Anda di halaman 1dari 13

PERBEDAAN PENGARUH TERAPI MUSIK KLASIK TERHADAP

INTENSITAS NYERI MENSTRUASI PADA REMAJA PUTERI


DI SMA 23 BANDUNG
Ikeu Nurhidayah, M.Kep.,Sp.Kep.An1 Yeti Hernawati, S.ST., M.Keb2
Emelba S. Yoggi, S.Kep3 123Program Studi S1 Ilmu Keperawatan
STIKes Dharma Husada Bandung Jl. Terusan Jakarta No 75

ABSTRAK

Kejadian Menstruasi di Indonesia sebesar 64,25% yang terdiri dari 54,89% Menstruasi
primer dan 9,36% Menstruasi skunder. Salah satu intervensi untuk menurunkan
intensitas nyeri menstruasi tersebut dengan cara terapi musik klasik. Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasikan perbedaan pengaruh terapi musik klasik terhadap
intensitas nyeri menstruasi pada remaja puteri di SMA 23 Bandung. Jenis penelitian
Quasy Experiment dengan rancangan penelitian pretest-posttest one group desain. Jumlah
sampel yang digunakan dengan teknik purposive sampling yaitu sebanyak 20 orang.
Pengumpulan data yang digunakan yaitu kuesioner Face Pain Scale. Analisis pada
penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon test. Hasil penelitian menunjukan, Intensitas
nyeri menstruasi sebelum intervensi didapatkan median 7,00 dan rata-rata intensitas nyeri
nilai minimum 4,00 dan maksimal 10,00. sesudah intervensi nilai median sebesar 4,00
dan didapatkan nilai minimum 2,00 dan sesudah intervensi 7,00. Terdapat pengaruh
intensitas nyeri sebelum dan sesudah terapi musik klasik p-value=0,000. Diharapkan bagi
remaja puteri dengan terapi musik klasik ini dapat digunakan selalu diluar aktivitas remja
puteri dalam menurunkan intensitas nyeri menstruasi.
Kata Kunci

Intensitas Nyeri Menstruasi, Terapi Musik Klasik, Remaja Puteri

STIKes Dharma Husada Bandung

PENDAHULUAN
Pada masa menstruasi terjadi atau
disebut dengan menarche akan terjadi
pengeluaran darah lendir, dan jaringan
sel yang hancur dari uterus secara
berkala, dimana siklus menstruasi terjadi
28 sampai 35 hari (Hurlock, 2010). Saat
terjadi menstruasi kebanyakan remaja
puteri mengalami nyeri saat menstruasi
. Penyebab nyeri belum diketahui secara
pasti sampai sekarang belum jelas.
Secara umum, nyeri menstruasi timbul
akibat kontraksi disritmik miometrium
yang menampilkan satu gejala atau
lebih, mulai dari nyeri yang ringan
sampai berat di perut bagian bawah,
bokong, dan nyeri spasmodik di sisi
medial paha (Dwiyanto, 2010)
Pubertas adalah masa awal periode
dalam rentang kehidupan individu yaitu
masa remaja. Masa remaja adalah masa
transisi antara masa anak-anak ke masa
dewasa, remaja akan mengalami
pubertas,
dimana
remaja
akan
mengalami pematangan seksual, yakni
suatu periode seseorang mengalami
perubahan fisik, hormonal, dan seksual
serta mampu mengadakan proses
reproduksi. Kadar hormon luteinizing
hormon (LH) dan follicle stimulating
hormone (FSH) akan meningkatkan
pada masa remaja, sehingga merangsang
pembentukan
hormon
seksual,
peningkatan kadar hormon tersebut
menyebabkan pematangan payudara,
ovarium, rahim dan vagina, serta
dimulainya siklus menstruasi khususnya
pada remaja putri. Walaupun begitu,
pada kenyataannya banyak remaja puteri
yang mengalami masalah menstruasi,
diantaranya adalah nyeri menstruasi
(Mansyur, 2009).
Pada dasarnya menstruasi sekunder
yaitu nyeri menstruasi yang disebabkan
karena kelainan yang berkaitan dengan
genekologi (Dwiyanto, 2010). Penyebab
lain dari nyeri saat menstruasi diduga

