrosis


berkurang pada gigitan labalaba brow recluse

deksametason ( decadron

4-6 mg PO setiap 6 jam

digunakan untuk AMS dan


HACE )
difenhidramin ( benadryl )-

25 50 mg IV atau IM

mengantuk adalah efek


29

digunakan untuk akibat

IV 25 mg selama 1 menit

samping yang umum; pasien

sengatan

atau IM dalam

tidak boleh berkendara sampai

anak 1 mg / kg
epineprin ( 1 : 1000 ) ( distress subkutan dewasa : 0,3 0,5

efek hilang
berikan dengan hati-hati pada

karena anafilaksis yang

ml; pediatrik: 0,01 mg / kg

pasien geriatrik, individu yang

berkaitan dengan sengatan )

IV- dewasa : 0,1 mg ( 1 : 1000

menderita penyakit

), 0,1 ml diencerkan dalam 10

kardiovaskular atau hipertensi;

ml salin normal IV; berikan

aritmia jantung lebih mungkin

selama 10 menit

terjai pada kelompok usian ini


pantau pasien apakah ada
arritmia jantung, nyeri dada ,

hidrokortison ( untuk reaksi

100-250 mg atau 2 mg/ kg

dan hipertensi
aminofilin dan benadryl tidak

berat karena sengatan

IV- 25 mg selama 1 mnt

kompatibel

Himenoptera)

Berbagai Keracunan Makanan


Organisme

Makanan yang

Gejala

Periode Inkubasi

stphylococcus aureus

rentan
pastri krim

muntah

1 -8 jam

mayones

sakit kepala

salad yang
clostridium botulinum

mengandung mayones
sayuran rendah asam

kelemahan semakin

kalengan

menurun

buah kalengan

paralisis

ikan kalengan

ptosis

18-24 jam

abnormalitas pupil
disfagia
bbaciluus aureus
escherichia coli

nasi goring

dispnea
Muntah

1-6 jam

air terkontaminasi

kram abdomen
diare cair

24-72 jam

sayur dan buah tidak

feses hijau, leukosit

dikupas

positif
30

kram abdomen
vibrio cholerae

salmonela

air terkontaminasi

demam derajat ringan


diare dan muntah

sayuran dan buah

berat

tidak dikupas
unggas, telur, dan

syok hipovolemik
mual dan muntah

ground beef mentah

demam

atau tidak dimasak

nyeri abdomen

dengan baik

diare cair, feses

1-3 jam

8-48 jam

lembek kehijauan dan


trikonosis

babi atau burung liar

bau telur busuk


nyeri abdomen

yang tidak dimasak

mual

dengan baik

demam

24-48 jam

diare
siguatoksin

barakuda, red snapper,

diare, ataksia, pusing

1-6 jam

grouper, sea bass

Keracunan Makanan
Keracunan makanan dapat terjadi karena berbagai organisme. keracunan makanan dapat
diklasifikasikan sebagai gejala yang berhubungan dengan neurologik atau gastrointestinal.
Keduan bentuk keracunan dapat mengancam jiwa.
Gejala

Keracunan makanan dengan efek neurologik akan bermanifestasi dengan paralisis


desenden, ataksia, pusing, perubahan pupil dan akhirnya, gangguan pernapasan (mis,

botulisme dan ciguatoksin)


Efek gastrointestinal adalah mual, muntah, diare cair, nyeri abdomen, dan demam
(misalnya, stphylococcus, Bacillus, E.coli, kolera, Salmonela, dan trikinosis).

Terapi

Glukosa oral atau larutan elektrolit mungkin diperlukan untuk pasien yang tidak
mengalami dehidrasi berat. Terapi dehidrasi oral harus terdiri dari larutan dengan 75
31

sampai 90 mEq/L natrium. Dosis bervariasi sesuai derajat dehidrasi (10 sampai 100

ml/kg selama 4 jam)


cairan IV dapat diberikan
Agens antiemetik dan antimotilitas dapat diprogramkan
Antibiotik dapat diberikan bila pasien mengalami gangguan imun atau toksik
Antitoksin botulisme-trivalen harus diberikan lebih dini sebelum kepastian toksin

pada kasus diduga botulisme.


Intubasi endotrakea dan ventilasi mekanisme dapat diberikan.

Salisilat (aspirin)
Salisilat digunakan secara reguler oleh banyak orang; sehingga overdosis kronis atau akut
mungkin terjadi, khususnya bila paisen mempunyai masalah lambung atau menggunakan
antasida
Gejala

Mual dan Muntah, tinitus, pernapasan dalam dan cepat (sekunder akibat asidosis
metabolik dan stimulasi langsung terhadap pusat pernapasan pada batang otak), dan
hipertermia terjadi pada kasus overdosis salisilat.

Terapi

Tindakan bergantung pada kadar salisilat. Bila kadar >30 mg/dl, tetapi <60 mg/dl,

dosis multiple karbon diberikan


alkalinisasi urine harus dipertimbangkan untuk pasien dengan cepat. Alkalinisasi urine

menangkap salisilat yang terionisasi dan meningkatkan ekskresi.


Pertahankan haluaran urine 2 sampai 3 ml/kg/jam
Hemodialisis digunakan jika kadar salisilat melebihi 100 mg/ dl dan disertai koma,
ketidakseimbangan asam-basa berat, serta gagal berespons terhadap dosis multiple

karbon dan alkalinisasi urine


Salisilat dapat emmbentuk bekuan besar (besoar) yang menyumbang slang orogastrik.
Sumbatan ini dapat didialisis. Alkalinisasi urine dan serum dengan penggunaan

natrium bikarbonat IV meningkatkan ekskresi


Pada kasus overdosis aspirin salut enterik, absorpsi mungkin melambat
Irigasi usus menyeluruh dapat dipertimbangkan saat aspirin salut enterik telah dicerna
Larutan IV D5LR atau D5NS diberikan untuk mengoreksi dehidrasi
Glukosa diberikan untuk mengoreksi ketosis dan hipoglikemia
32

Vitamin K dapat diberikan untuk mengatasi hipoprotrombinemia dan kecenderungan

perdarahan
Pantau kadar kalium. Kehilangan kalium signifikan terjadi karena muntah dan
peningkatan ekskresi kalium dari ginjal.

Inhalasi Karbon Monoksida


Karbon monoksida (CO) adalah produk sisa pembakaran material organik. Gas ini tidak
berwarna, tidak berbau dengan afinitas terhadap hemoglobin 200 kali lebih kuat
dibandingkan oksigen. CO mengikat hemoglobin, yang memblok ambilan dan transpor
oksigen yang mengakibatkan hipoksia. Pasien yang berada di dalam ruang tertutup selama
kebakaran terancam keracunan CO.
Gejala

Gejala dikaitkan dengan jumlah hemoglobin dengan jenuh CO (karboksihemoglobin)


Gejala ringan mencakup sakit kepala dan konfusi
Gejala yang lebih berat mencakup muntah, takikardia, takipnea, halusinasi dan koma

serta kematian
Gejala diakibatkan oleh hipoksia jaringan, bukan dari cedera parenkim

Terapi

Berikan oksigen 100% yang dilembapkan dan dihangatkan dengan masker


nonrebreather bila pasien dapat mempertahankan jalan napasnya sendiri atau dengan
intubasi bila diindikasikan karena penurunan tingkat kesadaran. Waktu paruh
karboksihemoglobin adalah 5 sampai 6 jam dalam udara ruangan, 30 sampai 90 menit

dengan oksigen 100%, dan 20 sampai 25 menit dengan terapi hiperbarik


pantau kadar karboksihemoglobin. Pasien harus tetap mendapat oksigen 100% sampai
kadar karboksihemoglobin <10%. Pada kasus berat (peningkatan karboksihemoglobin
dikaitkan dnegan pH kurang dari 7,4) terapi oksigen hiperbarik mungkin dianjurkan.
Selama terapi oksigen hiperbarik molekul CO dipindahkan dari hemoglobin.

Tanda dan Gejala Keracunan Karbon Monoksida


0%-10%
10%-20%
20%-40%

Normal, perokok, dan mereka yang tinggal di daerah perkotaan


Sakit kepala, konfusi dan dispnea saat kerja fisik
Keletihan, sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, pusing, mual dan muntah,
33

40%-60%

dan nyeri dada pada individu penderita arteri koroner


Takikardia, takipnea, halusinasi, mengantuk, gagal napas, syok, konvulsi, koma,

>60%

warna kulit merah ceri, dan kematian


Biasanya mengakibatkan kematian

2.3 PATOFISIOLOGI
Keracunan dapat disebabkan oleh beberapa hal di antaranya yaitu faktor bahan kimia,
mikroba, toksin dll. Dari penyebab tersebut dapat mempengaruhi vaskuler sistemik sehingga
terjadi penurunan fungsi organorgan dalam tubuh. Biasanya akibat dari keracunan
menimbulkan mual, muntah, diare, perut kembung, gangguan pernafasan, gangguan sirkulasi
darah dan kerusakan hati (sebagai akibat keracunan obat dan bahan kimia). Terjadi mual,
muntah dikarenakan iritasi pada lambung sehingga HCL dalam lambung meningkat.
Makanan yang mengandung bahan kimia beracun (IFO) dapat menghambat (inktivasi) enzim
asrtikolinesterase tubuh (KhE). Dalam keadaan normal enzim KhE bekerja untuk
menghidrolisis arakhnoid (AKH) dengan jalan mengikat Akh KhE yang bersifat inaktif.
Bila konsentrasi racun lebih tingggi dengan ikatan IFO-KhE lebih banyak terjadi. Akibatnya
akan terjadi penumpukan Akh di tempattempat tertentu, sehingga timbul gejala gejala
rangsangan Akh yang berlebihan, yang akan menimbulkan efek muscarinik, nikotinik, dan
ssp (menimbulakan stimulasi kemudian depresi SSP).
Rute pajanan yang paling umum pada keracunan adalah inhalasi, ingesti, dan injeksi.
Reaksi kimia racun mengganggu sistem kardiovaskular, pernapasan, sistem saraf pusat, hati,
pencernaan (GI), dan ginjal. Sebagian besar pajanan terhadap gas beracun terjadi di rumah.
Keracunan dapat terjadi akibat pencampuran produk pembersih rumah tangga yang tidak
semestinya atau rusaknya alat rumah tangga yang melepaskan karbon monoksida.
Pembakaran kayu, bensin, oli, batu bara, atau minyak tanah juga menghasilkan karbon
monoksida. Gas karbon monoksida tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak
menimbulkan iritasi, yang membuatnya amat berbahaya. Menelan zat racun atau racun dapat
terjadi di berbagai lingkungan dan pada kelompok usia yang berbeda-beda. Keracunan di
rumah biasanya terjadi jika anak menelan pembersih alat rumah tangga atau obat-obatan.
Penyimpanan yang tidak semestinya bahan-bahan ini dapat menjadi penyebab kecelakaan
34

tersebut. Tanaman, pestisida, dan produk cat juga merupakan zat beracun yang potensial di
rumah tangga. Karena gangguan mental atau penglihatan, buta huruf, atau masalah bahasa,
lansia dapat menelan obat-obatan dengan jumlah yang salah. Selain itu, keracunan dapat
terjadi di lingkungan perawatan kesehatan saat obat-obatan diberikan tidak sebagaimana
mestinya. Hal yang sama, keracunan juga dapat terjadi di lingkungan perawatan kesehatan
jika obat-obatan yang normalnya hanya diberikan melalui rute subkutan atau intramuskular
diberikan lewat intravena, atau jika obat-obatan yang salah disuntikkan. Keracunan karena
suntikan juga dapat terjadi di lingkup penyalahgunaan zat, seperti jika pecandu heroin tidak
sengaja menyuntikkan pemutih atau heroin yang terlalu banyak (Morton. Fontaine. Hudak.
Gallo, 2011).

