Anda di halaman 1dari 14

Nyeri Perut Bagian Bawah Disertai BAB dengan Darah Merah Segar

Pamela Vasikha
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana NIM 102013407
Jl. Arjuna Utara no. 6 Jakarta Barat
Pamelavasikha@yahoo.com

Abstrak
Inflammatory bowel disease (IBD) adalah penyakit inflamasi kronik yang melibatkan saluran
cerna, bersifat remisi dan relaps / kambuhan. IBD terdiri dari 2 jenis, yaitu kolitis ulseratif (KU) dan
penyakit Crohn (PC), tetapi bila sulit membedakan kedua penyakit tersebut maka dimasukan kedalam
kategori Indeterminate Colitis. Kolitis ulseratif adalah penyakit kronis dimana usus besar atau kolon
mengalami inflamasi dan ulserasi menghasilkan keadaan diare berdarah, nyeri perut, dan demam .
Sedangkan penyakit Crohn merupakan gangguan peradangan yang terus menerus dan melibatkan
semua lokasi pada traktus digestivus (traktus gastrointestinalis). Sampai saat ini penyebab dari
penyakit IBD belum diketahui dengan pasti. Terdapat 4 pemeriksaan penunjang untuk menegakan
diagnosis dari pada IBD yaitu pemeriksaan laboratorium, endoskopi / kolonoskopi, radiologi dan
pemeriksaan histopatologi. Untuk pengobatan, terdapat 3 jenis golongan obat yang biasa dipakai
untuk mengobati kasus IBD yaitu obat golongan kortikosteroid, golongan asam amino salisilat dan
obat golongan imunosupresif.
Kata kunci: IBD, Kolitis ulseratif, penyakit Crohn

Abstracts
Inflammatory bowel disease (IBD) is a chronic inflammatory disease involving the
gastrointestinal tract, is remission and relapse / recurrence. IBD consists of two types, namely
ulcerative colitis (KU / Ulserative Colitis), Crohn's disease (Crohn's disease), but when it is difficult
to distinguish the two diseases are then inserted into the indeterminate category Colitis. Ulcerative
colitis is a chronic disease in which the large intestine or colon is inflamed and ulcerated produce a
state of bloody diarrhea, abdominal pain, and fever. While Crohn's disease is an inflammatory
disorder that is ongoing and involves all locations in the digestive tract (gastrointestinal tract). Until
now the cause of inflammatory bowel disease is not known with certainty. There are 4 investigation to
uphold the diagnosis of IBD that laboratory examination, endoscopy / colonoscopy, radiological and
histopathological examination. For treatment, there are three types of classes of drugs commonly
used to treat cases of IBD are drugs known as corticosteroids, amino salicylic acid group and class of
immunosuppressive drugs.
Keywords: IBD, ulcerative colitis, Crohn's disease

Pendahuluan
Pada kasus skenario 3, seorang perempuan berusia 35 tahun datang dengan keluhan
BAB nya bercampur darah merah segar 4-5x sejak 3 hari SMRS. Sejak 3 minggu yang lalu
BAB nya encer 3-4x/hari disertai nyeri perut bagian bawah yang hilang timbul.
Inflammatory bowel disease (IBD) adalah penyakit inflamasi kronik yang melibatkan
saluran cerna, bersifat remisi dan relaps / kambuhan, dengan penyebab pastinya sampai saat
ini belum diketahui jelas. IBD terdiri dari 2 jenis, yaitu kolitis ulseratif (KU / Ulserative
Colitis), penyakit Crohn (Crohns disease), tetapi bila sulit membedakan kedua penyakit
tersebut maka dimasukan kedalam kategori Indeterminate Colitis.1
Kolitis ulseratif adalah penyakit kronis dimana usus besar atau kolon mengalami
inflamasi dan ulserasi menghasilkan keadaan diare berdarah, nyeri perut, dan demam. Kolitis
ulseratif dikarakteristikkan dengan eksaserbasi dan remisi yang intermiten dari gejala.
Sedangkan penyakit Crohn merupakan gangguan peradangan yang terus menerus dan
melibatkan semua lokasi pada traktus digestivus (traktus gastrointestinalis).
Anamnesis
Anamnesis merupakan waancara medis yang merupakan tahap awal dari rangkaian
pemeriksaan pasien, baik secara langsung pada pasien atau secara tidak langsung. Tujuan dari
anamnesis adalah mendapatkan informasi menyeluruh dari pasien yang bersangkutan.
Informasi yang dimaksud adalah data medis organobiologis, psikososial, dan lingkungan
pasien, selain itu tujuan yang tidak kalah penting adalah membina hubungan dokter pasien
yuang profesional dan optimal.2
Data anamnesis terdiri atas beberapa kelompok data penting:
1. Identitas pasien
2. Riwayat penyakit sekarang
- Adakah gejala sistemik penurunan berat badan, anoreksia, demam?
- Adakah gejala obstruksi usus (nyeri abdomen, muntah, konstipasi absoult atau
distensi abdomen)? Adakah perubahan kebiasaan BAB?
- Pernahkah ada hematemesis melena atau perdarahan rectal?3
3. Riwayat penyakit dahulu
4. Riwayat kesehatan keluarga
5. Riwayat pribadi, sosial-ekonomi-budaya
Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku, agama, status perkawinan,
pekerjaan, dan alamat rumah. Data ini sangat penting karena data tersebut sering berkaitan
dengan masalah klinik maupun gangguan sistem organ tertentu.
2