disebabkan karena factor keturunan,


psikis dan lingkungan. Nyeri saat
menstruasi terjadi karena pengaruh zat
kimia dalam tubuh yang beredar dalam
darah yaitu prostaglandin. Prostaglandin
ini berperan dalam mengatur berbagai
proses dalam tubuh termasuk aktivitas
usus, perubahan diameter pembuluh
darah dan kontraksi uterus. Bila dalam
keadaan
tertentu,
dimana
kadar
prostaglandin
berlebihan,
maka
kontraksi uterus akan bertambah. Hal ini
menyebabkan terjadinya nyeri saat
menstruasi (Etisa, 2011).
Menurut
data
World
Health
Organization (WHO) bahwa pada
populasi remaja (berusia 12-17) di
Amerika
Serikat, Kelin dan Lift
melaporkan prevalensi sebanyak 59,7%
persen, dengan nyeri menstruasi
sebanyak 12%, nyeri sedang 37%, dan
nyeri ringan 49% (Anurogo, 2013). Hal
ini didukung French ( 2012) menyatakan
di Amerika prevalensi Menstruasi
paling tinggi pada usia remaja dengan
estimasi
20-90%
dengan
nyeri
menstruasi
berat sebanyak 15%.
Sedangkan di Malaysia, prevalensi
Menstruasi
pada remaja sebanyak
62,3%. Prevalensi Menstruasi
di
Indonesia sebesar 64,25% yang terdiri
dari 54,89% Menstruasi primer dan
9,36% Menstruasi skunder
Penatalaksanaan nyeri yang baik dapat
menurunkan intensitas nyeri. Pada
penatalaksanaan
nyeri
dapat
menggunakan
manajemen
secara
farmakologi dan non farmakologi (Poter
dan Perry, 2012). Terapi farmakologis
yang sering dilakukan dengan cara
memberikan obat-obatan non steroid
anti
prostaglandin
seperti
asam
mefenamat, naproksen, dan ibuprofen
yang berefek menurunkan kosentrasi
prostaglandin di endometrium (Junizar,
2013),
sedangkan
terapi
non
farmakologis antara lain distraksi
(mendengarkan musik), stimulasi kulit

(kompres hangat kering), anticipatory


guidance
(pemberi
informasi),
biofeedback (terapi tingkah laku) seperti
kebiasaan olah raga, diet, relaksasi dan
guided imagery, hipnotis, meditasi dan
akupuntur (Wardaningsih, 2014). Selain
prosedur farmakologis, nyeri juga dapat
digunakan melalui prosedur non
farmakologi yaitu dengan cara terapi
musik dengan alasan pertama belum ada
penelitian terkait tentang terapi musik,
alasan kedua peneliti ingin mengetahui
apakah dengan terapi musik dapat
mempengaruhi
rasa
nyeri
pada
menstruasi remaja puteri.
Menurut Potter dan Perry, (2012),
menyatakan bahwa salah satu jenis
musik, efek dari jenis musik dapat
mengurangi kecemasan, depresi, dan
menghilangkan rasa nyeri, terutama
nyeri menstruasi sehingga menurunkan
tekanan
darah
dan
menurunkan
frekuensi denyut jantung menjadi rileks
dan tenang. Mendengarkan musik klasik
menurut Farida, (2010) mendengarkan
musik dapat dilakukan dimana saja baik
didalam ruangan kelas (selang waktu
bebas belajar) maupun dirumah.
Musik klasik adalah biasanya merujuk
pada musik klasik Eropa, tapi kadang
juga pada musik klasik Persia, India, dan
lain-lain. Musik klasik Eropa sendiri
terdiri dari beberapa periode, misalnya
barok, klasik, dan romantik dan
Beethoven mozart. Sedangkan musik
instrumen
merupakan
perkusi
diklasifikasikan ke dalam bermacammacam
kriteria,
kadang-kadang
bergantung pada konstruksinya, adat
istiadat/tradisi, fungsi dalam teori musik
dan orkestra, atau kelaziman dengan
intersitas nyeri menstruasi umum yang
ada (Satiadarma, 2012)
Penelitian lain sejalan dengan yang telah
dilakukan oleh Perdana, 2012 dengan
judul perbedaan terapi musik klasik
mozart dengan terapi musik kesukaan

terhadap intensitas nyeri haid pada


remaja putri di SMA Negeri 5 Denpasar.
Hasil penelitian menunjukan perubahan
dalam intensitas nyeri haid pada remaja
perempuan setelah diberikan musik
klasik Mozart rata-rata memiliki
intensitas ringan sebesar 53,3% dan
nyeri sedang 46,7%. Uji Wilcoxon
dilakukan pada kedua kelompok dengan
nilai p <0,05, menunjukkan kedua
Mozart musik klasik dan musik yang
disukai mempengaruhi intensitas nyeri
haid sedangkan uji Mann Whitney
dilakukan menyimpulkan tidak ada
perbedaan yang signifikan antara musik
klasik Mozart dengan musik yang
disukai dengan intensitas menstruasi
nyeri pada remaja perempuan.
Berdasarkan studi pendahuluan yang
telah dilakukan di SMA 23 Bandung
pada tanggal 05 April 2016 terdapat 463
siswa kelas XI yang terdiri dari 261 lakilaki dan 202 perempuan. Hasil
wawancara yang dilakukan oleh peneliti
dari hasil survey awal dilakukan di SMA
23 Bandung didapatkan 8 dari 10 siswi
yang mengalami nyeri menstruasi
mengatakan upaya untuk pengananan
rasa nyeri tersebut dilakukan dengan
cara membeli obat warung, dan 2 orang
remaja perempuan lainya ditangani
dengan cara mengoleskan obat kayu
putih dan mereka mengatakan dengan
kayu putih tersebut kulit menjadi panas,
selain itu remaja puteri belum tahu
dengan cara mendengarkan musik dapat
mengurangi rasa nyeri menstruasi. Oleh
karena itu peneliti ingin mengetahui
apakah dengan terapi musik dapat
menurunkan intensitas nyeri menstruasi
remaja puteri di SMA 23 Bandung.
Berdasarkan paparan dan fenomena
diatas peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul perbedaan
pengaruh terapi musik klasik terhadap
intensitas nyeri menstruasi pada remaja
puteri di SMA 23 Bandung