2.4 MANIFESTASI KLINIS


Menurut Mansjoer, (1999). Ciri-ciri keracunan umumnya tidak khas dan dipengaruhi
oleh cara pemeberian, apakah melalui kulit, mata, paru, lambung, atau suntikan, karena hal
ini mungkin mengubah tidak hanya kecepatan absorpsi dan distribusi suatu bahan toksik,
tetapi juga jenis dan kecepatan metabolismenya, pertimbangan lain meliputi perbedaan
respons jaringan. Hanya beberapa racun yang menimbulkan gambaran khas seperti adanya
bau gas batu bara (saat ini jarang), pupil sangat kecil (pinpoint), muntah, depresi dan
hilangnya pernapasan pada keracunan akut morfin dan alkoloidnya. Pupil pinpoint
merupakan satu-satunya tanda, karena pupil biasanya berdilatasi pada pasien keracunan akut.
Kecuali pada pasien yang sangat rendah tingkat kesadarannya, pupilnya mungkin menyempit
tetapi tidak sampai berukuran pinpoint. Kulit muka merah, banyak keringat, tinnitus, tuli,
takikardi, dan hiperventilasi sangat mengarah pada keracunan salisilat akut (aspirin). Luka
bakar berwarna putih pucat pada mukosa mulut dan luka bakar keabu-abuan pada bibir dan
dagu menunjukkan pasien telah minum bahan kaustik atau korosif; dan bau lisol adalah cirri
khas intoksikasi derivate fenol.
Ditemukannya bula pada kulit pasien yang tidak sadarkan diri, terutama pada daerah
kulit yang eritema, sangat mengarah pada dosis barbiturat berlebih sebagai penyebab koma.
Frekuensi terjadinya lesi-lesi ini sampai 6%, terutama bila menggunakan preparat-preparat
barbiturate dengan masa kejang sedang. Lesi ini paling sering ditemukan pada lipatan di
antara dua permukaan kulit yang mengalami tekanan, seperti celah antar jari dan bagian
dalam lipatan lutut. Lesi jarang timbul pada daerah dengan tekanan maksimum. Bila
35

dijumpai, biasanya terjadi pada keracuanan akut lain, terutama glutetimid, antidepresan
trisiklik, metakualo0n, meprobamat, dan karbon monoksida. Penting pula diperiksa adanya
tanda-tanda tusukan jarum suntik terutama di punggung tangan, fosa kubiti, lengan bawah
dan di bagian dalam betis serta pleksus vena rectum, vagina dan sublingual. Luka-luka tusuk
ini sering disertai infeksi. Ciri lain adalah mainlining, terutama pada penggunaan metakualon
dan barbiturate, berupa ulkus dangkal di vena superficial karena tercecernya obat ke dalam
jaringan subkutan. Kombinasi hipertonik, reflex ekstremitas yang meningkat, sering disertai
dengan klonus, respons ekstensor, dan mioklonik di samping menurunya kesadaran
menyokong diagnosis keracunan mandrax (difenhidramin dan metakualon).
Hilangnya kesadaran dengan pupil berdilatasi lebar, distensi vesika urinaria, bising
usus negative, aritmia jantung dan gejala-gejala traktus piramidalis sering merupakan akibat
dosis berlebih obat antidepresan trisiklik. Riwayat menurunya kesadaran yang jelas dan
cepat, disertai dengan gangguan pernapasan dan kadang-kadang henti jantung pada orang
muda sering dihubungkan dengan keracunan akut dekstropropoksifen, terutama bila
digunakan bersama alkohol. Anak remaja, yang menunjukkan ciri-ciri mengarah pada
intoksikasi alcohol tetapi dengan napas yang bebau pelarut seperti aseton atau toluene, harus
dicurigai telah melakukan solvent sniffing, biasanya karena menghirup perekat buatan pabrik.
Untuk zat adiktif, gejala terdiri dari dua kelompok besar yaitu:
A. Kelompok sindrom simpatomimetik
Gejala yang sering ditemukan adalah delusi, paranoid, takikardia, hipertensi,
hiperpireksia, keringat banyaj, midriasis, hiperfleksi, kejang (pada kasus berat),
hipotensi (pada kasus berat), dan aritmia (pada kasus berat).
Obat-obat dengan gejala tersebut adalah :
Amfetamin
MDMA dan deviratnya
Kokain
Dekongestan
Intoksikasi teofilin
Intoksikasi kafein
B. Golongan opiate ( morfin, petidin, heroin, kodein ) dan sedative
Tanda dan gejala yang seirng ditemukan adalah koma, depresi napas, miosis, hiptensi,
bradikardi, hipotermia, edema paru, bising usus menurun, hiporefleksi, dan kejang
(pada kasus yang berat).
Pada kelompok ini dimasukkan beberapa obat, yaitu:
Narkotika
Barbiturate
36

Benzodiazepine
Meprebamat
Etanol.

Menurut Morton, Fontaine, Hudak, Gallo, (2011). Pemeriksaan yang dilakukan


dengan cepat namun menyeluruh amatlah penting. Hasil pemeriksaan pendahuluan
mengarahkan evaluasi mendalam dan pengkajian serial pada sistem yang terkena (aktual atau
diduga). Seperti yang disebutkan, toksidroma adalah sekelompok tanda dan gejala yang
terkait dengan overdosis atau pajanan terhadap golongan tertentu obat-obatan dan racun.
Dengan mengenali adanya toksidroma dapat membantu mengidentifikasi racun-racun atau
obat-obatan yang terpajan pada pasien dan sistem tubuh penting yang mungkin terkena.
Daftar empat toksidroma umum disertai tanda dan gejala serta penyebab umumnya tercantum
dalam tabel berikut.
Toksidroma
Antikolinergik

Tanda / Gejala
Delirium; kering, kulit

Penyebab Umum
Antihistamin, atropin,

memanas; pelebaran pupil;

rumput Jimson

kenaikan suhu; penurunan


bising usus; retensi urine;
Kolinergik

takikardia
Salivasi berlebihan,

Insektisida organofosfat (mis,

lakrimasi, berkemih, diare,

Malathion, Diazinon);

dan emesis; diaforesis,

insektisida karbamat (mis,

bronkorea, bradikardia,

karbaril, propuksor)

fasciakulasi, depresi sistem


Opioid

Simpatomimetik

saraf pusat, pengecilan pupil


Depresi sistem saraf pusat,

Opiat (mis, kodein, morfin,

depresi pernapasan,

propoksifena, heroin),

pengecilan pupil, hipotensia,

difenoksilat (mis,

hipotermia

difenoksilat/atropin sulfat

Agitasi, takikardia,

[Lomotil])
Amfetamin, kokain, teofilin,

hipertensi, kejang, asidosis

kafein

metabolic

37

2.5 WOC

Keracunan korosif, Keracunan karbon monoksida, Keracunan salisilat, Keracunan barbiturate,


Sengatan serangga dan gigitan ular, Keracunan makanan, Keracunan melalui inhalasi,
Keracunan kontaminasi kulit, Keracunan dosis obat psikotropik dan narkotik.

Pajanan (inhalasi, ingesti, injeksi)

Mempengaruhi vaskular
sistemik

Menghambat enzim
khE

Penumpukan Akh

Depresi SSP

Iritasi pada lambung

Asam lambung meningkat

Mual, muntah

MK: Defisit cairan dan


elektrolit

Penurunan suplai
oksigen

MK: Perubahan
perfusi jaringan

Depresi
pernapasan

Bronkospasme

MK: Ketidakefektifan
pola napas

38

2.6 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


Data laboratorium klinis yang relevan penting untuk pengkajian pasien keracunan
atau overdosis. Pemeriksaan yang memberikan petunjuk mengenai agens-agens yang ditelan
pasien mencakup pemeriksaan elektrolit, fungsi hati, urinalisis, elektrokardiografi, dan
osmolalitas serum. Pengukuran kadar serum asetaminofen dilakukan pada semua pasien yang
mengalami overdosis karena asetaminofen merupakan komponen dari banyak preparat yang
diresepkan atau dijual bebas. Pada keadaan overdosis asetaminofen, hasil pemeriksaan kadar
digambarkan terhadap waktu penelanan dalam nomogram Rumack-Matthew. Pengukuran
kadar serum juga tersedia untuk karbamazepin, zat besi, etanol, litium, aspirin, dan asam
valproat dan dapat dilakukan jika agens ini diduga menjadi penyebab overdosis (Morton,
Fontaine, Hudak, Gallo, 2011).
Alat diagnostik mencakup berikut.

Elektrokardiografi: dapat memberikan bukti adanya obat-obatan yang menyebabkan

aritmia atau perlambatan konduksi (mis, antidepresan trisiklik)


Radiologi: banyak zat sifatnya radioopak, atau dapat divisualisasi dengan
menggunakan CT scan (mis, logam berat, kenop baterai, beberapa tablet atau kapsul
lepas-berubah, aspirin padat, wadah kokain atau heroin). Foto dada memberikan bukti

adanya aspirasi dan edema paru.


Elektrolit, GDA, dan pemeriksaan laboratorium lain: keracunan akut dapat
menyebabkan ketidakseimbangan kadar elektrolit pasien, termasuk natrium, kalium,
klorida, kandungan karbon dioksida, magnesium, dan kalsium. Tanda ventilasi atau
oksigenasi yang tidak adekuat mencakup sianosis, takikardia, hipoventilasi, tarikan
otot interkosta, dan perubahan status mental. Tanda-tanda tersebut harus dievaluasi
dengan oksimetri nadi dan pengukuran GDA. Pasien yang keracunan berat
membutuhkan skrining rutin elektrolit, GDA, kreatinin, dan glukosa; hitung darah

lengkap; dan urinalisis.


Celah anion: celah anion adalah alat sederhana dan efektif-biaya yang menggunakan
pangukuran serum umum, seperti natrium, klorida, dan bikarbonat, untuk membantu
mengevaluasi pasien yang keracunan akibat obat-obatan atau racun tertentu. Celah
anion menunjukkan perbedaan antara anion dan kation dalam darah yang tidak
terukur.
39

Celah osmolal: celah osmolal adalah perbedaan antara pengukuran osomalitas


(dengan menggunakan metode penekanan titik beku) dan penghitungan osmolalitas.
Penghitungan osmolalitas didapatkan dari pemriksaan nilai laboratorium untuk zat

aktif yang secara osmolalitas besar, misalnya natrium, glukosa, dan BUN.
Penapisan toksikokologi: penapisan toksikologi adalah analisis laboratorium cairan
atau jaringan tubuh untuk mengidentifikasi obat atau racun. Meskipun saliva, cairan
spinal, dan rambut dapat dianalisis, sampel darah atau urine lebih sering digunakan.
Jumlah dan tipe obat-obatan yang dinilai melalui penapisan toksikologi berbeda-beda.
Tiap uji penapisan spesifik untuk obat-obatan atau agens.
Satu-satunya diagnosis pasti keracunan diperoleh melalui analisis laboratorium.

Bahan analisis dapat berasal dari bahan cairan, cairan lambung, atau urin. Pemeriksaan
penyaring yang cepat dan sederhana menggunakan kromatografi lapisan tipis dapat dilakukan
pada 90% keracunan umum terjadi (Mansjoer, 1999).

2.7 PENATALAKSANAAN
Menurut Morton, Fontaine, Hudak, Gallo, (2011). Penatalaksanaan pasien keracunan
atau overdosis bertujuan mencegah absorpsi dan pajanan lebih lanjut terhadap agens
penyebab. Setelah triase untuk menentukan status jalan napas, pernapasan, sirkulasi pasien,
maka pasien harus distabilkan. Penanganan dimulai dengan pertolongan pertama di tempat
kejadian dan dilanjutkan di unit gawat darurat dan sering kali di unit perawatan intensif
(ICU). Penatalaksanaan umum lanjut melibatkan langkah berikutnya untuk mencegah
absorpsi dan meningkatkan eliminasi agens. Sebagai contoh, antidot, anti-bisa, atau antiracun dapat diberikan. Tim perawatan kesehatan harus terus mendukung fungsi vital dan
memantau serta menangani dampak pada berbagai sistem. Penyuluhan pasien dan keluarga
untuk mencegah pajanan di masa mendatang adalah bagian lain dari strategi penatalaksanaan
yang dilakukan perawat. Diagnosis keperawatan untuk pasien keracunan atau overdosis
tercantum dalam kotak berikut ini.
Contoh diagnosis keperawatan dan masalah kolaboratif untuk pasien keracunan dan
overdosis
Keracunan
Ketidakefektifan pola napas
Gangguan pertukaran gas
40

Ketidakefektifan perfusi jaringan


Ketidakseimbangan volume cairan, risiko
Gangguan proses pikir
Kekerasan, risiko (terhadap diri atau orang lain)
Gangguan harga diri
Ketidakefektifan koping individu / keluarga
Cedera, risiko
Ketidakefektifan performa peran
Asidosis / alkalosis, risiko
Atelektasis
Hipoksemia
Disritmia
Hipovolemia
Ketidakseimbangan elektrolit

Stabilisasi
Stabilisasi pasien mencakup mengerjakan langkah-langkah yang diringkas dalam kotak
dibawah ini, yang juga dibahas didaftar berikut:
Intervensi keperawatan untuk stabilisasi pasien keracunan atau overdosis
Kaji, tetapkan, dan pertahankan jalan napas
Evaluasi upaya pernapasan
Pertahankan sirkulasi adekuat
Pantau fungsi jantung
Pertahankan atau koreksi keseimbangan asam-basa dan homeostasis elektrolit
Kaji kejiwaan
Identifikasi cedera dan proses penyakit yang meningkatkan risiko
Ukur tanda vital dan suhu dengan sering untuk mengetahui perubahan

Jalan napas: Pemasangan intubasi nasotrakea atau endotrakea mungkin dibutuhkan

guna memelihara dan melindungi jalan napas pasien secara adekuat.