Keluhan utama adalah keluhan terpenting yang membawa pasien minta pertolongan
dokter atau petugas kesehatan lainnya. Keluhan utama biasanya diteluskan secara singkat
berserta lamanya, seperti menuliskan judul berita utama surat kabar. Misalnya badan panas
sejak 3 hari yang lalu.2

Pemeriksaan Fisik
Bila pasien tampil dengan nyeri abdomen , maka anamnesis suatu basis untuk
pembahasan kemungkinan diagnosik, dasar pemeriksaan fisik yang harus dilakukan dengan
cara tertib dan ssitematik. Empat gambaran utama pemeriksaan fisik mencakup: inspeksi,
auskultasi, palpasi, perkusi, sebagai berikut:
1. Inspeksi
Penampilan umum pasien bisa memberikan petunjuk tentang sifat penyakit.
Perubahan dalam keadaan mental, warna dan tumor kulit.3
2. Auskultasi
Auskultasi dilakukan dengan menggunakan stetoskop. Tujuan dilakukannya
auskultasi adalah untuk mendengarkan adanya bising usus atau tidak.
3. Perkusi
Perkusi pada lapangan abdomen mulai dari epigastrium.
4. Palpasi
Palpasi pada daerah organ abdomen.4

Pemeriksaan Penunjang
- Laboratorium
Sampai saat ini belum ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik sebagai dasar
diagnosis IBD maupun untuk membedakan KU dengan PC. Data laboratorium lebih banyak
berperan untuk menilai derajat aktivitas penyakit dan dampaknya pada status nutrisi pasien.
Parameter yang banyak dipakai adalah kadar hemoglobin, hematokrit, kadar besi serum untuk
menilai kehilangan darah dalam usus, laju endap darah untuk menilai aktivitas inflamasi serta
kadar albumin serum untuk status nutrisi, serta C reactive protein yang dapat dipakai juga
sebagai parameter aktivitas penyakit.5
Juga tidak terdapat perbedaan yang spesifik antara gambaran laboratorium PC dan
KU. Data laboratorium lebih banyak berperan untuk menilai derajat aktifitas penyakit dan
3