STIKes Dharma Husada Bandung

METODOLOGI PENELITIAN
Kerangka Konsep

Terapi Musik
Klasik
Terapi Musik
pada remaja

Intensitas
Nyeri Menstruasi
pada Remaja Puteri

Terapi Musik
Instrumen

Bagan 3.1 Kerangka Konsep Perbedaan Terapi musik klasik Terhadap Intensitas
Nyeri menstruasi Pada Remaja Puteri
Ket :
: Diteliti
: Tidak diteliti

Variabel penelitian
Dalam penelitian ini variabel dependen yaitu intersitas nyeri menstruasi
dipengaruhi oleh variabel intervensi adalah terapi musik klasik
Hipotesis
H1

H2

H3

karena

Terdapat perbedaan antara intersitas nyeri menstruasi remaja puteri


sebelum dilakukan intervensi terapi musik klasik
Terdapat perbedaan antara intersitas nyeri menstruasi remaja puteri
sesudah dilakukan intervensi terapi musik klasik
Terdapat perbedaan antara intersitas nyeri menstruasi sebelum dan
sesudah intervensi terapi musik klasik

Rancangan Penelitian
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian Quasy Experiment dengan rancangan penelitian
pretest-posttest one group desain. Penelitian eksperimen atau percobaan, untuk
mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang timbul, sebagai akibat dari adanya perlakuan
tertentu. Ciri khusus dari penelitian ini adanya perlakuan. Dari perlakuan tersebut
diharapkan terjadi perubahan atau pengaruh terhadap variabel yang lain (Rianto, 2011).
Pada penelitian ini menggunakan rancangan Quasi Eksperimen dengan pretest-posttest
Two group desain karena pada desain ini kelompok eksperimen maupun kelompok
kontrol tidak dipilih secara random.
01
Terapi musik klasik

03

pretest

X1

Perlakuaan

02

postest

Sumber : Riyanto, 2011


Keterangan :
O1 : Pengukuran kemampuan awal kelompok eksperimen (Pre test)
O2 : Pengukuran kemampuan akhir kelompok eksperimen (Post test)
X1 : Pemberian perlakuan dengan Terapi musik klasik (20 orang remaja
puteri SMA 23 Bandung)
O3 : Pengukuran kemampuan awal kelompok kontrol (Pre test )
O4 : Pengukuran kemampuan akhir kelompok kontrol (Post test )

Pendekatan waktu dan Pengumpulan Data


Penelitian Quasy Experiment ini menggunakan desain one Group Pretest-Posttest dengan
menggunakan pendekatan intervensi yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika
antara korelasi antara efek, dengan cara pendekatan, observasi atau variabel subjek pada
saat pemeriksaan (Notoatmodjo, 2012). Pada tahapan ini dilakukan berdasarkan SOP
(terlampir)
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi
Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh siswi remaja puteri kelas XII sebanyak 20 orang
yang mengalami menstruasi.
Sampel
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampel yaitu teknik
pengambilan sampel harus didasarkan atas ciri-ciri, sifat-sifat atau karakteristik tertentu,
yaitu merupakan ciri-ciri populasi.
Pada penelitian eksperiment, penelitian yang sukses adalah dengan ukuran sampel kecil
antara 10 sampai dengan 20 responden (Sekaran Uma, 2006)

Jumlah sampel yang diambil dalam


penelitian ini sebanyak 20 responden
yang terdiri dari kriteria inklusi dan
ekskusi. Adapun kriteria yang menjadi
responden adalah :
1) Kriteria inklusi adalah karakteristik
umum subjek penelitian dari suatu
populasi target yang terjangkau
yang akan diteliti. Maka kriteria
inklusi dalam penelitian ini adalah :
a) Remaja siswi yang mengalami
nyeri menstruasi pada hari ke
1-3 hari
b) Remaja siswi yang mengalami
nyeri menstruasi
2) Krteria
eksklusi
adalah
menghilangkan atau mengeluarkan
subjek yang memenuhi kriteria
inklusi dari studi karena berbagai
sebab. Maka, kriteria eksklusi
dalam penelitian ini adalah :
a) Remaja siswi yang menolak
Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan alat
bantu yang dipilih dan digunakan oleh
peneliti untuk mengumpulkan data
(Nursalam,
2015).
Instrumen
pengumpulan data dalam penelitian ini
adalah pengumpulan data dengan cara
menggunakan
lembar
kuesioner.
Kemudian, akan dipandu oleh peneliti
untuk pengisian kuesioner tersebut
bilamana subjek sampel tidak mengerti.
Untuk kuesioner intersitas nyeri
menstruasi
digunakan instrument
berdasarkan Face Pain Scale dengan
alasan karena berdasrkan Potter dan
Perry tahun 2012 menyatakan bahwa
tingkatan intensitas nyeri menstruasi
menurut tingkatanya adalah sebagai
berikut :

Keterangan :