Pernapasan: Ventilasi mekanis dapat dibutuhkan untuk membantu pasien. Banyak
obat-obatan dan racun, seperti heroin, menekan upaya pernapasan. Oleh karena itu
pasien dapat membutuhkan bantuan ventilator hingga obat-obatan atau racun dibuang

dari tubuh.
Sirkulasi: Komplikasi berkisar dari syok yang disebabkan oleh kehilangan cairan
hingga kelebihan beban cairan, dan sering kali terkait dengan status hidrasi pasien dan
kemampuan sistem kardiovaskular untuk menyesuaikan diri dengan perubahan akibat
obat-obatan atau racun. Contohnya, racun yang berasal dari ular berbisa sering
41

menyebabkan akumulasi cairan pada ruang ketiga ke tempat sekitar gigitan, yang
menyebabkan hipovolemia intravaskular. Sebagai akibatnya, pasien mengalami
hipotensi, yang biasanya terjadi sebagai respons terhadap terapi cairan intravena (IV)
yang agresif. Beberapa obat-obatan beracun yang tertelan merusak kontraktilitas
jantung dan kelebihan beban cairan dapat menyebabkan ketidakmampuan jantung
untuk memompa secara efektif. Pada kasus ini, keseimbangan cairan perlu
dikendalikan dengan hati-hati. Pemantauan invasif (mis, tekanan vena sentral, kateter
arteri pulmonalis, kateter Foley dengan urometer) dan terapi obat mungkin

dibutuhkan untuk mencegah atau meminimalkan komplikasi seperti edema paru.


Fungsi jantung: Banyak obat-obatan dan racun menyebabkan konduksi jantung
terlambat dan aritmia. Riwayat obat-obatan atau racun yang terlibat mungkin tidak
dapat diandalkan atau bahkan tidak diketahui, khususnya jika pasien ditemukan tidak
sadar atau berupaya bunuh diri. Pada kasus ini, pemantauan jantung kontinu dan

elektrokardiogram 12-sadapan membantu mendeteksi efek kardiotoksik.


Keseimbangan asam-basa dan homeostasis elektrolit: Kelainan elektrolit dan asidosis
metabolik sering kali terjadi dan dapat membutuhkan pengukuran serial elektrolit dan
gas darah arteri (GDA) serta pemeriksaan laboratorium khusus lain. Sebagai contoh,
pengukuran serial elektrolit, GDA, dan kadar salisilat dilakukan untuk mengevaluasi
toksisitas aspirin. Aspirin, jika tertelan dalam jumlah besar, dapat membentuk massa
padat dalam saluran cerna (GI), yang disebut konkresion, bukannya terpecah dan
encer. Sebagai akibatnya, absorpsi lambat dan terjadinya efek toksik, seperti
hipokalemia, asidosis metabolik, dan alkalosis respiratorik, mungkin tidak dapat

diamati selama beberapa jam.


Kejiwaan: Banyak faktor dapat mempengaruhi status mental pasien. Hipoglikemia
dan hipoksemia adalah dua kondisi yang dapat mengancam hidup namun mudah
diatasi dengan memberikan oksigen dan dekstrosa IV sampai hasil laboratorium
tersedia. Pasien yang mengalami alkoholisme kronis juga mempunyai risiko khusus
yang disebut sindrom Wernicke-Korsakoff, yang ditandai dengan ataksia dan
perubahan mental. Pemberian tiamin (vitamin B1) lewat IV atau intramuskular dini
dapat mencegah perburukan sindrom tersebut. Nalokson (Narcan) adalah antagonis
narkotik yang memulihkan depresi sistem saraf pusat (SSP) dan pernapasan akibat
narkotik. Namun, ini harus diberikan secara hati-hati karena dapat memicu putus zat
pada individu yang bergantung-narkotik, yang menunjukkan perilaku kekerasan dan
agitasi, sehingga menempatkan perawat dan petugas kesehatan lainnya dalam bahaya.
42

Di unit perawatan kritis, mungkin dibutuhkan untuk terus memberikan bolus nalokson
kepada pasien karena lama kerjanya yang singkat dibandingkan dengan lama kerja
sebagian besar opioid. Pada keadaan semacam ini, pemberian nalokson lewat infusi
kontinu mungkin diperlukan. Karena sering kali alasan pasien koma tidak jelas, maka
petugas tanggap darurat dapat memberikan sesuatu yang biasa disebut sebagai
minuman koma, yang terdiri atas D50, vitamin B1, dan nalokson, di tempat
kejadian. Agens ini ditoleransi dengan baik dan mempunyai toksisitas minimal.
Tindakan selanjutnya terapi ini di tempat kejadian adalah menangani ketiga masalah
yang mudah dikoreksi yang mungkin muncul (koma akibat hipoglikemia, alkohol,

atau narkotik) tanpa membuang waktu menunggu hasil laboratorium tersedia.


Cedera yang berhubungan dengan pajanan racun dan proses penyakit yang
mendasari: Tiap cedera yang terkait dengan pajanan racun dan proses penyakit lain
yang mendasari yang diidentifikasi selama pemeriksaan fisik awal ditangani atau
dipantau, atau keduanya. Sebagai contoh, fenisiklidin (PCP) yang beredar di jalan
dapat menimbulkan perilaku kekerasan, agitasi, dan aneh, yang menyebabkan trauma
selama fase toksik akut. Juga misalnya, pasien yang menderita penyakit jantung
iskemik sebelumnya mungkin tidak dapat menoleransi hipoksemia yang terkait

dengan keracunan karbon monoksida sama seperti pasien sehat yang masih muda.
Tanda vital dan suhu: Tanda vital dan suhu pasien kritis atau yang berpotensi menjadi
kritis diukur dengan sering guna mengetahui perubahan yang menandakan masalah
tambahan.

DEKONTAMINASI AWAL
Pertolongan pertama dapat diberikan oleh saksi mata, petugas kesehatan, atau tim tanggap
darurat, atau di unit gawat darurat. Kandungan fisiokimia agens dan jumlah, rute, dan waktu
pajanan membantu menentukan tipe dan sampai sejauh mana penatalaksanaan dibutuhkan.
Pajanan okular
Banyak zat dapat secara tidak sengaja terpercik masuk ke mata. Jika ini terjadi, mata harus
dibilas untuk menghilangkan agens tersebut. Irigasi segera dengan air hangat kuku atau salin
normal dianjurkan. Mengaliri mata secara terus-menerus dengan segelas besar air atau
pancuran dengan tekanan rendah harus dilakukan selama 15 menit. Pasien harus mengedipkedipkan mata selama irigasi. Jika perlu, pH mata dapat diperiksa. Jika pH tidak normal,

43

irigasi harus diteruskan sampah pH normal. Pemeriksaan oftalmologik dibutuhkan saat iritasi
okular atau gangguan penglihatan menetap setelah irigasi.
Pajanan kulit
Ketika terjadi pajanan kulit, pasien harus mengaliri kulit dengan air hangat kuku selama 15
sampai 30 menit. Sebagian besar perusahaan yang memproduksi atau menggunakan agens
kimia mempunyai pancuran untuk tujuan ini. Pasien harus melepaskan pakaian yang mungkin
telah terkontaminasi. Setelah berdiri di bawah pancuran selama waktu yang ditentukan,
pasien kemudian harus mencuci area tersebut dengan perlahan menggunakan sabun dan air
serta membilasnya secara seksama. Beberapa racun dapat membutuhkan dekontaminasi
lanjut. Sebagai contoh, tiga sabun yang berbeda dan air pencuci atau pancuran dianjurkan
untuk dekontaminasi pestisida organofosfat (mis, Malathion atau Diazinon). Pakaian
pelindung harus dipakai untuk mengurangi risiko keracunan selama menangani pakaian yang
terkontaminasi atau membantu dekontaminasi kulit. Meskipun tampaknya logis untuk
menggunakan asam guna menetralkan pajanan basa dan basa untuk menetralkan pajanan
asam, tindakan ini dapat sangat berbahaya. Netralisasi adalah reaksi antara asam dan basa,
yaitu H+ dari asam dan OH- dari basa bereaksi menghasilkan H2O (air) dan panas. Panas yang
dihasilkan oleh reaksi ini cukup signifikan untuk menyebabkan luka bakar. Oleh karena itu,
menetralkan kulit setelah pajanan kulit tidak dianjurkan.
Pajanan inhalasi
Seorang korban pajanan inhalasi harus dipindahkan ke udara segar secepatt mungkin.
Penolong juga harus melindungi dirinya dari racun-tular udara. Evaluasi lanjutan dibutuhkan
jika pasien mengalami iritasi pernapasan atau sesak napas. Pajanan skala besar atau yang
terjadi di tempat kerja dapat membutuhkan konsultasi dengan tim HAZMAT, kelompok
individu yang dilatih khusus untuk menangani pajanan terhadap bahan berbahaya.

Pajanan ingesti
Susu atau air mengencerkan iritan yang tertelan seperti pemutih atau bahan yang mengiritasi
seperti pembersih saluran. Setelah ingesti tersebut, orang dewasa harus meminum 237 ml
susu atau air dan anak-anak harus minum 59 sampai 237 ml (sesuai ukuran mereka). Evaluasi
lanjutan dibutuhkan setelah pengenceran jika terdapat iritasi mukosa atau luka bakar. Karena
44

risiko aspirasi, ingesti tidak boleh diencerkan jika disertai kejang, depresi status mental, atau
hilangnya refleks muntah. Sekali lagi, netralisasi tidak digunakan karena risiko luka bakar
akibat panas.
DEKONTAMINASI PENCERNAAN
Lavase lambung, adsorben, katartik dan irigasi usus lengkap digunakan untuk mencegah
absorpsi dan pencegahan toksisitas pada hampir semua obat-obatan dan berbagai racun.
American Academy of Pediatrics tidak lagi menganjurkan pemakaian emetik (seperti sirup
ipekak) untuk dekontaminasi GI.
Lavase lambung
Lavase lambung adalah suatu metode dekontaminasi GI. Cairan (biasanya salin normal)
dimasukkan ke dalam lambung melalui sebuah slang orogastrik berdiameter besar dan
kemudian dialirkan dalam upaya mengambil sebagian agens yang ditelan sebelum sempat
diabsorpsi. Sebuah slang nasogastrik berdiameter kecil tidak efektif untuk lavase karena
materi tertentu seperti tablet atau kapsul terlalu besar untuk melewati slang tersebut. Jika
perlindungan jalan napas dibutuhkan, maka pasien harus dipasang intubasi sebelum dimulai
lavase. Sebagai catatan, sebuah slang nasogastrik berdiameter besar (36 hingga 40 French
pada orang dewasa dan 16 hingga 28 French pada anak-anak) digunakan untuk mengevakuasi
materi tertentu, termasuk tablet dan kapsul utuh. Untuk lavase, pasien diposisikan dengan
posisi berbaring miring ke kiri, dengan kepala lebih rendah dari pada kaki. Sebelum memulai
prosedur, slang harus diolesi dengan pelumas jeli seperti hiroksietilselulosa. Posisi slang
harus dipastikan setelah masuk, baik melalui aspirasi atau memeriksa pH aspirat, atau dengan
memasukkan udara, sembari mendengarkan di atas lambung. Lavase diakhiri dengan
menyambungkan sebuah corong atau spuit di ujung slang dan memasukkan separuh bagian
dari 150 hingga 200 ml (50 hingga 100 ml pada anak-anak) salin bersuhu 38oC ke dalam
lambung. Penempatan corong dan slang lebih rendah dari pasien memungkinkan cairan
mengalir kembali karena gravitasi. Prosedur ini diulang hingga cairan jernih kembali atau
telah digunakan 21 cairan. Isi lambung kemudian dapat ditampung untuk identifikasi obat
atau racun. Komplikasi pada lavase lambung mencakup perforasi esofagus, aspirasi paru,
ketidakseimbangan elektrolit, pneumotoraks akibat tegangan, dan hipotermia (jika digunakan
larutan lavase dingin). Lavase dikontraindikasikan pada kasus ingesti bahan korosif atau
hidrokarbon dengan potensi aspirasi tinggi. Karena risiko yang terkait dan kurangnya bukti
yang jelas yang mendukung penggunaan prosedur ini, lavase lambung hanya digunakan jika
45

pasien menelan zat dengan jumlah yang cukup mengancam hidup dan prosedur tersebut
dilakukan dalam satu jam setelah ingesti.
Adsorben
Adsorben adalah suatu zat padat yang mempunyai kemampuan menarik dan menahan zat lain
di permukaannya (menyerap). Arang aktif adalah suatu adsorben non spesifik yang efektif
untuk banyak obat dan racun. Arang aktif menyerap, atau memerangkap, obat-obatan atau
racun di area permukaannya yang luas dan mencegah penyerapan dari saluran GI. Arang aktif
adalah bubuk hitam halus yang diberikan dengan cara ditelan dengan air, baik lewat oral atau
slang nasogastrik atau orogastrik, sesegera mungkin setelah ingesti. Produk arang aktif yang
tersedia di pasaran dapat dicampur dengan sorbitol 70% untuk mengurangi rasa berpasir,
meningkatkan rasa, dan berfungsi sebagai katartik. Dosis lazim yang diberikan adalah satu
botol berisi 50g. Pemberian lebih dari satu dosis masih diperdebatkan, dan biasanya dibatasi
untuk overdosis aspirin, asam valproat, dan teofilin dalam jumlah besar. Arang aktif
digunakan dengan hati-hati pada pasien yang mengalami penurunan bising usus dan
dikontraindikasikan pada pasien yang mengalami obstruksi usus.
Adsorpsi obat-obatan dan racun oleh arang aktif
Obat-obatan dan racun yang diabsorpsi dengan baik oleh arang aktif