dampaknya pada status nutrisi pasien. Penurunan kadar Hb, Ht dan besi serum dapat
menggambarkan derajat kehilangan darah leawat saluran cerna. Tingginya laju endap darah
dan C reactive protein yang positif menggambarkan aktivitas inflamasi, serta rendahnya
kadar albumin mencerminkan status nutrisinya yang rendah.5
- Endoskopi
Endoskopi mempunyai peran penting dalam diagnosis maupun penatalaksanaan kasus
IBD. Akurasi diagnostic kolonoskopi pada IBD adalah 89% dengan 4% kesalahan dan 7%
hasil yang meragukan.5
Pada dasarnya KU merupakan penyakit yang melibatkan mukosa kolon secara difus
dan kontinyu, dimulai dari rectum dan menyebar ke proksimal. Sedangkan PC bersifat
transmural, segmental dan dapat terjadi di saluran cerna bagian atas, usus halus, ataupun
kolon.5
Kapsul endoskopi dapat dipakai untuk memvisualisasikan lumen usus halus pada PC,
tetapi harus dipetimbangkan risiko bila terdapat striktur usus halus dapat menimbulkan
retensi kapsul dan berdampak timbulnya obstruksi usus.1
Dari data kolonoskopi pada beberapa rumah sakit di Jakarta didapatkan bahwa lokasi
KU adalah 80% pada rectum dan rektosigmoid, 12% kolon sebelah kiri dan 8% melibatkan
seluruh kolon (pan-kolitis). Sedangkan PC, 11% terbatas pada ileum terminal, ileo-kolon
33%, dan kolon 56%. Ileo-saekal merupakan predileksi beberapa penyakit yaitu TBC,
amebiasis, PC, dan keganasan. Data di Jakarta memperlihatkan bahwa pada temuan lesi perkolonoskopik yang terbatas pada ileo-saekal disebabkan oleh 17,6% PC, 23,5% TBC, 17,6%
amebiasis, dan 35,4% colitis infektif.5
- Radiologi
Teknik pemeriksan radiologi kontras merupakan pemeriksaan diagnostic pada IBD
yang saling melengkapi dengan endoskopi. Barium kontras ganda dapat memperlihatkan
striktur, fistula, mukosa yang irregular, gambaran ulkus dan

polip, ataupun perubahan

distenbilitas lumen kolon berupa penebalan dinding usus dan hilangnya haustrae. Interpretasi
radiologi merupakan kontraindikasi pada KU berat karena dapat mencetuskan megakolon
toksik. Foto polos abdomen secara sederhana dapat mendeteksi adanya dilatasi toksik yaitu
tampak lumen usus yang melebar tanpa material feses di dalamnya. Untuk menilai
4

keterlibatan

usus halus dapat dipakai metode enterocolytis yaitu pemasangan kanul

nasogastrik sampai melewati ligamentum Treitz sehingga barium dapat dialirkan secara
kontinyu tanpa terganggu oleh kontraksi pylorus. Peran CT scan dan ultrasonografi lebih
banyak ditujukan pada PC dalam mendeteksi adanya abses ataupun fistula.5
- Histopatologi
Spesimen yang berasal dari operasi lebih mempunyai nilai diagnostic dari pada
specimen yang diambil secara biopsy per-endoskopik. Terlebih lagi bagi PC yang lesinya
bersifat transmural sehingga tidak dapat dijangkau dengan teknik biopsy per-endoskopik.
Gambaran khas untuk KU adalah adanya abses kripti, distorsi kripti, infiltrasi sel monoukleus
dan polimorfonuklear di lamina propia. Sedangkan pada PC adanya granuloma tuberkuloid
(terdapat 20-40% kasus) merupakan hal yang karakteritik disamping adanya infiltrasi sel
makrofag dan limfosit di lamina propia serta ulserasi yang dalam.5

Working Diagnosis (WD)


IBD dibagi menjadi 2 jenis yaitu Kolitis ulseratif dan penyakit Chron.
- Kolitis Ulseratif (KU)
KU adalah gangguan peradangan yang hanya terdapat di usus besar (colon).
Rektum hampir selalu terlibat (proktitis ulseratif) dan progresivitas menjalar ke arah
proksimal.

Sepertiga

kasus

KU

hanya

melibatkan

rectum

dan

sigmoid

(proktosigmoiditis), sebagian besar kasus melibatkan rectum sampai dengan fleksura


lienalis (left side colitis).Sebagian kecil terjadi pada seluruh bagian

kolon

(pancolitis).1,6
Derajat klinik KU dapat dibagi atas berat, sedang dan ringan, berdasarkan
frekuensi diare, ada / tidaknya demam, derajat beratnya anemia yang terjadi, dan laju
endap darah (klasifikasi Truelove)1
Tabel 1 Kriteria Truelove untuk KU5
Variabel
Diare/hari
Feses berdarah
Suhu (C)

Ringan
<4
Intermiten
Normal

Berat
>6
Sering
>37,5

Fulminan
>10
Selalu
>37,5C
5

Nadi/menit
Hemoglobin
Laju endap darah
Radiografi kolon

Normal
Normal
>30(mm/jam)