0= tidak sakit
2=sedikit sakit
4=agak menggangu
6=menggangu aktivitas (belajar)
8=sangat menggangu
10=tidak tertahankan
Metode Pengumpulan Data
Data primer ini diperoleh dari respon
yang menunjukan antara sebelum dan
sesudah intervensi pada intersitas nyeri
menstruasi remaja puteri dengan terapi
musik instrumen dan Terapi musik
klasik adapun tahapanya yaitu sebagai
berikut :
Tahapan jadwal pengumpulan data :
1. Tahapan pertama
Peneliti membagikan kuesioner
Pertama pada remaja puteri yang
mengalami menstruasi, dengan
tujuan untuk memperolah data
diawal penelitian.
2. Tahapan kedua
Peneliti melakukan intervensi pada
kelompok
eksperimen
dengan
pemberian terapi musik klasik
selama 15 menit
3. Tahapan ketiga
Peneliti
kembali
membagikan
kuesioner kedua kepada remaja
puteri tersebut bertujuan untuk
memperoleh data diakhir penelitian
Teknik Pengolahan dan Analisa Data
Analisa data dilakukan dengan bantuan
komputer software program statistik,
yaitu :
Analisis Univariat : Tahap ini
menggunakan statistik deskriptif yaitu
dengan menghitung harga distribusi
frekuensi intersitas nyeri menstruasi
dalam setiap kelompok yaitu dengan
menggunakan nilai mean (Me), median
(Md), standar deviasi atau simpangan
baku (Sd).
Analisa Bivariat : perbedaan pengaruh
terapi musik instrumen dan Terapi
musik klasik terhadap intersitas nyeri
menstruasi remaja puteri. Uji normalitas

data yang digunakan pada penelitian ini


adalah uji shapiro wilk karena jumlah
sampel penelitian < dari 50.
Uji Normalitas
Distribusi shapiro wilk digunakan rumus
sebagai berikut :

Jika p-value <0,05 tidak normal


Jika p-value >0,05 normal
Keterangan:
D
= Koefisien Shapiro Wilk
Xn-i+1 = Angka n-i+1 pada data
Xi
= Angka ke i pada data

Keterangan :
Xi
= Angka ke i pada data
X
= Rata-rata data.
Apabila
hasil
normalitas
menunjukan tidak normal
dilakukan uji non parametrik.

diatas
maka

HASIL PENELITIAN DAN


PEMBAHASAN
Gambaran Pelaksanaan Penelitian
Pada Bab ini dipaparkan berdasarkan
hasil penelitian yang telah dilakukan
oleh peneliti di SMA 23 Bandung yang
berlokasi di Jl. Malangbong Raya
Antapani, Bandung terhadap remaja
puteri dengan jumlah sampel untuk
kelompok eksperimen sebanyak 20
orang dan kelompok kontrol sebanyak
20 orang. Kelompok eksperimen
diberikan terapi musik klasik dengan
tahapan sebagai berikut: Bagian awal
peneliti mempersiapkan tempat dan
remaja
puteri
yang
mengalami
menstruasi,
kemudian
peneliti
memperkenalkan diri. Bagian inti
peneliti membagikan kuesioner pertama
kepada remaja puteri untuk memperoleh

data awal penelitian yaitu intensitas


nyeri yang dialami oleh remaja puteri
sebelum intervensi musik klasik. Bagian
akhir remaja puteri diberikan intervensi
musik
klasik
dengan
cara
mendengarkan musik menggunakan
earphone/headset dengan waktu 15
menit diruangan kelas, setelah dilakukan
terapi musik klasik remaja puteri
diberikan kuesioner kedua untuk
memperoleh data akhir penelitian
sesudah intervensi klasik.
Setelah
selesai
dilakukan
pada
kelompok eksperimen dari tahapan
bagian inti sampai dengan bagian akhir,
kemudian peneliti melakukan penelitian
pada kelompok kontrol dengan tahapan
sebagai berikut : Bagian awal Peneliti
mempersiapkan tempat berbeda dan
remaja puteri berbeda dan sama-sama
mengalami
menstruasi,
kemudian
peneliti memperkenalkan diri.
Bagian inti, remaja puteri mengisi
kuesioner pertama untuk memperoleh
data awal penelitian yaitu intensitas
nyeri yang dialami oleh remaja puteri
sebelum intervensi. Bagian akhir
diberikan kuesioner kedua untuk
memperoleh data akhir penelitian
sesudah intervensi . Setelah tahapan
akhir dilaksanakan peneliti mengecek
kembali kuesioner yang telah diisi dan
dilakukan analisis, hasilnya adalah
sebagai berikut :
Tabel 4.1 Intensitas nyeri menstruasi
sebelum dilakukan intervensi musik
klasik pada remaja puteri di SMA 23
Bandung (n=20)
Variabel

Mean
Sebelum

Intervensi
musik klasik

Sesudah

6,35
3,90

Median
7,00
4,00

Std.
Deviation

Min

Max

Uji
Normalitas

1,814

4,00

10,00

0,011

1,334

2,00

7,00

0,037

Pada tabel 4.1 dilihat hasil penelitian


sebelum
dilakukan
intervensi
menunjukan data uji normalitas <0,05
artinya data tersebut adalah berdistribusi
tidak normal, maka yang dilihat adalah