Asetaminofen
Amfetamin
Antihistamin
Aspirin
Barbiturat
Benzodiazepin
Penyekat beta
Penyekat saluran kanal kalsium
Kokain
Opioid
Fenitoin
Teofilin
Asam valproat

Obat-obatan dan racun yang tidak diabsorpsi dengan baik oleh arang aktif

Asam
Basa
Alkohol
Besi
Litium
46

Logam

Katartik
Katartik adalah suatu zat yang menyebabkan atau meningkatkan defekasi. Pemakaian katartik
tunggal dalam penatalaksanaan keracunan bukan merupakan cara dekontaminasi GI yang
dapat diterima. Secara teori, katartik mengurangi absorpsi obat-obatan dan toksin dengan
mempercepat pengeluaran melalui saluran GI, sehingga membatasi kontaknya dengan
permukaan mukosa. Magnesium sitrat atau sorbitol 70% sering kali digunakan. Namun, kini
tidak ada bukti klinis yang menunjukkan bahwa katartik dapat mengurangi bioavalaibilitas
obat atau memperbaiki hasil pada pasien yang keracunan. Data terkait dengan efektivitas
campuran katartik dengan arang aktif masih belum tersedia. Jelasnya, dibutuhkan lebih
banyak penelitian di bidang praktik klinik ini.
Irigasi usus lengkap
Tujuan irigasi usus lengkap adalah memberikan volume larutan yang berisi elektrolit
seimbang dalam jumlah besar dan cepat (1 sampai 21/jam) untuk membilas usus pasien
secara mekanis tanpa menimbulkan gangguan elektrolit. Digunakan sebagai persiapan usus
untuk kolonoskopi, selain itu juga digunakan sebagai prosedur dekontaminasi GI untuk
pasien yang menelan kantong atau vial narkotik guna menghindari berhenti, untuk
penyelundup narkoba yang memenuhi saluran GI mereka dengan kemasan narkotik (baik oral
maupun rektal), dan untuk pasien yang mengalami overdosis obat farmasi lepas-berubah.
Produk yang dijual dipasaran yang digunakan dalam irigasi usus-lengkap mencakup
GoLYTELY dan Colyte. Kedua produk tersebut diproduksi sebagai bubuk dan diberikan
setelah ditambah air. Irigasi usus-lengkap dikontraindikasikan pada pasien yang mengalami
obstruksi usus atau perforasi usus.
PENINGKATAN ELIMINASI OBAT ATAU RACUN
Karakteristik farmakologis dan kinetik obat atau racun amat mempengaruhi keparahan dan
lama perjalanan klinis pasien yang keracunan atau overdosis akut. Laju penyerapan,
penyebaran di tubuh, metabolisme, dan eliminasi harus dipertimbangkan saat memilih
metode untuk mengeliminasi obat atau racun dari tubuh. Terdapat enam metode guna
meningkatkan eliminasi:

47

Arang aktif dosis-ulang


Pemberian dosis-ulang arang aktif dapat menghasilkan adsorpsi yang lebih besar pada
beberapa obat-obatan tertentu seperti aspirin, asam valproat, dan teofilin. Arang aktif dosisulang diberikan lewat oral, lewat slang nasogastrik, atau lewat slang orogastrik setiap 2
hingga 6 jam. Komplikasi akibat arang aktif dosis-ulang mencakup aspirasi dan obstruksi
usus.
Perubahan pH urine
Alkalinisasi urine pasien meningkatkan ekskresi obat-obatan yang merupakan asam lemah
dengan meningkatkan jumlah obat terionisasi dalam urine. Bentuk peningkatan eliminasi ini
juga disebut perangkap ion. Urine dialkalinisasi dengan memberikan infusi IV kontinu satu
hingga tiga ampul natrium bikarbonat per liter cairan. Alkalinisasi urine sering kali digunakan
pada pasien yang mengalami overdosis salisilat. Komplikasi pada alkalinisasi mencakup
edema serebral atau paru dan ketidakseimbangan elektrolit. Pengasaman urine tidak lagi
dianjurkan karena bersihan obat yang rendah dan risiko komplikasi seperti rabdomiolisis.
Hemodialisis
Hemodialisis adalah proses pengubahan komposisi zat terlarut darah dengan membuangnya
dari arteri, mendifusikannya melintasi membran semipermeabel (di antara darah dan larutan
garam), kemudian mengembalikannya ke dalam vena. Prosedur ini digunakan pada
intoksikasi sedang hingga berat guna membuang obat atau racun dengan cepat jika metode
yang lebih konservatif (mis, lavase lambung, arang aktif, antidot) gagal atau pada pasien yang
mengalami penurunan fungsi ginjal. Hemodialisis membutuhkan konsultasi dengan ahli
ginjal dan perawat yang terlatih khusus untuk melakukan prosedur dan memantau pasien.
Berat molekul yang rendah, ikatan dengan protein yang rendah, dan daya larut dalam air
adalah beberapa faktor yang membuat obat atau racun cocok untuk dibuang dengan
hemodialisis. Obat dan racun yang dapat dibuang dengan hemodialisis mencakup etilen glikol
(umumnya dijumpai pada anti-beku), metanol, litium, salisilat, dan teofilin.
Hemoperfusi
Hemoperfusi membuang obat-obatan dan racun dari tubuh pasien dengan memompa darah
melalui sebuah penampung materi yang terserap, seperti arang aktif. Keuntungan lebih
hemoperfusi dibanding hemodialisis adalah bahwa area permukaan total membran dialisasi
48

jauh lebih luas dengan penampung hemoperfusi. Seperti pada hemodialisis, obat-obatan yang
mempunyai sifat mengikat jaringan tinggi dan penyebarannya di luar sirkulasi dalam jumlah
besar bukan kandidat yang baik untuk prosedur hemoperfusi karena sedikitnya obat yang
dijumpai dalam darah. Meskipun jarang digunakan pada orang yang keracunan atau
overdosis, hemoperfusi telah berhasil digunakan pada pasien yang mengalami overdosis
teofilin.
Kelasi
Kelasi melibatkan pemakaian agens pengikat untuk membuang kadar racun logam dari tubuh,
seperti raksa, timbal, besi, dan arsenik. Contoh agens kelasi adalah dimerkaprol (BAL dalam
minyak), kalsium dinatrium edetat (EDTA), suksimer (DMSA), dan deferoksamin.
Kekhawatiran terkait toksisitas chelator; sifat penyebaran jaringannya; dan stabilitas,
penyebaran, dan eliminasi kompleks kelasi-logam membuat kelasi menjadi sebuah prosedur
yang sulit dilakukan.
Terapi oksigen hiperbarik
Pada terapi HBO, oksigen diberikan kepada pasien dalam sebuah bilik tertutup pada tekanan
yang lebih besar dari pada tekanan di bawah laut (mis, 1 atmosfer mutlak). Terapi ini telah
digunakan pada keracunan karbon monoksida dan metilen klorida (metilen klorida
dimetabolisme menjadi karbon monoksida di tubuh). Hasilnya adalah peningkatan eliminasi
karbon monoksida: waktu paruh karbon monoksida dalam udara ruangan adalah 5 sampai 6
jam, pada oksigen 100% adalah 90 menit, dan pada bilik HBO adalah 20 menit. Pemanfaatan
lain terapi HBO adalah untuk penanganan mabuk akibat menyelam (kejang urat). Namun,
sedikitnya jumlah bilik HBO dan kurangnya staf 24 jam membatasi luasnya pemakaian terapi
ini. Komplikasi terapi HBO mencakup otalgia terkait tekanan, nyeri sinus, nyeri gigi, dan
pecah membran timpani. Kecemasan akibat terkurung, kejang, dan pneumotoraks akibat
tegangan juga dijumpai pada pasien yang mendapatkan terapi HBO.
ANTAGONIS, ANTI-RACUN, DAN ANTI-BISA
Dalam farmakologi, suatu antagonis adalah suatu zat yang menetralkan kerja obat lain.
Meskipun masyarakat umum percaya bahwa terdapat antidot untuk setiap obat atau racun,
yang sebenarnya adalah sebaliknya. Pada kenyataannya, hanya terdapat beberapa antidot.
Anti racun menetralkan suatu toksin. Sebagai contoh, anti racun botulisma trivalen (equin)
disediakan di Centers for Disease Control and Prevention guna menetralkan efek botulisme.
49

Anti bisa adalah anti racun yang menetralkan bisa gigitan ular atau laba-laba. Terdapat
beberapa anti racun; masing-masing bersifat aktif terhadap jenis bisa tertentu. Sebagai
contoh, anti bisa polivalen Crotalidae (equin) aktif terhadap bisa keluarga Crotalidae, yang
merupakan ular berbisa yang tinggal di lubang asli Amerika Utara, Tengah, dan Selatan.
Karena agens ini didapatkan dari serum kuda (sehingga dikenali sebagai benda asing oleh
sistem kekebalan manusia), efek samping yang signifikan seperti reaksi anafilaktik atau
anafilaktoid umum terjadi. Crotalide polyvalent immune Fab (Crofab) baru-baru ini disetujui
pemakaiannya oleh U.S Food and Drug Administration (FDA), suatu produk yang dihasilkan
dengan menggunakan proses pemurnian yang menghilangkan fragmen Fc dan hanya
meninggalkan fragmen Fab pada imunoglobulin. Khasnya, proses ini menghasilkan suatu
produk yang hanya menimbulkan sedikit reaksi pada manusia. Anti bisa (Lactrodectus
mactans; equin) tersedia untuk gigitan laba-laba black widow serta untuk keracunan akibat
gigitan ular koral Texas dan timur (Micrurus fulvius; equin). Namun, terdapat banyak gigitan
ular dan laba-laba yang tidak ada anti bisanya. Keracunan akibat salah satu spesies ini
ditangani dengan perawatan simtomatik dan suportif.

Obat / racun
Asetaminofen

Antidot untuk obat dan racun tertentu


Antidot
N-asetilsistein (Mucomis)

Antikolinergik

Fisostigmin (Antilirium)

Benzodiazepin

Flumazenil (Romazicon)

Agens penyekat beta

Glukagon

Penyekat saluran kanal kalsium

Glukagon, kalsium klorida

Karbon monoksida

Oksigen

Sianida

Lily Cyanide Antidote kit; amil nitrit,


natrium nitrit, dan natrium tiosulfat

Digoksin

Fragmen Fab spesifik-digoksin (Digibind)

Etilen glikol

Fomepizol (Antizol), etanol

Metanol

Fomepizol (Antizol), etanol

Nitrit

Metilen biru

Opioid

Nalokson (Narcan)

Insektisida organofosfat

Atropin, pralidoksim

Menurut Mansjoer, (1999). Penatalaksanaan kasus keracunan adalah sebagai berikut :

50

1. Penatalaksanaan kegawatan
Setiap keracunan dapat menganca, nyawa. Walupun tidak dijumpai adanya kegawatan,
setiap kasus keracunan harus diperlakukan seperti keadaan kegawatan yang mengancam
nyawa. Penilaian terhadap tanda vital seperti jalan napas / pernapasan, sirkulasi, dan
penurunan kesadaran harus dilakukan secara cepat dan seksama sehingga tindakan
resustasi yang meliputi ABC ( airway, breathing, circulatory ) tidak terlambat dimulai.
2. Penilaian klinis
Penatalaksanaan keracunan harus segera dilakukan tanpa menunggu hasil penapisan
toksikologi. Walaupun dalam sebagian kasus, diagnosis etiologi sulit ditegakkan, dengan
penilaian yang member arah kepada diagnosis etiologi. Oleh karena itu, pada kasus
keracunan, bukan hasil laboratorium toksikologi saja yang harus diperhatikan, standar
pemeriksaan kasus disetiap rumah sakit juga perlu dibuat untuk memudahkan penanganan
tepat guna. Beberapa keadaan klinis yang perlu mendapat perhatian karena dapat
mengancam nyawa ialah koma, kejang, henti jantung, henti nadas dan syok. Upaya yang
paling penting adalah anamnesis atau aloanamnesis yang rinci, beberapa pegangan
anamnesis yang penting dalam upaya mengatasi keracunan, ialah :
Kumpulkan informasi selengkapnya tentang seluruh obat yang digunakan, termasuk

yang sering dipakai.