>90
<75% normal
>30 (mm/jam)
Udara edematous,

>90
Perlu transfuse
>30 (mm/jam)
Dilatasi

thumb printing
Abdominal tenderness Abdominal distension

Tanda klinik

and tenderness

Perjalanan penyakit KU dapat dimulai dengan serangan pertama yang berat


ataupun dimulai ringan yang bertambah berat secara gradual setiap minggu. Berat ringannya
serangan pertama sesuai dengan panjang kolon yang terlibat. Lesi

mukosa bersifat difus

dan terutama hanya melibatkan lapisan mukosa.1

- Penyakit Crohns (PC)


PC merupakan gangguan peradangan yang terus menerus dan melibatkan
semua lokasi pada traktus digestivus (traktus gastrointestinalis). Lebih kurang 35% terjadi di
ileo-caecal, 28% di usus halus, 32% hanya melibatkan kolon, 1-4% berada di gastroduodenal
dan 18% berlokasi di perianal. Karena melibatkan semua lapisan dinding usus, maka dapat
meningkatkan resiko perforasi maupun dalam proses kelanjutannya menimbulkan proses
fibrosis, fistulasi, abses, dan striktur.1,6
Pada PC, selain gejala umum diatas adanya fistula merupakan hal yang
karakteristik (termasuk perianal). Nyeri perut relative lebih mencolok. Hal ini disebabkan
oleh sifat lesi yang transmural sehingga dapat menimbulkan fistula dan obstruksi serta
berdampak pada timbulnya bacterial overgrowth.1

Differential Diagnosis (DD)


- Divertikulitis
Penyakit divertikulitis merupakan perforasi dari divertikulum yang diikuti
oleh infeksi dan inflamasi yang menyebar ke dinding kolon, epiploic appendage,
mesenterium organ-organ sekitar atau mikro / makro perforasi bebas ke kavum peritoneum.
Gejala dari penyakit diverkulitis adalah nyeri perut pada kuadran kiri bawah, demam, dan
leukositosis yang merupakan gejala penting walaupun tidak spesifik. Pada diverticulitis dapat
6

terjadi inflamasi dalam berbagai tingkat, mulai dari inflamasi local subklinis sampai terjadi
peritonitis generalisata akibat perforasi sebagai komplikasi. Komplikasi akibat divertikulitis
dapat terjadi pada 25% kasus berupa plegmon, abses, perdarahan, perforasi berupa
makro/mikro perforasi, obstruksi usus dan fistula.1
- Kolitis Infeksi
Merupakan peradangan kolon yang disebabkan oleh Entamoeba histolytica.
Gejala klinis pasien amebiasis sangat bervariasi, mulai dari asimtomatik sampai berat dengan
gejala klinis menyerupai colitis ulseratif. Beberapa jenis keadaan klinis pasien amebiasis
adalah sebagai berikut :
a. Carrier : ameba tidak mengadakan infasi kedinding usus, tanpa gejala, atau hanya
keluhan ringan seperti kembung, flatulensi, obstipasi, kadang-kadadng diare.
Sembilan puluh persen pasien sembuh sendiri dalam waktu satu tahun, sisanya
(10%) berkembang menjadi colitis ameba.
b. Disentri ameba ringan : kembung, nyeri perut ringan, demam ringan, diare ringan
dengan tinja berbau busuk serta bercampur darah dan lender, keadaan umum
pasien baik.
c. Disentri ameba sedang : kram perut, demam, badan lemah, hepatomegali, dengan
nyeri spontan
d. Disentri ameba berat : diare yang disertai banyak darah, demam tinggi, mual,
anemia
e. Disentri ameba kronik : gejala menyerupai disentri ameba ringan, diselingi dengan
periode normal tanpa gejala, berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun,
neurasthenia, serangan diare biasanya timbul karena kelelahan, demam atau
makanan yang sukar dicerna.
Diagnosis. Terdapat eritrosit dalam tinja, pemeriksaan kemudian dilanjutkan
dengan pemeriksaan tinja segar yang diberi garam larutan fisiologis, dilakukan
minimal 3 spesimen tinja yang terpisah untuk menemukan adanya bentuk trofozoid.
Colitis amebic sangat perlu dibedakan dengan colitis ulserosa atau colitis crohn
karena pemberian kortikosteroid pada colitis amebic menyebabkan penyebaran
organism dengan cepat dan dapat menimbulkan kematian pasien.7
- TB Abdomen