STIKes Dharma Husada Bandung

normalitas <0,05 artinya data tersebut


adalah berdistribusi tidak normal, maka
yang dilihat adalah nilai median yaitu
sebesar 7,00. Rata-rata intensitas nyeri
pada
remaja sebelum dilakukan
intervensi diketahui nilai minimum 4,00
dan maksimal 10,00. Hasil jawaban
responden dari skala intensitas nyeri
menstruasi sebelum intervensi dapat
dilihat pada kurva sebagai berikut :

nilai median yaitu sebesar


7,00.
Sedangkan
sesudah
intervensi
didapatkan median sebesar 4,00. Ratarata intensitas nyeri pada remaja
sebelum dilakukan intervensi diketahui
nilai minimum 4,00 dan maksimal
10,00, sedangkan sesudah intervensi
didapatkan nilai minimum 2,00 dan
sesudah intervensi 7,00.
Tabel 4.2 Pengaruh Terapi musik
klasik terhadap intensitas nyeri pada
remaja puteri di SMA 23 Bandung
(n=20)

Penurunan
Intensitas Nyeri

18

10,1
7

Peningkatan
Intensitas Nyeri

7,00

Intensitas Nyeri
Tetap

ZScor
e

Asym
p. Sig
(2tailde)

3,59
3

0,000

Pada tabel 4.2 dilihat hasil penelitian


sebelum sesudah dilakukan intervensi
menunjukan perbedaan pengaruh setelah
dilakukan intervensi musik klasik
terhadap intensitas nyeri remaja puteri
diketahui sebanyak 18 orang yang
mengalami penurunan intensitas nyeri
menstruasi, 1 orang yang terdapat
peningkatan intensitas nyeri dan 1
orang yang tidak mengalami penurunan
intensitas nyeri (tetap). Rata-rata mean
rank didapatkan sebesar 10,17 dan 7,00.
Z-score didapatkan sebesar -3,593
dengan uji hipotesis <0,05 yang artinya
terdapat pengaruh intensitas nyeri
sebelum dan sesudah terapi musik klasik
p-value=0,000.
Pembahasan
Intensitas nyeri menstruasi sebelum
dilakukan intervensi musik klasik
pada remaja puteri di SMA 23
Bandung
Berdasarkan
hasil
penelitian
menunjukan
sebelum
dilakukan
intervensi
menunjukan
data
uji

10
9
8
7
6
5
4
3
2
1

Res 1
Res 2
Res 3
Res 4
Res 5
Res 6
Res 7
Res 8
Res 9
Res 10
Res 11
Res 12
Res 13
Res 14
Res 15
Res 16
Res 17
Res 18
Res 19
Res 20

Mea
n
Ran
k

Skala Nyeri

Jumla
h

SEBELUM INTERVENSI

Kurva 4.1 Skala Intensitas


menstruasi sebelum intervensi

Nyeri

Berdasarkan kurva 4.1 terlihat rata-rata


intensitas nyeri yang dirasakan pada
remaja puteri pada saat menstruasi
sebelum dilakukan intervensi adalah
min-max
4,00-10,00
(agak
mengganggu- sampai tidak tertahankan).
Remaja pada saat menstruasi akan
merasakan rasa nyeri yang hebat
disebabkan oleh terjadinya peningkatan
pada hormon prolaktin dan hormon
estrogen. Sesuai dengan sifatnya,
prolaktin dapat meningkatkan kontraksi
uterus yang tiba-tiba menurun dan
merangsang sekresi bagian uterus.
Sehingga membuat korpus luteum
menjadi regresi dan nyeri dengan proses
secara umum, nyeri datang ketika terjadi
proses yang mengubah tekanan di dalam
atau di sekitar pelvis, perubahan atau
terbatasnya aliran darah, atau karena
iritasi peritoneum pelvis. Proses ini
berkombinasi dengan fisiologi normal
dari menstruasi sehingga menimbulkan
ketidaknyamanan. Ketika gejala ini
terjadi pada saat menstruasi, proses ini

STIKes Dharma Husada Bandung

Intensitas nyeri menstruasi sesudah


dilakukan intervensi musik klasik
pada remaja puteri di SMA 23
Bandung
Berdasarkan
hasil
penelitian
menunjukan uji normalitas didapatkan
berdistribusi tidak normal, nilai median
sesudah intervensi didapatkan sebesar
4,00, sedangkan nilai minimum 2,00 dan
sesudah intervensi 7,00. Hal ini terlihat
data hasil penelitian menunjukan
penurunan nilai median sesudah
intervensi karena para remaja nyeri
menstruasi yang dirasakan saat ini perlu
adanya alunan musik yang didengarnya,
karena dengan adanya harmoni didalam
diri seseorang, ia akan lebih mudah
mengatasi nyeri menstruasi, ketegangan,
rasa sakit, dan berbagai gangguan atau
gejolak emosi negatif yang dialaminya.
Hasil jawaban responden terhadap
intensitas nyeri pada saat menstruasi

yang dirasakan oleh remaja puteri


sesudah dilakukan intervensi dapat
tergambar pada kurva sebagai berikut:
SESUDAH INTERVENSI
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1

Res 1
Res 2
Res 3
Res 4
Res 5
Res 6
Res 7
Res 8
Res 9
Res 10
Res 11
Res 12
Res 13
Res 14
Res 15
Res 16
Res 17
Res 18
Res 19
Res 20