Kumpulkan informasi dari anggota keluarga, teman, dan petugas tentang obat yang

digunakan.
Tanyakan dan simpan sisa obat dan muntahan yang masih ada untuk pemeriksaan

toksikologi.
Tanyakan riwayat alergi obat atau syok anafilaktik.

Pada pemeriksaan fisik diupayakan menemukan tanda / kelainan fungsi autonom


(sindrom autonom), yaitu pemeriksaan tekanan darag, nadi, dan ukuran pupil, keringat,
liur, dan aktivitas peristaltic usus. Misalnya, pada gejala simpatis akan ditemu8kan
delirium, paranoid, takikardi, hipertensi, hiperpireksia, diaphoresis, midriasis, hiperfleksi,
aritmia, dan kejang. Umumnya keadaan ini sering ditemukan pada keracunan kokain dan
amfetamin serta derivatnya. Efek utama obat hipnotik sedative dan psikotropik, sebagai
penyebab terbanyak kejadian keracunan, adalah pada sistem syaraf pusat dengan akibat
penurunan tingkat kesadaran dan depresi pernapasan. Fungsi kardiovaskular mungkin
juga terganggu, sebagian karena efek toksik langsung pada miokard dan pembuluh darah
perifer, dan sebagian lagi karena depresi pusat kardiovaskular di otak. Hipotensi yang
terjadi mungkin berat dan bila berlangsung lama dapat menyebabkan kerusakan ginjal.
Hipotermia terjadi bila ada depresi mekanisme pengaturan suhu tubuh. Gambaran khas

51

syok mungkin tidak tampak karena adanya depresi sistem syaraf pusat dan hipotermia.
Hipotermia yang terjadi akan memperberat syok, asidemia, dan hipoksia.
3. Dekontaminasi
Umumnya bahan kimia tertentu dapat dengan cepat diserap melalui kulit sehingga
dekontaminasi permukaan sangat diperlukan. Disamping itu, dilakukan dekontaminasi
saluran cerna agar bahan yang tertelan hanya sedikit diabsorpsi. Biasanya dapat diberikan
arang aktif, pencahar, obat perangsang muntah, dan bilas lambung. Induksi muntah atau
bilas lambung tidak boleh dilakukan dengan keracunan parafin, minyak tanah, dan hasil
sulingan minyak mentah lainya. Muntah hanya boleh di bangkitkan bila pasien sadar dan
berbaring pada sisi tubuhnya dengan kepala adak di rendahkan. Cara yang masih terbukti
sangat efektif untuk induksi adalah melalui perangsangan faring dengan memasukkan jari
atau tangkai sendok. Penggunaan larutan garam berbahaya dan tidak efektif. Bermacammacam obat, termasuk apormorfin, beberapa preparat tembaga dan sirop ipekak, telah
dianjurkan, terutama untuk anak-anak. Apomorfin dapat meneybabkan muntah yang
berlarut larut dan syok sehingga sebaiknya dihindaru. Bila zat yang ditelan sangat
bebahaya, mungkin masih diperlukan bilas lambung. Pada anak-anak, sirop ipekak adalah
satu-satunya obat yang diperlukan dan merupakan obat terpilij. Aspirasi dan bilas
lambung tidak dianjurkan dilakukan di luar rumah sakit. Prosedur ini hanya boleh
dilakukan bila pasien memiliki reflex batuk yang memadai, kesadaran menurun sedikit,
dan racun baru tertelan selama 4 jam. Kecuali dalam kasus keracunan salisilat dimana
lambung pasien harus dibersihkan kapan pun juga, atau keracunan antidepresan trisiklik
yang masih diperbolehkan terlambat sampai 8 jam, atau mungkin pada pasien sakit berat
yang kesadaranya sanagt menurun dan telah di intubasi, serta pada pasien yang kegiatan
gastrointestinalnya sangat melambat. Yang diperlukan untuk bilas lambung adalah air
hangat, kecuali untuk bayi kecil, dimana harud digunakan larutan garam fisiologis. Bila
pasien diperiksa segera setelah menelan racun, norit ( karbon aktif) yang diberikan per
oral mungkin efektif dalam mengurangi beratnya keracunan. Ini terutama berlaku
keracunan aspirin akut, barbiturat, glutetimid, prokposifen, etklorvinol, dan minyak tanah.
Kolestiramin oral juga telah terbukti mengurangi absorpsi parasetamol. Upaya lain untuk
mengeluarkan bahan/obat adalah dengan dialysis, tapi kadang-kadang peralatanya tidak
tersedia dirumah sakit, sehingga sebagai tindakan pengganti dapat dicoba dengan
pemberian diuretic.
4. Pemberian antidote/penawar

52

Tidak semua racun ada penawarnya sehingga prinsip utama adalah mengatasi keadaan
sesuai dengan besarnya masalah. Prinsip ini samgat diperlukan karena antidote belum
tentu tersedia setiap saat.
5. Terapi suportif, konsultasi, dan rehabilitasi.
Terapi suportif, konsultasi, dan rehabilitasi medic harus dilihat secara holistic dan efektif
dalam biaya, disesuaikan dengan kondisi tiap pelayanan kesehatan.
6. Observasi dan konsultasi
7. Rehabilitasi.

Menurut Smeltzer, (2001). Tujuan tindakan kedaruratan adalah menghilangkan atau


mang-inaktifkan racun sebelum diabsorsi, untuk memberikan perawatan pendukung, untuk
memelihara sistem organ vital, menggunakan antidot spesifik untuk menetralkan racun, dan
memberikan tindakan untuk mempercepat eliminasi racun terabsorpsi. Penatalaksanaan
umumnya adalah:
1. Dapatkan kontrol jalan napas, ventilasi, dan oksigenasi. Pada keadaan tidak ada
kerusakan serebral atau ginjal, prognosis pasien bergantung pada keberhasilan
penatalaksanaan pernapasan dan dan sistem sirkulasi.
a. Kaji ventilasi adekulat dengan observasi usaha ventilasi melalui analisis gas darah
atau spirometri
b. Kaji tanda vital kardiovaskuler dengan mengukur nadi, tekanan darah, tekanan
vena sentral, dan suhu (internal dan perifer)
c. Siapkan untuk ventilasi mekanik jika terjadi depresi pernafasan. Tekanan exsprirasi
positif diberikan pada jalan nafas . masker kantong dapat membantu menjaga
alveoli tetap mengembang
d. Berikan oksigen untuk depresi pernapasan, tidak sadar, sianosis dan syok
e. Cegah aspirasi isi lambung dengan posisi kepala pasien diturunkan, menggunakan
jalan napas oro-faring, dan pengisap
53

f. Stabilkan fungsi (kardiovaskuler) dan pantau EKG


g. Masukkan kateter urinarius tidak menetap untuk memantau fungsi ginjal
h. Dapatkan spesimen darah untuk tes konsentrasi obat atau racun
i. Pantau status neurologi (meliputi fungsi kognitif): pantau tanda vital dan status

1.

neurologik lanjut
j. Lakukan pemeriksaan fisik cepat
Coba untuk menentukan zat yang merupakan racun, jumlah, kapan waktu tertelan, gejala,
usia, berat pasien dan riwayat kesehatan yang tepat. Hubungi pusat kontrol racun di area
jika agens toksis tidak diketahui atau jika dibutuhkan mengindentifikasi antidote untuk

2.

agens toksis yang di ketahui.


Tangani syok yang tepat. Mungkin ini berhubungan dengan kerja kardio depresan dari
obat yang ditelan pengumpulan aliran vena di ekstremitas bawah, atau penurunan

3.

sirkulasi volume darah. Sampai dengan meningkatnya permeabilitas kapiler.


Hilangkan atau kurangi absorbsi racun. Gunakan prosedur pengosongan lambung sesuai
ketentuan; hal berikut mungkin menggunakan:
a. Sirup ipekak untuk merangsang muntah pada pasien sadar (jangan merangsang
muntah setelah menelan zat penyebab atau petroleum distilata)
b. Bilas lambung simpan aspirasi lambung untuk penyaringan toksikologi
c. Karbon diaktivasi diberikan jika racun adalah salah satu yang dapat diabsorbsi oleh

4.

karbon
d. Katartik, bila tepat
Berikan terapi spesifik. Berikan antagonis kimia yang spesifik atau antagonis fisiologik

5.

secepat mungkin untuk menubah atau menurunkan efek toksin.


Dukung pasien yang mengalami kejang. Racun mungkin memicu sistem saraf pusat atau
pasien mungkin mengalami kejang karena oksigen tidak adekuat.
7. Bantu dalam menjalankan prosedur untuk mendukung penghilangan zat yang ditelan jika
hal-hal diatas tidak efektif:
a. Diuresis untuk agens yang dikeluarkan lewat jalur ginjal
b. Dialisis
c. Hemuperfusi (proses melewatkan darah melalui sirkuit eksrakorporeal dan cartridge
containingan adsorbent (karbon atau resin),dimana setelah detoksifikasi darah
dikembalikan ke pasien).
d. Karbon dosis ganda
8. Pantau tekanan vena sentral sesuai indikasi
9. Pantau kaseimbangan cairan dan elektrolit
10. Menurunkan peningkatan suhu
11. Berikan anlgesik yang sesuai untuk nyeri: nyeri menyebabkan kolaps vasomotor dan
penghambatan refleks fungsi fisiologik normal.
12. Bantu mendapatkan spesimen darah,urine, isi lambung dan muntah
13. Berikan surveilens perawat yang konstan dan perhatihan pada pasien koma; koma karena
keracunan akibat gangguan fungsi sel otak atau metabolisme.
14. Pantau dan atasi komplikasi seperti hipotensi,disritmia jantung,dan kejang
54

15. Jika pasien dipulangkan, berikan bahan tertulis yang menunjukkan tanda dan gejala
masalah potensial dan prosedur untuk bantuan ulang.
a. Minta konsultasi dokter jiwa jika kondisi tersebut karena usaha bunuh diri
b. Pada kasus keracunan pencernaan yang tidak disengaja berikan pencegahan racun
dan instruksi pembersihan racun rumah pada pasien atau keluarga.
Pedoman Lavase Lambung
Lavase lambung adalah aspirasi isi lambung dan pencucian lambung dengan menggunakan
selang lambung. Lavesa lambung dikontraindikasikan setelah mencerna asam atau alkali,
pada adanya kejang, atau setelah mencerna hidrokarbon atau petroleum disuling. Ini terutama
berbahaya setelah mencerna agens korosif kuat.
Tujuan
1) Untuk pembuangan urgen substansi dalam upaya menurunkan absorpsi sistemik
2) Untuk mengosongkan lambung sebelum prosedur endoskopik
3) Untuk mendiagnosis hemoragi lambung dan menghentikan hemoragi
Peralatan
1.
2.
3.
4.
5.

Selang nasogastrik/diameter besar atau selang Ewald diameter besar.


Spuit pengirigasi besar dengan adapter
Saluran plasik besar dengan adapter untuk menghubungkan selang
Pelumas larut air
Air biasa atau antidote yang tepat ( susu, larutan, salin, larutan bikarbonat natrium, jus

jeruk, karbon teraktivitasi)


6. Wadah untuk aspirat
7. Gag mulut, selang nasotrakea atau endotrakea dengan cuf yang dapat dikembungkan
8. Wadah untuk spesimen
Prosedur keerja

Lepaskan gigi palsu dan inspeksi rongga mulut untuk adanya gigi lepas.
Rasional : mencegah respirasi gigi tak di sengaja
Ukur jarak antara batang hidung dan prosesus xiefodius, tandai selang denga p;asters
atau spidol
Rasional : jarak ini adalah pengukuran apakah mencapai lambung apa tidak
Lumasi selang dengan larut air
Rasional : pelumasan memudahkan insersi selang
Pasien di intubasi dengan selang nasotrakeal atau endotrakeal dengan cuf
Rasional : mencegah aspirasi isi lambung
Posisikan pasien posisi lateral kiri dan kepala di turunkan 15 kebawah
55

Rasional : posisi ini menurunkan isi lambung kedalam doedonum dan meminimalkan

aspirasi kedalam paru.