Infeksi saluran cerna dengan bakteri Mycobacterium Tuberkulosis paling


sering mengenai daerah ileo-sekal dan biasanya diketaui pada pasien yang diperiksa karena
dugaan keganasan atau penyakit peradangan usus.8
Gejala klinis dapat bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Tb abdominal
dapat timbul secra kaut, kronik maupun acute on chronic. Keluhan umumnya adalah nyeri,
gejala konstitusional berupa demam, berat badan turun, diare dan konstipasi. Nyeri perut
dapat berupa kolik bila terjadi gangguan pada lumen, bisa juga nyeri visceral yang bersifat
tumpul dan menetap bila mengenai kelenjar getah bening mesenterium. Keluhan lain adalah
batuk, demam, keringat malam, anoreksia, kelelahan, berat badan menurun, dan diare. Tb
usus dapat memberikan keluhan yang bervariasi berdasarkan lokasinya yaitu:5

Tb esophagus : demam ringan, disfagia, odinofagia, ulkus. Gejala ini mirip

dengan karsinoma esophagus


Tb gastroduodenale : gejala yang ditimbulkan mirip dengan ulkus peptic

namun riwayat keluhan lebih singkat dan tidak respon terhadap obat antiasam.
Tb ileosekal (merupakan yg terbanyak) : gejala umum nyeri kolik dan muntah.
Dapat ditemukan masa dikuadran kanan bawah. Komplikasi yang terjadi
adalah obstruksi, perforasi, dan malabsorbsi
Tb kolonik segmental : yaitu Tb yang mengenai kolon tanpa melibatkan

ileosekal. Umumnya mengenai sigmoid, kolon asendens dan kolon


transversum. Keluhan tersering adalah nyeri dan perdarahan. Perdarahan
masih jarang terjadi, yang paling sering adalah demam, anoreksia, berat badan
turun dan perubahan pola buang air besar.
Tb rectal anal (jarang ditemukan) : keluhan utama Tb rectal adalah

hematokezia, gejala konstitusional, dan konstipasi.


Etiologi
Sampai saat ini belum diketahui etiologi IBD yang pasti maupun penjelasannya yang
memadai mengenai pola distribusinya.1

Epidemiologi
Inflammatory Bowel Disease merupakan penyakit dengan kekerapan tinggi di
Negara-negara Eropa atau Amerika. Penyakit IBD cenderung mempunyai puncak usia yang
terkena pada usia muda (umur 25-30 tahun) dan tidak terdapat perbedaan bermakna antara
8

perempuan dan laki-laki. Selain adanya perbedaan geografis di atas, tampaknya orang kulit
putih lebih banyak terkena disbanding kulit hitam. IBD cenderung mengenai pada kelompok
social tinggi, bukan perokok, pemakai kontrasepsi oral dan diet rendah serat.1
Tidak dapat disangkal bahwa faktor genetik memainkan peran penting dengan adanya
kekerapan anak kembar dan adanya keterlibatan familial. Secara umum diperkirakan bahwa
proses patogenis IBD diawali oleh adanya toksin, infeksi, produk bakteri, atau diet
intralumen kolen, yang terjadi pada individu yang rentan dan dipengaruhi oleh factor genetik,
defek imun, lingkungan, sehingga terjadi kaskade proses inflamasi pada dinding usus.1
Belum ada data prevalensi dan insidensi IBD di Indonesia. Bila bertitik tolak pada
data endoskopi di Sub-bagian Gastroenterologi RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, di 20
kasus KU dan 10 kasus PC dari 700 pemeriksaan kolonoskopi atas berbagai indikasi. Data di
masyarakat mungkin lebih tinggi daripada data yang ada di rumah sakit, mengingat sarana
endoskopi belum tersedia merata di pusat pelayanan kesehatan di Indonesia. Pada studi
prospektif di beberapa rumah sakit di Jakarta pada kasus yang dilakukan kolonoskopi atas
indikasi diare kronik, hematokezia, dan nyeri perut kronik (total 451 kasus), didapatkan KU
sebanyak 5,5 %, PC 2,0 %, dan 2,4 % indeterminate colitis.1
Gejala Klinis
Diare kronik yang disertai atau tanpa darah dan nyeri perut merupakan
manidestasi klinis IBD yang paling umum dengan beberapa manifestasi ekstra intestinal
seperti arthritis, uveitis, pioderma gangrenosum, eritema nodosum, dan kolangitis. Di
samping itu tentunya disertai dengan gambaran keadaan sistemik yang timbul sebagai
dampak keadaan patologis yang ada seperti gangguan nutrisi. Gambaran klinis KU relative
lebis seragam dibandingkan gambaran klinis pada PC. Hal ini disebabkan distribusi anatomic
saluran cerna yang terlibat pada KU adalah kolon, sedangkan pada PC lebih bervariasi yaitu
dapat melibatkan atau terjadi pada semua segmen saluran cerna, mulai dari mulut sampai
anorektal.1
Tabel 2. Gambaran Klinis IBD1
Colitis Ulseratif