Skala Nyeri

menjadi sumber rasa nyeri. Penyebab


Nyeri menstruasi
sekunder seperti:
endometriosis, adenomiosis, radang
pelvis, sindrom menoragia, fibroid dan
polip dapat pula disertai dengan
dispareuni, kemandulan, dan perdarahan
yang abnormal
Manuaba, (2010) menjelaskan bahwa
Nyeri menstruasi disebabkan karena
hormon prostaglandin. Prostaglandin
sangat terkait dengan infertilitas pada
remaja puteri, nyeri menstruasi,
hipertensi, preeklamsieklamsi, dan
anafilaktik syok. Pada fase menstruasi
prostaglandin meningkatkan respon
miometrial yang menstimulasi hormon
oksitosin. Hormon oksitosin ini juga
mempunyai
sifat
meningkatkan
kontraksi uterus. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa nyeri menstruasi
sebagian besar akibat kontraksi uterus,
dengan kaitan disekresi oleh folikel
ovari mempunyai beberapa peran
penting
yaitu
memicu
dan
mempertahankan perkembangan struktur
reproduktif wanita, karakteristik seks
sekunder dan payudara.

Kurva 4.2 Intensitas nyeri menstruasi


sesudah Intervensi
Berdasarkan kurva 4.2 terlihat rata-rata
intensitas nyeri yang dirasakan pada
remaja puteri pada saat menstruasi sesudah
dilakukan intervensi adalah min-max 2,007,00 (sedikit sakit- menggangu aktifitas).
Penurunan intensitas nyeri menstruasi pada
remaja puteri setelah melakukan intervensi
disebabkan oleh terapi musik klasik,
karena dengan musik tersebut seseorang
menjadi rileks, menimbulkan rasa aman
dan sejahtera, melepaskan rasa gembira
dan sedih, melepaskan rasa sakit dan
menurunkan tingkat nyeri menstruasi dan
terapi musik instrumen pemberian bantuan
visual dan teknik-teknik relaksasi untuk
membantu
menurunkan
frekuensi,
intensitas dan durasi penderitaan nyeri
menstruasi pada remaja puteri.
Selaras
dengan
hasil
penelitian
Suharmanto, (2015) bahwa dengan terapi
musik dalam menurunkan dismenore pada
remaja dengan pemberian terapi Musik
yang sejak awal sesuai dengan suasana hati
individu, biasanya merupakan pilihan yang
paling baik. Menikmati permainan
instrument dan mendengarkan musik
klasik. Musik klasik, pop dan moderen
(musik tanpa vokal, periode tenang)
digunakan dalam terapi musik. Musik
menghasilkan perubahan status kesadaran
melalui bunyi, kesunyian ruang dan waktu.
Musik harus di dengarkan selama 15 menit
supaya dapat memberikan efek terapeutik.

STIKes Dharma Husada Bandung

Di keadaan perawatan akut mendengarkan


musik dapat memberikan hasil yang sangat
efektif dalam upaya mengurangi nyeri.
Menurut Manuaba, (2009) menyatakan
bahwa pada saat seseorang perempuan
menstruasi dalam proses ini akan terjadi
bermacam macam gejala diantaranya
ketegangan saat premenstruasi adalah
keluhan-keluhan yang biasanya mulai satu
minggu sampai beberapa hari sebelum
datangnya menstruasi dan menghilang
setelah menstruasi datang walaupun
kadang-kadang berlangsung terus sampai
menstruasi berhenti.
Pengaruh Terapi musik klasik terhadap
intensitas nyeri pada remaja puteri di
SMA 23 Bandung
Hasil penelitian sesudah dilakukan
intervensi
menunjukan
perbedaan
pengaruh setelah dilakukan intervensi
musik klasik terhadap intensitas nyeri
remaja puteri diketahui sebanyak 18 orang
yang mengalami penurunan intensitas
nyeri menstruasi, 1 orang yang terdapat
peningkatan intensitas nyeri dan 1 orang
yang tidak mengalami penurunan intensitas
nyeri (tetap). Rata-rata mean rank
didapatkan sebesar 10,17 dan 7,00. Z-score
didapatkan sebesar -3,593 dengan uji
hipotesis <0,05 yang artinya terdapat
pengaruh intensitas nyeri sebelum dan
sesudah terapi musik klasik p-value=0,000.
Musik klasik adalah biasanya merujuk
pada musik klasik Eropa, tapi kadang
juga pada musik klasik Persia, India, dan
lain-lain. Musik klasik Eropa sendiri
terdiri dari beberapa periode, misalnya
barok, klasik, dan romantik dan
Beethoven mozart. Sedangkan musik
instrumen
merupakan
perkusi
diklasifikasikan ke dalam bermacammacam
kriteria,
kadang-kadang
bergantung pada konstruksinya, adat
istiadat/tradisi, fungsi dalam teori musik
dan orkestra, atau kelaziman dengan
intersitas nyeri menstruasi umum yang
ada (Satiadarma, 2012)