Masukkan selang dengan rute oral sambil mempertahankan kepala pada posisi netral.
Masukkan selang sampai tanda plester atau kira kira 50 cm setelah selang lafase
dimasukkan, kepala meja diturunkan sediakan penghisap yang siap pakai
Rasional : kedalam insersi selang akan bervariasi dengan ukuran pasien, bila selang di
masuki ke trakea bukan esofagus, pasien akan mengalami batuk, stridor dan sianosis.

Konfermasi positif pemasangan selang dapat dilakukan dg sinar x


Aspirasi isi lambung dengan spuir yang disambungkan keselang sebelum mengisi air
atau anti dot, simpan spesimen untuk analisis
Rasional : aspirasi dilakukan untuk menentukan bahwa selang ada dalm lambung dan
untuk mengeluarkan isi lambung. Konfirmasi positif penempatan selang dalam

sinarX.
Lepaskan spuit. Sambung keseluruh ujung selang, atau gunakan spuit 50ml untuk
memasukkan larutan lifase dalam selang lambung. Volume cairan yg dimasukkan
lambung sedikit
Rasional : pengisian berlebihan lambung dapat menyebabkan regurgitasi dan aspiran

atau kekuatan melalui pilurus


Tinggikan saluran diatas kepala pasien dan tuang kira-kira 150-300ml larutan
kedalam saluran dan turunkan saluran dan sedot isi lambung kedalam wadah
Rasional : cairan harus mengalir secara bebas dan mengalir karena gravitasi
Simpan sampel dari dua pencucian pertama
Rasional : pertahankan sampel pencucian pertama diisolasi dari pencucian lain dari
analisis toksikologik
Ulangi presedur lavase sampai aliran balik relatif bersih dan tidakn ada bahan partikel
yang terihat
Rasional : ini biasanya memerlukan volume total sedikitnya 2liter beberapa praktisi

menganjurkan penggunaan 5-20 liter


Pada penyelesaian lavase
a. Lambung mungkin masih kosong
b. Suatu adsorben (bentuk bubuk dari karbon teraktivasi dicampur dengan air untuk
membentuk larutan,konsistensi sup kental) dapat diisikan dalam selang dan dibiarkan
tetap dalam lambung
Rasional : karbon teraktivasi menurunkan absorpasi dengan adsorsi ( yang melekat
pada permukaanya) banyak subtansu; ini membuat racun tidak dapat masuk
sirkulasi,karenanya mengurangi toksisitasnya
c. Katartik dapat dimasukkan kedalam selang
Rasional : katartik dapat diberikan untuk memperlancar eliminasi materi sisa yang
tercerna
56

Pijat selama pengangkatan atau pertahankan pengisapan sambil selang ditarik


Rasional : pemijatan selang mencegah apirasi dan stimulasi rangsang menelan.
Mempertahankn kepala pasien lebih rendah dari tubuh juga membantu mencegah

merangsang refleks menelan


Ingatkan pasien bahwa fesesnya akan berwarna hitam karena karbon.

Perawatan umum Pasien Keracunan dan Overdosis. Menurut Morton, Fontaine,


Hudak, Gallo, (2011).
Obat/zat

Gambaran dan Pengkajian

Intervensi

Asetaminofren (APAP):

Klinis
Fase 1 (hingga 24 jam

Pencegahan absorpsi:

Antipiretik dan analgesic

pasca ingesti):

umum yang dijual bebas

anoreksia, mual,

Sering kali dijual sebagai


komponen kombinasi obat

malaise
Fase 2 (24-48 jam

nyeri, batuk, flu, dan tidur

pasca ingesti):

Contoh : obat yang dijual

gambaran klinis

bebas seperti Tylenol, Tylenol

membaik, peningkatan

Extended Relief, Tempra,

AST, ALT, dan

Liquiprin, Panadol, Excedrin

bilirubin total, masa

PM (difenilhidramin-APAP)

protrombine

dan obat kombinasi dengan

memanjang
Fase 3 ( 72-96 jam paca

zat terkontrol seperti

Toksisitas asetaminofren:
Hepatotoksisitas dan kadang

teramati
Koagulopati
Ikterus
AST dan ALT dapat

kala kerusakan fungsi ginjal,

meningkat menjadi

1-3 hari pasca ingesti

kisaran 10.000-20.000
IU/I dan kembali

Ambil kadar
asetaminofen pada 4
jam (atau kemudian
jika pasien dating
terlambat ke fasilitas
perawatan kesehatan),
gambarkan kadar di
monogram RumackMatthew untuk
menentukan apakah
ada pemberian antidote

hepatotoksitas biasanya

kodein-APAP (Tylenol#3),

Arang aktif

Laboratorium :

ingesti): puncak

oksikodon-APAP (Percocet),
hidrokordon-APAP (Vicodin)

diindikasikan
Penanganan :

Antidot: N-asetilsistein

(NAC, Mucomis)
Dosis beban: 140

mg/kg lewat oral


Dosis rumatan: 79

normal tanpa pasien

mg/kg lewat oral setiap

mengalami gejala sisa

4 jam selama total 17


57

jangka panjang.
Toksisitas kronis

dosis rumatan
Encerkan NAC

dijelaskan dengan

(larutan 20%) 3:1

gambling di literature

dengan meminum

medis

ringan atau jus


Ulang dosis yang

bukan rumatan dalam


1 jam, mungkin
membutuhkan dosis
antiemetic yang lebih
besar untuk

Amfetamin
Kelompok obat yang
digunakan untuk terapi
narkolepsi, terapi jangka
pendek kegemukan, dan
gangguan kurang perhatian
Sebagai obat yang
disalahgunakan, digunakan
untuk merangsang system
saraf pusat guna melawan
keletihan atau menyebabkan
rasa melayang
Amfetamin dengan peresepan
dan agens terkait: metilfenidat
(Ritalin), dekstroamfetamin

(Dexedrine), campuran garam


amfetamin (Adderall)
Nama bebas: speed, uppers,
crank, E, X, ektasi, ice,
crystal

Flushing
Diaphoresis
Gelisah
Rewel
Iritabilitas
Konfusi
Panic
Kejang
Perdarahan intracranial
Hipertensi
Takikardia
Nyeri dada
Infark miokard
Aritmia jantung
Palpitasi
Vasokonstriksi perifer
Mual
Muntah
Toksisitas amfetamin

mengendalikan muntah
Perawatan suportif
Pencegahan absorpsi :

Arang aktif

Laboratorium :

Pantau keadaan
elektrolit dan asam-

basa
Skrining obat dalam
urine dapat mendeteksi
amfetamin

Penanganan :

Pendinginan eksterna

untuk hipertermia
Benzodiazepine untuk

mengendalikan agitasi
Hipertensi berat

kronis dapat

dikontrol dengan

menyebabkan

nitroprusid (Nipride)

terjadinya paranoia

IV, pemakaian obat

atau halusinasi
Penyalahgunaan

lain dianjurkan
Perawatan suportif

amfetamin IV juga
dapat mengalami
58

komplikasi seperti
hepatitis, sepsis, abses,
Benzodiazepine
Agens anti-cemas, antikejang, relaksan, otot, dan
sedative
Contoh: alprazolam (Xanax),
klonazepam (Klonopin),
diazepam (Valium),

dan infeksi HIV


Depresi pernapasan
Perlindungan janin

napas/ refleks muntah


Letargi
Koma
Konfusi
Bicara pelo
Ataksia

Lorazepam (Antivan),

Pencegahan absorpsi:

Arang aktif

Laboratorium :

Skrining obat dalam


urine dapat mendeteksi
benzodiazepine

Penanganan :

midazolam (Versed)

Flumazenil
memulihkan depresi

Terutama menyebabkan

SSP dan pernapasan;

depresi SSP dan pernapasan,

berhubungan dengan

karena rendahnya tingkat

risiko memunculkan

toksisitasnya, kematian jarang

kejang terkontrol,

terjadi kecuali ditelan

flumazenil

bersama dengan depresan

dikontraindikasikan

SSP lain

jika ada potensi kejang


bersamaan yang
menyebabkan

Karbon Monoksida
Gas tidak berwarna dan tidak
berbau yang merupakan
komponen gas buang
kendaraan, gas alami atau
emisi pembakaran kayu, dan
polusi
Metilen klorida, suatu

Gejala mirip flu


Sakit kepala
Mual
Muntah
Sinkop
Keletihan
Kelemahan
Kurang konsentrasi
Iritabilitas
Nyeri dada, khususnya

overdosis
Pencegahan absorpsi:

Udara segar

Laboratorium :

Kadar
karboksihemoglobin

Penanganan :

Oksigen 100% sampai


semua tanda dan gejala

komponen yang ditemukan

pada orang yang

pada beberapa pengelupas

mempunyai penyakit

cat, dimetabolisme di tubuh

kardiovaskular

neurologis yang

menjadi karbon monoksida

sebelumnya

menyeluruh

membaik
Pemeriksaan

59

setelah dihirup atau ditelan

Kadangkala, perubahan

Terapi oksigen

Mengantikan oksigen di

ireversibel memori dan

hiperbarik (HBO)

hemoglobin, yang

kepribadian
Fetotoksisitas
Individu biasanya

untuk mengurangi

menyebabkan hipoksia
Diabsorpsi dengan cepat

waktu-paruh; namun,
akibat ketersediaan

melaporkan merasa

lewat inhalasi dan bergabung

bilik HBO tidak

lebih baik berada di

dengan cepat dengan

banyak, pemakaiannya

area karbon

hemoglobin karena afinitas

terbatas dan efikasinya

monoksida; misalnya,

yang lebih besar dibanding

tidak

jika pajanan terjadi di

oksigen

didokumentasikan

rumah karena

Kadar karbosihemoglobin

dengan baik oleh

pembakaran yang

janin kemungkinan 10-15%

salah, maka orang

lebih besar daripada kadar

penelitian
Perawatan suportif

tersebut sering kali

karbosihemoglobin ibu

akan melaporkan
penurunan atau
perbaikan gejala jika

Kokain
Obat terlarang yang
menghasilkan perasaan
sejahtera sementara pada
pengguna
Rute masuk: IV, mengendus,
merokok
Nama bebas: crack, rock,
coke, snow, blow
Efek racun terkait dengan
awitan cepat rangsang SSP
dan jantung

menjauh dari rumah


Takikardia
Hipertensi
Aritmia jantung
Nyeri dada
Infark miokard
Diseksi aorta
Infark usu
Hipertermia
Cemas
Kejang
Halusinasi taktil

(cocaine bugs)
Perdarahan otak
Infark otak
Rabdomiolisi
Awitan cepat efek

racun
Pada wanitan hamil,
solusio plasenta atau
kemungkinan abortus

Pencegahan absorpsi (untuk


ingesti kemasan):

Arang aktif
Irigasi usus-lengkap

Laboratorium :

Skrining obat dalam


urine mendeteksi
kokain:

benzoilekgonin
Enzim jantung sesuai
indikasi untuk
menyingkirkan
terjadinya infark
miokard

Penanganan:

Benziadiazepin seperti

60

Mengendus dalam

diazepam

jangka waktu lama,

(Valium)biasanya

perforasi septum

mengendalikan

hidung

hiperaktivitas,

Jika gambaran klinis tidak

hipertensi, takikardia,

konsisten dengan

kecemasan,

pemakaian kokain tunggal,

hipertermia, dan

kemungkinan dilakukan
percampuran, pengganti,

kejang
Fenobarbital mungkin
dibutuhkan jika kejang

ingesti-bersama, atau

tidak dapat

terjadi putus zat

dikendalikan dengan

benzodiazepanin.
Hipertermia yang
mengancam hidup
dapat dikurangi dengan

pendinginan eksterna
Pemantauan jantung
dan elektrokardiograf
12 sadapan digunakan
untuk mengevaluasi
aritmia dan iskemia

miokard
Pantau apakah ada
iskemia atau infark

Hidrokarbon Halogen

Iritasi mata, hidung,

dan tenggorokan
Batuk
Pusing
Disorentasi
Palpitasi
Konstriksi bronchial
Edema paru
Aritmia ventrikel

Agens yang digunakan


sebagai pembakaran dan
pendinginan
Freon, diklorodifluorometan
(Freon 12), dan
trikloromonofluorometan

organ lain
Berikan perawatan

suportif
Pencegahan absorpsi:

Udara segar

Laboratorium :

Tidak ada periksaan


laboratorium spesifik

Penanganan :