Penyakit Chorn

++

++

++

Gejala dan tanda :


o Diare kronik
o Perdarahan per anum
o Nyeri perut

o
o
o
o
o
o
o

Adanya massa intraabdomen


Terjadinya fistula
Timbul striktur/stenosis usus
Keterlibatan usus halus
Keterlibatan rectum
Menifestasi ekstraintestinal
Komplikasi megakolon toksik

++

++

+/-

++

++

+/-

++

95%

50%

+/-

++

+/-

++

50%

++

+/-

++

Patologi :
o
o
o
o
o

Lesi bersifat segmental


Bersifat transmural
Didapatkan granuloma
Terjadi proses fibrosis
Terjadi fistula

Ket : (++) Sering, (+) Kadang-Kandang, (+/-) Jarang, (0) Tidak


Perjalanan klinik IBD ditandai oleh fase aktif dan remisi. Fase remisi ini dapat
disebabkan oleh pengobatan tetapi tidak jarang dapat terjadi spontan. Dengan sifat perjalanan
klinik IBD yang kronik-eksaserbasi-remisi, diusahakan suatu criteria klinik sebagai gambaran
aktivitas penyakit untuk keperluan pedoman keberhasilan pengobatan maupun menetapkan
fase remisi.1
Terdapat tiga tipe klinis kolitis ulseratif yang sering terjadi, yang dikaitkan dengan
seringnya gejala. Kolitis ulseratif akut fulminan ditandai dengan awitan mendadak dan
disertai pembentukan terowongan dan pengelupasan mukosa, menyebabkan kehilangan
banyak darah dan mukus. Jenis kolitis ini terjadi pada sekitar 10% penderita.1
Bentuk ringan penyakit ditandai oleh serangan singkat yang terjadi dengan interval
berbulan-bulan sampai bertahun-tahun dan berlangsung selama 1-3 bulan. Mungkin hanya
terdapat sedikit atau tidak ada demam atau gejala- gejala konstitusional, dan biasanya hanya
kolon bagian distal yang terkena. Demam atau gejala sistemik dapat timbul pada bentuk yang
lebih berat dan serangan dapat berlangsung selama 3-4 bulan, kadang-kadang digolongkan
sebagai tipe kronik kontinyu, penderita dibandingan dengan tipe intermiten, kolon yang
terkena cenderung lebih luas dan lebih sering terjadi komplikasi terus-menerus diare setelah
10

serangan permulaan. Pada kolitis ulseratif ringan, diare mungkin ringan dengan perdarahan
ringan dan intermitten. Pada penyakit yang berat defekasi dapat lebih dari 6 kali seharidisertai
banyak darah dan mukus. Kehilangan banyak darah dan mukus yang kronik dapat
mengakibatkan anemia dan hipoproteinemia. Nyeri kolik hebat ditemukan pada abdomen
bagian bawah dan sedikit mereda setelah defekasi. Sangat sedikit kematian yang disebabkan
penyakit ini tapi dapat menimbulkan cacat ringan atau berat.1