Ternyata dengan terapi musik klasik


dapat menurunkan intensitas nyeri
menstruasi remaja puteri terlihat
penurunan hasil penelitian terdapat 18
orang intensitas remaja puteri menurun
yaitu sebelum dilakukan penlitian nilai
minimum sebesar 4,00 dan maksium
10,00. Setelah dilakukan intervensi
dengan musik klasik yaitu diketahui
nilai minimum 2,00 dan maksimum
7,00, sedangkan 1 dari 20 orang yang
tidak mengalami penurunan, hal tersebut
besar kemungkinan dikarenakan tidak
bersungguh-sungguh
mendengarkan
musik klasik, dan 1 orang tidak terdapat
penurunan baik diawal penelitian
maupun diakhir penelitian.
Menurut Alam, S. & Hadibroto, I.
(2012) menyatakan tingkat seseorang
memfokuskan perhatiannya pada nyeri
dapat mempengaruhi persepsi nyeri.
Perhatian yang meningkat dihubungkan
dengan
nyeri
yang
meningkat,
sedangkan
upaya
pengalihan
dihubungkan dengan respon nyeri yang
menurun. Dengan adanya upaya
pengalihan, klien akan memfokuskan
perhatian dan konsentrasinya pada
stimulus yang lain, dihubungkan dengan
makna seseorang yang dikaitkan dengan
nyeri mempengaruhi pengalaman nyeri
dan cara seseorang beradaptasi terhadap
nyeri. Individu akan mempersepsikan
nyeri dengan cara berbeda-beda, apabila
nyeri tersebut memberi kesan ancaman,
suatu kehilangan, hukuman dan
tantangan. Derajat dan kualitas nyeri
yang dipersepsikan berhubungan dengan
makna nyeri.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1. Intensitas nyeri menstruasi sebelum
intervensi menunjukan nilai median
yaitu sebesar 7,00 dan Rata-rata
intensitas nyeri diketahui nilai
minimum 4,00 dan maksimal
10,00,
2. Sedangkan sesudah intervensi nilai
median sebesar 4,00 dan didapatkan

STIKes Dharma Husada Bandung

10

nilai minimum 2,00 dan sesudah


intervensi 7,00.
3. Terdapat pengaruh intensitas nyeri
sebelum dan sesudah terapi musik
klasik p-value=0,000.
Saran
Bagi Remaja Puteri
Diharapkan dengan terapi Musik Klasik
ini dapat digunakan selalu diluar
aktivitas
remja
puteri
dalam
menurunkan intensitas nyeri menstruasi.
Bagi Perawat
Dijadikan untuk bahan intervensi pada
remaja
puteri
yang
mengalami
menstruasi, sehingga dapat menurunkan
perubahan dari skala nyeri menstruasi
tersebut.
Bagi Peneliti selanjutnya
Diharapkan
dapat
menemukan
fenomena lain, karena peneliti belum
menemukan emosi remaja terhadap
nyeri menstruasi yang dirasakan pada
saat
penelitian
berlanjut
seperti
fisikologis, stres dan cemas.
DAFTAR PUSTAKA
Aditia,
2012.
Manfaat
Musik
Instrumental. Diunduh dari
http://repository.unissula.ac.id/
3567/4/Daftar%20Pustaka.pdf.
Diakses pada tanggal 10 April
2016 (Jurnal Tersedia Online).
Alam, S. & Hadibroto, I.
2012.
Fisiologi Nyeri dan Reseptor
nyeri. Jakarta. EGC
Ali & Asrori, 2013. Psikologi Remaja
(Perkembangan Peserta Didik).
Jakarta. Bumi Aksara.
Ali & Asrori, 2015. Psikologi Remaja
(Perkembangan Peserta Didik).
Edisi Revisi Jakarta. Bumi
Aksara.
Anurogo, 2011. Cara Jitu Mengatasi
Nyeri
Haid.
Yogyakarta:
ANDI Yogyakarta
Bobak,dkk.
2012.
Buku
Ajar
Keperawatan Maternitas. Edisi
4. Terjemahan Wijayarini, M.
A. Jakarta: EGC.

Anurogo, 2013. Cara Jitu Mengatasi


Nyeri Haid. Edisi Revisi.
Yogyakarta:
ANDI
Yogyakarta.
Bobak,et al. 2011. Buku Ajar
Keperawatan Maternitas. Edisi
2. Terjemahan Wijayarini, M.
A. Jakarta: EGC.
Campbell , 2013.
Efek Mozart,
Memanfaatkan
Kekuatan
Musik Untuk Mempertajam
Pikiran,
Meningkatkan
Kreativitas, dan Menyehatkan
Tubuh. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama.
Djohan 2014. , Terapi Musik Teori dan
Aplikasi, Yogyakarta:Galang
Press.
Dwiyanto, 2010. Perkembangan pada
remaja
dan
kesehatan
refroduksi
pada
remaja.
Jakarta. Bumi Aksara
Farida 2010. E fektivitas Terapi Musik
Terhadap Penurunan Nyeri
Post Operasi Pada Anak Usia
Sekolah Di RSUP Haji Adam
Malik Medan.
French, 2012. Journal Dysmenorrhea
American Family Physician :
Academic Research library. 14
April 2016
Gunarsa, 2014. Psikologi Perkembangan
Anak dan Remaja. Jakarta: PT
BPK Gunung Mulia.
Hendrik,

2014.
Problema
Haid
(Tinjauan Syariat Islam dan
Medis). Solo: Tiga Serangkai.
Hurlock,
2010.
Psikologi
Perkembangan.
Jakarta:
Erlangga.
Junizar, 2013. Pengobatan Dismenore
secara Akupuntur. Jakarta:
KSMF Akupuntur Rumah
Sakit Umum Pusat Nasional
Dr. Cipto Mangun Kusumo.
Kamien, 2012. Music: an Appreciation.
Ninth edition. New York:
McGraw-Hill
International
Higer Education.