Lingkungan yang
61

(Freon 11) termasuk dalam

kategori ini

Kemungkinan frostbite
pada pajanan kulit

Pajanan terhadap kebocoran

tenang
Pemantauan jantung
Frostbite :
penghangatan ulang

air conditioner di rumah


tangga akibatnya kecil, yang

menyeluruh
Perawatan suportif

menyebabkan iritasi
sementara nata, hidung, dan
tenggorok, pusing dan
palpitasi
Pajanan yang lebih berat
seperti tumpahan di area
industry atau penyalahgunaan
dengan sengaja
(penghirupan) dikaitkan
dengan kemungkinan aritmia
jantung yang mematikan
(akibat sensitisasi miokard
terhadap katekolamin) dan
edema paru.
Heroin
Obat terlarang yang
menghasilkan euphoria
sementara pada pengguna
Rute masuk : IV, mengendus
Nama bebas: dope, smack,

Miosis
Penurunan kerja

Pencegahan absorpsi:

pernapasan
Penurunan tingkat

Laboratorium :

kesadaran
mengganggukangguk

junk

LSD
Nama umum: untuk obat
halusinogen asam lisergik
dietilamida

Kecemasan
Gangguan persepsi

warna
Gangguan penilaian
Paranoia atau

Tidak dapat dilakukan

Sesuai indikasi klinis


Skrining toksikologi
serum

Penanganan :

Pemberian nalokson

dengan hati-hati
Perujukan ke konselor

penyalahgunaan zat
Pencegahan absorpsi:

Arang aktif
Katartik

Laboratorium :

62

Obat yang sering

mempunyai ide

disalahgunakan sejak makin


terkenal pada tahun 1960 an
Obat terlarang: tersedia dalam
bentuk tablet, kapsul,
bongkahan gula, atau dalam
bentuk zat di bungkus isap
yang dikenal dengan kertas

penganiayaan
Distorsi waktu
Tekanan darah normal
Takikardia
Takipnea
Peningkatan suhu

ringan
Kilas balik
(kekambuhan

siap

Penanganan :

diazepam (Valium) IV

dapat bermanfaat
sembari mencoba
membantu pasien yang

setelah masa tidak

Selain menyebabkan

mengalami reaksi

memakai, dapat

pengalaman psikedelik, dapat

berulang selama

menimbulkan efek fisik

fase toksik akut

bertahun-tahun
Trauma akibat

atau oral
Lingkungan tenang
dan tidak merangsang

kemungkinan terjadi

kemenangan di pagi hari

Kecemasan akut dapat


ditangani dengan

sementara) yang

adalah menelan bubuk

Skrining obat dalam


urine

pengalaman psikedelik

Salah satu sumber LSD

trauma terkait perilaku selama

buruk
Evaluasi apakah ada

tanda trauma
Berikan perawatan

perubahan perilaku

suportif

yang terkait dengan


Methanol
Anti-beku dan larut yang
amat beracun
Bentuk sediaan: sebagian

pemakaian LSD
Penglihatan kabur
Penurunan ketajaman

penglihatan
Gambaran subjektif

cairan pencuci kaca jendela,


sterno canned heart, dan
komponen sebagian cat, zat
tambahan bensin, dan lak
mengancam hidup dan
kebutuhan ireversibel, yang
disebabkan oleh metabolic
racun, bukan metanolnya

Sirup ipekak
Lavase lambung
Arang aktif dan

penglihatan seakan-

katartik tidak terlalu

akan berjalan di badai

bermanfaat

salju
Edema retina
Hyperemia diskus

optikus
Sakit kepala
Vertigo
Letargi
Konfusi
Koma
Mual
Muntah

Efek racun : asidosis yang

Pencegahan suportif :

Laboratorium :

Kadar methanol
diperiksa 1 jam pasca

ingesti
Elektrolit serial
Jika menggunakan
terapi etanol, kadar
glukosa dan etanol
darah berkala dipantau
63

setiap jam pada

Nyeri abdomen
Asidosis metabolik

awalnya
Penanganan :

Penanganan bertujuan
mencegah
pembentukan
metabolit racun baik
dengan Antizol (4metilpirazol: 4-MP)

atau etanol
Hemodialisis biasanya
diindikasikan untuk
kadar methanol <50
mg/dl, perubahan
penglihatan, gagal
ginjal, atau asidosis

refraktorik
Pemberian asam folat
untuk membantu
oksidasi metabolit
racun asam format
menjadi karbon

Salisilat
Kelompok obat yang terutama
digunakan untuk kandungan
anti-inflamasi, anti-piretik,
dan analgesic
Sumber umum: aspirin,
beberapa formulasi Alka-

disertai asidosis

Seltzer, Aspergum,

metabolic (pada

PeptoBismol, tabir surya, obat


gosok seperti Icy Hot dan

Tinitus
Takipnea
Edema paru
Konfusi
Letargi
Kejang
Edema otak
Alkalosis respiratorik

awalnya)
Hipokalemia
Kerusakan fungsi

dioksida
Perawatan suportif
Pencegahan absorpsi:

Sirup ipekak
Lavase lambung
Arang aktif dosis-

ulang
Katartik dosis-tunggal

Laboratorium:

Kadar salisilat berkala


Elektrolit serial
Gas darah arteri sesuai

indikasi
Pemeriksaan
64

minyak wintergreen
( metilsalisilat)
Asidosis metabolic
mengancam hisdup, edema
otak, dan edema paru akibat
salisilisme

trombosit
Hipotrombinemia
Perdarahan pencernaan
Mual
Muntah
Hipertermia
Dehidrasi

hematologi dan
koagulasi
Penanganan :

Hidrasi IV
Ekskresi urine
ditingkatkan oleh

Ingesti aspirin sulit untuk

alkalinisasi urine (pH

ditangani akibat pembentukan

urine 7,5-8,0); cairan

massa aspirin di saluran cerna

IV biasanya D5W

yang disebut konkresi

dengan 20-40 mEq

Pembentukan konkresi

KCl dan dua hingga

menyebabkan perlambatan

tiga ampul natrium

absorpsi sehingga

bikarbonat per liter

memperlambat toksisitas

untuk diinfusikan pada

Salisilisme kronis lebih sering

kecepatan 2-3 ml/kg/

terjadi pada lansia dan mudah

jam guna mencapai

diabaikan akibat kurangnya

haluaran urine yang

pengkajian riwayat dengan

sama (Catatan: Sulit

seksama

untuk membasakan

Kadar salisilat yang tinggi

urine tanpa kadar

ditoleransi pada overdosis

kalium serium normal)


Kalium diganti lewat

akut yang berlawanan dengan

intravena sesuai

toksisitas kronis.

kebutuhan
Pantau awitan edema
otak atau paru, lakukan
foto dada sesuai

kebutuhan
Hemodialisis
diindikasikan untuk
gagal ginjal, edema
otak, edema paru,
asidosis refraktorik,
kadar salisilat kronis
65

>50 mg/dl, atau kadar


salisilat akut >100mg/

dl pasca ingesti
Berikan perawatan
suportif

Catatan : Penanganan
didasarkan pada kadar salisilat
berkala dan tampilan klinis;
tiap kasus dikaji dan ditangani
Antidepresan Trisiklik
(TCA)

Takikardia
Aritmia ventrikel

secara tersendiri
Pencegahan absorpsi:

Sirup ipekak

Kelas obay yang diresponkan

(termasuk takikardia

dikontraindikasikan

untuk depresi dan nyeri

ventrikel dan fibrilasi

karena awitan cepat

kronis contoh: amitriptilin

ventrikel)
Perlambatan konduksi

sedasi atau kejang


Lavase lambung
Arang aktif
Katartik

(Elavil), klomipramin

jantung (mis, QRS >

(Anafranil), desipramin
(Norpramin), doksepin
(Adapin, Sinequan),
imipramin (Tofranil),
nortriptilin (Pamelor,
Aventyl), protriptilin
(Vivactil), dan trimipramin
(Surmontil)

100mdtk)
Hipotensi
Agitasi
Sedasi
Kejang
Koma
Kulit kering, hangat
Penurunan motilitas

pencernaan
Retensi urine
Asidosis metabolik

Laboratorium

Kadar TCA serum


tidak bermanfaat
secara klinis dalam

menangani overdosis
Skrining obat dalam

urine untuk TCA


Elektrolit dan gas
darah arteri serial
sesuai indikasi

Penanganan

Siap-siap
kemungkinan
terjadinya awitan cepat

kolaps kardiovaskular
Kejang dapat ditangani
pada awalnya dengan
66

benzodiazepin
(diazepam, lorazepam)
intravena dan jika
perlu fenitoin
(Dilantin) dan

fenobarbital
Aritmia ventrikular
pada awalnya dapat
dikendalikan dengan
alkalinisasi sistemik
(mempertahankan pH
darah +7,45 7,55
dengan menggunakan
bolus intravena
natrium bikarbonat
atau intubasi dan
hiperventilasi); aritmia
ventrikel yang tidak
dapat dikendalikan
dengan alkalinisasi
sistemik mungkin
dapat dikendalikan
dengan lidokain atau
bretilium (Bretylol);
jangan menggunakan
prokainamid
(Pronestyl) atau
quinidin karena
efeknya pada konduksi
jantung sama dengan

efeknya pada TCA


Perlambatan konduksi
jantung (mis, QRS >
100mdtk) juga
67

ditangani dengan
alkalinisasi sistemik
seperti yang diuraikan
dipoin sebelumnya;
perlambatan konduksi
yang bukan merupakan
respons terhadap
alkalinisasi sistemik
dapat ditangani dengan

fenitoin
Hipotensi awalnya
dapat ditangani dengan
posisi Trendelenburg
dan cairan IV; jika
perlu, lanjutkan
dengan pemberian
infusi dopamin;
norepinefrin
(Levophed) mungkin

dibutuhkan
Berikan perawatan
suportif

Pedoman keperawatan kolaboratif untuk pasien keracunan kokain


Hasil
Intervensi
Oksigenasi / ventilasi
Pantau oksimetri nadi dan gas darah
Gas darah arteri dalam batas normal

arteri
Pastikan perubahan signifikan pada

Frekuensi dan kedalaman pernapasan dalam

oksimetri nadi dengan pengukuran

batas normal

saturasi arteri ko-oksimetri


Pantau setiap 15 menit, kemudian setiap

1 jam
Siapkan pemasangan intubasi dan

ventilasi mekanis
Pantau tanda vitak setiap 15 menit

Sirkulasi / perfusi

68

Tekanan darah, frekuensi jantung dalam batas


normal
Pasien bebas dari disritmia
Tidak ada tanda kerusakan fungki miokard,

kemudian 1 jam
Lakukan pemantauan EKG kontinu
Pantau EKG 12 sadapan setiap hari dan

PRN
Pantau enzim jantung, magnesium,

seperti perubahan EKG atau enzim jantung


Pasien eutermik

fosfor, kalsium, dan kalium sesuai

program
Kaji apakah ada nyeri dada
Pantau EKG apakah ada disritmia dan
perubahan yang konsisten dengan

munculnya infark miokard


Kaji suhu setiap 15-30 menit, kemudian

setiap 1 jam
Sediakan lingkungan yang sejuk dan
berikan tindakan pendinginan (mis,
selimut hipotermia, mandi spons hangat

Cairan / elektrolit

kuku), sesuai indikasi


Ukur asupan dan haluaran urine setiap 1

jam
Berikan cairan dan diuretik untuk

Haluaran urine pasien > 30 ml/jam (0,5


ml/kg/jam)

mempertahankan volume intravaskular


Tidak ada tanda ketidakseimbangan elektrolit
atau kerusakan fungsi ginjal

Mobilitas / keamanan
Tidak ada tanda aktivitas kejang
Pasien tidak melukai dirinya sendiri

dan fungsi ginjal per program


Pantau elektrolit setiap hari sesuai

program
Ganti elektrolit sesuai kebutuhan
Pantau BUN, kreatinin, osmolalitas

serum, dan elektrolit urine setiap hari


Pantau aktivitas kejang
Berikan anti-kejang
Kaji kadar anti-kejang setiap hari jika

diindikasikan
Pertahankan lingkungan tenang
Lakukan tindakan pencegahan kejang
Lakukan tindakan pencegahan jatuh
Kaji kebutuhan akan restrein fisik atau
kimiawi guna melindungi dari

mencederai diri
Pantau agitasi dan berikan sedasi jika
69

Integritas kulit

mungkin
Evaluasi risiko bunuh diri dan lakukan

tindakan untuk melindungi pasien


Dokumentasikan integritas kulit setiap 8

jam
Miringkan dan ubah posisi setiap 2 jam
Gunakan Skala Braden untuk mengkaji

risiko kerusakan kulit


Berikan nutrisi parenteral atau enteral

jika pasien puasa


Konsultasi dengan ahli gizi atau

layanan bantuan nutrisi


Pantau asupan protein dan kalori
Pantau albumin, prealbumin, transferin,

kolesterol, trigliserida, glukosa


Lakukan skrining toksikologi untuk

Tidak ada tanda kerusakan kulit

Nutrisi
Asupan kalori dan nutrisi memenuhi
kebutuhan metabolik sesuai perhitungan (mis,
pengeluaran energi basal)