Patofisiologi
- Kolitis ulseratif
Pada KU, patofisiologi yang mendasari adalah konsep imunologik yang disebut
GALT (gut-associated lymphoid tissue) atau sistem imun mukosa usus besar (SIMUB) yang
terpicu oleh intervensi antigen yang berasal dari komponen nutrisi atau gen infeksi. Konsep
ini bersifat individual, dimana antigen muncul di dinding mukosa usus besar (DMUB)
menghasilkan aktivasi substan pembawa pesan peradangan khusus di usus besar (T helper 2),
disebut sitokin dan oleh faktor pemicu peradangan sekunder menimbulkan kerusakan dari
DMUB.9
- Penyakit Crohn
Sistem imunitas tubuh pada penderita PC (sel limfoid T helper 1) bereaksi
abnormal terhadap bacteria, makanan, dan substansi lain yang dianggap sebagai benda asing,
dipresentasikan oleh Antigen Presenting Cells (APC). Sistem imunitas tersebut memberikan
respons menyerang untuk setiap antigen pada APC. Selama proses ini, sel-sel darah putih
(leukosit) berakumulasi di sepanjang lapisan dalam usus (intestine) dan merangsang
terjadinya inflamasi kronis dengan akibat terjadinya ulserasi, perlukaan usus dan scar
formation (pembentukan jejas) pada jaringan usus.10
Komplikasi
Dalam perjalanan penyakit ini, dapat terjadi komplikasi:1,11

Perforasi usus yang terlibat


Terjadinya stenosis usus akibat proses fibrosis
Megakolon toksik (terutama pada KU)
Perdarahan

11

Degenerasi maligna. Diperkirakan resiko terjadinya kanker pada IBD lebih kurang
13%.

Tata Laksana
- Medika mentosa
Metronidazol cukup banyak diselidiki dan cukup bermanfaat pada PC dalam
menurunkan derajat aktivitas penyakitnya. Sedangkan pada KU jarang digunakan antibiotik
sebagai terapi terhadap agen pro-inflamasinya.
a. Obat golongan kortikosteroid
Sampai saat ini glukokortikoid merupakan obat pilihan untuk PC (semua
derajat) dan KU derajat sedang berat. Pada umumnya pilihan jatuh pada prednisone,
metilprednisolon (keduanya bentuk oral) atau hidrokortison enema. Pada keadaan
berat dapat diberikan secara parenteral. Dengan tujuan memperoleh konsentrasi
steroid local di usus yang tinggi dengan efek sistemik (dan efek sampan) yang renda,
telah dicoba golongan glukokortikoid non-istemik untuk pengobatan IBD. Aplikasi
rectal/enema diprioritaskan pada KU distal, sedangkan untuk PC dipakai preparat oral
lepas lambat. Termasuk golongan ini antara lain budesonid oral/enema. Dosis rata-rata
yang banyak digunakan adalah setara prednisone 40-60 mg per hari dan bila remisi
telah tercapai dilakukan tapering dose dalam waktu 8-12 minggu.1,5
b. Obat golongan asam amino salisilat
Pemakaian aminosalisilat telah lama mapan pada pengobatan IBD. Preparat
Sulfasalazin (ikatan azo dari sulfapiridin dan aminosalisilat) di dalam usus akan
dipecah menjadi sulfapirin dan 5 amino salicylic acid (5-ASA). Telah diketahui
bahwa yang bekerja sebagai anti-inflamasi pada IBD adalah 5-ASA. Saat ini tersdia
preparate 5-ASA murni, baik dalam bentuk lepas lambat pada ph >5 (di Indonesia
Salofalk) maupun ikatan diazo. Baik sulfasalazin maupun 5-ASA mempunyai
efektifitas yang relative sama pada IBD, hanya dilaporkan efek samping yang terjadi
diakibatkan komponen sulfapiridin. Dosis oral rata-rata yang banyak digunakan
adalah 2-4 gram per hari, yang kemudian dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan
sesuai dengan kondisi pasien.1,5
c. Obat golongan imunosupresif

12

Bila dengan 5-ASA dan glukokortikoid gagal dicapai remisi, alternative lain
adalah

penggunaan

obat

imunosupresif

seperti

6-merkaptopurin

(1,5

mg/KgBB/hari/oral), azatioprin, siklosporin, dan metotreksat.