STIKes Dharma Husada Bandung

11

Kamus Besar Bahasa Indonesia , 2013


Kartono,
2012. Psikologi Wanita
Mengenal Gadis Remaja dan
Wanita Dewasa. Jilid I.
Bandung: Mandar Maju.
Kasdu, 2012. Solusi problem wanita
dewasa
dan
mestruasi.
Cetakan III. Jakarta: Puspa
Swara.
Lestari, 2013. Metode dan siklus
menstruasi
pada
wanita
dewasa. Jakarta EGC
Mansyur, 2009. Pematangan masa
remaja dan fisiologis. Jakarta.
Bumi Aksara.
Manuaba, Chandranita Manuaba, dan
I.B.G. 2012 Fajar Manuaba.
Pengantar Kuliah Obstetri.
Jakarta: Buku Kedokteran
EGC
______
2010 Fajar Manuaba.
Pengantar Kuliah Obstetri.
Jakarta: Buku Kedokteran
EGC
______ 2014.
Fajar
Manuaba.
Pengantar Kuliah Obstetri.
Jakarta: Buku Kedokteran
EGC
______ 2013
Fajar
Manuaba.
Pengantar Kuliah Obstetri.
Jakarta: Buku Kedokteran
EGC
Misaroh, 2009. Menarche Menstruasi
Pertama
Penuh
Makna.Yogyakarta:Nuha
Medika.
Maryunani 2013. Biologi reproduksi
dalam kebidanan. Jakarta:
Trans Info Media
Merrit, 2011. Terapi musik dan
perkembangan remaja. Jakarta.
EGC
Musbikin, 2009. Pemberian terapi
music klasik pada Dismenorea
dan nyeri menstruasi. Jakarta.
EGC
Natalina, 2013. Terapi Musik dan
efektivitas. Jakarta EGC.

Notoatmodjo,
2012.
Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta
pusat : Reneka Cipta.
Nursalam,
2014.
Metodologi
Penelitian Iimu keperawatan
Praktis. Jakarta : Salemba
medika.
_____ ,2015. Metodologi Penelitian
Iimu keperawatan Praktis.
Jakarta : Salemba medika.
Poter dan Perry, 2012. Buku Ajar
Fundamental Keperawatan :
Konsep,
Proses,
dan
Praktik.Edisi 4.Volume 3.Alih
Bahasa
:
Renata
Komalasari,dkk.Jakarta:EGC.
Potter & Perry, 2009. Buku Ajar
Fundamental Keperawatan :
Konsep
Proses,
dan
Praktik.Edisi 4.Volume 2.Alih
Bahasa
:
Renata
Komalasari,dkk.Jakarta:EGC.
Prawirohardjo,
2011.
Ilmu
kandungan.Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
_____ , 2014. Ilmu kandungan. Edisi
Revisi Jilid.Jakarta: Yayasan
Bina Pustaka Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Proverawati,
2009.
Menarche.
Yogyakarta : Nuha Medika
Universitas Muhammadiyah
Semarang.Seminar
nasional
Unimus
Riyanto, 2011. Aplikasi Metodologi
Penelitian Kesehatan. Nuha
Medika. Yogyakarta
Satiadarma , 201. Cerdas Dengan
Musik.
Cetakan
Pertama,
Jakarta, Puspa Suara.
_____ , 2012. Cerdas Dengan Musik.
Edisi Revisi, Jakarta, Puspa
Suara.
Sekaran Uma, 2006. Matodologi
Penelitian
Untuk
Bisnis.
Jakarta : Salemba Empat.
Smeltzer,
2012.
Buku
Ajar
Keperawatan Medikal Bedah.
EGC : Jakarta

STIKes Dharma Husada Bandung

12

Suzannec, 2013. Keperawatan Medikal


Bedah 2, Edisi 8. Jakarta :
EGC
Ulya, 2010. Jurnal Tentang Perbedaan
Terapi Musik Klasik Mozart
Dengan
Terapi
Musik
Kesukaan Terhadap Intensitas
Nyeri Haid Pada Remaja Putri
di SMA Negeri 5 Denpasar.
Diunduh
dari
http://repo.unand.ac.id/388/.
Diakses pada tanggal 15 April
2016. (Jurnal tersedia Online)
Varney, 2013. Buku ajar Asuhan
Kebidanan Edisi 5. Jakarta:
EGC
Wardaningsih, 2014. Diet dan
relaksasi. Yogyakarta. Tiga
Serangkai
Wigram, 2011. A Comprehensive
Guide to Music Therapy
Yuanitasari, 2013. Terapi Musik untuk
Anak Balita. Yogyakarta:
Cemerlang Publishing

STIKes Dharma Husada Bandung

13