Kenyamanan / pengendalian / nyeri


Pasien merasa sedikit tidak nyaman terkait

mengidentifikasi zat lain yang

dengan putus zat kokain dan zat lain

digunakan pasien
Tangani putus obat dan gejala overdosis

dengan cepat dan dengan intervensi


yang tepat (mis, singkirkan dari
sirkulasi, berikan antidot, berikan
Psikososial

metadon)
Kaji tanggapan pasien dan keluarga

terhadap overdosis
Dukung perilaku koping kesehatan
Konsultasi dengan konselor

penyalahgunaan zat dan pekerja sosial


Dorong diskusi dengan pasien terkait

Pasien dan keluarga memahami


penyalahgunaan zat

pemakaian obat terlarang, sistem


pendukung, masalah keuangan, dan
kesiapan untuk menjalani perawatan
Pendidikan / perencanaan pulang

penyalahgunaan zat
Kaji pengetahuan dan pemahaman

Pasien dan keluarga mendapatkan informasi

pasien dan keluarga mengenai

tentang terapi dan sumber swadaya

penyalahgunaan zat
Berikan literatur dan penjelasan pada

70

Pasien dan keluarga mempunyai rencana untuk

pasien dan keluarga mengenai

perawatanh lanjutan

penyalahgunaan zat, penanganan,


relaps, masalah hukum, dan kelompok

swabantu
Rujuk keluarga ke sumber swabantu
Jika pasien setuju, lakukan perujukanke

rehabilitasi penyalahgunaan zat


Koordinasi perujukan dengan pasien ,
keluarga, dan pekerja sosial guna
membahas kemungkinan masalah lain
(mis, tempat tinggal, masalah keuangan,
rencana asuhan jangka panjang).

2.8 PENGKAJIAN
Menurut Morton, Fontaine, Hudak, Gallo, (2011). Pendekatan sistematik yang
dilakukan fasilitas perawatan kesehatan terhadap pengkajian pasien keracunan atau overdosis
mencakup melakukan triase, mendapatkan riwayat pasien, melakukan pemeriksaan fisik, dan
menjalankan pemeriksaan laboratorium.
Triase
Meskipun beberapa tipe triase biasanya dilakukan di tempat kejadian atau oleh tim tanggap
darurat, triase selalu merupakan langkah pertama yang dilakukan di ruang gawat darurat. Dua
pertanyaan penting yang perlu dipertimbangkan dalam evaluasi triase adalah:
1. Apakah hidup pasien berada dalam bahaya serius?
2. Apakah hidup pasien terancam bahaya?
Jika hidup pasien berada dalam bahaya serius, tujuan penanganan yang dilakukan dengan
segera adalah stabilisasi dan evaluasi pasien serta penatalaksanaan jalan napas, pernapasan,
dan sirkulasi (ABC).

Riwayat
Riwayat pajanan pasien menyediakan kerangka kerja untuk menangani keracunan atau
overdosis. Hal penting yang perlu diperhatikan mencakup mengidentifikasi obat atau racun,
71

waktu dan lama pajanan, penanganan pertama yang diberikan sebelum tiba di rumah sakit,
alergi, dan proses penyakit yang mendasari atau cedera terkait. Informasi ini dapat diperoleh
dari pasien, anggota keluarga, teman, penolong, atau saksi mata. Pada beberapa kasus,
keluarga atau polisi mungkin perlu mencari rumah pasien guna mendapatkan petunjuk.
Pakaian dan benda pribadi dapat memberikan informasi tambahan.
Pengkajian difokuskan pada masalah yang mendesak seperti jalan napas dan sirkulasi yang
mengancam jiwa, adanya gangguan asam basa, keadaan status jantung, status kesadaran.
Riwayat kesehatan: riwayat keracunan, bahan racun yang digunakan, berapa lama diketahui
setelah keracunan, ada masalah lain sebagai pencetus keracunan dan sindroma toksis yang
ditimbulkan dan kapan terjadinya.

2.9 INTERVENSI KEPERAWATAN


1) Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan depresi pernapasan
Tujuan : Mempertahankan pola napas tetap efektif
Intervensi :
Observasi tanda-tanda vital
Rasional : Untuk mengetahui keadaan umum pasien dalam menentukan tindakan

selanjutnya
Observasi frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada
Rasional : Untuk mengetahui pola nafas, dan keadaan dada saat bernafas
Berikan O2 sesuai anjuran
Rasional : Terapi oksigen meningkatkan suplai oksigen ke jantung
Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi
Rasional : Untuk memberikan kenyamanan dan memberikan posisi yang baik untuk
melancarkan respirasi
Ajarkan pasien untuk napas dalam
Rasional : Untuk membantu melancarkan pernapasan
Jika pernapasan depresi, berikan oksigen (ventilator)
Rasional : Ventilator bisa membantu memperbaiki depresi jalan napas
Berikan kenyamanan dan istirahat pada pasien
Rasional : Kenyamanan fisik akan memperbaiki kesejahteraan pasien dan mengurangi
kecemasan, istirahat mengurangi komsumsi oksigen miokard

2) Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan kekurangan oksigen


Tujuan : Mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat
Intervensi :
Observasi adanya perubahan tanda-tanda vital
Rasional : Data tersebut berguna dalam menentukan perubahan perfusi
Observasi daerah ekstremitas dingin, lembab, dan sianosis
72

Rasional : Ekstremitas yang dingin, sianosis menunjukan penurunan perfusi jaringan


Berikan kenyamanan dan istirahat
Rasional : Kenyamanan fisik memperbaiki kesejahteraan pasien dan istirahat
mengurangi komsumsi oksigen
Observasi warna dan suhu kulit atau membran mukosa
Rasional : Untuk mengetahui apakah klien mempunyai alergi kulit
Evaluasi ekstremitas ada atau tidaknya kualitas nadi
Rasional : Untuk mengetahui apakah klien mengalami takikardi/bradikardi dan
kekuatan pada ekstremitas
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi antidotum
Rasional : Obat antidot sebagai penawar racun

3) Defisit volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan mual, muntah, dan diare
Tujuan : Mempertahankan volume cairan adekuat
Intervensi :
Awasi intake dan output, karakter serta jumlah feses
Rasional : Untuk mengetahui pemasukan dan pengeluaran kebutuhan cairan klien
Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan turgor kulit
Rasional : Untuk mengetahui apakah klien kekurangan cairan dengan mengamati

sistem integuman
Kolaborasi pemberian cairan paranteral sesuai indikasi
Rasional : Untuk memenuhi kebutuhan cairan pasien

2.10 PROGRAM DISCHARGE PLANNING


Menurut Morton, Fontaine, Hudak, Gallo, (2011). Salah satu intervensi yang dapat
dilakukan perawat di unit gawat darurat atau unit perawatan intensif adalah penyuluhan
preventif. Semua pasien (dan orang tua pasien anak) yang selamat dari keracunan harus
diajarkan cara mencegah berulangnyan kejadian tersebut. Orang tua anak yang masih kecil
membutuhkan informasi mengenai keamanan anak dirumah.
Pencegahan keracunan pada masa kanak-kanak
Simpan semua obat dan produk yang beracun di wadah aslinya dalam sebuah lemari

tertutup yang jauh dari jangkauan anak-anak


Baca label dengan cermat sebelum menggunakan obat atau produk yang beracun
Gunakan produk kimia yang beracun di area yang berventilasi baik
Jangan mencampur produk pembersih rumah tangga yang biasa digunakan
Identifikasi tanaman rumah yang beracun dan simpan bibit, umbi, daun, dan buah

tanaman tersebut jauh dari anak-anak


Jangan memperlakukan obat seperti permen
Ukur dan berikan obat ditempat yang berpenerangan baik guna menghindari

kesalahan
Gunakan boks bayi jika tersedia
73

Tutup kembali wadah dengan segera setelah mengukur dosis


Hancurkan semua obat lama dengan cara yang aman, seperti membilasnya kedalam

toilet
Simpan noemr telepon pusat pengendalian keracunan yang ditempelkan didekat

telepon
Jangan meminum obat didepan anak
Simpan semua produk rumah tangga dan obat di wadah aslinya. Jangan menaruh
bahan kimia di wadah makanan atau minuman kosong

Keracunan tidak disengaja pada pasien lansia


Pusat pengendalian keracunan mendapat banyak telepon dari atau terkait dengan

lansia berkenaan dengan keracunan tidak disengaja


Nomer telepon penyedia perawatan kesehatan da pusat pengendalian keracunan harus

disimpan ditempat yang mudah dilihat


Populasi lansia menggunakan obat lebih banyak dibanding kelompok lansia lain
Lansia mungkin lebih rentan terhadap efek obat-obatan
Ketika pertanyaan muncul mengenai obat-obatan, orang dewasa bertanggung jawab

sebaiknya tidak ragu-ragu menghubungi penyedia perawatan kesehatan


Pasien tidak boleh mengganti dosis atau menghentikan minum obat yang diresepkan

tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter atau perawat


Tidak disarankan untuk menggandakan obat jika lupa minum sebuah pil. Pasien

mencari bantuan dokter, perawat, atau apotekernya


Obat-obatan dan alkohol tidak boleh dicampur tanpa terlebih dahulu memeriksanya

dengan apoteker untuk mengetahui kemungkinan interaksi


Apoteker dapat memberikan label dengan cetakan besar
Kalender atau diary obat-obatan akan membantu lansia mengingat jadwal penentuan

dosis
Dispenser pil bermanfaat bagi pasien yang meminum berbagai pil atau yang

mempunyai kesulitan mengingat jadwal yang diprogramkan


Saat obat dihentikan pemakaiannya, sisa obat harus dibuang

Pencegahan
1. Masak masakan sampai benar-benar matang karena racun akan tidak aktif dengan
pemanasan makanan pada suhu 80oC selama 5 menit, selain itu spora juga tidak aktif
dengan pemanasan 120oC
2. Letakkan bahan-bahan kimia berbahaya di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan
anak-anak
3. Tandailah dengan jelas tiap kaleng yang berisi bahan berbahaya
4. Hindari pemakaian botol atau kaleng bekas
74

5. Kuncilah kotak penyimpanan racun dan obat-obatan


6. Perhatikan petunjuk tanggal dan masa kadaluarsa.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Tujuan tindakan kedaruratan adalah menghilangkan atau mang-inaktifkan racun
sebelum diabsorpsi, untuk memberikan perawatan pendukung, untuk memelihara sistem
organ vital, menggunakan antidot spesifik untuk menetralkan racun, dan memberikan
tindakan untuk mempercepat eliminasi racun terabsorpsi.
Pasien keracunan atau overdosis berat dapat membutuhkan pemantauan kontinu
selama beberapa jam atau beberapa hari setelah pajanan. Pemeriksaan fisik, penggunaan alat
diagnostik, dan pengkajian seksama tanda dan gejala klinis memberikan informasi mengenai
kemajuan pasien dan mengarahkan penatalaksanaan medis dan keperawatan.
Salah satu intervensi yang dapat dilakukan perawat di unit gawat darurat atau unit
perawatan intensif adalah penyuluhan preventif. Semua pasien (dan orang tua pasien anak)
yang selamat dari keracunan harus diajarkan cara mencegah berulangnyan kejadian tersebut.
Orang tua anak yang masih kecil membutuhkan informasi mengenai keamanan anak dirumah.

75

DAFTAR PUSTAKA

Morton, Patricia Gonce. Fontaine, Dorrie. Hudak, Carolyn M. Gallo, Barbara M.


2011. Keperawatan Kritis Pendekatan Asuhan Holistik Volume 2 Edisi 8. Jakarta.

EGC.
Kidd, Pamela S. Sturt, Patty Ann. Fultz, Julia. 2010. Pedoman Keperawatan

Emergensi Edisi 2. Jakarta. EGC.


Boswick, John A. Perawatan Gawat Darurat. 1988. Jakarta. EGC
Smeltzer, Suzanne C. Bare, Brenda G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah

Brunner & Suddarth Volume 3 Edisi 8. Jakarta. EGC.


Mansjoer, Arif. Triyanti, Kuspuji. Savitri, Rakhmi. Wardhani, Wahyu Ika. Setiowulan,
Wiwiek. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Fakultas Kedokteran UI Edisi 3 Jilid 1.
Jakarta. Media Aeculapius.

76