Surgikal. Peran surgical bila pengobatan konservatif/medikamentosa gagal
atau terjadinya komplikasi (perdarahan, obstruksi ataupun megakolon toksik).1,5

- Non-medika mentosa
Beberapa konstituen diet yang harus dihindari karena mencetuskan serangan
(seperti wheat, cereal yeast, dan produk peternakan), terdapat konstituen yang bersifat anti
oksidan yang dalam penelitian terbatas terlihat bermanfaat pada kasus IBD yaitu glutamine
dan asam lemak rantai pendek. Mengingat penyakit ini bersifat kronik eksaserbasi, edukasi
pada pasien dan keluarganya mempunyai peranan penting.1,5
Prognosis
Pada dasarnya, penyakit IBD merupakan penyakit yang bersifat remisi dan eksaserbasi.
Cukup banyak dilaporkan adanya remisi yang bersifat spontan dan dalam jangka waktu
lama. Prognosis banyak dipengaruhi oleh ada tidaknya komplikasi atau tingkat respon
terhadap pengobatan konservatif.1
Kesimpulan
Inflammatory bowel disease (IBD) merupakan istilah yang digunakan untuk
mendeskripsikan 2 jenis kelainan idiopatik yang berkaitan dengan inflamasi traktus
gastrointestinal , yaitu Kolitis Ulserativa dan Penyakit Crohn. Kolitis ulseratif adalah
penyakit kronis dimana usus besar atau kolon mengalami inflamasi dan ulserasi
menghasilkan keadaan diare berdarah, nyeri perut, dan demam. Sedangkan penyakit Crohn
merupakan gangguan peradangan yang terus menerus dan melibatkan semua lokasi pada
traktus digestivus (traktus gastrointestinalis). Sampai saat ini penyebab dari penyakit IBD
belum diketahui dengan pasti. Terdapat 4 pemeriksaan penunjang untuk menegakan diagnosis
dari pada IBD yaitu pemeriksaan laboratorium, endoskopi / kolonoskopi, radiologi dan
pemeriksaan histopatologi. Untuk pengobatan, terdapat 3 jenis golongan obat yang biasa
dipakai untuk mengobati kasus IBD yaitu obat golongan kortikosteroid, golongan asam
amino salisilat dan obat golongan imunosupresif.

13

Daftar Pustaka
1. Djojoningrat D. Inflammatory bowel disease: Alur diagnosis dan pengobatannya di
Indonesia. Dalam : Sudoyo A W, Setioyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 6 Jilid 2. Jakarta: Pusat Penerbit Ilmu Penyakit Dalam FKUI;
2011.hlm.1814-22.
2. Pusat Penerbit Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Penuntun anamnesis dan pemeriksaan fisis. Jakarta; 2005.

3. Rahmalia A. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Diterjemahkan dari Gleadle J.


History and examination at a glance. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2011.h.162.
4.Uliyah M, Hidayat AAA. Praktikum keterampilan dasar praktik klinik: aplikasi dasar-dasar
praktik kebidanan. Jakarta: Salemba Medika;2008.h.30.
5. Ndraha S. Penyakit inflamasi kolon. Dalam : Bahan Ajar Gastroenterohepatologi. Edisi 1.
Jakarta: Biro Publikasi Fakultas Kedokteran UKRIDA; 2013.hlm.59-67.
6.

Lubis

DA.

Inflammatory

bowel

disease..

Diunduh

dari

http://ikaapda.com/resources/GEH/Reading/Inflammatory-Bowel-Disease.pdf, 17 Mei 2015.


7. Qesman N. Kolitis infeksi. Dalam : Sudoyo A W, Setioyohadi B, Alwi I, Simadibrata M,
Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5 Jilid 1. Jakarta: Pusat Penerbit Ilmu
Penyakit Dalam FKUI; 2011.hlm.560-561
8. Ronardy HD. Buku saku diagnosis dan terapi. Diterjemahkan dari Hayes PC, Mackay TW.
Churchills pocketbook of medicine. Jakarta: EGC;1997.h.142.
9. Lelosutan SAR. Kolitis ulseratif. Dalam: Rani A, Simadibrata M, Syam AF, penyunting.
Buku ajar gastroenterologi. Edisi ke-1. Jakarta: Interna Publishing;2011.h.434-9.
10. Lelosutan SAR. Penyakit Crohn. Dalam: Rani A, Simadibrata M, Syam AF, penyunting.
Buku ajar gastroenterologi. Edisi ke-1. Jakarta: Interna Publishing;2011.h.427-33.
11. Betz C L, Sowden LA. Buku saku keperawatan pediatric. Edisi 5. Jakarta :EGC ;2009.
hlm.219-22.

14